Anda di halaman 1dari 56

Suspensi Ibuprofen

Anggota Kelompok 1
1. ADI PUTRA (11181001)
2. ANIDA HUSNA SALSABILA (11181002)
3. ANITA RAHMAWATI (11181003)
4. ANNISA MUTFAH N (11181004)
5. ANNISA SAPITRI (11181005)
6. ASTRI MUSTIKA DEWI (11181006)
7. AYU RINAWATI (11181007)
8. CAMILLA TIRANI (11181008)
9. CUCU UNAETI (11181009)
10. DERA AYU WANINGSIH (11181010)
11. DESITA ROHMAH (11181011)
12. DHEA RINANDA (11181012)
13. DIANA KHOERU NISA (11181013)
14. DIVI ADE LIANI (11181014)
15. ELA FITRI NURYANA (11181015)
I. Tujuan Praktikum

1. Untuk mengetahui proses pembuatan sediaan suspensi dengan


mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas
dan mengetahui tehnik evaluasi sediaan suspensi
2. Mampu membuat sediaan suspensi seperti yang beredar
Dipasaran
3. Mampu melakukan evaluasi dari sediaan suspensi yang dibuat
II. Regulasi Sediaan ( Berdasarkan Perundang-undangan )

Golongan Obat
A Berdasarkan peraturan perundang-undangan ibu profen suspention
termasuk kedalam golongan obat bebas terbatas yakni obat yang
dalam jumlah tertentu bisa dibeli diapotek tanpa menggunakan resep
dokter (SK MENKES RI No. 2380/A/SK/VI/1983)

B Peraturan Penandaan Golongan Obat

Penandaan obat bebas diatur berdasarkan (SK Menteri kesehatan


RI No.2380/A/SK/VI/1983) tentang tanda khusus untuk obat bebas
dan obat bebas terbatas. Tanda khusus untuk obat bebas terbatas
yaitu lingkaran berwarna biru dengan garis tepi berwarna hitam.
III. Preformulasi
A. Zat aktif

Ibu profen

Nama kimia : 2- (-isobutyl fenil) asam propionate


Rumus kimia : C13 H10 O2
Pemerian : serbuk hablur, putih, hingga hampir putih,, berbau khas,
lemah
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air: sangat mudah larut dalam
etanol, dan methanol, dalam aseton dab dalam klorofom, sukar larut
dalam etil asetat
pH : 3,5 – 4,6 (pH larutan)
Stabilitas : pH:7,2(pada guffer fosfat ): suhu 37°C
Titik lebur : 75-78°C
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik dan ditempat kering
Khasiat : analgetik dan antipiretik
FI IV hal 449
B. Zat tambahan

1
1. CMC

2
pemerian : serbuk atau granul, putih sampai krem;
higroskopis
kelarutan : mudah terdispersi dalam air membentuk larutan
koloidal; tidak larut dalam etanol, dalam eter dan dalam
pelarut organic lain
pH : 4 – 5
khasiat : suspending agent

(FI IV Hal 175)


2. Sukrosa

Rumus Molekul : C11H22O11


Pemerian : serbuk hablur putih: tidak berbau, rasa manis, stabil di udara. Larutannya
netral terhadap lakmus..
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air medidih: sukar
larut dalam etanol: tidak larut dalam kloroform dan dalam eter.
Khasiat : Pemanis dan pengental.
Stabilitas : Sukrosa mempunyai stabilitas yang bagus pada temperatur ruangan dan
kelembaban sedang, dapat menyerap 1% bau yang dilepaskan ketika dipanaskan pada
suhu 900 C.
Penyimpanan : Wadah tertutup baik
(HOPE Edisi 5 Hal 744-747)
3. Natrium siklamat

Kelarutan : larut dalam 5 bagian air, dalam 250 bagian etanol 95% dan dalam 25
bagian proprlingglikol, praktis tidak larut dalam klorofom dan dalam eter
Pemerian : hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau atau hampir tidak
berbau, rasa agak manis walaupun dalam larutan encer
Kegunaan : pemanis buatan
(HOPE 563)
4. Nipagin (metil paraben )

Pemerian : serbuk hablur halus : putih hampir tidak berbau, tidak memiliki
rasa kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.

Kelarutan : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, dalam
3,3 bagian etanol(95%)p dan dalam bagian aseton p, mudah larut dalam

eter p, dan dalam larutan alkali.

Fungsi : sebagai antimikroba

Kegunaan : pengawet

(FI Edisi III Hal 378)


5. Nipasol

• Pemerian : serbuk putih atau hablur kecil, tidak berwarna.


• Kelarutan : sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam
etanol dan dalam eter, sukar larut dalam air mendidih, mudah
larut dalam propilen glikol.
• Stabilitas : Propil paraben pada pH 3-6 dapat disterilkan
dengan aotoklaf tanpa mengalami peruraian, stabil pada
suhu kamar selama empat tahun lebih.
• pH stabilitas : pH 4-8
• inkompatibiltas: surfaktan nonionik (miselisasi), plastik,
magnesium aluminium silikat, magnesium trisilikat, besi oksida
kuning, basa lemah, asam kuat
• Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
• Kegunaan : antimikroba (pengawet)
6. ASAM SITRAT

 Pemerian : Hablur bening, tidak berwarna atau serbuk


hablur granul sampai halus, putih, tidak berbau, rasa
sangat asam. Bentuk hidrat mekar dalam udara kering.
 Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, mudah larut
dalam air, agak sukar larut dalam eter.
 Kegunaan : pendapar

(FI Edisi III Hal 50)


7. NATRIUM SITRAT

Pemerian : Tidak berbau, tidak berwarna, kristal monoklinik,


atau serbuk Kristal putih, rasa asin.
Kelarutan : larut dalam 1,5 bagian air , 0,6 dalam air panas,
praktis tidak larut dalam etanol (95%)p.
Fungsi : sebagai penstabilitas
Ph : 7,0 – 9.0
Kegunaan : pendapar

(FI Edisi II Hal 406)


8. GLISERIN

• Pemerian: cairan seperti sirup: jernih, tidak berwarna tidak berbau,

manis diikuti rasa hangat. Higroskopik Jika disimpan beberapa lama


pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak

berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai 90ºC

• kelarutan : dapat dicampur dengan air, dan dengan etanol 95% P:

praktis tidak larut dalam kloroform p, dalam eter P dan dalam minyak

lemak

• Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik

• Kegunaan : wetting agent

(FI Edisi III Hal 281)


9. GRAPE OIL

Pemerian : cairan berwarna ungu dan memiliki bau khas anggur


Kelarutan : mudah larut dalam air
Kegunaan : odoris
10. Grape Colour

Pemerian : cairan berwarna ungu dan memiliki bau khas anggur


Kelarutan : mudah larut dalam air
Kegunaan : pewarna
IV. Tinjauan Farmakologi Zat aktif
Ibu profen (Mims, edisi 17, hal. 115 -116)

a. Indikasi
meredakan nyeri ringan sampai nyeri sedang misalnya sakit gigi, sakit kepala, menurunkan
demam.
b. Mekanisme
sebagai antiinflamasi, analgetik. Dan antipiretik melalui inhibisi produksi hormone
prostaglandin
c. Aturan pakai
dewasa dan anak anak 8-12 tahun 2 sdt 3-4x/hari
anak 3-7 tahun 1 sdt 3-4x/hari
anak 1-2 tahun ½ sdt 3-4x/hari
d. Efek samping
mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri lambung, gangguan penglihatan, ruam kulit,
bronkospasmo, trombositopunia, limfopenia, penurunan ketajaman pengelihatan
11. AQUA DESTILATA

Warna : Jernih tidak berwarna


Rasa : Tidak mempunyai rasa
Bau : Tidak berbau
Pemerian : Cairan
pH larutan :7
Stabilitas : Stabil diudara

(FI Edisi III Hal 96)


V. Farmakokinetik Zat aktif

a. Absorpsi
ibuprofen cepat di absorbs setelah konsumsi peroral. Bivavaibilitas obat adalah 80%. Ibu
profen lysine, atau garam ibu profen lebih cepat diabsorpsi dibandingkan jenis asam ibuproten konsentrasi
puncak ibuprofen lysine, atau garam ibu profen adalah sekitar 45 menit, sedangkan asam ibu profen adalah
sekitar 90 menit. Konsentrasi puncak ibu profen dalam serum umumnya berlangsung sekitar 1-2 jam.
bioavaibilitas obat hampir tidak dipengaruhi oleh makanan. Juga tidak sedapat interferensi
absorpsi ibuprofen, apabila bersamaan dengan antasida, baik yang mengandung aluminium hidroksida,
maupun magnesium hidroksida.

b. Metabolisme
ibu profen secara cepat di metabolism di dalam hati, menghasilkan metabolit-metabolit seperti
asam propionic fenil hidroksimehl profil, dan asam propionit fenil karboksipropil
Lanjutan,,,

c. Distribusi
ibu profen di distribusikan ke seluruh jaringan tubuh, terutama terkonsentrasi dalam cairan
sinovlai. Keberadaan obat ibu profen dalam cairan sinoviat adalah lebih lama daripada dalam plasma. Obat
ini terikat pada protein sekitar 90,99%, terutama dengan albumin.

d. Eliminasi
waktu paruh obat dalam serum adalah sekitar 1,8 hingga 2 jam. Eksresi ibu profen lengkap
dalam 24 jam, setelah dosis terakhir. Sekitar 45%-79% dari dosis obat yang diabsorpsi per oral, ditemukan
dalam urine, dalam bentuk metabolit, sedangkan bentuk ibuprofen bebas atau terkonjugasi, masing-masing
adalah sekitar 1% dan 14 %. (rainsford, ibuprofen : pharmacology,2009. 275-342)
VI. Farmakodinamik Zat aktif

Secara umum kerja ibuprofen sebagai antiimflamasi, analgesik dan antipiretik adalah dengan
cara inhibisi pada salur produksi prostanoids, seperti prostaglandin E2 ( PGE2 ) dan prostaglandin I2 ( PG
I2), yang bertanggung jawab dalam memutuskan rasa nyeri inflamasi dan demam. Ibuprofen menghambat
aktivitas enzim siklooksigenase 1 dan 2, sehingga terjadi reduksi pembentukan prekusor prostaglandin dan
tromboksan. Selanjutnya akan terjadi penurunan dari sintesis prostaglandin oleh enzim sintase
prostaglandin.
secara spesifik, mekanisme kerja ibuprofen sebagai antiinflamasi adalah modus aksi yang
multiple:
• Mencegah akumulasi dan adhesi leukosit seperti neutrofil, polimorfonuklea,dan monosit makrofag pada
jaringan mengalami inflamasi
• Menghambat produksi dan aksi leukosit – leukosit yang bersifat inflamogen seperti leukotrien B4, nitrit
oksida, interleukin-1
• Reduksi jalur aferen dan eferen mediasi rasa nyeri
Lanjutan,,,

Mekanisme kerja ibuprofen sebagai antipiretik terdiri dari dua aksi, yaitu mengendalikan produksi leucocyte
– derivid interleukin – 1 dan komponen peptida lainnya dan pirogen endogen, dan menginhibisi secara
langsung produksi pirogen endogen atau interleukin -1 prostaglandin E2 ( PGE2 ), yang diinduksi
hipotalamus.
pengendalian rasa nyeri oleh ibu profen melibatkan beberapa mekanisme yang berbeda,
namun berhubungan satu dengan lainnya. Kerja ibuprofen menginhibisi produksi prostaglandin dan nitrit
oksida, yang berperan sebagai impuls aferen rasa nyeri di perifer dan transmisi spino-thalamic. Disamping
itu, ibuprofen dapat menstimulasi produksi zat analgesik anandamide secara endogen yang bersifat
cannabinoid-like analgesic, dengan cara menginhibisi enzim yang menghidrolisis zat tersebut menjadi
arachidonic acid. ( Rainsford, ibuprofen:pharmacology,2009,275-342)
VII. Spesialit Obat

A. OBAT GENERIK
• Ibuprofen suspensi ( indofarma )
• Ibuprofen suspensi ( PT. Sampharindo perdana )
• Ibuprofen suspensi ( First medipharma )

B. PATEN
• Proris®
• Febryn®
• Fenatic®
• Prosic®
VIII Formulasi Umum
A. Zat aktif : Bahan / zat yang berkhasiat utama
B. Zat tambahan :
• Suspending agent : bahan yang dapat meningkatkan viskositas dari suspensi
sehingga pengendapan dapat diperlambat
• Pemanis : bahan untuk menutupi rasa yang tidak enak/tidak sedap baik bahan alami/
bahan buatan
• Pengawet : zat yang digunakan untuk menghambat kerusakan pada makanan atau
obat
• Dapar : zat yang dapat menjaga (mempertahankan) pH-nya dari penambahan asam,
basa, maupun pengenceran oleh air
• Perasa : zat yang digunakan untuk memberikan rasa yang enak pada obat
• Pewarna : zat yang digunakan untuk menambah daya tarik dan faktor
esterifikasi
• Pelarut : cairan yang dapat melarutkan zat aktif atau biasa disebut zat pembawa
• Wetting agent : bahan yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan, mem
perkecil sudut kontak, dan meningkatkan dispersi bahan yang hidrofob
IX Formulasi Khusus
Zat tambahan
Zat aktif
• Suspending agent : CMC 1%
Ibuprofen 200mg/ • Pemanis : Sukrosa 25%, Na. Siklamat 0,5%
5ml • Pengawet : Nipagin 0,18%, Nipasol 0,02%
• Dapar : As.Sitrat 0,4%, Na.Sitrat 0,4%
• Perasa : Grape oil 0,1%
• Pewarna : Grape colour 0,05%
• Wetting agent : Gliserin 5%
• Pelarut : aquadest ad 60ml
X. Alasan Pemilihan Formula Khusus
Zat aktif yang digunakan ialah Ibuprofen yang merupakan obat anti inflamasi non
steroid. Ibuprofen bekerja dengan cara menghalangi tubuh memproduksi prostaglandin,
yaitu senyawa yang menyebabkan perdangan dan rasa sakit. Sehingga nyeri dan
peradangan menjadi berkurang. Selain mengatasi nyeri dan peradangan, ibuprofen juga
digunakan sebagai obat penurun panas. Ibuprofen merupakan obat yang praktis tidak
larut dalam air, salah satu cara untuk mengatasi kelarutan Ibuprofen adalah dengan
membuat formulasi suspensi Ibuprofen sehingga dihasilkan sediaan yang stabil.
Pada sediaan suspensi, selain adanya zat aktif juga diperlukan bahan pensuspensi/
suspending agent. Suspending agent berfungsi untuk memperlambat pengendapan,
mencegah penurunan partikel dan juga mencegah penggumpalan resin dan bahan
berlemak. Suspending agent yang digunakan pada formulasi kali ini yaitu CMC.
CMC digunakan untuk meningkatkan viskositas dan memperlambat sedimentasi sehingga
dapat menghasilkan suatu suspensi yang stabil. Suspending agent berfungsi
mendispersikan partikel tidak larut kedalam pembawa dan meningkatkan viskositas
sehingga kecepatan pengendapan bisa diperkecil.
X. Alasan Pemilihan Bahan
Selain itu untuk menstabilkan suspensi Kami menggunakan gliserin sebagai wetting
agent atau bahan pembasah yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan,
memperkecil sudut kontak, dan meningkatkan dispersi bahan yang hidrofob.
Untuk pemanis, kami menggunakan sukrosa dan natrium siklamat. sukrosa
digunakan sebanyak 25% dan natrium siklamat hanya 0,5%. Jika hanya menggunakan
natrium siklamat saja, yang merupakan pemanis sintetis tidaklah baik karena siklamat
akan terasa pahit diakhir maka dari itu digunakan pula sukrosa yang merupakan pemanis
alami yang berasal dari tumbuhan tebu. natrium siklamat pun digunakan karena tingkat
kemanisannya 30 kali lebih manis Dari sukrosa maka penggunaannya pun mampu
menutupi rasa pahit dari zat aktif ibuprofen.
X. Alasan Pemilihan Bahan
Kami menggunakan nipagin atau methyl paraben dan nipasol atau propil paraben
sebagai pengawet karena dalam pembuatan suspensi, kami memasukkan aquades yang
mana air adalah tempat tumbuhnya mikroorganisme. nipagin dan nipasol keduanya
saling mendukung karena efektif terhadap mikroba kapang atau khamir
Penambahan zat-zat tambahan dalam suspensi dapat membuat zat aktif menjadi
tidak stabil yang ditandai dengan adanya perubahan pH larutan maka dari itu
ditambahkan zat pendapar atau larutan buffer yang dapat menjaga kestabilan pH larutan
dapar adalah larutan yang mengandung campuran asam lemah dan basa konjugatnya
atau sebaliknya. Zat pendapar yang kami gunakan adalah asam sitrat dan natrium sitrat.
Kami menggunakan grape colour dan grape oil sebagai perasa dan aroma agar
menarik bagi anak-anak sehingga rasa dari suspensi Ibuprofen bisa diterima oleh lidah
anak-anak.
XI. Penimbangan Bahan
Komponen sediaan 5 mL 60 mL 5 Botol

200 mg/5 mL 200 mg=0,2 g 60


x 0,2 g = 2,4 g 2,4 x 5 = 12 g
5

CMC 1 % 1
x 5 mL = 0,05 g
60
x 0,05 = 0,6 g 0,6 x 5 = 3 g
100 5

Sukrosa 25% 25
x 5 mL = 1,25 g
60
x 1,25 = 15 g 15 x 5 = 75 g
100 5

Na. Siklamat 0,5% 0,5


x 5 mL = 0,025 g
60
x 0,025 = 0,3 g 0,3 x 5 = 1,5 g
100 5

Nipagin 0,18% 0,18


x 5 mL = 0,009 g
60
x 0,009 = 0,108 g 0,108 x 5 = 0,54 g
100 5

Nipasol 0,02% 0,02


x 5 mL = 0,001 g
60
x 0,001 = 0,012 g 0,012 x 5 = 0,06 g
100 5
Asam Sitrat 0,4% 0,4
x 5 mL = 0,02 g
60
x 0,02 = 0,24 g 0,24 x 5 = 1,2 g
100 5

Na. Sitrat 0,4% 0,4


x 5 mL = 0,02 g
60
x 0,02 = 0,24 g 0,24 x 5 = 1,2 g
100 5

Gliserin 5% 5
x 5 mL = 0,25 g
60
x 0,25 = 3 g 3 x 5 = 15 g
100 5

Grape Flavor 0,05% 0,05


x 5 mL = 0,0025
60
x 0,0025 = 0,03 g 0,03 x 5 = 0,15 g
100 5
g
Grape Oil 0,1% 0,1
x 5 mL = 0,005 g
60
x 0,005 = 0,06 g 0,06 x 5 = 0,3 g
100 5

Aquadest Ad 5 mL Ad 60 mL Ad 60 mL/botol
XII. ALAT DAN BAHAN

Alat : Bahan :

• Shaker • Ibuprofen 200 mg


• Pipet tetes • CMC 1%
• Gelas ukur • Sukrosa 25%
• Beaker glass • Na.siklamat 0,5%
• Batang pengaduk • Asam sitrat 0,4%
• Pemanas air • Na.sitrat 0,4%
• Botol bening • Nipagin 0,18%
• Timbangan • Nipasol 0,02%
• Gliserin 5%
• Grape colour 0,05%
• Grape oil 0,1%
• Aquadest ad 60 ml
XIII. Prosedur pembuatan
Tmbang masing – masing bahan

Kembangkan CMC dengan air panas sampai terbentuk m


ucilago

Larutan gula A
Sukrosa + Na.siklamat + air panas secukupnya aduk ad homo
gen
Lanjutan Prosedur pembuatan

Larutan dapar B
Asam sitrat + Na.sitrat + air panas secukupnya aduk ad homogen

Nipagin + gliserin aduk ad homogen C

Nipasol + air panas secukupnya D


Lanjutan Prosedur pembuatan

Ibuprofen + mucilage E

B C D E
Aduk ad homogen dengan
homogenizer

+ aquadest ad 300 ml aduk ad homogen


+ grape colour & grape oil aduk ad homogen
XIV. PROSEDUR EVALUASI SEDIAAN

1. Uji Organoleptis
 Pemeriksaan Warna
 Pemeriksaan Bau
 Pemeriksaan Rasa

2. Massa Jenis

Piknometer yang kosong, dan kering timbang (a)

Aquadest dimasukan dalam Piknometer kemudian dit


imbang (b)
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan

Suspensi Ibuprofen dimasukan ke dalam Piknometer (c)

tentukan massa jenis

P = c.a
b.a
3. Volume Sedimetri
Suspensi Ibuprofen (V : Vo)
Perubahan volume (Vu) F = Vu
Vo

4. Pengukuran pH

Susp. Ibuprofen
Ukur pH dengan pH meter
5. Uji Redispersi

Tabung reaksi yang berisi ibuprofen yang telah dievaluasi


volume sedimentasinya, diputar 180°

Dibalikkan ke posisi semula


xv. Rancangan Kemasan
A. Kemasan Primer

Design by :
DIVI ADE LIANI (11181014)
ELA FITRI NURYANA (11181015)
B. Kemasan Sekunder
C. leaflet
D. Penjelasan Tentang Data Yang Tercantum Dalam kemasan

Keterangan No Regristasi
1. D = obat merek dagang
2. T = golongan obat bebas terbatas
3. L = obat diproduksi didalam negri atau yang diproduksi sengan l
isensi
4. 18 = disetujui pada priode 2018
5. 142 = nomor urut pabrik
6. 116 = nomor urut obat yang disetujui untuk masing-masing pabr
ik
7. 33 = bentuk sediaan (suspensi)
8. A = kekuatan obat jadi yang pertama di setujui
9. I = menunjukan kemasan utama
XVI Data Pengamatan

a. Organoleptis
• Warna : larutan berwarna ungu keruh ( tidak terdispersi )
• Aroma : sediaan memiliki aroma atau bau jernih
• Rasa : rasa sediaan sangat manis

b. Pemeriksaan Bobot Jenis


𝐴2−𝐴 25,09 −12,80
BJ= =
𝐴1−𝐴 24,93−12,80
12,29
= 12,13
= 1,0131 g/mL
XVI Data Pengamatan

c. Volume Sedimentasi
𝑉𝑢
F= 𝑉𝑜
50𝑚𝐿
=
50𝑚𝐿
=1

d. Pengukuran pH
• Alat : pH mater universal
• pH sediaan : 4
XVI Data Pengamatan

e. Uji Redispersibilitas
XVII. PEMBAHASAN
Pada praktikum tekhnologi farmasi sediaan liquid dan semisolid
(TFLS) kali ini dilakukan praktikum pembuatan suspensi dengan
zat aktif yang digunakan yaitu ibu profen. Menurut Farmakope
edisi IV suspensi/ suspension adalah sediaan cair yang
mengandung partikel padat tidak larut, yang terdispersi dalam fase
cair. Sedangkan suspensi USP XXVII suspensi oral adalah
sediaan cair yang menggunakan partikel-partikel padat terdispersi
dalam suatu cairan pembawa cair(flavouring agen yang cocok untu
k pemakaian oral. Dan menurul Formularium Nasional (FORNAS)
suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak
melalui dan terdispersi sempurna dalam cairan pembawa.
Lanjutan
Zat Aktif yang digunakan pada praktikum suspensi saat ini
yaitu ibu propen, hal ini dikarenakan kelarutan ibu propen
menurut Farmakope edisi IV halaman 449, Ibu propen
praktis tidak larut dalam air; sangat mudah larut dalam etanol
, dalam metanol, dalam aseton, dan dalam kloroform, dan
sukar larut dalam etil asetat. Oleh sebab itu dibuatlah
sediaan suspensi yang tergolong dalam larutan atau cairan
yang dapat disukai oleh anak-anak.
Bagian suspensi yang penting yaitu adanya suspensing
agent dan wetting agent. Suspending agent berfungsi untuk
memperlambat pengendapan, mencegah penurunan partikel,
dan juga untuk mencegah penggumpalan resin dan bahan
berlemak.
Lanjutan
Bahan yang kami gunakan sebagai suspending agent yaitu
CMC (Carboxy Methyl Cellulose). CMC menurut Farmakope
Indonesia edisi IV hal 175 merupakan serbuk/granul
bewarna putih sampai cream dan higroskopis, kelarutannya
mudah terdispersi dalam air, . Suspensi dapat dikembangka
n dengan air panas sebanyak 20x nya berat dari CMC yang
digunakan akan membentuk larutan koloidal yang berfungsi
sebagai suspending agent.
Wetting agent/ bahan pembasah/ humektan berfungsi untuk
menurunkan tegangan permukaan, memperkecil sudut
kontak , dan meningkatkan dispersi bahan yang hidrofob.
Bahan yang kami gunakan yaitu gliserin sebagai wetting
agent. Gliserin menurut Farmakope edisi III halaman 354
adalah cairan jernih , tidak bewarna, manisnya sekitar 0,6x m
anisnya dari sukrosa, kelarutannya dapat di campur dengan
air dan dengan etanol 95%.
Lanjutan

Demi meningkatkan daya jual dan stabilitas dari zat aktifnya


maka dalam formula pembuatan suspensi selain terdapat
suspending agent dan wetting agent, dan adapula
penambahan sukrosa 25% dan Na. Siklamat 0,5%. Sebagai
pemanis sintetik Na. Siklamat yang digunakan hanya sedikit
hal ini dikarenakan pemanis sintetik dapat menambah rasa
pahit di akhir dan pada saat digunakannyapun akan dapat
menutupi rasa pahit dari ibu profen, maka digunakan pula
sukrosa sebagai pemanis alami yang berasal dari tumbuhan
tebu agar dapat memberikan aroma yang alami.
Lanjutan
Penambahan zat-zat tambahan dalam suspensi
dapat membuat zat aktif menjadi tidak stabil yang ditandai
dengan adanya perubahan pH larutan. Oleh sebab itu, kami
menammbahkan zat pendapar/ larutan buffer yang dapat
menjaga kestabilan pH. Larutan dapar adalah larutan yang
mengandung campuran asam lemah dan basa konjugasi
atau sebaliknya. Pada saat praktikum zat pendapar yang
digunakan yaitu asam sitran dan natrium sitrat. Pada saat
pemantauan pH sediaan suspensi mendapatkan pH 4. pH 4
menandakan sediaan stabil, karena pH stabilitas dari zat
aktif ibu profen dalam larutan adalah 3,6-4,6. Hal yang lain
dapat mempengaruhi kestabilan pH adalah penggunaan air
yang mengandung ion karena akan menyebabkan
kompleksasi dari pH menjadi tidak stabil.
Lanjutan
Kami juga menggunakan larutan pengawet dalam
pembuatan suspensi ini. Hal ini penting, karena dalam
sediaan digunakan aquadest/air yang merupakan tempat
yang paling baik untuk pertumbuhan bakteri. Maka dari itu
pada saat praktium digunakan zat tambahan pengawet
metil paraben (nipagin) dan propil paraben (nipasol).
Keduanya saling mendukung karena efektif terhadap
mikroba, kapang /khamir.
Untuk menambahkan nilai jual dan juga ketertarikan pada
anak-anak ditambahkan pula zat perasa dan pengaroma
essence anggur yang merupakan daya tarik anak-anak yang
sulit minum obat sehingga dipilih rasa anggur yang disukai
oleh anak-anak.
Lanjutan
Pada uji evaluasi suspensi ibu profen Uji pertama yaitu uji
organoleptis. Pada uji ini dihasilkan ibu profen yang memiliki
Warna larutan berwarna ungu rasa anggur , terbagi menjadi
2 fase jernih dan keruh ( tidak terdispersi ), aroma sediaan
memiliki aroma anggur , dan rasa sediaan sangat manis dan
akan disukai oleh anak-anak.
Uji kedua yaitu uji bobot jenis yang digunakan untuk cairan,
menurut (Ditjen POM:1030,1995) pda sediaan suspensi jika
pembawa yang digunakan adalah air, maka BJ yang
dihasilkan umumnya lebih besar daripada pembawanya. Dan
hasil yang didapat dari suspensi ibu profen yang kami buat
pada pemeriksaan bobot jenis sediaan menggunakan alat
piknometer didapat hasil BJ suspensi 1,0,131 g/m. Maka
dapat dinyatakan bahwa suspensi ibu profen yang kita buat
sesuai dengan literatur.
Lanjutan

Uji ketiga yaitu uji volume sedimentasi. Volume sedimentasi


adalah perbandingan antara volume akhir (Vu) terhadap
volume mula-mula suspensi (Vo) bila F=1 dinyatakan sebagai
floculation equilibrikum merupakan sediaan yang baik (Anjani
et al : 2,2011). Dan dari hasil yang kami dapat volume sedim
entasi suspensi ibu profen yang kami buat F=1, sehingga dap
at dinyatakan bahwa suspensi ibu profen yang kami buat mer
upakan sediaa yang baik, karena sesuai dengan literatur.
Uji keempat yaitu uji PH. PH yang kami dapatkan dari uji in
i adalah 4. pH 4 menandakan sediaan stabil, karena pH st
abilitas dari zat aktif ibu profen dalam larutan adalah 3,6-4,6.
Lanjutan

Pada uji kelima dilakukan uji redispersibilitas dan


dapat terlihat dari hasil tersebut bahwa kemampuan
redispersi dari sediaan suspensi ibuprofen.Suspensi
yang terdispersi kembali dengan mudah pada umum
nya memiliki nilai F dan viskositas tinggi karena
rendahnya nilai F mengindikasikan telah terjadinya
caking, sebab syarat suspensi yang baik itu tidak
mudah mengendap dan mudah terdispersi kembali
( Intelligens,2003)
Lanjutan
Sediaan kemudian dimasukan kedalam wadah primer yaitu
botol kaca bening dan botol sediaan dimasukan pula
kedalam dus obat yang merupakan kemasan primer,
ditambahkan pula leaflet sebagai petunjuk informasi obat
kedalam kemasan. Menurut farmakope edisi III suspensi
harus dikocok sebelum digunakan dan disimpan dalam
wadah tertutup rapat. Menurut farmakope edisi III pun
suspensi jika dikocok harus terdispersi kembali, dapat
digunakan zat tambahan untuk mejamin stabilitas sediaan,
kekentalan sediaan pun tidak boleh terlalu tinggi agar mudah
dikocok dan dituangkan.
XVIII. Kesimpulan
 Suspensi menurut FI IV adalah sedian cair yang mengandung partikel padat tidak larut,
terdispersi dalam fase cair.
 Formula umum dalam suspensi adalah zat aktif, suspending agent, wetting agent,
pengawet, perdapar, pemanis, pelarut dan pengaroma/perasa dapat digunakan untuk
meningkatkan stabilitas dan daya nilai jual sediaan.
 Digunakan pemanis sukrosa dan na-sitrat untuk menutupi rasa pahit dan ibuprofen, dig
unakan zat pendapar asam sitrat dan natrium sitrat untuk menjaga kestabilitas pH, digu
nakan zat pengawet nipagin & kripasol untuk mencegah pertumbuhan mikroba, kapang
dan khamir dalam sediaan
 Evaluasi yang dilakukan terhadap sediaan suspense adalah uji organoleptis larutan
berwarna ungu keruh dengan aroma anggur dan rasa manis. Bobot jenis suspensi adal
ah 1,0131 g/mL. volume sedimentasi 1 dan pengukuran pH menggunakan pH indicator
universal, dan didapatkan pH yang stabil dalam 3,6 – 4,6 dan didapatkan hasil
pengukuran yaitu 4.
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. Pengantar bentuk sediaan Farmasi. Edisi kedisi ke III, Jakarta : UI
Depkes RI. Farmakope Indonesia Edisi IV. Penerbit Dirjen POM. Jakarta : 1995.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Edisi III. Penerbit Dirjen POM. Jakarta : 1979.
Handbook Of Pharmaceltical Explents Edisi 6. Pharmaceltical America
Assosiation.
MIMS, Edisi XVII. 2017.Jakarta
Syamsuni, H.A. Ilmu Resep. Penerbit : Buku Kedokteran.2014.Gamedia Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai