Anda di halaman 1dari 10

Ramadhan; Sayyidus syuhur

Al-Ikhwan.net | 14 August 2008 | 11 Syaban 1429 H | Hits: 345


Abu Ahmad

Rasulullah saw bersabda :

َُُِْ ‫ ِم َ ْ ُم ا‬
َ ‫ َوَ ُ ا‬،ُ‫َ ُ ا ُ ِر َرََن‬

“Penghulu segala bulan adalah bulan Ramadhan dan penghulu segala hari adalah hari
Jum’at” (Thabrani dan Baihaqi)

Ramadhan disebut juga dengan sayyidus syuhur atau penghulu segala bulan. Tentu saja, bukan
tanpa alasan jika Ramadhan diberi kehormatan lebih mulia dari bulan-bulan lain. Secara
sederhana, kita bisa berkata bahwa: “Tentu ada apa-apanya, sehingga Ramadhan disebut sebagai
penghulu segala bulan.”
Jika kita telusuri keistimewaan bulan ramadhan, maka akan kita akui bahwa memang tepat sabda
Rasulullah saw diatas yang mengatakan “Penghulu bulan-bulan adalah bulan Ramadhan”.
Karena jika dilihat dari berbagai sisinya, bulan ramadhan memberikan daya tarik tersendiri
ketimbang bulan-bulan lainnya.

Suasana di bulan ramadhan begitu indah, Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya mengungkapkan
bahwa di bulan Ramadhan, syaitan-syaitan di belenggu, pintu neraka ditutup dan pintu-pintu
surga di buka. Penjagaan Allah ini sungguh terasa dampaknya, sehingga Selama Ramadhan, kita
cenderung suka dan semangat untuk beramal shalih.

Jika di bulan-bulan biasa kita selalu saja ketemu alasan-alasan yang “cerdas” untuk
meninggalkan amal shalih. Maka di bulan ini kita serasa terus haus untuk melakukan amal-amal
tersebut. Kita sangat yakin bahwa ini adalah bulan untuk melipatgandakan catatan amal ibadah.

Jika kemudian selama bulan ini masih ditemukan kemaksiatan, kemunkaran atau kejahatan, itu
adalah karena hawa nafsu kita sendiri. Dalam hidup selain kita berhadapan dengan godaaan
syaitan, kita juga berhadapan dengan godaan hawa nafsu ini. Kedua-duanya sama saja, mengajak
kita masuk ke lubang kehinaan dan maksiat. Na’udzubillahi min dzalik.

Dari sisi rizki duniawi Selama bulan Ramadhan ini, pintu-pintu keberkahan Allah dibuka lebar-
lebar, karenanya ada yang menyebut Ramadhan sebagai syahrul mubarak, bulan yang penuh
keberkahan. Rizki dimudahkan, urusan-urusan dilancarkan, kegembiraan-kegembiraan
senantiasa diiringankan. Itu semua benar-benar terasa bagi kita. Rata-rata seiring kewajiban
ibadah puasa, masyarakat meningkat standar belanjanya. Di bulan puasa yang harusnya
berdampak penghematan, kebutuhan belanja justru meningkat. Tapi semua itu bisa terpenuhi
dengan baik.

Geliat bisnis di bulan ini sangat tinggi, para pedagang, pertokoan, industri-industri barang
konsumsi, penerbit buku-buku agama, jasa transportasi, dll. Semuanya seolah sepakat bahwa
bulan Ramadhan ini adalah bulan panen keuntungan. Tidak jarang untuk menyongsong
Ramadhan mereka telah beberapa bulan sebelumnya mengambil start. Keuntungan usaha di
bulan-bulan lain tidak berlebihan, jika bisa diatasi hanya oleh keuntungan yang terkumpul di
bulan ini.

Suasana alam juga memberikan kontribusi dalam pesona Ramadhan. Hal ini terasa pada perilaku
alam dan cuaca. Tiupan angin di bulan Ramadhan, berbeda dengan angin di bulan-bulan biasa.
Begitu pun panas mentari, sangat lain rasanya ketika menerpa kulit. Jarang kita saksikan ada
prahara bencana alam yang menyayat hati terjadi di bulan suci ini.

Jika pun pesona Ramadhan berkurang indahnya, itu bukan karena tidak ada keberkahan bulan
tersebut, namun lebih sebagai bentuk kedurhakaan manusia-manusianya yang sudah melampaui
batas. Di bulan ini ada juga kita temukan kejahatan-kejahatan, perjudian, praktek amoral,
permainan petasan, bencana banjir, tanah longsor, dsb. Bukan karena Ramadhannya, namun
lebih sebagai dosa-dosa tangan-tangan manusia yang mengotori suasana khusyu’ Ramadhan.
Dari sisi ibadah juga tidak ketinggalan, bahkan merupakan target yang diinginkan, Allah
mewajibkan kepada umat Islam untuk berpuasa selama sebulan penuh. Ini adalah aktivitas
ibadah fisik dan ruhiyah yang tidak ringan, mungkin saja, sebagai pengimbang dari beban ibadah
yang tidak ringan itu, Allah tebarkan keberkahan-keberkahan di seluruh penjuru bulan ini. Dan
itulah yang kita syukuri dan senantiasa kita rindukan. Andai seluruh bulan seperti Ramadhan,
cukup bagi kita untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang tegak di atas harmoni. Namun
Allah berbuat seperti apa yang Dia Kehendaki.

Setidaknya ini adalah momen berharga bagi kita untuk meraih kemajuan-kemajuan yang berarti
di segala bidang. Dalam lapangan ilmu, akhlak mulia, kedewasaan diri, usaha ekonomi, prestasi
studi, kepekaan jiwa bahkan kebeningan hati kita. Ini adalah saat yang tepat untuk merih
kebaikan.

Dengan bulan ini, Allah hendak menjamu kita dengan jamuan istimewa. Jamuan itu adalah
serangkaian ibadah-ibadah yang efektif untuk meningkakan kualitas diri kita di hadapan-Nya.
Dan tentu saja, semuanya dikembalikan pada diri tiap-tiap orang. Allah tidak hendak memaksa,
sebab ibadah-ibadah itu maslahat atau mudharatnya akan kembali pada diri kita sendiri.

ِ َِْ ِ ‫ِ"َ ٍم‬# $


َ #‫ََََْ َوَ َر‬% ‫ْ*ِ)ِ َوَ(ْ َأَ َء‬+َ,َِ% ً.ِ َ/ 0
َ َِ1 ْ(َ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang
siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri. Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu
menganiaya hamba-hambanya.” (Fushilat:46).

Ramadhan ini adalah momen yang sanagt berharga. Maka Janganlah disia-siakan. Tidak
mustahil, kalau kita tidak lagi akan berjumpa pada bulan yang penuh rahmat dan berkah ini, pada
tahun mendatang.

Dan pada momen yang baik ini banyak-banyaklah melakukan renungan untuk mengetahui
sejauhmana kita telah melangkah dalam hidup ini. Setidaknya ini adalah momen yang tepat
untuk bertanya pada diri sendiri, “Dari mana kita berawal dan akan kemana kita melangkah?”
Mudah-mudahan dengan instrospeksi diri itu, kita temukan sesuatu yang berharga dari bulan ini,
yaitu hikmah ketakwaan.

Adapun alasan lain dinamakannya bulan Ramadhan dengan sayyidus syuhur karena beberapa hal
berikut ini.

Syahru Shiam
Al-Ikhwan.net | 18 August 2008 | 14 Syaban 1429 H | Hits: 75
Abu Ahmad

1. Ramadhan; Syahrus Shiam

Bulan Ramadhan adalah penghulu bulan-bulan, dan diantara sebab disebut demikian adalah
karena bulan ramadhan adalah satu-satunya bulan yang di dalamnya diwajibkan puasa,
sementara bulan-bulan lain tidak demikian. Bagi kaum muslimin yang diberi kesempatan hidup
pada bulan ini, maka wajib atas mereka menjalankan ibadah puasa kecuali bagi yang memiliki
uzdur syar’I, seperti sakit dan sedang musafir. Sebagaimana yang difirman Allah :

2َ َ3‫َِ ةٌ ِ(ْ َأ ٍم ُأ‬% 2ٍ َ+َ 6ََ1 ْ‫ًِ َأو‬2َ ‫ن‬
َ َ‫ُْ)ُ َوَ(ْ آ‬8َْ َ% 2َ ْ ‫ ا‬9ُ ُ:ْ,ِ َ َِ; ْ(ََ%

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah
ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),
Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari
yang lain. “ (Al-Baqoroh : 185)

Bahwa umat manusia selalu dihadapi dengan kebutuhan adanya tuntunan untuk peningkatan jati
diri menuju kebaikan, keindahan dan kesempurnaan; umat yang membutuhkan adanya pelatihan
dan pembinaan pada kekuatan dan kehendak, kesabaran, ketangguhan dalam memikul beban dan
terhindar dari hawa nafsu serta kejahatan yang merusak dan kekerdilan yang mampu merusak
hubungan antara manusia dengan Alah dan antara manusia dengan yang lainnya serta
menghancurkan keindahan dan kebersihan dunia yang fana ini.

Adapun yang dimaksud dengan kebutuhan tersebut adalah puasa; yaitu ibadah yang merupakan
pusat pembinaan umat yang ingin tegak berjalan dan bergerak diatas manhaj Allah dan syariat-
Nya. Dan puasa juga merupakan keistimewaan dan kemuliaan bagi orang-orang beriman
disepanjang sejarahnya, sehingga dengan keutamaan puasa tersebut diharapkan umat Islam
menjadi lebih tangguh dan lebih kuat dalam mengemban beban dakwah yang berat dan lebih
bersabar dalam menjadi pemimpin serta menjadi tauladan umat lain dan jauh dari
keteergelinciran hawa nafsu dan angkara murka.

Puasa merupakan kebutuhan tubuh dan jiwa sehingga memiliki kekuatan dan ketangguhan serta
perasaan sensitifitas terhadap orang-orang yang mahrum (orang miskin yang tidak mendapat
bagian; maksudnya adalah orang miskin yang tidak meminta-minta), dan juga sebagai pusat
pembelajaran bagi seorang mu’min bagaimana caranya menyingsingkan tangannya untuk
membantu orang-orang yang menderita kelaparan; dari orang-orang yang mahrum dan tertimpa
musibah; yaitu dengan selalu berlapar-lapar pada siang hari dan makan pada malam harinya,
walaupun sebagian mereka ada yang berlapar-lapar pada malam dan siang hari atau bahkan
berhari-hari dan berbulan-bulan.

Begitu pula puasa merupakan pusat pembinaan yang di dalamnya seorang mu’min belajar untuk
memiliki kekuatan kehendak dan tujuan yang mulia dan kemampuan dalam mengemban beban
berat, kemampuan bersabar, kemampuan membangun kebersamaan dan merekonstruksinya serta
kemampuan membangun jiwa yang bersih dan masyarakat yang bersih. Yang demikian akan
terwujud ketikan mampu menunaikan puasa secara maksimal sebagaimana yang disampaikan
oleh Aisyah ra:

<<<< ‫ آ‬,<<<<* ‫ ر<<<<ن <<<< = ا‬9 < << ‫إذا‬

“Jika seseorang selamat –secara baik- dalam ibadah ramadhan maka akan selamatlah satu
penuh setelahnya”.
Sementara itu orang-orang yang beriman sepanjang masa dan tempat merupakan para pelaku
kebaikan dan pembawa bendera kebaikan kepada seluruh umat manusia. Karena itulah Allah
mewajibkan mereka berpuasa sebagai penghormatan kepada mereka akan perannya sebagai
pembawa kebaikan di dunia ini dan untuk menempatkan mereka pada kenikmatan abadi di
akhirat kelak.

Taujihat Robbaniyah tentang puasa merupakan kelembutan, kerinduan sekaligus taklif, hiburan
dan arahan terhadap suatu pandangan dan misi nun agung; Allah SWT berfirman:

ُ@AَB ْ9ُ:ََ ْ9ُ:َِْC ْ(ِ (


َ ِD ‫ ا‬6ََ1 E
َ ِAُ‫َ ُم آََ آ‬8 ‫ ا‬9ُ ُ:ََْ1 E
َ ِAُ‫ُ ا آ‬,َFَ (
َ ِD ‫نَ َأَ ا‬
َ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas
umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang yang bertaqwa”. (Al-Baqoroh:183)

Allah SWT memanggil kita semua denga penuh kelembutan dan penghormatan serta kemuliaan.
Memanggil kita dengan panggilan paling mulia dari panggilan-panggilan lainnya. Memanggil
kita dengan sifat yang paling indah dari sifat-sifat yang lainnya. Allah SWT menyeru dengan
untaian kata “Wahai orang-orang yang beriman” sebagai seruan terhadap jiwa yang memiliki
kesiapan untuk menerima syariat yang akan ditentukan setelahnya; baik perintah ataupun
larangan, untuk mengambil yang halal atau menjauhi yang haram, untuk menggapai keridhaan
Allah atau menghindar dari kemurkaan-Nya, untuk mengajak pada yang hak atau mencela pada
yang bathil, serta untuk mengarahkan umat pada yang ma’ruf atau mencegah yang mungkar.

Dan melalui seruan ini Allah menyeru kepada orang-orang yang beriman akan adanya taklif
yang memberikan kebaikan, kemaslahatan dan keihsanan; yaitu “Diwajibkan atas kalian
berpuasa” dengan menahan hawa nafsu dari makan, minum dan senggama serta perbuatan yang
melanggar aturan Allah. Dan Allah menyediakan perintah dalam satu bulan yang penuh
keberkahan; bulan ramadhan untuk memberikan keuntungan yang berlipat, kebaikan yang
banyak dan kemaslahatan yang berlimpah serta ganjaran yang berlipat ganda. Sehingga taklif
yang –secara kasat mata- berat ini terasa ringan dan menyenangkan bahkwan dirindukan,
sebagaimana yang selalu dirindukan oleh para salafusshalih sebelum kita, dan bahkan jauh
sebelum nabi Muhammad dibangkitkan. seperti firman Allah “sebagaimana yang telah
diwajibkan sebelum kalian” yaitu umat-umat sebelum nabi Muhammad saw diutus”. Seperti
Nabi Nuh yang juga diperinta untuk berpuasa ramadhan, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa
serta nabi-nabi lainnya yang juga diperintah untuk berpuasa.

Jadi puasa kita di bulan ramadhan tidak berjalan sendiri namun merupakan salinan dari umat
sebelumnya yang mana ada banyak umat yang melakukan perintah tersebut; yaitu mereka-
mereka yang telah mendapatkan hidayah dari Allah dan berjalan di atas jalan yang lurus. Dan
begitupun ungkapan “sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” juga
merupakan hiburan dan motivasi sehingga bagi seorang mukmin tidak merasakan adanya taklif
dalam puasa, karena ia merupakan kewajiban yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum
kita semua.

Kemudian dari setiap perintah dan kewajiban pasti ada misi dan tujuan; dan tujuan tersebut tidak
lain kecuali derajat yang paling mulia, dan tidak ada kemuliaan setelah kemuliaan ini; yaitu
Taqwa. Allah SWT berfirman ”La allakum tattaqun” (agar kalian bertaqwa). Taqwa yang berarti
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana taqwa juga berarti
perasaan bahwa Allah melihat segala tindak tanduk dan perilaku kita; kapan dan dimana saja kita
beraada; dalam sembunyi dan terang-terangan, saat ramai dan sendirian. Dan taqwa juga
merupakan wasiat Allah paling utama terhadap hamba-hamba-Nya; baik ahlul kitab dan lain-
lainnya :

َ) ‫@ُ ا ا‬B‫ن ا‬


ِ ‫ْ َأ‬9ُ‫ْ َوِإآ‬9ُ:َِْC ْ(ِ ‫ب‬
َ َAِ:ْ ‫ُ ا ا‬B‫( أُو‬
َ ِD ‫َ ا‬,ْ/‫َو َ@َْ َو‬

“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan (memerintahkan) kepada orang-orang yang diberi kitab
sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah”. (An-Nisa:131).

Tentunya selain dari puncak ibadah puasa pada bulan ramadhan yaitu taqwa; Allah juga
memberikan ganjaran lain yang berlimpah; yaitu kecintaan Allah terhadap orang yang berpuasa
sangatlah besar sehingga bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah dari minyak
kesturi sekalipun. Dan ganjaran orang yang berpuasa itu berbeda dengan ganjaran yang diberikan
kepada setiap hamba yang melakukan ibadah lainnya, karena puasa bagi Allah adalah milik-Nya
dan Diri-Nya sendiri yang berhak memberikan ganjaran; karena puasa merupakan symbol dari
kerja keras dalam melakukan ketaatan kepada Allah sehingga ganjarannya akan diberikan
langsung oleh Allah kepada si pelakunya, yang ganjaran tidak di ketahui oleh siapapun kecuali
Allah, dan sekiranya Allah memberikan seisi dunia ini emas maka tidak akan sebanding dengan
ganjaran yang akan diterima oleh orang yang berpuasa.

Syahrul Qur’an
Al-Ikhwan.net | 19 August 2008 | 16 Syaban 1429 H | Hits: 13
Abu Ahmad

3. Ramadhan Syahrul Qur’an (Bulan Al Qur’an)

Diantara sebab Ramadhan dijadikan sebagai sayyidus syuhur adalah karena di dalam bulan
tersebut teradapat peristiwa yang sangat agung dan mulia; yaitu peristiwa turunnya Al-Qur’an
yang membawa petunjuk dan al-Furqan. Allah SWT berfirman :

‫ن‬
ِ َCْ2ُ+ْ ‫( ا َُْى وَا‬
َ ِ ‫ت‬
ٍ َ,َ#‫س َو‬
ِ , ِ ‫ن هًُى‬
ُ Fَْ2ُ@ْ ‫ِ)ِ ا‬% ‫ل‬
َ Mِ ْN‫ِي ُأ‬D ‫ن ا‬
َ ََ‫ َر‬2ُ َْ;

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (Al-Baqoroh : 185)

Ramadhan disebut dengan syahrul Quran (bulan Al-Quran), karena awal diturunkannya Al-
Quran adalah pada bulan Ramadhan. Dengan berpedoman pada Al-Quran, niscaya hidup
manusia menjadi terarah dan memberi kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan kemakmuran
serta keadilan. Bahkan juga dapat memberikan alat filterisasi sehingga mampu membedakan
antara yang hak dan bathil, antara yang benar dan yang salah, antara ketaatan dan kemaksiatan,
antara hidayah dan kesesatan, antara kebahagiaan dan kesengsaraan hakiki dan antara jalan
menuju ridlo Allah dan murka Allah serta jalan menuju surga yang penuh dengan kenikmatan
dan jalan menuju neraka yang penuh dengan azab dan kepedihan.

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah saw untuk memberi petunjuk kepada manusia.
Turunnya Al-Qur’an merupakan peristiwa besar sekaligus menyatakan kedudukannya bagi
penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul
Qodar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat
akan kemuliaan umat Nabi Muhammad saw. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan
risalah baru agar menjadi umat yang paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.

Sedangkan turunnya Al-Qur’an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab
yang turun sebelumnya; sebagai penguat akan risalah nabi dan penghibur jiwa beliau terhadap
cobaan dan rintangan yang dihadapi serta selalu mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian
sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.

Karena itu dalam Al-Qur’an seringkali kita mendengar bulan ramadhan sebagai bulan barokah;
karena Al-Qur’an diturunkan pada bulan tersebut yang memberikan keberkahan di malam
keberkahan. Allah berfirman:

(
َ ِ‫ر‬Dِ ْ,ُ ,ُ‫ آ‬N‫ ٍََْ َُ َرآٍَ ِإ‬Pِ% Qُ َ,ْ Mَ ْN‫ َأ‬N‫ِإ‬. 9ِ:َS 2ٍ ْ‫ َأ‬0
 ُ‫ق آ‬ ُ 2َ ْ+ُ َِ%. (
َ ِِْ2ُ ,ُ‫ آ‬N‫َ ِإ‬Nِ ْ,ِ1 ْ(ِ ‫ًا‬2ْ‫ َأ‬. $
َ #‫ًَْ ِ(ْ َر‬S‫)ُ هُ َ َر‬N‫ِإ‬
9ُ َِْ ‫ ا‬Uُ ِ* ‫ا‬

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya
Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh
hikmah; (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus
rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi
Maha mengetahui”. (Ad-Dukhan:3-6)

Allah juga berfirman; bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam kemuliaan; lailatul Qodar,
sehingga jika seorang hamba melakukan ibadah tepat pada malam tersebut mendapatkan
ganjaran sebanding dengan ibadah selama seribu bulan (kurang lebih 83 tahun). [1]

‫ ََِْ ا ْ@َْ ِر‬Pِ% Qُ َ,ْ Mَ ْN‫ َأ‬N‫ِإ‬. ‫ك َ ََُْ ا ْ@َْ ِر‬
َ ‫ َوَ َأدْرَا‬. ‫ ََُْ ا ْ@َْ ِر‬2ٍ َْ; X
ِ ْ ‫ٌ ِ(ْ َأ‬2َْ3. 0
 ُ‫ْ ِ(ْ آ‬9ِ#‫ن َر‬
ِ ْ‫ذ‬Yِِ# َِ% ‫ح‬
ُ ‫و‬2 ‫َُ وَا‬:ِ[ََْ ‫ل ا‬
ُ M َ,َB
2ٍ ْ‫ َأ‬. 2َْ+ْ ‫ ا‬Uِ َْ\َ 6AَS P َ ِ‫ََمٌ ه‬

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah
kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”. (Al-Qadr:1-5)

Namun, seringkali kita, sebagai kaum muslimin tidak menyadari akan kemuliaan dan keutamaan
Al-Quran, sehingga tidak sedikit mereka yang jauh dari Al-Qur’an, mulai dari jauh dalam bentuk
tidak bisa membacanya, bisa membaca tapi tidak rajin membacanya, rajin membacanya tapi
tidak memahaminya, memahaminya tapi tidak mengamalkannya, mengamalkannya tapi baru
untuk dirinya sendiri namin belum mampu mengajak orang lain untuk mengamalkannya.
Begitupun dari sebagian umat ada yang hanya menjadikan dan menganggap Al-Qur’an sebagai
kitab suci yang wajib dihormati sehingga diletakkan dari tempat yang jauh dari kotor dan najis,
atau diletakkan di tempat yang tinggi sehingga jauh dari jamahan anak-anak dan tidak mudah
dijadikan mainan, dan saking tingginya orang tuapun akhirnya malas mengambilnya untuk
dibaca. Anggapan tersebut memang tidak keliru namun yang harus difahami lebih mendalam
adalah, bagaimana selain menganggapnya sebagai kitab suci tapi juga berusaha menjadikannya
sebagai sarana untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan maksiat. Bukankah dengan
membaca Al-Quran berarti dia telah beribadah yang setiap kali dibaca ayat-ayatnya Allah SWT
akan melimpahkan pahala dan ganjaran dari setiap huruf yang dikeluarkan oleh lisannya,
lalu ganjaran dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat? Dan Bukankah, dari ibadah yang
dilakukan itu akan menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan selama itu bukan dosa besar?

Allah berfirman :

‫ت‬
ِ َ]* ‫( ا‬
َ ِْ‫ْه‬Dُ ‫ت‬
ِ َ,َ*َ.ْ ‫ن ا‬
 ‫ِإ‬

“Sesungguhnya Kebaikan-kebaikan (ketaatan) itu akan menghapus dosa-dosa”. (Huud:114)

Rasulullah saw bersabda:

(
ٍ َ*َS ^
ٍ ُُ_ِ# ‫س‬
َ , ‫^ ا‬
ِ ِ َ3‫َُ َو‬.َْB ََ,َ*َ.ْ ‫ ا *]ََ ا‬Uِ ِْB‫= َوَأ‬
َ ْ,ُ‫َْ`َُ آ‬S a
َ ‫^ا‬
ِ B‫ا‬

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah perbuatan buruk itu dengan
perbuatan yang baik karena ia bisa menghapusnya (HR. Turmudzi)

Jawabannya tentu memang demikian. Membaca Al-Quran adalah ibadah, dan oleh karena ibadah
merupakan suatu kebaikan maka secara tidak langsung dapat menghapus dosa-dosa, selama dosa
berasal dari dosa kecil.

Oleh karena itu sebagai bulan Al-Quran, Ramadhan mengingatkan dan mengetuk hati kita untuk
memperkokoh komitmen kepadanya. Bila ramadhan tiba, kita tingkatkan interaksi kita dengan
Al-Quran, membacanya dan berusaha memahami dan menelaah makna-makna yang terkandung
dalam ayat-ayatnya; baik dengan membaca tafsirnya, terjemahannya atau mengikuti kajian-
kajian Al-Quran yang marak diadakan di masjid-masjid atau di lembaga-lembaga yang memiliki
perhatian terhadap ajaran keislaman.

Dan ketika bulan ramadhan berakhir indikasi keberhasilan ramadhan yang dilalui adalah dengan
adanya komitmen kepada Al-Quran yang semakin kuat, karena Al-Quran berfungsi sebagai
petunjuk dan al-furqon dalam menilai sesuatu; untuk dapat membedakan antara yang Hak
(benar) dan yang bathil (salah), seperti firman Allah yang telah disebutkan diatas.

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk (hudan) bagi
manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda / furqan (antara
haq dengan bathil)” (QS. Al Baqarah [2] : 185).
Ayat diatas menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Maha Pengasih sebagai
petunjuk bagi manusia yang mengimaninya, merupakan argumentasi-argumentasi yang jelas dan
gamblang bagi mereka yang memahaminya. Al-Qur’an juga merupakan pembeda antara haq
dengan bathil, halal dengan haram. [2]

Allah SWT telah menurunkan kepada kita Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Allah memberi
petunjuk melalui Al-Qur’an tersebut siapa saja yang mengikutinya dan menyesatkan siapa saja
yang menyimpang darinya. Di dalam Al-Qur’an itu terdapat petunjuk, dan penjelas dari petunjuk
(berisi keterangan-keterangan tentang hukum), dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).

Allah telah mensyariatkan Islam kepada Muhammad SAW. sebagai satu-satunya agama yang
benar. Islam adalah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, yang mengatur
hubungan dengan dirinya sendiri, dan juga yang mengatur hubungannya dengan sesama makhluk
baik manusia maupun lingkungan lainnya. Aktivitas menerapkan wahyu yang diturunkan,
termasuk penerapan hukum-hukum syariat (Islam) secara total dalam berbagai aspek kehidupan
manusia (individu, kelompok, maupun negara) merupakan penyebab hakiki terwujudnya
kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Di dalam penerapan syariat Islam itulah terdapat
keagungan dan kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Allah berfirman yang artinya:

‫( َ ََُْ ن‬
َ ِ@ِ%َ,ُْ ‫( ا‬
 ِ:َ ‫( َو‬
َ ِ,ِْbُْ ِ ‫ُ ِ)ِ َو‬2َ ِ ‫ ُة َو‬M ِْ ‫َو ِ)ِ ا‬

“Padahal kekuatan (kemuliaan) itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang
Mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tiada mengetahui”. (Al-Munafiqun:8).

disadari atau tidak, orang-orang kafir sudah mengetahui bahwa sumber kekuatan umat Islam
adalah Al-Qur’an; selama Al-Qur’an masih dipegang kuat oleh umat Islam maka akan sulit dan
mustahil dikalahkan. Karena itulah Allah menceritakan bahwa orang-orang kafir berkata:

ُِْcَB ْ9ُ:ََ ِ)ِ% ‫َ ْا‬cْ ‫ن وَا‬


ِ Fَْ2ُ@ْ ‫َا ا‬Dَِ ‫َ*َُْ ا‬B َ ‫ن‬
َ

“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-
pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (Fushilat:26)

Sebaliknya, jauhnya kaum Muslimin dari Islam dan hukum-hukumnya merupakan penyebab
hakiki akan kelemahan, ketertinggalan, dan kenestapaan mereka. Allah SWT berfirman :

6َْ1‫ َ ْ َم ا ْ@ََِِ َأ‬Qُ 2ُ ُْ.َN‫ً َو‬:ْ,َd ًََِ ُ)َ ‫ن‬


 Yَِ% ‫ِي‬2ْ‫َ(ْ ِذآ‬1 ‫ض‬
َ 2َ ْ1‫َوَ(ْ َأ‬

“Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang
sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (Thaha :
124).

Berbagai krisis yang menimpa dan mengepung berbagai negeri dan di berbagai belahan dunia;
sejak beberapa tahun lalu hingga sekarang merupakan sebaik-baik argumen tentang hal itu.
Seharusnya umat Islam sadar bahwa Islam bukanlah semata-mata sebagai syiar-syiar dan ibadah
ritual belaka, namun merupakan agama sempurna yang meliputi akidah, syariat, hukum, politik,
dan risalah ke seluruh dunia. Dan di dalam penerapan syariat Islam terdapat keagungan dan
kewibawaan mereka di depan musuh-musuhnya. Dan kaum Muslimin juga seharusnya sadar
akan kewajiban dirinya untuk menegakkan Khilafah Islam secara total, mulai dari individu,
keluarga, masyarakat hingga daulah (negara).

___________________________________

[1]. Lihat: Studi ilmu-ilmu Al-Qru’an, hal.144]

[2]. Tafsirul Quranil ‘Azhim, I, hal. 269