Anda di halaman 1dari 10

KEJAKSAAN NEGERI MEDAN

UNTUK KEADILAN

SURAT DAKWAAN
No. Reg. Perkara : 1251/Pid/2020/PN.Medan

I. IDENTITAS TERDAKWA
Nama lengkap : ZURAIDA HANUM
Tempat lahir : Suak Bilie
Umur / tanggal lahir : 42 tahun / 27 April 1978
Jenis kelamin : perempuan
Kebangsaan / kewarganegaraan : Indonesia
Tempat tinggal : Perumahan Royal Monaco Blok B No. 22 Kelurahan
Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

II. PENAHANAN
 Ditahan Penyidik di tahanan Rutan Polres Medan sejak tanggal 8 Januari 2020 sampai
dengan tanggal 27 Januari 2020;
 Diperpanjang oleh Kepala Kejaksaan Negeri Medan selaku penuntut umum di
tahanan Rutan Polres Medan sejak tanggal 28 Januari 2020 sampai dengan tanggal 7
Maret 2020;
 Ditahan Penuntut Umum di tahanan Rutan / Lapas sejak tanggal 10 Maret 2020
sampai dengan tanggal 29 Maret 2020 – s/d dilimpahkan ke Pengadilan Negeri
Medan;
 Diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri Medan sejak tanggal 8 Maret 2020
sampai dengan tanggal 6 April 2020;

I. DAKWAAN
PRIMAIR
Bahwa ia terdakwa ZURAIDA HANUM alias Zuraida pada hari Bahwa Terdakwa
ZURAIDA HANUM bersama-sama dengan saksi M. PRATAMA,SH Alias JEPRI
(dilakukan penuntutan secara terpisah) serta M.REZA FAHLEVI (dilakukan penuntutan
secara terpisah) pada hari Jumat 29 Nopember 2019 sekira pukul 01.00 WIB, atau
setidak-tidaknya pada waktu tertentu dalam tahun 2019, bertempat di Perumahan Royal
Monaco Blok B Kelurahan Gedung Johor Kecamatan Medan Johor Kota Medan atau
setidak-tidaknya pada suatu tempat tertentu yang masih termasuk daerah hukum
Pengadilan Negeri Medan yang berhak dan berwenang memeriksa dan mengadili
perkara tersebut, “Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta
melakukan perbuatan, mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasa, ancaman atau penyesatan,
atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang
lain supaya melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu
merampas nyawa korban JAMALUDDIN”, perbuatan mana dilakukan Terdakwa dengan
cara sebagai berikut :
- Bahwa bermula hubungan rumah tangga terdakwa ZURAIDA HANUM dengan
korban JAMALUDDIN tidak akur dan rukun, sehingga Terdakwa sering memendam
perasaan marah, kecewa kepada korban. Ketidakharmonisan hubungan rumah tangga
tersebut juga diceritakan Terdakwa pada saksi Liber Junianto Hutasoit Als Soit,
selaku supir freelance (dibutuhkan jika perlu) dimana Terdakwa mengatakan sudah
lama memiliki niat untuk menghabisi korban karena kelakuan korban. Pada sekitar
tahun 2018 Terdakwa berkenalan dengan saksi M.JEFRI PRATAMA., S.H. Alias
JEPRI, karena pertemuan yang rutin dengan saksi M. JEFRI PRATAMA., S.H Alias
JEPRI saling menyukai.
- Bahwa pada sekitar bulan November 2019, Terdakwa menghubungi saksi M. JEFRI
PRATAMA,SH Alias JEPRI,dan mengajak bertemu di Everyday Café di Jalan
Ringroad Medan, lalu Terdakwa menceritakan masalah tangganya yang mana korban
sering mengkhianati Terdakwa kemudian Terdakwa bersama saksi M. JEFRI
PRATAMA,SH Alias JEPRI berencana menghabisi korban, kemudian saksi M.
JEFRI PRATAMA,SH Alias JEPRI mengajak saksi M. REZA FAHLEVI;
- Bahwa pada tanggal 25 November 2019 sekitar pukul 11.00 WIB Terdakwa bersama
saksi M. JEFRI PRATAMA,SH Alias JEPRI datang ke Coffee Town di Jalan
Ngumban Surbakti (Ringroad) Medan dengan mengendarai mobil sedan Toyota
Camry BK 78 ZH dan menghubungi saksi M. REZA FAHLEVI melalui telepon
seluler untuk datang ke Coffee Town. Lalu setibanya di Coffee Town, saksi M. REZA
FAHLEVI merencanakan eksekusi dengan saksi M. JEFRI PRATAMA,SH Alias
JEPRI.
- Bahwa pada hari Kamis 28 November 2019 sekitar pukul 15.00 WIB Terdakawa
menghubungi saksi M. JEFRI PRATAMA,SH dan meminta untuk langsung datang ke
kediaman Terdakwa.
- Bahwa pada waktu dan tempat tersebut di atas, Pada Jumat (29/11/2019) dini hari
sekitar pukul 01.00 WIB, Terdakwa naik lagi ke lantai 3 rumahnya, memberikan
informasi bahwa suaminya sudah tertidur nyenyak. M. JEFRI PRATAMA,SH dan
saksi M. REZA FAHLEVI mengikuti langkah Terdakwa menuju kamar tidur.
- Saksi M. REZA FAHLEVI mengambil kain dari pinggir kasur korban, kemudian
berjalan dan berdiri tepat di hadapan kepala JAMALUDDIN dengan kedua tangan
sudah memegang kain untuk melakukan pembekapan di bagian hidung dan mulut
JAMALUDDIN. Sementara itu, M. JEFRI PRATAMA,SH naik ke atas kasur, berdiri
tepat di atas korban dan memegang kedua tangan korban di samping kanan dan kiri
badan korban. Tersangka berbaring di samping kiri korban sambil menindih kaki
korban dengan kedua kakinya dan menenangkan Kanza yang terbangun untuk tidur
kembali pada saat eksekusi berlangsung.
- Setelah korban tidak bergerak, M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI
mengecek bagian perut apakah ada pergerakan tanda bernapas. Setelah yakin korban
sudah meninggal dunia, Tersangka memerintah M. JEFRI PRATAMA,SH dan M.
REZA FAHLEVI untuk kembali menunggu di lantai 3. Sekitar pukul 03.00 WIB,
Tersangka naik ke lantai 3 memanggil M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA
FAHLEVI untuk turun ke kamar korban. Ketiganya kemudian berdiskusi untuk
menentukan lokasi pembuangan mayat dan akhirnya disepakati dibuang di Berastagi.
- Tersangka bersama M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI memakaikan
baju dan perlengkapan korban. M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI
memakaikan baju lengan panjang olahraga PN Medan warna hijau dengan posisi
didudukkan, sedangkan Tersangka memakaikan celana panjang hijau olahraga PN
Medan. M. REZA FAHLEVI memakaikan kaos kaki korban.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI mengangkat mayat korban turun
ke lantai 1 dan memasukkan ke dalam mobil korban Toyota Land Cruiser Prado BK
77 HD melewati pintu kanan belakang dengan posisi berbaring di kursi baris kedua
dengan kepala di sebelah kanan. Kemudian, Jefri menyetir mobil korban dan Reza
duduk di sebelah kiri depan sementara Zuraida membuka dan menutup pintu garasi.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI bersama Terdakwa meluncur
menuju arah Berastagi, Kabupaten Tanah Karo. Kali ini, M. REZA FAHLEVI yang
mengendarai sepeda motor berada di depan mobil selama berkendara. Selama
perjalanan, M. REZA FAHLEVI melihat ada jurang dan M. JEFRI PRATAMA,SH
kemudian menghentikan mobil. Mereka kemudian membuang mobil korban dalam
kondisi mesin menyala sehingga mobil Land Cruiser Prado BK 77 HD berjalan secara
otomatis masuk ke dalam jurang kebun sawit.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI langsung naik ke sepeda motor
karena ketakutan apabila ada yang melihat kejadian tersebut. Jefri dan Reza langsung
bergerak meninggalkan lokasi tanpa melihat bagaimana kondisi mobil korban.
- Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, warga menemukan mobil di jurang. Saat itu,
warga sedang menuju lokasi kebun sawit. Temuan itu dilaporkan kepada warga lain,
kepala desa dan polisi. Belakangan diketahui, mayat di dalam mobil adalah hakim
merangkap Humas PN Medan, JAMALUDDIN.
- Polisi kemudian mengevakuasi jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan
dan Polisi kemudian memberitahukan kematian korban kepada Tersangka maupun
anak JAMALUDDIN dari istri pertamanya. Saat itu, Tersangka menangis, menjerit
dan bolak-balik jatuh pingsan.
- Tersangka berusaha untuk mengelabui kecurigaan petugas untuk tidak melakukan
autopsi. Tersangka sempat menolak untuk dilakukan autopsi maupun pemeriksaan
kondisi luka pada tubuh suaminya tersebut. Namun, petugas tetap melakukan autopsi
mengingat korban merupakan seorang hakim. Hasil autopsi menyatakan bahwa
korban tewas karena dibunuh.
- Perbuatan Tersangka melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal
Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 19 ayat (1), Pasal 20, Pasal 24 ayat (1), Pasal 107 ayat
(1) KUHAP.

SUBSIDAIR
Bahwa ia terdakwa ZURAIDA HANUM pada hari SELASA tanggal 7 JANUARI 2020
atau setidak-tidaknya pada waktu dalam bulan JANUARI tahun 2020 bertempat di
Perumahan Royal Monaco Blok B. No.22 Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan
Johor, Kota Medan atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk
dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri Kota Medan, tanpa hak atau melawan hukum
melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasaan, atau penganiyaan.
Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Setelah 40 hari, kasus pembunuhan ini akhirnya terungkap, kini Tersangka yang telah
diamankan polisi. Kronologi pembunuhan diungkapkan oleh KAPOLDA SUMUT
IRJEN POL MARTUANI SORMIN. Berdasarkan keterangan yang dibagikan,
Jamaludin dan Tersangka menikah pada tahun 2011 dan dikaruniai seorang anak.
Seiring waktu berjalan, Tersangka merasa cemburu karena merasa diselingkuhi dan
saat itulah, pada akhir tahun 2018, Tersangka menjalin hubungan asmara dengan M.
JEFRI PRATAMA,SH. Disitulah mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap
korban.
- Bahwa Tersangka berusaha untuk mengelabui kecurigaan petugas untuk tidak
melakukan autopsi. Tersangka sempat menolak untuk dilakukan autopsi maupun
pemeriksaan kondisi luka pada tubuh suaminya tersebut. Namun, petugas tetap
melakukan autopsi mengingat korban merupakan seorang hakim. Hasil autopsi
menyatakan bahwa korban tewas karena dibunuh.
- Perbuatan terdakwa melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal
Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 19 ayat (1), Pasal 20, Pasal 24 ayat (1), Pasal 107 ayat
(1) KUHAP.

Jakarta, 8 Januari 2020


JAKSA PENUNTUT UMUM
KEJAKSAAN NEGERI MEDAN
UNTUK KEADILAN

SURAT DAKWAAN
No. Reg. Perkara : 1251/Pid/2020/PN.Medan

II. IDENTITAS TERDAKWA


Nama lengkap : M. JEFRI PRATAMA, S.H.
Tempat lahir : Medan
Umur / tanggal lahir : 42 tahun / 4 April 1977
Jenis kelamin : LAki-Laki
Kebangsaan / kewarganegaraan : Indonesia
Tempat tinggal : Jalan Selam No. 64, Kelurahan Tegal Sari Mandala,
Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Provinsi
Sumatera Utara
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta

III. PENAHANAN
 Ditahan Penyidik di tahanan Rutan Polres Medan sejak tanggal 8 Januari 2020 sampai
dengan tanggal 27 Januari 2020;
 Diperpanjang oleh Kepala Kejaksaan Negeri Medan selaku penuntut umum di
tahanan Rutan Polres Medan sejak tanggal 28 Januari 2020 sampai dengan tanggal 7
Maret 2020;
 Ditahan Penuntut Umum di tahanan Rutan / Lapas sejak tanggal 10 Maret 2020
sampai dengan tanggal 29 Maret 2020 – s/d dilimpahkan ke Pengadilan Negeri
Medan;
 Diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri Medan sejak tanggal 8 Maret 2020
sampai dengan tanggal 6 April 2020;

IV. DAKWAAN
PRIMAIR
Bahwa ia terdakwa ZURAIDA HANUM alias Zuraida pada hari Bahwa Terdakwa
ZURAIDA HANUM bersama-sama dengan saksi M. PRATAMA,SH Alias JEPRI
(dilakukan penuntutan secara terpisah) serta M.REZA FAHLEVI (dilakukan penuntutan
secara terpisah) pada hari Jumat 29 Nopember 2019 sekira pukul 01.00 WIB, atau
setidak-tidaknya pada waktu tertentu dalam tahun 2019, bertempat di Perumahan Royal
Monaco Blok B Kelurahan Gedung Johor Kecamatan Medan Johor Kota Medan atau
setidak-tidaknya pada suatu tempat tertentu yang masih termasuk daerah hukum
Pengadilan Negeri Medan yang berhak dan berwenang memeriksa dan mengadili
perkara tersebut, “Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta
melakukan perbuatan, mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasa, ancaman atau penyesatan,
atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang
lain supaya melakukan perbuatan, dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu
merampas nyawa korban JAMALUDDIN”, perbuatan mana dilakukan Terdakwa dengan
cara sebagai berikut :
- Bahwa bermula hubungan rumah tangga terdakwa ZURAIDA HANUM dengan
korban JAMALUDDIN tidak akur dan rukun, sehingga Terdakwa sering memendam
perasaan marah, kecewa kepada korban. Ketidakharmonisan hubungan rumah tangga
tersebut juga diceritakan Terdakwa pada saksi Liber Junianto Hutasoit Als Soit,
selaku supir freelance (dibutuhkan jika perlu) dimana Terdakwa mengatakan sudah
lama memiliki niat untuk menghabisi korban karena kelakuan korban. Pada sekitar
tahun 2018 Terdakwa berkenalan dengan saksi M.JEFRI PRATAMA., S.H. Alias
JEPRI, karena pertemuan yang rutin dengan saksi M. JEFRI PRATAMA., S.H Alias
JEPRI saling menyukai.
- Bahwa pada sekitar bulan November 2019, Terdakwa menghubungi saksi M. JEFRI
PRATAMA,SH Alias JEPRI,dan mengajak bertemu di Everyday Café di Jalan
Ringroad Medan, lalu Terdakwa menceritakan masalah tangganya yang mana korban
sering mengkhianati Terdakwa kemudian Terdakwa bersama saksi M. JEFRI
PRATAMA,SH Alias JEPRI berencana menghabisi korban, kemudian saksi M.
JEFRI PRATAMA,SH Alias JEPRI mengajak saksi M. REZA FAHLEVI;
- Bahwa pada tanggal 25 November 2019 sekitar pukul 11.00 WIB Terdakwa bersama
saksi M. JEFRI PRATAMA,SH Alias JEPRI datang ke Coffee Town di Jalan
Ngumban Surbakti (Ringroad) Medan dengan mengendarai mobil sedan Toyota
Camry BK 78 ZH dan menghubungi saksi M. REZA FAHLEVI melalui telepon
seluler untuk datang ke Coffee Town. Lalu setibanya di Coffee Town, saksi M. REZA
FAHLEVI merencanakan eksekusi dengan saksi M. JEFRI PRATAMA,SH Alias
JEPRI.
- Bahwa pada hari Kamis 28 November 2019 sekitar pukul 15.00 WIB Terdakawa
menghubungi saksi M. JEFRI PRATAMA,SH dan meminta untuk langsung datang ke
kediaman Terdakwa.
- Bahwa pada waktu dan tempat tersebut di atas, Pada Jumat (29/11/2019) dini hari
sekitar pukul 01.00 WIB, Terdakwa naik lagi ke lantai 3 rumahnya, memberikan
informasi bahwa suaminya sudah tertidur nyenyak. M. JEFRI PRATAMA,SH dan
saksi M. REZA FAHLEVI mengikuti langkah Terdakwa menuju kamar tidur.
- Saksi M. REZA FAHLEVI mengambil kain dari pinggir kasur korban, kemudian
berjalan dan berdiri tepat di hadapan kepala JAMALUDDIN dengan kedua tangan
sudah memegang kain untuk melakukan pembekapan di bagian hidung dan mulut
JAMALUDDIN. Sementara itu, M. JEFRI PRATAMA,SH naik ke atas kasur, berdiri
tepat di atas korban dan memegang kedua tangan korban di samping kanan dan kiri
badan korban. Tersangka berbaring di samping kiri korban sambil menindih kaki
korban dengan kedua kakinya dan menenangkan Kanza yang terbangun untuk tidur
kembali pada saat eksekusi berlangsung.
- Setelah korban tidak bergerak, M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI
mengecek bagian perut apakah ada pergerakan tanda bernapas. Setelah yakin korban
sudah meninggal dunia, Tersangka memerintah M. JEFRI PRATAMA,SH dan M.
REZA FAHLEVI untuk kembali menunggu di lantai 3. Sekitar pukul 03.00 WIB,
Tersangka naik ke lantai 3 memanggil M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA
FAHLEVI untuk turun ke kamar korban. Ketiganya kemudian berdiskusi untuk
menentukan lokasi pembuangan mayat dan akhirnya disepakati dibuang di Berastagi.
- Tersangka bersama M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI memakaikan
baju dan perlengkapan korban. M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI
memakaikan baju lengan panjang olahraga PN Medan warna hijau dengan posisi
didudukkan, sedangkan Tersangka memakaikan celana panjang hijau olahraga PN
Medan. M. REZA FAHLEVI memakaikan kaos kaki korban.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI mengangkat mayat korban turun
ke lantai 1 dan memasukkan ke dalam mobil korban Toyota Land Cruiser Prado BK
77 HD melewati pintu kanan belakang dengan posisi berbaring di kursi baris kedua
dengan kepala di sebelah kanan. Kemudian, Jefri menyetir mobil korban dan Reza
duduk di sebelah kiri depan sementara Zuraida membuka dan menutup pintu garasi.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI bersama Terdakwa meluncur
menuju arah Berastagi, Kabupaten Tanah Karo. Kali ini, M. REZA FAHLEVI yang
mengendarai sepeda motor berada di depan mobil selama berkendara. Selama
perjalanan, M. REZA FAHLEVI melihat ada jurang dan M. JEFRI PRATAMA,SH
kemudian menghentikan mobil. Mereka kemudian membuang mobil korban dalam
kondisi mesin menyala sehingga mobil Land Cruiser Prado BK 77 HD berjalan secara
otomatis masuk ke dalam jurang kebun sawit.
- M. JEFRI PRATAMA,SH dan M. REZA FAHLEVI langsung naik ke sepeda motor
karena ketakutan apabila ada yang melihat kejadian tersebut. Jefri dan Reza langsung
bergerak meninggalkan lokasi tanpa melihat bagaimana kondisi mobil korban.
- Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, warga menemukan mobil di jurang. Saat itu,
warga sedang menuju lokasi kebun sawit. Temuan itu dilaporkan kepada warga lain,
kepala desa dan polisi. Belakangan diketahui, mayat di dalam mobil adalah hakim
merangkap Humas PN Medan, JAMALUDDIN.
- Polisi kemudian mengevakuasi jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan
dan Polisi kemudian memberitahukan kematian korban kepada Tersangka maupun
anak JAMALUDDIN dari istri pertamanya. Saat itu, Tersangka menangis, menjerit
dan bolak-balik jatuh pingsan.
- Tersangka berusaha untuk mengelabui kecurigaan petugas untuk tidak melakukan
autopsi. Tersangka sempat menolak untuk dilakukan autopsi maupun pemeriksaan
kondisi luka pada tubuh suaminya tersebut. Namun, petugas tetap melakukan autopsi
mengingat korban merupakan seorang hakim. Hasil autopsi menyatakan bahwa
korban tewas karena dibunuh.
- Perbuatan Tersangka melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal
Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 19 ayat (1), Pasal 20, Pasal 24 ayat (1), Pasal 107 ayat
(1) KUHAP.

SUBSIDAIR
Bahwa ia terdakwa ZURAIDA HANUM pada hari SELASA tanggal 7 JANUARI 2020
atau setidak-tidaknya pada waktu dalam bulan JANUARI tahun 2020 bertempat di
Perumahan Royal Monaco Blok B. No.22 Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan
Johor, Kota Medan atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk
dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri Kota Medan, tanpa hak atau melawan hukum
melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasaan, atau penganiyaan.
Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Setelah 40 hari, kasus pembunuhan ini akhirnya terungkap, kini Tersangka yang telah
diamankan polisi. Kronologi pembunuhan diungkapkan oleh KAPOLDA SUMUT
IRJEN POL MARTUANI SORMIN. Berdasarkan keterangan yang dibagikan,
Jamaludin dan Tersangka menikah pada tahun 2011 dan dikaruniai seorang anak.
Seiring waktu berjalan, Tersangka merasa cemburu karena merasa diselingkuhi dan
saat itulah, pada akhir tahun 2018, Tersangka menjalin hubungan asmara dengan M.
JEFRI PRATAMA,SH. Disitulah mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap
korban.
- Bahwa Tersangka berusaha untuk mengelabui kecurigaan petugas untuk tidak
melakukan autopsi. Tersangka sempat menolak untuk dilakukan autopsi maupun
pemeriksaan kondisi luka pada tubuh suaminya tersebut. Namun, petugas tetap
melakukan autopsi mengingat korban merupakan seorang hakim. Hasil autopsi
menyatakan bahwa korban tewas karena dibunuh.
- Perbuatan terdakwa melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal
Pasal 7 ayat (1) huruf d, Pasal 19 ayat (1), Pasal 20, Pasal 24 ayat (1), Pasal 107 ayat
(1) KUHAP.

Jakarta, 8 Januari 2020


JAKSA PENUNTUT UMUM

Anda mungkin juga menyukai