Anda di halaman 1dari 17

1.

Aisyiyah
adalah sebuah gerakan perempuan Muhammadiyah yang lahir
hampir bersamaan dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di
Indonesia ini. Dalam kiprahnya hampir satu abad di Indonesia,
saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah “Aisyiyah
(setingkat Propinsi), 370 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (setingkat
kabupaten), 2332 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (setingkat
Kecamatan) dan 6924 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (setingkat Kelurahan).

Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha yang bergerak diberbagai bidang
yaitu : pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan pemberdayaan
masyarakat. Amal Usaha dibidang pendidikan saat ini berjumlah 4560 yang terdiri dari
Kelompok Bermain, Pendidikan Anak Usia Dini, Taman
Kanak-Kanak, Tempat Penitipan Anak, Sekolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama, dan lain-lain.

Sedangkan amal usaha di bidang Kesehatan yang terdiri dari


Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Badan Kesehatan Ibu
dan Anak, Balai Pengobatan dan Posyandu berjumlah hingga 280 yang tersebar di
seluruh wilayah Indonesia.

Sebagai gerakan yang peduli dengan kesejahteraan sosial kemasyarakatan, ‘Aisyiyah


hingga kini juga memiliki sekitar 459 amal usaha yang bergerak di bidang ini
meliputi : Rumah Singgah Anak Jalanan, Panti Asuhan, Dana Santunan Sosial, Tim
Pengrukti Jenazah dan Posyandu.

‘Aisyiyah menyadari, bahwa harkat martabat perempuan Indonesia tidak akan


meningkat tanpa peningkatan kemampuan ekonomi di lingkungan perempuan. Oleh
sebab itu, berbagai amal usaha yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi ini
diantaranya koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, Toko/kios, BU EKA, Simpan Pinjam,
home industri, kursus ketrampilan dan arisan. Jumlah amal usaha tersebut hingga 503
buah.

Aisyiyah sebagai organisasi perempuan keagamaan terbesar di Indonesia juga


memiliki beragam kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat khususnya penyadaran
terhadap kehidupan bermasyarakat muslim Indonesia. Hingga saat ini kegiatan yang
mencakup pengajian, Qoryah Thayyibah, Kelompok Bimbingan Haji (KBIH), badan
zakat infaq dan shodaqoh serta musholla berjumlah 3785.
Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis dapat
dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP), suatu gerakan
yang sejak awal diharapkan KH. Ahmad Dahlan dapat melakukan
kegiatan pembinaan terhadap remaja/pemuda Islam. Dalam
perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat,

hingga pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan
berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda, yang merupakan bagian dari organisasi
dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para pemuda
keluarga Muhammadiyah. Keputusan Muhammadiyah tersebut mendapat sambutan luar
biasa dari kalangan pemuda keluarga Muhammadiyah, sehingga dalam waktu relatif
singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan
cabang Muhammadiyah. Dengan demikian pembinaan Pemuda Muhammadiyah menjadi
tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Misalnya, di tingkat
Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh, mendidik dan membimbing
Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda, yaitu lembaga yang
menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan
pemuda.

Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir, Muhammadiyah Bagian Pemuda


dijadikan suatu ortom yang mempunyai kewenangan mengurusi rumah tangga
organisasinya sendiri. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei
1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah berdiri sebagai ortom.

Dinamika Gerakan

Kendati secara resmi baru berdiri pada 2 Mei 1932, Pemuda Muhammadiyah tidak bisa
dipisahkan dari pertumbuhan awal Muhammadiyah. Di daerah-daerah di Jawa Timur,
berdirinya Muhammadiyah sering didahului oleh kegiatan-kegiatan yang dipelopori oleh
kalangan pemuda. Pada awal pertumbuhan Muhammadiyah di berbagai daerah, cabang
dan ranting mengadakan kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan dan kepanduan.
Cabang-cabang dan ranting mengadakan HW yang menjadi wadah pembinaan anak-anak
muda Muhammadiyah. Usaha-usaha pendirian HW dilakukan oleh cabang dan ranting
sejak awal pertumbuhan Muhammadiyah.

Pertumbuhan Pemuda Muhammadiyah pada dekade 1930-an tergolong dinamis, dan


paruh kedua dekade itu setiap cabang memiliki bagian Pemuda Muhammadiyah. Terbukti
dengan pelaksanaan konferensi-konferensi daerah yang diikuti oleh pimpinan Pemuda
Muhammadiyah cabang dan ranting. Pada 1937, dilaksanakan konferensi Pemuda
Muhammadiyah di berbagai daerah.
2. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)

Merupakan metamorfosis dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah


(IPM) yang berdiri tahun 1961. Interpretasi sejarah bisa jadi
berbeda-beda dalam memandang perubahan nama dari Ikatan
Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Remaja Muham-madiyah. Namun, proses sejarah
organisasi ini memang tidak sederhana.

Latar belakang berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan latar belakang
berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar
yang ingin melakukan pemurnian terhadap pengamalan ajaran Islam, sekaligus sebagai
salah satu konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha
Muhammadiyah untuk membina dan mendidik kader. Oleh karena itulah dirasakan
perlu hadirnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai organisasi para pelajar yang
terpanggil kepada misi Muhammadiyah dan ingin tampil sebagai pelopor, pelangsung
penyempurna perjuangan Muhammadiyah.

Jika dilacak jauh ke belakang, sebenarnya upaya para pelajar Muhammadiyah untuk
mendirikan organisasi pelajar Muhammadiyah sudah dimulai jauh sebelum Ikatan
Pelajar Muhammadiyah berdiri pada tahun 1961. Pada tahun 1919 didirikan Siswo
Projo yang merupakan organisasi persatuan pelajar Muham-madiyah di Madrasah
Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pada tahun 1926, di Malang dan Surakarta
berdiri GKPM (Gabungan Keluarga Pelajar Muham-madiyah). Selanjutnya pada tahun
1933 berdiri Hizbul Wathan yang di dalamnya berkumpul pelajar-pelajar
Muhammadiyah.

Setelah tahun 1947, berdirinya kantong-kantong pelajar Muhammadiyah untuk


beraktivitas mulai mendapatkan resistensi dari berbagai pihak, termasuk dari
Muhammadiyah sendiri. Pada tahun 1950, di Sulawesi (di daerah Wajo) didirikan
Ikatan Pelajar Muhammadiyah, namun akhirnya dibubarkan oleh pimpinan
Muhammadiyah setempat. Pada tahun 1954, di Yogyakarta berdiri GKPM yang
berumur 2 bulan karena dibubarkan oleh Muhammadiyah. Selanjutnya pada tahun
1956 GKPM kembali didirikan di Yogyakarta, tetapi dibubarkan juga oleh
Muhammadiyah (yaitu Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah). Setelah
GKPM dibubarkan, pada tahun 1956 didirikan Uni SMA Muhammadiyah yang
kemudian merencanakan akan mengadakan musyawarah se-Jawa Tengah. Akan tetapi,
upaya ini mendapat tantangan dari Muhammadiyah, bahkan para aktifisnya diancam
akan dikeluarkan dari sekolah Muhammadiyah bila tetap akan meneruskan rencananya.
Pada tahun 1957 juga berdiri IPSM (Ikatan Pelajar Sekolah Muhammadiyah) di
Surakarta, yang juga mendapatkan resistensi dari Muhammadiyah sendiri.

Resistensi dari berbagai pihak, termasuk Muhammadiyah, terhadap upaya mendirikan


wadah atau organisasi bagi pelajar Muhammadiyah sebenarnya merupakan refleksi
sejarah dan politik di Indonesia yang terjadi pada awal gagasan ini digulirkan. Jika
merentang sejarah yang lebih luas, berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan
sebuah background politik ummat Islam secara keseluruhan. Ketika Partai Islam
MASYUMI berdiri, organisasi-organisasi Islam di Indonesia merapatkan sebuah
barisan dengan membuat sebuah deklarasi (yang kemudian terkenal dengan Deklarasi
Panca Cita) yang berisikan tentang satu kesatuan ummat Islam, bahwa ummat Islam
bersatu dalam satu partai Islam, yaitu Masyumi; satu gerakan mahasiswa Islam, yaitu
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI); satu gerakan pemuda Islam, yaitu Gerakan
Pemuda Islam Indonesia (GPII); satu gerakan pelajar Islam, yaitu Pelajar Islam
Indonesia (PII); dan satu Kepanduan Islam, yaitu Pandu Islam (PI). Kesepakatan bulat
organisasi-organisasi Islam ini tidak dapat bertahan lama, karena pada tahun 1948 PSII
keluar dari Masyumi yang kemudian diikuti oleh NU pada tahun 1952. Sedangkan
Muhammadiyah tetap bertahan di dalam Masyumi sampai Masyumi membubarkan diri
pada tahun 1959. Bertahannya Muhammadiyah dalam Masyumi akhirnya menjadi
mainstream yang kuat bahwa deklarasi Panca Cita hendaknya ditegakkan demi
kesatuan ummat Islam Indonesia. Di samping itu, resistensi dari Muhammadiyah
terhadap gagasan IPM juga disebabkan adanya anggapan yang merasa cukup dengan
adanya kantong-kantong angkatan muda Muhammadiyah, seperti Pemuda
Muhammadiyah dan Nasyi'atul ‘Aisyiyah, yang cukup bisa mengakomodasikan
kepentingan para pelajar Muhammadiyah.

Dengan kegigihan dan kemantapan para aktifis pelajar Muhammadiyah pada waktu itu
untuk membentuk organisasi kader Muhammadiyah di kalangan pelajar akhirnya mulai
mendapat titik-titik terang dan mulai menunjukan keberhasilanya, yaitu ketika pada
tahun 1958 Konferensi Pemuda Muhammadiyah Daerah di Garut berusaha melindungi
aktifitas para pelajar Muhammadiyah di bawah pengawasan Pemuda Muham-madiyah.
Mulai saat itulah upaya pendirian organisasi pelajar Muhammdiyah dilakukan dengan
serius, intensif, dan sistematis. Pembicaraan-pembicaraan mengenai perlunya berdiri
organisai pelajar Muhammadiyah banyak dilakukan oleh Pimpinan Pusat Pemuda
Muham-madiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dengan keputusan konferensi Pemuda Muham-madiyah di Garut tersebut akhirnya


diperkuat pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke II yang berlangsung pada
tanggal 24-28 Juli 1960 di Yogyakarta, yaitu dengan memutuskan untuk membentuk
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Keputusan II/No. 4). Keputusan tersebut di antaranya
ialah sebagai berikut :

1. Muktamar Pemuda Muhammadiyah meminta kepa-da Pimpinan Pusat


Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran supaya memberi kesem-patan
dan memnyerahkan kompetensi pemben-tukan IPM kepada PP Pemuda
Muhammadiyah.
2. Muktamar Pemuda Muhammadiyah mengama-natkan kepada Pimpinan
Pusat Muhammadiyah untuk menyusun konsepsi Ikatan Pelajar Muham-madiyah
(IPM) dari pembahasan-pembahasan muktamar tersebut, dan untuk segera
dilaksanakan setelah mencapai kesepakatan pendapat dengan Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran.
Kata sepakat akhirnya dapat tercapai antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah
dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran tentang
organisasi pelajar Muhammadiyah. Kesepakatan tersebut dicapai pada tanggal 15 Juni
1961 yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah
dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran. Rencana
pendirian IPM tersebut dimatangkan lagi dalam Konferensi Pemuda Muhammadiyah
di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961, dan secara nasional melalui forum tersebut IPM
dapat berdiri. Tanggal 18 Juli 1961 ditetapkan sebagai hari kelahiran Ikatan Pelajar
Muhammadiyah.

Perkembangan IPM akhirnya bisa memperluas jaringan sehingga bisa menjangkau


seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia. Pimpinan IPM
(tingkat ranting) didirikan di setiap sekolah Muhammadiyah. Berdirinya Pimpinan IPM
di sekolah-sekolah Muhammadiyah ini akhirnya menimbulkan kontradiksi dengan
kebijakan pemerintah Orde Baru dalam UU Keormasan, bahwa satu-satunya organisasi
siswa di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia hanyalah Organisasi Siswa Intra-
Sekolah (OSIS). Sementara di sekolah-sekolah Muhammadiyah juga terdapat
organisasi pelajar Muhammadiyah, yaitu IPM. Dengan demikian, ada dualisme
organisasi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Bahkan pada Konferensi
Pimpinan Wilayah IPM tahun 1992 di Yogyakarta, Menteri Pemuda dan Olahraga saat
itu (Akbar Tanjung) secara khusus dan implisit menyampaikan kebijakan pemerintah
kepada IPM, agar IPM melakukan penye-suaian dengan kebijakan pemerintah.

Dalam situasi kontra-produktif tersebut, akhirnya Pimpinan Pusat IPM membentuk


team eksistensi yang bertugas secara khusus menyelesaikan permasalahan ini. Setelah
dilakukan pengkajian yang intensif, team eksistensi ini merekomendasikan perubahan
nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Rema

ja Muhammadiyah. Perubahan ini bisa jadi merupakan sebuah peristiwa yang tragis
dalam sejarah organisasi, karena perubahannya mengandung unsur-unsur kooptasi dari
pemerintah. Bahkan ada yang mengang-gap bahwa IPM tidak memiliki jiwa heroisme
sebagai-mana yang dimiliki oleh PII yang tetap tidak mau menga-kui Pancasila sebagai
satu-satunya asas organisasinya.

Namun sesungguhnya perubahan nama tersebut merupakan blessing in disguise


(rahmat tersembunyi). Perubahan nama dari IPM ke IRM sebenarnya semakin
memperluas jaringan dan jangkauan organisasi ini yang tidak hanya menjangkau
pelajar, tetapi juga basis remaja yang lain, seperti santri, anak jalanan, dan lain-lain.

Keputusan pergantian nama ini tertuang dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat IPM
Nomor VI/PP.IPM/1992, yang selanjutnya disahkan oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1992 melalui Surat Keputusan Pimpinan
Pusat Muham-madiyah Nomor 53/SK-PP/IV.B/1.b/1992 tentang pergantian nama
Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Dengan
demikian, secara resmi perubahan IPM menjadi IRM adalah sejak tanggal 18
Nopember 1992.
3. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan
Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran
Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan
Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah
untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah
dilahirkan.

Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan


keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran
IMM sebenarnya merupakan sebuah keha-rusan sejarah. Faktor-faktor problematis
dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990:
102) :

1. Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba
tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia
2. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta
kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk
3. Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada
kepentingan politik praktis
4. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin
tumbuhnya materialisme-individualisme
5. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya
suasana kehidupan kampus yang sekuler
6. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk
keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan
7. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan
ke-syirik-an, serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi
8. Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk

Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan


membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama.
Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk
mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad
Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat
Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut
sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak
dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya.
Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan
tingkat menengah.

Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan


dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah,
KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa "dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter,
meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" (Suara
Muhammadiyah, nomor 6 tahun ke-68, Maret II 1988, halaman 19). Dengan
demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda
yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke
Muhammadiyah.

Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di


lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri
belum memiliki perguruan tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di
lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah
mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. Dengan
demikian, pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah
Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi'atul
Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta, dihembuskan


kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. Namun
karena berbagai macam hal, keinginan tersebut belum bisa diwujudkan, sehingga
gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari
kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. Dengan demikian, keinginan untuk
membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan.

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian


perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk
mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan.
Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah,
maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam
menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah.

Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu


himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak
lama. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung
cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan
mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa
Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri
maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan
pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya
dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah
masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan
Muhammadiyah.

Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan
adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau
menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir
(tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah
Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah.

Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat
mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu
beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa
dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94). Pengaruh hubungan dekat tersebut
sangat besar bagi kelahiran IMM. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang
kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap
bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam
Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis
(dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada
saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan
banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan,
yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda
Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM.
Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan, karena sebagian
pimpinan (baik di Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyi'atul Aisyiyah,
serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI.

Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan
IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun
1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam
bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan
Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muham-
madiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua,
Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya
sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya,
1959, dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi,
yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya
organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). Ketiga, perguruan tinggi
Muham-madiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar
Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang
tentang "..... menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak
menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu
mengembangkan amanah."

Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di


Jakarta) diseleng-garakan Kongres Mahasiswa Universitas Muham-madiyah di
Yogyakarta (saat itu, Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi
Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). Pada saat itulah,
gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya. Keinginan tersebut
ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah, tetapi juga dari
kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Keinginan kuat
tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk
melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah
untuk berdiri sendiri. Oleh karena itu, lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah
yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM, Ir.), Sudibyo Markus (UGM, dr.),
Rosyad Saleh (IAIN, Drs.), sedang-kan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi
(UGM, Drs.).

Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa


Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan
disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan
Pusat Pemuda Muhammadiyah. Dengan demikian, Lembaga Dakwah
Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang
menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta.

Tiga bulan setelah penjajagan tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan


berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384
Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
saat itu, yaitu KHA. Badawi. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung
Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan ‘Enam Pene-gasan IMM' oleh KHA.
Badawi, yaitu :

1. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam


2. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan
perjuangan IMM
3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam
Muhammadiyah
4. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan
mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan
falsafah negara
5. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah
6. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta'ala dan senantiasa
diabdikan untuk kepentingan rakyat

Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muham-madiyah untuk pertama kalinya


ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan
Muhammadiyah. Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling
menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan, sehingga seringkali IMM pada
awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid
Fathoni, 1990: 102).

Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah


sebagai berikut :

1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa


2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
3. Sebagai upaya menopang, melangsungkan, dan meneruskan cita-cita
pendirian Muhammadiyah
4. Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha
Muhammadiyah
5. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal
dalam kehidupan bangsa, ummat, dan persyarikatan

Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta, maka berdiri pulalah IMM lokal di
beberapa kota lain di Indonesia, seperti Bandung, Jember, Surakarta, Jakarta, Medan,
Padang, Tuban, Sukabumi, Banjarmasin, dan lain-lain. Dengan demikian, mengingat
semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas,
maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal
menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal.

Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta, maka bersamaan dengan Musyawarah


IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 - 13 Desember 1964 diselenggarakan
Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh
hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. Musyawarah Nasional
tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya
Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April
atau Mei 1965. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan
Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan
Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai
diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. Dalam Musyawarah
Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan
IMM', Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM, Gerak Arah IMM, serta
berbagai konsep lainnya, termasuk lambang IMM, rancangan kerja, bentuk kegiatan,
dan lain-lain.
4 . Nasyi'atul Aisyiyah (NA)

Berdirinya Nasyi'atul Aisyiyah (NA) juga tidak bisa dilepaskan


kaitannya dengan rentang sejarah Muhammadiyah sendiri yang sangat
memperhatikan keberlangsungan kader penerus perjuangan. Muhammadiyah dalam
membangun ummat memerlukan kader-kader yang tangguh yang akan meneruskan
estafet perjuangan dari para pendahulu di lingkungan Muhammadiyah.

Gagasan mendirikan NA sebenarnya bermula dari ide Somodirdjo, seorang guru


Standart School Muhammadiyah. Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah,
ia menekankan bahwa perjuangan Muhammadiyah akan sangat terdorong dengan
adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya,
baik dalam bidang spiritual, intelektual, maupun jasmaninya.

Gagasan Somodirdjo ini digulirkan dalam bentuk menambah pelajaran praktek kepada
para muridnya, dan diwadahi dalam kegiatan bersama. Dengan bantuan Hadjid,
seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah, maka pada tahun 1919
Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para
remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. Perkumpulan tersebut
diberi nama Siswa Praja (SP). Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan
rasa persatuan, memperbaiki akhlak, dan memperdalam agama.

Pada awalnya, SP mempunyai ranting-ranting di sekolah Muhammadiyah yang ada,


yaitu di Suronatan, Karangkajen, Bausasran, dan Kotagede. Seminggu sekali anggota
SP Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Setelah lima bulan berjalan, diadakan
pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan dalam SP. Kegiatan SP Wanita
dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla Aisyiyah Kauman). Kegiatan SP
Wanita adalah pengajian, berpidato, jama'ah subuh, membunyikan kentongan untuk
membangunkan umat Islam Kauman agar menjalankan kewajibannya yaitu shalat
shubuh, mengadakan peringatan hari-hari besar Islam, dan kegiatan keputrian.

Perkembangan SP cukup pesat. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya mulai


segmented dan terklasifikasi dengan baik. Kegiatan Thalabus Sa'adah diseleng-
gerakan untuk anak-anak di atas umur 15 tahun. Aktivitas Tajmilul Akhlak diadakan
untuk anak-anak berumur 10-15 tahun. Dirasatul Bannat diselenggarakan dalam
bentuk pengajian sesudah Maghrib bagi anak-anak kecil. Jam'iatul Athfal dilaksanakan
seminggu dua kali untuk anak-anak yang berumut 7-10 tahun. Sementara itu juga
diselenggarakan tamasya ke luar kota setiap satu bulan sekali.

Kegiatan SP Wanita merupakan terobosan yang inovatif dalam melakukan emansipasi


wanita di tengah kultur masyarakat feodal saat itu. Kultur patriarkhis saat itu benar-
benar mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga. Para orang tua
seringkali melarang anak perempuannya keluar rumah untuk aktifitas-aktifitas yang
emansipatif. Namun dengan munculnya SP Wanita, kultur patriarkhis dan feodal
tersebut bisa didobrak. Hadirnya SP Wanita sangat dirasakan manfaatnya, karena SP
Wanita membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah dengan berbagai
pengetahuan dan ketrampilan.

Pada tahun 1923, SP Wanita mulai diintegrasikan menjadi urusan Aisyiyah.


Perkembangan selanjutnya, yaitu pada tahun 1924, SP Wanita telah mampu
mendirikan Bustanul Athfal, yakni suatu gerakan untuk membina anak laki-laki dan
perempuan yang berumur 4-5 tahun. Pelajaran pokok yang diberikan adalah dasar-
dasar keislaman pada anak-anak. SP Wanita juga menerbitkan buku nyanyian
berbahasa Jawa dengan nama Pujian Siswa Praja. Pada tahun 1926, kegiatan SP
Wanita sudah menjangkau cabang-cabang di luar Yogyakarta.

Pada tahun 1929, Konggres Muhammadiyah yang ke-18 memutuskan bahwa semua
cabang Muhammadiyah diharuskan mendirikan SP Wanita dengan sebutan Aisyiyah
Urusan Siswa Praja. Pada tahun 1931 dalam Konggres Muhammadiyah ke-20 di
Yogyakarta diputuskan semua nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai
bahasa Arab atau bahasa Indonesia, karena cabang-cabang Muham-madiyah di luar
Jawa sudah banyak yang didirikan (saat itu Muhammadiyah telah mempunyai cabang
kurang lebih 400 buah). Dengan adanya keputusan itu, maka nama Siswa Praja Wanita
diganti menjadi Nasyi'atul Aisyiyah (NA) yang masih di bawah koordinasi Aisyiyah.

Tahun 1935 NA melaksanakan kegiatan yang semakin agresif menurut ukuran saat itu.
Mereka menga-dakan shalat Jum'at bersama-sama, mengadakan tabligh ke berbagai
daerah, dan kursus administrasi. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan aktifitas yang
tidak wajar dilaksanakan oleh wanita pada saat itu.

Pada Konggres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938 di Yogyakarta diputuskan bahwa


Simbol Padi menjadi simbol NA, yang sekaligus juga menetapkan nyanyian Simbol
Padi sebagai Mars NA. Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan
diseleng-garakannya Taman Aisyiyah yang mengakomodasikan potensi, minat, dan
bakat putri-putri NA untuk dikem-bangkan. Selain itu, Taman Aisyiyah juga
menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan
dibukukan dengan diberi nama Kumandang Nasyi'ah.

Pada masa sekitar revolusi, percaturan politik dunia

yang mempengaruhi Indonesia membawa akibat yang besar atas kehidupan


masyarakat. Organisasi NA mengalami kemacetan. NA hampir tidak terdengar lagi
perannya di tengah-tengah masyarakat. Baru setelah situasi mengijinkan, tahun 1950,
Muhammadiyah mengadakan Muktamar untuk mendinamisasikan gerak dan
langkahnya. Muktamar tersebut memutuskan bahwa Aisyiyah ditingkatkan menjadi
otonom. NA dijadikan bagian yang diistimewakan dalam Aisyiyah, sehingga terbentuk
Pimpinan Aisyiyah seksi NA di seluruh level pimpinan Aisyiyah. Dengan demikian,
hal ini berarti NA berhak mengadakan konferensi tersendiri.

Pada Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1957, dari Muktamar Aisyiyah


disampaikan sebuah prasaran untuk mengaktifkan anggota NA yang pokok isinya
mengharapkan kepada Aisyiyah untuk memberi hak otonom kepada NA. Prasaran
tersebut disampaikan oleh Baroroh. Selanjutnya pada Muktamar Muham-madiyah di
Jakarta pada tahun 1962, NA diberi kesempatan untuk mengadakan musyawarah
tersendiri. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh NA dengan
menghasilkan rencana kerja yang tersistematis sebagai sebuah organisasi.

Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan untuk memberi status
otonom kepada NA. Di bawah kepemimpinan Majelis Bimbingan Pemuda, NA yang
saat itu diketuai oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk
mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. Dengan didahului
mengadakan konferensi di Solo, maka berhasillah NA dengan munasnya pada tahun
1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bandung.
Dalam Munas yang pertama kali, tampaklah wajah-wajah baru dari 33 daerah dan 166
cabang dengan penuh semangat, akhirnya dengan secara organisatoris NA berhasil
mendapatkan status yang baru sebagai organisasi otonom Muhammadiyah.
5. Tradisi pencak silat sudah berurat-berakar di kalangan masyarakat
Indonesia sejak lama. Sebagaimana seni beladiri di negara-negara lain,
pencak silat yang merupakan seni beladiri khas Indonesia memiliki ciri
khas tersendiri yang dikembangkan untuk mewujudkan identitas.
Demikian pula bahwa seni beladiri pencak silat di Indonesia juga beragam dan memiliki
ciri khas masing-masing.

Tapak Suci sebagai salah satu varian seni beladiri pencak silat juga memiliki ciri khas
yang bisa menunjukkan identitas yang kuat. Ciri khas tersebut dikembangkan melalui
proses panjang dalam akar sejarah yang dilaluinya.

Berawal dari aliran pencak silat Banjaran di Pesantren Binorong Banjarnegara pada tahun
1872, aliran ini kemudian berkembang menjadi perguruan seni bela diri di Kauman
Yogyakarta karena perpindahan guru (pendekarnya), yaitu KH. Busyro Syuhada, akibat
gerakan perlawanan bersenjata yang dilakukannya sehingga ia menjadi sasaran
penangkapan yang dilakukan rezim kolonial Belanda. Di Kauman inilah pendekar KH.
Busyro Syuhada mendapatkan murid-murid yang tangguh dan sanggup mewarisi
keahliannya dalam seni pencak silat. Perguruan seni pencak silat ini didirikan pada tahun
1925 dan diberi nama Perguruan cik auman yang dipimpin langsung oleh Pendekar M.A
Wahib dan Pendekar A. Dimyati, yaitu dua orang murid yang tangguh dari KH. Busyro
Syuhada. Perguruan ini memiliki landasan agama dan kebangsaan yang kuat. Perguruan
ini menegaskan seluruh pengikutnya untuk bebas dari syirik (menyekutukan Tuhan) dan
mengab-dikan perguruan untuk perjuangan agama dan bangsa.

Perguruan Cikauman banyak melahirkan pendekar-pendekar muda yang akhirnya


mengembangkan cabang perguruan untuk memperluas jangkauan yang lebih luas dengan
nama Perguruan Seranoman pada tahun 1930. Perkembangan kedua perguruan ini
semakin hari semakin pesat dengan pertambahan murid yang cukup banyak. Murid-murid
dari perguruan ini kemudian banyak menjadi anggota Laskar Angkatan Perang Sabil
(APS) untuk melawan penjajah, dan banyak yang gugur dalam perlawanan bersenjata.

Lahirnya pendekar-pendekar muda hasil didikan perguruan Cikauman dan Seranoman


memungkinkan untuk mendirikan perguruan-perguruan baru, yang di antaranya ialah
Perguruan Kasegu pada tahun 1951. Atas desakan murid-murid dari Perguruan Kasegu
inilah inisiatif untuk menggabungkan semua perguruan silat yang sealiran dimulai. Pada
tahun 1963, desakan itu semakin kuat, namun mendapatkan tentangan dari para ulama
Kauman dan para pendekar tua yang merasa terlangkahi. Dengan pendekatan yang
intensif dan dengan pertimbangan bahwa harus ada kekuatan fisik yang dimiliki ummat
Islam menghadapi kekuatan komunis yang melakukan provokasi terhadap ummat Islam,
maka gagasan untuk menyatukan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke
dalam satu kekuatan perguruan dimulai. Seluruh perangkat organisasional dipersiapkan,
dan akhirnya disepakati untuk menggabungkan kembali kekuatan-kekuatan perguruan
yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan, yaitu mendirikan Perguruan Tapak Suci
pada tanggal 31 Juli 1960 yang merupakan keberlanjutan sejarah dari perguruan-
perguruan sebelumnya.
Pada perkembangan selanjutnya, Perguruan Tapak Suci yang berkedudukan di
Yogyakarta akhirnya berkembang di Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya. Setelah
meletusnya pemberontakan G30 S/PKI, pada tahun 1966 diselenggarakan Konferensi
Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang
tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pada saat itulah berhasil dirumuskan
pemantapan organisasi secara nasional, dan Perguruan Tapak Suci dikem-bangkan lagi
namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
Putera Muhammadiyah. Dan pada Sidang Tanwir Muham-madiyah tahun 1967, Tapak
Suci Putera Muhammadiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom di lingkungan
Muhammadiyah, karena Tapak Suci Putera Muham-madiyah juga mampu dijadikan
wadah pengkaderan Muhammadiyah.
Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (disingkat HW) adalah salah satu
organisasi otonom (ortom) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Ortom Muhammadiyah lainnya adalah: 'Aisyiyah, Nasyiatul 'Aisyiyah (NA),
Pemuda Muhammadiyah (PM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM),
Tapak Suci Putera Muhammadiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah
(IPM).

HW didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H (1918 M) atas prakarsa KH


Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri Muhammadiyah. Prakarsa itu timbul saat beliau
selesai memberi pengajian di Solo, dan melihat latihan Pandu di alun-alun
Mangkunegaran. Gerakan ini kemudian meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka pada
1961, dan dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan SK Nomor
92/SK-PP/VI-B/1.b/1999 tanggal 10 Sya'ban 1420 H (18 November 1999 M) dan
dipertegas dengan SK Nomor 10/Kep/I.O/B/2003 tanggal 1 Dzulhijjah 1423 H (2
Februari 2003).

HW berasaskan Islam. HW didirikan untuk menyiapkan dan membina anak, remaja, dan
pemuda yang memiliki aqidah, mental dan fisik, berilmu dan berteknologi serta
berakhlak karimah dengan tujuan terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya
dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa.

Sifat, Identitas, dan Ciri Khas HW

Sifat HW

HW adalah sistem pendidikan untuk anak, remaja, dan pemuda di luar lingkungan
keluarga dan sekolah :

1. bersifat nasional, artinya ruang lingkup usaha HW meliputi seluruh wilayah


Negara Kesatuan Repulik Indonesia.
2. bersifat terbuka, artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan
masyarakat, tanpa membedakan gender, usia, profesi, atau latar belakang
pendidikan. Penggolongan keanggotaan HW menurut usia hanyalah untuk
membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina).
3. bersifat sukarela, artinya dasar seseorang menjadi anggota HW adalah suka dan
rela, tanpa paksaan atau tekanan orang lain
4. tidak berorientasi pada partai politik, artinya secara organisatoris HW tidak
berafiliasi kepada salah satu partai politik dan HW tidak melakukan aktivitas
politik praktis. Induk organisasi HW hanyalah Persyarikatan Muhammadiyah.

Identitas HW

1. HW adalah kepanduan islami, artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh


HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik
berakhlak mulia.
2. HW adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik
anak, remaja, dan pemuda dengan sistem kepanduan.

Ciri Khas Hizbul Watahan

Ciri khas HW adalah Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan, yang harus
diterapkan dalam setiap kegiatan. Pelaksanaannya disesuaikan kepentingan, kebutuhan,
situasi, kondisi masyarakat, serta kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah.

1. Prinsip Dasar Kepanduan adala

a. pengamalan akidah Islamiyah;


b. pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam
c. pengamalan kode kehormatan pandu.

2. Metode Kepanduan

a. pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu;


b. kegiatan dilakukan di alam terbuka;
c. pendidikan dengan metode yang menarik, menyenangkan, dan menantang;
d. penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan;
e. sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri.