Anda di halaman 1dari 4

Nama: Aliya Shahnnaz

NIM: 021180784

Mata Kuliah: Tugas Akhir Program

TERORISME

KPI- Dewan Pers Sesalkan Pemberitaan

JAKARTA, KOMPAS-Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dewan Pers menyesalkan


berita tentang perburuan terorisme oleh polisi di sejumlah media massa, terutama
televisi. Sejumlah informasi yang disampaikan menilai telah membingungkan
masyarakat dan mengganggu penyelidikan polisi. Untuk itu, Ketua Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI), Sasa Djuarsa Sendjaja, Rabu (12/8), menyatakan akan mengirimkan
surat teguran ke sejumlah stasiun televisi terkait pemberitaan mereka tentang
terorisme, khususnya setelah penyergapan rumah Muhjahri di Temanggung, Jawa
Tengah oleh Densus 88 Polri, pada jumat pekan lalu. “Selasa kemarin, KPI juga sudah
bertemu dengan sejumlah pimpinan redaksi televisi dan Kepala Polri untuk membahas
pemberitaan terorisme. Saat itu, kami sudah

menyampaikan kebenaran atas berita di televisi karena diduga telah melanggar standar
program siaran,” kata Sasa.

Keberatan ini antara lain tentang penyebutan bahwa teroris yang tewas dalam
penyergapan di Temanggung adalah Noordin M Top. “Sebutan itu berawal dari
kesimpulan media itu sendiri. Awalnya memang disebut, yang diduga tewas adalah
Noordin. Namun kata diduga ini lama-lama hilang dan makin diperparah oleh
pernyataan sejumlah pihak hingga membingungkan masyarakat. Padahal Kepala Polri
sejak awal menyatakan belum dapat memastikan siapa yang tewas’’ papar Sasa.

Ironisnya keberatan KPI dalam pemberitaan terorisme di televisi ini bukan yang
pertama kalinya. KPI juga pernah menyesalkan pemberitaan sejumlah televisi saat
eksekusi tiga terpidana mati bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dan Ali Ghufron,
November 2008, hal ini disebabkan pemberitaan yang dilakukan justru terkesan
menjadikan mereka pahlawan dan bukan musuh bersama.

Wakil ketua Dewan pers Leo Batubara menilai sejumlah media, terutama televisi
mendahului sumber berita resmi dalam menyiarkan perburuan terorisme. “Meski dikejar
deadline dan persaingan yang ketat, media tetap harus mengonfirmasi kebenaran
informasi yang diperolehnya sebelum informasi itu disiarkan ke masyarakat sehingga
kebenaran informasi yang ditawarkan dapat dipertanggungjawabkan. Ini bukan dasar
jurnalistik.” Paparnya.
...... Sementara itu Komisi III DPR akan memanggil Kepala Kepolisian RI terkait operasi
penangkapan jaringan teroris di Temanggung. .... salah satu yang ditanyakan adalah
siapa yang memberikan informasi kepada polisi bahwa orang yang berada di dalam
rumah itu adalah Noordin M Top. Komisi III juga akan mempertanyakan mengapa waktu
penyerbuan baru dilakukan pukul 15.00. Rumah itu sudah diawasi sejak pukul 07.00
berrarti ada vakum sekitar 8 jam. ..... Ketua Komisi III Trimedya juga berpandangan
operasi

penyerbuan terorisme semacam itu tidak pas kalau disiarkan secara langsung oleh
televisi. Selain bisa membocorkan informasi, juga bisa mengganggu pelaksanaan
operasi.

Sumber: Kompas (Kamis,13 Agustus 2009. hlm 2)

Tugas 1 :

Untuk tugas 1, coba Anda rumuskan masalah-masalah yang ada pada artikel/wacana yang
terdapat pada sesi 2. Kirim jawaban tugas Anda dengan mengupload di halaman tugas 1
yang sudah kami sediakan. Dalam mengerjakan tugas, gunakan ide dan gagasan sendiri,
hindari plagiasi, karena bila jawaban Anda terindikasi plagiasi maka tugas yang Anda
kerjakan tidak akan kami nilai.

1. Konsep komunikasi massa mengandung pengertian suatu proses di mana


organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan kepada publik secara luas dan
pada sisi lain merupakan proses ketika pesan tersebut dicari, digunakan, dan dikonsumsi
oleh audience. Disini organisasi media yang dimaksud adalah sejumlah media massa,
terutama televisi. Media massa disini merpuakan organisasi yang menyebarkan informasi
yang berupa produk budaya atau pesan yang mempengaruhi dan menceriminkan budaya
dalam masyarakat. Berita yang disampaikan kepada masyarakat didalam wacana ini
adalah mengenai pemburuan terorisme oleh polisi. Namun sayangnya, menurut Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) dan dewan pers, sejumlah informasi yang telah disampaikan
oleh beberapa media massa televisi telah membingungkan masyarakat dan menganggu
penyelidikan polisi.

Disini media massa televisi menggunakan prinsip stimulus respons. Dimana efek
merupakan reaksi terhadap stimuli tertentu. Dengan demikian, sesorang dapat
mengharapkan atua memperkirakan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi
audience. Elemen-elemen utama dari teori ini adalah: (1) pesan (stimulus); (2) seorang
penerima pesan; dan (3) respons. Dalam teori ini isi media dipandang sebagai sesuatu
yang langsung ditanamkan ke dalam pikiran audience atau penerima pesan. Dalam hal
ini, muncullah ‘masyarakat massa’, karena prinsip ini mengansumsikan bahwa pesan
yang dipersiapkan dan didistribusikan secara sistematik dan dalam skala yang luas
ditujukan kepada sekelompok besar orang.

Selain memiliki efek terhadap individu, media massa juga menghasilkan efek
terhadap masyarakat dan budayanya. Efek media massa dalam wacana diatas menurut
saya sesuai dengan teori agenda setting. Dimana teori ini menjelaskan bahwa media akan
menyusun prioritas topic yang akan mempengaruhi perhatian audience terhadap topic
mana yang dianggap lebih penting dibanding topik lainnya, dengan kata lain media massa
menetapkan ‘agenda’ kampanye tersebut. dapat dilihat di dalam wacana ini, agenda dari
media massa adalah dengan pemberitaan yang dilakukan mengenai para teroris yang
member kesan bahwa mereka adalah seorang pahlawan dan bukan dari musuh bersama.

Banyak media pers atau media massa yang melanggar kode etik jurnaslistik.
Seperti media pers yang tidak memahami kaidah-kaidah jurnalistik maupun karena
persaingan yang ketat dan deadline yang mengintai sehingga media tersebut tidak
mengkonfirmasi kebenaran suatu informasi yang diperoleh sebelum informasi itu
disiarkan kepada audience. Oleh karena itu dibutuhkanlah upaya peningkatan
profesionalisme dan pemberantasan penyalahgunaan profesi wartawan. Dengan semakin
mudahnya untuk mendirikan media, bukanlah tidak mungkin untuk munculnya wartawan
yang melakukan pelanggaran media. Dewan pers sendiri selalu mengatakan kepada
masyarakat untuk menggunakan hak masyarakat sebagai warga negara dengan
mengadukan media yang merugikan. Gunakan hak masyarakat sebagai warga negara
untuk mengkritik hal yang menurut anda tidak pada tempatnya. Hal ini disebabkan salah
satunya karena industri televisi banyak yg berkonsentrasi pada rating kuantitatif, mereka
hanya mengejar rating tinggi suatu acara tanpa memperhatikan kualitas. Maka tidak heran
jika ada saluran televisi yang mendapat teguran mengenai pemberitaan mereka tentang
terorisme yang dianggap tidak sesuai dengan kode etik jurnalisme.
REFERENSI

Sendjaja Djuarsa, Sasa.2016. Teori Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka.

Nugroho, Bekti. 2013. Pers Berkualitas Masyarakat Cerdas. Jakarta: Perpustakaan


Nasional RI.