Anda di halaman 1dari 6

Nama : Eunike Filia Tandidatu

NIM : 1813015219
Kelas : B Pilihan ( D 2018 )
Mata Kuliah : Kosmetikal

KOSMETIKAL
“FORMULA SUNSCREEN”

1. FORMULASI KRIM SUNSCREEN


Bahan formula sunscreen yang digunakan yaitu ekstrak buah bisbul (Diospyros
blancoi), cera alba, nipagin, nipasol, paraffin cair, sorbitan monostearat, trietanolamin
dan aquades. 1

2. ALASAN PENGGUNAAN BAHAN DARI FORMULA SUNSCREEN


a) Esktrak Buah Bisbul (Diospyros blancoi)
Ekstrak buah bisbul memiliki kandungan senyawa aktif antara lain golongan
senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, dan fenolik. Golongan senyawa flavonoid dan
fenolik berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat menghambat proses
kerusakan sel kulit akibat oksidasi. Senyawa fenolik khususnya golongan flavonoid
mempunyai potensi sebagai tabir surya karena adanya gugus kromofor (ikatan rangkap
tunggal terkonjugasi) yang mampu menyerap sinar UV, baik UV A maupun UV B
sehingga mengurangi intensitasnya pada kulit. 2

b) Sediaan Sunscreen dalam Bentuk Krim


Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai 3. Tipe krim yang digunakan
dalam formulasi adalah tipe A/M sebagai basis karena lebih lama melekat di kulit dan
dapat melembutkan kulit 1.
c) Cera Alba
Cera alba dalam sediaan topikal digunakan untuk meningkatkan konsistensi krim 4.
d) Nipagin
Dalam industri kosmetik nipagin digunakan sebagai bahan tambahan dan zat pengawet
7
.
e) Nipasol
Nipasol digunakan secara luas sebagai antimikroba atau pengawet dalam kosmetik 4.
f) Paraffin cair
Paraffin cair berfungsi sebagai pelarut dan penambah viskositas dalam fase minyak 5.
g) Sorbitan monostearat
Sorbitan monostearat digunakan sebagai emulgator 4.
h) Trietanolamin
Triethanolamin merupakan emulgator yang berfungsi menurunkan tegangan
permukaan kedua cairan tersebut sehingga bersifat sebagai surfaktan. Fungsi lain dari
Triethanolamine tersebut adalah menstabilkan tingkat pH dan agen pengemulsi 7.
i) Aquades
Aquades digunakan sebagai pelarut 5.

3. PERHITUNGAN SPF PADA KRIM SUNSCREEN


Untuk menghitung nilai SPF digunakan rumus :
Keterangan :
EE = Spektrum efek eritema
I = Spektrum intensitas sinar (Tabel 2)
Abs = Absorbansi
CF = Faktor koreksi (10)

Diketahui :
 CF = 10
 Abs Ekstrak Buah Bisbul = 3,6012
 Abs Basis Krim = 0,16
 Abs F1 = 0,926
 Abs F2 = 1,002
 Abs F3 = 1,3
 ∑𝟑𝟐𝟎
𝟐𝟗𝟎 𝐄𝐄 𝐱 𝐈 = 1,0002

Penyelesaian :
1) Perhitungan Nilai SPF
a) Nilai SPF Ekstak Buah Bisbul
Rumus : SPF = CF x EE x I x Abs
SPF Ekstrak Buah Bisbul = 10 x 1,0002 x 3,6012
= 36,02
b) Nilai SPF Basis Krim
Rumus : SPF = CF x EE x I x Abs
SPF Basis Krim = 10 x 1,0002 x 0,16
= 1,60
c) Nilai SPF F1
Rumus : SPF = CF x EE x I x Abs
SPF F1 = 10 x 1,0002 x 0,926
= 9,26
d) Nilai SPF F2
Rumus : SPF = CF x EE x I x Abs
SPF F2 = 10 x 1,0002 x 1,002
= 10,02
e) Nilai SPF F3
Rumus : SPF = CF x EE x I x Abs
SPF F3 = 10 x 1,0002 x 1,3
= 13,00

Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan, ekstrak buah bisbul


memiliki nilai SPF sebesar 36,02 yang berarti memiliki kemampuan ultra sebagai tabir
surya. Pada basis krim tanpa ekstrak memiliki nilai SPF sebesar 1,60 yang berarti tidak
memiliki kemampuan sebagai tabir surya. Pada F1, F2, dan F3 masingmasing memiliki
nilai 9,26; 10,02; dan 13,00. Dari ketiga formula, F3 memiliki nilai SPF tinggi yaitu
sebesar 13,00 yang memiliki kemampuan maksimal sebagai tabir surya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai SPF pada sediaan sunscreen yaitu 13,00.
Krim sunscreen ekstrak buah bisbul memiliki termasuk kategori maximal-protection.
Bila dilihat berdasar kategori sunscreen yaitu :

2) Perhitungan Waktu Pengulangan Penggunaan SPF


Diketahui :
 SPF dari sediaan sunscreen ekstrak buah bisbul = 13
 Waktu lama SPF = 15 menit
Penyelesaian :
Waktu pengulangan penggunaan SPF = 13 x 15 menit
= 195 menit
= 3,25 jam
Jadi, penggunaan krim sunscreen ini hendaknya pemakaian diulang setiap 3,25 jam
DAFTAR PUSTAKA

1. Noviardi, Harry., Devi Ratnasari., dan Muhammad Fermadianto. 2019. Formulasi Sediaan
Krim Tabir Surya dari Ekstrak Etanol Buah Bisbul (Diospyros blancoi). Jurnal
Ilmu Kefarmasian Indonesia. Vol. 17, No. 2: 262-271.
2. Retnaningsih C, Darmono, Widianarko, B, Muis, SF. Peningkatan aktivitas antioksidan
superoksida dismutase pada tikus hiperglikemi dengan asupan tempe koro benguk
(Mucuna pruriens L.). Agritech. 2013; 33(2):154-161.
3. Kementerian Kesehatan RI. Farmakope Indonesia Edisi Lima. Jakarta: KemenKes RI.
2014.
4. Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press, London.
5. Departemen Kesehatan RI. 1993. Pedoman Pengujian dan Pengembangan Fitofarmaka,
Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinik.Jakarta :
Depkes RI pp 15-17.
6. Wilkinson, J.B & Moore, R. J. 1982. Harry’s Cosmeticology 7th Ed. New York: Chemical
Publishing Company.
7. Muryati, Sri. 2012. Kimia Kosmetika Edisi ke 2 Tahun 2012. Semarang, Universitas Negeri
Semarang