Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

Oleh: Kelompok 5
Elsa Cenora Simatupang (4193141019)
Harmenita Tampubolon (4193341028)
Jessica Sonia Pasaribu (4193341031)
Regina Kristin Manalu (4193141014)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENDIDIKAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
OKTOBER 2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas
bantuan dari pihak yang telah membantu dengan memberi saran dalam pengambilan
materi. Dengan harapan yang besar, semoga makalah ini dapat membantu para pembaca
untuk dijadikan pengetahuan ataupun sebagai pedoman.
            Demikianlah pengantar tugas ini dan penulis berharap semoga tugas ini dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………...……..i
DAFTAR ISI……………………….....…………………………………….………….ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………….....…...…….….1
1.2 Tujuan ……………………………………………..…….....………...…....2
1.3 Manfaat ………………………………….…………....…....…………..….2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pancasila Dan Filsafat..………………..……….….………..…3
2.2 Pancasila Sebagai Suatu Filsafat …………………….....…………….…...3
2.3 Melalui Pendekatan Dasar Ontologis, Epistemologis, Aksiologis..............4

BAB III PENUTUP


4.1 Kesimpulan.................................................................................................10
4.2 Saran...........................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA………………………………...…………………....................11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada umumnya di dunia ini terdapat berbagai macam dasar negara yang
menyokong negara itu sendiri agar tetap berdiri kokoh, teguh, serta agar tidak
terombang ambing oleh persoalan yang muncul pada masa kini. Pada hakikatnya
ideologi merupakan hasil refleksi manusia berkat kemampuannya mengadakan distansi
terhadap dunia kehidupannya. Maka terdapat sesuatu yang bersifat dialektis antara
ideologi dengan masyarat negara. Di suatu pihak membuat ideologi semakin realistis
dan pihak yang lain mendorong masyarakat mendekati bentuk yang ideal. Idologi
mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa maupun negara, namun juga
membentuk masyarakat menuju cita-citanya. Indonesia pun tak terlepas dari hal itu,
dimana Indonesia memiliki dasar negara yang sering kita sebut Pancasila.

Pancasila sebagai ideologi menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi


negara dan karakteristik Pancasila sebagai ideologi negara. Sejarah indonesia
menunjukan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi
kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar
kehidupan yang layak dan lebih baik, untuk mencapai masyarakat Indonesia yang adil
dan makmur.

Pancasila merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, karena dalam masing-
masing sila tidak bisa di tukar tempat atau dipindah. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila
merupakan pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia. Bahwasanya Pancasila yang
telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan
Undang- Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa,
yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu
kekuatan manapun juga yang

mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Mempelajari Pancasila


lebih dalam menjadikan kita sadar sebagai bangsa Indonesia yang memiliki jati diri dan
harus diwijudkan dalam pergaulan hidup sehari-hari untuk menunjukkan identitas
bangsa yang lebih bermatabat dan berbudaya tinggi. Melalui makalah ini diharapkan
dapat membantu kita dalam berpikir lebih kritis mengenai arti Pancasila.

3
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Pancasila dan Filsafat ?

2. Bagaimana pengertian Pancasila sebagai suatu filsafat?

3. Apa saja objek dari filsafat Pancasila?

4. Bagaimana Pancasila melalui pendekatan dasar Ontologis, Epistemologis, serta


Aksikologis?

5. Apa hakekat dari Pancasila?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dari Pancasila dan Filsafat.

2. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari Pancasila sebagai suatu filsafat.

3. Untuk mengetahui objek dari filsafat Pancasila

4. Untuk mengetahui dan memahami Pancasila melalui pendekatan dasar Ontologis,


Epistemologis, serta Aksikologis.

5. Untuk mengetahui hakekat dari Pancasila.

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pancasila Dan Filsafat

Secara etimologis istilah “pancasila” berasal dari sansekerta dari India (bahasa kata
brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut Muhammad
Yamin, dalam bahasa sansekerta perkataan “pancasila” memiliki dua macam arti secara
leksikal yaitu : “panca” artinya “lima”, “syila” vokal i pendek artinya “batu sendi”,
“alas”, atau “dasar”, “syila” vokal i panjang artinya “peraturan tingkah laku yang baik,
yang penting atau senonoh”. Oleh karena itu secara etimologis kata “pancasila” yang
dimaksudkan adalah istilah “Panca Syiila” dengan vokal i pendek yang memiliki makna
leksikal “berbatu sendi lima” atau secara harfiah “dasar yang memiliki lima unsur”.
Pengertian filsafat adalah suatu kebijaksanaan hidup (filosofia) untuk memberikan
suatu pandangan hidup yang menyeluruh berdasarkan refleksi atas pengalaman hidup
maupun pengalaman ilmiah. Filsafat merupakan suatu ilmu pengetahuan karena
memiliki logika, metode dan sistem. Namun filsafat berbeda dari ilmu-ilmu pengetahuan
kehidupan lainnya oleh karena memiliki obyek tersendiri yang sangat luas. Seorang yang
berfilsafat (filsuf) akan mengambil apa yang telah ditangkap dalam pengalaman hidup
maupun pengalaman ilmiah kemudiaan memandangnya di bawah suatu horizon yang
lebih luas, yakni sebagai unsur kehidupan manusia yang menyeluruh.

2.2 Pancasila Merupakan Suatu Filsafat


Menurut Ruslan Abdulgani, Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai
ideologi kolektif (cita-cita bersama) seluruh bangsa Indonesia. Mengapa pancasila
dikatakan sebagai filsafat? Hal itu dikarenakan pancasila merupakan hasil perenungan
jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yang kemudian
dituangkan dalam suatu sistem yang tepat. Menurut Notonagoro, Filsafat Pancasila ini
memberikan pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat pancasila.
Filsafat pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasionl tentang pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan
pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan
sebagai filsafat karena pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang
dilakukan oleh the founding fathers Indonesia, yang di tuangkan dalam suatu system.

Pengertian filsafat pancasila secara umum adalah hasil berfikir atau pemikiran yang

5
sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini
sebagai kenyataan, norma-norma dan nilai-nilai yang benar, adil, bijaksana dan paling
sesuai dengan kehidupan dan kepribadian bangsa Indonesia. Filsafat pancasila
kemudian dikembangkan oleh Soekarno sejak 1955 sampai kekuasaannya berakhir
pada 1965. Pada saat itu Soekarno selalu menyatakan bahwa pancasila merupakan
filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia, serta merupakan
akulturasi budaya India (hindu-buddha), Barat (Kristen), Arab (Islam).

Filsafat pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat praktis sehingga filsafat


pancasila tidak hanya mengandung pemikiran yang sedalam-dalamnya atau tidak hanya
bertujuan mencari, tetapi hasil pemikiran yang berwujud filsafat pancasila tersebut
dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (way of life atau weltanschauung)
agar hidup bangsa Indonesia dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik dunia
maupun di akhirat.

2.3 Pancasila Melalui Pendekatan Dasar Ontologis, Epistemologis, Aksiologis


2.3.1 Dasar Ontologis (Hakikat Manusia) Sila–sila Pancasila
Ontologi, menurut Aristoteles adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sesuatu atau
tentang ada, keberadaan atau eksistensi dan disamakan artinya dengan metafisika.
Masalah ontologis antara lain: Apakah hakikat sesuatu itu? Apakah realitas yang
tampak ini merupakan suatu realitas sebagai wujudnya, yaitu benda? Apakah ada suatu
rahasia di balik realitas itu, sebagaimana yang tampak pada makhluk hidup? dan
seterusnya. Bidang ontologi menyelidiki tentang makna yang ada (eksistensi dan
keberadaan) manusia, benda, alam semesta (kosmologi), metafisika. Secara ontologis,
penyelidikan Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui
hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Pancasila yang terdiri atas lima sila, setiap sila
bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri, malainkan memiliki satu kesatuan dasar
ontologis.
Subyek pendukung pokok dari sila-sila Pancasila adalah manusia. Hal tersebut dapat
dijelaskan bahwa yang berketuhan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil
dan beradab, yang bersatu, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta yang berkeadilan sosial, yang
pada hakikatnya adalah manusia. Sedangkan manusia sebagai pendukung pokok sila-
sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak, yaitu terdiri atas susunan

6
kodrat, raga dan jiwa, jasmani dan rohani. Sifat kodrat manusia adalah sebagai makhluk
individu dan makhluk sosial serta sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang
Maha Esa. Maka secara hirarkis sila pertama mendasari dan menjiwai sila-sila
Pancasila lainnya.
2.3.2 Dasar Epistemologis (Pengetahuan) Sila–sila Pancasila
Epistemologi adalah cabang filsafat  yang menyelidiki asal, syarat, susunan,
metode, dan validitas ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber pengetahuan,
proses dan syarat terjadinya pengetahuan, batas dan validitas ilmu pengetahuan. 
Epistemologi adalah ilmu tentang teori terjadinya ilmu atau science of science. Menurut
Titus (1984:20) terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi, yaitu:
1.    Tentang sumber pengetahuan manusia;
2.    Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia;
3.    Tentang watak pengetahuan manusia.
            Secara epistemologis kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan
sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan.
Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan sistem pengetahuan.
Ini berarti Pancasila telah menjadi suatu belief system, sistem cita-cita, menjadi suatu
ideologi. Oleh karena itu Pancasila harus memiliki unsur rasionalitas terutama dalam
kedudukannya sebagai sistem pengetahuan.
Dasar epistemologis Pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan
dasar ontologisnya, sehingga dasar epistemologis Pancasila sangat berkaitan erat
dengan konsep dasarnya tentang hakikat manusia. Pancasila sebagai suatu obyek
pengetahuan  pada hakikatnya meliputi masalah sumber pengetahuan dan susunan
pengetahuan Pancasila.
-Tentang sumber pengetahuan Pancasila, sebagaimana telah dipahami bersama
adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai tersebut
merupakan kausa materialis Pancasila.
-Tentang susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, maka Pancasila
memiliki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila
maupun isi arti dari sila-sila Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah
bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal.
Sifat hirarkis dan bentuk piramidal itu nampak dalam susunan Pancasila, dimana sila
pertama Pancasila mendasari dan menjiwai keempat sila lainnya, sila kedua didasari
sila pertama dan mendasari serta menjiwai sila ketiga, keempat dan kelima, sila ketiga

7
didasari dan dijiwai sila pertama dan kedua, serta mendasari dan menjiwai sila keempat
dan kelima, sila keempat didasari dan dijiwai sila pertama, kedua dan ketiga, serta
mendasari dan menjiwai sila kelima, sila kelima didasari dan dijiwai sila pertama,
kedua, ketiga dan keempat. Dengan demikian susunan Pancasila memiliki sistem logis
baik yang menyangkut kualitas maupun kuantitasnya.
Susunan isi arti Pancasila meliputi tiga hal, yaitu:
1.Isi arti Pancasila yang Umum Universal, yaitu hakikat sila-sila Pancasila yang
merupakan intisari Pancasila sehingga merupakan pangkal tolak dalam pelaksanaan
dalam bidang kenegaraan dan tertib hukum Indonesia serta dalam realisasi praksis
dalam berbagai bidang kehidupan yang konkrit.
2.Isi arti Pancasila yang Umum Kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman
kolektif negara dan bangsa Indonesia terutama dalam tertib hukum Indonesia.
3.Isi arti Pancasila yang bersifat Khusus dan Konkrit, yaitu isi arti Pancasila
dalam realisasi praksis dalam berbagai bidang kehidupan sehingga memiliki sifat
khusus konkrit serta dinamis.
            Sila Ketuhanan Yang Maha Esa memberi landasan kebenaran
pengetahuan manusia yang bersumber pada intuisi. Manusia pada hakikat kedudukan
dan kodratnya adalah sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, maka sesuai dengan sila
pertama Pancasila, epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang
bersifat mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi. Dengan demikian
kebenaran dan pengetahuan manusia merupakan suatu sintesa yang harmonis antara
potensi-potensi kejiwaan manusia yaitu akal, rasa dan kehendak manusia untuk
mendapatkan kebenaran yang tinggi. Selanjutnya dalam sila ketiga, keempat, dan
kelima, maka epistemologi Pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama dalam
kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai makhluk individu dan makhluk
sosial. Sebagai suatu paham epistemologi, maka Pancasila mendasarkan pada
pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak bebas karena harus
diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas religius dalam
upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam hidup
manusia.

2.3.3 Dasar Aksiologis Pancasila


Aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai
Pancasila. Istilah aksiologi berasal dari kata Yunani axios yang artinya nilai, manfaat,

8
dan logos yang artinya pikiran, ilmu atau teori. Aksiologi adalah teori nilai, yaitu
sesuatu yang diinginkan, disukai atau yang baik. Bidang yang diselidiki adalah hakikat
nilai, kriteria nilai, dan kedudukan metafisika suatu nilai. Nilai (value dalam bahasa
Inggris) berasal dari kata Latin  valere yang artinya kuat, baik, berharga. Dalam kajian
filsafat merujuk pada sesuatu yang sifatnya abstrak yang dapat diartikan sebagai
“keberhargaan” (worth) atau “kebaikan” (goodness). Nilai itu sesuatu yang berguna,
nilai juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan, nilai adalah suatu
kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia
(dictionary of sosiology a related science), nilai itu suatu sifat atau kualitas yang
melekat pada suatu obyek. Ada berbagai macam teori tentang nilai, menurut Max
scheler mengemukakan bahwa nilai ada tingkatannya dan dapat dikelompokkan
menjadi empat tingkatan, yaitu:
1)                 Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat nilai yang
mengenakkan dan nilai yang tidak mengenakkan, yang menyebabkan orang senang atau
menderita.
2)                 Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang
penting dalam kehidupan seperti kesejahteraan, keadilan, dan kesegaran.
3)                 Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai kejiwaan
(geistige werte) yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun
lingkungan. Nilai-nilai semacam ini misalnya, keindahan, kebenaran, dan pengetahuan
murni yang dicapai dalam filsafat.
4)                 Nilai-nilai kerohanian: dalam tingkat ini terdapat moralitas nilai yang
suci dan tidak suci. Nilai semacam ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi.
            Secara aksiologis, bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai
Pancasila (subscriber of value Pancasila), yaitu bangsa yang berketuhanan, yang berke-
manusiaan, yang berpersatuan, yang berkerakyatan dan berkeadilan sosial.  Pengakuan,
penerimaan dan penghargaan atas nilai-nilai Pancasila itu nampak dalam sikap, tingkah
laku, dan perbuatan bangsa Indonesia sehingga mencerminkan sifat khas sebagai
Manusia Indonesia.

9
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari apa yang telah dijelaskan di atas, Pancasila merupakan kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan, karena dalam masing-masing sila tidak bisa di tukar tempat atau dipindah.
Bagi bangsa Indonesia, Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan negara
Indonesia. Dan filsafat merupakan suatu ilmu pengetahuan karena memiliki logika,
metode dan sistem.

Pancasila dikatakan sebagai filsafat dikarenakan pancasila merupakan hasil perenungan


jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh para pendahulu kita, yang kemudian
dituangkan dalam suatu sistem yang tepat, dimana pancasila memiliki hakekatnya
tersendiri yang terbagi menjadi lima sesuai dengan kelima sila-silanya tersebut. Adapun
yang mendasari Pancasila adalah dasar Ontologist (Hakikat Manusia), dasar
Epistemologis (Pengetahuan), dasar Aksiologis (Pengamalan Nilai-Nilainya)

3.2 Saran
Saran yang dapat dipetik dari materi ini adalah agar seluruh masyarakat mengetahui
seberapa penting Pancasila dan dapat mengamalkan nilai-nilai sila dari pancasila dengan
baik & benar, serta tidak melecehkan arti penting pancasila.

10
DAFTAR PUSTAKA

Heri, Herdiawanto dan Jumanta, Hamdayama, 2010. Cerdas, Kritis, Dan Aktif
Berwarganegara (Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi).
ERLANGGA : Jakarta.
Darmodiharjo, Darji. 1978. Pokok-pokok Filsafat Hukum, Jakarta: PT. Gramedia.

11