Anda di halaman 1dari 4

KEPERAWATAN GERONTIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh

Eka Yulia Rizki Nasution 20210109487


Nisa Asriani

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
PROFESI NERS KEPERAWATAN
2020
Kasus Penanganan Insomnia Pada Lansia Dengan Relaksasi Otot Progresif Di
Panti Werdha Kuranji Padang

1. Gambaran Kasus
Panti Werdha K yang berada di kota Padang adalah tempat tinggal yang
dirancang khusus untuk orang lanjut usia, yang di dalamnya disediakan semua
fasilitas lengkap yang dibutuhkan orang lanjut usia. Lansia binaan panti tersebut
adalah laki-laki dan perempuan yang berusia dari 60 tahun hingga lebih dari 90
tahun, hal ini mengikuti peraturan yang sudah tertera di panti yakni syarat untuk
masuk menjadi binaan panti sudah harus berumur 60 tahun keatas. Panti Werdha
K menyediakan berbagai kegiatan yang dapat membantu lansia, dalam
menyehatkan tubuh, hubungan sosial , dan kerohanian. Kegiatan tersebut
dilakukan agar lansia yang berada di Panti Werdha K merasa nyaman serta
menghilangkan semua beban pikiran. Namun walaupun dengan adanya berbagai
macam kegiatan tersebut lansia yang berada di panti werdha masih merasakan
adanya suasana yang canggung antara lansia, serta keluarga yang jarang
menemui mereka disana. Akibatnya Kebanyakan Lansia di panti sosial
mengalami kesulitan tidur.
Panti Werdha K membiasakan para lansia yang mengalami kesulitan tidur
untuk berendam kaki dengan air panas sehingga keadaan lansia menjadi rileks.
Namun seiring berjalannya waktu keadaan lansia masih saja mengalami kesulitan
tidur dan bahkan kadang dapat memperparah keadaan psikologis dari lansia
tersebut. Panti Werdha dengan bantuan dari perawat yang berjaga melakukan
diskusi tentang pentingnya penatalaksanaan insomnia pada lansia. Salah satu
intervensi yang diberikan pada lansia di Panti Werdha K yaitu relaksasi otot
progresif yang bertujuan mengurangi gejala insomnia pada lansia. Relaksasi otot
progresif dilakukan setiap hari sebanyak dua sesi dan selama 4 minggu.
Keefektifan relaksasi otot progresif pada lansia dengan insomnia ditandai dengan
penurunan jumlah lansia yang mengalami insomnia dan kualitas tidur lansia
menjadi lebih baik. Panti Werdha menjadikan kegiatan relaksasi otot progresif
sebagai kegiatan harian yang ada di panti tersebut.

2. Rumusan PICOT

P (Problem) = Lansia merasakan adanya suasana yang canggung antara


lansia, serta keluarga yang jarang menemui mereka disana
mengakibatkan kesulitan tidur.
I (Interveension) = Berendam kaki dengan air panas; keadaan lansia menjadi
rileks.
C (Comparison) = Relaksasi otot progresif ; mengurangi gejala insomnia pada
lansia.
O (Outcome) = Setelah terapi relaksasi otot progresif lansia terjadi
penurunan jumlah lansia mengalami insomnia dan kualitas
tidur lansia menjadi lebih baik.
T (Time) = Masa perawatan lansia di Panti Werdha.

3. Merumuskan Kalimat Masalah


Apakah terapi progressive muscle relaxation (PMR) berpengaruh dalam
mengurangi kejadian insomnia pada lansia di Pusat Kesehatan Kuranji Padang?

4. Sumber Pustaka
Penelitian dilakukan oleh Diana Arianti dan Milya Novera pada tahun
2019 dengan judul “The Influence of Progressive Muscle Relaxation on
Insomnia in The Elderly in The Health Center of Kuranji Padang”. Populasi pada
penelitian ini adalah seluruh lansia di pusat kesehatan Kuranji Padang berjumlah
94 orang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain one group pretest-
posttest. Jumlah sampel 15 orang dengan teknik purposive sampling. Penelitian
dilakukan di wilayah kerja PT Pusat Kesehatan Kuranji Padang. Sebanyak 15
sampel diberikan terapi progressive muscle relaxation dengan tanpa kelompok
kontrol. Kuisioner yang digunakan dalam mengukur insomnia menggunakan
KSPBJ-IRS. Kuesioner diberikan sebelum intervensi dan 15 minggu setelah
intervensi. PMR dilakukan 1 kali sehari selama 15 minggu.

5. Menganalisa untuk Mencapai Tujuan


Tindakan PMR akan memberi respons terhadap ketegangan, pengurangan
aktivitas sistem saraf otonom, dan gelombang alfa dalam otak sehingga mudah
untuk tidur. Hasil penelitian menunjukkan lansia tidak mengalami keluhan
sebanyak 3 orang (20%), insomnia ringan sebanyak 10 orang (66,7%) dan
insomnia berat sebanyak 2 orang (13,3%) dengan mean 1,93 dan median 2,00.
Setelah teknik PMR dilakukan pada lansia, terjadi penurunan insomnia lansia
yang signifikan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Supriyati (2010) yang menyimpulkan bahwa untuk memicu respon relaksasi
dengan cara mengambil alih otot yang tegang ke dalam keadaan relaksasi maka
otot yang mengalami relaksasi dari respon relaksasi secara alami mengikuti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh PMR terhadap


insomnia pada lansia di wilayah kerja PT Puskesmas Kuranji Padang dengan
nilai mean = 6.467 dengan standar deviasi = 2.416 dan nilai p = 0.000.
Dari analisis yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa teknik
progressive muscle relaxation dapat digunakan dalam intervensi keperawatan
secara mandiri untuk mengatasi insomnia yang dialami oleh pasien. Teknik ini
dapat menjadi terapi opsional jika pasien memiliki kontraindikasi dalam
penggunaan farmakologi untuk mengatasi keluhan tidur yang dialami.
Disarankan kepada lansia dan kader Puskesmas untuk diberikan pelatihan teknik
PMR agar memiliki ketrampilan yang dapat digunakan untuk menurunkan
insomnia pada lansia.