Anda di halaman 1dari 21

ILMU RESEP

OLEH :

(KELOMPOK I)

Asrifa Mantang F201902001


Nurhayani F201902002
Hajah Ningsih Inta F201902008
Suci F201902010
Suria F201902011
Indriani Tasrim F201902023

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MANDALA WALUYA
KENDARI
2020
Ny.N 61 tahun
Keluhan utama : badan terasa lemah, mual,muntah, dan mudah capek
Riwayat penyakit sekarang : osteoarthritis
Riwayat penyakit dahulu : DM tipe 2 (selama 8 tahun), Hipertensi (selama 8 tahun)

Riwayat pengobatan :
Insulin 3 X 4 U
Metformin 3 X 500 mg
Amlodipin 1 X 5 mg
Furosemid 2 X 40 mg
Fenofibrat 1 X 100 mg
Ranitidin 2 X 300 mg
Kalitake (kalsium polistirena sulfonat) 3 X 15 g
CaCO3 3 X 500 mg
Suplemen Fe 1 X 1 tablet
Asam folat 1 X 1 tablet
Vitamin B kompleks 1 X 1 tablet
Allopurinol 3 X 100 mg
Meloxicam 1 X 15 mg (jika perlu)
Injeksi triamsinolon asetat 1 X 40 mg (tiap bulan)

Tanda vital :
BB : 80 kg
TB : 168 cm
TD : 143 / 90 mmHg (Normal 120/90 mmHg)
1. Patofisiologi Penyakit
a. Hipertensi
Patofisiologi terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II
dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang
peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon renin akan diubah
menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II. (Anggraini, 2009).
Renin disintesis dan disimpan dalam bentuk inaktif yang disebut prorenin
dalam sel-sel jukstaglomerular (sel JG) pada ginjal. Sel JG merupakan modifikasi
dari sel-sel otot polos yang terletak pada dinding arteriol aferen tepat di proksimal
glomeruli. Bila tekanan arteri menurun, reaksi intrinsik dalam ginjal itu sendiri
menyebabkan banyak molekul protein dalam sel JG terurai dan melepaskan renin.
Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat dan memiliki efek-efek lain
yang juga mempengaruhi sirkulasi. Selama angiotensin II ada dalam darah, maka
angiotensin II mempunyai dua pengaruh utama yang dapat meningkatkan tekanan
arteri. Pengaruh pertama, yaitu vasokonstriksi, timbul dengan cepat. Vasokonstriksi
terjadi terutama pada arteriol dan sedikit lemah pada vena. Cara kedua dimana
angiotensin II meningkatkan tekanan arteri adalah dengan bekerja pada ginjal untuk
menurunkan ekskresi garam dan air.
Vasopresin, disebut juga antidiuretic hormone (ADH), bahkan lebih kuat
daripada angiotensin sebagai vasokonstriktor, jadi kemungkinan merupakan bahan
vasokonstriktor yang paling kuat dari ubuh. Bahan ini dibentuk di hipotalamus tetapi
diangkut menuruni pusat akson saraf ke glandula hipofise posterior, dimana akhirnya
disekresi ke dalam darah. Aldosteron, yang disekresikan oleh sel-sel zona
glomerulosa pada korteks adrenal, adalah suatu regulator penting bagi reabsorpsi
natrium (Na+) dan sekresi kalium (K+) oleh tubulus ginjal. Tempat kerja utama
aldosteron adalah pada sel-sel prinsipal di tubulus koligentes kortikalis. Mekanisme
dimana aldosteron meningkatkan reabsorbsi natrium sementara pada saat yang sama
meningkatkan sekresi kalium adalah dengan merangsang pompa natriumkalium
ATPase pada sisi basolateral dari membran tubulus koligentes kortikalis. Aldosteron
juga meningkatkan permeabilitas natrium pada sisi luminal membran. (Guyton,
1997).
b. Diabetes Melitus (DM)
Diabetes melitus yang merupakan penyakit dengan gangguan pada
metabolisme karbohidrat, protein dan lemak karena insulin tidak dapat bekerja secara
optimal, jumlah insulin yang tidak memenuhi kebutuhan atau keduanya. Gangguan
metabolisme tersebut dapat terjadi karena 3 hal yaitu pertama karena kerusakan pada
sel-sel beta pankreas karena pengaruh dari luar seperti zat kimia, virus dan bakteri.
Penyebab yang kedua adalah penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas dan
yang ketiga karena kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer (Fatimah, 2015).
Insulin yang disekresi oleh sel beta pankreas berfungsi untuk mengatur kadar
glukosa darah dalam tubuh. Kadar glukosa darah yang tinggi akan menstimulasi sel
beta pankreas untuk mengsekresi insulin (Hanum, 2013). Sel beta pankreas yang
tidak berfungsi secara optimal sehingga berakibat pada kurangnya sekresi insulin
menjadi penyebab kadar glukosa darah tinggi. Penyebab dari kerusakan sel beta
pankreas sangat banyak seperti contoh penyakit autoimun dan idiopatik (NIDDK,
2014).
Gangguan respons metabolik terhadap kerja insulin disebut dengan resistensi
insulin. Keadaan ini dapat disebabkan oleh gangguan reseptor, pre reseptor dan post
reseptor sehingga dibutuhkan insulin yang lebih banyak dari biasanya untuk
mempertahankan kadar glukosa darah agar tetap normal. Sensitivitas insulin untuk
menurunkan glukosa darah dengan cara menstimulasi pemakaian glukosa di jaringan
otot dan lemak serta menekan produksi glukosa oleh hati menurun. Penurunan
sensitivitas tersebut juga menyebabkan resistensi insulin sehingga kadar glukosa
dalam darah tinggi (Prabawati, 2012).
Kadar glukosa darah yang tinggi selanjutnya berakibat pada proses filtrasi
yang melebihi transpor maksimum. Keadaan ini mengakibatkan glukosa dalam darah
masuk ke dalam urin (glukosuria) sehingga terjadi diuresis osmotik yang ditandai
dengan pengeluaran urin yang berlebihan (poliuria). Banyaknya cairan yang keluar
menimbulkan sensasi rasa haus (polidipsia). Glukosa yang hilang melalui urin dan
resistensi insulin menyebabkan kurangnya glukosa yang akan diubah menjadi energi
sehingga menimbulkan rasa lapar yang meningkat (polifagia) sebagai kompensasi
terhadap kebutuhan energi. Penderita akan merasa mudah lelah dan mengantuk jika
tidak ada kompensasi terhadap kebutuhan energi tersebut (Hanum, 2013).
c. Osteoarthritis
Osteoarthritis berkembang dengan pengaruh dari interaksi beberapa faktor
dan hal ini merupakan hasil dari interaksi antara sistemik dan faktor lokal. Penyakit
ini merupakan hasil dari beberapa kominasi faktor resiko, diantaranya yaitu usia
lanjut, mal alignmen lutut, obesitas, trauma, genetik, ketidak seimbangan proses
fisiologis dan peningkatan kepadatan tulang. Bukti bahwa obesitas itu sindrom yang
komplek yaitu adannya ketidak normalan aktivasi jalur endokrin dan jalur pro
inflamasi yang mengakibatkan perubahan kontrol makanan,ekspansi lemak, dan
perubahan metabolik (Heidari, 2011).
Selain itu kasus Osteoarthritis juga disebabkan oleh faktor kelainan struktural
yang ada di sekitar persendian. Pada kartilago, terdapat kerusakan yang diakibatkan
oleh cacat kolagen tipe 2 dan beberapa kondropati lainnya, dimana mutasi akan
mempengaruhi protein pada kartilago yang terkait, sehingga menyebabkan
osteoarthritis berkembang semakin cepat. Pada struktur ligamen, terdapat kerusakan
pada ACL atau cedera gabungan yang melibatkan ligamen ko lateral, sehingga
ndapat meningkatkan resiko kehilangan tulang rawan. Kemudian pada struktur
meniskus, terdapat ekskrusi meniskus, yaitu kondisi hilangnya tulang rawan yang
diakibatkan oleh penyempitan ruang sendi dalam waktu yang lama dan terabaikan,
hal tersebut juga merupakan penyebab utama OA. Kemudian pada struktur tulang,
terdapat trauma tulang atau predispoisisi yang menyebabkan tekanan menjadi
abnormal (Mcgonagle et al, 2010).
2. Terapi Penyakit
a. Hipertensi
Penatalaksanaan hipertensi meliputi modifikasi gaya hidup namun terapi
antihipertensi dapat langsung dimulai untuk hipertensi derajat 1 dengan penyerta dan
hipertensi derajat 2. Penggunaan antihipertensi harus tetap disertai dengan modifikasi
gaya hidup.4 Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah:
1) Target tekanan darah <150/90, untuk individu dengan diabetes, gagal ginjal, dan
individu dengan usia > 60 tahun <140/90
2) Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler
Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadap faktor resiko atau kondisi
penyerta lainnya seperti diabetes mellitus atau dislipidemia juga harus dilaksanakan
hingga mencaoai target terapi masing-masing kondisi.
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfakmakologis dan farmakologis.
Terpai nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan
tujuan menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko penyakit
penyerta lainnya.
Modifikasi gaya hidup berupa penurunan berat badan (target indeks massa
tubuh dalam batas normal untuk Asia-Pasifik yaitu 18,5-22,9 kg/m2), kontrol diet
berdasarkan DASH mencakup konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, serta produk
susu rendah lemak jenuh/lemak total, penurunan asupan garam dimana konsumsi
NaCl yang disarankan adalah < 6 g/hari. Beberapa hal lain yang disarankan adalah
target aktivitas fisik minimal 30 menit/hari dilakukan paling tidak 3 hari dalam
seminggu serta pembatasan konsumsi alkohol. Terapi farmakologi bertujuan untuk
mengontrol tekanan darah hingga mencapai tujuan terapi pengobatan. Berdasarkan
JNC VIII pilihan antihipertensi didasarkan pada ada atau tidaknya usia, ras, serta ada
atau tidaknya gagal ginjal kronik. Apabila terapi antihipertensi sudah dimulai, pasien
harus rutin kontrol dan mendapat pengaturan dosis setiap bulan hingga target tekanan
darah tercapai. Perlu dilakukan pemantauan tekanan darah, LFG dan elektrolit.1,4
Jenis obat antihipertensi:4
1) Diuretik
Obat-obatan jenis diuretic bekerja dengan mengeluarkan cairan tubuh
(lewat kencing), sehingga volume cairan tubuh berkurang mengakibatkan daya
pompa jantung menjadi lebih ringan dan berefek pada turunnya tekanan darah.
Contoh obat-obatan ini adalah: Bendroflumethiazide, chlorthizlidone,
hydrochlorothiazide, dan indapamide.
2) ACE-Inhibitor
Kerja obat golongan ini menghambat pembentukan zat angiotensin II (zat
yang dapat meningkatkan tekanan darah). Efek samping yang sering timbul
adalah batuk kering, pusing sakit kepala dan lemas. Contoh obat yang tergolong
jenis ini adalah Catopril, enalapril, dan lisinopril.
3) Calsium channel blocker
Golongan obat ini berkerja menurunkan menurunkan daya pompa jantung
dengan menghambat kontraksi otot jantung (kontraktilitas). Contoh obat yang
tergolong jenis obat ini adalah amlodipine, diltiazem dan nitrendipine.
4) ARB
Kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat angiotensin II
pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-
obatan yang termasuk golongan ini adalah eprosartan, candesartan, dan losartan.
5) Beta blocker
Mekanisme obat antihipertensi ini adalah melalui penurunan daya pompa
jantung. Jenis obat ini tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui
mengidap gangguan pernafasan seperti asma bronchial. Contoh obat yang
tergolong ke dalam beta blocker adalah atenolol, bisoprolol, dan beta metoprolol.

b. Diabetes Melitus (DM)


Terapi DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi medis
dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti
hiperglikemia secara oral dan/atau suntikan. Obat anti hiperglikemia oral dapat
diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi. Pada keadaan emergensi dengan
dekompensasi metabolik berat, misalnya: ketoasidosis, stres berat, berat badan yang
menurun dengan cepat, atau adanya ketonuria, harus segera dirujuk ke Pelayanan
Kesehatan Sekunder atau Tersier (PERKENI, 2015).
Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan
cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pengetahuan tentang pemantauan
mandiri tersebut dapat dilakukan setelah mendapat pelatihan khusus.
1) Terapi Non-Farmakologi
a) Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat
penting dari pengelolaan DM secara holistik.
b) Terapi Nutrisi Medis (TNM)
TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DMT2 secara
komprehensif. Prinsipnya yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan
kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu
diberikan penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan
jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan obat yang
meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri.
c) Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2
apabila tidak disertai adanya nefropati. Dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan glukosa darah sebelum latihan jasmani. Latihan jasmani selain
untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan
memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa
darah (PERKENI, 2015).
2) Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan
bentuk suntikan.
a) Obat Antihiperglikemia Oral
Berdasarkan cara kerjanya, obat antihiperglikemia oral dibagi menjadi 5
golongan:
I. Pemacu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue)
Sulfonilurea : Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Efek samping utama adalah
hipoglikemia dan peningkatan berat badan. Hati-hati menggunakan
sulfonilurea pada pasien dengan risiko tinggi hipoglikemia (orang tua,
gangguan faal hati, dan ginjal).
Glinid : merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,
dengan penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan
ini terdiri dari 2 macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan
Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan cepat setelah
pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini
dapat mengatasi hiperglikemia post prandial. Efek samping yang mungkin
terjadi adalah hipoglikemia.
II. Peningkat Sensitivitas terhadap Insulin
Metformin : mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), dan memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer.
Metformin merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus DMT2.
Dosis Metformin diturunkan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal
(GFR 30- 60 ml/menit/1,73 m2). Metformin tidak boleh diberikan pada
beberapa keadaan sperti adanya gangguan hati berat, serta pasien-pasien
dengan kecenderungan hipoksemia (misalnya penyakit serebrovaskular,
sepsis, renjatan, PPOK, gagal jantung). Efek samping yang mungkin berupa
gangguan saluran pencernaan seperti halnya gejala dispepsia.
Tiazolidindion (TZD) : merupakan agonis dari Peroxisome Proliferator
Activated Receptor Gamma (PPAR-gamma), suatu reseptor inti yang
terdapat antara lain di sel otot, lemak, dan hati. Golongan ini mempunyai
efek menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein
pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di jaringan
perifer. Tiazolidindion meningkatkan retensi cairan tubuh sehingga
dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung karena dapat
memperberat edema/retensi cairan. Hati-hati pada gangguan faal hati, dan
bila diberikan perlu pemantauan faal hati secara berkala. Obat yang masuk
dalam golongan ini adalah Pioglitazone.
III. Penghambat Absorpsi Glukosa di saluran pencernaan
Obat ini bekerja dengan memperlambat absorbsi glukosa dalam usus
halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah
makan. Penghambat glukosidase alfa tidak digunakan pada keadaan:
GFR≤30ml/min/1,73 m2, gangguan faal hati yang berat, irritable bowel
syndrome. Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating
(penumpukan gas dalam usus) sehingga sering menimbulkan flatus. Guna
mengurangi efek samping pada awalnya diberikan dengan dosis kecil.
Contoh obat golongan ini adalah Acarbose.
IV. Penghambat DPP-IV (Dipeptidyl Peptidase-IV)
Obat golongan penghambat DPP-IV menghambat kerja enzim DPP-
IV sehingga GLP-1 (Glucose Like Peptide-1) tetap dalam konsentrasi yang
tinggi dalam bentuk aktif. Aktivitas GLP-1 untuk meningkatkan sekresi
nsulin dan menekan sekresi glukagon bergantung kadar glukosa darah
(glucose dependent). Contoh obat golongan ini adalah Sitagliptin dan
Linagliptin.
V. Penghambat SGLT-2 (Sodium Glucose Cotransporter2)
Obat golongan penghambat SGLT-2 merupakan obat antidiabetes
oral jenis baru yang menghambat penyerapan kembali glukosa di tubuli
distal ginjal dengan cara menghambat kinerja transporter glukosa SGLT-2.
Obat yang termasuk golongan ini antara lain: Canagliflozin, Empagliflozin,
Dapagliflozin, Ipragliflozin (PERKENI, 2015).
b) Obat Antihiperglikemia Suntik
Termasuk anti hiperglikemia suntik, yaitu insulin, agonis GLP-1 dan
kombinasi insulin dan agonis GLP-1.
I. Insulin
Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi 5 jenis, yakni :
Insulin kerja cepat (Rapid-acting insulin), Insulin kerja pendek (Short-
acting insulin), Insulin kerja menengah (Intermediateacting insulin), Insulin
kerja panjang (Long-acting insulin) dan Insulin kerja ultra panjang (Ultra
longacting insulin)
II. Agonis GLP-1/Incretin Mimetic
Pengobatan dengan dasar peningkatan GLP-1 merupakan
pendekatan baru untuk pengobatan DM. Agonis GLP-1 dapat bekerja pada
sel-beta sehingga terjadi peningkatan pelepasan insulin, mempunyai efek
menurunkan berat badan, menghambat pelepasan glukagon, dan
menghambat nafsu makan. Efek penurunan berat badan agonis GLP-1 juga
digunakan untuk indikasi menurunkan berat badan pada pasien DM dengan
obesitas. Pada percobaan binatang, obat ini terbukti memperbaiki cadangan
sel beta pankreas. Efek samping yang timbul pada pemberian obat ini antara
lain rasa sebah dan muntah. Obat yang termasuk golongan ini adalah:
Liraglutide, Exenatide, Albiglutide, dan Lixisenatide.
III. Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi obat antihiperglikemia oral, baik secara terpisah
ataupun fixed dose combination, harus menggunakan dua macam obat
dengan mekanisme kerja yang berbeda. Pada keadaan tertentu apabila
sasaran kadar glukosa darah belum tercapai dengan kombinasi dua macam
obat, dapat diberikan kombinasi dua obat antihiperglikemia dengan insulin.
Pada pasien yang disertai dengan alasan klinis dimana insulin tidak
memungkinkan untuk dipakai, terapi dapat diberikan kombinasi tiga obat
antihiperglikemia oral. Kombinasi obat antihiperglikemia oral dengan
insulin dimulai dengan pemberian insulin basal (insulin kerja menengah
atau insulin kerja panjang). Insulin kerja menengah harus diberikan jam 10
malam menjelang tidur, sedangkan insulin kerja panjang dapat diberikan
sejak sore sampai sebelum tidur. Pendekatan terapi tersebut pada umumnya
dapat mencapai kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang
cukup kecil. Dosis awal insulin basal untuk kombinasi adalah 6-10 unit.
Kemudian dilakukan evaluasi dengan mengukur kadar glukosa darah puasa
keesokan harinya. Dosis insulin dinaikkan secara perlahan (pada umumnya
2 unit) apabila kadar glukosa darah puasa belum mencapai target. Pada
keadaaan dimana kadar glukosa darah sepanjang hari masih tidak terkendali
meskipun sudah mendapat insulin basal, maka perlu diberikan terapi
kombinasi insulin basal dan prandial, sedangkan pemberian obat
antihiperglikemia oral dihentikan dengan hati-hati (PERKENI, 2015).

c. Osteoarthritis
Terapi utama adalah mengelola gejala, mengurangi nyeri dan disabilitas,
meningkatkan fungsi sendi dan kestabilan sendi (Anwer S., 2014). Pilihan terapi
terdiri dari terapi farmakologi dan non-farmakologi yang dapat dikombinasi.
1) Tatalaksana Non-farmakologi
a) Latihan dan terapi manual
Latihan dan aktivitas fisik sangat direkomendasikan untuk mengurangi
nyeri dan memperbaiki fungsi sendi. Latihan Latihan fisik dapat berupa latihan
aerobik dan bisa dilakukan di air (water based exercise) dan di darat (land
based exercise). Latihan di darat dapat berupa bersepeda dan berjalan.
Sedangkan untuk di air bisa berupa berenang dan berjalan di dalam air. Latihan
di air biasa digunakan pada pasien OA yang sulit melakukan latihan di darat
(Rahmann A.E., 2010)
Latihan fisik sering dikombinasi dengan terapi manual yang terdiri dari
mobilisasi aktif dan pasif sendi, peregangan (stretching), dan masase jaringan
lunak. Tujuan terapi manual adalah mengurangi nyeri, menormalisasi
biomekanik sendi dan jaringan, dan meningkatkan fungsi sendi (Jones B,
Covey C dan Sineath MJ, 2015)
b) Penurunan berat badan
Pasien dengan indeks massa tubuh lebih dari 25 kg/m2 harus didorong
untuk menurunkan berat badannya. Hal ini dilakukan dengan membatasi diet
tinggi kalori yang dikombinasikan dengan latihan fisik (Jones B, Covey C dan
Sineath MJ, 2015).
c) Braces dan orthosis
Dapat digunakan untuk memperbaiki gait dan membantu meringankan
beban lutut sehingga mengurangi nyeri. Namun brace dan orthosis tidak dapat
menggantikan fungsi latihan fisik. Jenis yang sering digunakan adalah valgus
brace dan lateral wedge insoles. Penggunaan valgus knee brace dan lateral
wedge insoles sama-sama dapat mengurangi nyeri dan memperbaiki gambaran
radiologis pada pasien OA, di mana valgus knee brace hasilnya lebih baik
(Lespasio MJ, dkk., 2017).
d) Elektroterapi
Modalitas eletroterapi meliputi TENS (transcutaneous electrical nerve
stimulation) dan neuromuscular electrical stimulation (NEMS). Pada OA lutut,
modalitas ini dapat menstimulasi otot quadriceps, sehingga meredakan nyeri
dan memperkuat otot tersebut (Lespasio MJ, dkk., 2017).
e) Pembedahan
Tindakan pembedahan dapat dipertimbangkan jika pasien tidak
membaik dengan tatalaksana konservatif dan modalitas nonfarmakologi.
Pertimbangan kualitas hidup pasien yang makin menurun juga dapat menjadi
indikasi. Pilihan operasi pada OA lutut meliputi artroskopi, perbaikan
kartilago, dan artroplasti (Lespasio MJ, dkk., 2017).
2) Tatalaksana Farmakologi
Mengurangi rasa nyeri sangat penting dalam penanganan OA. Obat
analgesik berbagai jenis seperti obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS), opiat,
dan analgesik lain non-opiat. OAINS menghambat biosintesis prostaglandin yang
terbentuk saat proses radang. Biosintesis prostaglandin dibantu oleh enzim
siklooksigenase, yaitu siklooksigenase-I (COX-1) dan siklooksigenase-II (COX-
II). Dosis terapeutik OAINS mengurangi biosintesis prostaglandin dengan
menghambat kerja enzim siklooksigenase. Terapi OAINS terdiri dari penghambat
COX nonspesifik dan penghambat COX-II spesifik. Contoh penghambat COX
nonspesifik adalah ibuprofen, diklofenak, meloxicam, dan aspirin, serta
penghambat COX-II selektif contohnya celecoxib (Vaishya R, dkk., 2016).
Analgesik lain bukan turunan opiat dan sering digunakan adalah
acetaminophen/ paracetamol. Obat ini efektif meredakan nyeri OA lutut tetapi
masih kurang efisien dibandingkan OAINS.10 Namun, efek sampingnya lebih
sedikit dibandingkan OAINS (Vaishya R, dkk., 2016).
Opiat merupakan turunan opium yang memiliki kemampuan analgesik
dengan menghambat langsung transmisi nosiseptif. Opiat efektif meredakan nyeri
OA lutut, namun tidak ada perbedaan signifikan antara efikasi opiat- parasetamol
dan OAINS. Kombinasi OAINS dengan opiat- parasetamol terbukti efektif jika
terapi tunggal OAINS tidak berhasil. Jika pasien menunjukkan respons positif,
terapi kombinasi opiat–parasetamol dan OAINS dapat digunakan untuk
mempertahankan kondisi tanpa nyeri (Vaishya R, dkk., 2016).
Selain ketiga golongan analgesik di atas, terdapat golongan nutraceutical,
yang merujuk pada makanan atau suplemen makanan yang memiliki keuntungan
kesehatan. Contoh untuk OA yang paling sering adalah glucosamine dan
chondroitin (Vaishya R, dkk., 2016).
a) Injeksi Intraartikular
Injeksi intraartikular dibagi dalam tiga jenis, yaitu:
1) Viskosuplementasi dengan hyaluronic acid (HA)
HA adalah glikosaminoglikan alami dan merupakan komponen
cairan sinovial dan matriks kartilago. Cairan sinovial dengan HA normal
berfungsi pelumas dan peredam kejut (shock absorber). Injeksi HA
diperkirakan bisa mengembalikan viskoelastisitas cairan sendi lutut,
sehingga dapat memperbaiki fungsi sendi lutut yang terkena OA. Selain itu,
HA juga dipercaya dapat mengurangi keradangan sinovial, melindungi erosi
kartilago, dan meningkatkan produksi HA (Ayhan E, dkk., 2014).
Pemberian viskosuplemen ini juga paling efektif jika diberikan pada
OA tahap awal (mild-moderate). Pasien merasakan perbaikan gejala pada
viskosuplementasi.
2) Kortikosteroid intra-artikular
Terapi ini sudah lama digunakan sebagai salah satu pilihan untuk
meredakan nyeri dan memperbaiki fungsi sendi dalam jangka pendek
(Ayhan E, dkk., 2014).
3) Platelet-rich plasma
Injeksi platelet-rich plasma (PRP) sering disebut sebagai injeksi
regeneratif. Konsentrat platelet diaktivasi dengan penambahan kalsium
klorida dan menghasilkan pembentukan gel platelet dan mengeluarkan
growth factors (GF) dan molekul bioaktif. Dengan demikian, platelet secara
aktif berpartisipasi dalam proses penyembuhan dengan memberikan
spektrum GF yang luas ke lokasi cedera dan merangsang kondrogenesis,
bone remodelling, proliferasi, angiogenesis, dan antiinflamasi (Ayhan E,
dkk., 2014).

3. Uraian Permasalahan Pasien (ANALISA SOAP)


a. Subjective :
Ny. N umur 61 tahun dengan keluhan badan terasa lemah, mual, dan beberapa kali
muntah, mudah capek.
b. Objective :
1) Tanda vital : tekanan darah 143/90 mmHg (tidak normal)
2) Obat yang digunakan :
a) Obat osteoarthritis : Allopurinol, meloxicam
b) DM tipe 2 : Insulin, metformin
c) Hipertensi : Amlodipin, Furosemid
c. Assessment
1) Problem 1 : Penggunaan obat insulin pada DM tipe 2 perlu dipertimbangkan
2) Problem 2 : Obat hipertensi furosemide perlu diatasi dan dipertimbangkan
3) Problem 3 : Penggunaan obat Ranitidine melebihi dosis normal sehingga perlu
diatasi dan dipertimbangkan.
d. Plan
1) Problem 1
Diskusikan ke dokter untuk mempertimbangkan penggunaan insulin pada
pasien Ny.N karena penggunaan insulin hanya dapat digunakan pada penderita
DM tipe 1, selain itu penggunaan insulin juga dapat digunakan pada penderita
DM tipe 2 dalam keadaan darurat atau kadar gula darah pasien tidak turun
setelah mengkonsumsi obat oral.

2) Problem 2
Rekomendasikan ke dokter mengenai pemberian obat furosemide yang
seharusnya tidak boleh diberikan kepada pasien penderita DM. Alternatifnya,
tetap menggunakan amlodipin sebagai pengobatan pertama untuk obat
hipertensinya.
3) Problem 3
Rekomendasikan ke dokter mengenai pemberian obat Ranitidine yang
melebihi dosis maksimum yaitu 2x300 mg seharusnya pemberiannya yaitu
2x150 mg atau 1x300 mg.
4. Kategori DRP
Dilanjutkan/
No. Terapi Indikasi DRP Alasan
Dihentikan
Karena riwayat pasien bukan
DM tipe 1 serta tidak ada hasil
Penggunaan lab. yang menunjukkan kadar
1. Insulin DM Tipe 1 obat kurang Dihentikan gula pasien. Insulin dengan
tepat beberapa obat seperti allopurinol
dapat menyebabkan
hiperglikemia (Asyrorsh, 2018)
Karena metformin meruapakan
pilihan pertama untuk
2. Metformin DM Tipe 2 - Dilanjutkan
pengobatan DM tipe 2 (Rida
Fradifta, 2019).
Karena amlodipin dijadikan
pilihan yang tepat dan
TD : 143 / 90
3. Amlodipin - Dilanjutkan terjangkau oleh pasien hipertensi
mmHg
(Koda-Kimble dan Young,
2001).
Pasien mengalami DM tidak
ccocok diberikan obat golongan
Reaksi obat
diuretic hemat kalium. Karena
4. Furosemid Hipertensi yang tidak Dihentikan
dapat mempengaruhi kadar gula
dikehendaki
pasien (Koda-Kimble dan
Young, 2001)
Obat yang ada dalam resep tidak
Penggunaan
Kolesterol/ sesuai dengan indikasi keluhan
5. Fenofibrat obat tanpa Dihentikan
Trigliserida penyakit pasien (Elisa Mayasari,
indikasi
2015).
Dosis obat yang diberikan terlalu
besar, diatas dosis maksimum
hal ini dapat berakibat fatal.
Mual dan Dosis Interaksi antara metformin dan
6. Ranitidin Dihentikan
Muntah terlalu besar Ranitidin dapat menyebabkan
peningkatan Efek dari
Metformin (Rida Fradifta,
2019).
Kalitake
Penggunaan
(kalsium Gangguan Pasien tidak menderita gangguan
7. obat tanpa Dihentikan
polistirena gagal ginjal ginjal (Elisa Mayasari, 2015).
indikasi
sulfonat)
8. CaCO3 Maaq/Asam Gagal Dihentikan Karena tablet CaCo3 sudah tidak
lambung menerima diperjualkan dipasaran dan
sudah tidak tersedia di pasaran.
CaCO3 berinteraksi dengan
Obat Allopurinol yaitu mengakibatkan
perubahan pada kondisi klinis
(Tria Novia, 2016).
Untuk mengatasi anemia karena
Suplemen
9. Mudah capek - Dilanjutkan mudah capek (Koda-Kimble dan
Fe
Young, 2001).
Penggunaan Obat yang ada dalam resep tidak
Suplemen Ibu
10. Asam Folat obat tanpa Dihentikan sesuai dengan indikasi keluhan
Hamil
indikasi pasien (Yardi Sibi, dkk., 2018).
Karena pasien mengalami
riwayat DM 8 th yang dimana
Vitamin B
11. Vitamin Saraf - Dilanjutkan Vit.B Kompleks berfungsi untuk
Kompleks
saraf pada pasien penderita DM
(Tria Novia, 2016).
Membantu kecepatan terapi utuk
12. Allopurinol Osteoarthritis - Dilanjutkan
pasien OA (Tria Novia, 2016)..
Obat golongan NSAID yang
menunjukkan kemampuan
13. Meloxicam Osteoarthritis - Dilanjutkan secara signifikan untuk
penderita OA (Tria Novia,
2016).
Injeksi Penggunaan Pasien tidak mengalami alergi
14. triamsinolon Radang/Alergi obat tanpa Dihentikan (Koda-Kimble dan Young,
asetat indikasi 2001).

5. Tujuan Terapi
a. Edukasi kepada pasien dan perawat/keluarga.
b. Meringankan nyeri dan kekakuan.
c. Memelihara dan meningkatkan mobilitas (pegerakan) sendi.
d. Membatasi gangguan fungsional.
e. Memelihara dan meningkatkan kualitas hidup.

6. Terapi, Alternatif, Rencana Optimasi Tatalaksana dan Strategi Pengobatan


a. Terapi Non-Farmakologis Oesteoarthtritis :
Terapi Non farmakologis Oesteoarthritis merupakan suatu dengan modalitas
yang paling utama dilakukan untuk pasein penderia OA (Oestarthritis). Tetapi tidak
ada interverensi yang secara efektif mengurangi proses secara farmakologis.
Adapun terapi farmakolgis yang dilakukan yaitu dengan olahraga ringan , Senam
sederhana, dan terapi fisik khususnya pada pasien yang memiliki usia lansia. Selain
itu, terapi farmakologis seperti olahraga kecil pada otot paha menu jukkan hasilyang
positif yaitu meningkatkan fungsi fisik dan mengurangi rasa sakit pada lutut/paha
yang sakit atau nyeri. Keefektifan interverensi pada trerapi non farmakolgis juga
dapat menurunkan rasa nyeri pada OA tetapi harus disertai dengan terapi
Farmakologi.
b. Terapi Farmakologis Oesteoarthritis :
Terapi farmakologis Oesteoarthritis yaitu mengggunakan obat golongan
NSAID yaitu meloxicam 1 X 15 mg . Obat golongan NSAID ini telah terbukti
memberikan kemampuan yang sangat signifikan pada penderita OA baik yang
memiliki tingkat nyeri sedang maupun berlebih bahkan pada peradangan. Obat
golongan NSAID menunjukkan kemampuan yang sangat signifikan dalam
pengobatan OA baik pada pasien yang memilki berat badan yang sedang maupun
berlebih. Uji coba pada obat golongan NSAID atau siklooksigenase -2 (COX-2)
inhibitor akan menjadi pertimbangan yang masuk akal di individu yang dipilih,
anallisis resiko dan manfaat yang cermart harus dilakukan diindividualkan untuk
pasien yang memulai NSAID, Karena efek samping yang memungkinkan dari obat
golongan ini yaitu, perdarahan Gi, penurunan fungsi ginjal, toksistas hati, dan lain2.
Pengobatan spesifik dinggap perlu diniliai secara hati-hati dalam pelaksaanan terapi
nya.

7. Saran-Saran (Sebagai Apoteker) Untuk Edukasi Pada Pasien


a. Menyarankan kepada pasien dengan modifikasi gaya hidup (olahraga, penurunan
berat badan, dan diet rendah kalori). Progresifitas penyakit dan komplikasinya dapat
dihambat dengan fisioterapi dan modifikasi gaya hidup. Kontrol rutin perlu
diperlukan selama 1 tahun sekali atau sesuai dengan kesepakatan dokter dengan
pasien. Pasien harus segera kontrol apabila mengalami perburukan gejala.
b. Memberiitahukan kepada pasien untuk kontrol tekanan darah secara teratur dan
mengkonsumsi obat antihipertensi dan obat lainnya sesuai dengan anjuran dokter
c. Memberitahukan kepada pasien agar meminum obat secara teratur, serta kontrol
rutin secara berkala merupakan kunci untuk menjaga gula darah pasien tetap stabil.
d. Pasien perlu diedukasi untuk menghindari gula dan asupan lemak jenuh, rokok, dan
alkohol. Pasien perlu menjaga berat badannya di kisaran indeks massa tubuh (IMT)
normal serta berolahraga secara teratur.
e. Menjelaskan kepada pasien tentang efek samping dari obat-obat yang dikonsumsi.
DAFTAR PUSTAKA

Erlisa Mayasari. 2015. Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Injeksi Insulin Pada
Peresepan Pasien Rawat Jalan Peserta Askes Rumah Sakit Dokter Soedarso
Pontianak Periode April – Juni 2013. Universitas Tanjung Pura : Pontianak.

Koda-Kimble dan Young. 2001. Appleid Therapeutics The Clinical Use Of Drugs. Wolters
Kluwer, Universitas San Fransisco : California.

Rida Pradifta, Ilham Alifiar Dan Maritsa Nur Fatwa. 2019. Kajian Interaksi Obat
Antidiabetik Dengan Obat Lain Pada Pasien Diabetes Mellitus Rawat Inap Di
Rsud Dr. Soekardjo Tasikmalaya . Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Tunas
Husada : Tasikmalaya.

Sleh Asyrorsh. 2018. Analisis Potensi Interaksi Antidiabetik Injeksi Insulin Pada
Peresepan Pasien Rawat Jalan Peserta Askes Rumah Sakit Dokter Soedarso
Pontianak. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim : Malang.

Tria Novia. 2016. Evaluasi Interaksi Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Rawat
Inap Di Bangsal Cempaka RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Agustus
2015. Universitas Sanata Dharma : Yogyakarta.

Yardi Saibi, Delina Hasan Dan Verona Shaqila. 2018. Potensi Interaksi Obat Pada Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit X Tangerang Selatan. UIN Syarif
Hadayatullah : Jakarta.