Anda di halaman 1dari 28

Identifikasi Permasalahan Kualitas Air Tambak - 01

Posted by marindro at 12.50


Perairan tambak merupakan jenis perairan tertutup yang menggenang dan dibatasi oleh
petakan tambak, sehingga ditinjau dari dinamika perairan relatif bersifat statis dan
kualitas perairannya sangat tergantung dari pengaruh/perlakuan dari luar. Ekosistem yang
terbentuk di dalamnya dapat dikatakan bukan suatu ekosistem yang dapat mengontrol
keseimbangan dan kestabilan perairan tersebut dengan sendirinya seperti pada ekosistem
perairan yang bersifat alami dan terbuka. Suatu ekosistem perairan yang selalu terjaga
dalam keseimbangan dan kestabilannya merupakan suatu area yang dapat memberikan
rasa aman dan nyaman bagi komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur
penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang
membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut. Faktor lainnya yang
menentukan keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di
dalamnya baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang
ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam
perairan tersebut.

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan


keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh
pengaruh dari luar. Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat
fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di
dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif
bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut.

Berdasarkan pada uraian di atas maka ekosistem perairan tambak yang merupakan
ekosistem tertutup sangat rentan terhadap timbulnya permasalahan baik yang
menyangkut kualitas perairan tambak maupun kondisi dan kualitas udangnya.
Permasalahan kualitas perairan tambak secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu antara lain:

1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam
perairan tambak itu sendiri. Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang
berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol
oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami.

2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar
tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca.

3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan


oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan. Kondisi ini terjadi karena
pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang
cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan
Permasalahan kualitas perairan tambak sebaiknya dapat diketahui dan diidentifikasi
secara dini agar guncangan yang terjadi didalam perairan tersebut tidak menimbulkan
masalah yang lebih serius bagi udang. Mengacu pada pengamatan kondisi dan kualitas
udang di dalam perairan tambak, maka tingkat permasalahan kualitas air tambak dapat
digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu :

1. Ringan. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum


mempengaruhi kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam
perairan. Permasalahan yang timbul baru sebatas pada perubahan kondisi
lingkungan perairan tambak.

2. Sedang. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum


mempengaruhi kondisi dan kualitas udang, tetapi sudah berpengaruh nyata pada
sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan tersebut seperti udang
melakukan konvoi, nafsu makan menurun dan cenderung pasif.

3. Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah berpengaruh
nyata pada kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan,
seperti udang mulai terinfeksi penyakit, melayang-layang di permukaan air,
banyak menempel di dinding petakan tambak, pemunculan di ancho sangat
banyak dan gerakannya sangat pasif.

4. Sangat Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah
mengakibatkan kematian massal bagi udang, sehingga pengambilan keputusan
yang lebih mengarah pada pemanenan.

Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan
kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang
menyangkut tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode
pengelolaan air, treatmen yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah
tersebut. Suatu permasalahan kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini
akan memperberat tingkat permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan
yang semakin berkembang serta dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya. Jika
kondisi ini terjadi maka tingkat permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi
juga akan semakin rumit dalam proses pengambilan keputusannya.

TINJAUAN PIDANA ATAS PENEGAKAN UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN

1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN

EKOSISTEMNYA DALAM UPAYA PELAKSANAAN KONSERVASI TAMAN

NASIONAL BALI BARAT


A. Latar Belakang

Lingkungan hidup makin banyak menarik perhatian masyarakat luas. Baik

kalangan pemerintah, universitas, media massa maupun masyarakat umum

membicarakannya. Permasalahan lingkungan mendapat perhatian yang sangat besar di

hampir semua negara di dunia, termasuk di Indonesia. Ini terutama terjadi dalam

dasawarsa 1970-an setelah diadakannya Konperensi PBB tentang lingkungan hidup di

Stockholm dalam tahun 1972. Dalam konperensi Stockholm telah disetujui banyak

resolusi tentang lingkungan hidup yang digunakan sebagai landasan tindak lanjut. Salah

satu diantaranya ialah didirikannya badan khusus dalam PBB yang ditugasi untuk

mengurus permasalahan lingkungan, yaitu United Nations Environmental Programme,

disingkat UNEP. Badan ini bermarkas di Nairobi, Kenya.

Perhatian tentang lingkungan hidup di Indonesia, telah mulai muncul di media

massa sejak tahun 1960-an. Pada umumnya berita itu berasal dari dunia barat yang dikutip

oleh media massa kita, oleh karena berita itu berasal dari dunia barat, masalah lingkungan

yang diliput oleh media massa adalah terutama yang mengenai pencemaran. Tonggak

sejarah tentang permasalahan lingkungan hidup di Indonesia ialah diselenggarakannya

Seminar Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional oleh Universitas

Padjajaran di Bandung pada tanggal 15-18 Mei 1972. Seminar itu merupakan seminar

tentang lingkungan hidup yang pertama kalinya diadakan di Indonesia.

Berbicara mengenai permasalahan lingkungan hidup, tidak terlepas dengan


hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Jadi, pada

hakekatnya yang menjadi perhatian ialah masalah ekologi, karena aktivitas apapun yang

berhubungan dengan makhluk hidup, terutama manusia, selalu memiliki fungsi, peranan,

dan kedudukan yang berkaitan dengan lingkungan.

Secara etimologi, kata ekologi berasal dari dua suku kata bahasa Yunani, yaitu:

“oikos” yang artinya rumah tangga dan “logos” yang artinya ilmu. Jadi secara etimologi,

ekologi merupakan suatu ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup; atau ilmu tentang

makhluk hidup di dalam rumah tangganya. Karena inti permasalahan lingkungan hidup

adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup, khususnya manusia dengan

lingkungan hidupnya, dan ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup

dengan lingkungannya disebut dengan ekologi, sehingga permasalahan lingkungan hidup

pada hakekatnya adalah permasalahan ekologi.

Konsep sentral dalam ekologi ialah ekosistem, yaitu suatu sistem ekologi yang

terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Menurut Mohammad Taufik Makarao, ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup

yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk

keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup. Dalam sistem ini, semua

komponen bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh

komponen hidup dan takhidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu

kesatuan yang teratur.

Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi, dan selama masing-masing


komponen itu melakukan fungsinya dan bekerja sama dengan baik, keteraturan ekosistem

itu pun terjaga dan ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu yang

bersifat dinamis yang selalu dapat berubah-ubah. Kadang perubahan itu besar, kadang

kecil, yang dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat dari perbuatan manusia.

Dengan konsep ekosistem, unsur-unsur dalam lingkungan hidup tidak berdiri sendiri-

sendiri tetapi terintegrasi sebagai komponen yang saling berkaitan dalam suatu sistem.

Permasalahan lingkungan hidup yang kini menjadi permasalahan dunia tidak

terlepas dari adanya pengelolaan terhadap lingkungan hidup yang tidak terkontrol dengan

baik. Dampak negatif yang muncul dalam pengelolaan lingkungan hidup tidak terlepas

dari hakekat pembangunan yang secara sadar melakukan pemanfaatan sumber daya alam

untuk dapat mencapai tujuan pembangunan.. Di dalam mengelola atau memanfaatkan

lingkungan hidup, “tidak jarang manusia tertarik dan terpesona oleh tujuan yang

dikejarnya saja sehingga tidak menyadari akibat-akibat sampingannya” berupa resiko

yang bersifat langsung muncul maupun “laten” bagi kelanjutan kehidupan manusia

beserta generasi di masa mendatang.

Pembangunan dengan lingkungan hidup memang tidak dapat dipisahkan satu

dengan yang lainnya, baik dari segi manfaat maupun segi pengaruh negatif dari hasil

sampingan yang diberikan secara bersamaan. Mengingat akan keterkaitannya tersebut,

berbagai usaha dilakukan Pemerintah Indonesia sebagai penanggung jawab utama dalam

pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia untuk dapat memperkecil dampak negatifnya

agar tercipta lingkungan hidup yang baik dan sehat. Salah satu wujud usahanya adalah

berupa penetapan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup, seperti


misalnya Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam

Hayati dan Ekosistemnya (selanjutnya disebut UU Konservasi).

Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber

daya alam yang berlimpah, baik di darat, di perairan maupun di udara yang merupakan

modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. Modal dasar sumber daya alam

tersebut harus dilindungi, dipelihara, dilestarikan, dan dimanfaatkan secara optimal bagi

kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada

umumnya menurut cara yang menjamin keserasian, keselarasan dan keseimbangan, baik

antara manusia dengan Tuhan penciptanya, antara manusia dengan masyarakat maupun

antara manusia dengan ekosistemnya, sehingga pengelolaan sumber daya alam hayati dan

ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan

bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan

Pancasila.

Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari

sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani, alam nabati ataupun berupa fenomena

alam, baik secara masing-masing maupun bersama-sama mempunyai fungsi dan manfaat

sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup, yang kehadirannya tidak dapat diganti.

Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta

peranan penting bagi kehidupan manusia, maka upaya konservasi sumber daya alam

hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi untuk

melindunginya. Seperti misalnya di Taman Nasional Bali Barat sebagai kawasan


konservasi sumber daya alam hayati yang harus dijaga dari tindakan yang tidak

bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan

kawasan pelestarian alam ataupun tindakan lain yang melanggar ketentuan UU

Konservasi, diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Pidana

yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur

sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi

masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi, sedangkan pemulihannya kepada

keadaan semula tidak mungkin lagi. Akibat dari sifatnya yang luas dan menyangkut

kepentingan masyarakat secara keseluruhan, maka upaya konservasi sumber daya alam

hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta

masyarakat.

Konservasi hutan adalah bertujuan untuk memastikan fungsi utama perlindungan

kawasan hutan terjamin seperti perlindungan tanah, perlindungan kawasan tadahan air,

dan kestabilan cuaca. Dalam penerapan hukum konservasi hutan, kondisi utama yang

dikehendaki bersama adalah berlangsungnya keutuhan dan fungsi hutan sebagai

penunjang ekologi dalam pembangunan nasional. Karena itu, hutan beserta fungsi dan

peranannya harus dikelola secara rasional, terencana dan terpadu antara lain melalui

sistem kebijaksanaan pengelolaan hutan secara lestari. Berhasilnya konservasi sumber

daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran

konservasi, yaitu:

a. Menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga

kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan


sistem penyangga kehidupan);

b. Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya

sehingga mampu menunjang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang

memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam

hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah);

c. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin

kelestariannya (pemanfaatan secara lestari).

Aktivitas-aktivitas menggalakkan perlindungan hutan termasuk rehabilitasi

kawasan hutan dengan habitat kepelbagaian spesies fauna dan flora yang unik untuk

tujuan memulihkan fungsi ekologi kawasan tersebut. Akibat sampingan ilmu pengetahuan

dan teknologi yang kurang bijaksana, belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan

tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal, baik di darat maupun di

perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik, polusi, dan penurunan

potensi sumber daya alam hayati, dan terganggunya habitat asli di kawasan konservasi.

Frekwensi kejahatan yang terjadi di kawasan konservasi yang semakin hari

semakin meningkat, dimana sering kita jumpai di media cetak mengenai kasus

pembalakan liar dan kasus perburuan satwa langka di kawasan konservasi taman nasional

Bali barat. Menurut catatan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Departemen

Kehutanan, polulasi Jalak Bali pada tahun 1942 diperkirakan masih sekitar 1.000 ekor

dengan luas habitat sekitar 370 kilometer persegi, Pada era 1990-an, populasinya

menyusut menjadi 100 ekor dengan luas habitat sekitar 16 kilometer persegi, namun pada
tahun 2005 jumlahnya tinggal 13 ekor dengan luas habitat sementara habitatnya tinggal

tiga kilometer saja. Bahkan survei yang melibatkan peneliti dari LIPI dan para pecinta

burung, termasuk Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia pada Januari 2005, hanya

menemukan lima ekor saja. Termasuk satu Jalak Bali yang ditemukan tanpa cincin

melingkar di pergelangan kakinya (berdasarkan data yang diperoleh dari kantor Taman

Nasional Bali Barat)

Catatan Kompas menunjukkan, 39 Jalak Bali dicuri komplotan pencuri Jalak Bali

pada tahun 1999. Agustus 2000, sebanyak 13 Jalak Bali kembali dicuri dari Pusat

Penangkaran Jalak Bali di Tegal Bunder. Selama tahun 2006 terdapat enam kasus

penangkapan Jalak Bali secara ilegal yang ditangani pengelola TNBB bersama kepolisian

setempat.

Kondisi demikian tentu tak luput dari kerusakan TNBB sebagai habitatnya. Salah

satunya diakibatkan oleh penebangan liar (illegal logging), baik dalam bentuk kayu

gelondongan ataupun kayu bakar. Kondisi itu diperkuat lagi dengan adanya penemuan

kayu-kayu tak bertuan di dalam hutan, yang merupakan hasil penebangan liar. Sedikitnya

sejak Juli hingga September 2001 tim PKH telah berhasil mengamankan kayu hasil curian

sebanyak 1570 batang atau setara dengan 127,377 meter kubik.

Akibat dari banyak terjadinya pelanggaran di kawasan tersebut dan sanksi hukum

terhadap pelanggar UU Konservasi banyak yang tidak berjalan sebagaimana mestinya,

membuat banyak kalangan mempertanyakan efektifitas penerapan UU Konservasi.


Ekosistem
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

ekosistem padang rumput adalah contoh ekosistem terestrial

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak
terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.[1] Ekosistem bisa dikatakan
juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan
hidup yang saling mempengaruhi.[1]

Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi
timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada
suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan
anorganisme.[1] Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.[1]

Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan


lingkungan fisik sebagai suatu sistem.[2] Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan
fisik, sebaliknya organisme juga mempengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup.
[2]
Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya
mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem
kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan".[2] Hal ini mengarah pada
kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat
berbeda dengan planet lain dalam tata surya.[2]

Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh
tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada
dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan
hukum toleransi.[3] Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun
memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu.[1] Dengan demikian,
panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut
terdapat bambu sebagai sumber makanannya.[1] Berbeda dengan makhluk hidup yang
lain, manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk
berpikir, mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.[2]

EKOSISTEM 1.Komponen pembentuk == Semua komponen tersebut berada pada suatu


tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Susunan dan
Macam Ekosistem ekosistem ini terdiri dari [ikan] sebagai komponen heterotrof,
tumbuhan air sebagai komponen autotrof, (plankton) yang terapung di air sebagai
komponen pengurai, sedangkan yang termasuk komponen [abiotik] adalah [air], [pasir],
[batu], [mineral] dan [oksigen] yang terlarut dalam air. A.Komponen-komponen
pembentuk ekosistem adalah:

a.Abiotik

Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen [fisik] dan [kimia] yang merupakan
[medium] atau [substrat] tempat berlangsungnya [kehidupan], atau [lingkungan] tempat
hidup.Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya.
Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang
mempengaruhi distribusi organisme, yaitu: - [Suhu]. Proses biologi dipengaruhi suhu.
Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
- [Air]. Ketersediaan air mempengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun
beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun. - [Garam]. Konsentrasi garam
mempengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa
organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi. -
[Cahaya matahari]. Intensitas dan kualitas cahaya mempengaruhi proses fotosintesis. Air
dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar
permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar
membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan. - [Tanah] dan batu.
Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral
membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di
tanah. - [Iklim]. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area.
Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam
suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.

B.Autotrof Komponen [autotrof] terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya
sendiri dari bahan anorganik dengan bantuan [energi] seperti sinar [matahari]
(fotoautotrof) dan bahan kimia (kemoautotrof). Komponen autotrof berperan sebagai
produsen. Yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil. C.Heterotrof Komponen
heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan [organik] yang
disediakan [organisme] lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga
konsumen makro [fagotrof] karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang
tergolong heterotrof adalah [manusia], [hewan], [jamur], dan[mikroba].

D.Pengurai Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan


[organik] yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro
[sapotrof] karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai
menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang
sederhana yang dapat digunakan kembali oleh [produsen].Yang tergolong pengurai
adalah [bakteri] dan [jamur]. Ada pula pengurai yang disebut [detritivor], yaitu hewan
pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah [kutu kayu]. Tipe
dekomposisi ada tiga, yaitu:

-[aerobik] : oksigen adalah penerima elektron / oksidan


-[anaerobik] : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima
elektron /oksidan
-[fermentasi] : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga
sebagai penerima [elektron].

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Kebergantungan
o 1.1 Antar komponen biotik
o 1.2 Antar komponen biotik dan abiotik
• 2 Tipe-tipe Ekosistem
o 2.1 Akuatik (air)
o 2.2 Terestrial (darat)
o 2.3 Buatan
• 3 Lihat Pula

• 4 Referensi

[sunting] Kebergantungan

rantai makanan

Kebergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara
komponen biotik dan abiotik[2].
[sunting] Antar komponen biotik

Kebergantungan antar komponen biotik dapat terjadi melalui[2]:

1. Rantai makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan
dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat
trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat
makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan
hijau sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas
hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan
konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan
karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi lainnya,
sebagian energi akan hilang.[2]
2. Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan
satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-
jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan
satu jenis makhluk hidup lainnya.

[sunting] Antar komponen biotik dan abiotik

Kebergantungan antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi,
seperti[2]:

1. siklus karbon
2. siklus air
3. siklus nitrogen
4. siklus sulfur

Siklus ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi menumpuk pada suatu tempat.[2]
Ulah manusia telah membuat suatu sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik,
manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.[2]

[sunting] Tipe-tipe Ekosistem

Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem
buatan.[4]

[sunting] Akuatik (air)


ekosistem sungai

• Ekosistem air tawar.

Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya
kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.[4] Macam tumbuhan yang terbanyak adalah
jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji.[4] Hampir semua filum hewan terdapat
dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.[4]

• Ekosistem air laut.

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI-
mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan
besar.[4] Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah
tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air
yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.[4]

• Ekosistem estuari.

Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.[4] Estuari sering
dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari
memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi[1]. Komunitas tumbuhan yang
hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton.[4] Komunitas
hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.[4]

• Ekosistem pantai.

Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah
tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin.[4]
Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.[4]

• Ekosistem sungai.

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.[4] Air sungai dingin dan jernih
serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara
konstan memberikan oksigen pada air[4]. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan
garis lintang.[4] Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-
kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.[4]
• Ekosistem terumbu karang.

Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai.[1] Efisiensi ekosistem ini sangat
tinggi.[1] Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa
organik lain.[5] Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang
dan ganggang.[5] Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita,
bintang laut, dan ikan karnivora.[5] Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat
pantai memiliki pasir putih.[1]

• Ekosistem laut dalam.

Kedalamannya lebih dari 6.000 m.[5] Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat
mengeluarkan cahaya.[5] Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan
karang tertentu.[5]

• Ekosistem lamun.

Lamun atau seagrass adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang


hidup di lingkungan laut[6]. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang
dangkal.[6] Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak
dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak.[6] Berbeda dengan
tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan
menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut
gas dan zat-zat hara.[6] Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan.[6]

[sunting] Terestrial (darat)

ekosistem hutan hujan tropis memiliki produktivitas tinggi.


ekosistem taiga merupakan hutan pinus dengan ciri iklim musim dingin yang panjang.

ekosistem tundra didominasi oleh vegetasi perdu.

Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan.[2]
Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan.[2] Iklim sangat penting
untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu.
[2]
Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas
manusia.[2]

• Hutan hujan tropis.

Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik.[4] Ciri-cirinya adalah curah
hujan 200-225 cm per tahun.[4] Spesies pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara
satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya.[4] Tinggi pohon utama antara 20-
40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung
(kanopi).[4] Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro, yaitu iklim yang langsung
terdapat di sekitar organisme.[4] Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari, variasi
suhu dan kelembapan tinggi, suhu sepanjang hari sekitar 25 °C.[4] Dalam hutan hujan
tropis sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit.[4]
Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.[4]

• Sabana.

Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60 inci per tahun,
tetapi temepratur dan kelembaban masih tergantung musim.[6] Sabana yang terluas di
dunia terdapat di Afrika; namun di Australia juga terdapat sabana yang luas.[6] Hewan
yang hidup di sabana antara lain serangga dan mamalia seperti zebra, singa, dan hyena.[1]

• Padang rumput.
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik.[5] Ciri-
ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun
tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat.[5] Tumbuhan
yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada
kelembapan.[5] Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah,
jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.[5]

• Gurun.

Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput.[6] Ciri-ciri
ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun).[6] Perbedaan suhu
antara siang dan malam sangat besar.[6] Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun
berukuran kecil[6]. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti
duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai
jaringan untuk menyimpan air.[6] Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, semut,
ular, kadal, katak, kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lain.[6]

• Hutan gugur.

Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki emapt musim, ciri-cirinya
adalah curah hujan merata sepanjang tahun.[5] Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak
terlalu rapat.[5] Hewan yang terdapat di hutam gugur antara lain rusa, beruang, rubah,
bajing, burung pelatuk, dan rakun (sebangsa luwak).[5]

• Taiga

Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, ciri-
cirinya adalah suhu di musim dingin rendah.[4] Biasanya taiga merupakan hutan yang
tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya.[4] Semak dan tumbuhan
basah sedikit sekali, sedangkan hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan
burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.[4]

• Tundra

Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan
terdapat di puncak-puncak gunung tinggi.[4] Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60
hari.[4] Contoh tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim,
tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang.[4] Pada umumnya, tumbuhannya mampu
beradaptasi dengan keadaan yang dingin.[4]

• Karst (batu gamping /gua).

Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia.[6] Kawasan karst
di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya kurang
subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan
pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-
pori mikro.[6] Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri, dengan keragaman aspek
biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.[6]

[sunting] Buatan

sawah merupakan salah satu contoh ekosistem buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi


kebutuhannya.[4] Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau
hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.[1]
Contoh ekosistem buatan adalah[4]:

• bendungan
• hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus
• agroekosistem berupa sawah tadah hujan
• sawah irigasi
• perkebunan sawit
• ekosistem pemukiman seperti kota dan desa
• ekosistem ruang angkasa.[1]

Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak.[2]
Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang
eksesif seperti polusi dan panas.[2]

Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi
sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar.[1] Semua ekosistem dan kehidupan
selalu bergantung pada bumi.[1]

Ekosistem

a. Ekosistem lamun (Seagrass ecosystem)

Lamun (seagrass) adalah satu-satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang


hidup di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang
dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak
dan tangkai-tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan
tumbuh-tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan
menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut
gas dan zat-zat hara. Sebagai sumberdaya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan.

Secara tradisional lamun telah dimanfaatkan untuk keranjang anyaman, dibakar


untuk garam, soda atau penghangat, bahan isian kasur, atap, bahan kemasan, pupuk,
isolasi suara dan suhu. Pada jaman modern ini, lamun dimanfaatkan antara lain sebagai
penyaring limbah, stabilisator pantai, pupuk, makanan dan obat-obatan.

Padang lamun berlaku sebagai daerah asuhan, pelindung dan tempat makan ikan,
Avertebrata, dugong dan sebangsanya. Padang lamun juga berinteraksi dengan terumbu
karang dan mangrove. Ekosistem lamun ini terdapat di banyak perairan pantai di negara
kita. Di Kepulauan Seribu, misalnya, terdapat ekosistem ini yang berdampingan dengan
mangrove dan terumbu karang. Ekosistem ini dikaitkan dengan kehadiran dugong
karena tumbuh-tumbuhan lamun menjadi makanannya.

b. Savanna

Savana dari daerah tropika terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60


inci per tahun, tetapi dengan musim kering yang berkepanjangan pada saat api
menjadi bagian penting dari lingkungan. Savana yang terluas di dunia terdapat di
Afrika; namun di Australia juga terdapat savana yang luas.

Berhubung dalam ekosistem savana ini, rerumputan dan pohon-pohon yang hidup
harus tahan terhadap musim kering dan api, maka jumlah jenis tumbuh-tumbuhan yang
hidup di savana ini tidak banyak, tidak seperti yang hidup di hutan hujan tropik, tidak
seperti yang hidup hutan hujan tropik. Rumput-rumput dari marga Panicum,
Pennisetum, Andropogon dan Imperata mendominasi lingkungan ini, sedangkan
pepohonan yang hidup di sana sama sekali berada dengan jenis pohon yang hidup di
hutan hujan tropik. Di Afrika diantaranya terdapat pohon Acacia yang terbesar di
savanna. Di Indonesia padang savanna ini dapat ditemukan di Taman Nasional (TN)
Baluran dan TN Alas Purwo di Banyuwangi, Jawa Timur.

c. Estuari

Estuari berasal dari kata aetus yang artinya pasang-surut. Estuari didefinisikan
sebagai badan air di wilayah pantai yang setengah tertutup, yang berhubungan dengan
laut bebas. Oleh karena itu ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut dan air
laut bercampur dengan air darat yang menyebabkan salinitasnya lebih rendah daripada
air laut. Muara sungai, rawa pasang-surut, teluk di pantai dan badan air di belakang
pantai pasir temasuk estuari.
Biota yang hidup di ekosistem estuari umumnya adalah percampuran antara yang
hidup endemik, artinya yang hanya hidup di estuari, dengan mereka yang berasal dari
laut dan beberapa yang berasal dari perairan tawar, khususnya yang mempunyai
kemampuan osmoregulasi yang tinggi. Bagi kehidupan banyak biota akuatik komersial,
ekosistem estuari merupakan daerah pemijahan dan asuhan. Kepiting (Scylia serrata),
tiram (Crassostrea cucullata) dan banyak ikan komersial merupakan hewan estuari.
Udang niaga yang memijah di laut lepas membesarkan larvanya di ekosistem ini dengan
memanfaatkannya sebagai sumber makanan.

Daerah muara sungai yang terlindung dan kaya akan sumberdaya hayati menjadi
tumpuan hidup para nelayan, sehingga tidak dapat dihindari terjadinya pemukiman di
pinggiran muara sungai. Tidak hanya itu, karena muara sungai ini juga menjadi
penghubung daratan dan lautan yang sangat praktis, maka manusia menggunakannya
sebagai media perhubungan. Daerah yang terlindung juga menjadi tempat berlabuh dan
berlindung kapal, terutama di saat-saat laut berombak besar. Perkembangan industri
pantai menambah padatnya wilayah estuari ini oleh kegiatan manusia karena daratan
estuari merupakan akses yang bagus buat kegiatan industri itu, khususnya tersedianya
air yang melimpah, baik itu untuk pendingin generator maupun untuk pencucian
alat-alat tertentu dan tidak dapat dihindari nafsu untuk membuang limbah ke
lingkungan akuatik.

Mengingat banyaknya perikanan komersial yang tergantung pada ekosistem estuari


ini maka perlindungan ekosistem ini merupakan salah satu persyaratan ekonomik yang
utama agar perkembangan ekonomi di wilayah ini dapat dijaga kelanjutannya.
Banyaknya jenis pemanfaatan wilayah di ekosistem estuari ini menyebabkan sering
terjadinya bertentangan kepentingan dan kerusakan ekosistem yang berharga ini. Oleh
karena itu, perencanaan terpadu wilayah estuari ini perlu dilakukan dengan seksama
untuk menjaga ekosistem ini agar tidak rusak.

d. Ekosistem Danau

Ekosistem danau ditandai oleh adanya bagian perairan yang dalam sehingga
tumbuh-tumbuhan berakar tidak dapat tumbuh di bagian ini. Berbeda dengan ekosistem
kolam yang tidak dalam (kedalamannya tidak lebih dari 4-5 meter) yang memungkinkan
tumbuh-tumbuhan berakar dapat tumbuh di semua bagian perairan.

Danau yang luas seperti danau Toba di Sumatra dapat berombak karena
memungkinkan angin untuk bertiup di sepanjang permukaan air yang luas sehingga
menciptakan ombak itu. Danau terjadi karena glacier, tanah longsor yang membendung
lembah, pelarutan mineral tertentu dalam tanah sehingga permukaan tanah menurun
membentuk cekungan. Danau juga dapat dibentuk oleh kawah gunung api yang sudah
mati atau gobah yang terbentuk di pinggir laut.

Ekosistem danau mempunyai tiga mintakat (zona) yakni:

1. Mintakat litoral, yakni bagian yang dangkal di mana sinar matahari dapat menembus
sampai ke dasar perairan;
2. Mintakat limnetik, yakni bagian perairan yang terbuka yang terlalu dalam untuk
pertumbuhan tumbuh-tumbuhan berakar, tetapi masih memungkinkan sinar
matahari menembus lapisan ini untuk digunakan fotosintetis tumbuh-tumbuhan air;
dan

3. Mintakat atau lapisan profundal, yakni lapisan di bawahnya di mana sinar matahari
tidak tidak dapat menembus

Mintakat-mintakat limnetik dan profundal tidak terdapat pada ekosistem kolam.


Pada mintakat litoral hidup tumbuhan apung (terutama fitoplankton) dan tumbuhan
berakar. Banyak kelompok hewan hidup di mintakat ini. Pada mintakat limnetik hidup
fitoplankton dan zooplankton seperti di atas, ganggang hijau dan hijau biru, Copepoda,
Cladocera dan banyak lagi. Sebagian besar ikan hidup di mintakat ini. Pada lapisan
profundal hidup bakteri anaerobik dan fungsi, cacing nematoda, keong dan beberapa
jenis ikan.

Waduk-waduk yang dibangun oleh manusia seperti waduk Ir. Sutami, Jatiluhur dan
Saguling merupakan danau buatan. Danau-danau ini banyak digunakan untuk budidaya
ikan dengan karamba. Pada saat-saat tertentu terjadi kematian ikan secara massal, dan
sedang diteliti penyebabnya.

e. Ekosistem Mangrove

Mangrove sebagai ekosistem didefinisikan sebagai mintakat (zona) antar-pasang-


surut (pasut) dan supra (atas)-pasut dari pantai berlumpur di teluk, danau (air payau)
dan estuari, yang didominasi oleh halofit berkayu yang beradaptasi tinggi dan terkait
dengan alur air yang terus mengalir (sungai), rawa dan kali-mati (backwater) bersama-
sama dengan populasi flora dan fauna di dalamnya. Di tempat yang tak ada muara
sungai biasanya hutan mangrovenya agak tipis. Sebaliknya, di tempat yang mempunyai
muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur dan pasir,
biasanya mangrovenya tumbuh meluas.

Ekosistem ini mempunyai dua komponen lingkungan, yakni darat (terestrial) dan air
(akuatik). Lingkungan akuatik pun dibagi dua, laut dan air tawar. Ekosistem mangrove
dikenal sangat produktif, penuh sumberdaya tetapi peka terhadap gangguan. Ia juga
dikenal sebagai pensubsidi energi, karena adanya arus pasut yang berperan
menyebarkan zat hara yang dihasilkan oleh ekosistem mangrove ke lingkungan
sekitarnya. Dengan potensi yang sedemikian rupa dan potensi-potensi lain yang
dimilikinya, ekosistem mangrove telah menawarkan begitu banyak manfaat kepada
manusia sehingga keberadaannya di alam tidak sepi dari perusakan, bahkan
pemusnahan oleh manusia.

Ekosistem mangrove ditumbuhi sedikitnya oleh 89 jenis tumbuh-tumbuhan. Dari


jumlah ini terdapat empat jenis yang dinamakan “strict mangrove”, yakni Avicennia,
Excoecaria, Sonneratia dan Rhizophora. Selain ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan,
ekosistem mangrove juga dihuni oleh berbagai jenis satwa. Sebagai contoh, jenis burung
seperti Ardea cinerea (cangak abu), Nomenius schopus (gajahan sedang), Egretta sp.
(kuntul), dan Larus sp. (camar). Satwa lainnya yang hidup di sana adalah Macaca
fascicularis (kera ekor panjang), Varanus salvator (biawak), juga terdapat satwa yang
hidup di dasar hutan mangrove seperti kepiting graspid dan ikan gelodong
(Periohthalmus).

f. Ekosistem Karst

Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia. Nama ini
kemudian dipakai secara umum oleh masyarakat ilmiah untuk seluruh kawasan batu
gamping yang terdapat di dunia. Kawasan karst yang terdapat di Indonesia antara lain
Karst Gunung Sewu, Karst Gombong Selatan, Karst Maros, Karst Tuban dan beberapa
tempat di daerah Kalimantan. Tipe karst di Indonesia merupakan karst tropik basah dan
hal ini yang membedakan dengan kawasan karst di tempat lain di dunia.

Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu,
tanahnya yang kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor,
bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban
dan didominasi oleh pori-pori mikro. Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri,
dengan keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.

Habitat dalam gua merupakan suatu habitat yang gelap total, tidak ada sinar
matahari yang masuk sehingga tidak terdapat organisme heterotrofik. Peran organisme
khas gua seperti kelelawar yang setiap malam hari mencari makan ke luar gua dan pada
siang hari kembali lagi, akan membawa energi dari luar gua untuk kehidupan berbagai
organisme gua (Arthropoda) terutama kotoran (guano) dan bangkai kelelawar tersebut.
Disamping itu energi dibawa oleh akar tumbuhan yang berada di atas gua yang
menembus dinding atas gua. Sungai di dalam gua yang semula mengalir di permukaan
luar gua juga berperan terhadap transfer energi ke dalam lingkungan gua dengan
memhawa bahan organik.

Di dalam gua sendiri mengalami jaring-jaring makanan yang rumit. Perubahan-


perubahan lingkungan di luar gua sangat mempengaruhi kehidupan di dalam gua.
Dalam kondisi gua yang sangat ekstrem, tanpa adanya cahaya, kelembaban yang sangat
tinggi dan suhu yang konstan sepanjang tahun, mengakibatkan organisme penghuni gua
beradaptasi terhadap lingkungannya. Bentuk adaptasi organisme gua antara lain: 1)
adaptasi morfologi hewan diperlihatkan dengan memucatnya warna kulit, adanya alat
sensoris yang berkembang sangat baik, mata mereduksi dll; 2) adaptasi fisiologis yang
diperlihatkan adalah tidak adanya kemampuan untuk membedakan antara siang dan
malam hari sehingga hewan tidak peka terhadap sinar karena lingkungan hidupnya yang
gelap sepanjang tahun; 3) tumbuhan di lingkungan gua mempunyai sifat poikilohidri
yaitu mempunyai ketahanan yang besar terhadap kekurangan air secara berkala.

pendiri Wikipedia Jimmy Wales


Eutrofikasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Eutrofikasi merupakan problem lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah fosfat
(PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar. Definisi dasarnya adalah pencemaran air
yang disebabkan oleh munculnya nutrient yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Air
dikatakan eutrofik jika konsentrasi total phosphorus (TP) dalam air berada dalam rentang
35-100 µg/L. Sejatinya, eutrofikasi merupakan sebuah proses alamiah di mana danau
mengalami penuaan secara bertahap dan menjadi lebih produktif bagi tumbuhnya
biomassa. Diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi eutrofik. Proses
alamiah ini, oleh manusia dengan segala aktivitas modernnya, secara tidak disadari
dipercepat menjadi dalam hitungan beberapa dekade atau bahkan beberapa tahun saja.
Maka tidaklah mengherankan jika eutrofikasi menjadi masalah di hampir ribuan danau di
muka Bumi, sebagaimana dikenal lewat fenomena algal bloom.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Akibat eutrofikasi
• 2 Sejarah pengetahuan tentang eutrofikasi
• 3 Asal fosfat
• 4 Penanganan eutrofikasi
• 5 Referensi

• 6 Pranala luar

[sunting] Akibat eutrofikasi

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga, tumbuhan air berukuran mikro, untuk
tumbuh berkembang biak dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfat yang
berlebihan serta kondisi lain yang memadai. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang
menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin
meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau
juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak
ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan
sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak
bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya
dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air.
Permasalahan lainnya, cyanobacteria (blue-green algae) diketahui mengandung toksin
sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Algal bloom juga
menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional, dan pariwisata sehingga
dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya.
[sunting] Sejarah pengetahuan tentang eutrofikasi

Problem eutrofikasi baru disadari pada dekade awal abad ke-20 saat alga banyak tumbuh
di danau-danau dan ekosistem air lainnya. Problem ini disinyalir akibat langsung dari
aliran limbah domestik. Hingga saat itu belum diketahui secara pasti unsur kimiawi yang
sesungguhnya berperan besar dalam munculnya eutrofikasi ini.

Melalui penelitian jangka panjang pada berbagai danau kecil dan besar, para peneliti
akhirnya bisa menyimpulkan bahwa fosfor merupakan elemen kunci di antara nutrient
utama tanaman (karbon (C), nitrogen (N), dan fosfor (P)) di dalam proses eutrofikasi.

Sebuah percobaan berskala besar yang pernah dilakukan pada tahun 1968 terhadap
Danau Erie (ELA Lake 226) di Amerika Serikat membuktikan bahwa bagian danau yang
hanya ditambahkan karbon dan nitrogen tidak mengalami fenomena algal bloom selama
delapan tahun pengamatan. Sebaliknya, bagian danau lainnya yang ditambahkan fosfor
(dalam bentuk senyawa fosfat)-di samping karbon dan nitrogen-terbukti nyata mengalami
algal bloom.

Menyadari bahwa senyawa fosfatlah yang menjadi penyebab terjadinya eutrofikasi, maka
perhatian para saintis dan kelompok masyarakat pencinta lingkungan hidup semakin
meningkat terhadap permasalahan ini. Ada kelompok yang condong memilih cara-cara
penanggulangan melalui pengolahan limbah cair yang mengandung fosfat, seperti
detergen dan limbah manusia, ada juga kelompok yang secara tegas melarang keberadaan
fosfor dalam detergen. Program miliaran dollar pernah dicanangkan lewat institusi St
Lawrence Great Lakes Basin di AS untuk mengontrol keberadaan fosfat dalam ekosistem
air. Sebagai implementasinya, lahirlah peraturan perundangan yang mengatur pembatasan
penggunaan fosfat, pembuangan limbah fosfat dari rumah tangga dan permukiman.
Upaya untuk menyubstitusi pemakaian fosfat dalam detergen juga menjadi bagian dari
program tersebut.

[sunting] Asal fosfat

Menurut Morse et al [1], 10 persen berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri
(background source), 7 persen dari industri, 11 persen dari detergen, 17 persen dari
pupuk pertanian, 23 persen dari limbah manusia, dan yang terbesar, 32 persen, dari
limbah peternakan. Paparan statistik di atas (meskipun tidak persis mewakili data di
Tanah Air) menunjukkan bagaimana berbagai aktivitas masyarakat di era modern dan
semakin besarnya jumlah populasi manusia menjadi penyumbang yang sangat besar bagi
lepasnya fosfor ke lingkungan air.

Mengacu pada buku Phosphorus Chemistry in Everyday Living, manusia memang


berperan besar sebagai penyumbang limbah fosfat. Secara fisiologis, jumlah fosfat yang
dikeluarkan manusia sebanding dengan jumlah yang dikonsumsinya. Tahun 1987 saja
rata-rata orang di AS mengonsumsi dan mengekskresi sejumlah 1,4 lb (pounds) fosfat per
tahun. Bersandar pada data ini, dengan sekitar 290 juta jiwa populasi penduduk AS saat
ini, maka sekitar 406 juta pounds fosfor dikeluarkan manusia AS setiap tahunnya.
Lantas, berapa jumlah fosfor yang dilepaskan oleh penduduk bumi sekarang yang sudah
mencapai sekitar 6,3 miliar jiwa? Jika dihitung, akan menghasilkan sebuah angka yang
sangat fantastis! Ini belum termasuk fosfat yang terkandung dalam detergen yang banyak
digunakan masyarakat sehari-hari dan sumber lainnya seperti disebut di atas.

Tanpa pengelolaan limbah domestik yang baik, seperti yang terjadi di negara-negara
dunia ketiga, tentu bisa dibayangkan apa dampaknya terhadap lingkungan hidup,
khususnya ekosistem air.

Berapa sebenarnya jumlah fosfor (P) yang diperlukan oleh blue-green algae (makhluk
hidup air penyebab algal bloom) untuk tumbuh? Ternyata hanya dengan konsentrasi 10
part per billion (ppb/sepersatu miliar bagian) fosfor saja blue-green algae sudah bisa
tumbuh. Tidak heran kalau algal bloom terjadi di banyak ekosistem air. Dalam tempo 24
jam saja populasi alga bisa berkembang dua kali lipat dengan jumlah ketersediaan fosfor
yang berlebihan akibat limbah fosfat di atas.

Tentu saja limbah fosfat yang lepas ke lingkungan air akan mengalami pengenceran di
sungai-sungai, di samping sebelumnya telah melewati pula tahap pengolahan limbah
domestik. Yang disebut terakhir secara ketat hanya berlaku di negara maju seperti AS dan
Eropa. Berdasarkan ini pun, ternyata masih akan tersisa sejumlah 12-31 ppb fosfor yang
notabene lebih dari cukup bagi tumbuhnya blue-green algae. Bisa diperkirakan (sebelum
akhirnya dibuktikan) kandungan fosfat di banyak aliran sungai dan danau di Indonesia,
khususnya di kota-kota besar, akan jauh lebih tinggi dari angka yang disebutkan di atas.
Dari sini kita bisa mengetahui betapa seriusnya persoalan yang diakibatkan oleh limbah
fosfat ini

[sunting] Penanganan eutrofikasi

Dewasa ini persoalan eutrofikasi tidak hanya dikaji secara lokal dan temporal, tetapi juga
menjadi persoalan global yang rumit untuk diatasi sehingga menuntut perhatian serius
banyak pihak secara terus-menerus. Eutrofikasi merupakan contoh kasus dari problem
yang menuntut pendekatan lintas disiplin ilmu dan lintas sektoral.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penanggulangan terhadap problem ini sulit
membuahkan hasil yang memuaskan. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas peternakan
yang intensif dan hemat lahan, konsumsi bahan kimiawi yang mengandung unsur fosfat
yang berlebihan, pertumbuhan penduduk Bumi yang semakin cepat, urbanisasi yang
semakin tinggi, dan lepasnya senyawa kimia fosfat yang telah lama terakumulasi dalam
sedimen menuju badan air.

Lalu apa solusi yang mungkin diambil? Menurut Forsberg [2], yang utama adalah
dibutuhkan kebijakan yang kuat untuk mengontrol pertumbuhan penduduk (birth
control). Karena apa? Karena sejalan dengan populasi warga Bumi yang terus meningkat,
berarti akan meningkat pula kontribusi bagi lepasnya fosfat ke lingkungan air dari
sumber-sumber yang disebutkan di atas. Pemerintah juga harus mendorong para
pengusaha agar produk detergen tidak lagi mengandung fosfat. Begitu pula produk
makanan dan minuman diusahakan juga tidak mengandung bahan aditif fosfat. Di
samping itu, dituntut pula peran pemerintah di sektor pertanian agar penggunaan pupuk
fosfat tidak berlebihan, serta perannya dalam pengelolaan sektor peternakan yang bisa
mencegah lebih banyaknya lagi fosfat lepas ke lingkungan air. Bagi masyarakat
dianjurkan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman yang
mengandung aditif fosfat.

Di negara-negara maju masyarakat yang sudah memiliki kesadaran lingkungan (green


consumers) hanya membeli produk kebutuhan rumah sehari-hari yang mencantumkan
label "phosphate free" atau "environmentally friendly".

Negara-negara maju telah menjadikan problem eutrofikasi sebagai agenda lingkungan


hidup yang harus ditangani secara serius. Sebagai contoh, Australia sudah mempunyai
program yang disebut The National Eutrophication Management Program, yang didirikan
untuk mengoordinasi, mendanai, dan menyosialisasi aktivitas riset mengenai masalah ini.
AS memiliki organisasi seperti North American Lake Management Society yang
menaruh perhatian besar terhadap kelestarian danau melalui aktivitas sains, manajemen,
edukasi, dan advokasi.

Selain itu, mereka masih mempunyai American Society of Limnology and Oceanography
yang menaruh bidang kajian pada aquatic sciences dengan tujuan menerapkan hasil
pengetahuan di bidang ini untuk mengidentifikasi dan mencari solusi permasalahan yang
diakibatkan oleh hubungan antara manusia dengan lingkungan.

Negara-negara di kawasan Eropa juga memiliki komite khusus dengan nama Scientific
Committee on Phosphates in Europe yang memberlakukan The Urban Waste Water
Treatment Directive 91/271 yang berfungsi untuk menangani problem fosfat dari limbah
cair dan cara penanggulangannya. Mereka juga memiliki jurnal ilmiah European Water
Pollution Control, di samping Environmental Protection Agency (EPA) yang
memberlakukan peraturan dan pengawasan ketat terhadap pencemaran lingkungan.

[sunting] Referensi

1. ^ 1993 (The Economic and Environment Impact of Phosphorus Removal from


Wastewater in the European Community)
2. ^ (Which Policies Can Stop Large Scale Eutrophication? Water Science and
Technology, Vol 37, Issue 3,1998, p 193-200)

http://id.wikipedia.org/wiki/Eutrofikasi

Masalah yang timbul dalam tingkat ekosistem bisa berupa Kompetisi yang merupakan
interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga
terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Selain itu kerusakan yang
ditimbulkan oleh manusia juga merupakan masalah yang besar dalam ekosistem dunia.
Kerusakan itu antara lain :
1. Kebakaran hutan
2. Penebangan hutan secara semena – mena
3. Perburuan yang tidak mengenal batasan
4. Polusi udara
5. Dsb
Selain itu, ada juga yang disebabkan oleh alam, antara lain gempa bumi, tsunami, angin
topan dan gunung meletus. Semua itu dapat merusak keseimbangan ekosistem dan
merupakan masalah yang besar dalam tingkan ekosistem.

Untuk menjaga kelestarian suatu ekosistem, maka dibentuk suatu daerah konservasi bagi
hewan dan tumbuhan di alam. Daerah – daerah konservasi tersebut antara lain :

1. Taman nasional
Merupakan kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di
perairan
2. Cagar alam
Merupakan kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan, satwa dan
ekosistem yang perkembangannya diserahkan kepada alam
3. Hutan wisata
Merupakan kawasan hutan yang karena keberadaan dan sifat wilayahnya perlu dibina dan
dipertahankan sebagai hutan, yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan,
konservasi alam dan rekreasi
6. Taman hutan raya
Merupakan kawasan konservasi alam yang terutama dimanfaatkan untuk koleksi
tumbuhan dan hewan.
7. Taman laut
Merupakan wilayah lautan yang memiliki ciri khas berupa keindahan atau keunikan alam.
6. Wana wisata
Merupakan kawasan hutan yang disamping fungsi utamanya sebagai hutan produksi, juga
dimanfaatkan sebagai objek wisata hutan
7. Hutan lindung
Merupakan kawasan hutan alam yang biasanya terletak di daerah pegunungan yang
dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur
tata air.

Selain itu perlu juga ditumbuhkan beberapa sikap yang bertujuan untuk menjaga
keseimbangan ekosistem, antara lain:

1. . Tidak melakukan penebangan pohon di hutan dengan semena-mena.


2. Penebangan kayu di hutan dilaksanakan dengan terencana dengan sistem tebang pilih.
Artinya, pohon yang ditebang adalah pohon yang sudah tua dengan ukuran tertentu yang
telah ditentukan.
3. . Cara penebangannya pun harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak
merusak pohon-pohon muda di sekitarnya.
4. . Melakukan reboisasi, yaitu menghutankan kembali hutan yang sudah terlanjur rusak.
5. Melaksanakan aforestasi, yaitu menghutankan daerah yang bukan hutan untuk
mengganti daerah hutan yang digunakan untuk keperluan lain.
6. Mencegah kebakaran hutan.
7. Mencegah erosi; dengan adanya hutan, air hujan tidak langsung jatuh ke permukaan
tanah, dan dapat diserap oleh akar tanaman.
8. . Menjaga keseimbangan air di musim hujan dan musim kemarau. Dengan
terbentuknya humus di hutan, tanah menjadi gembur. Tanah yang gembur mampu
menahan air hujan sehingga meresap ke dalam tanah, resapan air akan ditahan oleh akar-
akar pohon. Dengan demikian, di musim hujan air tidak berlebihan, sedangkan di musim
kemarau, danau, sungai, sumur dan sebagainya tidak kekurangan air.
9. Tidak boleh berburu hewan-hewan langka.
10. Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi sumber daya alam.
11. Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada agar dapat
lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap serasi dengan
lingkungannya.
12. Teknologi yang dipakai di dalam pengelolaan sumber daya alam tidak sampai
merusak kemampuan sumber daya untuk pembaruannya.
13. Sebagian hasil panen harus digunakan untuk menjamin pertumbuhan sumber daya
alam hayati.
14. Dampak negatif pengelolaannya harus ikut dikelola, misalnya dengan daur ulang.
15. Pengelolaannya harus secara serentak disertai proses pembaruannya.

Semoga bisa membantu

materi referensi:

http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor…
http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor…
http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor…
Biku Biologi SMA Jilid 1A