Anda di halaman 1dari 7

Mengevaluasi Produktivitas Pekerjaan

Audit

Mengevaluasi produktivitas pekerjaan audit bukanlah suatu hal yang mudah. Beberapa

alasan yang mendasari mengapa sulit menilai dan mengukur produktivitas pekerjaan

audit adalah:

1. Tidak mudah untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi hasil yang dicapai dari

pekejaan audit yang dilaksanakan.

2. Hasil yang dicapai dari pekerjaan audit lebih dikonsumsikan untuk kepentingan

internal organisasi sehingga sulit untuk dinilai.


3. Pekerjaan audit internal merupakan upaya tim yang bertanggung jawab terhadap

pekerjaan audit yang diselesaikan dan hasil audit yang dicapai.

4. Auditor banyak menggunakan judgment dalam pekerjaan audit, di mana judgment

seorang auditor berbeda dengan auditor lainnya, tergantung bagaimana kemampuan

analisis dan pengalaman yang dimilikinya.

Selama ini, pekerjaan audit dan penyelenggaraan kegiatan fungsi pengawasan atau audit

internal dinilai produktivitas, kualitas dan kinerjanya, yaitu berdasarkan faktor-faktor

berikut:

1. Besarnya dana yang berhasil diselamatkan akibat adanya tindakan pelanggaran,

penyimpangan, atau kecurangan yang terjadi.

2. Jumlah pekerjaan penugasan audit yang dapat diselesaikan dari rencana yang telah

diprogramkan di dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT).

3. Banyaknya temuan yang berhasil diidentifikasi dan disampaikan di laporan hasil audit

tanpa memperhatikan besaran atau materialitas temuan dimaksud

Dalam kenyataannya, sistem penilaian dan pengukuran produktivitas pekerjaan audit dan

kinerja fungsi pengawasan atau audit internal tidak bisa hanya didasarkan pada

faktor-faktor tersebut. Bahkan faktor-faktor yang digunakan tersebut tidak mencerminkan

ukuran produktivitas ataupun keberhasilan dari fungsi pengawasan atau audit internal

yang sebenarnya. Model penilaian dan pengukuran tersebut juga tidak adil (​unfair)​ dan

kurang relevan karena hanya dilihat dari sudut atau kacamata auditor. Keberhasilan
pekerjaan audit dan produktivitas fungsi pengawasan atau audit internal sesungguhnya

harus dilihat dari perspektif auditi, yaitu pihak yang memperoleh manfaat dari hasil

pekerjaan audit yang dilaksanakan auditor.

Produktivitas merupakan hubungan antara sumber daya yang dipakai (misal: uang, tenaga

kerja, material, dan waktu) dibandingkan dengan hasil yang diperoleh, yaitu tingkat

efisiensi, kehematan yang dihasilkan serta efektivitas untuk pencapaian tujuan. Keluaran

(​output)​ yang dihasilkan tidak memberi arti yang signifikan jika tidak dapat dihubungkan

atau tidak dapat dikorelasikan dengan masukan (input) yang digunakan dan hasil

(​outcome)​ yang diperoleh.

1. Temuan material dan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti.

Ukuran produktivitas pekerjaan audit ditunjukkan dari keberhasilan auditor untuk

mengidentifikasi permasalahan yang benar-benar dapat mengganggu dan menghambat

pencapaian tujuan organisasi secara signifikan. Auditor tidak diharapkan

mengidentifikasi temuan-temuan minor atau kurang material yang dapat mengganggu

keharmonisan hubungan auditor dan auditi. Di samping itu, auditor harus mampu

menyampaikan rekomendasi yang mudah dan dapat untuk ditindaklanjuti oleh auditi.

Ukuran kualitas pekerjaan audit dan penyelenggaraan fungsi pengawasan atau audit

internal adalah jika temuan atau permasalahan yang diidentifikasi dan kemudian telah

direkomendasikan untuk perbaikannya tidak terjadi atau terulang di periode berikut.


2. Tanggapan dan umpan balik dari auditi.

Pekerjaan audit yang produktif dan bernilai tambah adalah jika auditi mau memberikan

tanggapan atau respon positif terhadap permasalahan yang diidentifikasi auditor dan

bersama-sama dengan auditor merumuskan solusi terbaik atas masalah yang memerlukan

perbaikan.

3. Profesionalisme auditor dalam pelaksanaan pekerjaan audit.

Auditor dituntut untuk selalu menggunakan keahlian dan kecermatan profesional dalam

setiap pekerjaan audit yang dilaksanakan. Sesuai dengan standar profesi, auditor juga

harus independen dan memiliki sikap mental yang obyektif, tidak memihak, dan

menghindari kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan dalam pelaksanaan tugas

auditnya.

4. Kepatuhan pada rencana audit.

Pekerjaan audit yang dilaksanakan harus mengacu pada Program Kerja Pengawasan

Tahunan (PKPT) yang telah disusun. Dalam penerapan audit berbasis risiko yang

menetapkan urutan prioritas pekerjaan audit yang harus dilaksanakan, auditor harus

selalu mengikuti urutan prioritas yang telah disusun. Namun demikiian, rencana audit

juga harus dibuat fleksibel yaitu memungkinkan auditor untuk tidak secara kaku

mengikuti apa yang ditetapkan dalam PKPT terutama jika dijumpai masalah yang sangat

mendesak (​urgent)​ yang belum tertuang di dalam PKPT, terutama masalahmasalah yang

diindikasi mengandung kecurangan, ketidakberesan, atau pelanggaran hukum.


5. Tidak adanya kejutan (surprise) dalam pekerjaan audit yang dilaksanakan.

Auditor harus menyadari bahwa kehadirannya untuk melakukan tugas audit bagaimana

pun menimbulkan gangguan bagi aktivitas auditi. Apalagi jika auditor tidak

memberitahukan rencana kedatangannya dan langsung secara tiba-tiba datang ke tempat

auditi untuk melakukan pekerjaan audit. Kejadian yang demikian ini seringkali

menimbulkan ketidaksukaan auditi terhadap auditor. Oleh karenanya, untuk menciptakan

pekerjaan audit yang produktif dan menjalin komunikasi yang baik dengan auditi, auditor

harus mampu mengatasi masalah-masalah tersebut.

6. Penggunaan biaya seefektif mungkin untuk pekerjaan audit.

Satuan kerja yang bertugas melakukan audit sering dipandang sebagai pusat biaya (​cost

centre​) yang tidak memberikan nilai tambah atau hasil yang nyata. Untuk mengatasi hal

ini, auditor harus mampu memanfaatkan biaya seefektif mungkin atas setiap pekerjaan

audit yang dilaksanakan.

7. Pembinaan dan pengembangan staf audit.

Keberhasilan dan produktivitas pekerjaan audit sangat tergantung kepada kemampuan

dan keahlian auditor yang ditugaskan melakukan pekerjaan audit. Keahlian dan

kemampuan auditor dapat dijaga dan ditingkatkan melalui pembinaan dan pengembangan

staf yang kontinyu atau berkesinambungan.


8. Evaluasi dari auditor eksternal terhadap aktivitas fungsi pengawasan.

Auditor dapat meminta bantuan dari auditor eksternal untuk melakukan evaluasi terhadap

kinerja dari fungsi pengawasan atau audit internal.

9. Permintaan audit oleh auditi.

Satu cara yang juga cukup efektif untuk mengevaluasi sejauh mana produktivitas fungsi

pengawasan ini adalah dengan meminta masukan langsung dari auditi yang merasakan

manfaat yang diterima dengan keberadaan fungsi pengawasan dan pekerjaan audit yang

dilaksanakan.

10. Reviu Internal

Evaluasi produktivitas dan kualitas pekerjaan audit dapat dilakukan di fungsi pengawasan

itu sendiri. Secara reguler, umumnya satu tahun sekali pekerjaan audit dievaluasi secara

internal untuk mengevaluasi kecukupan pekerjaan audit yang dilaksanakan.

11. Peer Review

Keberhasilan dan produktivitas pekerjaan audit dapat dievaluasi dengan cara peer review,

yaitu reviu yang dilakukan rekan sendiri, terutama di dalam tim audit yang ditugaskan

untuk menilai kualitas pekerjaan audit yang dilaksanakan.


12. Kualitas dari kertas kerja audit.

Efektivitas pekerjaan audit juga dinilai dari kualitas kertas kerja audit yang dibuat dan

disimpan oleh auditor. Kertas kerja audit merupakan bukti pekerjaan audit yang telah

dilaksanakan. Oleh karena itu, dokumentasi dan pemeliharaan kertas kerja audit juga

mencerminkan bagaimana kualitas penyelenggaraan fungsi pengawasan dilakukan.

Kertas kerja audit yang merupakan dokumen fisik dan sebagai alat untuk mendukung

simpulan dan rekomendasi yang disampaikan auditor dari pekerjaan auditnya sangat

penting untuk digunakan sebagai salah satu faktor yang dipertimbangkan dan dinilai

dalam program ​quality assurance​.