Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN COVID-19
Covid-19 merupakan nama penyakit yang disebabkan oleh virus
corona . Nama ini diberikan oleh WHO (World Health Organzation)
sebagi nama resmi penyakit ini. Covid sendiri merupakan singkatan dari
Corona Virus Disease-2019. Covid-19 yaitu penyakit yang disebabkan
oleh severe acute respiratory syndrome virus corona 2 (SARS-CoV-2)
atau yang sering disebut virus corona yang menyerang saluran
pernafasan sehingga menyebabkan demam tinggi, batuk, flu, sesak nafas
serta nyeri tenggorokan dengan presentasi klinis yang sangat beragam,
mulai dari asimtomatik, gejala ringan sampai berat, bahkan sampai
kematian.
Menurut situs WHO, virus corona adalah keluarga besar virus
yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada
manusia corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan mulai dari flu
biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory
Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrme
(SARS).Virus ini mampu mengakibatkan orang kehilangan nyawa
sehingga WHO telah menjadikan status virus corona ini menjadi
pandemic.

13
Gambar 1. Struktur Coronavirus
B. ETIOLOGI
Etiologi coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah virus dengan nama
spesies severe acute respiratory syndrome virus corona 2 yang disebut
SARS-CoV-2.
1. Virologi
SARS-CoV-2 merupakan virus yang mengandung
genom single-stranded RNA yang positif. Morfologi virus corona
mempunyai proyeksi permukaan (spikes) glikoprotein yang
menunjukkan gambaran seperti menggunakan mahkota dan berukuran
80-160 nM dengan polaritas positif 27-32 kb. Struktur protein utama
SARS-CoV-2 adalah protein nukleokapsid (N), protein matriks (M),
glikoprotein spike (S), protein envelope (E) selubung, dan protein
aksesoris lainnya.
Famili coronaviridae memiliki empat generasi coronavirus,
yaitu alpha coronavirus (alphaCoV), beta
coronavirus (betaCoV), delta coronavirus (deltaCoV), dan gamma
coronavirus  (gammaCoV). AlphaCoV dan betaCoV umumnya
memiliki karakteristik genomik yang dapat ditemukan pada kelelawar
dan hewan pengerat, sedangkan deltaCoV dan gammaCoV umumnya
ditemukan pada spesies avian.
SARS-CoV-2 termasuk dalam kategori betaCoV dan 96,2%
sekuens genom SARS-CoV-2 identik dengan bat CoV RaTG13. Oleh
sebab itu, kelelawar dicurigai merupakan inang asal dari virus SARS-
CoV-2. Virus ini memiliki diameter sebesar 60–140 nm dan dapat
secara efektif diinaktivasi dengan larutan lipid, seperti ether (75%),
ethanol, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksi asetat,
dan kloroform. SARS-CoV-2 juga ditemukan dapat hidup pada
aerosol selama 3 jam. Pada permukaan solid, SARS-CoV-2 ditemukan
lebih stabil dan dapat hidup pada plastik dan besi stainless selama 72
jam, pada tembaga selama 48 jam, dan pada karton selama 24 jam.

2. Transmisi
Kasus COVID-19 pertama kali ditemukan di pasar basah di
Kota Wuhan yang menjual binatang hidup eksotis. Oleh sebab itu,
transmisi binatang ke manusia merupakan mekanisme yang paling
memungkinkan. Berdasarkan hasil genom SARS-CoV-2, kelelawar
dipercayai menjadi inang asal. Akan tetapi, inang perantara karier dari
virus ini masih belum diketahui secara pasti.
Transmisi antarmanusia dapat terjadi melalui droplet yang
dikeluarkan saat individu yang terinfeksi batuk atau bersin pada jarak
± 2 meter. Droplet yang hinggap pada mulut atau hidung dapat
terinhalasi ke paru-paru dan menyebabkan infeksi. Kontak pada
barang yang sudah terkontaminasi oleh droplet pasien COVID-19,
yang diikuti dengan sentuhan pada mulut, hidung, atau mata tanpa
mencuci tangan terlebih dahulu juga dapat menjadi salah satu
transmisi penyebaran virus, walaupun rute ini bukan transmisi utama
penyebaran virus.[1,2,9,10]
Transmisi vertikal dari ibu ke janin secara intrauterine atau saat
lahir pervaginam sampai sekarang belum diketahui secara pasti.
Gambar 2. Ilustrasi transmisi Coronavirus

3. Faktor Risiko
Faktor risiko COVID-19 sampai sekarang belum diketahui
secara menyeluruh. Faktor risiko utama dari penyakit COVID-19
adalah:
a. Riwayat bepergian ke area yang terjangkit COVID-19
b. Kontak langsung terhadap pasien yang sudah dikonfirmasi
COVID-19
Beberapa faktor risiko yang mungkin dapat meningkatkan risiko
mortalitas pada pasien COVID-19, antara lain:
a. Usia >50 tahun
b. Pasien imunokompromais, seperti HIV
c. Hipertensi
d. Diabetes mellitus
e. Penyakit keganasan, seperti kanker paru
f. Penyakit kardiovaskular, seperti gagal jantung
g. Penyakit paru obstruktif kronis
h. Disfungsi koagulasi dan organ
i. Wanita hamil
j. Skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) yang tinggi
k. Neutrofilia
l. D-dimer >1 µg/L

C. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi COVID-19 diawali dengan interaksi
protein spike virus dengan sel manusia. Setelah memasuki sel, encoding
genome akan terjadi dan memfasilitasi ekspresi gen yang membantu
adaptasi severe acute respiratory syndrome virus corona 2 pada inang.
Rekombinasi, pertukaran gen, insersi gen, atau delesi, akan menyebabkan
perubahan genom yang menyebabkan outbreak di kemudian hari.
Severe acute respiratory syndrome virus corona 2 (SARS-CoV-2)
menggunakan reseptor angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) yang
ditemukan pada traktus respiratorius bawah manusia dan enterosit usus
kecil sebagai reseptor masuk. Glikoprotein spike (S) virus melekat pada
reseptor ACE2 pada permukaan sel manusia. Subunit S1 memiliki fungsi
sebagai pengatur receptor binding domain (RBD). Sedangkan subunit S2
memiliki fungsi dalam fusi membran antara sel virus dan sel inang.
Setelah terjadi fusi membran, RNA virus akan dikeluarkan dalam
sitoplasma sel inang. RNA virus akan mentranslasikan poliprotein pp1a
dan pp1ab dan membentuk kompleks replikasi-transkripsi (RTC).
Selanjutnya, RTC akan mereplikasi dan menyintesis subgenomik RNA
yang mengodekan pembentukan protein struktural dan tambahan.
Gabungan retikulum endoplasma, badan golgi, genomik RNA,
protein nukleokapsid, dan glikoprotein envelope akan membentuk badan
partikel virus. Virion kemudian akan berfusi ke membran plasma dan
dikeluarkan dari sel-sel yang terinfeksi melalui eksositosis. Virus-virus
yang dikeluarkan kemudian akan menginfeksi sel ginjal, hati, intestinal,
dan limfosit T, dan traktus respiratorius bawah, yang kemudian
menyebabkan gejala pada pasien.
D. MANIPESTASI KLINIS
Gejala Klinis

Infeksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau


berat. Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam (suhu >38 0C), batuk
dan kesulitan bernapas. Selain itu dapat disertai dengan sesak memberat,
fatigue, mialgia, gejala gastrointestinal seperti diare dan gejala saluran
napas lain. Setengah dari pasien timbul sesak dalam satu minggu. Pada
kasus berat perburukan secara cepat dan progresif, seperti ARDS, syok
septik, asidosis metabolik yang sulit dikoreksi dan perdarahan atau
disfungsi sistem koagulasi dalam beberapa hari. Pada beberapa pasien,
gejala yang muncul ringan, bahkan tidak disertai dengan demam.
Kebanyakan pasien memiliki prognosis baik, dengan sebagian kecil dalam
kondisi kritis bahkan meninggal. Berikut sindrom klinis yang dapat
muncul jika terinfeksi.
.
Klasifikasi Klinis
Berikut sindrom klinis yang dapat muncul jika terinfeksi.
1. Tidak berkomplikasi
Kondisi ini merupakan kondisi teringan. Gejala yang muncul
berupa gejala yang tidak spesifik. Gejala utama tetap muncul seperti
demam, batuk, dapat disertai dengan nyeri tenggorok, kongesti hidung,
malaise, sakit kepala, dan nyeri otot. Perlu diperhatikan bahwa pada
pasien dengan lanjut usia dan pasien immunocompromises presentasi
gejala menjadi tidak khas atau atipikal. Selain itu, pada beberapa kasus
ditemui tidak disertai dengan demam dan gejala relatif ringan. Pada
kondisi ini pasien tidak memiliki gejala komplikasi diantaranya
dehidrasi, sepsis atau napas pendek.
2. Pneumonia ringan
Gejala utama dapat muncul seperti demam, batuk, dan sesak.
Namun tidak ada tanda pneumonia berat. Pada anak-anak dengan
pneumonia tidak berat ditandai dengan batuk atau susah bernapas
atau tampak sesak disertai napas cepat atau takipneu tanpa adanya tanda
pneumonia berat.
Definisi takipnea pada anak:
● < 2 bulan : ≥ 60x/menit ● 2-11 bulan : ≥ 50x/menit
● 1-5 tahun : ≥ 40x/menit. 26

3. Pneumonia berat
Pada pasien dewasa
● Gejala yang muncul diantaranya demam atau curiga infeksi
saluran napas
● Tanda yang muncul yaitu takipnea (frekuensi napas: >
30x/menit), distress pernapasan berat atau saturasi oksigen pasien
<90% udara luar. 26
Kriteria definisi Severe Community-acquired Pneumonia (CAP)
menurut Diseases Society of America/American Thoracic Society.

Tabel 1. Kriteria severe CAP

Jika terdapat salah satu kriteria mayor atau ≥ 3 kriteria minor


Kriteria minor Frekuensi napas ≥ 30x/menit
Rasio Pa02/FiO2 ≤ 250
Infiltrat multilobular
Penurunan kesadaran
Uremia (BUN) ≥ 20 mg/dL
Leukopenia (<4000 cell/mikrol)
Trombositopenia
(<100.000/microliter)
Hipotermia (<360C)
Hipotensi perlu resusitasi cairan
agresif
Kriteria mayor Syok septik membutuhkan
vasopressor
Gagal napas membutuhkan
ventilasi mekanik

Pada pasien anak-anak:


● Gejala: batuk atau tampak sesak, ditambah satu diantara kondisi
berikut:
- Sianosis central atau SpO2 <90%
- Distress napas berat (retraksi dada berat)
- Pneumonia dengan tanda bahaya (tidak mau menyusu atau minum;
letargi atau penurunan kesadaran; atau kejang)
Dalam menentukan pneumonia berat ini diagnosis dilakukan dengan
diagnosis klinis, yang mungkin didapatkan hasil penunjang yang tidak
menunjukkan komplikasi. 26

4. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)


Onset: baru atau perburukan gejala respirasi dalam 1 minggu
setelah diketahui kondisi klinis. Derajat ringan beratnya ARDS
berdasarkan kondisi hipoksemia. Hipoksemia didefinisikan tekanan
oksigen arteri (PaO₂) dibagi fraksi oksigen inspirasi (FIO₂) kurang
dari< 300 mmHg.
Pemeriksaan penunjang yang penting yaitu pencitraan toraks
seperti foto toraks, CT Scan toraks atau USG paru. Pada pemeriksaan
pencitraan dapat ditemukan: opasitas bilateral, tidak menjelaskan oleh
karena efusi, lobar atau kolaps paru atau nodul. Sumber dari edema
tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh gagal jantung atau kelebihan
cairan, dibutuhkan pemeriksaan objektif lain seperti ekokardiografi
untuk mengeksklusi penyebab hidrostatik penyebab edema jika tidak
ada faktor risiko. Penting dilakukan analisis gas darah untuk melihat
tekanan oksigen darah dalam menentukan tingkat keparahan ARDS
serta terapi. Berikut rincian oksigenasi pada pasien ARDS.
Dewasa:
● ARDS ringan : 200 mmHg < PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg (dengan
PEEP atau CPAP ≥5 cmH2O atau tanpa diventilasi)
● ARDS sedang : 100 mmHg < PaO2/FiO2 ≤200 mmHg dengan
PEEP ≥5 cmH2O atau tanpa diventilasi
● ARDS berat : PaO2/FiO2 ≤ 100 mmHg dengan PEEP ≥5
cmH2O atau tanpa diventilasi
● Tidak tersedia data PaO2 : SpO2/FiO2 ≤315 diduga ARDS
(termasuk pasien tanpa ventilasi) 26

Anak:
● Bilevel NIV atau CPAP ≥5 cmH2O melalui masker full wajah :
PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg atau SpO2/FiO2 ≤264
● ARDS ringan (ventilasi invasif): 4 ≤ oxygenation index (OI) < 8
or 5 ≤ OSI < 7.5
● ARDS sedang (ventilasi invasif): 8 ≤ OI < 16 atau 7.5 ≤
oxygenation index using SpO2 (OSI) < 12.3
● ARDS berat (ventilasi invasif): OI ≥ 16 atau OSI ≥ 12.3

5. Sepsis
Sepsis merupakan suatu kondisi respons disregulasi tubuh
terhadap suspek infeksi atau infeksi yang terbukti dengan disertai
disfungsi organ. Tanda disfungsi organ perubahan status mental, susah
bernapas atau frekuensi napas cepat, saturasi oksigen rendah, keluaran
urin berkurang, frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, akral
dingin atau tekanan darah rendah, kulit mottling atau terdapat bukti
laboratorium koagulopati, trombositopenia, asidosis, tinggi laktat atau
hiperbilirubinemia.
Skor SOFA dapat digunakan untuk menentukan diagnosis sepsis
dari nilai 0-24 dengan menilai 6 sistem organ yaitu respirasi
(hipoksemia melalui tekanan oksigen atau fraksi oksigen), koagulasi
(trombositopenia), liver (bilirubin meningkat), kardivaskular
(hipotensi), system saraf pusat (tingkat kesadaran dihitung dengan
Glasgow coma scale) dan ginjal (luaran urin berkurang atau tinggi
kreatinin). Sepsis didefinisikan peningkatan skor Sequential (Sepsis-
related) Organ Failure Assesment (SOFA) ≥ 2 poin.
Pada anak-anak didiagnosis sepsis bila curiga atau terbukti
infeksi dan ≥ 2 kriteria systemic inflammatory Response Syndrom
(SIRS) yang salah satunya harus suhu abnormal atau hitung leukosit.

6. Syok septik
Definisi syok septik yaitu hipotensi persisten setelah resusitasi
volum adekuat sehingga diperlukan vasopressor untuk mempertahankan
MAP ≥ 65 mmHg dan serum laktat > 2 mmol/L.
Definisi syok septik pada anak yaitu hipotensi dengan tekanan
sistolik < persentil 5 atau >2 SD dibawah rata rata tekanan sistolik
normal berdasarkan usia atau diikuti dengan 2-3 kondisi berikut :
● Perubahan status mental
● Bradikardia atau takikardia
- Pada balita: frekuensi nadi <90 x/menit atau >160x/menit
- Pada anak-anak: frekuensi nadi <70x/menit atau
>150x/menit26
● Capillary refill time meningkat (>2 detik) atau vasodilatasi hangat
dengan bounding pulse
● Takipnea
● Kulit mottled atau petekia atau purpura
● Peningkatan laktat
● Oliguria
● Hipertemia atau hipotermia

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan diantaranya:
1. Pemeriksaan radiologi: foto toraks, CT-scan toraks, USG toraks
Pada pencitraan dapat menunjukkan: opasitas bilateral, konsolidasi
subsegmental, lobar atau kolaps paru atau nodul, tampilan
groundglass. Pada stage awal, terlihat bayangan multiple plak kecil
dengan perubahan intertisial yang jelas menunjukkan di perifer paru
dan kemudian berkembang menjadi bayangan multiple ground-glass
dan infiltrate di kedua paru. Pada kasus berat, dapat ditemukan
konsolidasi paru bahkan “white-lung” dan efusi pleura (jarang).
A

Gambar 2. Gambaran CT Scan Toraks pasien pneumonia COVID-19 di


Wuhan, Tiongkok.

(A) CT Toraks Transversal, laki-laki 40 tahun, menunjukkan


multiple lobular bilateral dan area subsegmental konsolidasi
hari ke-15 setelah onset gejala.
(B) CT Toraks transversal, wanita 53 tahun, opasitas ground-glass
bilateral dan area subsegmental konsolidasi, hari ke-8 setelah
onset gejala. (C) Dan bilateral ground-glass opacity setelah 12
hari onset gejala.
2. Pemeriksaan spesimen saluran napas atas dan bawah
a. Saluran napas atas dengan swab tenggorok(nasofaring dan
orofaring)
b. Saluran napas bawah (sputum, bilasan bronkus, BAL, bila
menggunakan endotrakeal tube dapat berupa aspirat
endotrakeal)
Untuk pemeriksaan RT-PCR SARS-CoV-2,
(sequencing bila tersedia). Ketika melakukan pengambilan spesimen
gunakan APD yang tepat. Ketika mengambil sampel dari saluran
napas atas, gunakan swab viral (Dacron steril atau rayon bukan
kapas) dan media transport virus. Jangan sampel dari tonsil atau
hidung. Pada pasien dengan curiga infeksi COVID-19 terutama
pneumonia atau sakit berat, sampel tunggal saluran napas atas tidak
cukup untuk eksklusi diagnosis dan tambahan saluran napas atas dan
bawah direkomendasikan. Klinisi dapat hanya mengambil sampel
saluran napas bawah jika langsung tersedia seperti pasien dengan
intubasi. Jangan menginduksi sputum karena meningkatkan risiko
transmisi aerosol. Kedua sampel (saluran napas atas dan bawah)
dapat diperiksakan jenis patogen lain.
Bila tidak terdapat RT-PCR dilakukan pemeriksaan serologi.
Pada kasus terkonfirmasi infeksi COVID-19, ulangi pengambilan
sampel dari saluran napas atas dan bawah untuk petunjuk klirens dari
virus. Frekuensi pemeriksaan 24 hari sampai 2 kali hasil negative
dari kedua sampel serta secara klinis perbaikan, setidaknya 24 jam.
Jika sampel diperlukan untuk keperluan pencegahan infeksi dan
transmisi, specimen dapat diambil sesering mungkin yaitu harian.
3. Bronkoskopi
4. Pungsi pleura sesuai kondisi
5. Pemeriksaan kimia darah
a. Darah perifer lengkap
Leukosit dapat ditemukan normal atau menurun; hitung jenis
limfosit menurun. Pada kebanyakan pasien LED dan CRP
meningkat.
b. Analisis gas darah
c. Fungsi hepar (Pada beberapa pasien, enzim liver dan otot
meningkat)
d. Fungsi ginjal
e. Gula darah sewaktu
f. Elektrolit
g. Faal hemostasis ( PT/APTT, d Dimer), pada kasus berat, Ddimer
meningkat
h. Prokalsitonin (bila dicurigai bakterialis)
i. Laktat (Untuk menunjang kecurigaan sepsis)
6. Biakan mikroorganisme dan uji kepekaan dari bahan saluran napas
(sputum, bilasan bronkus, cairan pleura) dan darah
Kultur darah untuk bakteri dilakukan, idealnya sebelum terapi
antibiotik. Namun, jangan menunda terapi antibiotik dengan
menunggu hasil kultur darah)
7. Pemeriksaan feses dan urin (untuk investasigasi kemungkinan
penularan)

F. PENATLAKSANAAN MEDIS
1. Tanpa Gejala
a. Isolasi mandiri di rumah 14 hari Pasien dipantau melalui
telepon oleh petugas FKTP Kontrol di FKTP setelah 14 hari
karantina untuk pemantauan klinis Non-farmakologis : Edukasi
kegiatan di rumah (leaflet untuk dibawa ke rumah) Pasien
mengukur suhu tubuh 2-3 kali sehari : Segera berinformasi ke
petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika terjadi peningkatan
suhu tubuh > 38oC Selalu menggunakan masker jika keluar
kamar dan saat berinteraksi dengan anggota keluarga :
angggota keluarga juga gunakan masker Cuci tangan dengan
air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin :
baik pasien dan keluarga Jaga jarak dengan keluarga (physical
distancing) Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah :
Perhatikan ventilasi, cahaya dan udara Membuka jendela
kamar secara berkala Menerapkan etika batuk (Diajarkan oleh
tenaga medis).Alat makan-minum segera dicuci dengan air dan
sabun Berjemur matahari minimal sekitar 10-15 menit setiap
harinya Pakaian yg telah dipakai sebaiknya dimasukkan dalam
kantong plastik / wadah tertutup yang terpisah dengan pakaian
kotor keluarga yang lainnya sebelum dicuci dan segera
dimasukkan mesin cuci Menggunakan APD saat
membersihkan kamar (setidaknya masker, dan bila
memungkinkan sarung tangan dan goggle. Bersihkan kamar
setiap hari , bisa dengan air sabun atau bahan desinfektasn
lainnya Bagi anggota keluarga yang serumah dengan pasien
memeriksakan diri ke FKTP/Rumah Sakit. Jangan sentuh
daerah wajah kalau tidak yakin tangan bersih Bersihkan
sesering mungkin daerah yg mungkin tersentuh pasien
misalnya gagang pintu dll
b. Farmakologi : Bila terdapat penyakit penyerta / komorbid,
dianjurkan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang rutin
dikonsumsi. Apabila pasien rutin meminum terapi obat
antihipertensi dengan golongan obat ACE-inhibitor dan
Angiotensin Reseptor Blocker perlu berkonsultasi ke Dokter
Spesialis Penyakit Dalam : pertimbangkan ganti Vitamin C
(untuk 14 hari), dengan pilihan ; Tablet Vitamin C non acidic
500 mg/6-8 jam oral (untuk 14 hari) , Tablet isap vitamin C
500 mg/12 jam oral (selama 30 hari) , Multivitamin yang
mengandung vitamin C 1-2 tablet /24 jam (selama 30 hari),
Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C,B, E,
Zink , Curcuma 1 tablet /12 jam/oral (10 hari)

2. Gejala Ringan
a. Isolasi mandiri di rumah selama 14 hari
b. Ditangani oleh FKTP, contohnya Puskesmas, sebagai pasien
rawat jalan
c. Kontrol di FKTP setelah 14 hari untuk pemantauan klinis
d. Non Farmakologis : Edukasi terkait tindakan yang harus
dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala). •
e. Farmakologis : Vitamin C : seperti gejala ringan • Klorokuin
fosfat 500 mg/12 jam oral (untuk 5 hari) ATAU
Hidroksiklorokuin (sediaan yg ada 200 mg) 400 mg/24
jam/oral (untuk 5 hari) • Azitromisin 500 mg/24 jam/oral
(untuk 5 hari) dengan alternatif Levofloxacin 750 mg/24 jam
(5 hari) • Obat batuk N-Asetil sistein 200 mg/8 jam/oral (5
hari), dengan alternatif antitusif (DMP,GG,Difenhidramin) 1
tablet/8 jam/oral (3-5 hari) • Curcuma 1 tablet/12 jam/oral (10
hari) • Parasetamol jika demam • Bila diperlukan dapat
diberikan Antivirus : Oseltamivir 75 mg/12 jam/oral ATAU
Favipiravir (Avigan) 600mg/12 jam / oral (untuk 5 hari)

3. Gejala Sedang
a. Rawat Ruang Perawatan Covid-19/ Rumah Sakit Darurat
Covid-19 selama 14 hari
b. Non Farmakologis : Istirahat total, intake kalori adekuat,
kontrol elektrolit, status hidrasi, saturasi oksigen, Pemantauan
laboratorium : DPLberikut dengan hitung jenis, bila
memungkinkan ditambahkan dengan CRP dan PCT, fungsi
ginjal, fungsi hati dan ronsen dada secara berkala.
c. Farmakologis : Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc
NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena
(IV) selama perawatan • Klorokuin fosfat 500 mg/12 jam oral
(untuk 5-7 hari) ATAU Hidroksiklorokuin (sediaan yg ada 200
mg) hari pertama 400 mg/12 jam/oral, selanjutnya 400 mg/24
jam/oral (untuk 5-7 hari) • Azitromisin 500 mg/24 jam per iv
atau per oral (untuk 5-7 hari) dengan aternatif Levofloxacin
750 mg/24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) • Obat
batuk N-Asetilsistein 200 mg/8 jam/oral (5 hari), kalau tidak
ada bisa pakai antitusif (DMP,GG,Difenhidramin) 1 tablet/8
jam/oral (3-5 hari) • Simtomatis (Parasetamol dan lain-lain). •
Antivirus : Oseltamivir 75 mg/12 jam oral ATAU Favipiravir
(Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/12 jam/oral
hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg (hari ke 2-5)

4. Berat
a. Isolasi di ruang isolasi Rumah Sakit Rujukan atau rawat secara
kohorting
b. Non Farmakologis : Istirahat total, intake kalori adekuat,
kontrol elektrolit, status hidrasi, saturasi oksigen, Pemantauan
laboratorium : seperti kasus sedang, ditambah Hemostasis, D-
dimer, LDH
c. Monitor : Takipnea, frekuensi napas ≥ 30x/min • Saturasi
Oksigen dengan resting pulse oximetry ≤93% (di jari) •
PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg • Peningkatan sebanyak >50% di
keterlibatan area paru-paru pada pencitraan thoraks dalam 24-
48 jam • Limfopenia progresif • Peningkatan CRP progresif •
Asidosis laktat progresif. • Monitor keadaan kritis : Gagal
napas yg membutuhkan ventilasi mekanik, shock atau gagal
multiorgan yang memerlukan perawatan ICU. • Pemberian
oksigen, pertimbangkan pemberian High Flow oxygenation. •
Bila terjadi gagal napas disertai ARDS pertimbangkan
penggunaan ventilator mekanik
d. Farmakologis : • Klorokuin fosfat, 500 mg/12 jam/oral (hari ke
1-3) dilanjutkan 250 mg/12 jam/oral (hari ke 4-10) ATAU
Hidroksiklorokuin dosis 400 mg /24 jam/oral (untuk 5 hari),
EKG awal dan setiap 3 hari. • Azitromisin 500 mg/24 jam
(untuk 5 hari) atau levofloxacin 750 mg/24 jam/intravena (5
hari) • Bila terdapat kondisi sepsis yang diduga kuat oleh
karena koinfeksi bakteri, pemilihan antibiotik disesuaikan
dengan kondisi klinis, fokus infeksi dan faktor risiko yang ada
pada pasien. Pemeriksaan kultur darah harus dikerjakan dan
pemeriksaan kultur sputum (dengan kehati-hatian khusus)
patut dipertimbangkan. • Antivirus : Oseltamivir 75 mg/12 jam
oral ATAU Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose
1600 mg/12 jam/oral hari ke-1 dan selanjutnya 2 x 600 mg
(hari ke 2-5) Vitamin C 200 – 400 mg/8 jam dalam 100 cc
NaCl 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena
(IV) selama perawatan • Vitamin B1 1 ampul/24 jam/intravena
• Hydroxycortison 100 mg/24 jam/ intravena (3 hari) : bila ada
indikasi (mis. mengi, syok refrakter) • Pengobatan komorbid
dan komplikasi yang ada Terapi cairan Obat suportif lainnya
Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada

G. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pengumpulan dan analisis informasi secara
sistematis mengenai kondisi klien. Pengkajian dimulai dengan
mengumpulkan data, klasifikasi data,validasi data dan perumusan
masalah. Pengkajian merupakan dasar paling utama dalam melakukan
asuhan keperawatan kepada pasien karena dengan adanya pengkajian
yang benar maka dapat ditegakkannya diagnosis yang tepat kepada
pasien.
a. Jenis Data Pada Pengkajian

Dalam pengkajian keperawatan terdapat jenis data yang dapat dipat


diproleh yaitu :
1) Data Subjektif
Data subjektif diperoleh dari hasil pengkajian terhadap pasien
dengan teknik wawancara, keluarga, konsultan, dan tenaga
kesehatan lainnya serta riwayat keperawatan. Data ini berupa
keluhan atau persepsi subjektif pasien terhadap status
kesehatannya.

2) Data Objektif
Informasi data objektif diperoleh dari hasil observasi,
pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang dan hasil
laboratorium. Fokus dari pengkajian data objektif berupa status
kesehatan, pola koping, fungsi status respons pasien terhadap
terapi, risiko untuk masalah potensial, dukungan terhadap
pasien. Karakteristik data yang diperoleh dari hasil pengkajian
seharusnya memiliki karakteristik yang lengkap, akurat, nyata
dan relevan. Data yang lengkap mampu mengidentifikasi
semua masalah keperawatan pada pasien.

b. Metode Memperoleh Data


Untuk memperoleh data pada tahap pengkajian metode yang dapat
digunakan perawat adalah:
1) Komunikasi Efektif
Komunikasi dalam pengkajian keperawatan lebih dikenal
dengan komunikasi terapeutik yang merupakan upaya
mengajak pasien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan
perasaan. Untuk dapat memperoleh data yang akurat perawat
perlu menjadi pendengar aktif terhadap keluhan pasien, adapun
unsur yang menjadi pendengar yang aktif adalah dengan
mengurangi hambatan dalam berkomunikasi, memperhatikan
keluhan yang disampaikan oleh pasien dan
menghubungkannya dengan keluhan yang dialami oleh pasien,
mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikeluhkan
pasien, memberikan kesempatan pasien untuk menyelesaikan
pembicaraannya, bersikap empati dan hindari untuk interupsi,
berikan perhatian penuh pada saat berbicara dengan pasien.
Data yang lengkap memerlukan upaya pengkajian yang fokus
dan lebih komprehensif. Beberapa persyaratan yang harus
dipenuhi agar data yang diperoleh menjadi data yang baik
adalah menjaga kerahasiaan pasien, memperkenalkan diri,
menjelaskan tujuan wawancara, pertahankan kontak mata serta
mengusahakan agar saat pengkajian tidak tergesa-gesa.
2) Observasi
Observasi merupakan tahap kedua dari pengumpulan data.
Pada pengumpulan data ini perawat mengamati perilaku dan
melakukan observasi perkembangan kondisi kesehatan pasien.
Kegiatan observasi meliputi sight, smell, hearing, feeling, dan
taste. Kegiatan tersebut mencakup aspek fisik, mental, sosial
dan spiritual.
3) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan bersamaan dengan wawancara,
yang menjadi fokus perawat pada pemeriksaan ini adalah
kemampuan fungsional pasien. Tujuan dari pemeriksaan fisik
ini adalah untuk menentukan status kesehatan pasien,
mengidentifikasi masalah kesehatan dan mengambil data dasar
untuk menentukan rencana tindakan perawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Ansietas berhubungan dengan (b.d) penyebab dibuktikan dengan
(d.d) tanda dan gejala.
b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan (b.d) penyebab
dibuktikan dengan (d.d) tanda dan gejala.
c. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan (b.d)
penyebab dibuktikan dengan (d.d) tanda dan gejala.
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan (b.d) penyebab
dibuktikan dengan (d.d) tanda dan gejala.
e. Gangguan ventilasi spontan berhubungan dengan (b.d) penyebab
dibuktikan dengan (d.d) tanda dan gejala
f. Gangguan sirkulasi spontan berhubungan dengan (b.d) penyebab
dibuktikan dengan (d.d) tanda dan gejala.
g. Resiko syok dibuktikan dengan (d.d) faktor resiko

3. Intervensi Keperawatan
a. Ansietas: Reduksi Ansietas
Definisi: Meminimalkan kondisi individu dan pengalaman
subyektif terhadap obyek yang tidak jelas dan spesifik, akibat
antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan
Tindakan untuk menghadapi ancaman.
Observasi
▪ Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan non verbal)
Teraupetik
▪ Pahami situasi yang membuat ansietas
▪ Dengarkan dengan penuh perhatian
▪ Tempatkan barangpribadi yang memberikan kenyamanan
▪ Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang
akan datang
Edukasi
▪ Informasikan secara factual mengenai
diagnosis,pengobatan,dan prognosis
▪ Latih penggunaan mekanisme pertahanan diri yang tepat
▪ LatihTeknik relaksasi

b. Defisit Perawatan Diri : Dukungan Perawatan Diri


Definisi : memfasilitasi pemenuhan kebutuhan perawatan diri
Observasi
▪ Monitor tingkat kemandirian
▪ Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian,
berhias, dan makan
Teraupetik
▪ Sediakan lingkungan yang teraupetik (misalkan suasasa
hangat, rileks, dan privasi)
▪ Siapkan keperluan pribadi (misalkan parfum, sikat gigi, sabun
mandi)
Edukasi
▪ Anjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai
kemampuan

c. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif: Latihan Batuk Efektif


Definisi : melatih pasien yang tidak memiliki kemampuan batuk
secara efektif untuk membersihkan laring,trakea,dan bronkiolus
dari secret atau benda asing di jalan nafas.
Observasi
 Identifikasi kemampuan batuk
 Monitor adanya retensi sputum
 Monitor tanda dan gejala infeksi saluran nafas
Teraupetik
 Atur posisi semifowler atau fowler
 Buang secret pada tempat sputum
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif
 Anjurkan Tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik,
ditahan selama 2 detik, kemudian keluarkan dari mulut
dengan bibir mencucu selama 8 detik → ulangi sebanyak 3
kali
 Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelahTarik nafas
dalam yang ke 3
Kolaborasi
 Kolaborasikan pemberian terapi mukolitik atau ekspektoran
→ Jika perlu

d. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif: Manajemen Jalan Nafas


Definisi : mengidentifikasi dan mengelola kepatenan jalan nafas.
Observasi
 Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)
 Monitor bunyi nafas tambahan (gurgling, mengi, wheezing,
ronkhi)
 Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
Teraupetik
 Posisikan semifowler atau fowler
 Berikan minum hangat
 Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
Edukasi
 Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari → Jika tidak ada
kontraindikasi
Kolaborasi
 Kolaborasikan pemberian terapi mukolitik atau ekspektoran
atau bronkodilator → Jika perlu

e. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif: Manajemen Isolasi


Definisi: mengindentifikasi dan mengelola pasien yang beresiko
menularkan penyakit, menciderai,atau merugikan orang lain.
Observasi
 Identifikasi klien yang membutuhkan isolasi
Teraupetik
 Tempatkan satu pasien satu kamar
 Sediakan seluruh kebutuhan harian dan pemeriksaan
sederhana di kamar klien
 Dekontaminasi alat-alat kesehatan sesegera mungkin setelah
digunakan
 Lakukan kebersihan tangan pada 5 momen
 Pasang alat proteksi diri sesuai SPO
 Lepaskan alat proteksi diri segera setelah kontak dengan
klien
 Minimalkan kontak dengan klien → sesuai kebutuhan
 Batasi/ tidak boleh ada pengunjung ▪ Pastikan kamar klien
selalu dalam kondisi bertekanannegatif

f. Gangguan Pertukaran Gas: Pemantauan Respirasi


Definisi : Mengumpulkan dan menganalisa data untuk
memastikan kepatenan jalan nafas dari kefektifan pertukaran gas
Observasi
 ▪ Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas
 ▪ Monitor pola nafas (seperti bradypnea, takipnea,
hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksik)
 ▪ Monitor saturasi oksigen
 ▪ Monitor nilai AGD
Teraupetik
 ▪ Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
 ▪ Informasikan hasil pemantauan → Jika perlu

g. Gangguan Pertukaran Gas: Terapi Oksigen


Definisi : memberikan tambahan oksigen untuk mencegah dan
mengatasi kondisi kekurangan oksigen jaringan
Obervasi
 Monitor kecepatan aliran oksigen
 Monitor efektifitas terapi oksigen (seperti oksimetri,
Analisa Gas Darah)
 Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan
oksigen
Teraupetik
 Bersihkan secret pada mulut, hidung, dan trakea → Jika
perlu
 Gunakan oksigen yang sesuai dengan tingkat mobilitas
klien
Kolaborasi
 Kolaborasi penentuan dosis oksigen

h. Gangguan Pertukaran Gas: Manajemen Asam Basa


Definisi : Mengidentifikasi, mengelola, dan mencegah
komplikasi akibat ketidakseimbangan asam basa
Observasi
 Identifikasi penyebab ketidakseimbangan asam basa
 Monitor frekuensi dan kedalaman nafas
 Monitor irama dan frekuensi jantung
 Monitor perubahan pH, PCO2, dan HCO3
Teraupetik
 Ambil specimen darah arteri untuk pemeriksaan AGD ▪
Berikan oksigen sesuai indikasi
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian ventilasi mekanik → Jika perlu

i. Gangguanventilasispontan: Dukungn Ventilasi


Definisi : memfasilitasi dalam mempertahankan pernafasan
spontan untuk memaksimalkan pertukaran gas di paru-paru.
Observasi
 Identifikasi adanya kelelahan otot bantu nafas
 Monitor status respirasi dan oksigenasi (misalnya frekuensi
dan kedalaman nafas, penggunaan otot bantu nafas, bunyi
nafas tambahan, saturasi oksigen)
Teraupetik
 Pertahankan kepatenan jalan nafas
 Berikan posisi semifowler atau fowler
 Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan (misalnya nasal kanul,
masker wajah, masker rebreathing atau non rebreathing).
 Gunaksn bag-valve mask → jika perlu
Kolaborasi
 Kolaborasikan pemberian brokhodilator → jika perlu

j. Gangguanventilasi Spontan : Manajemen Ventilasi Mekanik


Definisi : mengidentifikasi dan mengelola pemberian sokongan
nafas buatan melalui alat yang diinsersi kedalam trakea.
Observasi
 Periksa indikasi ventilator mekanik (misalnya kelelahan
otot nafas, disfungsi neurologis, asidosis respiratorik)
 Monitor efek negative ventilator (misalnya deviasi trakea,
barotrauma, volutrauma, penurunan curah jantung, distensi
gaster, emfisema subkutan)
 Monitor gangguan mukosa oral, nasal, trakea, dan laring
Teraupetik
 Atur posisi kepala 45-60° untuk mencegah aspirasi
 Reposisi klien setiap 2 jam → jika perlu
 Lakukan penghisapan lender sesuai kebutuhan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemilihan mode ventilator (misalnya control
volume, control tekanan atau gabungan)
 Kolaborasi pemberian agen pelumpuh otot, sedative,
analgesic, sesuai kebutuhan ▪ Kolaborasikan penggunaanPS
atau PEEP untuk meminimalkan hipoventilasi alveolus

k. Gangguan Sirkulasi Spontan : Code Management


Definisi : mengkoordinasikan penanganan gawat darurat untuk
penyelamatan jiwa klien.
Observasi
 Monitor tingkat kesadaran
 Monitor irama jantung
 ▪ Monitor pemberian PPGD/ BTCLS/ ATCLS/ BCLS/
ACLS sesuai protocol yang tersedia
Teraupetik
 Panggil bantuan jika klien tidak sadar
 Aktifkan code blue
 Lakukan resusitasi jantung paru, jika perlu
 Berikan bantuan nafas, jika perlu
 Pasang monitor jantung
 Pasang akses vena, jika perlu
 Siapkan intubasi, jika perlu
 Akhiri tindakan jika ada tanda-tanda sirkulasi spontan
(misalnya nadi karotis teraba, kesadaran pulih)
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian defibrilasi atau kardioversi, jika perlu
 Kolaborasi pemberian epinefrin atau adrenalin, jika perlu
 Kolaborasi pemberian amiodaron, jika perlu

l. Resiko Syok : Pencegahan Syok


Definisi : mengidentifikasi dan menurunkan resiko terjadinya
ketidakmampuan tubuh menyediakan oksigen dan nutrisi untuk
mencukupi kebutuhan jaringa
Observasi
 Monitor status kardiopolmunal (frekuensi dan kekuatan
nadi, frekuensi nafas, tekanan darah, MAP)
 Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
 Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit,
CRT)
 Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil
Teraupetik
 Berikan oksigen untuk mempertahankan sturasi oksigen
>94%
 Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian intravena, jika perlu