Anda di halaman 1dari 148

i

TANGGUNG JAWAB DOKTER TERHADAP KEWAJIBAN MENYIMPAN

RAHASIA KEDOKTERAN

RESPONSIBILITIES OF LIABILITY SAVING SECRET DOCTOR


OF MEDICINE

NIRWANA
P0907211714

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2013
ii

TANGGUNG JAWAB DOKTER TERHADAP KEWAJIBAN MENYIMPAN

RAHASIA KEDOKTERAN

RESPONSIBILITIES OF LIABILITY SAVING SECRET DOCTOR


OF MEDICINE

Tesis

Sebagai Salah Satu Syarat untuk mencapai Gelar Magister

Program Studi

Ilmu Hukum / Hukum Kesehatan

Disusun dan diajukan oleh

NIRWANA

Kepada

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
TAHUN 2013
iii

PERNYATAAN KEASLIAN TESIS

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Nirwana

Nomor Induk : P0907211714

Program Studi : Ilmu Hukum Kesehatan

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-

benar merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan

atau karya orang lain. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan

bahwa sebagaian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya

bersedia menerima sanksi atas perbutan tersebut.

Makassar, Juni 2013

Yang menyatakan

Nirwana
iv

PRAKATA

Alhamdulillah dengan memanjatkan doa kehadiran Allah SWT yang

telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penelitian dan penulisan

karya ilmiah yang berjudul Tanggung Jawab Dokter Tehadap Kewajiban

Menyimpan Rahasia Kedokteran ini dapat diselesaikan.

Selama penulisan karya ilmiah ini penulis telah banyak mendapat

bimbingan, bantuan, dukungan, kritikan, dan saran serta doa yang sifatnya

membangun dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini dengan

kerendahan hati, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-

tulusnya kepada Prof. Dr. Musakkir, S.H.,M.H. selaku Ketua Komisi Penasehat

pada penulisan karya ilmiah ini, atas bantuan, bimbingan dan jerih payahnya

yang telah diberikan mulai dari penyusunan proposal penelitian, pelaksanaan

penelitian dan sampai penulisan karya ilmiah ini.

Kepada Prof. Dr. Sukarno Aburaera, S.H., Prof. Dr. Aminuddin Salle,

S.H., M.H. dan Prof. Dr. Irwansyah, S.H., M.H., selaku dosen penilai, saya

ucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas atas sumbangan pemikiran dan

pengaraha, bantuan kemudahan dalam proses penyusunan karya ilmiah ini.

Kepada segenap Dosen Program Studi Ilmu Hukum, Program Pasca

Sarjana Universitas Hasanuddin, seluruh Staf Pengajar dan Staf Administrasi,


v

terima kasih yang tak terhingga atas arahan, bantuan, kemudahan dan do’a

restu yang tiada henti.

Kepada Drg. Komang Widya Arya selaku Kepala Bagian Pelayanan

Kemasyarakatan di Rumah Sakit Daya beserta teman-teman sejawat yang

telah memberi bimbingan dan petunjuk selama penulis melakukan penelitian

diu Rumah Sakit Daya.

Kepada suami tercinta, Ir. Wind Sulistyadi, anak-anakku tersayang, M.

Akram Praditya, M. Afwansyah Ramadhan, M. Khalif Fauzil, kedua orang tuaku

tercinta, serta kakak dan adikku yang selalu menjadi inspirasi dalam hidupku,

kupersembahkan terima kasih yang tulus dan ikhlas atas kesempatan,

pengertian, dorongan dan do’a restu serta segala pengorbanannya.

Terima kasih yang sama kepada Mentri Kesehatan Republik Indonesia,

kepada BPPSDM Kesehatan, Pemda Kabupaten Maros, Kepala Dinas Provinsi

Sulawesi Selatan, Kepala Dinas Kabupaten Maros, Kepala Puskesmas Mandai

Maros, yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk menempuh

pendidikan pada Program Pasca Sarjana Jurusan Hukum Kesehatandi

Universitas Hasanuddin.

Akhirnya ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak

yang memberikan dukungan atas selesainya penyusunan karya ilmiah, yang


vi

senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita

semua...........Amin.

Makassar, Juni 2013

Penulis,

Nirwana
vii

ABSTRAK

NIRWANA, Tanggung jawab dokter terhadap kewajiban menyimpan rahasia


kedokteran ( dibimbing oleh Musakkir dan A. Suriyaman Mustari Pide )
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bentuk tanggung jawab
dokter terhadap kewajiban menyimpan rahasia kedokteran (2) Untuk
mengetahui sanksi hukum bagi dokter yang tidak melaksanakan kewajiban
menyimpan rahasia kedokteran.
Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Daya di kota Makassar,
Propensi Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan normatif empiris (normatif sosiologis) dengan menggunakan
pertanyaan (kuesioner) pengamatan, dokumentasi, dan wawancara. Sampel
terdiri dari dokter (yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum dan dokter
gigi), perawat dan pasien. dengan menggunakan desain Pusposive Sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab dokter dalam
menyimpan rahasia kedokteran sangat penting mengingat Rahasia kedokteran
adalah salah satu bagian dari dokrin kesehatan yang merupakan matarantai
terhadap tindakan medik dalam pelayanan kesehatan. Rahasia kedokteran
sangat berguna sehingga dalam mengupayakan kesembuhan hal ini tidak
menjadi kendala bagi pasien untuk minta pertolongan kepada tenaga
kesehatan karena khawatir akan diceritakan rahasianya. Namun dalam
kenyataannya dalam pelaksanaannya belum terlaksana secara optimal. Hal ini
terjadi karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan tenaga kesehatan
tentang pentingnya menjaga rahasia kedokteran dengan baik. Adapun sanksi
hukum yang dapat dijatuhkan bagi dokter yang tidak menjaga rahasia
kedokteran adalah berupa sanksi pidana, sanksi etik, sanksi perdata dan sanksi
administrasi.
viii

ABSTRACT

NIRWANA, The Responsibility of a Doctor for keeping Medical Secrets


(Supervised by Musakkir and A. Suriyaman Mustari Pide)

This serearch aims to (1) find out the form of responsibility of a doctor in
keeping the medical secrets (2) investigate the legal sactions for a doctor who
does not keep the medical secrets.

The research was conducted at Daya Hospital, in Makassar city, South


Sulawesi Provice. The method used was a socio-juridical approach, that is to
examine and to study the statutory provisions in the medical field and their
implementation in the empirical domain or in social institution using
questionaire, observations, documentation, and interviews. The samples
consist, of specialist general practitioners, dentists, nurses and patients who
were chosen using the pusposive random technique.

The result revealed that the responsibility of the doctors in keeping the
medical secrets is very important since the medical secrets is one of the health
care. The medical secrets is very useful in promoting the patients recovery
because if the patient’s medical secrets is weel kept, the patient will not be
hindered to ask for help of the health staf. However, is reality, this have not
been carried out optimally due to the fact that the understanding and the
knowledge of the health service staff about the importance of keeping the
patient’s medical secret is still inadequated.. As for the legal sanctions, which
can be given to a doctor who does not keep the medical secrets of his/her
patient, are criminal sanctions, ethical sanctions, civil sanction, and
administrative sanctions.

Keywords: Medical secrets, doctor and patient.


ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................... ii

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN .................................................. iii

KATA PENGANTAR .................................................................................. iv

ABSTRAK ................................................................................... v

ABSTRACT ................................................................................... vi

DAFTAR ISI .................................................................................. vii

DAFTAR TABEL ................................................................................... viii

BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................ 1

A. Latar Belakang ........................................................................ 1


B. Rumusan Masalah .................................................................... 8
C. Tujuan penelitian ....................................................................... 8
D. Kegunaan penelitian .................................................................. 8
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 10

A. Etika profesi dokter .................................................................. 10


1. Tanggung jawab etik seorang dokter .................................. 14
2. Dokter sebagai pengemban profesi .................................... 36
3. Rahasia kedokteran ............................................................. 42
B. Tanggung jawab dokter dalam hukum ..................................... 57
1. Tanggung jawab hukum pidana .......................................... 60
2. Tanggung jawab hukum perdata ......................................... 62
3. Tanggung jawab hukum administrasi .................................. 64
C. Sanksi hukum ........................................................................... 65
1. Sanksi hukum Pidana .......................................................... 67
x

2. Sanksi hukum Perdata ........................................................ 70


3. Sanksi administrasi ............................................................. 70
4. Sanksi Etik .......................................................................... 71
D. Kerangka pikir .......................................................................... 76
E. Bagan kerangka pikir .............................................................. 78
F. Definisi operasional .................................................................. 79

BAB III. METODE PENELITIAN ................................................................ 80

1. Lokasi penelitian ...................................................................... 80


2. Tipe penelitian .......................................................................... 80
3. populasi dan Sampel ................................................................ 80
4. Jenis dan Sumber Data ............................................................ 81
5. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 83
6. Analisis Data ............................................................................ 83
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN....................................................... 84

1. Bentuk Tanggung Jawab Dokter dalam menyimpan rahasia


kedokteran...................................................................................... 84
2. Sanksi hukum bagi yang tidak melaksanakan kewajiban
Menyimpan rahasia kedokteran ..................................................... 104
BAB V. PENUTUP.................................................................................... 130

1. Kesimpulan ............................................................................... 130


2. Saran ...................................................................................... 133
.
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 134

BAHAN DARI INTERNET ......................................................................... 136


xi

DAFTAR TABEL

Nomor Hal.
1. Pendapat responden menyangkut pelaksanaan
kewajiban dokter pada pasien terhadap wajib
simpan rahasia kedokteran .............................................. 86

2. Pendapat responden tentang pelaksanaan kewajiban


Dokter terhadap teman sejawat ........................................ 92

3. Pendapat responden tentang tanggung jawab dokter


dalam bidang administrasi ................................................ 98

4. Pendapat responden tentang dokter senantiasa


bekerja menurut Kode Etik dan tidak melakukan
pelanggaran etik ................................................................ 105

5. Pendapat responden tentang pengetahuan mereka


Menyangkut sanksi Pidana ................................................. 112

6. Pendapat responden tentang pengetahuan nmereka


Menyangkut sanksi Perdata ................................................ 119

7. Pendapat responden tentang pengetahuan mereka


Menyangkut sanksi Administrasi ......................................... 125
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,

kenyamanan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur

kesejahteraan umum sebagaimana yang diamanatkan di dalam pembukaan

Undang-undang Dasar Rebublik Indonesia Tahun 1945.

Sejak permulaan sejarah kehidupan umat manusia telah diketahui

adanya hubungan kepercayaan diantara sesamanya. Dunia kedokteran juga

mengenal hubungan kepercayaan antara dokter dengan pasien yang

diwujudkan dalarn bentuk transaksi terapeutik. Pasien dalarn transaksi

terapeutik ini mempunyai hak atas rahasia kedokteran, yaitu segala

sesuatu yang oleh pasien secara sadar atau tidak sadar disarnpaikan

kepada dokter yang merawat dirinya.

Dokter merupakan salah satu profesi yang wajib merahasiakan

keterangan pasiennya atau segala hal ikhwal yang berkaitan dengan

pasiennya, dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah rahasia kedokteran.

Dokter harus menjaga kerahasiaan pasiennya yang berkaitan dengan segala

penyakit pasien. (Syahrul Machmud, 2008 )


2

Kode etik kedokteran (Kodeki) berasal dari sumpah Hipokrates yang

dibuat oleh sekelompok dokter dari pulau COS sekitar 2500 tahun lebih yang

lalu. Hipokrates merumuskan sumpah yang harus diucapkan oleh murid-

muridnya tentang rahasia pekerjaan dokter berbunyi : “Apapun yang saya

dengar dan saya lihat, tentang kehidupan seseorang yang tidak patut

disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan, karena saya harus

merahasiakannya”. Situasi dan alam pikiran, sosial budaya, nilai norma

masyarakat, kini sudah banyak berubah. Dengan perkembangan Ilmu

pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kedokteran selanjutnya, terdapat

pengecualian untuk membuka rahasia jabatan dan pekerjaan dokter, demi

memelihara kepentingan umum dan mencegah hal-hal yang dapat merugikan

orang lain.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 48 Undang Undang Nomor 29 Tahun

2004 tentang Praktik Kedokteran ditetapkan sebagai berikut :

(1) Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik


kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
(2) Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan
kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak
hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.
Dan juga pada Pasal 51 UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktek

Kedokteran mengatur: dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik

kedokteran mempunyai kewajiban :

a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar


prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien;
3

b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan;
c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan
juga setelah pasien itu meninggal dunia;
d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila Ia
yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan
e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran
atau kedokteran gigi.

Salah satu ayat lafal Sumpah Dokter Indonesia yang diatur dalam

Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1960, yang mengatur :

“Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui kerena


pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter”.

Juga dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia yang disahkan dengan

Surat Keputrusan Mentri Kesehatan RI No 434/MEN.KES/SK/X/1989 tentang

berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia mempertegas jaminan tetap

terjaganya rahasia pasien tersebut. Pasal tersebut berbunyi,

“Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang


diketahuinya tentang pasien, karena kepercayaan yang diberikan
kepadanya, bahkan juga setelah pasien meninggal dunia”.

Selain itu UU RI No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 38

ayat (1) menyatakan : “Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia

kedokteran”.

Setiap orang harus dapat meminta pertolongan kedokteran dengan

perasaan aman dan bebas. Ia harus dapat menceritakan dengan hati terbuka

segala keluhan yang mengganggunya, baik yang bersifat jasmaniah maupun

rohaniah, dengan keyakinan bahwa hak itu berguna untuk menyembuhkan

dirinya. Ia tidak boleh merasa khawatir bahwa segala sesuatu mengenai


4

keadaannya akan disampaikan kepada orang lain, baik oleh dokter mauipun

oleh petugas kedokteran yang bekerja sama dengan dokter tersebut. Dokter

sebagai pemangku suatu jabatan ia wajib merahasiakan apa yang diketahuinya

karena jabatannya, menurut Pasal 322 Kitap Undang-Undang Hukum Pidana

(KUHP) yang mengatur :

“Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang ia wajib


menyimpan oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang
sekarang maupun yang dahulu, dihukum dengan penjara selama-
lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-banyaknya enam ratus
ribu rupiah”. “Jika kejahatannya ini dilakukan terhadap orang yang
tertentu maka ini hanya dituntut atas pengaduan orang itu”.

Untuk memperkokoh kedudukan rahasia jabatan dan pekerjaan dokter,

telah pula dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Tahun 1966 tentang

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, dimana dinyatakan bahwa mentri

kesehatan dapat melakukan tindakan administrasi berdasarkan Pasal 188

Undang-undang Tentang Kesehatan, jika tidak dapat dipidanakan menurut

KUHP.

Kewajiban menjaga rahasia melekat pada syarat yang dibebankan

kepada profesi tersebut. Setiap orang yang mempercayakan penyembuhannya

kepada seorang dokter, harus dapat mempercayai bahwa apa yang

diungkapkan oleh pasien itu sendiri atau yang kemudian diketahui dari hasil

pemeriksaan yang dianggap dipercayakan kepada dokter harus dianggap

sebagai rahasia.
5

Orang biasanya tidak memberitahukan rahasia kepada orang lain tanpa

ada alasan, karena itu dapat dikatakan ia terpaksa berbuat demikian. Hal ini

janganlah dianggap remeh, tidak selalu hal-hal yang diberitahukan kepada

seorang dokter merupakan rahasia yang tidak boleh diberitahukan kepada

orang lain. Seorang yang sakit influenza atau tulangnya patah karena jatuh,

jangankan dokter, tetangga dan teman-temannya pun tahu ia menderita

penyakit tersebut. Tetapi seseorang menderita penyakit sipilis atau gonorhea

(kencing nanah) akan merahasiakan itu terutama terhadap istri atau suaminya,

yang tidak mengetahui bahwa ia mempunyai hubungan dengan wanita atau

pria lain. Ia terpaksa memberitahukan penyakitnya kepada dokter karena tanpa

bantuan dokter ia tidak akan sembuh.

Jika tidak dipenuhinya syarat tersebut, maka hal ini menjadi kendala

bagi pasien untuk minta pertolongan untuk meminta pertolongan dokter karena

khawatir akan diceritakan lagi rahasianya. Dengan demikian maka hak ungkap

dari profesi kedokteran baru bisa tercapai tujuannya.

Seorang pasien wanita muda 23 tahun datang kepada dokter pria 30

tahun, dengan keluhan nyeri saat berkemih. Dokter mendiagnosis wanita tadi

dengan infeksi saluran kemih. Karena risau dengan yang dia alami, sang

pasien tadi menanyakan apakah nyeri saat berkemih itu ada hubungannya

dengan hubungan seks yang beberapa hari dia lakukan dengan pacarnya.

Sebelum mengutarakan kerisauannya, sang pasien wanita ini butuh

meyakinkan pada dokternya bahwa sang dokter bisa menjaga rahasia karena
6

profesinya sebagai dokter dengan mengatakan, “saya tahu dokter dengan

profesi Anda bisa menjaga rahasia saya....” (Ahdiana Yuni Lestari, 2003. Jurnal

Hukum Respublca No. 4 Vd 2 )

Hal tersebut dimaksudkan untuk melindungi penyakit pasien

sehingga tetap terpelihara kepercayaan pasien kepada dokternya. Kewajiban

dokter untuk merahasiakan hal-hal yang diketahui adalah berdasarkan pada

norrna kesusilaan dan norrna hukurn. Hak atas rahasia kedokteran ini

bertujuan untuk melindungi hubungan baik antara dokter dengan pasiennya,

sebab rahasia merupakan hak dasar manusia.

Sebagai ilustrasi (ABCNews,Jumat 30/9/2011). Foto: thinkstock)

Jakarta, Enam pasien wanita telah mengajukan gugatan terhadap dokter bedah

plastik yang diduga telah memposting foto bugil pasiennya sebelum dan setelah

operasi dengan memberikan nama asli pada gambar tanpa persetujuan

pasien."Foto-foto pasien sebelum dan sesudah operasi akan muncul di Google

jika nama-nama wanita itu dicari (dimasukkan sebagai kata kunci) atau jika

nama dokter yang dicari," jelas Neil Bruntrager, pengacara yang mewaliki

semua pasien wanita. Menurut Bruntrager, beberapa wanita itu bekerja di posisi

publik seperti pengacara, guru dan akuntan (Certified Public Accountant atau

CPA), yang nama-namanya akan sering dicari di internet. "Mereka terkejut.

Semua mengatakan 'saya malu, saya dipermalukan'," jelas Bruntrager. Wanita

pertama yang datang ke Bruntrager menemukan fotonya saat melakukan

perjalanan bisnis. Dia bekerja di sebuah perusahaan nasional besar dan


7

mengatakan pada Bruntrager bahwa orang-orang di kantor melihatnya dengan

bertingkah aneh.

Wanita itu sangat terkejut ketika menemukan fotonya ada di internet

saat melakukan operasi pembesaran payudara. Yang paling memalukan, foto-

foto yang disebarkan sang dokter bedah plastik lengkap dengan nama

pasiennya. Wanita tersebut mengatakan telah setuju bahwa fotonya boleh

dipergunakan untuk website dokter, tetapi dengan jelas ia mengatakan bahwa

namanya tidak boleh dimasukkan ke dalam foto."Semua tindakan terdakwa, Dr

Koo, adalah ceroboh dan sembrono dan dilakukan dengan mengabaikan

hukum lengkap dan hak-hak penggugat," tulis Bruntrager dalam gugatan.

Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa dalam

melaksanakan tugas profesinya dokter tersebut seharusnya berkewajiban untuk

menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien bukan

membeberkan tanpa persetujuan dari pasien kepada khalayak karena hal itu

merupakan rahasia pasien yang seharusnya dijaga dengan baik.

Rahasia profesi bukan merupakan hak dari si pemegang rahasia

(dokter, rumah sakit) juga tidak untuk kepentingan ilmu kedokteran, fungsi

rahasia medis hanya untuk mengadakan kepercayaan antara si pencari dan si

pemberi pertolongan, dan dengan demikian bermamfaat untuk kepentingan

umum mengenai kesehatan rakyat, baik secara jasmani maupun rohani.

Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran sering kali kurang mendapat

perhatian dari dokter, sehingga akibat yang ditimbulkan adalah seorang pasien
8

biasa kehilangan pekerjaannya, tidak jadi menerima santunan asuransi, tidak

jadi menikah, terjadi perceraian atau terjadi ketidakharmonisan dalam

kehidupan pribadinya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bentuk tanggung jawab dokter terhadap kewajiban menyimpan

rahasia kedokteran?

2. Bagaimana sanksi hukum terhadap dokter jika tidak melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran?

C. Tujuan penelitian

1. Untuk mengetahui bentuk tanggung jawab dokter terhadap kewajiban

menyimpan rahasia kedokteran.

2. Untuk mengetahui sanksi hukum bagi dokter yang tidak melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.

D. Kegunaan penelitian

a. Kegunaan praktis

Diharapkan dengan penulisan ini dapat memberikan masukan bagi

dokter sebagai seorang professional untuk memperhatikan perlunya

menyimpan rahasia pasiennya sebagai bagian dari etika profesi yang perlu

dijaga.

b. Kegunaan teoritis
9

Dengan penulisan ini, diharapkan dapat berguna bagi penerapan

keilmuan bagi ilmu kedokteran. Sehingga kita tahu betapa pentingnya

memegang sumpah menyimpan rahasia kedokteran.


10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etika Profesi Dokter

Menurut K. Bertens ( dalam E.Y. Kanter, 2001:2) kata etika berasal dari

bahasa Yunani ethos (bentuk tunggal), yang berarti tempat tinggal, padang

rumput, kandang, kebiasaan, adat; watak, perasaan, sikap, cara berpikir.

Bentuk jamaknya ta etha yang berarti adat istiadat. Arti kata yang terakhir inilah

yang menjadi latar belakang terbentuknya istilah etika. Oleh filsuf Yunani

Aristoteles (384-322 s.M), etika digunakan untuk menunjukkan filsafat moral

yang menjelaskan fakta moral tentang nilai dan norma moral, perintah, tindakan

kebajikan, dan suara hati.

Jadi secara etimologis etika berarti ilmu tentang apa yang biasa

dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan hidup

yang baik dan yang buruk. Etika berkaitan dengan nilai dan norma moral bagi

penilaian (baik atau buruk) terhadap suatu perbuatan manusia sebagai

manusia.

Etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis manakala

berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan. Manusia

memerlukan orientasi kritis untuk dapat mengambil sikap yang wajar dan

bertanggung jawab dalam suasana pluralitas moral yang merupakan ciri khas

zaman ini agar tidak bingung atau hanya ikiut-ikutan saja.


11

Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan

atau tidak boleh dilakukan. Etika tidak bergantung pada apakah ada atau tidak

ada orang lain yang melihat ketika perbuatan itu dilakukan, karena etika bersifat

absolut dan universal.

Menurut Soekidjo (2010:34) Secara garis besar etika dikelompokkan

menjadi dua, yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum merupakan

aturan bertindak secara umum dalam kelompok masyarakat tertentu. Meskipun

setiap kelompok masyarakat, bangsa atau etnis mempunyai aturan bertindak

masing-masing, namun pada prinsipnya etika umum ini bersifat universal. Sifat

universalisme etika, termasuk etika umum, karena didasarkan pada hati nurani

manusia.Hati nurani manusia pada prinsipnya sama pada setiap bangsa, atau

etnis apapun. Bahwa mencuri, berbohong, membunuh dan sebagainya itu tidak

bermoral atau tidak etis, karena memang hal-hal tersebut bertentangan dengan

hati nurani setiap manusia di muka bumi ini.

Sedangkan etika khusus, yang selanjutnya berkembang menjadi etika

profesi adalah aturan bertindak pada kelompok-kelompok masyarakat yang

bersifat khusus, yakni kelompok profesi. Tujuan dikembangkannya etika profesi

ini adalah untuk mengatur hubungan timbal balik antara kedua belah pihak,

yakni antara anggota kelompok atau anggota masyarakat yang melayani dan

yang dilayani. Dalam bidang kesehatan, dengan sendirinya etika profesi ini

berkembang dari hubungan antara para petugas kesehatan dengan masyarakat

yang dilayani.
12

Menurut Soeparto (2008:14) Kode etik profesi dalam hal ini terdiri atas

aturan kelakuan dan sikap antarpara anggota profesi sendiri. Etik berasal dari

kata Yunani ethos yang berarti “yang baik,yang layak”. Ini merupakan norma-

norma nilai-nilai atau pola tingkah laku kelompok profesi tertentu dalam

memberikan pelayanan jasa kepada masyarakat (profesi berasal dari kata

profesio yang berarti pengakuan).

Menurut Ari Yunanto dan Helmi (2010:8) Etika dalam

perkembangannya, mendapat berbagai arti, (a) bagi ahli filsafat, etika adalah

bagian dari ilmu filsafat yang mengkaji tentang moral dan moralitas, (b) bagi

profesional dan praktisi (termasuk dalam hal ini adalah dokter, advokat,

wartawan, notaris, dll), etika adalah pedoman dan aturan yang disepakati

bersama tentang bagaimana mereka berperilaku dalam menjalankan profesi

masing-masing dengan baik dan benar.

Menurut R. Hariadi, (dalam Ari Yunanto dan Helmi, 2010:9) Asas etik

merupakan kepercayaan atau aturan umum yang mendasar yang

dikembangkan dalam sistem etik. Dari dasar etik tersebut disusun kode etik

profesi, termasuk dalam hal ini profesi kedokteran, yang meskipun terdapat

perbedaan aliran dan pandangan hidup serta adanya perubahan tata nilai

kehidupan masyarakat secara global, tetapi dasar etik profesi kedokteran yang

diturunkan sejak zaman Hippokrates: “ Kesehatan penderita senantiasa akan

saya utamakan” (The health of my patient will be my first consideration) tetap


13

merupakan asas yang tidak pernah berubah, dan merupakan rangkaian kata

yang mempersatukan para dokter di dunia.

Dasar tesebut dapat dijabarkan menjadi 6 asas etik yang bersifat

universal, yang juga tidak akan berubah dalam etik profesi kedokteran, yaitu :

1. Asas menghormati otonomi pasien (principle of respect to the patient’s

autonomy)

Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui apa yang akan dilakukan

oleh dokter serta memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri sehingga

kepadanya perlu diberikan informasi yang cukup.

2. Asas kejujuran (principle of veracity)

Dokter hendaknya mengatakan yang sebenarnya secara jujur akan apa yang

terjadi, apa yang akan dilakukan, serta akibat/resiko yang akan terjadi .

3. Asas tidak merugikan (principle of non-maleficence)

Dokter berpedoman tidak melakukan tindakan yang tidak perlu , dan

mengutamaka tindakan yang tidak merugikan pasien, serta mengupayakan

resiko fisik, resiko psikologis, maupun resiko sosial akibat tindakan tersebut

seminimal mungkin.

4. Asas manfaat (principle of beneficence)

Semua tindakan dokter yang dilakukan terhadap pasien harus bermanfaat

bagi pasien guna mengurangi penderitaan atau memperpanjang hidupnya.

5. Asas kerahasiaan (principle of confidentiality)


14

Dokter harus menghormati kerahasiaan pasien, meskipun pasien tersebut

sudah meninggal dunia.

6. Asas keadilan (principle of justice)

Dokter harus berlaku adil, tidak memandang kedudukan atau kepangkatan,

tidak memandang kekayaan, dan tidak berat sebelah dalam merawat pasien.

Dari asas tersebut kemudian disusun peraturan kode etik kedokteran

yang menjadi landasan bagi setiap dokter untuk mengambil keputusan etik

dalam melakuakan tugas profesinya sebagai seorang dokter.

1. Tanggung Jawab Etik Seorang Dokter

Menurut Endang K. Astuti (2009:253) peraturan yang mengatur

tanggung jawab etik dari seorang dokter adalah Kode Etik Kedokteran

Indonesia dan lafal sumpah dokter. Kode etik harus memliliki sifat-sifat sebagai

berikut :

1. Kode etik harus nasional, tetapi tidak kering dan emosi

2. Kode etik harus konsisten, tetapi tidak kaku

3. Kode etik harus bersifat universal.

Kode etik kedokteran internasional yang sekarang dipakai sebagai

bahan rujukan utama oleh setiap Negara dalam menyusun kode etik

kedokteran nasionalnva dirumuskan secara baku pada tahun 1949 dalam

muktamar Ikatan Dokter Sedunia (World Med/kal Association) ke-3 di London,

Inggris. Kode etik kedokteran internasional tersebut sudah beberapa kali

mengalami penyempurnaan, terakhir disempurnakan pada tahun 1968 melalui


15

mu ktamar Ikatan Dokter Sedunia ke-22 di Sidney, Australia. ( Amir Ilyas,

2013 : 37)

Adapun yang menjadi landasan dari Kode Etik Kedokteran Indonesia

(Kodeki) adalah : ( Syahrul Machmud, 2008 : 138)

1. Sumpah Hipocrates (460-377 SM)

2. Deklarasi Genewa (1948)

3. International Code of Medical Ethics (1949).

4. Lafal Sumpah Dokter Indonesia (1960)

5. Pernyataan-pernyataan (deklarasi) Ikatan Dokter Sedunia (world Medical

Association, WMA), Yaitu antara lain :

a. Deklarasi Genewa (1948) tentang lafal sumpah dokter.

b. Deklarasi Helsinki (1964) tentang riset klinik.

c. Deklarasi Sidney (1968) tentang saat kematian.

d. Deklarasi Oslo (1970) tentang pengguguran kandungan atas indikasi

medik

e. Deklarasi Tokyo (1975) tentang penyiksaan.

Kode etik kedokteran Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1969

dalam Musyawarah Kerja Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta.

Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik Kedokteran Internasional

yang telah disempurnakan pada tahun 1968 melalui muktamar Ikatan Dokter

Sedunia ke-22. Seperti halnya dengan kode etik kedokteran internasional yang

mengalami berbagai penyempurnaan, kode etik kedokteran Indonesia pun telah


16

mengalami beberapa kali perubahan, yaitu melalui Musyawarah Kerja Nasional

Etik Kedokteran ke-2 yang dilaksanakan di Jakarta, untuk kemudian pada tahun

1983 dinyatakan berlaku bagi semua dokter Indonesia melalui SK No.

434/MENKES/SK/X/1983 tanggal 28 Oktober 1983. Saat ini Kode Etik

Kedokteran Indonesia dituangkan ke dalam SK Menkes No.

434/MenKes/SK/X/1983 dan SK PB IDI No. 221/PB/A/4/042002.

Kode etik Kedokteran Indonesia ditetapkan berdasarkan Keputusan

Menteri Kesehatan No. 434 perilaku /Men.Kes/SK/X/1983 tentang KODEKI.

Kode etik merupakan pedoman yang berisi garis-garis besar yang berisi

pemandu sikap dan perilaku. KODEKI mengatur hubungan antar manusia yang

mencakup kewajiban umum seorang dokter, hubungan dokter terhadap

pasiennya, kewajiban dokter terhadap teman sejawatnya, dan kewajiban dokter

terhadap dirinya sendiri. ( Amir Ilyas, 2013 : 38)

Menurut Anny Isfandyarie ( 2006 : 31) Tanggung jawab etik seorang

dokter diatur dalam KODEKI. Agar dokter dapat berperilaku sesuai pedoman

yang tertuang di dalam KODEKI tersebut, maka dokter harus memahami pasal-

pasal KODEKI sehingga bisa diamalkan dengan baik. Adapun pasal-pasal yang

termuat dalam KODEKI tersebut adalah sbb :

a. Kewajiban Umum

Pasal 1.Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan


Sumpah dokter.
Lafal sumpah dokter Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah

No. 26 Tahun 1960 yang disusul dengan SK Menteri Kesehatan Rl Nomor.


17

434/Menkes/SK/X/'1983 yang didasarkan pada sumpah Hippokrates dan

Deklarasi Jenewa dari Ikatan Dokter Sedunia (World Medikal Association, WMA

1948). Hippokrates (460-337 S.M.) adalah seorang dokter bangsa yunani yang

berjasa mengangkat ilmu kedokteran sebagai ilmu yang berdiri sendiri, terlepas

dari pengaruh Syamanisme, yaitu anggapan bahwa penyakit berasal dari roh

jahat, kutukan dewa, pelanggaran tabu, dan pengaruh mistik lainnya, menjadi

pengetahuan yang berdasarkan pada ilmiah dengan Body Of Knowledge.

Karena itu ia dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran. Kesadarannya yang

tinggi akan moral profesi kedokteran dituangkannya dalam bentuk sumpah

Hippokrates, yang harus ditaati dan diamalkan oleh muridnya. Berikut ini adalah

Sumpah Hippokrates jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berbunyi

sebagai berikut:

"Saya bersumpah demi Apollo Dewa Penyembuh, dan Aesculapius, dan

Hygeia, dan Panacea, dan semua dewa-dewa sebagai saksi, bahwa sesuai

dengan kemampuan dan pikiran saya, saya akan mematuhi janji-janji berikut:

1. Saya akan memperlakukan guru yang telah mengajarkan ilmu ini dengan

penuh kasih sayang sebagaimana terhadap orang tua saya sendiri, jika perlu

saya akan bagikan harta saya untuk dinikmati bersamanya;

2. Saya akan memperlakukan anak-anaknya sebagai saudara kandung saya

dan saya akan mengajarkan ilmu yang telah saya peroleh dari ayahnya,

kalau memang mereka mau mempelajarinya tanpa imbalan apapun;


18

3. Saya akan meneruskan ilmu pengetahuan ini kepada anak-anak saya

sendiri, dan kepada anak-anak guru sayadan kepada mereka yang telah

mengikatkan diri dengan jani dan sumpah untuk mengabdi kepada ilmu

pengobatan, dan tidak kepada hal-hal lainnya;

4. Saya akan mengikuti cara pengobatan yang menurut pengetahuan dan

kemampuan saya akan membawa kebaikan bagi pasien, dari tidak akan

merugikan siapapun;

5. Saya tidak akan memberikan obat yang mematikan kepada siapapun

meskipun diminta, atau menganjurkan kepada mereka untuk tujuan itu. Atas

dasar yang sama, saya tidak akan memberikan obat untuk menggugurkan

kandungan;

6. Saya ingin menempuh hidup yang saya baktikan kepada ilmu saya ini

dengan tetap suci dan bersih;

7. Saya tidak akan melakukan pembedahan terhadap seseorang, walaupun ia

menderta penyakit batu, tetapi akan menyerahkannya kepada mereka yang

berpengalaman dalam pekerjaan ini;

8. Rumah siapapun yang saya masuki, kedatangan saya itu saya tujukan untuk

kesembuhan yang sakit dan tanpa niat-niat buruk untuk mencelakakan, dan

lebih jauh lagi tanpa niat berbuat cabul terhadap wanita maupun pria, baik

merdeka maupun hamba sahaya;


19

9. Apapun yang saya dengar atau lihat tentang kehidupan seseorang yang

tidak patut untuk disebarluaskan, tidak akan saya ungkapkan karena saya

harus merahasiakannya;

10. Selama saya tetap mematuhi sumpah saya ini, izinkanlah saya menikmati

hidup dalam mempraktikkan ilmu saya ini, dihormati oleh semua orang,

disepanjang waktu. Akan tetapi, jika sampai saya menghianati sumpah ini,

balikkanlah nasib saya.

Selain Sumpah Hippokrates, dalam dunia praktik kedokteran juga

Lafal Sumpah Dokter sesuai dengan Deklarasi Jenewa (1948) yang disetujul

oleh General Assembly World Medikal Assocation (WMA) dan kimudian di

amender di Sidney (1968) dalam Bahasa Indonesia, berbunyi sebagai berikut:

“pada saat saya diterima sebagai anggota profesi kedokteran, saya

bersumpah bahwa:

1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan

perikemanusiaan;

2. Saya akan menghormati dan berterimakasih kepada guru-guru saya

sebagaimana layaknya;

3. Saya akan menjalankan tugas saya sesuai dengan hati nuranl dengan

cara yang terhormat;

4. Kesehatan pasien senantiasa akan saya utamakan;

5. Saya akan merahasiakan segala rahasia yang saya ketahui "

bahkan setelah pasien meninggal dunia;


20

6. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisl luhur

jabatan dokter;

7. Teman sejawat saya, akan saya perlakukan sebagai saudara saya;

8. Dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien, saya tidak -

mengizinkan untuk terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan,

kebangsaan, kesukuan, politik, kepartaian, atau kedudukan social;

9. Saya akan menghormati setiap hidup insan mulai dari saat

pembuahan;

10. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan

kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum

perikemanusiaan;

11. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan bebas, dengan

mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Sementara lafal Sumpah Dokter Indonesia, dahulunya berdasarkan

Reglement op de Dienst de Volgezondheid Staatsblad 1882 No. 97 Pasal 36

yakni sebagai berikut:

"Saya bersumpah/berjanji, bahwa saya akan melakukan pekerjaan llmu


Kedokteran, llmu Bedah dan llmu Kebidanan dengan pengetahuan dan
tenaga saya yang sebaik-baiknya, menurut peraturan yang telah
ditetapkan undang-undang dan saya tidak akan memberitahukan
kepada siapapun juga segala sesuatu yang dipercayakan kepada saya
dan segala sesuatu yang saya ketahui ketika melakukan pekerjaan saya
sebagai dokter, kecuali jika di depan hakim atau atas Undang-Undang
saya diharuskan memberikan keterangan yang tidak bertentangan
dengan asas-asas rahasia jabatan".
21

Sumpah dokter di Indonesia diucapkan pada suatu acara di Fakultas

Kedokteran setelah sarjana Kedokteran (S.Ked) lulus ujian profesinya. Acara ini

dihardiri oleh pimpinan Fakultas, Senat Fakultas, Pemuka Agama, para dokter

baru beserta keluarganya. Sebelum para dokter baru mengucapkan butir-butir

lafal sumpah tersebut, bagi yang boragama Islam mengucapkan "Wallahi,

Wabillahi, Wathallahi, Demi Allah saya bersumpah", bagi yang beragama

Kristen Protestan: "Saya berjanji", bagi yang beragama Budha: "Om Atah

Parama Wisesa Om Shanti Shtntl tnli Om, bagi yang beragama Hindu: "Mai

Kasm Khanaan". Setelah itu, para dokter mengucapkan lafal sumpahnya,

mereka menandatangani ill iCSra sumpah dokter beserta saksi-saksi.

Lafal sumpah dokter tertuang dalam PP no 26/1960 telah mengalami

beberapa kali perubahan dan penyempurnaan berdasarkan Musyawarah Kerja

Nasional Etik Kedokteran ke 2 yang diselenggarakan Departemen Kesehatan

RI pada tanggal 14-16 Desember 1981di Jakarta. Adapun lafal sumpah dokter

berbunyi sebagai berikut :

Demi Allah saya bersumah/berjanji bahwa :


1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan
2. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur
jabatan kedokteran.
3. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan
bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
4. Saya akan menjalankan tugas saya dengan mengutamakan kepentingan
masyarakat.
5. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena
pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai dokter.
6. Saya akan tidak mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk
sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusian, sekalipun diancam.
7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita
22

8. Saya akan beriktiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak


terpengaruh oleh pentimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan
kelamin, politik kepartaian, atau kedudukan sosial dalam menunaikan
kewqajiban terhadap penderita.
9. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.
10. Saya akan memberikan kepada guru-guru dan bekas guru-guru saya
penghormatan dan pernyataan terimakasih yang selayaknya.
11. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya akan
diperlakukan.
12. Saya akan menaati dan mengamalkan kode etik etik kedokteran
Indonesia
13. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan
mempertaruhkan kehormatan diri saya

Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya


sesuai dengan standar profesi yang tertinggi.

Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter terhadap pasiennya,

harus dapat dipertanggungjawabkan baik kepada sesama manusia maupun

kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan kemampuan kepada

dirinya untuk memberikan pengobatan kepada pasien. Melakukan profesi

dengan standar tertinggi, artinya seorang dokter hendaknya memberikan

pelayanan sesuai dengan kemajuan Iptek kedokteran mutakhir, dengan

berlandaskan kepada etik kedokteran, hukum dan agama. Upaya

penyembuhan yang dilakukan oleh dokter hendaknya merupakan upaya yang

sesuai standar dan dilakukan dengan bersungguh-sungguh oleh dokter.

Pasal 3. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya seorang dokter tidak


boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya
kebebasan dan kemandirian profesi.

Pengertian pasal 3 ini mengandung makna bahwa kedokteran sebagai

profesi luhur harus selalu dijaga keluhurannya dengan perilaku dokter yang
23

senantiasa berorientasi kepada pengabdian, mengutamakan kepada

kebebasan dan kemandirian profesi, tidak berorientasi kepada jasa semata.

Walaupun didalam menjalankan pekerjaannya dokter boleh menarik imbalan,

tetapi profesi dokter harus mengutamakan panggilan kemanusiaan dengan

mengutamakan keselamatan pasien, dengan mengesampingkan keuntungan

pribadi seandainya pasien tidak mampu memberikan imbalan yang ditentukan

oleh ikatan profesi. Orientasi yang lebih mengarah kepada keuntungan pribadi

akan mengurangi kebebasan dan kemandirian dokter dalam menjalankan

profesinya, sehingga dapat menimbulkan perbuatan yang tidak sepatutnya

dilakukan oleh seorang pengembang profesi. Beberapa contoh perbuatan yang

tidak terpuji tersebut antara lain:

Tarif dokter yang tidak wajar dan tidak melihat kemampuan pasien;

Memberi resep kepada pasien berdasar sponsor dari pabrik obat;

Melakukan tindakan medik yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasien

(sejak diundangkannya UU Praktik Kedokteran, hal ini termasuk tindak

pidana);

Menganjurkan pasien berobat berulang (kontrol ke dokter) tanpa indikasi

yang jelas;

Merujuk pasien karena mendapat imbalan dari dokter ahli tempat ia

merujuk;

Dan sebagainya.
24

Secara atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan

keterampilan kedokteran dalam segala bentuk tanpa kebebasan profesi

merupakan perbuatan tercela yang melanggar kode etik kedokteran. Dalam

melakukan praktik kedokteran, dasar pertimbangan penerapan pengetahuan

dan keterampilan adalah standar profesi. Pemeriksaan laboratorium tanpa

indikasi yang jelas, memasukkan kerumah sakit karena adanya imbalan dari

rumah sakit, merupakan bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang tidak

mengacu kepada kebebasan profesi. Hal-hal yang perlu diperhatikan di dalam

pengamalan Pasal 3 KODEKI ini antara lain:

Menerima imbalan hendaknya secara layak sesuai dengan jasanya,

kecuali dengan keikhlasan, sepengetahuan dan atau kehendak pasien.

Salah satu hak dokter didalam pelayanan kesehatan adalah menerima

imbalan jasa dari pasien yang diobatinya. Namun karena hakikat pertolongan

dokter adalah panggilan kemanusiaan, imbalan jasa yang diminta kepada

pasien hendaknya selalu dilandasi dengan beberapa pertimbangan sebagai

berikut :

Dokter harus menilai kemampuan pasien yang dirawatnya dengan

melihat latar belakang sosial ekonomi pasien, rumah sakit dan kelas

tempat pasien dirawat, biaya yang dikeluarkan pasien atas tanggungan

pribadi atau perusahaan dan sebagainya.


25

Pelayanan kedokteran yang bersifat spesialistik dengan menggunakan

alat canggih, panggilan kerumah pasien, pemeriksaan dan tindakan

terhadap pasien pada malam hari atau hari libur, bisa saja menjadi dasar

menarik jasa lebih tinggi. Walaupun demikian kemampuan pasien harus

senantiasa dipertimbangkan dalam menentukan jasa yang lebih dari

biasanya tersebut. Terutama dalam hal pertolongan pertama pada

kecelakaan, dokter sebaiknya memberikan keringanan terhadap beban

biaya pasien.

Pasal 4. Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat
memuji diri

Seorang dokter yang mempromosikan dirinya sebagai dokter yang

lebih kompeten dari teman sejawatnya yang lain, merupakan salah satu bentuk

perbuatan yang bersifat memuji diri yang tidak patut dilakukannya. Dokter

hendaknya sadar bahwa pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya

adalah sebagai karunia dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak pada tempatnya

kalau karunia ini dilakukan dengan menyombongkan dirinya.

Pasal 5 Tiap perbuatan atau nasihat yang mungkin melemahkan daya tahan
psikis maupun fisik, hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan
pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien.

Dalam memberikan nasihat kepada pasien, dokter harus melakukan

pendekatan secara holistik. Dokter harus mampu memberikan keyakinan

kepada pasien bahwa dirinya akan sembuh, dengan mengalihkan kecemasan

pasien kearah optimisme, walaupun penyakit pasien menurut pengetahuan


26

kedokteran tidak ada harapan untuk disembuhkan . dokter harus selalu ingat

bahwa yang menyembuhkan, bukan dokter. Dokter hanya melakukan upaya

penyembuhan. Adalah tidak pada tempatnya tatkala dokter menghadapi pasien

kanker stadium lanjut, lalu dokter menyatakan kepada pasien bahwa umur

pasien tinggal beberapa bulan lagi.

Hal demikian bertentangan dengan ajaran agama, hanya Tuhanlah

yang menentukan umur manusia dan saat ajalnya. Sebaiknya dokter tidak

mendahului takdir dengan pernyataan tentang umur pasien, dan pada pasien

semacam ini dokter diharapkan dapat menumbuhkan semangat pasien agar

selalu mohon kepada Tuhan agar diberikan kekuatan dalam menghadapi

penyakitnya dan diberikan kesembuhan.

Pasal 6. Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan


menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang
belu diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan
keresahan masyarakat.

Dalam memberikan pengobatan kepada pasien, dokter harus berhati-

hati bila akan menggunakan obat-obatan yang baru ditemukan. Apakah obat-

obat tersebut tidak memberikan efek samping kepada pasien? Ingat terhadap

kasus pemberian Thalidomide kepada ibu hamil yang pada akhirnya ternyata

menimbulkan cacat pada janin. Merupakan contoh obat yang harus diwaspadai

penggunaannya dalam praktik kedokteran.

Pasal 7. Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang
telah diperiksa sendiri kebenarannya.
27

Tidak jarang terjadi di dalam praktik, ada seseorang yang datang ke

tempat praktik minta dibuatkan surat keterangan sakit oleh dokter, karena

beberapa hari ia tidak masuk kerja. Dalam hal demikian, bila memang orang

tersebut tidak menderita sakit sebaiknya dokter tidak memberikan surat

keterangan sakit, agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Sebagai ahli dibidang kesehatan, kadang-kadang keterangan dokter

juga diperlukan di dalam proses peradilan sebagai alat bukti keterangan ahli.

Bila ini dialami oleh dokter-dokter yang bersangkutan harus benar-benar

objektif dalam memberikan keterangan keahlian yang berkaitan dengan

tuduhan tindak pidana malpraktek. Memberikan keterangan yang bersifat

melindungi teman sejawat yang bersalah melakukan pelayanan substandard,

merupakan pendapat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya

dan dapat mengakibatkan dokter yang memberikan keterangan tersebut ikut

terkena tuntutan pidana.

Pasal 7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan
pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknik dan
moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan
penghormatan atas martabat manusia.

Memberikan pelayanan medis merupakan amanah yang harus

dilakukan oleh seorang dokter yang harus dipertanggungjawabkannya kepada

Allah SWT yang telah menganugrahkan iilmu kepada ummat manusia.


28

Seorang dokter yang mengobati pasien sebagaimana yang dianjurkan

di dalam KODEKI , bekerja menurut kompetensi dan didasari oleh rasa kasih

sayang tanpa melihat latar belakang pasien.

Pasal 7b. seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan
pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan
sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter
atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan,
dalam penanganan pasien.

Dalam melaksanakan pelayanan medis, Etika Kedokteran mewajibkan

seorang dokter untuk bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien.

Ilustrasi kasus berikut dapat memperjelas maksud dari sikap jujur dalam pasal

di atas:

- Seorang pasien menderita benjolan pada payudaranya, yang di-

diagnosa oleh dokter A sebagai fibroadenoma. Dokter A menganjurkan

agar penyakit tersebut diambil dengan jalan tindakan pembedahan

(operasi). Karena pasien tidak berani dilakukan operasi, pasien

memutuskan untuk pindah ke dokter B. Pasien menceriterakan keadaan

dirinya kepada dokter B, yang dijawab oleh dokter B dengan anjuran

agar pasien secara rutin datang memeriksakan dirinya setiap bulan ke

dokter B, barangkali penyakitnya bisa sembuh tanpa operasi. Pasien

merasa lebih percaya kepada dokter B dan memutuskan untuk dirawat

dokter B dengan melakukan kontrol secara rutin kepada dokter B,

tentunya dengan menyediakan biaya pengobatan setiap kali ia

memeriksakan diri kepada dokter B. Dalam hal semacam ini, tindakan


29

dokter B menunjukkan sikap yang tidak jujur kepada pasien dan dapat

dimasukkan dalam kategori penipuan terhadap pasien tersebut. Bila

teman sejawat mengetahui hal semacam ini terjadi, maka menurut

KODEKI pasal 7 b, dokter mempunyai kewajiban untuk mengingatkan

perbuatan dokter B tersebut.

- Seorang dokter yang mengetahui teman sejawatnya mempunyai

kekurangan dalam kompetensi yang dimiliki, juga diwajibkan untuk

mengingatkan teman tersebut. Sebagai contoh misalnya, seorang Ahli

Bedah (DSB) melakukan operasi appendectomy (pengangkatan usus

buntu). Ternyata karena DSB yang mengobati pasien tersebut kurang

terampil, dan usus buntu melekat dengan jaringan sekitar, DSB yang

bersangkutan tidak berhasil mengangkat usus buntu, kemudian luka

operasi ditutup kembali. Tindakan DSB semacam ini, merupakan

pelanggaran terhadap pasal 7 b yang juga wajib untuk diingatkan oleh

teman sejawat yang lain. Bila pasien mengetahui hal ini, dan menuntut

DSB tersebut, maka DSB dapat terkena sanksi pidana berdasarkan

Pasal 79 (c) UU Praktik Kedokteran yang mewajibkan DSB merujuk

kepada yang lebih ahli dalam hal ia tidak mampu melakukannya. Apalagi

jika terjadi penyakit yang membahayakan jiwa pasien sebagai akibat

kegagalan pengangkatan usus buntu yang mengalami infeksi tersebut

yang kemudian berakhir dengan kematian DSB yang bersangkutan

dapat terkena perbarengan Pasal 359 KUHP dan Pasal 79 (c ) UU


30

Praktik kedokteran, yang sebenarnya bermula dari ketidaktaatan DSB

kepada ketentuan dalam KODEKI saja.

Pasal 7c. Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak


sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga
kepercayaan pasien.

Ketentuan dalam Pasal 7 c KODEKI ini, juga perlu dicermati oleh

seorang dokter, terutama hak pasien dalam menentukan dirinya sendiri, dalam

bentuk melakukan persetujuan Tindakan Medik. Tindakan dokter yang

dilakukan terhadap diri pasien, haruslah sepengetahuan dan mendapatkan

persetujuan dari pasien yang paling berhak atas tubuhnya. Demikian juga

tentang kewajiban menjaga kepercayaan pasien sebagaimana telah

dicontohkan diatas.

Pasal 7d. Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban


melindungi hidup makhluk insani.

Kewajiban melindungi hidup makhluk insani juga tercantum di dalam

Lafal Sumpah Dokter butir 9 yang telah diucapkan pada saat seorang dokter

telah menyelesaikan studinya. Bahkan di dalam lafal sumpah tersebut,

perlindungan terhadap hidup makhluk insani harus dilakukan oleh dokter sejak

saat pembuahan. Oleh karena itu, pengakhiran kehamilan pada usia kehamilan

kapan pun tanpa indikasi medis yang jelas, merupakan pelanggaran KODEKI

dan juga lafal sumpah dokter. Walaupun perbuatan dokter selamat dari sanksi

pidana, tetapi seorang dokter yang mempunyai hati nurani dan setia kepada

profesi luhur kedokteran, tentu tidak mungkin akan berani melakukan aborsi
31

dan sejenisnya yang akan mengakibatkan berakhirnya hidup seorang calon

manusia.

Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan/


mendahulukan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua
aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotof, preventif,
kuratif dan rehabilitatif), serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenarnya.

Pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka

mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagai salah satu unsur

kesejahteraan umum sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-

Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Sebagai tenaga profesional di bidang kesehatan, dokter diharapkan

mampu untuk menggerakkan potensi yang ada bagi terwujudnya tujuan

pembangunan kesehatan tersebut melalui semua aspek pelayanan kesehatan

dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Pasal 9. Setiap dokter dalam bekerjasama dengan para pejabat di bidang


kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling
menghormati.

Pemecahan masalah di bidang kesehatan, tidak mungkin bisa berhasil

bila hanya ditangani oleh satu disiplin ilmu saja. Suksesnya program Keluarga

Berencana, menurunnya Angka Kematian Ibu, banyak dipengaruhi oleh faktor-

faktor non medis, terutama faktor sosial, ekonomi dan budaya. Oleh karena itu,

dalam menyehatkan masyarakat, dokter harus bisa mendidik masyarakat


32

dengan menjalin kerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat maupun pejabat

yang dapat memberikan bantuan dalam mengubah paradigma yang terkait

dengan faktor-faktor non medis tersebut.

b. Kewajiban Dokter Terhadap Pasien

Pasal 10. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala
ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia
tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka
atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang
mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

Dalam melakukan pelayanan kesehatan, dokter harus berupaya untuk

mengusahakan kesembuhan pasiennya dengan segala ilmu dan keterampilan

yang dimilikinya dengan tulus ikhlas. Tatkala ia tidak mampu melakukan

pemeriksaan atau pengobatan, maka ia harus segera merujuk pasien kepada

sejawat yang memiliki kemampuan atau keahlian yang lebih baik. Dengan

berlakunya Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran,

merujuk pasien merupakan kewajiban dokter yang tercantum di dalam pasal 51

huruf b yang bila tidak dilakukan, dokter yang bersangkutan dapat terkena

ancaman sanksi pidana berdasar pasal 79 c UU tersebut.

Pasal 11. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar
senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasihatnya
dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya

Untuk memberikan ketenangan kepada pasien yang mungkin

memerlukan pendampingan keluarga ataupun penasehat agama, dokter

hendaknya tidak menghalangi keinginan pasien tersebut. Hal ini mungkin akan
33

dapat membantu mempercepat kesembuhan pasien dengan adanya rasa

nyaman dan tenang selama dalam pengobatan di rumah sakit yang pada

umumnya dirasakan sebagai penderitaan bagi pasien. Terutama untuk pasien-

pasien kronis ataupun pasien dalam keadaan gawat yang mempunyai harapan

kesembuhan yang sangat tipis.

Pasal 12. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang pasien, / bahkan juga setelah pasien itu meninggal
dunia.

Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya merupakan kewajiban

dokter yang selain tertuang dalam Kodeki juga tercantum dalam pasal 51c UU

Praktik Kedokteran. Bila kewajiban ini dilanggar maka dokter dapat dikenakan

sanksi ancaman pidana berdasar Pasal 79 (c) UU Praktik Kedokteran maupun

Pasal 322 KUHP.

Pasal 13. Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan
mampu memberikannya.

Bila seseorang mengalami kecelakaan atau sakit mendadak, dokter

wajib memberikan pertolongan darurat sebagai tugas peri kemanusiaan kalau

dia mempunyai kemampuan untuk itu. Pasal 51d UU Praktik Kedokteran

memberikan kewajiban yang sama dengan Pasal 13 Kodeki, terutama bagi

dokter yang telah mempunyai Surat Izin Praktik sebagai syarat yang

memberikan legitimasi kepada dokter untuk melakukan praktik kedokteran.

Sehingga pelanggaran terhadap pasal 13 Kodeki identik dengan pelanggaran


34

hukum yang dapat dikenakan sanksi pidana berdasar Pasal 79c UU Praktik

Kedokteran.

c. Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat

Pasal 14. Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia


sendiri ingin diperlakukan.

Diantara sesama sejawat dokter hendaknya terjalin rasa kebersamaan,

kekeluargaan, dan keakraban sehingga dapat saling membantu, saling

mendukung, dan saling bekerja sama dalam menjalankan profesinya untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Merupakan perbuatan yang tidak

etis bila seorang dokter menyingkirkan teman sejawatnya karena khawatir

mengurangi jumlah pasien yang berobat kepadanya.

Dalam memberikan second opinion terhadap pasien, hendaklah dokter

tetap memperhatikan kesejawatan sebagaimana kalau dia mengalami hal yang

sama.

Pasal 15. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat,
kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.

Kadang-kadang karena ketidaksabaran pasien, ia mengambil sikap

untuk pindah berobat kepada dokter lain.

d. Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri

Pasal 16. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja
dengan baik,
35

Dokter harus bisa memberikan keteladanan kepada pasien dalam

menjaga kesehatan dengan memelihara kesehatannya sendiri. Kesibukan kerja

tanpa memperhatikan kesehatan diri sendiri akan menyebabkan dokter tidak

dapat bekerja dengan baik sehingga tidak mampu memberikan pelayanan

kesehatan secara optimal.

Pasal 17. Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan.

Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu

kedokteran atau kedokteran gigi merupakan kewajiban dokter yang tercantum

dalam UU Praktik Kedokteran Pasal 51 (e) Pelanggaran terhadap kewajiban ini

dapat dikenakan sanksi pidana Pasal 79(c) UU Praktik Kedokteran. Walaupun

pelanggaran beberapa pasal dalam Kodeki sudah diberikan sanksi yang

tercantum dalam UU Praktik Kedokteran, sanksi terhadap pelanggaran Kodeki

juga seyogyanya juga ditambahkan dalam Kodeki agar Kodeki dapat ditaati

oleh anggotanya (pengemban amanah Kodeki).

Menurut Safitri Hariyani (dalam Anny Isfandyarie, 2006 : 49)

menyebutkan bahwa pelanggaran terhadap butir-butir Kode Etik Kedokteran

Indonesia ada yang merupakan pelanggaran etik semata-mata, dan ada pula

yang merupakan pelanggaran Etik dan sekaligus pelanggaran hukum yang

dikenal dengan istilah Pelanggaran Etikolegal.

Beberapa contoh pelanggaran Etik :


36

a. Pelanggaran Etik Murni :

1. Menarik imbalan yang tidak wajar atau menarik imbalan jasa dari

keluarga sejawat dokter dan dokter gigi

2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.

3. Memuji diri sendiri di hadapan pasien.

4. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri

b. Pelanggaran Etikolegal:

1. Pelayanan dokter di bawah standar.

2. Menerbitkan surat keterangan palsu.

3. Membuka rahasia jabatan atau pekerjaan dokter.

4. Tidak pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam perkembangan

Iptekdok.

5. Abortus provokatus.

6. Pelecehan seksual.

2. Dokter Sebagai Pengemban Profesi

Menurut Paul F. Camenisch ( dalam E.Y Kanter, 2001 : 67) Profesi

adalah moral community (masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai

bersama. Mereka yang membentuk suatu profesi disatukan juga karena latar

belakang pendidikan yang sama dan bersama-sama memiliki keahlian yang

tertutup bagi orang lain. Dengan demikian profesi menjadi suatu kelompok yang

mempunyai kekuasaan tersendiri dan karena itu mempunyai tanggung jawab


37

khusus. Kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu

profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu di mata masyarakat.

Profesi dokter sesuai dengan Pasal 1 ayat (11) Undang-Undang No 29

Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran disebutkan sbb :

“Profesi dokter atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran


atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan,
kompetensi, yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode
etik yang bersifat melayani masyarakat ”.
Dari rumusan yang tercantum di dalam UU Praktik kedokteran tersebut,

jelaslah bahwa dokter merupakan pengemban profesi kedokteran yang

tentunya juga memiliki ciri-ciri profesi sebagaimana pengemban profesi pada

umumnya.

Menurut HC Black ( dalam Endang K. Astuti 2009:17) Dokter adalah

orang yang memiliki kewenangan dan izin sebagaimana mestinya untuk

melakukan pelayanan kesehatan, khususnya memeriksa dan mengobati

penyakit dan dilakukan menurut hukum dalam pelayanan di bidang kesehatan.

Sebagai pengemban profesi, dokter adalah orang yang memiliki

keahlian dan keterampilan dalam ilmu kedokteran yang secara mandiri mampu

memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan pelayanan. Selain itu,

dokter juga harus mampu memutuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan

dalam melaksanakan profesinya, serta secara pribadi bertanggung jawab atas

mutu pelayanan yang diberikan.


38

Jika dilihat dari otoritas yang bertumpu pada kompetensi keahlian dan

keterampilan yang dimiliki oleh seorang dokter yang bertumpu kepada

kompetensi teknikal yang superior, jelaslah bahwa kedudukan pasien dalam

kompetensi keahlian ini berada pada posisi inferior. Pasien tidak dapat

melakukan penilaian secara objektif atas profesionalisme pelayanan yang

dilakukan oleh dokter, apakah yang dikerjakan dokter profesional atau tidak.

Walaupun demikian, pasien bebas untuk menentukan kepada siapa pasien bisa

memberikan kepercayaan untuk mendapatkan pelayanan profesional yang

bermutu dan bermartabat. Disisi lain, dokter juga percaya kepada pasien yang

datang kepadanya bahwa mereka membutuhkan pelayanan profesionalnya

yang harus dilaksanakannya dengan kesungguhan niat dan tanggung jawab

untuk mengatasi keluhan pasien tersebut. Agar tercapai hasil yang optimal,

kedua belah pihak baik pihak dokter maupun pasien harus bisa bekerja sama.

Pelaksanaan profesi dokter berkembang seiring dengan perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran yang semakin maju dan

menyangkut berbagai aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu dokter

dituntut untuk selalu mengembangkan ilmunya dengan mengikuti

perkembangan ilmu kedokteran yang terus berlanjut.

Menurut Anny Isfandyarie. (2006 : 25) Dari perspektif Etik Profesi,

maka dokter mempunyai dua bentuk pertanggung jawaban, yaitu tanggung

jawab etik dan tanggung jawab profesi. Peraturan yang mengatur tentang

tanggung jawab etis seorang dokter tertuang di dalam Kode Etik Kedokteran
39

Indonesia (KODEKI) sebagai pedoman perilaku dokter dalam menjalankan

profesinya di Indonesia. KODEKI yang disusun dengan mempertimbangkan

Internasional Code of Medical Ethics ini, telah disesuaikan dengan falsafah

hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945, dan telah dimantapkan

dalam bentuk Surat Keputusan Mentri Kesehatan No. 434/Men.Kes/SK.X/1983.

KODEKI ini mengatur hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban

umum seorang dokter, hubungan dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter

terhadap sejawatnya, dan kewajiban dokter terhadap dirinya sendiri.

Kewajiban dokter terhadap pasiennya dicantumkan dalam KODEKI

pada Pasal 12 yang berbunyi :

“Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya


tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien meninggal
dunia”.
Dalam pelayanan kesehatan, dokter memperoleh informasi penyakit

pasien yang sesungguhnya merupakan sesuatu yang sifatnya privasi yan

terpaksa disampaikan kepada dokter demi kesembuhan penyakitnya . Dari

sejak dulu, rahasia pasien itu tetap terjaga dan terjamin di tangan kalangan

tenaga kesehatan.

Jaminan bahwa rahasia pasien itu tetap terjaga dapat ditelusuri pada

Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1960, yang mengatur tentang lafal Sumpah

Dokter Indonesia :
40

“Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui kerena


pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter”.
Menurut Indar (2009:43) Kata profesi berasal dari kata “professio” yang

berarti “a public declaration with the force of a promise”. Profesi adalah

kelompok yang mendeklarasikan secara terbuka bahwa anggotanya akan

bekerja dengan cara tertentu dan bahwa kelompok atau masyarakatnya akan

mengambil tindakan disiplin bagi anggotanya yang tidak mengikuti cara yang

dipentukan.

Roscoe Pound seorang filosof hukum hukum Amerika Serikat

mengatakan bahwa perkataan profesi “ refers to a group of man pursuing a

learned art asa common calling in the spirit of public service no less apublic

service because it may incidentally be a means of livehood” (Sidharta:1990).

Berdasarkan pandangan ini dapat dikatakan bahwa profesi adalah pekerjaan

tetap dalam semangat pengabdian terhadap kepentingan umum (sesama

manusia) yang dihayati sebagai suatu panggilan hidup dengan menerapkan

keahlian yang diperoleh dengan jalan mempelajari dan latihan sistematis. Jadi

hakekat profesi dalam arti ini adalah panggilan hidup untuk mengabdikan diri

pada kemanusiaan. Setiap panggilan hidup adalah mulia jika diwujudkan

dengan cara bermartabat, yakni dengan penuh kesungguhan, seksama dan

tanggungjawab.

Dari rumusan di atas Roscoe Pound memberikan makna profesi adalah

pelaksanaan suatu fungsi kemasyarakatan. Untuk mewujudkan fungsi


41

kemasyarakatan tidak didasarkan pada pertimbangan yang berorientasi pamrih.

Selain itu pelaksanaan fungsi kemasyarakatan menuntut keahlian dari pada

pelaksanaannya. Keahlian dari pada pelaksanaannya bersumber dari

penguasaan ilmu yang diperoleh lewat proses pendidikan dan latihan formal

yang dibuktikan dengan melalui ujian yang dapat dipertanggungjawabkan

secara objektif. Pekerjaan sehari-hari yang dilaksanakan oleh seorang warga

masyarakat untuk mewujudkan fungsi kemasyarakatan itulah disebut profesi.

Menurut Soekidjo Notoatmojo (2010:37) Tidak semua petugas atau

orang yang menjalankan tugas atau pekerjaan di dalam suatu institusi atau

lembaga baik di pemerintahan maupun swasta itu memperoleh pengakuan

sebagai profesi. Suatu profesi sekurang-kurangnya mempunyai ciri sebagai

berikut:

a. Mengikuti pendidikan sesuai standar nasional, artinya orang yang

termasuk dalam profesi yang bersangkutan harus telah

menyelesaikan pendidikan profesi tersebut. Orang yang berprofesi

dokter, dengan sendirinya telah lulus pendidikan profesi dokter

(bukan hanya sarjana kedokteran)

b. Pekerjaannya berdasarkan etik profesi. Artinya dalam menjalankan

tugas atau profesinya seseorang harus berlandaskan atau mengacu

kepada etik profesi yang telah dirumuskan oleh organisasi

profesinya..
42

c. Mengutamakan panggilan kemanusiaan daripada keuntungan

materi.

d. Pekerjaannya legal (melalui perizinan)

e. Anggota-anggotanya belajar sepanjang hayat.

f. Anggota-anggotanya bergabung dalam suatu organisasi profesi.

3. Rahasia Kedokteran

Menurut Ari yunanto dan Helmi ( 2010:3) Rahasia kedokteran adalah

sesuatu yang diketahui berdasarkan informasi yang disampaikan pasien

(termasuk oleh orang yang mendampingi pasien ketika berobat), termasuk juga

segala sesuatu yang dilihat (diketahui) ketika memeriksa pasien.

Menurut J Guwandi (2010:10) Masalah suatu ” rahasia ” baru timbul

apabila ada dua pihak atau lebih terkait di dalamnya. Seorang pasien yang

datang kepada seorang dokter untuk berobat. Ia menceritakan apa yang

dideritanya, bagian tubuh mana atau apa yang dirasakan sakit. Atas dasar

uraian pasien tersebut, maka dokternya akan mengajukan berbagai pertanyaan

agar lebih jelas. Kemudian ia melakukan pemeriksaan badan, mungkin

menyuruh pemeriksaan Laboratorium, Foto rontgen, CT-Scan, dan sebagainya.

Atas dasar berbagai pemeriksaan tersebut dokter bisa menarik kesimpulan

bahwa diagnosis adalah penyakit tertentu. Hal ini diberitahukan kepada pasien

dan diberi pengobatan atau dianjurkan misalnya Rawat inap untuk dilakukan

observasi dan pemeriksaan yang lebih teliti dan mengikuti perkembangan

pengobatannya.
43

Dari uraian pasienlah sang dokter akan mengetahui kira-kira penyakit

pasiennya. Sebelumnya dokter tidak mengetahui apa yang dideritanya. Jadi

asal-mulanya Rahasia medis adalah dari pasien itu sendiri yang menceritakan

kepada dokter. Dan sewajarnyalah bahwa pasien itu sendiri adalah dan

dianggap sebagai pemilik rahasia medis itu atas dirinya, bukanlah dokter yang

diberitahukan dan kemudian menarik kesimpulan tentang penyakit yang diderita

pasiennya. Jadi apa yang dahulu dinamakan ”Rahasia kedokteran” adalah

rahasia medis pasien, bukanlah rahasia dokternya. Istilah ”Rahasia kedokteran”

adalah rahasia di bidang kedokteran (dibidang medis), bukan rahasia

dokternya. Istilah ” kedokteran” adalah kata sifat, bukan kata pemilikan.

Timbul pertanyaan : mengapa sampai ada timbul penafsiran yang

berbeda-beda? Mengapa dari profesi dokter ada yang beranggapan bahwa

Rahasia kedokteran adalah urusan profesi dokter yang tidak perlu diketahui

oleh pasiennya? Rahasia yang hanya boleh diketahui oleh sesama teman

sejawatnya?

Alam pikiran ini berdasarkan Sumpah Hipokrates (469-399 SM) versi

World Medikal Association yang berbunyi :

”Saya akan menghargai rahasia-rahasia yang dipercayakan kepada


saya, bahkan sampai sesudah pasien meninggal”
(I will respect the secrets which are confided in me, even after patient
has died).
44

Hal ini disebabkan karena dalam alam pikiran dahulu, jika pasien tidak

diberitahukan penyakitnya, maka ia tidak menjadi cemas dan tegang. Hal ini

bisa mempengaruhi penyembuhannya. Jika pasien menyerahkan dirinya

kepada dokter untuk diobati, maka penyembuhannya akan berjalan lancar.

Dengan berlalunya waktu, maka alam pikiran manusia , situasi dan kondisi

mengalami perubahan pula.

Dalam Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, selanjutnya disingkat PP No. 10 Tahun

1966, yang dimaksud dengan Rahasia Kedokteran adalah segala sesuatu yang

diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama

melakukan pekerjaan dalam lapangan kedokteran. Pasal 3 PP NO 10 Tahun

1966 menyatakan Yang di wajibkan menyimpan rahasia yang di maksud dalam

pasal 1 ialah:

a. Tenaga kesehatan menurut Pasal 2 Undang-Undang Tentang

Kesehatan (Lembaran Negara tahun 1963 No.78);

b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan

pemeriksaan, pengobatan dan atau Perawat yang di tetapkan oleh

Menteri Kesehatan.

Pada pasal 1, dengan kata-kata “Segala sesuatu yang diketahui “

maksudnya tidak hanya meliputi hal-hak yang diceritakan atau dipercayakan

kepadanya secara eksplisit (yaitu permintaan khusus untuk merahasiakan),

tetapi juga meliputi hal-hal yang diceritakan secara implisit (tanpa permintaan
45

khusus untuk merahasiakan). Juga segala fakta yang didapat dari pemeriksa

penderita, interpretasi untuk menegakkan diagnosa dan melakukan

pengobatan, dari anamnese, pemeriksaan jasmaniah, pemeriksaan dengan

alat-alat kedokteran dan sebagainya, juga termasuk data-data yang

dikumpulkan oleh pembantu-pembantu dokter dalam melaksanakan tugasnya.

Pengertian tentang tenaga kesehatan, diatur dalam :

1. Pasal 1 butir 6 Undang – Undang No 36 Tahun 2009 Tentang

Kesehatan, yang berbunyi :

“Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam


bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan
melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu
memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan”.

2. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga

Kesehatan yang definisinya sama dengan yang tersebut diatas.

Pasal 2 PP Nomor 32 Tahun 1996 menyebutkan :

Tenaga kesehatan terdiri dari:

a. Tenaga medis ;

b. Tenaga Keperawatan ;

c. Tenaga Kefarmasian ;

d. Tenaga Kesehatan Masyarakat ;

e. Tenaga Gizi ;
46

f. Tenaga Keterapian Fisik ;

g. Tenaga Keteknisan Medik.

1. Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi.

2. Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan.

3. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten

apoteker.

4. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan,

entomolog kesehatan, mikrobiologi kesehatan, penyuluhan kesehatan,

administrator kesehatan dan sanitarian.

5. Tenaga gizi rneliputi nutrisionis dan dietisien.

6. Tenaga keterapian fisik meiiputi fisioterapis, okupasiterapis, dan

terapis wicara

7. Keteknisan medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi

elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik,

teknisi transfusi dan perekam medis.

Menurut indar (2009:286) Rahasia kedokteran, Pasal 1 PP No 10

Tahun 1966 memberi pengertian bahwa, “ Rahasia Kedokteran ialah “Segala

sesuatu yang diketahui” oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu

atau selama melakukan pekerjaan dalam lapangan kedokteran” “Segala

sesuatu yang diketahui “ adalah segala fakta yang didapat dalam pemeriksaan

penderita, interpretasinya untuk menegakkan diagnosa dan melakukan

pengobatan; dari anamnese, pemeriksaan jasmaniah, pemeriksaan dengan


47

alat-alat kedokteran dan sebagainya. Juga termasuk fakta yang dikumpulkan

oleh pembantu-pembantunya.

Pasal 57 Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan ayat

(1) menyebutkan :

“Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang


telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan kesehatan”.

Dokter dalam menjalankan tugas jabatannya di wajibkan atau di

haruskan melindungi rahasia penyakit pasien. Kewajiban para pejabat untuk

merahasiakan hal-hal yang diketahui karena jabatannya atau pekerjaannya

berpijak pada norma-norma susila, dan pada hakikatnya hal tersebut

merupakan kewajiban moral.

Sesuai dengan ketentuan Pasal 48 Undang Undang Nomor 29 Tahun

2004 tentang Praktik Kedokteran ditetapkan sebagai berikut :

1. Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik


kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
2. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan
kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak
hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Dan juga pada Pasal 51 (c) UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktek

Kedokteran mengatur: dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik

kedokteran mempunyai kewajiban :

“Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,


bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia“ .
48

Pelaksanaan rahasia jabatan tidak cukup hanya diatur pada etik, tetapi

memerlukan pengaturan dalam undang-undang. Pelanggaran terhadap norma

susila hanya diancam oleh sanksi sosial dari masyarakat, sedangkan

pelanggaran undang-undang mendapat ancaman hukuman. Dokter yang

melakukan pelanggaran itu juga mendapat ancaman hukuman berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut Ari Yunanto dan Helmi (2010:53) Rahasia jabatan adalah

rahasia dokter sebagai pejabat struktural, misal sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Contoh : dalam lafal sumpah pegawai negeri."Saya akan memegang rahasia

sesuatu yang menurut sifat atau perintah harus saya rahasiakan". Dengan

demikian kewajiban menyimpan rahasia jabatan atau pekerjaan berlaku pula

terhadap bekas pejabat yang diwajibkan menyimpan rahasia yang sudah tidak

aktif lagi.

Rahasia pekerjaan dan rahasia jabatan dokter merupakan dua hal yang

hampir sama pada intinya yaitu: memegang suatu rahasia. Rahasia pekerjaan

adalah sesuatu yang dan harus dirahasiakan berdasarkan lafal janji yang di

ucapkan setelah menyelesaikan pendidikan. contoh: dalam Lafal Sumpah

Dokter :

“Demi Allah saya bersumpah bahwa saya akan merahasiakan segala


sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan
saya sebagai dokter”
49

Menurut J. Guwandi (2010:22) Jika menyangkut pengungkapan

rahasia kedokteran maka harus ada izin pasien (consent) dan bahan rahasia

kedokteran terdapat dalam berkas rekam medis. Misalnya soal informed

Consent, seorang dokter bedah yang ingin melakukan suatu tindakan

pembedahan harus memberi informasi terlebih dahulu kepada pasien untuk

diminta persetujuannya.

Persetujuan itu diwujudkan dalam penanda-tanganan suatu formulir

dan yang akan disimpan di dalam berkas rekam medis. Bila timbul suatu

tuntutan, maka formulir yang telah ditandatangani tersebut dapat dipakai

sebagai bukti kuat di pengadilan, satu dan lain tentunya jika sudah dipenuhi

syarat-syarat informed Consent yang diperlukan. Bahwa kepada pasien sudah

diberikan penjelasan dengan lengkap dan pasien sudah mengerti apa yang

akan dilakukan terhadap dirinya.

Berkas Rekam Medis merupakan kumpulan bukti-bukti dalam bentuk

berkas catatan dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya, hasi

pemeriksaan laboratorium, gejala-gejala yang timbul, singkatnya mengenai

segala sesuatu yang telah dilakukan di Rumah Sakit selama pasien dirawat.

Termasuk bukti persetujuan pasien dalam bentuk formulir informed Consent

yang sudah dibubuhi tanda-tangan dan dilekatkan pada berkas Rekam Medis

tersebut.
50

Berkas Rekam Medis yang dipelihara dan dilakukan dengan baik,

niscaya akan bisa memberi gambaran balik (flash-back) tentang apa-apa saja

yang telah dilakukan selama pasien dirawat di Rumah Sakit itu. Rumah Sakit

diwajibkan menyimpan rahasia kedokteran hal ini sesuai dengan UU RI No 44

Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 38 ayat (1) menyatakan : “Setiap

Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran”.

Menurut J. Guwandi (2010:23) Rahasia kedokteran adalah rahasia milik

pasien. Rahasia itu didokumentasikan di dalam Rekam Medis pasien yang

harus disimpan dengan baik. Tidak boleh dibaca atau diketahui isinya oleh

sembarang orang tanpa persetujuan pasiennya. Berkas Rekam Medis adalah

milik Rumah Sakit yang tidak boleh dibawa keluar Rumah Sakit oleh siapapun,

termasuk dokter dan pasien itu sendiri juga. Pasien dapat meminta foto-kopinya

dengan membayar biayanya.

Berkas asli tetap harus ada di Rumah Sakit. Hal ini sering dilupakan

dan jika terdengar akan timbul tuntutan, ada sementara dokter yang lansung

bawa pulang ke rumah berkas itu untuk dipelajari. Biasanya hal itu tidak

diketahui oleh pimpinan Rumah Sakit. Seharusnya begitu terdengar akan akan

ada tuntutan, berkas tersebut oleh kepala Rumah Sakit harus diamankan dan

tidak diperbolehkan lagi untuk diberi tambahan tulisan, coret-coretan,

penghapusan, ditutupi tulisannya atau mengadakan perubahan.


51

Jika ada pihak ketiga, misalnya asuransi minta data-data pasien

kepada Rumah Sakit dan dokternya, maka hal ini hanya boleh diberikan

dengan adanya surat persetujuan tertulis dari pasien. Keterangan yang

diberikan hanya terbatas pada keterangan yang dibutuhkan saja. Hal ini

termasuk bidang rahasia medis seperti diatur di dalam Undang-undang dan

peraturan lainnya tentang wajib simpan rahasia.

Dengan perkembangan zaman tentang HAM misalnya, mulai timbul

konflik penafsiran tentang Rahasia Medis tersebut. Suatu keputusan landmark

timbul dalam kasus “Schloendorff v. New York Societyof Hospitals, 211 N.Y.

125,105, N.E. 92 (1914). Oleh hakim Benjamin Cardosa di dalam keputusannya

dikatakan bahwa :

”Setiap manusia dewasa dan berpikiran sehat berhak untuk


menentukan apa yang dikehendaki terhadap dirinya sendiri ; dan
seorang dokter bedah yang melakukan operasi tanpa izin pasien
dianggap telah melakukan pelanggara, untuk mana ia
bertanggungjawab atas kerugiannya”
(Every human being of adult years and sound mind has a right to
determine what shall be done with his own body, and a surgeon who
performs an operation without his patient’s consent commits an
assault, for which he is liable in damages) (Faden & Beachamp, 123).
Dari keputusan landmark ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang

memutuskan apa yang hendak dilakukan oleh dokter, haruslah memperoleh

persetujuan pasiennya terlebih dahulu. Untuk pelaksanaannya maka hal ini

berarti bahwa dokternya harus menceritakan apa yang diderita pasien, tindakan

apa yang hendak dilakukan dan resiko apa yang melekat atas tindakan
52

tersebut. Dogma Informed Concent yang tadinya berada ditangan etik dan

filsafat, kini diambil alih oleh hukum.

Menurut Indar (2009:287) Dapat dikatakan bahwa wajib simpan rahasia

kedokteran mempunyai dasar hukum sebagai berikut

1. Kepentingan pasien adalah menjelaskan segala sesuatu

mengenai dirinya tanpa rasa khawatir bahwa hal itu akan

diberitahukan kepada pihak-pihak lain.

2. Kepentingan umum menghendaki agar setiap warga

masyarakat yang memerlukan bantuan kesehatan tidak

terhalang karena kekhawatiran bahwa data mengenai dirinya

tidak dirahasiakan.

3. Profesi kedokteran menuntut agar kepercayaan yang diberikan

oleh pasien terjamin.

Dalam Pasal 57 Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang

Kesehatan ayat (2) pasal ini ditegaskan hak atas rahasia kesehatan pribadi

tidak berlaku dalam hal :

a. Perintah Undang-Undang

b. Perintah pengadilan

c. Izin yang bersangkutan

d. Kepentingan masyarakat

e. Kepentingan orang tersebut


53

Hal senada juga terdapat dalam Pasal 2 PP No 10 Tahun 1966 tentang

Wajib Simpan Rahasia Kedokteran memuat pembatasan. Wajib simpan rahasia

kedokteran ini tidak berlaku mutlak. Pengecualiannya apabila ada sesuatu

peraturan lain yang sederajat atau lebih tinggi dari pada peraturan pemerintah

ini. Beberapa hal bahkan diwajibkan untuk melaporkan, yaitu berdasarkan :

Undang-undang No. 1 Tentang Karantina Laut,

Undang-Undang No. 2 Tentang Karantina Udara

Undang-undang No. 6 Tentang wabah penyakit menular,

Instruksi Mentri Kesehatan R.I No. 72/MenKes/Inst/II/1988

Tentang Kewajiban Melaporkan Penderita dengan Gejala

AIDS.

Menurut Indar (2009:244) dalam keadaan tertentu dokter harus juga

mengungkapkan rahasia kedokteran untuk kepentingan pihak lain :

a. Karena penetapan Undang-Undang: pembuat visum et

repertum, pelaporan penyakit yang menimbulkan wabah,

menjalankan perintah undang-undang, menjalankan perintah

jabatan.

b. Untuk kepentingan umum, seorang sopir yang menderita

penyakit ayan bisa menimbulkan bahaya pada orang lain jika

tidak dikemukakan.
54

c. Untuk kepentingan pasien sendiri, jika seorang pasien yang

hendak menikah dengan seorang penderita AIDS.

B. Tanggung Jawab Dokter Dalam Hukum

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga (Balai pustaka,

2002: 1139) ditemukan frase tanggung jawab berarti keadaan wajib

menanggung segala sesuatunya, kalau terjadi apa-apa boleh ditindak,

dipersalahkan, diperkarakan. Jika diikuti dengan imbuhan “ber” menjadi ber-

tanggung jawab berubah menjadi kata kerja berarti berkewajiban, menanggung,

memikul tanggung jawab.(Pusadan S. 2007)

Menurut Indar (2009:126) Tanggung jawab dalam bahasa Inggris

ditemui dengan istilah Responsibility, liability, dan Accointability. Ketiga istilah

ini bila diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki pengertian yang tidak

berbeda. Namun dalam bahasa Inggris tampak bahwa ketiganya berada dalam

pengertian yang berlainan. Responsibility yang dalam Kata bahasa Indonesia

diterima dengan istilah Responsibilitas, Liability dengan libilitas dan

Accountability dengan akuntabilitas. Responsibilitas mengarah kepada

pengertian yang lebih luas misalnya dalam hubungan moral, politik, religius dan

sebagainya. Sedang liabilitas pengertiannya lebih bersifat legalistik, (Siahaan,

1987 : 1999). Adapun akuntabilitas dalam percakapan sehari-hari lebih

mengarah kepada urusan keuangan.


55

Menurut Henry Camble Black ( Black’s law Dictionary ) dalam Ridwan

HR (2006:334-335) Pada kamus hukum ada dua konsep yang menunjuk

kepada pertanggungjawaban, yakni liability dan responsibility. Liability

merupakan istilah hukum yang luas yang didalamnya antara lain mengandung

makna paling komprehensip meliputi hampir setiap karakter resiko atau

tanggung jawab, yang pasti, yang bergantung atau yang mungkin.

Liability didefinisikan untuk menunjuk semua karakter hak dan

kewajiban. Disamping itu, liability merupakan conditions of being actually or

potentially subject to an obligation, conditions of being responsible for a

possible or actual loss,penalty, evil, expense, or burden ; conditions which

creates a duty to perform an act immediately or in the future ( kondisi tunduk

kepada kewajiban secara aktual atau potensial, kondisi bertanggung jawab

terhadap yang aktual atau mungkin seperti kerugian, ancaman, kejahatan,

biaya, atau beban kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan

Undang-undang dengan segera atau pada masa yang akan datang.

Responsibility berarti hal yang dapat dipertanggungjawabkan atas suatu

kewajiban, dan termasuk putusan, ketrampilan, kemampuan dan kecakapan

meliputi juga kewajiban bertanggung jawab atas undang-undang yang

dilaksanakan. Dalam pengertian dan penggunaan praktis, istilah liability

menunjuk pada pertanggungjawaban hukum, yaitu tanggung gugat akibat

kesalahan yang dilakukan oleh subyek hukum, sedangkan istilah responsibility

menunjuk pada pertanggungjawaban politik.


56

Menurut Syamsul Bachri (2008:17) Dalam hukum administrasi dikenal

adanya : tanggung jawab liability yaitu tanggunggugat yang ditujukan terhadap

badan atau jabatan itu sendiri dalam penyelenggaraan pelayanan publik dan

pertanggungjawaban responsibility yaitu tanggung jawab dari aspek politik yang

bermuara pada pemerintah (presiden) selaku penanggung jawab tertinggi

dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Ridwan Halim (2005) mendefinisikan tanggung jawab sebagai suatu

akibat lebih lanjut dari pelaksanaaan peranan, baik peranan itu merupakan hak

maupun kewajiban ataupun kekuasaan.

Berdasarkan pengertian tanggung jawab sebagaimana dikemukakan di

atas, dapat disimpulkan bahwa tangungjawab itu erat kaitannya dengan baik

dan kewajiban serta kekuasaan. Dalam menggunakan haknya, setiap warga

negara harus memperhatikan beberapa aspek, sebagai berikut :

1. Aspek kekuatan, yaitu kekuasaan atau wewenang untuk melaksanakan

hak tersebut

2. Aspek perundangan hukum (proteksi hukum) yang melegalisir atau

mensahkan aspek kekuasaan atau wewenang yang memberi kekuatan

bagi Pemegang hak mutlak untuk menggunakan haknya tersebut.

3. Aspek pembatasan hukum (restriksi hukum) yang membatasi dan

menjaga jangan sampai terjadi penggunaan hak oleh suatu pihak yang
57

melampui batas (kelayakan dan kepantasan) sehingga menimbulkan

akibat kerugian bagi pihak lain. (Ridwan Halim, 2005:178)

Berdasarkan uraian di atas maka hak yang kita miliki dalam

Penggunaannya harus memperhatikan atau mempertimbangkan hak orang lain

juga. Dalam melaksanakan kewajiban maka aspek-aspek yang perlu

diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Aspek kemungkinan dalam arti kelogisan bahwa pihak yang

berkewajiban sungguh mungkin dan mampu untuk dapat mengemban

kewajibannya dengan sebagaimana mestinya.

2. Aspek perlindungan hukum yang melegalisir atau mensahkan

kedudukan pihak yang telah melaksanakan kewajibannya sebagai orang

atau pihak yang harus dilindungi dari adanya tuntunan atau gugatan

terhadapnya, apabila ia telah melaksanakan kewajibannya dengan baik

3. Aspek pembatasan hukum, yang membatasi dan menjaga agar

pelaksanaan kewajiban oleh setiap pihak yang bersangkutan jangan

sampai kurang dari batas minimalnya sehingga menimbulkan kerugian

bagi pihak lain.

4. Aspek pengecualian hukum, yang merupakan suatu aspek yang memuat

pertimbangan “jiwa hukum” dalam menghadapi pelaksanaan kewajiban

oleh seseorang atau suatu pihak yang tidak memadai.

Konsep pertanggungjawaban hukum pada dasarnya terkait dengan teori

yang dikemukakan Hans Kelsen (2007:81) tentang tanggung jawab hukum


58

yang menyatakan bahwa “Seseorang bertanggung jawab secara hukum atas

suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum,

subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal

perbuatannya yang bertentangan”.

Selanjutnya, Hans Kelsen (2011:138) membagi tanggung jawab menjadi

empat, yaitu :

a. Pertanggungjawaban individu yaitu seorang individu

bertanggungjawab terhadap pelanggaran yang dilakukannya

sendiri,

b. Pertanggungjawaban kolektif berarti bahwa seorang individu

bertanggungjawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh

orang lain,

c. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa

seorang individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang

dilakukannya karena sengaja dan diperkirakan dengan tujuan

menimbulkan kerugian,

d. Pertanggungjawaban mutlak yang berarti bahwa seorang individu

bertanggungjawab atas pelanggaran yang dilakukan karena tidak

sengaja dan tidak diperkirakan.

Menurut Anny Isfandyarie (2006 : 2) Dalam pengertian hukum,

tanggung jawab berarti “keterikatan”. Tiap manusia, mulai saat ia dilahirkan

sampai saat ia meninggal dunia mempunyai hak dan kewajiban dan disebut
59

sebagai subjek hukum. Demikian juga dengan dokter, dalam melakukann suatu

tindakan, harus bertanggung jawab sebagai subjek hukum pengemban hak dan

kewajiban.

Tindakan dan perbuatan dokter sebagai subyek hukum dalam

pergaulan masyarakat, dapat dibedakan antara tindakannya sehari-hari yang

tidak berkaitan dengan profesi, dan tindakanyang berkaitan dengan pelaksana

profesi. Begitu pula dalam tanggung jawab hukum seorang dokter, dapat tidak

berkaitan dengan profesi, dan dapat pula merupakan tanggung jawab hukum

yang berkaitan dengan profesinya.

Perbuatan dokter yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan profesi

yang menimbulkan tanggung jawab hukum antara lain : dokter menikah, dokter

melakukan perjanjian jual beli, dokter membuat wasiat, dan sebagainya.

Perbuatan dokter yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan profesinya ini ,

pada umumnya juga bisa dilakukan oleh setiap orang yang bukan dokter.

Tanggung jawab hukum yang timbul berkaitan dengan pelaksanaan

profesi dokter, masih dapat dibedakan antara :

Tanggung jawab terhadap ketentuan profesionalnya yang termuat

dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No. 434/Men.Kes/SK/X/1983

tentang KODEKI; dan

Tanggung jawab terhadap ketentuan – ketentuan hukum yang

tercantum dalam Undang-Undang


60

Dalam pertanggungjawaban hukum seorang dokter sebagai

pengemban profesi, dokter harus selalu bertanggung jawab dalam menjalankan

profesinya. Termasuk didalamnya tentang pemahaman hak-hak dan kewajiban

dalam menjalankan profesi sebagai dokter.

Menurut Syahrul Macmud, (2008:109) tanggung jawab profesi dokter ini

dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu tanggung jawab etik dan tanggung

jawab hukum. Tanggung jawab hukum ini dapat dibedakan pula menjadi tiga

macam, yaitu berdasarkan hukum pidana, hukum perdata dan hukum

administrasi.

1. Tanggung Jawab Hukum Pidana

Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat,

dalam perkembangan selanjutnya timbul permasalahan tanggung jawab pidana

seorang dokter, khususnya menyangkut kelalaian, hal mana dilandaskan pada

teori-teori kesalahan dalam hukum pidana. Dari segi hukum,

kesalahan/kelalaian selalu berkaitan dengan sifat melawan hukumnya suatu

perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

Tanggung jawab pidana timbul jika pertama-tama dapat dibuktikan adanya

kesalahan profesi, misalnya kesalahan dalam diagnosis atau kesalahan dalam

cara-cara pengobatan atau perawatan. (Endang K. Astuti, 2009;281)

Menurut Safitri Hariyani, (dalam Ari Yunanto dan Helmi, 2010;47)

perbuatan dikatakan terbukti sebagai perbuatan pidana apabila berdasarkan

minimal dua alat bukti tersebut hakim memperoleh keyakinan bahwa perbuatan
61

tersebut merupakan perbuatan pidana. Dalam hukum pidana, perbuatan

dikatakan perbuatan hukum pidana apabila semua unsur pidananya terpenuhi.

Sehubungan kemampuan bertanggung jawab dalam menentukan

bahwa seseorang itu bersalah atau tidak menurut hukum, ditentukan oleh tiga

faktor yaitu : (Endang K. Astuti, 2009;280)

1. Keadaan batin orang yang melakukan itu, maksudnya bahwa pelaku

menyadari atau tidak perbuatan yang dilakukan itu merupakan

perbuatan yang dilarang oleh undang-undang

2. Adanya hubungan batin antara pelaku dan perbuatan yang

dilakukan, yaitu berupa dolus (kelalaian/kealpaan)

3. Tidak adanya alasan pemaaf.

Ada perbedaan penting antara tindakan pidana biasa dan tindakan

pidana medis. Pada tindakan pidana biasa, yang terutama diperhatikan adalah

“akibatnya”, sedangkan tindakan pidana medis adalah penyebabnya. Walaupun

berakibat fatal, tetapi jika tidak ada unsur kelalaian atau kesalahan, dokter tidak

dapat dipersalahkan.

Beberapa contoh dari criminal malpractice yang berupa kesengajaan

adalah melakukan abortus tanpa indikasi medis, membocorkan rahasia

kedokteran, tidak melakukan pertolongan seseorang yang dalam keadaan

emergency, melakukan euthanasia, menerbitkan surat keterangan dokter yang

tidak benar, membuat visum et repertum yang tidak benar dan memberi
62

keterangan yang tidak benar di sidang pengadilan dalam kapasitasnya sebagai

ahli. ( Endang K. Astuti, 2009;282)

Menurut Guwandi J (2003:77) Dibidang pidana pengungkapan rahasia

diatur di dalam KUHP pasal 112 yang menyangkup pengungkapan rahasia

negara dan pasal 322 KUHP yang menyangkut profesi.

Pasal 322 KUHP mengatur bahwa :

(1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang menurut
jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, ia
diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatannya ini dilakukan terhadap orang yang tertentu maka
perbuatanya itu hanya dituntut atas pengaduan orang itu.

Menurut Syahrul Machmud (2008;210) Kewajiban menyimpan rahasia

jabatan seperti dimaksud Pasal 322 KUHP ini tidak khusus diperuntukkan

hanya untuk dokter semata, tetapi untuk semua profesi yang diwajibkan hukum.

Khusus untuk dokter ini kewajiban tersebut diatur dalam Undang-Undang No.

29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang mulai efektif berlaku sejak 6

oktober 2005 yaitu pada Pasal 51 huruf c. Bahkan kewajiban menyimpan

rahasia kedokteran berlaku walaupun pasien telah meninggal dunia.

2. Tanggung Jawab hukum Perdata

Prinsip yang dianut dalam hukum perdata sebagai hukum privat adalah

barang siapa menimbulkan kerugian pada orang lain harus memberikan ganti

rugi. Hal ini berbeda dengan hukum pidana sebagai hukum publik, karena

dalam hukum pidana yang diatur atau dituju adalah ketertiban hidup bersama
63

dalam masyarakat ; sedangkan dalam hukum perdata mengatur hubungan

antarwarga masyarakat yang bersifat individual atau perorangan.(Y.A. Triana

Ohuiwutun, 2008;64)

Dokter dianggap bertanggung jawab dalam bidang hukum perdata jika

dokter tidak melaksanakan kewajibannya (ingkar janji), yaitu tidak memberikan

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati dan karena perbuatan melawan

hukum. (Endang K. Astuti, 2009:266)

Menurut J. Guwandi, (dalam Y.A. Triana Ohuiwutun, 2008;64) dalam

perjanjian terapeutik, timbul hubungan hukum antara dokter dan pasien

sebagai berikut :

1. Berdasarkan perjanjian (ius contractu)

Dalam hai ini perjanjian terapeutik dilakukan secara sukarela

berdasarkan kehendak bebas antara dokter dengan pasien.

2. Berdasarkan hukum (ius delicto)

Prinsip yang dianut adalah barang siapa menimbulkan kerugian

pada orang lain harus memberikan ganti kerugian yang ditimbulkan

tersebut.

Pada dasarnya, pertanggungjawaban perdata bertujuan untuk

memperoleh kompensasi atau kerugian yang diderita disamping untuk

mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dasar untuk menuntut

tanggung jawab dokter yang dianggap telah merugikan pasiennya adalah

mengenai perbuatan melawan hukum atau wanprestasi yang memberikan hak


64

kepada yang dirugikan untuk menerima kompensasi dari pihak lain yang

mempunyai kewajiban terhadap pihak yang menderita kerugian tersebut.( Anny

Isfandyarie, 2006;6)

3. Tanggung Jawab Hukum Administrasi

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran, lebih dianggap mampu untuk

menerapkan ilmunya. Walaupun begitu, yang bersangkutan belum boleh

menerapkan ilmu yang telah dikuasainya terhadap masyarakat karena masih

ada beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi yaitu Pendaftaran

ijazah dan pemberian Izin Melaksanakan pekerjaan Dokter atau Dokter gigi.

Jika dokter tidak mempunyai surat izin praktek, tetapi tetap membuka praktik

dokter, dia akan dikenakan sanksi administrasi yang berupa teguran lisan atau

tulisan, skorsing, dan dapat pula berupa pencabutan izin praktik.(Endang K.

Astuti, 2009;284)

Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran yang

mengatur seputar praktik profesi kedokteran dan kedokteran gigi secara

substansi merupakan undang-undang yang bersifat hukum administrasi dengan

sanksi administrasinya (berstuurstafrecht), walaupun terdapat pula sanksi

pidananya. Pada dasarnya untuk mengetahui adanya pelanggaran etik

kedokteran dan /atau pelanggaran administrasi dimulai penelitiannya oleh

organisasi profesi kedokteran dan kedokteran gigi tersebut. (Syahrul Machmud

, 2008:178-179)
65

C. Sanksi Hukum

Menurut Sudikno Mertukusumo (dalam Achmad Ali, 2002:50), sanksi

tidak lain merupakan reaksi, akibat atau konsekwensi pelanggaran kaidah

sosial. Inilah yang oleh para yuridis disepakati bahwa hukum adalah kaidah

bersanksi. Sehingga karenanya, sanksi paling tidak mengandung unsur-unsur

sebagai berikut :

a. Sanksi merupakan reaksi, atau konsekwensi terhadap

pelanggaran atau penyimpangan kaidah sosial (baik kaidah

hukum maupun kaidah sosial yang lain non hukum)

b. Sanksi merupakan kekuasaan atau alat kekuasaan untuk

memaksakan ditaatinya kaidah sosial tertentu (Achmad Ali, 2002

: 50)

Sanksi-sanksi ini diterapkan oleh kekuasaan publik (legeslatif, eksekutif

dan yudikatif) untuk menjadikan orang-orang untuk bertingkah laku sesuai

dengan kehendak ketentuan perundang-undangan. Karenanya peranan sanksi

(hukuman , ganjaran) dalam proses penegakan hukum.

Ada 3 komponen unsur hukum oleh Lawrence M. Friedman dijabarkan

sebagai berikut :

a. Struktur hukum, yaitu keseluruhan institusi hukum beserta aparatnya


66

b. Substansi hukum, yaitu keseluruhan aturan hukum, norma hukum dan

asas hukum, baik yang tertulis maupun tidak termasuk putusan

pengadilan

c. Kultur hukum, yaitu opini, keyakinan, kebiasaan, sikap warga (cara

berpikir dan bertindak ) baik dari penegak hukum maupun masyarakat,

tentang hukum dan berbagai fenomena tentang hukum.

Terhadap hubungan diatas Achmad Ali menegaskan :

“yang pasti meskipun adanya ketiga komponen diatas… apa saja


yang kita bicarakan tentang hukum, tidak dapat tidak harus
dikaitkan dengan ketiga komponen tersebut secara bersama-
sama dan seimbang.

Ketiga komponen tersebut terkait sangat erat dengan “fungsi hukum”

dan “tujuan hukum” karenanya hal itu sekaligus menjadi indikator keberhasilan

atau kegagalan hukum.

Dalam Pasal 53 UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, bahwa

pasien berhak atas rahasia kedokteran. Adapun hal-hal yang harus

dirahasiakan itu menurut peraturan pemerintah tentang wajib simpan rahasia

kedokteran meliputi segala sesuatu yang diketahui selama melakukan

pekerjaan kedokteran. Segala sesuatu tersebut adalah fakta yang didapat pada

pemeriksaan interprestasi untuk menegakkan diagnosis dan melakukan

pengobatan berdasarkan ketentuan tersebut, maka semua data yang dalam

rekam medis adalah bersifat konfidensial. (Ta’adi, 2009)


67

Untuk melihat sejauh mana tindakan seorang dokter mempunyai

implikasi yuridis jika terjadi kesalahan atau kelalaian dalam perawatan atau

pelayanan kesehatan, serta unsur-unsur apa saja yang menjadi ukuran untuk

menentukan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh dokter.

Tetapi penilaian tersebut harus dilihat dari dua sisi, yaitu sudut etik dan baru

kemudian dari sudut hukum.

Setiap tenaga kesehatan mempunyai kewajiban untuk menyimpan

rahasia tentang penyakit pasien beserta data-data medisnya dapat dijatuhi

sanksi pidana, perdata maupun sanksi administratif, apabila dengan sengaja

membocorkan rahasia tersebut tanpa alasan yang sah, sehingga pasien

menderita kerugian akibat tindakan tersebut.

1. Sanksi hukum pidana

Menurut Guwandi J (2003:77) Dibidang pidana pengungkapan rahasia

diatur di dalam KUHP Pasal 112 yang menyangkup pengungkapan rahasia

negara dan Pasal 322 KUHP yang menyangkut profesi.

Pasal 322 KUHP mengatur bahwa :

(3) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang menurut
jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, ia
diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(4) Jika kejahatannya ini dilakukan terhadap orang yang tertentu maka
perbuatanya itu hanya dituntut atas pengaduan orang itu.
Pasal 170 KUHAP mengatur bahwa :
68

(1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya


diwajibkan menyimpan rahasia, dapat diminta dibebaskan dari kewajiban
untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang
dipercayakan kepada mereka.
(2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan
tersebut.
Menurut Indar (2009:289) berkaitan dengan sanksi hukum pidana,

dalam hal tertentu dokter diperhadapkan kepada keadaan delematis

sehubungan dengan Pasal 322 KUHP. Dalam hal ia diperhadapkan sebagai

saksi dengan keharusan untuk mengungkapkan rahasia kedokteran dalam

sidang pengadilan.

Untuk mengetahui dengan pasti sejauh mana batasan kewajiban

hukum dokter untuk menyimpan rahasia profesi dengan kewajiban hukum

memberikan kesaksian itu terletak ditangan hakim yang berwenang untuk sah

tidaknya berdasarkan Pasal 170 KUHAP. Batasan-batasan itu adalah :

a. Dalam hal dokter hadir di pengadilan sebagai saksi ahli tanpa ada

sangkut pautnya dengan pihak yang berperkara maka dokter

bebas untuk memberi keterangan sesuai dengan keahlian, tanpa

menunjuk person tertentu.

b. Jika dokter tanpil di pengadilan, sebagai pihak yang digugat oleh

pasiennya, maka dokter dapat mengungkap hal-hal yang

diketahui atas rahasia penyakit. Hal ini sebagai konsekwensi logis

bahwa pasien telah melepaskan hak privasi dan dokter memiliki

hak untuk membela kepentingannya.


69

c. Jika dokter diminta oleh pasiennya untuk menjadi saksi bagi

pasien yang berperkara dengan pihak lain, maka dokterpun boleh

mengungkapkan rahasia yang diketahui atas diri pasien, karena

si pasien telah dianggap menggunakan hak waiver atau dokter

dapat juga menolak permintaan pasien melalui hak tolak ungkap.

Menurut Anny Isfandyarie dan Afandi (2006:183) Pelanggaran terhadap

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran sebagaimana telah disebutkan

diatas, wajib simpan rahasia kedokteran tercantum dua kali di dalam Undang-

Undang Praktek Kedokteran yaitu Pasal 48 ayat (1) sampai dengan ayat (3),

dan Pasal 51 huruf (c) Undang-Undang Praktik Kedokteran.

Kewajiban ini boleh disimpangi berdasarkan Pasal 48 ayat (2) Undang-

Undang Praktik Kedokteran yang mengizinkan rahasia kedokteran dibuka

untuk hal-hal sebagai berikut :

a. Untuk kepentingan kesehatan pasien

b. Untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam

rangka penegakan hukum

c. Untuk permintaan pasien sendiri,

d. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Perbuatan dokter yang membuka rahasia jabatannya di luar 4 (empat)

alasan tersebut dapat dikenakan ancaman pidana 1 (satu) tahun kurungan atau
70

denda paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) berdasarkan Pasal

79 butir c Undang-Undang Praktik kedokteran .

2. Sanksi Hukum Perdata

Dokter dianggap bertanggung jawab dalam bidang hukum perdata jika

dokter tidak melaksanakan kewajibannya (ingkar janji), yaitu tidak memberikan

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati dan karena perbuatan melawan

hukum. (Endang Kusuma Astuti, 2009:266)

Pada Pasal 1365 BW :

“Tiap perbuatan melawan hukum, yang membawa kerugian kepada orang


lain, mewajibkan orang-orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian
tersebut”.

Pasal 1366 BW mengatur :

“Setiap orang bertanggung jawab tidak saja atas kerugian karena


perbuatannya tetapi juga atas kerugian yang disebabkan karena kelalaian
atau kurang hatiannya”

Apabila pembocoran rahasia tentang penyakit pasien termasuk data-

data medisnya, mengakibatkan kerugian terhadap pasien, keluarga maupun

orang lain yang berkaitan dengan hal tersebut, maka orang yang membocorkan

rahasia itu dapat digugat secara perdata untuk mengganti kerugian.

3.Sanksi Administrasi

Selain ketentuan pidana yag tercantum di dalam Undang-Undang

Praktik Kedokteran, terhadap dokter dan dokter gigi dapat dikenakan sanksi

administrasi yang di atur di dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI)


71

No.1 Tahun 2005 tentang Registrasi dokter dan dokter gigi, dan Peraturan

Mentri Kesehatan (Permenkes) No 1419/MenKes/Per/X/2005 tentang

Penyelenggaraan Praktik dokter dan Dokter gigi.

Sanksi administrasi yang tercantum di dalam kedua peraturan yang

telah disebutkan diatas dapat berupa :

1. Pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR)

2. Pencabutan Surat Izin Praktek (SIP)

Pasal 26 Permenkes No 1419/MenKes/Per/X/2005 Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota dapat melakukan pencabutan SIP dokter dan dokter gigi :

a. Atas dasar keputusan MKDKI

b. STR dokter atau dokter gigi dicabut oleh KKI

c. Melakukan tindak pidana.

4. Sanksi Etik

IDI (Ikatan Dokter Indonesia) memiliki sistem pengawasan dan

penilaian pelaksanaan etik profesi, yaitu melalui lembaga kepengurusan pusat,

wilayah dan cabang, serta lembaga MKEK (Majelis Kehormatan Etik

Kedokteran) di tingkat pusat, wilayah dan cabang. Selain itu, di tingkat sarana

kesehatan (rumah sakit) didirikan Komite Medis dengan Panitia Etik di

dalamnya, yang akan mengawasi pelaksanaan etik dan standar profesi di


72

rumah sakit. Bahkan di tingkat perhimpunan rumah sakit didirikan pula Majelis

Kehormatan Etik Rumah Sakit (Makersi).

Pada dasarnya, suatu norma etik adalah norma yang apabila dilanggar

“hanya” akan membawa akibat sanksi moral bagi pelanggarnya. Namun suatu

pelanggaran etik profesi dapat dikenai sanksi disiplin profesi, dalam bentuk

peringatan hingga ke bentuk yang lebih berat seperti kewajiban menjalani

pendidikan / pelatihan tertentu (bila akibat kurang kompeten) dan pencabutan

haknya berpraktik profesi. Sanksi tersebut diberikan oleh MKEK setelah dalam

rapat/sidangnya dibuktikan bahwa dokter tersebut melanggar etik (profesi)

kedokteran.

Berdasarkan pedoman organisasi dan tata laksana kerja MKEK IDI

yang mengatur bahwa, jika belum terbentuk MKDKI (Majelis Kehormatan

Disiplin Kedokteran Indonesia) dan MKDI-P (Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia-provinsi), maka sengketa medik tersebut dapat diperiksa

di MKEK IDI pada masing-masing provinsi di Indonesia, sebagaimana termuat

dalam kata pengantar pedoman organisasi dan tata laksana kerja MKEK IDI

yang menerangkan bahwa MKEK saat itu bahkan hingga kini di banyak

provinsi. merupakan satu:satunya lembaga penegak kedokteran sejak

berdirinya IDI. MKEK dalam peran kesejarahannya mengemban juga sebagai

lembaga penegak disiplin kedokteran yang sebelumnya kini di pegang oleh

MKDKI. Termasuk di masa transisi ketika MKEK provinsi belum terbentuk.


73

Yang berhak mengadukan dokter dan dokter gigi kepada ketua MKDKI

terdiri dari dua subyek hukum yaitu :

1. Orang yang mengetahui tindakan dokter atau dokter gigi yang merugikan

kepentingan seseorang (pasien), dan

2. Orang yang kepentingannya dirugikan oleh tindakan dokter atau dokter gigi

(pasien sendiri)

Adapun prosedur pengaduan kepada ketua MKDKI diatur dalam Pasal

66 ayat(2) Undang-Undang Praktik Kedokteran yang sekurang-kurangnya

harus memuat :

1. Identiras pengadu

2. Nama dan alamat tempat praktek dokter atau dokter gigi dan waktu tindakan

dilakukan

3. Alasan pengaduan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 66 ayat (1) dan (3) Undang-Undang

Praktik Kedokteran, maka pengaduan atas kerugian yang diderita seseorang

sebagai akibat tindakan dokter atau dokter gigi dapat melalui beberapa

alternatif, yaitu

1. Pengaduan ditujukan kepada Ketua Mahkamah Konstitusi Disiplin

Kedokteran Indonesia (MKDKI), baik mengenai tuntutan pidana maupun

perdata;
74

2. Pengaduan lansung ditujukan pada pihak yang berwenang (polisi) untuk

tuntutan pidana atau langsung ke pengadilan untuk tuntutan perdata.

3. Pengaduan dapat ditujukan baik kepada MKDKI, maupun kepada pihak yang

berwenang (polisi) atau kepengadilan untuk perkara perdata sekaligus dalam

waktu bersamaan.

Kode etik Kedokteran Indonesia ditetapkan berdasarkan Keputusan

Menteri Kesehatan No. 434/Men.Kes/SK/X/1983 tentang KODEKI. Kode etik

merupakan pedoman perilaku yang berisi garis-garis besar yang berisi

pemandu sikap dan perilaku. KODEKI mengatur hubungan antar manusia yang

mencakup kewajiban umum seorang dokter, hubungan dokter terhadap

pasiennya, kewajiban dokter terhadap teman sejawatnya, dan kewajiban dokter

terhadap dirinya sendiri.

Ada persamaan antara etik dan hukum, yakni keduanya menghendaki

agar manusia berbuat baik dan benar dalam masyarakat. Disamping itu, dalam

etik dan hukum untuk mengatur sanksi yang dapat dijatuhkan. Menurut

Hermien Hadiati Koeswadji (dalam Y.A. Triana Ohoiwutun 2008:57-58) ,

perbedaan mendasar antara etik dan hukum adalah sebagai berikut :

Tabel: Perbedaan antara Etik dan Hukum

No Etik Profesi Hukum

1 Mengatur perilaku pelksana/ Mengatur perilaku manusia

pengemban profesi pada umumnya


75

2 Dibuat berdasarkan consensus/ Dibuat oleh lembaga resmi

kesepakatan antara pihak pelaksana/ Negara yang berwenang bagi

pengemban setiap orang

3 Kekuatan mengikatnya untuk satu Mengikat sebagai sesuatu

waktu tertentu dan mengenai satu hal yang wajib secara umum

tertentu sampai dicabut/diganti dengan

yang baru

4 Sifat sanksinya moral psikologis Sifat sanksinya berupa derita

jasmani/material

5 Macam sanksinya dapat berupa Macam sanksinya dapat

diskreditasi profesinya berupa pidana, ganti rugi,

dan/atau tindakan

6 Kontrol dan penilaian atas Kontrol dan penilaian atas

pelaksanaannya dilakukan oleh pelaksanaanya dilakukan oleh

ikatan/organisasi profesi terkait. masyarakat dan lembaga

resmi penegak hukum

structural.

5. Sanksi Masyarakat

Menurut Indar (2009:289) Tenaga Kesehatan yang membocorkan

rahasia kedokteran akan dijauhi oleh pasien dan masyarakat.


76

D. Kerangka pikir

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan tinjauan pustaka

yang diraikan sebelumnya, maka dasar hukum mengenai kewajiban

menyimpan rahasia kedokteran terdapat pada :

UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran

UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

PP No 10 Tahun 1966 Tentang Wajib Simpan Rahasia

Kedokteran

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 Tentang Lafal

Sumpah Dokter

Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga

Kesehatan

Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

434/Men.Kes/SK/X/1983 tentang Kodeki

Tanggung Jawab dokter terhadap kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran terdapat dua unsur yang mempengaruhi yaitu bentuk tanggung

jawab Dokter dalam menyimpan rahasia kedokteran dan Sanksi hukum bagi

dokter yang tidak melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.

Dalam menjaga rahasia kedokteran, dijabarkan mengenai bentuk

tanggung jawab dokter terhadap kewajiban menjaga rahasia kedokteran yaitu


77

tanggung jawab etik dokter, yang terdiri dari kewajiban dokter terhadap pasien

dan kewajiban terhadap teman sejawat. Dan tanggung jawab hukum dokter,

yang memuat tentang tanggung jawab hukum pidana, perdata dan

administrasi.

Sedangkan Sanksi hukum bagi dokter yang tidak melakukan kewajiban

menyimpan rahasia kedokteran yaitu menyangkut Sanksi hukum pidana,

Sanksi hukum perdata dan Sanksi administrasi dan sanksi etik.

Untuk lebih jelasnya, kerangka pikir yang dikemukakan diatas dapat

dilihat dalam diagram kerangka pikir sebagai berikut :


78

BAGAN KERANGKA PIKIR

Tanggung jawab Dokter terhadap kewajiban

menyimpan Rahasia Kedokteran

A. Tanggung Jawab Etik Profesi : Sanksi hukum dokter yang tidak


Kewajiban terhadap pasien menyimpan rahasia kedokteran
Kewajiban terhadap teman sejawat
1. Sanksi Pidana
B. Tanggung jawab hukum dokter
2. Sanksi Perdata
Tanggung jawab Pidana
Tanggung jawab Perdata 3. Sanksi Administrasi
Tanggung jawab administrasi 4. Sanksi Etik

Terjaminnya Rahasia Kedokteran


79

E. Defenisi operasional

Untuk mencegah terjadinya interpretasi sejumlah istilah yang digunakan

dalam tesis ini, maka penulis mendefinisikan sejumlah istilah sebagai berikut :

A. Rahasia kedokteran merupakan sesuatu yang diketahui berdasarkan

informasi yang disampaikan pasien, termasuk juga segala sesuatu

yang dilihat (diketahui) ketika memeriksa pasien dan tidak boleh

disebarkan kepada orang lain.

B. Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis dokter gigi dan

dokter spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran baik

di dalam maupun luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik

indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

C. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam

bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan

melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk tertentu

memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

D. Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah

kesehatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlukan

kepada dokter dan dokter gigi.

E. Etika profesi adalah pedoman dan aturan yang disepakati bersama

tentang bagaimana mereka berperilaku dalam menjalankan profesi

masing-masing dengan baik dan benar.


80

BAB III

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daya, mengingat wilayah

tersebut merupakan wilayah yang mulai berkembang dengan demikian maka

dasar pertimbangan penelitian memilih obyek maupun tempat peneltian

adalah untuk mengetahui sejauh mana kesadaran akan pentingnya menjaga

rahasia kedokteran dikalangan dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan

tenaga kesehatan lainnya tetap terjaga.

Tipe penelitian

Tipe penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode sosio

yuridis yaitu menelaah atau mengkaji ketentuan perundang-undangan di

bidang kedokteran dan implementasinya kedalam rana empirik atau

pranata sosial.

Populasi dan Sampel

a. Populasi yaitu keseluruhan dari obyek atau seluruh individu atau gejala

atau seluruh kejadian unit yang akan diteliti, karena populasi biasanya

sangat besar dan sangat luas maka kerap kali tidak mungkin untuk

meneliti seluruh populasi.


81

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dokter umum, dokter gigi,

dokter spesialis, perawat dan pasien yang berkunjung ke Rumah Sakit

Umum Daya.

b. Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Karena mengingat dalam penelitian ini

memprioritaskan pihak-pihak yang terkait langsung dalam hal kewajiban

menyimpan rahasia kedokteran maka teknik pengambilan sampel dalam

penelitian ini adalah Purposive Sampling dimana penelitian ini tidak

dilakukan pada seluruh populasi, tapi terfokus pada target. Purposive

Sampling artinya bahwa penetuan sampel mempertimbangkan kriteria-

kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap obyek yang sesuai dengan

tujuan penelitian .Sampel dalam penelitia ini adalah :

a. Dokter ( dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi ) 40

orang terdiri dari :

1. Dokter spesialis 21orang x 30% = 6 orang

2. Dokter umum 11 orang x 30% = 3 orang

3. Dokter gigi 9 orang x 30% = 3 orang

b. Perawat 35 orang x 30% = 10 orang

c. Pasien 140 orang x 30% = 42 orang

4. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan sebagai dasar untuk mendukung

penelitian adalah :
82

a. Data primer : yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sumber

pertama (responden) pada tempat penelitian baik yang bersifat hasil

wawancara, data/informasi yang bersifat kualitatif maupun hasil

kuesioner.

b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber yang

bersifat teoritik atau kepustakaan seperti dokumen-dokumen di Rumah

Sakit Daya, literatur, atau bacaan yang erat kaitannya dengan masalah

yang akan diteliti

5. Teknik Pengumpulan Data

Kegiatan yang akan dilakukan dalam pengumpulan data dalam

penelitian ini yaitu data primer dengan melalui wawancara secara lansung

terhadap imforman dengan mengunakan pedoman wawancara dan kuesioner.

Data sekunder dengan Studi Pustaka dengan cara identifikasi isi dari

data sekunder diperoleh dengan cara membaca, mengkaji, dan mempelajari

bahan pustaka baik berupa peraturan perundang- undangan, artikel ,dari

internet, makalah seminar nasional, jurnal, dokumen, dan data- data lain yang

mempunyai kaitan dengan data penelitian ini serta menelusuri data-data yang

mencakup bahan primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat; bahan

sekunder yaitu yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer;

dan bahan hukum tertier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder

6. Analisis Data
83

Pengumpulan data dilakukan langsung pada subyek penelitian yang

terpilih dengan menggunakan sistem wawancara langsung. Sampel yang

dipilih untuk penelitian adalah dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis dan

juga pasien yang sedang dirawat di RS Umum Daya dengan cara pengambilan

sampel secara Purposive Sampling. Seluruh data atau informasi yang

terkumpul baik yang bersifat data primer maupun data sekunder, akan

dianalisis secara kualitatif.


84

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. Bentuk Tanggung jawab dokter

A. Tanggung Jawab Etik Dokter

1) Kewajiban terhadap pasien

Dokter sebagai tenaga profesional adalah bertanggung jawab dalam

setiap tindakan medis yang dilakukan terhadap pasien. Dalam menjalankan

tugas profesionalnya, didasarkan pada niat baik, yaitu berupaya dengan

sungguh-sungguh berdasarkan pengetahuannya yang dilandasi dengan

sumpah dokter, kode etik, dan standar profesinya untuk menyembuhkan /

menolong pasien.

Menurut Sofwan Dahlan sebagaimana yang dikutip dalam Endang

Kusuma A. (2009:25) Syarat utama melakukan pekerjaan dokter yaitu syarat

kemampuan berupa penguasaan terhadap basic science serta keterampilan

teknik yang dapat diperoleh melalui pendidikan formal, baik didalam maupun

diluar negeri dan kewenangan berupa lisensi (personal privilage) yang dapat

diperoleh melalui permohonan pada otoritas kesehatan.

Bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan

pelayanan kepada pasien secara profesional. Menjaga kerahasiaan informasi

dan hasil pemeriksaan pasien, serta hanya memberikan kepada pihak yang

berhak. Dapat berkonsultasi / merujuk kepada teman sejawat atau pihak yang

lebih ahli untuk mendapatkan hasil yang akurat.


85

Dalam mengupayakan kesembuhan pasien, dokter dibekali oleh lafal

sumpah yang diucapkannya pada awal ia memasuki jabatan sebagai pengobat

yang berlandaskan pada norma etik yang mengikatnya berdasarkan

kepercayaan pasien yang datang padanya itu karena dialah yang dapat

menyembuhkan penyakitnya.

Dalam pelayanan kesehatan dokter memperoleh informasi penyakit

pasien yang sesungguhnya merupakan sesuatu yang sifatnya privasi yang

terpaksa disampaikan kepada dokter demi kesembuhan penyakitnya. Dari sejak

dulu, rahasia pasien ini tetap terjaga dan terjamin ditangan kalangan tenaga

kesehatan. ( Indar, 2010:286)

Dokter merupakan salah satu profesi yang wajib merahasiakan

keterangan pasiennya atau segala hal ikhwal yang berkaitan dengan pasiennya,

dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah rahasia kedokteran. Dokter

harus menjaga kerahasiaan pasiennya yang berkaitan dengan segala penyakit

pasien.(Syamsul Machmud, 2008:86)

Hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan konfidensial,

percaya-mempercayai, dan hormat-menghormati. Oleh karena itu, dokter

berkewajiban memelihara suasana yang ideal tersebut, antara lain dengan

memegang teguh rahasia jabatan dan pekerjaannya sebagai dokter.

Kewajiban menjaga rahasia melekat pada syarat yang dibebankan

kepada profesi tersebut. Setiap orang yang memercayakan penyembuhannya

kepada seorang tenaga kesehatan harus dapat mempercayai bahwa apa yang
86

diungkapkan oleh pasien itu sendiri atau yang kemudian diketahui dari hasil

pemeriksaan yang dianggap dipercayakan kepada tenaga kesehatan harus

dianggap sebagai rahasia. Jika syarat tersebut tidak dipenuhi maka hal ini

menjadi kendala bagi pasien untuk minta pertolongan tenaga kesehatan karena

khawatir akan diceritakan rahasianya.

Rahasia profesi bukan merupakan hak dari sipemegang rahasia (dokter,

rumah sakit) juga bukan untuk kepentingan ilmu kedokteran. Fungsi rahasia

medis hanya untuk mengadakan kepercayaan antara sipencari dan sipemberi

pertolongan, dan dengan demikian bermamfaat untuk kepentingan umum

mengenai kesehatan rakyat, baik secara jasmani maupun rohani. (J. Guwandi,

2010: 236)

Tabel 1. Pendapat responden menyangkut pelaksanaan kewajiban dokter


pada pasien terhadap wajib simpan rahasia kedokteran.

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1 Dilaksanakan 8 66,7 6 60 31 73,8
2 Tidak dilaksanakan - - - - - -
3 Dilksanakan sebagian 4 33,3 4 40 11 26,2

Jumlah 12 100 10 100 42 100


Data primer 2013
Dari data yang diperoleh peneliti, berdasarkan hasil angket yang

diperoleh dimana 66,7% (8 orang) kelompok responden dokter mengatakan

telah melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran, 33,3% (4

orang) kelompok responden dokter mengatakan belum sepenuhnya

melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.


87

Kelompok responden perawat, sebanyak 60% (6 orang) kelompok

responden perawat mengatakan telah melaksanakan kewajiban menyimpan

rahasia kedokteran, 40% (4 orang) kelompok responden perawat belum

sepenuhnya melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.

Dari kelompok responden pasien, sebanyak 73,8% (31 orang)

kelompok responden pasien mengatakan bahwa dokter telah melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran dan 26,2 % (11 orang) mengatakan

bahwa dokter belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran.

Berdasarkan informasi yang dihimpun peneliti menunjukkan bahwa dari

kelompok responden dokter dan perawat mengatakan sudah melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran, walaupun sebahagian kecil

responden dokter maupun perawat mengatakan belum sepenuhnya

melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran. Ketika hal ini

ditanyakan juga pada pasien, mereka mengatakan bahwa sebagian kecil

dokter belum melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.

Pendekatan yang dilakukan oleh peneliti yaitu dengan membagikan

kuessioner. Setelah mendapatkan hasil kuessioner, peneliti melanjutkannya

dengan wawancara yang mendalam kepada responden. Dari data yang

diperoleh seperti yang telah dipaparkan di atas. Pertanyaan yang diajukan

peneliti adalah :
88

“Apakah dokter dan tenaga kesehatan sudah melaksanakan kewajiban


menjaga rahasia kedokteran dengan baik ?“.
Responden yang menjawab “ya” mengemukakan alasan bahwa

mereka telah melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran sebab

rahasia kedokteran merupakan amanah dalam sumpah kedokteran dan kode

etik kedokteran untuk senantiasa menjaga rahasia kedokteran dengan baik.

Pasien juga mempunyai hak yang harus dijaga kerahasiaan penyakitnya.

Responden yang menjawab “ Belum sepenuhnya ” ( mengemukakan

alasan belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran) mengatakan bahwa dalam praktek sehari-hari, dilapangan masih

ada tenaga kesehatan yang belum sepenuhnya menjaga rahasia kedokteran.

Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan para

tenaga kesehatan tentang pentingnya menjaga rahasia kedokteran. Dan juga

situasi dan kondisi dalam ruangan pemeriksaan yang langsung memeriksa

beberapa pasien walaupun setiap pasien ditangani oleh satu dokter. Namun

dalam ruangan tersebut tidak dibatasi oleh sekat atau dinding yang membatasi

antara satu pasien dengan pasien yang lainnya.

Rahasia kedokteran adalah salah satu hak dari hak pasien yang

sekaligus merupakan kewajiban sebagai tenaga kesehatan. Rahasia medis

adalah salah satu bagian dari doktrin kesehatan yang merupakan matarantai

terhadap tindakan medik dalam pelayanan kesehatan.


89

Rahasia kedokteran diatur dalam beberapa peraturan/ketetapan yaitu :

1. Sesuai dengan ketentuan Pasal 48 Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004

Tentang Praktik Kedokteran ditetapkan sebagai berikut:

1. Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik


kedokteran wajib menyimpan rahasia kedokteran.
2. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan
kesehatan pasien, memenuhi permintaan aparatur penegak
hukum dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien
sendiri, atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Dan Pasal 51 huruf c Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 adanya

kewajiban merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,

bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

2. Pasal 57 Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan ayat (1)

menyebutkan :

“Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya


yang telah dikemukakan kepada penyelenggara pelayanan
kesehatan”.

3. UU RI No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit Pasal 38 ayat (1)

menyatakan : “Setiap Rumah Sakit harus menyimpan rahasia kedokteran”.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter

juga disebutkan dalam lafal sumpahnya bahwa

“Dokter harus merahasiakan segala sesuatu yang ia ketahui


karena pekerjaaan dan karena keilmuannya sebagai dokter”.

5. Pasal 22 ayat (1) b Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang

Tenaga Kesehatan ` bahwa bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan


90

tugas profesinya berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan identitas dan

data kesehatan pribadi pasien.

6. Dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia yang disahkan dengan Surat

Keputrusan Mentri Kesehatan RI No 434/MEN.KES/SK/X/1989 tentang

berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia mempertegas jaminan tetap

terjaganya rahasia pasien tersebut. Kode Etik Kedokteran dalam pasal 12

menetapkan:

“Seorang dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang


diketahuinya tentang pasien, karena kepercayaan yang diberikan
kepadanya, bahkan juga setelah pasien meninggal dunia”.

7. Menurut Pasal 322 Kitap Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang

mengatur :

“ Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang ia


wajib menyimpan oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik
yang sekarang maupun yang dahulu, dihukum dengan penjara
selama-lamanya sembilan bulan atau denda sebanyak-
banyaknya enam ratus ribu rupiah”. “Jika kejahatannya ini
dilakukan terhadap orang yang tertentu maka ini hanya dituntut
atas pengaduan orang itu”.

8. Untuk memperkokoh kedudukan rahasia jabatan dan pekerjaan dokter,

telah pula dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Tahun 1966

tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran, dimana dinyatakan bahwa

mentri kesehatan dapat melakukan tindakan administrasi berdasarkan

Pasal 188 Undang-undang tentang Kesehatan, jika tidak dapat dipidanakan

menurut KUHP.
91

9. Berkaitan dengan pengungkapan rahasia kedokteran tersebut diatur dalam

Pasal 10 ayat (2) Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/Menkes/Per/III

/2008 Tentang Rekam Medis sebagai berikut: Informasi tentang identitas,

diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan

dapat dibuka dalam hal :

a. untuk kepentingan kesehatan pasien;

b. memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam

rangka penegakan hukum atas perintah pengadilan;

c. permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri;

d. permintaan institusi/lembaga berdasarkan ketentuan

perundang-undangan; dan

e. untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan audit medis,

sepanjang tidak menyebutkan identitas pasien.

Berdasarkan ketentuan hukum kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran yang telah diuraikan diatas, menurut analisis peneliti sepatutnyalah

dokter dan tenaga kesehatan menjunjung tinggi aturan hukum yang ada dan

senantiasa memberi jaminan bahwa kewajiban menyimpan rahasia kedokteran

merupakan hak mutlak dari pasien. Hak privacy ini bersifat umum dan berlaku

untuk setiap orang. Inti dari hak ini adalah suatu hak atau kewenangan untuk

tidak diganggu. Setiap orang berhak untuk tidak dicampuri urusan pribadinya

oleh lain orang tanpa persetujuannya. Hak atas privacy disini berkaitan dengan

hubungan terapeutik antara dokter-pasien. Hubungan ini di dasarkan atas


92

kepercayaan bahwa dokter itu akan berupaya semaksimal mungkin untuk

memberikan pelayanan pengobatan. Serta kepercayaan bahwa penyakit yang

di derita tidak akan diungkapkan lebih lanjut kepada orang lain tanpa

persetujuan dari pasien .

2) Kewajiban terhadap teman sejawat

Etik Kedokteran mengharuskan setiap dokter memelihara hubungan

baik dengan teman sejawatnya sesuai makna atau butir dan lafal sumpah

dokter yang mengisyaratkan perlakuan terhadap sejawatnya sebagal berikut :

“Saya akan perlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya


sendiri ingin diperlakukan".
Diantara sesama sejawat dokter hendaknya terjalin rasa kebersamaan,

kekeluargaan, dan keakraban sehingga dapat saling membantu, saling

mendukung, dan saling bekerja sama dalam menjalankan profesinya untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

Tabel 2. Pendapatan responden tentang pelaksanaan kewajiban dokter


terhadap teman sejawat .

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1. Ya, ada pelaksanaan 12 100 10 100 33 78,6
2. Tidak ada pelaksanaan - - - - 9 21,4

Jumlah 12 100 10 100 42 100

Data primer 2013


93

Dari data hasil pendapat responden dokter 100% (12 orang)

mengatakan ada pelaksanaan kewajiban terhadap teman sejawat, dimana

dokter tidak mengambil alih pasien dari teman sejawat kecuali dengan

persetujuan dan dengan prosedur etis. Dari responden semua `perawat yakni

sebanyajk 100% (10 orang) mengatakan ada pelaksanaan kewajiban dokter

terhadap teman sejawat.

Sedangkan dari hasil responden pasien sebanyak 78,6% ( 33 orang)

mengatakan ada pelaksanaan kewajiban dokter terhadap teman sejawat

dimana dokter tidak mengambil alih pasien dari teman sejawat kecuali dengan

persetujuan dan dengan prosedur etis, dan sebanyak 21,4% ( 9 orang)

mengatakan tidak ada pelaksanaan kewajiban dokter terhadap teman sejawat.

Dari data yang diperoleh dari responden seperti yang telah dipaparkan

di atas, didapatkan data dimana baik responden dokter maupun perawat

semuanya mengatakan ada pelaksanaan kewajiban terhadap teman sejawat

dimana dokter tidak mengambil alih pasien dari teman sejawat kecuali dengan

persetujuan dan dengan prosedur etis. Namun setelah hal ini ditanyakan pada

pasien, sebahagian kecil dari responden pasien mengatakan dokter tidak

melaksanakan kewajiban terhadap teman sejawat.

Peneliti mengajukan pertanyaan kepada dokter, perawat dan pasien

menyangkut kewajiban dokter terhadap teman sejawat. Adapun bunyi


94

pertanyaannya adalah “apakah dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari

teman sejawatnya kecuali dengan persetujuan dan dengan prosedur etis ? ”

Sesuai dengan hasil dari data yang telah dijabarkan diatas, ditemukan

bahwa semua responden dokter dan perawat mengatakan “ Ya” ada

pelaksanaan kewajiban dokter terhadap teman sejawat dimana dokter tidak

mengambil alih teman sejawat kecuali dengan persetujuan dan dengan

prosedur etis . Para responden dokter mengemukakan bahwa kewajiban

terhadap teman sejawat adalah etik profesi untuk saling menghormati dan

merupakan sumpah dokter untuk memperlakukan teman sejawat sebagaimana

dia ingin diperlakukan.

Dari uraian tersebut diatas, peneliti berpendapat bahwa perlakuan

dokter terhadap teman sejawat sudah menggambarkan bahwa dokter telah

bekerja berdasarkan etik profesi. Hal ini sesuai dengan Pasal 14 KODEKI yang

mengatur :

“Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia


sendiri ingin diperlakukan ”.
Dan Pasal 15 KODEKI yang mengatur :

“Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat,
kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan persetujuan yang etis”.
Para Dokter di seluruh dunia mempunyai kewajiban yang sama.

Mereka adalah kawan-kawan seperjuangan yang merupakan kesatuan aksi

dibawah panji perikemanusiaan untuk memerangi penyakit, yang merupakan


95

salah satu pengganggu keselamatan dan kebahagiaan umat manusia.

Penemuan dan pengalaman baru dijadikan milik bersama. Panggilan suci yang

menjiwai hidup dan perbuatan telah mempersatukan mereka menempatkan

para Dokter pada suatu kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Hal-hal

tersebut menimbulkan rasa persaudaraan dan kesediaan tolong-menolong

yang senantiasa perlu dipertahankan dan dikembangkan.

Sifat-sifat penting lain yang harus dimiliki oleh seorang Dokter ialah :

- Adanya belas kasihan dan cinta kasih terhadap sesama

manusia,perasaan sosial yang ditunjukkan kepada masyarakat.

- Harus berbudi luhur, dapat dipercaya oleh pasien, dan memupuk

keyakinan profesional.

- Seorang dokter harus dapat dengan tenang melakukan

pekerjaannya dan harus mempunyai kepercayaan kepada diri

sendiri.

- Bersikap mandiri dan orisinal karena pengetahuan yang diwarisi

secara turun temurun dari buku-buku masih jauh memadai.

- Ia harus mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga dapat

melakukan pekerjaanya di dalam keadaan yang serba sulit. Dan

tentunya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama.

- Seorang dokter dilarang membeda-bedakan antara pasien kaya

dan pasien miskin.


96

- Seorang dokter harus hidup seimbang, tidak berlebih-lebihan, tidak

membuang waktu serta energi dengan menikmati kesenangan dan

kenikmatan.

- Sebagian besar waktunya harus dicurahkan kepada pasien.

- Seorang dokter harus lebih banyak mendengar dan lebih sedikit

bicara.

- Seorang dokter tidak boleh berkecil hati dan harus merasa bangga

akan profesinya karena semua agama menghormati profesi dokter

Sehubungan dengan itu, maka Etik Kedokteran mengharuskan setiap

dokter memelihara hubungan baik dengan teman sejawatnya sesuai makna

atau butir KODEKI dan lafal sumpah dokter yang mengisyaratkan perlakuan

terhadap sejawatnya .Jika terjadi hubungan antara teman sejawat yang buruk

karena perbedaan pendapat, kejadian tesebut hendaknya diselesaikan secara

musyawarah antar sejawat. Kalau dengan cara demikian juga tidak

terselesaikan, maka dapat diminta pertolongan pengurus IDI / PDGI atau

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

Harus dihindarkan campur tangan dan pihak luar.

Perbuatan sangat tidak etis ialah mengejek teman sejawat dan

mempergunjingkannya di depan pasien atau orang lain tentang perbuatannya

yang dianggap kurang benar. Mencermarkan nama baik teman sejawat berarti

mencemarkan nama baik sendiri, seperti kata pribahasa "Menepuk air di dulang

terpercik muka sendiri".


97

Untuk menjalin dan mempererat hubungan baik antara para teman

sejawat, maka wajib memperlihatkan hal-hal berikut :

a. Dokter yang baru menetap di suatu tempat mengunjungi teman sejawat

yang telah berada di situ. Hal ini tidak perlu dilakukan di kota-kota besar

dimana banyak dokter yang berpraktek, tetapi cukup dengan

pemberitahuan tentang pembukaan praktek baru itu kepada teman

sejawat yang tinggal berdekatan.

b. Setiap dokter menjadi anggota yang setia dan aktif. Dengan menghadiri

pertemuan sosial dan klinik yang diselenggarakan, akan terjadi kontak

pribadi sehingga timbul rasa persaudaraan dapat berkembang dan

penambahan ilmu pengetahuan.

Terjalinnya hubungan baik antara teman sejawat membawa manfaat

tidak saja kepada dokter yang bersangkutan, tetapi juga kepada para

pasiennya. Rasa persaudaraan harus dibina sejak masa mahasiswa agar

menjadi bekal yang berharga setelah nantinya terjun dalam pengabdian pada

masyarakat.

B. Tanggung Jawab Hukum

1) Tanggung Jawab Administrasi

Tanggung jawab hukum dokter adalah suatu keterikatan dokter

terhadap ketentuan – ketentuan hukum dalam menjalankan profesinya.

(Endang K. Astuti, 2009:266). Sebagai subjek hukum administrasi negara,


98

dokter mempunyai hak dan kewajiban. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran,

lebih dianggap mampu untuk menerapkan ilmunya. Walaupun begitu, yang

bersangkutan belum boleh menerapkan ilmu yang telah dikuasainya terhadap

masyarakat karena masih ada beberapa persyaratan administrasi yang harus

dipenuhi yaitu Pendaftaran ijazah dan pemberian Izin Melaksanakan pekerjaan

Dokter atau Dokter gigi.

Tabel 3. Pendapat responden tentang tanggung jawab dokter dalam


bidang hukum administrasi

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1. Bekerja dgn SIP/STR 12 100 8 80 31 73,8
2. Bekrja tanpa SIP/STR - - 2 20 11 26,2

Jumlah 12 100 10 100 42 100

Data primer 2013


Dari data responden mengenai tanggung jawab administrasi, pada

responden dokter sebanyak 100% (12 orang) mengatakan dalam melakukan

pekerjaan kedoteran telah melengkapi administrasi yaitu SIP dan STR. Adapun

menurut responden perawat bahwa 80% (8 orang) mengatakan mereka dalam

bekerja telah melengkapi administrasi,dan sebanyak 20% (2 orang)

mengatakan belum melengkapi administrasi. Sedangkan dari responden pasien

memperlihatkan data dimana 73,8% (31 orang) mengatakan bahwa dokter

dalam bekerja telah melengkapi administrasi dan 26,2% (11 orang)

mengatakan dokter belum melengkapi administrasi.


99

Pertanyaan yang diajukan peneliti menyangkut masalah tanggung

jawab dalam bidang administrasi kepada responden dokter, perawat dan pasien

adalah “Apakah saat ini seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan yang

bekerja telah mempunyai STR dan SIP ? ”

Seluruh responden dokter menjawab “ ya ” mereka dalam bekerja

sudah melengkapi STR dan SIP sebab menurut mereka tanpa STR dan SIP

tidak ada kekuatan hukum untuk bekerja. Karena dengan adanya STR dan SIP

membuktikan bahwa tenaga medis dan tenaga kesehatan berkompeten

dibidangnya.

Sedangkan ketika hal ini diajukan pertanyaan kepada perawat dengan

pertanyaan yang sama, ada sebahagian kecil perawat yang menjawab “tidak

ada penerapan “ dalam hal ini mereka dalam melakukan pekerjaan belum

melengkapi STR dan SIP. Menurut mereka STR dan SIP masih sementara

dalam pengurusan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 telah ditetapkan tentang Wajib

daftar ijazah dokter dan dokter gigi baru, yang disusul dengan Peraturan Mentri

Kesehatan Republik Indonesia No 560/Menkes/Per/X/1981 Tentang Pemberian

Izin Menjalankan Pekerjaan dan Izin Praktik bagi dokter spesialis. Dengan

demikian, bagi dokter yang telah memperoleh izin tersebut, berhak

menjalankan praktik sesuai dengan izin yang diberikan oleh pemerintah

(Departemen Kesehatan). Dan sebaliknya, mereka belum boleh menjalankan

praktik jika belum mendapatkan izin dari pemerintah ( Dinas Kesehatan ).


100

Untuk registrasi tenaga kesehatan, telah diatur dalam Permenkes

Nomor 1796/ Menkes/ PER/ VIII/2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.

Permenkes tersebut intinya mengatur :

 Setiap tenaga kesehatan yang akan menjalankan pekerjaannya

wajib memiliki STR.

 Untuk memperoleh STR, tenaga kesehatan harus memiliki ijazah

dan sertifikat kompetensi.

Ijazah dan sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud diatas,

diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian program

pendidikan dan uji kompetensi

Menurut analisis peneliti, dari peraturan yang dijabarkan di atas hal ini

berguna untuk menjamin dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

sehingga sepatutnyalah dalam melakukan pelayanan medik, dokter dan tenaga

kesehatan terlebih dahulu harus melengkapi Surat Tanda Registrasi dan Surat

Izin Praktik. Seperti ketentuan tersebut diatas dimana Surat Tanda Registrasi

akan diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian program

pendidikan dan uji kompetensi hal ini berguna untuk memperoleh kewenangan

sendiri-sendiri dan tidak dibenarkan melakukan tindakan medis yang

melampaui batas kewenangan yang telah ditentukan.

b. Tanggung Jawab Pidana

Tanggung jawab pidana timbul jika pertama-tama dapat dibukti adanya

kesalahan profesional, misalnya kesalahan dalam diagnosis atau kesalahan


101

cara-cara pengobatan dan perawatan. Suatu perbuatan dapat dikategorikan

sebagai criminal malpraktik apabila memenuhi rumusan delik pidana, yaitu

perbuatan tersebut harus merupakan perbuatan tercela dan dilakukan sikap

batin yang salah, yaitu berupa kesengajaan, kecerobohan, atau kealpaan.

(Endang K. Astuti, 2009;281-282)

Beberapa contoh dari criminal malpractice yang berupa kesengajaan

adalah melakukan abortus tanpa indikasi medis, membocorkan rahasia

kedokteran, tidak melakukan pertolongan seseorang yang dalam keadaan

emergency, melakukan euthanasia, menerbitkan surat keterangan dokter yang

tidak benar, membuat visum et repertum yang tidak benar dan memberi

keterangan yang tidak benar di sidang pengadilan dalam kapasitasnya sebagai

ahli. ( Endang K. Astuti, 2009;282)

Menurut Guwandi J (2003:77) Dibidang pidana pengungkapan rahasia

diatur di dalam KUHP pasal 112 yang menyangkup pengungkapan rahasia

negara dan pasal 322 KUHP yang menyangkut profesi.

Pasal 322 KUHP mengatur bahwa :

(1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang menurut
jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, ia
diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatannya ini dilakukan terhadap orang yang tertentu maka
perbuatanya itu hanya dituntut atas pengaduan orang itu.

Kewajiban menyimpan rahasia jabatan seperti dimaksud Pasal 322

KUHP ini tidak khusus diperuntukkan hanya untuk dokter semata, tetapi untuk
102

semua profesi yang diwajibkan hukum. Khusus untuk dokter ini kewajiban

tersebut diatur dalam Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik

Kedokteran yang mulai efektif berlaku sejak 6 oktober 2005 yaitu pada Pasal 51

huruf c. Bahkan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran berlaku walaupun

pasien telah meninggal dunia. (Syahrul Machmud, 2008;210)

c. Tanggung Jawab Perdata

Dokter dianggap bertanggung jawab dalam bidang hukum perdata jika

dokter tidak melaksanakan kewajibannya (ingkar janji), yaitu tidak memberikan

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati dan karena perbuatan melawan

hukum. (Endang K. Astuti, 2009:266)

Menurut hukum perdata, ada perbedaan antara perbuatan melanggar

hukum dengan wanprestasi yang berhubungan dengan kesalahan yang

dilakukan oleh dokter dalam pelaksanaan perjanjian terapeutik. Menurut Arrest

Hoge Raad (tanggal 13 Januari 1999), perbuatan melanggar hukum mencakup

pengertian berbuat atau tidak berbuatyang melanggar hak orang laindan

bertentangan dengan kewajiban hukum atau kesusilaan atau kepatutan dalam

masyarakat, baik terhadap diriatau benda orang lain. Sementaraitu, pengertian

wanprestasi adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak memenuhi

kewajiban yang didasarkan pada perjanjian/kontrak. (Y.A. Triana Ohoiwutun,

2008;69)
103

Pada dasarnya, pertanggungjawaban perdata bertujuan untuk

memperoleh kompensasi atau kerugian yang diderita disamping untuk

mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dasar untuk menuntut

tanggung jawab dokter yang dianggap telah merugikan pasiennya adalah

mengenai perbuatan melawan hukum atau wanprestasi yang memberikan hak

kepada yang dirugikan untuk menerima kompensasi dari pihak lain yang

mempunyai kewajiban terhadap pihak yang menderita kerugian tersebut.( Anny

Isfandyarie, 2006;6)

Pasal 1365 BW mengatur :

“Setiap perbuatan melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian


bagiorang lain, mewajibkan orang yang kesalahannya mengakibatkan
kerugian itu, mengganti kerugian tersebut"
Berdasarkan ketentuan tersebut diatas menurut pendapat peneliti,

apabila terjadi pembocoran rahasia tentang penyakit pasien yang

mengakibatkan kerugian terhadap pasien, maka orang yang membocorkan

rahasia itu dapat digugat secara perdata untuk mengganti kerugian.

Pada dasarnya, pertanggungjawaban perdata bertujuan untuk

memperoleh kompensasi atau kerugian yang diderita disamping untuk

mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dasar untuk menuntut

tanggung jawab dokter yang dianggap telah merugikan pasiennya adalah

mengenai perbuatan melawan hukum atau wanprestasi yang memberikan hak

kepada yang dirugikan untuk menerima kompensasi dari pihak lain yang
104

mempunyai kewajiban terhadap pihak yang menderita kerugian tersebut.( Anny

Isfandyarie, 2006;6)

II. Sanksi Hukum

a. Sanksi Etik

Etik profesi seharusnya mencerminkan ikatan moral antar profesi,

ikatan moral antar indifidu yang dilayani , serta ikatan moral dengan masyarakat

dimana profesi menyediakan jasanya dan pengakuan eksistensinya. Selain

kode etik profesi, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-prinsip

moral yang dijadikan arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya

suatu keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moril.

Dalam transaksi terapeutik yang diperjanjikan adalah upaya mencari

atau menemukan terapi yang paling tepat. Untuk upaya penyembuhan yang

dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Disinilah letak keterkaitan antar etik dan

hukum yaitu dokter yang terlibat dalam hubungan transaksi terapeutik dengan

pasien dalam melaksanakan tugasnya dilandasi oleh dasar-dasar etik sebagai

seorang dokter yang dibekali dengan sumpah jabatan dan kode etik profesi

kedokteran.

Kode Etik Kedokteran Indonesia disusun dengan mempertimbangkan

International Code of Medical Ethics dengan landasan idiil Pancasila dan

landasan struktural Undang-Undang Dasar 1945. Kode Etik Kedokteran

Indonesia ini mengatur hubungan antarmanusia yang mencakup kewajiban


105

umum seorang dokter, kewajiban dokter terhadap pasiennya, kewajiban dokter

terhadap sejawatnya, dan kewajiban dokter terhadap diri sendiri.

Sudah sewajarnya bahwa penanganan pelanggaran etik kedokteran

dilakukan oleh organisasi profesi sendiri, untuk itu beberapa Negara telah

dibentuk semacam dewan medis (Medikal Council) yang diserahi tanggung

jawab pelaksanaan penanganan pelanggaran kode etik.

Tabel 4.Pendapat responden tentang dokter senantiasa bekerja menurut


kode etik dan tidak melakukan pelanggaran etik.

Kategori pendapat Jumlah


No
Dokter % Perawat % Pasien %
1 Ya 10 83,3 6 60 29 69
2 Belum sepenuhnya 2 16,7 4 40 13 31

Jumlah 12 100 10 100 42 100


Data primer 2013

Dari data responden yang dihimpun oleh peneliti ditemukan bahwa

responden dokter sebanyak 83,3 % (10 orang) mengatakan bahwa dalam

melakukan pekerjaan kedokteran mereka senantiasa bekerja menurut kode etik

dan tidak melakukan pelanggaran etik, dan sekitar 16,7% (2 orang)

mengatakan belum sepenuhnya bekerja menurut kode etik.

Hasil yang diperoleh dari responden perawat terlihat 60% (6 orang)

mengatakan telah bekerja menurut kode etik dan tidak melakukan pelanggaran

etik. Dan sekitar 40% (4 orang) mengatakan belum sepenuhnya bekerja

menurut kode etik.

Sedangkan dari hasil responden pasien, ditemukan sebanyak 69% ( 29

orang) mengatakan dokter bekerja menurut kode etik dan tidak melakukan
106

pelanggaran etik. Sedangkan sekitar 31% (13 orang) mengatakan dokter tidak

bekerja menurut kode etik dan melakukan pelanggaran etik.

Pelanggaran yang sering terjadi adalah Seorang dokter memberi cuti

sakit berulang-ulang tanpa melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan psikis

kepada pasien yang bekerja pada perusahaan swasta atau instansi lainnya,

padahal pasien tersebut mampu melakukan pekerjaan yang sudah menjadi

tanggung jawabnya. Dalam hal ini dokter terkena pelanggaran Kode Etik

Kedokteran (KODEKI) Pasal 7 dan KUHP Pasal 267.

KODEKI Pasal 7 : “Seorang dokter hanya memberi keterangan atau


pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya “.
KUHP Pasal 267 : “Dokter yang dengan sengaja memberikan surat
keterangan palsu tentang adanya atau tidak adanya
penyakit, kelemahan atau cacat, dihukum dengan
hukuman penjara selama 4 tahun”.
Menurut analisis peneliti, Meskipun aturan yang ada berupa norma-

norma untuk profesi dokter telah ditetapkan di dalam Kode Etik Kedokteran,

namun ada saja dokter-dokter yang tidak beretika melakukan tindakan yang

menyeleweng / menyimpang dari norma-norma atau aturan-aturan yang telah

ditetapkan. Padahal di dalam kode etik kedokteran itu sendiri sudah dijelaskan

hal-hal apa saja yang bertentangan dengan kode etik kedokteran, dan hal-hal

apa saja yang tidak bertentangan dengan kode etik kedokteran. Dalam hal ini

indikator perilaku merupakan petunjuk adanya tingkat kesadaran hukum yang

tinggi. Apabila yang bersangkutan patuh atau taat pada hukum, maka dapat

dikatakan tinggi rendahnya tingkat kesadaran hukum akan dapat dilihat dari
107

derajat kepatuhan hukum yang terwujud di dalam pola prilaku manusia yang

nyata.

Berikut beberapa hal yang dipandang bertentangan dengan Etik

Kedokteran Pasal 3 yang berbunyi :

“Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak


boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan
kemandirian profesi” :
1. Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan

keterampilan kedokteran dalam segala bentuk.

2. Menerima imbalan selain dari pada yang layak, sesuai dengan jasanya,

kecuali dengan keihlasan dan pengetahuan dan atau kehendak pasien.

3. Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi / obat,

perusahaan alat kesehatan / kedokteran atau badan lain yang dapat

mempengaruhi pekerjaan dokter.

4. Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung untuk

mempromosikan obat, alat atau bahan lain guna kepentingan dan

keuntungan pribadi dokter.

Dan berikut hal-hal yang dipandang bertentangan dengan etik

kedokteran pasal 4 yang berbunyi “Setiap dokter harus menghindarkan diri dari

perbuatan yang bersifat memuji diri” :

1. Menggunakan gelar yang tidak menjadi haknya.


108

2. Mengiklankan kemampuan, atau kelebihan-kelebihan yang dimilikinya baik

lisan maupun dalam tulisan.

Dalam praktek kedokteran, aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan

dari aspek hukumnya, oleh karena banyaknya norma etik yang telah diangkat

menjadi norma hukum, atau sebliknya norma hukum yang mengandung nilai-

nilai etika. Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban

memenuhi standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang

dokter yang diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku

profesinya. Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan

keprofesian yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.

Menurut Syamsul machmud (2008:142) Etik berbeda dengan hukum,

karena hukum dibentuk oleh perangkat pembentuk undang-undang, ketaatan

atas hukum tersebut dapat dipaksakan dari luar oleh aparat penegak hukum

(law enforcement official) karena dikandung sanksi bagi pelanggarnya.

Sedangkan etika, ketaatan dan kesadaran untuk melaksanakannya timbul dari

dalam diri manusia secara pribadi, dari setiap kalbu insan tidak diperlukan

sanksi yang berat. Etika kedokteran bersama-sama dengan norma hukum,

mempunyai kaitan yang erat dan saling melengkapi dalam arti saling

menunjang tercapainya tujuan masing-masing. Hati nurani dan moralitas,

sebagai objek dari norma etik, yang menghendaki agar manusia selalu bersikap

tindak yang baik akan membuat pergaulan pribadi-pribadi dalam suatu


109

masyarakat menjadi lebih baikpula, sehingga akan terwujud masyarakat yang

tertib dan damai.

Namun pelanggaran terhadap butir-butir Kodeki ada yang merupakan

pelanggaran etik semata-mata, dan ada pula yang merupakan pelanggaran etik

dan sekaligus pelanggaran hukum yang dikenal dengan istilah pelanggaran

etikolegal.

Dengan demikian sebahagian dari kode etik kedokteran tersebut telah

tertuang dalam perundang-undangan baik dalam undang-undang praktek

kedokteran maupun dalam KUHP. Misalnya pelanggaran membuka rahasia

jabatan atau pekerjaan dokter (melanggar Pasal 13 Kodeki sekaligus Pasal 322

KUHP). Sehingga dengan demikian telah berlaku sebagai hukum positif yang

pelaksanaannya dapat dipaksakan dan bersanksi hukum.

Menurut Ikatan Dokter Indonesia (Pedoman Organisasi Tatalaksana

Kerja MKEK, Pengurus besar IDI) yang dikutip dalam Rinanto Suryadhimirtha

(2011 : 24). Pelanggaran etik kedokteran oleh seorang dokter atau dokter gigi

dapat dikenakan sanksi oleh instansi yang berwenang untuk menjatuhkan

sanksi pelanggaran etik kedokteran yaitu Majelis Kehormatan Etik Kedokteran

(MKEK). Berdasarkan pedoman organisasi dan tata laksana kerja MKEK IDI

mengatur, jika belum terbentuk MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin

Kedokteran Indonesia) dan MKDKI-P (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran

Indonesia Propensi) , maka sengketa medik tersebut dapat diperiksa di MKEK

IDI pada masing-masing propensi di Indonesia.


110

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) juga dibentuk yang

merupakan bagian dari Struktur Kepemimpinan IDI. Di tingkat Pusat

kepemimpinan terdiri dari: Pengurus Besar IDI (PB IDI), Majelis Kolegium

Kedokteran Indonesia (MKKI), Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK)

dan Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK) yang memiliki

kewenangan dan bertanggung jawab sesuai tugasnya. Di tingkat wilayah

kepemimpinan terdiri dari Pengurus Wilayah MKEK, perwakilan MKKI,

perwakilan MPPK. Di tingkat Cabang terdiri dari Pengurus Cabang IDI dan

MKEK.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diatur pembentukan dua lembaga

independen yaitu Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Majelis Kehormatan

Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), masing-masing dengan fungsi, tugas

dan kewenangan yang berbeda. Keberadaan KKI yang terdiri dari Konsil

Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi, dimaksudkan untuk melindungi

masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu

pelayanan dokter dan dokter gigi. Fungsi KKI meliputi fungsi pengaturan,

pengesahan, penetapan, dan pembinaan.

Sebagai implementasi dari fungsi tersebut maka KKI mempunyai tugas:

a. Melakukan registrasi dokter dan dokter gigi

b. Mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi

c. Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktik

kedokteran
111

Organ organ tersebut diatas mempunyai tujuan agar dokter dalam

menjalankan profesinya selalu berpegang teguh pada standar profesi, sehingga

bila timbul masalah atau kasus dengan pasien, IDI dapat melindungi

anggotanya. Karena apa yang telah dilakukan anggotanya tersebut sudah

sesuai dengan standar profesi yang dibuatnya.

MKEK akan segera bersidang bila ada pengaduan dari pasien atau

keluarganya, dan mengambil keputusan ada atau tidaknya pelanggaran etik

kedokteran. Keputusan bahwa dokter tidak melanggar etik kedokteran dapat

dijadikan alat bukti bahwa dokter tersebut tidak bersalah kalau digugat

dipengadilan.

Namun jika dalam pemeriksaan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran

(MKEK) menemukan kesalahan yang dilakukan oleh dokter dan dokter tersebut

tidak dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan kesalahan maka MKEK

kalau perlu meneruskan kasus ini kepada Panitia Pertimbangan dan

Pembinaan Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen

Kesehatan (DepKes).

Peraturan Mentri Kesehatan No. 554/Menkes/PER/XII/1982 tentang

Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran (P3EK), maka jenis

sanksi yang dikenakan umumnya berupa teguran yang bersifat tuntunan atau

pembinaan.

Selain jenis hukuman berupa teguran, MKEK melalui usulan kepada

departemen Kesehatan, juga dapat memberi hukuman berupa penundaan gaji


112

atau kenaikan pangkat, penurunan gaji atau pangkat setingkat lebih rendah,

dicabut izin praktek dokter atau dokter gigi untuk sementara atau selamanya.

b. Sanksi Pidana

Dalam sistem hukum Indonesia dikenal berlakunya suatu asas, yaitu

asas legalitas (Syahrul machmud, 2008:186). Asas tersebut mengandung arti,

bahwa suatu perbuatan pidana atau tindak pidana atau perbuatan melanggar

hukum pidana, hanyalah apabila suatu ketentuan pidana yang telah ada

menentukan bahwa perbuatan tersebut merupakan suatu perbuatan pidana.

Hal ini tercantum pada Pasal 1 ayat (1) KUHP, yang bunyinya adalah sebagai

berikut :

“Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali berdasarkan aturan


pidana dalam perundang-undangan yang sebelum perbuatan itu
dilakukan telah ada“.

Kata kecuali dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP ini mengandung

pembatasan terhadap perbuatan pidana, Tidak setiap perbuatan dapat

dikriminalkan walaupun secara etik mungkin bertentangan dengan moral

kemasyarakatan atau bertentangan dengan hukum kebiasaan suatu

masyarakat. (Ari Yunanto dan Helmi, 2010:47).

Dalam konteks praktik kedokteran, unsur terjadinya peristiwa pidana

dimulai dari ketika ada seorang dokter melakukan perbuatan yang sesuai

dengan larangan yang tercantum dalam Undang-Undang yang diancam dengan

hukuman dan perbuatan salah tersebut dapat dipertanggungjawabkan karena


113

berlawanan dengan aturan hukum yang berlaku di masyarakat, maka dokter

yang bersangkutan dapat dikenai hukum pidana.

Tabel 5. Pendapat responden tentang pengetahuan mereka menyangkut


sanksi pidana

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1. Tahu 8 66,7 6 60 24 57,1
2. Tidak tahu 4 33,3 4 40 18 42,9

Jumlah 12 100 10 100 42 100

Data primer 2013


Berdasarkan data yang dihimpun peneliti dari responden dokter

sebanyak 66,7% (8 orang) mengatakan mereka mengetahui tentang adanya

sanksi pidana jika tidak menjaga rahasia kedokteran. Dan sebanyak 33,3% (4

orang) mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang adanya sanksi

pidana jika tidak menjaga rahasia kedokteran.

Dari data responden perawat 60% (6 orang) mengatakan bahwa

mereka mengetahui tentang adanya sanksi pidana bagi dokter yang tidak

menjaga rahasia kedokteran dan sebanyak 40% ( 4 orang) mengatakan mereka

tidak mengetahui tentang adanya sanksi pidana tersebut.

Sedangkan responden pasien 57,1% (24 orang) mengatakan mereka

mengetahui tentang adanya sanksi pidana jika dokter tidak menjaga rahasia

kedokteran dan sekitar 42,9% (18 orang) mengatakan bahwa mereka tidak

mengetahui tentang sanksi tersebut.


114

Adapun standar yang digunakan oleh peneliti, dikatakan mengetahui

apabila responden pernah membaca aturan tersebut, sedangkan tidak

mengetahui apabila tidak pernah mendengar ada aturan yang mengatur

tentang adanya sanksi pidana jika dokter membuka rahasia kedokteran. Dari

data yang diperoleh ditemukan bahwa baik responden dokter, perawat maupun

pasien sebahagian mengatakan bahwa mereka tidak tahu tentang adanya

sanksi pidana jika dokter tidak menjaga rahasia kedokteran.

Menurut analisis peneliti, kurang diketahuinya peraturan tersebut,

menyebabkan ada sebahagian dokter dan perawat belum sepenuhnya

menyimpan rahasia kedokteran. Apabila seseorang tidak mengetahui hukum,

maka dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran hukumnya masih rendah, kalau

dia telah berperilaku sesuai dengan hukum, maka kesadaran hukumnya tinggi.

Namun apapun alasannya jika telah menyalahi peraturan atau ketentuan

hukum yang ada, dianggap sebagai pelanggaran, sehingga logika hukumnya

adalah penjatuhan sanksi tetap harus dilaksanakan. Tetapi hasil penelitian

menunjukkan, kasus seperti ini tidak pernah terangkat sampai ke permukaan.

Hasil wawancara dengan Drg. Komang Widya Arya Kepala Bidang

Pelayanan Masyarakat di Rumah Sakit Daya.

“…Kami disini sudah ada alur pelayanan jika terjadi sengketa di


Rumah Sakit Daya. Dalam hal sengketa pasien dengan dokter
menyangkut pembocoran rahasia kedokteran dan sengketa lain yang
berhubungan dengan pelayanan kesehatan, bahagian HUMAS
(Hubungan Masyarakat) yang ada di Rumah Sakit Daya, akan
menampung keluhan-keluhan dari pasien maupun dari keluarga
pasien dan selalu diselesaikan secara kekeluargaan sehingga hal
tersebut tidak perlu sampai ke Komite Medis Rumah Sakit. Namun
115

jika masalah ini tidak bisa terselesaikan maka pelanggaran tersebut


akan diselesaikan oleh Komite Medis Rumah Sakit dengan panitia
etik di dalamnya, dan jika dalam sidang tersebut ditemukan
pelanggaran, maka Komite Medis akan menjatuhkan sanksi terhadap
dokter dan tenaga kesehatan yang melakukan pelanggaran terhadap
kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.....”
Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran tercantum dua kali di dalam

Undang-Undang No 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran yaitu Pasal 48

ayat (1) sampai ayat (3). Serta Pasal 51 huruf (c) Undang-Undang Praktik

Kedokteran . Adapu isi Pasal 51 huruf (c) Undang-Undang Praktik Kedokteran

adalah :

“Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien,


bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia “.
Kewajiban ini boleh dikesampingkan berdasarkan Pasal 48 ayat (2)

Undang-Undang Praktik Kedokteran yang membolehkan rahasia kedokteran

dibuka untuk hal-hal sebagai berikut :

1. Untuk kepentingan kesehatan pasien, dokter boleh menjelaskan keadaan

pasien tersebut kepada keluarganya, misalnya : pasien kanker stadium lanjut

yang sulit untuk disembuhkan, tidak mungkin akan akan dijelaskan kepada

pasien yang bersangkutan. Dalam hal demikian keluarga pasien boleh diberi

tahu agar bisa mempersiapkan dirinya seandainya terjadi akibat pengobatan

maupun hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

2. Untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka

penegakan hukum. Dalam hal ini dokter boleh membuka rahasia

kedokterannya, misalnya: seorang pelaku tindak pidana dikonsultasikan


116

kepada dokter untuk menentukan mampu atau tidaknya pelaku tersebut

bertanggunggung jawab secara hukum.. Dalam Pasal 44 ayat (1) Kitap

Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) disebutkan bahwa :

“Tiada dapat dipidana barang siapa mengerjakan suatu


perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya,
sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akalnya“.

Menurut pasal 44 tersebut orang yang tidak dapat dihukum adalah orang

yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya karena :

a. Orang yang kurang sempurna akalnya, misalnya : idiot, buta-tuli, bisu

sejak lahir, mental retarded, dan orang-orang yang termasuk didalam

golongan orang yang kurang sempurna kekuatan pikiran, daya pikiran

lainnya sehingga pikirannya tetap sebagai anank-anak yang belum

dewasa. Penyakit kurang sempurna akalnya ini biasanya merupakan

cacat sejak lahir.

b. Sakit berubah akalnya, misalnya gila, histeria, epilepsi dan sebagainya

yang disebabkan karena sakit. Berubahnya akal pada golongan ini

biasanya disebabkan karena penyakit yang diderita orang tersebut,

bukan merupakan penyakit bawaan sejak lahir.

Dalam penentuan kurang sempurna akal atau sakit berubah akal inilah

biasanya dokter diijinkan untuk memeriksa dan memberikan keterangan

dalam rangka membantu penegakan hukum. (Anny Isfandyarie, 2006:115)


117

3. Atas permintaan pasien sendiri.

4. Berdasarkan ketentuan perundang – undangan.

Dengan ketentuan yang telah dijabarkan sesuai Pasal 48 ayat (2)

Undang-Undang Praktik Kedokteran, maka perbuatan dokter yang membuka

rahasia diluar empat alasan tersebut akan dikenakan sanksi pidana 1 (satu)

tahun kurungan atau denda paling banyak Rp 50.000.000 (lima puluh juta

rupiah) berdasarkan Pasal 79 butir (c) Undang-Undang No 29 Tahun 2004

Tentang Praktek Kedokteran.

Selain itu ketentuan tentang kewajiban menyimpan rahasia kedokteran

terdapat pada Pasal 322 KUHP yang mengatur bahwa :

(1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia yang menurut
jabatan atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu, ia
diwajibkan untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seseorang tertentu, maka perbuatan
itu hanya dapat dituntut atas pongaduan orang itu.

Akan tetapi berkaitan dengan sanksi hukum pidana, dalam hal tertentu

dokter diperhadapkan kepada keadaan yang dilematis sehubungan dengan

Pasal 322 KUHP. Dalam hal ia diperhadapkan sebagai saksi dengan keharusan

mengungkapkan rahasia kedokteran dalam sidang pengadilan .Ketentuan

Pasal 322 KUHP melarang dokter untuk mengungkap rahasia kedokteran

(dokter bersikap pasif), sebaliknya Pasal 224 KUHP mewajibkan dokter untuk

memberi kesaksian (dokter bersikap aktif).


118

Untuk mengetahui dengan pasti sejauhmana batasan kewajiban hukum

dokter dalam menyimpan rahasia profesi dengan kewajiban hukum memberi

kesaksian itu terletak ditangan hakim yang berwenang untuk menentukan sah

atau tidaknya berdasarkan Pasal 170 KUHP. Batasan-batasan itu adalah :

(Indar, 2010:289) :

1. Dalam hal dokter hadir dipengadilan sebagai saksi ahli tanpa adanya

sangkut pautnya dengan pihak yang berperkara maka dokter bebas untuk

memberikan keterangan sesuai dengan keahlian, tanpa menunjuk person

tertentu.

2. Jika dokter tanpil di pengadilan, sebagai pihak yang digugat oleh pasiennya,

maka dokter dapat mengungkapkan hal-hal yang diketahui atas rahasia

penyakit pasiennya.

3. Jika dokter diminta oleh pasiennya untuk menjadi saksi bagi pasien yang

berperkara dengan pihak lain, makadokterpun boleh mengungkapkan

rahasia yang diketahui atas diri pasien, karena si pasien telah dianggap

menggunakan hak waiver atau dokter dapat juga menolak permintaan

pasiennya melalui hak tolak ungkap (verschongsrecht).

c. Sanksi Perdata

Dokter dianggap bertanggung jawab dalam bidang hukum perdata jika

dokter tidak melaksanakan kewajibannya (ingkar janji), yaitu tidak memberikan


119

prestasinya sebagaimana yang telah disepakati dan karena perbuatan melawan

hukum. (Endang K. Astuti, 2009:266)

Pembuktian hukum perdata menurut Hariyani dalam Anny Isfandyarie,

(2006:181-182) sebagai berikut :

(1) Bila seorang dokter dituntut pasien karena melakukan malpraktik medik,

maka biasanya dasar tuntutan yang diajukan pasien kepada dokter antara

lain :

i. Dokter dituduh melakukan wanprestasi (ingkar janji), dituntut

berdasarkan Pasal 1239 BW;

ii. Dokter dituduh melakukan perbuatan melawan hukum, dituntut

berdasarkan Pasal 1365 BW ;

iii. Dokter dituduh melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan

kerugian, dituntut berdasarkan Pasal 1366 BW; dan

iv. Dokter dituduh melalaikan pekerjaan sebagai penanggung

jawab, dituntu berdasarkan Pasal 1367 BW.

(2). Dalam menghadapi tuntutan atau gugatan dari pasien tersebut, pasien

harus membuktikan dasar tuntutan atau gugatannya yang diatur didalam

Pasal 1865 BW yang berbunyi :

“ Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai sesuatu


hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri ataupun
membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu
peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa
tersebut “.
120

Dari Pasal 1865 BW tentang pembuktian diatas, dapat diartikan bahwa

bila pasien menggugat atau menuntut dokter, maka ia harus dapat

membuktikan kesalahan maupun kelalaian dokter yang dituntut tersebut.

Tabel 6 : Pendapat responden tentang pengetahuan mereka menyangkut


sanksi perdata.

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1. Tahu 8 66,7 6 60 15 35,7
2. Tidak tahu 4 33,3 4 40 27 64,3

Data primer 2013

Berdasarka data yang dihimpun peneliti dari responden dokter

sebanyak 66% (8 orang) mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang

adanya sanksi perdata yang dijatuhkan pada dokter yang tidak melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran dan sebanyak 33,3% (4 orang)

mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang adanya sanksi perdata

tersebut.

Dari data responden perawat sebanyak 60% (6 orang) mengatakan

bahwa mereka mengetahui tentang adanya sanksi perdata bagi dokter yang

tidak menyimpan rahasia kedokteran dan sebanyak 40% (4 orang) mengatakan

bahwa mereka tidak mengetahui tentang adanya sanksi perdata tersebut.

Sedangkan dari responden pasien ditemukan sebanyak 35,7% (15

orang) mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang adanya sanksi perdata

yang dijatuhkan bagi dokter yang tidak menyimpan rahasia kedokteran dan
121

sebanyak 64,3% (27 orang) mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui

tentang adanya sanksi perdata tersebut.

Standar yang digunakan oleh peneliti, dikatakan mengetahui apabila

responden pernah membaca aturan tersebut, sedangkan tidak mengetahui

apabila tidak pernah mendengar ada aturan yang mengatur tentang adanya

sanksi perdata jika dokter membuka rahasia kedokteran. Dari data yang

diperoleh ditemukan bahwa baik responden dokter, perawat maupun pasien

sebahagian mengatakan bahwa mereka tidak tahu tentang adanya sanksi

perdata jika dokter tidak menjaga rahasia kedokteran.

Menurut Antari Innaka dalam Rinanto Suryadhimirtha, ( 2011:28-31)

gugatan berdasarkan wanprestasi dalam hukum perikatan, yang dimaksud

dengan wanprestasi adalah tidak dipenuhinya oleh suatu prestasi oleh salah

satu pihak (dibitur) karena adanya unsur kesalahan . Kesalahan itu sendiri

dapat berupa :

a. Kesengajaan , yaitu perbuatan yang menyebabkan tidak terpenuhinya

kewajiban itu memang dikehendaki /diketahui oleh dibitur

b. Kelalaian, orang yang melakukan perbuatan itu hanya mengetahui

adanya kemungkinan bahwa akibat yang merugikan itu akan timbul.

Yang dapat dikategorikan wanprestasi karena :

b. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan.


122

c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

terlambat.

d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi

tidak sempurna.

e. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya

dilakukan.

Akibat dari adanya gugatan berdasarkan wanprestasi itu adalah

timbulnya kewajiban untuk memberi ganti rugi sebagaimana diatur dalam Buku

III KUHP Perdata. Di dalam transaksi terapeutik, gugatan berdasarkan

wanprestasi dapat diajukan apabila seorang tenaga kesehatan yang berpraktik

secara mandiri atau suatu lembaga (Rumah Sakit) telah berjanji untuk memberi

pelayanan kesehatan atau transaksi terapeutik, tetapi kemudian ternyata bahwa

ia tidak melaksanakan janji tersebut , padahal ia tidak dalam keadaan

memaksa.

Adapun gugatan berdasarkan perbuatan melawan hukum oleh pasien

dapat dilakukan dengan mendasarkan ketentuan pada UU Kesehatan maupun

ketentuan yang diatur dalam KUHPerdata. Bedanya dengan gugatan

berdasarkan wanprestasi adalah didasarkan pada transaksi terapeutik.

Perbuatan melawan hukum selain perbuatan seseorang bertentangan

dengan Undang-Undang , juga jika seseorang berbuat atau tidak berbuat yang :

1. Melanggar hak orang lain

2. Bertentangan dengan kewajiban hukum orang yang berbuat


123

3. Berlawanan dengan kesusilaan

4. Tidak sesuai dengan kepatutan dan kecermatan tentang diri atau

orang lain dalam pergaulan hidup dalam masyarakat.

Dalam gugatan perbuatan melawan hukum, yang dimaksud dengan

kerugian juga meliputi kerugian material dan kerugian immaterial sebagaimana

yang berlaku dalam gugatan berdasarkan wanprestasi. Dengan ketentuan

tersebut diatas, apabila diperbandingkan maka gugatan berdasarkan perbuatan

melawan hukum jauh lebih luas daripada perbuatan wanprestasi karena :

(Rinanto Suryadhimirtha, 2011:31)

a. Gugatan wanprestasi dasarnya adalah perjanjian, yang dalam hal ini adalah

transaksi penyembuhan (terapeutik) antara tenaga kesehatan atau Rumah

Sakit dengan pasien. Dengan berlakunya asas kepribadian dalam transaksi

terapeutik, maka yang terikat hanya pasien dan tenaga kesehatan atau

Rumah Sakit. Oleh karena itu, jika transaksi terapeutik tersebut tidak

mencapai tujuannya, karena terjadi wanprestasi, maka gugatan hanya dapat

ditujukan pada dokter atau dokter gigi atau Rumah Sakit, sedangkan pihak

lain yang membantu tidak dapat digugat berdasarkan wanprestasi.

b. Sebaliknya didalam gugatan berdasarkan perbuatan melawan hukum,

gugatan tidak hanya dapat datujukan pada perbuatan itu saja, melainkan

juga terhadap orang-orang yang bertanggung jawab atas perbuatan yang

dilakukan oleh orang-orang yang ada dibawah tanggungannya. Rumah Sakit

dapat digugat untuk bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum


124

yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit tersebut

atau dapat digugat untuk perbuatan melawan hukum yang dilakukan laboran

atau perawat yang bekerja dibawahnya.

c. Gugatan yang berdasarkan wanprestasi dasarnya adalah perjanjian, jadi

gugatannya hanya dapat diajukan bila dokter atau dokter gigi melakukan

perbuatan yang bertentangan dengan perjanjian. Sebaliknya, gugatan

berdasarkan perbuatan melawan hukum lebih luas karena dapat ditujukan

terhadap setiap perbuatan yang masuk kategori perbuatan melawan hukum

yang menimbulkan kerugian pada pihak lain.

Menurut analisis peneliti, kurang diketahuinya peraturan tersebut,

menyebabkan ada sebahagian dokter dan perawat belum sepenuhnya

menyimpan rahasia kedokteran. Berdasarkan peraturan yang telah dijelaskan

diatas, dalam Hukum perdata yang menyangkut gugatan seorang pasien

terhadap dokter yang menanganinya hampir semuanya, adalah menyangkut

tuntutan ganti rugi. Dengan demikian apabila seorang dokter terbukti telah

melakukan wanprestasi atau perbuatan yang melanggar hukum, maka bisa

dituntut membayar ganti kerugian.

d. Sanksi Administrasi

Penegakan hukum administrasi dilakukan karena adanya pelanggaran

administrasi dari profesi kedokteran atau kedokteran gigi, juga terhadap

pelanggaran etik kedokteran. Dalam Hukum Administrasi Negara, penggunaan


125

sanksi administrasi merupakan penerapan kewenangan pemerintahan, dimana

kewenangan ini berasal dari aturan hukum Administrasi Negara tertulis dan

tidak tertulis. Sanksi merupakan bagian penting dalam setiap peraturan

perundang-undangan, bahkan J.B.J.M. ten Berge menyebutkan bahwa sanksi

merupakan inti dari penegakan Hukum Administrasi Negara (Sujamto, 1996:

298)

Menurut J.J. Oosternbrink : Sanksi administrasi adalah sanksi yang

muncul dari hubungan antara Pemerintah-Warga Negara dan yang

dilaksanakan tanpa perantara pihak ketiga, yaitu tanpa perantara kekuasaan

peradilan, tetapi dapat secara langsung dilaksanakan oleh administrasi sendiri.

Ketika warga Negara melalaikan kewajiban yang timbul dalam hubungan

adminstrasi, maka pihak lawan (yaitu pemerintah) dapat mengenakan sanksi

tanpa perantaraan hakim.

Hal itu berarti sanksi dapat dilaksanakan oleh pimpinan unit kerja

sebagai pejabat administrasi Negara yang diberikan oleh peraturan perundang-

undangan yang ada.

Sanksi administrasi merupakan bagian penutup yang penting dalam

peraturan hukum administrasi Negara. Sanksi digunakan atau dimaksudkan

agar kewajiban – kewajiban dan larangan-larangan bagi masyarakat yang

dituangkan dalam peraturan hukum administrasi dapat dipatuhi oleh

masyarakat.
126

Tabel 7. Pendapat responden tentang pengetahuan mereka menyangkut


sanksi administrasi :

No Kategori pendapat Jumlah


Dokter % Perawat % Pasien %
1. Tahu 5 41,7 4 40 14 33,3
2. Tidak tahu 7 58,3 6 60 28 66,7

Jumlah 12 100 10 100 42 100

Data primer 2013

Dari data hasil pendapat responden dokter 41,7% (5 orang)

mengatakan mereka mengetahui tentang adanya sanksi administrasi yang

diterapkan oleh mentri kesehatan terhadap dokter yang tidak melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran, dan sebanyak 58,3% (7 orang)

mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang adanya sanksi

administrasi tersebut.

Hasil yang diperoleh dari responden perawat sebanyak 40% (4 orang)

mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang adanya sanksi administrasi

tersebut, sedangkan sebanyak 60% (6 orang) mengatakan bahwa mereka tidak

mengetahui tentang adanya sanksi administrasi tersebut.

Sedangkan dari data responden pasien ditemukan sebanyak 33,3% (14

orang) mengatakan mereka mengetahui tentang adanya sanksi administrasi

jika dokter tidak melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia kedokteran dan

sebanyak 66,7% (28 orang) mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui

tentang adanya sanksi administrasi tersebut.


127

Standar yang digunakan oleh peneliti, dikatakan mengetahui apabila

responden pernah membaca aturan tersebut, sedangkan tidak mengetahui

apabila tidak pernah mendengar ada aturan yang mengatur tentang adanya

sanksi Administrasi jika dokter membuka rahasia kedokteran. Dari data yang

diperoleh ditemukan bahwa baik responden dokter, perawat maupun pasien

sebahagian mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang adanya sanksi

administrasi tersebut, tetapi sebahagian dokter,perawat dan pasien

mengatakan tidak tahu tentang adanya sanksi administrasi jika dokter tidak

menjaga rahasia kedokteran.

Pada dasarnya untuk mengetahui adanya pelanggaran etik kedokteran

dan /atau pelanggaran administrasi dimulai penelitiannya oleh organisasi

profesi kedokteran dan kedokteran gigi tersebut. (Syahrul Machmud , 2008:179)

Terhadap pelanggaran etik kedokteran atau lembaga yang dapat

memberikan sanksi adalah Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Dalam Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran

sebutan MKEK ini menjadi Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia

(MKDKI) yang menerima pengaduan dan berwewenang memeriksa dan

memutuskan ada tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter karena melanggar

penerapan disiplin ilmu kedokteran dan penerapan sanksi. Adapun isi dari

Pasal 69 Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran

adalah:
128

1. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat

dokter, dokter gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia.

2. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa dinyatakan

tidak bersalah atau pemberian sanksi disiplin.

3. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berupa:

i. Pemberian peringatan tertulis ;

ii. Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi

atau surat izin praktik; dan/atau

iii. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di

institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran

gigi.

Dalam Undang-Undang No 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan

dijelaskan tentang wewenang Mentri Kesehatan dalam memberikan tindakan

administrasi terhadap tenaga kesehatan yang melakukan pelanggaran. Adapun

bunyi Pasal188 Undang-Undang No 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan adalah:

1. Mentri dapat mengambil tindakan administrasi terhadap tenaga kesehatan

dan fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang ini.

2. Mentri dapat mendelegasikan kewenangan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) kepada lembaga pemerintah nonkementrian, kepada dinas

provensi atau kabupaten/kota yang tugas pokok dan fungsinya di bidang

kesehatan.
129

3. Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa :

i. Peringatan secara tertulis

ii. Pencabutan izin sementara atau izin tetap.

4. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengambilan tindakan

administratif sebagaimana dimaksud pasal ini diatur oleh mentri.

Dengan demikian sanksi administrasi dapat berupa peringatan tertulis,

diwajibkan mengikuti pendidikan lanjutan, pencabutan surat izin praktek,

penundaan kenaikan gaji berkala, penurunan pangkat dan sebagainya.

Berdasarkan peraturan yang telah dijelaskan diatas, menurut analisis

peneliti kurang diketahuinya peraturan tersebut, menyebabkan ada sebahagian

dokter dan perawat belum sepenuhnya menyimpan rahasia kedokteran. Apabila

seseorang tidak mengetahui hukum, maka dapat dikatakan bahwa tingkat

kesadaran hukumnya rendah, kalau dia telah berperilaku sesuai dengan

hukum, maka kesadaran hukumnya tinggi.


130

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Kewajiban menyimpan rahasia kedokteran sebagai kewajiban dokter

terhadap pasien, dalam pelaksanaannya belum terlaksana secara

optimal. Hal ini disebabkan karena adanya sebahagian dokter dan

perawat yang belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban menyimpan

rahasia kedoktera, hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman dan

pengetahuan mereka tentang pentingnya menjaga rahasia kedokteran

dengan baik. Rahasia kedokteran hanya bisa dibuka menurut ketentuan

Undang-Undang Praktik Kedokteran Pasal 48 ayat (2) yang

mengizinkan rahasia kedokteran dibuka untuk hal-hal sebagai berikut :

a. Untuk kepentingan kesehatan pasien

b. Untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam

rangka penegakan hukum

c. Atas permintaan pasien sendiri

d. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Dengan demikian dokter dan tenaga kesehatan tidak dapat membuka

rahasia kedokteran sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan

tersebut.
131

2. Sanksi dokter yang tidak melaksanakan kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran terhadap pasien yakni berupa sanksi etik, sanksi

administrasi, saksi pidana dan saksi perdata.

a. Sanksi etik akan dijatuhkan oleh MKEK (Majelis Kehormatan

Etik Kedokteran) berupa penundaan gaji atau kenaikan

pangkat, penurunan gaji atau pangkat setingkat lebih rendah,

dicabut izin praktek dokter atau dokter gigi untuk sementara

atau selamanya

b. Terjadinya peristiwa pidana dimulai dari ketika ada seorang

dokter melakukan perbuatan yang sesuai dengan larangan

yang tercantum dalam Undang-Undang. Sanksi pidana

dijatuhkan kepada dokter yang tidak melaksanakan kewajiban

menyimpan rahasia kedokteran terdapat pada pasal 79 butir (c)

Undang-Undang No 29 tahun 2004 Tentang Praktek

kedokteran dan pasal 322 KUHP . Namun Kewajiban ini boleh

dikesampingkan berdasarkan pasal 48 ayat (2) Undang-

Undang Praktik Kedokteran yang membolehkan rahasia

kedokteran dibuka .

c. Sanksi administrasi yang ditujukan kepada dokter berkaitan

dengan persyaratan administrasi yang menyangkut

kewenangan dokter dalam menjalankan tugas profesinya


132

d. Sanksi perdata berkaitan dengan aturan-aturan /pasal-pasal

dalam kitap Undang-Undang Hukum perdata mencakup 2 hal

yaitu :

1. Tuntutan atau gugatan wanprestasi

2. Tuntutan atas perbuatan melawan hukum

Jika dokter terbukti melakukan pelanggaran wanprestasi atau

perbuatan yang melanggar hukum, maka bisa dituntut

membayar ganti kerugian.

Dalam hal ini belum ada penerapan sanksi tersebut yang dijatuhkan

terhadap dokter dan tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan

kewajiban menyimpan rahasia kedokteran yang bekerja di Rumah Sakit

Daya . Hal ini terjadi karena setiap masalah yang menimpa pasien

menyangkut pelanggaran terhadap kewajiban menyimpan rahasia

kedokteran selalu diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu

oleh bagian HUMAS (Hubungan Masyarakat) yang ada di Rumah Sakit

sehingga hal tersebut tidak perlu sampai ke Komite Medis Rumah

Sakit. Sebab jika masalah ini tidak bisa terselesaikan maka

pelanggaran tersebut akan diselesaikan oleh komite medis Rumah

Sakit dengan panitia etik di dalamnya, dan jika dalam sidang tersebut

ditemukan pelanggaran, maka komite medis akan menjatuhkan sanksi

terhadap dokter dan tenaga kesehatan yang melakukan pelanggaran

terhadap kewajiban menyimpan rahasia kedokteran.


133

B. SARAN

1. Perlu digalakkan sosialisasi hukum tentang kewajiban menyimpan

rahasia kedokteran dan sosialisasi nilai-nilai etik kedokteran termasuk

kode etik profesi yang menjadi pedoman berperilaku profesi bagi para

dokter yang bekerja. Diperlukan juga berupa program pendidikan

kedokteran berkelanjutan yang lebih gencar lagi di bidang etik dan

hukum kedokteran dengan memberi mata pelajaran etika dan hukum

kedokteran bagi mahasiswa kedokteran sejak dini serta memberi bekal

buku kodeki bagi setiap dokter dan tenaga kesehatan yang baru lulus

dari pendidikan.

2. Pemberian sanksi secara tegas, konsisten, serta berkeadilan

hendaknya bertujuan untuk mengendalikan dan memberikan efek jera

serta menimbulkan kesadaran bersama serta perlunya pengawasan

yang lebih optimal bagi tenaga kesehatan yang bekerja sehingga akan

timbul kesadaran akan pentingnya menjaga rahasia kedokteran bagi

dokter dan tenaga kesehatan.


134

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Ali. 2002. Menguak Tabir Hukum. PT Toko gunung agung tbk, Jakarta

Amir Ilyas. 2013. Pertanggungjawaban Pidana Dokter dalam Malpraktik Medik


di Rumah Sakit. Disertasi, Program Pascasarjana Universitas
Hasanuddin Makassar
Anny Isfandyarie. 2006. Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi bagi Dokter.
Prestasi pustaka, Jakarta
Anny Isfandyarie dan Affandi, Fachrizal. 2006. Tanggung Jawab Hukum dan
Sanksi bagi Dokter Buku ke II. Prestasi pustaka, Jakarta.
Ari Yunanto. dan Helmi, 2010. Hukum pidana Malpraktek medik Tinjauan dan
Perspektif Medikolegal. Penerbit Andi, Yogyakarta
Ahdiana Yuni Lestari, 2003. Jurnal Hukum Respublica No. 4 Vd 2

E.Y. Kanter 2001. Etika Profesi Hukum (sebuah Pendekatan Sosio-Religius).


Storia Grafika. Jakarta
Eleanora F.N, 2011, Hukum Sebagai Norma Sosial Dalam Masyarakat, Jurnal
Ilmu Hukum Amanna Gappa Vol. 19 Nomor 2, Juni 2011. hal 201
Endang Kusuma A. 2009 : Transaksi Terapeutik (Dalam upaya pelayanan
Medis di RS) PT Citra Aditya Bakti, Bandung

Hans Kelsen, sebagaimana diterjemahkan oleh Raisul Muttaqien, Teori


Hukum Murni, 2011, Nuansa & Nusamedia, Bandung.

---------------, sebagaimana diterjemahkan oleh Somardi, General Theory of


Law and State, Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-dasar Ilmu
Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif Empirik, 2007, BEE
Media Indonesia, Jakarta.

J. Guwandi. 2003. Dokter, pasien dan hukum. Balai penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

--------------- 2010. Rahasia Medis. Balai penerbit Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia, Jakarta

Ridwan HR. 2010. Hukum Administrasi Negara. Raja Grafika Persada, Jakarta
135

Ridwan Halim, 2005. Pengantar Ilmu Hukum Dalam Tanya Jawab. Edisi Kedua
Ghalia Indonesia , Jakarta.

Rinanto Suryadhimirtha. 2011. Hukum Malpraktik Kedokteran. Total media,


Yogyakarta.

Hanafiah, Jusuf dan Amir, Amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan. EKG, Jakarta.
Indar. 2009. Etika dan Hukum Kesehatan. Lembaga penerbitan Universitas
Hasanuddin Makassar
Jimly Asshiddiqie, Ali Safa’at, 2006. Teori Hans Kelsen tentang Hukum,
Konstitusi Press, Jakarta
Johan, Bachder. 2005. Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter. Rineka
Cipta, Jakarta.
Muhammad Abdulkadir. 2004. Hukum dan penelitian hukum, PT Chitra
Adiyaksa Bakti, Bandung
Pusadan S. 2007. Analisa Hukum Terhadap Tanggung Jawab Hukum Perdata
Dalam Kasus Malpraktek Kedokteran. Program Pascasarjana Universitas
Hasanuddin Makassar
Soekidjo Notoatmodjo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan, PT Rhineka cipta,
Jakarta.
Soeparto P. 2006, Etika dan Hukum di Bidang Kesehatan. Penerbit Airlangga
University Press

Sujamto, 1996, Aspek-Aspek Pengawasan Di Indonesia. Sinar Grafika ,


Jakarta
Syahrul Machmud. 2008. Penegakan hukum dan perlindungan hukum bagi
dokter yang diduga melakukan Medical Malpraktik. Mandar Maju,
Bandung
Syamsul Bachri. 2008. Keputusan Tata Usaha Negara Selaku Sarana Hukum
Pemerintahan. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam bidang Ilmu
Hukum UNHAS, Makassar
Ta’adi. 2009. Hukum Kesehatan Pengantar Menuju Perawat Profesional. Buku
Kedokteran EGC, Jakarta
136

Y.A. Triana Ohoiwutun. 2008. Bunga rampai Hukum Kesehatan (Tinjauan dari
berbagai peraturan Perundangan dan Undang-Undang Praktik
Kedokteran). Bayu media Publishing, Malang, Jawa Timur.
Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi. 2006. Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin, Makassar.
http://www.infokomunika.com/2011/10/dokter-bedah-plastik-sebarkan-foto.html
diakses tgl 12 September 2012
http://etikakedokterandanprofesionalisme.blogspot.com/
137