Anda di halaman 1dari 12

RESPIRASI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Fisiologi Tanaman

Disusun Oleh:
Muhamad Fakhruddin (4442190098)
Asti Fauziah (4442190099)
Angelina Gabriella (4442190121)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2020
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah “Respirasi”
untuk memenuhi mata kuliah Fisiologi Tanaman. Penulis mengucapkan terima
kasih kepada ibu Imas Rohmawati, SP.,M.Si., selaku dosen pengampu mata
kuliah Fisiologi Tanaman.
Secara garis besar, makalah ini berisi kumpulan artikel ilmiah dari
berbagai jurnal tentang respirasi tanaman. Artikel ilmiah yang dibahas dalam
makalah ini adalah bentuk resume. Artikel ilmiah dalam makalah ini meliputi
penelitian mengenai respirasi tanaman kedelai, mangga, dan jeruk nipis.
Penulis menyadari, bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari
akta sempurna baik segi penyusunan, bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena
itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pembaca guna menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa
mendatang. Semoga makalah Fisiologi Tanaman ini bisa menambah wawasan
para pembaca dan bisa bermanfaat untuk perkembangan dan peningkatan ilmu
pengetahuan.

Serang, 15 November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................i
DAFTAR ISI...................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1. Latar Belakang..................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.............................................................................
1.3. Tujuan...............................................................................................
BAB II TINJAUAN/REVIEW JURNAL.....................................................
2.1. ..........................................................................................................
2.2. ..........................................................................................................
2.3. ..........................................................................................................
BAB III PENUTUP.........................................................................................
3.1. Simpulan...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Setiap mahluk hidup pasti memiliki ciri adanya kehidupan, salah satunya
yaitu bernapas atau respirasi. Sama halnya dengan mahluk hidup lain, tumbuhan
pun melakukan proses bernapas. Dalam pengertian sehari-hari, bernafas sekedar
diartikan sebagi proses pertukaran gas di paru-paru. Tetapi secara biologis,
pengertian respirasi tidaklah demikian. Pernafasan lebih menunjuk kepada proses
pembongkaran atau pembakaran zat sumber energi di dalam sel-sel tubuh untuk
memperoleh energi atau tenaga. Pernapasan pertumbuhan berbeda dibandingkan
pernapasan pada hewan atau manusia karena pernapasan pada tumbuhan lebih
kompelks prosesnya. Tanpa adanya respirasi tumbuhan akan mengalami
kemunduran fisiologi karena respirasi merupakan proses yang vital bagi
kehidupan tumbuhan.
Tumbuhan juga menyerap O2 untuk pernafasannya, umumnya diserap
melalui daun (stomata). Pada keadaan aerob, tumbuhan melakukan respirasi
aerob. Bila dalam keadaan anaerob atau kurang oksigen, jaringan melakukan
respirasi secara anaerob. Misal pada akar yang tergenang air. Pada respirasi aerob,
terjadi pembakaran (oksidasi) zat gula (glukosa) secara sempurna, sehingga
menghasilkan energi jauh lebih besar (36 ATP) daripada respirasi anaerob (2 ATP
saja). Demikian pula respirasi yang terjadi pada jazad renik (mikroorganisma).
Sebagian mikroorgaanisme melakukan respirasi aerobik (dengan zat asam),
anerobik (tanpa zat asam) atau cara keduanya (aerobik fakultatif).
Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tumbuhan
untuk proses respirasi. Tanpa adanya cahaya matahari tumbuhan tidak akan
mampu melakukan proses fotosintesis, hasl ini disebabkan klorofil hanyak akan
berfungsi bila ada cahaya matahari (Dwidioseputro, 1985). Energi yang ditangkap
dari proses oksidasi sempurna beberapa senyawa dapat digunakan untuk
mensintesis molekul lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Bila tumbuhan
sedang tumbuh, laju respirasi meningkata sebagai akibat dari permintaan
pertumbuhan, tapi beberapa senyawa yang hilang dialihkan kedalam reaksi
sintesis dan tidak pernah muncul sebagai CO2 (Salisbury dan Ross, 1995).

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian respirasi?
2. Bagaimana respon respirasi pada intensitas cahaya yang rendah?
3. Bagaimana pengaruh erthel terhadap laju respirasi selama proses
pematangan buah jeruk nipis?
4. Bagaimana pengaruh memar terhadap laju respirasi pada buah manga
gedong gincu dalam beberapa suhu penyimpanan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1. Untuk menyelesaikan tugas terstruktur mata kuliah Fisiologi Tumbuhan.
2. Mengetahui tahapan-tahapan respirasi yang terjadi di dalam tumbuhan .
3. Mengetahui bagaimana respon respirasi terhadap intensitas cahaya yang
rendah.
4. Mengetahui adakah pengaruh erthhel terhadap laju respirasi selama proses
pematangan buah jeruk nipis.
5. Mengetahui bagaimana pengaruh memar pada buah manga gedong gincu
dalam beberapa suhu penyimpanan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Respirasi


Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa
senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada
hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2
sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O.
Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan
dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang
secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air.
Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk
dalam reaksi-reaksi respirasi (Dwidjoseputro, 1986).
Respirasi yaitu suatu proses pembebasan energi yang tersimpan dalam zat
sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Dari respirasi
akan dihasilkan energi kimia ATP untak kegiatan kehidupan, seperti sintesis
(anabolisme), gerak, pertumbuhan. Respirasi juga biasa dikatakan reaksi oksidasi
organk untuk menghasilkan energi yang digunakan untuk aktifitas sel dan
kehidupan tumbuhan dalam bentuk ATP atau senyawa berenergi tinggi
(Garderner,1991).
Keberhasilan tanaman untuk tumbuh dan berkembang pada kondisi
intensitas cahaya rendah tergantung pada laju respirasi. Cahaya mempengaruhi
kecepatan respirasi tanaman dan spesies toleran intensitas cahaya rendah memiliki
kecepatan respirasi yang lebih rendah daripada tanaman cahaya penuh. Pada
cahaya penuh, suhu daun tinggi, sehingga laju respirasi juga tinggi. Laju respirasi
yang rendah merupakan dasar adaptasi tanaman naungan agar tetap dapat tumbuh
pada kondisi lingkungan cahaya yang terbatas (La Muhuria. 2012).

2.2 Macam-Macam Respirasi


Ditinjau dari kebutuhannya akan oksigen, respirasi dapat dibedakan
menjadi, Respirasi Aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen bebas untuk
mendapatkan energi dan Respirasi Anaerob atau biasa disebut dengan proses
fermentasi yaitu Respirasi yang tidak menggunakan oksigen namun bahan
bakunya adalah seperti karbohidrat, asam lemak, asam amino sehingga hasil
respirasi berupa karbondioksida, air dan energi dalam bentuk ATP (Jasin, 1989).
             Karbohidrat merupakan substrat Respirasi utama yang terdapat dalam sel
tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat Respirasi yang penting , diantaranya
adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam
organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesiestertentu) (Kimball, 2002).
Respirasi pada Glukosa, reaksi sederhananya:
C6H206 + 6 02 —> 6 H2O + 6 CO2 + Energi
Reaksi pembongkaran glukosa sampai menjadi H20 + CO2 + Energi, melalui tiga
tahap :1. Glikolisis.2. Daur Krebs.3. Transpor elektron respirasi
(Burhan,1997)         
Berdasarkan kebutuhannya terhadap oksigen respirasi terbagi atas 2 macam, yaitu:
1. Respirasi anerob

tidak memerlukan oksigen tetapi penguraian bahan organiknya tidak lengkap.


Respirasi macam ini jraang terjadi hanya dalam keadaan khusus. Substrat aerob
adalah glukosa, reaksinya :
C6H12O6 → 2C2H5OH + 2 CO2 + ATP
2. Respirasi aerob

Respirasi aerob memerlukan oksigen untuk menghasilkan tenaga (ATP). Tindak


balas ringkasnya ialah:
C6H12O6  + 6O2 → 6CO2  + 6H2O  ΔHc -2880 kJ
             Glikolisis, peristiwa perubahan : Glukosa Þ Glulosa – 6 – fosfat Þ
Fruktosa 1,6 difosfat Þ 3 fosfogliseral dehid (PGAL) / Triosa fosfat Þ Asam
piravat. Jadi hasil dari glikolisis : molekul asam piravat dan  molekul NADH yang
berfungsi sebagai sumber elektron berenergi tinggi. molekul ATP untuk setiap
molekul glukosa (Dwidjoseputro,1978).
            Glikolisis disebut juga jalur Emdent-myehorf-panas merupakan rangkaian
reaksi perubahan glukosa menjadi asam piruvat. Glikolisis adalah proses
penguraian heksosa menjadi triosa, terjadi di sitosol. Proses ini terdiri dari dua
bagian yaitu pertama penguraian substrat heksosa baik glukosa maupun fruktosa
yang berasal dari pati dan sukrosa maupun fruktan menjadi fruktosa 1,6 biposfat
(FBP). Kedua pemecahan FBP menjadi asam piruvat (Sitompul, 1995).
            Daur Krebs (daur trikarbekdlat): Daur Krebs (daur trikarboksilat) atau
daur asam sitrat merupakan pembongkaran asam piravat secara aerob menjadi
CO2 dan H2O serta energi kimia. Bila cukup oksigen asam piruvat ditransfer ke
dalam mitokondria melalui pertukaran dengna OH- pada membrane dalam.
Priruvat secara teknisnya bukan merupakan bagian dari siklus asam sitrat. Asetil
CoA merupakan bahan dasar masuk ke siklus sitrat dengan adanya oksaloasetat
(OAA) dengan bantuan enzim sitrat sintase membentuk asam sitrat dan dilepas
CoA berperanan lagi dalam membentuk asetil CoA (Loveless, 1991).
             Rantai Transportasi Elektron Respiratori: Pada system ini bekerja lima
komponen yang berpartisipasi dalam system pemindahan electron dari bahan
dasar NADH dan FADH sebagai donor sampai ke penerima terakhir yaitu mol
oksigen, dari daur Krebs akan keluar elektron dan ion H+ yang dibawa sebagai
NADH2 (NADH + H+ + 1 elektron) dan FADH2, sehingga di dalam mitokondria
(dengan adanya siklus Krebs yang dilanjutkan dengan oksidasi melalui sistem
pengangkutan elektron) akan terbentuk air, sebagai hasil sampingan respirasi
selain CO2. Produk sampingan respirasi tersebut pada akhirnya dibuang ke luar
tubuh melalui stomata pada tumbuhan dan melalui paru-paru pada peristiwa
pernafasan hewan tingkat tinggi.  (Salisbury and Ross, 1995).

2.3 Laju Respirasi


Laju respirasi jaringan bergantung pada aktifitas metabolik dari jaringan
tersebut. Secara umum semakin tinggi aktifitas metabolisme dari suatu jaringan,
semakin tinggi laju respirasi dari jaringantersebut. Tunas yang sedang berkemang
menunjukkan laju respirasi yang sangat tinggi dan umumnya laju respirasi
jaringan vegetatif akan menurun dari titik pertumbuhan ke daerah yang lebih
terdiferensiasi. Jaringan tumbuhan yang telah dewasa, biasanya laju respirasinya
tetap atau menurun dengan lambat dengan bertambahanya umur dan tingkat
penuaan. Kekecualian terjadi pada kondisi klimakterik, dimana peningkatan laju
respirasi terjadi pada proses pemasakan buah dan penuaan daun yang gugur/lepas
dan bunga potong. Hal ini dikarenakan adanya produksi etilen endogenous yang
dapat meningkatkan aktifitas lintasan alternatif resisten sianida pada membran
dalam mitokondria (Syamsuri, 2000).

Banyak faktor dapat mempengaruhi laju respirasi tumbuhan atau organ


tumbuhan, seperti spesies dan kebiasaan hidup dari tumbuhan, jenis dan umur
organ tumbuhan, faktor lingkungan seperti konsentrasi oksigen, suhu, hara dan
suplai air. Laju respirasi tumbuhan secara keseluruhan umumnya lebih rendah
dibanding laju respirasi jaringan hewan. Perbedaan ini dikarenakan volume sel
tumbuhan terisi oleh vakola yang besar dan dinding sel yang keduanya tidak
memiliki mitokondria. Akan tetapi, laju respirasi pada beberapa jaringan
tumbuhan sama tingginya dengan laju respirasi jaringan hewan. Pada
kenyataannya, mitokondria tumbuhan berespirasi lebih cepat dari mitokondria
hewan (Darmawan dan Baharsyah,1980) .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ethrel meningkatkan laju respirasi
buah jeruk nipis dan laju peningkatan respirasi bergantung pada konsentrasi ethrel
yang diaplikasikan. Pengaruh ethrel pada laju respirasi dan kandungan klorofil
paling optimal terjadi pada konsentrasi 15%. Hal ini dikarenakan pada konsentrasi
tersebut dianggap tepat atau sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan untuk
pematangan buah (Ari Khusuma dkk,2013).

2.4 Pengaruh Memar pada Buah terhadap Laju Respirasi dan Produksi
Etilen
Memar merupakan gejala kerusakan buah akibat getaran dan guncangan
yang dialami buah selama transportasi. Memar akan segera diikuti dengan
pembusukan sehingga buah menjadi tidak layak jual. Memar mengindikasikan
jaringan daging buah telah rusak sehingga mutunya menurun. Sedangkan respirasi
merupakan proses biologis yaitu oksigen diserap untuk digunakan pada proses
oksidatif yang menghasilkan energy yang diikuti oleh pengeluaran sisa
pembakaran berupa gas karbondioksida dan air. Umur simpan buah dapat
dipengaruhi oleh laju respirasi. Laju respirasi dapat dikendalikan antara lain
dengan memanipulasi kandungan gas O2 atau CO2 dalam kemasan atau ruang
penyimpanan. Dengan cara menurunkan konsentrasi O2 atau meningkatkan
konsentrasi CO2 maka laju respirasi dapat diperlambat sehingga umur simpan
buah dapat diperpanjang. Adapun buah yang diteliti adalah buah Mangga varietas
gedong gincu yang berumur 93-107 (terhitung dai berbunga), sampel diambil dari
daerah Majalengka.
Hasil penelitian pada jurnal terkait menunjukkan bahwa mangga gedong
gincu yang dimemarkan dengan tingkat tekanan sebesar 50% memiliki
kecenderungan laju respirasinya lebih rendah dibandingkan dengan mangga
gedong gincu yang tidak dimemarkan. Mangga gedong gincu yang disimpan
dalam suhu 10 0C mempunyai laju respirasi paling rendah dibandingkan dengan
mangga gedong gincu yang disimpan pada suhu 20 0C dan 25 0C. Dapat
disimpulkan bahwa laju respirasi ditentukan oleh suhu, dan kerusakan pada
produk juga mempengaruhi laju respirasi. Suhu dingin akan menyebabkan
perubahan yang sangat mencolok pada kecepatan glikolisis dan respirasi
mitokondria, yang mengakibatkan laju respirasi menjadi lambat dibandingkan
dengan suhu tinggi. Suhu rendah akan mereduksi laju respirasi, memperlambat
laju produksi etilen, serta laju kemunduran mutu produk.
Mangga gedong gincu yang dimemarkan dengan tingkat tekanan 50 %
mempunyai kecenderungan produksi etilennya lebih rendah dibandingkan dengan
mangga gedong gincu yang tidak dimemarkan. Mangga gedong gincu yang
0
disimpan dalam suhu 10 C, mempunyai produksi etilen paling rendah
dibandingkan dengan mangga gedong gincu yang disimpan pada suhu 20 0C dan
25 0C, pada buah mangga gedong gincu yang tidak dimemarkan yang disimpan
dalam suhu 10 0C, 20 0C dan 25 0C masing-masing mempunyai nilai produksi
etilen 3.46E+00 ppm, 3.09E+00 ppm dan 2.00E+00 ppm. Dapat dikatakan bahwa
produksi etilen amat erat hubungannya dengan laju respirasi, dan suhu yang
rendah akan menurunkan produksi etilen sehingga pematangan buah dapat
diperlambat.
Penyimpanan pada suhu yang tinggi dan proses pememaran
mengakibatkan buah mangga gedong gincu mengalami laju respirasi yang tinggi
dan produksi etilen yang tinggi. Pada suhu yang rendah, akan memperpanjang
umur simpan buah mangga gedong gincu.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dapat diambil kesimpulan bahwa respirasi merupakan proses pengambilan
O2 untuk memecah senyawa senyawa organik menjadi CO 2, H2O dan energi. Laju
Fotosintesis, laju transpor elektron, titik kompensasi cahaya, dan laju respirasi
gelap menurun akibat intensitas cahaya rendah, masing-masing hanya mencapai
71,80,71, dan 67% kontrol. Pada intensitas cahaya rendah, genotipe toleran
Ceneng memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam mempertahankan laju
fotosintesis dan transpor elektron dibandingkan dengan genotipe peka Godek.
Titik kompensasi cahaya dan laju respirasi gelap pada genotipe toleran Ceneng
masing-masing hanya mencapai 64 dan 60% kontrol sedangkan pada genotipe
peka Godek masih mencapai 69 dan 84% kontrol.
Erthel memiliki pengaruh terhadap laju respirasi pada buah jeruk nipis
selama proses pematangan. Ethrel meningkatkan laju respirasi buah jeruk nipis
dan laju peningkatan respirasi bergantung pada konsentrasi ethrel yang
diaplikasikan. Pengaruh ethrel pada laju respirasi dan kandungan klorofil paling
optimal terjadi pada konsentrasi 15%.
Memar pada buah mangga gedong gincu mempengaruhi pola respirasi dan
produksi etilen pada buah mangga gedong gincu. Buah yang mengalami
pememran akan mengakibatkan laju respirasi dan produksi etilen meningkat. Suhu
yang rendah akan mengakibatkan laju respirasi dan produksi etilen yang rendah
pula. Begitupun dengan suhu yang tinggi akan menyebabkan laju respirasi dan
produksi etilen meningkat sehingga akan mempercepat pematangan buah mangga
gedong gincu.
DAFTAR PUSTAKA

Ari Khusuma, Zulkifli,Tundjung Tripeni. 2013. Pengaruh ethrel terhadap laju


respirasi dan kandungan klorofil pada buah jeruk nipis (citrus aurantifolia
swingle) selama pematangan. Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan
Keanekaragaman HayatiVol. 1 No. 2.hal.72 -77.
Burhan, walyati dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. DEPDIKBUD.
Universitas Andalas : Padang.
Darmawan dan Baharsyah.1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
Gramedia:Jakarta.
Dwidjoseputro, D. 1985. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia : Jakarta.
Dwidjoseputro. 1986. Biologi. Erlangga. Jakarta
Dwidjosputro,D.1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT. Gramedia : Jakarta.
Gardner, F. P. R. Brent pearce dan Goger L. Mitchell, 1991, Fisiologi
Tanamanan Budidaya, Universitas Indonesia Press : Jakarta.
Jasin,Maskoeri.1989. “Biologi Umum Untuk Perguruan Tinggi”. Bina
Pustakatama:Surabaya

Kimball, J.W. 2002. Fisiologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.


La Muhuria. 2012. Respon Fotosintesis Dan Respirasi Pada Kedelai Toleran Dan
Peka Intensitas Cahaya Rendah. Jurnal Bimafika. Vol. 3. No. 2. hal 332-340.
Loveless,A.R.1991.Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 1.
Gramedia:Jakarta
Octavianti Paramita. 2010. Pengaruh Memar terhadap Perubahan Pola Respirasi,
Produksi Etilen dan Jaringan Buah Mangga (Mangifera indica L) Var Gedong
Gincu pada Berbagai Suhu Penyimpanan. Jurnal Kompetensi Teknik. Vol.02
(1): 29-38.
Salisburry, F.B. dan Ross, W.C. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press:
Bandung.
Salisbury,F.B and C.W Ross.1995.Fisiologi Tumbuhan Jilid III.ITB:Bandung
Sitompul, S.M dan Bambang.G. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah
Mada University press : Yogyakarta
Syamsuri. I. 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta