Anda di halaman 1dari 16

Perpindahan panas

BAB 1
PENDAHULUAN

Oleh:
Dr. Ir. Haryadi

JURUSAN TEKNIK MESIN


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2020
OBJEKTIF
Mahasiswa mampu:
• Menjelaskan hubungan termodinamika dan
perpindahan panas, dan prinsip dasar
mekanisme perpindahan panas konduksi,
konveksi dan radiasi
• Menjelaskan sifat-sifat bahan dalam
perpindahan panas
• Menjelaskan besaran dan satuan
perpindahan panas
• Menjelaskan analogi panas/kalor dan listrik.
• Menjelaskan material-material penghatar dan
isolator (penyekat panas).
1.1 Konsep Dasar

Ilmu perpindahan panas diperlukan utuk menganalisa proses perpindahan


panas dari suatu benda lain atau dari suatu bagian benda ke bagian benda
lainnya.

Pada kuliah Termodinamika: perpindahan energi dalam bentuk panas telah


dipelajari, tetapi tidak memberikan suatu keterangan tentang cara berlangsungnya
proses tersebut, lama waktu perpindahan panas dan perubahan-perubahan
temperatur yang terjadi di dalam sistem.

Termodinamika hanya membahas berdasarkan keadaan awal dan keadaan akhir


dari proses di mana perpindahan energi dalam bentuk panas dipandang sebagai
selisih antara energi yang dipunyai sistem pada keadaan awal dan akhir proses
tersebut, dengan balans energi.
1.1 Konsep Dasar

Oleh karena itu dilakukan


berbagai cara Dengan dasar
Pada dasarnya
Proses perpindahan panas penyederhanaan dalam penyederhanaan tersebut,
perpindahan panas terjadi
yang sebenarnya terjadi peninjauan proses tersebut maka mekanisme
akibat adanya
adalah sangat rumit dan yaitu dengan jalan perpindahan panas dapat
ketidakseimbangan
memerlukan pengkajian memperhatikan hal-hal dibedakan atas tiga jenis
(adanya perbedaan
yang cukup sulit. yang kurang berpengaruh yaitu : konveksi, konduksi
temperatur) termal.
terhadap proses dan radiasi.
keseluruhan.
1.1.1 Konduksi
dT
q k   kA
dx
A
qk  k T1  T2 
L

Dimana:
• qk = laju panas konduksi yang berpindah
• A = luas penampang bidang
• L = tebal dinding
• k = konduktivitas termal bahan
• T = temperatur
1.1.2 Konveksi
q c  hc AT
q c  hc ATw T f 

Dimana:
• qc = laju perpindahan panas konveksi [W]
• A = luas penampang bidang [m2]
• hc = koefisien konveksi [W/m2 C]
• Tw = suhu permukaan dinding [°C]
• Tf = suhu fluida [°C]
1.1.3 Radiasi


q r   . . A. T 4 

q r   . . A. T14  T24 
Dimana:
• qr = laju perpindahan panas radiasi [W]
• A = luas penampang bidang [m2]
• T = Tempeartur [K]
• σ = konstanta Stefan-Boltzman [W/m2K4]
• ε = emisivitas bahan (0 < ε < 1)
• ε = 0 (benda putih) ε = 1 (benda hitam)
1.1.4 Perpindahan Panas yang Sebenarnya
Perpindahan panas di dalam suatu sistem dapat terjadi dalam satu arah, dua
arah dan tiga arah, tergantung dari bendanya. Oleh karena itu perpindahan
panas ini dibedakan pula atas perpindahan panas dimensi satu, dua dan tiga.

Sebagai contoh, perpindahan panas yang terjadi di dalam dinding pipa dari
permukaan dalam ke permukaan luarnya terjadi dalam satu dimensi bila
temperatur-temperatur permukaan tersebut seragam.

Bentuk benda yang umum dijumpai dan dipelajari dalam perpindahan


panas adalah bidang dinding/pelat datar, dan bidang silinder radial baik
pejal maupun berongga seperti dijumpai pada tabung, pipa, bejana dan
lain-lain.
1.1.4 Perpindahan Panas yang Sebenarnya
Dalam keadaan sebenarnya ketiga jenis mekanisme tersebut terjadi secara serentak (bersamaan )
di dalam sistem, hanya saja peranan dari masing-masing mekanisme tersebut tidak sama besar.

Perpindahan panas radiasi menjadi lebih dominan apabila benda mempunyai suhu yang relatif
tinggi karena laju panasnya sebanding dengan fungsi suhu pangkat empat.

Selama proses perpindahan panas terjadi, temperatur dari tiap-tiap komponen/ benda di mana
perpindahan panas itu terjadi dapat konstan atau berubah-ubah.

Bila temperatur tersebut konstan, maka proses perpindahan panas tersebut dikatakan stasioner (
tidak dipengaruhi oleh waktu ) dan bila temperatur tersebut berubah-ubah, maka proses
perpindahan panas tersebut tidak stasioner.

Sebagai contoh, tinjau misalnya proses pemanasan air di dalam sebuah panci. Selama air belum mendidih
temperatur air berubah terus dari 22°C sampai 100 °C (tidak stasioner) dan pada saat terjadi pendidihan,
temperatur air tersebut tidak berubah (stasioner).
1.2 Sifat-
Sifat-sifat Termal Material

Sifat material yang penting Disamping itu, densitas,


dalam perpindahan panas, massa jenis dan panas
baik konduksi maupun spesifik juga berperan
konveksi adalah dalam perhitungan
konduktivitas. perpindahan panas.

Konduktivitas fluida adalah Sifat-sifat ini, atau


daya hantar panasnya kombinasinya, merupakan
ketika tidak ada gerakan gambaran kemampuannya
curah pada fluida tersebut. dalam menyimpan panas.
Konduktivitas suatu Difusivitas termal adalah
material umumnya konduktivitas dibagi
berubah terhadap dengan massa jenis dan
perubahan temperatur. kapasitas panas (α=k/ρc).
Analogi panas/
panas/kalor dan listrik.
listrik.
Kualitas Listrik Kalor
Potensial Voltase (V) Beda temperatur (ΔT)
Arus Kuat arus (I) Laju perp.panas (q)
Tahanan Tahanan listrik (R) Tahanan termal (R)
Isolator Termal
Seringkali dalam keteknikan diharuskan untuk mengurangi aliran
panas, contohnya adalah: isolasi bangunan agar tetap hangat atau
sejuk, botol termos untuk menjaga minuman panas, dan jaket untuk
pengendara sepeda motor, dsb.

Bahan isolasi termal harus memiliki konduktivitas termal yang rendah.


Seringkali, hal ini dicapai dengan cara memerangkap udara atau gas
lainnya dalam rongga kecil pada padatan. Kadang-kadang efek tersebut
diperoleh dengan mengisi ruang, di mana panas akan mengalir,
dengan partikel padat kecil dan udara.

Jenis bahan isolasi termal menggunakan konduktivitas inheren rendah


gas untuk menghambat aliran panas.
Jenis-jenis material untuk isolasi termal adalah:
Material berserat: terdiri dari filamen-filamen berdiameter kecil dan
berdensitas rendah, yang mengisi celah berporositas tinggi (90%)
berbentuk papan atau selimut.

Wool mineral digunakan pada temperatur di bawah 700 °C, serat kaca
digunakan pada temperatur di bawah 200°C, dan antara 700°C sampai
1700°C dapat menggunakan serat refractori seperti alumina (Al2O3) atau
silica (SiO2).
Isolator selular: material sel terbuka atau tertutup yang bisa berbentuk
papan (fleksibel atau kaku), atau busa. Isolasi seluler berdensitas rendah,
berkapasitas panas rendah, mempunyai kekuatan tekan yang baik.
Contohnya adalah busa poliuretan dan polistiren.

Isolator granular: terdiri dari butiran material inorganik kecil, yang diikat
menjadi bentuk tertentu atau dalam bentuk powder. Contohnya adalah:
tepung perlite, silika diatomik, dan vermikulit.
Kesimpulan
Panas berpindah dari benda bertemperatur tinggi ke benda/bagian benda bertemperatur tinggi dengan cara konduksi, konveksi
dan radiasi.

Perpindahan panas konduksi, di mana proses perpindahan panas terjadi antara benda atau partikel-partikel yang berkontak
langsung, melekat satu dengan yang lainnya; tidak ada pergerakkan relatif di antara benda-benda tersebut.

Perpindahan panas konveksi, di mana perpindahan panas terjadi di antara permukaan sebuah benda padat dengan fluida (cairan
atau gas) yang mengalir menyentuh permukaan tadi.

Perpindahan panas radiasi adalah proses perpindahan panas terjadi di antara dua permukaan yang terjadi tanpa adanya media
perantara.

Dalam keadaan sebenarnya ketiga jenis mekanisme tersebut terjadi secara serentak (bersamaan ) di dalam sistem, hanya saja
peranan dari masing-masing mekanisme tersebut tidak sama besar.

Sifat material yang penting dalam perpindahan panas, baik konduksi maupun konveksi adalah konduktiitas. Difusivitas termal
adalah konduktivitas dibagi dengan massa jenis dan kapasitas panas (α=k/ρc).

Analogi listrik dapat digunakan untuk memecahkan persoalan yang lebih rumit baik yang menyangkut tahanan termal dalam
susunan seri, paralel maupun kombinasi
Soal-soal (PR)
1. Jelaskan apa yang dimaksud perpindahan panas konduksi,
konveksi,dan radiasi.
2. Apa saja sifat-sifat bahan yang penting dalam perpindahan
panas.
3. Terangkan analogi panas dengan listrik.
4. Apa saja jenis-jenis isolator termal.