Anda di halaman 1dari 47

Transformasi ke arah pengembangan budaya belajar sangat dipandang tepat bagi

peningkatan mutu, kemukakan pendapat anda dalam kaitannya dengan pendekatan


CBSA dan CTL dalam peningkatan mutu pembelajaran pendidikan IPS.
Jawab :
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar
lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak
mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi
pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi
gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami,
bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan
daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri
bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual
Pemikiran tentang belajar
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang
belajar sebagai berikut.
Proses belajar
1. Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan
pengetahuan di benak mereka sendiri
2. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
3. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan
mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
4. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang
terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
5. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
6. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna
bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
7. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan
terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan
sesorang.
Transfer Belajar
1. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
2. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit
demi sedikit)
3. Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu
Siswa sebagai Pembelajar
1. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan
seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
2. Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru.
Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
3. Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang
sudah diketahui.
4. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan
menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
Pentingnya lingkungan Belajar
1. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari
guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya,
guru mengarahkan.
2. Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan
baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
3. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang
benar
4. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

Hakekat Pembelajaran Kontekstual


Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning),
menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling),
dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Pengertaian CTL
1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa
untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial,
dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara
fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke
permasalahan/ konteks lainnya.
2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan
antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat
Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional
NO CTL TRADISONAL
Menyandarkan pada memori spasial
1. Menyandarkan pada hapalan
(pemahaman makna)
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-
2. Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
an siswa
Siswa terlibat secara aktif dalam proses
3. Siswa secara pasif menerima informasi
pembelajaran
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan
4. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
nyata/-masalah yang disi-mulasikan
Selalu mengkaitkan informasi dengan Memberikan tumpukan informasi kepada
5.
pengetahuan yang telah dimiliki siswa siswa sampai saatnya diperlukan
Cenderung mengintegrasikan beberapa Cenderung terfokus pada satu bidang
6.
bidang (disiplin) tertentu
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk Waktu belajar siswa se-bagian besar
menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir dipergu-nakan untuk mengerja-kan buku
7 kritis, atau mengerjakan proyek dan tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi
pemecahan masalah (melalui kerja latihan yang membosankan (melalui kerja
kelompok) individual)
8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar Keterampilan dikem-bangkan atas dasar
9.
pemahaman latihan
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau
10.
diri nilai (angka) rapor
Siswa tidak melakukan hal yang buruk Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk
11.
karena sadar hal tsb keliru dan merugikan karena takut akan hukuman
Perilaku baik berdasar-kan motivasi Perilaku baik berdasar-kan motivasi
12.
intrinsik ekstrinsik
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat,
13. Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
konteks dan setting
Hasil belajar diukur melalui penerapan Hasil belajar diukur melalui kegiatan
14.
penilaian autentik. akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS


CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas
yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis
besar, langkahnya sebagai berikut ini.
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Ciptakan masyarakat belajar
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
Tujuh Komponen CTL
1. KONSTRUKTIVISME
 Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal
 Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima
pengetahuan
2. INQUIRY
 Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
 Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. QUESTIONING (BERTANYA)
 Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir
siswa
 Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)
 Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
 Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
 Tukar pengalaman
 Berbagi ide
5. MODELING (PEMODELAN)
 Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
 Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. REFLECTION ( REFLEKSI)
Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
Mencatat apa yang telah dipelajari
Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)
 Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
 Penilaian produk (kinerja)
 Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
 Karakteristik Pembelajaran CTL
 Kerjasama
 Saling menunjang
 Menyenangkan, tidak membosankan
 Belajar dengan bergairah
 Pembelajaran terintegrasi
 Menggunakan berbagai sumber
 Siswa aktif
 Sharing dengan teman
 Siswa kritis guru kreatif
 Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel,
humor dan lain-lain
 Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
pratikum, karangan siswa dan lain-lain
Secara ringkas tujuh pilar CTL dan kelemahan pembelajaran tradisonal
Pilar / Solusi Indikator Masalah
1. Belajar berpusat pada siswa untuk Belajar yang berpusat pada guru,
Konstruktivisme mengkonstruksi bukan menerima. formal, serius.
2. Inquiri Pengetahuan diperoleh dengan Pengetahuan diperoleh siswa
menemukan, menyatukan rasa, dengan duduk manis, mengingat
karsa dan karya. seperangkat fakta, memisahkan
kegiatan fisik dengan intelektual.
3. Bertanya Belajar merupakan kegiatan Belajar adalah kegiatan konsumtif,
produktif, menggali informasi, menyerap informasi menghasilkan
menghasilkan pengetahuan dan kebingungan dan kebosanan.
keputusan.
4.Masyarakat Kerjasama dan maju bersama, Individualistis dan persaingan yang
Belajar saling membantu. melelahkan.
5. Pemodelan Pembelajaran yang Multi ways, Pembelajaran yang One way,
mencoba hal – hal baru, kreatif. seragam takut mencoba, takut
salah.
6. Refleksi Pembelajaran yang komprehensif, Pembelajaran yang terkotak –
evaluasi diri sendiri/internal dan kotak, mengandalkan respon
eksternal. eksternal/guru.
7.Penilaian Penilaian proses dan hasil, Penilaian hasil, paper and pencil
Otentik pengalaman belajar, tes dan non test, kognitif.
tes multi aspects.

MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL


Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana
kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang
akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam
program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang
apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya
hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada
deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa
yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok
dan Pencapaian Hasil Belajar
2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati
partisipasinya dalam pembelajaran.
Dalam standar kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Depdiknas (2003:5)
dinyatakan “melalui mata pelajaran Pengetahuan Sosial, peserta didik diarahkan, dibimbing dan
dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang baik”.
Menjadi warga negara dan warga dunia yang baik merupakan tantangan yang berat karena
masyarakat global selalu mengalami perubahan yang besar setiap saat, untuk itulah Pengetahuan
Sosial harus dirancang untuk membangun dan merefleksikan kemampuan peserta didik dalam
kehidupan masyarakat yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.
Kemajuan ilmu dan teknologi menambah pengetahuan kita tentang bumi. Namun
demikian, kemajuan teknologi yang mendorong industrialisasi menghasilkan dampak negatif
seperti polusi dan limbah industri yang mengotori tanah, air, dan udara tidak hanya di tempat
sumber limbah akan tetapi juga secara global. Untuk menanamkan betapa berharganya bumi,
dan bagaimana memelihara dan melestarikannya, sebaiknya kepada siswa dimasukkan
pengetahuan dan pemahaman tentang bumi beserta subsistenmya seperti terbentuknya dan
evolusi bumi sebagai salah satu planet dalam sistem alam semesta, siklus iklimnya, kekayaan
energi bumi, dan lain-lain. Selanjutnya perlu juga dipelajari tentang kesehatan masyarakat,
kependudukan, kekayaan alam, ilmu dan teknologi dalam tantangan lokal, nasional. dan
global. Topik-topik demikian harus masuk dalam kurikulum IPS.
Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan ilmu dan teknologi,
serta dengan masuknya arus globalisasi, membawa pengaruh yang multidimensional. Di
bidang pendidikan perubahan ini dituntut oleh kebutuhan siswa, masyarakat, dan lapangan
kerja. Salah satu bentuk perubahan yang dituntut dari kurikulum IPS adalah menyesuaikan
dengan perubahan yang terjadi secara global tersebut.
Karena itu melalui jalur pendidikan IPS, sejak dini peserta didik sudah harus
dibiasakan berfikir global, melihat segala sesuatu dengan perspektif global. Menurut Nursid
Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardi, (1999:14): “yang dimaksud dengan "perspektif global"
adalah suatu cara pandang atau cara berpikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan
dari sudut pandang global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena
itu, sikap dan perbuatan kita juga diarahkan untuk kepentingan global.”
Era globalisasi yang ditandai oleh adanya persaingan semakin tajam, arus deras dari
informasi dan komunikasi, keterbukaan merupakan salah satu pendorongnya, apabila kita
tidak mengikutinya dengan seksama menyebabkan ketertinggalan. Ketertinggalan ini
disebabkan juga karena globalisasi merupakan proses di mana manusia di bumi ini di-
inkorporasikan atau dimasukkan ke dalam masyarakat dunia yang tunggal, yaitu masyarakat
global; dan dalam proses itu kejadian, keputusan, dan kegiatan di salah satu bagian dunia
menjadi konsekuensi yang signifikan bagi individu atau masyarakat di daerah lainnya yang
jauh di muka bumi ini (Nursyid:1999:15). Selain itu, globalisasi juga melahirkan masyarakat
yang terbuka, yang memberikan nilai kepada individu, kepada hak dan kewajiban sehingga
semua manusia mempunyai kesempatan yang sama. untuk mengembangkan potensinya dan
menyumbangkan kemampuannya bagi kemajuan bangsa.
Landasan pemikiran lainnya adalah karena bumi tempat yang kita huni adalah planet
yang sangat unik dan berharga. Keindahan dan nilai bumi bagi manusia dapat kita temui
melalui bacaan dan lukisan. Untuk itulah manusia harus menunjukkan apresiasinya yang
tinggi dengan penuh pengertian mengenai subsistem bumi dan dengan perilaku yang penuh
tanggung jawab untuk kelestariannya. Selain itu bumi kita itu juga sangat rapuh dan
sumberdaya alamnya terbatas; penggunaannya oleh manusia seringkali berlebih lebihan dan
disalahgunakan. Salah satu sikap, manusia yang demikian, tidak lain karena pertambahan
jumlah penduduk, yang terus menerus, yang mempercepat habisnya kekayaan alam,
pengrusakan lingkungan, dan pemusnahan makhluk" bumi lainnya.
Sebenarnya kurikulum (IPS) 2004 sudah melihat kemungkinan (mengantisipasi),
setidak-tidaknya untuk waktu sepuluh tahun kedepan dalam hal fenomena yang ada baik di
tingkat masyarakat lokal, nasional, maupun global. Tetapi itu hanya kurikulum dalam bentuk
ide dan dokumen, namun dalam bentuk kurikulum sebagai implimentasi (proses), masih akan
sangat dipengaruhi oleh beberapa masalah, yaitu:
1. Sebagian besar guru IPS belum terampil menggunakan beberapa
model mengajar seperti cooperative learning, inquiry, problem solving, atau dengan
menggunakan pendekatan perspektif global misalnya.
2. Ketersediaan alat dan bahan belajar di sebagian besar sekolah, ikut
mempengaruhi proses belajar mengajar IPS.
3. Karena itu (point 1 dan 2), proses belajar mengajar IPS masih
dilakukan dalam bentuk pembelajaran konvensional, sehingga peserta didik hanya
memperoleh hasil secara faktual saja, dan tidak mendapat hasil proses.
4. Dalam hal implementasi atau proses pelaksanaan kurikulum ini guru
yang mendapat sosialisasi dalam bentuk penataran atau diklat sangat terbatas sekali,
sehingga faktor ini juga menyebabkan mereka masih belum memahami hakikat
kurikulum baru ini sebagaimana mestinya.
5. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum siap untuk mengadaptasi
atau mengadopsi budaya dan peradaban asing yang mulai merambah secara global,
karena berbenturan dengan nilai-nilai tradisi ataupun agama.
Tujuan bidang studi IPS tidak berfokus pada penguasaan materi IPS semata
melainkan menitik beratkan pada penguasaan kecakapan proses, yang dapat diunjukkerjakan
dalam bentuk verbal (verbal performance), sikap (attitudinal performance), dan perbuatan
(physical performance), atau adanya integrasi antara afektif, kognitif dan motorik.
(Suderadjat,2003:47).
Materi IPS yang dibelajar mengajarkan haruslah memiliki kualitas untuk dapat
bersaing secara internasional, dengan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan apa
yang akan terjadi di era perdagangan bebas, terutama AFTA dan APEC. Karena, dapat
dikembangkan kompetensi, dalam hal ini (PIPS), dikembangkan kompetensi sosial, yang
dapat mempersiapkan peserta didik untuk mampu hidup dengan berbagai keterampilan dan
kecakapan (life skills), sehingga mampu bersaing dan menang dalam persaingan global, tanpa
harus kehilangan jati diri, dan lepas dari nilai-nilai dan budaya bangsanya.
Perlunya Pendidikan IPS yang berkualitas internasional, seperti yang dikatakan oleh
Alvin Tofler “kita harus berfikir global, dan bertindak lokal”. Globalisasi merambah ke
semua penjuru dunia, dan oleh karena itu tidak dapat kita bendung, dan kita harus masuk, ikut
serta di dalamnya bertarung untuk menjadi pemenang (winner). Pasar bebas seperti AFTA,
APEC, pasti datang karena itu kita harus mempersiapkan para peserta didik agar dapat
menjadi pemenang dalam persaingan tersebut, sehingga dapat menjadi tuan di negara sendiri.
Bukan menjadi penonton di rumah sendiri sebagai pihak yang kalah (loser). Oleh karena itu
Pendidikan IPS juga harus mempersiapkan kompetensi sosial bagi para peserta didiknya.
Materi Pendidikan IPS yang berwawasan global tersebut, diantaranya adalah:
a. Tentang Kesadaran diri; sebagai mahluk Tuhan, eksistensi, potensi dan jati diri
sebagai warga dari sebuah bangsa yang berbudaya dan bermartabat sederajat dengan
bangsa lain di dunia (tidak lebih rendah dari bangsa lain).
b. Tentang kacakapan berfikir seperti kecakapan; berfikir kritis, menggali informasi,
mengolah informasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
c. Tentang kecakapan akademik tentang ilmu-ilmu sosial, seperti kemampuan
memahami fakta, konsep dan generalisasi tentang sistem sosial budaya, lingkungan
hidup, perilaku ekonomi dan kesejahteraan, serta twntang waktu dan keberlanjutan
perubahan yang terjadi di dunia.
d. Mengembangkan social skills, dengan maksud supaya pada masa datang kita tidak
hanya menjadi objek penguasaan globlisasi belaka. Keterampilan sosial yang perlu
dimiliki oleh peserta didik menurut Marsh Colin dalam Nana Supriatna (2002:15)
adalah; keterampilan memperoleh informasi, berkomunikasi, pengendalian diri,
bekerja sama, menggunakan angka, memecahkan masalah, serta keterampilan dalam
membuat keputusan.
Sedangkan keterampilan sosial yang telah dikembangkan oleh NCSS (1984:249)
adalah “keterampilan dalam memperoleh informasi, (keterampilan membaca, keterampilan
belajar, mencari informasi, dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat teknologi),
keterampilan yang berkaitan dengan hubungan sosial serta partisipasi dalam masyarakat
(keterampilan diri yang sesuai dengan kemampuan dan bakat, bekerja sama, berpartisipasi
dalam masyarakat)”.
Keterampilan sosial seperti ini nampaknya relevan untuk dikembangkan dalam
kurikulum Pendidikan IPS di Indonesia, agar kelak para peserta didik dapat hidup sebagai
warga masyarakat, warga negara, dan warga dunia yang dapat berperan dalam
masyarakatnya.
Wiriaatmadja (2002: 276), Guru harus selalu memperbaharui kemahiran
profesionalnya (professional skills). Di antara kamahiran guru yang selalu perlu ditingkatkan
adalah kemampuan mengajarnya (teaching skills). Melalui pelatihan lokakarya, seminar, atau
pertemuan-pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata Palajaran), dan lain-lain kemahiran-
kemahiran itu dapat diupayakan dan diperoleh dengan mendatangkan nara sumber.
Nana Supriatna (2002:18) menyebut terdapat beberapa strategi dalam mengajarkan
keterampilan sosial kepada peserta didik melalui IPS, diantaranya adalah cooperative
learning, konstruktivistik dan inquiry. Pertama, Wiriaatmadja (2002:277) juga menyebutkan
salah satu aspek dari kemahiran mengajar guru IPS yang dituntut untuk ditingkatkan dengan
masuknya arus globalisasi adalah menyajikan pembelajaran IPS dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan dan model-model pembelajaran yang relevan dengan apa yang
menjadi tujuan pembelajaran. Misalnya dengan cooperative learning, maka pelajaran IPS
tidak semata-mata menghafal fakta, konsep, dan pengetahuan yang bersifat kognitif rendah
lainnya serta guru sebagai satu-satunya sumber informasi - melainkan akan membawa siswa
untuk berpartisipasi aktif, karena mereka akan diminta melakukan berbagai tugas seperti
bekerja secara berkelompok, melakukan inkuiri, dan melaporkan hasil kegiatannya kepada
kelas.
Ini berarti bahwa guru bukan satu-satunya yang memberikan informasi karena siswa
akan mencari sumber yang beragam dan terlibat dalam. berbagai kegiatan belajar yang
beragam pula. Sedangkan peran guru kecuali harus bertindak sebagai fasilitator dalam. semua
kegiatan ini, ia juga harus mengamati proses pembelajaran untuk memberikan penilaian
(assessment), tidak hanya untuk perolehan pengetahuan keIPSan (product) saja, melainkan
menilai keterampilan sosial siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung (process), yang
mencakup penilian untuk ranah afektif dan psikomotornya.
Kedua, Strategi serta pendekatan konstruktivisme yang menempatkan siswa sebagai
mitra pembelajaran dan pengembang materi pembelajaran dapat digunakan oleh guru IPS
dalam mengembangkan keterampilan sosial. Keterampilan siswa dalam hal memperoleh,
mengolah dan memanfaatkan informasi untuk memiliki, berdayakan dirinya dapat dilakukan
melalui proses pembelajaran di kelas. Guru IPS yang konstruktivistis harus dapat
memfasilitasi para siswanya dengan kesempatan untuk berlatih dalam mengklasifikasi,
menganalisis dan mengolah informasi berdasarkan sumber-sumber yang mereka terima.
Sikap kritis siswa terhadap informasi harus dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran
di kelas. Guru juga harus selalu membiasakan siswa untuk memprediksi, mengklasifikasi dan
menganalisis, dengan demikian aspek kognitif siswa yang dikembangkan tidak hanya
keterampilan dalam menghafal dan mengingat melainkan juga menganalisis, memprediksi,
mengkritisi dan mengevaluasi informasi yang mereka terima
Di Era global ini sumber-sumber informasi yang tidak terbatas dapat digunakan
sebagai materi pembelajaran IPS untuk mengembangkan keterampilan yang terkait dengan
informasi tersebut. Kemajemukan informasi berdasarkan sumber serta keobjektivitasan dan
kesubjektivitasan merupakan bahan yang menarik untuk mengembangkan keterampilan
tersebut di dalam kelas.
Ketiga, Menurut Marsh Colin dalam Supriatna (2002:19), Strategi inquiry
menekankan peserta didik menggunakan keterampilan sosial dan intelektual, strategi ini
menekankan peserta didik menggunakan keterampilan intelektual dalam memperoleh
pengalaman baru atau informasi baru melalui investigasi yang sifatnya mandiri. Dengan
demikian keterampilan memperoleh informasi baru berdasarkan pengetahuan mengenai
informasi atau pengalaman belajar sebelumnya merupakan kondisi baik untuk
mengembangkan keterampilan yang terkait untuk menguasai informasi.
Selanjutnya Supriatna (2002:19), mengatakan beberapa keuntungan strategi ini yang
terkait dengan penguasaan informasi diantaranya adalah:
1. Strategi ini memungkinkan peserta didik melihat isi pelajaran libih realistik dan
posistif ketika menganalisis dan mengaflikasikan data dalam memecahkan masalah.
2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan isu-isu tertentu, mencari data
yang relevan, serta membuat keputusan yang bermakna bagi mereka secara pribadi.
3. Menempatkan guru sebagai fasilitator belajar sekaligus mengurangi perannya sebagai
pusat kegiatan belajar.
Wiriaatmadja (2002:305-306) mengatakan belajar dan mengajar Ilmu-ilmu Sosial
agar menjadi berdaya apabila proses pembelajarannya bermakna (meaningful), yaitu:
a. Siswa belajar menjalin pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, dan sikap
yang mereka anggap berguna bagi kehidupannya di sekolah atau di luar sekolah,
b. Pengajaran ditekankan kepada pendalaman gagasan gagasan penting yang
terdapat dalam topik-topik yang dibahas, demi pernahaman, apresiasi dan aplikasi
siswa.
c. Kebermaknaan dan pentingnya materi pengajaran ditekankan kepada
bagaimana cara. penyajiannya dan dikembangkannya melalui kegiatan aktif.
d. Interaksi di dalam kelas difokuskan pada pendalaman topik-topik terpilih dan
bukan pada pembahasan sekilas sebanyak mungkin materi.
e. Kegiatan belajar yang bermakna dan strategi assessment (penilaian)
hendaknya difokuskan pada perhatian siswa terhadap pikiran-pikiran atau gagasan-
gagasan yang penting yang terpateri dalam apa yang mereka pelajari.
f. Guru hendaknya berpikir reflektif dalam melakukan perencanaan/persiapan,
pemberlakuan, dan asessment pembelajaran.
Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai dampak kemajuan ilmu dan teknologi,
serta dengan masuknya arus globalisasi, membawa pengaruh yang multidimensional. Di
bidang pendidikan perubahan ini dituntut oleh kebutuhan siswa, masyarakat, dan lapangan
kerja. Salah satu bentuk perubahan yang dituntut dari kurikulum IPS adalah menyesuaikan
dengan perubahan yang terjadi secara global tersebut. Sehingga sejak dini siswa sudah
dibiasakan melihat, memahami, menganalisis, merefleksikan, memprediksi berbagai
fenomena yang terjadi secara global.
Dengan perspektif global, siswa mampu melihat dunia beserta penduduknya dengan
pengertian dan kepedulian. Dengan perspektif ini siswa dididik untuk ikut bertanggung jawab
terhadap berbagai kebutuhan hidup penduduk dunia dan komitmen untuk ikut menyelesaikan
berbagai permasalahan dunia dengan adil dan damai.
Dunia di sekitar kita berubah dengan cepat. Para siswa yang akan menjadi warga
negara masa depan, hidup dan belajar di tengah-tengah kancah eksploitasi kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tiada bandingannya dalam sejarah umat manusia
sebelumnya. Mereka tidak dapat mempelajari semuanya atau seluruhnya bahan materi yang
akan mereka perlukan selanjutnya, kecuali pedoman kemampuan, keterampilan dan sikap
yang akan diperlukan untuk menghadapi zaman tersebut. Pemanfaatan secara efektif
kurikulum yang kualitasnya baku, harus disertai dengan kualitas kemampuan dan
keterampilan guru dalam memilih bahan, menciptakan lingkungan belajar yang berkualitas,
memperhatikan dan mengikuti perkembangan pengetahauan dan penelitian yang mutakhir
dan menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap perkembangan siswa di dalam
membangun pengetahuan dan ilmunya.
Cara untuk membangkitkan budaya belajar di kalangan siswa.
 Banyak cara yang dapat ditempuh untuk membangkitkan budaya belajar siswa di
antaranya dengan menggunakan multi metode, media, dan evaluasi dalam
pembelajaran. Cara lain dengan mengembangkan PAKEM (Pembelajaran Aktif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Menurut Silberman (2004:19) proses belajar
akan meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut ini:
a. Mengemukakan kembali infomasi dengan kata-kata mereka sendiri.
b. Memberikan contohnya.
c. Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi.
d. Melihat kaitan antara informasi itu dengan fakta atau gagasan lain.
e. Menggunakannya dengan beragam cara.
f. Memprediksikan sejumlah konsekuensinya.
g. Menyebutkan lawan atau sebaliknya.
 Sementara menurut Al Muchtar (2004:251-252), bahwa: Peningkatan kualitas
pendidikan IPS dengan pengembangan berpikir dan nilai, perlu adanya transformasi
budaya belajar antara lain dari kebiasaan belajar hanya dalam bentuk menghapal
menjadi budaya belajar berpikir; dari belajar menyimak pengetahuan ilmu-ilmu sosial
ke arah berpikir untuk mempertinggi apresiasi nilai sosial budaya. Peningkatan
motivasi dan tujuan belajar dari hanya sekedar mendapatkan nilai yang cukup
memadai menjadi budaya belajar yang berorientasi untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan mandiri; dari kebiasaan belajar menerima informasi
menjadi belajar mencari, mengolah, dan menggunakan informasi. Dari kebiasaan
belajar pasif menerima informasi dari guru berkembang menjadi cara belajar aktif.
Dari cara belajar santai ke arah belajar kompetitif dengan persaingan yang sehat. Dari
cara belajar mengumpulkan pengetahuan ilmu-ilmu sosial ke arah memecahkan
masalah sosial.
 Lebih lanjut Al Muchtar (2004:252), mengemukakan bahwa: Proses transformasi
tersebut dapat berjalan jika dilakukan pula transformasi budaya mengajar yang selama
ini tumbuh di lapangan, antara lain dari kebiasaan memberi materi pelajaran ke arah
menyajikan bahan pelajaran IPS dalam bentuk masalah sebagai media stimulus bagi
pengembangan berpikir dan nilai. Dari kebiasaan berperan sebagai satu-satunya
sumber daya belajar ke arah berperan sebagai direktur belajar yang dapat memberi
kemudahan belajar. Dari kebiasaan menciptakan pola interaksi satu arah menjadi pola
interaksi serba arah. Dari kebiasaan mengajarkan nilai ke arah mengklarifikasi nilai,
dari kebiasaan memberikan hapalan ke arah merangsang untuk berpikir tingkat tinggi.
 Jadi, sebaik apapun pendekatan, metode, media yang digunakan untuk
membangkitkan budaya belajar siswa, akhirnya terpulang kepada guru sebagai ujung
tombak dalam proses belajar mengajar. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh
Wahab (1998:7), bahwa: Perubahan apapun yang dilakukan tanpa komitmen dan kerja
keras guru semuanya akan menjadi sia-sia atau gagal sama sekali.

Discovery dan Inquiri masih dipandang tepat sebagai salah satu arah pengembangan
metode pembelajaran dalam Pendidikan IPS, kemudian kemukakan hasil analisis
lapangan anda minimal 10 faktor yang menyebabkan pembelajaran IPS lemah tidak
menarik, dan kemukakan alternatif strategik mengatasi kondisi tersebut.
Jawab :
Masalah yang selalu dianggap menarik dalam pembelajaran IPS selama ini, adalah
temuan dari beberapa penelitian (Hasan 2002), dan tulisan (Al Mukhtar, 2004. Azis, 2002,
Supriatna, 2002) mengisyaratkan bahwa pembelajaran IPS di sekolah selalu disajikan dalam
bentuk faktual, konsep yang kering, guru hanya mengejar target pencapaian kurikulum, tidak
mementingkan proses, karena itu pembelajaran IPS selalu menjenuhkan dan membosankan,
dan oleh peserta didik dianggap sebagai pelajaran kelas dua (Somantri, 2001).
Aziz (2002) mengatakan “padahal dalam pembelajaran IPS proses itu amat penting.
Dalam pembelajaran PIPS, peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengetahuan,
pengalaman-pengalaman dalam menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan
demokratis, termasuk mepraktekkan berpikir dan pemecahan masalah.”
Pembelajaran IPS di sekolah juga belum berupaya melaksanakan dan membiasakan
pengalaman nilai-nilai kehidupan demokratis, sosial kemasyarakatan dengan melibatkan
siswa dan komunitas sekolah dalam berbagai aktifitas kelas dan sekolah. Selain itu dalam
pembelajaran IPS lebih menekankan pada aspek pengetahuan, fakta dan konsep-konsep yang
bersifat hafalan belaka. Inilah yang dituding sebagai kelemahan yang menyebabkan
“kegagalan” pembelajaran IPS di sekolah-sekolah di Indonesia.
Jika pembelajaran IPS selama ini tetap diteruskan, (terutama hanya menekankan pada
imformasi, fakta dan hafalan, lebih mementingkan isi dari pada proses, kurang diarahkan
pada proses berfikir (tingkat tinggi), dan kurang diarahkan pada pembelajaran yang bermakna
dan berfungsi bagi kehidupannya), maka pembelajaran IPS tidak akan mampu membantu
peserta didiknya untuk dapat hidup secara efektif dan produktif dalam kehidupan masa
datang. Oleh karena itu sudah semestinyalah pembelajaran IPS masa kini dan ke depan
mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi di di dunia secara global.
Wiriaatmadja (2002: 276), Guru harus selalu memperbaharui kemahiran
profesionalnya (professional skills). Di antara kamahiran guru yang selalu perlu ditingkatkan
adalah kemampuan mengajarnya (teaching skills). Melalui pelatihan lokakarya, seminar, atau
pertemuan-pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata Palajaran), dan lain-lain kemahiran-
kemahiran itu dapat diupayakan dan diperoleh dengan mendatangkan nara sumber.
Nana Supriatna (2002:18) menyebut terdapat beberapa strategi dalam mengajarkan
keterampilan sosial kepada peserta didik melalui IPS, diantaranya adalah cooperative
learning, konstruktivistik dan inquiry. Pertama, Wiriaatmadja (2002:277) juga menyebutkan
salah satu aspek dari kemahiran mengajar guru IPS yang dituntut untuk ditingkatkan dengan
masuknya arus globalisasi adalah menyajikan pembelajaran IPS dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan dan model-model pembelajaran yang relevan dengan apa yang
menjadi tujuan pembelajaran. Misalnya dengan cooperative learning, maka pelajaran IPS
tidak semata-mata menghafal fakta, konsep, dan pengetahuan yang bersifat kognitif rendah
lainnya serta guru sebagai satu-satunya sumber informasi - melainkan akan membawa siswa
untuk berpartisipasi aktif, karena mereka akan diminta melakukan berbagai tugas seperti
bekerja secara berkelompok, melakukan inkuiri, dan melaporkan hasil kegiatannya kepada
kelas.
Ini berarti bahwa guru bukan satu-satunya yang memberikan informasi karena siswa
akan mencari sumber yang beragam dan terlibat dalam. berbagai kegiatan belajar yang
beragam pula. Sedangkan peran guru kecuali harus bertindak sebagai fasilitator dalam. semua
kegiatan ini, ia juga harus mengamati proses pembelajaran untuk memberikan penilaian
(assessment), tidak hanya untuk perolehan pengetahuan keIPSan (product) saja, melainkan
menilai keterampilan sosial siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung (process), yang
mencakup penilian untuk ranah afektif dan psikomotornya.
Kedua, Strategi serta pendekatan konstruktivisme yang menempatkan siswa sebagai
mitra pembelajaran dan pengembang materi pembelajaran dapat digunakan oleh guru IPS
dalam mengembangkan keterampilan sosial. Keterampilan siswa dalam hal memperoleh,
mengolah dan memanfaatkan informasi untuk memiliki, berdayakan dirinya dapat dilakukan
melalui proses pembelajaran di kelas. Guru IPS yang konstruktivistis harus dapat
memfasilitasi para siswanya dengan kesempatan untuk berlatih dalam mengklasifikasi,
menganalisis dan mengolah informasi berdasarkan sumber-sumber yang mereka terima.
Sikap kritis siswa terhadap informasi harus dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran
di kelas. Guru juga harus selalu membiasakan siswa untuk memprediksi, mengklasifikasi dan
menganalisis, dengan demikian aspek kognitif siswa yang dikembangkan tidak hanya
keterampilan dalam menghafal dan mengingat melainkan juga menganalisis, memprediksi,
mengkritisi dan mengevaluasi informasi yang mereka terima
Di Era global ini sumber-sumber informasi yang tidak terbatas dapat digunakan
sebagai materi pembelajaran IPS untuk mengembangkan keterampilan yang terkait dengan
informasi tersebut. Kemajemukan informasi berdasarkan sumber serta keobjektivitasan dan
kesubjektivitasan merupakan bahan yang menarik untuk mengembangkan keterampilan
tersebut di dalam kelas.
Ketiga, Menurut Marsh Colin dalam Supriatna (2002:19), Strategi inquiry
menekankan peserta didik menggunakan keterampilan sosial dan intelektual, strategi ini
menekankan peserta didik menggunakan keterampilan intelektual dalam memperoleh
pengalaman baru atau informasi baru melalui investigasi yang sifatnya mandiri. Dengan
demikian keterampilan memperoleh informasi baru berdasarkan pengetahuan mengenai
informasi atau pengalaman belajar sebelumnya merupakan kondisi baik untuk
mengembangkan keterampilan yang terkait untuk menguasai informasi.
Selanjutnya Supriatna (2002:19), mengatakan beberapa keuntungan strategi ini yang
terkait dengan penguasaan informasi diantaranya adalah:
1. Strategi ini memungkinkan peserta didik melihat isi pelajaran libih realistik dan
posistif ketika menganalisis dan mengaflikasikan data dalam memecahkan masalah.
2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan isu-isu tertentu, mencari data
yang relevan, serta membuat keputusan yang bermakna bagi mereka secara pribadi.
3. Menempatkan guru sebagai fasilitator belajar sekaligus mengurangi perannya sebagai
pusat kegiatan belajar.
Wiriaatmadja (2002:305-306) mengatakan belajar dan mengajar Ilmu-ilmu Sosial
agar menjadi berdaya apabila proses pembelajarannya bermakna (meaningful), yaitu:
a. Siswa belajar menjalin pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, dan sikap yang
mereka anggap berguna bagi kehidupannya di sekolah atau di luar sekolah,
b. Pengajaran ditekankan kepada pendalaman gagasan gagasan penting yang terdapat
dalam topik-topik yang dibahas, demi pernahaman, apresiasi dan aplikasi siswa.
c. Kebermaknaan dan pentingnya materi pengajaran ditekankan kepada bagaimana cara.
penyajiannya dan dikembangkannya melalui kegiatan aktif.
d. Interaksi di dalam kelas difokuskan pada pendalaman topik-topik terpilih dan bukan
pada pembahasan sekilas sebanyak mungkin materi.
e. Kegiatan belajar yang bermakna dan strategi assessment (penilaian) hendaknya
difokuskan pada perhatian siswa terhadap pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan yang
penting yang terpateri dalam apa yang mereka pelajari.
f. Guru hendaknya berpikir reflektif dalam melakukan perencanaan/persiapan,
pemberlakuan, dan asessment pembelajaran.
Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus sebagai modal dasar
pembangunan bangsa. Potensi ini hanya dapat digali dan dikembangkan serta. dipupuk secara efektif
melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara serasi
dan seimbang dengan memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal.
Oleh karena itu, strategi manajemen pendidikan perlu secara khusus memperhatikan pengembangan
potensi peserta didik Yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (unggul), yaitu dengan
cara penyelenggaraan program pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan
tersebut, baik keunggulan dalam hal potensi intelektual maupun bakat khusus yang bersifat
keterampilan (gifted and talented).
Strategi pembelajaran yang dilaksanakan selama ini masih bersifat massal, yang
memberikan perlakuan dan layanan pendidikan Yang sama kepada semua peserta didik.
Padahal, mereka berbeda tingkat kecakapan, kecerdasan, minat, bakat, dan kreativitasnya.
Strategi pelayanan pendidikan seperti ini memang tepat dalam konteks pemerataan
kesempatan, akan tetapi kurang menunjang usaha mengoptimalkan pengembangan potensi
peserta didik secara cepat. Hasil beberapa penelitian Depdikbud (1994) menunjukkan sekitar
sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan sebagai peserta didik berbakat (gifted and
talented) mengalami gejala “prestasi kurang” (underachiever). Hal sama dikemukakan oleh
Munandar (1992) cukup banyak peserta didik berbakat yang prestasinya di sekolah tidak
mencerminkan potensi intelektual mereka yang menonjol. Salah satu penyebabnya adalah
kondisi-kondisi ekstemal atau lingkungan belajar yang kurang menunjang, kurang menantang
kepada mereka untuk mewujudkan kemampuannya secara optimal. Padahal, upaya untuk
mencapai keunggulan, melalui strategi pelayanan pendidikan massal akan memiliki
konsekuensi sumberdaya pendidikan (dana, tenaga dan sarana) yang kurang menguntungkan.
Model strategi pelayanan pendidikan altematif perlu dikembangkan untuk menghasilkan
peserta didik yang unggul melalui pemberian perhatian, perlakuan dan layanan pendidikan
berdasarkan bakat, minat dan kemampuannya.
Peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan
kelompok kecil. Data di Balitbang Depdikbud (1994) menunjukkan hanya 2 – 5 % dari
seluruh peserta didik yang ada. Jumlah ini semakin meningkat pada jenjang yang lebih tinggi.
Di tingkat SLTP jumlah peserta didik berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa mencapai
8 %. Lebih lanjut dikemukakan berdasarkan intelegensi Wechsler peserta didik berbakat
intelektual tergolong "sangat unggul" (IQ 130 keatas) berjumlah 2,2% dan tergolong
"unggul" (IQ 120-129) berjumlah 6,7% dari populasinya. Jumlah ini memang masih
tergolong kecil, namun secara potensial mereka unggul dalam salah satu atau beberapa
bidang yang meliputi bidang-bidang intelektual umum, dan akademia khusus, berpikir kreatif
produktif, kepemimpinan, seni dan psikomotorik.
Strategi pelayanan pendidikan altematif dalam manajemen pendidikan perlu
dikembangkan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul, melalui pemberian perhatian,
perlakuan dan layanan pendidikan berdasarkan bakat minat dan kemampuannya. Agar
pelayanan pendidikan yang selama ini diberikan kepada peserta, didik mencapai sasaran yang
optimal, maka pembelajaran harus diaelaraskan dengan potensi peserta didik. Oleh karena itu
guru perlu melakukan pelacakan potensi peserta didik.
Mengajar atau "teaching" adalah membantu peserta didik memperoleh informasi, ide,
keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar
bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Sedangkan pembelajaran adalah upaya untuk
membelajarkan peserta didik. Secara impliait dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih,
menetapkan; mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode didasarkan pada kondisi pembelajaran
yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasamya merupakan inti dari perencanaan
pembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau
perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik. Itulah sebabnya dalam
belajar peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar,
tetapi berinteraksi juga dengan keseluruhan sumber belajar yang lain. Oleh karena itu
pembelajaran menaruh perhatian pada "bagaimana membelajarkan peserta didik, dan bukan
pada "apa yang dipelajari peserta didik". Dengan demikian pembelajaran menempatkan
peserta didik sebagai subyek bukan sebagai obyek. Oleh karena itu agar pembelajaran dapat
mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteriatik peserta didik.
Hakikat belajar adalah suatu aktivitas yang mengharapkan perubahan tingkah laku
(behavioral change) pada diri individu yang belajar. Perubahan tingkah laku terjadi karena
usaha individu yang bersangkutan. Belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor misalkan bahan
yang dipelajari, instrumental, lingkungan, dan kondisi individual si pelajar. Faktor-faktor
tersebut diatur sedemikian rupa, agar mempunyai pengaruh yang membantu tercapainya
kompetensi secara optimal.
Proses belajar yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan dan
pembelajaran merupakan proses yang kompleks dan senantiasa berlangsung dalam berbagai
situasi dan kondisi. Percival dan Ellington (1984) menggambarkan model sistem pendidikan
dalam proses belajar, bahwa masukan (input) untuk sistem pendidikan, atau sistem belajar
terdiri dari orang, informasi, dan sumber lainnya. Sedangkan keluaran (output) terdiri dari
orang/siswa dengan penampilan yang lebih maju dalam berbagai aspek. Di antara masukan
dan keluaran terdapat kotak hitam (black box) yang berupa proses belajar atau pendidikan.
Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu: adanya perubahan tingkah laku, sifat
perubahannya relatif tetap (permanen) serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi
dcngan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan ataupun perubahan-perubahan kondisi
fisik yeng temporer sifatnya. Oleh karena itu pada prinsipnya belajar adalah poses perubahan
tingkah-laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar, baik
sumber yang didesain maupun yang dimanfaatkan. Proses belajar tidak hanya terjadi karena
adanya interaksi antara siswa dengan guru. Hasil belajar yang maksimal dapat pula diperoleh
lewat interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar lainnya.
Untuk memberikan landasan akademik/filosofts terhadap pelaksanaan pembelajaran,
maka perlu dikemukakan sejumlah pandangan dari para ahli pendidikan serta pembelajaran.
Ada tiga pakar pendidikan yang teori serta pandangannya bisa digunakan sebapi acuan dalam
mengembangkan dan mengimplementasikan Kurikulum 2004, yaitu John Dewey, Vygotsky,
dan Ausubel. Menurut Dewey (2001), tugas sekolah adalah memberi pengalaman belajar
yang tepat bagi siswa. Selanjutnya ditegaskan bahwa tugas guru adalah membantu siswa
menjalin pengalaman belajar yang satu dengan yang lain, termasuk yang baru dengan yang
lama. Pengalaman belajar baru melalui pengalaman belajar yang lama akan melekat pada
struktur kognitif siswa dan menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
Menurut Vygotsky (2001), terdapat hubungan yang erat antara pengalaman sehari-
hari dengan konsep keilmuan (scientific), tetapi terdapat perbedaan secara kualitatif antara
berpikir kompleks dan berpikir konseptual. Berpikir kompleks berdasarkan pada
pengkategorisasian objek berdasarkan suatu situasi, dan berpikir konseptual berbasis pada
pengertian yang lebih abstrak. Ditegaskan bahwa pengembangan kemampuan dalam hal
menganalisis, membuat hipotesis, dan menguji pengalaman sehari-hari pada dasarnya
terpisah dari pengalaman sehari-hari. Kemampuan ini tidak ditentukan oleh pengalaman
sehari-hari saja, tetapi lebih tergantung pada tipe spesifik interaksi sosial.
Menurut Ausubel (1969), pengalaman belajar baru akan masuk ke dalam memori
jangka panjang dan akan menjadi pengetahuan baru apabila memiliki makna. Pengalaman
belajar adalah interakasi antara subjek belajar dengan bahan ajar, misalnya siswa
mengerjakan tugas membaca, melakukan pemecahan masalah, mengamati suatu gejala,
peristiwa, percobaan, dan sejenisnya. Agar pengalaman belajar yang baru menjadi
pengetahuan baru, semua konsep dalam mata pelajaran diusahakan memiliki nilai terapan di
lapangan.
Joyce, Weil, dan Showers (1992) menyatakan bahwa hakikat mengajar (teaching)
adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana
untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Hasil akhir atau
hasil jangka panjang dari proses mengajar adalah kemampuan siswa yang tinggi untuk dapat
belajar dengan mudah dan efektif di masa mendatang. Tekanan dari kegiatan mengajar tetap
saja pada siswa yang belajar. Dengan demikian hakikat mengajar adalah memfasilitasi siswa
dalam belajar agar mereka mendapat kemudahan dalam belajar
Ada beberapa alasan mengapa Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi
pilihan dalam Kurikulum 2004 sebagai upaya perbaikan kondisi pendidikan di tanah air, di
antaranya:
(1) potensi siswa berbeda-beda, dan potensi tersebut akan berkembang jika
stimulusnya tepat;
(2) mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta diabaikin aspek-aspek moral,
akhlak, budi pekerti, seni & olah raga, serta life skill.
(3) persaingan global yang menyebabkan siswa/anak yang mampu akan
berhasil/eksis, dan yang kurang mampu akan gagal;
(4) persaingan pada kemampuan SDM (Sumber .Daya Manusia) produk lembaga
pendidikan, serta
(5) persaingan yang terjadi pada lembaga pendidikan, sehingga perlu rumusan yang
jelas mengenai standar kompetensi lulusan.
Upaya-upaya dalan rangka perbaikan dan pengembangan kurikulum menuju Kurikulum
2004 meliputi: kewenangan pengembangan, pendekatan pembelajaran, penataan isi/konten,
serta model sosialisasi, yang lebih disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi
serta era yang terjadi saat ini. Upaya perbaikan dan pengembangan kurikulum tersebut
berlangsung secara bertahap dan terus-menerus, yang mengarah pada terwujudnya azas
keluwesan dalam isi kurikulum dan pengelolaan proses belajar mengajar dalam rangka
pengembangan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pendekatan
pembelajaran dalam Kurikulum 2004 diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan
siswa dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi
masing-masing. Dengan demikian proses belajar lebih mengacu kepada bagaimana siswa
belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari.
Sebagai sebuah, konsep, sekaligus sebagai sebuah program, Kurikulum Berbasis
Kompetensi memiliki ciri-ciri: (1) menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik
secara individual maupun klasikal; (2) berorientasi pada hasil dan keberagaman; (3)
penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi; (4)
sumber belajar bukan hanya guru tetapi unsur belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif,
(5) penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan suatu
kompetensi (Siskandar, 2003).
Kurikulum 2004 dengan paradigmanya pembelajaran berbasis kompetensi
menempatkan siswa sebagai subjek didik, yakni lebih banyak mengikut sertakan siswa dalam
proses pembelajaran. Pendekatan ini bertolak dari anggapan bahwa siswa memiliki potensi
untuk berpikir sendiri dan potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila mereka diberi
banyak kesempatan untuk berpikir sendiri. Oleh karena itu maka guru tidak boleh lagi
dipandang sebagai orang yang paling tahu segalanya, melainkan lebih berperan sebagai
fasilitator terjadinya proses belajar pada individu siswa, dan siswa tentunya juga harus secara
terus menerus berusaha menyempurnakan diri sehingga dari waktu ke waktu makin
meningkat kemampuannya. Kemampuan atau keterampilan mendasar dalam belajar, atau bisa
dikenal juga sebagai keterampilan proses antara lain adalah kemampuan atau keterampilan
dalam :
1. mengobservasi/mengadakan pengamatan
2. menghitung
3. mengukur
4. mengklasifikasi
5. mencari hubungan ruang/waktu
6. membuat hipotesis
7. merencanakan penelitian/eksperimen
8. mengendalikan variabel
9. menginterpretasi atau. Menafsirkan data
10. menyusun kesimpulan sementara (inferensi)
11. meramalkan (memprediksi)
12. menerapkan (mengaplikasikan
13. mengkomunikasikan
Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, anak
akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta
menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituju. Seluruh irama, gerak atau
tindakan dalam pembelaiaran seperti ini akan menciptakan kondisi belajar yang mampu
mengaktifkan siswa secara optimal.
Mendasarkan pada uraian di atas maka pendekatan dalam pengembangan KBK
sebagai ciri Kurikulum 2004, dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Berorientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya (outcome oriented)
b. Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
c. Bertolak dari Kompetensi Tamatan/Lulusan
d. Memperhatikan pengembangan kurikulum berdiversifikasi
e. Mengembangkan kompetensi secara utuh dan menyelurah (holistik)
f. Menerapkan prinsip ketuntasan belajar (mastery learning)
Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-
sekolah yang sudah maju adalah metode discovery, hal itu disebabkan karena metode
discovery ini: (a) Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif, (b)
Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan
tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa, (c) Pengertian yang ditemukan
sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer
dalam situasi lain, (d) Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai
salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri, (e) dengan metode
penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan probelama yang
dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian diharapkan metode discovery ini lebih dikenal dan digunakan di
dalam berbagai kesempatan proses belajar mengajar yang memungkinkan.
Metode Discovery menurut Suryosubroto (2002:192) diartikan sebagai suatu prosedur
mengajar yang mementingkan pengajaran perseorangan, manipulasi obyek dan lain-lain,
sebelum sampai kepada generalisasi.
Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan yang meliputi
metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif, beroreientasi pada proses, mengarahkan
sendiri, mencari sendiri dan reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research,
penemuan merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai
cara, termasuk mengajarkan ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat
bagi siswa untuk mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
metode discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru
memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa
diberitahukan atau diceramahkan saja.
Suryosubroto (2002:193) mengutip pendapat Sund (1975) bahwa discovery adalah
proses mental dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses
mental tersebut misalnya mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan,
menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.
Langkah-langkah pelaksanaan metode penemuan menurut Suryosubroto (2002:197)
yang mengutip pendapat Gilstrap (1975) adalah: (a) Menilai kebutuhan dan minat siswa, dan
menggunakannya sebagai dasar untuk menentukan tujuan yang berguna dan realities untuk
mengajar dengan penemuan, (b) Seleksi pendahuluan atas dasar kebutuhan dan minat siswa,
prinsip-prinsip, generalisasi, pengertian dalam hubungannya dengan apa yang akan
dipelajarai, (c) Mengatur susunan kelas sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya
arus bebas pikiran siswa dalam belajar dengan penemuan, (d) Berkomunikasi dengan siswa
akan membantu menjelaskan peranan penemuan, (e) menyiapkan suatu situasi yang
mengandung masalah yang minta dipecahkan, (f) Mengecek pengertian siswa tentang maslah
yang digunakan untuk merangsang belajar dengan penemuan, (g) Menambah berbagai alat
peraga untuk kepentingan pelaksanaan penemuan, (h) memberi kesempatan kepada siswa
untuk bergiat mengumpulkan dan bekerja dengan data, misalnya tiap siswa mempunyai data
harga bahan-bahan pokok dan jumlah orang yang membutuhkan bahan-bahan pokok tersebut,
(i) Mempersilahkan siswa mengumpulkan dan mengatur data sesuai dengan kecepatannya
sendiri, sehingga memperoleh tilikan umum, (j) Memberi kesempatan kepada siswa
melanjutkan pengalaman belajarnya, walaupun sebagian atas tanggung jawabnya sendiri, (k)
memberi jawaban dengan cepat dan tepat sesuai dengan data dan informasi bila ditanya dan
diperlukan siswa dalam kelangsungan kegiatannya, (l) Memimpin analisisnya sendiri melalui
percakapan dan eksplorasinya sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan
mengidentifikasi proses, (m) Mengajarkan ketrampilan untuk belajar dengan penemuan yang
diidentifikasi oleh kebutuhan siswa, misalnya latihan penyelidikan, (n) Merangsang interaksi
siswa dengan siswa, misalnya merundingkan strategi penemuan, mendiskusikan hipotesis dan
data yang terkumpul, (o) Mengajukan pertanyaan tingkat tinggi maupun pertanyaan tingkat
yang sederhana, (p) Bersikap membantu jawaban siswa, ide siswa, pandanganan dan tafsiran
yang berbeda. Bukan menilai secara kritis tetapi membantu menarik kesimpulan yang benar,
(q) Membesarkan siswa untuk memperkuat pernyataannya dengan alas an dan fakta, (r)
Memuji siswa yang sedang bergiat dalam proses penemuan, misalnya seorang siswa yang
bertanya kepada temannya atau guru tentang berbagai tingkat kesukaran dan siswa siswa
yang mengidentifikasi hasil dari penyelidikannya sendiri, (s) membantu siswa menulis atau
merumuskan prinsip, aturan ide, generalisasi atau pengertian yang menjadi pusat dari
masalah semula dan yang telah ditemukan melalui strategi penemuan, (t) Mengecek apakah
siswa menggunakan apa yang telah ditemukannya, misalnya teori atau teknik, dalam situasi
berikutnya, yaitu situasi dimana siswa bebas menentukan pendekatannya.
Sedangkan langkah-langkah menurut Richard Scuhman yang dikutip oleh
Suryosubroto (2002:199) adalah : (a) identifikasi kebutuhan siswa, (b) Seleksi pendahuluan
terhadap prinsip-prinsip, pengertian, konsep dan generalisasi yang akan dipelajari, (c) Seleksi
bahan, dan problema serta tugas-tugas, (d) Membantu memperjelas problema yang akan
dipelajari dan peranan masing-masing siswa, (e) Mempersiapkan setting kelas dan alat-alat
yang diperlukan, (f) Mencek pemahaman siswa terhadap masalah yang akan dipecahkan dan
tugas-tugas siswa, (g) Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan penemuan, (h)
Membantu siswa dengan informasi, data, jika diperlukan oleh siswa, (i) memimpin analisis
sendiri dengan pertanyaan yang mengarahkan dan mengidentifikasi proses, (j) Merangsang
terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, (k) memuji dan membesarkan siswa yang
bergiat dalam proses penemuan, (l) Membantu siswa merumuskan prinsip-prinsip dan
generalisasi atas hasil penemuannya.
Metode discovery memiliki kebaikan-kebaikan seperti diungkapkan oleh
Suryosubroto (2002:200) yaitu: (a) Dianggap membantu siswa mengembangkan atau
memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa, andaikata
siswa itu dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan dari proses penemuan datang
dari usaha untuk menemukan, jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu, (b) Pengetahuan
diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan mungkin merupakan suatu pengetahuan
yang sangat kukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian retensi dan transfer, (c) Strategi
penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah
penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-kadang kegagalan, (d) metode ini
memberi kesempatan kepada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya
sendiri, (e) metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia
lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada suatu proyek
penemuan khusus, (f) Metode discovery dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan
bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat
memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan, (g) Strategi ini
berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada siswa dan guru berpartisispasi
sebagai sesame dalam situasi penemuan yang jawaban nya belum diketahui sebelumnya, (h)
Membantu perkembangan siswa menuju skeptisssisme yang sehat untuk menemukan
kebenaran akhir dan mutlak.
Kelemahan metode discovery Suryosubroto (2002:2001) adalah: (a) Dipersyaratkan
keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban
mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-
hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu
subyek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa
yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi
pada siswa yang lain, (b) Metode ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya
sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu seorang siswa menemukan teori-teori,
atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. (c) Harapan yang
ditumpahkan pada strategi ini mungkin mengecewakan guru dan siswa yang sudah biasa
dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, (d) Mengajar dengan penemuan
mungkin akan dipandang sebagai terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang
memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. Sedangkan sikap dan ketrampilan
diperlukan untuk memperoleh pengertian atau sebagai perkembangan emosional sosial secara
keseluruhan, (e) dalam beberapa ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide,
mungkin tidak ada, (f) Strategi ini mungkin tidak akan memberi kesempatan untuk berpikir
kreatif, kalau pengertian-pengertian yang akan ditemukan telah diseleksi terlebih dahulu oleh
guru, demikian pula proses-proses di bawah pembinaannya. Tidak semua pemecahan masalah
menjamin penemuan yang penuh arti.
Metode Discovery menurut Rohani (2004:39) adalah metode yang berangkat dari
suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping sebagai obyek
pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai
dengan kemampuan yang mereka miliki.
Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau rangsangan yang
dapat menantang peserta didik untuk merasa terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas
pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin
pengajaran yang demokratis, sehingga diharapkan peserta didik lebih banyak melakukan
kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.
Ada lima tahap yang harus ditempuh dalam metode discovery menurut
Rohani(2004:39) yaitu: (a) Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik, (b)
Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis, (c) Peserta didik mencari informasi ,
data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji
hipotesis, (d) Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi, (e) Aplikasi kesimpulan
atau generalisasidalam situasi baru.
Metode Discovery menurut Roestiyah (2001:20) adalah metode mengajar
mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental dimana siswa
mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental tersebut misalnya
mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat
kesimpulan, dan sebagainya. Dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau
mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi.
Pada metode discovery, situasi belajar mengajar berpindah dari situasi teacher
dominated learning menjadi situasi student dominated learning. Dengan pembelajaran
menggunakan metode discovery, maka cara mengajar melibatkan siswa dalam proses
kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan diskusi, seminar, membaca sendiri dan
mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.
Penggunaan metode discovery ini guru berusaha untuk meningkatkan aktivitas siswa
dalam proses belajar mengajar. Sehingga metode discovery menurut Roestiyah (2001:20)
memiliki keunggulan sebagai berikut: (a) Teknik ini mampu membantu siswa untuk
mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta panguasaan ketrampilan dalam proses
kognitif/ pengenalan siswa, (b) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi /
individual sehingga dapat kokoh atau mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut, (c)
Dapat meningkatkan kegairahan belajar para siswa.
Metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) merupakan metode yang lebih
menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih
mengutamakan proses daripada hasil belajar.
Cara mengajar dengan metode discovery menurut Mulyasa (2005:110) menempuh
langkah-langkah sebagai berikut: (a) Adanya masalah yang akan dipecahkan, (b) Sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik, (c) Konsep atau prinsip yang harus
ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara
jelas, (d) harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan, (e) Sususnan kelas diatur sedemian
rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan
belajar mengajar, (f) Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengumpulkan data, (g) Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dengan data serta
informasi yang diperlukan peserta didik.
Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk
menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Inquiry menempatkan peserta didik
sebagai subyek belajar yang aktif (Mulyasa , 2003:234).
Kendatipun metode ini berpusat pada kegiatan peserta didik, namun guru tetap
memegang peranan penting sebagai pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban
menggiring peserta didik untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan
penjelasan, melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik.
Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang kondusif,
dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang bervariasi.
Inquiry pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami. Karena itu
inquiry menuntut peserta didik berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan
intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu
yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian , melalui metode ini peserta didik
dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.
Langkah-langkah dalam proses inquiry adalah menyadarkan keingintahuan terhadap
sesuatu, mempradugakan suatu jawaban, serta menarik kesimpulan dan membuat keputusan
yang valid untuk menjawab permasalahan yang didukung oleh bukti-bukti. Berikutnya adalah
menggunakan kesimpulan untuk menganalisis data yang baru (Mulyasa, 2005:235).
Strategi pelaksanaan inquiry adalah: (1) Guru memberikan penjelasan, instruksi atau
pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan. (2) Memberikan tugas kepada peserta didik
untuk menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa didapatkan pada proses pembelajaran
yang dialami siswa. (3) Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang
mungkin membingungkan peserta didik. (4) Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang
telah dipelajari sebelumnya. (5) Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai
kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan (Mulyasa, 2005:236).
Metode inquiry menurut Roestiyah (2001:75) merupakan suatu teknik atau cara yang
dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti
suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing
kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari,
meneliti, atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka di dalam
kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil
laporan dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang pleno
kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang
terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan, hal itu perlu diperhatikan.
Guru menggunakan teknik bila mempunyai tujuan agar siswa terangsang oleh tugas,
dan aktif mencari serta meneliti sendiri pemecahan masalah itu. Mencari sumber sendiri, dan
mereka belajar bersama dalam kelompoknya. Diharapkan siswa juga mampu mengemukakan
pendapatnya dan merumuskan kesimpulan nantinya. Juga mereka diharapkan dapat berdebat,
menyanggah dan mempertahankan pendapatnya. Inquiry mengandung proses mental yang
lebih tinggi tingkatannya, seperti merumuskan masalah, merencanakan eksperimen,
melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada
metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan
sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui bersama. Bila siswa
melakukan semua kegiatan di atas berarti siswa sedang melakukan inquiry.
Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu : (a) Dapat membentuk dan
mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep
dasar ide-ide dengan lebih baik. (b) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer
pada situasi proses belajar yang baru. (c) mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas
inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka. (d) Mendorong siswa untuk berpikir
intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri. (e) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
(f) Situasi pembelajaran lebih menggairahkan. (g) Dapat mengembangkan bakat atau
kecakapan individu. (h) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. (i) Menghindarkan
diri dari cara belajar tradisional. (j) Dapat memberikan waktu kepada siswa secukupnya
sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Metode inquiry menurut Suryosubroto (2002:192) adalah perluasan proses discovery
yang digunakan lebih mendalam. Artinya proses inqury mengandung proses-proses mental
yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan problema, merancang eksperimen,
melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan, dan
sebagainya.

Penggunaan Media pembelajaran dalam pendidikan IPS belum banyak dilakukan


dalam praktrek pendidikan IPS, sementara itu kemajuan dalam bidang teknologi
sangat pesat, implikasi dilihat dari aspek teknologi pembelajaran semakin ketinggalan.
Kemukakan komentar anda bagaimana cara merancang, menggunakan dan
mengoptimalkan fungsi media dalam pembelajaran IPS, kemukakan contoh aktual
dalam praksis pembelajaran IPS.
Jawab :
Menurut Association for Educational Communication and Technology (AECT, 1977),
sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru,
baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar
dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisien tujuan pembelajaran.
Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources by design),
yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan sebagai komponen
sistem intruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat
formal; dan
2. Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by utilization),
yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didesain untuk keperluan pembelajaran
namun dapat ditemukan, diaplikasikan dan dimanfaatkan untuk keperluan belajar.
Dinamika pendidikan nasional, agaknya masih menjadi kajian menarik untuk diangkat
sebagai bahan perbincangan, lebih-lebih dihadapan dunia akademis. Akhir-akhir ini,
dinamisasi pendidikan nasional sedang mencanangkan “gerakan peningkatan mutu
pendidikan”, yang telah dimulai sejak 2 Mei 2002.
Sebagai sebuah agenda era reformasi sekarang ini, sudah saatnya paradigma
pendidikan harus memiliki relevansi dengan nilai-nilai masyarakat. Pendidikan yang berbasis
masyarakat akan memungkinkan menjadi alternatif bagi terciptanya sumber daya manusia
(SDM) seutuhnya. Sebab, secara filosofis, pendidikan merupakan upaya pewarisan,
penyempurnaan dan pengembangan ilmu, pengalaman, kebiasaan dari satu generasi ke
generasi berikutnya, sesuai norma, nilai hukum yang menjadi acuan dalam kebudayaan
masyarakat.
Sejalan dengan hal itu, Rusman Tumanggor (2000) mensinyalir bahwa para ilmuan
dan tokoh Indonesia terkemuka mencetuskan world-view bangsa: Mewujudkan manusia
Indonesia seutuhnya” yang oleh WHO (World Health Organization) dinyatakan world-view
bagi kesempurnaan manusia sejagad, melalui konsep kesehatan meliputi kesehatan
kesempurnaan: fisik, mental, sosial dan spiritual (Health is a state of physical, mental, social,
and spiritual well being and not merely the absence of diseases or infirmity).
Melalui gagasan tersebut, pendidikan berarti upaya terbaik untuk meraih
kesempurnaan hidup manusia sesuai dengan realitas faktual yang ada di tengah kehidupan
masyarakat. Seiring dengan tuntutan otonomi daerah, perubahan paradigma pendidikan itu
dimaksudkan untuk mengembalikan pendidikan kepada basis masyarakat. Masyarakat
dilibatkan untuk memahami program-program yang dilakukan pendidikan dengan tujuan agar
mereka termotivasi untuk bisa memberikan bantuan yang maksimal terhadap pelaksanaan
program-program pendidikan tersebut.
Melalui konsep demikian, pendidikan pada dasarnya berbasis pada masyarakat.
Abuddin Nata mendefinisikan konsep tersebut, sebagai sebuah alternatif untuk ikut
memecahkan berbagai masalah pendidikan yang ditangani pemerintah, dengan cara
melibatkan peran serta masyarakat secara lebih luas. Jadi, masalah-masalah yang dihadapi
sekolah, madrasah, atau Perguruan Tinggi dapat dipecahkan bersama dengan masyarakat.
Masalah yang dihadapi lembaga pendidikan seperti siswa/mahasiswa, guru/dosen,
perlengkapan keuangan dan perumusan tujuan sekolah, madrasah, atau Perguruan Tinggi
dapat diatasi bersama-sama dengan masyarakat. Berbagai sarana dan prasarana yang ada di
masyarakat seperti lapangan olah raga, bengkel kerja, masjid, tempat-tempat kursus
ketrampilan, sumber daya manusia dan lain sebagainya dapat diakses dan dimanfaatkan oleh
lembaga pendidikan, tanpa harus membayar.
Upaya untuk mengembalikan pendidikan kepada masyarakat selaras dengan asas
demokrasi, keadilan, dan keterkaitan pendidikan dengan kehendak masyarakat. Lebih dari itu,
pendidikan berbasis masyarakat merupakan pilar untuk merealisasikan UU 22 dan nomor 25
tahun 1999 tentang otonomi daerah.
Peran serta masyarakat yang menjadi ciri konsep pendidikan era otonomi bukanlah
hal yang baru. Karena jauh sebelum itu, di setiap sekolah pada umumnya sudah ada apa yang
disebut BP3 (Badan Pembina dan Pengawasan Sekolah) yang anggotanya terdiri dari
orangtua siswa, atau di Perguruan Tinggi disebut POM (Persatuan Orangtua Mahasiswa)
yang anggotanya terdiri dari para orangtua mahasiswa.
Dengan membangun pendidikan berbasis masyarakat, diharapkan akan memberikan
peluang bagi institusi pendidikan agar semakin meningkat peranannya, yakni dengan cara
memberikan kemudahan kepada pimpinan sekolah atau Perguruan Tinggi untuk
memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang ada di masyarakat, termasuk sumber daya
manusia. Dengan cara demikian, antara lembaga sekolah atau Perguruan Tinggi dan
masyarakat berada dalam satu visi, misi dan tujuan dalam ikut serta menyukseskan program
pendidikan.
Keharusan masyarakat ikut serta terlibat dalam menangani masalah-masalah
pendidikan tersebut sebenarnya sudah di atur dalam undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional tersebut. Pada bab I, ketentuan umum, pasal 1, butir 10 misalnya
dinyatakan bahwa sumber daya pendidikan adalah dukungan dan penunjang pelaksanaan
pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia dan
diadakan serta didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didik dan pemerintah, baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama (UUSPN,1993).
Perlu diakui bahwa pendidikan yang bermental ‘swasta’ adalah corak pendidikan
yang berbasis masyarakat. Pendidikan yang bermental swasta itu-baik yang berstatus negeri
maupun yang berstatus swasta betulan- telah teruji dilapangan dalam penerapan pendidikan
yang berbasis masyarakat. Melalui pendidikan seperti inilah yang diharapkan mampu
bertarung dalam kompetisi era global.
Selama ini, pada umumnya pendidikan terbiasa menggantungkan batuan dari
pemerintah. Dengan ketergantungan tersebut, mengakibatkan keterbatasan, kekurangan dan
berbagai masalah muncul di lembaga-lembaga pendidikan. Untuk mengurangi
ketergantungan itu pendidikan diharapkan dapat memanfaatkan sumber-sumber potensi yang
terdapat di masyarakat.
Secara umum, pendidikan yang masih mengharapkan ‘pulung’ dari atas, selalu
menpengaruhi kinerja sistem penyelenggaraan di sekolah/Perguruan Tinggi. Dengan kembali
kepada ‘mental’ swasta diharapkan mampu meningkatkan kemauan, kemampuan ketrampilan
dan strategi dalam menggali sumber-sumber yang ada di masyarakat.
Pengalaman yang cukup menjadi referensi bagi kita saat ini adalah sistem pendidikan
yang diterapkan di negara-negara maju. Amerika misalnya, sejak lama telah menerapkan
pendidikan semacam ini. Pendidikan tidak bergantung pada pemerintah, tetapi justru
diserahkan kepada masyarakat. Karena pendidikan merupakan bagian dari cermin dan kultur
masyarakat. Dengan demikian, sudah seharusnya masyarakat diberikan ruang yang layak
untuk mengelola, menilai dan menikmatinya. Masyarakat diberi ruang partisipasi yang luas,
agar institusi penyelenggara pendidikan memperoleh dukungan dan mendapat legetimasi
sosial.
Sekali lagi, mengembalikan pendidikan kepada masyarakat berarti menghargai
keragaman budaya, kultur dan segala sumber daya yang dimiliki masyarakat. Pendidikan
harus timbul dari dalam masyarakat itu sendiri. Ali Khalil memberikan apresiasi bahwa
pendidikan adalah proses sosial. Karena itu, pendidikan dalam suatu masyarakat berbeda
dengan masyarakat lainnya, sesuai dengan karakter masyarakat itu sendiri. Dalam arti lain,
pendidikan adalah “pakaian” yang harus diukur dan dijahit sesuai dengan bentuk dan ukuran
pemakainya, berdasarkan identitas, pandangan hidup, serta nilai-nilai yang terdapat dalam
masyarakat atau negara tersebut.
Adanya berbagai variasi lembaga sosial, tempat pariwisata, kesenian dan sejumlah
aset masyarakat membuka seluas-luasnya untuk berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan
pendidikan. Antara masyarakat dengan pihak lembaga pendidikan betul-betul bisa
membangun kerjasama sinergis yang kompak dalam menunjukkan kegiatan pendidikan.
Prinsip-prinsip pendidikan untuk semua (education for all), pendidikan seumur hidup
(long life education), pendidikan demokratis yang ditandai dengan adanya program yang
disesuaikan dengan kesanggupan dan keinginan masyarakat, dan adanya otonomi yang luas
bagi masyarakat untuk menyelenggarakan pendidikan, sebagaimana diharapkan Tim
Reformasi Pendidikan Nasional.
Metode pembelajaran merupakan suatu konsep yang harus dimiliki oleh setiap
pengajar/guru. Metode pembelajaran yang tepat sangat berperan demi terciptanya tujuan dari
pendidikan itu sendiri.
Dari dulu metode yang digunakan oleh para pengajar pada prinsipnya sama, apakah
itu dengan cara diskusi, praktek secara langsung ataupun cara-cara lainnya. Namun siswa
suatu saat akan mengalamai kejenuhan dengan metode tersebut dan juga tidak semua siswa
bias menerima cara-cara tersebut karena setiap siswa memiliki tingkat intelegen yang
berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari bisa kita lihat bahwa acara televisi, lagu, video,
animasi ataupun gambar-gambar yang menarik  bisa menimbulkan rasa ketertarikan dan
penasaran serta tidak membuat kita merasa cepat jenuh. Dan juga kita lebih mudah mengerti
dan menerimanya itupun karena adanya inovasi dan kreativitas yang terus-menerus sehingga
masyarakat tidak mudah bosan bahkan menunggu.
Dari kehidupan sehari-hari seperti yang telah diuraikan, maka tidak ada salahnya
para pengajar menggunakan metode/cara seperti halnya televisi, lagu ataupun gambar. Untuk
mengimplementasikan metode tersebut secara tidak langsung kita akan berhubungan dengan
teknologi informasi. Perkembangan teknologi informasi dari hari ke hari terus berkembang
dengan pesatnya. Mengapa kita tidak memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk
melakukan metode pembelajaran ?. Mau tidak mau para pendidik dituntut untuk menguasai
teknologi informasi meskipun sedikit atau sekedar tau informasinya, karena cakupan dari
teknologi informasi sendiri sangat banyak.
Bila kita bicara mengenai televisi, lagu, animasi dan gambar  maka kita akan
berbicara mengenai multimedia. Multimedia merupakan gabungan dari suara, video, animasi,
teks dan gambar yang dijadikan satu sehingga menjadi lebih menarik dan mencapai dari
tujuan yang diinginkan.
   Dalam multimedia sendiri terdapat beberapa yang dapat digunakan sebagai media
dalam pembelajaran. Salah satu diantaranya adalah dalam bentuk CD interaktif ataupun
presentasi interaktif.  Multimedia ada yang interaktif dan ada yang linear. Multimedia linear
tidak mengikutkan user, user hanya sebagai penonton saja sedangkan interaktif/hierarki
mengikutsertakan user dalam penggunaan aplikasinya.
Kita bisa menggunakan kedua-duanya, tentunya disesuaikan dengan materi yang
akan disampaikan. Dalam pembuatan aplikasi pembelajaran menggunakan multimedia,
pertama yang harus dilakukan adalah membuat konsep/struktur dari aplikasi tersebut.
Bagaimana aplikasi yang dibuat nanti mempunyai daya ketertarikan dan mudah di mengerti
serta mudah diserap oleh siswa. Selanjutnya adalah mengumpulkan materi dan bahan-bahan
pendukungnya dan juga membuat desain antar muka dan melanjutkannya menjadi desain
aplikasi. Setelah itu baru proses pembuatan aplikasi dilakukan dengan menggunakan
software yang digunakan untuk keperluan pembuatan aplikasi multimedia seperti software
macromedia flash dan macromedia director. Sebenarnya dengan menggunakan  power point
juga bisa diterapkan tapi kita tidak bisa mengembangkan lebih baik/menarik lagi karena
keterbatasan dari software tersebut. Dalam pembuatan konsep diperlukan ide dan kreatifitas
yang tinggi agar tujuan yang diharapkan tercapai. Kreatifitas sendiri bisa dimulai dengan
meniru dan memodifikasi, maka dengan sendirinya kreatifitas itu akan muncul . Kita bisa
mencari referensi, tutorial ataupun informasi di internet. Memang jika di pikir akan terasa
berat bagi para pendidik karena kita dituntut untuk menguasai software tersebut dan juga
dituntut untuk kreatif. Tapi jika kita mengandalkan metode lama maka hasilnya masih
minimal, sekarang jaman sudah serba teknologi jadi gunakan teknologi dalam dunia
pendidikan supaya memperoleh hasil yang lebih maksimal.
Dari uraian singkat diatas bisa disimpulkan bahwa multimedia menjadi alternative
sebagai media dalam proses pembelajaran di sekolah. Penggunaan multimedia saat ini adalah
pembelajaran ICT. Dengan menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran
diharapkan menumbuhkan ketertarikan dan minat siswa dalam mengikuti pelajaran dan juga
memperoleh hasil/tujuan yang maksimal.

Ujian Akhir Nasional mendapat sorotan dari pakar dan praktis pendidikan, terdapat
dua pandangan pro dan kontra, kemukakan secara konseptual ; teoritik tentang
pandangan tersebut. Bagaimana posisi dan pendapat anda sehubungan upaya
memperbaiki proses pembelajaran pendidikan IPS.
Jawab :
Banyak batasan penilaian atau evaluasi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli.
Di antaranya dikemukakan oleh Arikunto (1986:3), bahwa: “Penilaian pendidikan adalah
kegiatan penilaian yang terjadi dalam kegiatan pendidikan”. Pendapat yang lebih terperinci
dikemukakan oleh Harahap (1979:19): “Penilaian pendidikan adalah penilaian tentang
perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran
yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum”. Sedangkan
menurut pasal 1 ayat (21) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas: “Evaluasi pendidikan
adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap
berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai
bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan” (2003:9).
Dari pengertian penilaian pendidikan sebagaimana tersebut di atas tersirat tujuan
penilaian pendidikan, yaitu untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan yang telah
direncanakan sudah tercapai atau belum. Bagi tujuan pendidikan yang sudah tercapai
bagaimana tindak lanjutnya dan bagi yang belum tercapai bagaimana cara memperbaikinya.
Menurut Anderson, et al. (Arikunto:1988:3): “Tujuan utama penilaian pendidikan
adalah menyiapkan informasi untuk keperluan pengambilan keputusan tentang suatu
program”. Sedangkan Harahap (1979:19) berpendapat, bahwa: “Tujuan penilaian pendidikan
ialah untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan
kemajuan yang diperoleh murid, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan di
dalam kurikulum”.
Berdasarkan pendapat di atas jelas, bahwa dengan penilaian pendidikan kita dapat
mengetahui tingkat keberhasilan pogram pendidikan yang telah direncanakan dan
dilaksanakan untuk selanjutnya dijadikan bahan petimbangan pengambilan keputusan,
pertanggungjawaban kepada para pihak terkait, dan perbaikan program selanjutnya. Hal ini
sebagaimana dikemukakan oleh Umar et al. (2000:4), bahwa: “Kegunaan utama dari
penilaian adalah untuk pengambilan keputusan dan untuk mempertanggungjawakan kegiatan
yang telah dilaksanakan”.
Prinsip dan Kriteria Penilaian
Agar penilaian yang dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian yang diharapkan, maka perlu
memperhatikan prinsip-prinsip penilaian yang berlaku. Secara umum prinsip penilaian pendidikan
menurut Sirait (1989:31-33) adalah sebagai berikut:
Menentukan dan menjelaskan apa yang harus dinilai selalu mendapat prioritas dalam proses
evaluasi. Teknik evaluasi harus dipilih sesuai dengan tujuan yang akan dilayaninya. Evaluasi
yang komprehensif menuntut berbagai teknik evaluasi.
Pemakaian teknik evaluasi yang sewajarnya menuntut kewaspadaan akan
keterbatasannya seperti juga kekuatannya. Evaluasi adalah alat mencapai tujuan dan
bukan merupakan tujuan akhir.
Dari pendapat di atas, bahwa dalam penilaian pendidikan selain harus jelas tujuannya,
teknik penilaian yang digunakan sesuai dengan tujuan, komprehensif (menyeluruh),
menyadari kelebihan dan kekurangan dari berbagai teknik evaluasi, serta penilaian
merupakan salah satu alat yang penting untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sementara menurut Arifin (1988:11-12), penilaian atau evaluasi hendaknya bertolak
dari prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Kontinuitas, artinya karena pendidikan itu merupakan suatu proses yang
kontinu, maka evaluasi pun harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus).
2. Menyeluruh, artinya seluruh aspek kepribadian anak, baik yang
menyangkut aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
3. Objektivitas, artinya evaluasi harus didasarkan atas kenyataan yang
sebenarnya.
4. Kooperatif, artinya setiap kegiatan evaluasi hendaknya dilakukan secara
bersama oleh semua guru, terutama di sekolah lanjutan karena setiap anak didik
ditangani oleh banyak guru.
Suatu penilaian dikatakan baik, apabila sesuai dengan ciri-ciri penilaian yang baik.
Penilaian yang baik menurut Arikunto (1986:50-54), memiliki ciri sebagai berikut:
1. Validitas, sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa
yang hendak diukur.
2. Reliabilitas, sebuah tes disebut reliabel apabila tes itu dapat dipercaya.
3. Objektivitas, sebuah tes disebut objektif apabila tidak dipengaruhi oleh
masalah pribadi.
4. Praktikabilitas, sebuah tes dikatakan memiliki praktikailitas yang tinggi
apabila tes tersebut bersifat prakis, mudah pengadministrasiannya.
5. Ekonomis, apabila tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal,
tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.
Dari beberapa pendapat di atas jelas, bahwa penilaian pendidikan yang baik berpijak
pada ciri dan prinsip kontinuitas, validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas,
komprehensif, kooperatif, dan ekonomis. Dengan berpatokan kepada prinsip-prinsip tersebut
diharapkan penilaian dapat menjadi alat ukur tingkat keberhasilan program pendidikan
sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan dan pertanggungjawaban kepada para
steakholders pendidikan.
Sistem Penilaian Unas dan Permasalahannya
Pasal 2 Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran
2003/2004, menyatakan bahwa:
Ujian Nasional bertujuan untuk:
a. mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik;
b. mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota,
dan sekolah/madrasah;
c. mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan secara nasional,
provinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah; kepada masyarakat (2003:2).
Dari tujuan ujian nasional di atas jelas, bahwa ujian nasional memegang peranan yang sangat
penting dalam sistem pendidikan nasional, karena selain untuk mengukur pencapaian hasil belajar dan
mengukur mutu pendidikan, juga untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan
kepada masyarakat. Selanjutnya pasal 3 menyatakan, bahwa:
Ujian Nasional berfungsi sebagai:
a. alat pengendali mutu pendidikan secara nasional;
b. pendorong peningkatan mutu pendidikan;
c. bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik;
d. bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan peserta didik baru pada jenjang
pendidikan yang lebih tinggi (2003:3).
Dengan memperhatikan fungsi ujian nasional di atas, betapa strategisnya ujian nasional
sebagai alat pengendali dan pendorong mutu pendidikan, menentukan kelulusan, serta bahan
pertimbangan seleksi penerimaan peserta didik baru pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ujian nasional dapat melaksanakan fungsinya dengan baik dalam rangka mencapai tujuan
ujian nasional khususnya dan tujuan pendidikan nasional pada umumnya, apabila ujian nasional
tersebut dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian. Sebaliknya akan menjadi
kontraproduktif apabila pelaksanaannya bertentangan dengan prinsip-prinsip penilaian yang berlaku.
Sementara pasal 5 ayat (1) Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir
Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004, dinyatakan bahwa: “Ujian Nasional meliputi seluruh mata
pelajaran yang diajarkan pada kelas akhir sesuai dengan kurikulum nasional dan dilaksanakan dalam
bentuk ujian tertulis dan ujian praktik” (2003:3). Selanjutnya dalam pasal 6 ayat (1) Keputusan
Mendiknas No. 153/U/2003, dinyatakan bahwa: “Soal ujian nasional mengacu pada materi pelajaran
dan bahan kajian yang ditetapkan berdasarkan kurikulum nasional” (2003:3).
Soal ujian nasional terbagi dua kelompok, yaitu yang disiapkan oleh pusat dan yang disiapkan
oleh sekolah/madrasah. Dalam lampiran Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003, mata pelajaran yang
soalnya disiapkan oleh pusat adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, sedangkan
sisanya disiapkan oleh sekolah. Pemeriksaan hasil ujian nasional yang soalnya disiapkan oleh pusat
dilakukan dengan menggunakan komputer oleh Tim Komputerisasi Provinsi, sedangkan pemeriksaan
yang soalnya disiapkan oleh sekolah dilakukan secara manual oleh sekolah atau silang antara sekolah
dalam satu subrayon.
Adapun mengenai kriteria kelulusan menurut lampiran Keputusan Mendiknas No.
153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004, yaitu sebagai berikut:
a. Memiliki nilai seluruh mata pelajaran yang diujikan secara nasional;
b. Tidak terdapat nilai < 4.00;
c. Semua peserta Ujian Nasional yang dinyatakan lulus menerima Surat
Tanda Lulus dan Ijazah;
d. Peserta Ujian Nasional yang tidak lulus tidak dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
e. Peserta Ujian Nasional yang tidak lulus dapat mengikuti Ujian Nasional
tahun berikutnya dan wajib mengulang di kelas terakhir.
Dengan kriteria kelulusan minimal 4,01 menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaksana di
lapangan, terutama para guru, kepala sekolah, dan para aparat/birokrat pendidikan. Kekhawatiran ini
cukup beralasan karena banyak masyarakat/orang tua siswa yang belum mengerti terutama di daerah
terpencil. Apalagi bagi yang tidak lulus tidak dapat mengulang secara langsung, ia dapat mengulang
pada tahun berikutnya dan wajib mengulang di kelas terakhir. Persyaratan ini menjadikan beban moral
dan psikologis yang berat bagi peserta didik yang tidak lulus. Tetapi setelah mendapat reaksi yang
keras dari publik, maka Mendiknas mengeluarkan Keputusan No. 037/U/2004 tentang Ujian Akhir
Nasional Ulangan Tahun Pelajaran 2003/2004, yang intinya menyatakan bahwa peserta ujian nasional
yang tidak lulus dapat mengikuti ujian nasional ulang secara langsung, selang beberapa hari setelah
pengumuman kelulusan.
Kekhawatiran akan ketidaklulusan peserta didik, membuat pihak sekolah melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip penilaian khususnya dan
prinsip-prinsip pendidikan pada umumnya. Di antaranya dalam bentuk membantu siswa
dalam menjawab soal dengan cara memberi kunci jawaban. Ini dilakukan atas perintah kepala
sekolah yang merupakan hasil koordinasi dan konsultasi dengan kepala sekolah lain dan
secara operasional setiap sekolah memiliki tim sukses. Hal ini jelas tidak sesuai dengan
prinsip objektivitas dalam penilaian dan tidak mendidik, sehingga siswa beranggapan tidak
perlu belajar dengan sungguh-sungguh karena pada waktu menjawab soal ujian diberitahu
oleh guru.
Cara lain untuk membantu siswa agar lulus yang agak halus adalah dengan cara
memeriksa jawaban siswa oleh panitia dan tim sukses, kemudian dibetulkan sesuai dengan
batas kelulusan sebelum amplop lembar jawaban komputer (LJK) direkat. Melihat keadaan
tersebut, pengawasan silang antarsekolah dalam rangka melaksanakan ujian yang objektif dan
mendidik menjadi tidak berguna.
Walaupun kenyataannya tidak semua sekolah melakukan hal seperti itu, karena ada
beberapa guru yang menolak melakukan perbuatan yang tidak mendidik tersebut. Hal ini
menimbulkan ketimpangan angka ketidaklulusan antara sekolah yang membantu siswa dalam
menjawab soal dengan sekolah yang berpegang teguh kepada aturan dan prinsip-prinsip
penilaian.
Permasalahan di atas dilakukan terhadap mata pelajaran yang diperiksa dengan sistem
komputerisasi oleh tim provinsi, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
Sedangkan untuk mata pelajaran lain yang pemeriksaannya dilakukan secara silang oleh
sekolah dalam satu subrayon, masalah skor/nilai diatur berdasarkan kesepakatan antarsekolah
dengan ketentuan yang penting siswa bisa lulus.
Sebagai bahan perbandingan, kita lihat kriteria kelulusan Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran
2002/2003 menurut lampiran Keputusan Mendiknas No. 017/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional
Tahun Pelajaran 2002/2003, yaitu sebagai berikut:
a. Memiliki nilai seluruh mata pelajaran yang diujikan secara nasional;
b. Tidak terdapat nilai < 3.00;
c. Nilai rata-rata seluruh mata pelajaran paling rendah 6.00;
d. Semua peserta Ujian Nasional menerima Surat Tanda Lulus dan STTB;
e. Bagi peserta Ujian Nasional yang tidak lulus, tidak dapat melanjutkan pendidikan
ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Dari kriteria kelulusan di atas, tampak bahwa Unas 2002/2003 lebih longgar dibandingkan
dengan kriteria kelulusan Unas 2003/2004, hanya pada Unas 2002/2003 ada syarat nilai rata-rata
paling rendah 6.00, sementara pada Unas 2003/2004 syarat tersebut tidak ada.
Dibandingkan dengan sistem Unas, kriteria kelulusan sistem Ebta/Ebtanas lebih fleksibel.
Dalam sistem Ebta/Ebtanas kelulusan siswa selain ditentukan oleh nilai Ebta/Ebtanas, nilai Raport
kelas terakhir, juga hal-hal lain yang dipertimbangkan oleh sekolah. Hal ini sebagaimana tercantum
dalam ketentuan pasa 10 ayat (1) Keputusan Bersama Dirjen Dikdasmen Depdiknas dan Dirjen
Bimbaga Islam Depag No. 36/C/Kep/PP/2000 dan No. E/25A/2000 tentang Penyelenggaraan Ebtanas
Tahun Pelajaran 1999/2000, bahwa: “Penentuan siswa yang tamat belajar dilaksanakan oleh sekolah
penyelenggara dalam suatu rapat bersama dewan guru dengan mempertimbangkan nilai Ebta dan
Ebtanas”.
Dengan kriteria tersebut pihak sekolah tidak terlalu direpotkan dengan kriteria nilai kelulusan
siswa, karena nilai kelulusan siswa tidak hanya ditentukan oleh nilai Ebta/Ebtanas saja, walaupun nilai
STTB minimal rata-rata 6.00, karena untuk mencapai nilai rata-rata 6.00 selain nilai Ebta/Ebtanas juga
nilai raport kelas terakhir. Berbeda dengan sistem Unas di mana nilai raport tidak mempengaruhi sama
sekali, artinya walaupun siswa itu nilai raportnya bagus, tetapi nilai Unas kurang dari 4.01, maka siswa
tersebut tidak lulus.
Berdasarkan uraian di atas, karena namanya ujian nasional sebagai alat pengendali mutu
pendidikan secara nasional, maka semua soalnya harus disiapkan secara nasional termasuk mata
pelajaran IPS, kecuali mata pelajaan muatan lokal.
Sementara dalam penentuan kelulusan bukan hanya dari nilai UAN, tetapi juga harus
dipertimbangkan berbagai aspek dari pembelajaran sehari-hari baik proses maupun hasil. Hal
tersebut karena selama ini dengan sistem UAN, kelulusan hanya ditentukan oleh nilai UAN
tanpa memperhatikan aspek lain. Jadi penentuan kelulusan dalam sistem KBK, selain nilai
hasil UAN juga harus memperhatikan nilai hasil dari penilaian berbasis kelas (PBK).
Rancangan evaluasi KBK yang terbaik.
Menurut Mulyasa (2002:103-105) evaluasi hasil belajar dalam implementasi
kurikulum berbasis kompetensi dilakukan dengan penilaian kelas, tes kemampuan dasar,
penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program.
Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Tes
kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan
berhitung yang diperlukan dalam rangka memperbaiki program pembelajaran (program
remedial).
Penilaian akhir satuan pendidikan dan sertifikasi dilakukan pada setiap akhir semester
dan akhir tahun pelajaran untuk mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh
mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu. Benchmarking
merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses, dan hasil
untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Penilaian program dilakukan oleh
Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan
berkesinambungan. Penilaian program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian kurikulum
dengan dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan
perkembangan masyarakat, dan kemajuan jaman.
Dari uraian di atas saya berpendapat, bahwa penilaian berbasis kelas (PBK) dengan
penekanan pada penilaian proses dan hasil belajar merupakan bentuk penilaian terbaik dalam
KBK. Sementara untuk ujian akhir yang sifatnya nasional (seperti UAN dan Penilaian
Program) perangkat penilaiannya termasuk soal disiapkan secara nasional. Hal ini karena
salah satu fungsi ujian nasional adalah sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara
nasional. Dengan demikian melalui ujian nasional kita dapat mengetahui mutu pendidikan
secara nasional.
Adapun langkah-langkah penilaian berbasis kompetensi menurut Suderadjat
(2004:124) adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan
mempengauhi hasil akhir (output) yang terbaik.
b. Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik (operasional) yang penting
dilakukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir yang terbaik.
c. Usahakan untuk membuat kriteria kemampuan yang diukur tidak terlalu banyak
sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melaksanakan tugas.
d. Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan
kemampuan siswa yang harus dapat diamati (oservable) atau karakteristik produk yang
dihasilkan.
e. Urutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat
diamati.
f. Periksa kembali apa yang telah dibuat dan kalau mungkin bandingkan dengan kriteria
kemampuan yang sudah ada, yang dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.
Dengan memperhatikan langkah-langkah tersebut diharapkan penilaian dalam KBK
dapat dilaksanakan secara menyeluruh, berkelanjutan, berorientasi pada indikator
ketercapaian hasil belajar, dan sesuai dengan pengalaman belajar. Sehingga penilaian benar-
benar dapat dijadikan ukuran bagi keberhasilan KBK khususnya dan pendidikan pada
umumnya baik pada tingkat sekolah, lokal maupun nasional.

Bagaimana pendapat anda untuk peningkatan inovasi dalam pembelajaran IPS,


kemukakan masalah dan tantangannya.
Jawab :
Pengembangan kurikulum IPS, harus mampu mengakomodasi semua tujuan dari
pendidikan IPS tersebut. Namun demikin perubahan kurikulum harus melihat realita
kehidupan di masyarakat, sehingga pembelajaran IPS dapat disampaikan kepada siswa bukan
hanya sebagai pengetahuan saja, akan tetapi dapat diterapkan langsung di masyarakat.
Perubahan kurikulum yang dimaksud adalah merubah jenis pembelajarannya,
gurunya, media dan sumber pelajarannya serta perilaku siswa yang tadinya sebagai penerima
informasi, kini harus menjadi pelaku informasi.
Mempersiapkan warga negara yang mampu menentukan pilihan yang cerdas diantara
berbagai macam alternatif yang terdapat dalam suatu masyarakat, merupakan tugas utama
dari Pendidikan IPS. Salah satu konsekuensinya dari suatu masyarakat yang demokratis
adalah semakin luas dan kompleksnya pilihan-pilihan bagi setiap orang baik dalam
kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan masyarakat. Dengan semakin pesatnya
kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi yang mengikuti perkembangan zaman, maka
semakin berat pula tanggung jawab pendidik. Hal ini bearti bahwa pendidikan IPS menjadi
lebih penting sehingga harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah.
Sejak tahun pertama masuk sekolah para pelajar hendaknya diajak ikut serta untuk
dapat memecahkan berbagai persoalan, khusnya yang timbul dalam masyarakat, agar mereka
menjadi warga negara yang analitis, kritis serta menghargai nilai-nilai demokratis. Pelajar
semacam itu hendaknya dimulai dari sekolah dasar, kemudian ke sekolah lanjutan serta
perguruan tinggi yang dimulai dari konsep sederhana, gagasan pengetahuan yang semakin
sukar dan mendalam/dari yang konkrit menuju yang abstrak. Guna melaksanakan hal-hal
tersebut maka diperlukan adanya alam lingkungan yang demokratis agar tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan itu sendiri harus meliputi
serta mempraktekkan dasar-dasar demokrasi. Menurut Jacques Barzun bahwa “adalah tidak
mungkin mengajarkan demokrasi, atau kewargaan negara/kehidupan perkawinan yang
bahagia hanya melalui bahan-bahan yang harus dihafalkan saja, walaupun hal ini penting,
melainkan melalui perwujudan dari diri dan tingkah laku seseorang. Bukan dari pelajaran,
melainkan dari pelajaran, melainkan dari jiwa manusia. Berdasarkan pemikiran tersebut maka
peranan pendidikan IPS menjadi fokus pembahasan, guna dapat mengembangkan; warga
negara yang bertanggung jawab, warga negara yang analitis serta warga negara yang
berpartisipasi.
Akan tetapi walaupun demikian manusia dapat merasakan pengaruhnya implikasi
tersebut. Pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi dirasakan baik langsung maupun tidak,
karena cara hidup masyarakat, cara kerja, barang-barang kebutuhan yang dibeli, keadaan
sekeliling dan bahkan nilai hidup yang dianut cepat berubah dan jelas terlihat dipengaruhi
oleh kemajuan-kemajuan tersebut. Pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
bukan saja dirasakan oleh individu, akan tetapi dirasakan pula oleh masyarakat, bangsa dan
negara. Bagi negara-negara yang telah maju mengenai teknologinya pengaruh tersebut telah
lama terasa karena dalam negara-negara berkembang pengaruh tersebut baru dirasakan
sehubungan dengan pengaruh-pengaruh di atas, maka pendidikan serta sekolah tidak luput
dari pengaruh-pengaruh itu. Sekolah bertanggung jawab dalam membekali para siswa dalam
menghadapi perubahan zaman. Hal itu berarti akan terjadi perubahan-perubahan pada
kurikulum, buku pelajaran, tujuan yang harus dicapai, metode mengajar, evaluasi pelajaran
dan lain-lain. Demikian pula pengaruh-pengaruh itu terjadi dalam Pendidikan IPS. Tingkah
laku pelajar dipengaruhi dan diwujudkan oleh pengertiannya kepada ilmu pengetahuan dan
teknologi yang relevan. Dengan demikian pengetahuan yang terdapat dalam pendidikan IPS
akan dikembangkan pada konsep-konsep serta generalisasi penting mengenai permasalahan
yang timbul dalam masyarakat. Para pelajar hendaknya dibantu untuk mempergunakan fakta
tertentu yang mereka pelajari agar dapat mengembangkan konsep-konsep dan generalisasi-
generalisasi yang penting. Pada waktu melakukan hal-hal tersebut para pelajar harus
diperkenalkan dengan tingkatan yang sesuai dengan kedewasaannya, kepada metode
penyelidikan yang dipergunakan oleh para ahli ilmu dalam usaha mencari kebenaran.
Sebagaimana kita ketahui bahwa selama ini pembelajaran IPS di lapangan masih
menemui kendala. Bebarapa kelemahan pembelajaran IPS di lapangan seperti diungkapkan
oleh Suwarma (2001) diantaranya ialah :
a) Proses pembelajaran kurang ditunjang dengan pengembangan
dan penggunaan media dan alat pembelajaran.
b) proses pembelajaran lebih menekankan kepada pengembangan
aspek kognitif daripada efektif dan psikomotor.
c) proses pembelajaran kurang menyentuh aspek nilai sosial dan
keterampilan sosial.
d) Proses pembelajaran lebih menekankan kepada pencurahan isi
buku dari pada proses penalaran isi buku.
e) proses pembelajaran lebih menempatkan siswa sebagai
penerima informasi dalam soal belajar satu arah dari pada melibatkan siswa dalam proses
berfikir.
f) proses pembelajaran lebih menempatkan guru sebagai sumber
informasi yang dominan disamping terbatasnya penggunaan sumber daya belajar lainnya.
g) proses pembelajaran belum banyak mengakses pada
penguatan sistem nilai keimanan dan ketakwaan.
h) proses pembelajaran belum secara tegas mengakses kepada
penguasaan IPTEK.
Kelemahan-kelemahan tersebut kiranya dapat dicarikan alternatif pemecahannya,
diantaranya dengan merubah paradigma belajar yang selama ini masih konvensional menjadi
budaya belajar yang aktif, kreatif dan efektif. Antara lain dari kebiasaan belaiar hanya dalam
bentuk menghapal menjadi budaya belaiar berfikir, dari belajar menyimak pengetahuan
ilmu-ilmu sosial kearah berpikir untuk mempertinggi apresiasi nilai sosial budaya.
Budaya belajar yang berorientasi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis
dan mandiri dari kebiasaan belajar menerima informasi menjadi belajar mencari, mengolah
dan menggunakan informasi. Dari kebiasaan belaiar pasif menerima informasi dari guru
berkembang menjadi cara belaiar aktif Dari cara belajar santai ke arah belajar kompetitif
dengan persaingan yang sehat. Dari cara belajar mengumpulkan pengetahuan ilmu-ilmu
sosial ke arah memecahkan masalah sosial.
Kemudian gurunyapun harus dapat merubah cara mengajarnya dengan melakukan
transformasi budaya mengajar kebiasaan memberikan materi dari buku dalam kemasan
informasi, ke arah sebagai penyaji masalah yang menjadikan buku pelajaran sebagai bahan
untuk didiskusikan oleh peserta didik. Dari mengajar dengan monoton satu arah ke arah
mengajar serba arah. Dari komunikasi verbal ke arah yang empri rasional.
Apabila hal ini dapat dilaksanakan maka kelemahan-kelembahan pembelajaran IPS
yang semala ini terjadi dapat kita atasi, tergantung apakah kita mau melaksanakannya atau
tidak.
Menurut Suwarma (2001) menyatakan beberapa prinsip dalam inovasi pendidikan
diantaranya ialah :
a) Inovasi pembelajaran harus bertumpu pada upaya pembelajaran peserta
didik secara penuh baik intelektual maupun emosional dengan memperhatikan
perkembangan dan psikologi social.
b) Inovasi pembelajaran harus mengakses pada strategi pengembangan
berpikir tingkat tinggi untuk dapat menguasai IPTEK seiring dengan pembinaan nilai
untuk memperkuat system nilai agar dapat mengambil kompetitif dalam gerak perubahan
social dan persaingan global.
c) Inovasi pembelajaran dapat memungkinkan peserta didik memiliki
kemampuan untuk mengakses berbagai sumber informasi.
d) Inovasi pembelajaran perlu dijadikan unggulan dalam melakukan upaya
peningkatan mutu pendidikan dengan dukungan kebijakan nasional untuk menjadi
gerakan budaya pendidikan.
e) Inovasi pembelajaran perlu dilakukan dengan berorientasi pada
penyempurnaan dan peningkatan kualitas pembelajaran dari pengalaman yang ada
dengan dukungan penelitian dan evaluasi implementasi kutikulum.
f) Inovasi pembelajaran perlu melibatkan secara optimal guru sebagai
inisiator dan innovator pembelajaran dengan memberikan peluang untuk
mengembangkan kreatifitasnya.
g) Inovasi pembelajaran perlu dilakukan secara terbuka dengan melibatkan
partisipasi dari berbagai pihak dengan melibatkan partisipasi dari berbagai pihak dengan
dilakukan secara berkesinambungan.
h) Inovasi pembelajaran memperhatikan aspek social budaya dan
lingkungan peserta didik, factor psikologis diarahkan pada pengembangan kemampuan
berfikir secara kreatif.
i) Inovasi pembelajaran hendaknya mengembangkan secara optimal
potensi berpikir peserta didik untuk menguasai IPTEK yang terintegrasi dengan IMTAQ.
Dari pendapat tersebut jelas bahwa dalam inovasi pembelajaran harus
memperhatikan berbagai aspek diantaranya memperhatikan aspek intelektual maupun
emosional peserta didik, memberdayakan lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai media informasi, serta evaluasi yang berkesinambungan. Inovasi pembelajaran IPS
yang demikian dapat meningkatkan mutu pendidikan IPS.
Inovasi dan kreativitas berpikir adalah nikmat yang dianugrahkan Allah dalam bentuk
akal, langkah berani dan menggelora, yang mendobrak permanensi taglid, monotonitas kerja
dan kejenuhan rutinitas, yang kadang benar dan salah. Ia memiliki sifat seperti seorang bayi
yang masih merah ; membutuhkan seseorang yang akan mengayomi dan merawatnya,
menjaganya dari terpaan angin kejumudan (kebekuan) yang akan meredupkan sinarnya dan
mengacam perasaannya, serta melindungi harapan yang menyapanya dari jauh, yang
seringkali mati oleh ketakutan yang bersemayam dalam batin kita, dan mendekam dalam
dada kita. Akibatnya, seringkali kita berlepas diri dari gagasan inovatif dan kreatif ini hanya
karena orang lain tidak mempercayainya.
Pengetahuan tentang tokoh-tokoh pembaharu yang dapat memperkaya kehidupan
budaya, sosial, keagamaan, pemikiran, keilmuan,dan kesenian kita telah menggugah
kerinduan dan emosi kami untuk membahas tema ini dan menapak tilas jejak-jejak para tokoh
mereka. Agar mata air peradaban kita yang dulu meluap-meluap jangan sampai kini menjadi
kering !
Anda dan saya boleh saja bertanya-tanya di manakah figur-figur seperti Al Aqqad,
Thaha Husein, Al Mazini, Shadiq Ar-Rafi’I, Hasan Al Banna, Mushthafa Musyrifah, Samirah
Musa, Taufik Al Hakim, Muhammad Al Ghazali, Asy Sya’rawi dan pelita-pelita lain yang
masih memancarkan sinarnya seperti Al Qardhawi, Ahmad Zuwail, Najib Mahfudz, dan
Majdi Ya’qub serta simbol-simbol keahlian lainnya dalam berbagai aspek kemanusiaan ?
Apakah mereka dan yang lainnya merupakan segelintir orang dari sekelompok
komunitas yang sudah cukup untuk menutup fardhu kifayah di tengah masyarakat kita yang
luas dimensinya, ataukah kita masih membutuhkan figur-figur lain untuk menutup
kekurangan-kekurangan di berbagai bidang kehidupan ?
Sebelum menjadi kreatif, maka perlu belajar berinovasi terlebih dahulu melalui 4
(empat) ‘channel’ yaitu : Penemu, Perakit, Pengembang atau Peniru. Apapun ‘channel’ yang
anda pilih ketika kita bicara kreativitas dan inovasi, maka sangat terkait dengan kerja otak
kanan. Bahasa otak kanan adalah imajinasi, futuris, acak, dan ketidakmungkinan. Sedangkan
otak kiri adalah akademis, pragmatis, sistematis, dan kemungkinan-kemungkinan. Terus
terang, pendidikan yang kita alami sejak kecil hingga dewasa lebih banyak menitikberatkan
pada porsi otak kiri ketimbang otak kanan. Bahkan kecerdasan seseorang diukur dengan
seberapa tinggi kemampuan akademisnya. Inilah yang sering saya sebut sebagai ‘ inbox
thinking’ dan akhirnya akan melahirkan ‘manusia-manusia kardus’. Kreativitas dan inovasi
akan tumbuh subur apabila anda memulai dengan ‘outbox thinking’. Dalam menuju proses
inovasi, Abdul Jawwad mengatakan ada 4 (empat) aspek fudanmental yang harus dipenuhi
yaitu :
POSE (produktivitas, Orisinalitas, Sensitivitas dan Elastisitas). Produktif artinya
kemampuan untuk menghasilkan jawaban-jawaban sebanyak mungkin untuk sebuah
peetanyaan. Sedangkan orisinalitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan-gagasan
yang unik dan baru. Adapun sensitivitas adalah kepekaan dalam melihat fenomena yang ada
disekeliling dirinya. Dan akhirnya elastisitas adalah kemampuan menghasilkan pemikiran-
pemikiran variatif sebanyak mungkin. Kreativitas dan inovasi dapat menjadi faktor
penyelamat (safety factor) dalam suatu lembaga atau perusahaan dari ‘declining process’
proses penurunan kualitas bahkan sampai pada sebuah stagnasi. Kita semua percaya bahwa
tidak pernah ada keberhasilan abadi sebagaimana sebagaimana tidak pernah ada kegagalan
abadi. Oleh karena itu, kehadiran sebuah kreativitas dan inovasi merupakan pintu gerbang
menuju change management. Hanya sumber daya manusia yang cerdaslah mampu bersaing
di tengah persaingan global yang semakin tajam.
Sifat-sifat apakah yang harus dimiliki para inovator dan kreator ? Abdul Jawwad
menyatakan ada 50 (lima puluh) karakteristik, yang intisarinya dapat disingkat dengan :
CODES
Championship - Tekun dan tidak mudah menyerah serta berputus asa.
Out of Status Quo - Anti kemampanan.
Dynamic - Berusaha menjauhkan diri dari rutinitas kerja.
Extraordinary - Siap menghadapi kekacauan, ketidakmenentuan dan tidak segan
berbeda dengan main stream pemekiran yang ada.
Strong motivation - Kepercayaan diri yang besar.
Kita tidak hanya berbicara seputar hal-hal yang dapat meningkatkan kreativitas dan
inovasi tapi juga hal-hal yang dapat membunuhnya. Di istilahkan dalam hal ini sebagai The 3
Big Killers.
1. Motivasi terlalu rendah (Very Low Motivation).
2. Lingkungan yang buruk (Bad Environment)
3. Bahasa yang meracuni (Poisoned Language)
Pernahkah mendengar kalimat-kalimat seperti ini, “kita tidak akan mampu melaksanakan gagasan-
gagasan seperti ini, sesungguhnya hal itu di luar tanggung jawab kita, mengapa harus melakukan
perubahan ?, gagasan ini terlalu dini untuk saat sekarang, pimpinan tertinggi pasti tidak setuju, berarti
kita dituntut bekerja ekstra.” Boleh jadi kalimat-kalimat di atas terkesan sepele, tapi perlu anda ketahui
bahwa untuk berpikir dan bertindakkreatif harus dimulai dengan bahasa positif. Tidak mudah untuk
berbicara dengan bahasa positif karena seringkali anda dihadapkan pada mental block yang kuat. Dan,
apakah anda tahu mental block no. 1 ? Ya, itulah yang dinamakan fear to failure (takut gagal). Dalam
konteks kelembagaan satu departemen yang harus dihidupkan kembali peran dan fungsinya sebagai
pembangkit kreativitas dan inovasi yaitu Departemen Litbang, bukan plesetan sulit berkembang, tapi
penelitian dan pengembangan. Begitu signifikan departemen ini sehingga tidaklah heran kalau GE
(General Electric), Top Ten Company in The World tercatat dalam Fortune Magazine menghabiskan
hampir 30 – 40 % budget perusahaannya hanya untuk riset dan pengembangan produk serta SDM.
Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan budaya. Perubahan secara
terus menerus ini menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk
penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan
menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Untuk itu upaya peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh
yang mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-aspek
moral, akhlaq, budi pekerti, pengetahuan, keterampilan, seni, olah raga, dan perilaku.
Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada peningkatan dan pengembangan
kecakapan hidup (life skill) yang diwujudkan melalui pencapaian kompetensi peserta didik
untuk bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. dengan demikian
peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri yang dikembangkan melalui
pembelajaran dan atau pelatihan yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan.
Pendidikan IPS adalah suatu program pendidikan yang memilih bahan pendidikan
dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniti, yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan
psikologis untuk tujuan pendidikan (Wesley, 1989). Berdasarkan pengertian ini ditunjukkan
bahwa salah satu ciri utama pendidikan IPS adalah kerjasama disiplin ilmu pendidikan
dengan disiplin ilmu-ilmu sosial.
Menurut Djahiri (1993) mengkonsepsikan program Pendidikan IPS yang: (a) secara
kognitif melatih dan membekali anak didik dengan conceptual-knowledge yang layak,
kemampuan berpikir dan memecahkan masalah yang cukup; (b) secara metacognitive-
awareness and skills membekali kemampuan penalaran dan belajar yang luas; (c) secara
moral-afektual membina perbekalan tatanan nilai, keyakinan dan keadilannya maupun
pengalaman dan kemampuan afektual siswa; dan (d) secara sosial membina ketegaran akan
harga diri dan self-concept serta kemampuan melakukan interpersonal relationship.
Pendidikan IPS erat kaitannya dengan ilmu sosial, yaitu ilmu pengetahuan yang membahas
hubungan manusia dengan masyarakat dan tingkah laku manusia dalam masyarakat.
Sementara itu Wahab, (1986) menyatakan, guru IPS dalam merencanakan pelajaran
dapat menciptakan suasana yang demokratis-kreatif, di mana siswa terlibat secara aktif
sebagai subjek maupun objek pelajaran. Pengertian belajar demokratis ini dapat diartikan
sebagai suatu upaya merubah diri siswa dalam meningkatkan kemampuan siswa sesuai
dengan potensi dan minatnya. Apapun strategi belajar-mengajar yang dipergunakan dalam
proses belajar mengajar haruslah diusahakan agar kadar keterlibatan mental siswa setinggi
mungkin.
Lebih jauh Djahiri (1993) mengemukakan bahwa kualitas suatu pengajaran diukur
dan ditentukan oleh sejauh mana kegiatan belajar-mengajar tertentu dapat merupakan alat
perubah tingkah laku individu ke arah yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan itu maka guru dalam mengelola kegiatan belajar-mengajar di kelas
hendaknya mampu mengembangkan pola interaksi antara berbagai pihak yang terlibat di
dalamnya. Guru harus pandai memotivasi siswa untuk terbuka, kreatif, responsif, interaktif,
dan evaluatif.
Demikian pula menurut Suwarma (2004) Pendidikan IPS sebagai salah satu
program pendidikan, dihadapkan kepada tantangan untuk mempersiapkan manusia Indonesia
yang mampu berkiprah dalam kehidupan masyarakat modern. Namun dewasa ini masih
dihadapkan kepada masalah peningkatan kualitas yang amat serius, bahkan diduga dapat
mengancam eksistensinya sebagai program pendidikan yang dapat membantu peserta didik
dalam mengembangkan kemampuan berfikir dan apresiasi dan internalisasi nilai.
Untuk melaksanakan sebagaimana yang diungkapkan di atas maka perlu adanya
pengembangan kurikulum IPS, yang mampu mengakomodasi semua tujuan dari pendidikan
IPS tersebut. Namun demikian perubahan kurikulum harus melihat realita kehidupan di
masyarakat, sehingga pembelajaran IPS dapat disampaikan kepada siswa bukan hanya
sebagai pengetahuan saja, akan tetapi dapat diterapkan langsung di masyarakat.
POTENSI KEBERMAKNAAN PENGGUNAAN KONSEP SISWA
Temuan tentang berbagai variasi pola pada konstruk konsep siswa di atas memiliki
beberapa manfaat dalam pembelajaran Pendidikan IPS. Manfaat tersebut antara lain:
1. mengidentifikasi kepemilikan pengetahuan awal berkaitan dengan pokok bahasan
yang hendak dibelajarkan.
Penggunaan konsep siswa guru sejak awal-awal pembelajaran dapat mengidentifikasi
kepemilikan pengetahuan awal berkaitan dengan pokok bahasan yang hendak
dibelajarkan. Identifikasi kepemilikan pengetahuan awal siswa ini sangat diperlukan bagi
upaya guru dan siswa menemukan kaitan-kaitan konseptual dan fungsinal antara
informasi/konsep baru yang diterima selama pembelajaran Pendidikan IPS dengan
informasi/konsep yang telah terdapat di dalam struktur kognitif mereka. Sehingga bagi
siswa, pembelajaran Pendidikan IPS tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
verbalistik, serta proses maupun hasil pengalaman belajar yang diikutinya tidak
dirasakan sebagai sesuatu yang berada jauh di luar jangkauan kemampuan pemikirannya.
Pembelajaran IPS pun akan lebih bermakna, karena pengalaman belajar baru yang baru
dijalaninya memiliki kaitan konseptual dan fungsional dengan pengalaman belajar lama
yang telah terpetakan di dalam konstruk konsep siswanya.

2. Mengidentifikasi miskonsepsi-miskonsepsi yang terdapat di dalam konstruk konsep


siswa.
Adanya miskonsepsi-miskonsepsi dalam konseptualitas siswa ini, bukan suatu realitas
yang harus dihindari di dalam mengembangkan suatu pembelajaran. Miskonsepsi-
miskonsepsi yang terdapat di dalam konseptualitas siswa, justru harus benar-benar
transparan dipetakan semenjak awal pembelajaran. Tidak terungkap dan transparannya
miskonsepsi-miskonsepsi ini, mengakibatkan eksitensinya menjadi retensi, dan menjadi
penyebab utama timbulnya kesulitan-kesulitan belajar siswa.

Lebih membahayakan lagi, manakala miskonsepsi-miskonsepsi ini semakin berakar


dan berkembang lebih jauh tanpa sempat mengalami proses ‘rekonstruksi-diri' di dalam
lumbung pengetahuan siswa, dan senantiasa dibawa pada jenjang pendidikan
selanjutnya. Karena setiap pembelajaran yang diikutinya tidak pernah memberikan
pengalaman belajar yang bermakna bagi terjadinya proses rekonstruksi-diri terhadapnya,
atau karena guru belum atau tidak pernah menyentuh keberadaan konsep siswa tadi.
Dalam kaitan ini, tidak selalu benar anggapan bahwa konsep siswa senantiasa bersifat
naif, penuh dengan miskonsepsi-miskonsepsi, sehingga senantiasa harus ‘dicurigai’.
Seperti ditunjukkan dari hasil pemetaan terhadap pola-pola konstruk konsep siswa di
atas, ternyata konsep siswa tidaklah begitu naif dan selalu mengandung miskonsepsi.
Sungguhpun di dalam konseptualisasinya masih sangat parsial, dan bergantung pada
konteks pengalaman pribadi siswa, akan tetapi seperti jelas terlihat dari tanya-jawab
dialogis yang sengaja dirancang selama pengembangan tindakan, konsep-konsep siswa
mengenai berbagai fokus pembelajaran menampilkan adanya pernik-pernik yang begitu
kaya, dan mampu mengungkap berbagai realitas--bahkan persoalan-persoalan kritis—
yang terdapat di dalam kehidupan keseharian siswa dan masyarakat sekitarnya, yang
mungkin tidak akan sempat tampil ke permukaan bila dilakukan dalam kelaziman iklim
pembelajaran yang selama ini terjadi.
3. Membantu guru mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa
mempelajari sesuatu konsep pokok, dan menemukan alternatif pemecahannya secara
lebih bermakna.
Kesulitan yang dihadapi siswa berkenaan dengan konsep lokasi/wilayah
desa/kelurahan, lokasi/wilayah kecamatan, dan lokasi/wilayah kabupaten. Penggunaan
‘peta konvensional’ belum sepenuhnya mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa,
sehingga harus menambahkan atribut-atribut fisikal yang dikenal siswa ke dalam peta,
cukup mencerminkan betapa penting arti konsep siswa dan pengalaman kesehariannya
bagi pencapaian suatu proses pembelajaran bermakna. Penggunaan pengertian-
pengertian yang cenderung bersifat administratif-konvensional tidak selamanya mampu
mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa.
4. Merancang prosedur pengembangan program pembelajaran terpadu (integrated
learning) Pendidikan IPS yang lebih bersifat otentik dan alamiah.
Otentisitas dan kealamiahan penggunaan konsep siswa bagi pengembangan
pembelajaran terpadu, oleh karena guru seakan ‘dibebaskan’ dari pola pemikiran
prosedural yang cenderung menyulitkan dalam pengorganisasian dan operasionalisasinya.
Nilai-nilai keterpaduan pembelajaran secara ekspresif dan kreatif akan muncul dan
berkembang selama pembelajaran berlangsung (selama proses tanya jawab dialogis
dengan siswa). Hal ini sangat mungkin tercipta sebagai hasil pengungkapan konsep-
konsep siswa yang mampu menampilkan adanya pernik-pernik yang begitu kaya
mengungkap berbagai realitas sosial yang terdapat di dalam kehidupan keseharian siswa
dan masyarakatnya.

Realitas tersebut dapat disimak dari konsep siswa tentang desa/kelurahan yang tidak
hanya dipandang dari aspek geografis (dalam dan luar kota), tetapi juga memunculkan
aspek ekonomi (keadaan dan kekayaan alam, matapencaharian penduduk
desa/kelurahan), dan aspek sosiologis (status dan peran interaktif penduduk
desa/kelurahan). Juga dapat disimak dari konsep siswa tentang matapencaharian yang
memunculkan aspek ekonomis (penghasilan, pemenuhan kebutuhan hidup keseharian),
dan aspek geografis (hubungan interaktif antara jenis pekerjaan dengan keadaan alam).

5. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif.


Potensi ini sangat dimungkinkan, karena menggunakan konsep siswa berarti
mengajak dan membimbing siswa untuk melihat hubungan relasional antara manusia
(termasuk siswa) dengan realitas kehidupan lingkungan hidupnya. Penggunaan konsep
siswa juga dapat mengajak dan membimbing siswa melihat secara jelas dimensi ideal
yang terdapat di dalam pengalaman belajar formal di sekolah dengan dimensi faktual
yang terdapat di dalam pengalaman non formal di keluarga dan masyarakat.

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif di sini, tidak harus
dimaknakan sebagai kemampuan berpikir sebagaimana layaknya seorang ilmuwan sosial
melihat realitas dan persoalan dalam keketatan paradigma metode ilmiah. Tetapi, pada
pengembangan kemampuan keterampilan dasar siswa melihat secara inderawi (merasa,
merumuskan kesimpulan dengan bantuan peta atau gambar, memahami, mengumpulkan
fakta, menafsirkan, dll) hubungan relasional antara manusia (dirinya) dengan lingkungan
sekitarnya, melihat adanya variansi antara yang ideal dengan realistis berdasarkan kiteria-
kriteria yang ada.

6. Mengembangkan kesadaran dan apresiasi diri terhadap realitas, peristiwa dan


problema sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, konsep siswa tentang sesuatu hal, tidak lain
sebagai hasil pengalaman dan interpretasi diri mereka selama berinteraksi dengan
lingkungan fisik dan sosial dalam kehidupan kesehariannya. Karena itu, konsep-konsep
siswa merefleksikan di dalamnya pernik-pernik realitas, kesadaran dan atau emosi sosial
yang terdapat di dalam kehidupan keseharian dan masyarakat sekitar siswa. Bahkan juga
ekspektasi siswa terhadap kehidupan masyarakat dimana dia tinggal.
Pengungkapan konsep siswa dengan memaknakan letak/lokasi desa/kelurahan dalam
referensi pemikiran sosial-budaya menyadarkan kita terhadap adanya kesadaran sosial-
budaya pada diri siswa, mengungkapkan adanya problema di dalam kehidupan
masyarakat kita ("…tidak bu, saya tidak berasal dari kampung…kampung berada di
desa, jauh di luar kota…") yang perlu guru cermati di dalam setiap pembelajaran yang
diselenggarakan. Konsep siswa tentang letak/lokasi desa, juga mengungkapkan kepada
kita adanya sikap kerinduan siswa terhadap keelokan panorama alam pedesaan ("…
pemandangannya bu, saya sering kalau hari minggu atau liburan sekolah pergi piknik ke
desa. Pergi melihat sawah-sawah yang luas. Saya juga pernah diajak ayah piknik ke
pantai Lombang…"); kejenuhan terhadap kehidupan perkotaan ("…kalau di desa
keadaan alamnya masih banyak sawahnya dan ladangnya, sedangkan di kelurahan
sudah penuh dengan rumah-rumah dan toko-toko…"). Sementara itu, konsep siswa
tentang matapencaharian penduduk mengungkapkan ekspektasi diri siswa terhadap nilai
sosial dari sebuah matapencaharian ("…di kelurahan tidak ada yang menjadi petani dan
nelayan. Tetangga saya banyak yang menjadi guru…").

7. Mengembangkan kemampuan social perspective taking.


Penggunaan konsep siswa berarti menghadapkan guru pada berbagai ekspresi
pengungkapan konsep siswa yang cenderung bersifat egosentris, dan akan sulit
menerima pendapat siswa lain. Penciptaan situasi pembelajaran yang menghadapkan
siswa ke dalam situasi konflik kognitif pada konsepnya, yang dikemas melalui tanya
jawab melacak dan menuntun, sangat efektif untuk menerjadikan dan melibatkan siswa
lain dalam dialog kognitif yang akan merangsang dan membuka perspektif siswa
terhadap pandangan-pandangan dari siswa yang lain, sehingga para siswa secara terbuka
dan ekspresif mengemukakan konsepnya secara otentik dan alamiah, serta melakukan
rekonstruksi diri terhadap bagian-bagian tertentu di dalam konstruk konsep siswa yang
masih kurang/lemah, atau terdapat miskonsepsi. Di samping melakukan pemantapan dan
elaborasi diri terhadap konstruk konsep siswa yang sudah benar.
Beberapa potensi kebermaknaan penggunaan konsep siswa sebagaimana dikemukakan
tadi, sangat menuntut iklim pembelajaran yang terbuka, dialogis, kreatif, sehingga mampu
menyediakan kesempatan luas bagi siswa mengungkapkan konseptualisasi dirinya berkenaan
dengan konsep pokok yang hendak dibelajarkan secara otentik dan alamiah. Hanya perlu
disadari, bahwa pembelajaran Pendidikan IPS berdasarkan penggunaan konsep tidak berarti
bahwa guru harus memetakan konstruk konsep seluruh siswa di dalam satu kelas. Juga bukan
berarti bahwa guru harus berhadapan dengan siswa dan konsepnya secara orang-per-orang.
Penggunaan konsep siswa lebih menekankan pada bagaimana kinerja guru untuk bersikap
sensitif dan peduli (caring) terhadap ideosyncracies pengungkapan konsep siswa, melalui
penciptaan iklim pembelajaran yang bebas, terbuka, luwes, dan akomodatif; dengan mencoba
mendekatkan, mengakrabkan, atau mengintimkan pengalaman belajar siswa di kelas dengan
pengalaman belajar keseharian siswa yang terakumulasikan di dalam konsep siswa. Sehingga
setiap siswa dapat membangun pengertian-pengertian sendiri berdasarkan makna-makna yang
dicerap dari pengalaman belajarnya.
Penggunaan konsep siswa memang sangat menuntut guru untuk mampu menampilkan
diri dalam peran-peran yang bisa mendekatkan, mengakrabkan dan mengintimkan siswa
antara pengalaman kesehariannya dengan fokus kajian pembelajaran Pendidikan IPS.
Otentisitas, kealamiahan dan kebermaknaan pembelajaran memang sangat bergantung pada
bagaimana guru mengaitkan antara apa yang "akan dibelajarkan" dengan apa yang "telah
siswa ketahui" berdasarkan pengalaman kesehariannya. Hal menarik dan penting untuk
dicermati dalam pengembangan pembejaran berdasarkan penggunaan konsep siswa, adalah
kebergantungan yang sangat besar pada "konstruk konsep siswa".
Oleh sebab itu, bila tolok ukur meningkatnya iklim pembelajaran adalah aktivitas,
partisipasi dan interaksi antara guru dan siswa, maka titik krusialnya terletak pada tahap
pengeksplorasian konsep siswa yang merupakan dasar pijakan bagi guru untuk
mengembangkan lebih lanjut format pembelajaran Pendidikan IPS yang hendak
diselenggarakan. Tahap pengeksplorasian konsep siswa juga sebagai tahapan yang dirasakan
guru agak berat dan sulit, sebab pada tahap eksplorasi ini, guru harus senantiasa
mengupayakan terungkapnya konstruk konsep siswa beserta pola-polanya, dan membangun
kaitan-kaitan konseptual dan fungsional antara spektrum konsep siswa dengan spektrum
konsep kurikulum. Untuk itu, pembelajaran Pendidikan IPS atau fokus kajian yang hendak
dibelajarkan terlebih dahulu harus dibawa ke alam pikiran dan kesadaran siswa, dan
menemukan kaitannya dengan apa yang telah mereka ketahui dari pengalaman
kesehariannya.
Dalam kaitan ini, ada empat peran kritis guru yang seyogianya dimiliki, yaitu sebagai:
1. Eksplorator. Guru sebagai pengungkap, pengidentifikasi variasi-variasi atribut kualitatif
yang terdapat di dalam konstruk konsep siswa. Termasuk juga mengidentifikasi dan
menemutunjukkan adanya miskonsepsi-miskonsepsi yang muncul di dalam
pengungkapan konsep siswa. Peran ini sangat strategis dan mendasar dalam membantu
siswa menemukan konsep-konsep yang saling bergayutan yang terdapat di dalam struktur
kognitifnya. Dalam perannya sebagai eksplorator konsep siswa ini pula, guru dapat
melakukan proses seleksi terhadap atribut-atribut konsep siswa yang dapat terus
dimantapkan dan dielaborasi, atau konsep-konsep siswa yang dipandang perlu dilakukan
proses restrukturisasi konsep siswa, sebelum dilakukan pemantapan dan elaborasi lebih
jauh;
2. Mediator. Guru berperan dalam upaya menghubungkan, menjembatani atau mengaitkan
antara konsep siswa dengan konsep pokok yang menjadi fokus kajian pembelajaran
Pendidikan IPS, atau sebaliknya. Peran sebagai mediator ini, sangat penting bagi
penciptaan kondisi dan kesiapan belajar siswa;
3. Fasilitator. Guru berperan dalam upaya menyediakan bahan-bahan material yang
dibutuhkan siswa dalam proses pengaitan, pengubahan, pemantapan dan elaborasi konsep
siswa dengan konsep pokok yang menjadi fokus kajian pembelajaran Pendidikan IPS atau
sebaliknya, dan
4. Rekonstruktor. Di satu sisi, guru berperan dalam upaya melakukan pengubahan, penataan
kembali, dan atau penyederhanaan terhadap konsep pokok yang menjadi fokus kajian
pembelajaran Pendidikan IPS sehingga mudah diterima dan dimengerti siswa, dan atau
menemukan hubungan/kaitan fungsional dengan konsep siswa yang telah terpetakan di
dalam struktur kognitifnya. Di sisi lain, guru berperan dalam upaya melakukan
pengubahan, penataan kembali terhadap konstruk konsep siswa. Terutama bila ditemukan
adanya miskonsepsi-miskonsepsi di dalam pengungkapan konsep siswa. Penggunaan
konflik-konflik kognitif dapat dijadikan prosedur yang cukup baik untuk mencapai
maksud ini.

Membangun Kesadaran Kritis


Pendidikan adalah pemberdayaan. Perlu ditekankan agar tidak menjadi penafsiran yang
mempersempit upaya pendidikan sebagai persekolahan.1 Selama ini persekolahan dianggap
upaya yang mulia dan guru sebagai pekerjaan yang terpuji. Secara umum persekolahan di
Indonesia mengidap problema yang membatasi dan mengekang perkembangan potensi anak
sampai-sampai pejabat atau orang kaya tidak percaya pada sekolah di Indonesia dengan
1
menyekolahkan anak-anaknya keluar negeri. Oleh karena itu paradigm pendidikan harus
dirubah agar sekolah mampu melakukan perubahan terencana pada anak didik dengan
membebaskan mereka dari pengekangan dan pembatasan, menciptakan suasana yang
menyenangkan demi kebebasan individu dan pengembangan potensi secara maksimal
sehingga perkembangan potensi diripun akan semakin maksimal.
Perkembangan yang melibatkan potensi anak yang mengintegrasikan pengalaman yang
melibatkan gerakan fisik, gerakan psikis dan imaji nalar sekaligus seperti yang diungkapkan
oleh John Dewey (dalam Utomo Dananjaya,2005)
“Seluruh pendidikan dilaksanakan melalui peran serta individu dalam kesadaran sosial
rasnya. Peran itu dimulai secara tidak disadari nyaris sejak lahir dan terus
berkelanjutan membentuk kemampuan individual, memnuhi kesarannya, malatih
gagasan-gagasan dan emosinya. Lewat pendidikan yang tidak disadari, individu secara
bertahap mulai mendapat bagian dari sumber daya intelektual dan moral yang telah
dikumpulkan oleh umat manusia. Demikianlah ia menjadi pewaris modal untuk
membangun peradaban”
Diharapkan dengan upaya menggali kembali konsep siswa pada pembelajaran IPS yang
merupakan bagian dari metode partisipatori atau penyadaran dapat melibatkan peserta didik
ke dalam pengalaman berprilaku dengan mengalami. Mereka belajar dari pengalaman
sendiri. Bahkan siswa akan memperoleh kegembiraan dan kepuasan dari proses melakukan.
Pola prilaku manusia dapat ditelusuri bahwa setelah mengalami suatu peristiwa, ia akan
merenungkan kemudian mendeskripsikan pengalamannya. Makin terlatih siswa
mendeskripsikan pengalamannya, makin dalam menganalisa pengalamannya dan makin
tajam kesimpulannya, sehingga siswa akan bisa membedakan apa saja yang harus dipelajari,
berguna dipelajari dan baik untuk dipelajari seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini:

Siswa yang memiliki kesadaran kritis mempertanyakan sikap memenuhi kebutuhan,


antara memenuhi kebutuhan dirinya atau memenuhi kebutuhan pihak lain. Diharapkan
pembelajaran Pendidikan IPS berdasarkan penggunaan konsep siswa akan sangat bermanfaat
dalam upaya meningkatkan kinerja profesional guru, kinerja siswa, dan iklim sosial
pembelajaran Pendidikan IPS. Penggunaan konsep siswa juga memiliki berbagai potensi
kebermaknaan baik berkenaan dengan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang
hendak dikembangkan di dalam Pendidikan IPS. Penggunaan konsep siswa juga sangat
potensial di dalam mendekatkan, mengakrabkan, atau mengintimkan pengalaman belajar di
kelas dengan pengalaman belajar keseharian siswa yang terakumulasikan di dalam konsep
siswa, sehingga siswa dapat membangun sendiri pengertian-pengertiannya berdasarkan
makna-makna yang mereka serap dari pengalaman belajarnya di kelas/sekolah.
Globalisasi Kehidupan
Tuntutan kehidupan global, dengan karakteristiknya yang majemuk dan semakin tingginya
ketergantungan antar negara yang mengaburkan batas-batas negara nasional mendorong kita untuk
mempersiapkan diri dalam mengantisipasi arus globalisasi.
Derasnya arus globalisasi menuntut kita untuk memahami perspektif global. Menurut
Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardi (1999:14), menyatakan bahwa:
Yang dimaksud perspektif global adalah suatu cara pandang atau cara berpikir terhadap
suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut pandang global, yaitu dari sisi
kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena itu, sikap dan perbuatan kita juga
diarahkan untuk kepentingan global.
Dari pendapat di atas jelas, bahwa pola pikir dan pola tindak kita harus diarahkan
untuk kepentingan global. Hal ini diperuntukan bagi ketinggian dan kemuliaan harkat dan
martabat manusia. Apabila kita tidak dapat mengarahkan pikiran dan tindakan ke arah
kepentingan dunia atau internasional kita akan terlindas oleh derasnya arus globalisasi.
Era globalisasi yang ditandai oleh adanya persaingan yang semakin tajam, arus deras
dari informasi dan komunikasi, serta keterbukaan merupakan salah satu pendorongnya, yang
apabila kita tidak mengikuti dengan seksama akan menyebabkan ketertinggalan.
Ketertinggalan ini disebabkan juga karena globalisasi merupakan proses di mana manusia di
bumi ini di-inkorporasikan atau dimasukkan ke dalam masyarakat dunia yang tunggal, yaitu
masyarakat global dan dalam proses itu kejadian, keputusan, dan kegiatan di salah satu
bagian dunia menjadi konsekuensi yang signifikan bagi individu atau masyarakat di daerah
lainnya yang jauh di muka bumi ini.
Selain itu, globalisasi juga melahirkan masyarakat terbuka, yang memberikan nilai
kepada individu, kepada hak dan kewajiban sehingga semua manusia mempunyai
kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensinya dan menyumbangkan
kemampuannya bagi kemajuan bangsa.
Dalam mengembangkan perspektif global atau wawasan gloal sebagai suatu
kemampuan, kita harus memperhatikan fenomena-fenomena dan isu-isu yang ada dalam
konteks global. Menurut M.M. Merryfield et al sebagaimana dikutip oleh Nursid
Sumaatmadja (2000:143), menyatakan bahwa:
Ke dalam fenomena global meliputi aspek-aspek lingkungan hidup, sosial, budaya,
ekonomi dan politik. Sedangkan isu-isu global menyangkut kependudukan, hak rakyat
menentukan pemerintahan sendiri, pembangunan, hak asasi manusia, imigrasi penduduk
(emigrasi, imigrasi, pengungsi), pemilikan bersama secara global, lingkungan dan sumber
daya alam, persebaran kemakmuran, teknologi, informasi, sumber daya, dan jalan masuk
ke pasar, kelaparan dan bahan pangan, kesejahteraan dan perdamaian, prasangka dan
diskriminasi.
Dari pendapat di atas jelas, bahwa hampir semua segi kehidupan umat manusia masuk
ke dalam fenomena-fenomena dan isu-isu global. Tetapi perlu kita sadari bahwa arus
globalisasi ini belum menyentuh semua tataran kehidupan manusia, terutama di wilayah
pedalaman atau terpencil. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Nursid Sumaatmadja
(2000:133), yaitu bahwa:
Dalam suasana kehidupan yang makin terbuka, yang menembus berbagai batas, harus
menjadi perhitungan dan citra kita bersama sebagai warga negara Indonesia, bahwa tidak
semua bagian dari Tanah Air Indonesia ini telah ditembus oleh suasana global. Di wilayah
Nusantara yang terpencil, jangankan fenomena global yang mereka alami, suasana dan
kebijakan nasional pun belum menyentuh sepenuhnya. Di wilayah-wilayah yang demikian
terpencil itu, suasana keterbelakangan masih menjadi ciri kehidupan setempat yang
merupakan fenomena yang sangat kontradiktif dengan suasana global village.
Dari kenyataan sebagaimana dikemukakan di atas, maka kesenjangan antara penduduk yang
berada di daerah pedalaman atau terpencil dengan penduduk yang berada di perkotaan akan semakin
jauh dan tajam. Untuk itu para pembuat kebijakan harus dapat mengantisipasi atau paling tidak
meminimalisir berbagai ekses yang timbul akibat dari kesenjangan tersebut.
Perspektif global sebagai suatu kemampuan yang harus kita miliki, tidak akan lahir
dan terjadi begitu saja tanpa upaya. Oleh karena itu, diperlukan proses untuk
mengembangkan dan membinanya, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi sumber
daya manusia (SDM) masa yang akan datang.
Proses pembinaan suatu wawasan, dalam hal ini wawasan global atau perspektif
global di mulai dari pengamatan dan penghayatan pada tingkat lokal. Fenomena, peristiwa
dan masalah yang terjadi secara lokal di sekitar tempat tinggal, diamati serta diperhatikan.
Dari sini akan terbina wawasan lokal atau perspektif lokal. Wawasan lokal sebagai suatu
kemampuan, akan menjadi dasar pendorong mengembangkan wawasan regional (perspektif
regional) pada diri masing-masing.
Perspektif regional sebagai suatu kemampuan yang harus kita miliki, tidak dapat
melekat pada diri masing-masing begitu saja, melainkan harus melalui latihan kepedulian dan
kesengajaan. Di sini letak kedudukan pendidikan, khususnya pendidikan global. Adapun
yang dimaksud pendidikan global menurut Becker dan Anderson sebagaimana dikutip oleh
Nursid Sumaatmadja (2000:141), menyatakan bahwa:
Pendidikan global itu merupakan upaya menghasilkan atau menciptakan sistem
pendidikan yang melibatkan anak-anak, pemuda dan orang dewasa melakukan dua hal. Di
satu pihak peserta didik belajar merasakan dan mengerti bahwa dunia ini sebagai sistem
tunggal serta sistem global yang lengkap; dan di pihak lain, peserta didik belajar melihat
dirinya sendiri sebagai peserta (komponen) sistem dunia dan mengerti tentang manfaat
serta pengorbanan, hak dan kewajiban sejalan dengan keikutsertaanya.
Dalam konsep pendidikan global di atas, tekanannya kepada proses belajar yang
dilakukan oleh manusia secara utuh, artinya oleh semua jenjang usia mulai dari masa kanak
kanak, pemuda sampai dewasa. Selanjutnya, yang menjadi pokok dalam belajar itu adalah
merasakan, mengerti yang kemudian menghayati dan menyadari bahwa dunia ini merupakan
satu kesatuan sistem yang secara global lengkap, tempat keberadaan diri manusia masing-
masing. Melalui pendidikan global peserta didik belajar melihat, menghayati dirinya sebagai
partisipan dalam sistem dunia, dan memahami kedudukannya sebagai komponen dunia yang
memiliki hak serta kewajiban yang meliputi juga mampu mengambil manfaat atau
keuntungan dan pengorbanan atau mengambil resiko dari padanya.
Dalam menyikapi pendidikan global, maka sistem pendidikan yang tidak sejalan
dengan laju perkembangan masyarakat global perlu ditata ulang. Menurut H.A.R. Tilaar
(1999:147) menyatakan bahwa “Sistem pendidikan di seluruh dunia perlu ditemukan kembali
(reinventing) yaitu pendidikan yang dapat mempersiapkan manusia-manusia yang
mempunyai identitas dalam masyarakat lokalnya dan sekaligus mempunyai visi global untuk
membangun dunia bersama”. Hal ini karena umat manusia hanya mempunyai satu planet
tempat dia hidup ialah planet bumi. Oleh sebab itu, kelangsungan hidup manusia di planet ini
haruslah menjadi tanggung jawab bersama untuk melestarikannya.
Bagi bangsa Indonesia kesadaran akan pentingnnya pendidikan global secara yuridis
tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas),
yaitu:
1.Pasal 36 (3), kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: dinamika perkembangan
global (butir i).
2.Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata
sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia
berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu proaktif menjawab
tantangan zaman yang selalu berubah (penjelasan umum UU Sisdiknas).
3.Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut
(misi ke-4): meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan
sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan
nilai berdasarkan standar nasional dan global (penjelasan umum UU Sisdiknas).
Di Indonesia sebenarnya kesadaran akan pentingnya pendidikan global telah ada sebelum kita
merdeka, yaitu sejak didirikan Perguruan Taman Siswa. Sebagai pendiri Taman Siswa Ki Hajar
Dewantara (1962:228) berpendapat bahwa: “Untuk maksud ini hendaknya perlu pemberian pengajaran
bahasa Inggris di semua sekolah menengah”. Pentingnya bahasa Inggris dalam pergaulan global
termasuk dalam bidang pendidikan, juga dikemukakan oleh John Naisbit & Patricia Aburdene
(1990:126), bahwa: “Faktor terpenting yang mempercepat perkembangan gaya hidup global tunggal
adalah pembiakan bahasa Inggris”.
Dalam kurikulum pendidikan di negara kita untuk mengantisipasi kehidupan global ini pengajaran
bahasa Inggris sudah dimulai dari tingkat pendidikan dasar walaupun hasilnya belum sesuai dengan
harapan. Selain bahasa Inggris yang berperan dalam pergaulan dan pendidikan global yaitu komputer
dan internet, tetapi tetap kuncinya terletak pada bahasa Inggris karena kedua media tersebut umumnya
menggunakan bahasa Inggris.
Sebagaimana telah dibahas dalam bagian sebelumnya, bahwa globalisasi dunia merambah ke
segala segi kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan. Salah satu bidang pendidikan yang
dirambah arus globalisasi yaitu Pendidikan IPS. Dalam rangka menghadapi arus globalisasi perlu ada
pembaharuan dalam PIPS. Menurut Numan Somantri (2001:264) yang dianggap sebagai ciri-ciri
pembaharuan dalam pengajaran IPS ialah:
(a) bahan pelajaran lebih banyak memperhatikan kebutuhan dan minat pelajar; (b)
bahan pelajaran leih banyak memperhatikan masalah-masalah sosial; (3) bahan
pelajaran lebih banyak memperhatikan keterampilan berpikir, khususnya
keterampilan menyelidiki; (d) bahan pelajaran lebih memberikan perhatian terhadap
pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan alam sekitar; (e) kegiatan-kegiatan dasar
manusia dapat dicerminkan dalam program studi; (f) organisasi kurikulumnya
bervariasi, mlai dari pengorganisasian yang “integrated, correlated dan sparated”,
(g) susunan bahan pelajaran bervariasi mulai dari pendekatan kewarganegaraan,
fungsional, humanistik dan struktural; (h) kelas pelajaran IPS dikembangkan menjadi
laoratorium demokrasi; (i) evaluasinya bukan hanya memperhatikan aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik, melainkan mencoba mengembangkan DQ (Democratic
Quotient) dan CQ (citizenship Quotient); (j) unsur-unsur sosiologis, antropologis dan
pengetahuan sosial lainnya memperkaya program studi, demikian pula unsur-unsur
sains, teknologi, matematika dan agama ikut memperkaya bahan pelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas semua pihak yang terlibat dalam pendidikan IPS terutama para
akademisi dan praktisi harus berupaya mengadakan pembaharuan dalam pendidikan IPS sesuai
dengan kewenangan dan kemampuan masing-masing. Sehingga akhirnya diharapkan konsep-konsep
PIPS dapat adaftif dengan arus globalisasi. Hal ini penting karena pembelajaran IPS berangkat dari
konsep-konsep yang berkembang dalam kehidupan manusia.
Konsep merupakan ide atau pengertian yang diabstrakan dari peristiwa yang kongkrit.
Menurut Rochiati Wiriaatmadja (2002:300), menyatakan bahwa: “Konsep adalah kata-kata
yang mengklasifikasi, mengkategorisasi dan menjabarkan seperangkat fakta yang berkaitan.
Konsep menggabungkan beberapa fakta yang sama dalam satu label”. Adapun yang menjadi
konsep kunci dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosial adalah sebagai berikut:
1. Sejarah, meliputi perubahan, kontinuitas, nasionalisme, kolonialisme,
imperialisme, dan revolusi.
2. Geografi, meliputi ruang/spasial, lokasi, jarak, wilayah, lingkungan, dan pola
ruang.
3. Antropologi, meliputi kebudayaan, tradisi, kepercayaan, ritual, kekeluargaan,
dan akulturasi.
4. Politik, meliputi otoritas, kekuasaan, negara, keadilan, demokrasi, dan hak azasi
manusia.
5. Sosiologi, meliputi masyarakat, peranan, stratifikasi, nilai, kaidah, dan konflik.
6. Ekonomi, meliputi produksi, distribusi, konsumsi, penawaran, permintaan, dan
kelangkaan (Rochiati Wiriaatmadja, 2002:300).
Dari konsep-konsep di atas perlu dikembangkan lagi atau ditambah dengan konsep baru yang
berkembang dalam kehidupan manusia sebagai akibat dari globalisasi. Contoh konsep reformasi
untuk kajian bidang politik atau konsep pasar bebas untuk kajian bidang ekonomi.
Dalam menghadapi arus globalisasi struktur pendidikan IPS harus dibenahi. Hal ini
sesuai pendapat Numan Somantri (2001:190), yang menyatakan bahwa:
Untuk menghadapi tantangan dan dinamika masyarakat serta globalisasi maka perlu
konsolidasi kurikulum FPIPS yang meliputi: (a) panetrasi jatidiri pendidikan IPS ke dalam
primary structure; (b) mata kuliah yang tidak begitu penting disederhanakan dan
menampilkan pendidikan global (global education); (c) semua mata kuliah disiplin ilmu
diperkuat sehingga setaraf dengan mata kuliah di universitas untuk mendukung primary
structure; (d) diadakan mata kuliah yang berorientasi pada bisnis dan bahasa asing; (e)
perlu ada monitoring yang intensif terhadap perkembangan pembangunan nasional,
globalisasi sebagai bahan untuk memperkaya kurikulum FPIPS dengan pengetahuan
fungsional (functional knowledge).
Dari pendapat di atas jelas, bahwa kurikulum dan perkuliahan pendidikan IPS di
LPTK perlu ditata ulang dan dikonsolidasikan agar dapat mengantisipasi arus globalisasi. Hal
ini penting karena lulusan FPIPS ini yang akan menjadi pelopor dan pembaharu pendidikan
IPS di tingkat persekolahan, sehingga pendidikan IPS yang sangat dinamis ini dapat lebih
bermakna dan menarik siswa dalam pembelajaran.
Selain berdampak pada konsep PIPS arus globalisasi juga berpengaruh terhadap
prinsip yang menjadi landasan PIPS. Salah satu prinsip atau dalil PIPS menyatakan bahwa
“yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan”. Ini membawa konsekuensi bahwa dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan kurikulum PIPS masalah perubahan harus
menjadi pertimbangan utama, baik perubahan dalam konterks lokal, nasional, regional
maupun global.
Dalam menghadapi dan menyikapi pengaruh globalisasi terhadap konsep dan prinsip
PIPS hendaknya kita berpijak pada jatidiri PIPS sebagaimana dikemukakan oleh Numan
Somantri (2001:207), yaitu sebagai berikut:
1. adanya hubungan interdisipliner dan/atau transdisipliner antara disiplin ilmu-
ilmu pendidikan dan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, bahkan dengan ilmu,
teknologi, seni, dan agama;
2. hubungan antara disiplin itu disebabkan adanya kebutuhan dan kegunaan yaitu
untuk kepentingan pendidikan sebagai “advance knowledge”;
3. proses pendekatan antardisipliner merupakan seleksi dari disiplin ilmu-ilmu
sosial dan humaniora untuk tujuan pendidikan;
4. bahan pendidikan diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis
untuk tujuan pendidikan.
Dengan berpegang pada jatidirinya dalam menghadapi dan menyikapi arus globalisasi
diharapkan terbentuk/terwujud kurikulum PIPS yang selalu aktual sesuai dengan perkembangan
zaman, tanpa harus kahilangan jatidiri. Dalam pelaksanaanya akan lebih bermakna apabila terjalin
koordinasi dan sinkronisasi antara para akademisi di LPTK dengan para praktisi pendidikan di tingkat
persekolahan. Tujuannya adalah agar pembelajaran PIPS dapat disajikan secara komprehensif dan
menyentuh masalah-masalah sosial, dengan tidak mengabaikan cara berpikir ilmiah dan ruang lingkup
disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora.
Pendekatan merupakan cara pandang dalam melakukan sesuatu yang sudah
direncanakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam kegiatan pembelajaran
pendekatan diartikan sebagai cara pandang dalam menyampaikan bahan yang telah
direncanakan untuk mencapai tujuan belajar.
Dalam bidang pendidikan secara umum ada dua macam pendekatan yaitu pendekatan
akademis dan pendekatan paedagogis. Pendekatan akademis merupakan cara pandang
keilmuan tentang apa ilmu itu dan bagaimana cara mendapatkannya. Sedangkan pendekatan
paedagogis merupakan cara pandang bagaimana ilmu itu disampaikan kepada orang lain
(peserta didik).
Dalam PIPS pendekatan akademis merupakan suatu kemampuan mutlak yang harus
dimiliki oleh para pendidik, tanpa itu ia tidak memiliki kelayakan sebagai pendidik. Salah
satu pendekatan yang termasuk ke dalam pendekatan akademis adalah pendekatan struktural
sebagaimana dikemukakan oleh Numan Somantri (2001:270) yang menyatakan bahwa:
Pendekatan struktural bertitik tolak dari disiplin ilmu. Walaupun bahan-bahan pelajaran
diambil dari berbagai macam disiplin, tetapi seluruh bahan itu terlebih dahulu harus
disusun secara sistematis menurut salah satu struktur disiplin ilmu sosial.
Jadi dalam pendekatan struktural bahan-bahan pelajaran diambil dari berbagai disiplin ilmu
yang disusun secara sistematis menurut salah satu struktur disiplin ilmu sosial. Selain harus sistematis
bahan-bahan itu juga harus esensial untuk disajikan.
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa pendekatan paedagogis merupakan cara
pandang bagaimana ilmu itu disampaikan kepada orang lain (peserta didik). Adapun
pendekatan-pendekatan yang dipergunakan IPS dalam menentukan / memilih /
mengembangkan program maupun metode pembelajaran menurut Kosasih Djahiri (1978:4-5)
bertumpu pada pendekatan-pendekatan sebagai berikut:
1. siswa sentris, dimana faktor siswa sangat diperhatikan/diutamakan;
2. kemasyarakatan sentris (community oreunted), dimana masalah kehidupan riil dan
kemasyarakatan dijadikan sumber dan bahan serta tempat belajar;
3. ekositem, artinya faktor lingkungan turut diperhitungkan dan dimanfaatkan;
4. bersifat komprehensif dan integrated (integratif);
5. menggunakan teknik inkuiri (inkuiry) dan bentuk student active learning
(siswa belajar dengan aktif) sebagai media proses belajar utama.
Apabila para pendidik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran IPS
memperhatikan pendekatan-pendekatan di atas akan menunjang dan memperlancar pencapaian
tujuan pembelajaran IPS sesuai yang diharapkan. Hal ini karena pembelajaran IPS diarahkan kepada
kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimilikinya, seperti intelektual, mental, emosional, sosial, dan fisik (kognitif, afektif, psikomotor}.
Banyak pendekatan paedagogis yang sering digunakan dalam pembelajaran sesuai
dengan karakter mata pelajaran masing-masing. Adapun pendekatan-pendekatan yang sesuai
dengan karakter PIPS di antaranya sebagai berikut:
Pendekatan konsep, pendekatan ini merupakan pendekatan bermakna dengan menghubung
antar konsep sehingga lebih bermakna. Pendekatan konsep ini digunakan untuk
meningkatkan pemahaman siswa. Apabila siswa betul-betul memahami suatu konsep ia akan
menerapkannya pada situasi baru.
Pendekatan pemecahan masalah, pemecahan masalah merupakan proses yang
mengharuskan siswa untuk menemukan suatu generalisasi dari konsep-konsep yang telha
dipelajari, kemudian menerapkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi.
Pendekatan lingkungan, dalam menggunakan pendekatan ini harus diperhatikan bahwa
materi pelajaran hendaknya mempunyai hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari
sehingga lebih konkrit, mudah dipahami dan mengetahui manfaatnya.
Pendekatan keterampilan proses, merupakan pendekatan yang dipakai dalam proses
pembelajaran yang menekankan pada pengembangan keterampilan memperoleh pengetahuan
dan mengkomunikasikan hasil belajarnya. Perinsip pendekatan keterampilan proses adalah:
1. Siswa lebih banyak terlibat dengan apa yang dipelajari.
2. Siswa lebih banyak menghayati apa yang dipelajari.
3. Siswa lebih banyak merasakan dan menemukan apa yang dipelajari.
Dengan demikian guru IPS hendaknya mampu menggali potensi-potensi yang ada pada diri
siswa melalui proses pembelajaran dengan mengembangkan keterampilan mengamati,
mengklarifikasi, interpretasi, memprediksi, menerapkan, merencanakan penelitian dan
mengkomunikasikan. Karena hampir seluruh konsep pembelajaran IPS dapat disajikan
dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses.
Pendekatan model pembelajaran cooperative learning, pendekatan ini memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas
yang terstruktur. Dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator. Alasan penggunaan
cooperative learning dalam kegiatan pembelajaran menurut Anita Lie (2002:12), yaitu:
Ada beberapa alasan penting mengapa sistem pengajaran ini perlu dipakai lebih sering di
sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi sosial,
ekonomi, demografi yang mengharuskan sekolah dan perguruan tinggi untuk lebih
menyiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan baru untuk bisa berpartisipasi
dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat.
Dari pendapat di atas jelas, bahwa pendekatan model pembelajaran cooperative
learning sesuai dengan arus globalisasi, sehingga dengan menggunakan pendekatan tersebut
peserta didik diharapkan memiliki kemampuan untuk mengantisipasi perubahan dunia yang
berkembang pesat.
Menurut Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Wihardi (1999:61) dalam pembelajaran
di era globalisasi ini para pendidik dapat melakukan pilihan-pilihan sebagai berikut:
1. Merencanakan model pembelajaran perspektif global dengan orientasi
masalah yang kontronersial;
2. Merencanakan model pembelajaran perspektif global dengan
pemetaan konsep (concept mapping); dan
3. Merencanakan model pembelajaran perspektif global dengan
pengembangan keterampilan sosial.
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa arus globalisasi besar sekali pengaruhnya terhadap
pendekatan PIPS, baik pendekatan akademis maupun pendekatan paedagogis. Dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembelajaran IPS para pendidik seyogianya memperhatikan globalisasi yang
berkembang pesat baik secara akademis maupun paedagogis, apabila tidak selain pembelajaran
kurang/tidak menarik juga akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran IPS yang diharapkan.
Perubahan zaman sebagai dampak dari globalisasi tidak selalu positif, kenyataan tidak sedikit
malah yang menimbulkan ekses negatif. Untuk itu dengan konsep, prinsip dan pendekatan PIPS yang
tepat para pendidik diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk dapat
memilah-milah dampak positif dan negatif dari globalisasi tersebut. Sehingga akhirnya mereka
diharapkan dapat memilih yang positif dan menggunakannya untuk kepentingan hidup dan kemuliaan
umat manusia
DAFTAR PUSTAKA
Alleman, J.E. & Cheryl, E.R. 1991. The cognitive, social, emotional, and moral development characteristics of
students: Basic for elementary and middle school social studies. James P.S. Handbook of Research on
Social Studies Teaching and Learning. New York: McMillan Publishing Company. 109-120.
Atkinson, Rita., Atkinson, Richard, C., & Hilgard, Ernest, R., 1983. Introduction to Psychology, 8th Ed.
Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Arifin, Z. (1988). Evaluasi Instruksional: Prinsip-Teknik-Prosedur. Bandung: Remadja Karya
Arikunto, S. (1988). Penilaian Program Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Arikunto, S. (1986). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara
Ausubel, D.P. 1963. The psychology of meaningful verbal learning. New York: Grune & Stratton.
Azis Wahab, (1998). Reorientasi dan Revitalisasi Pendidikan Ilmu-ilmu Sosial di Sekolah. Bandung: PPS IKIP
Bandung (2002), Tantangan Pembelajaran PIPS di Sekolah, JPIS No. 19
Baharudin. Taufik. 1999. Brainware Management: Generasi Kelima Manajemen Manusia. Elex Media
Komputindo: Jakarta.
Badeni, (2001), Masalah dan Solusi Pembelajaran IPS dengan Pendekatan Cooperative Learning, dalam Jurnal
Ilmu Pendidikan Sosial (JPIS), No.18
Banks, James A. & Ambrose A. Clegg Jr, (1985), Teaching Strategies for the Social Studies, New York:
Longman, Inc
Berliner, David, C. & Calfee, Robert.C.(Editor), 1996. Handbook of Educational Psychology. New York, Simon
& Schuster Macmillan.

Blosser, Patricia E. & Helgenson, Stanley L. (1990). Selecting Procedures for Improving the Science
Curriculum. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science, Mathematics, and
Environment Education. (ED325303)
Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan SarahSinger-Nourie. 2006. QuantumTeaching. Bandung : Penerbit Kaifa.
Brooks, Jacqueline Grennon and Brooks, Martin G. (1993). The case for constructivist classrooms. Alexandria,
VA: ASCD
Brown, J.S., Collins, A. & Duguid, S. (1989). Situated cognition and the culture of learning. Educational
Researcher, 18(1), 32-42.
Buzan. Tony dan Barry. 2004. Memahami Peta Pikiran : The Mind Map Book. Interaksa: Batam
Buzan. Tony. 2004. Mind Map: Untukmeningkatkan Kreativitas. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Budiningsih, Asri, C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Penerbit Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional, (2003), Kurikulum 2004, Jakarta, Depdiknas. (2003), Kumpulan Pedoman
Kurikulum 2004, Jakarta. (2003), Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Pengetahuan Sosial SMP dan MTS, Jakarta. (2004), Contoh Silabus Berdiversifikasi dan
Penilaian Berbasis Kelas, Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, (2003), Kurikulum 2004, Jakarta, Depdiknas. (2003), Kumpulan Pedoman
Kurikulum 2004, Jakarta. (2003), Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Pengetahuan Sosial SMP dan MTS, Jakarta. (2004), Contoh Silabus Berdiversifikasi dan
Penilaian Berbasis Kelas, Jakarta
DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan
Menyenangkan. Bandung: Penerbit KAIFA.
DePorter, Bobbi, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie. 2001. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum
Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Penerbit KAIFA.
Dewey, John (1964) John Dewey on education: Selected writings. Chicago: University of Chicago Press.
Djahiri, A.K. (1978). Pengajaran Studi Sosial/IPS. Bandung: LPPP-IPS; FKIS-IKIP Bandung.
Dryden, Gordon dan Jeanette Vos. 1999. The Learning Revolution: To Change the Way the World Learns.
Selandia Baru: The Learning Web.
Ernest, P. (1995). The one and the many. In L. Steffe & J. Gale (Eds.). Constructivism in education (pp.459-
486). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Inc.
Gage, N.L. & Berliner, David, C. (1984). Educational Psychology 3rd Ed. Boston, Houghton Mifflin Company.
Gagne, Ellen, D., 1985. The Cognitive Psychology of School Learning. Boston, Little, Brown and Company
Garton, Janetta., 2005. Inquiry-Based Learning. Willard R-II School District, Technology Integration Acade
Gergen, K. (1995). Social construction and the educational process. In L. Steffe & J. Gale (Eds.).
Constructivism in education, (pp.17-39). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Inc
Giddens, Anthony. 2001. Runway World. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Harahap, N. (1982). Teknik Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Bulan Bintang.
Hasan S. Hamid, (1996), Pendidikan Ilmu Sosial, Jakarta, P2TA. (2002), Pendidikan IPS dan Ilmu Sosial di
Masa Mendatang, JPIS, No. 19, Bandung.
Hidayah, Zulyani (2001) Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia, Jakarta: LP3ES.
Haury, L. David. (1993). Teaching Science Through Inquiry. Columbus, OH: ERIC Clearinghouse for Science,
Mathematics, and Environment Education. (ED359048)
Hidayat. Nandang. Meningkatkan Energi Belajar Melalui Belajar kuantum (Quantum Learning): Bogor.
Huitt, W. (1997). Socioemotional development. Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA: Valdosta
State University
Jarolimek, John, (1993), Social Studies in Elementary Education, New York: Macmillan Publishing Co. Ltd
Jensen. Eric dan Karen Makowitz. 2002. Otak Sejuta Gygabite: Buku Pintar Membangun Ingatan Super. Kaifa :
Bandung.
Lie, L. (2002). Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.
Leonard, Nancy, H., Beauvais, Laura Lynn., & Scholl Richard, W., 1995. "A Self Concept-Based Model of
Work Motivation". In The Annual Meeting of the Academy of Management (URL:
http://chiron.valdosta.edu/wh...).
Makmun. Abin Syamsudin. 2000. Psikologi Kependidikan Remaja Rosda Karya.Bandung.
Mansour Fakih dan Robert Chamber. 2002. Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta:Read Book.
Meier, Dave. 2000. The Accelerated Learning Handbook. New York: McGraw-Hill.
Mulyasa, E. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.
Bandung:Rosda.
Nakita Cetakan Pertama. 2004. Panduan Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : PT Sarana Kinasih Satya Sejati.
Nasution, S. 1989. Berbagai Pendekatan Proses Belajar Mengajar, Jakarta,:Bina Aksara.
Nursid Sumaatmadja dan Kuswaya Mardi, (1999), Perspektif Global, Jakarta: Penerbit UT.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan. 2005. Jakarta : Tanpa Penerbit.
Palmer, Joy A. 2003. 50 Pemikir Pendidikan, dari Piaget sampai masa
sekarang. Yogyakarta: Jendela
Roem Topatimasang,dkk. 2005. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran
Kritis. Yogyakarta:Insist Press.
Sagala, Syaiful., 2004. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung, Penerbit Alfabeta.
Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Step to Teach Any Subject.Massachusetts: A Simon and
Schuster Company.
Somantri, M.N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sugiarto. Iwan. 2004 Mengoptimalkan Daya Kerja Otak Dengan Berfikir Holistik dan Kreatif. Gramedia
Pustaka Utama: Jakarta.
Supriatna, Nana, (2002), Mengajarkan Keterampilan Sosisal yang Diperlukan Siswa Memasuki Era Global,
JPIS No. 19
Suwarma Al Muchtar, (1999). Epistimologi Dasar Konseptual Strategi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.
Forum Pendidikan IKIP Bandung. (2003). Otonomi Daerah dan Multikulturalisme. Bandung:
FPIPS UPI Bandung. (2004), Pengembangan Berpikir dan Nilai Dalam pendidikan IPS,
Bandung, Gelar Pustaka Mandiri (----) Strategi Pembelajaran Pendidikan IPS. Sekolah
Pascasarjana UPI
Steffe, Leslie P. & and D'Ambrosio, Beatriz S. (1995). Toward a working model of constructivist teaching: A
reaction to Simon. Journal for Research in Mathematics Education, 26, 146-159.
Sumaatmadja, N. (1998). Manusia dalam Konteks Sosial Budaya dan Lingkungan Hidup. Bandung: Alfabeta.
Sumaatmadja, N. Dan Wihardi, K. (1999). Perspektif Global. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tilaar, H.A.R. (1999). Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Universitas Negeri Malang (UM). 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Edisi
Keempat). Malang : Biro Administrasi Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi .
Winataputra, U.S., et al. (2004). Kedudukan, Fungsi, Peran Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan
Pendidikan Kewarganegaraan dalam Sistem Pendidikan Nasional. Yogyakarta: HISPISI.
Wiriaatmadja, R. (2002). Pendidikan Sejarah di Indonesia. Bandung: Historia Utama Press.
Wortman, Camille., Loftus, Elizabeth. & Weaver, Charles., 2004. Psychology, 5th Ed. Boston, McGraw-Hill.
Yerkes, R.M. & Dodson, J.D. (1908) The Relation of Strength of Stimulus to Rapidity of Habit-Formation.
Journal of Comparative Neurology and Psychology, 18
____. (2004). Observational (social) learning: An overview. Educational Psychology Interactive. Valdosta, GA:
Valdosta State University.
____. 2001. Motivation to Learn: An Overview. Educational Psychology Interactive. Valdosta, Valdosta State
University
_____. (2003). UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas. Jakarta: Depdiknas.
_____. (2000). Himpunan Peraturan Ebta/Ebtanas Tahun Pelajaran 1999/2000. Bandung: Kanwil Depdiknas
Propinsi Jawa Barat.
_____. (2003). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003, tentang Ujian Akhir Nasional Tahun
Pelajaran 2003/2004. Bandung: Disdik Provinsi Jawa Barat.
_____. (2004). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 037/U/2004, tentang Ujian Akhir Nasional
Ulangan Tahun Pelajaran 2003/2004. Jakarta: Depdiknas.
http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=45053
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/35/mengubah_wawasan_peran.htm
http://tiger.coe.missouri.edu/~jonassen/courses/CLE/
http://www.kn.pacbell.com/wired/fil/pages/listconstrucsa1.html .
http://www.waspada.co.id/opini/artikel/artikel.php?article_id=45053
http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/35/mengubah_wawasan_peran.htm
http://tiger.coe.missouri.edu/~jonassen/courses/CLE/
http://www.kn.pacbell.com/wired/fil/pages/listconstrucsa1.html .
http://www.ctheory.com/
http://202.159.18.43/jp/22farisi.htm
http://www.deliveri.org

Anda mungkin juga menyukai