Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID & LIQUID

EMULSI MINYAK IKAN

Dosen : Apt. Yayah Siti Juariah, S. Si, MSi

Disusun oleh :
Kelompok 7
Ni Wayan Dessy PS (17334007 )
Imelda Martha Lena ( 17334043 )

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Emulsi Minyak Ikan ini tepat pada
waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ibu Apt. Yayah Siti
Juariah, S. Si, MSi mata kuliah Teknologi Sediaan Semi Solid & Liquid. Selain itu, makalah ini
juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Emulsi Minyak Ikan bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Apt. Yayah Siti Juariah, S. Si, MSi , selaku dosen
mata kuliah Teknologi Sediaan Semi Solid & Liquid. Yang telah memberikan tugas ini
sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya
tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Juni 2020

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Emulsi terdiri dari dua fasa cair yang tidak bercampur, dimana satu fasa yang terbagi halus dan
seragam terdispersi sebagai tetesan dalam fasa lain. Ini merupakan sistem yang tidak stabil
secara termodinamik, yang harus distabilkan oleh suatu zat pengemulsi (emulsifying agents).
Dalam emulsi farmasetik, satu fasa biasanya air dan fasa yang lainnya adalah minyak, lemak,
atau senyawa lilin. Sistem dimana minyak terdispersi, diskontinu atau fasa internal dan air adalah
fasa kontinu, medium dispersi atau fase eksternal disebut sebagai emulsi minyak dalam air
Sebaliknya disebut emulsi air dalam minyak. Emulsi oral hampir selalu merupakan tipe minyak
dalam air. Untuk minyak dengan rasa yang tidak enak atau konsistensi yang tidak menyenangkan
(kental), fasa luar air dapat membantu menutupi rasa. Emulsi oral minyak ikan merupakan
emulsi jenis minyak dalam air dimana air sebagai fasa eksternal. Emulsi minyak ikan merupakan
emulsi yang cukup banyak diminati. Emulsi ini terutama digunakan sebagai suplemen untuk
anak-anak. Minyak ikan sendiri, yang merupakan fasa internal mengandung vitamin A dan
vitamin D.

1.2 Tujuan

1. Mahasiswa mampu membuat sediaan emulsi oleum Iecoris Aselli dengan baik dan benar

2. Mahasiswa mampu merancang formulasi emulsi minyak ikan yang baik dan benar

3. Mahasiswa mampu mengevaluasi sediaan emulsi Iecoris Aselli (Organoleptis, pH, BJ,
viskositas, kestabilan, tipe emulsi).

1.3 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud emulsi ?

2. Bagaimana cara pembuatan emulsi minyak ikan ?

3. Bagaimana merancang pre formulasi sampai formulasi emulsi minyak ikan ?


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Minyak ikan adalah minyak lemak yang diperoleh dari hati segar Gadus morhua Linne. Dan
spesies Gadus lainnya, dimurnikan dengan penyaringan pada suhu 0 0C. Potensi vitamin A tidak
kurang dari 600 UI per g, potensi vitamin D tidak kurang dari 80 UI per g. (FI edisi III hal. 457).
Emulsi oleum iecoris aselli adalah termasuk dalam emulsi spuria (emulsi buatan) yakni emulsi
dengan minyak lemak. Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dengan emulgator gom arab
(P.G.A) dengan konsentrasi pemakaian sebanyak 10-20% dari total volume emulsi yang akan
dibuat.(HOPE ed. 6 hal. 1) Obat ini akan dibuat dalam bentuk sediaan emulsi dikarenakan bahan
aktif yang digunakan (levertran/minyak ikan) praktis tidak larut dalam air. Sehingga untuk
memperoleh suatu sediaan yang dapat terdispersi pada fase pendispersi nya diperlukan suatu zat
pengemulsi yang biasa disebut dengan emulsifyng agent. Dahulu senyawa ini banyak digunakan
bagi anak-anak sebagai obat pencegah penyakit rachitis dan sebagai obat penguat pada keadaan
lemah sesudah mengalami infeksi (15-30 ml sehari).

Sediaan penggunaan ditujukan untuk anak-anak dan dewasa. Dosis anak-anak :

1. Untuk pemeliharaan 1 x 5 ml

2. Untuk defisiensi 2 x15 ml (Obat-Obat Penting edisi 6 hal. 849)

3. Dosis dewasa : 3 x 15 ml (FORNAS edisi II hal. 217).

Zat-zat yang terkandung dalam oleum iecoris aselli adalah: Vitamin A dan D, Gliserida
trimalmitat dan tristearat, kolesterol, gliserida dan asam-asam jenuh, yang disebut asam
morrhuat, berupa campuran berbagai asam : asam yakoleat, asam terapiat, asam aselat, asam
gadinat, yodium, basa-basa aselin dan morrhuin. Efek farmakologi: Sebagai sumber vitamin A,
vitamin D, asam lemak tak jenuh yang merupakan faktor-faktor makanan dasar dan tidak terjadi
dalam kandungan vitamin A dan vitamin D. Sari minyak ikan atas salepnya sangat mendukung
untuk mempercepat penyembuhan luka bakar, koreng, menekan salut dan luka pada permukaan,
tetapi observasi yang terkontrol telah menghentikan nilai penguatan yang tegas. Dan asam lemak
omega-3 berkhasiat untuk penurunan kadar kolesterol dalam darah. Fungsinya vitamin A penting
sekali bagi sintesa redopsin, suatu pigmen foto sintetif yang terurai oleh cahaya dan
memungkinkan kita untuk melihat dalam keadaan setengah gelap.

2.2 Definisi Emulsi

Emulsi merupakan suatu sediaan cair yang terdiri dari dua fase yang tidak saling bercampur yaitu
minyak dan air, tidak stabil secara termodinamika karena dapat kembali terpisah menjadi minyak
dan air (Lachman, et al., 2008). Dalam proses pembuatan emulsi biasanya menggunakan
kombinasi surfaktan dan kosurfaktan yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan serta
mencegah rusaknya emulsi (Talegaonkar et al., 2008). Fase minyak yang digunakan juga dapat
mempengaruhi stabilitas sediaan emulsi, sehingga digunakanlah minyak ikan (oleum iecoris
aselli) karna harganya yang murah, ketersediaannya yang melimpah, serta memiliki nutrisi
(McClements & Rao, 2011). Dalam proses pencampuran, lama pencampuran, suhu dan
kecepatan pengadukan juga sangat mempengaruhi viskositas sediaan, dispersi yang terjadi, dan
ukuran droplet (Talegaonkar et al., 2008). Pembuatan emulsi minyak ikan (oleum iecoris aselli)
menggunakan metode variasi waktu pengadukan selama 20 menit, 40 menit dan 60 menit dengan
homogenizer diharapkan dapat memperkecil ukuran partikel dari emulsi minyak ikan (oleum
iecoris aselli) sehingga dapat meningkatkan transmitan dan menurunkan viskositas serta
membuat sediaan stabil secara termodinamika.

Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair
yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur (Ansel, hal. 376) Tipe emulsi ada 2
fase, yaitu :

1. Fase terdispersi / fase internal / fase dalam.

2. Fase pendispers / fase eksternal / fase luar.

Emulsi memiliki dua fase tidak tercampur, bila disatukan dan dikocok akan menghasilkan
berbagai macam ukuran droplet. Maka harus ada penambahan emulgator untuk mencampurkan
dan menurunkan tegangan permukaan antara 2 fase tersebut, dan menstabilkan emulsi. Syarat-
syarat emulgator :

1. Dapat tercampurkan dengan formula lain.


2. Tidak mengganggu stabilitas atau efikasi dari zat terapeutik (inert).

3. Harus stabil.

4. Harus tidak toksik dan mengiritasi pada penggunaan (yang dimaksud jumlahnya).

5. Harus tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.

6. Pada konsentrasi rendah sudah dapat menstabilkan emulsi.

2.3 Metode Pembuatan Emulsi

Metode pembuatan emulsi dibagi menjadi 3 yaitu metode continental (gom kering), metode
inggris (gom basah), dan metode botol (shaking).

1. Metode Kontinental

Membuat emulsi primer terlebih dahulu dengan perbandingan minyak : air : emulgator = 4 : 2 :
1. Cara pembuatan :

a. Masukkan emulgator dalam mortir, tambahkan minyak. Aduk hingga tercampur baik.
Tambahkan air sekaligus, aduk cepat hingga terbentuk emulsi primer yang encer, stabil dan
mengeluarkan bunyi khas pada pergerakan mortir.

b. Tambahkan bahan formulatif lain (pengawet, penstabil, perasa, dll) dilarutkan terlebih dahulu
dalam sedikit fase luar, baru dicampur dengan emulsi primer.

c. Zat yang mengganggu stabilitas emulsi ditambahkan terakhir (misalnya : elektrolit, garam,
logam, alkohol).

d. Bila semua bahan sudah ditambahkan, emulsi dipindahkan ke gelas ukur dan sisa fase luar
ditambahkan hingga volume yang diinginkan.

2. Metode Inggris

Metode ini cocok untuk membuat emulsi dari minyak kental. Emulgator (misal : CMC, veegum,
bentonit) dikembangkan terlebih dahulu sesuai sifat masing-masing emulgator. Dilakukan
dengan membuat emulsi primer terlebih dahulu.
a. 1 bagian emulgator dicampur dengan 2 bagian air hingga terbentuk mucilage. Tambahkan
minyak sedikit-sedikit, aduk cepat dan kekentalan dijaga dengan menambahkan air. Setelah
terbentuk emulsi primer, teruskan pengocokkan hingga 1-3 menit.

b. Tambahkan bahan formulatif lain (pengawet, penstabil, perasa, dll) dilarutkan dahulu dalam
sedikit fase luar, baru dicampur dengan emulsi primer.

c. Zat yang mengganggu stabilitas emulsi ditambahkan terakhir (misalnya : elektrolit, garam,
logam, alkohol).

d. Bila semua bahan sudah ditambahkan, emulsi dipindahkan ke gelas ukur dan sisa fase luar
ditambahkan hingga volume yang diinginkan.

3. Metode Botol (Shaking)

Metode ini cocok untuk membuat emulsi minyak yang mudah menguap (minyak atsiri) dan
mempunyai viskositas rendah. Cara pembuatan :

a. 1 bagian emulgator kering dimasukkan dalam botol dan tambahkan 2 bagian minyak hingga
terbentuk emulsi, kocok hingga tercampur baik.

b. Kemudian tambahkan 2 bagian air sekaligus, kocok hingga terbentuk emulsi. Tambahkan fase
luar sedikit-sedikit, kocok setiap penambahan. Metode botol biasanya digunakan dengan
emulgator sintetik. Proses pembuatan emulsi yaitu, komponen 2 fase (fase minyak dan fase air)
dipanaskan pada suhu 60-70 C. Fase dalam ditambahkan ke dalam fase luar.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Preformulasi Emulsi Minyak Ikan

1. Bahan aktif Untuk memberikan efek farmakologis Contohnya : Oleum Iecoris, Paraffin
Liquidum

2. Minyak Sebagai pembawa untuk obat, atau bahkan mungkin merupakan bagian campuran
sistem pengemulsi seperti pada minyak lemak mengandung cukup banyak asam lemak bebas
Contoh : Oleum Iecoris, Tween

3. Agen Pengemulsi Untuk meningkatkan emulsifikasi pada saat manufaktur maupun untuk
mengontrol stabilitas selama usia guna Contoh : Natrium Lauryl Sulfat, Gom Arab, Veegum,
Gelatin

4. Pengawet Untuk mencegah tumbuhnya mikroba pada sediaan Contoh : Methyl Paraben,
Propyl Paraben

5. Antioksidan dan Humektan Antioksidan untuk mencegah gangguan oksidatif selama


penyimpanan minyak / lemak, pengemulsi atau bahan aktif, lainnya Contoh : BHA (butylated
hydorxy anisole) dan BHT (butylated hydroxy toluene) Humektan untuk mencegah penguapan
air dari permukaan kulit dimana penggunaan pada konsentrasi tinggi dapat menimbulkan efek
berlawanan\ Contoh : Propilenglikol, Gliserol dan Sorbitol (5%) (Agoes, Goeswin. 2012).

Kerugian dan Kelebihan Emulsi

Kelebihan :

1. Membentuk sediaan yang paling tidak bercampur menjadi dapat bersatu membentuk sediaan
yang homogen dan stabil.

2. Bagi orang yang sukar menelan tablet dan kapsul dapat menggunakan sediaan emulsi sebagai
alternatif 3. Dapat menutupi rasa tidak enak dalam bentuk cair.

4. Meningkatkan penerimaan oleh pasien.


Kerugian :

1) Kurang praktis dari pada tablet.

2) Mempunyai stabilitas yang rendah dari pada sediaan tablet karena cairan merupakan media
yang baik untuk pertumbuhan bakteri.

3) Takaran dosisnya kurang tepat.

Polimer hidrofilik alam, semisintetik, dan sintetik dapat digunakan bersama surfaktan bersama
emulsi minyak dalam air karena akan terakumulasi pada antar permukaan dan juga
meningkatkan kekentalan pase air sehingga mengurangu kecepatan pembentukan agregat tetesan.
Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme. Adanya pengawet sangat penting dalam emulsi minyak dalam air kaena
kontaminasi fase eksternal mudah terjadi. Kaena jamur dan ragi lebih sering ditemukan dari pada
bakteri, lebih diperlukan yang bersifat fungistatik dan bakteriostatik. Kesulitan muncul pada
pengawetan sistem emulsi, sebagai akibat memisahnya bahan antimikroba dari fase air yang
sangat memerlukannya atau terjadi kompleksasi dengan bahan yang akan mengurangi
efektivitas. (Depkes RI, 1995).

3.2 Formulasi Emulsi Minyak Ikan

3.2.1 Alat dan Bahan

Alat :

1. Beakerglass

2. Batang Pengaduk

3. Tabung Reaksi

4. Lampu Spiritus

5. Mattglass

6, Viskometer brookfield

7. Piknometer
8. pH meter

9.Neraca

Bahan :

1. Oleum Iecoris Aselli

2. CMC Na

3. Span 80

4. Sorbitol

5. Sirupus Simplex

6. Sunset Yellow

7. Essence Orange ( Penambah Rasa )

8. Aquadest

3.2.2 Formula

 Formula pustaka (FORNAS edisi II hal. 217)

Komposisi :

Oleum Iecoris Aselli 100 g

Glycerolum 10 g

Gummi Arabicum 30 g

Oleum Cinnamomi gtt VI

Aquadest 215 g

Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat.

Dosis : 3 kali sehari 15 ml.


 Rancangan Formula

R / Oleum Iecoris Aselli 6 mL

CMC Na 1%

Tween 80 5%

Sorbitol 5%

Na Benzoat 0,2%

Sirupus Simpleks 10%

Sunset Yellow 0,1%

Essence Orange 2 tetes

Aquadest ad 60 V.

3.2 Pemerian Bahan

1. Oleum Iecoris Aselli Pemerian : Cairan minyak, encer, berbau khas, tidak tengik, rasa dan bau
seperti ikan. Kelarutan : Sukar larut dalam etanol; mudah larut dalam eter, dalam kloroform,
dalam karbon disulfida dan dalam etil asetat. Khasiat : Sumber vitamin A dan D (Depkes RI,
1995)

2. CMC Na (Carboxylmethilsellulosa Natrium) Pemerian : Serbuk atau butiran, putih atau putih
kuning gading, tidak berbau atau hampir tidak berbau, higroskopik Kelarutan : Mudah terdispersi
dalam air, membentuk suspensi koloidal, tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan
dalam perlarut organik lain. Konsentrasi : 0,5% (Anonim, 2009) Fungsi : Pengental (Depkes RI,
1979)

3. Tween 80 (Polysorbatum 80) Pemerian : Cairan kental seperti minyak; jernih; kuning; bau
asam lemak, khas Kelarutan : Mudah larut dalam air; dalam etanol (95%)P, dalam etil asetat
Fungsi : Emulgator (Depkes RI,1979) Konsentrasi : Emulgator M/A: 1-15%
(Raymond.dkk,2009)
4. Sorbitol Pemerian : Pemerian: Serbuk, butiran atau kepingan; putih; rasa manis; higroskopik
Kelarutan : Sangat udah larut dalam air, sukar larut dalam etanol (95%)P, dalam methanol
(95%)P dan dalam asam asetat P. Konsentrasi : 3 – 15% (Wade, Ainley, dkk, 1994) Fungsi :
Humektan (Depkes RI, 1979)

5. Natrium Benzoat Pemerian : Butir atau serbuk hablur, putih tidak berbau atau hampir tidak
berbau. Kelarutan : Larut dalam 2 bagian air dan dalam 90 bagian etanol (95%) P. Konsentrasi :
0,02 – 0,5% (Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition halaman 627) Fungsi :
Pengawet (Depkes RI, 1979) 6. Sirupus Simplex Pemerian : Cairan jernih tidak berwarna
Pembuatan : Larutkan 65 bagian sakarosa daam larutan Metil Paraben 0,25% b/v secukupnya
hingga diperoleh 100 bagian sirup Fungsi : Pemanis (Depkes RI, 1979)

7.Sunset Yellow Pemerian : Serbuk kuning kemerahan, didalam larutan memberi warna kuning
terang Kelarutan : Larut dalam air Konsentrasi :< 0,5% Fungsi : Pewarna (Depkes RI, 2010)

8. Essence Orange Pemerian : Cairan berwarna kuning, bau khas jeruk Kelarutan : Mudah larut
dalam air Fungsi : Odoris (Depkes RI,2010)

9. Aquadest Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa
Fungsi : Pelarut (Depkes RI, 1979)

3.3 Perhitungan Dosis

 Oleum Iecoris Aselli (Kirana, Rahardja, dkk. 2007)

Dosis: 15 - 30 mL sehari Oleum Iecoris Aselli = 6 mL/ 60 mL = 1,5 mL/ 15 mL 0,1 = 0,1

Jadi, setiap 1 sendok takar Oleum Iecoris Aselli mengandung 1,5 mL/ 15 mL

 Perhitungan dosis pemakaian 1x dan 1 hari:

Usia (tahun) Perhitungan Rentang Dosis Pemakaian 1x Cek Dosis 1x


dosis 1x (mL) (sendok takar)
2 2/14 x 15 – 30 2,14 – 4,28 2 3/4,28 = 0,7 ≠
mL OD
3 3/15 x 15 – 30 3 - 6 3 4,5/6 = 0,75 ≠
mL OD
4 4/16 x 15 – 30 3,75 – 7,5 3 4,5/7,5 = 0,6 ≠
mL OD
5 5/ 17 x 15 – 30 4,41 – 8,82 4 6/8,82 = 0,68 ≠
mL OD
6 6/ 18 x 15 – 30 5 – 10 4 6/10 = 0,6 ≠ OD
mL
7 7/19 x 15 – 30 5,53 – 11,05 5 7,5/11,05 = 0,68
mL ≠ OD
8 8/20 x 15 – 30 6 – 12 5 7,5/12 = 0,63 ≠
mL OD
9 9/20 x 15 – 30 6,75 – 13,5 6 9/13,5 = 0,67 ≠
mL OD
10 10/20 x 15 – 30 7,5 – 15 6 9/15 = 0,6 ≠ OD
mL
11 11/20 x 15 – 30 8,25 – 16,5 7 10,5/16,5 = 0,64
mL ≠ OD
12 12/ 20 x 15 – 30 9 – 18 7 10,5/18 = 0,58 ≠
mL OD
2 tahun = 2 x sehari 1 sendok makan

3 – 4 tahun = 2 x sehari 1 ½ sendok makan

5 – 6 tahun = 2 x sehari 2 sendok makan

7 – 8 tahun = 2 x sehari 2 ½ sendok makan

9 – 10 tahun = 2 x sehari 3 sendok makan

11 – 12 tahun = 2 x sehari 3 ½ sendok makan

Diatas 12 tahun = 2 x sehari 4 sendok makan

3.4 Perhitungan Jumlah Bahan

1. Oleum Iecoris Aselli = 6 mL/60 mL x 60 mL = 6 mL = 6 mL x 7 = 42 mL = 42 g

2. CMC Na = 1% x 60 = 0,6 gram x 7 = 4,2 gram

 Aqua untuk CMC Na = (1 – 10) x 4,2 gram = 4,2 – 42 gram

 Jadi aqua yang diambil = 42 gram  42 mL


3. Tween 80 = 25% x 6,25 = 1,56 mL x 7 = 10,92/11 gram

4. Sorbitol = 5% x 60 = 3 mL x 7 = 21 mL

5. Na Benzoat = 0,2% x 60 = 0,12 mg x 7 =0,84 mg

 Jadi aqua untuk Na Benzoat = 2 x 0,84 gram = 1,68 gram  1,68 mL = 1,8 mL

6. Sirupus Simplex = 10% x 60 = 6 mL x 7 = 42 mL

 Fruktosa = 65% x 42 mL = 27,3 mL = 27,4 mL

 Aqua = 35% x 42 mL = 14,8 mL

7. Sunset Yellow = 0,1% x 60 = 0,06 x 7 = 0,42 gram

 Jadi aqua untuk Sunset Yellow = (1 – 10) x 0,42 gram = 0,42 – 4,2 gram

 Aqua yang diambil = 4,2 gram  4,2 mL

8. Essence Jeruk = 2 tetes x 7 = 14 tetes

9. Aqua ad 420 = 420 – (42 + 4,2 + 42 + 11 + 21 + 0,84 + 27,4 + 14,8 + 0,42 + 14) = 242,34 mL

3.5 Cara Pembuatan

1. Ditimbang CMC Na 4,2 gram dan ukur aquadest panas 42 mL. Tuang aquadest panas kedalam
cawan porselen dan taburkan CMC Na secara tipis merata dan biarkan mengembang.

2. Diukur 1,8 mL aquadest dan masukkan kedalam beakerglass dan timbang 0,84 gram Na
Benzoat.

3. Diukur 4,2 mL aquadest masukkan kedalam beakerglass dan timbang 0,42 gram Sunset
Yellow.

4. Dimasukkan kedalam blender Sorbitol, Sirupus Simplex, Larutan Sunset Yellow, Larutan Na
Benzoat dan CMC Na yang telah mengembang. Mixer selama 2 menit.

5. Ditambahkan Oleum Iecoris dan Tween 80 kedalam mixer. Mixer selama 1 menit.

6. Tuang kedalam beakerglass 1000 mL dan tambahkan 14 tetes Essence Orange.


7. Lakukan Pengujian.

3.6 Prosedur Evaluasi

1. Uji Organoleptis Ambil sedikit emulsi ➡ Amati bentuk, warna, cicip rasanya dan cium
aromanya

2. pH meter Siapkan emulsi didalam beakerglass ➡ Masukkan elektroda kedalam emulsi dan
diputar – putar perlahan sampai layar pH menunjukkan angka yang stabil ➡ Catat hasilnya

3. Bobot Jenis Siapkan emulsi yang akan diujin bobot jenisnya ➡ Bersihkan piknometer dengan
alkohol ➡ Timbang bobot pikno kosong (A) ➡ Masukkan aqua ke dalam pikno yang telah di
bersihkan. Timbang pikno yang berisi air (B) ➡ Ganti aqua dengan sediaan yang telah di
larutkan dengan air. Masukkan ke dalam piknometer dan timbang bobotya (C) ➡ Hitung BJ
sediaan dengan cara dibawah ini :

Bobot pikno kosong : A

Bobot pikno + air : B

Bobot pikno + sediaan : C

Bobot aqua (D) : B – A

Bobot sediaan (E) : C – A

Volume aqua (F) : D / 

BJ sediaan : E / F dengan satuan g / mL

4. Viskositas Disiapkan emulsi yang akan diuji, masukkan kedalam beakerglass. Beri stirrer
magnetic ➡ Dipasang spindle yang sesuai pada viskometer kemudian celupkan pada larutan dan
nyalakan ➡ Di catat tiap data yang diperoleh pada layar tentang No. Spindle, RPM, CPS dan
prosentase. Viskositas larutan di lihat dari CPS pada prosentase tertinggi

5. Kestabilan dan Uji Tipe Emulsi Dituang sebagian emulsi kedalam tabung reaksi ➡ Diambil
aquadest dan tuang kedalam setengah bagian beakerglass ➡ Dimasukkan emulsi yang berada
dalam tabung reaksi ke dalam beakerglass yang berisi air ➡ Dipanaskan emulsi yang terdapat di
dalam beakerglass diatas waterbath selama 17 menit ➡ Diamati dalam waktu 17 menit apakah
emulsi yang diuji tersebut memisah atau tidak.

3.7 Hasil

1) Uji organoleptis Bentuk = Kental Bau = Khas Minyak Ikan Warna = Orange Rasa = Minyak
Ikan

2) Uji pH = 7,14

3) Tipe emulsi = o / w (Oil In Water)

4) Kestabilan = 20 menit : 21 detik : 05

5) Bobot Jenis = Bobot Jenis

BJ air = 1

Bobot piknometer kosong = 10,85 g (A)

Bobot piknometer + aqua = 21,08 g (B)

Bobot piknometer + sediaan = 19,28 g (C)

Bobot aquadest = B - A = 21,08 g – 10,85 g = 10,23 g (D)

Bobot sediaan = C – A = 19,28 – 10,85 = 8,43 g (E)

Volume aquadest = D : ρ = 10,23 : 1 = 10,23 (F)

Bobot jenis sediaan = E : F = 8,43 : 10,23 = 0,82 gram/mL

6) Viskositas Spindle no. 63

RPM CPS %
Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah
50 988 715 41,6% 29,8%
60 944 826 47,2% 41,3%
100 816 799 68,0% 66,0%

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Mahasiswa mampu membuat sediaan emulsi oleum Iecoris Aselli dengan baik dan benar.

2. Mahasiswa mampu mengevaluasi sediaan emulsi Iecoris Aselli (Organoleptis, pH, BJ,
viskositas, kestabilan, tipe emulsi).

3. Formula emulsi minyak ikan yang paling stabil adalah emulsi dengan kombinasi emulgator
CMC 0,25% ; Tween 80 20% karena mempunyai persen pemisahan, ukuran partikel dan
penurunan viskositas yang lebih kecil daripada emulsi dengan formula lain.

4.2 Saran

1. Perlu diteliti lebih lanjut kombinasi emulgator Tween 80 dengan emulgator lain untuk
mendapatkan stabilitas emulsi yang lebih baik.

2. Perlu diteliti stabilitas zat aktif minyak ikan dengan penambahan emulgator CMC dan Tween
80.

Formula emulsi minyak ikan


yang
paling stabil adalah emulsi
dengan
kombinasi emulgator CMC
0,25% ;
Tween 80 20% karena
mempunyai
persen pemisahan, ukuran partikel
dan
penurunan viskositas yang lebih
kecil
daripada emulsi dengan formula
lain.
Formula emulsi minyak ikan
yang
paling stabil adalah emulsi
dengan
kombinasi emulgator CMC
0,25% ;
Tween 80 20% karena
mempunyai
persen pemisahan, ukuran partikel
dan
penurunan viskositas yang lebih
kecil
daripada emulsi dengan formula
lain.

Formula emulsi minyak ikan


yang
paling stabil adalah emulsi
dengan
kombinasi emulgator CMC
0,25% ;
Tween 80 20% karena
mempunyai
persen pemisahan, ukuran partikel
dan
penurunan viskositas yang lebih
kecil
daripada emulsi dengan formula
lain.
DAFTAR PUSTAKA

1. Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Likuida – Semisolida (SFI – 7). ITB : Bandung
2. Anonim, 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI : Jakarta
3. Anonim, 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan RI : Jakarta
4. Anonim, 2010. Kondeks Makanan Indonesia. Departemen Kesehatam RI : Jakarta
5. Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasu Edisi Keempat. Universitas Indonesia :
Jakarta Raymond,dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition.
Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. Inggris
6. Rowe, Raymond C. 2006. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6 th ed., London :
Pharmaceutical Press.
7. Than Hoan Tjay dan Rihana Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting edisi VI, Jakarta : Elex
Media Komputindo.

Anda mungkin juga menyukai