Anda di halaman 1dari 10

BAB I

MASALAH-MASALAH YANG DIALAMI SELAMA PELAKSANAAN


PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL)

Proses pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa tidak


terlepas dari peran tenaga pendidik, dimana tenaga pendidik perlu adanya
pendidikan guru yang dilakukan secara terprogram, sistematis dan sistematik
sehingga perlu perlatihan yang dapat menunjang dalam membentuk tenaga
pendidik atau guru yang mempunyai kualitas dalam memberikan pengajaran
terhadap siswa di sekolah.

Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu program


kegiatan sekaligus mata kuliah dengan bobot 4 sks yang pelaksanaannya wajib
diikuti oleh seluruh mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung
selama satu semester. Kegiatan PPL (Program Pengalaman Lapangan) ini, secara
umum bertujuan agar para mahasiswa (praktikan) mendapatkan pengalaman
kependidikan secara faktual di lapangan dan sebagai wahana membentuk tenaga
kependidikan yang profesional. Adapun pengalaman yang dimaksud meliputi
pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai pendidik serta mampu
menerapkannya dalam penyelenggaraan pendidikkan dan pengajaran baik
disekolah maupun luar sekolah dengan penuh tanggung jawab.

Program Pengalaman Lapangan (PPL) bagi mahasiswa terbimbing dengan


efektif dapat meningkatkan hardskill maupun softskill secara aplikatif termasuk di
dalamnya kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif dalam pembelajaran.
Sehingga nantinya mahasiswa juga di tuntut untuk mendapatkan pengalaman
mengajar secara profesional serta mengintegrasikan pengalamannya itu ke dalam
pola perilaku dirinya sebagai pribadi yang efektif serta produktif. Adanya kegiatan
PPL, para mahasiswa (praktikan) diharapkan dapat mencapai kompetensi yang
ditetapkan oleh setiap program studinya masing-masing.

Kegiatan PPL yang dijalani oleh penulis dilaksanakan di SMK Negeri 12


Bandung yang beralamat di Jln. Pajajaran No. 92, Cicendo, Kota Bandung.

1
2

Pelaksanaan kegiatan PPL ini berlangsung selama 4 (empat) bulan yaitu dari
bulan Februari sampai bulan Mei 2017. Praktikan bertanggung jawab mengajar di
tiga kelas, yaitu kelas X TPU 1, X TPU 2, X TPU 3, dengan mata pelajaran
Aircraft Basic Skills.

Selama melaksanakan PPL ini banyak permasalahan yang dihadapi oleh


praktikan secara pribadi dan oleh praktikan bersama teman satu kelompok.
Permasalahan itu antara lain, yaitu penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran, proses penampilan dan bimbingan belajar dan ekstra kulikuler,
partisipasi dalam kehidupan sekolah, dan proses bimbingan.

A. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan
Menengah, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan
dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya
mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan
berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran
berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. RPP disusun berdasarkan KD
atau subtema yang dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih.
RPP merupakan salah satu aspek penting dalam proses pengajaran, karena
dalam RPP tercantum rencana pengajaran di kelas. RPP dirancang dengan
bertujuan agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dapat
terlaksana dengan baik. Selama penyelenggaraan kegiatan PPL di SMK Negeri 12
Bandung berlangsung, kurang lebih praktikan telah membuat 8 RPP.
Adapun rincian penyusunan RPP pertama sampai penyusunan RPP
kedelapan (akhir) adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan RPP Pertama:
a. Kesulitan mencari referensi materi pembelajaran.
3

b. Kesulitan mendeskripsikan tujuan pembelajaran.


c. Kesulitan menentukan metode dan media pembelajaran.
d. Kesulitan menyusun evaluasi.
e. Kesulitan menentukan alokasi waktu yang sesuai dengan materi.
2. Penyusunan RPP Kedua:
a. Kesulitan mencari referensi materi
pembelajaran.
b. Kesulitan mendeskripsikan tujuan
pembelajaran.
c. Kesulitan menentukan metode dan media
pembelajaran.
d. Kesulitan menyusun evaluasi.
e. Kesulitan menentukan alokasi waktu yang
sesuai dengan materi.
3. Penyusunan RPP Ketiga:
a. Kesulitan mencari referensi materi pembelajaran.
b. Kesulitan mendeskipsikan tujuan pembelajaran.
4. Penyusunan RPP Keempat:
a. Kesulitan mencari referensi materi pembelajaran.
5. Penyusunan RPP Kelima:
a. Tidak ada masalah atau kendala dalam
penyusunan RPP kelima.
6. Penyusunan RPP Keenam:
a. Kesulitan mencari referensi materi
pembelajaran.
7. Penyusunan RPP Ketujuh:
a. Kesulitan mencari referensi materi pembelajaran.
8. Penyusunan RPP Kedelapan:
a. Tidak ada masalah
atau kendala dalam penyusunan RPP kedelapan.
4

B. Proses Penampilan
Dalam proses penampilan praktikan, ini menjadi suatu hal yang baru bagi
praktikan karena penulis biasanya tampil didepan kelas sewaktu perkuliahan yang
berinteraksi dengan teman-teman yang sudah kenal lama, kini praktikan harus
tampil di kelas depan para siswa dan praktikan dihadapi berbagai masalah karena
dalam hal ini, praktikan terjun langsung di depan kelas untuk mengajar siswa
yang mempunyai karakter gaya belajarnya masing-masing untuk menerima materi
tertentu dan kondisi kelas yang berubah setiap waktunya.
Selama kegiatan PPL, penampilan mengajar di kelas merupakan kegiatan
pokok. Pada minggu awal praktek mengajar, kepercayaan diri dan manajemen
kelas menjadi kendala yang paling sulit karena di minggu ini masih dalam proses
adaptasi. Dalam pelaksanaanya, praktikan mengalami masalah yang sebagian
besar disebabkan oleh faktor dari dalam diri praktikan itu sendiri. Berikut ini
adalah beberapa masalah yang dihadapi praktikan pada saat proses belajar
mengajar berlangsung:
1. Manajemen Kelas
Masalah penguasaan dan pengelolaan kelas adalah masalah utama yang
dialami oleh praktikan selama kegiatan PPL berlangsung. Praktikan merasa
belum mampu menguasai kelas dan membuat seluruh siswa fokus pada
kegiatan pembelajaran. Hal ini terjadi karena praktikan baru pertama kali
mengajar di kelas secara formal.
2. Pendekatan Personal
Setelah kurang lebih dua bulan mengajar di kelas, praktikan menyadari bahwa
praktikan masih belum mampu mengenali nama dan wajah setiap siswa kelas
tersebut serta belum mampu menyikapi setiap karakteristik yang berbeda-
beda. Hal ini menjadi masalah karena sesungguhnya siswa akan merasa lebih
dihargai saat nama dan wajahnya dikenal oleh sang guru.
3. Penyampaian Materi
Masalah lain yang dialami oleh praktikan dalam kegiatan belajar mengajar
ialah penyampaian materi. Dikarenakan mengalami kesulitan dalam
penyusunan materi atau batas-batas materi, praktikan masih merasa ragu-ragu
dalam menyampaikannya.
5

4. Masalah Teknis
Selain itu, hal yang biasanya menjadi masalah dalam proses pengajaran ialah
masalah teknis toolbox yang kunci gemboknya tidak dapat dibuka dan kurang
lengkapnya perkakas pada toolbox karena kelalaian siswa.

Adapun rincian hambatan atau masalah-masalah secara umum yang


dihadapi praktikan selama proses penampilan mengajar di kelas dari pertemuan
awal sampai pertemuan akhir adalah sebagai berikut:

1. Penampilan mengajar ke-1 sampai ke-5:


a. Praktikan langsung disuruh mengajar di
kelas tanpa mengamati terlebih dahulu guru mata pelajaran mengajar di
kelas.
b. Praktikan tegang, gugup pada saat berada di
depan kelas atau dihadapan siswa.
c. Kesulitan dalam mengajak siswa untuk
fokus dalam belajar dikarenakan kurangnya ketertarikan siswa akan materi
pembelajaran.
d. Kesulitan dalam memanfaatkan waktu,
sesuai dengan alokasi yang direncanakan.
e. Kesulitan melakukan evaluasi berdasarkan
tuntutan aspek kompetensi.
2. Penampilan mengajar ke-6 sampai ke-9:
a. Kesulitan dalam mengajak siswa untuk fokus dalam belajar dikarenakan
kurangnya ketertarikan siswa akan materi pembelajaran.
b. Kesulitan dalam menerangkan berdasarkan tuntutan aspek kompetensi
(kognitif, psikomotor, afektif)
c. Kesulitan dalam memanfaatkan waktu, sesuai dengan alokasi yang
direncanakan.
d. Kesulitan melakukan evaluasi berdasarkan tuntutan aspek kompetensi.
6

3. Penampilan mengajar ke-10 sampai ke-16:


Penampilan kesepuluh ini kesulitan-kesulitan yang sebelumnya sudah
semakin berkurang, hanya saja masih sedikit terganggu dengan sikap siswa yang
sedikit sulit diatur dan konsentrasi siswa dalam proses pembelajaran.

C. Bimbingan Belajar dan Ekstra Kurikuler


Kegiatan PPL adalah wahana untuk menemukan gambaran nyata tentang
dunia pendidikan khususnya segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan
belajar mengajar. Oleh karena itu, praktikan selalu berusaha untuk mengikuti apa
yang dianjurkan oleh sekolah agar mendapatkan pengalaman ril yang bisa
dijadikan cerminan selanjutnya.
Seluruh kegiatan ekstra kurikuler ini diselenggarakan sekolah selain untuk
membina sikap keorganisasian peserta didik, juga untuk menampung,
menyalurkan, mengembangkan minat, bakat, aspirasi, kreativitas dan kemampuan
peserta didik serta diharapkan peserta didik mempunyai keahlian di luar mata
pelajaran pokok yang telah diwajibkan.
Adapun kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan oleh sekolah,
diantaranya:
1. Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
2. Pramuka
3. Paskibra
4. PMR
5. Polisi Taruna
6. Aeromodelling
7. DKM
8. DBAE
9. Futsal, basket, dll
Kegiatan PPL adalah wahana untuk menemukan gambaran yang
sesungguhnya pada dunia nyata setelah lulus dari universitas, maka dalam
pelaksanaannya praktikan dikondisikan dan diusahakan untuk berpartisipasi
langsung mengikuti kegiatan-kegiatan rutin yang ada di sekolah, termasuk
kegiatan ekstra kulikuler yang disebutkan di atas. Namun karena banyaknya
7

kegiatan ekstra kulikuler tersebut, maka dalam pelaksanaannya praktikan hanya


mengikuti 1 ekstra kurikuler yaitu poilisi taruna. Masalah lain yang dialami oleh
praktikan adalah jadwal ekstrakulikuler yang dilaksanakan pada hari sabtu.

D. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah


Disamping melaksanakan proses belajar-mengajar, praktikan juga dituntut
untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan ikut serta dalam kegiatan-
kegiatan sekolah yang dilaksanakan oleh sekolah.
Ada beberapa kegiatan yang perlu diketahui dan dilaksanakan oleh
praktikan selama Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK Negeri 12
Bandung selain kegiatan belajar mengajar yang merupakan tugas utama praktikan.
Adapun beberapa kegiatan tersebut diantaranya:
1. Upacara Bendera
Di SMK Negeri 12 Bandung, upacara bendera dilaksanakan setiap satu
minggu sekali pada hari senin pagi. Kegiatan ini dimulai pukul 06.30-07.30
WIB
2. Shalat Dhuha
Setiap pagi hari sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung, dilaksanakan
shalat dhuha berjamaah. Kegiatan ini bermanfaat agar para siswa terbiasa
shalat dhuha di pagi hari, melatih kedisiplinan, dan meningkatkan iman-taqwa
para siswa.
3. Piket Gerbang
Piket ini bertugas antara lain:
a. Mencatat siswa yang terlambat dan merekap ke buku absen yang
telah disediakan.
b. Memberikan hukuman bagi siswa yang terlambat.
c. Memantau kelancaran dan ketertiban Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM).
d. Menangani/menerima tamu/Orang tua siswa untuk diteruskan
kepada wali kelas/BP/yang berkepentingan.
4. Piket Tamu
Piket ini bertugas antara lain:
8

a. Menerima tamu yang mempunyai kepentingan terhadap sekolah.


b. Melayani siswa, memberikan surat izin masuk karena terlambat,
maupun memberikan surat izin keluar karena sakit atau kepentingan lain.
c. Menyampaikan surat bagi guru dari siswa yang berhalangan masuk
atau tidak dapat hadir dikarenakan sakit atau kepentingan keluarga.
d. Mengabsen siswa dan guru yang tidak masuk sekolah atau tidak
hadir dengan melakukan keliling ke setiap kelas yang ada di SMKN 12
Bandung.
5. Piket Jurusan
Piket ini bertugas menggantikan guru yang berhalangan hadir dengan
mengawasi siswa agar mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru yang
bersangkutan.
Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan piket, yaitu pada awal
praktikan mengalami kesulitan karena praktikan masih merasa bingung atas
hal apa saja yang harus dilakukan. Namun pada minggu berikutnya praktikan
mulai dapat memahami tugas piket karena telah mendapat pengarahan dari
koordinator wakasek kurikulum dan guru piket.
6. Kegiatan Ekstrakurikuler
Pada kegiatan ini pembimbing hanya ikut memberi pengarahan saja, dan juga
mengecek kehadiran siswa yang mengikuti ekstrakurikuler.

E. Proses Bimbingan
Proses bimbingan sangat praktikan utamakan dikarenakan proses
bimbingan merupakan hal terpenting untuk membantu kelancaran praktikan dalam
melaksanakan praktek kependidikan. Menyamakan persepsi atau pemahaman
mengenai penyusunan RPP sangatlah diperlukan. Selain itu, proses bimbingan
bertujuan untuk menyesuaikan pemahaman praktek di lapangan dengan materi
yang telah diterima di perkuliahan dan sebagai sarana konsultasi tentang
perkembangan kegiatan mengajar praktikan untuk perbaikan kegiatan selanjutnya.
Adapun permasalahan yang dihadapi praktikan dalam proses bimbingan
adalah:
1. Guru Pamong PPL
9

Secara umum, praktikan tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam


melakukan bimbingan dengan guru pamong PPL, karena guru pamong cukup
aktif dalam memberikan masukan dan motivasi baik untuk perkembangan
kemampuan praktikan dalam mengajar maupun dalam kegiatan diluar mengajar.
Beberapa bimbingan yang dilakukan meliputi;
a. Pemberian saran mengenai penampilan di kelas.
b. Konsultasi mengenai materi yang akan disampaikan.
c. Konsultasi dalam proses penampilan di kelas.
d. Penyusunan RPP.
e. Pemberian saran dan koreksi tentang kegiatan diluar mengajar.
2. Guru Mata Pelajaran
Guru mata pelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam membantu
pratikan di sekolah. Kegiatan praktikan secara intensif diberikan bimbingan
langsung oleh guru mata pelajaran secara formal maupun informal. Guru mata
pelajaran juga memberikan masukan kepada praktikan tentang proses belajar
mengajar di kelas yang telah dilaksanakan setiap pertemuan. Bimbingan dengan
guru mata pelajaran berupa kegiatan konsultasi masalah-masalah yang dihadapi
oleh praktikan, seperti:
a. Situasi, kondisi siswa dan sekolah
b. Mendiskusikan bahan ajar sebelum proses belajar mengajar di kelas
berlangsung.
c. Menanyakan dan mendiskusikan hal-hal materi pelajaran yang kurang di
mengerti oleh praktikan.
d. Mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan kisi-kisi soal,
penyusunan soal, kriteria soal (mudah, sedang, atau sukar).
3. Dosen Pembimbing PPL
Selain guru pamong PPL, praktikan juga mendapat bimbingan dari dosen
pembimbing. Bimbingan tersebut dapat dilakukan ketika dosen pembimbing
berkunjung ke sekolah atau praktikan yang menemui dosen pembimbing. Masalah
yang dialami paraktikan selama dibimbing oleh dosen pembimbing adalah
terbatasnya jumlah pertemuan dikarenakan dosen pembimbing memiliki jadwal
10

yang padat sehingga pertemuan dengan dosen pembimbing tidak dapat


dilaksanakan secara langsung dan intens.