Anda di halaman 1dari 8

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UASTAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : REZA AGUSTIAN

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 041123796

Tanggal Lahir : 16/08/1999

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA4534/PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA

Kode/Nama Program Studi : 53/EKONOMI PEMBANGUNAN

Kode/Nama UPBJJ : PALEMBANG

Hari/Tanggal UAS THE : SELASA/ 15 DESEMBER 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJUdan surat pernyataan kejujuran akademik.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS
TERBUKA

Surat Pernyataan Mahasiswa


Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : REZA AGUSTIAN

NIM : 041123796

Kode/Nama Mata Kuliah : ESPA422/MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS

Fakultas : EKONOMI

Program Studi : EKONOMI PEMBANGUNAN

UPBJJ-UT : PALEMBANG

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE
pada laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan
soal ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai
dengan aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik
dengan tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE
melalui media apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan
peraturan akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari
terdapat pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung
sanksi akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Palembang, 15-12-2020

Yang Membuat Pernyataan

REZA AGUSTIAN
Jawaban :

1.1 Sumber daya manusia diyakini sebagai salah satu penentu utama dari keberhasilan suatu
bangsa atau negara. Sumber daya manusia yang melimpah belum tentu mendukung
terhadap pembangunan suatu negara apabila tidak disertai dengan pengembangan dari segi
kualitas. Untuk itulah diperlukan pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui
perencanaan terhadap sumber daya manusia. Aspek utama dalam perencanaan sumber daya
manusia adalah aspek ketenagakerjaan. Seiring dengan perkembangan PDB Indonesia
maka perkembangan penyerapan tenaga kerja juga kembali meningkat pasca krisis
ekonomi, meskipun tidak sebesar sebelum terjadinya krisis ekonomi.
Pendidikan diyakini sebagai salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas
sumber daya manusia. Indikator pendidikan seperti angka melek huruf (AMH) dan rata-rata
lama sekolah (RLS) di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Dalam bidang kesehatan,
Indonesia juga telah cukup banyak melakukan usaha yang signifikan. Termasuk di
dalamnya adalah jumlah fasilitas kesehatan yang bertambah, penyediaan infrastruktur
termasuk infrastruktur kesehatan sampai ke tingkat perdesaan dan penemuan-penemuan
vaksin baru. Dibuktikan dengan semakin baiknya angka harapan hidup (AHH) dan
rendahnya angka kematian bayi maupun Balita di Indonesia.
Masalah penting lain yang menyangkut sumber daya manusia adalah Indikator-
indikator pengukur masalah menunjukkan bahwa kemiskinan di Indonesia relatif menurun
meskipun masih belum sampai pada titik yang diharapkan. Beberapa program atau strategi
kebijakan pemerintah telah dilakukan dalam upaya untuk mengurangi kemiskinan sebagai
dampak dari krisis ekonomi seperti bantuan langsung tunai (BLT), inpres desa tertinggal
(IDT), program padat karya (PPK), dan program keluarga harapan (PKH).

1.2 Apabila kita melihat faktor-faktor yang mempengaruhinya, maka pertumbuhan penduduk
ini dapat disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu sebagai berikut :
a. Tingkat kelahiran (fertilitas);
Tingkat kelahiran terbukti merupakan komponen yang paling utama
sebagai pendorong turunnya laju pertumbuhan penduduk baik di Indonesia maupun di
dunia. Tingkat kelahiran di Indonesia secara signifikan menurun dari sebesar 5,61
anak per ibu sesuai hasil Sensus Penduduk 1970 menjadi hanya 2,34 anak per ibu
sesuai hasil Sensus Penduduk 2000.
Keberhasilan kebijakan pemerintah terhadap kependudukan melalui
program Keluarga Berencana (KB) memiliki andil yang cukup besar dalam
mengendalikan jumlah penduduk pada periode tahun 1970-2000. Selain itu kemajuan
dalam pembangunan, modernisasi, dan pencapaian perempuan dalam dunia
pendidikan juga telah berdampak positif pada penurunan tingkat kelahiran.
Modernisasi di kalangan masyarakat menyebabkan telah banyak ditinggalkannya
falsafah "banyak anak banyak yang terutama banyak dijumpai di kalangan masyarakat
perdesaan atau tradisional. Selain itu, dengan pencapaian perempuan dalam hal
pendidikan telah menjadikan kecenderungan perilaku menikah di usia muda juga
menjadi menurun.

b. Tingkat kematian (mortalitas);


Tingkat kematian (mortalitas) menjadi komponen kedua yang dapat
mempengaruhi baik jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk. Tingkat kematian
memiliki sifat mengurangi terhadap jumlah penduduk. Untuk kasus Indonesia, tingkat
kematian sepertinya bukanlah merupakan faktor yang mendorong turunnya
pertumbuhan penduduk.
Hal ini disebabkan pada kenyataannya cenderung menurunnya tingkat
kematian di Indonesia akibat perbaikan-perbaikan yang signifikan dalam bidang
kesehatan, seperti ditemukannya vaksin-vaksin baru dan penyediaan infrastruktur
kesehatan sampai di tingkat perdesaan. Apabila dilihat lebih lanjut, tingkat kematian
di Indonesia relatif sangat tinggi pada periode tahun 1960-an, yaitu sebesar 19
kematian per 1000 penduduk yang lebin dikarenakan belum cukup baiknya
perkembangan di bidang keschatan. Akan tetapI, ini menurun tajam menjadi 7
kematian per 1000 penduduk pada periode tahun 2000-an dikarenakan perbaikan-
perbaikan di bidang kesehatan tersebut. Indikator kesehatan yang lain yaitu angka
kematian bayi yang juga mengalami perbaikan yang signifikan yaitu dari sebesar 145
bayi yang meninggal per 1000 bayi yang hidup pada tahun 1960-an menjadi hanya 41
bayi yang meninggal per 1000 bayi yang hidup pada tahun 2000-an.

c. Tingkat perpindahan penduduk (migrasi).


Dalam hal ini migrasi dapat bersifat menambah jumlah penduduk apabila
jumlah penduduk yang masuk ke suatu daerah lebih besar dibandingkan jumlah
penduduk yang keluar dari daerah tersebut. Selain itu, migrasi juga dapat bersifat
mengurangi jumlah penduduk apabila jumlah penduduk yang keluar dari suatu daerah
lebih besar dibandingkan jumlah penduduk yang masuk ke daerah tersebut. Secara
umum, migrasi juga tidak dianggap signifikan menyebabkan perubahan jumlah
penduduk dan pertumbuhan penduduk di Indonesia karena jumlah penduduk yang
masuk ke Indonesia dan jumlah penduduk yang keluar dari Indonesia relatif seimbang.
Migrasi cenderung menjadi faktor yang penting di Indonesia ketika kita
berbicara tentang pertumbuhan penduduk antar- daerah atau antarprovinsi karena
kepadatan dan persebaran penduduk Indonesia antar daerah yang tidak merata. Dalam
hal ini Pulau Jawa atau DKI Jakarta masih menjadi primadona bagi penduduk dari
daerah lain untuk melakukan migrasi karena merupakan pusat kegiatan ekonomi dan
pemerintahan. Peninjauan migrasi secara regional sangat penting untuk ditelaah secara
khusus mengingat adanya kepadatan dan distribusi penduduk yang tidak merata,
adanya faktor-faktor pendorong dan menarik bagi orang- orang untuk melakukan
migrasi, adanya desentralisasi dalam pembangunan, serta di lain pihak semakin
lancamya komunikasi dan transportasi.

1.3 Penawaran (supply) tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah tenaga
kerja yang ditawarkan dalam hal ini adalah angkatan kerja. Dari 172 juta penduduk usia
kerja di Indonesia, 117 juta penduduk termasuk ke dalam angkatan kerja. Angkatan kerja
adalah bagian dari tenaga kerja yang terlibat dan berusaha terlibat dalam kegiatan produktif
yaitu produksi barang dan jasa, termasuk di dalamnya adalah orang yang bekerja dan juga
orang yang menganggur karena mereka meskipun tidak bekerja, tetapi berusaha terlibat
dalam kegiatan produktif.
Adapun yang termasuk dalam kategori bukan angkatan kerja adalah orang yang
sedang bersekolah, orang yang sedang mengurus rumah tangga dan orang yang sesuatu hal
tidak berminat atau tidak dapat bekerja (kategori: lainnya) Indikator yang dapat menjadi
acuan dalam menghitung proporsi angkatan kerja terhadap keseluruhan penduduk usia kerja
disebut dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) atau Labor Force Participation
Rate (LFPR). T'erdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan TPAK
meliputi yaitu sebagai berikut ;
1. Jumlah penduduk yang masih besekolah dan mengurus rumah tangga,
2. Faktor usia,
3. Tingkat upah yang berlaku,
4. Tingkat pendidikan,
5. Tingkat penghasilan keluarga,
6. Kondisi perekonomian, dan
7. Jenis kelamin.
2.1 Berikut Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Tenaga Kerja
a. Tingkat Upah
Tingkat upah merupakan biaya yang harus diperhitungkan untuk mencari titik
optimal jumlah atau kebutuhan tenaga kerja yang akan digunakan. Semakin tinggi
tingkat upah di pasar, semakin sedikit pula tenaga kerja yang diminta. Begitu pula
sebaliknya, ketika upah semakin murah maka semakin banyak jumlah tenaga kerja
yang diminta.
b. Teknologi Perkembangan
Teknologi dapat mengakibatkan perubahan dalam permintaan atau perubahan
kebutuhan tenaga kerja karena hal ini sejalandengan perubahan dalam metode produksi
yang dipakai. Sebagai contoh, adanya kemajuan yang pesat dalam penggunaan
komputer menimbulkan kebutuhan yang pesat akan tenaga-tenaga ahli di bidang
tersebut, akan tetapi kebutuhan akan tenaga-tenaga untuk pembukuan, dokumentasi,
dan lain-lain, menjadi relatif berkurang. Jadi, perubahan metode produksi di satu pihak
menambah kebutuhan tenaga kerja pada bidang tertentu akan tetapi di pihak lain
mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada bidang yang lain. Perubahan teknologi ini
biasanya terjadi pada jangka panjang.
c. Produktivitas Bertambahnya
Produktivitas kerja dapat mempengaruhi permintaan tenaga kerja melalui dua
cara. Di satu pihak, peningkatan produktivitas kerja berarti bahwa untuk memproduksi
hasil dalam jumlah yang sama diperlukan karyawan lebih sedikit. Oleh sebab itu, bila
jumlah hasil produksi tetap sama, sebagian tenaga kerja dapat dilepaskan. Di pihak
lain, peningkatan produktivitas kerja dapat menurunkan biaya produksi per unit barang.
Dengan turunnya biaya produksi per unit, pengusaha dapat menurunkan harga jual
barang, oleh sebab itu permintaan masyarakat akan barang tersebut bertambah.
Pertambahan permintaan akan barang mendorong pertambahan produksi, dan
selanjutnya menambah kebutuhan akan tenaga kerja.
d. Kualitas Tenaga Kerja
Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja dapat merupakan indikator dari
kualitas tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengalaman kerja
seseorang maka semakin dibutuhkan pula mereka oleh pasar kerja dan semakin besar
peluang mereka untuk terserap di pasar kerja.
e. Fasilitas Modal
Dalam praktiknya, output itu dipengaruhi dua buah input utama, yaitu sumber
daya manusia dan sumber daya modal. Akan tetapi, terkadang dua input ini bersifat
menggantikan. Suatu industri yang padat modal biasanya kebutuhan tenaga kerjanya
juga tidak terlalu banyak, tetapi pada industri yang padat karya maka permintaan
tenaga kerja akan relatif banyak. Di sisi yang lain, modal juga dapat berpengaruh
positif di mana semakin besar dimiliki maka semakin besar pula kemampuan untuk
Suek [epou mempekerjakan pegawai atau karyawannya.

2.2 Menurut Heidjrachman dan Husnan (1992), sistem pengupahan yang umum diterapkan
adalah atas dasar sebagai berikut :
a. Sistem waktu
Dalam sistem waktu besamya kompensasi ditetapkan berdasarkan standar waktu
seperti jam, hari, minggu, atau bulan. Sistem waktu ini biasanya diterapkan jika
prestasi kerja sulit diukur per unitnya. Jadi besamya kompensasi hanya didasarkan pada
lamanya bekerja. Sistem hasil (output)
b. Dalam sistem hasil, besarnya kompensasi ditetapkan atas kesatuan unit yang dihasilkan
pekerja, seperti per potong, meter, liter, dan kilogram. Dalam sistem ini, besarnya
kompensasi yang dibayar selalu didasarkan kepada banyaknya hasil yang dikerjakan,
bukan pada lamanya waktu pekerjaan.
c. Sistem borongan
Dalam sistem ini penetapan besarnya jasa didasarkan pada volume
pekerjaan dan lamanya mengerjakannya. Upah borongan ini mengaitkan kompensasi
secara langsung dengan produksi yang dihasilkan. Besar kecilnya balas jasa sangat
tergantung pada kecermatan mengalkulasi biaya borongan tersebut. Sistem ini
merupakan sistem pengupahan yang juga paling populer.

Dari ketiga sistem tersebut, suatu perusahaan dapat menggunakan salah


satu atau secara bersamaan sistem tersebut, yang penting dalam hal ini adalah bahwa
dalam penetapan kompensasi tersebut harus dapat memenuhi keinginan dari seluruh
pihak, yaitu koperasi dan karyawan selain itu penetapan kompensasi tersebut
hendaknya disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari perusahaan.

2.3 Investasi pada SDM (human capital) merupakan sejumlah dana yang dikeluarkan untuk
memperoleh hasil di kemudian hari sebagai keuntungan dari bekerja. Keterampilan dan
keahlian tenaga kerja adalah salah satu hasil dari investasi yang berasal dari pendidikan
dan pelatihan sebagai modal yang sifatnya produktif. Secara umum, investasi sumber daya
manusia itu dapat dibagi menjadi biaya langsung dan opportunity cost.
Meskipun investasi dalam sumber daya manusia telah banyak diupayakan,
ketidaksesuaian pekerjaan masih cukup banyak dijumpai di Indonesia. Ketidaksesuaian
pekerjaan adalah perbedaan antara latar belakang pendidikan seseorang dengan jenis
pekerjaan yang dilakukannya. Ketidaksesuaian ini menunjukkan kondisi di mana pekerja
dengan latar belakang pendidikan tertentu tersebut tidak dapat menemukan pekerjaan yang
sesuai dengan bidang keahlian mereka. Terdapat beberapa pendekatan untuk
membandingkan jumlah uang dinikmati di masa depan dengan biaya yang dikeluarkan
pada saat ini, yaitu seperti: pendekatan nilai sekarang bersih (net present value),
pendekatan internal rate of return, dan menggunakan regresi fungsi upah. Net present value
digunakan untuk menghitung nilai sekarang atau mendiskontokan nilai aliran pendapatan
yang berhubungan dengan pendidikan di sekolah.
Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan data penghasilan yang
diharapkan individu yang telah bekerja setiap tahunnya, kemudian menyesuaikan dengan
diskon faktor untuk kemudian menjumlahkan semua pendapatan yang dihasilkan.
Sedangkan Internal Rate Return (IRR) adalah tingkat discount yang mempersamakan hasil
dari melanjutkan sekolah dengan biaya total (biaya tidak langsung dan biaya tidak
langsung) atau mempersamakan NPV sama dengan nol. Pendekatan lain yang sering
digunakan untuk menghitung tingkat pengembalian investasi pendidikan adalah dengan
menggunakan fungsi upah. Fungsi upah adalah salah satu model dari yang paling banyak
digunakan dalam ekonometrika atau regresi di bidang ekonomi ketenagakerjaan, di mana
variabel upah bekerja sebagai variabel dependen sedangkan variabel pendidikan dan
pengalaman kerja bekerja sebagai variabel independen dan sebagai indikator rate of return
dari pendidikan dan pelatihan.

3.1 Akibat covid-19 yang kita hadapi tahun 2020 ini menyebabkan jumlah pengangguran
penduduk miskin mengalami peningkatan dibanding tahun 2019. Walau sebelumnya
persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan di 9,22 persen di 2019 yang mana
itu adalah angka persentase penduduk miskin terendah di dalam sejarah republik Indonesia.

3.2 Berikut jenis-jenis pengangguran dan contohnya :

a. Pengangguran Friksional
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang terjadi karena
kesulitan temporer dalam mempertemukan pencari kerja dan lowongan kerja yang ada.
Kesulitan temporer ini dapat berbentuk waktu yang diperlukan selama prosedur
pelamaran dan seleksi, atau terjadi karena faktor jarak atau kurangnya informasi. Di
satu pihak, pencari kerja tidak hanya sekedar mencari pekerjaan yang dapat
memberikan penghasilan yang tertinggi dan kondisi kerja yang terbaik di antara
beberapa alternatif. Proses pemilihan seperti itu memerlukan waktu. Di lain pihak,
pengusaha tidak begitu saja mengisi lowongan kerja yang ada dengan orang yang
pertama kali datang melamar.
Untuk mengisi suatu lowongan tertentu, pengusaha cenderung untuk memilih
sescorang yang dianggap terbaik di antara calon-calon yang ada. Pengisian lowongan
seperti itu memerlukan proses seleksi dan berarti membutuhkan waktu. Selama proses
yang demikian, seorang pelamar yang menunggu panggilan untuk seleksi atau ujian
masuk (yang belum pasti akan diterima) merupakan penganggur friksional.
Pengangguran friksional dapat pula terjadi karena kurangnya mobilitas pencari kerja di
mana kesempatan kerja yang tersedia justru terdapat bukan di sekitar tempat tinggal si
pencari kerja. Bentuk lain pengangguran friksional
b. Pengangguran Struktural
Pengangguran struktural terjadi karena adanya perubahan dalam struktur atau
komposisi dalam perekonomian. Perubahan struktur yang demikian memerlukan
perubahan dalam keterampilan tenaga kerja yang dibutuhkan sedangkan pihak pencari
kerja tidak mampu secara cepat menyesuaikan diri dengan keterampilan baru tersebut.
Misalkan dalam suatu pergeseran atau transformasi struktural dari sektor agraris
menjadi ekonomi yang berat pada sektor industri.
Di satu pihak, akan terjadi pengurangan tenaga di sektor pertanian, dan di pihak
lain bertambah kebutuhan di sektor industri. Akan tetapi tenaga yang berlebih di sektor
pertanian tidak dapat begitu saja diserap di sektor industri, karena sektor industri
memerlukan tenaga dengan keterampilan tertentu. Akibatnya, tenaga berlebih di sektor
pertanian tersebut merupakan penganggur struktural.
Bentuk pengangguran struktural pekerja akibat penggunaan alat-alat dan
teknologi maju. Penggunaan traktor misalnya dapat menimbulkan pengangguran di
kalangan buruh tani. Contoh lain adalah adanya perubahan lokomotif tenaga uap
menjadi lokomotif diesel sehingga tidak lagi dibutuhkan tukang api. Bila tukang api
tidak menguasai keterampilan yang baru, maka dia akan menghadapi kemungkinan
tergusur oleh perubahan teknologi. Secara umum lamanya pengangguran struktural
pada umumnya lebih panjang dari lamanya pengangguran friksional karena diperlukan
waktu yang lebih panjang untuk menguasai sebuah keterampilan yang khusus yang
tidak pernah diketahui sebelumnya. yang. lain adalah terjadinya pengurangan cepat-
cepat
c. Pengangguran Musiman
Pengangguran musiman terjadi karena pergantian musim. Biasanya banyak terjadi
pada sektor pertanian yang tergantung sekali oleh pengaruh musim. Di luar musim
panen dan musim turun ke sawah, banyak orang yang tidak memiliki kegiatan
ekonomis sehingga mereka hanya sekedar menunggu
d. Pengangguran Siklikal
Secara umum dapat dikatakan pengangguran siklikal adalah penganggur akibat
imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah
daripada penawaran kerja. Banyak orang berpendapat bahwa gejala ekonomi mengikuti
perilaku alam bahkan gejala biologis. Justru karena itu banyak perilaku ekonomi dapat
dirumuskan dalam bentuk fungsinya. Dalam kegiatan ekonomi, ada kalanya terjadi
ekspansi kegiatan meningkat. Timbul kejenuhan dan penurunan kegiatan. Setelah itu
diikuti kenaikan intensitas kegiatan lagi. Siklus seperti lima sampai sepuluh tahun
sekali secara berulang-ulang secara rutin.
3.3 Beberapa Strategi yang Dilakukan Pemerintah Dalam Pengentasan Kemiskinan
Beberapa faktor penting yang diyakini dapat membantu pengentasan kemiskinan
adalah membuka dan menyediakan lapangan kerja yang layak serta perbaikan sarana
pendidikan dan kesehatan. Dari sisi permintaan, penyediaan lapangan kerja yang layak
(yang diukur dengan peningkatan upah dan produktivitas) misalnya dapat dicapai melalui
peningkatan investasi dan output di sektor swasta.
Meskipun demikian, pemerintah berperan di sini dalam menjamin stabilitas
makroekonomi dan lingkungan bisnis yang aman dan kompetitif, selain penyediaan
infrastruktur fisik dan sosial. Sedangkan dari sisi penawaran, investasi di bidang
pendidikan dan kesehatan berkontribusi dalam penyediaan sumber daya manusia yang
berkualitas.