Anda di halaman 1dari 4

IX-2

9.2 DASAR TEORI

Partisi zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak bercampur menawarkan
kemungkinan yang menarik untuk pemisahan analitis. Ekstraksi pelarut
merupakan suatu langkah penting dalam urutan menuju suatu produk murni.
Meskipun kadang-kadang digunakan peralatan yang rumit, namun sering
diperlukan hanya sebuah corong pisah. Pemisahan ekstraksi pelarut biasanya
bersih dalam arti tidak ada analog kopresipitasi di dalam sistem (Hart, 1983).
Diantara berbagai jenis proses pemisahan, ekstraksi pelarut atau disebut
juga ekstraksi cair merupakan metode pemisahan yang paling populer. Alasan
utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
maupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat pelarut dengan
perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, seperti
benzena, karbon, tetraklorida atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat
ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Teknik ini dapat
digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, memperkaya pemisahan serta
analisis pada semua skala kerja. Mula-mula metode ini dikenal dalam kimia
analis, kemudian berkembang menjadi metode yang baik, sederhana, tepat, dan
dapat digunakan untuk ion-ion logam yang bertindak sebagai pengotor dan ion-
ion logam dalam jumlah makrogram (Khopkar, 2007).
Ekstraksi memanfaatkan pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut
yang tidak dapat bercampur untuk mengambil zat terlarut dari suatu pelarut ke
pelarut lain. Anggap iodin sebagai pencemar dalam air yang juga mengandung zat
terlarut yang lain yang tidak larut dalam karbon tetraklorida. Pada kasus seperti
ini, hampir semua iodin dapat diambil dengan mengaduk CCl 4 yang
memungkinkan kedua fase terpisah dan kemudian mengurangi lapisan air dan
lapisan karbon tetraklorida yang berat. Makin besar tetapan kesetimbangan partisi
zat terlarut dari pelarut awalnya ke dalam pelarut pemisah, maka makin sempurna
proses pemisahannya (Oxtoby, 2001).
Cukup diketahui bahwa zat-zat tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-
pelarut tertentu dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Iod lebih dapat
IX-3

larut dalam karbon disulfida, kloroform atau karbon tetraklorida daripada dalam
air. Bila cairan-cairan tertentu seperti karbon disulfida dengan air dan juga eter
dan air dikocok bersama-sama dalam suatu bejana dan campuran kemudian
dibiarkan maka kedua cairan akn memisah dan menjadi dua lapisan. Cairan
semacam itu diakatakan sebagai tidak dapat campur (karbon disulfida dan air),
atau setengah campur (eter dan air), tergantung pada apakah satu kedalam yang
lain hampir tidak dapa larut atau setengah dapat larut. Jika iod dikocok bersama
campuran karbon disulfida dan air serta kemudian didiamkan , iod akan dijumpai
terbagi dalam kedua pelarut itu. Suatu keadaan kesetimbangan terjadi antara
larutan iod dalam karbon disulfida dan larutan iod dalm air.ternyata bila
banyaknya iod diubah-ubah, angka banding konsentrasi-konsentrasi itu selalu
konstan asal temperatur konstan (Svehla, 1990) yaitu :

Konsentrasi iod dalam karbon disulfida C 2


= =Kd …(9.1)
Konsentrasi iod dalam air C1

Tetapan Kd dikenal sebagai koefisien distribusi atau partisi. Angka C2/C1


hanya konstan jika zat yang terlarut mempunyai massa molekul relatif yang sama
untuk kedua pelarut itu. Hukum distribusi atau partisi dapat dirumuskan bila suatu
zat terlarut terdistribusi antara pelarut yang tidak dapat tercampur, maka pada
suatu temperatur yang konstan untuk setiap spesi molekul terdapat angka banding
distribusi yang konstan antara pelarut itu. Angka banding distribusi ini tidak
bergantung pada spesi molekul lain apapun yang mngkin ada (Svehla, 1990).
Kafein (1,3,7-trimelxantine) merupakan golongan metilxantine seperti
theophylline (1,3-dimetilxantine) dan theobromine (3,7-dimetilxantine). Kafein
pada suhu ruang merupakan bubuk tidak berwarna, tidak berbau dan memiliki
rasa agak pahit. Kafein larut dalam air mendidih tetapi pada suhu ruang pelarut
terbaik adalah kloroform (Valendra, 2015).
Kafein adalah alkaloid dengan nama 1,3,7 trimethylxanthine, kafein
berfungsi sebagai stimulan. Merupakan hablur yang pahit dengan warna putih
mengkilat, kristal menjarum dengan titik leleh 250oC, titih didih 320oC dan tidak
IX-4

berbau. Kafein dapat ditemukan pada teh, kopi, cola, mente dan coklat. Kafein
diperoleh dari sintesis kimia, kadar kafein dalam kopi hingga 0,5%. Kafein
memiliki massa jenis sebesar 1,23 g/cm3 (Svehla, 1990).

Gambar 9.1 Struktur Kafein

Sifat fisik kloroform (Wulandari, 2011), yaitu :


1. Berat molekul = 119,38 g/mol
2. Titik didih = 61,2oC
3. Titik lebur = -63,5oC
4. Massa jenis = 1,49 g/cm3
5. Kelarutan dalam air= 0,82 g/c
6. Viskositas = 0,542 Cp
Sifat kimia kloroform (Wulandari, 2011), yaitu :
1. Rumus molekul CHCl3 .
2. Merupakan larutan yang mudah menguap, tidak berwarna, memiliki bau yang
tajam dan menusuk.
3. Bila terhirup dapat menimbulkan kantuk.
4. Tidak dapat bereaksi dengan palmitamida.
5. Sebagai larutan pemurni palmitamida.
Kalsium karbonat (CaCO3) adalah senyawa yang terdapat dalam batuan
kapur dalam jumlah yang besar. Senyawa ini merupakan mineral yang paling
sederhana yang tidak mengandung silikon terbesar secara komersial. Endapan
IX-5

halus CaCO3 yang dibutuhkan industri dapat diperoleh secara kimia, sedangkan
secara fisika hanya didapatkan dari batuan gamping saja. Secara umum,
pembautan CaCO3 secara kimia dilakukan dengan menghasilkan gas
karbondioksida (CO2) kedalam slurry kalsium hidroksida [Ca(OH)2] dengan
memperhatikan suhu, waktu kepekatan, suspensi dan kecepatan pengadukan
(Khopkar, 2007).
Calcium carbonate (CaCO3) memiliki sifat kimia yaitu sedikit larut dalam
air. Sifat fisik kalsium karbonat (CaCO3) (Dewi, 2014), yaitu:
1. Rumus molekul = CaCO3
2. Berat molekul = 100,09 g/mol
3. Wujud = serbuk putih
4. Densitas = 2,8 gram/cm3
5. Titik leleh = 823oC
Kalsium karbonat adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CaCO 3.
Kalsium karbonat akan bereaksi dengan air yang penuh karbondioksida untuk
membentuk larutan kalsium bikarbonat. Kalsium bikarbonat umumnya berwarna
putih dan sering dijumpai pada batu kapur, marmer dan batu gamping. Kalsium
karbonat bila dipanaskan akan pecah dan menjadi serbuk remah yang lunak dan
dinamakan kalsium oksida (CaO). Hal ini terjadi karena pada reaksi tersebut
setiap molekul dari kalsium akan bergabung dengan satu atom oksigen dan
molekul lainnya akan berikatan dengan oksigen menghasilkan CO2 yang terlepas
keudara sebagai gas karbon dioksida dan membentuk H 2O dan CaO denagn reaksi
(Dewi, 2014), yaitu:

CaCO2 + H2O  CaO + CO2 + H2O …(9.2)

Atom nitrogen pada kafein bentuknya planar karena terletak pada orbital
Sp3. Hal ini menyebabkan molekul kafein diperoleh sebagai produk samping
proses dikafeinasi. Oleh karena itu kafein jarang diseintesis (Svehla, 1990).