Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN KASUS

“Asuhan Keperawatan pada PasienAn.A dengan ISPA”

Disusun Oleh :

CLARISSA PRAMESTYA

2041312036

PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

TAHUN 2020
BAB I

LATARBELAKANG

A. PENDAHULUAN

ISPA merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyerang salah satu

atau lebih dari saluran pernapasan mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli

(saluran bawah) termasuk jaringan adneksinya seperti sinus, rongga telinga tengah

dan pleura (Kemenkes, 2015). ISPA di sebabkan oleh virus, bakteri dan reketsia

(Widoyono,2011), dan infeksi ini paling sering terjadi pada anak karena beberapa

faktor seperti terpapar asap rokok, pencemaran lingkungan, makanan yang kurang

bersih dan lain-lain. Anak akan mengalami masalah pernafasan berupa sesak

nafas, kesulitan bernafas, batuk dan bentuk-bentuk masalah lainnya sebagai akibat

infeksi saluran pernafasan.

ISPA dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor individu anak, faktor

perilaku dan factor lingkungan. Faktor individu anak meliputi: umur anak, berat

badan lahir, status gizi, vitamin A dan status imunisasi. Faktor perilaku meliputi

perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA pada anak atau peran aktif

keluarga/masyarakat dalam menangani penyakit ISPA. Faktor lingkungan

meliputi: pencemaran udara dalam rumah (asap rokok dan asap hasil pembakaran

bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi yang tinggi), ventilasi rumah dan

kepadatan hunian. Penderita akan mengalami demam, batuk, dan pilek berulang

serta anoreksia, di bagian tonsilitis dan otitis media akan memperlihatkan adanya

inflamasi pada tonsil atau telinga tengah dengan jelas. Infeksi akut pada anak jika

tidak mendapatkan pengobatan serta perawatan yang baik akan mengakibatkan


timbulkan pneumonia yang berlanjut pada kematian, sepsis yang meluas bahkan

henti napas sementara atau apnea (WHO, 2015).

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana asuhan keperawata pada anak yang mengalami ISPA?

C. TUJUAN

Melaksanakan asuhan keperawatan pada anak yang mengalami ISPA

Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian keperawatan pada anak yang mengalami

ISPA

2. Menentukan diagnosa keperawatan pada anak yang mengalami

ISPA

3. Menyusun perencanaan keperawatan pada anak yang mengalami

ISPA

4. Melaksanakan implementasi keperawatan pada anak yang

mengalami ISPA

5. Melakukan evaluasi keperawatan pada anak yang mengalami ISPA

D. MANFAAT

1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan wawasan dalam pemecahan masalah

keperawatan pada anak dengan ISPA

2. Bagi Keluarga

Menambah wawasan dalam pemecahan masalah pada anak yang

mengalami ISPA
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP TEORITIS PENYAKIT

1. DEFENISI

Infeksi adalah proses masuknya kuman atau mikroorganisme

lainnya ke dalam manusia dan akan berkembang biak sehingga akan

menimbulkan gejala suatu penyakit. Saluran pernafasan adalah suatu

saluran yang berfungsi dalam proses respirasi mulai dari hidung hingga

alveolus beserta adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah,

dan pleura.

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan suatu infeksi

yang bersifat akut yang menyerang salah satu atau lebih saluran

pernafasan mulai dari hidung sampai alveolus termasuk ( sinus, rongga

telinga tengah, pleura) (Depkes, 2011). ISPA dibagi menjadi dua

bagian, yaitu infeksi saluran pernafasan bagian atas dan infeksi saluran

bagian bawah.

2. ETIOLOGI

Etiologi ISPA terdiri dari agen infeksius dan agen non- infeksius.

Agen infeksius yang paling umum dapat menyebabkaninfeksi saluran

pernafasan akut adalah virus, seperti respiratory syncytial virus (RSV),

nonpolio enterovirus (coxsackie viruses Adan B), Adenovirus,

Parainfluenza, dan Human metapneumo viruses. Agen infeksius selain

virus juga dapat menyebabkan ISPA, staphylococcus, haemophilus


influenza, Chlamydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococcus

(Hockenberry danWilson,2013). Agen non-infeksius penyebab ISPA

adalah inhalasi zat-zat asing seperti racun atau bahan kimia, asap

rokok, debu, dangas (Misnadiarly, 2008).

3. MANIFESTASI KLINIS

Tanda dan gejala ISPA sesuai dengan anatomi saluran pernafasan

yang terserang menurut Djojodibroto (2009) yaitu:

a) Gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas.

Gejala yang timbul yaitu pengeluaran cairan nasal yang

berlebihan, bersin, obstruksi nasal, mata berair, konjungtivitis

ringan, sakit tenggorokan yang ringan sampai berat, sakit

kepala, malaise, lesu, batuk seringkali terjadi, dan terkadang

timbul demam.

b) Gejala infeksi saluran pernafasan bagian bawah.

Gejala yang timbul biasanya didahului oleh gejala infeksi

saluran pernafasan bagian atas seperti hidung buntu, pilek, dan

sakit tenggorokan. Batuk dari ringan sampai berat. Setelah

beberapa hari akan terdapat produksi sputum yang

banyak.Padapemeriksaan fisik, biasanya akan ditemukan suara

wheezing atau ronkhi yang dapat terdengar jika produksi sputum

meningkat. Tanda dan gejala lainnya dapat berupa pilek, demam

dan sakit kepala.


4. KOMPLIKASI

Komplikasi yang paling sering adalah otitis media, yang ditemukan

pada bayi – bayi kecil sampai sebanyak 25 persennya. Kebanyakan,

infeksi virus saluran pernafasan atas juga melibatkan saluran

pernafasan bawah, dan pada banyak kasus, fungsi paru menurun

walaupun gejala saluran pernafasan bawah tidak mencolok atau tidak

ada (Nelson, 2007).

5. PENATALAKSANAAN

Menurut WHO, penatalaksanaan ISPA sedang meliputi :

a) Suportif

Meningkatkan daya tahan tubuh berupa nutrisi yang adekuat,

pemberian multivitamin

b) Antibiotic

Biasanya diberikan berdasarkan jenis kumanpenyebab

ISPA.Pneumonia rawat jalan yaitu kotrimoksasol, amoksisillin,

amplisillin, penisillin prokain.Pneumonia berat yaitu Benzil

penicillin, gentamisin. Selain itu pemberi obat penurun panas

seperti paracetamol, asetaminofen.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG

(1) Kultur

Kultur tenggorok dapat dilakukan untuk mengidentifikasi

organisme yang menyebabkan faringitis.

(2) Pemeriksaanpencitraan,
Pemeriksaan sinar-X jaringan lunak, CT Scan, pemeriksaan dengan

zat kontras dan MRI (pencitraan resonansi magnetik). Pemeriksaan

tersebut mungkin dilakukan sebagai bagian integral dari

pemeriksaan diagnostik untuk menentukan keluasan infeksi pada

sinusitis atau pertumbuhan tumor dalam kasustumor


7. WOC

Virus, Bakteri, Jamur

Kuman terbawa ke saluran nafas cerna Infeksi bawah saluran nafas


Invasi saluran nafas akut

Kuman berlebih di bronkus


Infeksi saluran cerna

Peningkatan flora normal di usus


Akumulasi secret di bronkus

peradangan

Peristaltik usus meningkat


Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

Peningkatan suhu tubuh

malasorbsi

Hipertermi
Gngguan eliminasi Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Gangguan keseimbangan cairan tubuh


B. KONSEP TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN

a) Identitas anak dan penanggung-jawab anak

b) KeluhanUtama

Adanya demam, kejang, sesak nafas, batuk produktif, tidak mau

makan, anak rewel dan gelisah, atau sakit kepala.

c) Riwayat kesehatan anak sebelumnya

d) Riwayat kehamilan dan persalinan

e) Riwayat kesehatan keluarga

2. PEMERIKSAAN FISIK

∙ Keadaanumum, biasanya anaktampak lemah, sakit berat.

∙ Tanda-tandavital : TD menurun, nafas sesak, nadi lemah

dan cepat, suhu meningkat, sianosis.

∙ TB/BB, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan.

∙ Kulit

Inpeksi: biasanya tampak pucat dan sianosis.

Palpasi: biasanya tugor kulit jelek.

∙ Rambut

Inpeksi: lihat distribusi rambut merata atau tidak, bersih

atau bercabang dan halus atau kasar.

Palpasi: mudah rontok atau tidak

∙ Kuku, lihat kondisi kuku pucat atau tidak, ada sianosis atau

tidak, Palpasi: CRT < 2 detik


∙ Kepala, lihat kesimetrisan, biasanya klien mengeluh sakit

kepala. Palpasi: periksa adanya benjolan atau nyeri.

∙ Mata, biasanya kunjungtiva dan sklera berwana normal,

lihat reflek kedip baik atau tidak, terdapat radang atau tidak

dan pupil isokor.

∙ Hidung, biasanya terdapat pernafasan cuping hidung,

terdapat sekret berlebih, pada Palpasi: adanya nyeri tekan

dan benjolan

∙ Mulut danfaring, pucat sianosis, membrane mukosa kering,

bibir kering, dan pucat

∙ Telinga, pada Inpeksi: biasanya pucat, sianosis, membrane

mukosa kering bibir kering dan pucat.pada palpasi periksa

adanya respon nyeri pada daun telinga

∙ Thorax, Periksa apakah nafas cepat dan tarikan dada bagian

bawah ke dalam. Adanya stridor

atauwheezingmenunjukkan tanda bahaya

∙ Abdomen, lihat kesimetrisan dan adanya pembesaran

abdomen, adanya nyeri tekan dan pembesaran abdomen

∙ Genetalia, periksa adanya kelaian genetalia, adanya

pembesaran skrotum atau adaya lesi padagenetalia, adanya

nyeri tekan dan benjolan

∙ Ekstremitas, adakah oedem, tanda sianosis dan kesulihatan

bergerak atau adanya nyeri tekan dan benjolan.


3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Tujuan&Kriteria Hasil Intervensi


Bersihan Jalan Nafas NOC : NIC :
tidak Efektif ∙ Respiratory status : Airway suction
Ventilation  Pastikan kebutuhan oral / tracheal
Definisi : ∙ Respiratory status : suctioning
Ketidakmampuan untuk Airway patency  Auskultasi suara nafas sebelum
membersihkan sekresi ∙ Aspiration Control dan sesudah suctioning
atau obstruksi dari  Informasikan pada klien dan
saluran pernafasan untuk Kriteria Hasil : keluarga tentang suctioning
mempertahankan  Mendemonstrasikan  Minta klien nafas dalam sebelum
kebersihan jalan nafas. batuk efektif dan suction dilakukan
suara nafas yang  Berikan O2 dengan menggunakan
Batasan Karakteristik : bersih, tidak ada nasal untuk memfasilitasi suksion
∙ Dispneu, Penurunan sianosis dan dyspneu nasotrakeal
suara nafas (mampu  Gunakan alat yang steril sitiap
∙ Orthopneu mengeluarkan melakukan tindakan
∙ Cyanosis sputum, mampu
 Anjurkan pasien untuk istirahat
∙ Kelainan suara nafas bernafas dengan
dan napas dalam setelah kateter
(rales, wheezing) mudah, tidak ada
dikeluarkan dari nasotrakeal
∙ Kesulitan berbicara pursed lips)
 Monitor status oksigen pasien
∙ Batuk  Menunjukkan jalan
∙ Mata melebar nafas yang paten  Ajarkan keluarga bagaimana cara
∙ Produksi sputum (klien tidak merasa melakukan suksion
∙ Gelisah tercekik, irama nafas,  Hentikan suksion dan berikan
∙ Perubahan frekuensi frekuensi pernafasan oksigen apabila pasien
dan irama nafas dalam rentang menunjukkan bradikardi,
normal, tidak ada peningkatan saturasi O2, dll.
Faktor-faktor yang suara nafas abnormal)
berhubungan  Mampu Aiway Management
∙ Lingkungan : mengidentifikasikan  Buka jalan nafas, guanakan
merokok, menghirup dan mencegah factor teknik chin lift atau jaw thrust
asap rokok, perokok yang dapat bila perlu
pasif-POK, infeksi menghambat jalan  Posisikan pasien untuk
∙ Fisiologis : disfungsi nafas memaksimalkan ventilasi
neuromuskular,  Identifikasi pasien perlunya
hiperplasia dinding pemasangan alat jalan nafas
bronkus, alergi jalan buatan
nafas, asma.  Pasang mayo bila perlu
∙ Obstruksi jalan nafas :  Lakukan fisioterapi dada jika
spasme jalan nafas, perlu
sekresi tertahan,  Keluarkan sekret dengan batuk
banyaknya mukus, atau suction
adanya jalan nafas  Auskultasi suara nafas, catat
buatan, sekresi adanya suara tambahan
bronkus, adanya  Lakukan suction pada mayo
eksudat di alveolus,  Berikan bronkodilator bila perlu
adanya benda asing di  Berikan pelembab udara Kassa
jalan nafas. basah NaCl Lembab
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

Hipertermia NOC : NIC :


Thermoregulation Fever treatment
Definisi : suhu tubuh  Monitor suhu sesering mungkin
naik diatas rentang Kriteria Hasil :  Monitor IWL
normal  Suhu tubuh dalam  Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal  Monitor tekanan darah, nadi dan
Batasan Karakteristik:  Nadi dan RR dalam RR
∙ kenaikan suhu tubuh rentang normal  Monitor penurunan tingkat
diatas rentang normal  Tidak ada perubahan kesadaran
∙ serangan atau warna kulit dan tidak  Monitor WBC, Hb, dan Hct
konvulsi (kejang) ada pusing, merasa
 Monitor intake dan output
∙ kulit kemerahan nyaman
 Berikan anti piretik
∙ pertambahan RR
∙ takikardi  Berikan pengobatan untuk
∙ saat disentuh tangan mengatasi penyebab demam
terasa hangat  Selimuti pasien
 Lakukan tapid sponge
Faktor faktor yang  Berikan cairan intravena
berhubungan :  Kompres pasien pada lipat paha
- penyakit/ trauma dan aksila
- peningkatan  Tingkatkan sirkulasi udara
metabolisme  Berikan pengobatan untuk
- aktivitas yang berlebih mencegah terjadinya menggigil
- pengaruh
medikasi/anastesi Temperature regulation
-ketidakmampuan  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
/penurunan kemampuan   Rencanakan monitoring suhu
untuk berkeringat secara kontinyu
- terpapar dilingkungan  Monitor TD, nadi, dan RR
panas  Monitor warna dan suhu kulit
-dehidrasi  Monitor tanda-tanda hipertermi
-pakaian yang tidak tepat dan hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
 Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat panas
 Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan
kemungkinan efek negatif dari
kedinginan
 Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
 Ajarkan indikasi dari hipotermi
dan penanganan yang diperlukan
 Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
 Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
 Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR,
sebelum,selama, dan setelah
aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan
abnormal
 Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
Kurang Pengetahuan NOC : NIC :
∙ Kowledge : disease Teaching : disease Process
Definisi : process  Berikan penilaian tentang tingkat
Tidak adanya atau ∙ Kowledge : health pengetahuan pasien tentang
kurangnya informasi Behavior proses penyakit yang spesifik
kognitif sehubungan  Jelaskan patofisiologi dari
dengan topic spesifik. Kriteria Hasil : penyakit dan bagaimana hal ini
 Pasien dan keluarga berhubungan dengan anatomi dan
Batasan karakteristik : menyatakan fisiologi, dengan cara yang tepat.
memverbalisasikan pemahaman tentang  Gambarkan tanda dan gejala yang
adanya masalah, penyakit, kondisi, biasa muncul pada penyakit,
ketidakakuratan prognosis dan dengan cara yang tepat
mengikuti instruksi, program pengobatan  Gambarkan proses penyakit,
perilaku tidak sesuai.  Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat
mampu melaksanakan  Identifikasi kemungkinan
prosedur yang penyebab, dengna cara yang tepat
Faktor yang berhubungan dijelaskan secara  Sediakan informasi pada pasien
: keterbatasan kognitif, benar tentang kondisi, dengan cara yang
interpretasi terhadap  Pasien dan keluarga tepat
informasi yang salah, mampu menjelaskan  Hindari harapan yang kosong
kurangnya keinginan kembali apa yang  Sediakan bagi keluarga informasi
untuk mencari informasi, dijelaskan tentang kemajuan pasien dengan
tidak mengetahui perawat/tim kesehatan cara yang tepat
sumber-sumber lainnya
 Diskusikan perubahan gaya hidup
informasi.
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
 Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat
 Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
 Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
BAB III

PEMBAHASAN KASUS

ASUHA KEPERAWATAN PADA An. A

I. IDENTITAS DATA
Nama Anak : An.A Nama Ibu : Ny.S
BB/TB : 23 Kg / 126 cm Pekerjaan : Dagang
TanggalLahir/Usia : 18.04.2013/7 Th Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : perum. Banuaran
Pendidikan Anak : SD
Anak ke :1

II. KELUHAN UTAMA


Pada tanggal 15/11/2020 Ibu mengatakan anak panas demam disertai
pilek, batuk (+).Ibu mengatakan selama demam nafsu anak menurun dari
biasanya.Ibu mengatakan sudah memberikan kompres untuk menurunkan
panas anak, serta memberi obat sirup untuk demam dan pilek dari
apotek.Pada saat pengkajian tanggal 17/11/2020 demam anak sudah turun
tetapi pilek masih ada. Ibu mengatakan tadi malam anak susah tidur karena
hidung anak tersumbat. Ibu banyak bertanya tentang kondisi anak karena
tidak mengetahui cara yang tepat untuk mengatasi pilek pada anak dan cara
mengatasi penyakit ispa yang di derita anak.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN


a. Prenatal :
Selama hamil ibu pasien rutin memeriksa kehamilan di klinik bidan, Pasien
dilahirkan dengan normal dan bernafas spontan.Ibu tidak memiliki riwayat
penyakit tertentu.
b. Intranatal :
An.N lahir dengan umur kehamilan cukup bulan, An.A lahir normal
dengan kondisi yang sehat dengan BBL 3Kg dan panjang badan 48 cm.
c. Postnatal :
Pemeriksaan bayi dan masa nifas ibu dilakukan dirumah bersalin, kondisi
pasien saat itu sehat.

III. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU


a. Penyakit yang diderita sebelumnya:
Pasien tidak pernah dirwat dirumah sakit sebelumnya.
b. Alergi:
Tidak ada riwayat alergi obat ataupun alergi makanan
c. Kecelakaan:
Tidak ada riwayat kecelakaan
d. Riwayat Imunisasi:
Pasien mendapatkan imunisasi lengkap.

IV. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Orang tua pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga dengan penyakit
paru – paru atau penyakit menular
Genogram

x
x

Ket : □ = Laki – laki


○ = Perempuan
→ = Pasien
X = meninggal
V. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
a. Kemandirian dan Bergaul :
 Keluarga pasien mengatakan An.A dapat bersosialisasi dengan
tetangga di lingkungan sekitar rumahnya
 An. A memiliki teman dekat disekolah dan di sekitar rumahnya
b. Kognitif dan Bahasa :
 An. A dapat berkomunikasi secara jelas dan menggunakan bahasa
yang dapat dimengerti orang lain
 An. A sudah padai membaca dan berhitung dengan baik
c. Psikososial :
Berada pada tahap perkembangan industry vs inferiority
 An.A dapat menyelesaikan tugas sekolahnya dengan baik,
 An.A memiliki teman bermain tetap (sahabat)
 An.A mau membantu saat dimintai bantuan
 An. A senang bernyanyi
VI. RIWAYAT SOSIAL
a. Yang mengasuh Klien: ibu, ayah,
b. Hubungan dengan Anggota Keluarga:
anak memiliki hubungan yang dekat dengan seluruh anggota keluarga
c. Hubungan dengan Teman Sebaya:
Keluarga mengatakan An.A memiliki hubungan yang baik dengan teman
sebaya nya.
d. Pembawaan secara Umum:
Keluarga mengatakan pembawaan An.A secara umum santai dan tenang
e. Lingkungan Rumah :
Keluarga An. A tinggal di lingkungan yang ramai, jarak antar rumah cukup
dekat, dan dekat dengan akses jalan raya.
Rumah Keluarga An.A adalah rumah semi permanen, jamban memiliki
septic tank, dan sumber air PDAM.
VII. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : cukup baik
HR :90 x/i
RR : 24 x/i
T : 37,6℃
2. BB : 23 Kg
TB : 126 cm
3. Kepala
Lingkar Kepala: simetris
Rambut: bersih, rambut panjang, warna hitam bersih, Distribusi
rambutmerata
4. Mata
Mata kiri dan kanan simetris, Konjungtiva tidak anemis, tidak ada
pembengkakan pada mata, reflek terhadap cahaya (+), pupil isokhor.
5. Hidung : tampak sekret yang mengalir dari hidung
6. Mulut dan gigi: Bibir tidak sianosis, lidah bersih, gigi bersih,mukosa agak
kering
7. Telinga :Telinga kiri dan kanan simetris, tidak ada pembengkakan, tidak
ada sumbatan, fungsi pendengaran baik
8. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, tidak ada
pembesaran vena jugularis
9. Paru-paru :
Inspeksi : pola napas teratur, dinding dada simetris kiri dan kanan,
pergerakan dada kiri dan kanan simetris, tidak ada penggunaan otot
bantu pernapasan.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada dinding dada, fremitus dada kiri
dan kanan sama
Perkusi : resonan pada seluruh lapang paru
Auskultasi : bunyi napas bronkovesikuler, tidak ada ronkhi dan
wheezing
10. Jantung
Inspeksi : dinding dada simetris, Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi : tidak ada nyeri pada dinding dada, Ictus Cordis tidak
teraba,
Perkusi : pekak
Auskultasi : reguler tidak ada bising jantung
11. Abdomen
Inspeksi : perut tidak ada buncit, tidak ada lesi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus hipoaktiv
12. Ekstremitas Bentuk normal, jari lengkap. Akral hangat, CRT <2 detik
VIII. Pengkajian Pola Nutrisi
Pasien memiliki BB = 23 Kg dan TB = 126 cm. Pada saat sebelum
sakit, An. A makan 3 kali sehari dengan jenis makanan yang
dikonsumsi salah nasi, lauk, dan sayur. Pasien minum 3-4 gelas sehari.
Tidak ada gangguan makan seperti mual, muntah atau alergi. Saat sakit
pasien makan dengan porsi berkurang setengah dari makan biasanya
dan hanya makan 2 kali sehari karena pasien mengatakan
tenggorokannya sakit saat menelan.
IX. Pola Peran / Hubungan
Pasien merupakan anak tertua di keluarga memiliki adik perempuan
berumur 16 bulan. Pasien banyak bermain dengan adiknya dan
menjadi kakak yang baik dengan membantu ibu mengawasi adiknya
saat ibu bekerja.
X. Tidur dan Istirahat
Sebelum sakit pasien hampir tidak pernah tidur siang karena sepulang
sekolah anak mengerjakan tugas sekolah lalu pergi mengaji. Malam
hari pasien tidur pukul 21.00 sampai pukul 07.00 WIB. Pasien sudah
demam selama 2 hari dan selama itu pasien sering tidur disiang hari
dan hanya melakukan aktivitas di tempat tidur saja.
XI. Ringkasan riwayat keperawatan
 An.A demam disertai pilek, batuk (+).
 Nafsu makan anak menurun dari biasanya. Porsi makan anak
berkurang setengahnya jika dibandingkan dengan saat sebelum
sakit.
 Hidung anak tersumbat, tenggorokan anak sakit dan nyeri saat
menelan.
 Faktor resiko ISPA pada anak : Anak tinggal dekat dengan
jalan raya dengan ramai kendaraan yang berlalu lalang, debu
jalan raya serta asap kendaraan bermotor menjadi salah satu
faktor resiko penyebab ISPA pada anak. Selain itu di temmpat
mengaji ada salah satu anak yang sedang sakit batuk dan flu
dan sering bermain dengan An. A.
 Ayah An. A adalah perokok dan terkadang suka merokok
didalam rumah.
XII. Status Gizi Anak
Tanggal Lahir Anak : 18 / 04 / 2013
Tanggal pemeriksaan : 17 / 11 / 2020
Usia Anak saat ini : 7 Tahun 6 Bulan
BB = 23 Kg
TB = 126 cm
Gizi baik (Normal) = 90 – 110 %
Status gizi berdasarkan usia menurut berat badan : Normal
BB anak 23 kg
BB standar menurut usia : 24 kg
23
x 100 %=95 %
24
Status gizi berdasrkan usia menurut tinggi badan : Normal
TB anak = 126 cm
TB Standar = 125 cm
126
x 100 %=100,8 %
125
ANALISA DATA

No Data Etiologi Diagnosa Keperawatan


1. DO : tampak cairan ingus Virus dan bakteri Bersihan jalan nafas tidak

mengalir dari hidung anak, efektif
Infeksi saluran
Anak tampak batuk, serta pernafasan

kurang bersemangat
Produksi sputum
DS : ↓
Sekresi jalan nafas
 ibu mengatakan anak pilek
dan batuk sudah 2 hari
 Ibu mengatakan tadi malam
hidung anak tersumbat
sehinggu mengganggu tidur
anak
2 DO: Proses infeksi Resiko deficit nutrisi
 Anak terlihat lesu ↓
 Anak tidak menghabiskan Peradangan
makanan yang dimakan. ↓
DS: Keengganan untuk
 Ibu mengatakan nafsu makan
makan anak menurun dari
biasanya
 Anak mengatakan
tenggorokannya sakit karena
batuk
 Ibu mengatakan anak tidak
menghabiskan makanannya
3 DO: Proses penyakit Deficit pengetahuan

 Ibu terlihat bingung Kerumitan
bagaimana cara mengatasi Pengobatan dan
perawatan
penyakit anak. ↓
 Ibu berulang kali bertanya Kurangnya sumber
kepada perawat bagimana informasi
cara mengatasi ispa.
 Ibu bertanya kepada perawat
apakah ispa itu penyakit
yang parah dan berbahaya.
DS:
 Ibu menanyakan cara
mengatasi pilek anaknya,
 ibu mengatakan anaknya
sering pilek dan batuk dan ia
tidak tahu penyebabnya
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Luaran Intervensi
1 Bersihan Jalan Nafas Tidak ∙ Bersihan jalan nafas Manajemen Jalan Nafas
Efektif Kriteria hasil: Observasi
∙ Batuk efektif ∙ Monitor pola nafas (frekuensi,
∙ Frekuensi dan pola kedalaman, usaha nafas)
nafas membaik ∙ Monitor bunyi nafas tambahan
(mis. Gurgling, mengi,
wheezing, ronchi)
∙ Monitor sputum
Terapuetik
∙ Pertahankan kepatenn jalan
nafas
∙ Berikan minuman hangat
∙ Lakukan penghisapan lendir
Edukasi
∙ Anjurkan asupan cairan 2L
perhari
∙ Ajarkan teknik batuk efektif
2 Resiko kekurangan nutrisi ∙ Nafsu Makan ∙ Manajemen Nutrisi
Kriteria hasil observasi
∙ Keinginan makan ∙ Identifikasi starus nutrisi
meningkat ∙ Identifikasi alergi dan
∙ Asupan makan intoleransi makanan
meningkat ∙ Identifikasi kebutuhan kalori
dan jenis nutrien
∙ monitor asupan makanan
∙ monitor berat badan
∙ sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang sesuai
terapeutik
∙ berikan makanan tinggi kalori
dan tinggi protein
∙ berikan makanan tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
edukasi
∙ anjurkan posisi duduk saat
makan
3 Deficit pengetahuan Tingkat pengetahuan Edukasi Kesehatan
tentang ISPAb/d kurang Kriteria hasil Observasi
terpapar informasi ∙ Perilaku sesuai anjuran ∙ Identifikasi kesiapan dan
∙ Mampu menjelaskan kemampuan menerima
pengetahuan terkait informasi
masalah yang dihadapi ∙ Identifikasi faktor-faktor yang
∙ Perilaku sesuai dapat menignkatkan dan
pengetahuan menurunkan motivasi perilaku
∙ Persepsi yang keliru hidup bersih dan sehat
erhadap masalah Terapeutik
menurun ∙ Sediakan materi dan media
pendidikan kesehatan
∙ Jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai kesepakatan
∙ Berikan kesempatan untuk
bertanya
Edukasi
∙ Jelaskan faktor resiko yang
dapat mempengaruhi
kesehatan
∙ Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk
meningkatkan perilaku hidup
bersih dan sehat
CATATAN PERKEMBANGAN ASUHAN KEPERAWATAN
Hari/ Diagnosa
No. Waktu Implementasi Evalu
Tanggal Keperawatan
Selasa 10. 00 Bersihan Jalan ∙ Memeriksa pernafasan anak , S: Ibu klien
17/11/2020 Nafas Tidak RR=24, tidak ada bunyi mengatakan
Efektif nafas tambahan , tidak ada dan pilek a
penggunaan otot bantu agak berkur
pernafasan O : RR = 21
∙ mengajarkan teknik nafas Tidak ada b
dalam dan batuk efektif pada nafas tamba
anak A: Masalah
Teratasi seb
P: Intervens
dilanjutkan

11.30 ∙ Mengajarkan ibu mengatur


posisi tidur anak untuk
mempertahankan kepatenan
jalan nafas
∙ Mengajarkan ibu untuk terapi
air hangat dan minya
kayuputih untuk jalan nafas
anak
∙ Menganjurkan ibu untuk
memberikan minuman
hangat pada anak
∙ Menganjurkan ibu untuk
memenuhi asupan cairan
anak perhari, yaitu sebanyak
1,7L atau 8gelas perhari
12.30 Resiko deficit ∙ Menanyakan pada ibu pola S: ibu meng
nutrisi makan anak, termasuk Anak
fekuensi makan anak menghabisk
∙ Menanyakan kepada ibu setengah po
alergi makanan anak makannya d
∙ menganjurkan ibu untuk biasa
menyajikan makanan secara O: anak ma
menarik atau kesukaan anak terlihat lesu
untuk meningkatkan nafsu A: masalah
makan anak sebagian
∙ menganjurkan posisi duduk P: intervens
saat makan dilanjutkan
Rabu 13.00 Bersihan Jalan ∙ Memeriksa pernafasan anak S: Ibu klien
18/11/ 2020 Nafas Tidak (frekuensi, kedalaman, usaha mengatakan
Efektif nafas, bunyi nafas tambahan. dan pilek a
∙ Mengajarkan ibu mengatur sudah reda
posisi tidur anak untuk O : RR = 20
mempertahankan kepatenan Hidung ana
jalan nafas bersih
∙ Menganjurkan ibu untuk A: Masalah
memberikan minuman Teratasi
hangat pada anak P: Intervens
∙ mengajarkan teknik nafas selesai
dalam dan batuk efektif pada
anak
15.00 Resiko deficit ∙ Menanyakan pada ibu pola S: ibu meng
nutrisi makan anak, termasuk Anak
fekuensi makan anak menghabisk
∙ menganjurkan ibu untuk makannya
menyajikan makanan secara O: anak tam
menarik atau kesukaan anak bersemanga
untuk meningkatkan nafsu A: masalah
makan anak P: intervens
∙ menganjurkan posisi duduk dengan
saat makan menganjurk
mempertah
pola makan
Kamis 10.00 Deficit ∙ Melakukan pendidikan S : ibu men
18 /11/2020 pengetahuan kesehatan sesuai jadwal paham deng
tentang ISPA yang disepakati dengan penyuluhan
keluarga kesehatan y
∙ Mengkaji tingkat telah dilaks
pengetahuan keluarga O ; ibu men
tentang penyakit anak acara penyu
dan penanganannya sampai sele
∙ menyediakan materi dengan pen
dan media pendidikan perhatian
kesehatan terapi ibu dapat
Inhalasi sederhana melakukan
∙ memberikan Inhalasi sed
kesempatan pada orang A : masalah
tua untuk bertanya P : interven
terkait materi yang selesai
dijelaskan

BAB 4

PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN

Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan


keperawatan sesuai dengan kenyataan. Kebenaran data sangat penting dalam

merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan

keperawatan sesuai dengan respon individu (Nursalam, 2011).

Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan ibu pasien, didapatkan data

subjektif dengan beberapa tanda-tanda ISPA pada An.A yaitu: ibu mengatakan

anak demam, batuk, pilek, hidung tersumbat dan sakit tenggorokan. Sedangkan

dari hasil pemeriksaan didapatkan data objektif yaitu anak batuk,hidung tersumbat

dengan tampak akumulasi sekret di dalam hidung, RR : 24x/menit, N : 90 x/menit,

suhu 37,6ºC, BB : 23 kg, TB : 126 cm. Pada pemeriksaan fisik paru didapatkan

bentuk simetris, pergerakan dinding dada simetris, tidak ada retraksi otot

pernafasan, Tidak ada benjolan mencurigakan, irama nafas teratur, suara nafas

vesikuler, dan tidak ada bunyi nafas tambahan.

Tanda dan gejala yang ditemukan pada An.A saat diakukan pengkajian

sudah sesuai dengan manifestasi klinis atau batasan karakteristik ISPA. Menurut

(Wong, 2008) tanda dan gejala ISPA adalah demam, ,anoreksia, muntah, diare,

nyeri abdomen, hidung tersumbat, rabas hidung, batuk, bunyi nafas, dan sakit

tenggorokan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan data-data yang diperoleh saat pengkajian maka didapatkan beberapa

masalah keperawatan. Diagnosa pertama yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif

berhubungan dengan produksi sekret. Diagnosa kedua yaitu resiko kekurangan

nutrisi berhubungan dengan kesulitan menelan. Dan diagnosa ketiga adalah defisit

pengetahuan keluarga tentang proses perawatan berubungan dengan kurang


terpaparnya informasi. Diagnosa yang muncul pada pasien sudah sesuai dengan

teori proses penyakit ISPA.

C. IMPLEMENTASI

a. Diagnosa I : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

Tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosa ini adalah:

- Memeriksa pernafasan anak , (frekuensi, kedalaman, usaha nafas, bunyi

nafas tambahan.

- mengajarkan teknik nafas dalam dan batuk efektif pada anak

- Mengajarkan ibu mengatur posisi tidur anak untuk mempertahankan

kepatenan jalan nafas

- Menganjurkan ibu untuk memberikan minuman hangat pada anak

- Menganjurkan ibu untuk memenuhi asupan cairan anak perhari, yaitu

sebanyak 1,7L atau 8gelas perhari

b. Diagnosa II : Resiko Defisit Nutrisi

- Menanyakan pada ibu pola makan anak, termasuk fekuensi makan anak

- Menanyakan kepada ibu alergi makanan anak

- menganjurkan ibu untuk menyajikan makanan secara menarik atau

kesukaan anak untuk meningkatkan nafsu makan anak

- menganjurkan posisi duduk saat makan

c. Diagnosa III : Defisit Pengetahuan

- Melakukan pendidikan kesehatan sesuai jadwal yang disepakati dengan

keluarga

- Mengkaji tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit anak dan


penanganannya

- menyediakan materi dan media pendidikan kesehatan tentang Inhalasi

Sederhana Minyak Kayu Putih

- memberikan kesempatan pada orang tua untuk bertanya terkait materi

yang dijelaskan

- Mengajarkan strategi yang dapat digunakan untuk mencegah ISPA

muncul kembali

D. EVALUASI

a. Diagnosa I : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif

Dalam pelaksanaan implemantasi semua tindakan dapat dilaksanakan

dengan baik karena keterlibatan orang tua dalam setiap tindakan perawat.

Evaluasi Asuhan keperawatan dinilai berdasarkan kriteria hasil dalam

diagnosa ini yaitu:Batuk efektif dan Frekuensi dan pola nafas membaik.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan didapatkan data subjektif berupa

Ibu klien mengatakan batuk dan pilek anak sudah reda, RR = 20 x/i serta

hidung anak terlihat bersih tanpa ada sekret. Hal tersebut menandakan

diagnosa pertama teratasi ,sehingga tindakan tidak perlu dilanjutkan.

b. Diagnosa II : Resiko Defisit Nutrisi

Kriteria hasil dalam diagnosa ini yaitu: Asupan makan dan keinginan

makan meningkat. Setelah dilakukan tindakan keperawatan didapatkan

data subjektif berupa ibu mengatakan Anak telah menghabiskan makannya

sesuai dengan porsi yang ditentukan setiap harinya. Hal tersebut

menandakan diagnosa kedua teratasi,sehingga tindakan tidak perlu


dilanjutkan.

c. Diagnosa III : Defisit Pengetahuan

Kriteria hasil dalam diagnosa ini yaitu: Perilaku sesuai anjuran, Mampu

menjelaskan pengetahuan terkait masalah yang dihadapi, Perilaku sesuai

pengetahuan, Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan didapatkan data subjektif berupa

ibu mengatakan telah paham dengan penyuluhan kesehatan yang

diberikan, ditandai dengan ibu dapat menyebutkan kembali materi

penyuluhan yang telah diberikan. Hal tersebut menandakan diagnosa

ketiga teratasi, sehingga tindakan tidak perlu dilanjutkan.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada hasil pengkajian didapatkan kesamaan data dari kasus yang

diangkat dengan teori yang sudah ada. Yaitu ibu klien mengeluhkan

anaknya mengalami demam, batuk, bersin-bersin, hidung tersumbat,

ingus meleleh, yang mengarah pada diagnosa infeksi saluran pernafasan

akut.

2. Hasil diagnosa keperawatan yang ditemukan terdapat 3 diagnosa

keperawatan yaitu : Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif, Resiko Defisit

Nutrisi, dan Defisit Pengetahuan

3. Intervensi dan implementasi yang dilakukan dirumuskan berdasarkan

diagnosa yang telah didapatkan.

4. Evaluasi yang didapatkan yaitu semua masalah keperawatan dapat

teratasi.

B. Saran

Berdasarkan asuhan keperawatan yang teah dilakukan, maka saran yang

dapat disampaikan adalah diharapkan Keluarga dapat mengawasi anak lebih

baik, karena masa kanak – kanak mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan

rentan terhadap infeksi penyakit.


Lampiran pemeriksaan Status Gizi Anak
LAMPIRAN

PENGKAJIAN

TERAPI BERMAIN
TERAPI INHALASI SEDERHANA
PENYULUHAN

LAMPIRAN LINK VIDEO

1.TERAPI BERMAIN

https://drive.google.com/file/d/1F86Ai8Nd46uQGn7g4IF2l

12amGOkDRcn/view?usp=drivesdk

2.PENYULUHAN

https://drive.google.com/file/d/1f48onuqRU83daZCRX-

P41vLXcyvi6vcX/view?usp=drivesdk

3.TERAPI INHALASI SEDERHANA

https://drive.google.com/file/d/19fpjzzWUgagPNo-

7OPsmVjlJn3tT1A0i/view?usp=drivesdk
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. 2009. Diagnosa Keperawatan. Aplikasi pada Praktek Klinis.

Edisi: IX. Jakarta: EGC.

Djojodibroto, Darmanto. (2009). Respirologi ( respiratory medicine ). Jakarta:

EGC

Friedman, Marilyn M dkk. 2010. Buku Ajar : Keperawatan Keluarga Riset, Teori

& Praktik. Jakarta : EGC.

Kemenkes RI, 2015. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut.

Jakarta: Kementrian Kesehatan RI

Dinas Kesehatan Indonesia.(2015). Profile Kesehatan Indonesia. Jakarta : Dinas


Kesehatan Pemerintahan Indonesia

Hockenberry, Marilyn J., and David Wilson (ed). 2013. Wong’s Essentials of

Pediatric Nursing. United States of America : Mosby Elsevier

Misnardiarly.(2008). Penyakit Saluran Pernafasan Pneumonia Pada Anak.Jakarta

: Rineka cipta

Muttaqin, arif.(2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem

Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan

Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta

: Salemba Medika

Riset Kesehatan Dasar . 2015. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Departemen Kesehatan, Republik Indonesia

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia

(SDKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia

(SLKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

(SIKI),  Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Wong Donna L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Ed 6. Jakarta :EGC

World Health Organization (2015). Penanganan ISPA Pada Anak Di Rumah Sakit

Kecil Negara Berkembang


SATUAN ACARA PENYULUHAN

ISPA

Oleh:

CLARISSA PRAMESTYA

2041312036

PROGRAM PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG 2020
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)

Pokok Bahasan : ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)

Sub Pokok Bahasan : Terapi Inhalasi Sederhana

Sasaran : Keluarga Ny.S

Hari/Tanggal : Kamis/ 18-11-2020

Tempat : Dirumah keluarga Ny.S

Waktu : 30 menit

Penyuluh : Clarissa Pramestya

I. Tujuan Instruksional Umum ( TIU )

Setelah mendapatkan penyuluhan selama 30 menit diharapkan peserta mampu


mengatahui dan memahami tentang penggunaan inhalasi sederhana.
II. Tujuan Instruksional Khusus ( TIK )

Setelah mendapatkan penyuluhan, peserta diharapkan dapat :

1. Menyebutkan kembali pengertian inhalasi sederhana dengan benar


2. Menyebutkan kembali tujuan dari terapi inhalasi sederhana dengan
benar
3. Menyebutkan kembali 3 dari 3 manfaat dari terapi inhalasi
sederhana dengan benar
4. Menyebutkan kembali 2 dari 2 keuntungan dan kerugian terapi
inhalasi sederhana dengan benar
5. Menyebutkan kembali indikasi dan kontraindikasi terapi inhalasi
sederhana dengan benar
6. Menyebutkan kembali 4 dari 4 prosedur tindakan inhalasi
sederhana dengan benar
III. Materi Penyuluhan

1. Pengertian inhalasi sederhana


2. Tujuan inhalasi sederhana
3. Manfaat terapi inhalasi sederhana
4. Keuntungan dan kerugian terapi inhalasi sederhana
5. Indikasi dan kontraindikasi terapi inhalasi sederhana
6. Prosedur tindakan inhalasi sederhana
IV. Metode Penyuluhan

a. Ceramah
b. Tanya jawab/Diskusi
c. Demonstrasi dan redemonstrasi
V. Media Penyuluhan
a. Leaflet
b. Lembar balik
c. Alat peraga : handuk, baskom sedang, obat-obatan aromatherapy (minyak
kayu putih), air hangat.
VI. Rencana Kegiatan Penyuluhan

N Kegiatan Uraian Kegiatan


o
Penyuluh Audience

1 Pembukaan a. Mengucapkan salam dan a. Menjawab salam


memperkenalkan diri b. Menyetujui tujuan
(5 Menit) b. Menyampaikan tujuan penyuluhan
penyuluhan
2 Penyampaian a. Menjelaskan materi penyuluhan a. Menyimak penjelasan
Materi mengenai pengertian, tujuan, yang diberikan
manfaat, prosedur, dan
(20 menit) keuntungan terapi inhalasi b.Meredemonstrasikan
sederhana c. Bertanya
b. Mendemonstrasikan terapi d. Menyimak
inhalasi sederhana

c. Memberikan kesempatan pada


peserta untuk bertanya tentang hal
yang belum dipahaminya.

d. Menjawab pertanyaan
keluarga/peserta

3 Penutup a. Melakukan evaluasi a. Menjawab pertanyaan

(5 menit) b. Menyimpulkan materi penyuluhan b. Menyimak


dan hasil diskusi kesimpulan

c. Mengucapkan salam c. Menjawab salam

VII. Evaluasi
1. Evaluasi Struktural
a. SAP dan media telah dikonsultasikan kepada pembimbing sebelum
pelaksanaan
b. Pemberi materi telah menguasai seluruh materi
c. Tempat dipersiapkan H-3 sebelum pelaksanaan
d. Mahasiswa dan peserta berada di tempat sesuai kontrak waktu yang
telah disepakati
2. Evaluasi Proses
a. Proses pelaksanaan sesuai rencana
b. Peserta aktif dalam diskusi dan tanya jawab
c. Peserta mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Evaluasi Hasil
a. 60% peserta dapat menyebutkan pengertian, manfaat, prosedur, dan
keuntungan terapi onhalasi sederhana.
b. Klien dan keluarga dapat meredemonstrasikan terapi inhalasi
sederhana dengan benar
VIII. Sumber

Akhvani, M.A. (2008). Steam inhalation treatment for children. British


Journal of General Practice, 55 (516, 557).
Agusta, A. (2008). Aromaterapi Cara Sehat dengan Wewangian Alam,
Jakarta : Penebar Swadaya
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2008). Fundamental of nursing consept: proses and

practice. Philadelphia: Mosby. Inc.


lLampiran Materi

TERAPI INHALASI SEDERHANA

1. Pengertian Terapi Inhalasi Sederhana


Inhalasi sederhana yaitu memberikan obat dengan cara dihirup dalam
bentuk uap ke dalam saluran pernafasan yang dilakukan dengan bahan dan cara
yang sederhana serta dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga.

2. Tujuan Terapi Inhalasi Sederhana


Membuat pernapasan yang terganggu akibat adanya lendir atau tengah
mengalami sesak napas menjadi kembali normal.

3. Manfaat Terapi Inhalasi Sederhana


1. Mengurangi sesak nafas
2. Melebarkan jalan napas
3. Melegakan dan menghangatkan tenggorokan
4. Keuntungan dan Kerugian Terapi Inhalasi Sederhana
Keuntungan :

1. Lebih mudah untuk dilakukan


2. Biaya lebih terjangkau
Kerugian :

Selain keuntungan, terapi inhalasi sederhana juga memiliki kekurangan


antara lain yaitu:
Kurang efektif di berikan pada balita karena uap air panas dan bau
minyak penghangatnya terlalu kuat. Belum lagi risiko kecelakaan terkena
tumpahan air panas.
5. Indikasi dan Kontraindikasi Terapi Inhalasi Sederhana
Indikasi Inhalasi Uap :

1. Penggunaan terapi inhalasi ini diindikasikan untuk  pasien sesak nafas


dan batuk
2. asma
3. pilek dengan hidung sesak dan berlendir
4. selaput lendir mongering
5. iritasi kerongkongan, radang selaput lendir saluran pernafasan bagian
atas
6. Dll
Kontraindikasi Inhalasi Uap :

Kontra indikasi mutlak pada terapi inhalasi tidak ada. Indikasi relatif pada
pasien dengan alergi terhadap bahan atau obat yang digunakan

6. Prosedur Tindakan Terapi Inhalasi Sederhana


Alat dan bahan :

1. Handuk
2. Baskom ukuran sedang
3. Obat-obatan aromatherapi seperti minyak kayu putih
4. Air panas
Cara kerja :

1. Persiapkan alat dan bahan


2. Campurkan minyak kayu putih dengan air panas dalam baskom dengan
perbandingan 2-3 tetes minyak kayu putih untuk 250 ml (1 gelas) air
hangat.
3. Tempatkan pasien dan campuran tersebut di ruangan tertutup (gunakan
handuk) supaya uap tidak tercampur denga udara bebas.
4. Hirup uap dari campuran tersebut selama ± 5-10 menit atau pasien sudah
merasa lega dengan pernafasannya.

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

TERAPI AKTIVITAS : BERMAIN MELIPAT ORIGAMI


Disusun untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak

Oleh:

CLARISSA PRAMESTYA, S.kep

2041312036

PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN ANAK

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2020
SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN

Pokok Bahasan :Terapi bermain stimulasi Kognitif dan motorik halus

Sub-pokok Bahasan : Terapi bermain melipat kertas origami

Sasaran : An. A

Hari / Tanggal : Rabu / 18 November 2020

Waktu : 10 menit

Tempat : Rumah An. A

A. Pendahuluan

Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan

dan merupakan suatu metode bagi mereka untuk mengenal dunia. Bagi

anak bermain tidak sekedar untuk mengisi waktu, tetapi merupakan bagian

dari kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dalam

pengasuhan dan lainnya. Anak memerlukan berbagai jenis variasi

permainan untuk kesehatannya. Dengan bermain, selain menstimulasi

pertumbuhan dan perkembangan fisik seperti perkembangan motorik

anak, elemen penting lainnya dalam bermain adalah kesenangan yang

dapat menstimulasi perkembangan emosional atau perasaan anak.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan terapi bermain diharapkan anak dapat

dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit.

2. Tujuan Khusus

Setelah mengikuti kegiatan terapi bermain, diharapkan anak mampu:

a. Meningkatkan perkembangan motorik halus anak

b. Melatih meningkatkan kemampuan kognitif anak dengan

mengikuti melipat kertas origami dengan bentuk yang tepat

c. Menigkatkan kemampuan sosial, afektif, dan bahasa anak dengan

interaksi antara ana dan perawat

C. Metode dan Media

1. Metode

Bermain dengan anak dengan mendemonstrasikan cara membuat

origami dan mempraktekkan bersama

2. Media

a. Kertas origami

D. Kegiatan

No Uraian Kegiatan Kegiatan Perawat Kegiatan Klien

1. Pembukaan 1. Salam pembukaan - Memperhatikan


2. Perkenalan - Menjawab salam
(3 Menit) 3. Mengkomunikasikan
tujuan
2. Kegiatan Bermain 1. Menyiapkan alat - Mengikuti
permainan permainan
(10 Menit) 2. Membagikan kertas - Menanggapi
origami pada anak
3. Memberikan contoh
cara membuat
origami
4. Membantu anak
membuat origami
bersama
5. Memberi
reinforcemen positif
jika anak bisa
mengikuti instruksi
permainan
3. Evaluasi Mengakiri permainan - Memperhatikan
dan melakukan evaluasi - Menanggapi
(7 Menit)

E. Evaluasi

1. Struktur

a) Media dan alat memadai

b) Waktu pelaksanaan tepat waktu

c) Lingkungan yang mendukung

2. Proses

a) Kegiatan terapi aktivitas bermain anak dilaksanakan tepat waktu

sesuai dengan yang direncanakan

b) Kegiatan terapi aktivitas bermain anak dapat berjalan dengan

lancar dimana peserta Kegiatan mau melakukan rangkaian kegiatan

serta interaksi antara anak dan fasilitator lancar dan anak dapat

mengikuti kegiatan dan tidak meninggalkan tempat saat kegiatan

berlangsung