Anda di halaman 1dari 4

CRITICAL REVIEW JURNAL

Judul Jurnal : Determinan Perilaku Oportunistic Penyusun Anggaran Calon Incumbent Terkait Pilkada Serentak Tahun 2015
Pengarang : Ni Kadek Ayu suartini, Dodik Ariyanto, Maria M. Ratna Sari
Diterbiutkan Tahun : 2016

Nama Pengarang Judul Latar Belakang


Ni Kadek Ayu suartini Determinan Perilaku Oportunistic Penyusun Anggaran Calon 1. Pelaksanaan Pilkada serentak tanggal 9 Desember tahun 2015.
Dodik Ariyanto Incumbent Terkait Pilkada Serentak Tahun 2015 2. Anggota Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) menyatakan
Maria M. Ratna Sari bahwa incumbent memanfaatkan anggaran sebagai modal kampanye.
Masalah Tujuan
Terdapat tiga rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu : Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengetahui pengaruh PAD, DAK dan SiLPA
1. Apakah PAD berpengaruh terhadap perilaku oportunistic penyusun anggaran calon pada perilaku opportunistic penyusun anggaran calon incumbent terkait pilkada
incumbent terkait pilkada serentak 2015 pada Kabupaten/Kota di Indonesia serentak 2015 pada Kabupaten/Kota di Indonesia
2. Apakah DAK berpengaruh terhadap perilaku oportunistic penyusun anggaran calon
incumbent terkait pilkada serentak 2015 pada Kabupaten/Kota di Indonesia
3. Apakah Silpa berpengaruh terhadap perilaku oportunistic penyusun anggaran calon
incumbent terkait pilkada serentak 2015 pada Kabupaten/Kota di Indonesia
Teori Penelitian Terdahulu Metodologi
Dalam jurnal ini peneliti hanya menyebutkan beberapa nama peneliti/hasil penelitian : 1. Peneliti memilih Kabupaten/Kota sebagai sampel karena apabila memilih propinsi,
1. Menurut Ritonga dan Alam (2010) menyatakan bahwa terjadi peningkatan maka sampel penelitian tidak dapat dipenuhi.
pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) oleh incumbent 2. Peneliti memilih waktu penelitian 2014-2015 karena adanya kecenderungan Kepala
untuk kampanye. Daerah melakukan politisasi anggaran serta pola yang terjadi adalah bantuan sosial
2. Sularso dkk (2014) menyatakan bahwa proporsi PAD yang rata-rata hanya 10% dari cenderung meningkat satu tahun sebelum pilkada diselenggarakan.
total penerimaan daerah meiliki kecenderungan beretambah saat perubahan 3. Penelitian dilaksanakan tahun 2016 dengan fokus pengamblan data dari Komisi
anggaran, sehingga memberi peluang bagi legislatif untuk merekomendasikan Pemilihan Umum (KPU) dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan,
penambahan anggaran bagi program dan kegiatan yang penjadi preferensinya. 4. Ruang lingkup penelitian adalah perilaku opportunistic penyusun anggaran calon
Dalam penelitian ini, apabila jumlah peningkatan pengeluaran (akumulasi dari incumbent yang dilihat dari alokasi anggaran yang disusun dalam APBD
Δbelanja pendidikan, Δbelanja kesehatan, Δbelanja infrastruktur, Δhibah dan Kabupaten/Kota di Indonesia yang dipengaruhi oleh PAD, DAK, SiLPA. Alokasi
Δbelanja bansos) maka diindikasikan adanya perilaku opportunistic yang dilakukan belanja yang diamati yaitu sektor pendidikan, kesehatan, hibah dan bansos. Peneliti
oleh eksekutif memakai data sekunder berupa data realisasi APBD (PAD, DAK, SiLPA, belanja
3. Abdullah dan Asmara (2006), Suryarini (2012), Maryono (2013) dan Jumaidi (2014) pendidikan, belanja kesehatan, belanja infrasturktur, belanja hibah dan belanja
meneliti mengenai perilaku opportunistic legislatif. bantuan sosial) tahun 2013-2015.
4. Sementara itu pada penelitian ini, peneliti menggunaskan teori keagenan dalam 5. Peneliti menggunakan purposive sampling dengan tiga kriteria sampel yaitu :
mengetahui dan menguji determinan perilaku opportunistic penyusun anggaran a. Kabupaten/Kota diindonesia yang calon kepala daerahnya merupakan incumbent
calon incumbent terkait pilkada tahun 2015. Teori Keagenan dapat digunakan pada dan terpilih kembali pada pilkada serentak 2015;
semua entitas yang memiliki ikatan terhadap suatu kontrak. Teori Keagenan dapat b. Kabupaten/Kota diindonesia yang mempublikasikan Laporan Realisasi Anggaran
digunakan sebagai landasan teori untuk menjelaskan fenomena political interest (LRA) tahunan di situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pemerintah
(Christensen, 1992). Daerah dan situs resmi pemerintahan lainnya tahun 2013-2015 karena sebelum
Teori ini menyatakan bahwa pihak prinsipal dan agen meiliki hubungan di mana pilkada serentak yaitu tahun 2014 dan saat pilkada serentak 2015, calon incumben
prinsipal bertindak sebagai pemberi kuasa atau wewenang sedangkan agen disinyalir meningkatkan pos-pos belanja dalam APBD sesuai dengan kepentingannya
menerima kuasa atau wewenang tersebut Alt et al (2005) menyatakan bahwa pihak untuk modal kampanye;
prinsipal memiliki keunggulan sedangkan yang meiliki informasi terbesar adalah c. Kabupaten/Kota diindonesia yang mempublikasikan secara rutin APBD dari sektor
pihak agen sehinga pihak agen memanfaatkan kesempatan atau keuasaan yang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hibah dan bansos di situs Direktorat Jenderal
dimiliki untuk memenuhi kepentingan pribadi politiknya. Perimbangan Keuangan Pemerintah Daerah dan situs resmi pemerintahan lainnya
Teori Keagenan menjelaskan hubungan antara pihak prisipal dan agen yang terikat selama tiga tahun yaitu tahun 2013-2015
dalam satu kontrak (Megasari, 2015). Megasari (2015) menyatakan bahwa teori
keagenan memiliki dampak negatif berupam perilaku opportunistic. Rawan terjadi
tindakan oportunisti yang dilakukan oleh kepala daerah sebelum pilkada.
Hasil Penelitian Kelemahan dan Kekuatan
Hasil Penelitian ini yaitu : Kelemahan :
1. Hipotesis pertama menguji pengaruh positif perubahan PAD pada perilaku 1. Terdapat referensi tentang penelitian terdahulu yang hanya mencantumkan nama
opportunistic penyusun anggaran calon incumbent dan disimpulkan bahwa peneliti dan kegiatan penelitiannya tapi tidak menyebutkan hasil atau hipotesis dari
perubahan PAD berpengaruh positif npada perilaku opportunistic penyusun penelitian mereka yaitu Abdullah dan Asmara (2006), Suryarini (2012), Maryono
anggaram calon incumbent . (2013) dan Jumaidi (2014) yang meneliti mengenai perilaku opportunistic legislatif.
2. Hipotesis kedua menguji pengaruh positif perubahan DAK pada porilaku
opportunistic penyusun anggaran calon incumbent dan disimpulkan bahwa
perubahan DAK berpengaruh positif npada perilaku opportunistic penyusun Kekuatan
anggaram calon incumbent. 1. Peneliti menggunakan populasi yang cukup besar (45 sampel) sehingga hasil
3. Hipotesis kedua menguji pengaruh positif perubahan SiLPA pada porilaku penelitian mewakili kondisi realita yang kuat terjadi pada daerah yang melakukan
opportunistic penyusun anggaran calon incumbent dan disimpulkan bahwa pilkada pada tahun 2015
perubahan SiLPA berpengaruh positif npada perilaku opportunistic penyusun
anggaram calon incumbent.

Anda mungkin juga menyukai