Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN KELUARGA

OLEH :
WA ODE SITI RAHMATIA
18180000118

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN INDONESIA MAJU
JAKARTA SELATAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP KELUARGA
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran
dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta social dari setiap
keluarga (Duvall dan Logan, 2010).

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah
tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling
berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan
menciptakan serta memepertahankan suatu budaya (Bailon dan Maglaya, 2008).

2. Tujuan Dasar Keluarga


a. Mewujudkan semua harapan dan kewajiban masyarakat dengan memenuhi
kebutuhan setiap anggota keluarga serta menyiapkan peran masyarakat
b. Membentuk anggota keluarga sebagai anggota masyarakat yang sehat bio-
psiko-sosio-spiritual
c. Memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anggota masyarakat
d. Memperhatikan secara total segi-segi kehidupan anggotanya
e. Membentuk identitas dan konsep dari individu-individu yang menjadi
anggotanya

3. Konsep Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap perkembangan keluarga :

a. Tahap I (keluarga pasangan baru / beginning family)


Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami istri
membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan
keluarga masing-masing secara psikologis keluarga tersebut sudah memiliki
keluarga baru (Harmoko, 2012).
b. Tahap II (keluarga dengan kelahiran anak pertama / child bearing family)
Dimulai dari kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30
bulan. Transisi ke masa menjadi orangtua adalah salah satu kunci dalam
siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak pertama, keluarga
menjadi kelompok trio membuat sistem yang permanen pada keluarga untuk
pertama kalinya, yaitu sistem berlangsung tanpa memperhatikan hasil akhir
pernikahan (Marilyn M. Friedman, 2010).
c. Tahap III (keluarga dengan anak pra sekolah / families with perscholl)

Siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun
dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat terdiri dari
tiga sampai lima orang dengan posisi pasangan suami-ayah, istri-ibu, putra-
saudara laki-laki, dan putri- saudara perempuan. Keluarga menjadi lebih
kompleks dan berbeda (Marilyn M. Friedman, 2010).
d. Tahap IV (keluarga dengan anak sekolah / families with children)
Dimulai pada saat anak tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya keluarga mencapai
jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk. Selain
aktifitas sekolah, masing-masing anak memiliki aktifitas di sekolah, masing-
masing akan memiliki aktifitas dan minat sendiri. Demikian pula orang tua
yang mempunyai aktifitas berbeda dengan anak. (Harmoko, 2012)
e. Tahap V (keluarga dengan anak remaja / families with teenagers)

Ketika anak pertama berusia 13 tahun, tahap V dari siklus atau perjalanan
kehidupan keluarga dimulai. Biasanya tahap ini berlangsung selama enam
atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meningglakan
keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak tetap tinggal di rumah pada
usia lebih dari 19 atau 20 tahun. Anak lainnya yang tinggal di rumah
biasanya anak usia sekolah. Tujuan utama keluarga pada tahap anak
remaja adalah melonggrakan kebebasan remaja yang lebih besar dalam
mempersiapkan diri menjadi seorang dewasa muda. (Marilyn M. Friedman,
2010)
f. Tahap VI (keluarga dengan anak dewasa / lauching center families)
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lama
tahap ini bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak yang
belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orangtua. Tujuan utama pada
tahap ini adalah mengorganisasi kembali keluarga untuk tetap berperan
dalam melepaskan anaknya untuk hidup sendiri. (Harmoko, 2012)
g. Tahap VII (keluarga usia pertengahan / midlle age families)

Tahapan ini dimulai pada saat anak yang terakhir meningglakan rumah dan
berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Beberapa
pasangan pada fase ini akan dirasakan sulit karena masalah usia lanjut,
perpisahan dengan anak, dan perasaan gagal sebagai orang tua. Pada tahap
ini semua anak meninggallkan rumah, maka pasangan berfokus untuk
mempertahankan kesehatan dengan berbagai aktifitas. (Harmoko, 2012).

h. Tahap VIII (keluarga usia lanjut)

Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan pensiun salah


satu atau kedua pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan lainnya.
(Marilyn M. Friedman, 2010)
4. Struktur Keluarga
Struktur keluarga oleh Friedman, sebagai berikut :

a. Struktur komunikasi

Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan secara


jujur, terbuka, melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hierarki kekuatan.
Komunikasi keluarga bagi pengirim yakin mengemukakan pesan secara
jelas dan berkualitas, serta meminta dan menerima umpan balik. Penerima
pesan mendengarkan pesan, memberikan umpan balik dan valid.
b. Struktur peran

Serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai posisi sosial yang diberikan.


Jadi, pada struktur peran bisa bersifat formal atau informal. Posisi / status
adalah posisi individu dalam masyarakat misal status sebagai istri / suami.
c. Struktur kekuatan

Kemampuan dari individu untuk mengontrol, memengaruhi atau mengubah


perilaku orang lain. Hak (legitimate power), ditiru (referent power),
keahlian (exper power), hadiah (reward power), paksa (coercive power) dan
effektif power.
d. Struktur nilai dan norma
1) Nilai, suatu sistem, sikap, kepercayaan yang secara sadar atau tidak dapat
mempersatukan anggota keluarga
2) Nilai suatu sistem, sikap, kepercayaan yang secara sadar atau tidak dapat
mempersatukan annggota keluarga.
3) Budaya, kumpulan dari pada perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan
ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah (Harmoko,
2012).

5. Tipe-tipe keluarga
a. Nuclear Family

Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu
rumah di tetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan,
satu / keduanya dapat bekerja di laur rumah.
b. Extended Family

Keluarga inti ditambahkan dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek,


keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Reconstitud Nuclear

Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali


suami/istri, tinggal dalam pembentuan satu rumah dengan anak-anaknya,
baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru.
Satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah.
d. Midlle Age / Aging Couple

Suami sebagai pencari uang. Istri di rumah / kedua-duanya bekerja di


rumah, anak-anak sudah meningglakan rumah karena sekolah /
perkawinan / meniti karier.
e. Dyadic Nuclear

Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya /
salah satu bekerja di rumah.
f. Single Parent

Satu orang tua sebagai akibat perceraian / kematian pasangannya dan anak-
anaknya dapat tinggal di rumah / di luar rumah.
g. Dual Carier

Suami istri atau keduanya berkarier dan tanpa anak


h. Commuter married

Suami istri / keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu,
keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
i. Single Adult

Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan
untuk menikah.
j. Three Generation

Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.


k. Institutional

Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.


l. Communal

Satu rumah terdiri atas dua / lebih pasangan yang monogami dengan anak-
anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
m. Group Marriage

Satu perumahan terdiri atas orangtua dan keturunannya di dalam satu


kesatuan keluarga dan tiap individu adalah menikah dengan yang lain dan
semua adalah orang tua dari anak-anak.
n. Unmarried Parent and Child
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anakya di adopsi.
o. Cohibing Couple

Dua orang / satu pasangan yang tinggal bersama tanpa pernikahan


(Harmoko, 2012).
6. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Memfasilitasi stabilisasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan
psikologis anggota keluarga
b. Fungsi Sosialisasi
Memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan menjadikan anak
sebagai anggota masyarakat yang produktif serta memberikan status pada
anggota keluarga
c. Fungsi Reproduksi
Untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa generasi dan
untuk keberlangsungan hidup masyarakat
d. Fungsi Ekonomi
Menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya
e. Fungsi Perawatan Kesehatan
Menyediakan kebutuhan fisik-makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan
Kesehatan (Marilyn M. Friedman, 2010).

7. Ciri-ciri Struktur Keluarga


a. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga
b. Ada keterbatasan
Setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai
keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan
setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.
B. KONSEP HIPERTENSI
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi di definisikan sebagai tekanan darah yang persisten. Berarti,
tekanan sistolik yang setara atau lebih besar dari 140 mmHg dan tekanan
diastolik yang sama atau lebih besar dari 90 mmHg, ketika setidaknya diambil
dua kali dan rata-rata pada kesempatan yang berbeda selama di dua minggu yang
terpisah. Tekanan diastolik merupakan fokus utama dalam perawatan, yakni
mencerminkan jumlah tekanan yang diberikan terhadap dinding pembuluh darah
saat jantung dalam fase relaksasi dan tidak ada tekanan tambahan dari darah
yang dipaksa keluar dari ventrikel kiri ke arteri (Dewit dkk, 2016).

2. Etiologi
Hipertensi esensial atau primer tidak diketahui memiliki kelainan dasar
patologis yang jelas tetapi hipertensi primer ini dipengaruhi oleh faktor genetik
dan lingkungan. Sebaliknya, untuk hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi
tertentu atau komplikasi dari penyakit yang lain. Tekanan darah tinggi ini sering
kali muncul secara mendadak dan dapat menjadi lebih parah suatu waktu
dibandingkan dengan hipertensi esensial (primer). Kondisi yang melatar
belakangi hipertensi sekunder meliputi berbagai kondisi diantaranya, sleep
apnea, masalah tiroid, ginjal, hingga konsumsi obat-obatan tertentu seperti pil
untuk kontrasepsi, dekongestan dan obat-obatan ilegal (Kardiyudiani & susanti,
2019).

Menurut Baradero, dkk (2008) penyebab hipertensi primer dan sekunder,


antara lain :

a. Penyebab hipertensi primer

Hipertensi primer belum diketahui penyebabnya, tetapi ada beberapa


faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi seperti faktor usia (usia
lanjut), jenis kelamin, riwayat keluarga dengan hipertensi, obesitas atau
kegemukan dikaitkan dengan peningkatan volume intravaskular,
aterosklerosis (penyempitan arteri-arteri dapat menyebabkan tekanan darah
meningkat), merokok (kandungan nikotin dapat menyebabkan penyempitan
pembuluh darah), konsumsi garam dalam kadar tinggi (kandungan natrium
dalam garam dapat membuat retensi air yang berakibat pada volume darah
meningkat), konsumsi alkohol yang dapat meningkatkan plasma
ketokolamin dan stress emosi yang dapat merangsang saraf simpatis.

b. Penyebab hipertensi sekunder

Penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit parenkin ginjal


(glomerulonephritis, gagal ginjal), penyakit renovaskuler (berkurangnya
perfusi ginjal karena aterosklerosis atau fibrosis membuat arteri renalis
menyempit, dan menyebabkan meningkatnya tahanan vaskuler perifer),
syndrom cushing (volume darah meningkat), aldosteronisme primer
(aldosterone menyebabkan retensi natrium dan air dan membuat
meningkatnya volume darah), fenokromositoma (sekresi yang berlebihan dan
ketokolamin nonepinefrin (NE) membuat meningkatnya tahananvaskuler
perifer), koarktasi aorta (menyebabkan tekanan darah dapa ektremitaa atas
meningkat dan berurangnya perfusi pada ektremitas bawah), trauma kepala
atau tumor kranial (tekanan intra kranial meningkat sehingga menyebabkan
perfusi serebral berkurang, iskemia yang timbul akan menstimulus pusat
vasomotor medulla untuk meningkatkan tekanan darah), hipertensi akibat
kehamilan (belum diketahui penyebabnya, tetapi beberapa teori menyatakan
bahwa vasospasme umum dapat menjadi faktor penyebab).

3. Patofisiologis
Tekanan darah yang normal terjadi karena mekanisme tubuh yang
bekerja secara sinergi dalam keseimbangan. Apabila mengalami gangguan
dalam mekanisme maka, tekanan darah akan meningkat (Junaidi, 2010).

Proses atau patofisiologi terjadinya hipertensi diawali dengan


menigkatnya tekanan darah. Selain itu meningkatnya tekanan darah dapat terjadi
karena, sebagai berikut :
a. Jantung memompa darah lebih kuat sehingga dapat mengalirkan lebih
banyak darah pada setiap detiknya atau stroke volume.

b. Arteri besar yang kehilangan kelenturan dan menjadi kaku, sehingga tidak
dapat mengembang saat jantung memompakan darahnya melalui arteri. Oleh
karena itu, darah pada setiap denyut jantung untuk melalui pembuluh darah
yang sempit dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Hal ini juga yang
terjadi pada usia lanjut (lansia), ketika dinding arteri menebal dan mejadi
kaku karena arteriosclerosis.

c. Tekanan darah juga meningkat saat terjadinya vasokontriksi, yaitu saat arteri
kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengerut karena rangsangan saraf
atau hormon dalam darah (Kardiyudiani & Susanti, 2019).

4. Manifestasi Klinis
Hipertensi sering dikatakan sebagai penyakit The silent killer karena
pada umumnya tidak memunculkan gejala yang jelas dan tidak disadari
kehadirannya. Pada beberapa gejala terjadi secara bersamaan dan berhubungan
dengan tekanan darah tinggi secara tidak sengaja. Gejala yang dimaksudkan
adalah sakit kepala, perdarahan pada hidung, wajah kemerahan dan kelelahan.
Gejala-gejala tersebut dapat terjadi pada siapa saja tidak hanya pada penderita
hipertensi tetapi dapat terjdi pada orang lain yang normal.

Pada hipertensi berat atau kronis, gejala yang timbul ditandai dengan
gejala yang berasal dari kerusakan otak, mata, jantung dan ginjal, antara lain :

a. Sakit kepala

b. Kelelahan

c. Mual dan muntah

d. Sesak nafas

e. Gelisah

f. Pandangan kabur
Pada hipertensi berat, penurunan kesadaran dapat terjadi sampai koma,
karena terjadinya pembengkakan pada otak yang disebut ensefalopati hipertensi.

Gejala hipertensi sekunder, berbeda dengan gejala hipertensi primer.


Gejala yang terjadi pada hipertensi sekunder, diantaranya sebagai berikut :

a. Berkaitan dengan kelainan pada ginjal, seperti :

1) Adanya riwayat penyakit ginjal dalam keluarga

2) Sering infeksi saluran kemih

3) Sering ingin minum dan buang air kecil berlebih

4) Pernah terjadi trauma atau benturan keras pada pinggang

b. Terkait penyakit feokromositoma, terdapat gejala-gejala berulang, tidak


teratur dan tekanan darah selalu tinggi. Tanda gejala sebagai berikut :

1) Sakit kepala akut secara tiba-tiba

2) Jantung berdebar-debar

3) Keringat berlebih

4) Wajah pucat

c. Hypertiroidisme (hormon tiroid tinggi)

Kelainan yang meningkatkan tekanan sistolik, sehingga menimbulkan gejala,


diantaranya :

1) Mudah gugup

2) Keringat berlebih

3) Selalu merasa kepanasan

4) Jantung berdebar-debar

5) Tremor atau gemetar

6) Mudah lelah
7) Berat badan menurun

8) Bola mata menonjol

9) Terdapat pembesaran atau benjolan kelenjar tiroid

d. Hypotiroidisme (hormon tiroid rendah)

Kelainan yang dapat mengakibatkan tekanan darah sistolik sehingga


menimbulkan gejala, seperti :

1) Tidak tahan dingin

2) Mudah lelah

3) Berat badan naik / kegemukan

4) Kulit kasar

5) Suara parau atau rendah

6) Sembab pada mata

7) Oedema pada kaku dan tangan

e. Gejala akibat kelebihan hormon kortisol

Hormon kortisol di produksi oleh kelenjar adrenal yang dapat


meningkatkan tekanan darah jika produksinya berlebihan, dan akan timbul
gejala-gejala :

1) Penumpukan lemak pada wajah, leher atau badan meningkat

2) Kulit tipis, terdapat tanda guratan ungu, mudah memar, rambut tumbuh
berlebihan

3) Emosi stabil

4) Kenaikan berat badan secara drastis

5) Tubuh melemah (Junaidi, 2010).


5. Komplikasi
Dengan terjadinya hipertensi, maka akan menimbulkan komplikasi pada
organ tubuh lain. Organ tubuh yang mengalami komplikasi karena hipertensi
diantaranya, pada organ mata berupa perdarahan pada retina dan gangguan
penglihatan sampai kebutaan, gagal jantung, gagal ginjal, pecahnya pembuluh
darah otak atau menyebabkan stroke (Kardiyudiani & susanti, 2019).

Menurut Suiraoka tahun 2012 menyatakan bahwa organ-organ utama


yang paling dipengaruhi oleh hipertensi yaitu jantung, pembuluh arteri, ginjal,
otak dan mata.

a. Sistem kardiovaskuler

1) Artesklerosis

Hipertensi dapat mempercepat penumpukan lemak di dalam


lapisan arteri. Pada saat dinding arteri rusak, sel-sel darah (trombosit)
akan menggumpal pada daerah yang bermasalah, timbunan lemak
tersebut akan melekat dan kelamaan akan membuat dinding arteri
berparut dan lemak menumpuk akan membuat penyempitan pembuluh
darah arteri.

2) Aneurisma

Terdapat pengelembungan arteri yang disebabkan oleh pembuluh


darah yang sudah tidak elastis, hal ini sering terjadi pada bagian aorta
bawah atau arteri otak. Apabila terjadi kebocoran atau pecah maka
akibatnya akan sangat fatal. Gejala yang muncul yaitu sakit kepala hebat.

3) Gagal jantung

Jantung tidak kuat memompa darah yang kembali ke jantung


secara cepat, sehingga cairan akan berkumpul di paru-paru, kaki dan
jaringan lainnya yang akan mengakibatkan terjadinya pembengkakan.

b. Otak
Hipertensi memungkinkan seseorang dapat terserang stroke. Stroke
disebut sebagai serangan otak, merupakan jenis cedera otak yang disebabkan
karena tersumbatnya pembuluh darah di otak sehingga membuat suplai darah
ke otak terganggu.

Dimensia atau pikun dapat terjadi karena hipertensi. Dimensia adalah


penurunan daya ingat dan kamampuan mental. Resiko seseorang terkena
dimensia akan meningkat pada usia 70 tahun keatas dan pengobatan
hipertensi dapat menurunkan resiko dimensia.

c. Ginjal

Ginjal berfungsi membantu mengotrol tekanan darah dengan


mengatur jumlah air dan natrium dalam darah. Darah yang di pompa oleh
jantung seperlimanya akan melewati ginjal. Ginjal akan mengatur
keseimbangan air, mineral dalam darah dan derajat asam dalam ginjal. Ginjal
akan menghasilkan zat kimia yang akan mengontrol ukuran pembuluh darah
dan fungsinya, proses ini dipengaruhi oleh adanya hipertensi. Jika pembuluh
darah dalam ginjal mengalami aterosklerosis karena tekanan darah yang
tinggi, maka aliran darah ke nefron akan menurun akibatnya ginjal tidak
dapat membuang sisa-sisa metabolisme dalam darah. Sisa-sisa metabolisme
akan menumpuk dalam darah, sehingga ginjal akan mengecil dan fungsinya
berhenti.

d. Mata

Hipertensi yang dapat mempercepat penuaan pada pembuluh darah


halus dalam area mata, dan dapat menyebabkan kebutaan.

1. Penatalaksanaan Medis
Dalam penanganan atau pengobatan hipertensi maka dapat dilakukan
penangananan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Golongan
obat-obatan yang diberikan kepada pasien hipertensi secara farmakologi adalah
golongan diuretik yang bekerja membuka pembuluh darah yang dapat
menurunkan tekanan darah, golongan beta bloker bekerja menghambat kerja non
adrenalin, golongan antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat kerja
kalsium pada otot halus pada dinding arteriol dengan menghambat kalsium maka
akan membuka pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah, serta golongan
penghambat konversirennin angiotensin bekerja dengan mencegah aktivitas
hormone angiotensin II yang meliputi renin dan angiotensin I maka dengan itu
penghambat tersebut secara efektif akan membuka kembali pembuluh darah
yang menyempit sehingga dapat menurunkan tekanan darah.

Golongan non farmakologis dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya


hidup, diantaranya dengan cara :

a. Diet dengan pembatasan atau pengurangan konsumsi garam, bagi penderita


hipertensi maksimal 2 gram garam untuk 24 jam atau setiap harinya. Diet ini
dapat menurunkan tekanan darah, cukup dengan konsumsi protein, kalori,
vitamin, mineral dan jumlah natrium yang sesuai dengan beratnya retensi
garam dan air.

b. Penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah dan penurunan


aktivitas rennin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma

c. Penderita hipertensi dianjurkan untuk melakukan kegiatan yang disesuaikan


dengan batasan medis dan sesuai kemampuan seperti berjalan santai, joging,
bersepeda, berenang maupun melakukan senam dan lain-lainnya. Dengan
berolahraga membuat perasaan menjadi santai dan rileks dari masalah yang
penderita hadapi sehingga dapat menurunkan tekanan darah (Kardiyudiani &
Susanti, 2019).

6. Penatalaksanaan
Dalam penanganan atau pengobatan hipertensi maka dapat dilakukan
penangananan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Golongan
obat-obatan yang diberikan kepada pasien hipertensi secara farmakologi adalah
golongan diuretik yang bekerja membuka pembuluh darah yang dapat
menurunkan tekanan darah, golongan beta bloker bekerja menghambat kerja non
adrenalin, golongan antagonis kalsium bekerja dengan cara menghambat kerja
kalsium pada otot halus pada dinding arteriol dengan menghambat kalsium maka
akan membuka pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah, serta golongan
penghambat konversirennin angiotensin bekerja dengan mencegah aktivitas
hormone angiotensin II yang meliputi renin dan angiotensin I maka dengan itu
penghambat tersebut secara efektif akan membuka kembali pembuluh darah
yang menyempit sehingga dapat menurunkan tekanan darah.

Golongan non farmakologis dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya


hidup, diantaranya dengan cara :

d. Diet dengan pembatasan atau pengurangan konsumsi garam, bagi penderita


hipertensi maksimal 2 gram garam untuk 24 jam atau setiap harinya. Diet ini
dapat menurunkan tekanan darah, cukup dengan konsumsi protein, kalori,
vitamin, mineral dan jumlah natrium yang sesuai dengan beratnya retensi
garam dan air.

e. Penurunan berat badan dapat menurunkan tekanan darah dan penurunan


aktivitas rennin dalam plasma dan kadar aldosteron dalam plasma

f. Penderita hipertensi dianjurkan untuk melakukan kegiatan yang disesuaikan


dengan batasan medis dan sesuai kemampuan seperti berjalan santai, joging,
bersepeda, berenang maupun melakukan senam dan lain-lainnya. Dengan
berolahraga membuat perasaan menjadi santai dan rileks dari masalah yang
penderita hadapi sehingga dapat menurunkan tekanan darah (Kardiyudiani &
Susanti, 2019).

C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang komplek dengan


menggunakan pendekatan sistematis untuk bekerja sama dengan keluarga dan
indivisu sebagai anggota keluarga (Harmoko, 2012).
1. Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat
untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai norma-norma
kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang terintegrasi dan
kesanggupan keluarga untuk megatasinya (Effendy, 1998).

a. Data Umum
Data umum, yaitu meliputi nama keluarga, alamat dan telepon, komposisi
kleuarga (dilengkapi dengan genogran keluarga), tipe keluarga, suku (dikaji
data yang berhubungan dengan suku kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan
dengan suku seseorang atau keluarga), agama (dikaji tentang agama yang
dianut), aktifitas rekreasi keluarga (dikaji data tentang kebiasaan dan
pendapatan keluarga), status ekonomi keluarga (dikaji data tentang besarnya
penghasilan atau pendapatan keluarga).
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap perkembangan saat ini
Dikaji tentang tahap perkembangan tertinggi yang saat ini dicapai oleh
keluarga.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi saat ini.
Dikaji tentang maladaptif dari tengah pertumbuhan dan perkembangan
keluarga yang terpenuhi.
3) Riwayat kesehatan keluarga inti
Menjelaskan riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan masing-
masing anggota keluarga, perhatian terhadap upaya dan pengalaman
keluarga terhadap pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan kesehatan, meliputi keluhan, berapa lama sudah terjadi, apa
upaya yang dilakukan untuk menanggulangi dan bagaimana hasilnya.
4) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Menjelaskan riwayat kesehatan diatas orang tentang riwayat penyakit
keturunan, upaya generasi tersebut tentang upaya peanggulangan
penyakit, upaya kesehatan yang di pertahankan sampai saati ini.
c. Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Dikaji tentang ukuran rumah, jumlah kamar, ventilasi, sumber air,
jumlah keliarga, saluran pembuangan limbah, jamban keluarga,
pembuangan sampah dan kandang ternak.
2) Karakteristik tentang komunikasi
Meliputi tentang jenis pekerjaan yang dominan dari tetangga diawali
yang terdekat dengan kleuarga.
3) Mobilitas keluarga
Bagaimana perpindahan tempat tinggal yang terjadi dalam keluarga.
4) Perkumpulan keluarga dan nteraksi dengan masyarakat meliputi data
keefketifan dalam berinteraksi dengan masyarakat.
5) Sistem pendukung keluarga
Meliputi tentang sumbe pendukung eperti orang tua, mertua, saudara,
teman dan lain-lain.
d. Struktur Keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
Meliputi data tentang sifat komunikasi dalam keluarga.
2) Struktur kekuatan keluarga
Meliputi data tentang kemampuan komunikasi keluarga.
3) Struktur peran
Meliputi data tentang peran anggota keluarga misalnya, ayah berperan
sebagai kepala keluarga.
4) Nilai dan norma kebudayaan
Meliputi data tentang nilai dan aturan yang ada dalam keluarga.
e. Fungsi Keluarga
1) Fungsi efektif
Meliputi sikap dan perhatian masing-masing keluarga terhadap anggota
keluarga yang lain.
2) Fungsi sosialisasi
Meliputi bagaimana keluarga mengajarkan anak-anak untuk
bersosialisasi dengan orang lain.
3) Fungsi peran Kesehatan
Menjelaskan kemampuan keluarga mengenai masalah kesehatan dan
mengambil keputusan terhadap masalah kesehatan atau manfaat fasilitas
pelayanan kesehatan.
f. Stressor dan Koping Keluarga
1) Stresor jangka panjang dan pendek
Kekuatan keluarga memikirkan tentang penyakit yang terjadi pada
keluarga.
2) Kemapuan keluarga berespon terhadap masalah
3) Strategi koping yang digunakan
Meliputi mekanisme pertanahan diri yang digunakan oleh keluarga jika
mendapatkan masalah/stressor.
4) Strategi adaptasi dsifungsional
Meliputi data tentang mekanisme pertahanan diri (koping) keluarga
yang maladaptif.
5) Pemeriksaan fisik
Meliputi pemeriksaan head to toe untuk semua anggota keluarga baik
sehat maupun yang sakit.
6) Harapan keluarga
Meliputi tentang apa yang diharapkan keluarga dengan bantuan yang
diberikan oleh perawat keluarga (Effendy, 1998).

2. Diagnose Keperawatan
Diagnose keperawatan merupakan kumpulan pernyataan uraian dari hasil
wawancara, pengamatan langsung dan pengukuran dengan menunjukkan status
kesehatan mulai dari potensial, resiko timggi, sampai masalah aktual. Diagnose
keperawatan keluarga yang dikembangkan adalah diagnose tunggal yang hamper
serupa dengan diagnose keperawatan dirumah sakit. Diagnosis keperawatan
terdiri dari tiga komponen yaitu masalah, etiologi serta tanda dan gejala. Etiologi
untuk diagnosis keperawatan keluarga adalah salah satu dari lima tugas keluarga
yang paling dominan menyebabkan masalah keperawatan tersebut. Sebagai
contoh, resiko gangguan tumbuh kembang balita X berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan nutrisi yang seimbang merawat
anggota keluarga.
Tipe diagnose keperawatan keluarga
a. Aktual
Masalah ini memberikan gambaran berupa tanda dan gejala yang jelas
mendukung bahwa masalah benar-benar terjadi.
Contoh :
1) Tidak efektifnya bersihan jalan nafas
2) Gangguan pola nafas
3) Gangguan keseimbangan cairan dan elekrolit
4) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5) Perubahan pola istirahat tidur
6) Kurang pengetahuan
7) cemas
b. Resiko tinggi
Masalah ini sudah ditunjang dengan data yang akan mengarah pada
timbulnya masalah kesehatan bila tidak segera ditangani
Contoh :
1) Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2) Resiko tinggi injury
3) Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang
c. Potensial
Status kesehatan berada pada kondisi sehat dan ingin mengangkat lebih
optimal
Contoh :
1) Potensial peningkatan proses keluarga
2) Potensial kehamilan dengan status kesehatan mental
3) Sindrom
4) Kemungkinan
d. Prioritas masalah
1) Kriteria
2) Bobot
3) Pembenaran
No Kriteria Masalah Nilai Bobot
.
1. Sifat masalah 1
Skala :
Aktual 3
Resiko 2
Potensial 1
2. Kemungkinan masalah untuk 2
diubah
Skala :
Mudah 2
Sebagian 1
Tidak dapat 0
3. Potensial masalah untuk dicegah 1
Skala :
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
Menonjolnya masalah 1
Skala :
Segera diatasi 2
Tidak segera diatasi 1
Tidak dirasakan 0

Skoring :
a) Skor / angka tertinggi dikalikan dengan bobot
b) Jumlah skor
c) Skor tertinggi menjadi prioritas masalah
Dalam menentukan skor yang tepat berdasarkan potensi masalah untuk
dapat dicegah, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Berhubungan dengan beratnya masalah, prognosis atau potensi untuk
diubah
b) Lamanya masalah, berkaitan dengan jangka waktu, biasanya bila
masalah sudah berlangsung lama, makin sulit untuk diubah
c) Tindakan yang tepat, makin tepat Tindakan makin baik untuk
mencegah atau mengatasi masalah
d) Pada kelompom resiko tinggi, masalah mungkin makin sulit untuk
dicegah
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki masalah
keperawatan keluarga adalah sebagai berikut :
a) IPTEK keperawatan yang ada saat ini untuk mengatasi masalah
b) Sumber daya keluarga dalam bentuk uang, fisik dan tenaga
c) SDM keperawatan dalam bentuk IPTEK keperawatan yang dikuasai
oleh perawat keluarga saat ini termasuk keterampilan dan waktu yang
tersedia bila Tindakan dilaksanakan
d) Sumber daya komunitas dalam bentuk fasilitas kesehatan, organisasi
masyarakat dan dukungan masyarakat
3. Intervensi Keperawatan
Suatu proses merumuska tujuan yang diharapkan sesuai prioritas
masalah keperawatan keluarga, memilih strategi keperawatan yang tepat dan
mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga sesuai kebutuhan klien.
Indikasi intervensi Wright dan Leahey dalam Friedman (1889)
menganjurkan bahwa intervensi keperawatan keluarga dapat dilakukan pada :
a. Keluarga dengan satu masalah yang mempengaruhi anggota keluarga lainnya
b. Keluarga dengan anggota keluarga berpenyakit yang berampak pada anggota
keluarga lainnya
c. Anggota keluarga yang mendukung permasalahan kesehatan yang muncul
d. Salah satu anggota keluarga menunjukkan perbaikan atau kemunduran dalam
status kesehata
e. Anggota keluarga yang didiagnosis penyakit pertama kali
f. Perkembangan anak remaja secara emosional
g. Keluarga dengan penyakit kronik
h. Kelurga dengan penyakit mematikan
4. Implementasi
Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah disusun
sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi keperawatan keluarga antara
lain :
a. Implementasi mengacu pada rencana perawatan yang di buat
b. Implementasi dilakukan dengan tetap memperhatikan prioritas masalah
c. Kekuatan-kekuatan keluarga berupa finansial, motivasi dan sumber-sumber
pendukung lainnya jangan diabaikan
d. Pendokumentasian implementasi keperawatan keluarga jangan terlupakan
dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung jawab
profesi
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan tahap akhir proses asuhan keperawatan. Pada tahap
ini kita melakukan penilaian akhir terhadap kondisi pasien dan disesuaikan
dengan kriteria hasil yang sebelumnya telah dibuat.

Evaluasi yang diharapkan pada pasien yaitu:


1. Tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung, dan vital sign dalam
batas normal
2. Tekanan sistole dan diastole dalam rentang normal
3. Tidak ada ortostatik hipertensi
4. Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15
mmHg)
5. Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
DAFTAR PUSTAKA

Efendy Nasrul. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Edisi 2).


Jakarta : EGC

Setiawan S. Dan Dermawan C. A. (2008). Penuntun Praktik Asuhan Keperawatan


Keluarga . ( Edisi 2). Jakarta : TIM

Suprajipno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC

Baughman, D, C & Hackley, J, C. (2000). Keperawatan medical bedah, alih bahasa :


yasmin asih. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif, 1999, Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Jilid I, FKUI,


Jakarta.Menurut ANA (1995)

Soeparman, 1999, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta.

Brunner dan Suddart, 2000, Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku

Kedokteran, EGC,

Goonasekera CDA, Dillon MJ, 2003. The child with hypertension. In: Webb NJA,

Postlethwaite RJ, editors. Clinical Paediatric Nephrology. 3rd edition. Oxford: Oxford

University Press

Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New

Jersey: Upper Saddle River

Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second

Edition. New Jersey: Upper Saddle River

Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta:

Prima Medika

Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta