Anda di halaman 1dari 4

Muhammad Nur Rafli

17043020

Pelaksanaan Good Governance harus didukung Komitmen pimpinan, Dasar hukumnya


kuat, mendapat dukungan dari lingkungan internal dan masyarakat dan terakhir Inisiatif
internal. Coba saudara jelaskan dengan tuntas bagaimana pelaksanaan konsep di atas bisa
dilakukan agar tercapai pelaksanaan good Governance dengan hasil terbaik. Menurut
saudara Sumatera Barat dewasa ini sudah mencapai yang mana ?

Komitmen adalah kemampuan dan kemauan untuk menyelaraskan perilaku pribadi


dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan organisasi.Hal ini mencakup cara cara mengembangkan
tujuan atau memenuhi kebutuhan organisasi yang intinya mendahulukan misi organisasi dari
pada kepentingan pribadi. Komitmen dapat juga berarti penerimaan yang kuat individu terhadap
tujuan dan nilai-nilai organisasi, dan individu berupaya serta berkarya dan memiliki hasrat yang
kuat untuk tetap bertahan di organisasi tersebut. Komitmen adalah sebagai perjanjian atau
keterikatan untuk melakukan sesuatu yang terbaik dalam organisasi atau kelompok tertentu.
Dalam pelaksanaan Good Governance dilingkungan instansi pemerintah, perlu diperhatikan
komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan
misi agar akuntabel. Sebagai pemegang otoritas tertinggi, pemimpin bukan sekedar dapat
mempengaruhi pemanfaatan semua sumber daya yang tersedia untuk implementasi kebijakan,
tapi jauh melampaui itu juga mempunyai power yang dapat digunakan untuk memaksa sumber
daya yang lain. Kedudukan yang vital dan strategis itu tentu saja membawa konsekuensi. Ketika
suatu kebijakan dapat diimplementasikan dengan baik, maka itu merupakan keberhasilan
pemimpin. Tapi sebaliknya, jika suatu kebijakan tidak dapat diimplementasikan dengan baik,
maka itu juga merupakan bentuk kegagalan pemimpin. Jadi, dalam pelaksanaan Good
Governance, komitmen pimpinan akan mendukung pelaksanaan Good Governance, jika
komitmen tersebut diiringi dengan sikap dari pemimpin tersebut sehingga menghasilkan sebuah
kebijakan maupun keputusan yang mendukung prinsip-prinsip Good Governance

Di Indonesia prinsip good governance tertuang dalam Pasal 20 undang-undang nomor 32


tahun 2004 tentang pemerintah daaerah. Yang mengatur tentang penyelenggaraan pemerintahan
yang wajib dijalankan dengan asas umum penyelenggaraan pemerintahan. Asas umum
penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan Pasal 20 undang-undang nomor 32 tahun 2004
tentang pemerintah daaerah, yaitu;
1. Asas kepastian hukum; Setiap tindakan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan
haruslah berdasarkan atas hukum yang berlaku.
2. Asas tertib penyelenggaraan pemerintahan; penyelenggaraan negara sesuai dengan aturan serta
visi dan misi yang telah ditetapkan.
3. Asas kepentingan umum; Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah wajib
mendahulukan kepentingan umum dibandingkan kepentingan kelompok atau golongan.
4. Asas keterbukaan; Masyarakat dapat mengakses atau melihat hasil kegiatan dan tindakan
pemerintahan yang dikerjakan oleh pemerintah. Sehingga masyarakat dapat menjadi pengawas
bagi pemerintah.
5. Asas proporsionalitas; Seluruh tindakan pemerintah maupun para penegak hukum haruslah
ada keseimbangan antara hak dan kewajibannya. Sehingga tidak merugikan masyarakat yang
bersangkutan.
6. Asas profesionalitas; Mengedepankan tugas dan kewajiban sesuai dengan tugas pokok dan
fungsi masing-masing lembaga pemerintahan.
7. Asas akuntanbilitas; Setiap tindakan dan kinerja pemerintah, wajib untuk dipertanggung
jawabkan. Baik kepada masyarakat maupun kepada lembaga yang berada diatasnya.
8. Asas efisiensi dan efektivitas; Efektifitas dimaksudkan supaya setiap keputusan yang diambil
haruslah tepat guna dan berdaya guna bagi masyarakat, sedangkan efisiensi, berorientasi pada
minimalisasi penggunaan sumber daya untuk mencapai hasil kerja yang terbaik (baik itu sumber
daya manusia maupun sumberdaya lainya yang dimiliki pemerintah daerah).
Upaya menjamin pelayanan publik yang baik, yang telah ditetapkan oleh pemerintah
pusat diwujudkan dengan berlakunya UU Pelayanan Publik dan UU Keterbukaan Informasi
Publik. Pada 18 Juli 2009 pemerintah telah memberlakukan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik, dan UU Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang
diberlakukan mulai 30 April 2010. Sehingga dengan adanya UU tersebut, diharapkan terdapat
adanya transparansi dan akuntanbilitas baik pemerintah baik pusat maupun daerah yang dapat
diketahui oleh masyarakat dan dapat di akses oleh warga. Dan dengan adanya pemberlakuan
kedua undang-undang tersebut menjadi harapan baru untuk mendorong terciptanya good
governance dalam pelayanan publik, termasuk good governance dalam pelaksanaan anggaran
belanja pemerintah pusat maupun daerah.

Salah satu bentuk dukungan adalah kepercayaan. Kepercayaan sangat penting artinya
bagi tata kelola pemerintahan yang baik. Kepercayaan adalah suatu hubungan interpersonal dan
konsep organisasi yang kompleks (Bok, 1997), (Kramer dan Tylor, 1995). Kepercayaan terjadi
ketika pihak yang memiliki persepsi tertentu yang menguntungkan satu sama lain yang
memungkinkan hubungan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Kepercayaan adalah juga jauh
lebih dari itu. Ini adalah fondasi dari semua hubungan manusia dan interaksi institusional, dan
kepercayaan memainkan peran setiap kali kebijakan baru diumumkan (Ocampo, 2006).
Kepercayaan (trust), baik dalam bentuk sosial maupun politik, adalah sineqna non (syarat
mutlak) pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik dan kepercayaan yang saling
membutuhkan satu sama lain, kepercayaan menumbuhkan tata pemerintahan yang baik. Tiga
mekanisme penyebab utama yang beroperasi antara kepercayaan dan tata kelola pemerintahan
yang baik yaitu : (1) Mekanisme kausal sosial kemasyarakatan, (2) Mekanisme kausal ekonomi
efisiensi, dan (3) Mekanisme kausal politik legitimasi pemerintahan demokratis melahirkan
kepercayaan, kepercayaan merupakan prasyarat bagi tata kelola pemerintahan yang demokratis,
dan pentingnya hubungan sosial kemasyarakatan antara kepercayaan dan pemerintahan yang
baik melibatkan utamanya membangun dan memelihara semangat masyarakat sipil.
Individu yang kita sebut sebagai inisiator memiliki pemicu di dalam dirinya sehingga
memutuskan untuk menggagas sesuatu, dan pemicu ini dapat kita asumsikan sebagai sebuah
perilaku yang membuat seorang individu pada akhirnya mengambil langkah aktif sebagai sebuah
Self starting yang mengarah pada suatu pencapaian tertentu (Frese & Fay, 2001) atau dengan
kata lain juga yang bisa kita artikan sebagai sebuah inisiatif personal. Inisiatif personal juga
dapat dipengaruhi oleh dua hal yaitu, karena faktor internal dan eksternal (Fay & Frese, 2001).
Faktor internal atau bisa disebut dengan inisiatif internal berada pada dalam diri seseorang itu
sendiri, yaitu hal hal yang berkaitan dengan apa yang menjadi pendorong individu dalam
melakukan inisiasi untuk menggagas sesuatu ataupun memberikan reaksi pada apa yang
dianggapnya tidak sesuai pada nilai dalam dirinya. Dalam konteksi pemerintahan, inisiatif
internal mengacu pada pimpinan dan struktur organisasi da;am memutuskan untuk menggagas
seusatu sehingga dapat mengambil langkah aktif yang berasal dari internal organisasi tersebut
dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Jika kita kaitkan dengan Good Governance, inisatif
internal merupakan wujud komitmen organisasi untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip Good
Governance melalui sebuah langkah atas reaksi pada apa yang dianggapnya tidak sesuai pada
nilai dalam organisasi tersebut. Hal ini sangat penting, dan bisa dikatakan ini merupakan tingkat
tertinggi dalam faktor pendukung Good Governance. Sebab, jika sebuah organisasi pemerintahan
yang berafiliasi terhadap publik tidak mampu mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik
melalui inisiatif internal itu sendiri, maka resiko dari pengaruh faktor lain dapat mempengaruhi
secara kuat dalam perwujudan Good Governance tersebut.

Pada dasarnya masyarakat Minangkabau lebih berifat egaliter dan demokratis. Mereka
berprinsip sesama manusia duduak samo randah – tagak samo tinggi (duduk sama rendahnya –
berdiri sama tingginya). Ini tidak hanya berupa nilai yang ideal, tapi juga operasional di dalam
kehidupan sehari-hari, termasuk juga dalam hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin.

a. Dalam komitmen pemimpin itu sendiri, isu Good Governance mulai hangat ketika Gamawan
Fauzi menjadi Bupati Solok dan kemudian naik menjadi Gubenur. Beliau menjadi tokoh
reformasi tata kelola pemerintahan dan menjadi kiblat bagi pihak lain atas kepemimpinannya
yang menekankan pada prinsip Good Governance. Hal ini menunjukkan, komitmen pimpinan
provinsi Sumatera Barat mampu melahirkan kebijakan-kebijakan yang dapat mencapai Good
Governance dengan hasil yang terbaik. Komitmen pimpinan itu sendiri secara tidak langsung
akan mempengaruhi komitmen bawahannya sehingga terbentuk inisiatif internal. Inisiatif
internal yang terbangun dengan baik, akan menghasilkan sebuah langkah yang bagus bagi
pemerintah agar mudah dalam melakasanakan prinsip-prinsip Good Governance.

b. Selain itu melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan revisi Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, menjadi kunci perwujudan bagi salah satu yang
dibutuhkan bagi terwujudnya tata pemerintahan yang baik (good governance) di Provinsi
Sumatera Barat. Undang-Undang ini dapat dianggap sebagai perubahan titik pandang dari
central-government centered looking menjadi local-government centered looking. Setiap wilayah
bebas untuk menentukan kewenangannya sendiri, di luar beberapa hal yang menjadi kewenangan
pemerintah pusat dan urusan lain yang wajib diurusi pemerintah propinsi. Untuk mencegah
transfer budaya otoriter dan top-down dari pusat ke daerah, regulasi ini dilengkapi dengan upaya
demokratisasi lokal; Pertama; lembaga legislatif lokal (DPRD kabupaten/kota) dan badan
Perwakilan Desa) merupakan lembaga kontrol dengan posisi sejajar dengan eksekutif. Kedua;
kewe-nangan DPRD kabupaten/kota untuk memilih kepala daerah tanpa perlu memohon izin dan
pertanggung-jawaban pemerintah pusat dan kepala daerah, dan mengusulkan memberhentikan
kepala daerah meru-pakan upaya pembentukan loyalitas lebih kepada rakyat. Ketiga; di kawasan
perkotaan diharapkan peme-rintah daerah dapat menfasilitasi pem-bentukan organisasi sosial,
organisasi kemasyarakat dan keagamaan “forum kota” sebagai wadah bagi pemerintah daerah,
masyarakat dan pihak swasta untuk bersinergi atau berintraksi dalam pembuatan kebijakan
kepen-tingan lokal.

c. Dalam masyarakat Minangkabau baik antara sesama masyarakat maupun antara pemerintah
dengan rakyat sudah mengguna-kan prinsip atau falsafah bermasyarakat seperti amanah, kubak
kulik tampak isi dan sato sa kaki, yang mendekati sama pengertiannya dengan prinsip good
governance seperti amanah (akuntabilitas), kubak kulik tampak isi (transparansi), dan sato sa
kaki (partisipatif). Penyelenggaraan dan pengelolaan pemerintahan di Sumatera Barat dikelola
berasaskan kearifan lokal sebagaimana falsafah adat minang “Adat Basandi Syarak, Syarak
Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru (ABS-SBK)”
dan disinergikan dengan prinsip-prinsip good governance seperti (1) rule of law (2) transparency
(3) responsiveness (4) consensus orientation (5) equity (6) effectiveness and efficiency (7)
accountability (8) strategic vision sebagai wujud kerjasama antara pemerintah Nagari dan
masyarakat dan swasta dengan secara selaras dan berpadanan. Jadi secara langsung dukungan
internal dan masyarakat itu sendiri dapat bersinergi sehingga penerapan prinsip Good
Governance dapat dicapai dengan hasil yang terbaik.