Anda di halaman 1dari 13

UJIAN TENGAH SEMSTER GANJIL

LAPORAN FORMULASI TEKNOLOGI

SEDIAAN SEMI PADAT SEDIAAN PASTA

Disusun Oleh :

Nama :

Kelas : D3 Farmasi TK 2B

Nim :

LABORATORIUM FARMASI

PROGRAM STUDI DIII FARMASI

STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN

TAHUN 2020
A. FORMULA

R/ Zinc oxide 12,5 g

Corn Starch / amilum 10 g

Calamin 2,5 g

White petrolatum 25 g

B. PEMERIAN DAN MONOGRAFI


Berikut adalah pemerian dan monografi formula yang akan digunakan untuk
membuat sediaan pasta :

 Zinc oxide ( Zinci Oxydum )

Pemerian : serbuk amorf, sangat halus; putih atau putih kekuningan; tidak
berbau; tidak berasa. Lambat laun menyerap karbondioksida dari udara.

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam
asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida.

 Corn Starch / amilum ( Tepung Jagung )

Pemerian : Serbuk sangat halus, putih

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol.

 Calamin ( Calaminum )

Pemerian : serbuk halus; merah jambu; tidak berbau; praktis tidak berasa.

Kelarutan : praktis tidak larut dalam air; larut dalam asam mineral

 White petrolatum ( Vaselin putih/Vaselinum album )


Pemerian : massa lunak, lengket, bening, putih ; sifat ini tetap setelah zat
dileburkan dan dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk.
Berfluorosensi lemah, juga dicairkan; tidak berbau; hampir tidak berasa.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam
kloroform P, dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P, larutan kadang-
kadang beropalesensi lemah. ( FI III hal 633 )
C. SIFAT FISIKA DAN KIMIA BAHAN AKTIF DAN BAHAN TAMBAHAN
1. Bahan Aktif
 Zinc Oxide
Sifat Fisika :
a. Struktur ZnO mengkristal dalam 2 bentuk utama yaitu wurtzite heksagonal
dan sengblende kubus.
b. Dapat mengkristal dalam motif garam bantuan pada tekanan relatif tinggi
sekitar 10 Gpa.
c. Sifat mekanis : material lunak dengan kekerasan sekitar 4,5 pada skala
Mohs.
d. Kapasitas panas dan konduktivitas panas tinggi, ekspansi ternal rendah dan
temperatur leleh ZnO tinggi.

Sifat Kimia

a. Serbuk putih yang mengandung sejumlah unsur mangan yang memberikan


warna kuning sampai merah.
b. Kristal zno berubah dari putih ke kuning ketika dipanaskan dan diudara
berubah menjadi putih pada pendinginan.
c. ZnO adalah oksida amfoter. Hampir tidak larut dalam air dan alkohol
tetapi larut dalam asam sangat kuat seperti as klorida.
d. ZnO bereaksi lambat dengan asam lemak dalam minyak untuk
menghasilkan karboksilat yang sesuai seperti stearat. (dapat digunakan
untuk kedokteran gigi).
e. ZnO terurai menjadi uap seng dan o2 hanya pada suhu 1975 C, yang
mencerminkan stabilitasnya cukup tinggi.
f. ZnO bereaksi hebat dengan serbuk aluminium dan magnesium.
g. ZnO bereaksi dengan hidrogen sulfida yang menghasilkan sulfida.
h. Ketika salep atau sediaan yang mengandung ZnO dan air mencair dan
terkena cahaya ultraviolet, menghasilkan hidrogen peroksida.
2. Bahan Tambahan
 Amilum
Sifat Fisika
a. Berwarna putih, padat, dapat dicerna dengan baik oleh enzim amilase,
dan mengandung sedikit protein dan lemak yang merupakan bagian
dari granula.
b. Juga merupakan serbuk halus/butiran dengan berbagai bentuk
(mikroskopis).

Sifat Kimia

a. Karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk


putih, tawar dan tidak berbau.
b. Amilum terdiri dari 20% bagian yang larut dalam air (amilosa) dan
80% bagian tidak larut dalam air (amilopektin).
 Calamin
Sifat Fisika
Sifat fisikanya adalah serbuk halus; merah jambu; tidak berbau; praktis tidak
berasa, tidak larut dalam air; larut dalam asam mineral.

Sifat Kimia

Sifat kimia calamin menunjukkan bentuk eksternal masif atau botryoid yang
serupa dan tidak dapat langsung dibedakan tanpa analisis kimia atau fisika
yang terperinci.

3. Basis Pasta
 White Petrolatum
Sifat Fisika
a. Tidak berwarna atau memiliki warna kuning pucat, tembus cahaya, dan
tanpa rasa / bau sangat murni.
b. Campuran hidrokarbon dengan dengan titik leleh antara 40 dan 70
derajat C
c. Mudah terbakar jika dipanaskan menjadi cairan
d. Tidak larut dalam air, namun larut dalam diklorometana, kloroform,
benzena, dietil eter, karbon disulfida dan terpentin.

Sifat Kimia

a. Tidak larut dalam air


b. Rapatan alkena lebih kecil dari air

D. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam sediaan semi padat banyak sediaan unguentum yang digunakan


untuk pemakaian topikal salah satunya adalah sediaan pasta. Definisi pasta dari
berbagai sumber banyak sekali antara lain  pasta adalah salep yang mengandung
lebih dari 50% zat padat serbuk. Karena merupakan salep yang tebal, keras dan
tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup atau
pelindung. (buku farmasetika, prof. Drs. Moh. Anief, Apt.) Menurut Farmakope
Indonesia Edisi III adalah sediaan berupa masa lembek yang dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang
berbentuk serbuk dalam jumlah besar denngan vaselin atau paravin cair atau
dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan Gliserol, musilago atau
sabun. Digunakan sebagai antiseptik, atau pelindung. Sedangkan menurut
Farmakope Indonesia Edisi IV pasta adalah sediaan semi padat yang mengandung
satu atau lebih bahan obat yang digunakan untuk pemakaian topical. Dari banyak
pengertian diatas maka sediaan pasta adalah sediaan semipadat yang mengandung
satu atau lebih bahan obat yang merupakan campuran antara sediaan salep dan
bedak sehingga bahan yang digunakan untuk proses pembuatan sediaan pasta
terdiri dari bahan yang digunakan untuk pembuatan salep misalnya vaselin dan
bahan bedak seperti talcum, oxydum zincicum.

Sediaan pasta juga merupakan salep padat, kaku dan tidak meleleh pada
suhu tubuh sehingga sediaan pasta berfungsi sebagai lapisan pelindung pada
bagian yang diolesi sediaan tersebut. Daya penetrasi dan daya maserasi sediaan
pasta lebih rendah dibandingkan sediaan salep serta daya lekat pasta lebih tinggi
dibandingkan salep. Sediaan pasta berpenetrasi ke lapisan kulit, pasta yang
berlemak saat diaplikasikan diatas lesi mampu menyerap lesi yang basah seperti
serum.

Pasta juga mempunyai karakteristik khusus antara lain :

 Daya adsorbsi pasta lebih besar


 Daya penetrasi dan daya meserasi lebih rendah dibanding salep
 Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian
topikal.
 Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
 Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.
 Memiliki persentase bahan padat lebih besar dari pada salep yaitu
mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %- 50 %
Selain memiliki berbagai karakteristik, pasta juga memiliki kelebihan
dibanding sediaan topikal lain antara lain :
a. Pasta mengikat cairan sekret sehingga untuk luka akut lebih baik
dibandingkan unguentum
b. Bahan obat dalam sediaan pasta lebih melekat pada kulit sehingga
meningkatkan daya kerja lokal
c. Konsentrasi pasta lebih kental dari salep
d. Daya absorpsi pasta lebih besar dan kurang berlemak dibandingkan
dengan sediaan salep (Lieberman, 1994).
Adapun beberapa macam-macam dari pasta yaitu sebagai berikut :

a. Pasta berlemak
Pasta berlemak adalah suatu salep yang mengandung lebih dari
50% zat padat (serbuk). Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan
lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat
yang mempunyai afinitas terhadap air. Contoh pasta berlemak adalah
Acidi Salicylici Zinci Oxydi Pasta (RN. 1978), Zinci Pasta (RN. 1978),
dan Resorcinoli Sulfurici Pasta (F.N. 1978).
b. Pasta kering
Pasta kering adalah suatu pasta bebas lemak mengandung ±60%
zat padat (Serbuk). Dalam pembuatan akan terjadi kesukaran bila dalam
resep tertulis ichthanolum atau Tumenol Ammonim, zat ini akan
menjadikan pasta menjadi encer.
c. Pasta pendingin
Pasta pendingin adalah campuran serbuk minyak lemak dan cairan
berair, dikenal dengan salep Tiga Dara. Contohnya pada penggunaan zat
aktif berupa zink oxide. Zink oxide merupakan suatu zat aktif yang
memiliki aktivitas sebagai mild astringent dan UV protecting. Pasta zinc
oxide ini dimaksudkan untuk menormalkan ketidak seimbangan fungsi
kulit. Mild astringent yang dimaksud adalah mengecilkan jaringan kulit
sehingga dapat melindungi jaringan kulit. Sediaan pasta ini dipilih karena
tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup atau
pelindung.
d. Pasta Dentifriciae (pasta gigi)
Pasta dentifriciae adalah suatu campuran kental terdiri dari serbuk
dan Glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi. Pasta gigi
digunakan untuk pelekatan pada selaput lendir untuk memperoleh efek
lokal. Misalnya, pasta gigi Triamsinolon Asetonida.
Dalam pembuatan sediaan pasta, Zinc Oxide merupakan zat aktif dari sediaan
tersebut. Pasta zinc oxide dibuat untuk menormalkan ketidakseimbangan fungsi kulit
E. CARA KERJA PEMBUATAN SEDIAAN
Alat :

a. Cawan porselin f. Stopwatch


b. Mortir dan stamfer g. Alat evaluasi sediaan
c. Gelas ukur h. Spatel logam
d. Waterbath i. Penjepit kayu
e. Batang pengaduk

Bahan :
a. Zinc oxide
b. Corn Starch / amilum
c. Calamin
d. White petrolatum

Cara Pembuatan
1. Siapkan alat dan bahan
2. Timbang semua bahan
3. Sebelum ditimbang Zinc oxide diayak dengan ayakan nomer 100
4. Campurkan zinc oxide, corn starch / amilum dan calamine aduk ad
homogem (campuran 1)
5. Lebur sebagian vaselin putih kemudian tambahkan dalam campuran 1,
aduk ad homogen
6. Tambahkan sisa vaselin putih yang tidak dilebur aduk ad homogen
7. Masukkan kedalam pot yang sudah disetarakan
8. Timbang sediaan seberat 50 g
9. Beri etiket biru

F. CARA KERJA EVALUASI


1. Organoleptis (Anief, 1997) meliputi :
 Bentuk : semi padat, agak lembek.
 Bau : putih susu.
 Warna : putih susu.
2. Uji PH
a) Timbang sebanyak 0,5 g salep lalu encerkan dengan 5 mL aquadest.
b) Masukkan kertas PH ke dalam sediaan yang sudah dilarutkan aquadest.
c) Tunggu beberapa saat (±1 menit).
d) Angkat kertas PH.
e) Bandingkan indikator PH.
f) Amati warna yang terjadi, tulis hasil PH.
3. Uji Homogenitas
a) Ambil sediaan salep bagian atas, tengah dan bawah.
b) Lalu oleskan sediaan pada objek glass.
c) Amati apakah terdapat partikel yang tidak merata (homogen atau
tidak).
d) Atau sejumlah krim dioleskan pada kaca objek yang bersih dan kering
sehingga membentuk suatu lapisan yang tipis, kemudian ditutup
dengan kaca preparat (cover glass). Krim dinyatakan homogen apabila
pada pengamatan menggunakan mikroskop krim mempunyai tekstur
yang tampak rata dan tidak mengumpul (Khopkar, 1990).
4. Uji Daya Sebar (Astuti,2010)
a) Timbang salep sebanyak 0,5 gram.
b) Timbang penutup kaca ekstensiometer.
c) Kemudian letakkan salep ditengah alat ekstensiometer dan tutup
dengan kaca yang sudah ditimbang, biarkan selama 1menit.
d) Ukur berapa diameter yang menyebar dengan mengambil panjang rata-
rata diameter dari beberapa sisi (horisontal, vertikal, diagonal).
e) Tambahkan beban 50 gram dan diamkan selama 1menit dan catat
diameter sediaan yang menyebar seperti sebelumnya.
f) Teruskan penambahan beban lagi seberat 50gram dan catat diameter
sediaan yang menyebar setelah 1menit dibiarkan sama seperti
sebelumnya.
g) Teruskan penambahan beban sampai salep tidak menyabar/diameter
konstan.
5. Uji Daya Lekat
a) Sediaan ditimbang 0,5 gram.
b) Diletakkan dan dioleskan pada objek glass.
c) Tutup objek dengan tutup objek pada uji daya lekat.
d) Tambahkan beban 50gram.
e) Didiamkan selama 5 menit.
f) Setelah 5 menit diturunkan beban, ditarik tuasnya, dan catat waktunya.
6. Uji Daya Proteksi
a) Ambil sepotong kertas saring diukur 5cm X 5cm (kertas saring A),
basahi dengan indikator PP kemudian keringkan.
b) Ambil kertas saring yang lain dengan ukuran sama, dibuat tengahnya
luas area 3cm X 3cm ( kertas saring B). Dibagian luar area tersebut
dibuat arsiran paraffin padat yang telah dilelehkan.
c) Setelah kering kertas saring A dioleskan dengan sediaan.
d) Kertas saring B dengan bagian lelehan paraffin ditempelkan diatas
kertas saring A.
e) Tetesi kertas saring dengan KOH pada kertas saring B, diamatai pada
5, 10, 15, 30, 45, 60 detik, 3 menit sampai 5 menit.
f) Amati apakah muncul noda merah.
g) Jika tidak ada noda merah berarti sediaan dapat memberikan proteksi
terhadap cairan KOH.

G. NILAI STANDAR HASIL EVALUASI

Uji Hasil Standar Nilai dan Keterangan


Acuan (sesuai/tidak sesuai)
Organoleptis Bentuk konsisteesi padat Bentuk semi Sesuai
dan keras, warna pink, Bau padat, warna dan
Khas. bau tergantung
pada zat yang
digunakan.
Homogenitas Tidak terbentuk partikel Homogen tidak Sesuai
yang memisah/sediaan ada partikel
merata. asing.
PH Replikasi 1 = 5 4,5 – 6,5 Sesuai
Replikasi 2 = 6
Replikasi 3 = 6
Daya Sebar Replikasi 1 = 3 5 – 7 cm Sesuai
Replikasi 2 = 2
Replikasi 3 = 4
Daya Lengket Replikasi 1 = 4 detik Tidak kurang Sesuai
Replikasi 2 = 5 detik dari 4 detik
Replikasi 3 = 5 datik
Daya Proteksi Tidak terbentuk noda Tidak terdapat Sesuai
merah sampai 5 menit noda merah
Uji Viskositas Replikasi 1 = 2300 dPas 20 – 500 dPas Tidak sesuai
Replikasi 2 = 2000 dPas
Replikasi 3 = 2100 dPas
DAFTAR PUSTAKA

Buku petunjuk praktikum formulasi teknologi sediaan semi padat (apt. Nurul Hidayati,
S.Farm., M.Farm.)

Farmakope Indonesia Edisi III

Auna Mahdalin, Elis Widarsih, dan Kun Harismah. (2017). Pengujian Sifat Fisika dan Sifat
Kimia Formulasi Pasta Gigi Gamber dengan Pemanis Alami Daun Stevia. Jurnal
Formulasi, 135-138.

BioFa.ID. (2019). Sediaan Pasta (Uraian Teori dan Penjelasan Lengka). Diambil kembali
dari biofar.id: https://biofar.id/pasta/

Elis Widarsih, Auna Mahdalin, Kun Harismah. (2017). Formulasi Pasta Gigi Daun Sirih
(Piper battle L.) dengan pemanis alami Ekstrak daun Stevia (Stevia rebaudiana).
Jurnal Formulasi, 157-162.

Imas Maesaroh, Silva Silviani. (2019). Formulasi Sediaan Pasta Gigi Karbon Aktif dengan
Basis Virgin Coconut Oil (VCO). Jurnal Ilmiah Manuntum, 8-17.

Nita Triana Sari, Putri Dewi Riayah, Nabila Fasya Ainul Mardziati A, Namira Fadhilah B.
Nuryanti. (2017). Pengembangan Formulasi Pasta Antiinflamasi Piroxicame Berbasis
Ampas Tahu dalam Pemanfaatan Limbah Tahu di Purwokerto. Jurnal Ilmu
Kefarmasiaan Indonesia, 148-154.

Suci Ningsih, Laela Hidayati, Rizky Akbar. (2015). Pasta Zinc Oxside sebagai Mild Astrigent
menggunakan Basis Amilum Singkong (Manihot utilisima Pohl). Jurnal Farmasi, 95-
103.

Wa Ode Yuliastri, Mus Ifaya, Mulyadi Prastyo. (2019). Formulasi Pasta Gigi Herbal Ekstrak
Daun Sukun (Artocarpus altilis) dan Uji Aktivitas Obat Antibakteri terhadap bakteri
Steptococcus mutans . Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia, 10-14.

Anda mungkin juga menyukai