Anda di halaman 1dari 14

ANESTRUS POST PARTUM SAPI POTONNG RAKYAT DAN

PENANGGULANGANNYA DENGAN CUE-MATE DAN INJEKSI


VITAMIN A,D, DAN E

Bayu Rosadi, Teguh Sumarsono, Darmawan

RINGKASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek aplikasi Cue-Mate (progesteron) dan vitamin
A,D,dan E terhadap masa anestrus dan fertilitas sapi betina pasca melahirkan. Dalam
penelitian ini digunakan sapi induk postpartum sebanyak 30 ekor dibagi ke dalam 3
perlakuan : sapi kontrol (P0), induk yang diberi perlakuan Cue-Mate (P1), dan induk yang
diberi injeksi vitamin A,D,dan E. Aplikasi Cue-Mate dilakukan pada induk pada hari ke-
40 setelah melahirkan. Pemberian vitamin A,D,E dimulai 7 hari pasca melahirkan
diinjeksikan intramuscular setiap 3 hari dengan dosis sesuai anjuran pabrikan. Peubah
yang diamati adalah kemunculan estrus pertama pasca melahirkan dan intensitas estrus
serta fertilitasnya. Setiap induk yang estrus diinseminasi. Fertilitas diukur berdasarkan
keberhasilan kebuntingan dengan pemeriksaan kebuntingan menggunakan USG, 50-74
hari pasca IB. Data masa anestrus pasca melahirkan dan intensitas estrus dianalisis dengan
uji t-student, sedangkan angka kebuntingan dianalisis dengan uji khi-kuadrat. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P1 dan P2 menyebabkan pemendekan masa
anestrus dengan masa anestrus post partum masing masing 68,8 hari dan 72,4 hari, lebih
cepat dibandingkan P0 yang mencapai rata-rata 83,4 hari. Tidak ada perbedaan pada
intensitas estrus pada semua perlakuan.

Kata kunci : sapi potong, postpartum, Cue-Mate, vitamin, anestrus


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Efisiensi reproduksi adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi usaha
budidaya sapi potong. Kondisi reproduksi ideal yang diupayakan adalah mendapatkan satu
anak perinduk setiap 12 bulan (Ahmadzadeh et al 2011). Karena berbagai masalah yang
mengganggu performans reproduksi sapi, kondisi ideal tersebut tidak selalu dapat
diwujudkan. Terjadinya anestrus postpartum menyebabkan jarak beranak sapi lebih dari
12 bulan.
Anestrus merupakan suatu keadaan pada hewan betina yang tidak menunjukkan gejala
estrus dalam jangka waktu yang lama. Anestrus sering merupakan penyebab infertilitas
pada sapi. Gangguan reproduksi ini umumnya terjadi pada sapi sesudah partus atau
inseminasi tanpa terjadi konsepsi (Berandinelli, 2007). Anestrus postpartum adalah kondisi
yang terjadi setelah partus, sapi gagal memperlihatkan estrus dan ovulasi.
Studi lapangan yang dilakukan di Provinsi Jambi menunjukkan bahwa sebagian besar
induk sapi potong mengalami anestrus postpartum lebih dari empat bulan, bahkan dapat
berkepanjangan sampai 48 bulan (Rosadi et al 2011). Kondisi anestrus dikaitkan dengan
kehadiran ovarium tidak aktif, pertumbuhan folikel yang terjadi tidak memungkinkan
folikel yang cukup matang untuk ovulasi (Montiel dan Ahuja, 2005).
Upaya peningkatan populasi ternak sapi terkendala belum optimalya kinerja
reproduksi induk sapi betina. Masalah yang sering muncul adalah interval kelahiran yang
panjang karena lamanya masa anestrus postpartum. Upaya untuk mengatasi panjangngnya
masa anestrus postpartum ini dapat ditempuh dengan pemberian hormone eksogen yang
dapat memicu proses fisiologi terkait aktivitas ovarium yang bertujuan munculnya estrus
kembali. Upaya lain yang dapat ditempuh adalah dengan pemberian nutrient tertentu
diantaranya vitamin-vitamin yang mempengaruhi aktivitas reproduksi sapi betina.
Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek aplikasi Cue-Mate (progesterone


eksogen) dan vitamin A,D, E terhadap masa anestrus dan fertilitas sapi-sapi indukpasca
melahirkan. Dari hasil penelitian ini dapat dilihat efektivitas kedua metode dalam
memunculkan estrus dan meningkatkaan angka kebuntingan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Anestrus Postpartum

Anestrus postpartum merupakan suatu kondisi yang terjadi setelah melahirkan


dimana betina postpartum tidak menunjukkan estrus dan ovulasi (Berardinelli 2007).
Kondisi ini berkaitan dengan adanya ovarium yang inaktif, dan jika terjadi perkembangan
folikel, tidak ada folikel yang menjadi cukup matang untuk ovulasi (Montiel dan Ahuja
2005). Anestrus terjadi akibat banyak faktor yang berkaitan meliputi faktor managerial,
faktor fisiologi, faktor dan faktor nutrisi. Faktor-faktor ini mencakup umur, bangsa, nutrisi
prepartum dan postpartum, kondisi badan saat menyusui, produksi susu, ada atau tidaknya
pejantan, tertundanya involusi uteri, dystocia, dan status kesehatan umum mempengaruhi
lamanya anestrus postpartum (Yavas and Walton, 2000).
Pada sapi potong, perpanjangan anestrus postpartum adalah penyebab utama betina
gagal kawin kembali selama musim kawin sehingga merupakan penyebab infertilitas yang
utama (Whitier et al 2008). Penelitian menunjukkan hubungan negatif antara interval
postpartum terhadap estrus pertama dengan angka kebuntingan secara keseluruhan.
Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor penyebab perpanjangan
anestrus postpartum dan bukan oleh efek perpanjangan itu sendiri (Hess et al 2005). Di
negara empat musim, kebuntingan dini pada sapi potong yang menyusui dapat tertekan
secara drastis oleh proporsi betina menyusui yang tidak menunjukkan gejala siklus estrus
regular (anestrus) pada awal musim kawin (Short et al., 1990).
Faktor nutrisi merupakan salah satu penyebab utama anestrus postpartum. Beberapa
hasil penelitian telah menunjukkan bahwa sapi induk dalam periode pasca beranak yang
memperoleh pakan berenersi rendah dan selalu berkaitan dengan kandungan protein yang
rendah pula sehingga tidak mencukupi kebutuh-.an minimum untuk mempertahankan
kondisi badannya, secara nyata akan mcnckan proses sintesis dan pelepasan hormon
gonsdotropin di kelenjar pituitari, dan berakibat aktivitas oavrium akan terganggu.
Implikasi nyata akibat kondisi tcrsebut adalah lebih lamanya periode anestrus postpartum
dari kondisi fisiologis yang normal (Dunn et al., 1969; Stevenson dan Britt, 1980; Bearden
dan Fuquay,. 1980; Kaufmann, 1981).
Lama anestrus postpartum terkait dengan masa involusi uteri pasca melahirkan.
Setelah melahirkan uterus gravid harus kembali kondisi non-gravid dan siklisitas seksual
harus muncul untuk mendaapatkan konsepsi. Efisiensi dari dua proses reproduksi kritis ini
bersam efsoesni kawin alam atau inseminasi buatan direfleksikan dari perkiraan interval
kelahiran (Abeygunawardena dan Dematawewa, 2004). Penelitian menunjukkan bahwa
involusi uteri terjadi antara 25 sampai 35 hari pasca melahirkan (Rao dan Rao, 1980;
Bastindas et al, 1984; Tan et al, 1986). Kadu dan Kalkini (1976) melaporkan korelasi
nyata antara waktu yang diperlukan untuk menyempurnakan involusi uterus dangan estrus
pertama.

1.2. Upaya Mengatasi Anestrus Post Partum

Dari hasil penelitian Rosadi et al (2012) yang dilaksanakan di Desa Pudak


teridentifikasi bahwa masalah yang menghambat keberhasilan program IB adalah
kegagalan deteksi estrus (birahi) dan anestrus postpartum. Pada penelitian sebelumnya
didapatkan fakta bahwa di Provinsi Jambi sebagian besar induk sapi potong mengalami
anestrus postpartum lebih dari empat bulan, bahkan dapat berkepanjangan sampai 48
bulan (Rosadi et al 2011).
Deteksi estrus dan inseminasi pada waktu yang paling tepat merupakan titik kritis
untuk memperoleh fertilitas reproduksi yang lebih tinggi pada sapi. Determinasi estrus
yang tidak akurat meningkatkan jumlah inseminasi per kebuntingan, jarak beranak dengan
inseminasi berikutnya serta interval kelahiran (Keister et al 1999). Untuk mengatasi
kendala deteksi estrus yang tidak tepat dilakukan sinkonisasi estrus yaitu menyerentakkan
estrus dari seluruh betina yang diprogram. Keunggulan dari metode ini adalah deteksi
estrus tidak perlu dilakukan sepanjang waktu, tetapi terfokus selam 1-2 hari pengamatan,
sehingga deteksi dapat dilakukan jauh lebih akurat. Metode sinkronisasi dikembangkan
untuk membantu menentukan estrus dan inseminasi pada waktu yang tepat (Nebel dan
Jobst 1999, Rosadi dan Sumarsono 2004).
Uji coba sinkonisasi estrus menggunakan controlled intravaginal device release-
bovine (CIDR-B) di dapatkan derajat kesentakan estrus sebesar 100%, angka kebuntingan
mencapai 58% (Rosadi et al 2012). Cue-Mate merupakan perangkat serupa CIDR-B
dengan perbedaan pada bentuk. Cara penggunaan dan cara kerja perangkat ini sama
dengan CIDR-B
METODE PENELITIAN

Ternak
Ternak yang digunakan adalah induk yang dipelihara peternak di Kabupaten Muaro
Jambi. Jumlah induk yang digunakan sebanyak 45 ekor. Kriteria ternak sapi yang akan
diidentifikasi adalah induk pasca melahirkan.

Seleksi Induk dan Penilaian Kondisi Tubuh


Sebelum digunakan sapi-sapi akan diseleksi berdasarkan catatan dari petugas teknis
lapangan dan keterangan dari peternak. Induk sapi betina tersebut dinilai kondisi tubuh secara
umum berdasarkan Skor Kondisi Tubuh (SKT) menurut petunjuk Awaluddin dan Panjaitan
(2010).

Aplikasi Cue-Mate dan Injeksi Vitamin A,D, E


Tiga puluh lima ekor induk sapi pasca melahirkan dibagi secara acak ke dalam 3
perlakuan, yaitu
P0 = induk yang tidak mendapat perlakuan tambahan
P1 = induk yang diberi perlakuan aplikasi Cue-Mate selama 9 hari mulai hari
ke-40 pasca melahirkan
P2= induk yang diberi injeksi vit A, D, E (Cofavit 500, Romindo Primavetcom)
setiap tiga hari @ 6 ml mulai hari ke-7 pasca melahirkan

Gambar 1. Perangkat Cue-Mate dan Aplikatornya


Deteksi Estrus dan Ineminasi Buatan
Semua induk diamati kemunculan estrusnya sampai hari ke-90 pasca melahirkan
Jarak antara melahirkan dengan munculnya estrus ditetapkan sebagai lama anestrus
postpartum. Induk yang tidak mengalami estrus sampai hari ke-90 dianggap tidak
berrespon terhadap perlakuan. Intensitas estrus diukur pada skala 1-4. Makin jelas tanda-
tanda estrus, makin besar skornya. Inseminasi buatan dilakukan pada induk estrus 10 jam
setelah awal estrus.

Analisiis Data
Data lama anestrus postpartum dan intensitas estrus dianalisis menggunakan uji t-
student, sedangkan keberhasilan kebuntingan dianalisis menggunakan uji khi-kuadrat.
Semua perhitungan statistik menggunkan perangkat lunak SPSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN


.
Kondisi Umum Sapi Induk

Kondisi umum sapi betina yang mengalami anestrus postpartum dapat dilihat dari
penampilan umum eksterior tubuh yaitu dengan Skor Kondisi Tubuh. Berdasarkan
petunjuk Awaluddin dan Panjaitan (2010) sapi diberi skor dengan rentang 1-5. Angka
menunjukkan tingkat kurus atau gemuknya ternak, semakin gemuk semakin tinggi skornya.
Secara umum tingkat kegemukan ternak menunjukkan status kesehatan dan nutrisi dari
individu ternak yang dinilai. Sapi-sapi betina yang mengalami anestrus post partum
mempunyai skor kondisi tubuh 2,6 ± 0,7 berkisar 2,0 sampai dengan 3,2, masuk kriteria kurus
sampai sedang. Kisaran angka demikian menunjukkan bahwa sebagian besar sapi-sapi tersebut
mempunyai status nutrisi suboptimal walaupun pada kisaran tersebut masih memungkinkan
proses reproduksi berlangsung.
Semua induk yang dieksaminasi pada penelitian dipelihara oleh peternak dengan skala
kepemilikian rendah rata-rata 2-3 ekor, ternak dikandangkan, dan diberi pakan dari hijauan
yang disediakan oleh peternak. Tidak ada peternak yang menyediakan pakan tambahan selain
rumput. Mengingat kondisi demikian, diduga induk-induk sapi ini mengalami kekurangan
nutrisi yang penting untuk proses pemulihan pasca melahirkan dan melanjutkan kembali
proses reproduksi, dengan kembalinya pertumbuhan folikel sampai matang, ditandai dengan
munculnya gejala estrus.
Kamal et al (2014) bahwa induk sapi betina SKT terlalu rendah atau terlalu tingggi
cenderung mengalami anestrus lebih panjang dari 60 hari dibandingkan SKT optimal.
Perubahan pada status energi yang yang ditunjukkan dengan SKT adalah faktor penting
mengatur waktu sapi betina mengalami siklus setelah melahirkan (Santos et al 2009).
Kekurangan pakan dan SKT rendah meningkatkan kejadian anestrus (Opsomer et al 2000).
Meskipun status energi ikut menentukan kapan induk sapi betina ovulasi pertama setelah
melahirkan, tampaknya faktor-faktor lain juga terlibat (Kamal et al 2014).

Anestrus Postpartum
Lama anestrus post partum dan intensitas estrus pertama post partum pada
penenlitian ini tercantum pada Tabel 1.
Tabel 1. Lama Anestrus dan Intensitas Estrus Postpartum

Lama Anestrus Postpartum Intensitas estrus post


No Perlakuan
(hari) partum
b a
1 P0 74,4 ± 5,18 3,1 ± 0,5
b a
2 P1 71,5 ± 7,41 3,1 ± 0,4
a a
3 P2 58,6 ± 4,93 3,3 ± 0,4
Keterangan: superkrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Hasil penelitian pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan P2 menyebabkan


pemendekan masa anestrus dengan masa anestrus postpartum masing masing 58,6 hari,
lebih cepat dibandingkan P0 dan P1 yang mencapai rata-rata 74,4 hari dan 71,5 hari.
Penambahan vitamin A, D, E dengan injeksi pada sapi anestrus mempercepat munculnya
estrus pertama setelah melahirkan. Hal ini diduga berkaitan dengan percepatan masa
involusi uterus yang memungkinkan terjadinya percepatan siklus estrus karena aktivitas
perkembangan folikel di ovarium dimulai. Banyak laporan menyebutkan bahwa involusi
uteri terjadi antara 25-35 hari postpartum dan dipengaruhi oleh paritas, bulan melahirkan,
laktasi, menyusui, berjalan, dan lain-lain (Abeygunawardena dan Dematawewa, 2004).
Terdapat korelasi nyata antara waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan involusi uteri
dengan interval antara melahirkan dengan estrus pertama (Kadu dan Kaikini, 1979).
Berardinelli (2007) menggambarkan anestrus postpartum sebaagai suatu kondisi
dimana sapi betina gagal estrus dan ovulasi setelah melahirkan. Kondisi anestrus berkaitan
dengan dengan keberaadaan ovarium inaktif, dan bahkan jika ada perkembangan folikel,
tidak ada folikel yang tumbuh cukup matang untuk ovulasi (Montiel dan Ahuja, 2005).
Sebagai akibatnya ovulasi tidak terjadi jika terjadi anestrus (Ahmadzadeh et al 2011).
Lama anestrus post partum pada penelitian ini lebih singkat dibandingkan dengan laporan
Yusran et al (1992), pada sapi Madura yang diamati selama musim kemarau dengan
kondisi pakan yang relatif kurang dengan lama anestrus postpartum mencapai 110 hari.
Tidak ada perbedaan pada intensitas estrus pada semua perlakuan. Diduga tidak
terdapaat perbedaan pada konsentrasi estradiol dalam darah pada saat estrus pada semua
perlakuan. Perbedaan terletak pada kapan mulai siklisitas pada ovarium yang menandai
perkembangan folikel yang normal sampai tahap cukup matang untuk ovulasi ditandai
munculnya gejala estrus yang cukup jelas.
Mekanisme yang mengontrol anestrus postpartum terletak pada axis hipotalamus-
pituitary-ovarium, dan interkasi axis dengan system syaraf pusat yang lain yang
melibatkan laktasi/menyusui, metabolism dan perilaku induk (Short et al, 1990;
Ahmadzadeh et al, 2011). Produksi sejumlah besar steroid oleh plasenta khususnya E2 dan
progesteron selama akhir masa kebuntingan menimbulkan umpan balik negative terhadap
hipotalamus menyebabkan penurunan pelepasan GnRH (Short et al, 1990) mulainya siklus
ovarium yang normal postpartum utamanya diatur oleh laju pemulihan sekresi normal
GnRH dan LH. Kegagalan folikel dominan postpartum untuk maturasi akhir berkaitan
dengan ketiadaan pulsus GnRH dan LH yang sesuai yang diperlukan untuk maturasi akhir
dan ovulasi berikutnya.

KESIMPULAN
. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlakuan injeksi vitamin A,D, dan E
menyebabkan pemendekan masa anestrus dengan masa anestrus post partum
masing masing 58,6 hari, lebih cepat dibandingkan kontrol dan insersi Cue-Mate
(progesteron) yang mencapai rata-rata 74,6 hari dan 71,5 hari . Tidak ada perbedaan pada
intensitas estrus pada semua perlakuan. Angka kebuntingan belum diketahui, menunggu
pemeriksaan kebuntingan yang akan dilaksanakan Minggu ke-4 Oktober 2017.
DAFTAR PUSTAKA

Abeygunawardena H, and Dematawewa CMB. 2004.. Pre-pubertal and postpartum


anestrus in tropical Zebu cattle. Anim Reprod Sci 82–83 : 373–387.
Ahmadzadeh A, Carnahan K, Autran C. 2011. Understanding puberty and postpartum
anestrus. Proceedings Applied Reproductive Strategies in Beef Cattle September 30
– October 1, Boise, ID.

Awaluddin dan Panjaitan T. 2010. Petunjuk Praktis Pengukuran Ternak Sapi Potong. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, Mataram.

Bastidas, P, Troconiz, J, Verde, O, Silva O..1984. Effect of suckling on pregnancy rates


and call performance in Brahman cows. Theriogenology 21, 289–294.

Bearden, H. Joe dan John W. Fuquay: 1980. Applied Animal Reproduction. Reston
Publishing Company, Inc. A Prentice Hall Co. Reston. Virginia.

Berandinelli J. 2007. Management Practices to Overcome Problems With Puberty an


Anestrus. Proceedings Applied Reproductive Strategies in Beef Cattle.

Dunn, T.G., Ingalls, J.E., Zimmerman, D.R., dan Wiltbank, J.N. 1969. Reproduction
performance of 2-year old Hereford Angus heifers as in~uenced by pre-and post
calving energy intake. J. Anim. Sci. 29: 719-726.

Hess, B. W., S. L. Lake, E. J. Scholljegerdes, T. R. Weston, V. Nayigihugu, J. D. C. Molle


and G. E. Moss. 2005. Nutritional controls of beef cow reproduction. J Anim Sci
83(Suppl): E90-E106.

Kadu, M.S., Kaikini, A.S., 1976. Study on postpartum oestrus in Sahiwal cows. Anim.
Breed. Abstr. 46, 3283.

Kamal, MdM, Bhuiyan MdMU, Parveen N, Momont HW, Shamsuddin M. 2014. Risk
factors for postpartum anestrus in crossbred cows in Bangladesh Turk J Vet Anim Sci
38: 151-156.

Kaufmann, W. 1981. The significance of using special protein in early lactation. Dalam :
Protein and Energy Supply for High Production of Milk and Meat. Pergamon Press.
Oxford.

Keister ZO, Denise SK, Armstrong DV, Ax RL, Brown MD. 1999. Pregnancy outcomes in
two commercial dairy herds following hormonal scheduling programs.
Theriogenology 51: 1587- 96. (81): 1169-74.

Montiel, F., and C. Ahuja. 2005. Body condition and suckling as factors influencing the
duration of postpartum anestrus in cattle: A review. Anim. Reprod. Sci. 85:1-26.
Nebel RL, Jobst SM. 1998. Evaluation of systematic breeding programs for lactating dairy
cows: A Review. J Dairy Sci.
Opsomer G, Grohn YT, Hertl J, Coryn M, Deluyker H, de Kruif.A. 2000. Risk factors for
postpartum ovarian dysfunction in high producing dairy cows in Belgium: a field
study. Theriogenology 2000; 53: 841–857.

Rosadi B, Sumarsono T. 2004. Efek pemberian progesteron dan prostaglandin terhadap


keberhasilan sinkronisasi estrus dan kebuntingan sapi lokal Sumatera yang
terindikasi malnutrisi ringan. JIIP 12 (3): 174-181.

Rosadi B, Depison, Arsyad, Ahmadi. 2011. Kaji terap optimalisasi reproduksi sapi potong
melalui penerapan protokol Ovsynch dan transfer embrio di Provinsi Jambi. Laporan
Penelitian Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi.

Rosadi B. Sumarsono T. Darmawan. 2012. Fixed-time artificial insemination sapi potong


dengan metode ovsynch dan modifikasinya. JIIP 16 (2): 130-138.
Santos JEP, Rutigliano HM, Sa Filho MF. 2009. Risk factors for resumption of postpartum
estrous cycles and embryonic survival in lactating dairy cows. Anim Reprod Sci 110:
207–221

.
Short, R. E., R. A. Bellows, R. B. Staigmiller, J. G. Berardinelli, and E. E. Custer. 1990.
Physiological mechanisms controlling anestrus and infertility in postpartum beef
cattle. J Anim Sci 68:799-816.

Stevenson, J.5 dan Britt, J.H. 1980. Models for the prediction of days to first ovulation
based on changes in endocrine and non-indocrine traits during the first two weeks
postpartum in Holstein cows. J. Anim.5ci .50: 103 -111.
Tan, H.S., Kassim, H., Mak, T.K., 1986. Reproductive performance of indigenous cattle in
Malaysia. In: Nuclear and Related Techniques in Animal Production and Health.
International Atomic Energy Agency, Vienna, Austria. pp. 189–203.

Whittier, J. C., J. Berardinelli, and L. Anderson. 2008. Understanding puberty and


postpartum anestrus. In Proceedings, Applied Reproductive Strategies in Beef Cattle.
Fort Collins, CO.

Yavas, Y., and J. S. Walton. 2000. Postpartum acyclicity in suckled beef cows:
A review. Theriogenology 54:25-55.

Yusran MA, L Affandhy, Rasyid A, Wijono DB. 1992. Periode anestrus post-partus sapi
Madura pada musim kemarau di Pulau Madura: studi kasus pada dua desa
beragroekosistem pertanian lahan kering. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati 2 (2):
49-55.