Anda di halaman 1dari 8

UJIAN MID SEMESTER

Disusun oleh :

Nama : Angga Karisto Bangun


Nim : 5183131012
Mata Kuliah : Metodologi Penelitian
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Abdul Muin Sibuea, M.Pd.

PRODI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
1. Sebutkan jenis-jenis variabel penelitian yang anda ketahui dan berikan contoh contoh
hipotesisnya.
Jawab :
a. Variabel Bebas
Variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang diduga sebagai sebab
munculnya variabel variabel terikat. Variabel bebas biasanya dimanipulasi,
diamati, dan diukur untuk diketahui hubungannya (pengaruhnya) dengan variabel
lain. Dalam ilmu tingkah laku, variabel bebas biasanya merupakan stimulus atau
input yang beroperasi dalam diri seseorang atau di dalam lingkungannya untuk
mempengaruhi tingkah laku.
Contoh hipotesis variabel “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
DISCOVER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS X TEKNIK
ELEKTRO SMK N 2 MEDAN”
Variabel Bebas (y) = DISCOVER
variabel terikat (x) = HASIL BELAJAR
Contoh hipotesis di atas adalah:
“Dengan menerapkan model pembelajaran DISCOVER Diduga dapat
meningkatkan HASIL BELAJAR SISWA KELAS X Teknik Elektro SMK N 2
Medan.
b. Variabel Terikat
Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel respon atau output. Sebagai
variabel respon berarti variabel ini akan muncul sebagai akibat dari manipulasi
suatu variabel-variabel yang dimanipulasikan dalam penelitian, yang disebut
sebagai variabel bebas (Kerlinger, 1979). Dalam ilmu tingkah laku, variabel
terikat adalah aspek tingkah laku yang diamati dari suatu organisme yang telah
dikenai stimulus. Dengan kata lain, variabel terikat adalah faktor yang diamati
dan diukur untuk menentukan ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas.
Contoh variabel terikat
Hubungan Antara Minat Dan Prestasi Belajar Sejarah Dengan Kesadaran Sejarah
Siswa SMK Negeri 2 Medan.
Contoh hipotesis di atas adalah:
“ Adanya hubungan belajar sejarah siswa SMK Negeri 2 Medan dengan minat
dan prestasi belajar siswa SMK Negeri 2 Medan
c. Variabel Intervening
Pengertian variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis
mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi
hubungan yang tidak langsung. Dapat juga diartikan bahwa variabel intervening
adalah variabel yang dapat memperlemah dan memperkuat hubungan antar
variabel (variabel moderator), tetapi tidak dapat diukur & diamati. Variabel
mediasi atau intervening letaknya berada di antara variabel independen dengan
dependen sehingga variabel dependen tidak dapat langsung terpengaruh oleh
variabel independen.
Contoh hipotesis variabel moderato intervening
“Pengaruh banyak nya buku bacaan untuk mempengaruhi kemampuan menbaca
seorang anak “
Hipotesis
“Banyak nya buku akan berpengaruh terhadap kemampuan membaca seorang
anak, tetapi kecakapan baca tulis orang tua juga akan MENINGKATKAN
PENGARUH antara banyak buku dan kemampuan membaca anak”

2. Jelaskan jenis-jenis skala pengukuran yang anda ketahui dan berikan contoh kokrit.
Jawab :
a. Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran paling sederhana atau
tingkatannya paling rendah di dalam suatu penelitian.Skala ini hanya
digunakan untuk memberikan kategori saja. Misalnya digunakan untuk
memberi label, simbol, lambang, atau nama pada sebuah kategori sehingga
akan mempermudah pengelompokan data menurut kategorinya. Pada skala
nominal ini, peneliti akan mengelompokkan objek, baik individu atau pun
kelompok kedalam kategori tertentu dan disimbolkan dengan label atau kode
tertentu.Kemudian, angka yang diberikan kepada objek hanya memiliki arti
sebagai label atau pembeda saja dan bukan untuk menunjukkan adanya
tingkatan.

Contoh Skala Nominal

Contoh yang paling umum digunakan yaitu variabel jenis kelamin.


Jenis kelamin akan dibedakan menjadi Laki-laki dan Perempuan.Dalam hal
ini, hasil pengukuran tidak memiliki tingkatan tertentu. Artinya laki-laki tidak
lebih tinggi daripada perempuan, atau sebaliknya.

Di dalam sebuah penelitian, biasanya akan diberi simbol angka sebagai


pembeda, misal jenis kelamin laki-laki diberi simbol angka 1, jenis kelamin
perempuan diberi simbol 0. Simbol angka disini hanya untuk membedakan
saja, tidak menunjukkan bahwa 1 lebih besar dari 0 dan sebagainya.

b. Skala Ordinal

Skala ordinal merupakan skala pengukuran yang sudah menyatakan


peringkat antar tingkatan. Jarak atau interval antar tingkatan juga tidak harus
sama. Skala ordinal ini memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada skala
nominal, karena skala ini tidak hanya menunjukkan kategori saja tetapi juga
menunjukkan peringkat.Di dalam skala ordinal, objek atau kategorinya
disusun berdasarkan urutan tingkatannya, dari tingkat terendah ke tingkat
tertinggi atau sebaliknya.

Ciri-ciri dari skala ordinal antara lain:

• kategori data saling memisah.


• kategori data ditentukan berdasarkan jumlah karakteristik khusus yang
dimilikinya.
• kategori data dapat disusun sesuai dengan besarnya karakteristik yang
dimiliki.

Contoh Skala Ordinal

Contoh pada variabel sikap seseorang terhadap suatu pernyataan, sikap


tersebut berupa sangat setuju, setuju, biasa saja, tidak setuju, sangat tidak
setuju. Pada variabel sikap ini dari sangat setuju ke sangat tidak setuju
menunjukkan kategori dan memiliki tingkatan.

Di dalam sebuah penelitian, kategori tersebut bisa disimbolkan dengan


angka, misal angka 5 untuk sangat setuju, angka 4 untuk setuju, angka 3 untuk
biasa saja, angka 2 untuk tidak setuju, dan angka 1 untuk sangat tidak setuju

c. Skala Interval

Skala Interval merupakan skala pengukuran yang bisas digunakan


untuk menyatakan peringkat untuk antar tingkatan. Jarak atau interval antar
tingkatan pun sudah jelas, hanya saja tidak memiliki nilai 0 (nol) mutlak.

Skala interval ini bisa dikatakan berada diatas skala ordinal dan
nominal. Besar interval atau jarak satu data dengan data yang lainnya
memiliki bobot nilai yang sama. Besar interval ini bisa saja di tambah atau
dikurang.
Contoh Skala Interval

Contoh yang paling umum pada skala interval adalah suhu. Misalkan
suatu ruangan memiliki suhu 0C, ini bukan berarti bahwa ruangan tersebut
tidak ada suhunya.Angka 0C disini merupakan suhu, hal ini dikarena pada
skala interval 0 (nol) bukanlah nilai yang mutlak.

d. Skala Rasio

Skala rasio adalah skala pengukuran yang ditujukan pada hasil


pengukuran yang bisa dibedakan, diurutkan, memiliki jarak tertentu, dan bisa
dibandingkan. Skala rasio merupakan tingkatan skala paling tinggi dan paling
lengkap dibanding skala-skala lainnya. Jarak atau interval antar tingkatan sudah
jelas, dan memiliki nilai 0 (nol) yang mutlak. Nilai nol mutlak berarti benar-benar
menyatakan tidak ada.

Contoh Skala Rasio

Misal tinggi badan Agung adalah 190 cm sedangkan tinggi badan


Vatinson adalah 95 cm. Pada situasi ini dapat dikatakan bahwa jarak tinggi badan
Vatinson dengan Agung adalah 95 cm. Bisa juga dikatakan bahwa tinggi badan
Agung 2 kali tinggi badan Vatinson.

3. Sebutkan metode penelitian yang anda ketahui dan uraikan secara rinci minimal 3 (tiga)
metode penelitian yang sering diterapkan dalam penelitian kependidikan.
Jawab :
a. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu
gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif
memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada
saat penelitian berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha
mendeskripsikan peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa
memberikan perlakukan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variabel yang diteliti
bisa tunggal (satu variabel) bisa juga lebih dan satu variabel.

b. Penelitian Survei
Penelitian survei cukup banyak digunakan untuk pemecahan masa¬lah-masalah
pendidikan termasuk kepentingan perumusan kebijak¬sanaan pendidikan. Tujuan
utamanya adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok
obyek (populasi). Survei dengan cakupan seluruh populasi (obyek) disebut
sensus. Sedangkan survei yang mempelajari sebagian populasi dinamakan sampel
survei. Untuk kepentingan pendidikan, survei biasanya mengungkap
permasalahan yang berkenaan dengan berapa banyak siswa yang mendaftar dan
diterima di suatu sekolah? Berapa jumlah siswa rata-rata dalam satu kelas?
Berapa banyak guru yang telah me¬menuhi kualifikasi yang telah ditentukan?
Pertanyaan-pertanyaan kuantitatif seperti itu diperlukan sebagai dasar
perencanaan dan pemecahan masalah pendidikan di sekolah. Pada tahap
selanjutnya dapat pula dilakukan perbadingan atau analsis hubungan antara
variabel tersebut.
Survei dapat pula dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel seperti pendapat,
persepsi, sikap, prestasi, motivasi, dan lain-lain. Misalnya persepsi kepala sekolah
terhadap otonomi pendidikan, persepsi guru terhadap KTSP, pendapat orangtua
siswa tentang MBS, dan lain-lain. Peneliti dapat mengukur variabel-variabel
tersebut secara jelas dan pasti. Informasi yang diperoleh mungkin merupakan hal
penting sekali bagi kelompok tertentu walaupun kurang begitu bermanfaat bagi
ilmu penge¬tahuan.
Survei dalam pendidikan banyak manfaatnya baik untuk memecahkan masalah-
masalah praktis maupun untuk bahan dalam merumuskan kebijaksanaan
pendidikan bahkan juga untuk studi pendidikan dalam hubungannya dengan
pembangunan. Melalui me¬tode ini dapat diungkapkan masalah-masalah aktual
dan mendeskrip¬sikannya, mempelajari hubungan dua variabel atau lebih,
membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah diten¬tukan,
atau menilai efektivitas suatu program.

c. Studi Kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seseorang individu atau
kelompok yang dipandang mengalami kasus tertentu. Misal-nya, mempelajari
secara khusus kepala sekolah yang tidak disiplin dalam bekerja. Terhadap kasus
tersebut peneliti mempelajarinya secara mendalam dan dalam kurun waktu cukup
lama. Mendalam, artinya meng¬ungkap semua variabel yang dapat menyebabkan
terjadinya kasus ter¬sebut dari berbagai aspek. Tekanan utama dalam studi kasus
adalah mengapa individu melakukan apa yang dia lakukan dan bagaimana tingkah
lakunya dalam kon¬disi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Untuk mengungkap persoalan kepala sekolah yang tidak disiplin peneliti perlu
mencari data berkenaan dengan pengalamannya pada masa lalu, sekarang,
lingkungan yang membentuknya, dan kaitan variabel-variabel yang berkenaan
dengan kasusnya. Data diperoleh dari berbagai sumber seperti rekan kerjanya,
guru, bahkan juga dari dirinya. Teknik memperoleh data sangat komprehensif
seperti observasi perilakunya, wawancara, analisis dokumenter, tes, dan lain-lain
bergantung kepada kasus yang dipelajari. Setiap data dicatat secara cermat,
kemudian dikaji, dihubungkan satu sama lain, kalau perlu dibahas dengan peneliti
lain sebelum menarik kesimpulan-kesimpulan penyebab terjadinya kasus atau
persoalan yang ditunjukkan oleh individu ter¬sebut. Studi kasus mengisyaratkan
pada penelitian kualitatif.
Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah, bahwa peneliti dapat mempelajari
subjek secara mendalam dan menye¬luruh. Namun kelemahanya sesuai dengan
sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subyektif, artinya hanya
untuk individu yang bersangkutan dan belum tentu dapat digu¬nakan untuk kasus
yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi
sangat terbatas penggunaannya. Studi kasus bukan untuk menguji hipotesis,
namun sebaliknya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji
melalui penelitian lebih lanjut. Banyak teori, konsep dan prinsip dapat dihasilkan
dan temuan studi kasus.

4. Jelaskan skala pengukuran yang anda ketahui dan berikan contoh-contohnya.


Jawab :
a. Skala nominal
Adalah skala yang disusun menurut kategorinya atau fungsi bilangan hanya
sebagai simbol untuk membedakan sebuah karakteristik dengan karakteristik
lainnya.
Contoh : skala nominal diantaranya adalah suku bangsa, agama, jenis kelamin,
jenis pekerjaan, dll
b. Skala Ordinal
Adalah skala yang didasarkan pada ranking diurutkan dari jenjang yang lebih
tinggi sampai jenjang terendah ataupun sebaliknya.
Contoh : skala ordinal adalah mengukur tingkat prestasi kerja, kepangkatan
militer, mengukur prestasi kejuaraan, status social
c. Skala interval
Adalah skala yang menunjukkan jarak anatara satu dengan yang lain dan memiliki
bobot yang sama.
Contoh : skala interval adalah temperatur dan suhu, skor IQ, kelompok skor ujian.
d. Skala Ratio
Adalah skala pengukuran yang memiliki nilai nol mutlak dan mempunyai jarak
yang sama.
Contoh : skala ratio diantaranya adalah berat badan, tinggi badan, jarak,
timbangan berat.
5. Identifikasilah variabel-variabel dalam kasus berikut ini:
Dalam suatu penelitian eksperimental, 110 siswa yang berumur antara 10-13 tahun dinilai
ketinggalan dibandingkan dengan kawan-kawan sekelasnya sehingga dianggap sebagai
siswa yang mempunyai kecendrungan tinggi untuk drop-out. Siswa-siswa tersebut
kemudian dibagi menjadi sembilan kelas dan diberi suatu program remedy dalam
membaca, dengan ukuran kelas antara 10-15 siswa. Pada awal eksperimen semua guru
mengajar diinstruksikan untuk memberikan hadiah (reward) berupa pujian sedemikian
rupa sehingga tiap siswa akan memperoleh beberapa pujian setiap harinya. Setelah
pertengahan waktu, 5 orang guru diinstruksikan untuk menambah frekwensi pujian
sampai dua atau tiga kali semula, sedangkan 4 orang guru yang lain dinstruksikan untuk
tetap seperti semula. Pada akhir eksperimen, siswa-siswa tersebut dites membaca dengan
tes baku.
Hipotesisnya:
• Siswa yang menerima lebih banyak pujian akan mempunyai skor membaca yang
lebih tinggi dibandingkan dengan yang menerima sedikit pujian.
• Pengaruh pujian terhadap peningkatan skor membaca akan menurun sejalan
dengan meningkatnya usia siswa.
• Skor intelegensi (IQ) siswa akan mempengaruhi hubungan antara jumlah pujian
yang diterima dan peningkatan skor membaca di akhir eksperimen.

Jawab :

a. Hipotesis A
• Variabel terikat : Pujian Siswa
• Variabel bebas : Skor Membaca
b. Hipotesis B
• Variabel terikat : Pujian Siswa
• Variabel bebas : Skor Membaca
• Variabel Moderator : Usia Siswa
c. Hipotesis C
• Variabel terikat : Pujian Siswa
• Varibel bebas : Skor Membaca
• Variabel Moderator : Skor Intelegensi (IQ)