Anda di halaman 1dari 19

A.

Definisi Kognitif

Kognisi adalah suatu  tindakan atau proses memahami. Kognisi adalah cara manusia
berfikir. Sedangkan psikologi kognitif adalah ilmuan yang mempelajari cara berfikir
manusia. Jadi psikologi kogniitif adalah sebuah bidang studi tentang bagaimana manusia
memahami, belajar, mengingat dan berfikir tentang suatu informasi.
Kognitif adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses
berfikir seseorang atau sesuatu. Kognitif merupakan suatu proses pekerjaan dari pikiran yang
denganya kita menjadi waspada akan objek pikiran ataupun persepsi, yakni mencakup semua
aspek pengamatan, pikiran maupun ingtan (Dorland, 2002). Dari uraian definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa kognitif adalah proses berfikir seseorang untuk mengingat, memahami,
dan menilai sesuatu dan untuk dipersepsikan.

B. Aspek-Aspek Kognitif
1. Kematangan, yaitu Semakin bertambahnya usia, maka semakin matang atau bijaksana
seseorang dalam menghadapi rutinitas dan masalah yang dihadapinya.
2. Pengalaman merupakan hasil interaksi antar individu dengan orang lain.
3. Transmisi sosial adalah hubungan sosial dan komunikasi yang sesuai dengan lingkungan.
4. Equilibrasi adalah perpaduan dari pengalaman dan proses transmisi sosial.

C. Perubahan Kognitif Lansia


Kemunduran kognitif terdapat pada performance terutama pada tugas yang
membutuhkan kecepatan, dan memerlukan memori jangka pendek, hal ini terbukti karena
adanya kelambatan dalam kecepatan melakukan tugas. Kemampuan mengingat mengalami
kemunduran secara bertahap, para lansia menyadari bahwa dirinya tidak bisa mengingat
dengan baik lagi seperti sebelumnya. Dengan bertambahnya waktu para lansia semakin sukar
mengingat hal – hal penting, meski kemampuan fisik dan mental masih kuat dan sedikit
mengalami penurunan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan lansia mengalami kemunduran memori
diantaranya adalah proses mengingat dan mengambil memori, perlu waktu yang cukup lama
untuk menyerap dan menyadari materi abstrak, sulit untuk mengingat kembali informasi
yang diutarakan dengan cepat, serta keterbatasan lansia untuk menggunkan strategi
mengingat (Sidiarto dan Kusumoputra, 2003)
(Sidiarto dan Kusumoputra, 2003) akan menjelaskan jenis – jenis kemunduran
kemampuan mengingat diantaranya :
1. Kemunduran memori jangka pendek (shor tierm memory) seperti : mengulang angka –
angka yang telah disebutkan secara mundur : 9 3 5 4 3 dihitung mundur 3 4 5 3 9. Hal ini
disebabkan karena fungsi memori untuk mengingat pada memori kerja berkaitan dengan
fungsi eksekutif untuk perencanaan. Maka dapat disimpulkan terjadinya gangguan otak
bagian depan, lobus frontal.
2. Kemunduran jangka panjang (long term memory) kemunduran memori ini dibagi
menjadi dua yaitu episodik dan sematik (memori untuk mengingat peristiwa).
Kemunduran memori episodik untuk mengingat waktu dan lokasi kejadian dengan
melakukan test mengingat kembali dan mengenal kembali deretan kata, gambar, cerita
pendek dan kesulitan terjadi pada tes verbal.

D. Penyebab Penurunan Fungsi Kognitif pada Lnjut Usia


Pada persyarafan lansia mengalami perubahan yaitu berat otak menurun atau
mengalami penyusutan atropi sebesar 10 – 20%, hal ini selalu berkurang setiap
harinya.dengan terjadinya penurunan jumlah sel otak serta terganggunya mekanisme
perbaikan sel otak. Otak mengalami penebalan meningeal atrofi serebral (penurunan volume
otak). Awalnya terjadi benjolan dendrit di neuron hilang, kemudian ditambahi denga
bengkaknya batang dendrit badan sel. Secara progresif terjadi fragmentasi dan kematian sel
terjadi deposit lipofunchsin (Darmojo, 2009).
Ada beberapa factor yang diperkirakan sebagai penyebab gangguan kognitif global:
1. Gangguan neurotransmitter
2. Gangguan cerebral blood flow
3. Gangguan metabolism neuron
4. Patologi neuron
5. Gangguan homeostasis ion kalsium (Ca2+).
Secara patologis penurunan jumlah neuron koligenik akan menyebabkan berkurangnya
neurotransmitter asetilkolin sehingga menimbulkan gangguan kognitif dan perilaku.
E. Faktor Resiko Penurunan Fungsi Kognitif
Dengan adanya peranan level hormon seks endogen dalam perubahan kognitif maka
jenis kelamin wanita lebih beresiko mengalami penurunan kognitif dari pada laki – laki.
Reseptor estrogen telah ditemukan dalam area otak yang berperan dalam fungsi belajar dan
memori, seperti hipokampus. Dengan rendahnya level estradiol dalam tubuh maka terjadilah
penurunan fungsi kognitif umum dan memori verbal, adapun Estrediol yang bersifat
neuroprotektif yaitu dapat membatasi kerusakan akibat stress oksidatif yaitu dapat membatasi
kerusakan akibat stress sebagai pelindung sel syaraf dari toksisitas amyloid pada pasien
Alzheimer (Yaffe dalam Myers, 2008). Hasil dari penilitian Scanlan et al menunjukan adanya
hubungan positif anatar usia dan penurunan fungsi kognitif. Yang mempunyai hasil dari
pengukuran fungsi kognitif pada lansia adalah 16 % pada kelompok umur 65 – 69 tahun,
21% pada usia 70 – 74 tahun, 30% pada usia 75 – 79 tahun, dan 44% pada 80 tahun keatas
(dalam Saragih, 2010).

F. Instrumen pengukur fungsi Kognitif Menggunakan MMSE (Mini Mental Status


Examination)
Mini Mental Status Examination merupakan status mental singkat yang telah
dibuktikan sebagai instrument yang dipercaya valid dapat mendeteksi dan mengetahui
perkembangan kognitif. MMSE merupakan suatu metode yang sudah lama digunakan dan
paling banyak didunia. Tes ini sudah diterjemahkan dalambanyak bahasa diantaranya bahasa
Indonesia dan sudah diaplikasikan dalam tes skrining pada beberapa studi epidemiologi skala
besar dimensia. Adapun nilai kriteria dari kemampuan kognitif sempurna dengan nilai 21-30,
nilai 11-20dicurigai mempunyai kerusakan fungsi kognitif ringan, sedangkan terdapat
kerusakan aspek fungsi kognitif berat / stadium lanjut dengan nilai < 10 dan nilai paling
rendah ini mengidentifikasi resiko untuk demensia (Asosiasi Alzheimer Indonesia, 2003).
Tes MMSE digunakan untuk mengetahui adanya gangguan diantaranya yaitu gangguan
orientasi, Registrasi, Kalkulasi, mengingat, dan bahasa. Selain dengan pemeriksaan dengan
MMSE (Zulsita, 2010).
G. Terapi Kognitif
1. Pengertian
Terapi kognitif adalah terapi yang mempergunakan pendekatan terstruktur, aktif,
direktif dan berjangkan waktu singkat, untuk menghadapi berbagai hambatan dalam
kepribadian, misalnya ansietas atau depresi.
Terapi kognitif dikembangkan oleh Aaron Beck. Melalui terapi ini individu
diajarkan/ dilatih untuk mengontrol distorsi pikiran/gagasan/ide dengan benar  –  benar
mempertimbangkan factor dalam berkembangnya dan menetapnya gangguan mood.
Terapi kognitif menjelaskan bahwa bukan suatu peristiwa menyebabkan
kecemasan dan tanggapan maladaptif melainkan harapan masyarakat, penilaian, dan
interpretasi dari peristiwa. Sugesti bahwa perilaku maladaptif dapat diubah oleh
berhubungan langsung dengan pikiran dan keyakinan orang

2. Tujuan
Menurut Setyoadi (2011) beberapa mekanisme koping dengan menggunakan terapi
kognitif adalah sebagai berikut:
a. Membantu klien dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menentang keakuratan
kognisi negative klien.
b. Menjadikan atau melibatkan klien subjek terhadap uji realitas.
c. Memodifikasi proses pemikiran yang salah
d. Membentuk kembali pikiran individu dengan menyangkal asumsi yang maladaptive,
pikiran yang mengannggu secara otomatis, serta fikir tidak logis yang dibesar
besarkan
e. Menghilangkan sindro depresi dan mencegah kekambuhan
f. Membantu menargetkan proses berpikir serta perilaku yang menyebabkan dan
mempertahankan panik atau kecemasan.
g. Menempatkan individu pada situasi yang biasanya memicu perilaku gangguan obsesif
kompulsif dan selanjutnya mencegah responsnya.
h. Membantu individu mempelajari respons rileksasi, membentuk hirarki situasi fobia,
dan kemudian secara bertahap dihadapkan pada situasinya sambil tetap
mempertahankan respons rileksasi.
i. Membantu individu memandang dirinya sebagai orang yang berhasil bertahan hidup
dan bukan sebagai korban.
j. Membantu mengurangi gejala klien dengan restrukturisasi system keyakinan yang
salah.
k. Membantu mengubah pemikiran individu dan menggunakan latihan praktik untuk
meningkatkan aktivitas sosialnnya.
l. Membentuk kembali perilaku dengan mengubah pesan-pesaninternal.

3. Manfaat
a. Menurunkan cemas
b.  Tehnik relaksasi
c. Biofeedback, menggunakan alat untuk menurunkan cemas danmemodifikasi respon
perilaku.
d. Systematic desenzatization, untuk menurunkan perilaku yang berhubungan dengan
stimulus spesifik.

4. Macam –  Macam Terapi Kognitif


Menurut Yosep (2009) ada beberapa teknik kognitif. Pengetahuan tentang teknik
ini merupakan syarat agar peran perawat bisa berfungsi secar optimal. Dalam
pelaksanaan teknik-teknik ini harus dipadukan dengan kemampuan lain seperti teknik
komter, miliun theraphy dan counseling
a. Teknik restruktrurisasi kongnisi (restructuring cognitive)
b. Teknik Penemuan Fakta-Fakta (Questioning the evidence)
c. Teknik penemuan alternatif ( examing alternatives)
d. Dekatastropik (decatastrophizing)
e. Reframing
f. Thought Stopping 
g. Learning New Behavior With Modeling 
h. Membentuk Pola ( shaping )
i. Token Economy
j.  Role Play
k. Social skill Training.
l. Anversion Theraphy
m. Contingency Contracting

5. Karakteristik Pertemuan-Pertemuan Terapi


Karakteristik dalam masing-masing pertemuan terapi memberikan struktur bagi setiap
pertemuan.
a. Terapis menyusun agenda
b. Terapis mengatur waktu terapi.
c. Terapis membuat lingkaran secara periodic selama wawancara, kemudian meminta
tanggapan klien terhadap ringkasan yang dibuat.
d. Dominasi pendekatan dengan terapis benyak bertanya. Pertanyaan tentang fakta dan
pemberian nasehat tidak diyakini akan memberikan mamfaat terpeutik yang berarti.
e. Langkah akhir, ada dua tugas terapis:
1) Memberikan tugas rumah yang didasarkan pada topic / masalah yang Nampak
muncul sebagai masalah pokok selama session yang baru dijalani.
2) Meminta klien untuk membuat ringkasan tentang apa yang telah dikerjakan
didalam session yang baru dijalani, dan merincikan apa yang harus dikerjakan
dalam pekerjaan rumah.

6. Teknik-Teknik Kognitif
Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien.
Dewa Ketut Sukardi (2000:91-92), menerangkan ada empat teknik besar dalam teknik-
teknik kognitif :
a. Teknik Pengajaran -Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk
berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana
ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada
klien tersebut.
b. Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana
pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba
meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang
dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.
c. Teknik Konfrontasi - Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan
membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik.
d. Teknik Pemberian Tugas - Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba
melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien
bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan
atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.

7. Indikasi Terapi
Terapi kognitif efektif untuk sejumlah kondisi psikiatri yang lazim, terutama:
a. Depresi (ringan sampai sedang)
b. Gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh atau kecemasan
c. Individu yang mengalami stress emosional
d. Gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorder) yang sering terjadi pada
orang dewasa dan memiliki respon terhadap terapi perilaku dan antidepresan jarang
terjadi pada awal masa anak-anak, meskipun kompulsi terisolasi sering terjadi
e. Gangguan fobia (misalnya agoraphobia, fobia social, fobia spesifik)
f. Gangguan stress pasca trauma (post traumatic stress disorder)
g. Gangguan makan
h. Gangguan mood
i. Gangguan psikoseksual
j. Mengurangi kemungkinan kekambuhan berikutnya

8. Teknik Pelaksanaan Terapi


a. Mendukung klien untuk mengidentifikasi kognisi atau area berpikir dan keyakinan
yang menyebabkannnya khawatir
b. Mengguanakan teknik pertanyaan Socratic yaitu meminta klien untuk
menggambarkan, menjelaskan, dan menegaskan pikiran negative yang merendahkan
dirinya. Dengan demikian klien mulai melihat bahwa asumsi tersebut tidak logis dan
tidak rasional
c. Mengidentifikasi interpretasi yang lebih realistis mengenai diri sendiri, nilai diri dan
dunia. Dengan demikian klien membentuk nilai dan keyakinan baru dan distress
emosional menjadi hilang.

Terapi kognitif dipraktekkan diluar sesi terapi dan menjadi modal utama dalam
mengubah gejala. Terapi berlangsung lebih kurang 12-16 sesi yang terdiri atas 3 fase:

a. Fase awal (sesi 1-4)


1) Membentuk hubungan terapeutik dengan klien
2) Mengajarkan klien tentang bentuk kognitif yang salah serta pengaruhnya terhadap
emosi dan fisik
3) Menentukan tujuan terapi
4) Mengajarkan klien untuk mengevaluasi pikiran-pikiran yang otomatis
b. Fase pertengahan (sesi 5-12)
1) Mengubah secara berangsur-angsur kepercayaan yang salah
2) Membantu klien mengenal akar kepercayaan diri. Klien diminta mempraktekkan
keterampilan berespon terhadap hal-hal yang menimbulkan depresi dan
memodifikasinya.
c. Fase akhir (sesi 13-16)
1) Menyiapkan klien untuk terminasi dan memprediksi situasi beresiko tinggi yang
relevan untuk terjadinya kekambuhan.
2) Mengonsolidasikan pembelajaran melalui tugas-tugas terapi sendiri

Strategi pendekatan terapi kognitif, antara lain:


a. Menghilangkan pikiran otomatis
b. Menguji pikiran otomatis
c. Mengidentifikasi asumsi maladaktif
d. Menguji validitas asumsi maladaktif
H. Contoh Terapi Kognitif Pada Lansia
Terapi berikut akan dijelaskan mengenai contoh terapi kognitif pada lansia yang bisa
dilakukan seperti berikut ini :
1. Terapi Dengan Puzzle
Satu hal yang dapat dilakukan pada lansia secara kognitif adalah dengan
mengajak mereka bermain puzzle. Ha ini bertujuan untuk melatih organ otak untuk
mengingat hal dan tidak mudah pikun.
Dengan permainan ini maka lansia akan terangsang daya ingat dan kreatifnya
untuk berpikir dan melakukannya dengan perasaan yang riang gembira serta antusia
tinggi. Berikut ini terapi aktivitas kelompok pada lansia yang dapat dilakukan.
2. Terapi Teka Teki
Contoh terapi kognitif pada lansia berikutnya adalah dengan mengajak bermain
teka teki, materi atau bahan teka teki dapat didapat dari apa saja. Permainan ini juga
dapat merangsang perasaan, daya ingat juga semangat lansia untuk menjawab dan
berperan didalamnya. Dengan demikian lansia akan merasa gembira serta terhibur. Yang
perlu dilakukan dalam proses contoh terapi bermain pada gangguan jiwa.
3. Terapi Bermain Catur
Permainan berikutnya yang bisa dilakukan oleh para lansia adalah dengan
bermain catur. Tujuan permainan ini sama dengan permainan lainnya, untuk
menyegarkan daya ingat, serta melatih otak untuk tetap berfungsi dengan baik.
Bagi lansia penyakit pikun amat sangat mengerikan, oleh sebab itu gunanya terapi ini
untuk mengatasi hal tersebut dan membuat perasaan gembira dan semangat. Berikut ini
manfaat musik dalam psikoterapi dan konseling yang wajib anda ketahui.
4. Terapi Dengan Ketrampilan
Salah satu contoh terapi kognitif pada lansia yang bisa dilakukan yaitu dengan
membuat ketrampilan yang bertujuan meningkatkan daya ingat. Contoh ketrampilan itu
berupa merajut kain, menyulan benang, membuat kerajian buang – bungaan dan lain
sebagainya.
Hal ini tentu cukup menarik untuk dilakukan bagi para lansia untuk mengisi
waktu luang dan merasa gembira secara hati dan pikirannya. Pola dan metode terapi seni
dalam psikologi yang berguna dalam melatih mental.

5. Terapi Bermain Tebak – tebakan


Satu lagi permainan yang dapat dilakukan para lansia yaitu dengan bermain tebak
– tebakan. Permainan ini cukup asyik dan juga menantang, para lansia harus menebak
apa yang menjadi tebakannya. Permainan ini dapat meningkatkan daya ingat, memori,
juga menjaga perasaan menjadi lebih tenang dan juga atraktif.
Tujuan lain agar lansi juga menjadi lebih segar untuk berlatih mengingat dan belajar
untuk mengeluarkan ekspresi yang ada dipikiran juga hatinya. Ragam dan macam –
macam terapi dalam psikologi yang efektif dan menyenangkan.
6. Terapi Belajar
Berikut ini contoh terapi kognitif pada lansia lainnya yaitu dengan terapi belajar,
ada banyak cara untuk dilakukan seperti belajar menggambar, belajar mengerjakan
sebuah pola, belajar mengerjakan pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Cara ini cukup
efektif untuk menghilangkan rasa jenuh, bosan dan juga mengisi waktu luang para lansia
lebih aktif dan juga bermanfaat.
Kegiatan ini dapat melatih para lansia melatih emosi, perasaan, hati dan juga
pikiran lebih fokus dan juga terarah. Contoh dalam kegiatan dan terapi untuk kesehatan
mental.
I. TES KOGNITIF DAN INTERPRETASI LATIHAN KOGNITIF PADA LANSIA
1. Tes kognitif MMSE
Nama Responden : Nama Pewawancara :

Umur Responden : Tanggal Wawancara :

Pendidikan : Jam mulai :

MINI MENTAL STATE EXAMINATION


(MMSE)
Nilai Nilai
Maksimum Responden

ORIENTASI
5
Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa?
5 Sekarang kita berada di mana?
(Nama rumah sakit atau instansi)
(Instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi)
REGISTRASI
3 Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda, misalnya:
(bola, kursi, sepatu). Satu detik untuk tiap benda.
Kemudian mintalah responden mengulang ketiga nama
benda tersebut.
Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih salah
ulangi penyebutan ketiga nama tersebut sampai responden dapat
mengatakannya dengan benar:
Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : kali
ATENSI DAN KALKULASI
5 Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke
bawah. Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65).
Kemungkinan lain ejaan kata dengan lima huruf, misalnya
'DUNIA' dari akhir ke awal/ dari kanan ke kiri :'AINUD'
Satu (1) nilai untuk setiap jawaban benar.
MENGINGAT
3 Tanyakan kembali nama ketiga benda yang telah disebut di atas.
Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar

BAHASA

9 a. Apakah nama benda ini? Perlihatkan pensil


dan arloji (2 nilai)
b. Ulangi kalimat berikut :"JIKA TIDAK,
DAN ATAU TAPI" (1 nilai)
c. Laksanakan 3 perintah ini :
Peganglah selembar kertas dengan tangan
kananmu, lipatlah kertas itu pada pertengahan dan
letakkan di lantai (3 nilai)
d. Bacalah dan laksanakan perintah berikut
"PEJAMKAN MATA ANDA" (1 nilai)
e. Tulislah sebuah kalimat ! (1 nilai)
f. Tirulah gambar ini ! (1 nilai)

Jam selesai :
Tempat
wawancara :
Gambar 1. Mini Mental State Examination (MMSE)
(Setiati,2007).
2. Teknik pemakaian dan penilaian MMSE
MMSE menggunakan instrumen berbentuk berbagai pertanyaan. Daftar
pertanyaan terdapat pada gambar 1. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut
(Folstein, 1975; Setiati,2007):
a. Penilaian Orientasi (10 poin)
Pemeriksa menanyakan tanggal, kemudian pertanyaan dapat lebih spesifik
jika ada bagian yang lupa (misalnya :”Dapatkah anda juga memberitahukan sekarang
musim apa?”). Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1 (satu) poin.
Pertanyaan kemudian diganti dengan ,”Dapatkah anda menyebutkan nama rumah
sakit ini (kota, kabupaten, dll) ?”. Tiap pertanyaan yang benar mendapatkan 1
(satupoin).
b. Penilaian Registrasi (3 poin).
Pemeriksa menyebutkan 3 nama benda yang tidak berhubungan dengan jelas
dan lambat. Setelah itu pasien diperintahkan untuk mengulanginya. Jumlah benda
yang dapat disebutkan pasien pada kesempatan pertama dicatat dan diberikan skor (0-
3). Jika pasien tidak dapat menyebutkan ketiga nama benda tersebut pada kesempatan
pertama, lanjutkan dengan mengucapkan namanya sampai pasien dapat mengulang
semuanya, sampai 6 kali percobaan. Catat jumlah percobaan yang digunakan pasien
untuk mempelajari kata-kata tersebut. Jika pasien tetap tidak dapat mengulangi ketiga
kata tersebut, berarti pemeriksa harus menguji ingatan pasien tersebut. Setelah
menyelesaikan tugas tersebut, pemeriksa memberitahukan kepada pasien agar
mengingat ketiga kata tersebut,karena akan ditanyakan sebentar lagi.
c. Perhatian dan kalkulasi (5poin)
Pasien diperintahkan untuk menghitung mundur dari 100 dengan selisih 7.
hentikan setelah 5 angka. Skor berdasarkan jumlah angka yang benar. Jika pasien
tidak dapat atau tidak dapat mengerjakan tugas tersebut, maka dapat digantikan
dengan mengeja kata ”DUNIA” dari belakang. Cara menilainya adalah menghitung
kata yang benar. Contohnya jika menjawab “AINUD” maka diberi nilai 5, tetapi jika
menjawab “AINDU” diberi nilai 3.

d. Ingatan (3poin)
Pasien diperintahkan untuk mengucapkan 3 kata yang diberikan sebelumnya
kepada pasien dan disuruh mengingatnya. Pemberian skor dihitung berdasarkan
jumlah jawaban yang benar.
e. Bahasa dan praktek (9 poin)
Penamaan : Pasien ditunjukkan arloji dan diminta menyebutkannya. Ulangi dengan
menggunakan pensil. Skor 1 poin setiap nama benda yang benar (0-2).
Repetisi (pengulangan) : Pasien diminta untuk mengulangi sebuah kalimat yang
diucapkan oleh penguji pada hanya sekali kesempatan. Skor 0 atau 1.
Perintah 3 tahap : pasien diberikan selembar kertas kosong, dan diperintahkan, ”
Taruh kertas ini pada tangan kanan anda, lipat menjadi 2 bagian, dan taruh di lantai”.
Skor 1 poin diberikan pada setiap perintah yang dapat dikerjakan dengan baik (0-3).
Membaca : Pasien diberikan kertas yang bertuliskan ”Tutup mata anda” (hurufnya
harus cukup besar dan terbaca jelas oleh pasien. Pasien diminta untuk membaca dan
melakukan apa yang tertulis. Skor 1 diberikan jika pasien dapat melakukan apa yang
diperintahkan. Tes ini bukan penilaian memori, sehingga penguji dapat mendorong
pasien dengan mengatakan ”silakan melakukan apa yang tertulis” setelah pasien
membaca kalimat tersebut.
Menulis : Pasien diberikan kertas kosong dan diminta menuliskan suatu kalimat.
Jangan mendikte kalimat tersebut, biarkan pasien menulis spontan. Kalimat yang
ditulis harus mengandung subjek, kata kerja dan membentuk suatu kalimat. Tata
bahasa dan tanda baca dapat diabaikan.
Menirukan : pasien ditunjukkan gambar segilima yang berpotongan, dan diminta
untuk menggambarnya semirip mungkin. Kesepuluh sudut harus ada dan ada 2 sudut
yang berpotongan unruk mendapatkan skor 1 poin. Tremor dan rotasi dapat
diabaikan.

3. Interpretasi penilaian MMSE


Setelah dilakukan penilaian, skor dijumlahkan dan didapatkan hasil akhir. Hasil
yang didapatkan diintrepetasikan sebagai dasar diagnosis. Ada beberapa interpretasi yang
bisa digunakan. Metode yang pertama hanya menggunakan single cutoff, yaitu
abnormalitas fungsi kognitif jika skor <24. metode lain menggunakan range. Jika skor
<21 kemungkinan demensia akan meningkat, sedangkan jika skor >25 kecil
kemungkinan demensia.
Interpretasi lainnya memperhitungkan tingkat pendidikan pasien. Pada pasien
dengan tingkat pendidikan rendah (di bawah SMP) ambang batas abnormal diturunkan
menjadi 21, pada tingkat pendidikan setingkat SMA abnormal jika skor <23, pada tingkat
perguruan tinggi skor abnormal jika <24.
Berat ringannya gangguan kognitif dapat diperkirakan dengan MMSE. Skor 24-30
menunjukkan tidak didapatkan kelainan kognitif. Skor 18-23 menunjukkan kelainan
kognitif ringan. Skor 0-17 menunjukkan kelainan kognitif yang berat (Folstein, 1975).

Tabel 1. Interpretasi MMSE (Folstein, 1975).

Metode Skor Interpretasi


Single Cutoff <24 Abnormal
Range <21 Kemungkinan demesia lebih besar
>25 Kemungkinan demesia lebih kecil
Pendidikan 21 Abnormal pada tingkat pendidikan kelas 2 SMP
<23 Abnormal pada tingkat pendidikan SMA
<24 Abnormal pada tingkat pendidikan Perguruan Tinggi
Keparahan 24- Tidak ada kelainan kognitif
30
18- Kelainan kognitif ringan
23
0-17 Kelainan kognitif berat

4. Tes Kognitif Abbreviated Mental Test Score (AMT)

SETIAP JAWABAN BENAR MENDAPAT SKOR SATU


POIN
1. Umur
2. Waktu (jam)
3. Alamat lengkap (pertanyaan diulang saat akhir wawancara)
4. Tahun
5. Nama rumah sakit, institusi atau alamat rumah (tergantung tempat wawancara)
6. Mengenal 2 orang (misalnya dokter, perawat, istri, dll)
7. Tanggal lahir
8. Tahun Perang Dunia I mulai
9. Nama raja sekarang
10. Menghitung mundur dari 20 ke 1
Total skor
SKOR KURANG DARI 6 MENUNJUKKAN ADANYA
DEMENSIA

Gambar 2. Daftar pertanyaan pada AMT

5. Interpretasi AMT
Perkiraan penggunaan waktu pelaksanaan harus diperhatikan, karena waktu
penilaian lebih panjang pada penderita dengan kelainan kognitif daripada yang tidak.
Oleh sebab itu, dikembangkan beberapa instrumen untuk menilai fungsi kognitif pada
penderita lanjut usia dengan waktu yang lebih pendek daripada MMSE. Salah satu
instrumen yang dikembangkan adalah Abbreviated Mental Test Score (AMT)
(MacKenzie,1996; Tangalos,1996). AMT mempunyai sensitifitas dan spesivisitas yang
lebih rendah dalam mendeteksi adanya kelainan kognitif daripada MMSE. AMT
tampaknya kurang menyenangkan,meskipun lebih mudah dan cepat untuk digunakan.
(Tombaugh,1992; MacKenzie,1996).

Interpretasi skor pada AMT adalah jika skor AMT <6 menunjukkan adanya
demensia. The Abbreviated Mental Test (AMT) lebih singkat, terdiri dari 10 soal yang
digunakan untuk skrining kelainan. Tes ini terdiri dari 10 pertanyaan yang diseleksi
berdasarkan nilai diskriminatif dari Mental Test Score yang lebih panjang. AMT
termasuk komponen-komponen yang mengikuti memori baru dan lama, atensi, dan
orientasi. Skor <8 merupakan batas yang menunjukkan defisit kognitif yang bermakna.
Tes ini menunjukkan secara cepat penilaian beratnya penyakit dibandingkan tes yang
lebih panjang. Tes ini mampu mendeteksi perubahan kognisi yang berhubungan dengan
perkembangan pasca operatif pada delirium. Pada pasien usia lanjut, tes ini dapat
dikerjakan dalam 3 menit. Terdapat versi 4 pertanyaan AMT (AMT4), dengan
pertanyaan tentang umur, tanggal lahir, tempat, dan tahun saja. Tes ini lebih cepat, lebih
mudah digunakan, dan lebih mudah diingat oleh pemeriksa. Sehingga lebih
meningkatkan kemungkinan penggunaan tes ini secara rutin pada pasien usia lanjut di
rumah sakit yang sibuk atau di UGD

SUMBER

Dorland, W.A. Newman, 2002, KamusKedokteran Dorland, alihbahasaHuriwatiHartanto, dkk.,


edisi 29, ECG, Jakarta.
Kusumoputra, S., Sidiarto,L., 2003: Memori Anda Setelah 50 tahun; Jakarta, Universitas
Sriwijaya.
Darmojo, Boedhi. (2009). Buku Ajar Geriatri. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.
Aisah, S. (2014). Pengaruh senam lansia terhadap aktifitas sehari-hari pada lansia di Desa Mijen
Ungaran Kelurahan Gedanganak Kecamatan Ungaran Timur. Skripsi
Nama Responden : Nama Pewawancara :

Umur Responden : Tanggal Wawancara :

Pendidikan : Jam mulai :

MINI MENTAL STATE EXAMINATION


(MMSE)
Nilai Nilai
Maksimum Responden
ORIENTASI
5
Sekarang (hari-tanggal-bulan-tahun) berapa dan musim apa?
5 Sekarang kita berada di mana?
(Nama rumah sakit atau instansi)
(Instansi, jalan, nomor rumah, kota, kabupaten, propinsi)
REGISTRASI
3 Pewawancara menyebutkan nama 3 buah benda,
misalnya: (bola, kursi, sepatu). Satu detik untuk tiap
benda. Kemudian mintalah responden mengulang
ketiga nama benda tersebut.
Berilah nilai 1 untuk tiap jawaban yang benar, bila masih
salah ulangi penyebutan ketiga nama tersebut sampai
responden dapat mengatakannya dengan benar:
Hitunglah jumlah percobaan dan catatlah : kali
ATENSI DAN KALKULASI
5 Hitunglah berturut-turut selang 7 angka mulai dari 100 ke
bawah. Berhenti setelah 5 kali hitungan (93-86-79-72-65).
Kemungkinan lain ejaan kata dengan lima huruf, misalnya
'DUNIA' dari akhir ke awal/ dari kanan ke kiri :'AINUD'
Satu (1) nilai untuk setiap jawaban benar.

MENGINGAT
3 Tanyakan kembali nama ketiga benda yang telah disebut di
atas.
Berikan nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar