Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Penyakit Benigna Prostat Hiperplasia


Sasaran : Pasien dan keluarga pasien di ruang Bedah
Hari/Tanggal : Kamis, 12 Oktober 2020
Jam : 10.00 – 10.30Wita
Waktu : 30 Menit
A. Latar Belakang
Benigna Prostat Hiperplasia atau biasa disingkat BPH adalah kondisi yang
terjadi pada pria dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran dan bukan
merupakan kanker (NIH, 2014). BPH adalah tumor jinak paling umum pada pria
dan bertanggung jawab pada gejala perkemihan di sebagian besar pria diatas usia
50 tahun. BPH merupakan hasil proliferasi dari sel-sel stroma dan epitel dari
kelenjar prostat (Brodeur, 2013).
Menurut Silva (2007), BPH dianggap menjadi bagian dari proses penuaan
yang normal. Walaupun demikian, jika menimbulkan gejala yang berat dan tidak
segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi yang mungkin terjadi pada
penderita BPH yang dibiarkan tanpa pengobatan adalah pembentukan batu
vesika akibat selalu terdapat sisa urin setelah buang air kecil, sehingga terjadi
pengendapan batu. Bila tekanan intra vesika yang selalu tinggi tersebut
diteruskan ke ureter dan ginjal, akan terjadi hidroureter dan hidronefrosis yang
akan mengakibatkan penurunan fungsi ginjal.
BPH merupakan penyakit tersering nomor 2 setelah infeksi saluran kemih, 5
persen atau kira-kira 5 juta pria Indonesia berusia 60 tahun lebih menderita BPH
dan 2,5 juta pria diantaranya menderita gejala saluran kemih bagian bawah atau
Lower Urinary Tracs Symtoms (LUTS) akibat dari BPH (Mochtar, 2015).
Penelitian Pietrzyk (2015) sebesar 22.4 % pasien BPH mengalami depresi dan
berisiko 4 kali akan mengalami depresi (OR=4.69) (Dunphy, 2015) hal
dikarenakan berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari BPH seperti
disfungsi ereksi, nyeri saat berkemih, dan 28% penderita akan mengalami
gangguan tidur, 66% beban psikologi, 48% gangguan aktivitas seksual, 66%
memiliki ketakutan akan komplikasi sehingga hal ini akan menurunkan kualitas
hidup dari penderita BPH. (Parsons & Patel, 2014).
Berdasarkan hal di atas, pendidikan kesehatan dilakukan untuk menjelaskan
mengenai penyakit apendisitis . Pendidikan kesehatan ini diharapkan ini dapat
menambah pengetahuan dan menjadi pembelajaran.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30menit, pasien dan keluarga pasien
dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit BPH (Benigna Prostat
Hiperplasia).
C. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan pasien dan
keluarga pasien dapat :
1. Mengetahui pengertian penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
2. Mengetahui penyebab penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
3. Mengetahui tanda dan gejala penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
4. Mengetahui pencegahan penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
5. Mengetahui penanganan penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
D. Materi
1.  Pengertian penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
2. Penyebab penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
3. Gejala penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
4. Pencegahan penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
5. Penanganan penyakit BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. Media
1. Standing Banner
2. Leaflet
G. Setting Tempat

O F
M
P

Keterangan :

O : Observer

P : Pemateri

F : Fasilitator

M : Moderaator

: pasien dan keluarga pasien

: Media

H. Pengorganisasian dan Rincian Tugas


1. Pengorganisasian
Moderator : Ahmad Kai
Pemateri : Heslinda A.I Slamet
Fasilitator : Mustia S. Kartotaruno
Observer : Irmahardiyanti
2. Rincian Tugas
a. Moderator :
1) Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan tujuan dari pendidikan kesehatan
4) Menyebutkan materi yang akan diberikan
5) Memimpin jalannya pendidikan kesehatan dan menjelaskan waktu
pendidikan kesehatan (kontrak waktu)
6) Menjadi penengah komunikasi antara peserta dan pemberi materi
7) Mengatur waktu pendidikan kesehatan
b. Pemateri
1) Mengenali pengetahuan pasien dan keluarga tentang pencegahan
anemia
2) Menjelaskan materi tentang pencegahan anemia
3) Menjawab pertanyaan peserta pendidikan kesehatan
c. Fasilitator :
1) Menyiapkan tempat dan media sebelum mulai
2) Menyiapkan tempat dan media sebelum memulai pendidikan
kesehatan
3) Memotivasi para peserta agar berparitisipasi dalam pendidikan
kesehatan
4) Memotivasi para peserta untuk mengajukan pertanyaan saat
moderator memberikan kesempatan bertanya
5) Membantu pembicara menjawab pertanyaan dari peserta

d. Observer
1) Mengobservasi jalannya proses kegiatan
2) Mencatat perilaku verbal dan non verbal peserta selama kegiatan
pendidikan kesehatan berlangsung
3) Memberikan penjelasan kepada pembimbing tentang evaluasi hasil
pendidikan kesehatan
I. Kegiatan Pendidikan Kesehatan

No Kegiatan Penyuluhan Kegiatan pasien Metode Waktu


.
1. Pembukaan
- Moderator memberi salam - Menjawab Salam Ceramah 5 menit
- Moderator memperkenalkan - Mendengarkan dan
semua anggota penyuluh memperhatikan
- Moderator membuat kontrak - Mendengarkan dan
waktu memperhatikan
- Moderator menjelaskan - Mendengarkan dan
tujuan penyuluhan memperhatikan
2. Penyajian Materi
- Menjelaskan pengertian BPH - Mendengarkan dan 30 menit
(Benigna Prostat Hiperplasia) memperhatikan
- Menjelaskan penyebab BPH
(Benigna Prostat Hiperplasia) - Mendengarkan dan
- Menjelakan tanda dan gejala memperhatikan
BPH (Benigna Prostat - Mendengarkan dan
Hiperplasia) memperhatikan
- Menjelaskan pencegahan
BPH (Benigna Prostat - Mendengarkan dan
Hiperplasia) memperhatikan
- Menjelaskan penanganan - Mendengarkan dan
BPH (Benigna Prostat memperhatikan
Hiperplasia) - Mengajukan
- Memberikan kesempatan pertanyaan
pasien dan keluarga pasien
untuk bertanya. - Mendengarkan dan
- Menjawab pertanyaan pasien memperhatikan
3. Penutup
- Presenter mengadakan - Menjawab 10 menit
evaluasi pertanyaan
- Menjawab salam
- Presenter memberi salam - Mendengarkan dan
- Moderator menyimpulkan memperhatikan
hasil diskusi - Menjawab salam
- Moderator memberi salam

J. Sumber
Purnomo, B. 2011. Dasar-dsar Urologi. Jakarta: Sagung Seto.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2012). Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta: EGC.
Elin, Y & Retnonasi, A. 2011. Iso farmakoterapi 2. ISFI, Jakarta.

K. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Tersedia media
b. Setting tempat teratur
c. Suasana tenang dan tidak ada yang hilir mudik

2. Evaluasi Proses
a. Selama proses berlangsung diharapkan pasien dan keluarga pasien dapat
mengikuti seluruh kegiatan
b. Selama kegiatan berlangsung diharapkan pasien dan keluarga pasien aktif
c. Berjalan dengan baik dan tepat waktu sesuai dengan perencanaan.
3. Evaluasi Hasil
a. Minimal 40 % dari audiensi yang mengikuti penyuluhan mengetahuidan
memahami tentang apendisitis.
b. Minimal 40 % dari audiensi dapat menjawab pertanyaan penyaji
c. Audiensi dapat mengulangi kembali materi penyuluhan

L. Lampiran Materi
1. Pengertian
Benigna Prostatic hyperplasia adalah suatu kondisi yang sering terjadi
sebagai hasil dari pertumbuhan dan pengendalian hormon prostat. (Elin &
Retonasi, 2011).
BPH (Hiperplasia prostat benigna) adalah suatu keadaan di mana
kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang ke atas ke dalam
kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutup orifisium uretra.
BPH merupakan kondisi patologis yang paling umum pada pria. (Smeltzer
dan Bare, 2012).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah kelenjar prostat yang mengalami
pembesaran, yang dapat menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan
terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli (Purnomo 2011).
2. Etiologi

Menurut (Roger dalam Purnomo, 2011) Penyebab yang pasti dari

terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar

prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat

kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan. Ada beberapa faktor

kemungkinan penyebab antara lain :

a. Dihydrotestosteron

Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan

epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi.

b. Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron

Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen

dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.

c. Interaksi stroma –epitel

Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor

dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasia


stroma dan epitel.

d. Berkurangnya sel yang mati

Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup

stroma dan epitel dari kelenjar prostat.

e. Teori sel stem

Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.

3. Tanda dan gejala


Menurut Arora et al (2006) tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan
pada penderita BPH yaitu:
a. Gejala iritatif meliputi :
a) Peningkatan frekuensi berkemih
b) Nokturia (terbangun pada malam hari untuk miksi)
c) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak/tidak dapat ditunda (urgensi)
d) Nyeri pada saat miksi (disuria)
b. Gejala obstruktif meliputi :
a) Pancaran urin melemah
b) Rasa tidak puas sehabis miksi, kandung kemih tidak kosong dengan baik
c) Kalau mau miksi harus menunggu lama
d) Volume cairan menurun dan harus mengedan saat berkemih
e) Aliran urin tidaklancar/terputus-putus

f) Urin terus menetes setelahberkemih

g) Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan

inkontinensia karena penumpukan berlebih.

h) Pada gejala yang sudah lanjut, dapat terjadi Azotemia (akumulasi produk

sampah nitrogen) dan gagal ginjal dengan retensi urin kronis dan volume
residu yang besar.

4. Faktor Risiko
a. Usia
Laki-laki yang memiliki umur >50 tahun memiliki risiko lebih besar
dibanding laki-laki usia <50 tahun. Sesuai dengan pertambahan usia kadar
testosteron mulai menurun secara perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih
cepat pada usia 60 tahun ke atas.
b. Pola Hidup
Salah satu yang harus diperhatikan untuk mengurangi risiko terjadinya
BPH yaitu dengan memperhatikan pola hidup yang sehat contohnya dengan
mengkonsumsi makanan yang tinggi serat karena dapat mengurangi
pertumbuhan sel-sel yang abnormal. Hindari mengkonsumsi makanan yang
mengandung zat-zat diuretik contohnya kopi, dan teh. Larangan
mengkonsumsi diuretik ini bertujuan agar tidak terjadi spasme pada sfingter
eksterna yang menyebabkan terjadinya retensi urin.
Mengurangi kebiasaan merokok karena nikotin dan konitin yang
terkandung dalam rokok dapat meningkatkan aktivitas enzim perusak
androgen, sehingga menyebabkan penurunan kadar testosteron.
5. Penatalaksanaan
a. Insisi transurethral prostat (TUIP)
Ini adalah prosedur endoskopi. Hal ini dilakukan dengan memasukkan
endoskopi melalui uretra ke prostat. Kemudian sayatan kecil dibuat di
jaringan prostat untuk memperbesar lubang uretra dan kandung kemih. TUIP
adalah prosedur yang cukup aman dan tidak ada luka eksterior setelah operasi.
Prosedur memakan waktu sekitar 40-50 menit.
b. Reseksi transurethral prostat (TURP)
Ini juga prosedur endoskopi. Hal ini dilakukan dengan memasukkan
endoskopi melalui penis dan mengeluarkan bagian prostat yang menghalangi
secara berurutan dengan arus listrik. Panas arus listrik bisa menghentikan
pendarahan dengan cepat juga. Prosedur ini memakan waktu sekitar 60-90
menit dan dapat dilakukan dengan anestesi umum atau regional.
c. Buka prostatektomi
Buka prostatektomi ini adalah operasi yang lebih tradisional. Insisi
dibuat di perut bagian bawah untuk menghilangkan jaringan prostat. Hal ini
umumnya dilakukan saat prostat sangat besar.