Anda di halaman 1dari 35

FINANSIAL ANALYSIS PROJECT

LAPORAN ANALISA LAPORAN KEUANGAN

PT INDOFARMA (PERSERO) TBK

ANISA SEPTIANI (170301303)


EMA RINA SAFITRI (170301275)
KAYRIL NUR FITRAH (170301241)
SYIMA NISYAM (170301298)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


AKUNTANDI
2020
ABSTRAK

Tujuan analisis laporan keuangan ini adalah untuk mengetahui kikerja keuangan PT Indofarma
(persero) Tbk pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2018. Manfaat analisis laporan keuangan ini
dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengambil keputusan dan sebagai materi pembelajaran bagi
mahasiswa untuk mata kuliah Analisis Laporan Keuangan.
Hasil analisis pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 menuntukan bahwa hasil analisis
Komparatif, analisis common size, analisis trend, analisis rasio dan analisis tambahan lainnya dalam
keadaan rata-rata mengalami penurunan dan menunjukan bawa kondisi keuangan perusahaan PT
Indofarma (persero) Tbk dalam keadaan kurang baik.

2
DAFTAR ISI

3
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Analisis laporan keuangan adalah suatu proses penelitian laporan keuangan beserta unsure-
unsurnya yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memprediksi kondisi keuangan perusahaan atau
badan usaha dan juga mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan atau badan usaha pada
masa lalu dan sekarang.

Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui
tingkat keuntungan dan tingkat risiko dan tingkat kesehatan suatu perusahaan.
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui
tingkat keuntungan dan tingkat risiko dan tingkat kesehatan suatu perusahaan. Analisis semacam ini
mengharuskan seorang analis untuk melakukan beberapa hal :
1. Menentukan dengan jelas tujuan analisis
2. Memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang mendasari laporan keuangan dan
3. rasio-rasio keuangan yang diturunkan dari laporan keuangan tersebut
4. Memahami kondisi perekonomian dan kondisi bisnis lain pada umumnya yang berkaitan
dengan perusahaan dan mempengaruhi usaha perusahaan.

Sebelum melakukan analisis seorang analis harus memahami ketiga langkah diatas,baru
kemudian melakukan analisis dengan menggunakan alat-alat analisis seperti rasio-rasio keuangan atau
rasio-rasio lainnya.
Dalam melakukan analisis terhadap laporan keuangan tersebut diperlukan beberapa tolak
ukur. Analisis yang biasa dipakai adalah rasio atau indeks yang merupakan perbandingan di antara
data-data keuangan. Analisis rasio keuangan merupakan alat utama yang dapat digunakan dalam
melakukan analisis terhadap laporan keuangan.
Melalui analisis rasio dapat dihasilkan pengukuran dalam bentuk rasio atau relatif dan bukan
dalam angka yang absolut. Dengan demikian dapat mempermudah dalam melihat
perubahanperubahan yang terjadi, apakah menunjukkan arah yang tetap, meningkat atau bahkan
menurun. Faktor-faktor yang paling utama untuk mendapatkan perhatian analisis adalah tingkat
likuiditas, profitabilitas atau rentabilitas, solvabilitas dan aktivitas. Likuiditas dapat menunjukkan
kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi
atau kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih.
Profitabilitas dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode
tertentu. Solvabilitas dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban

4
keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan, baik kewajiban jangka pendek maupun
kewajiban jangka panjang. Aktivitas dapat mengukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam
menggunakan sumber dayanya.
Analisis terhadap laporan keuangan PT Indofarma (persero) Tbk adalah untuk memenuhi
tugas kelompok mata kuliah Analisis Laporan Keuangan Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)
sebagai pengimpementasian materi kuliah selama setengah semester oleh dosen pengampu Zul Azmi,
SE.,M.Si,.Ak.,CA.

5
BAB II
PENGUMPULAN DATA ANALISIS

Perusahaan yang akan di analisis laporan keunengannya adalah PT Indofarma (persero) Tbk
yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dan laporan keuangan yang akan dianalisis yaitu
laporan keuangan tahun 2014 sampai dengan laporan keuangan tahun 2018. Berikut ini data posisi
laporan keuangan PT Indofarma (persero) Tbk :

Tabel 2.1 Laporan Keuangan PT Indofarma (persero) Tahun 2014-2018

NeracaSaldo 2014 2015 2016 2017 2018


Kas 135.754.602.477 313.472.666.666 56.233.906.214 129.324.891.466 182.587.624.895
Piutang usaha 187.933.628.760 190.237.969.425 207.705.027.953 174.712.215.906 163.737.603.056
Persediaan 216.406.886.501 300.271.746.960 292.411.114.993 254.678.984.656 215.494.611.892
Total asset 782.887.635.406 1.068.157.388.878 853.506.463.800 930.982.222.120 867.493.107.334
lancar
Aset Tetap 496.765.557.301 487.333.743.682 398.427.199.954 425.706.696.909 394.584.546.295
Total Aset tetap 466.876.024.725 465.551.175.363 528.126.857.320 598.892.560.170 574.857.501.241
Total aset 1.249.763.660.131 1.533.708.564.241 1.381.633.321.120 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575
Utang usaha 326.915.469.225 527.405.757.633 266.281.459.403 376.648.899.346 204.358.052.185
Total Kewajiban 600.565.598.576 846.731.128.253 704.929.715.911 893.289.027.427 827.237.832.766
lancar
Utang jangka 15.627.107.799 10.609.852.460 - 44.718.791.500 50.758.555.512
panjang
Total utang 61.496.036.452 94.268.546.525 100.946.524.578 110.175.857.159 118.465.915.951
jangka panjang
Total Kewajiban 662.061.635.028 940.999.674.778 805.876.240.489 1.003.464.884.586 945.703.748.717
Total ekuitas 587.702.025.103 592.708.889.463 575.757.080.631 526.409.897.704 496.646.859.858
Total kewajiban 1.249.763.660.131 1.533.708.564.241 1.381.633.321.120 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575
dan ekuitas
Laporan 2014 2015 2016 2017 2018
LabaRugi
Penjualan 1.381.436.578.115 1.621.898.667.657 1 .674.702.722.328 1.631.317.499.096 1.592.979.941.259
Beban pokok 1.069.010.401.518 1.299.968.648.045 1.337.793.754.317 1.248.504.215.451 1.308.760.117.807
penjualan
Beban 265.714.509.378 303.472.846.815 1.434.192.828.004 287.095.966.135 258.309.690.778
operasional
Laba/rugi bersih 1.440.337.677 6.565.707.419 (17.367.399.212) (46.284.759.301) (32.736.482.313)
(EAT)
EBIT 7.768.986.701 1 4.175.137.737 (18.921.337.613) (56.816.969.124) (25.298.215.466)
Laporan arus 2014 2015 2016 2017 2018
kas
Harga saham 100 100 100 100 100
Lembar Saham 3.099.267.500 3.099.267.500 3.099.267.500 3.099.267.500 3.099.267.500

6
Dari laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi di atas dari tahun 2014 sampai tahun 2018
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

 Dari sisi neraca terjadi turun-naik saldo akun kas dan setara kas setiap tahunnya, kenaikkan dari
tahun 2014 ke tahun2015 itu disebabkan oleh adanya kenaikkan pada bagian penjualan PT
Indofarma (persero) Tbk. Hal itu mengindikasikan bahwa pada tahun 2014 ke tahun 2015
perusahaan telah berhasil meningkatkan tingkat penjualan mereka. Kenaikan penjualan ini juga
turut memperbesar pajak mereka. Pada tahun 2016 m3ngalami penurunan saldo akun kas dan
setara kas yang sangat siknifikan disebabkan oleh menigkatnaya beban operasional perusahaan.
Kemudian di tahun-tahun berikutnya 2017-2018 mengalami peningkatan kembali.
 Dari sisi neraca, terjadi turun-naik pada saldo akun persediaan pada setiap tahunnya, ini
mengindikasikan perusahaan kurangnya pengelolaan persediaan pada PT Indofarma (persero) Tbk
disetiap tahunnya.
 Dari sisi neraca, dapat disimpulkan bahwa total asset PT Indofarma (persero) Tbk mengalami
tutun-naik setiap tahunnya, ini disebabkan saldo-saldo dalam setiap akun asset selalu mengalami
perubahan yang signifikan yang terjadi akibat perusahaan mengalami kesulitan dari segi
operasional dan keuangan.
 Dari sisi neraca, kewajiban lancar mengalami kenaikan dan penurunan dan sedangkan liabilitas
jangka panjang mengalami penurunan setiap tahunnya, ini mengindikasikan bahwa perusahaan
pada setiap tahun telah membayar kewajiban jangka panjang dan tidak menambah kewajiban
jangka panjang yang baru untuk perluasan usaha.
 Dari sisi neraca, pada tahun 2014 sampai tahun 2018 total liabilitas mengalami peningkatan,
seiring dengan peningkatan asset. Hal itu bisa disebabkan karena perusahaan mendanai kegiatan
perluasan usahanya.
 Dari sisi laba rugi, pada tahun 2014 sampai tahun 2018 penjualan mengalami turun-naik. Hal itu
menunjukkan bahwa perusahaan mengalami permasalahan dalam menghasilkan laba dari kegiatan
operasional yang dijalankan.
 Dari sisi laba rugi, juga terlihat meningkatnya efesiensi kegiatan produksinya, hal itu tercermin
pada peningkatan HPP, dan hal ini mengakibatkan perbandingan antara penjualan dan HPP yang
terlihat tidak effektif. Artinya HHP terlalu tinggi serta beban operasional yang besar
mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian.

7
BAB III

BUSINESS CONTEXT PT INDOFARMA (PERSERO)

A. Lingkungan Ekonomi Perusahaan

1. Profil Perusahaan

Indonesia Farma (Persero) Tbk disingkat Indofarma (Persero) Tbk (INAF) didirikan

8
tanggal 02 Januari 1996 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1983.
Pada awalnya, INAF merupakan sebuah pabrik obat yang didirikan pada tahun 1918
dengan nama pabrik Obat Manggarai. Pada tahun 1950, Pabrik Obat Manggarai ini
diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dikelola oleh Departemen Kesehatan.
Pada tahun 1979, nama pabrik obat ini diubah menjadi Pusat Produksi Farmasi
Departemen Kesehatan. Kemudian, berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik indonesia
(PP) No.20 tahun 1981, Pemerintah menetapkan Pusat Produksi Farmasi Departemen
Kesehatan menjadi Perseroan Umum Indonesia Farma (Perum Indofarma). Selanjutnya
pada tahun 1996, status badan hukum Perum Indofarma diubah menjadi Perusahaan (Persero).

Pemegang saham pengendali Indofarma (Persero) Tbk adalah Pemerintah Republik


Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen (Saham Seri A Dwiwarna) dan 80,66% di saham
Seri B. Pada tanggal 30 Maret 2001, INAF memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK
untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham INAF (IPO) kepada masyarakat sebanyak
596.875.000 Saham Seri B dengan nilai nominal Rp100,- per saham dengan harga
penawaran Rp250,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia
(BEI) pada tanggal 17 April 2001.
Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri farmasi dan alat kesehatan
nasional, Perseroan terdaftars ebagai anggota:

1. Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi)

2. Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium (GAKESLAB)

3. Kamar Dagang dan Industri (KADIN)

Dengan bergabungnya Perseroan pada organisasi diatas diharapkan dapat senantia samengikuti
perkembangan dan perubahan regulasi. Selainitu Perseroan dapat memanfaatkannya sebagai forum
komunikasi dan konsultasi dengan pengusaha lainnya dan pemerintah serta pihak-pihak lain yang
terkait yang berhubungan dengan produksi, distribusi serta pelayanan obat dan alat kesehatan. Hingga
akhir tahun 2018, Perseroan telah memiliki 231 persetujuan izin edar obat yang terdiri dari kategori
Ethical Generik (OGB), Over The Counter (OTC), Ethical Branded, serta alat kesehatan.

2. Sector Usaha

PT Indofarma (Persero) Tbk merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di
bidang usaha industry farmasi.Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar terakhir dengan Akta No.44
tanggal 24 April 2017 dari Notaris Mochamad Nova Faisal, SH., M.Kn., maksud dan tujuan pendirian
Perseroan adalah melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program Pemerintah di bidang

9
ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya di bidang farmasi, diagnostik, alat
kesehatan, serta industry produk makanan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha
dengan penjabaran sebagai berikut:

Tabel 3.1 Kegiatan usaha PT Indofarma (Persero) Tbk

Telah/
Kegiatan Usaha Berdasarkan Anggaran Dasar Belum Keterangan
Dijalanka
n
Memproduksi bahan baku dan bahan penolong Dalam tahap pengembangan
farmasi serta bahan kimia termasuk agrokimia, kemandirian bahan baku obat dan
baik sendiri maupun atas dasar lisensi atau X bahan baku obat tradisional
pembuatan atas dasar upah.
Memproduksi obat jadi seperti obat-obatan Memiliki fasilitas produksi obat-
esensial, obatgenerik, obat namadagang, obat obatan, obat tradisional dan alat
tradisional, kosmetik, alatkesehatan, diagnostic, kesehatan
kontrasepsi serta produk makanan baik yang ada
hubungannya dengan pemeliharaan dan V
peningkatan kesehatan maupun yang bersifat
umum termasuk untuk hewan, baik sendiri
maupun atas dasar lisensi atau pembuatan dasar
upah.
Memproduksi pengemasan maupun bahan Membuat dan memodifikasi mesin
pengemas mesin dan peralatan serta sarana penunjang industry farmasi
pendukung lainnya, baik yang terkait dengan V
industry farmasi, maupun industri lainnya
Pemasaran, perdagangan dan distribusi dari Melakukan kegiatan pemasaran
produk diatas,baik hasil produksi maupun hasil V perdagangan dan distribusi produk-
produksi pihak ketiga, termasuk barang umum, produk perseroan
baik di dalam maupun di luar negeri, serta
kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan
usaha Perseroan.
Jas abaik yang ada hubungannya dengan kegiatan Mempunyai fasilitas pelayanan
usaha Perseroan maupun jasa Pemeliharaan Kesehatan untuk karyawan dan
Kesehatan pada umumnya termasuk jasa V masyarakat umum
konsultasi kesehatan.

10
Untuk melaksanakan kegiatan usaha di atas, Perseroan membagi kegiatan usaha kedalam 3 (tiga)
segmen, sesuai denganin formasi segmen usaha yang tercantum dalam laporan keuangan
konsolidasian.

a) Obat

Segmen usaha obat merupakan bidang fundamental dalam kegiatan usaha Perseroan. Segmen ini
termasuk produksi obat-obatan, pemasaran dan distribusi serta penjualan. Perseroan memiliki fasilitas
produksi yang berada di Cibitung, Jawa Barat. Untuk pelaksanaan distribusi dan penjualan, Perseroan
memiliki Entitas Anak, PT Indofarma Global Medika (IGM) sebagai pelaksananya. Segmen usaha
alat kesehatan dan produk lainnya merupakan diversifikasi usaha yang dijalankan Entitas Anak
Perseroan, PT Indofarma Global Medika (IGM). Segmen Pharma ceutical Engineering adalah segmen
pengembangan usaha yang mulai dirintis Perseroan sejak lama dan mulai dikomersialisasikan sejak
tahun 2012. Kegiatan pada segmen ini termasuk penjualan dan pemeliharaan mesin pengemasan
untuk industry farmasi kepada pihak luar. Untuk dapat menjaga orgisinalitas produk mesin tersebut,
Perseroan memberikan nama merek Indomach.

b) Alat kesehatan dan Produk Lainnya

Produk Obat dan alat kesehatan Hingga akhir tahun 2018, Perseroan telah memiliki 231
persetujuan izin edar baik yang dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI maupun
Kementerian Kesehatan RI. Ethical Generik (OGB) adalah obat yang telahh abis masa patennya dan
memiliki penamaan obat yang sama dengan zat aktif berkhasiat yang dikandungnya, sesuai nama
resmi International Non Propietary Names yang telah ditetapkan dalam Farmakope Indonesia. Ethical
Branded adalah Obatgenerik yang diberi nama atau merek dagang. Over The Counter (OTC) adalah
obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, seperti obat bebas, obat bebas terbatas, herbal, suplemen
makanan. Alat Kesehatan adalah instrumen, aparatus, dan/atau implan yang tidak mengandung obat
yang digunakan untuk mengidentifikasi, mencegah, mendiagnosis suatu penyakit atau kondisi
seseorang. Alat Kesehatan ini terdiri dari peralatan medis dan peralatan habis pakai.

c) Produk Pharmaceutical Engineering

Perseroan juga mengembangkan produk Pharmaceutical Engineering sebagai salah satu kegiatan
pengembangan usaha yang mulai dirintis Perseroan sejaktahun 1999 untuk memenuhi kebutuhan
internal Perseroan dan mulai dikomersialisasikan sejak tahun 2012. Produk Pharmaceutical
Engineering yang diproduksi dan dipasarkan Perseroan adalah mesin pengemasan untuk industri
farmasi. Untuk dapat menjaga orisinalitas produk mesin tersebut, Perseroan memberikan nama merek
Indomach.

11
A. Infrastruktur keuangan
1. Standar penyajian informasi dan kesesuaian terhadap Standar Akuntansi Keuangan

Analisa dan pembahasan kinerja keuangan pada laporan tahunan ini mengacu pada Laporan
Keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir 31 Desember 2018 dan 31 Desember 2017 yang telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Hendrawinata Hanny Erwin dan Sumargo Laporan keuangan
konsolidasian Perseroan disusun dan disajikan sesuai Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di
Indonesia, yaitu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), yang mencakup Pernyataan dan
Interpretasi yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (“DSAK”) Ikatan Akuntan
Indonesia dan Peraturan Pasar Modal yang berlaku antara lain Peraturan Badan Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No. VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian Laporan
Keuangan, keputusan Ketua Bapepam-LK No. KEP-347/BL/2012 tentang Penyajian dan
Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik.
Standar baru revisi dan interprestasi yang telah diterbitkan namun berlaku efektif untuk tahun
buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2018 adalah sebagai berikut:
1. ISAK No 33 “Transaksi Valuta Asing dan Imbalan Dimuka”
2. ISAK No. 34 “Ketidakpastian dalam Perlakuan Pajak Penghasilan”
3. Amandemen terhadap PSAK No. 22 “Kombinasi Bisnis”
4. Amandemen terhadap PSAK No. 24 “Imbalan Kerja”
5. Amandemen terhadap PSAK No. 26 “Biaya Pinjaman”
6. Amandemen terhadap PSAK No. 46 “Pajak Penghasilan”
7. Amandemen terhadap PSAK No. 66 “Pengendalian Bersama”
8. PSAK No 71 “Instrumen Keuangan”
9. PSAK No 72 “Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan”
10. PSAK No. 73 “Sewa”

PSAK No. 71, PSAK No. 72 dan PSAK No. 73 berlaku efektif 1 Januari 2020. Standar
lainnya berlaku efektif pada 1 Januari 2019. Penerapan dini atas standar-standar tersebut
diperkenankan, kecuali PSAK No. 73 hanya diperkenankan jika telah menerapkan dini PSAK No. 72.
Pada saat laporan keuangan konsolidasian diotorisasi dan laporan tahunan disusun, Perseroan masih
mempelajari dampak yang mungkin timbul dari penerapan standar baru dan revisi yang telah
diterbitkan namun belum berlaku efektif di atas setahun pengaruhnya pada laporan keuangan
konsolidasian Perseroan.

3. Laporan Auditan
Laporan audit independen

12
No/Ref : 00045/2.1127/AU.I/04/0336-3/1/III/2019

Pemeganag Saham, Dewan Komisaris dan Direksi PT Indofarma (persero) Tbk

Kami telah mengaudit laporan keuangan konsolidasian PT Indofarma (persero) Tbk dan entitas
anaknya terampir, yang terdiri dari laporan posisi keuangan konsolidasian tanggal 31 Desember 2018
serta laporan laba rugi kompherensif, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas konsolidasian
untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, dan suatu ikhtisar kebijakan akuntansi signifikan dan
informasi penjelasan lainnya.

Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan konsolidasian

Manajemen bertaanggung jawab atas penyusunan dan penyajian wjar laporan keuangan
konsolidasian ini sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, dan atas pengendalian
internal yang dianggap perlu oleh manajemen untuk memungkinan penyusunan laporan keuangan
konsolidasian yang bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan
maupun kesalahan.

Tanggung jawab auditor

Tanggung jawab kami adalah untuk menyatakan suatu opini atas laporan keuangan konsolidasian
ini berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit kami berdasarkan Standar Audit yang
ditetapkan oleh Institut Akuntansi Publik Indonesia. Standar tersebut mengahruskan kami untuk
mematuhi ketentuan etika serta merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan
memadai tentang apakah laporan keuangan konsolidasian bebas dari kesalahan penyajian material.

Suatu audit melibatkan pelaksanaan prosedur untuk memperoleh bukti audit tentang angka-angka
dan pengungkapan adalam laporan keuangan konsolidasian. Prosedur yang dipilih bergantung pada
pertimbangan auditor, termasuk penilaian atas risiko kesalahan penyajian material dalam laporan
keuangan konsolidasian, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan. Dalam
melakukan penilaian risiko tersebut, auditor mempertimbangkan pengendalian internal yang relevan
dengan penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan konsolidasian entitas untuk merancang
prosedur audit yang tepat sesuai dengan kondisinya, tetapi bukan untuk tujuan menyatakan opini atas
keefektivitasan pengendalian internal entitas. Suatu audit juga mencakup pengevaluasian atas
ketepatan kebijakan akuntansi yang digunakan dan kewajaran estimasi akuntansi yang dibuat oleh
manajemen, serta pengevaluasian atas penyajian laporan keuangan konsolidasian secara keseluruhan.
Kami yakin bahwa bukti audit yang telah kami peroleh adalah cukup dan tepat untuk menyediakan
suatu basis bagi opini audit kami.

Opini

13
Menurut opini kami, laporan keuangan konsolidasian terlampir menyajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian PT Indofarma (persero) Tbk dan entitas
anaknya tanggal 31 Desember 2018, serta kinerja keuangan dan arus kas konsolidasiannya untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

Hal lain

Audit kami laksanakan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
konsolidasian secara keseluruhan, informasi tambahan dalam lampiran I-V mengenai laporan PT
Indofarma (persero) Tbk (entitas induk), disajikan untuk tujuan analisis dan bukan merupakan bagian
yang diharuskan dari laporan keuangan konsolidasian. Informasi tambahan tersebut telah menjadi
objek prosedur audit yang kami terapkan dalam audit atas laporan keuangan konsolidasian terlampir
dan menurut opini kami, informasi tersebut disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
berkaitan dengan laporan keuangan konsolidasian terlampir secara keseluruhan.

4. Penghargaan perusahaan

 Top 5 Indonesia Most Admired Companies 2018 in Pharmacy Sector, tanggal 9 Mei
2018
 Top 5 Popular Company in Pharmacy Sector, Category Pharmacy, 24 Agustus 2018
 Juara III Produk Inovasi Terbanyak Paviliun Indonesia Sehat IBD Expo tanggal 6
Oktober 2018.
 Top 50 Big Capitalization Public Listed Company, tanggal 10 Desember 2018

BAB IV

EVALUASI CORPORATE GOVERMANC

A. Prinsip Dasar dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik

GCG didasarkan pada prinsip metode pengambilan keputusan dan pengelolaan aktivitas entitas
usaha yang akuntabel, yang kemudian berelasi langsung terhadap pengelolaan organisasi yang
berkelanjutan dan iklim investasi. GCG merupakan sebuah mekanisme yang mengatur hubungan
antar organ perusahaan; baik hubungan internal maupun eksternal yang berlandaskan pada peraturan,
perundang-undangan dan etika berusaha.
Pengimplementasian GCG, Perseroan mengacu pada beberapa peraturan perundang-
undangan, utamanya Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, atau UUPT.

14
Undang-undang ini memberikan fondasi menyeluruh terhadap aspek pengelolaan organisasi
perusahaan; mulai dari hak dan kewajiban pemegang saham, tugas dan wewenang Direksi dan Dewan
Komisaris, hingga hubungan Perseroan dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal, dimana
aspek-aspek tersebut juga diatur dalam Anggaran Dasar Perseroan.
Penerapan GCG yang mengacu pada praktik terbaik akan meningkatkan kepercayaan
Pemegang Saham dan para Pemangku Kepentingan dan membawa Perseroan kepada kemajuan yang
signifikan dan berkelanjutan. Di samping itu, Perseroan juga mengacu pada Peraturan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) No. PER-01/ MBU/2011 yang kemudian diubah dengan No.
PER-09/ MBU/2012, dimana disebutkan bahwa GCG adalah prinsipprinsip yang mendasari suatu
proses dan mekanisme
pengelolaan perusahaan berlandaskan perundangundangan dan etika berusaha.
Berdasarkan Peraturan tersebut, tujuan penerapan prinsipprinsip GCG pada perusahaan BUMN yaitu:
1. Mengoptimalkan nilai BUMN agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara
nasional maupun internasional.
2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan efektif, serta memberdayakan
fungsi dan meningkatkan kemandirian organ perseroan.
3. Mendorong organ perseroan dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi
nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta
kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial BUMN terhadap pemangku kepentingan
maupun kelestarian lingkungan di sekitar BUMN.
4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.
5. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.

Prinsip implementasi GCG yang digunakan Perseroan mengacu pada Pedoman Umum GCG dari
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) melalui asas-asas GCG, yaitu Transparency atau
Transparansi Accountability atau Akuntabilitas, Responsibility atau Tanggung Jawab, Independency
atau Kemandirian, dan Fairness atau Kewajaran dan Kesetaraan (TARIF).
Penjelasan prinsip-prinsip dasar di atas dan penerapannya secara umum di lingkup Perseroan
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 prinsip-prinsip dasar di atas dan penerapannya secara umum di lingkup Perseroan
Prinsip Dasar Penjelasan Sesuai Pedoman GCG Penerapan di Lingkup Indofarma
Indofarma
Keterbukaan Transparansi sebagai keterbukaan Perseroan memiliki komitmen
dalam melaksanakan proses untuk mengungkapkan laporan
pengambilan keputusan dan keuangan disertai dengan informasi
keterbukaan dalam mengemukakan non-keuangan yang menyertai
informasi material dan relevan laporan keuangan tersebut kepada

15
mengenai pengelolaan aspek semua pihak yang berkepentingan
operasional dan usaha. Demi sesuai Anggaran Dasar Perseroan,
kepentingan masyarakat Perseroan peraturan perundang-undangan, dan
akan senantiasa memastikan bahwa standar akuntansi yang berlaku di
pengungkapan berbagai hal material Indonesia. Pihak yang berhak
mengenai korporasi; mencakup menyampaikan informasi sesuai
situasi keuangan capaian usaha, prinsip transparansi tersebut
informasi kepemilikan, dan dikendalikan sesuai kewenangannya
governance akan selalu tepat waktu mengacu pada kebijakan
dan akurat; serta akan menerapkan Pengendalian Informasi Perseroan
sistem yang memungkinkan yang disahkan pada 27 November
pemegang saham untuk mengakses 2017, sebagai berikut:
informasi ini dengan kesempatan 1. Direksi dan Dewan Komisaris
yang Perseroan.
sama secara memadai. 2. Corporate Secretary dan atau
Pejabat Lain yang ditunjuk oleh
Perseroan.
3. Media Situs Web Perseroan dan
portal Kementerian BUMN oleh
Tim Pengelola Situs Web.
Akuntabilitas Akuntabilitas sebagai kejelasan Perseroan memiliki keyakinan
fungsi, pelaksanaan dan bahwa penerapan akuntabilitas akan
pertanggungjawaban organ menjamin adanya pemberdayaan
perusahaan sehingga pengelolaan Dewan Komisaris, jaminan
Perseroan terlaksana secara efektif. perlindungan kepada pemegang
Perseroan meyakini bahwa saham khususnya pemegang saham
akuntabilitas berhubungan dengan minoritas serta pembatasan
keberadaan sistem yang kekuasaan yang jelas di jajaran
mengendalikan hubungan antara Direksi. Dalam prakteknya,
individu dan/atau organ yang ada di akuntabilitas yang diterapkan dalam
Perseroan dengan mendorong seluruh perusahaan didasarkan kepada
individu dan/atau organ Perseroan kewajiban individu dan/atau organ
menyadari tanggungjawab, kerja perusahaan berkaitan dengan
wewenang, hak serta kewajibannya. pelaksanaan wewenang yang
dimilikinya dan/atau pelaksanaan
tanggung jawab yang dibebankan
oleh perusahaan kepadanya.

16
Kewajiban akuntabilitas ini
meliputi:
1. Memberikan penjelasan atau
justifikasi atas pelaksanaan
wewenang atau pelaksanaan
tugas.
2. Pelaporan hasil atas pelaksanaan
wewenang atau tugas tersebut.
3. Pertanggungjawaban atas setiap
beban atau kewajiban yang
berasal dari aktivitas tersebut.

Dalam kaitannya dengan para pihak


yang berkepentingan, penerapan
akuntabilitas dalam kegiatan usaha
harus selalu sejalan dengan etika
usaha yang baik, memenuhi
kewajiban terhadap pemerintah
sesuai dengan hukum yang berlaku,
serta menghormati budaya
setempat.
Perseroan melaksanakan praktek
audit yang independen dan sehat
untuk menunjang akuntabilitas
dengan mengoptimalkan peran
Satuan Pengawasan Intern (SPI),
Komite Audit, Kmoite Nominasi &
remunerasi serta Komite GCG dan
Pemantauan Risiko dan Kantor
Akuntan Publik.
Pertanggungjawaba Responsibilitas atau tanggung jawab Laporan terkait penerimaan
n sebagai kesesuaian di dalam gratifikasi, e-LHKPN, kepatuhan
pengelolaan aktivitas usaha terhadap terhadap ketentuan hubungan
peraturan perundang-undangan yang industrial, perlindungan lingkungan
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi hidup, serta kesehatan dan
yang sehat. Hal ini berlaku baik untuk keselamatan kerja merupakan
manajemen maupun karyawan, beberapa contoh komitmen

17
dimana setiap karyawan diwajibkan tanggung jawab Perseroan yang
untuk patuh dan taat terhadap aturan senantiasa dipegang dan
internal Perseroan maupun aturan dilaksanakan.
perundangan-undangan.
Kemandirian Kemandirian sebagai suatu keadaan Perseroan meyakini bahwa
dimana perusahaan dikelola secara kemandirian diperlukan agar dapat
professional tanpa benturan membuat keputusan yang terbaik
kepentingan dan pengaruh/tekanan bagi perusahaan. Keputusan terbaik
dari pihak manapun yang tidak sesuai hanya dapat dihasilkan jika
dengan peraturan dan perusahaan bebas dari pengaruh
perundangundangan yang berlaku atau tekanan pihak lain yang tidak
serta prinsip-prinsip korporasi yang sesuai dengan mekanisme korporasi
sehat.
Kesetaraan dan Fairness atau kewajaran sebagai Perseroan menjamin bahwa setiap
Kewajaran keadilan dan kesetaraan di dalam pemegang saham dan stakeholder
memenuhi hakhak stakeholder yang perusahaan mendapatkan perlakuan
timbul berdasarkan perjanjian dan yang wajar, setara serta dapat
peraturan perundangundangan yang menggunakan hak-haknya sesuai
berlaku. dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Oleh
karena
itu, setiap keputusan manajemen
atau pemegang saham mayoritas
yang berpotensi mengurangi hak
dan/atau porsi pemegang saham
minoritas, maka yang berkeberatan
dijamin dapat menggunakan haknya
sesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Selain itu, Perseroan menjamin
bahwa setiap pihak yang
berkepentingan akan mendapatkan
perlakuan sesuai
ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Perseroan juga bertekad untuk
senantiasa berlaku jujur dan adil di

18
dalam mengambil kebijakan yang
berkaitan dengan isu-isu gender,
agama, suku dan politik.

BAB V
ANALISIS KEUANGAN DAN DATA OPERASIONAL

A. Analisis Komparatif

Analisis perbandingan (komparatif) adalah analisis yang menggunakan metode horizontal dalam
melakukan analisisnya dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang arah dan kecenderungan
(tendensi) tentang perubahan yang mungkin akan terjadi pada setiap elemen laporan keuangan di
masa yang akan datang.

Informasi hasil analisis komparatif bermanfaat untuk memprediksi tentang kemungkinan yang
akan terjadi pada setiap elemen laporan keuangan di masa yang akan datang.

Berikut merupakan ringkasan laporan keuangan (neraca) dan laporan laba rugi PT Indofarma
(persero) Tbk dengan melakukan analisis metode perbandingan (komparatif):
Tabel 5.1 Analisis komparatif PT Indofarma (persero) Tbk tahun 2014-2018
NeracaSaldo 2014 2015 2016 2017 2018
Kas 135.754.602.477 313.472.666.666 56.233.906.214 182.587.624.895 182.587.624.895

19
Piutang usaha 187.933.628.760 190.237.969.425 207.705.027.953 174.712.215.906 163.737.603.056
Persediaan 216.406.886.501 300.271.746.960 292.411.114.993 254.678.984.656 215.494.611.892
Total asset 782.887.635.406 1.068.157.388.878 853.506.463.800 930.982.222.120 867.493.107.334
lancar
Aset Tetap 496.765.557.301 487.333.743.682 398.427.199.954 425.706.696.909 394.584.546.295
Total Aset tetap 466.876.024.725 465.551.175.363 528.126.857.320 598.892.560.170 574.857.501.241
Total aset 1.249.763.660.131 1.533.708.564.241 1.381.633.321.120 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575
Utang usaha 326.915.469.225 527.405.757.633 266.281.459.403 376.648.899.346 204.358.052.185
Total Kewajiban 600.565.598.576 846.731.128.253 704.929.715.911 893.289.027.427 827.237.832.766
lancar
Utang jangka 15.627.107.799 10.609.852.460 - 44.718.791.500 50.758.555.512
panjang
Total utang 61.496.036.452 94.268.546.525 100.946.524.578 110.175.857.159 118.465.915.951
jangka panjang
Total Kewajiban 662.061.635.028 940.999.674.778 805.876.240.489 1.003.464.884.586 945.703.748.717
Total ekuitas 587.702.025.103 592.708.889.463 575.757.080.631 526.409.897.704 496.646.859.858
Total kewajiban 1.249.763.660.131 1.533.708.564.241 1.381.633.321.120 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575
dan ekuitas
Laporan 2014 2015 2016 2017 2018
LabaRugi
Penjualan 1.381.436.578.115 1.621.898.667.657 1 .674.702.722.328 1.631.317.499.096 1.592.979.941.259
Beban pokok 1.069.010.401.518 1.299.968.648.045 1.337.793.754.317 1.248.504.215.451 1.308.760.117.807
penjualan
Beban 265.714.509.378 303.472.846.815 1.434.192.828.004 287.095.966.135 258.309.690.778
operasional
Laba/rugi bersih 1.440.337.677 6.565.707.419 (17.367.399.212) (46.284.759.301) (32.736.482.313)
(EAT)
EBIT 7.768.986.701 1 4.175.137.737 (18.921.337.613) (56.816.969.124) (25.298.215.466)

B. Analisis Common Size


Analisis common-size adalah teknik analisis yang dilakukan dengan cara membuat perbandingan
antara suatu elemen (laporan keuangan) tertentu sebagai komponen dari elemen yang lain pada
laporan keuangan yang sama. Analisis common size disusun dengan cara menghitung tiap-tiap
rekening dalam laporan laba-rugi dan neraca menjadi proporsi dari total penjualan (untuk laporan
laba-rugi) atau dari total aktiva (untuk neraca).
NERACA
1. Aktiva =( item-item Aktiva / Total Aktiva) x 100%
2. Pasiva = (item-item Pasiva / Total Pasiva) x 100%
3. Kewajiban =(item-item Kewajiban / Total Kewajiban dan Ekuitas) x 100%
4. Ekuitas =(item-item Ekuitas / Total Kewajiban dan Ekuitas) x 100%

Tabel 5.2 Perhitungan analisis Common-size tahun 2017 dan 218

20
Persentase Persentase
Neraca 2017 2018 Common-size Common-size KET
2017 2018
Kas 182.587.624.895 182.587.624.895 11,9% 12,6% v
Piutang usaha 174.712.215.906 163.737.603.056 11,4% 11,3% x
Persediaan 254.678.984.656 215.494.611.892 16,6% 14,9% x
Total asset
lancar 930.982.222.120 867.493.107.334 60,8% 60,1% x
Aset Tetap 425.706.696.909 394.584.546.295 27,8% 27,3 x
Total Aset
tetap 598.892.560.170 574.857.501.241 39,1% 39,8% v
Total aset 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575 100% 100% -
Utang usaha 376.648.899.346 204.358.052.185 24,6% 13,3% x
Total Kewajiban 893.289.027.427 827.237.832.766 58,3% 54% x
lancar
Utang jangka 44.718.791.500 50.758.555.512 2,9% 3,3% v
panjang
Total utang 110.175.857.159 118.465.915.951 7,2% 7,7% v
jangka panjang
Total 1.003.464.884.586 945.703.748.717 65,5% 61,8% x
Kewajiban
Modal Saham 309.926.750.000 309.926.750.000 20,2% 20,2% -
Total ekuitas 526.409.897.704 496.646.859.858 34,4% 32,4% -
Total
kewajiban dan 1.529.874.782.290 1.442.350.608.575 100% 100% -
ekuitas

Keretangan Hasil Analisis:


V= Persentase meningkat dari tahun sebelumnya
X= Persentase menurun dari tahun sebelumnya
- = Tidak berpengaruh

Apabila golongan akun asset menunjukan hasil V maka artinya perusahaan berhasil meningkatkan
asset dari tahun sebelumnya dan bagus untuk kondisi perusahaan. Namun apabila hasil X maka
artinya perusahaan kondisi perusahaan mengalami penurunan dalam mengelola asset.
Apabila golongan akun kewajiban menunjukan hasil V maka artinya utang atau kewajiban
perusahaan meningkat dan tidak bagus untuk kondisi perusahaan karena perusahaan harus mampu
membayar kewajiaban tersebut yang sudah jatuh tempo atau kewajiban untuk masa akan dating.
Namun apabila hasil X maka artinya persetase kewajiban menurun dan kondisi perusahaan tidak
banyak menanggung kewajiban dari tahun sebelumnya.
Laporan Neraca menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan signifikan komposisi aktiva lancar
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Piutang dagang mengalami penurunan manfaat relatifnya

21
dan persediaan mengalami penurunan manfaat relatifnya. Hanya kas yang mengalami penigkatan
walaupun persentase peningkatannya tidak besar. Dengan adanya penurunan piutang dagang ,
penigkatan posisi kas akan berakibat pada perusahaan mampua untuk menagih dari konsumen.

C. Analisis Trend
Analisis trend merupakan suatu metode analisis yang ditujukan untuk melakukan suatu estimasi
atau peramalan pada masa yang akan datang. Untuk melakukan peramalan dengan baik maka
dibutuhkan berbagai macam informasi (data) yang cukup banyak dan diamati dalam periode waktu
yang relatif cukup panjang, sehingga dari hasil analisis tersebut dapat diketahui sampai berapa besar
fluktuasi yang terjadi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terhadap perubahan tersebut.
Secara teoristis, dalam analisis time series yang paling menentukan adalah kualitas atau keakuratan
dari informasi atau data-data yang diperoleh serta waktu atau periode dari data-data tersebut
dikumpulkan.
 Metode Least Square
Metode yang digunakan untuk analisis time series adalah Metode Garis Linier Secara Bebas (Free
Hand Method), Metode Setengah Rata-Rata (Semi Average Method), Metode Rata-Rata Bergerak
(Moving Average Method) dan Metode Kuadrat Terkecil (Least Square Method). Dalam hal ini akan
lebih dikhususkan untuk membahas analisis time series dengan metode kuadrat terkecil yang dibagi
dalam dua kasus, yaitu kasus data genap dan kasus data ganjil. Secara umum persamaan garis linier
dari analisis time series adalah :
Y=a+bX
Keterangan :
Y = variabel yang dicari trendnya
X = variabel waktu (tahun).
Sedangkan untuk mencari nilai konstanta (a) dan parameter (b) adalah :
a = ΣY / N dan b =ΣXY / ΣX2

Tabel 5.3 Perhitungan Trend Penjualan PT Indofarma (persero) Tbk


Tahun Penjualan (Y) X XY X2
2014 1.381.436.578.115 -2 -2.762.873.156.230 4
2015 1.621.898.667.657 -1 -1.621.898.667.657 1
2016 1 .674.702.722.328 0 0 0
2017 1.631.317.499.096 1 1.631.317.499.096 1
2018 1.592.979.941.259 2 3.185.959.882.518 4
JUMLAH 6.227.632.686.127 432.505.557.727 10

22
Untuk mencari nilai a dan b adalah sebagai berikut :
a = 6.227.632.686.127 = 1.245.526.537.225

b = 432.505.557.727 = 43.250.555.773

10
Persamaan garis liniernya adalah : Y = 1.245.526.537.225+ 43.250.555.773 X.
“X” untuk tahun 2025 adalah 9, sehingga Y = 1.245.526.537.225+ 43.250.555.773 (9) artinya
penjualan pada PT Indofarma (persero) Tbk pada tahun 2025 diperkirakan sebesar
Rp1.634.781.539.182

D. Analisis Rasio
Analisis laporan keuangan adalah suatu proses penelitian laporan keuangan beserta unsure-
unsurnya yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memprediksi kondisi keuangan perusahaan atau
badan usaha dan juga mengevaluasi hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan atau badan usaha pada
masa lalu dan sekarang.

1. Analisis Rasio Likuiditas


 Current Ratio

Rasio lancar (Current Ratio) sangat berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, dimana dapat diketahui sampai seberapa jauh
sebenarnya jumlah aktiva lancar perusahaan dapat menjamin hutang lancarnya. Semakin tinggi rasio
berarti semakin terjamin hutang-hutang perusahaan kepada kreditor. 

Current Ratio =   Aktiva Lancar 


                Utang Lancar

 Quick ratio

Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya


dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama
untuk direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid daripada

23
piutang. Jika current ratio tinggi tapi quick rationya rendah menunjukkan adanya investasi yang
sangat besar dalam persediaan.

Quick ratio =  Aset Lancar – Persediaan


                                   Utang Lancar 
 
Tabel 5.4 Perhitungan rasio likuiditas tahun 2014-2018

Rasio 2014 2015 2016 2017 2018 Rata-rata


Likuiditas
Current 1,304 1,262 1,211 1,042 1,049 1,173
Ratio
Quick Ratio 0,943 0,907 0,796 0,757 0,741 0,828

2.5

1.5
Quick Ratio
1 Current Ratio

0.5

0
2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 5.1 Current Ratio dan Quick Ratio

Keterangan hasil analisa rasio likuiditas:

 Dari table perhitungan Current ratio dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 1,173 artinya bahwa setiap utang lancar sebesar Rp 1
dapat dijamin oleh aktiva lancar sebesar 117,3%. Dapat Disimpulkan Indofarma (Persero) Tbk
dalam jangka waktu 5 tahun terakhir mampu melunasi hutang jangka pendeknya karena hasil
persentase setiap tahunnya selalu melebihi angka 100%.

 Dari table perhitungan dan grafik Current ratio dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT.
Indofarma (Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 0,828 artinya setiap untang lancar sebesar
Rp 1 dapat dijamin oleh Quick Aset (Kas piutang efek) sebesar 82,8%. Dapat disimpulkan
Indofarma (Persero) Tbk dalam jangka waktu 5 tahun terakhir cukup mampu melunasi hutang
jangka pendeknya.

24
Dari grafik dapat dilihat bahwa terjadi penurunan kemampuan PT. Indofarma (Persero) Tbk dalam
melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya.

2. Analisis Rasio Aktivitas


 Day sales outstanding

Merupakan jenis rasio keuangan aktivitas yang digunakan utnuk mengukur berapa lama penagihan
piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu
periode. Semakin tinggi rasio menujukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang
semakin rendah ( bandingkan dengan rasio tahun sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi
perusahaan semakin baik. Sebaliknya jika  rasio semakin rendah ada over investment dalam piutang.

Day sales outstanding = Piutang Usaha


 Penjualan/360  

 Inventory turn over

Merupakan jenis rasio keuangan aktivitas yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang
ditanam dalam persediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode . Rasio ini dikenal dengan
nama rasio perputaran sediaan (inventory turn over.) dapat diartikan pula bahwa perputaran sediaan
merupakan rasio yang menujukan berapa kali jumlah barang sediaan diganti dalam satu tahun.
Semakin kecil rasio ini, semakin jelek demikian pula sebaliknya.
Inventory Turnover =    Penjualan   
                                   Persediaan
 Fixed asset turnover
Merupakan jenis rasio keuangan aktivitas yang digunakan untuk mengukur beberapa kali dana yang
ditannamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Atau dengan kata lain, untuk mengukur
apakah perusahaan sudah menggunakan kapasitas aktiva tetap sepenuhnya atau belum. Untuk mencari
rasio ini caranya adalah membandingkan antara penjualan bersih dengan aktiva tetap dalam suatu
periode.
Fixed asset turn over =         Penjualan       
                                        Total Aktiva Tetap

 Total Assets turn over

25
Merupakan jenis rasio keuangan aktivitas yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva
yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjulan yang diperoleh dari tiap rupiah
aktiva.
Total assets turn over =     Penjualan   
                                      Total aktiva

Tabel 5.5 Perhitungan rasio aktivitas tahun 2014-2018

Rasio 2014 2015 216 2017 2018 Rata-rata


Aktivitas
Days sales 49 42 45 39 36 42
outstanding
Inventory 6,38 5,40 5,73 6,41 7,57 6,2
turnover
Net fixed 2,78 3,33 4,20 3,38 4,13 3,5
assets
Total assets 1,11 1,06 1,21 1,07 1,13 1,1
turnover

Days sales outstanding Inventory turnover


60 8
7
50
6
40 5
30 4
3
20
2
10 1
0 0
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 5.2 Days sales outstanding Grafik 5.3 Inventory turnover

26
Net fixed assets Total assets turnover
4.5 1.25
4 1.2
3.5
3 1.15
2.5 1.1
2
1.5 1.05
1 1
0.5
0 0.95
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 5.4 Net fixed assets Grafik 5.5 Total assets turnover

Keterangan hasil analisis rasio aktivitas:

 Dari tabel perhitungan Days of sales outstanding dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT.
Indofarma (Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 42 artinya perkirakan jumlah hari rata-rata
yang diperlukan untuk mengumpulkan pada piutang usaha adalah 42 hari.
Dari grafik Days of sales outstanding dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk semakin cepat hari pengumpulan piutang usahanya tahun 2014 adalah 49 hari
sedangkan tahun 2018 adalah 36 hari.

 .Dari tabel perhitungan Inventory turnover dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT.
Indofarma (Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 6,2 artinya perputaran persediaan PT.
Indofarma (Persero) Tbk adalah 6,2 kali.
Dari grafik Inventory turnover dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma (Persero)
Tbk mengalami perputaran piutang yang baik atau semakin banyak kali perputaran piutangnya.

 .Dari tabel perhitungan Net fixed assets dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 3,5 artinya PT. Indofarma (Persero) Tbk cukup baik
dalam produktivitas aktiva tetap dalam menghasilkan pendapatan. PT Indofarma (Persero) Tbk
menghasilkan 3,5 kali pendapatan hanya dengan menggunakan 1 kali asset tetap dalam
operasional. Dengan perbandingan 3:1.
Dari grafik Net fixed assets PT. Indofarma (Persero) Tbk dari tahun 2014-2018 menggukan aktiva
tetap dalam menghasilkan pendapatan mengalami turun-naik pada persentase grafikya artinya
belum optimal.
 Dari tabel perhitungan Total assets turnover dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT
Indofarma (Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 1,1 artinya PT. Indofarma (Persero) Tbk

27
hanya bisa menghasikan 1 kali pendapatan bersih dengan menggunakan 1 kali seluruh asset yang
dimikinya selama 5 tahun terakhir. Dengan perbandingan 1:1.
Dari grafik Total assets turnover PT. Indofarma (Persero) Tbk dari tahun 2014-2018 menggukan
aktiva tetap dalam menghasilkan pendapatan mengalami turun-naik yang terlalu tajam pada
persentase grafikya artinya buruk dalam pemanfaatan seluruh aktiva tetap dalam menghasilkan
pendapatan.

3. Analisis Rasio Solvabilitas


 Total Debt to Asset Ratio

Debt ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total hutang
dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau
seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.     
Debt to asset ratio = Total Kewajiban
                        Total asset

 Debt to Equity Ratio  


Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini
dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh
ekuitas.                               
Debt to equity ratio = Total Kewajiban
                         Modal Saham

 Equity Multiplier
Rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam menggunakan ekuitas pemegang saham.
Rasio ini juga diartikan sebagai berapa porsi dari aktiva perusahaan yang dibiayai oleh pemegang
saham.
Equity Multiplier = Total aset
                 Modal Saham
Tabel 5.6 Perhitungan rasio solvabilitas tahun 2014-2018

Rasio 2014 2015 2016 2017 218 Rata-rata

28
Solvabilitas
Total debt ratio 0,53 0,61 0,58 0,66 0,66 0,60
Debt-to-equity 2,14 3,04 2,60 3,24 3,04 2,81
ratio
Equity 4,03 4,95 4,46 4,94 4,65 4,60
multiplier

Total debt ratio Debt-to-equity ratio


0.7 3.5
0.6 3
0.5 2.5
0.4 2
0.3 1.5
0.2 1
0.1 0.5
0 0
2014 2015 2016 2017 2018 2014 2015 2016 2017 2018

Gambar 5.6 Grafik Rasio Total debt ratio Gambar 5.7 Grafik Debt-to-equity ratio

Equity multiplier ratio


6
5
4
3
2
1
0
2014 2015 2016 2017 2018

Grafik 5.8 Equity multiplier ratio

Keterangan hasil analisis rasio solvabilitas:

 Dari tabel perhitungan Total debt ratio dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 0,60 artinya PT. Indofarma (Persero) Tbk sebanyak
0,60 atau 60% utang dipergunakan untuk membiayai aktiva perusahaan.
Dari grafik Total debt ratio menunjukan persentase utang yang dipergunakan untuk membiayai
aktiva perusahaan semakin meningkat selama 5 tahun terakhir.

 Dari tabel perhitungan Debt-to-equity dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 2,81 artinya PT. Indofarma (Persero) Tbk dibiayai

29
sebanyak 281% oleh pemberi utang, bukan oleh sumber keuangannya sendiri. Pertanda buruk
bagi keuangan perusahaan karena hampir seluruh kegiatan operasional perusahaan dibiayai oleh
pemberi utang, bukan oleh sumber keuangannya sendiri.
Dari grafik Debt-to-equity dari tahun 2014-2015 menunjukan persentase yang tutun-naik namun
tidak tajam yang artinya PT. Indofarma (Persero) Tbk masih tak bisa melakukan kegiatan
operasional perusahaan tanpa bantuan utang.

 Dari tabel perhitungan Equity multiplier dapat dilihat bahwa dari tahun 2014-2018 PT. Indofarma
(Persero) Tbk berada pada angka rata-rata 4,60 artinya porsi aktiva PT. Indofarma (Persero) Tbk
dibiayai 4,60 atau sebesar 460% oleh pemegang saham.
Angka tersebut pertanda buruk bagi perusahaan kareka semakin besar porsi pemegang saham
maka semakin banyak persentase bunga yang perlu dibayarkan.
Dari grafik Equity multiplier dari tahun 2014-2015 menunjukan persentase yang tutun-naik
namun tidak tajam yang artinya PT. Indofarma (Persero) menggunakan porsi ekuitas pemegang
saham dalam membiayai aktiva selama 5 tahun terakhir.

4. Analisis Rasio Profitabilitas


 Operating Margin Ratio

Rasio untuk menghitung seberapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan laba operasi dari
penjualan bersih perusahaan.

Operating margin ratio = Laba/rugi bersih


Penjualan

 Net Profit Margin Ratio


Rasio ini untuk menilai presentase laba bersih yang didapat setelah dikurangi pajak terhadap
pendapatan yang diperoleh dari penjualan. Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap
penjualan. Semakin tinggi net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan.
Operating margin ratio = Laba/rugi bersih setelah pajak
Penjualan

 Return on Assets Ratio


Rasio ini menilai persentase keuntungan yang diperoleh perusahaan terkait sumber daya atau total
asset sehingga efesiensi suatu perusahaan mengelola asetnya bisa terlihat dari persentase rasio ini.
ROA = Laba/rugi bersih

30
Total Aset

 Return on Equity Ratio


Rasio ini menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari investasi pemegang saham.
ROE = Laba/rugi bersih
Modal Saham

Tabel 5.7 Perhitungan rasio profitabilitas tahun 2014-2018

Rasio 2014 2015 2016 2017 2018 Rata-rata


Profitabilitas
Operating 0,01 0,01 -0,01 -0,03 -0,02 0,00
margin
Net profit 0,00 0,00 -0,1 -0,03 -0,02 -0,01
margin
ROA 0,00 0.01 -0,01 -0,03 -0,02 -0,01
ROE 0,00 0,02 -0,06 -0,15 -0,11 -0,06

0.1
0.05
0
ROE
-0.052014 2015 2016 2017 2018
ROA
-0.1 Margin keuntungan
bersih
-0.15
Margin operasional
-0.2
-0.25
-0.3

Grafik 5.9 Rasio Profitabilitas

Keterangan hasil analisis rasio profitabilitas:

 Dari laporan keuangan PT. Indofarma (Persero) Tbk rata-rata mengalami kerugian selama 5 tahun
terakhir mengalami krerugian yang dimulai pada tahun 2016-2018 Persetase yang didapat dari
tabel perhitungan pada rasio profitabilitas menunjukkan hasil yang buruk diangka rata-rata 0.
Artinya perusahaan tidak mampu menghasilkan laba dari kegiatan operasional perusahaan.

E. Analisis Keuangan Sistem Dupont

31
Tujuan analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana efektvitas perusahaan dalam
memutar modalnya, sehingga analisis ini mencakup berbagai rasio. Du Pont System ini didalamnya
menggabungkan rasio aktivitas / perputaran aktiva dengan rasio laba / profit margin atas penjualan
dan menunjukkan bagaimana keduanya berinteraksi dalam menentukan Return On Invesment (ROI),
yaitu profitabilitas atas aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio laba atas penjualan (profit margin)
dipengaruhi oleh tingkat penjualan dan laba bersih yang dihasilkan. Berarti profit margin ini
mencakup pula seluruh biaya yang digunakan dalam operasional perusahaan. Rasio aktivitas sendiri
dipengaruhi oleh penjualan dan total aktiva. Dapat dikatakan bahwa analisis ini tidak hanya
menfokuskan pada laba yang dicapai, tetapi juga pada invesatasi yang digunakan untuk menghasilkan
laba tersebut.

Bagan Du Pont

HargaPokokPenju
alan

BiayaPenjualan
Penjualan

Biaya ADM

Dikurangi
LabaBersih
Bunga

dibagi Total Biaya


Margin Laba Pajak

Penjualan

ROI dikali
Kas
Penjualan

dibagi Bank
AktivaLancar
Perputaran
total aktiva

Piutang
Ditambah
Total aktiva

AktivaTetap
Persediaan
32
Dari analisis rasio keuangan PT Indofarma (persero) Tbk tahun 2018 sebelumnya sudah didapat data-
data sebagai berikut:
Margin laba (Net profit margin) = -2%
Perputaran tolal aktiva (Total assets turnover) =1x

ROI = Margin laba X Perputaran tolal aktiva = -2% X 1x= -2%

ROI (Du Pont System) berada dibawah rata-rata industri menunjukkan bahwa perputaran aktiva dan
net profit margin sangat buruk. Hasil prhitungan diatas menunjukan hasil minus (-) artinya
perusahaan tidak bisa mengembalikan investasi kepada investor. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja
perusahaan PT Indofarma (persero) Tbk tidak bisa menghasilkan laba.

F. Analisis Kebagkrutan

Beberapa model prediksi kesulitan keuangan (financial distress prediction models) telah
dikembangkan beberapa tahun yang lalu. Model tersebut sama dengan model peringkat utang, tetapi
bukannya memprediksi peringkat, model memprediksi apakah perusahaan akan menghadapi beberapa
kondisi kesulitan, umumnya didefinisikan sebagai kepailitan.

Dalam berbagai studi akademik, Altman Z-score (bankruptcy model) dipergunakan sebagai alat
kontrol terukur terhadap status keuangan suatu perusahaan yang sedang mengalami kesulitan
keuangan (financial distress). Dengan kata lain, Altman Z-score dipergunakan sebagai alat untuk
memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan.

Altman Z-score dinyatakan dalam bentuk persamaan linear yang terdiri dari 4 hingga 5 koefisien “T”
yang mewakili rasio-rasio keuangan tertentu, yakni: Untuk perusahaan manufaktur, menggunakan
formula yang terdiri dari 5 koefisien, yakni:

Z = 0,717 T1 + 0,847 T2 + 3,107 T3 + 0,998 T5

Di mana:

T1 = modal kerja neto / total aset

33
T2 = saldo laba / total aset

T3 = EBIT / total aset

T5 = penjualan / total aset

Dengan zona diskiriman sebagai berikut:

Bila Z > 2,9 = zona “aman”

Bila 1,23 < Z < 2,9 = zona “abu-abu”

Bila Z < 1,23 = zona “distress”

Perhitungan analisis kebagkrutan menggunakan Altman Z-score pada PT Indofarma (persero) Tbk
tahun 2018 sebagai berikut:

Z = 0,717 T1 + 0,847 T2 + 3,107 T3 + 0,998 T5

Di mana:

T1 = modal kerja neto / total asset = 496.646.859.858/1.442.350.608.575 = 0,34

T2 = saldo laba / total asset = -32.736.482.313/1.442.350.608.575 = -0,02

T3 = EBIT / total asset = -25.298.215.466/1.442.350.608.575 = -0,01

T5 = penjualan / total asset = 1.592.979.941.259/1.442.350.608.575 = 1,10

Z = 0,717(0,34) + 0,847(-0,02) + 3,107(-0,02) + 0,998(1,10)

Z = 0,24378 + (-0,01694) + (-0,06214) + 1,0978

Z = 1,2625

Dilihat dari hasil perhitungan analisis kebagkrutan menggunakan Altman Z-score pada PT Indofarma
(persero) Tbk tahun 2018 menunjukkan angka “1,2625” Dengan zona diskiriman yang telah
dijelaskan diatas maka kondisi perusahaan PT Indofarma (persero Tbk adalah zona“abu-abu”.

34
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada laporan keuangan PT Indofarma (persero) Tbk
dengan menggunakan sumber data laporan keuangan dari tahun 2014 samapi dengan tahun 2018,
analisis laporan keuangan tersebut menggunakan meberapa pendekatan analisis kompratif, analisis,
common size, analisis trend, analisis rasio, analisis du pont, dan analisis kebangkrutan maka dipatkan
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dilihat dari semua hasil analisis kondisi keuangan PT Indofarma (persero) Tbk menunjukan
mengalami turun-naik setiap tahunnya.
2. Dilihat dari semua hasil analisis PT Indofarma (persero) Tbk menghasilkan persentase
analisis yang kurang bagus dan dapat dilihat hasil persentase yang berubah-ubah terjadi
karena PT Indofarma (persero) Tbk dalam tahap memperbaiki kondisi perusahaannya.
3. Dilihat dari hasil analisis rasio PT Indofarma (persero) Tbk tidak mampu menghasilkan laba
pada 4 tahun akhir menghasikan presentase rata-rata 0% pada rasio profitabilitas. Pada rasio
solvabilitas Sebesar 460% aktiva perusahaan didanai oleh pemegang saham, sebesar 281%
kegiatan operasional perusahaan dibiayai oleh utang bukan dari sumber keuangan sendiri,
dan sebesar 60% aktiva dibiayai oleh utang. Namun PT Indofarma (persero) Tbk pada rasio
likuiditas menghasilkan persentase diatas 100% artinya perusahaan masih mampu memenuhi
kewajiban jangka pendeknya, bisa dilihat juga pada rasio aktivitas hasil persentase yang
dihasilkan juga menunjukkan hasil yang terbilang baik artinya perusahaan masih bisa
menjalankan kegiatan operasional.
4. Dilihat dari hasil analisis du pont PT Indofarma (persero) Tbk pada 5 tahun terakhir ROI
menghasilkan nilai minus (-)artinya perusahaan tidak bisa mengembalikan investasi kepada
investor. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan PT Indofarma (persero) Tbk tidak
bisa menghasilkan laba.
5. Dilihat dari hasil analisis kebagkrutan PT Indofarma (persero) Tbk menggunakan Altman Z-
score menunjukan hasil angka “1,2625” Dengan zona diskiriman yang telah dijelaskan diatas
maka kondisi perusahaan PT Indofarma (persero) Tbk adalah zona“abu-abu”. Artinya
perusahaan masih bisa menjalankan kegiatan operasional dengan semestinya walaupun
mengalami beberapa kendala, perusahaan masih bisa melakukan strategi baru untuk bisa
kembali ke keadaan stabil.

35