Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol. 23 No. 1 Tahun 2012 Hal.

12–20

TEKNOLOGI PENGOLAHAN LATEKS CAIR MENJADI KARET BUSA

THE EFFECT OF FOAMING AGENT CONCENTRATION


AND LATEX DILUTION IN LATEX FOAM

Chasri Nurhayati dan Oktavia Andayani


Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang
e-mail: chasrinurhayati@yahoo.com
Diajukan: 9 Desember 2011; Disetujui: 8 Juni 2012

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bahan pembusa dan
pengenceran lateks terhadap kadar protein lateks, kadar karet kering, kadar jumlah
padatan lateks pekat, kekerasan, bobot jenis dan pampatan tetap busa. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Formula bahan pembusa (A) dengan perbandingan amonium oleat
dan amonium klorida menghasilkan nilai pampatan tetap berturut-turut adalah A2 : 0,90
phr dan 0,6 phr, A3 : 1,05 phr dan 0,8 phr, A4 : 1,2 phr dan 1,0 phr, A1 : 0,75 phr dan 0,4
phr dan A5 : 1,35 phr dan 1,2 phr. Sentrifugasi ulang dan pengenceran akan menurunkan
kadar protein lateks karet. Penurunan kadar protein yang terbanyak pada lateks pekat
yaitu pada pengenceran 30% (P3) sebesar 0,88% dilanjutkan pengenceran 20% (P2)
sebesar 0,88%, pengenceran 10% (P1) sebesar 1,25% dan tanpa pengenceran (P0)
sebesar 2,19%.

Kata Kunci: Alergen, busa, formula, kualitas, lateks, sentrifugasi

Abstract

The objective of this research is to determine the effect of foaming agent concentration
and latex dilution in making of dish washer foam that has a low protein content with waste
the latex protein as a main ingredient. The best formula of foaming agent (concentration of
ammonium oleat and ammonium chlorida) to increase pampatan value is A2 : 0,90 phr and
0,6 phr, A3 : 1,05 phr and 0,8 phr, A4 : 1,2 phr and 1,0 phr, A1 : 0,75 phr and 0,4 phr and A5
: 1,35 phr and 1,2 phr respectively. Latex Recentrifugation adan Dilution decreases
protein content of the natural latex. The decreasing protein content in the concentrated
latex is 0,88% at 30% dilution (P3), 1,25% at 20% dilution (P2) and 2,19% without dilution
(P0) respectively.

Keywords: Alergan, foaming, formula, quality, latex, centrifugation

PENDAHULUAN Dengan adanya kandungan protein ini


dikhawatirkan akan menurunkan
Lateks alam sebagai bahan baku pemakaian karet alam serta menjadi
barang jadi lateks (BJL) memiliki kendala bagi perkembangan industri
keunggulan khusus dibanding produk barang jadi lateks nasional.
pesaingnya (lateks sintetis) yaitu sifat Industri barang jadi lateks
teknisnya seperti kekuatan gel basah, khususnya industri busa saat ini
kekuatan vulkanisat dan elastisitas lebih didominasi oleh busa karet sintetis yang
baik. Penggunaan lateks menjadi barang pada umumnya dibuat dari karet
jadi lateks pada sebagian orang tidak eva/poliuretan dan plastik. Mutu busa
bermasalah akan tetapi pada sebagian sintetis kurang nyaman dan kurang awet,
orang kandungan protein pada lateks ini apalagi proses pembuatan busa karet
akan menyebabkan alergen pada kulit. sintetis beresiko tinggi karena bahan

12
Chasri Nurhayati Teknologi Pengolahan Lateks …

baku (isosianat) bersifat racun dan kulit memerah, hidung dan mata berair,
karsinogenik. Sifat karsinogenik dan kram perut, sulit bernafas, tekanan darah
beracun akan berdampak sangat buruk menurun dan pasien mengalami
terhadap kulit manusia pada pemakaian guncangan (anafilaksis) yang berpotensi
busa untuk pencuci piring yang menimbulkan kematian.
menyentuh langsung terhadap Tujuan dari penelitian ini adalah
permukaan kulit. Oleh karena itu perlu mengembangkan proses pembuangan
alternatif penggantian bahan baku busa protein pada lateks sebagai bahan baku
pencuci piring dengan menggunakan busa pencuci piring dan menetapkan
lateks cair. formulasi bahan pembusa yang optimal
Produk barang jadi dari lateks cair untuk memperoleh busa pencuci piring
dengan cara pembusaan yang dipakai dengan mutu yang memenuhi dan
untuk busa pencuci piring umumnya berkadar protein rendah.
mempunyai sifat-sifat tertentu seperti
halnya kandungan protein dalam lateks BAHAN DAN METODE
cair yang rendah dan proses pembusaan
yang akan menentukan mutu produk A. Bahan
akhir. Pada penggunaan barang jadi Bahan yang digunakan dalam
lateks pada orang-orang tertentu penelitian ini adalah lateks kebun,
kadang-kadang timbul alergi pada kulit dispersi sulfur 50% (sulfur, bentonit,
karena kandungan protein yang ada darvan, air), dispersi Zn-dietilditio
pada lateks cair (Jones, 2000). karbamat (ZDEC) 50% (yang terdiri
Pembuangan sebagian besar protein ZDEC, bentonit, darvan, air), dispersi Zn-
dapat dilakukan dengan beberapa cara 2-merkaptobenzotiazol (ZMBT) 50%
antara lain dengan hidrolisa enzimatis, (yang terdiri ZMBT, bentonit, darvan, air),
penambahan fumed silika (Cab-O-guard) dispersi Ionol 50 % (yang terdiri Ionol,
atau dengan cara sentrifugasi ulang. bentonit, darvan, air), pemantap lateks
Sentrifugasi ulang dengan putaran (NH4 laurat 0.05 %), dispersi amonium
kecepatan 14.000 ± 200 rpm merupakan oleat 7,5% (yang terdiri asam oleat,
pembuangan sebagian besar protein larutan amonia, air), dispersi amonium
lateks secara fisika. Cara pembuangan klorida 20% (yang terdiri amonium
protein dengan sentrifugasi diasumsikan klorida, air), dispersi ZnO 50% (yang
tidak akan menimbulkan efek lain seperti terdiri ZnO, bentonit, darvan, air),
halnya cara penambahan bahan kimia dispersi DPG (yang terdiri DPG, bentonit,
pada cara hidrolisa enzimatis dan darvan, air), larutan kanji.
penambahan fumed silika pada proses
pembuatan busa. Oleh karena itu akan B. Peralatan
dilakukan penelitian pembuatan busa Alat yang digunakan adalah
pencuci piring yang rendah protein dan sentrifugasi klaxon, timbangan, gelas
memvariasi jumlah pembusa seperti ukur, pengaduk lateks, mixer, stop
bahan amonium oleat dan kalium klorida. watch, cetakan busa, alat vulkanisasi
Kadar protein lateks telah (steam).
mengalami banyak penurunan yaitu
setelah sentrifugasi selama proses C. Metode Penelitian
pengolahan lateks pekat maupun selama Penelitian ini menggunakan dua
proses menjadi barang jadi lateks, perlakuan, faktor A adalah sentrifugasi
namun demikian residu protein yang dengan kecepatan 14.000 ± 200 rpm
tinggal 2% tersebut masih berpotensi dengan pengenceran sedangkan faktor B
untuk menyebabkan reaksi alergi. adalah formula perbandingan bahan
Reaksi alergi oleh protein lateks pembusa amonium oleat : kalium klorida.
dapat terjadi melalui kontak kulit atau Faktor A (sentrifugasi) terdiri :
mukosa dan berlangsung cepat yaitu - P0 Sentrifugasi tanpa pengenceran
dalam beberapa menit sampai beberapa lateks pekat
jam setelah penderita terkena antigen
yang ditandai gejala pembengkakan atau

13
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol. 23 No. 1 Tahun 2012 Hal. 12–20

- P1 Sentrifugasi dengan pengenceran diaduk sampai homogen selama ± 30


lateks 10% pada Kadar Jumlah menit dan setelah pengadukan
Padatan selesai kompon dieramkan selama 3-
- P2 Sentrifugasi dengan pengenceran 7 hari dengan tujuan untuk
lateks 20% pada kadar jumlah meningkatkan kestabilan kompon.
padatan Kompon yang dieramkan, setiap hari
- P3 Sentrifugasi dengan pengenceran dilakukan pengadukan selama 5
lateks 30% pada jumlah kadar menit mengunakan pengaduk.
padatan - Kompon karet karet diaduk dengan
Faktor B adalah konsentrasi mixer menggunakan kecepatan
bahan pembusa yaitu perbandingan rendah selama 3 menit sampai
amonium oleat (phr) : Amonium Klorida homogen.
(phr) yang terdiri : - Tahap terakhir adalah penambahan
- A1 = 0,75 : 0,4 sabun yang berupa amonium oleat
- A2 = 0,90 : 0,6 dan amonium klorida pada kompon
- A3 = 1,05 : 0,8 yang telah dihomogenkan sesuai
- A4 = 1,2 : 1,0 dengan perbandingan dalam
- A5 = 1,35 : 1,2 perlakuan.
Pengukuran awal untuk - Setelah penambahan sabun, kompon
menentukan lateks pekat adalah kadar selanjutnya diaduk dengan kecepatan
jumlah padatan (KJP), kadar karet kering tinggi selama 6 menit sampai tercapai
(KKK), kadar protein. Pengukuran ketinggian/jumlah busa sesuai yang
parameter busa adalah berat jenis, diinginkan. Pengadukan selanjutnya
kekerasan dan pampatan tetap. dilakukan dengan kecepatan rendah,
selama 1 menit dan penambahan
D. Prosedur pembuatan busa pencuci terakhir pada kompon adalah dispersi
piring ZNO 50% dan dispersi DPG 25%.
Tahap pembuatan busa adalah - Busa yang telah siap kemudian
sebagai berikut: dituangkan dalam cetakan sabun
- Pembuatan busa pencuci piring pencuci piring yang telah dialasi
dilakukan dengan menyiapkan lateks dengan sabut kelapa, kemudian
pekat yang sebelum disentrifugasi diamkan sampai larutan agak
dilakukan pengenceran menggunakan mengental selama ± 4 menit.
air terlebih dahulu sesuai perlakuan. - Busa dalam cetakan pencuci piring
- Tahap selanjutnya adalah penyiapan selanjutnya dilakukan vulkanisasi
bahan pembusa yang berupa menggunakan steam selama selama
amonium oleat dan amonim klorida ± 30 menit sampai proses vulkanisasi
dengan perbandingan A1 ( 0,75 phr : sempurna. Busa yang telah
0,4 phr), A2 : (0,90 phr dan 0,6 phr), divulkanisasi kemudian dikeluarkan
A3 ( 1,05 phr dan 0,8 phr), A4 (1,2 phr dari steam dan kemudian dilakukan
dan 1,0 phr) dan A5 ( 1,35 phr dan 1,2 perendaman dalam air selama ± 1
phr). jam.
- Dilakukan pembuatan dispersi Sulfur - Busa kemudian dilakukan pencucian
50%, ZDEC 50%, ZMBT 50%, ZMBT berulang dengan tujuan serum lateks
50%, DPG 25%, DPG 25% dan DPG yang masih tertinggal dapat
25 % secara terpisah dengan dihilangkan dengan pencucian.
menggunakan ball mill yang - Busa hasil pencucian kemudian
dilengkapi dengan gilingan peluru dikeringkan dengan oven selama 24
selama 24 jam sampai ukuran partikel jam dengan suhu antara berkisar 40-
± 5 mikron dengan tujuan agar mudah 50 oC.
terdispersi dengan air. - Produk busa pencuci piring yang
- Lateks pekat hasil pengenceran dan dihasilkan kemudian dilakukan
sentrifugasi ditambahkan bahan kimia pengujian sifat fisika meliputi
kompon yang telah dilakukan dispersi kekerasan (ASTM D.2240-1987),
sesuai perbandingan, kemudian pampatan tetap (compression set,
14
Chasri Nurhayati Teknologi Pengolahan Lateks …

ASTM D 395-1997) dan density konsentrasi air terbanyak akan


(bobot jenis) ISO D 2781 ASTM D menyebabkan protein larut dalam air
3574-1997. sebelum proses sentrifugasi. Pemisahan
selanjutnya dilakukan karena apabila
HASIL DAN PEMBAHASAN lateks segar dipusingkan dengan alat
pemusing maka lateks akan terpisah
A. Tahap Pertama menjadi bagian fraksi karet di bagian
Kemantapan mekanik lateks pekat atas yang disebut lateks pekat, fraksi
dinyatakan sebagai waktu kemantapan frey-wyssling, serum dan fraksi dasar,
mekanik yaitu waktu yang diperlukan dimana setiap lapisan yang dihasilkan
lateks pekat untuk memperlihatkan akan terkandung protein karet. Semakin
flokulasi jika diaduk menggunakan alat besar pengenceran dan sentrifugasi
pengaduk dengan kecepatan 14000 rpm. ulang akan menurunkan kandungan
Sebelum dilakukan sentrifugasi lateks protein pada lateks pekat. Demikian juga
dilakukan pengenceran dengan pengenceran akan menyebabkan
penambahan air sebesar 0% (kontrol), penurunan kadar protein pada lateks
10%, 20% dan 30%. Lateks pekat yang pekat karena protein bersifat larut dalam
telah diencerkan dan disentrifugasi air selama pengenceran. Grafik hasil
kemudian dilakukan pengujian kadar pengujian kadar protein lateks setelah
protein, kadar karet kering dan kadar sentrifugasi terlihat pada Gambar 1.
jumlah padatan.
Hasil analisa tahap awal 2,5 2,19
disampaikan sebagai berikut: 2
Kadar Protein

1,5 1,25
1. Kadar Protein Lateks
0,88 0,88
Analisis ini bertujuan untuk 1
mengetahui kadar protein terekstraksi
dari lateks pekat. Analisis ini dilakukan 0,5
berkaitan isu protein alergen, yaitu 0
protein dalam barang jadi lateks yang P0 P1 P2 P3
dapat menimbulkan alergi pada sebagian Perlakuan
pemakai, sehingga kandungan protein
dalam barang jadi karet harus serendah Gambar 1. Grafik Hasil pengujian kadar
mungkin. Dari hasil pengamatan protein lateks setelah
terhadap kadar protein setelah sentrifugasi
sentrifugasi diperoleh hasil bahwa
setelah mengalami sentrifugasi ke dua 2. Kadar Kadar Kering Lateks Pekat
kali dengan pengenceran lateks berbagai Kadar karet kering merupakan
konsentrasi diperoleh hasil bahwa faktor yang relatif tetap. Kadar karet
sentrifugasi tanpa pengenceran kering lateks pekat merupakan sifat yang
diperoleh hasil kadar protein 2,19%, paling penting karena pada proses
pengenceran 10% menghasilkan kadar pembuatan barang jadi dari karet lateks
protein 1,25%, pengenceran 20% dan penambahan bahan kimia kompon
30% menghasilkan protein 0,88%. didasarkan atas seratus karet kadar
Secara fisiologi, lateks merupakan karet kering. Semakin rendah jumlah
sitoplasma dari sel-sel pembuluh lateks lateks untuk memperoleh seratus satuan
yang mengandung antara lain partikel bobot karet semakin besar dan kompon
karet, lutoid, nukleus, mitokondria, karet yang terbentuk menjadi lebih encer
partikel frey-Wyssling dan ribosom. Dari (Anonim.1995). Persyaratan KKK lateks
perlakuan diperoleh kesimpulan bahwa pekat sesuai ASTM D 1076 -1997 adalah
penambahan air 30% dengan dua kali (min 60% untuk mutu I, 64% untuk mutu
ulangan akan menurunkan jumlah II dan 60% untuk mutu III).
protein yang terbesar. Penurunan Dari hasil penelitian, setelah
kandungan protein terbesar ini dilakukan pengenceran dan sentrifugasi
dikarenakan dalam pengenceran dengan ulang diperoleh hasil bahwa sentrifugasi

15
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol. 23 No. 1 Tahun 2012 Hal. 12–20

tanpa pengenceran diperoleh hasil kadar sedangkan bagian lainnya diantaranya


karet kering 67,65%, pengenceran 10% terdiri dari partikel Frey Wyssling, lutoid
menghasilkan kadar karet kering bahan yang terlarut dalam serum (Zuhra,
64,34%, pengenceran 20% 2005). Lutoid merupakan vakolisosom
menghasilkan kadar karet kering 60% karena sifatnya yang menyerupai
dan pengenceran 30% menghasilkan vakuola pada sel tanaman. Partikel ini
kadar karet kering 60%. Kadar Karet mengandung cairan (serum lutoid) yang
Kering yang terbaik adalah tanpa merupakan tempat akumulasi senyawa
pengenceran, dilanjutkan pengenceran atau ion yang bersifat racun. Hasil
10%, 20% dan 30%. Disebutkan dalam pengujian kadar jumlah padatan
Zuhra (2006), getah karet atau lateks diperoleh hasil tertinggi adalah lateks
sebenarnya merupakan suspensi pekat dengan pengenceran dan
koloidal dari air dan bahan-bahan kimia sentrifugasi 30%, diikuti pengenceran
yang terkandung didalamnya. Bagian- dan sentrifugasi 20%, pengenceran dan
bagian tersebut tidak larut sempurna sentrifugasi 10% dan tanpa
apabila dalam pengenceran kadar air pengenceran. Pengenceran yang
yang kecil, sehinga dengan pengenceran dilakukan dengan 30% dan sentrifugasi
rendah kadar karet kering yang akan menyebabkan peningkatan kadar
dihasilkan pada lateks setelah jumlah padatan yang ada pada lateks
mengalami sentrifugasi akan pekat setelah disentrifugasi oleh alat
menyebabkan nilai KKK tinggi karena pemusing. Menurut anonim/ASTM
tidak larut sempurna sedangkan untuk D1076 (1997), persyaratan KJP jenis I
pengenceran tinggi dan sentrifugasi minimal 61,5%, jenis II minimal 66,0%
ulang akan menyebabkan larut secara dan jenis III minimal 61,5%. Dengan
sempurna sehingga kadar karet kering demikian seluruh pengenceran dan
setelah menjadi lateks pekat menjadi pengulangan sentrifugasi masih
turun. Bila dibandingkan dengan SNI memenuhi syarat mutu sesuai Standar
lateks pekat, maka semua perlakuan Nasional Indonesia untuk kadar jumlah
memenuhi persyaratan mutu sesuai SNI. padatan. Dengan demikian pengenceran
Hasil pengujian kadar karet kering akan menurunkan mutu lateks
setelah pengenceran dan sentrifugasi berdasarkan kandungan kadar jumlah
dapat dilihat pada Gambar 2. padatan, akan tetapi pengenceran
maksimal 30% masih memenuhi
persyaratan. Hasil pengujian kadar
jumlah padatan untuk lateks pekat
setelah sentrifugasi dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 2. Grafik hasil pengujian kadar karet


kering setelah pengenceran dan
sentrifugasi
Gambar 3. Grafik hasil pengujian kadar
3. Kadar Jumlah Padatan (KJP, %) jumlah padatan
Kadar jumlah padatan merupakan
sifat lateks pekat yang relatif tidak B. Tahap kedua
dipengaruhi waktu. Padatan di dalam Pada tahap ini selanjutnya lateks
lateks pekat didominasi oleh karet pekat yang dihasilkan digunakan untuk

16
Chasri Nurhayati Teknologi Pengolahan Lateks …

pembuatan busa pencuci piring dengan


memvariasikan formula bahan pembusa
(konsentrasi amonium oleat dan amonim
klorida).
Lateks yang telah diencerkan dan
disentrifugasi digunakan bahan baku
dalam pembuatan kompon/busa. Lateks
pekat akan ditambahkan bahan
pemvulkanisasi, bahan pencepat, anti
oksidan, selanjutnya akan dilakukan
vulkanisasi. Setelah produk dihasilkan
maka akan dilakukan pengujian
beberapa parameter uji barang jadi Gambar 4. Grafik hasil pengujian kekerasan
lateks seperti busa. busa
Hasil pengujian produk busa
dilakukan pengujian meliputi : Dari analisis keragaman dapat
disimpulkan bahwa perlakuan
1. Kekerasan (ASTM D.2240-1987) berpengaruh nyata terhadap kekerasan,
Kekerasan dari vulkanisat berbeda pengenceran dan sentrifugasi
satu sama lainnya, yang terutama berpengaruh nyata, variasi pembusa
dipengaruhi oleh jenis dan jumlah bahan berpengaruh sangat nyata, sedangkan
pengisi serta jumlah bahan pelunak yang interaksi sentrifugasi dan formula bahan
digunakan dalam pembuatan kompon. pembusa berpengaruh tidak nyata. Hasil
Dari Gambar 4 dijelaskan bahwa analisis keragaman dapat dilihat pada
penambahan bahan pembusa yang Tabel 1.
tertinggi (A5) akan menghasilkan
kekerasan yang rendah sedang Tabel 1. Analisis Sidik Ragam Kekerasan
penambahan bahan pembusa yang SK db JK KT FH F Tab
rendah akan menghasilkan produk busa 5% 1%
P 19 999,7 52,479 1,604 * 2,20 0,01
dengan kekerasan tinggi. Pada busa -P 3 683,5 227,83 8,493 ** 3,10 4,94
kekerasan yang diingingkan adalah -A 4 36,6 9,15 0,280 ns 2,87 4,43
kekerasan yang rendah. Penambahan -I 12 277 23,03 0,705 ns 2,28 3,23
G 20 654,3 32,715
busa pada perbandingan amonium oleat Tot 39 1651,1 42,336
dan amonium klorida dengan
perbandingan 1,35:1,2 akan Dari Uji Beda Nyata Jujur terlihat
menghasilkan busa dengan kekerasan bahwa pengenceran dan sentrifugasi
terendah. akan mempengaruhi kekerasan busa.
Amonium oleat dan amonium Busa yang menghasilkan kekerasan
klorida merupahan jenis sabun yang tinggi berasal dari lateks pekat yang
digunakan untuk pengemulsi. mempunyai tingkat pengenceran dan
Pengemulsi dibuat dengan penambahan sentrifugasi yang rendah (10%)
sabun yang diaduk dengan stirer dengan sedangkan busa yang mempunyai
kecepatan tinggi, alat penghomogen atau kekerasan rendah adalah busa yang
colloid-mill. Suatu emulsi merupakan berasal dari lateks pekat yang
suatu sistem dua fase yang disusun oleh mempunyai tingkat pengenceran tinggi
butir-butir halus dan suatu cairan yang (P3), dan apabila dihubungkan dengan
terdispersi di dalam cairan lain, dan kandungan protein yang terdapat pada
cairan tersebut tidak dapat saling lateks pekat maka kandungan protein
bercampur ampur atau tidak sempurna. yang tinggi akan menghasilkan busa
Untuk menjaga kestabilan sistim koloid dengan kekerasan tinggi. Dengan
maka dengan penambahan protected demikian protein yang terkandung di
colloid. Hasil pengujian kekerasan busa dalam lateks pekat akan meningkatkan
dapat dilihat pada Gambar 4. kekerasan busa pada saat vulkanisasi.

17
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol. 23 No. 1 Tahun 2012 Hal. 12–20

Tabel 2. Uji BNT Sentrifugasi dan mencapai kenaikan ketinggian


Pengenceran terhadap kekerasan maksimum akan menyebabkan proses
Perlakuan Kekerasan Tabel Uji vulkanisasi produk menghasilkan produk
Rata-rata .005=20,4740 .001=26,536 dengan ketinggian maksimal. Ketinggian
2 2
Po 48,4 a a tersebut disebabkan adanya rongga
P1 33,6 a A produk akibat dari proses pembusaan
P2 30 a A yang maksimal. Penambahan rongga
P3 26,8 a A
yang maksimal akan menyebabkan
2. Bobot Jenis (ISO D 2781 , ASTM D bobot jenis produk akan menurun. Pada
3574-1997 busa, berat jenis yang memenuhi syarat
Bobot jenis merupakan mutu adalah busa dengan berat jenis
yang diinginkan yaitu busa dengan berat
perbandingan antara masa suatu benda
dengan volume benda tersebut pada jenis rendah dengan persyaratan
suhu kamar. Pengukuran bobot jenis Standar Nasional Indonesia.
Dari analisis keragaman dapat
dimaksudkan untuk melihat sejauhmana
pengaruh bagian vulkanisat terhadap disimpulkan bahwa perlakuan
berpengaruh nyata terhadap bobot jenis
perubahan bobot dari barang jadi secara
keseluruhan. busa, pengenceran dan sentrifugasi
Prinsip penentuan bobot jenis berpengaruh tidak nyata terhadap bobot
jenis, formula bahan pembusa
adalah menimbang bobot contoh uji di
udara dan menimbang kembali di dalam berpengaruh tidak nyata dan interaksi
sentrifugasi dan formula bahan pembusa
air. Bobot contoh uji di dalam air akan
lebih kecil dibandingkan di udara karena berpengaruh tidak nyata. Hasil analisis
keragaman dapat dilihat pada Tabel 3
contoh uji mendapat tekanan ke atas
yang volumenya sama dengan air yang .
Tabel 3. Analisis Sidik Ragam Bobot Jenis
dipindahkan. Karena bobot jenis air 1
F Tab
g/cm3 maka volume air yang dipindahkan SK db JK KT FH
5% 1%
sama dengan bobot contoh uji, sehingga P 19
0,00526
4
0,0002
771
1,0202 * 2,20 0,01
data pengukuran yang digunakan dalan -P 3
0,00072 0,0002
0,8892 ns 3,10 4,94
46 415
perhitungan bobot jenis cukup -A 4
0,00114 0,0002
1,1054 ns 2,87 4,43
5 863
menggunakan data hasil penimbangan. -I 12
0,00339 0,0002
1,0414 ns 2,28 3,23
42 8285
Hasil pengujian bobot jenis dapat dilihat 0,00543 0,0002
G 20
pada Gambar 5. Tot 39
2
0,10696
716

3. Pampatan tetap
Pampatan tetap diukur dengan
memotong karet busa membentuk
silinder sebanyak 3 buah, masing-
masing diukur tebal. Pada penelitian ini
busa dilakukan pengujian terhadap
pampatan tetap. Hasil Pengujian
pampatan tetap data dilihat pada
Gambar 6.
Dari analisis keragaman dapat
disimpulkan bahwa perlakuan
Gambar 5. Grafik hasil pengujian bobot jenis
berpengaruh sangat nyata terhadap
kekerasan, pengenceran dan sentrifugasi
Dari Gambar 5 terlihat bahwa berpengaruh tidak nyata terhadap
penambahan bahan pembusa yang formula bahan pembusa berpengaruh
tertinggi (A5) akan menghasilkan berat sangat nyata, sedangkan interaksi
jenis yang rendah sedangkan sentrifugasi dan formula bahan pembusa
penambahan busa terendah akan berpengaruh tidak nyata.
menghasilkan busa dengan berat jenis
tinggi. Proses pembusaan yang

18
Chasri Nurhayati Teknologi Pengolahan Lateks …

yang bersifat padat. Buih padat adalah


buih dalam medium pendispersi padat.
Proses pembusaan adalah
bercampurnya koloid yang bersifat
heterogen. Koloid adalah suatu
campuran zat heterogen antara dua zat
atau lebih di mana partikel-partikel zat
yang berukuran koloid tersebar merata
dalam zat lain. Ukuran koloid berkisar
antara 1-100 nm (10-7 – 10-5cm). Sabun
yang berupa ammonium oleat dan kalium
klorida dilakukan pengocokan sehingga
terbentuk buih. Buih sabun (fase
Gambar 6. Grafik hasil pengujian pampatan terdispersi berupa gas) akan
tetap dicampurkan ke dalam kompon karet
(fase pendispersi berupa padatan)
Hasil analisis keragaman dapat sehingga pada saat vulkanisasi akan
dilihat pada Tabel 4. terbentuk rongga pada produk busa
Tabel 4. Analisis Sidik Ragam Pampatan pencuci piring. Rongga tersebut akan
Tetap menentukan tingkat pampatan tetap.
F Tabel
SK Db JK KT F Hitung
5%
2,2
1%
0,0
KESIMPULAN
Prlkn 19 41,807 2,20037 2,41794 **
0 1
3,1 4,9
-P 3 0,2431 0,08103 0,089041ns
0 4 Dari penelitian yang dilakukan
2,8 4,4
-A 4 23,3635 5,840875 6,4184 **
7 3 dapat disimpulkan bahwa :
2,2 3,2
-I 12 18,2004 1,5167 1,666 ns
8 3 1. Sentrifugasi ulang dan pengenceran
Galat
Total
20
39
60,007
1651,1
32,715
42,336
akan menurunkan kadar protein lateks
pekat. Penurunan kadar protein yang
Dari Uji Beda Nyata Jujur terlihat terbanyak pada lateks pekat yaitu
bahwa formulasi bahan pembusa terbaik pada pengenceran 30% (P3) sebesar
diperoleh pada perlakuan pembuatan 0,88 % dilanjutkan pengenceran 20%
busa dengan penambahan ammonium (P2) sebesar 0,88 %, pengenceran
olet : kalium klorida pada perlakuan 10% (P1) sebesar 1,25 % dan tanpa
A3:1,05 phr dan 0,8 phr diikuti A4:1,2 phr pengenceran (P0) sebesar 2,19 %.
dan 1,0 phr, A5 :1,35 phr dan 1,2 phr, A2 : 2. Busa yang menghasilkan kekerasan
0,90 phr dan 0,6 phr dan yang terendah tinggi berasal dari lateks pekat yang
adalah A1: 0,75 phr dan 0,4 phr. mempunyai tingkat pengenceran dan
Pampatan tetap dapat dipengaruhi sentrifugasi yang rendah (10%)
oleh jumlah bahan pembusa yang sedangkan busa yang mempunyai
ditambahkan pada kompon. Pembusaan kekerasan rendah adalah busa yang
kompon lateks umumnya dilakukan berasal dari lateks pekat yang
dengan pengocokan kompon yang telah mempunyai tingkat pengenceran
ditambahkan bahan pembusa. Bahan tinggi (P3).
pembusa yang digunakan secara umum 3. penambahan bahan pembusa yang
berupa sabun, seperti ammonium oleat tertinggi (A5) akan menghasilkan berat
atau kalium klorida. Campuran kompon jenis yang rendah sedangkan
dengan bahan pembusa diaduk lebih penambahan busa terendah akan
dahulu agar homogen. Campuran yang menghasilkan busa dengan berat jenis
telah homogen tersebut dikocok dalam tertinggi. Pada busa, berat jenis yang
waktu dan kecepatan pengocok tertentu memenuhi syarat mutu adalah busa
hingga dicapai volume kompon yang dengan berat jenis yang diinginkan
dikehendaki. Metode pembusaan adalah yaitu busa dengan berat jenis rendah.
pencampuran sabun yang dikocok 4. Formula bahan pembusa (konsentrasi
menjadi buih dengan kompon lateks amonium oleat dan amonim klorida)
yang terbaik untuk meningkatkan nilai

19
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol. 23 No. 1 Tahun 2012 Hal. 12–20

pampatan busa berturut-turut adalah Rahmawati, Y. (2005). Penurunan Kadar


A2:0,90 phr dan 0,6 phr, A3:1,05 phr Protein Lateks Secara Enzimatis
dan 0,8 phr, A4:1,2 phr dan 1,0 phr, dalam Pembuatan Lateks DPHR
A1:0,75 phr dan 0,4 phr dan A5:1,35 (Deproteinized Natural Rubber).
phr dan 1,2 phr. (Skripsi). Bogor: Fak. Teknologi
Pertanian IPB.
DAFTAR PUSTAKA Sugianto. (1989). Diklat Kursus Angkatan
III. Bogor: Balai Penelitian
Anonim. (2006). Karet, Budidaya dan Perkebunan Bogor.
Pengolahannya. Bogor: Penebar Suprapto, D. (2009). Pengembangan
Swadaya Proses Produksi Lateks Pekat
Anonim. (2006). Pelatihan Teknologi Berkadar Protein Rendah dan
Barang Jadi Lateks. Bogor: Balai Lateks Pravulkanisasi. Bogor:
Penelitian Teknologi Karet Bogor. Balai Penelitian Karet Bogor.
Anonim. (2010). Mengenal Lebih Jauh Thomas, J dan Bhuana, K.S. (1989).
Teknologi Pembuatan Barang Jadi Pedoman Teknis Pengujian Sifat
Karet. http://www.pembuatan Fisik Vulkanisat Karet. Bogor: Balai
barang jadi lateks.pdf. Diakses Penelitian Karet Bogor.
tanggal 21 Oktober 2010. Triwiyoso dan Utami, S. (1989). Diklat
Anonim. (2010). Home of the from Kursus Angkatan III. Bogor: Balai
allergen protein data base. 2010. Penelitian Perkebunan Bogor.
http://www.protein alergen.asp.htm. Zuhra, C.F. (2006). Karet. (Karya Ilmiah).
Diakses tanggal 4 Oktober 2010. Medan: FMIPA USU.
Anonim. (2010). Proses Pemisahan Travis, W, Honeycutt. (2006).
Sentrifugal (sentrifugasi). Technological and Physical
http://www.sentrifugasi.press.ppt. Properties of a New, Low Antigenic
Diakses tanggal 6 Agustus 2010. Protein Natural Rubber
Anonim. (2010). Pan Klorida. Latex.http.//www.fda.gow/cdih/man
http.//www.kloride.html. Diakses ual/glovl.pdf. Diakses tanggal 28
tanggal 25 September 2010. Agustus 2010.
Anonim. Sistem Koloid. (2010).
http.//www.koloid.17html. Diakses
tanggal 29 September 2010.
Blackely, D.C. (1996). High Polymer.
London: Latices Moclaren & Sons,
Ltd.
Damayanti, Y. (2000). Pengaruh
Kombinasi (Enzimatis dan kimiawi)
terhadap Kualitas Kadar Karet
Alam Berprotein Rendah/DPHR.
(Skripsi). Bogor: Fak. Pertanian
IPB.
Evan, C.W. (1981). Practical Rubber
Compounding and Processing.
Testing and Quality Assurance.
Hanafiah, K.A. (2010). Rancangan
Percobaan, Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Maspanger, D. (2003). Rekayasa
Kombinasi Sistim Sentrifugasi dan
Pendadihan untuk Meningkatkan
Efisiensi Proses Pembuatan Lateks
Pekat. Bogor: Balai Penelitian
Teknologi Karet Bogor.

20