Anda di halaman 1dari 18

KELOMPOK 6

YUYUN ANGGRAINI
SAIFUL MUNAR
SALSABILA
SRI FITRIAH
RIZKA MUNIDAR
RAUDHATUL ULFA
RIVAL MUHAMMAD HAYQAL

CAIRAN, ELEKTROLIT, DAN ASAM-BASA

A. Cairan dan Elektrolit Tubuh


Proposi tubuh manusia yang terdiri atas cairan sangat besar. Sekita 46%
sampai 60% berat badan rata-rata orang dewasa adalah air, cairan tubuh primer.
Bila tubuh sehat maka volume ini relatif konstan dan berat badan individu
bervariasi kurang dari 0,2kg dalam 24 jam, tanpa memperhatikan jumlah cairan
yang di konsumsi.

Air sangat penting untuk kesehatan dan fungsi sel normal, yang berperan
sebagai:

a) Sebuah medium untuk reaksi metabolik di dalam sel


b) Sebuah pengangkut zat gizi, produk sisa dan zat lain
c) Sebuah pelumas
d) Sebuah penyekat dan penyerap guncangan
e) Sebuah cara dalam mengatur dan mempertahankan suhu tubuh

Usia ,jenis kelamin dan lemak tubuh memengaruhi air tubuh total. Bayi
memiliki proporsi air terbesar, yaitu 70% sampai 80% dari berat tubuhnya, tetapi

1
proposi air tubuh menurun seiring dengan penambahan usia pada individu yang
berusia lebih dari 60 tahun, air tubuh menurun sampai sekitar 50%. Jaringan
lemak pada intinya bebas air, sementara jaringan tanpa lemak mengandung
sejumlah air secara bermakna.

1. Distribusi cairan tubuh

Cairan tubuh dibagi dalam 2 komponen utama instrasel dan ekstrasel.


a. Cairan Intrasel (cis)

Ditemukan berada di dalam sel-sel tubuh, cairan intrasel menyusun sekitar


dua pertiga cairan tubuh total pada orang dewasa. Cairan ini sangat perlu untuk
fungsi normal sel. Cis mengandung zat terlarut seperti oksigen, elektrolit,dan
glukosa. Cis juga menyediakan medium untuk tempat berlangsungnya proses
metabolisme sel.

b. Cairan ekstrasel (ces)

Ditemukan berada di luar sel dan menyusun sekitar sepertiga cairan tubuh
total , cairan ini dibagi kembali kedalam beberapa kompartemen utama , yaitu
cairan intravaskular, atau plasma, ditemukan berada di dalam sirtem
vaskular.cairan interstisial mengelilingi sel . kompartemen cairan ekstrasel yang
lain adalah cairan limfe dan transselular, contoh cairan transselular adalah cairan
serebrospinal,perikardial,pankreatik, pleural,introkular, biliaris, peritoneal, dan
sinovial,. Ces merupakan sistem transpor yang membawa zat gizi ke sel dan
produk sisa dari sel. Misalnya plasma membawa oksigen dari paru-paru dan
glukosa dari saluran pencernaan ke pembuluh kapiler pada sistem pembuluh
darah.

2. Komposisi cairan tubuh

Cairan ekstrsel dan intrasel mengandung :

 oksigen dari paru-paru ,


 zat gizi terlarut dari saluran pencernaan ,
 produk ekskresi metabolisme seperti karbon dioksida,
 partikel bermuatan yang disebut ion.

Banyak garam memisahkan diri di dalam air , yaitu, terurai menjadi ion-ion
yang bermuatan listrik. Garam natrium klorida terurai menjadi ionnatrium (Na+)
dan ion klorida (Cl-). Partikel yang bermuatan ini disebut elektrolit mampu
menghantarkan listrik ion yang membawa muatan positif disebut kation dan in
yang membawa muatan negatif disebut anion.contoh kation adalah natrium
(Na+) , kalium (K+), kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) . contoh anion terdiri
atas klorida (Cl-), bikarbonat (HCO3-) fosfat (HPO42-), dan sulfat (SO42+)

2
Elektrolit umumnya diukur dalam milliequivalen perliter air (mEq/R) atau
milligram per 100 milliliter (mg/100mG). Istilah milliequivalen merujuk pada daya
ikat kimia ion , atau kemmpuan kation ikatan dengan anion untuk membentuk
molekul. Aktifitas ikatan ini di ukur dalam hubungannya dengan aktifitas berikatan
ion hidrogen (H+). Dengan demikian 1mEq anion setara dengan 1mEq kation.
Misalnya, ion natrium dan klorida sepadan, karena mereka berikatan secara
setara:1mEq Na+ setara dengan 1mEq Cl-. Namun,berat kation dan anion ini
tidak sama:1mg Na+ tidak sama dengan 1mg Cl-,namun 3mg Na+ setara dengan
2 mg Cl-.

Mempertahankan keseimbangan volume cairan dan komposisi elektrolit di


dalam kompartemen cairan tubuh sangat penting bagi kesehatan. Kehilangan
cairan dan elektrolit yang normal dan tidak basa harus dugantikan jika ingin
mempertahankan hemeostasis.

3. Pergerakan cairan dan elektrolit tubuh

Metode pergerakan elektrolit dan zat terlarut lain adalah dengan cara
osmosis, difusi,filtrasi,dan tranpor aktif.

a. Osmosis

Adalah pergerakan air menembus membran sel , dari larutan yang


berkonsentrasi rendah kelarutan yang berkonsentrasi tinggi. Dengan kata lain air
bergerak menuju zat terlarut yang berkonsentrasi lebih tinggi sebagai upaya untuk
menyeimbangkan konsentrasi.

Zat terlarut adalah yang larut di dalam sebuah cairan , misalnya jika gula di
tmbahkan ke dalam kopi , gula adalah zat terlarut. Zat terlarut berupa kristaloid
(garam yang mudah larut kedalam larutan murni) atau koloid (zat seperti molekul
berprotein besar yang tidak mudah terlarut di dalam larutan murni).

Konsentrasi zat terlarut didalam cairan tubuh biasanya disebut sebgai


osmolalitas. Osmolalitas ditentukan oleh konsentrasi zat terlarut total di dalam
kompertemen cairan dan dikur sebagai bagian dari zat terlarut prkilogram air.

Osmolaritas adalah cara untuk mengukur kepekatan larutan dengan


menggunakan satuan nol. Natrium dalam NaCl berperan penting mengatur
keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila terdapat tiga jenis larutan garam
dengan kepekatan berbeda dan didalamnya dimasukkan sel darah merah, maka
larutan yang mempunyai kepekatan yang sama akan seimbang dan berdifusi.
Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonic karena larutan NaCl
mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam system vascular.

3
Larutan isotonic merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama
dengan larutan yang dicampur. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan lebih
rendah dibanding larutan intrasel. Pada proses osmosis dapat terjadi perpindahan
dari larutan dengan kepekatan rendah ke larutan yang kepekatannya lebih tinggi
melalui membrane semipermeabel, sehingga larutan yang berkonsentrasi rendah
volumenya akan berkurang, sedang larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan
bertambah volumenya.

b. Difusi

Difusi merupakan percampuran kontinu beberapa molekul di dalam cairan ,


gas , atau zat padat yang disebabbkan pergerakan molekul secara acak
misalnya, dua gas menjadi bercampur oleh gerakan konstan dari molekulnya.
Proses difusi bahkan jika dua zat dipisahkan oleh sbuah membran tipis. Didalam
tubuh , difusi darah, elektrolit, dan zat lain terjadi melalui’’ pori pori celah ‘’
membran kapiler.
Kecepatan proses difusi bervariasi, bergantung pada factor ukuran molekul,
konsentrasi cairan dan temperature cairan. Zat dengan molekul yang besar akan
bergerak lambat dibanding molekul kecil. Molekul kecil akan lebih mudah
berpindah dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan dengan konsentrasi
rendah. Larutan dengan konsentrasi yang tinggi akan mempercepat pergerakan
molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.

c. Filtrasi

Filtrasi adalah sebuah proses pergerakan cairan dan zat terlarut secara
bersama menyeberangi sebuah membran dari satu kompertemen ke
kompertemen lain. Pergerakan terjadi di area bertekanan tnggi ke area
bertekanan rendah. Contoh filtrasi adalah pergerakan cairan dan zat gizi dari
kapiler arteriola ke cairan interstisial di sekitar sel.
Tekanan di dalam kompartemen yang menghasilkan pergerakan cairan dan
zat terlarut di dalam cairan keluar dari kompartemen disebut tekanan filtrasi.
Tekanan hdrosstatik adalah tekanan yang dikeluarkan oleh cairan di dalam
sebuah sistem tertutup pada dinding wadah penampang cairan tersebut.
Tekanan hidrostatik darah adalah kekuatan tekanan yang dikeluarkan oleh darah
terhadap dinding pembuluh darah (mis dinding alteri).

d. Transpor aktif

Merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses ini
terutama penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan
ekstrasel. Proses pengaturan cairan dapat dipengaruhi oleh dua factor, yaitu:
1. Tekanan cairan.

4
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Proses osmotic
juga menggunakan tekanan osmotic, yang merupakan kemampuan pastikel
pelarut untuk menarik larutan melalui membrane.
Bila dua larutan dengan perbedaan konsentrasi dan larutan yang mempunyai
konsentrasi lebih pekat molekulnya tidak dapat bergabung (larutan disebut
koloid). Sedangkan larutan yang mempunyai kepekatan sama dan dapat
bergabung (disebut kristaloid). Contoh larutan kristaloid adalah larutan garam,
tetapi dapat menjadi koloid apabila protein bercampur dengan plasma. Secara
normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeable tidak terjadi.
Prinsip tekanan osmotic ini sangat penting dalam proses pemberian cairan
intravena. Biasanya, larutan yang sering digunakan dalam pemberian infuse
intravena bersifat isotonic karena mempunyai konsentrasi sama dengan plasma
darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke
dalam intrasel. Larutan intravena bersifat hipotonik, yaitu larutan yang
konsentrasinya kurang pekat dibanding konsentrasi plasma darah. Tekanan
osmotic plasma akan lebih besar dibanding tekanan tekanan osmotic cairan
interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma dan molekul protein lebih
besar dibanding cairan interstisial, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit
menembud membrane semipermeabel. Tekanan hidrostatik adalah kemampuan
tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup.Hal ini penting guna
mengatur keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.

2. Membran semipermeable.

Merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung.


Membran semipermeable terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang
terdapat di seluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke
jaringan.

4. Pengaturan cairan tubuh

Di dalam tubuh seorang yang sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia
dari cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman.Dalam
kondisi normal intake cairan sesuai dengan kehilangan cairan tubuh yang
terjadi.Kondisi sakit dapat menyebabkan gangguan pada keseimbangan cairan
dan elektrolit tubuh.Dalam rangka mempertahankan fungsi tubuh maka tubuh
akan kehilanagn caiaran antara lain melalui proses penguapan ekspirasi
penguapan kulit, ginjal (urine),ekresi pada proses metabolisme.

Asupan cairan
Selama aktifitas dan temperatur yang sedang seorang dewasa minum kira-
kira1500 ml per hari, sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira-kira 2500 ml per

5
harisehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan
oksidasi selama proses metabolisme.Berikut adalah kebutuhan intake cairan yang
diperlukan berdasarkan umur dan berat badan, perhatikan tabel di bawah :
Berat Kebutuhan
No. Umur
Badan (kg) Cairan (mL/24 Jam)
1 Hari 3,0 250 – 300
2 1 tahun 9,5 1150 – 1300
3 2 tahun 11,8 1350 – 1500
4 6 tahun 20,0 1800 – 2000
5 10 tahun 28,7 2000 – 2500
6 14 tahun 45,0 2200 – 2700
7 18 tahun(dewasa) 54,0 2200– 2700
Pengatur utama intake cairan adalah melalui mekanisme haus. Pusat
haus dikendalikan berada di otak Sedangakan rangsangan haus berasal dari
kondisi dehidrasi intraseluler,sekresi angiotensin II sebagai respon dari
penurunan tekanan darah,perdarahan yang mengakibatkan penurunan
volume darah.Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama dengan
sensasi haus walaupun kadang terjadi secara sendiri.Sensasi haus akan
segera hilang setelah minum sebelum proses absorbsi oleh tractus
gastrointestinal.

Haluaran cairan
  Kehilangan caiaran tubuh melalui empat rute (proses) yaitu :
a. Urine
Proses pembentukan urine oleh ginjal dan ekresi melalui tractus
urinarius merupakan proses output cairan tubuh yang utama.Dalam kondisi
normal output urine sekitar 1400-1500 ml per 24 jam, atau sekitar 30-50 ml
per jam.Pada orang dewasa.Pada orang yang sehat kemungkinan produksi
urine bervariasi dalam setiap harinya,bila aktivitas kelenjar keringat meningkat
maka produksi urine akan menurun sebagai upaya tetap
mempertahankankeseimbangan dalam tubuh.
b. IWL (Insesible Water Loss) :
IWL terjadi melalui paru-paru dan kulit, Melalui kulit dengan
mekanisme difusi.Pada orang dewasa normal kehilangan cairan tubuh melalui
proses ini adalahberkisar 300-400 mL per hari, tapi bila proses respirasi atau
suhu tubuhmeningkat maka IWL dapat meningkat.
c. Keringat :
Berkeringat terjadi sebagai respon terhadap kondisi tubuh yang panas,
respon iniberasal dari anterior hypotalamus,sedangkan impulsnya ditransfer

6
melalui sumsum tulang belakang yang dirangsang oleh susunan syaraf
simpatis pada kulit.
d. Feces : 
Pengeluaran air melalui feces berkisar antara 100-200 mL per
hari,yang diatur melalui mekanisme reabsorbsi di dalam mukosa usus besar
(kolon).

Mempertahankan homeostasis

Volume dan komposisi cairan tubuh diatur melalui beberapa mekanisme


homeostatik. Sejumlah sistem tubuh turut adil pada pengaturan ini, termasuk
ginjal, sistem endokrin, sistem kardiofaskuler, paru-paru dan sistem
pencernaan. Hormon seprti hormon antidiuretik ( antidiuretic hormone ) ADH
jug dikenal sebagai arginin vasopresin atau AVP, sistem renin-angiotensin
-aldosteron, dan faktor netriuretrik atrial dilibatkan sebagai mekanisme untuk
memantau dan mempertahankan volume vaskular.

Ginjal

Ginjal merupakan pengatur utama keseimbangan cairan tubuh dan


elektrolit. Ginjal mengatur volum dan osmolalitas cairan ekstrasel dengan
mengatur eksresi iar dan elektrolit. Ginjal menyesuaikan penyerapan kembali
air dari filtrasi plasma dan pada akhirnya jumlah yang dikeluarkan sebagai
urin.

Hormon antidiuretik

Antidiuretik hormone atau yang biasa disingkat dengan ADH adalah


hormon yang mengatur kadar air dalam tubuh.Cara kerja ADH adalah dengan
mengatur penyerapan kembali molekul yang berada pada ginjal dengan
memengaruhi permeabilitas jaringan dinding tubulus ginjal, sehingga
berfungsi untuk mengatur pengeluaran urin. Pengaruh hormon antidiuretik
(ADH) pada pembentukan urine adalah jika kadar hormon ADH meningkat
maka tubuh akan mempertahankan kadar air dalam darah dengan cara
mengeluarkan air dari nefron melalui tubulus kontortus proksimal. Di sana air
akan diserap kembali oleh tubuh dan keluar dari nefron sehingga urine
berkurang. Jadi, hormon ADH mempengaruhi kinerja penyerapan air di
tubulus kontortus proksimal.

Sistem renin -angiotensin-aldodteron

7
Sistem renin angiotensin-(RAS) atau sistem renin-angiotensin-
aldosteron (Raas) adalah sistem hormon yang mengatur tekanan darah dan
air (cairan) keseimbangan.Ketika volume darah rendah, sel-sel
juxtaglomerular pada ginjal mengeluarkan renin secara langsung ke dalam
sirkulasi. Renin plasma kemudian melakukan konversi angiotensinogen dirilis
oleh hati menjadi angiotensin I.

Angiotensin I kemudian diubah menjadi angiotensin II oleh enzim


angiotensin converting enzyme ditemukan di paru-paru. Angiotensin II adalah
peptida vaso-active kuat yang menyebabkan pembuluh darah mengerut,
sehingga tekanan darah meningkat. Angiotensin II juga merangsang sekresi
hormon aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron menyebabkan tubulus
ginjal untuk meningkatkan reabsorpsi natrium dan air ke dalam darah. Hal ini
meningkatkan volume cairan dalam tubuh, yang juga meningkatkan tekanan
darah

Faktor natriuretik atrial

Dilepaskan dari sel dari dalam atrium jantung sebagai respons


terhadap kelebihan volum darah dan peregangan dinding atrium.

5. Pengaturan elektrolit

Elektrolit sangat penting untuk :


 Mempertahankan keseimbangan cairan
 Berperan dalam pengaturan asam-basa
 Memfasilitasi reaksi enzim
 Mentransmisikan reaksi neuromuskular

1)      Keseimbangan Natrium/sodium (Na+)

8
Natrium merupakan kation paling banyak pada cairan ekstrasel serta
sangat berperan dalam keseimbangan air, hantaran impuls saraf dan
kontraksi otot. Ion natrium didapat dari saluran pencernaan, makanan atau
minuman kemudian masuk ke dalam cairan ekstrasel melalui proses
difusi. Pengeluaran ion natrium melalui ginjal, pernapasan, saluran
pencernaan dan kulit. Pengaturan konsentrasi ion natrium dilakukan oleh
ginjal, jika konsentrasi natrium serum menurun maka ginjal akan
mengeluarkan cairan sehingga konsentrasi natrium akan meningkat.
Sebaliknya jika terjadi peningkatan konsentrasi natrium serum maka akan
merangsang pelepasan ADH sehingga ginjal akan menahan air. Jumlah
normal 135-148 mEq/Lt

2)      Keseimbangan kalium/potassium (K+)

Kalium adalah kation yang paling banyak pada intraseluler. Ion kalium
98% berada pada cairan intasel, hanya 2% berada pada cairan ekstrasel.
Kalium dapat diperoleh melalaui makanan seperti daging, buah-buahan
dan sayuran. Jumlah normal 3,5-5,5 mEq/Lt.

3)      Keseimbangan Kalsium (Ca2+)

Kalsium merupakan ion yang paling banyak dalam tubuh, terutama


berikatan dengan fosfor membentuk mineral untuk pembentukan tulang
dan gigi. Diperoleh dari reabsorpsi usus dan reabsorpsi tulang.
Dikeluarkan melalui ginjal, sedikit melalui keringat dan disimpan dalam
tulang. Pengaturan konsentrasi kalsium dilakukan hormon kalsitonin yang
dihasilkan oleh kelnjar tiroid dan hormon paratiroid. Jika kadar kalsium
rendah maka hormon paratiroid dilepaskan sehingga terjadi peningkatan
reabsorpsi kalsium pada tulang dan jika terjadi peningkatan kadar kalsium
maka hormon kalsitonin dilepaskan untuk menghambat reabsorpsi tulang.
Jumlah normal 4-5mEq/Lt.

4)      Keseimbangan Magnesium (Mg2+)

Magnesium biasanya ditemukan pada cairan intrasel dan tulang, berperan


dalam metabolisme sel, sintesis DNA, regulasi neuromuscular dan fungsi
jantung. Sumbernya didapat dari makanan seperti sayuran hijau, daging
dan ikan. Magnesium Diabsorpsi dari usus halus, peningkatan absorpsi
dipengaruhi oleh vitamin D dan hormon paratiroid.

5)      Keseimbangan Fosfor (PO4–)

Fosfor merupakan anion utama cairan intasel, ditemukan juga di cairan


ekstrasel, tulang, otot rangka dan jaringan saraf. Fosfor sangat berperan
dalam berbagai fungsi kimia, terutama fungsi otot, sel darah merah,
metabolisme protein, lemak dan karbohidrat, pembentukan tulang dan
gigi, regulasi asam basa, regulassi kadar kalsium. Di reabsorpsi dari usus
halus dan banyak ditemukan dari makanan daging, ikan dan susu.
Disekresi dan reabsorpsi melalui ginjal. Pengaturan konsentrasi fosfor
oleh hormon paratiroid dan berhubungan dengan kadar kalsium. Jika

9
kadar kalsium meningkat akan menurunkan kadar fosfat demikian
sebaliknya. Jumlah normal sekitar 2,5-4,5 mEq/Lt.

6)      Keseimbangan Klorida (Cl–)

Klorida merupakan anion utama pada cairan ekstrasel. Klorida berperan


dalam pengaturan osmolaritas serum dan volume darah bersama natrium,
regulasi asam basa, berperan dalam buffer pertukaran oksigen dan
karbondioksida dalam sel darah merah. Disekresi dan direabsorpsi
bersama natrium diginjal. Pengaturan klorida oleh hormon aldosteron.
Kadar klorida yang normal dalam darah orang dewasa adalah 95-
108mEq/Lt.

7)      Keseimbangan Bikarbonat

Bikarbonat berada di dalam cairan intrasel maupun di dalam ekstrasel


dengan fungsi utama yaitu regulasi keseimbangan asam basa. Disekresi
dan direabsorpsi oleh ginjal. Bereaksi dengan asam kuat untuk
membentuk asam karbonat dan suasana garam untuk menurunkan PH.
Nilai normal sekitar 25-29mEq/Lt.

B. Keseimbangan asam-basa

Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan ion hydrogen. Walaupun


produksi akan terus menghasilkan ion hydrogen dalam jumlah sangat banyak,
ternyata konsentrasi ion hydrogen dipertahankan pada kadar rendah 40 + 5 nM
atau pH 7,4. Pengaturan keseimbangan asam basa diselenggarakan melalui
koordinasi dari 3 sistem:

1. Buffer

Menetralisir kelebihan ion hydrogen, bersifat temporer dan tidak melakukan


eliminasi. Fungsi utama system buffer adalah mencegah perubahan pH yang
disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organic pada cairan
ekstraseluler. Sebagai buffer, system ini memiliki keterbatasan yaitu:
• Tidak dapat mencegah perubahan pH di cairan ekstraseluler yang disebabkan
karena peningkatan CO2.
• System ini hanya berfungsi bila system respirasi dan pusat pengendali system
pernafasan bekerja normal
• Kemampuan menyelenggarakan system buffer tergantung pada tersedianya ion
bikarbonat.

10
Ada 4 sistem bufer:
1. Bufer bikarbonat; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel terutama untuk
perubahan yang disebabkan oleh non-bikarbonat
2. Bufer protein; merupakan sistem dapar di cairan ekstrasel dan intrasel
3. Bufer hemoglobin; merupakan sistem dapar di dalam eritrosit untuk
perubahan asam karbonat
4. Bufer fosfat; merupakan sistem dapar di sistem perkemihan dan cairan
intrasel.

Sistem dapat kimia hanya mengatasi ketidakseimbangan asam-basa


sementara. Jika dengan buferkimia tidak cukup memperbaiki ketidakseimbangan,
maka pengontrolan pH akan dilanjutkan oleh paru-paru yang berespon secara
cepat terhadap perubahan kadar ion H dalam darah akinat rangsangan pada
kemoreseptor dan pusat pernafasan, kemudian mempertahankan kadarnya
sampai ginjal menghilangkan ketidakseimbangan tersebut. Ginjal mampu
meregulasi ketidakseimbangan ion H secara lambat dengan menskresikan ion H
dan menambahkan bikarbonat baru ke dalam darah karena memiliki dapar fosfat
dan amonia.
Proses eliminasi dilakukan oleh paru dan ginjal. Mekanisme paru dan ginjal
dalam menunjang kinerja system buffer adalah dengan mengatur sekresi,
ekskresi, dan absorpsi ion hydrogen dan bikarbonat serta membentuk buffer
tambahan (fosfat, ammonia).
Untuk jangka panjang, kelebihan asam atau basa dikeluarkan melalui ginjal
dan paru sedangkan untuk jangka pendek, tubuh dilindungi dari perubahan pH
dengan system buffer. Mekanisme buffer tersebut bertujuan untuk
mempertahankan pH darah antara 7,35- 7,45.

2. Pengaturan pernafasan

Peranan sistem respirasi dalam keseimbangan asam basa adalah


mempertahankan agar Pco2 selalu konstan walaupun terdapat perubahan kadar
CO2 akibat proses metabolism tubuh. Keseimbangan asam basa respirasi
bergantung pada keseimbanagn produksi dan ekskresi CO2. Jumlah CO2 yang
berada di dalam darah tergantung pada laju metabolism sedangkan proses
ekskresi CO2 tergantung pada fungsi paru.
Kelainan ventilasi dan perfusi pada dasarnya akan mengakibatkan
ketidakseimbanagn rasio ventilasi perfusi sehingga akan terjadi
ketidakseimbangan, ini akhirnya menyebabkan hipoksia maupun retensi CO2
sehingga terjadi gangguan keseimbangan asam basa.

3. Pengaturan Ginjal

Untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, ginjal harus


mengeluarkan anion asam non volatile dan mengganti HCO3-. Ginjal mengatur

11
keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi ion hidrogen dan ion
bikarbonat. Pada mekanisme pemgaturan oleh ginjal ini berperan 3 sistem buffer
asam karbonat, buffer fosfat dan pembentukan ammonia. Ion hydrogen, CO2,
dan NH3 diekskresi ke dalam lumen tubulus dengan bantuan energi yang
dihasilkan oleh mekanisme pompa natrium di basolateral tubulus. Pada proses
tersebut, asam karbonat dan natrium dilepas kembali ke sirkulasi untuk dapat
berfungsi kembali.

Tubulus proksimal adalah tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan


pengeluaran asam.Ion hidrogen sangat reaktif dan mudah bergabung dengan ion
bermuatan negative pada konsentrasi yang sangat rendah. Pada kadar yang
sangat rendahpun, ion hydrogen mempunyai efek yang besar pada system
biologi. Ion hydrogen berinteraksi dengan berbagai molekul biologis sehingga
dapat mempengaruhi struktur protein, fungsi enzim dan ekstabilitas membrane.
Ion hydrogen sangat penting pada fungsi normal tubuh misalnya sebagai pompa
proton mitokondria pada proses fosforilasi oksidatif yang menghasilkan ATP.

Produksi ion hidrogen sangat banyak karena dihasilkan terus menerus di


dalam tubuh. Perolehan dan pengeluaran ion hydrogen sangat bervariasi
tergantung diet, aktivitas dan status kesehatan. Ion hydrogen di dalam tubuh
berasal dari makanan, minuman, dan proses metabolism tubuh. Di dalam tubuh
ion hidrogen terbentuk sebagai hasil metabolism karbohidrat, protein dan lemak,
glikolisis anaerobik atau ketogenesis.

C. Faktor yang mempengaruhi Keseimbangan Cairan


Tubuh, Elektrolit,dan Asam-Basa
Kemampuan tubuh untuk menyesuaikan keseimbangan cairan,elektrolit,dan
asam-basa di pengaruhi oleh:

1.Usia

Bayi dan anak yang sedang tumbuh memiliki perpindahan cairan yang jauh
lebih besar di bandingkan orang dewasa,karena laju metabolisme mereka yang
lebih tinggi meningkatkan kehilangan cairan.Bayi kehilangan lebih banyak cairan
melalui ginjal karena ginjal yang belum matang, kurang mampu menyimpan air
dibandingkan ginjal orang dewasa.

usia lanjut,proses penuaan normal dapat memengaruhi keseimbangan


cairan.Respons haus sering kali kurang dirasakan,sehingga meningkatkan resiko
dehidrasi.

12
Pertimbangan Usia

Lansia

Perubahan tertentu yang berhubungan dengan penuaan membuat lansia berisiko


mengalami masalah serius ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,jika
mekanisme homeostatis menurun.Beberapa perubahan tersebut adalah:

 Penurunan sensasi haus


 Penurunan kemanpuan ginjal untuk memekatkan urine
 Penurunan cairan intrasel dan penurunan air tubuh total
 Penurunan respons terhadap hormone tubuh yang membantu mengatur
cairan dan elektrolit

Faktor lain yang dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit


pada lansia adalah:

 Peningkatan penggunaan diuretic untuk hipertensi dan penyakit jantung


 Penurunan asupan cairan dan makanan,terutama pada lansia yang
mengalami demensia atau lansia yang bergantung pada orang lain untuk
member mereka makanan dan menawarkan mereka cairan
 Persiapan untuk uji diagnostic tertentu yang mengharuskan klien puasa untuk
waktu lama atau karena diare akibat mengonsumsi laksatif
 Klien yang mengalami penurunan fungsi ginjal,seperti lansia dan/atau
penderita diabetes
 Mereka yang menjalani prosedur diagnostik tertentu.(Zat warna yang
digunakan untuk beberapa prosedur,seperti arteriogram dan kateterisasi
jantung,dapat menyebabkan masalah ginjal yang lebih parah.Selalu lihat
apakah klien telah mendapat hidrasi yang baik sebelum,selama,dan setelah
prosedur untuk membantu mengencerkan dan mengekskresikan zat
warna.Jika klien menjalani puasa sebagai persiapan untuk prosedur ,perawat
harus memeriksa dengan dokter untuk mengetahui apakah dibutuhkan cairan
per IV).
 Setiap kondisi yang dapat membebani mekanisme kompensasi
normal,seperti demam,influenza,pembedahan,atau pajanan terhadap panas.

Semua kondisi ini meningkatkan resiko ketidakseimbangan cairan dan


elektrolit pada lansia.Perubahan dapat terjadi secara cepat dan menjadi serius
dalam waktu singkat.Pemantauan yang tajam dan tindakan yang cepat dapat
membantu mencegah konsekuensi yang serius.Perubahan status mental
mungkin merupakan gejala awal gangguan dan harus dievaluasi lebih lanjut
untuk menentukan penyebabnya.

2.Jenis Kelamin dan Ukuran Tubuh

13
Sel lemak mengandung lebih sedikit atau sama sekali tidak mengandung air
dan jaringan tanpa lemak memiliki kandungan air yang tinggi.Wanita secara
proposional memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dan lebih sedikit cairan
tubuh dibandingkan pria.Air menyusun sekitar 60% berat badan pria
dewasa,tetapi hanya 52% untuk wanita dewasa.Pada individu gemuk,kandungan
air tubuh mungkin lebih sedikit,dengan hanya 30% sampai 40% dari berat badan
individu tersebut.

3.Suhu Lingkungan

Individu yang sakit dan mereka yang beradaptasi dalam aktivitas berat
berisiko mengalami ketidakseimbangan cairan dan elektrolit apabila suhu
lingkungan tinggi.Kehilangan cairan melalui berkeringat meningkat di lingkungan
yang panas karena tubuh berupaya untuk menghilangkan panas.

Garam dan air tubuh hilang melalui keringat.Apabila hanya air yang
digantikan,terjadi risiko deplesi garam.Individu yang mengalami deplesi garam
dapat mengalami keletihan,sakit kepala,dan gejala gastrointestinal seperti
anoreksia dan mual.Resiko efek yang merugikan bahkan lebih besar,jika
kehilangan air tidak diganti.Suhu tubuh meningkat,dan individu berisiko
mengalami keletihan akibat panas atau mengalami heatstroke.Heatstroke dapat
terjadi pada lansia atau orang sakit selama periode panas yang
berkepanjangan,juga dapat memengaruhi atlet dan para buruh apabila produksi
panas mereka melebihi kemampuan tubuh untuk menghilangkan panas.

Mengonsumsi cairan dingin dalam jumlah yang memadai ,terutama selama


aktivitas berat,mengurangi resiko efek samping yang merugikan akibat
panas.Larutan elektrolit dan larutan karbohidrat-elektrolit yang seimbang seperti
minuman olahraga direkombinasikan karena minuman tersebut menggantikan air
dan elektrolit yang hilang melalui keringat.

4.Gaya Hidup

Faktor lain seperti diet,latihan,dan stress memengaruhi keseimbangan


cairan,elektrolit,dan asam-basa.

Asupan cairan dan elektrolit dipengaruhi oleh diet.Orang yang menderita


anoreksia nervosa atau bulimia berisiko mengalami ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit berat karena asupan tidak adekuat atau karena mereka melakukan
upaya pembuangan (mis,merangsang muntah,menggunakan diuretik dan
laksatif).

Olahraga yang menyokong beban secara teratur seperti berjalan,berlari,atau


bersepeda memiliki efek menguntungkan pada keseimbangan kalsium,sehingga
mengurangi resiko osteoporosis.

14
Stres dapat meningkatkan metabolisme selular,kadar konsentrasi glukosa
darah,dan kadar katekolamin.Selain itu ,stress dapat meningkatkan produksi
ADH,yang pada gilirannya menurunkan produksi urine.Seluruh respons tubuh
terhadap stress adalah meningkatkan volume darah.

Faktor gaya hidup yang lainnya yaitu mengonsumsi alkohol yang berlebihan
memengaruhi keseimbangan elektrolit,meningkatkan resiko penurunan kadar
kalsium,magnesium,dan fosfat.

D. Gangguan Keseimbanagn Volume Cairan , Elektrolit,


Dan Asam-Basa
Sejaumlah faktor seperti penyakit,trauma,pembedahan,dan pengobatan dapat
memengaruhi kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan
cairan,elektrolit,dan asam-basa.Klien yang mengalami kebingungan atau yang
tidak mampu mengumunikasikan kebutuhan mereka beresiko mengalami
asupan cairan yang tidak adekuat.Muntah,diare,atau penghisapan nasogastrik
dapat menyebabkan kehilangan cairan yang bermakna.Trauma jaringan, seperti
luka bakar,menyebabkan cairan dan elektrolit hilang dari sel yang rusak.

Penurunan aliran darah ke ginjal akibat gangguan fungsi jantung


menstimulasi system renin-agiotensin-aldosteron,menyebabkan retensi natrium
dan air.Obat-obatan seperti diuretik atau kortikosteroid dapat menyebabkan
kehilangan atau retensi elektrolit dan cairan yang tidak normal.Penyakit seprti
diabetes mellitus atau penyakit paru obstruksi menahun dapat memengaruhi
keseimbangan asam-basa.

E. Ketidakseimbangan Cairan
Ketidak seimbangan cairan terdiri dari 2 jenis dasar:isotonic dan osmolar.

1.Ketidakseimbangan isotonik terjadi saat air dan elektrolit hilang atau di


dapatkan dalam jumlah yang seimbang,sehingga osmolalitas cairan tubuh tetap
konstan.

2.Ketidakseimbangan osmolar melibatkan kehilangan atau perolehan hanya


air,sehingga osmolalitas serum berubah.

Devisit Volum Cairan

Defisit volume cairan (fluid volume deficid,FVD).Isotonik terjadi apabila tubuh


kehilangan air dan elektrolit dari CES dalam jumlah yang sama.Pada FVD,cairan
pada awalnya keluar dari kompatement intravascular,sehingga sering kali
disebut hipovolenia.

15
FVD pada umumnya terjadi akibat:

a) Kehilangan abnormal melalui kulit,saluran pencernaan,atau ginjal


b) Penurunan asupan cairan
c) Pendarahan
d) Pergerakan cairan ke ruang ke 3.

Klien yang mengalami sindrom ruang ketiga mengalami deficit cairan isotonic
tetapi mungkin tidak menunjukkan kehilangan cairan atau penurunan berat
badan secara nyata.Pengkajian keperawatan yang teliti sangat penting untuk
secara efektif mengidentivikasi dan mengintervensi klien yang mengalami
sindron ruang ketiga.Karena cairan berpindah kembali ke kompartemen
vascular setelah beberapa waktu,pengkajian untuk manifestasi kelebihan
volume cairan atau hipervolemia juga sangat penting.

Devisit volum Cairan Isotonik

a. Faktor resiko
Kelebihan Volume Cairan

Kelebihan volume cairan (fluit volume excess,FVE) terjadi saat tubuh


menahan air dan natrium dengan proporsi yang sama dengan CES normal.Ini
umumnya disebut sebagai hipervolemia(peningkatan volume darah ).Penyebab
FVE yang spesifik terdiri atas :

a) Asupan natrium clorida yang berlebihan


b) Pemberian infus yang mengandung natrium dalam waktu terlalu
cepat,terutama pada klien yang mengalami gangguan mekanisme regulasi .
c) Proses penyakit yang mengubah mekanisme regulasi,seperti gagal jantung ,
gagal ginjal,sirosis hati,dan sidrom Cushing .
Dedidrasi

Dedidrasi atau ketikseimbangan hiperosmolar , terjadi jika air hilang


dari tubuh tanpa disertai dengan kehilangan elektrolit yang bermakna.

Overhidrasi

Overhidrasi yang juga dikenal sebagai ketidakseimbangan


hipoosmolar atau intoksikasi air,terjai saat air diperoleh dalam jumlah berlebih
dari elektrolit.

F. Ketidakseimbangan Elektrolit
1. Natrium

Ketidak seimbangan natrium biasanya disertai dengan ketidak seimbangan


air.Hiponatremia merupakan suatu keadaan defisit natrium , atau kadar

16
natrium serum kurang dari 135 mEq/L.Hipernatremia adalah kelebihan
natrium dalam CES,atau kadar natrium serum lebih besar dari 145 mEq/L.

2. Kalium

Kalium sangat penting untuk memelihara fungsi normal neuromuscular dan


jantung.Dari beberapa sekresi tubuh , sekresi gastrointestinal mengandung
kadar kalim yang tinggi.Hipokalemia adalah defisit kalium atau kadar kalium
serum kurang dari 3,5mEq/L.Hiperkalemia adalah kelebihan kalium lebih dari
5,0 mEq/L.

3. Kalsium

Keseimbangan elektrolit ini relative sering terjadi .Hipokalsemia adalah suatu


keadaan defisit kalsium kurang dari 8,5 mg/d L.Hiperkalsemia kadar kalsium
lebih dari 10,5 mg/d L.

4. Magnesium

Ketidakseimbangan magnesium relative terjadi pada klien yang di rawat di


rumah sakit.Hipomagnesemia,terjadi jika kadar magnesium
menurun.Hipermagnesemia terjadi jika kadar magnesium serum meningkat.

5. Klorida

Ketidakseimbangan klorida umumnya terjadi bersamaan dengan


ketidakseimbangan natrium.Hipokloremia adalah penurunan kadar klorida
serum dan biasanya dihubungkan dengan kehilangan ion klorida yang
berlebihan dari saluran GI,dari ginjal,atau dari keringat.Hiperkloremia adalah
kondisi yang menyebabkan retensi natrium juga dapat menyebabkan
tingginya kadar klorida serum.

6. Fosfat

Ketidakseimbangan fosfat sering kali berhubungan dengan intervensi terapi


untuk tujuan lain.Hipofosfatemia adalah pemberian glukosa dan insulin serta
nutrisi parentera total dapat menyebabkan fosfat berpindah ke dalam sel dari
compartment cairan ekstrasel.Hiperfosfatemia terjadi jika fosfat berpindah
keluar dari sel menuju cairan ekstrasel(mis;akibat trauma,jaringan atau
kemoterapi untuk tumor ganas),pada gagal ginjal, atau jika fosfat di berikan
atau di konsumsi secara berlebihan.

17
G.Ketidakseimbangan asam-basa

a. Asidosis Respiratorik

Hipovetilasi dan retensi karbon dioksida menyebabkan kadar asam karbonat


naik dan ph turun hingga dibawah 7,35 ,sebuah kondisi yang di kenal sebagai
asidosis respiratorik. Penyakit paru-paru yang serius seperti asma dan PPOK
adalah penyebab umum asidosis respiratorik

b. Alkalosis respiratorik

Apabila seseorang mengalami hiperventilasi, dikeluarkan lebih banyak karbon


dioksida dibandingkan pada keadaan normal, kadar asam karbonat turun, dan ph
naik hingga lebih dari 7,45. Kondisi ini disebut alkalosis respiratorik. Pada
alkolasis respiratorik ginjal akan mengekresikan bikarbonat untuk
mengembalikan ph ke kisaran normal.

c. Asidosis metabolik

Saat kadar bikarbonat rendah dalam kaitannya dengan jumlah asam karbonat
didalam tubuh, ph turun dan terbentuk asidosis metabolik. Ini dapat terjadi karena
kegagalan dan ketidakmampuan ginjal untuk mengekresikan ion hidrogen dan
menghasilkan bikarbonat.

d. Alkalosis metabolik

Pada alkolosis metabolik jumlah bikarbonat didalam tubuh melebihi rasio


normal 20:1. Konsumsi bikarbonat soda sebagai antasit adalah salah satu
penyebab alkalosis metabolik. Penyebab lain adalah muntah lama dengan
kehilangan asam hidroklorida dari lambung.

18

Anda mungkin juga menyukai