Anda di halaman 1dari 19

CRITICAL BOOK REPORT

GEOGRAFI EKONOMI DAN PEMBANGUNAN

Mata Kuliah : Geografi Ekonomi dan Pembangunan

Dosen : Dr. Novida Yenny, M.Si

Disusun oleh :

Nama : Irvi Sari Chairuna Pulungan

NIM : 3173131018

Kelas : D Geografi 2017

PENDIDIKAN GEOGRAFI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia,
serta hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan hasil laporan critikal book Geografi Ekonomi dan
Pembangunan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.Dan juga saya
berterima kasih kepada Dosen Dr. Novida Yenny, M.Si yang telah memberikan tugas ini kepada
saya.

Saya sangat berharap hasil laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Geografi Ekonomi dan Pembangunan .Saya juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini masih terdapat kekurangan.

Semoga hasil laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapa pun yang
membacanya.Saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.
Saya juga berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan hasil laporan yang telah saya
buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Medan, November 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................... 1


B. Tujuan ............................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 2

A. Identitas buku ................................................................................................. 2


B. Ringkasan buku .............................................................................................. 3

BAB III PEMBAHASAN BUKU SECARA UMUM ............................................ 10

A. Perbandingan buku................................................................................... 10
B. Kelebihan dan Kelemahan buku .............................................................. 11

BAB IV PENUTUP .................................................................................................. 12

A. Kesimpulan ................................................................................................... 12
B. Saran .............................................................................................................. 12
Daftar Pustaka ................................................................................................ 13
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara Umum kota adalah tempat bermukimnya warga kota, tempat bekerja, tempat
kegiatan dalam bidang ekonomi,pemerintah dan lain-lain. Kota berasal dari kata urban yang
mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kota adalah suatu entitas yang utuh. Ada relasi
fungsi social ekonomi, poltik, budaya dan lainnya yang prosesnya bukan serta merta ada begitu
ada suatu proses kultural panjang. Kota merupakan suatu entitas yang sitemik atau utuh.
Tata ruang kota adalah wujud structural dari pola pemanfaatan ruang yang direncanakan
maupun tidak . kondisi penduduk secara social maupun ekonomi sangat terkait erat dengan
penaatan ruang kota, pengeloaan lingkungan, dan sumber daya alam yang ada. Karena itu,
penataan ruang tersebut akan sangat berpengaruh pada sumber daya manusia yang berinteraksi
dengan tempat, waktu dan budaya masyarakat setempat. Dalam penataan kota tersebut, dimana
elemen-elemen sangat berpengaruh terhadap pola dan bentuk kota.
Dalam perencanaan, perancangan dan pemprograman prasaran kota hal utama yang perlu
diperhatikan terhadap elemen tata ruang kota itu sendiri yaitu : penyusunan perencanaan elemen
tata ruang kota, pemanfaatan tata ruang dan pengendalian pemanfaatan dari unsur-unsur elemen
tersebut akan lebih terarah dalam penggunaan dan pembanunannya di dalam sebuah kota.
Ditinjau dari aspek ekologi perkotaan, karakteristik kota diartikan sebagai penduduk yang
dipisahkan karena latar belakang kemakmuran dan kebudayaan, seperti juga pendapat ahli
ekonomi yang melihat kota sebagai pusat produksi, perdaganga dan distribusi yag dilengkapi
oleh organisasi-organisasi ekonomi (Scott, 1966).
B. Tujuan
Untuk memahamiekologi dan mengetahui elemen –elemen tata ruang kota . Pada CBR ini
khusus membahas mengenai Geografi Desa Kota
BAB II

PEMBAHASAN

A. Identitas Buku

Buku utama

Judul : Elemen Tata Ruang Kota

Penulis : Rinaldi Mirsa

Penerbit : Graha Ilmu

Edisi : Cetakan Pertama

Tahun Terbit : 2012

Tempat Terbit : Yogyakarta

ISBN : 978-979-756-809-2

Buku Pembanding

Judul : Kota dan Lingkungan

Penulis : Eko Budiharjo

Penerbit : United Nations University Press

Edisi : Cetakan kedua

Tahun Terbit : 2015

Tempat Terbit : Jakarta

ISBN : 979-3330-10-4
B. Ringkasan Buku
Buku Utama

Sejak ribuan tahun lalu fenomena perkembangan kota di berbagai tempat, suku bangsa akan
selalu dipengaruhi oleh dinamika perkembangan masyarakatnya yaitu perkembangan kehidupan
social, ekonomi, budaya, politik dan pendidikan yang tercermin dalam perkembangan kotanya.
Kota dapat di katakan sesuatu yang diproses yang selalu disertai oleh dimensi waktu dan factor
kehidupan manusia didalamnya. Ada beberapa defenisi kota, yaitu :

 Tempat dimana konsentrasi penduduk lebih padat dari wilayah sekitarnya karena terjadi
pemuatan kegiatan fungsional yang berkaitan dengan kegiatan atau aktivitas
penduduknya
 Permukiman yang mempunyai penduduk relative besar, luas areal terbatas, pada
umumnya bersifat non-agraris, kepadatan penduduk relative tinggi (kamus tata ruang)
 Tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal dalam suatu
wilayah geografis tertentu, cendrung berpola hubungan rasional, ekonomis dan
individualistis
 Pusat permukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan wilayah administrasi
yang diatur dalam peraturan perundangan, serta permukiman yang telah memperlihatkan
watak dan ciri kehidupan perkotaan (Permendagri No.2/1987)
 Kota sebagai daerah otonom
Pembangunan mengandung unsur perubahan besae, perubahan struktur social, perubahan
struktur budaya, perubahan struktur public, dan perubahan struktur pendidikan, serta ikut pula
mempengaruhi perubahan fisik wilayah, perubahan pola konsumsi, perubahan sumber alam dan
lingkungan hidup, perubahan teknologi dan perubahan sistem nilai. Salah satu yang harus
diperhatikan dalam pemaduserasian adalah perencanaan kota, perancangan kota dan
pemrograman prasarana kota, yang saling ketergantungan dn keterpaduan dari ketiganya.
Pengembangan adalah memajukan, memperbaiki ataumeningkatkan suatu yang telah ada.
Perencanaan adalah proses yang kontinu, yang menyangkut pengambilan keputusan atau pilihan
mengenai bagaimana memanfaatkan sumberdaya yang ada semaksimal mungkin guna mencapai
tujuan-tujuan tertentu di masa depan.
Untuk perencanaan itu dapat meliputi beberapa unsur diantaranya adalah :
 Analisis, yaitu berupa kupasan data
 Kebijakan (policy) yaitu pemilihan rencana yang baik untuk pelaksanaan yang meliputi
pengetahuan mengenai maksud dan kriteria umtuk menelaah alternative-alternative
rencana.
 Rancangan atau desain, yaitu rumusan dan sajian rencana.
Secara Umum kota adalah tempat bermukimnya warga kota, tempat bekerja, tempat kegiatan
dalam bidang ekonomi,pemerintah dan lain-lain. Kota berasal dari kata urban yang mengandung
pengertian kekotaan dan perkotaan. Kota adalah suatu entitas yang utuh. Ada relasi fungsi social
ekonomi, poltik, budaya dan lainnya yang prosesnya bukan serta merta ada begitu ada suatu
proses kultural panjang. Kota merupakan suatu entitas yang sitemik atau utuh. Kota yang telah
berkembang maju mempunyai peranan yang luas lagi antara lain :
 Sebagai pusat permukiman penduduk
 Sebagai pusat kegiatan ekonomi
 Sebagai pusat kegiatan social budaya
 Pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintah serat tempat kedudukan pemimpin
pemerintahan
Adapun beberapa ciri fisik kota yang menjadi ciri khas bentuk kota yaitu meliputi:
 Tersedianya tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan
 Tersedianya tempat-tempat untuk parker
 Terdapatnya sarana rekreasi dan sarana olahraga
Suatu daerah dinamakan kota jika syarat terpenuhi meskipun dari syarat tersebut lebih
bersifat umum seperti yang terlihat kebanyakan kota-kota di Indonesia. Kota dapat dicirikan
sebagai berikut :
 Heterogenitas penduduk
 Pusat Peradaban
 Pemerintahan
 Strativikasi social lebih besar
 Individualis
 Kontak social lebih banyak
 Mata Pencaharian: non agraris heterogen
 Rumah denga tempat kerja : jauh-terpisah
 Kepadatan penduduk : tinggi
 Kepadatan rumah : tinggi
Ditinjau dari aspek ekologi perkotaan, karakteristik kota diartikan sebagai penduduk yang
dipisahkan karena latar belakang kemakmuran dan kebudayaan, seperti juga pendapat ahli
ekonomi yang melihat kota sebagai pusat produksi, perdaganga dan distribusi yag dilengkapi
oleh organisasi-organisasi ekonomi (Scott, 1966).
Perkembangan Kota menurut asal perumbuhan ada 2, yaitu :
1. Perkembangan Alamiah, yaitu perkembangan kota dimasa yang lalu secara alamiah
tanpa dilakukan kegiatan perencaan kota. Bentuk kota yang berkembang secara alamiah
yaitu :
 Penyebaran secara konsentrik
 Pengembangan bentuk pita
 Perkembangan berbentuk satelit
 Pertumbuhan secara terpencar
2. Perkembangan yang direncanakan, yaitu kota berkembang berdasarkan acuan/rencana
yang telah disusun oleh perencanaan kota
Perkembangan Kota menurut arah pertumbuhan, yaitu :
1. Perkembangan kota secara horizontal
2. Perkembangan secara vertical
Bentuk sebaran-sebaran yang terdapat di kota di lihat dari beberapa pola, yaitu :
 Pola Sentralis
 Pola Desentralisasi
 Pola Nukleasi
 Pola Segresi
Hal- hal yang berpengaruh negative pada pembangunan dan menjadi hambatan utama di
dalam pembangunan itu sendiri di ungkapan oleh Jo Santoso, yaitu :
 Masalah Urbanisasi
 Masalah tekanan struktur kekuasaan ekonomi dan politik global
 Masalah fungsi kota sebagai “agent of development”
 Perkembangan sistem ekologi global maupun lokal
Undang –undang Nomor 26 Tahun 2007, pasal 65 maka dapat dilihat bahwa masyarakat
termasuk korporasi yang harus memberikan masukan sebaik-baiknya dalam penataan ruang
sehingga harus sesuai dengan asas penataan ruang yang digariskan dalam pasal 2 yaitu :
 Keterpaduan
 Keserasian, keselarasan, dan kesinambungan
 Keberlanjutan
 Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan
 Keterbukaan
 Kebersamaan dan kemitraan
 Perlindungan kepentingan umum
 Kepastian umum, dan keadilan
 Akuntabilitas
Prinsip –prinsip dasar dari penataan ruang adalah :
 Pengambilan keputusan untuk menentukan pilihan
 Suatu penetapan pengalihan sumber daya
 Suatu penentapan dan usaha pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan
 Suatu pencapaian kedaan yang lebih baik di masa yang akan datang
Dalam penataan ruang kota ada tiga hal yang perlu diperhatikan sebagai guidelines dalam
menta ruang, antara lain :
1. Perencanaan Tata Ruang
Pasal 65 (1) penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh pemerintah dengan
melibatkan masyarakat, (2) peran serta masyarakat sebagaimana dalam ayat 1 dilakukan
antara lain melalui :
 Partisipasi dalam penyususnan tata ruang
 Partisipasi dalam pemanfaatan ruang
 Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang
2. Pemanfaatan Ruang
Dinamika dalam pemanfaatan ruang tersebut dapat dilihat dari beberapa indicator yang
dapat dijadikan tolok-ukur, diantaranya adalah :
 Perubahan nilai social akibat rencana tata ruang
 Perubahan nilai tanah dan sumber daya alam
 Perubahan status hokum tanah akibat rencana tata ruang
 Dampak terhadap lingkungan
 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
3. Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Jalan adalah salah satu elemen pembentuk pola blok suatu kawasan kota. Tujuan adanya
tanda-tanda di ruang jalan , menurut Sims (1991;80) yaitu:
 Orientasional
 Informasional
 Direksional
 Identifikasional
 Regulatorial
 Omamental
Menurut Weisman dalam Merry (2001) dan 3 komponen yang mempengaruhi interaksi
manusia dengan lingkungannya, yaitu :
1. Individu
2. Setting fisik
3. Organisasi

Kebutuhan aktivitas atau kelengkapan lingkungan, dibutuhkan adanya :

1. Kenyamanan
2. Aksesibilitas
3. Legibilitas
4. Control
5. Tetorialitas
6. Keamanan
Buku Pembanding

A. Menuju Kota yang Manusiawi dan Berwawasan Lingkungan


Ketika orang berbicara tentang kota dan perkotaan, yang biasa terlintas dalam benak mereka
adalah aneka rona kepadatan : bangunan, lalu lintas, manusia, barang, dan lain-lain.

Bangunan-bangunan dikota besar dan kota raya atau metropolitan semakin berjubel dan semakin
menjulang tinggi. Atas hal itu, ada pakar yang mengatakan bahwa semua masalah tersebut dapat
diatasi dengan teknologi, yakni dengan menciptakan apa yang disebut technopolis. Namun bagi
negara-negara yang berkembang yang serba miskin apalagi yang terlanda krisis multidimensi,
seperti Indonesia, kota yang berwawasan Teknologi.

B. Akar Permasalahan Lingkungan Perkotaan


Pada tahun-tahun belakangan ini, masalah lingkungan global sudah menjadi sangat serius
sehingga mencetuskan usaha-usaha kolaboratif di seluruh dunia untuk mencari solusi. Ketika
berhadapan dengan masalah lingkungan global, penting bagi kami untuk “berfikir secara
globaldan bertindak secara lokal”. Hal tersebut juga mengandung kebenaran jika diterapkan
terhadap masalah lingkungan perkotaan. Masalah lingkungan perkotaan memiliki dampak yang
sigifikan terhadap perdamaian dan kesejahteraan global.

Pada abad ke 21, mayoritas penduduk dunia diperhitungkan akan memiliki tempat tinggal di
Kota. Karena itu, cara kota-kota dalam mengatasi masalah lingkungan, lewat dampak lingkungan
global, bisa menjadi salah satu faktor besar bagi masa depan perdamaian dan kesejahteraan
komunitas dan bangsa kami.

C. Menciptakan “Masyarakat Berwawasan Ekologi”


Dilingkungan terdekat anda bisa menemukan mesin penjaja dan toko yang buka selama dua
puluh empat jam, yang menyediakan makanan dan barang-barang keperluan lainnya kapan pun
anda butuhkan, kota kami telah menjadi tempat yang paling/ lebih menyenangkan dan pantas
untuk ditinggali. Hal tersebut meningkatkan akan apa yang sebenarnya terjadi di balik kehidupan
perkotaan yang nyaman dan enak ini.
Kota merupakan pusat kreativitas, budaya dan perjuangan keras manusia. Secara absolut,
peningkatan penduduk yang diperhitungkan secara umum dan khususnya pendudukan perkotaan
mencerminkan kecenderungan yang meningkat, kenyataan menunjukkan bahwa harapan kota
tersebut tidak terealisasi dalam beberapa kasus, karena tidak baiknya sistem manajemen
lingkungan, peraktik-praktik perdagangan dan industri yang bersifat merusak dan tidak tertata,
banyaknya produksi dan pembuangan, perencanaan publik yang tidak memadai, dan gagalnya
para tokoh perkotaan bekerja sama menyampaikan berbagai masalah dengan semangat
persamaan dan persatuan.

 Memahami Skala Masalah Perkotaan


Dampak sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan wilayah perkotaan tidak dapat dibatasi
pada batas-batas administratifnya. Sebuah contoh ilustratif mengenai hal ini adalah London
Raya. Masalah Lingkungan dapat diukur dengan menggunakan skala sosial, yang meliputi rumah
tangga, komunitas, kota, dan daerah/bangsa.

 Inovasi Menuju Kota Berkelanjutan Secara Sosial

Kota semakin menjadi terpecah-pecah, berbeda sekali dari pola dasar perkotaan Eropa atau
Idaman perkotaan yang hebat. Distribusi yang tidak seimbang telah memberikan pengaruh
terhadap vitalitas aktivitas perkotaan dan merupakan sumber gaya hidup yang tidak bertahan dan
sekaligus penghambat bagi perubahan budaya. Hervey mengingatkan kami bahwa tidak ada yang
lebih tidak seimbang ketimbang perlakuan sama terhadap ketidak seimbangan itu sendiri,
pengangguran yang terus bertambah dan memutuskan hubungan kerja merupakan masalah berat
bagi kota, ancaman untuk menciptakan kota kembar.

D. Civil Society dan Lingkungan Perkotaan


Fokus dalam mengidentifikasi jenis-jenis strategi yang sekarang mungkin berhasil
menyampaikan masalah utama lngkungan di kota-kota di negara-negara berkembang di seputar
Wilayah Asia Pasifik, adalah menyalurkan dukungan yang lebih besar secara langsung kepada
warga negara dan kelompok aksi masyarakat, bahkan di kota-kota di mana masalah lingkungan
perkotaan telah berhasil diatasi dan diklola oleh negara, kebutuhan akan berpartisipasi menjadi
warga negara yang lebih besar sedang tumbuh untuk menekan biaya manajemen lingkungan
untuk negara.
Gagasan manajemen perkotaan ditujukan untuk mengatur kota kami menjadi rumah, dalam
hal ini kehidupn di dalamnya dapat menjadi adil secara sosial, berkelanjutan secara berkelanjutan
ekologis, partisipatif secara politik, produktif secara ekonomi, dan bersemangat secara kultural.

Di Negara-negara maju, masalah lingkungan telah disoroti oleh aktivis individu, kelompok-
kelompok warga negara, dan organisasi nonpemerintah. Partisipasi warga negara yang lebih
besar dalam manajemen lingkungan perkotaan telah didasarkan pada efesiensi yang lebih besar
dan biaya yang lebih rendah yang digunakan dengan manfaat sukarela.

Meningkatknya jumlah kota besar di abad mendatang akan menjadi tantangan bagi banyak
perencana kota dan pejabat lokal. Dengan usaha yang dihasilkan dalam infrastruktur sosial, fisik,
ekonomi, lingkungan, kita akan dihadapkan oleh bahaya yang sangat kompleks dan juga
kerawanan yang mengiringi ke arah resiko bencana yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Untuk
menghadapi masalah tersebut secara efektif,kita perlu mengadakan pendekatan masalah
manajemen dan perencanaan bencana alam dengan cara yang lain, dengan mempertimbangkan
aspek sosial dan politis, serta ekonomi dan akar penyebabnya.

E. Tabungan Mayarakat dan Subsidi Kota


Tabungan masyarakat diharapkan dibuat dengan memindahkan perlengkapan penyimpanan
yang perlu ke lahan swasta, dibiayai oleh investasi swasta. Program subsidi kota sangatlah
berarti jika dilihat dari sudut pandang ekologis ketika efek tahun ke tahun muncul. Komunitas
yang dianjurkan oleh penulis karena itu mencakup regulasi kewajiban untuk menghubungkan
penyemprotan toilet dengan paling sedikit satu penggunaan lain di dalam regulasi mereka.

 Pemerintahan Perkotaan dalam Ekonomi Baru


Bagaimana kita bisa memerintah kota-kota dalam kerangka ekonomi baru bukan merupakan
sebuah pertanyaan tentang teknologi, pemerintahan yang dilaksanakan baik untuk mendukung
tujuan dan kecenderungan ekonomi pada tingkat makro yang lebih luas dan untuk merespon atau
mendukung tujuan secara efektif kebutuhan warga masyarakat. Sebagai bagian yang penting dari
desentrlisasi pemerintah pada tingkat lokal, pendekatan yang mengarah pada fungsi terhadap
pemerintahan perkotaan bisa direkomendasikan. Peran sektor swasta dalam pembahasan ini
dapat diharapkan bisa tumbuh lebih kuat seperti banyak pelayanan yang di swastanisasi, dengan
mempertimbangkan bahwa kepentingan publik bukan satu-satunya yang dengan segera
merefleksikan tujuan korporat, sistem ini perlu distrukturisasi sehingga dapat bekerja untuk
mengatur dirinya sendiri melalui sistem informasi terbuka.

Pemerintah kota dan lokal perlu meninjau kembali fungsi mereka sesuai arah kecenderungan
yang ada, dan unuk memikirkan lagi tentang apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak
harus mereka lakukan. Pemerintah menganggap sulit untuk menyampaikan seluruh masalah yang
dihadapi masyarakat, namun demikian sering bersikeras bahwa hanya pemerintahlah yang
melakukan pekerjaan itu.

 Negara-negara Berkembang
Bagi negara-negara berkembang, skenario yang diteliti dalam bab ini tampak jauh, dan perlu
dilakukan dalam konteks. Misalnya, di negara yang ekonominya kurang maju, pendidikan bisa
lebih baik lagi dijalankan melalui fasilias terpusat. Yang memusatkannya pada pendekatan
umum dibandingkan yang khusus. Bahkan teknologi yang beberapa di antaranya diterima-yaitu
mobil, misalnya,-tidak akan memadai bagi beberapa negara, yang artinya bahwa hal tersebut
membutuhkan investasi besar dalam insfaktur.

Dibandingkan ekonomi sebelumnya, kita mempunyai lebih banyak orang, teknologi,


kesejahteraan, akses ke segala sesuatu yang kita inginkan.

Pemerintah Nasional sadar bahwa mereka tidak dapat lagi membuat semua keputusan.
Pemerintah Republik Rakyat Cina bisa memutuskan apakah perusahaan dapat menginvestasi
dalam teritorinya, tetapi akan mengalami kesulitan dalam memproses dengan tepat dampak pada
pembangunannya sendiri.

Titik perhatian di sini adalah bahwa hal itu tidak mengmungkinkan pemerintah untuk
memantau dan menindak semua perubahan yang muncul dan semua keputusan yang dibuat.
Dengan perubahan ini datanglah kerumitan yang besar, sejalan dengan lebih banyak lagi
informasi yang tersedia dan perubahan yang muncul, sistem pemerintahan yang terpusat akan
jatuh karena kelebihan beban.

Aliran baru mengenai pemerintahan membuat teorinya tidak dari ilmu politik maupun sosial,
tetapi dari hukum alam. Sembari memandang alam, kita dapat melihat bahwa proses telah
berlanjut untuk milenia mendatang.
Begitu pula alam tidak memerintah melalui beberapa model terpusat. Alam memerintah
dengan seperangkat peraturan sederhana yang berfungsi, tidak ada pusat, tetapi pada sistem
perbatasan. Ada karakteristik dasar yang meliputi peraturan ini, dan sebagan dari karakteristik itu
sebagai berikut :

a. Stabil.
b. Sederhana.
c. Inovatif.
d. Mendasari.
e. Terletak di perbatasan.
BAB III

PEMBAHASAN BUKU SECARA UMUM

A. Perbandingan Buku

Pada buku utama pemabahasan buku lebih terfokus pada elemen-elemen dalam tata ruang
kota . Dalam buku utama Secara Umum kota adalah tempat bermukimnya warga kota, tempat
bekerja, tempat kegiatan dalam bidang ekonomi,pemerintah dan lain-lain. Kota berasal dari kata
urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kota adalah suatu entitas yang
utuh. Ada relasi fungsi social ekonomi, poltik, budaya dan lainnya yang prosesnya bukan serta
merta ada begitu ada suatu proses kultural panjang. Kota merupakan suatu entitas yang sitemik
atau utuh. Dan dalam buku pembanding Kota merupakan pusat kreativitas, budaya dan
perjuangan keras manusia. Secara absolut, peningkatan penduduk yang diperhitungkan secara
umum dan khususnya pendudukan perkotaan mencerminkan kecenderungan yang meningkat,
kenyataan menunjukkan bahwa harapan kota tersebut tidak terealisasi dalam beberapa kasus,
karena tidak baiknya sistem manajemen lingkungan, peraktik-praktik perdagangan dan industri
yang bersifat merusak dan tidak tertata, banyaknya produksi dan pembuangan, perencanaan
publik yang tidak memadai, dan gagalnya para tokoh perkotaan bekerja sama menyampaikan
berbagai masalah dengan semangat persamaan dan persatuan.

Dalam buku utama tidak ada membahas mengenai masalah dalam perkotaan secara
mendetail tetapi hanya memfokuskan pada pembahasan mengena pengaturan tata ruang kota
sendiri itu tersebut. Sedangkan dalam buku pembanding ada pembahasan mengenai maalah yang
ada di perkotaan.

B. Kekurangan dan kelebihan buku


Kelebihan
Buku utama :
 Banyak mencantumkan paham-paham dari para ahli
 Pembahasan buku lebih lengkap
 Buku ini sangat cocok digunakan mahasiswa sebagai referensi
 Buku ini membahas mengenai elemen-elemen tata ruang kota
Buku pembanding
 Tulisan pada buku mudah dibaca
 Kajian Materi lebih lengkap
 Bahasa yang digunakan mudah dipahami
 Pembahasan buku ini mengenai kota

Kelemahan
Buku utama
 Kertas yang digunakan tidak bagus
 Terdapat kata yang sulit dipahami
 Terdapat pleonasme dalam buku
 Cover kurang menarik
Buku pembanding
 materi pembahasan buku kurang lengkap
 cover buku kurang menarik
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
. Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kota
adalah suatu entitas yang utuh. Ada relasi fungsi social ekonomi, poltik, budaya dan lainnya
yang prosesnya bukan serta merta ada begitu ada suatu proses kultural panjang. Kota merupakan
suatu entitas yang sitemik atau utuh. Kota yang telah berkembang maju mempunyai peranan
yang luas lagi antara lain :
 Sebagai pusat permukiman penduduk
 Sebagai pusat kegiatan ekonomi
 Sebagai pusat kegiatan social budaya
 Pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintah serat tempat kedudukan pemimpin
pemerintahan
Adapun beberapa ciri fisik kota yang menjadi ciri khas bentuk kota yaitu meliputi:
 Tersedianya tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan
 Tersedianya tempat-tempat untuk parker
 Terdapatnya sarana rekreasi dan sarana olahraga
DAFTAR PUSTAKA
Mirsa,Rinaldi. 2012.Elemen tata ruang kota. Yogyakarta: GRAHA ILMU
Budiharjo,Eko.2015.Kota dan Lingkungan. Jakarta: United Nations University Press