Anda di halaman 1dari 14

Vol. 20 No.

2, Oktober 2020 E-ISSN 2549-7529 | p-ISSN 1412-0313

JURNAL GEOGRAFI

Gea
PERSEPSI GURU TERHADAP PENGUASAAN ADVANCE MATERIALS UNTUK PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Nandi, Hendro Murtianto, Totok Doyo Pamungkas, Indri Megantara Putri, Muhamad Akbar Wijaya

PERDAGANGAN BURUNG DI KOTA BANDUNG


(ANTARA EKONOMI, KEANEKARAGAMAN HAYATI, DAN KONSERVASI)
Asep Mulyadi, Moh. Dede

THE METHOD OF IMAGINARY MAP FOR HIGHER GEOGRAPHY LITERACY IN GENDER PERSPECTIVE
Isma Yullia Rahma, Ahmad Yani, Bagja Waluya, Riki Ridwana

METODE DEFUZZIFIKASI ARTIFICIAL NEURAL NETWORK UNTUK KLASIFIKASI PENGGUNAAN LAHAN


Harvini Wulansari

SINTESA GEOMORFOLOGI ANTROPOSEN KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI KARANGSAMBUNG


BAGIAN SELATAN
Puguh Dwi Raharjo, Eko Haryono

PERKEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN KECIL DI PINGGIRAN KOTA PEKALONGAN


Fadjar Hari Mardiansjah, Paramita Rahayu

SKENARIO UNCERTAINTY JUMLAH PENAKAR CURAH HUJAN DI KOTA MAKASSAR


Giarno, Muflihah, Mujahidin

ANALISIS RISIKO BANJIR TERHADAP FASILITAS PENDIDIKAN DI DKI JAKARTA


Siti Dahlia, Fadiarman

ANALISIS PASCA BENCANA TANAH LONGSOR 1 JANUARI 2020 DAN EVALUASI PENATAAN KAWASAN DI
KECAMATAN SUKAJAYA, KABUPATEN BOGOR
Heru Sri Naryanto, Firman Prawiradisastra, Ruki Ardiyanto, Wahyu Hidayat

Gea Vol. 20 No. 2 Hal. 94 - 213 Bandung, Oktober 2020


DEWAN REDAKSI

Penanggung Jawab
Dr. Ahmad Yani, M.Si.

Pimpinan Redaksi
Dr.rer.nat. Nandi, M.T., M.Sc

Ketua Pelaksana
Prof. Dr. Enok Maryani, M.S

Dewan Editorial
Bagja Waluya, M.Pd

Riki Ridwana, S.Pd., M.Sc

Totok Doyo Pamungkas, S.Si., M.Eng

Mitra Bestari
Prof. Dr. Ir. H. Dede Rohmat, M.T. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Prof. Dr. H. Darsiharjo, M.S. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Prof. Dr. H. Dede Sugandi, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Dr. Djoko Harmantyo, M.S. (Universitas Indonesia)
Dr. Muhammad Zid, M.Si. (Universitas Negeri Jakarta)
Dr. Epon Ningrum, M.Pd. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Dr. Iwan Setiawan, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia)
Dr. Lili Somantri, M.Si. (Universitas Pendidikan Indonesia)
DAFTAR ISI

PERSEPSI GURU TERHADAP PENGUASAAN ADVANCE MATERIALS UNTUK


PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Nandi, Hendro Murtianto, Totok Doyo Pamungkas, Indri Megantara Putri,
Muhamad Akbar Wijaya ………………………………………...…………….……………….. 94-104

PERDAGANGAN BURUNG DI KOTA BANDUNG


(ANTARA EKONOMI, KEANEKARAGAMAN HAYATI, DAN KONSERVASI)
Asep Mulyadi, Moh. Dede ...…………………..……………………………..………………… 105-112

THE METHOD OF IMAGINARY MAP FOR HIGHER GEOGRAPHY LITERACY IN


GENDER PERSPECTIVE
Isma Yullia Rahma, Ahmad Yani, Bagja Waluya, Riki Ridwana …………………..………. 113-119

METODE DEFUZZIFIKASI ARTIFICIAL NEURAL NETWORK UNTUK KLASIFIKASI


PENGGUNAAN LAHAN
Harvini Wulansari …………………...……………………………………………...…………. 120-140

SINTESA GEOMORFOLOGI ANTROPOSEN KAWASAN CAGAR ALAM GEOLOGI


KARANGSAMBUNG BAGIAN SELATAN
Puguh Dwi Raharjo, Eko Haryono ..……………………………...….………………….... 141-150

PERKEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN KECIL DI PINGGIRAN KOTA


PEKALONGAN
Fadjar Hari Mardiansjah, Paramita Rahayu …………………...………….………………….. 151-168

SKENARIO UNCERTAINTY JUMLAH PENAKAR CURAH HUJAN DI KOTA MAKASSAR


Giarno, Muflihah, Mujahidin …………………………………….....……………………….…. 169-184

ANALISIS RISIKO BANJIR TERHADAP FASILITAS PENDIDIKAN DI DKI JAKARTA


Siti Dahlia, Fadiarman………………………………………………………...……………. 185-196

ANALISIS PASCA BENCANA TANAH LONGSOR 1 JANUARI 2020 DAN EVALUASI PE-
NATAAN KAWASAN DI KECAMATAN SUKAJAYA, KABUPATEN BOGOR
Heru Sri Naryanto, Firman Prawiradisastra, Ruki Ardiyanto, Wahyu Hidayat…….…….. 197-213
e-ISSN 2549-7529 | p-ISSN 1412-0313
141 Jurnal Geografi Gea, Volume 20, Nomor 2, Oktober 2020 https://ejournal.upi.edu/index.php/gea

SINTESA GEOMORFOLOGI ANTROPOSEN KAWASAN CAGAR


ALAM GEOLOGI KARANGSAMBUNG BAGIAN SELATAN
Puguh Dwi Raharjo1*, Eko Haryono2
1
Pusat Penelitian Geoteknologi, LIPI
2
Departemen Geografi Lingkungan, Fakultas Geografi, UGM
*puguh.draharjo@karangsambung.lipi.go.id

ABSTRACT
The earth's surface is experiencing dynamic developments, not only in changes in land
use types but also in detailed geomorphological landforms. This dynamic change is
caused by the human need for land. Java Island has a diverse physiography, this is due
to volcanic activity and uplifting as well as erosion and sedimentation. Karangsambung
area is an area with hilly topography and exposed many rocks which are evidence of
tectonic processes. A lot of rock outcrops and in a relatively large area, resulted in
agriculture not being dominant. The community tends to take advantage of the location
as a place for mining. Mining carried out by the community in the Karangsambung area
including rocks that have commercial functions. In addition, high erosion and
sedimentation training in sand mining in the deposition area. Mining is carried out
widely and gradually causes environmental problems. This study aims to see the impact
of human activities on natural conditions in the southern part of Karangsambung
Nature Reserve. The spatial approach uses remote sensing image data as an early
indication. The results obtained are that in the Karangsambung area there are 3 human
activities that cause changes in land shape, namely changes from alluvial plains to
floodplains and fluvial plains. Changes in sinuosity due to sedimentation and landslides
damage due to slope cutting, as well as changes from hills of diabas intrusion to
degraded land with flat topography. These changes have a bad impact on the
environment, resulting in handling from various sector.
Keywords: anthropocene, geomorphology, karangsambung, lukulo, sedimentation

ABSTRAK
Permukaan bumi mengalami perkembangan secara dinamis, tidak hanya pada
perubahan jenis penggunaan lahan namun juga pada bentuklahan geomorfologi secara
detail. Perubahan dinamis ini disebabkan adanya kebutuhan manusia mengenai lahan.
Pulau Jawa memiliki fisiografi yang beragam, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas
vulkanik dan pengangkatan wilayah serta erosi dan sedimentasi. Kawasan
Karangsambung merupakan daerah dengan topografi perbukitan dan tersingkap banyak
batuan yang merupakan bukti dari proses tektonik. Singkapan batuan yang banyak dan
pada daerah yang realitif luas, mengakibatkan pertanian tidak dominan. Masyarakat
cenderung memanfaatkan keberadaan lokasi sebagai tempat untuk penambangan.
Penambangan yang dilakukan oleh masyraakat di Kawasan Karangsambung meliputi
batuan-batuan yang dianggap memiliki fungsi komersil. Selain itu erosi dan sedimentasi
yang tinggi memicu penambanggan pasir pada daerah pengendapan. Penambangan yang
dilakukan dilakukan secara luas dan berangsur-angsur menyebabkan permasalahan
lingkungan. Pada penelitian ini bertujuan mengetahui dampak dari aktivitas manusia
terhadap kondisi alamiah di Kawasan Cagar Alam Karangsambung bagian selatan.
P. D. Raharjo, E. Haryono. Sintesa Geomorfologi Antroposen Cagar Alam Geologi … 142
Pendekatan keruangan menggunakan data citra penginderaan jauh sebagai identifikasi
awal. Hasil yang diperoleh bahwa pada Kawasan Karangsambung terdapat 3 aktivitas
manusia yang menyebabkan perubahan bentuklahan, yaitu perubahan dari dataran
aluvial menjadi dataran banjir dan ledok fluvial, perubahan sinuositas sungai akibat
sedimentasi dan longsoran akibat pemotongan lereng, serta perubahan dari perbukitan
intrusi diabas menjadi lahan rusak topografi datar. Perubahan-perubahan ini
mengakibatkan dampak buruk bagi lingkungan, sehingga diperlukan penanganan dari
berbagai pihak.
Kata kunci: antroposen, geomorfologi, karangsambung, lukulo, sedimentasi

PENDAHULUAN perubahan bentuklahan akibat manusia adalah


Konsep antroposen memberikan konsep yang ke-5 yang menyatakan bahwa
kerangka konseptual mengenai kondisi global media erosi yang berbeda pada permukaan
saat ini di mana masyarakat memiliki bumi membentuk susunan bentuklahan
pengaruh dominan yang semakin besar pada tertentu. Morfologi hanya mencerminkan
fungsi sistem bumi (Meybeck, 2003; Steffen proses erosi/pengendapan dan tergantung
et al., 2011; Verburg et al., 2016). Permukaan pada kondisi iklim dan topografi (Pellegrini
bumi mengalami perkembangan secara and Vercesi, 2017). Penelitian geomorfologi
dinamis, tidak hanya pada perubahan jenis telah lama mengakui dampak aktivitas
penggunaan lahan namun juga pada manusia pada lanskap fluvial (Downs and
bentuklahan geomorfologi secara detail Piegay, 2019). Interaksi antara morfologi dan
(Zalasiewicz et al., 2011; Waters et al., 2016; sedimentasi yang menyebabkan distribusi
Goudie, 2018). Perubahan dinamis ini sungai semakin sempit, dan dangkal, debit
disebabkan adanya kebutuhan manusia semakin berkurang berdampak pada
mengenai lahan. Anthropocene mewakili fase hilangnya penahanan di bagian hilir dan
baru dalam sejarah umat manusia dan Bumi, membentuk endapan baru (Skalak et al.,
ketika kekuatan alam dan kekuatan manusia 2013; Assine et al., 2015), hal ini merupakan
menjadi saling terkait (Zalasiewicz et al., bentuk dari restorasi daerah hulu (Wohl,
2011). Manusia telah memodifikasi bentang 2018).
alam dan proses yang membentuknya selama Pulau Jawa memiliki fisiografi yang
Anthropocene (Goudie and Viles, 2016), beragam, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas
aktivitas manusia tersebut telah memodifikasi vulkanik dan pengangkatan wilayah serta
lebih dari setengah luas daratan (Jefferson, erosi dan sedimentasi (Bemmelen, 1949).
Wegmann and Chin, 2013). Kawasan Karangsambung merupakan daerah
Geomorfologi antroposen tidak dimulai dengan topografi perbukitan dan tersingkap
dari revolusi industri, namun sudah ada sejak banyak batuan yang merupakan bukti dari
pada jaman pertanian, ketika pertanian sudah proses tektonik (Asikin, 1974; Prasetyadi,
merubah bentang lahan permukaan 2007). Hal ini dikeranakan daerah ini
(Zalasiewicz et al., 2010). Antroposen awal merupakan zona penunjaman lempeng India-
sudah ada sejak kehidupan Suku Maya yang Australia ke lempeng Eurasia (Hamilton,
(3000 hingga 1000 BP) yang merubah lahan 1979; Hoffmann-Rothe, Ritter and Haak,
hutan yang komplek menjadi perkotaan, 2001). Manusia mempengaruhi penutup
dengan bukti vegetasi, hidrologi dan litosfer, lahan/deforestasi menyebabkan peningkatan
dari studi tanah, danau, dataran banjir, lahan erosi dan sedimentasi serta dinamika sungai
basah, dan ekosistem lainnya (Beach et al., (Goudie, 2018; Wohl, 2018). Peningkatan
2015). Dampak aktivitas manusia pada sistem adopsi konsep Anthropocene akan merusak
global relatif terhadap fungsi alami (Downs tujuan konservasi dan restorasi (Caro et al.,
and Piegay, 2019).Peningkatan kepentingan 2012).
manusia telah menjadi agen perubahan Singkapan batuan yang banyak dan
geomorfologi (Goudie, 2018). pada daerah yang realitif luas, mengakibatkan
Konsep geomorfologi (Thornbury W.D, pertanian tidak dominan. Masyarakat
1954) yang berkaitan erat dengan evolusi dan cenderung memanfaatkan keberadaan lokasi
143 Jurnal Geografi Gea, Volume 20, Nomor 2, Oktober 2020
sebagai tempat untuk penambangan. mempengaruhi struktur dan dinamika
Penambangan yang dilakukan oleh ekosistem (Montgomery, 1999).
masyarakat di Kawasan Karangsambung Karakteristik obyek menjadikan
meliputi batuan-batuan yang dianggap penelitian ini memiiliki sebuah metode survei.
memiliki fungsi komersil. Selain itu erosi dan Penyelidikan perubahan bentuklahan ini
sedimentasi yang tinggi memicu dilakukan untuk mengetahui proses dan
penambanggan pasir pada daerah genesa serta hubungannya dengan aktivitas
pengendapan. Penambangan yang dilakukan manusia dalam skala insitu. Gejala-gejala
dilakukan secara luas dan berangsur-angsur yang diamati dilapangan merupakan gejala
menyebabkan permasalahan lingkungan. Pada alamiah dan sosial (aktivitas manusia
penelitian ini bertujuan mengetahui dampak terhadap alam) serta mempertimbangkan
dari aktivitas manusia terhadap kondisi historis dan kronologis lokasi penelitian.
alamiah di Kawasan Cagar Alam Kronologis yang dimaksud pada penelitain ini
Karangsambung bagian selatan. adalah kronologis perubahan bentuklahan
akibat pengaruh aktivitas manusia.
METODE PENELITIAN Tinjauan sistematis dilakukan terhadap
Penelitian ini berlokasi di Cagar Alam studi yang berfokus pada dampak kumulatif
Geologi Karangsambung bagian selatan yang dari aktivitas manusia berupa perubahan dan
secara administrasi berada di Kecamatan respon geomorfologi bentuklahan (Downs
Karangsambung Kabupaten Kebumen and Piegay, 2019), yaitu meliputi:
(Gambar 1). Data citra multi-temporal (Citra a) Melibatkan perspektif historis, bukan
Landsat Tahun 1989 dan Tahun 2018) hanya berdasarkan jangkauan;
digunakan sebagai bahan data untuk b) Mengintegrasikan dampak dari
mengetahui perubahan fisik permukaan. serangkaian kegiatan yang komprehensif
Pendekatan keruangan berdasarkan resolusi untuk perubahan bentuklahan
spasial merupakan analisis awal untuk c) Perubahan yang dibedakan pada skala
mengetahui gejala perubahan awal insitu, bukan hanya menunjukkan tren
bentuklahan dari waktu ke waktu. Spasial umum;
variabilitas dalam proses geomorfik mengatur d) Fokus pada sebab dan akibat, bukan
pola gangguan secara temporal yang hanya menggambarkan perubahan.

Gambar 1. Lokasi penelitian di Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung bagian selatan
Teknik pengumpulan data pada bentuklahan yang mengalami perubahan di
penelitian dilakukan dengan teknik Kawasan Cagar Alam Geologi
menggunakan data penginderaan jauh dan Karangsambung. Observasi yang dilakukan
dengan menggunakan observasi. guna memperoleh data-data secara detail
Pengumpulan data menggunakan data mengenai sebab akibat peribahan bentuklahan
penginderaan jauh dimaksudkan untuk serta aktivitas manusia yang
identifikasi obyek dan persebaran mempengaruhinya.
P. D. Raharjo, E. Haryono. Sintesa Geomorfologi Antroposen Cagar Alam Geologi … 144

Gambar 2. Desain penelitian (Yunus, 2010, dengan perubahan)


HASIL DAN PEMBAHASAN proses ini semua berdampak pada perubahan
Kawasan Karangsambung memiliki morfologi Sungai Lukulo.
singkapan batuan tersebar secara luas. Faktor Sungai Lukulu Hulu memiliki nilai
ini memberikan dampak secara alamiah morfometri yang menunjukan tingkat
penyebab perubahan permukaan lahan yang pengaliran permukaan tinggi dan waktu
dipicu oleh aktivitas manusia. Kebutuhan dan konsentrasi cepat (Raharjo et al., 2016), hal
aktivitas manusia akan permukaan lahan tersebut memberikan dampak erosi yang
mengakibatkan perubahan konfigurasi tinggi pada Sungai Lukulo Hulu. Erosi pada
permukaan bumi. Perubahan permukaan DAS Lukulo Hulu memiliki kriteria erosi
bentuklahan secara detail akibat adanya berat dan sangat berat sekitar 2963,75
campur tangan manusia pada Kawasan ton/ha/tahun (Raharjo and Saifudin, 2008),
Karangsambung terlihat pada bentuklahan sedangkan muatan sedimen yang terendapkan
fluvial dan bentuklahan denusional. Kedua di outlet Sungai Lukulo Hulu sekitar 194,43
ton/ha/tahun (Saifudin and Raharjo, 2009).

Gambar 3. Lapisan pada dataran aluvial Sungai Lukulo yang menandakan pernah adanya
beberapa kejadian banjir (Foto: Puguh D. Raharjo, 2019)
145 Jurnal Geografi Gea, Volume 20, Nomor 2, Oktober 2020
Topografi Kawasan Karangsambung sekarang sudah tidak terkena proses
sebagian besar merupakan daerah perbukitan sedimentasi. Penambangan yang dilakukan
dan dataran sebagai tempat akumulasi aliran pada awalnya masih berupa manual, sekarang
hanya memiliki luasan yang kecil (Raharjo, sudah menggunakan alat berat dan mesin-
2010; Raharjo et al., 2017). Sedimentasi mesin penyedot pasir. Hal ini yang
berupa endapan pasir banyak ditemukan dimungkinkan mempercepat proses
disepanjang Sungai Lukulo. Endapan sedimen perubahan roman muka bumi di
pasir berada pada hamparan luas dan proses Karangsambung.
ini berlangsung dalam periode waktu yang Perubahan bentuklahan ini merubah
relatif lama. Dataran aluvial yang luas di Desa fungsi dan karakteristik permukaan. Lokasi
Karangsambung dan Desa Banioro tersebut pada saat masih berupa dataran
Kecamatan Karangsambung merupakan aluvial memiliki fungsi sebagai lahan
daerah yang pernah mengalami kondisi banjir pertanian produktif. Lahan padi dan tembakau
pada masa lampau. Hal ini terlihat dari merupakan tanaman pertanian yang ada pada
adanya lapisan endapan sedimentasi dengan daerah tersebut. Produksi bulanan merupakan
perulangan pola sortasi (Gambar 3). Lapisan hasil yang masyarakat peroleh dengan nilai
menunjukkan dari bawah hingga atas berupa penghasilan yang beragam. Keinginan
kerikil besar, kerikil kecil, pasir kasar, pasir penghasilan secara instan mulai merubah pola
halus, tanah, dan mengalami perulangan piker yang ada di masyarakat. Pertambangan
hingga 3 kali dengan urutan lapisan yang pasir memberikan hasil yang secara instan,
sama. secara langsung. Masyarakat menyewakan
Dataran aluvial (Gambar 4) lahan pertanian kepada penambang dengan
merupakan akumulasi aliran yang membawa perhitungan volume dan jumlah hari. Model
sediemen dan terendapkan. Potensi pasir yang penyewaan lahan sebagai penambangan
banyak ini menjadikan manusia menjadi trend di kalangan masyarakat.
memanfaatkan sebagai lokasi penambangan Masyarakat tidak mempertimbangkan
pasir. Penambangan pasir ini dilakukan secara dampak yang akan diperoleh di masa datang.
berlebihan dan hingga pada lokasi yang tidak Bencana banjir dan kelangkaan sumber daya
terpengaruh oleh sungai pada saat ini. air tanah menjadi permasalahan baru. Banjir
Penambangan yang terjadi tidak hanya pada lokasi ini merupakan banjir yang terjadi
berdampak secara tidak langsung terhadap secara periodik. Dataran aluvial yang ada di
perubahan bentuklahan, namun juga Kawasan Karangsambung merupakan lokasi
mengakibatkan perubahan secara langsung yang sangat penting di masyarakat. Sumur-
terhadap morfologi bentuklahan asal proses sumur yang dibuat oleh masyarakat rata-rata
fluvial. Penambangan pasir pada Sungai berada di dataran aluvial. Tipe sungai
Lukulo ini merupakan pengaruh pertama dari merupakan influent, air sungai memenuhi
aktivitas manusia yang mempengaruhi pasokan pada sumur-sumur warga yang ada di
bentukan geomorfologi yang ada di Kawasan dataran aluvial. Penambangan pasir juga
Cagar Alam Geologi Karangsambung. dilakukan pada tubuh air pada sungai, dan
Perubahan morfologi bentukan lahan dilakukan dengan menggunakan mesin sedot.
asal proses fluvial yang terjadi secara Hal ini berakibat pada turunnya muka air
langsung adalah berubahnya bentuk lahan tanah sumur masyarakat yang berada di
dataran banjir dan dataran aluvial menjadi sekitar dataran aluvial (Widiyanto et al.,
ledok fluvial (Gambar 4.A). Pada awal 2013).
penambangan pasir di Kawasan Pengaruh dari penambangan ini juga
Karangsambung hanya dilakukan di sekitara menimbulkan dampak lain, seperti halnya
daerah- daerah sedimentasi pada poin bar- perubahan pada morfologi sungai. Perubahan
poin bar pada sungai yang memiliki sinuositas yang yang terjadi salah satunya adalah
tinggi. Kebutuhan dan permintaan pasir menurunnya sinuositas sungai pada lokasi
sebagai bahan bangunan yang cukup tinggi, tertentu. Penurunan sinuositas lebih
penambangan dilakukan pada lokasi yang cenderung karena adanya perubahan arus dan
memiliki endapan pasir namun pada saat sedimen sungai yang terendapkan. Pada
P. D. Raharjo, E. Haryono. Sintesa Geomorfologi Antroposen Cagar Alam Geologi … 146
penelitian ini terlihat dari identifikasi dari mengakibatkan pendangkalan sungai sehingga
citra landsat Tahun 1989 dan citra landsat daya tamping air semakin berkurang. Konsep
Tahun 2019 (Gambar 6). Penambangan pasir sistem aliran sungai pada dasarnya merupakan
pada lokasi sekitar sungai tidak selamanya suatu keseimbangan yang dinamis yang
merugikan apabila dilakukan pada zona menggambarkan penyesuaian, dalam
sedimentasi dan tidak dilakukan secara hubungannya dengan lebar aliran, kedalaman,
berlebihan dan harus terukur. Hal ini kecepatan, dan beban sedimen (Leopold and
sedimentasi yang berlebih juga akan Maddock, 1953; Vannote et al., 1980).

Gambar 4. Perubahan bentuklahan di sekitar sungai (A. bentuklahan dataran aluvial dan dataran banjir di Kawasan
Karangsambung yang berubah menjadi ledok fluvial akibat adanya aktivitas penambangan yang berlebih; B. perubahan
sinuositas sungai akibat adanya longsoran, pemotongan lereng pada daerah perbukitan yang berada di atas sungai)
(Foto: Puguh D. Raharjo, 2019)
Penggaruh kedua dari aktivitas dampak pada perubahan morfologi Sungai
manusia yang terhadap bentukan Lukulo. Akibat pemotongan lereng yang terjal
geomorfologi di Kawasan Cagar Alam pada perbukitan dengan kondisi batuan yang
Geologi Karangsambung adalah adanya tidak stabil (mengalami pelapukan dan tanah
pemotongan lereng pada perbukitan. sebagian besar berupa regolith)
Pemotongan lereng yang dilakukan untuk mengakibatkan terjadinya longsor. Posisi
tujuan pelebaran jalan. Pemotongan lereng ini tebing yang berada di atas sungai yang
selain berpengaruh pada morfologi perbukitan memiliki sinuositas tinggi. Selain berdampak
juga memberikan dampak pada Sungai pada jalan, longsoran tersebut juga mengenai
Lukulo yang berada di daerah hulu. tubuh sungai. Sungai pada lokasi tersebut
Pemotongan lereng perbukitan yang yang semula memiliki sinuositas tinggi
dilakukan sekitar Sungai Lukulo dengan anak berubah menjadi sungai dengan sinuositas
sungai (Sungai Lokidang) memberikan yang rendah (Gambar 4.B).
147 Jurnal Geografi Gea, Volume 20, Nomor 2, Oktober 2020
Material longsoran yang berupa tanah pasir halus, sekarang berubah menjadi
dengan plastisitas yang relative tinggi tidak hamparan endapan yang terhimpun banyak
mampu tererosi oleh kekuatan aliran air. material. Dampak lainnya akibat perubahan
Sehingga aliran air yang banyak membawa morfologi sungai tersebut adalah berkurannya
endapan kasar (pasir) banyak terendapkan endapan sedimen pada lokasi poin bar pada
pada lokasi tersebut. Sinuositas luar yang lokasi sungai dengan sinuositas yang berada
semula membentuk pothole berubah menjadi dibawahnya. Evolusi saluran sungai sebagian
lokasi dengan sedimentasi yang tinggi. Aliran besar mengakibatkan penyempitan, sayatan
sungai melakukan mekanisme dan dan pengembangan teras, berkurangnya
membentuk bentukan morfologi sungai sedimen dasar, serta perubahan geometri
(bentuk alur) yang baru. Pada lokasi ini yang saluran (Downs and Piegay, 2019).
semula tidak terdapat endapan kerikil hingga

Gambar 5. Perubahan bentuklahan di tubuh intrusi, dike batuan diabas, kondisi pada saat ini menjadi bentuk lahan
denudasional dengan lahan yang sudah rusak (Foto: LIPI, 2017; Puguh D. Raharjo, 2019)
Perubahan geomorfologi bentuklahan dikembangkan lebih lanjut menjadi zona
ketiga akibat pengaruh dari aktivitas manusia penambangan dikarenakan dalam nilai
di Kawasan Cagar Alam Geologi skenario dikembangkan bernilai negative.
Karangsambung berada di Gunung Parang Sehingga bila terus dieksploitasi akan
Kecamatan Karangsambung. Gunung Parang mengalami degradasi lingkungan yang sangat
ini merupakan tubuh intrusi batuan beku cepat (Widiyanto and Raharjo, 2011).
dalam (diabas) berupa dike. Intrusi diabas ini Penambangan yang dilakukan oleh
memiliki struktur columnar joint. masyarakat tersebut hingga mencapai
Penambangan berupa batuan yang dilakukan setengah dari bentuklahan asal (Gambar 4.B).
pada lokasi ini sudah terjadi sejak lama. Kondisi sekarang lokasi sudah terlihat seperti
Perbukitan intrusi secara genetika tidak dapat lahan rusak dan pada bagian tertentu sudah
P. D. Raharjo, E. Haryono. Sintesa Geomorfologi Antroposen Cagar Alam Geologi … 148
tidak tampak bekas suatu bentukan topografi tinggi. Perbukitan intrusi dengan struktur
perbukitan. Selain perubahan bentuklahan columnar joint yang terdapat banyak retakan
secara ekstrem dari perbukitan menjadi lahan merupakan wilayah yang tidak stabil,
rusak topografi datar, pada lokasi tersebut sehingga adanya penambangan dapat pemicu
juga memiliki kriteria ancaman longsor terjadinya longsor pada lokasi ini.

Gambar 6. Citra multispektral sebagian wilayah Cagar Alam Geologi Karangsambung , A. Landsat perekaman Tahun
1989; B. Citra Landsat perekaman Tahun 2019 (Sumber: https://earthexplorer.usgs.gov/)
oleh pemerintah, agar tidak memiliki
Pada Gambar 6 terlihat bahwa terdapat konsekuensi parah. Selain itu juga diperlukan
beberapa perubahan konfigurasi permukaan, sosialisasi kepada para penambangan tentang
bentuklahan yang ada di Kawasan etika mendasar yang dapat merusak
Karangsambung seperti yang telah diuraikan lingkungan dan untuk melindunginya, dan
pada paragraf-paragraf diatas. Pada kode untuk mengingatkan masyarakat tentang
nomor 1 merupakan perubahan dataran pentingnya ekosistem tersebut (Steffen,
aluvial pada Tahun 1989 berubah menjadi Crutzen and McNeill, 2007; Caro et al.,
ledok fluvial dan dataran banjir pada Tahun 2012).
2018. Penambangan pada dataran aluvial
(sekitar Sungai Lukulo pada lembah antiklin) SIMPULAN
yang secara langsung juga memberikan Aktivitas manusia sebagai faktor
dampak pada turunnya muka air tanah. utama yang mengubah bentuklahan secara
Pada alur Sungai Lukulo kode nomor mikro terjadi di Kawasan Cagar Alam
2 terlihat adanya perubahan sinuositas, hal ini Geologi Karangsambung. Penambangan pasir
dikarenakan adanya longsoran yang menutupi dan batuan memberikan dampak terhadap
sebagian sungai. Sinuositas berkurang dan perubahan morfologi dengan waktu yang
aliran membentuk alur baru serta membentuk relatif cepat. Kurun waktu Tahun 1989 hingga
hamparan endapan baru pada lokasi yang Tahun 2018 telah banyak mengubah
tertutup oleh longsoran. Pada lokasi kode konfigurasi permukaan. Pada Kawasan
nonor 3 juga terjadi perubahan bentuk alur Karangsambung terdapat 3 lokasi yang terjadi
Sungai Lukulo. Hal ini dikarenakan adanya perubahan bentuklahan geomorfologi fluvial.
perubahan energi dari hulu yang terganggu Perubahan nilai sinuositas dan perubahan alur
akibat banyaknya penambangan pada tubuh sungai akibat tertutupnya badan sungai akibat
sungai. Konsep penanganan yang tepat dalam longsoran pada daerah hasil pemotongan
mengatur penambangan sangat diperlukan lereng. Selain itu juga adanya perubahan
bentuklahan dari dataran aluvial menjadi
149 Jurnal Geografi Gea, Volume 20, Nomor 2, Oktober 2020
dataran banjir dan ledok fluvial. Perubahan Hoffmann-Rothe, A., Ritter, O. and Haak, V.
lain terjadi di perbukitan intrusi batuan (2001) 'Magnetotelluric and
diabas, penambangan yang dilakukan geomagnetic modelling reveals zones of
merubah dari topografi perbukitan menjadi very high electrical conductivity in the
topografi dataran yang telah mengalami upper crust of Central Java', Physics of
denudasional menjadi lahan rusak. the Earth and Planetary Interiors, 124(3-
4), pp. 131-151. doi: 10.1016/S0031-
DAFTAR PUSTAKA 9201(01)00196-0.
Asikin, S. (1974) Evolusi Geologi Jawa Jefferson, A. J., Wegmann, K. W. and Chin,
Tengah dan Sekitarnya Ditinjau dari A. (2013) 'Geomorphology of the
Segi Teori Tektonik Dunia yang Baru. anthropocene: Understanding the
Institut Teknologi Bandung. surficial legacy of past and present
Assine, M. L. et al. (2015) 'The Quaternary human activities', Anthropocene, 2, pp.
alluvial systems tract of the Pantanal 1-3. doi: 10.1016/j.ancene.2013.10.005.
Basin', Brazilian Journal of Geology, Leopold, L. B. and Maddock, T. (1953) The
45(3), pp. 475-489. doi: 10.1590/2317- Hydraulic Geometrv of Stream
4889201520150014. Channels and Some Physiographic
Beach, T. et al. (2015) 'Ancient Maya impacts Implications. Washington, D.C. doi:
on the Earth's surface: An Early https://doi.org/10.3133/pp252.
Anthropocene analog?', Quaternary Meybeck, M. (2003) 'Global analysis of river
Science Reviews. Elsevier Ltd, 124, pp. systems: From Earth system controls to
1-30. doi: Anthropocene syndromes',
10.1016/j.quascirev.2015.05.028. Philosophical Transactions of the Royal
Bemmelen, V. (1949) The Geology of Society B: Biological Sciences,
Indonesia. I.A. Government Printing 358(1440), pp. 1935-1955. doi:
Office. 10.1098/rstb.2003.1379.
Caro, T. et al. (2012) 'Conservation in the Montgomery, D. R. (1999) 'Process domains
Anthropocene', Conservation Biology, and the River Continuum', Journal of
26(1), pp. 185188. doi: 10.1111/j.1523- the American Water Resources
1739.2011.01752.x. Association,35(2), pp. 397-410.
Downs, P. W. and Piegay, H. (2019) doi:10.1111/j.1752-
'Catchment-scale cumulative impact of 1688.1999.tb03598.x.
human activities on river channels in the Pellegrini, L. and Vercesi, P. L. (2017)
late Anthropocene: implications, 'Landscapes and Landforms Driven by
limitations, prospect',Geomorphology. Geological Structures in the
Elsevier B.V., 338, pp. 88-104. doi: Northwestern Apennines', World
10.1016/j.geomorph.2019.03.021. Geomorphological Landscapes, pp.
Goudie, A. (2018) 'The human impact in 203-213. doi: 10.1007/978-3-319-
geomorphology - 50 years of change', 26194-2.
Geomorphology. Elsevier B.V., (xxxx). Prasetyadi, C. (2007) Evolusi tektonik
doi: 10.1016/j.geomorph.2018.12.002. Paleogen Jawa bagian timur. Institut
Goudie, A. S. and Viles, H. A. (2016) Teknologi Bandung.
'Introduction to the Anthropocene and Raharjo, P. D. (2010) 'Penggunaan Data
Anthropogeomorphology', Penginderaan Jauh dalam Analisis
Geomorphology in the Anthropocene, Bentukan Lahan Asal Proses Fluvial di
pp. 1-14. doi: Wilayah Karangsambung', Jurnal
10.1017/cbo9781316498910.001. Geografi, 7(2), pp. 146-152. doi:
Hamilton, W. (1979) 'Tectonics of the https://doi.org/10.15294/jg.v7i2.85.
Indonesian Region NOT FUL TEXT', Raharjo, P. D. et al. (2016) 'Analisa Hidrologi
Geological Society of Malaysia, Permukaan dalam Hubungannya dengan
Bulletin, 6(July), pp. 3-10. doi: Debit Banjir DAS Lukulo Hulu dengan
10.1016/0003-6870(73)90259-7. Menggunakan Data Penginderaan Jauh',
P. D. Raharjo, E. Haryono. Sintesa Geomorfologi Antroposen Cagar Alam Geologi … 150
Jurnal Geografi, 13(2), pp. 163-178. Canadian Journal of Fisheries and
doi: Aquatic Sciences, 37(1)(1), pp. 130-
https://doi.org/10.15294/jg.v13i2.7974. 137. doi: https://doi.org/10.1139/f80-
Raharjo, P. D. et al. (2017) 'Klasifikasi 017.
bentuklahan menggunakan analisis Verburg, P. H. et al. (2016) 'Methods and
object-based image dalam penginderaan approaches to modelling the
jauh', Proceeding, Seminar Nasional Anthropocene', Global Environmental
Kebumian Ke-10, (September), pp. Change. Elsevier Ltd, 39, pp.
1781-1789. Available at: 328-340.
https://repository.ugm.ac.id/274198/. doi:10.1016/j.gloenvcha.2015.08.007.
Raharjo, P. D. and Saifudin (2008) 'Pemetaan Waters, C. N. et al. (2016) 'The Anthropocene
Erosi DAS Lukulo Hulu dengan is functionally and stratigraphically
Menggunakan Data Penginderaan Jauh distinct from the Holocene', Science,
dan Sistem Informasi Geografi', Jurnal 351(6269). doi:
Ilmu Tanah dan Lingkungan, 8(2), pp. 10.1126/science.aad2622.
103-113. doi: Widiyanto, K. et al. (2013) 'Dampak Aktivitas
https://doi.org/10.5072/FK2/1KXZCT. Penambangan Pasir di Sungai Lukulo
Saifudin and Raharjo, P. D. (2009) 'Potensi Terhadap Airtanah Dangkal di
endapan sedimen dalam hubungannya Pesanggrahan Karangsambung,
dengan tingkat erosi di das lukulo hulu', Kebumen, Jawa Tengah', Prosiding
Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Pemaparan Hasil Penelitian Puslit
Puslit Geoteknologi - LIPI2009, pp. Geoteknologi - LIPI2013, pp. 978-979.
205-213. doi: Widiyanto, K. and Raharjo, P. D. (2011)
https://doi.org/10.5072/FK2/OOD1PD. 'Evaluasi aktivitas penambangan diabas
Skalak, K. J. et al. (2013) 'Large dams and di gunung parang cagar alam geologi
alluvial rivers in the Anthropocene: The karangsambung kebumen dengan
impacts of the Garrison and Oahe Dams pendekatan satuan genetika wilayah',
on the Upper Missouri River', rosiding Pemaparan Hasil Penelitian
Anthropocene. Elsevier B.V., 2, pp. 51- Puslit Geoteknologi LIPI, pp. 141-147.
64. doi: 10.1016/j.ancene.2013.10.002. Wohl, E. (2018) 'Rivers in the Anthropocene:
Steffen, W. et al. (2011) 'The anthropocene: The U.S. perspective', Geomorphology.
Conceptual and historical perspectives', Elsevier B.V., (xxxx). doi:
Philosophical Transactions of the Royal 10.1016/j.geomorph.2018.12.001.
Society A: Mathematical, Physical and Yunus, H. S. (2010) Metodologi Penelitian
Engineering Sciences, 369(1938), pp. Wilayah Kontemporer. Cetakan 1,.
842-867. doi: 10.1098/rsta.2010.0327. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Steffen, W., Crutzen, P. J. and McNeill, J. R. Zalasiewicz, J. et al. (2011) 'The
(2007) 'The Anthropocene: Are Humans anthropocene: A new epoch of
Now Overwhelming the Great Forces of geological time?', Philosophical
Nature', AMBIO: A Journal of the Transactions of the Royal Society A:
Human Environment, 36(8), pp. 614- Mathematical, Physical and Engineering
621. doi: 10.1579/0044- Sciences, 369(1938), pp. 835-841. doi:
7447(2007)36[614:TAAHNO]2.0.CO;2 https://doi.org/10.1098/rsta.2010.0339.
. Zalasiewicz, J. . et al. (2010) 'The new world
Thornbury W.D (1954) Principles of of the anthropocene', Environmental
Geomorphology. New York: John Science and Technology, 44(7), pp.
Wiley & Sons. 2228-2231. doi: 10.1021/es903118j.
Vannote, R. L. et al. (1980) 'PERSPECTIVES
The River Continuum Concept l',