Anda di halaman 1dari 3

1.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Di Indonesia banyak sekali tanaman yang sering dimanfaatkan oleh


masyarakat sebagai bahan pangan ataupun sebagai obat, akan tetaapi untuk limbah
tanaman masih jarang. Salah satu contohnya adalah limbah kulit bawang merah
yang banyak dihasilkan dari limbah rumah tangga. Penelitian sebelumnya telah
diketahui bahwa ekstrak kulit bawang merah mengandung senyawa kimi yang
berpotensi sebagai antioksidan yaitu flavonoid yang dapat mencegah
berkembangnya radikal bebas dalam tubuh sekaligus memperbaiki sel-sel tubuh
yang rusak (Soebagio, 2007).

Ketersediaan bawang merah sangat melimpah di Indonesia, terlihat dari


produksi bawang merah pada tahun 2014 sebesar 1,234 juta ton, dibandingkan
pada tahun 2013, produksi meningkat sebesar 223,22 ribu ton (22,08%).
Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya luas panen sebesar 21,77 ribu
hektar (BPS, 2014). Kulit bawang merah merupakan limbah pertanian yang masih
dapat dimanfaatkan karena dalam kulit bawang merah mengandung senyawa
metabolit sekunder. Bawang merah Maja (Allium cepa L. cv. group Aggregatum)
merupakan varietas lokal asal Cipanas, Cianjur. Daunnya berwarna hijau tua,
berbentuk silindris, dan berlubang. Umbi berwarna merah tua, berbentuk bulat
gepeng, dan berkeriput. Jumlah anakan umbi 6-12 per rumpun. Tanaman ini
cukup resisten terhadap penyakit busuk umbi, tanaman ini dapat ditanam di
dataran tinggi maupun rendah (Ambarwati, 2003). Bawang merah Maja (Allium
cepa L. cv. group Aggregatum) mengandung alisin, aliin, flavonoid, kuersetin,
pektin, saponin, sterol, sikloaliin, asam kafrilat, fosfor, fitosterol,dan flavanol
(Food and Nutrition Research Center, 1964). Ekstrak etanol kulit bawang merah
Maja memiliki aktivitas antioksidan IC50 sebesar 55,62 ppm (Sari, 2016).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kulit bawang merah


memiliki kadar antioksidan yang tinggi. Sehingga perlu dilakukan kajian
mengenai pemanfaatan antioksidan kulit bawang merah dalam memperlambat dan
mencegah juga memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak atau sebagai anti aging.

Produk perawatan kulit saat ini telah cukup banyak berkembang dalam
berbagai sediaan. Sehingga muncul gagasan mengenai pembuatan serum anti
aging karena mudah diaplikasikan dalam penggunaannya.

B. Rumusan Masalah

Masalah yang harus dijawab dalam penelitian ini adalah :


1. Bagaimanakah efektifitas serum kulit bawang merah untuk anti aging?

2. Apakah antioksidan dalam kulit bawang merah terbukti efektif untuk


mencerahkan kulit?

C. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Mengetahui cara memanfaatkan antioksidan dalam kulit bawang merah.

2. Mengetahui manfaat serum kulit bawang merah untuk anti aging.

D. Urgensi Penelitian

Kulit bawang merah berpotensi mempunyai banyak antioksidan yang baik di


gunakan oleh tubuh. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mempermudah
pemanfaatan antioksidan kulit bawang merah tersebut pada kulit manusia. Kulit
bawang merah akan di ubah dalam bentuk serum sehingga dapat langsung di
aplikasiakan pada kulit. Fungsinya dapat menangkal radikal bebas dan mencegah
penuaan pada kulit.

E. Luaran yang diharapkan

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memanfaatkan kulit
bawang merah yang mengandung antioksidan. Menciptakan produk anti aging
alami dalam bentuk serum dari kulit bawang putih. Sehingga bisa langsung di
gunakan pada kullit yang berfungsi menangkal radikal bebas dan mencegah
penuaan dini..

F. Manfaat

Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk menciptakan inovasi baru dalam
dunia kosmetik , terutama mengenai pencegahan penuaan dini. Produk ini di buat
dengan memanfaatkan antioksidan dari kulit bawang merah. Antioksidan tersebut
menjadi bahan pokok serum yang akan digunakan sebagai penangkal radikal
bebas dan mencegah penuaan dini.

2.Tinjauan pustaka
a. Kulit bawang merah

Pemanfaatan bawang merah terbatas pada dagingnya saja, sedangkan kulitnya


tidak dimanfaatkan (Arung dkk, 2011). Hal ini dikarenakan masyarakat sering
menganggap kulit bawang merah sebagai limbah yang dihasilkan dari industri
pangan dan rumah tangga yang sebagian besar belum bisa dimanfaatkan (Rahayu
dkk, 2015). Padahal di dalam kulit bawang merah mengandung banyak senyawa-
senyawa kimia seperti flavonoid, saponin, tanin, glikosida dan steroida atau
triterpenoid (Manullang, 2010).