Anda di halaman 1dari 42

KAJIAN ISLAM

1. Iman, Islam, Ihsan

2. Islam dan Sains

3. Islam dan Penegakan Hukum

4. Kewajiban Menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar

5. Fitnah Akhir Zaman

Disusun sebagai tugas terstruktur Mata Kuliah: Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampuh:

Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Disusun Oleh:

Nama : Dewi Irmayanti

NIM : C1G020065

Fakultas&Prodi : Pertanian & Agribisnis

Semester : 1 (Satu)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MATARAM

T.A. 2020/2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah swt atas segala rahmatnya sehingga tugas ini dapat tersusun
hingga selesai. Sholawat serta salam kita haturkan kepeda nabi Muhammad saw yang
telah membawa kita menuju jalan yang benar.

Terima kasih saya sampaikan atas bimbingan Bapak Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I.,
M.Sos sebagai dosen pengampuh mata Kuliah Pendidkan Agama Islam

Besar harapan kami tugas ini akan memberi manfaat dan menambah pengetahuan bagi
siapa saja yang membacanya, terlebih bagi saya pribadi

Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami, kami yakin masih banyak
kekurangan dalam tugas ini. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan keritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan tugas ini.

Penyusun, Mataram 14 Desember 2020

Dewi Irmayanti

C1G020065

i
DAFTAR ISI

HALAMAN COVER

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i

DAFTAR ISI...................................................................................................................ii

BAB I. IMAN, ISLAM,


IHSAN...............................................................................................................................1

BAB II. ISLAM DAN SAINS.........................................................................................6

BAB III. ISLAM DAN PENEGAKAN


HUKUM.........................................................................................................................16

BAB IV. KEWAJIBAN MENEGAKKAN AMAR MAKRUF DAN NAHI


MUNKAR......................................................................................................................22

BAB V. FITNAH AKHIR


ZAMAN.........................................................................................................................31

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................37

LAMPIRAN...................................................................................................................39

ii
BAB I

IMAN, ISLAM, IHSAN

1. IMAN
Iman berasal dari Bahasa Arab dari kata dasar amana yu’minu-imanan. Artinya
beriman atau percaya. Percaya dalam Bahasa Indonesia artinya meyakini atau yakin
bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu memang benar atau nyata adanya. Iman dapat
dimaknai iktiraf, membenarkan, mengakui, pembenaran yang bersifat khusus.

Menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan,
dan memperbuat dengan anggota badan (beramal). Tashdiqun bil qolbi ikrarun bil lisan
wa 'amalun bil arkan.

Imam Al-Ghazali memaknakannya dengan kata tashdiq ( ‫ديق‬CC‫) التص‬ yang berarti
“pembenaran”. Pengertian Iman adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan
lisan dan dilakukan dengan perbuatan. Iman secara bahasa berasal dari kata Asman-
Yu’minu-limaanan artinya meyakini atau mempercayai. Pembahasan pokok aqidah
Islam berkisar pada aqidah yang terumuskan dalam rukun Iman, yaitu:

1) Iman kepada Allah


2) Iman kepada Malaikat-Nya
3) Iman kepada kitab-kitab-Nya
4) Iman kepada Rasul-rasul-Nya
5) Iman kepada hari akhir
6) Iman kepada Takdir Allah

Bila kita perhatikan penggunaan kata Iman dalam Al- Qur'an, akan mendapatinya dalam
dua pengertian dasar,yaitu:

 Iman dengan pengertian membenarkan adalah membenarkan berita yang


datangnya dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam salah satu hadist shahih diceritakan
bahwa Rasulullah ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang Iman yang artinya
bahwa yang dikatakan Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-
Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat dan engkau beriman bahwa
Qadar baik dan buruk adalah dari Allah SWT.

1
 Iman dengan pengertian amal atau ber-iltizam dengan amal : segala perbuatan
kebajikan yang tidak bertentangan dengan hukum yang telah digariskan oleh
syara‟.

Dalam sebuah ayat dalam al-quran surat al-hujarot: ayat 15:


ٰۤ
‫ول ِٕٕى)( َك ُه ُم‬ ُ‫سبِ ْي ِل هّٰللا ِ ۗ ا‬ ِ ُ‫س ْولِ ٖه ثُ َّم لَ ْم َي ْرتَابُ ْوا َو َجا َهد ُْوا بِا َ ْم َوالِ ِه ْم َواَ ْنف‬
َ ‫س ِه ْم ِف ْي‬
‫هّٰلل‬
ُ ‫اِنَّ َما ا ْل ُمؤْ ِمنُ ْونَ الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا بِا ِ َو َر‬
ّ ٰ ‫ال‬
َ‫ص ِدقُ ْون‬

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang


percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka
Itulah orang-orang yang benar".

Menurut Muhammad Nur Abdul Hafizh, setidaknya terdapat lima pola dasar pembinaan
akidah atau keimanan yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah, yakni :

a) Membacakan kalimat tauhid kepada anak


b) Menanamkan kecintaan anak kepada Allah Swt.
c) Menanamkan kecintaan anak kepada Rasulullah
d) Mengajarkan Al-Qur‟an kepada anak
e) Menanamkan nilai perjuangan dan pengorbanan dalam diri anak.

2. ISLAM

Kata Islam berasal dari Bahasa Arab adalah bentuk masdar dari kata kerja - ‫اسلم – يسلم‬
‫الما‬CC‫اس‬. Yang secara etimologi mengandung makna “Sejahtera, tidak cacat, selamat”.
Seterusnya kata salm dan silm, mengandung arti : Kedamaian, kepatuhan, dan
penyerahan diri. Dari kata-kata ini, dibentuk kata salam sebagai istilah dengan
pengertian: Sejahtera, tidak tercela, selamat, damai, patuh dan berserah diri. Dari uraian
kata-kata itu pengertian Islam dapat dirumuskan taat atau patuh dan berserah diri kepada
Allah.

Islam, menurut Zuhairini, adalah menempuh jalan keselamatan dengan yakin


menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan melaksanakan dengan penuh
kepatuhan dan ketaatan akan segala ketentuan-ketentuan dan aturan-aturan oleh-Nya

2
untuk mencapai kesejahteraan dan kesentosaan hidup dengan penuh keimanan dan
kedamaian.

Pengertian Islam menurut istilah yaitu, sikap penyerahan diri (kepasrahan, ketundukan,
kepatuhan) seorang hamba kepada Tuhannya dengan senantiasa melaksanakan
perintahNya dan menjauhi laranganNya, demi mencapai kedamaian dan keselamatan
hidup, di dunia maupun di akhirat. Islam sebagai agama, maka tidak dapat terlepas dari
adanya unsur-unsur pembentuknya yaitu berupa rukun Islam, yaitu:

1) Membaca dua kalimat Syahadat


2) Mendirikan shalat lima waktu
3) Menunaikan zakat
4) Puasa Ramadhan
5) Haji ke Baitullah jika mampu

Sebagai agama sempurna, Islam datang untuk menyempurnakan ajaran yang dibawa
oleh Nabi-nabi Allah sebelum Nabi Muhammad. Kesempurnaan ajaran ini menjadi misi
profetik (nubuwwah) kehadiran Nabi Muhammad SAW. Dalam al-Qur‟an (Surah al-
Ma‟idah [5]: 3) ditemukan penegasan tentang kesempurnaan ajaran Islam.
Artinya:“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”
Berdasarkan firman Allah di atas, jelas bahwa Islam adalah agama yang sempurna,
agama yang memiliki ajaran yang mencakup semua aspek kehidupan, dan agama yang
menggariskan metode kehidupan secara utuh.

C. IHSAN

Terminologi ihsan berasal dari huruf alif, ha, sin dan nun. Di dalam al-Qur‟an, kata
ihsan bersama dengan berbagai derivasi dan kata jadiannya disebutkan secara berulang
-ulang. Penyebutan tersebut terdapat sebanyak 108 kali yang disebut tersebar dalam 101
ayat dan pada 36 surat. Derivasi ihsan berupa fi’il mâdhi, ahsana disebut dalam al-
Qur‟an sebanyak 9 (sembilan) kali pada 9 (sembilan) ayat dan 8 (delapan) surat.
Sedangkan kata ahsantum diulang sebanyak 2 (dua) kali pada 1 (satu) ayat dan 1 (satu)
surat. Sementara ahsanû tercantum 6 (enam) kali pada 6 (enam) ayat dan 6 (enam)

3
surat2. Perbedaan ungkapan tersebut terletak pada fâ’il-nya (subjek) yang secara umum
terdiri dari Allah dan manusia, baik berupa isim zhâhir maupun isim dhamîr.

Menurut istilah, ihsan ialah berbakti dan mengabdikan diri kepada Allah SWT atas
dasar kesadaran dan keikhlasan.

Ihsan atau kebaikan tertinggi adalah seperti disabdakan Rasulullah Saw: "Ihsan
hendaknya kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu
tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR. Bukhari).

Para ulama menggolongkan Ihsan menjadi 4 bagian yaitu:

1) Ihsan kepada Allah


2) Ihsan kepada diri sendiri
3) Ihsan kepada sesama manusia
4) Ihsan bagi sesama makhluk

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Ihsan memiliki satu rukun yaitu
engkau beribadah kepada Allah swt seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak
melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Hal ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu dalam kisah jawaban
Nabi saw kepada Jibri ketika ia bertanya tentang ihsan, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab:

‫أَنْ تَ ْعبُ َد هللَ َكأَنَ َك تَ َراهُ فَإِنْ لَ ْم تَ ُكنْ تَ َراهُ فَإِنَهُ يَ ََرا َك‬

Beribadahlah engkau kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka bila engkau
tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.”.

 Korelasi Islam, iman dan ihsan


Secara teori iman, Islam, dan ihsan dapat dibedakan namun dari segi prakteknya
tidak dapat dipisahkan. Satu dan lainnya saling mengisi, iman menyangkut
aspek keyakinan dalam hati yaitu kepercayaan atau keyakinan, sedangkan Islam
artinya keselamatan, kesentosaan, patuh, dan tunduk dan ihsan artinya selalu
berbuat baik karena merasa diperhatikan oleh Allah.

4
Beribadah agar mendapatkan perhatian dari sang Khaliq, sehingga dapat
diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi
laranganNya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa
bernilai plus dihadapan-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas
kedudukan kita hanyalah sebagai hamba, budak dari Tuhan, sebisa mungkin kita
bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk mendapatkan perhatian dan ridho-
Nya. Inilah hakikat dari ihsan.

5
BAB II

ISLAM DAN SAINS

1. Pengertian islam dan sains

Islam, kata ini adalah suatu suku kata yang dipergunakan oleh nabi Muhammad
SAW, untuk nama ajaran yang dibawanya yaitu islam. Secara harfiah (etimologi), islam
berasal dari bahasa arab yang mempunyai banyak arti antara lain tunduk, patuh,
berserah diri dan selamat.

Menurut istilah Harun Nasution memberikan definisi tentang islam, bahwa Islam
adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia
melalui Nabi Muhammad sebagai Rasul. Islam pada hakekatnya membawa ajaran-
ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi kehidupan
manusia.

Sains menurut bahasa berasal dari bahasa Ingrias science, sedangkan kata science
berasal dari bahasa Latin scientia. Yang berasal dari kata scine yang artinya adalah
mengetahui. Kata sains dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai al-‘ilm dalam
bahasa Arab.

Dari segi istilah sains dan ilmu bermakna pengetahuan namun demikian menurut
Sayyid Hussen Al-Nasr kata science dalam bahasa Inggris tidak dapat diterjemahkan
kedalam bahasa Arab sebagai Al-Ilm, karena konsep ilmu pengetahuan yang dipahami
oleh barat ada perbedaannya dengan ilmu pengetahuan menurut perspektif Islam.

Istilah sains diambil dari bahasa Latin scio, scire, scientia, yang bermakna ”aku tahu,
mengetahui, pengetahuan” tentang apapun oleh siapapun dengan cara apapun.

Sains berarti ilmu, sains juga dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang suatu
bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat
digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu dan
bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.

2. Al – Qur’an dan Sains modern

6
Memang diakui bahwa kitab suci berulang kepada prediksi umum mengenai
fenomena dunia fisik, seperti dalam QS. al- Rahman: 5-7. Itulah alasan mengapa al-
Qur’an terus menerus mendorong manusia untuk mengamati, merenungkan dan
mencari.

Gagasan penting yang muncul dari investigasi meskipun al-Qur’an memuat banyak
perintah kepada manusia untuk mengamati dan merefleksikan fenomena alam dan
hubungannya dengan Sang Pencipta, banyak orang masih kesulitan saat
menghubungkan konsep sains (dalam pengertian modern) tidak bisa ditemukan secara
mudah di dalam al-Qur’an atau bahkan disebagian besar warisan klasik muslim, sebab
konsep pengetahuan sudah begitu berkembang.

Mu’jizat islam (al-qur’an) yang paling utama ialah hubungannya dengan ilmu
pengetahuan. Surah pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW ialah
nilai tauhid, keutamaan pendidikan dan cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Islam juga memerintahkan umatnya mencari ilmu untuk mendapatkan kebahagiaan di
dunia dan di akhirat kelak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Menutut ilmu itu
wajib bagi setiap orang islam”.

Ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an antara lain ialah ilmu yang berhubungan dengan
kemasyarakatan yang memberi pedoman dan petunjuk dan juga terdapat maklumat atau
isyarat tentang perkara – perkara yang telah menjadi tumpuan kajian sains, misalnya :

1. Cap jari tangan sebagai tanda pengenal manusia ( Q.S al- Qiyamah : 3-4)
2. Penciptaan planet bumi dan langit (Q.S al- Anbiya’ : 30)
3. Bahwa planet bumi beredar menurut orbitnya mengelilingi matahari (QS. Al-
Anbiya’ : 33)
4. Penciptaan makhluk semuanya berpasangan (QS. Yasin : 36)

3. Peran Islam dalam Sains

Kekuatan akal atau rasio manusia dalam realitas faktualnya tidaklah cukup untuk
menyingkap tabir rahasia kejadian dan kehidupan di alam semesta. Alasan logisnya,
manusia adalah makhluk yang merupakan sesuatu yang diciptakan dan berada dalam
keterbatasan, yang tak terbatas adalah Sang Kholik. Dengan demikian manusia adalah

7
noktah penciptaan dari totalitas ciptaan yang ada, yang mana kemampuan
pengetahuannya sangatlah bergantung pada kemurahan Sang Kholik.

Dalam hal ini islam sebagai ajaran yang datang dari Al-Kholiq sudah tentu lebih tinggi
kedudukannya dibandingkan sains. Artinya, realitas kebenaran yang ada dalam islam
yang mana bersumber dari wahyu lebih terjamin, sifatnya absolut dan bisa dipercaya
karena ia tidak datang dari kemampuan manusia yang terbatas.

Islam mengajarkan manusia untuk melakukan nazhar (mengadakan observasi dan


penilitian ilmiah) terhadap segala macam peristiwa alam diseluruh jagad ini dan juga
terhadap lingkungan masyarakat serta historisitas bangsa-bangsa terdahulu. Seperti
dalam firmanNya dalam surat Yunus ayat 101 “Lihatlah apa-apa yang dilangit dan
dibumi…” dan surat Ali Imron ayat 137 “Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu
sunnah-sunnah Allah. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan lihatlah bagaimana
akibat orang-orang yang mendustakan agama”.

4. Peran sains dalam Islam

Di era modern ini sains sangatlah di unggulkan, pekerjaan manusia menjadi lebih
mudah dan ringan karena kemajuan dari sains dan teknologi. Selain memudahkan
manusia dalam menjalani aktifitas sehari-hari, sains juga mempunyai peran penting
dalam peribadatan umat islam.

Adapun peran sains dalam peribadatan muslim antara lain dalam penentuan waktu
sholat, penentuan arah qiblat, penentuan 1 ramadhan dan 1 syawal. Dalam penentuan
waktu sholat, al-qur’an dan hadits sebenarnya sudah menjelaskan hal tersebut namun
masih bersifat kualitatif sebab belum disebutkan pukul berapa awal setiap waktu sholat.
Akan tetapi dari hadits dan sumber-sumber lainnya, akhrinya para ulama dan ahli hisab
atau ahli astronomi dapat menyebutkan waktu sholat secara kuantitatif. Selain itu sains
juga memiliki andil dalam penentuan arah qiblat. Dalam penentuan arah qiblat biasanya
menggunakan rumus-rumus segitiga bola dan rumus-rumus sinar matahari.

Itulah beberapa peran dari sains terhadap islam dalam hal penerapan sains untuk
kesempurnaan peribadatan seorang muslim.

5. Sains Moderen dan Islam

8
Keinginan atau obsesi akan bangkitnya kembali peradaban Islam secara jujur lahir
dari bentuk romantisisme terhadap sejarah masa lampau. Walau begitu, keinginan itu
tentunya sesuatu yang wajar. Bahkan menjadi kewajiban setiap muslim untuk dapat
membangun suatu peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Karena itu, catatan
sejarah di atas akan membuat kita lebih bijak dalam melihat ke arah mana kita akan
menuju.

6. Islam dan Isu-Isu Sains Kontemporer

a. Islam dan Kosmologi

Kosmologi merupakan sebuah cabang sains yang menarik dan barangkali


merupakan satu-satunya cabang ilmu yang memungkinkan para pemikirnya bebas
mengutarakan pandangan-pandangannya, termasuk membangun prinsip-prinsip
relegius dan filosofis seperti halnya dalam bidang ilmu fisika dan astronomi.

b. Islam dan prinsip Antropik

Nidhal Guessoum telah berupaya menunjukkan bahwa setidak-tidaknya dalam


pembacaan atas beberapa ayat Al-Qur’an, kita bisa menemukan berbagai
keselarasan antara gagasan penalaan halus kosmos dan konsep-konsep seperti
taqdir(ketentuan sesuai ukuran), misalnya dalam QS. al-Furqan: 2 dan keadilan
(keseimbangan) dalam QS. ar-Rahman: 7.

Mengenal konsep takhsir (menundukkan), Guessoum lebih suka menyebut


gagasan Islam tradisional tersebut sebagai “prinsip ultra-antropik”. Alasannya,
konsep ini memosisikan manusia tepat di pusat pandangan hidupnya: manusia
bukan hanya tujuan dari keseluruhan penciptaan, melainkan egala sesuatu
memang telah diciptakan dan dibuat ‘tunduk’ kepadanya.

c. Islam dan Evolusi

Proses evolusi sebagai sebuah fakta alam yang tidak terbantahkan dan diabaikan
atau ditolak atas dasar apapun. Hal yang sama berlaku juga bagi bidang khusus
evolusi manusia dan biologi secara umum. Kita tidak bisa mengatakan bahwa
Islam (atau agamaapapun) tidak bertentangan dengan sains, sementara di saat

9
yang sama kita menolak Keseluruhan bangunan ilmu alam dan mengabaikannya
karena menganggapnya sebagai "cerita bohong".

d. Islam dan Sains di Masa Depan

Menurut Nidhal Guessoum, ada beberapa isu non teknis penting yang juga harus
dibahas jika kita ingin melihat sains dan Islam tumbuh dan berkembang pesat di
masa depan. Isu-isu tersebut meliputi perlunya mengajarkan filsafat sains,
perlunya merevis dan menyajikan sejarah sains dengan benar, termasuk
sumbangsih Islam dan kelahiran sains modern, perlunya melakukan dialog serius
dengan para teolog dan cendekiawan muslim untuk meyakinkan bahwa sains
dewasa ini memuat banyak penjelasan mengenai topik-topik yang sudah terlalu
lama mereka monopoli perlunya mendidik publik tentang isu-isu sains yang agak
dekat dengan wilayah keagamaan, dan terakhir adalah perlunya melakukan
kontrak dengan para pemikir non-muslim yang telah mengembangkan berbagai
upaya ilmiah dalam bidang sains dan agama.

A. Urgensi Sains
Sains dalam pengertian umum yaitu ilmu pengetahuan. Di dalam Al- Qur'an banyak
sekali ayat-ayat yang menyentuh tentang Ilmu pengetahuan dan ilmuan, al-Qur’an
sentiasa mengarahkan manusia untuk menggunakan akal fikirannya memerangi
kemukjizatan dan memberi motivasi meningkatkan ilmu pengetahuan. Selain itu Al-
Qur’an memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ilmuan. Al-Qur’an menyuruh
manusia berusaha dan bekerja serta selalu berdo’a agar ditambah ilmu pengetahuan.
Sementara itu Rasulullah memberi pengakuan bahwa ilmuan itu merupakan pewaris
para nabi. Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah
ilmuan yang mengenali dan mentaati Allah.

Sains dalam pengertian khusus mempunyai peran penting dalam kehidupan seorang
muslim, ia disejajarkan dengan ilmu-ilmu keislaman yang lain, dan bila diklasifikasikan
maka sains ini termasuk fardu kifayah, karena dapat memberikan dampak positif bagi
peningkatan keimanan seseorang, hal ini dapat dilihat pada beberapa hal berikut:

Memperteguh Keyakinan Terhadap Allah

10
Terbentuknya alam semesta ini dengan berbagai fenomenanya merupakan kunci
hidayah Allah, demikian dikatakan oleh Sayyid Qutb dalam kitab fi Zilal al-Qur’an.
Menurut Yusuf Qardhawi, hal tersebut merupakan kitab Allah yang terbentang untuk
manusia membaca kekuasaan dan kebesaran Nya. Sekalipun Tuhan merupakan tema
sentral dalam al-Qur’an, namun tidak pernah memberikan gambaran figurative tentang
penciptaan, namun hanya menyebut tanda-tandanya saja. Keadaan seperti ini membawa
implikasi bahwasanya untuk memahami sifat Tuhan, seseorang perlu mengkaji dan
menggenal semua aspek ciptaannya.
a. Menyingkap Rahasia Tasyri’
Sebagian hikmah dan maslahah disebalik disyariatkannya suatu hukum didalam
Al-Qur’an dapat diungkapkan melalui sains. Sains dapat membuktikan bahwa
hukum yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an adalah mengenai realitas kehidupan
dan kondisi alam yang sebenarnya. Sebagai contoh dapat dilihat tentang hukum
khamar, Al-Qur’an mengharamkan karena memberi efek negatif terhadap sistem
dan organ tubuh manusia, dengan menggunakan sains, akan dapat dilihat lebih jelas
sejauh mana dampak negatif yang ditimbulkannya, sehingga pantas diharamkan.
b. Bukti Kemu’jizatan Al-Qur’an.
Untuk membuktikan kemu’jizatan Al-Qur’an, sains juga dianggap sebagai
sesuatu yang penting, sebab banyak perkara yang waktunya belum sampai telah
disebutkan dalam Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an turun, kondisi manusia untuk
memahami penomena alam yang disinyalis oleh Al-Qur’an belum lagi memadai, hal
ini dapat dilihat tentang asal usul kejadian manusia, seperti yang disinyalis dalam
surah al-An’am(6) ayat 2 yang menyatakan manusia berasal dari tanah.
c. Menyempurnakan Tanggung Jawab Peribadatan.
Dalam menjalani kehidupan manusuia butuh beberapa bantuan, pengetahuan
tentang sains merupakan salah satu yang dibutuhkan, begitu pula dalam hal
hubungannya dengan Allah sebagai tuhan semasta, pengetahuan tentang sains juga
dibutuhkan. Shalat sebagai ibadah yang wajib ditunaikan diperintahkan untuk
menghadap kiblat, Untuk menentukan arah kiblat diperlukan ilmu geografi dan
astronomi, begitu juga terhadap penetuan waktu-waktu menjalankan shalat serta
penentuan awal dan akhir bulan Ramadan. Dengan demikian sains diperlukan dalam
ibadah puasa ramadhan.

11
Dalam masalah zakat pengetahuan tentang matemateka tidak dapat dikesampingkan
begitu saja, begitu juga dengan ibadah haji , diperlukan arah penunjuk jalan serta
transportasi yang dijadikan alat angkutan dari berbagai penjuru dunia menuju kota
Makkah, yang semua itu memerlukan sains.

Alam semesta ini diciptakan Allah untuk kepentingan dan kebutuhan hidup manusia
sebagaimana dijelaskan pada ayat 20 surah Lukman(Q.S.31:20). Dalan rangka
mendapatkan berbagai fasilitas diperlukan pengolahan terhadap sumber daya alam yang
dikurnikan oleh Allah, dan untuk memperoleh hasil yang maksimal tentunya diperlukan
berbagai ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengatahuan tentang sains dan teknologi
66) . Pemanfaatan sumber daya alam adalah sebagaian dari pada aktivitas sains. Dalam
kontek ini, menurut Muhammad Qutb, pada prinsipnya sains adalah merupakan suatu
cara melaksanakan tugas yang diamanahkan oleh Allah kepada umat manusia.

B. Pendekatan Al-Qur’an Terhadap Sains

Dalam kajian sains, Al-Qur’an telah memberikan dasar yang jelas, banyak ayat-ayat
Al-Qur’an yang menyentuh berbagai bidang dalam disiplin sains. Dalam buku Quranic
Sicences, Afzalu Rahman telah menyebutkan sebanyak 27 cabang ilmu sains yang
disentuh oleh Al-Qur’an. Diantaranya kosmologi, astronomi, astrologi, fisika, kimia
serta betani dan lain sebaginya. Hal ini menjadi bukti terhadap relevansi sains dalam
agama. Selain itu Al-Qur’an selalu menganjurkan manusia untuk mengasah dan
menggunakan nalar.

Al-Qur’an menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi, manusia dimotivasi untuk
menggunakannya. Berbagai potensi alam disediakan oleh Allah untuk digarap dengan
menggunakan akal fikiran. Terdapat sejumlah kata yang digunakan oleh Allah dalam
Al-Qur’an yang mengandung perintah menggunakan akal fikiran, seperti kata:

‫ اولو النهى‬-‫ اولواالبصار‬-‫ تذكر اولز االباب‬-‫– فقه‬. ‫ تدبر – تفكر‬-‫ نظر‬-‫عقل‬

Al-Qur’an menekankan tentang arti pentingnya membuat penelitian secara cermat


terhadap penomena alam untuk mendapatkan dan memperkembangakan suatu ide.

12
Sedangkan manusia diperintahkan untuk memikirkan apa saja yang ada dilangit dan di
bumi. Ayat-ayat Al-Qur’an yang secara konsep mendorong manusia menggunakan
fikiran, terutama terhadap penomena-penomena alam, secara tidak langsung telah
memperkenalkan metode induksi, dimana manusia diajak untuk memahami unsur-unsur
alam dengan lebih dalam melalui kewujudan jagad raya ini.

C. Al-Quran Dan Alam Raya


Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Qur’an berbicara tentang alam dan
fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal
tersebut :

1. Al-Qur’an memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk


memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat
dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk mengantarkannya
kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT.
2. Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan,
dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti.
Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut kecuali
jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa:
a. Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau
dikultuskan.
b. Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapan-
ketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan
fenomenanya (hukum-hukum alam).
c. Redaksi ayat-ayat kauniyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga
pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat
bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-
masing penafsir.

D. Al-Qur’an Sebagai Sumber Ilmu Sains

Di zaman sekarang, bila kita amati banyak orang yang mencoba menafsirkan
beberapa ayat al-Qur’an dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern. Tujuan
utamanya adalah untuk menunjukkan mukjizat al-Qur’an sebagai sumber segala ilmu,

13
dan untuk menumbuhkan rasa bangga kaum muslimin karena telah memiliki kitab yang
sempurna ini.

Tetapi, pandangan yang menganggap bahwa al-Qur’an sebagai sebuah sumber seluruh
ilmu pengetahuan ini bukanlah sesuatu yang baru, sebab kita mendapati banyak ulamak
besar kaum muslim terdahulu pun berpandangan demikian. Diantaranya adalah Imam
al-Ghazali.

Dalam bukunya Ihya ‘Ulum al-Din, beliau mengutip kata-kata Ibnu Mas’ud: “Jika
seseorang ingin memiliki pengetahuan masa lampau dan pengetahuan modern,
selayaknya dia merenungkan al-Qur’an”. Selanjutnya beliau menambahkan:
“Ringkasnya, seluruh ilmu tercakup di dalam karya-karya dan sifat-sifat Allah, dan al-
Qur’an adalah penjelasan esensi, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada batasan
terhadap ilmu-ilmu ini, dan di dalam al-Qur’an terdapat indikasi pertemuannya (al-
Qur’an dan ilmu-ilmu)”.

1. Islam dan Ilmu Pengetahuan


Islam merupakan sebuah peradaban yang memiliki basic bilief yang khas, sebuah
kepercayaan dasar yang disebut sebagai Tauhid. Tauhid adalah keyakinan mengenai
Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang tidak beroknum dan bersekutu. Keyakinan yang
berkembang menjadi prisma pandangan hidup tauhidi yang melihat kehidupan dalam
prinsip-prinsip kesatuan. Dari pandangan hidup tauhidi ini konsep ilmu Islam dibangun
dan tumbuh dengan keterkaitan yang sangat erat dengan Tuhan. Ilmu yang tumbuh
tanpa menghilangkan aspek dunia akhirat, materi, dan ruh. Dan memiliki sandaran yang
final dan otentik yaitu, wahyu.
Sains dalam pengertian secara umum adalah ilmu-ilmu yang mengkaji alam tabi’i,
termasuk ilmu matematik, mantik dan falsafah, yaitu mana-mana yang termasuk bidang
ilmu yang termasuk di dalam medan pengertian ‘aqliyyat dan tabi’iyyat, termasuk juga
apa yang sekarang dirujuk sebagai natural and social/human sciences.

Kata “ilmu” dan “pengetahuan” atau “ilmu pengetahuan” dalam bahasa Indonesia
terkadang dipergunakan sebagai arti dari kata ‘ilm dalam bahasa Arab. Sedangkan untuk
kata ma’rifah dari bahasa Arab seringkali hanya diterjemahkan sebagai “pengetahuan”.

14
Dalam terjemahan yang menyangkut definisi, kata ‘ilm diterjemahkan sebagai “ilmu”
atau “ilmu pengetahuan” (science) sedangkan kata ma’rifah sebagai “pengetahuan
biasa’ atau singkatnya “pengetahuan” (knowledge).

Sementara secara istilah (terminologi) ilmu berarti pemahaman tentang hakikat sesuatu.
Ia juga merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang diketahui dari dzat (esensi),sifat
dan makna sebagaimana adanya Islam sangat menjujung tinggi ilmu pengetahuan.
Karena dalam sejarahnya kemajuan sebuah peradaban selalu diawali dengan munculnya
majunya ilmu pengetahuan. Ilmu yang mampu menuntun manusia untuk lebih mengenal
akan Tuhannya.

2. Islamisasi Ilmu Pengetahuan


Menurut Muhammad Agung Bramantya, ide Islamisasi sains yang paling populer
adalah ide islamisasi yang diusung oleh Ismail Raji Al-Faruqi. Islamisasi ilmu
pengetahuan, kata Al-Faruqi, adalah solusi terhadap dualisme sistem pendidikan kaum
Muslimin saat ini. Baginya, dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan
disatukan dengan paradigma Islam. Integrasi paradigma tersebut bukan imitasi dari
Barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomis dan pragmatis
pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau pencapaian materi.

Islamisasi sains atau ilmu pengetahuan kontemporer secara Paradigma digagas oleh
Syed M. Naquib Al-Attas. Beliau mengemukakan pikirannya tentang tantangan terbesar
yang sedang dihadapi kaum Muslimin adalah sekularisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi
ilmu menurut Al-Attas lahir dari idenya terhadap islamisasi secara umum. Islamisasi
adalah pembebasan manusia, mulai dari magic, mitos, animisme dan tradisi kebudayaan
kebangsaan dan kemudian dari penguasaan sekular atas akan dan bahasanya.

15
BAB III

ISLAMDAN PENEGAKAN HUKUM

ISLAM

KataislāmberasaldaribahasaArab aslama yuslimu dengan arti semantic sebagai berikut:


tunduk dan patuh (khadha‘awaistaslama), berserah diri, menyerahkan, memasrahkan
(sallama), mengikuti(atba‘a), menunaikan, menyampaikan(addā), masuk dalam
kedamaian, keselamatan, atau kemurnian (dakhalafial-salmaual-silmaual-salām). Dari
istilah-istilah lain yang akar katanya sama,“islām” berhubungan erat dengan makna
keselamatan, kedamaian, dankemurnian.

Secara istilah, Islam bermakna penyerahan diri; ketundukan dan kepatuhan terhadap
perintah Allah serta pasrah dan menerima dengan puas terhadap ketentuan dan hukum-
hukum Nya. Pengertian“berserah diri” dalam Islam kepadaTuhan bukanlah sebutan
untuk paham fatalisme, melainkan sebagai kebalikan dari rasa berat hati dalam
mengikuti ajaran agama dan lebih suka memilih jalan mudah dalam hidup. Seorang
muslim mengikuti perintah Allah tanpa menentang atau mempertanyakannya, tetapi
disertai usaha untuk memahamih ikmahnya.

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim);

َ‫إِ ْذقَالَلَه َُربُّهُأ َ ْسلِ ۖ ْمقَاأَل َ ْسلَ ْمتُلِ َرب ِّْال َعالَ ِمين‬

“Berserah dirilah!”Dia menjawab,“Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”


DalamQ.s.Al-Maidah:3

‫ضيتُلَ ُك ُماإْل ِ ْساَل َم ِدينًا‬ َ ِ‫ْاليَوْ َمأ َ ْك َم ْلتُلَ ُك ْم ِدينَ ُك ْم َوأَ ْت َم ْمتُ َعلَ ْي ُك ْمنِ ْع َمت‬
ِ ‫يو َر‬

“Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan
nikmat ku bagimu, dan telah aku ridhoi islam sebagai agamamu”.

Islam dapat juga disebut dengan iman, millah, dan syariah dalam pengertiannya sebagai
aturan yang diturunkan oleh Allah melalui para utusan yang mencakup kepercayaan,
keyakinan, adab, akhlak, perintah, dan larangan. Agama Islam berdasarkan kewajiban
untuk berserah diri dan menunaikan ajarannya disebut islam; jika dilihat berdasarkan

16
kepercayaan terhadap Allah dan yang Dia turunkan, maka disebut iman; karena Islam
itu diktatif dan terdokumentasikan, maka disebut millah; dan karena sumber hukumnya
adalah Allah, maka disebut syari'ah.

Islam adalah sebuah kepercayaan dan pedoman hidup yang menyeluruh. Dalam Islam
diajarkan pemahaman yang jelas mengenai hubungan manusia dengan Allah (darimana
kita berasal), tujuan hidup (kenapa kita disini), dan arah setelah kehidupan (kemana kita
akan pergi). Muslim adalah orang yang memeluk ajaran Islam dengan cara menyatakan
kesaksiannya tentang keesaan Allah dan kenabian Muhammad.

PENEGAKAN HUKUM

Menurut M.Natsir (demokrasi dibawah hokum cet.III,2002) adalah suatu penegasan,


ada undang-undang yang disebut Sunnatullah yang nyata-nyata berlaku dalam
kehidupan manusia pada umumnya. Peri kehidupan manusia hanya dapat berkembang
maju dalam berjama’ah (Society). Kestabilan Hidup bermasyarakat memerlukan
tegaknya keadilan lanjut M.Natsir. Semua anggota masyarakat berkedudukan sama
dihadapan hukum. Jadi dihadapan hokum semuanya sama, mulai dari masyarakat yang
paling lemah sampai pimpinan tertinggi dalam Negara. “Dan janganlah rasa benci kamu
kepada suatu golongan menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adilah, karena
itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah karena sesungguhnya
Allah amat mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.5:8). “Dengarlah dan taatilah
sekalipun andai kata yang menjalankan hokum atas mu seseorang budak Habsyi yang
kepalanya seperti kismis selama dijalankannya hokum AllahSwt”.
(H.R.BuchoridariAnas).

Penegakan hokum dalam konteks law enforcement sering diartikan dengan penggunaan
force(kekuatan) dan berujung pada tindakan represif. Dengan demikian penegakan
hokum dalam pengertian ini hanya bersangkutan dengan hokum pidana saja. Dalam
tulisan ini dikehendaki pengertian penegakan hokum itu dalam arti luas secara represif,
maupun preventif. Konsekuensinya memerlukan kesadaran hokum secara meluas pula
baik warga negara, lebih-lebih para penyelenggara negara terutama penegak hukumnya.
Adapun penegak hokum meliputi instrument administrative yaitu pejabat administrative
dilingkungan pemerintahan. Sedangkan dalam lingkungan pidana dimonopoli oleh

17
Negara melalui alat-alatnya mulai dari kepolisian, kejaksaan dan kehakiman sebagai
personifikasi negara. Penegakan hokum saja tidaklah cukup tanpa tegaknya keadilan.
Karena tegaknya keadilan itu diperlukan guna kestabilan hidup bermasyarakat, hidup
berbangsa dan bernegara. Tiap sesuatu yang melukai rasa keadilan terhadap sebagian
dari masyarakat bias mengakibatkan rusaknya kestabilan bagi masyarakat keseluruhan,
sebab rasa keadilan adalah unsure fitrah kelahiran seseorang sebagai manusia.
Kepastian hokum akan tercapai jika penegakan hokum itu sejalan dengan undang-
undang yang berlaku dan rasa keadilan masyarakat yang ditopang oleh kebersamaan
tiap individu didepan hokum (equalitybeforethelaw). Bahwa hokum memandang setiap
orang sama, bukan karena kekuasaan dan bukan pula karena kedudukannya lebih tinggi
dari yang lain. Persamaan setiap manusia sesuai fitrah kejadiannya:

“Manusia itu adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi
kabar gembira dan peringatan dan beserta mereka Dia turunkan kitab dengan membawa
kebenaran, supaya kitab itu member keputusan antara manusia tentang apa yang mereka
perselisihkan (QS.2:213).

Terdapat beberapa factor yang dapat mendukung tegaknya hokum disuatu Negara antara
lain: Kaidah hukum, Penegak hukum, Fasilitas dan Kesadaran hokum warga Negara.
Dalam pelaksanaannya masih tergantung pada system politik Negara yang
bersangkutan.

Agar suatu kaidah hokum berfungsi maka bila kaidah itu berlaku secara yuridis, maka
kemungkinan besar kaidah tersebut merupakan kaidah mati (doderegel), kalau secara
sosiologis (teori kekuasaan), maka kaidah tersebut menjadi aturan pemaksa
(dwangmaatregel). Jika berlaku secara filosofi, maka kemungkinannya hanya hokum
yang dicita-citakanya itu iusconstituendum. Kaidah hokum atau peraturan itu sendiri,
apakah cukup sistematis, cukup sinkron, secara kualitatif dan kuantitatif apakah sudah
cukup mengatur bidang kehidupan tertentu. Dalam hal penegakan hokum mungkin
sekali para petugas itu menghadapi masalah seperti sejauh mana dia terikat oleh
peraturan yang ada, sebatas mana petugas diperkenankan member kebijaksanaan.
Kemudian teladan macam apa yang diberikan petugas kepada masyarakat. Selain selalu
timbul masalah jika peraturannya baik tetapi petugasnya malah kurangbaik. Demikian
pula jika peraturannya buruk, maka kualitas petugas baik.

18
Fasilitas merupakan sarana dalam proses penegakan hukum. Jika sarana tidak cukup
memadai, maka penegakan hokum pun jauh dari optimal. Mengenai warga Negara atau
warga masyarakat dalam hal ini tentang derajat kepatuhan kepada peraturan. Indikator
berfungsinya hokum adalah kepatuhan warga. Jika derajat kepatuhan rendah, hal itu
lebih disebabkan oleh keteladanan dari petugas hukum.

Islam telah menggariskan sejumlah aturan untuk menjamin keberhasilan penegakan


hokum antara lain:

Semua produk hokum harus bersumber dari wahyu

Konstitusi dan perundang-undangan yang diberlakukan dalam Daulah Islamiyah


bersumber dari wahyu. Ini bias dipahami karena netralitas hokum hanya bias
diwujudkan tatkala hak penetapan hokum tidak berada ditangan manusia, tetapi
ditangan Zat Yang menciptakan manusia. Menyerahkan hak ini kepada manusia seperti
yang terjadi dalam system demokrasi secular sama artinya telah memberangus
“netralitashukum”.

Sistem Islam, sekuat apapun upaya untuk mengintervensi hokum pasti akan gagal.
Pasalnya, hokum Allah SWT tidak berubah, tidak akan pernah berubah, dan tidak boleh
diubah. Khalifah dan aparat Negara hanya bertugas menjalankan hukum, dan tidak
berwenang membuat atau mengubah hukum. Mereka hanya diberi hak untuk melakukan
ijtihad serta menggali hokum syariah dari al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

Kesetaraan didepan hukum.

Dimata hokum Islam, semua orang memiliki kedudukan setara; baik ia Muslim, non-
Muslim, pria maupun wanita. Tidak ada diskriminasi, kekebalan hukum, atau hak
istimewa. Siapa saja yang melakukan tindakan criminal (jarimah) dihukum sesuai
dengan jenis pelanggarannya. Dituturkan dalam riwayat sahih, bahwa pernah seorang
wanita bangsawan dari Makhzum melakukan pencurian. Para pembesar mereka
meminta kepada Usamahbin Zaid agar membujuk Rasulullah SAW. Agar memperingan
hukuman. Rasulullah saw.murka seraya bersabda:

19
ِ َ‫ض ِعيفُأَقَا ُموا َعلَ ْي ِه ْال َح َّد َوا ْي ُمالل ِهلَوْ أَنَّف‬
َ‫اط َمةَبِ ْنتَ ُم َح َّم ٍد َس َرقَ ْتلَق‬ َّ ‫إِنَّ َماأَ ْهلَ َكالَّ ِذينَقَ ْبلَ ُك ْمأَنَّهُ ْم َكانُواإِ َذا َس َرقَفِي ِه ُمال َّش ِريفُتَ َر ُكوهُ َوإِ َذا َس َرقَفِي ِه ُمال‬
‫طَ ْعتُيَ َدهَا‬

“Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah tatkala ada


orang yang terhormat mencuri, mereka biarkan; jika orang lemah yang mencuri, mereka
menegakkan had atas dirinya. Demi Zat Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya,
seandainya Fatimah putri dari Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya
“(HRal-Bukhari).

Mekanisme pengadilan efektif dan efisien.

Mekanisme pengadilan dalam system hokum Islam efektif dan efisien. Ini bias dilihat
dari beberapa hal berikut ini.

Pertama: keputusan hakim dimajelis pengadilan bersifat mengikat dan tidak bias
dianulir oleh keputusan pengadilan manapun. Kaedah ushul fikih menyatakan:

‫ضبِااْل ِ جْ تِهَا ِد‬


ُ َ‫اَاْل ِ جْ تِهَا ُدالَيُ ْنق‬

"Sebuah ijtihad tidak bias dianulir dengan ijtihad yang lain".

Keputusan hakim hanya bias dianulir jika keputusan tersebut menyalahi nassyariah atau
bertentangan dengan fakta. Keputusan hakim adalah hokum syariah yang harus diterima
dengan kerelaan. Oleh karena itu, pengadilan Islam tidak mengenal adanya keberatan
(i’tiradh), naik banding (al-istinaf) dan kasasi (at-tamyiiz). Dengan begitu penanganan
perkara tidak berlarut-larut dan bertele-tele.

Kedua: Mekanisme pengadilan dalam majelis pengadilan mudah dan efisien. Jika
seorang pendakwa tidak memiliki cukup bukti atas sangkaannya, maka qadhi akan
meminta terdakwa untuk bersumpah. Jika terdakwa bersumpah, maka ia dibebaskan dari
tuntutan dan dakwaan pendakwa. Namun, jika ia tidak mau bersumpah maka terdakwa
akan dihukum berdasarkan tuntutan dan dakwaan pendakwa.

20
Ketiga:Kasus-kasus yang sudah kadaluwarsa dipetieskan, dan tidak diungkit kembali,
kecuali yang berkaitan dengan hak-hak harta. Pasalnya, kasus lama yang diajukan
kesidang pengadilan ditengarai bermotifkan balas dendam.

Keempat: Ketentuan persaksian yang memudahkan qadhi memutuskan sengketa.

Hukum merupakan bagian integral dari keyakinan.

Seorang Muslim wajib hidup sejalan dengan syariah. Kewajiban ini hanya bias
diwujudkan tatkala ia sadar syariah. Penegakkan hokum menjadi lebih mudah, karena
setiap Muslim, baik penguasa maupun rakyat, dituntut oleh agamanya untuk memahami
syariah sebagai wujud keimanan dan ketaatannya kepada Allah SWT danRasul-Nya.

Lembaga Peradilan Tidak Tumpang Tindih.

Qadhi diangkat oleh Khalifah atau struktur yang diberi kewenangan Khalifah. Qadhi
secara umum dibagi menjadi tiga; yakni qadhi khushumat, qadhi hisbah dan qadhi
mazhalim. Qadhi khushumat bertugas menyelesaikan persengketaan yang menyangkut
kasus ’uqubat dan mu’amalah. Qadhi hisbah bertugas menyelesaikan penyimpangan
yang merugikan kepentingan umum. Qadhi mazhalim bertugas menyelesaikan
persengketaan rakyat dengan negara, baik pegawai, pejabat pemerintahan, maupun
Khalifah. Lembaga-lembaga tersebut memiliki kewenangan dan diskripsi tugas yang
tidak memungkinkan terjadinya tumpang tindih.

Setiap keputusan hokum ditetapkan dimajelis peradilan.

Keputusan qadhi bersifat mengikat jika dijatuhkan didalam majelis persidangan.


Pembuktian baru diakui jika diajukan didepan majelis persidangan .Atas dasar itu,
keberadaan majelis persidangan merupakan salah satu syarat absahnya keputusan
seorang qadhi. Yang dimaksud qadhi disini adalah qadhi khushumat.

Islampun mewajibkan kaum Muslim untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar,
baik dilaksan akan secara individu, kelompok (partaipolitik), maupun kelembagaan
Negara (mahkamahmazhalim). Kontrol atas penegakan hokum bukan sekadar menjadi
isu politik dan yuridis, namun juga menjadi isu social yang mampu member “tekanan”
kuat bagi siapa saja yang berusaha merobohkan sendi-sendi hukum.

21
BAB IV

KEWAJIBAN MENEGAKKAN AMAR MAKRUF DAN NAHI MUNKAR

1. Pengertian

Secara etimologi ma’ruf berarti yang dikenal sedangkan munkar adalah suatu
yang tidak dikenal. Sementara itu, pendpat dari beberapa tokoh mengenai amar ma’ruf
nahi munkar adalah:

Muhammad Abduh, ma’ruf berarti apa yang dikenal (baik) oleh akal sehat dan
hati nurani. Sedangkan munkar adalah sesuatu yang tidak dikenal baik oleh akal
maupun hati nurani.

Ali As- Shabuni mendefinisikan ma’ruf dengan apa yang diperintahkan syara’ dan
dinilai baik oleh akal sehat, sedangkan munkar adalah apa yang dilarang oleh syara’ dan
dinilai buruk oleh akal sehat.

Al- Ishfahani berpendapat ma’ruf adalah sebuah nama untuk semua perbuatan
yang dikenal baiknya melalui akal dan syara’, dan munkar adalah apa yang ditolak oleh
keduanya. Maka dapat disimpulkan bahwa ma’ruf adalah setiap pekerjaan atau urusan
yang yang diketahui dan dimaklumi berasal dari agama Allah dan syari’atnya serta
dinilai baik oleh akal sehat dan hati nurani. Sedangkan munkar adalah setiap pekerjaan
yang tidak bersumber dari agama Allah dan syari’atnya dan dinilai buruk oleh akal serta
hati nurani atau setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara. Secara istilah adalah
semua perkara yamg diingkari, dilarang, dicela dan dicela pelakunya oleh syariat. Maka
masuk didalamnya semua bentuk maksiat dan bida’ah dan yang paling jeleknya adalah
kesyirikan kepada Allah.

Kewajiban menegakkan kedua hal itu merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa
ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya,

Tidak diragukan lagi bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah upaya menciptakan
kemaslahatan umat dan memperbaiki kekeliruan yang ada pada tiap-tiap individunya.
Dengan demikian, segala hal yang bertentangan dengan urusan agama dan merusak
keutuhannya, wajib dihilangkan demi menjaga kesucian para pemeluknya.

22
Persoalan ini tentu bukan hal yang aneh karena Islam adalah akidah dan syariat yang
meliputi seluruh kebaikan dan menutup segala celah yang berdampak negatif bagi
kehidupan manusia.

Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan amal yang paling tinggi karena posisinya
sebagai landasan utama dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara
mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Ali
Imran: 110)

Jika kita perhatikan dengan saksama, sebenarnya diutusnya para rasul dan
diturunkannya Al-Kitab adalah dalam rangka memerintah dan mewujudkan yang
ma’ruf, yaitu tauhid yang menjadi intinya, kemudian untuk mencegah dan
menghilangkan yang mungkar, yaitu kesyirikan yang menjadi sumbernya.

Jadi, segala perintah Allah subhanahu wata’ala yang disampaikan melalui rasul-Nya
adalah perkara yang ma’ruf. Begitu pula seluruh larangan-Nya adalah perkara yang
mungkar. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar
ini sebagai sifat yang melekat dalam diri nabi-Nya dan kaum mukminin secara
menyeluruh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan
mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, serta taat
kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah
Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Siapa pun meyakini bahwa kebaikan manusia dan kehidupannya ada dalam ketaatan
kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan hal
tersebut tidak akan sempurna tercapai melainkan dengan adanya amar ma’ruf nahi

23
mungkar. Dengan hal inilah umat ini menjadi sebaik-baik umat di tengah-tengah
manusia.

2. Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi tiap-tiap muslim yang memiliki
kemampuan. Artinya, jika ada sebagian yang melakukannya, yang lainnya terwakili.
Dengan kata lain, hukumnya fardhu kifayah.

Namun, boleh jadi, hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak
ada lagi yang menegakkannya. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Amar
ma’ruf nahi mungkar menjadi wajib ‘ain bagi seseorang, terutama jika ia berada di suatu
tempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal (ma’ruf dan mungkar) selain dirinya;
atau jika tidak ada yang dapat mencegah yang (mungkar) selain dirinya. Misalnya, saat
melihat anak, istri, atau pembantunya, melakukan kemungkaran atau mengabaikan
kebaikan.” (Syarh Shahih Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar
adalah fardhu kifayah. Namun, terkadang menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu
dan tidak ada pihak lain yang menjalankannya.”

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah mengemukakan hal yang
sama, “Ketika para da’i sedikit jumlahnya, kemungkaran begitu banyak, dan kebodohan
mendominasi, seperti keadaan kita pada hari ini, maka dakwah (mengajak kepada
kebaikan dan menjauhkan umat dari kejelekan) menjadi fardhu ‘ain bagi setiap orang
sesuai dengan kemampuannya.”

Dengan kata lain, kewajibannya terletak pada kemampuan. Dengan demikian, setiap
orang wajib menegakkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta


taatlah dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya
dari kekikiran, mereka itulah orang yang beruntung.” (at-Taghabun: 16)

24
Kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan adalah tiga hal yang terkait erat dengan
proses amar ma’ruf nahi mungkar. Yang memiliki kekuasaan tentu saja lebih mampu
dibanding yang lain sehingga kewajiban mereka tidak sama dengan yang selainnya.

Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak wajib bagi tiap-
tiap individu (wajib ‘ain), namun secara hukum menjadi fardhu kifayah. Inilah pendapat
yang dipegangi mayoritas para ulama, seperti al-Imam al-Qurthubi, Abu Bakar al-
Jashash, Ibnul Arabi al-Maliki, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain rahimahumullah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah
orang orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ِ ‫ك أَضْ َعفُ اإْل ِ ي َم‬


‫ان‬ َ ِ‫َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َكرًا فَ ْليُ َغيِّرْ هُ بِيَ ِد ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْست َِط ْع فَبِلِ َسانِ ِه فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَبِقَ ْلبِ ِه َو َذل‬

“Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan
tangannya. Jika belum mampu, cegahlah dengan lisannya. Jika belum mampu, dengan
hatinya, dan pencegahan dengan hati itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no.
70 dan lain-lain)

Amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam
mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:

a. Mengingkari dengan tangan.

b. Mengingkari dengan lisan.

c. Mengingkari dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya,
sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat
suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu

25
melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga
terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti
dengan senjata.

Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama
muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan
menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat
(kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci


kemungkaran- kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap
individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa yang tidak
mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.

Imam Ibnu Rajab berkata setelah menyebutkan hadits di atas dan hadits-hadits yang
senada dengannya “Seluruh hadits ini menjelaskan wajibnya mengingkari kemungkaran
sesuai dengan kemampuan, dan sesungguhnya mengingkari dengan hati sesuatu yang
harus dilakukan, barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya, maka ini
pertanda hilangnya keimanan dari hatinya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/258)

Kemudian dalam amar ma’ruf dan nahi mungkar ada berapa kaidah penting dan prinsip
dasar yang harus diperhatikan, jika tidak diindahkan niscaya akan menimbulkan
kemungkaran yang lebih besar dan banyak:

Pertama: Mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah , maksudnya ialah


seseorang yang beramar ma’ruf dan nahi mungkar ia harus memperhatikan dan
mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadat dari perbuatannya tersebut, jika
maslahat yang ditimbulkan lebih besar dari mafsadatnya maka ia boleh melakukannya,
tetapi jika menyebabkan kejahatan dan kemungkaran yang lebih besar maka haram ia
melakukannya, sebab yang demikian itu bukanlah sesuatu yang di perintahkan oleh
Allah Ta’ala, sekalipun kemungkaran tersebut berbentuk suatu perbuatan yang
meninggalkan kewajiban dan melakukan yang haram.

Oleh karena itu perlu dipahami dan diperhatikan empat tingkatan kemungkaran dalam
bernahi mungkar berikut ini:

26
1. Hilangnya kemungkaran secara total dan digantikan oleh kebaikan.

2. Berkurangnya kemungkaran, sekalipun tidak tuntas secara keseluruhan.

3. Digantikan oleh kemungkaran yang serupa.

4. Digantikan oleh kemungkaran yang lebih besar.

Pada tingkatan pertama dan kedua disyari’atkan untuk bernahi mungkar, tingkatan
ketiga butuh ijtihad, sedangkan yang keempat terlarang dan haram melakukannya.
(Lihat, ibid, dan Syarh Arba’in Nawawiyah, Syaikh Al Utsaimin, hal: 255)

3. Syarat dan Etika Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kita agar kita beribadah dan menjalankan
ketaatan kepada-Nya sebaik mungkin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu
yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah ibadah, ketaatan, dan amal saleh. Karena itu, harus
dilakukan dengan benar dan penuh keikhlasan agar menjadi amalan saleh yang diterima.
Al-Imam Fudhail Ibnu Iyadh rahimahullah mengemukakan bahwa suatu amalan
meskipun benar tidak akan diterima jika tidak ada keikhlasan, begitu pun sebaliknya.
Keikhlasan berarti semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan
kebenaran berarti harus berada di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para penegak amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya memerhatikan dan memenuhi
beberapa syarat berikut.

Syarat pertama: Ilmu dan pemahaman sebelum memerintah dan melarang.

Apabila tidak ada ilmu, dapat dipastikan yang ada adalah kebodohan dan
kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Padahal siapa saja yang beribadah kepada Allah
subhanahu wa ta’ala tanpa ilmu, maka kerusakan yang diakibatkannya jauh lebih
dominan daripada kebaikan yang diharapkan.

27
Dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar, ilmu yang harus dimiliki meliputi
tiga hal, antara lain: Mengetahui yang ma’ruf dan yang mungkar serta dapat
membedakan antara keduanya; Mengetahui dan memahami keadaan objek yang
menjadi sasarannya; serta mengetahui dan menguasai metode atau langkah yang tepat
dan terbaik sesuai dengan petunjuk jalan yang lurus (ketentuan syariat). Tujuan
utamanya adalah supaya tercapai maksud yang diinginkan dari proses amar ma’ruf nahi
mungkar dan tidak menimbulkan kemungkaran yang lain.

Syarat kedua: Lemah lembut dalam beramar ma’ruf dan bernahi mungkar.

Penyambutan yang baik, penerimaan, dan kepatuhan adalah harapan yang tidak
mustahil apabila proses amar ma’ruf nahi mungkar selalu dihiasi oleh kelembutan.

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan dalam sabdanya:

ُ‫ْطي َعلَى َما ِس َواه‬ ِ ‫ق َما اَل يُ ْع ِطي َعلَى ْال ُع ْن‬
ِ ‫ف َو َما اَل يُع‬ ِ ‫ق َويُ ْع ِطي َعلَى ال ِّر ْف‬
َ ‫ق ي ُِحبُّ ال ِّر ْف‬
ٌ ‫إِ َّن هللاَ َرفِي‬

“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai sikap lemah lembut dalam tiap
urusan. Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kepada sikap lemah lembut
sesuatu yang tidak akan diberikan kepada sikap kaku atau kasar dan Allah subhanahu
wa ta’ala akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan kepada selainnya.” (HR.
Muslim “Fadhlu ar-Rifq” no. 4697, Abu Dawud “Fi ar-Rifq” no. 4173, Ahmad no. 614,
663, 674, dan 688, dan ad-Darimi “Bab Fi ar-Rifq” no. 2673)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ُ‫ع ِم ْن َش ْي ٍء إِاَّل َشانَه‬ َ ‫إِ َّن ال ِّر ْف‬


ُ ‫ق اَل يَ ُكونُ فِي َش ْي ٍء إِاَّل زَ انَهُ َواَل يُ ْن َز‬

“Tidaklah sikap lemah lembut itu ada dalam sesuatu, melainkan akan menghiasinya,
dan tidaklah sikap lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan
menghinakannya.” (HR. Muslim no. 4698, Abu Dawud no. 2119, dan Ahmad no.
23171, 23664, 23791)

28
Al-Imam Sufyan ibnu Uyainah rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh beramar ma’ruf
dan bernahi mungkar selain orang yang memiliki tiga sifat: lemah lembut, bersikap adil
(proporsional), dan berilmu yang baik.”

Termasuk sikap lemah lembut apabila senantiasa memerhatikan kehormatan dan


perasaan manusia. Oleh karena itu, dalam beramar ma’ruf nahi mungkar hendaknya
mengedepankan kelembutan dan tidak menyebarluaskan aib atau kejelekan. Kecuali,
mereka yang cenderung senang dan bangga untuk menampakkan aibnya sendiri dengan
melakukan kemungkaran dan kemaksiatan secara terang-terangan. Sebab itu, tidak
mengapa untuk mencegahnya dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Siapa yang menasihati saudaranya dengan


sembunyi-sembunyi, sungguh ia benar-benar telah menasihatinya dan menghiasinya.
Siapa yang menasihati saudaranya dengan terang-terangan (di depan khalayak umum),
sungguh ia telah mencemarkannya dan menghinakannya.” (Syarh Shahih Muslim)

Syarat ketiga: Tenang dan sabar menghadapi kemungkinan adanya gangguan setelah
beramar ma’ruf nahi mungkar.

Gangguan seolah-olah menjadi suatu kemestian bagi para penegak amar ma’ruf nahi
mungkar. Oleh karena itu, jika tidak memiliki ketenangan dan kesabaran, tentu
kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang diinginkan.

Al-Imam ar-Razi rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang beramar ma’ruf nahi
mungkar itu akan mendapat gangguan, maka urusannya adalah bersabar.

Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengemukakan bahwa para rasul adalah
pemimpin bagi para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Allah subhanahu wa ta’ala
telah memerintah mereka semua agar bersabar, seperti firman-Nya:

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang


memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk
mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, merasa seolah-olah tinggal (di
dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak
ada yang dibinasakan, selain kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah subhanahu wa
ta’ala).” (al-Ahqaf: 35)

29
“Dan karena Rabbmu, bersabarlah!” (al-Mudatstsir: 7)

“Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Rabbmu, karena sesungguhnya


engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu
ketika engkau bangun.” (at-Thur: 48)

Allah subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan wasiat Luqman kepada putranya dalam
firman-Nya:

“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan
cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu,
sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (Luqman: 17)

Seseorang yang beramar ma’ruf nahi mungkar berarti telah memosisikan dirinya
sebagai penyampai kebenaran. Padahal tidak setiap orang ridha dan suka dengan
kebenaran. Oleh karena itu, ia pasti akan mendapat gangguan, dan itu menjadi cobaan
serta ujian baginya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,
‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-
orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti
mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 2—3).

30
BAB V

FITNAH AKHIR ZAMAN

1. PengertianFitnah

Fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk
memberikan stigma negative atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain
berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau
reputasi seseorang. Kata "fitnah" diserap dari bahasaArab, dan pengertian aslinya adalah
"cobaan" atau "ujian".

2. HukumFitnah

DidalamAl-Qur’an dan hadist sendiri ada banyak makna tentang fitnah, seperti
fitnah bermaksud Syirik Dalam Islam, berpaling dari jalan yang benar, sesat,
pembunuhan dan kebinasaan, perselisihan dan peperangan, kemungkaran dan
kemaksiatan. Termasuk adalah menyebar berita dusta atau bohong atau mengada-ngada
yang kemudian merugikan orang lain juga termasuk dalam fitnah. Padahal bahaya
berbohong dan hukumnya dalam Islam sudah jelas termasuk fungsi Al-Qur’an dalam
kehidupan sehari-hari.

Fitnah merupakan suatu kebohongan besar yang sangat merugikan dan termasuk
dalam dosa yang tak terampuni oleh Allah SWT. Oleh karenya, Islam melarang
umatnya memfitnah sebab fitnah adalah haram. Dalam surah Al-hujarat ayat 12 Allah
SWT berfirman:

‫ض ُك ْمبَ ْعض ًۗااَي ُِحبُّا َ َح ُد ُك ْما َ ْنيَّأْ ُكلَلَحْ َما َ ِخ ْي ِه َم ْيتًافَ َك ِر ْهتُ ُموْ ۗهُ َوا‬ ۖ
َ ‫ٰيٓاَيُّهَاالَّ ِذ ْين َٰا َمنُوااجْ تَنِبُوْ ا َكثِ ْيرًا ِّمنَالظَّنِّاِنَّبَ ْع‬
ُ ‫ضالظَّنِّا ِ ْث ٌم َّواَل ت ََج َّسسُوْ ا َواَل يَ ْغتَ ْببَّ ْع‬
ٰ َّ‫وااللّ ۗهان‬
‫اللّهَتَوَّابٌ َّر ِح ْي ٌم‬ ٰ ُ‫تَّق‬
َِ

artinya:

“Wahai orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, (sehingga kamu tidak
menyangka sangkaan yang dilarang) karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu
adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjing setengahnya yang lain. Apakah

31
seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian
kondisi mengumpat) makasud ah tentu kamu jijik kepadanya. (Jadi patuhilah larangan-
larangan tersebut) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang.”(Q.S.Al-Hujarat:12).

Dalam surah Az-Zumar ayat 32 Allah berfirman:

َ‫ص ْدقِا ِ ْذ َج ۤا َء ٗۗهاَلَ ْي َسفِ ْي َجهَنَّ َم َم ْث ًوىلِّ ْل ٰكفِ ِر ْين‬ ٰ َ‫ظلَممم ْن َك َذبعل‬
ِّ ‫ىاللّ ِه َو َك َّذبَبِال‬ َ َ َّ ِ ُ ْ َ ‫فَ َم ْنا‬

Artinya:

“Maka nyatalah bahwa tidak ada yang lebih zhalim dari orang yang mereka-reka
perkara-perkara yang dusta terhadap Allah, dan mendustakan sebaik-baik saja
kebenaran itu disampaikan kepadanya. Bukankah (telah diketahui bahwa) dalam neraka
jahanam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang kafir? ”(Q.S.Az-Zumar:32).

Rasulullah SAW bersabda:

ِ ‫ َو ْال َم‬،‫ َو ْالقَائِ ُمفِيهَا َخ ْي ٌر ِمن َْال َما ِشى‬،‫اع ُدفِيهَاخَ ْي ٌر ِمن َْالقَائِ ِم‬
‫ َم ْنتَ َش َّرفَلَهَاتَ ْستَ ْش ِر ْفه‬،‫اشىفِيهَا َخ ْي ٌر ِمنَالسَّا ِعى‬ ِ َ‫َستَ ُكونُفِتَنٌ ْالق‬
C‫فَ َم ْن َو َج َدفِيهَا َم ْل َجأًأَوْ َم َعا ًذافَ ْليَع ُْذبِه‬،ُ

Artinya:

“Akan terjadi fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, orang yang
berdiri lebih baik daripada yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang
berlari, barangsiapa yang mencari fitnah maka dia akan terkena pahitnya dan barang
siapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung
”(HR.Bukhari–Muslim)

3. MacamMacamFitnah

Ada dua macam fitnah, yakni fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

a. FitnahSyubhat

Syubhat berarti samar-samar atau tidak jelas. Dalam fiitnah syubhat, seseorang
menjadi rusak ilmu dan keyakinannya sehingga menjadikan perkara ma’ruf menjadi
samar dengan kemungkaran, sementara kemungkaran sendiri tidak ia hindari

32
(dikerjakan). Fitnah syubhat merupakan fitnah paling berbahaya oleh karena
kurangnya ilmu dan lemahnya bashirah, ketika diiringi dengan niat buruk dan hawa
nafsu maka timbul lah fitnah besar dan keji.

• Yang termasuk dalam fitnah syubhat antara lain:

1. Kekafiran

Allah SWT berfirman:

‫ص ْنعًاأُولَئِ َكالَّ ِذينَ َكفَرُوابِآيَاتِ َربِّ ِه ْم َولِقَائِ ِهفَ َحبِطَ ْت‬


ُ َ‫يال َحيَا ِةال ُّد ْنيَا َوهُ ْميَحْ َسبُونَأَنَّهُ ْميُحْ ِسنُون‬
ْ ِ‫ضلَّ َس ْعيُهُ ْمف‬
َ َ‫قُ ْلهَ ْلنُنَبِّئُ ُك ْمبِاأْل َ ْخ َس ِرينَأ َ ْع َمااًل الَّ ِذين‬
‫أ َ ْع َمالُهُ ْمفَاَل نُقِي ُملَهُ ْميَوْ َم ْالقِيَا َم ِة َو ْزنًا‬

Artinya:

Katakanlah:“Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang


yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa
mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap
ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka
hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian
bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Q.S.AlKahfi18:103-105).

2. Kemunafikan

AllahSWTberfirman:

۟ ُ‫ضفَزَ ا َدهُ ُمٱللَّهُم َرض ًۖا َولَهُ ْم َع َذابٌأَلِي ۢ ٌمبما َكان‬


Cَ ‫وايَ ْك ِذب‬
‫ُون‬ ٌ ‫فِىقُلُوبِ ِهم َّم َر‬
َِ َ

َ‫ضقَالُ ْٓوااِنَّ َمانَحْ نُ ُمصْ لِحُوْ ن‬


ِ ۙ ْ‫َواِ َذاقِ ْيلَلَهُ ْماَل تُ ْف ِس ُدوْ افِىااْل َر‬

Artinya:”Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi
mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta dan bila dikatakan kepada
mereka: ’Janganlah kamu membuat kerusakan dimuka bumi.’ Mereka menjawab:
“Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”(Q.S.AlBaqarah2:10-
11).

33
3. Bid’ah penyebab perpecahan

Sebuah hadistdariMu’awiyahbinAbiSufyanRA,

“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW berdiri kepada kami, lalu bersabda:


Ketahuilah, sesungguhnya Ahlul Kitab sebelum kamu telah berpecah-belah
menjadi 72 agama. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah-belah
menjadi 73 agama. 72 didalam neraka, dan satu didalam syurga, yaitu Al-
Jama’ah”

“Dan sesungguhnya akan muncul beberapa kaum dari kalangan umatku yang
hawa-nafsu menjalar pada mereka sebagaimana virus rabies menjalar pada tubuh
penderitanya. Tidak tersisa satu urat dan persendian kecuali sudah dijalarinya.”
(H.R.AbuDawud,Ahmad,Al-Hakim).

b. Fitnah Syahwat

Fitnah syahwat merupakan segala perbuatan yang dapat melemahkan dan mengikis
iman seseorang disebabkan oleh mengikuti hawanafsu. Mereka yang terkena fitnah
syahwat biasanya malas beribadah serta tidak segan melanggar perintah Allah dan
mengerjakan apa yang dilarang. Hal ini disebabkan oleh hawa nafsu beserta andil
dari iblis yang senantiasa mengiringi dan membuat iman semakin lemah.

Umumnya, fitnah syahwat adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia,
kesenangan, dan yang membangkitkan hawa nafsu. Allah SWT berfirman:

ٰ ‫ضةو ْال َخ ْي ْلمس َّومةوااْل َ ْنعامو ْالحرْ ۗث ٰذل َكمتَاع ُْالح ٰيوةال ُّد ْني ۗاو‬
ّ‫الل‬ َّ ‫ُزيِّنَلِلنَّا ِس ُحبُّال َّشهَ ٰوتِ ِمنَالنِّ َس ۤا ِء َو ْالبَنِ ْينَ َو ْالقَنَا ِطي ِْر ْال ُمقَ ْنطَ َر ِة ِمن‬
َ َ ِ َ َ ِ ِ َ َ ِ َ َ ِ َ َ ُ ‫َالذهَبِ َو ْالفِ َّ ِ َ اِل‬
ِ ‫هُ ِع ْند َٗه ُح ْسنُ ْال َم ٰا‬
‫ب‬

Artinya:

“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat (apa-apa yang diingini)
berupa wanita, anak-anak, harta kekayaan yang berlimpah dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia.
Dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).”(Q.S.Al-Imran:14).

4. Bahaya Fitnah

34
Apapun yang kita dengar dari orang lain, segala ucapan itu kita terima dengan
telinga, bukan dengan lidah (ucapan). Berita-berita itu menyebarluas dari telinga
ketelinga seolah keluar dari mulut kemulut. Hati adalah yang menentukan apakah semua
berita yang didengar itu adalah benar atau salah. Allah SWT berfirman:

‫إِ ْذتَلَقَّوْ نَ ۥهُبِأ َ ْل ِسنَتِ ُك ْم َوتَقُولُونَبِأ َ ْف َوا ِه ُكم َّمالَ ْي َسلَ ُكمبِِۦه ِع ْل ٌم َوتَحْ َسبُونَ ۥهُهَيِّنًا َوهُ َو ِعندَٱللَّ ِه َع ِظي ٌم‬

Artinya:

“Kamu katakana dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu
menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”.
(Q.S.AnNur:15).

Firman Allah SWT mengenai pertanggung jawaban panca indera kita diakhirat;

‫صنَاتِ ْالغَافِاَل تِ ْال ُم ْؤ ِمنَاتِلُ ِعنُوافِيال ُّد ْنيَا َواآْل ِخ َر ِة َولَهُ ْم َع َذابٌ َع ِظي ٌم‬
َ ْ‫إِنَّالَّ ِذينَيَرْ ُمون َْال ُمح‬

َ‫يَوْ َمتَ ْشهَ ُد َعلَ ْي ِه ْمأ َ ْل ِسنَتُهُ ْم َوأَ ْي ِدي ِه ْم َوأَرْ ُجلُهُمبِ َما َكانُوايَ ْع َملُون‬

ُ‫يَوْ َمئِ ٍذيُ َوفِّي ِه ُماللَّهُ ِدينَهُ ُم ْال َحقَّ َويَ ْعلَ ُمونَأَنَّاللَّهَهُ َو ْال َحقُّ ْال ُمبِين‬

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah


lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat didunia dan akhirat, dan bagi mereka
adzab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas
mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Pada hari itu, Allah akan member
mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka, bahwa Allah-
lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang
sebenarnya)”. (Q.S.AnNur:23-25).

Fitnah itu hukumnya sangat berat, lebih berat dari pada ketidaktaatan atau dosa
besar. Sebab fitnah itu sendiri berbahaya;

a. Menimbulkan kesengsaraan

Dikarenakan berita yang disebarkan tidaklah benar, fitnah sangat merugikan


terutama bagi orang yang difitnah dan bias jadi harga dirinya hancur dimata

35
masyarakat dan menjadi bahan cemoohan. Sedangkan bagi yang memfitnah sendiri
tidak akan lagi bias dipercaya dan setiap orang pasti akan menjauhinya.

b. Menimbulkan keresehan

Dikarenakan fitnah yang disebarkan masyarkat jadi tidak tenang karena takut.
Misalnya, ada yang difitnah menjadi pencuri, pastinya orang akan takut jika suatu
saat mereka akan jadi korban.

c. Memecah kebersamaan dan tali silaturrahmi

Satu fitnah bias menghancurkan satu bangsa karena satu fitnah saja bias
menimbulkan berbagai masalah yang akhirnya bias menjadi seperti lingkaran setan
(masalah yang tiada akhir). Padahal Keutamaan Menyambung Tali Silaturahmi
dalam Islam sangatlah besar.

d. Dapat mencelakai orang lain

Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, pada kenyataannya itu memang benar.
Fitnah umumnya dilatarbelakangi ketidaksukaan atau kebenciaan terhadap
oranglain, tidak menutup kemungkinan turut membangkitkan niatan jahat berbuat
criminal yang dapat mencelakai orang lain.

e. Fitnah merugikan orang lain

Sudah sangat jelas bahwa fitnah banyak memberikan korbannya kerugian, mulai
dari fisik, psikis, sampai harta benda dan keluarga. Yang paling menyakitkan
adalah hancurnya hargadiri karena pada dasarnya setiap manusia pasti ingin
dihargai dimata manusia lainnya.

f. Tanda orang munafik

Ciri cirri orang munafik yakni; bicaranya dusta,ketika diberi kepercayaan (amanah)
justru mengkhianatinya,dan melanggar janji.

36
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, M. R. 2013. Penegakan Hukum Atas Keadilan Dalam Pandangan Islam.


Mizan; Jurnal Ilmu Syariah, FAI Universitas Ibn Khaldun (UIKA) BOGOR. 1(2):
143-148.

Al- Atsari, A. H. Y. 2012. Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar- Majalah Islam Asy-
Syariah. https://asysyariah.com/kewajiban-amar-maruf-nahi-mungkar-2/. (13
Desember 2020).

Anonim. 2020. Fitnah – Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia Bebas.


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Fitnah. (12 Desember 2020).

Anonim. 2020. Fitnah Dalam Islam – Hukum, Macam-Macam Fitnah dan Bahayanya.
https://dalamislam-
com.cdn.ampproject.org/v/s/dalamislam.com/akhlaq/larangan/fitnah-dalam-
islam/amp?amp_js_v=a6&amp_gsa=1&usqp=mq331AQHKAFQArABIA%3D
%3D#aoh=16078515865892&referrer=https%3A%2F
%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A%2F
%2Fdalamislam.com%2Fakhlaq%2Flarangan%2Ffitnah-dalam-islam. (12
Desember 2020).

Anonim. 2020. Islam – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Islam. (13 Desember 2020)

Anonim. 2020. Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan –Trilogi Risalah Islam.
https://www.risalahislam.com/2018/01/pengertian-iman-islam-dan-ihsan-
trilogi.html?m=1. (12 Desember 2020).

Anonim. 2020. Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 10 Arab, Latin, Terjemahan Arti Bahasa
Indonesia. https://tafsirweb.com/224-quran-surat-al-baqarah-ayat-10.html. (13
Desember 2020).

37
Avrian, E. 2015. Penegakan Hukum Dalam Perspektif Islam.
https://ervanavrian.wordpress.com/2015/04/07/penegakanhukumislam/. (13
Desember 2020).

Daud, I. 2019. Islam Dan Sains Modern. Jurnal Al-Muta’aliyah STAI Darul Kamal NW
Kembang Kerang. 4(1): 74-89.

Hadi, N. 2019. Islam, Iman Dan Ihsan Dalam Kitab Matan Arba’in An-Nawawi: Studi
Materi Pembelajaran Pendidikan Islam Dalam Perspektif Hadis Nabi SAW.
Jurnal Intelektual: Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman. 9(1): 1-18.

Hatta, M. 2019. Implementasi Isi Atau Materi Pendidikan ( Iman, Islam, Ihsan, Amal
Shaleh, dan Islah) Di SD Muhammadiyah 7 Pekan Baru. Indonesian Journal of
Islamic Educational Management. 2(1): 12-25.

Ihsan, M. N. 2020. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Bag. 1). https://muslim.or.id/135-


amar-maruf-nahi-mungkar-1.html. (13 Desember 2020).

Muzaqqi, A. 2012. Sains Dalam Perspektif Islam. Makalah.

Nurjaman, A. R. 2020. Pendidikan Agama Islam. Jakarta Timur: PT Bumi Aksara.

Suhendar, N. 2020. Islam Dan Sains Modern. Makalah.

38
LAMPIRAN

39