Anda di halaman 1dari 10

Nama : Magnalia Restu Khasanah

NIM : B1031161021
Kelas : Akuntansi A
Matkul : Akuntansi Keuangan Menengah II

Chapter 21 : Accounting For Leases

PENGERTIAN
Leasing adalah segala kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan
barang-barang modal yang penggunaannya diserahkan pada suatu perusahaan, melalui
pembayaran secara berkala dalam jangka waktu tertentu. Lease (Sewa GunaTanah) adalah
kontrak yang menetapkan syarat-syarat pengalihan hak pengalihan harta atau aktiva kepada
lease oleh pemiliknya, yaitu Lessor.
Dalam kegiatan leasing ada dua pihak yang terkait langsung :
1. Perusahaan yang kegiatannya melakukan pembiayaan dalam bentuk penyediaan
barang-barang modal untuk digunakan perusaahan lain. Jenis perusahaan
demikian disebutPerusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company). Selanjutnya
bertindak sebagai pihak yang menyewakan atau sebagai Lessor.
2. Perusahaan yang menerima hak untuk menggunakan barang-barang modal, bertindak
sebagai Penyewa Guna Usaha atau disebut Lesse .

KEUNGGULAN LEASING DARI SEGI EKONOMI


Ada dua keunggulan utama bagi Lesse untuk melease daripada membeli :
1. Tanpa Ada Uang Muka. Sebagian terbesar pembelian harta yang dibiayai dengan
menuntut agar sebagian dari harga beli dibayar langsung oleh peminjam pada saat
transaksi dilakukan. Hal ini memberi perlindungan tambahan bagi kreditor apabila
terjadi kemancetan pembayaran dan pengembalian aktiva. Sebaliknya, kontrak Lease
sering kali dibuat sedemikian rupa sehingga 100% nilai aktiva dibiayai melalui Lease.
Aspek ini membuat leasing menjadi alternatif yang menarik bagi Perusahaan yang
tidak memiliki Kas yang cukup untuk membayar Uang Muka atau Perusahaan yang
ingin menggunakan modal yang tersedia untuk tujuan operasi serta investasi yang lain.
2. Menghindarkan resiko pemilikan. Ada banyak resiko dalam pemilikan harta. Resiko ini
meliputi kerugian karena bencana, keausan, kondisi perekonomian yang berubah, dan
kerusakan fisik. Lesse boleh menghentikan Lease, meskipun biasanya dikenakan denda
tertentu, dan dengan demikian menghindarkan penanggungan resiko dari kejadian ini.
Keluwesan ini sangat penting bagi perusahaan dimana inovasi dan perubahan
Teknologi membuat kegunaan peralatan atau fasilitas tertentu menjadi sangat tidak
pasti.
SIFAT LEASE
1. Ketentuan Pembatalan
Sifat tidak dapat dibatalkan mengacu pada kontrak Lease yang ketentuan serta sanksi
pembatalannya sangat mahal bagi Lesse sehingga dalam keadaan bagaimanapun tidak
dilakukan pembatalan. Hanya Lease yang tidak dapat dibatalkan yang dapat
dikapitalisasi.
2. Periode Lease
Salah satu variabel penting dalam perjanjian Lease adalah Periode Leasenya: yaitu,
periode waktu mulai dari awal hingga ahir Lease, Tanggal pemrakasaan
Leasedidefinisikan sebagai tanggal perjanjian Lease, atau tanggal komitmen tertulis
paling awal jika semua ketentuan pokok telah dinegosiasikan. Permulaan Periode
Lease terjadi pada saat perjanjian Lease mulai berlaku, yaitu apabila harta yang dilease
telah diserahkan kepada Lease.
3. Akhir Jangka Lease adalah akhir periode yang ditetapkan dimana pembatalan tidak
boleh dilakukan ditambah semua periode, jika ada, yang diliput opsi pembaharuan
dengan harga murah ,atau ketentuan lain bahwa, pada tanggal terjadinya lease sudah
ada indikasi kuat bahwa lease itu diperbarui. Jika opsi pembelian dengan harga murah
dimasukkan dalam kontrak lease, sebagaimana didefinisikan dalam sub bab berikut,
maka periode lease meliputi semua periode pembaharuan sebelum tanggal opsi
pembelian dengan harga murah tiba. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa periode
lease tidak akan pernah melampui tanggal opsi pembelian dengan harga murah.
4. Opsi Pembelian Dengan Harga Murah
Lease kerap kali mengandung ketentuan yang memberi hak kepada lesse untuk
membeli harta yang dilease pada suatu hari dimasa depan. Harga beli yang pasti harga
opsi yang ditetapkan, meskipun dalam beberapa kasus harga tersebut dinyatakan
sebagai nilai pasar wajar pada tanggal ,opsi dimanfaatkan. Jika harga opsi telah
ditetapkan ini diperkirakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan harga atau nilai pasar
wajar pada tanggal pemanfaatan opsi pembelian, maka dalam hal ini sudah tersirat opsi
pembelian dengan harga murah.
5. Nilai Sisa Atau Residu
Adalah Nilai pasar harta yang dilease pada ahir periode lease. Dalam beberapa lease,
periode lease melampi umur ekonomi aktiva, atau periode dimana aktiva tersebut tetap
produktif, dan kadang-kadang masih ada nilai sisa . Dalam lease lainnya, periode lease
lebih singkat, dan nilai residu tidak ada. Jika lease dapat membeli aktiva itu pada ahir
periode lease dengan harga murah sudah ada, dan dapat diandaikan bahwa lesse akan
melaksanakan opsi ini dan dapat membeli aktiva tersebut.
6. Pembayaran Lease Minimum 
Pembayaran sewa yang diminta selama periode lease ditambah dengan jumlah yang
harus dibayar untuk nilai residu, entah melalui opsi pembelian dengan harga murah
atau penjaminan nilai sisa, disebut sebagai Pembayaran Lease Minimum. Jika semua
pembayaran ini dilakukan dengan lease saja, maka pembayaran lease minimum akan
sama bagi lesse dan lessor. Akan tetapi, jika pihak ketiga menjamin nilai residu, maka
si lesse tidak boleh memasukkan jaminan ini sebagai bagian dari
pembaayaran lease minimum, tetapi lessor akan memasukkannya.

Contoh : Olaf Leasing Co melease peralatan pembangunan jalan raya selama tiga tahun
dengan pembayaran $3.000 per bulan. Di dalam pembayaran sewa ini termasuk biaya
eksekutori $500 per bulan untuk menutup asuransi dan pemeliharaan peralatan
tersebut. Pada ahir tahun ketiga, nilai residu bagi Olaf dijamin oleh lesse sebesar
$10.000.
PembayaranLease minimum :
Pembayaran sewa tanpa biaya eksekutori ($2.500 X 36) = $ 90.000
Nilai Residu yang dijamin $ 10.000
Total pembayaran lease minimum $ 100.000

Karena pembayaran lease minimum baru akan dilakukan pada periode mendatang,
maka nilai sekarang dari pembayaran ini perlu dibukukan sebagai lease yang
dikapitalisai. Dua suku bunga yang berbeda harus dipertimbangkan dalam menghitung
nilai sekarang pembayaran lease minimum ini, yaitu : suku bunga pinjaman
incremental dari lease dan suku bunga implicit dari lessor.
Suku Bunga Pinjaman Inkremental (Incremental Borrowing Rate) adalah Suku bunga
yang akan ditanggung lease jika ia meminjam sejumlah uang yang diperlukan untuk
membeli aktiva yang dilease, dan didalamnya diperhitungkan keaaddaan keuangan
lesse dan kondisi yang berlaku dipasar.
Suku Bunga Implisit (Implicit Interest Rate) adalah Suku bunga yang akan digunakan
untuk mendiskontokan pembayaran lease minimum ke nilai pasar wajar aktiva pada
saat lease terjadi.
Lessor menggunakan menggunakan suku bunga implisit dalam menentukan nilai
sekarang pembayaran lease minimum. Akan tetapi, lesse menggunakan suku bunga
implisit atau suku bunga pinjaman inkremental, mana yang lebih rendah. Jika lesse
tidak mengetahui suku bumga implisit tersebut, dia harus menggunakn suku bunga
pinjaman incremental.

Contoh : Olaf Leasing Co. misalkan bahwa pembayaran sewa $3.000 kepada Olaf
Dilakukan pada awal setiap bulan, suku bunga implisit dalam kontrak lease adalah
12% per tahun, dan suku bunga pinjaman inkremental bagi lesse adalah 14%. Dengan
memisalkan bahwa lesse mengetahui suku bunga implicit tersebut, maka
baik lessor maupun lesse akan mendiskontokan atau menghitung nilai sekarang
pembayaran lease minimum itu dengan menggunakan suku bunga 12%. Nilai sekarang
dari pembayaran lease minimum sebesar $100.000 akan menjadi :
Nilai sekarang dari 36 pembayaran sebesar $2.500
($3.000 dikurangi biaya eksekutori $500) = $ 76.022
Nilai sekarang dari nilai residu yang dijamin sebesar $ 10.000
Pada ahir 3 tahun $ 7.118
Nilai sekarang pembayaran lease minimum .$ 83.140
Nilai sekarang sebesar $ 83.140 adalah harga jual atau nilai pasar wajar aktiva pada
saat lease terjadi.

AKUNTANSI LEASING
Ada dua pihak yang terkait langsung dalam transaksi leasing yaitu, pihak penyewa guna
usaha (lesse) dan perusahaan sewa guna usaha (lessor). Oleh karena itu berikut dibahas
mengenai akuntansi leasing pada pihak penyewa dan pada pihak perusahaan Sewa Guna
Usaha.
1. Pencatatan Transaksi Leasing Pada Penyewa (lesse)
a. Operating Lease
Dalam hal sewa guna usaha diperlakukan sebagai operating lease, trasansi leasing
oleh pihak penyewadicatat sebagai transaksi sewa-menyewa biasa. Dengan
demikian pembayaran sewa berkala dicatat debet akun Beban Sewa, dan kredit
akun Kas. Apabila dalam perjanjian sewa guna usaha ditetapkan pembayaran
berkala dalam jumlah yang berbeda, beban sewa untuk setiap periode dihitung
dengan menggunakan metode Garis Lurus (Straight Line Method).
Contoh : PT. SAMUDRA menyewa peralatan pabrik dari PT. SAKURA untuk
masa sewa 5 tahun dengan syarat sebagai berikut :
1. Sewa dibayar dimuka tiap tgl 2 Januari. Untuk tahun pertama jatuh pada
tanggal 2 Januari 2001.
2. Jumlah sewa tahun pertama dan kedua masing-masing sebesar Rp.
30.000.000,00. Sementara untuk tahun ketiga , keempat dan kelima masing-
masing Rp. 20.000.000,00.
Dari data contoh diatas, jumlah sewa untuk masa 5 tahun adalah 2 X Rp.
30.000.000,00 + 3 X Rp.20.000.000,00. Dengan menggunakan metode garis lurus,
jumlah sewa tiap tahun adalah Rp.120.000.000,00.: 5 = Rp 24.000.000,00

Pembayaran sewa untuk tahun 2001 sebesar Rp. 30.000.000,00. dicatat dengan
jurnal sebagai berikut.
Jan. 2 Beban Sewa Rp. 24.000.000,00 -
Sewa Dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 -
Kas   Rp. 30.000.00,00 -

Pembayaran sewa untuk tahun 2002 sebesar Rp. 30.000.000,00. dicatat dengan
jurnal sebagai berikut.
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 -
Sewa dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 -
Kas  Rp. 30.000.000,00 -

Pembayaran sewa untuk tahun 2003 (tahun ketiga) sebesar Rp. 20.000.000,00.
dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 -
Sewa dibayar Dimuka  Rp. 4.000.000,00
Kas  Rp. 20.000.000,00 -
Demikian pula untuk pembayaran sewa tahun keempat dan kelima, dicatat dengan
jurnal seperti ada pembayaran sewa tahun ketiga diatas, sehingga akun Sewa
Dibayar Dimuka selama masa sewa guna usaha(secara keseluruhan) akan tampak
seperti dibawah ini :
Sewa Dibayar Dimuka
Jan. 2, 2001 Rp. 6.000.000,00 Jan. 2, 2003 Rp. 4.000.000,00
Jan. 2, 2002 Rp. 6.000.000,00 Jan. 2, 2004 Rp. 4.000.000,00
Jan. 2, 2005 Rp. 4.000.000,00

Pada ahir masa guna, akun Sewa Diby\ayar Dimuka tidak mempunyai saldo. Ada
kalanya sewa pada tahun-tahun pertama lebih kecil daripada sewa tahun-tahun
terahir. Misalnya : dari data contoh dimuka, sewa pada tahun pertama, kedua dan
ketiga masing-masing sebesar Rp.20.000.000,00. Sementara sewa untuk tahun
keempat dan kalimat masing-masing Rp.30.000.000,00. Dalam hak demikian,
pembayaran sewa untuk pertama, kedua dan ketiga, masing-masing dicatat dalam
jurnal berikut :
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 -
Hutang Sewa  Rp. 4.000.000,00 -
Kas  Rp. 20.000.000,00

Pembayaran sewa untuk tahun keempat dan kelima, masing-masing dicatat dengan
jurnal sebagai berikut :
Jan. 2 Beban sewa Rp. 24.000.000,00 -
Hutang Sewa Rp. 6.000.000,00 -
Kas  Rp. 30.000.000,00 -

Dalam hal jatuh tempo pembayaran sewa pada saat periode akuntansi sedang
berjalan, misalnya dari data pada contoh dimuka, pembayaran sewa untuk tahun
2001 jatuh pada tgl 1 April 2001. Dalam hal demikian pada ahir periode harus
dibuat penyesuaian. Jurnal penyesiaian yang dibuat 31 Desember 2001, sebagai
berikut :
Des.31 Sewa Dibayar Dimuka Rp. 6.000.000,00 -
Beban Sewa  Rp. 6.000.000,00 -
(mencatat sewa bulan Januari, Februari dan Maret 2002 yang telah dibayar tahun
2001)

Sehubungan dengan Pos jurnal penyesuaian di atas, pada awal periode tahun 2002,
dibuat jurnal pembalik sebagai berikut :
Jan. 2 Beban Sewa Rp. 6.000.000,00 -
Sewa Dibayar Dimuka  Rp. 6.000.000,00 -

b. Lease Modal (Capital Lease)


Apabila suatu sewa guna usaha memenuhi criteria untuk di perlakukan sebagai
capital lease, transaksi leasing dicatat oleh pihak penyewa sebagai suatu transaksi
pembelian aktiva tetap dengan syarat kredit jangka panjang. Dengan demikian
dicatat debet pada akun Aktiva Sewa Guna Usha dan kredit akun hutang.
Aktiva sewa guna asaha dinilai berdasarkan harga terendah antara harga pasar
wajar, dengan jumlah sewa terendah yang dibayar selama masa sewa guna usaha,
ditambah dengan harga beli atau nilai residu aktiva yang bersangkutan pada ahir
masa sewa yang telah disepakati bersama.
Aktiva sewa guna uasaha olek pihak penyewa harus disusutkan dengan
menerapkan metode penyusutan yang biasa digunakan. Apabila kontrak sewa guna
usaha mencantumkan adanya pengalihan hak milik, atau adanya hak bagi penyewa
untuk membeli aktiva sewa guna usahaa dan ahir masa sewa, maka usia ekonomis
aktiva yang bersangkutan dijadikan dasar untuk menentukan besarnya penyusutan.
Sementara jika dalam kontrak sewa guna usaha tidak menyebutkabn dua kriteria
tersebut diatas, untuk menentukan jumlah penyusutan digunakan masa sewa guna
usaha sebagai usia penggunaan aktiva tetap yang bersangkutan.
Didalam jumlah sewa yang dibayar secara berkala, mengandung unsur harga
aktiva sewa guna usaha dan beban bunga. Oleh karena itu setiap pembayaran
sewa, dipisahkan menjadi jumlah pembayaran hutang yang merupakan sewa
terendah, dan jumlah pembayaran beban bunga.
Sebagai ilustrasi pencatatan sewa guna usaha yang diperlakukan sebagai capitral
lease pada pihak penyewa, misalkan PT. GIONI menyewa peralatan dari PT
JAYA SARANA. Ketentuan sewa guna usaha, sebagai berikut :
1. Masa sewa guna usaha selama 5 tahun, dengan syarat tidak dapat dibatalkan.
2. Sewa tiap tahun Rp. 20.000.000,00. dibayar dimuka tiap tgl 1 Januari. Sewa
tahun pertama jatuh pada tgl 1 januari 2000.
3. Biaya pelaksanaan selam masa sewa (executory Cost) dibayar oleh penyewa.
4. Tidak mada ketentuan yang menyebutkan adanya pengalihan hak milik dan
hak bagi penyewa untuk membeli pada ahir masa sewa.
Data lain sehubungan dengan transaksi leasing di atas adalah sebagai berikut :
1. Harga pasar wajar peralatan yang disewa sebesar Rp. 82.000.000,00
2. Usia ekonomis peralatan yang bersangkutan selama 5 tahun.
3. PT. JAYA SARANA memperhitungkan bunga 122% setahun.
4. PT. GIONI menyusutkan aktiva tetap dengan metode Garis Lurus.
Untuk menentukan nilai sewa guna uasah harus dihitung dulu nilai tunai untuk
tingkat bunga 12%, masa sewa 5 tahun dengan pembayaran dimuka yaitu 4,03733.
Dengan deimkian nilai tunai sewa terendah dari data contoh diatas adalah 4,03733
X Rp. 20.000.000,00 = Rp.80.746.600,00. Jumlah tersebut lebih besar dbanding
90% X Rp. 82.000.000,00 (harga pasar wajar aktiva yang bersangkutan)
Hasil perhitungan diatas dijadikan dasar untuk memberlakukan sewa guna usaha
pada contoh diatas sebagai capital lease. Dengan nilai Rp. 80.746.600,00. Jumlah
ini dicatat debet pada akun Peralatan Sewa dari Lease Modal. Selanjutnya setiap
ahir periode disusutkamn (didepresiasi) dengan metode garis lurus.

2. Pencatatan Transaksi Leasing Pada Perusahaan Sewa Guna Usaha


a. Operating Lease
Suatu sewa guna usaha tidak memenuhi kriteria untuk diperlakukan sebagai Sewa
Guna Usaha Pembelanjaan ( Finance Lease ), Transaksi leasing oleh perusahaan
sewa guna usaha (Lessor) dicatat sebagai transaksi sewa-menyewa biasa
(Operating Lease). Oleh karena itu dicatat sebagai harta dan di informasikan
dalam Neraca Sebagai aktriva yng disewa guna ushakan
Contoh : 1 Januari 2000 PT. ZODIAC menyewakan sebuah gedung untuk masa
10 Th. Pembayaran sewa tiap 1 Januari, dengan ketentuan 5 Th pertama masing-
masing Rp. 24.000.000,00 dan 5 Th terahir masing-masing Rp. 20.000.000,00.
Sewa dibayar di muka dan dimulai 1 Januari 2000, Biaya komisi, biaya layanan
hukum dan biaya langsung lainnya sebesar Rp. 10.000.000,00, dibayar oleh PT>
ZODIAC. Harga perolehan gedung Rp. 360.000.000,00. usia ekonomis 25 Th
tanpa niali residu. Gedung yang bersangkutan disusutkan dengan metode Garis
Lurus. Sementara biaya langsung pertama amortisasi selama 10 tahun.
Masa sewa yang dari 75% dari taksiran usia ekonomis aktiva sewa guna usaha,
sewa guna diatas tidak memenuhi kriteria untuk diperlakukan sebagai Finance
Leasing diatas, sebagai berikut :
1. Mencatat biaya langsung pertama untuk gedung yang disewa gunakan :
Jan 1
Biaya Langsung Pertama Yang ditangguhkan Rp. 10.000.000,00 -
2000 Kas Rp 10.000.000,00 -
2. Mencatat penerimaan sewa untuk tahun pertama (2000)
Jan 1 Kas Rp 24.000.000,00 -
2000 Sewa diterima dimuka Rp 2.000.000,00 -
Pendapatan Sewa Rp.22.000.000,00 -

Pendapatan sewa dicatat menurut metode garis lurus, sehingga pendapatan sewa
tiap bulan dihitung sebagai berikut :
(5 X Rp. 24.000.000,00) + (5 X RP. 20.000.000,00) = Rp. 22.000.000,00
Kelebihan yang diterima dari jumlah diatas, yaitu sebesar Rp. 2.000.000,00.
Dicatat kredit pada akun sewa Diterima dimuka.

3. Mencatat beban penyusutan gedung yang disewa guna usahakan dan amotisasi
Biaya Langsung Pertama
Des 31
Beban penyusutan Gedung Disewakan Rp 14.400.000,00 -
2000 Akum Penyusutan Gedung yang disewakan Rp 14.400.000,00 -
(Penyusutan Gedung Rp.360.000.000,00 : 25)

Des 31
Beban Amortisasi Biaya Langsung Pertama Rp 1.000.000,00 -
2000 Biaya Langsung Pertama yang ditangguhkan Rp 1.000.000,00 -
(Amortisasi Biaya Langsung Pertama Rp 10.000.000,00 : 10)

Jurnal yang terahir diatas akan dibuat pada setiap ahir tahun sampai dengan
ahir tahun kesepuluh, sehingga pada ahir masa sewa akun Biaya Langsung
Pertama yang Ditangguhkan tidak mempunyai saldo.

4. Mencatat penerimaan sewa untuk tahun keenam sampai dengan tahun


kesepuluh
Penerimaan sewa untuk tahun keenam sampai dengan tahun kesepuluh,
masing-masing dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Jan. 1 Kas Rp 20.000.000,00 -
Sewa Diterima Dimuk Rp. 2.000.000,00 -
Pendapatan sewa Rp 22.000.000,00 -
Dengan pos jurnal diatas, pada ahir masa sewa akun Sewa Diterima
Dimuka akan menunujukan saldo nol (tidak bersaldo)

b. Sewa Guna Usaha Pembiayayan Langsung ( Direct Financing Lease)


Sewa Guna Usaha Pembiayaan Langsung Adalah apabila perusahaan sewa guna
uasaha (Lessor) menyediakan atau membeli lebih dahulu aktiva sewa guna usaha
yang dipesan oleh penyewa (Lesse).
Sewa guna usaha yang diperlukan sebagai Sewa Guna Usaha Pembiayaan
Langsung, dalam neraca ihak lessor diinformasikan sebagai Piutang Pembayaran
Lease, sebesar jumlah pembayaran sewa terendah ditambah nilai residu tidak
terjamin. Nilai residu tidak terjamin adalah nilai sisa aktiva yang disewakan pada
ahir masa sewa, dengan tidak ada persetujuan yang menimbulkan hak bagi
penyewa untuk membeli nilai sisa aktin\va yang bersangkutan.
 Jumlah pembayaraan sewa terendah ditambah nilai residu tidak terjamin
yang dicatat sebagai Piutang Pembayran Lease, Merupakan investasi bruto.
 Selisih antara investasi bruto dengan niali buku (harga perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan) aktiva yang disewakan, dicatat sebagai Pendapatan
Bunga yang Ditangguhkan yang selanjutnya diamortisasi selama masa sewa
menurut metode bunga efektif.

Contoh : PT. BIMA PERKASA pada 25 Des 2000 membeli peralatan pabrik untuk
disewa guna usahakan kepada PT PANDAWA, Harga perolehan termasuk biaya
langsung pertama berjumlah Rp. 40.373.000,00. Usia ekonomis ditaksir 5 tahun,
tanpa nilai residu. Ketentuan sewa usaha antara lain sebagai berikut :
1. Masa sewa selama 5 tahun, dengan syarat tidak dapat dibatalkan.
2. Sewa dibayar tiap tgl 31 Des, masing-masing sebesar Rp.10.000.000,00
dimulai tgl 31 Des 2000
3. Biaya pelaksanaan seperti biaya asuransi, pajak dan pemeliharaan
ditanggung oleh pihak penyewa.
Informasi lain sehubungan dengan sewa guna asaha diats sebagai berikut :
a. Tidak ada ketentuan mengenai perpanjangan masa sewa
b. Harga perolehan aktiva sewa guna asaha sama dengan harga pasar wajar.
c. PT BIMA PERKASA memperhitungkan bunga implicit sebesar.

3. Penyajian Lease Pembiayaan Langsung Dalam Neraca


 Lease pembiayaan langsung dalam buku besar dicatat sebagai Piutang
Pembayaran Lease.
 Sementara bunga efektif yang terkandung didalam sewa terendah dicatat kredit pada
akunPendapatan Bunga yang Ditangguhkan.
 Selisih antara saldo akun Piutang Pembayaran Lease (Investasi Bruto) dan saldo
akun Pendapatan Bunga yang Ditangguhkan adalah sebagai investasi saldo. Dengan
demikian nilai lease pembiayaan langsung dalam neraca adalah sebesar investasi
neto. Investasi neto dari lease pembiayaan langsung yang jatuh tempo tidak lebih
dari satu tahun sejak tanggal neraca, harus diinformasikan sebagai aktiva lancar,.
Sementara investasi neto yang jatuh tempo lebih dari satu tahun sejak tgl neraca ,
harus diinformasikan sebagai investasi jangka panjang.
Contoh : Setelah sewa untuk tahun 2001 diterma pada tgl 31 Des 2000, dalam buku
besar akan menunjukan data sebagai berikut :
Saldo akun Piutang Pembayaran Lease Rp 40.000.000,00
Saldo akun Pendapatan Bunga yang Ditangguhkan Rp 9.627.000,00
Dengan demikian Investasi neto pada 31 Des 2000 Rp. 30.373.000,00

Dari jumlah diatas, akan diterima (jatuh tempo) pada tgl 31 Des 2001 sebesar Rp.
6.355.240,00. Jumlah tersebut dalam neraca 31 Des 2000 diinformasikan dalam
kelompok aktiva lancar.Selebihnya sebesar Rp. 24.017.760,00 (lihat
table), diinformasiukan dalam kelompok Investasi Jangka Panjang.

SUMBER

http://akuntansi86.blogspot.co.id/2008/06/makalah-akuntansi-leasing.html

Anda mungkin juga menyukai