Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN


ADAPTASI IKAN TERHADAP SUHU
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Anatomi Dan Fisiologi Ikan
Pembimbing Mulya S.,A.Md.

Disusun oleh :
INGGIT UTAMI EKA PUTRI
NPM : 20742047

D3 BUDIDAYA PERIKANAN
FAKULTAS PETERNAKAN
POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2020
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan. Kenaikan suhu
air menyebabkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Air memiliki
beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih
lambat dari pada udara. Suhu sulit berubah di dalam air dari pada di udara, namun
suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu hewan akuatik umumnya
memiliki toleransi yang sempit (Wibowo, 2007).
Penurunan suhu menyebabkan penghambatan proses fisiologi bahkan
dapat menyebabkan kematian. Suhu media berpengaruh terhadap aktifitas enzim
pencernaan. Jika aktifitas enzim pencernaan meningkat maka laju pencernaan juga
akan semakin meningkat, sehingga tingkat pengosongan lambung tinggi.  Tingkat
pengosongan lambung yang tinggi menyebabkan ikan cepat lapar dan nafsu
makannya meningkat.  Jika konsumsi pakan tinggi, nutien yang masuk kedalam
tubuh ikan juga tinggi, dengan demikian ikan memiliki energi yang cukup untuk
pertumbuhan (Wibowo, 2007).
          Perubahan parameter air secara nyata dapat diamati pada tingkah laku
ikan. Jika tingkah laku ikan cenderung gelisah, kemungkinan adanya perubahan
dari kualitas air seperti fluktuasi suhu, kekurangan oksigen atau masuknya bahan-
bahan pencemar maupun pestisida. Sebaiknya untuk menjaga kualitas air perlu
dilakukan analisa kualitas air secara rutin pada periode waktu tertentu. Apabila
kondisinya memang mengkhawatirkan, maka segera dilakukan tindakan-tindakan
seperti dengan memindahkan ikan ke media yang lebih aman atau dengan
melakukan pergantian air (Ghufran, 2008).
          Setiap ikan yang ada dilingkungan perairan memiliki tingkat respon yang
berbeda-beda dengan jenis hewan lain. Sama halnya dengan ikan yang semula
berada dilingkungan bersuhu normal lalu dimasukkan kedalam lingkungan yang
bersuhu dingin, maka ikan akan menunjukkan respon terhadap lingkungannya.
Begitu sebaliknya untuk ikan yang diletakkan dilingkungan air bersuhu panas,
ikan akan menunjukkan respon sebagai upaya penyesuaian diri (Rustadi, 2012)

1.2.  Tujuan
Tujuan dari praktikum ini untuk mengamati respon ikan terhadap suhu
dingin, suhu panas dan perubahan suhu.

1.3. Manfaat
            Manfaat dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui
respon yang ditunjukkan oleh ikan akibat perubahan suhu yang ada dilingkungan
hidupnya.
TINJAUAN PUSTAKA

Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi


mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel
lingkungan yang dihadapi organisme tersebut (Campbell. 2004; 288). Artinya
bahwa setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi
lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah
laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam
pengaturan homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota
perairan (Tunas. 2005;16).
Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie. 1990;
180). Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air
lainnya terganggu (Kanisius. 1992; 22). Menurut Soetjipta (1993; 71), Air
memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air
berjalan lebih lambat dari pada udara. Selanjutnya Soetjipta menambahkan bahwa
walaupun suhu kurang mudah berubah di dalam air daripada di udara, namun
suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk akuatik sering
memiliki toleransi yang sempit.
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas
tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan
sekelilingnya (Hoole et al, dalam Tunas. 2005; 16). Sebagai hewan air, ikan
memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat.
Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organ-organ ikan disesuaikan
dengan kondisi lingkungan (Yushinta. 2004: 14). Secara kesuluruhan ikan lebih
toleran terhadap perubahan suhu air, beberapa spesies mampu hidup pada suhu air
mencapai 290C, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat
dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya
terbatas(Sukiya. 2005; 9)
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan
mengalami kenaikan kecepatan respirasi (Kanisius. 1992; 23). Hal tersebut dapat
diamati dari perubahan gerakan operculum ikan. Kisaran toleransi suhu antara
spesies ikan satu dengan lainnya berbeda, misalnya pada ikan salmonid suhu
terendah yang dapat menyebabkan kematian berada tepat diatas titik beku,
sedangkan suhu tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis ikan (Tunas. 2005;
16-17). Telah diketahui diatas bahwa suhu merupakan faktor abiotik yang paling
berpengaruh pada lingkungan perairan, maka perlu diketahui bagaimana suhu
mempengaruhi aktifitas biologis spesies ikan tertentu melalui gerakan operculum
Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

Adaptasi Organisme
Adaptasi diartikan merupakan kemampuan individu untuk mengatasi
keadaan lingkungan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih banyak untuk
mempertahankan hidupnya dalam relung yang diduduki. Ini bahwa setiap
organisme mempunyai sifat adaptasi untuk hidup pada berbagai macam keadaan
lingkungan (Djamal. 1992; 58).
Djamal menambahkan bahwa bahwa ada beberapa jenis adaptasi yakni;
adaptasi morfologis, adaptasi fisiologis dan adaptasi tingkah laku.

Biologi Ikan
Pisces (Ikan) merupakan superkelas dari subfilum Vertebrata yang
memiliki keanekaragaman sangat besar (Sukiya. 2005; 33). Ikan adalah anggota
vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan
insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan
jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia (Fujaya,1999 dalam Dhamadi.
2009).
Secara keseluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air suhu
air, seperti vertebrata poikiloterm lain suhu tubuhnya bersifat ektotermik, artinya
suhu tubuh sangat tergantung atas suhu lingkungan (Sukiya.2005;9-10).
Selanjutnya Sukiya menambahkan bahwa beberapa ikan mempunyai perilaku
istimewa seperti ikan Glodok yang dapat berjalan di atas daratan dan memanjat
pohon.
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1.  Waktu dan Tempat


Praktikum Fisiologi Hewan Air ini dilaksanakan hari Jumat, 09 oktober
2020 di desa Manisak, Kec.Ranto Baek, Kab.Mandailing Natal, Sumatera Utara.

          3.2  Alat dan Bahan


                 Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum respon ikan
terhadap lingkungan hiperosmotik, isoosmoti dan hipoosmotik adalah sebagai
berikut :

          3.2.1  Tabel alat yang digunakan dalam praktikum

No Alat Spesifikasi Fungsi


Sebagai wadah
1 Toples 3 buah
peeliharaan ikan
Untuk membersihkan
2 Tisu 1 buah toples dan peralatan
lainnya
3 Termometer 1 buah Untuk mengukur suhu air

     3.2.2  Tabel bahan yang digunakan dalam praktikum

No Bahan Spesifikasi Fungsi


1 Air tawar 1 liter Media pemeliharaan ikan
2 Ikan Patin 2 ekor Bahan uji percobaan
3 Ikan Nila 2 ekor Bahan uji percobaan
4 Air Panas Secukupnya Untuk menambah suhu air
Untuk menurunkan suhu
5 Es batu Secukupnya
air
3.3  Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Bersihkan wadah yang akan digunakan untuk lingkungan idup ikan.
2.      Isi toples dengan air 3 liter.
3.      Ukur suhu awal air dengan menggunakan termometer dan kemudian catat
berapa suhunya.
4.      Masukkan ikan kedalam toples yang telah diukur suhu awalnya.
5.      Masukkan es batu yang telah di hancurkan kedalam toples sampai suhu
menjadi 150 C dan amati respon kedua ikan selama 5 menit.
6.      Turunkan suhu menjadi 100 C dengan menambahakan es batu yang telah
dihancurkan sampai suhu yang diinginkan, amati perbedaan respon kedua
ikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1 suhu tetap dalam waktu 10 menit

No Suhu Reaspon Ikan Nila


1 10°C Pingsan, bergerak pasif
2 15°C Mulai bergerak Aktif
3 20°C Tidak banyak perubahan, tidak ada feses
4 25°C Masih bergerak aktif
5 30°C Normal ada feses
6 35°C Kedudukan diam dan feses
Berlendir dan aktif berenang, kemudian
7 40°C
mengapung
Tabel 4.2 suhu diturunkan dalam waktu 10 menit

No Suhu Reaspon Ikan Nila


Bergerak tidak aktif, stress, operculum
1 35°C
terbuka dan berlendir
2 30°C Gerakan normal dan operculum normal
3 25°C Operculum normal

Tabel 4.3 suhu dinaikkan dalam waktu 10 menit

No Suhu Reaspon Ikan Nila


1 10°C Stress, gerakan tak terkendali,pingsan
2 20°C Menggerakkan ekor, tetap pingsan
3 30°C Lemas, dan pingsan

4.2 Pembahasan
Ikan memiliki kecenderungan untuk beradaptasi dengan lingkungan
barunya,
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
            Kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Ikan akan mencoba mempertahankan tekanan osmotiknya melalui banyak
gerak, banyak mengeluarkan urin dan feses pada lingkungan bersalinitas.
2.    Ikan patin yang tidak memiliki sisik dan ikan nila yang memiliki sisik akan
berbeda responnya terhadap lingkungan yang bersalinitas.
3.    Ikan patin akan lebih banyak mengeluarkan lendir dibanding ikan nila
sebagai upaya menjaga keseimbangan tekanan osmotik.
4.    Ikan nila dan ikan pati termasuk ikan air tawar atau yang biasa disebut
potadromus.
5.    ikan nila dan ikan patin termasuk ikan yang memiliki sistem osmoregulasi
hiperosmotik.

5.2  Saran
            Sebaiknya dalam pengamatan respon ikan terhada lingkungan
hiperosmotik, hipoosmotik dan isoosmotik ini dilakukan dan diamati dengan
teliti agar hasil yang didapat akurat dan bisa dilihat perbedaan secara spesifik
antara respon ikan nila dan ikan patin terhadap lingkungan yang bersalinitas.

Anda mungkin juga menyukai