Anda di halaman 1dari 15

CRITICAL JOURNAL REVIEW

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Untuk memenuhi tugas Penelitian Tindakan Kelas

Dosen Pengampu : Dra. Rosni ,M.Pd

Oleh:

Irvi Sari Chairuna Pulungan

(3173131018)

Kelas D.2017

JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas Critical
Journal Review . Dan juga tidak lupa saya berterima kasih kepada Dosen mata kuliah
Penelitian Tindakan Kelas.

Penulis sangat berharap tugas makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam
tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang penulis harapkan.
Untuk itu, penulis berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.

Semoga tugas sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun bagi orang
yang membacanya. Sebelumnya penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-
kata yang kurang berkenan dan penulis memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Medan, Oktober 2020

Irvi Sari Chairuna Pulungan


BAB I

PENADULUAN

A. Latarbelakang
Penelitian adalah sebuah proses kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu secara
teliti, kritis dalam mencari fakta-fakta dengan menggunakan langkah-langkah tertentu.
Keinginan untuk mengetahui sesuatu tersebut secara teliti, muncul karena adanya suatu
masalah yang membutuhkan jawaban yang benar. Berbagai alasan yang menjadi sebab
munculnya sebuah penelitian.

Berpikir adalah menyusun kata-kata menjadi saling berhubungan satu sama lain.
Berpikir juga berarti menghubungkan suatu fenomena dengan fenomena lainnya dalam
pikiran. Berpikir berarti menempatkan kesadaran kepada suatu objek sampai pikiran
bergerak untuk menyadari bagian-bagian lain dari objek yang disadari itu. Seperti
seseorang yang sedang berlatih mengemudikan mobil. Setelah memperhatikan tata cara
mengemudikan mobil, ia dapat menemukan bahwa terdapat fungsi dari masing-masing
alat yang ada dimobil tersebut. Kemudian ia melakukan suatu pencatatan dan dapat
menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Adanya bahasa lisan dan tulisan,
menandai adanya aktifitas berpikir.

B. Tujuan
Untuk memenuhi tugas Penelitian Tindakan Kelas
BAB II

PEMBAHASAN JURNAL

A. Identitas Jurrnal

Jurnal Utama

Judul : Pengukuran Konsep Amanah dalam Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif

Penulis : Ivan Muhammad Agung dan Desma Husni

Jenis jurnal : Jurnal Psikologi

Volume : 43 nomor 3

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : Fakultas Psikologi UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Jurnal Pembanding

Judul : Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Serta Pemikiran Dasar


Menggabungkannya
Penulis : Mohammad Mulyadi
Issn :-
Jenis Jurnal : Jurnal Studi Komunikasi Dan Media Penelitian Kuantitatif
Vol / No : Vol 15, No 1
Tahun Terbit : 2011
Email : mohammadmulyadi@yahoo.co.id.
Reviewer : Irvi Sari Chairuna Pulungan
B. Ringkasan Jurnal

Jurnal Utama

Pendahuluan

Hubungan1 interpersonal menjadi topik menarik di penelitian psikologi. Banyak para ahli
berusaha mengeksplorasi faktor apa yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan dalam
hubungan interpersonal, seperti pemaafan (Allemand, dkk., 2007; McCullough, Worthington &
Rachal,1997), kepercayaan (Lewicki, Mcallister, & Bies, 1998), respek (Frei & Shaver, 2002),
komitmen (Wieselquist, dkk., 1999). Salah satu isu penting dalam hubungan interpersonal dalam
konteks masyarakat Indonesia adalah amanah. Amanah memiliki peran penting dalam relasi
interpersonal individu. Sikap dan perilaku amanah mampu membentuk hubungan positif
antar individu dan kelompok. Menurut Hamka (1990) amanah merupakan pondasi dasar dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Definisi amanah sangat luas cakupannya. Amanah meliputi segala yang berkaitan hubungan
interpersonal antar manusia dan hubungan dengan Sang Penguasa Alam, yaitu Allah. Menurut
Ibnu Katsir (2013) amanah adalah semua tugas atau pembebanan agama yang meliputi perkara
dunia dan akhirat yang ditujukan kepada manusia. Dari segi bahasa, amanah berasal dari bahasa
arab yang berarti aman, jujur, atau dapat dipercaya. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2013) amanah adalah sesuatu yang dititipkan kepada orang lain, setia, dan dapat
dipercaya. Amanah merupakan kepercayaan yang diberikan kepada seseorang untuk ditunaikan
kepada yang berhak (Amirin, 2007). Orang yang amanah adalah orang yang dapat menjalankan
tugas yang diberikan. Dalam perspektif islam (Al-Qur’an dan Hadis), amanah dapat dilihat dari
berbagai dimensi. Di Al-Quran terdapat enam kata amanah, yaitu Al-Qur'an surat Al Ahzab: 72,
amanah sebagai tugas atau kewajiban; surat Al Baqorah: 283, amanah sebagai hutang atau janji
yang harus ditunaikan; surat An Nisa’:58, amanah sebagai tugas yang harus disampaikan
pada yang berhak; surat Al Anfal: 27, tentang menjaga amanah; surat AlMukminun: 8, anjuran
memelihara amanah; dan surat Al Mangarij: 32 anjuran memelihara amanah.

Dalam hal ini amanah dilihat lebih luas dan dalam. Amanah diartikan sebagai kewajiban hamba
kepada Allah yang harus dilakukan manusia. Kedua, terkait dimensi antar manusia. Dalam hal
ini amanah dilihat sebagai karakter terpuji dan tugas yang harus dilaksanakan. Ketiga, diri
sendiri. Pada dimensi ini amanah dilihat sebagai sesuatu yang harus dikerjakan untuk kebaikan
dirinya. Ketiga dimensi tersebut saling terkait satu sama lain, artinya ketika hanya satu dimensi
yang dijalankan, maka amanahnya belum sempurna. Misalkan, ketika individu menunaikan
amanahnya kepada Allah seperti menjalankan sholat, tetapi dalam hubungan interpersonal tidak
berperilaku amanah, maka dalam perspektif islam individu tersebut belum dikatakan amanah.
Dalam konteks psikologi, amanah dikaitkan dengan kepercayaan (trust) dan keterpecayaan
(trustworthiness). Penelitian tentang kepercayaan dan keterpecayaan di psikologi mendapat
perhatian luas di kalangan ilmuwan psikologi.

Kepercayaan dikaitkan juga dengan karakteristik atau sifat kenapa seseorang pantas dipercaya
atau disebut dengan keterpecayaan (trusworthiness). Menurut pendapat McKnight dkk., (1998)
kepercayaan (trust) dan keterpecayaan (trusworthiness) merupakan istilah yang sinonim jika
diskusi dalam konteks karakteristik personal yang menginspirasi munculnya harapan positif.
Sementara menurut Mayer, Davis, & Schoorman (1995) memisahkan antara kepercayaan
dan keterpecayaan yang terdiri dari tiga karakteristik (kemampuan, kebajikan dan integritas)
yang berperan sebagai anteseden pada variabel kepercayaan. Kenapa orang dipercaya? beberapa
penelitian menunjukkan karakteristik personal yang meliputi sifat dan perilaku menjadi dasar
kenapa orang dipercaya. Menurut Mayer, dkk., (1995) karakteristik personal meliputi tiga hal,
yaitu kemampuan, kebajikan, dan integritas. Demikian juga studi meta analisis Colquitt
dkk., (2007) menunjukan bahwa orang dipercaya berdasarkan pada tiga hal, yaitu kemampuan,
kebajikan, dan integritas. Sementara itu, penelitian tentang konsep amanah belum banyak
dilakukan di Indonesia. Beberapa penelitian tentang amanah dengan berbagai macam
pendekatan, misalnya Rohman (2011) dan Pulungan (2006) melakukan penelitian konsep
amanah dengan pendekatan kepustakaan berdasarkan Al-Quran dan hadis. Hasilnya menujukkan
bahwa konsep amanah merupakan konsep yang luas cakupannya dan meliputi segala aspek
kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Suprihatiningrum dan Premono (2012) melakukan
penelitian tentang persepsi konsep FAST (Fathonah, Amanah, Sidiq, dan Tabligh) pada guru.
Pamuji dan Zulaifah (2008) meneliti tentang sulitnya menjaga amanah pada anggota DPRD DIY
Yogyakarta dengan pendekatan kualitatif. Tranajaya (2011) meneliti tentang hubungan amanah
dan motivasi dengan etos kerja. Sementara beberapa penelitian dengan menggunakan pendekatan
psikologi indigenous, yaitu pemimpin yang amanah (Fitriyani, 2014), orang tua yang amanah
(Wahyuni, 2014; Fitri, & Widyastuti, 2014), dan saudara yang amanah (Munthe &
Widyastuti, 2014). Pada penelitian ini fokus pada dua hal, yaitu menggali pemahaman
masyarakat tentang konsep amanah dan konstruksi instrumen amanah. Pertama, konsep amanah
tentunya tidak lepas dari pengaruh sosial dan budaya setempat. Istilah atau kata amanah
merupakan istilah islam yang diadaptasi dan digunakan dalam konteks masyarakat Indonesia.
Amanah merupakan salah satu karakteristik sifat Nabi Muhammad yang diartikan orang
yang dapat dipercaya. Demikian juga yang terjadi di Indonesia, istilah amanah dilekatkan pada
orang yang dapat dipercaya. Namun konsep ini belum jelas secara operasional: bagaimana orang
yang dikatakan amanah dalam konteks Indonesia.

Metode

Peneltian ini terdiri dari dua studi, yaitu studi 1 bertujuan untuk menentukan definisi atau konsep
tentang orang amanah. Pada studi 1 partisipan diminta mengisi angket yang berisi pertanyaan
terbuka. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan prototip metodologi, yang bertujuan
untuk mengeksplorasi dan menggambarkan orang amanah dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Prototip metodologi merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengkonsepsi atau
mengkonstruk variabel psikologis, seperti kepribadian dan emosi (Langdon, 2007). Metode ini
telah banyak dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya, seperti Fehr dan Russel (1991)
tentang cinta; Frei dan Shaver, (2002) dan Langdon (2007) tentang respek. Sementara pada studi
2 bertujuan untuk membuat skala amanah berdasarkan hasil studi 1dan melakukan analisis
psikometris. Metode analisis data yang dilakukan pada studi 1 adalah kualitatif, sedangkan pada
studi 2 menggunakan analisis data kuantitatif.

Hasil

Angka pertama yang dilakukan setelah pengambilan data pada studi 1, yaitu mengorganisasikan
data. Selanjutnya, membuat koding berdasarkan respon yang berasal dari pertanyaan terbuka
tentang orang amanah. Jawaban partisipan dikelompokkan berdasarkan kesamaan atau kemiripan
jawaban sehingga menjadi satu kategori. Hasil kategori kemudian diuji dan didiskusikan dengan
peneliti lain apabila terjadi perbedaan dalam menetapkan jawaban respon pada kategori
tertentu. Hasil akhir menunjukkan bahwa terdapat 13 kategori dengan batas akhir 0,7% jumlah
partisipan (lihat Tabel 1). Berdasarkan hasil studi 1 kategori yang memiliki presentase paling
tinggi menggambarkan orang amanah adalah dapat dipercaya (24,5%), partisipan penelitian
mengartikan amanah sebagai orang yang dapat dipercaya. Dapat dipercaya dapat diartikan
sebagai keyakinan kepada orang (trustee) bahwa orang tersebut dapat,melakukan tugas. Dapat
dipercaya lebih pada aspek kognitif individu (trustor) kepada orang (trustee) berdasarkan
pengalaman, informasi dan kualitas karakter individu. Beberapa contoh jawaban responden
”orang yang benar-benar dapat dipercaya…”,“seperti orang yang bisa dapat dipercayai untuk
memegang amanah tersebut” dan “orang yang dapat dipercaya”. Pada konteks ini amanah tidak
dilihat sebagai emosi, tetapi cenderung kognitif atau disposisi kepada seseorang berdasarkan
kualitas pribadi yang dipersepsikan kepadanya. Ketiga, menjaga kepercayaan (10,4%). Menjaga
amanah merupakan kemampuan individu dalam mengerjakan amanah (tugas) dan menjaga
amanah sehingga amanah dapat ditunaikan kepada yang berhak. Berdasarkan hasil penelitian ini
ada dua jenis dalam menjaga amanah, pertama hal yang bersifat fisik, yang meliputi menjaga
barang milik orang lain.

Langkah-langkah dalam menyusun skala amanah, sebagai berikut: Pertama, identifikasi konstrak
amanah. Konstrak amanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan hasil temuan
pada studi 1. Orang amanah dalam penelitian ini, didefinisikan sebagai
yang memiliki karakter positif (dapat dipercaya, bertanggung jawab, jujur, dan lainnya) serta
memiiliki kemampuan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan. Jadi dapat disimpulkan
bahwa ada dua aspek dalam amanah, yaitu karakter positif dan kemampuan melaksanakan tugas.
Kedua, penskalaan dan penulisan aitem. Model penyusunan skala amanah dengan model Likert
dengan lima tipe plihan (Sangat Sesuai, Sesuai, Cukup Sesuai, Kurang Sesuai, Tidak Sesuai)
dengan penilaian dari 1 sampai 5.

Kesimpulan

Amanah merupakan konsep islam yang sudah sering digunakan dalam konteks masyarakat
Indonesia. Berdasarkan hasil studi 1 menunjukkan bahwa prototipe orang amanah adalah orang
yang memiliki karakter positif, seperti dapat dipercaya, bertanggung jawab dan jujur, dan orang
yang mampu melaksanakan tugas yang diberikan. Sementara pada studi 2 menghasilkan 3 faktor
atau komponen dalam skala amanah yatu integritas, melaksanakan tugas dan kebajikan.
Jurnal Pembanding

Pendahuluan
Penelitian adalah sebuah proses kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui sesuatu secara
teliti, kritis dalam mencari fakta-fakta dengan menggunakan langkah-langkah tertentu.
Keinginan untuk mengetahui sesuatu tersebut secara teliti, muncul karena adanya suatu masalah
yang membutuhkan jawaban yang benar. Berbagai alasan yang menjadi sebab munculnya sebuah
penelitian. Misalnya, mengapa lalu lintas di Ibukota Jakarta sering macet?, mengapa disiplin
karyawan/pegawai rendah?, mengapa prestasi siswa rendah?, mengapa kualitas pelayanan
rendah?, mengapa kepuasan masyarakat terhadap kinerja instansi pemerintah rendah?. Fokus
perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah yang dituangkan dalam pertanyaan penelitian,
masalah yang muncul dalam pikiran peneliti berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a
perplexing situation).
Diantara berbagai alasan, mengapa kita membutuhkan jawaban yang benar dari sejumlah
permasalahan tersebut adalah karena (1) permasalahan tersebut dirasakan saat ini, dan (2)
dirasakan oleh banyak orang. Oleh karena itu, agar jawaban yang kita peroleh tersebut baik,
maka diperlukan proses berpikir yang sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah.
Berpikir adalah menyusun kata-kata menjadi saling berhubungan satu sama lain. Berpikir
juga berarti menghubungkan suatu fenomena dengan fenomena lainnya dalam pikiran. Berpikir
berarti menempatkan kesadaran kepada suatu objek sampai pikiran bergerak untuk menyadari
bagian-bagian lain dari objek yang disadari itu. Seperti seseorang yang sedang berlatih
mengemudikan mobil. Setelah memperhatikan tata cara mengemudikan mobil, ia dapat
menemukan bahwa terdapat fungsi dari masing-masing alat yang ada dimobil tersebut.
Kemudian ia melakukan suatu pencatatan dan dapat menghubungkan satu bagian dengan bagian
lainnya. Adanya bahasa lisan dan tulisan, menandai adanya aktifitas berpikir.
Ada berbagai macam cara seseorang berpikir. Diantaranya adalah berpikir analitik dan
berpikir sintetik. Berpikir analitik berarti menghubungkan satu objek dengan objek lainnya yang
merupakan kemestian bagi objek yang pertama. Seperti misalnya, “air” dengan “basah”. Setiap
air memiliki sifat basah . Contoh lainnya “api” dengan “panas”, dan “jatuh” dengan “ke bawah”.
Setiap api itu panas. Setiap benda atau sesuatu yang jatuh pasti ke bawah. Oleh karena itu
menghubungkan objek yang menjadi kemestian bagi objek lainnya disebut dengan berpikir
analitik. Sedangkan cara berpikir sintetik, berarti menghubungkan satu objek dengan objek
lainnya yang bukan merupakan kemestian bagi objek yang pertama. Semacam "rambut" dan
"basah". Sifat "basah" merupakan kemestian bagi "air" tapi bukan kemestian bagi "rambut".
Seseorang yang berkata, "rambutku basah", berarti dia telah berpikir dengan cara sintetik. Cara
berpikir lainnya adalah deduktif dan induktif. Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction
yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus
dari yang umum.1 Dengan demikian deduksi adalah cara berpikir dimana dari pernyataan yang
bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif
biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua
buah pernyataan dan sebuah kesimpulan2. Sedangkan induktif adalah suatu upaya membangun
teori berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan. Berpikir secara induktif merupakan suatu
cara berpikir dengan mendasarkan pada pengalaman yang berulang. Bisa juga merupakan sebuah
kumpulan fakta yang berserakan yang kemudian kita cari kesesuaian diantara fakta-fakta tersebut
sehingga masing masing fakta memiliki keterkaitan satu sama lain. Dengan demikian berpikir
secara induktif merupakan suatu rekayasa dari berbagai macam kasus yang unik atau khusus
yang kemudian dikembangkan menjadi suatu penalaran tunggal yang menggabungkan kasus-
kasus khusus tersebut kedalam suatu bentuk pemahaman yang umum. Hukum yang disimpulkan
difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti (generalisasi).

Pembahasan
Filsafat Positivistik dan Filsafat Fenomenologik
Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan sesuatu merupakan
besaran yang dapat diukur. Peneliti adalah pengamat yang objectif atas peristiwa yang terjadi di
dunia. Mereka percaya bahwa variabel yang mereka teliti, merupakan suatu yang telah ada di
dunia. Hubungan antara variabel yang mereka temukan, telah ada sebelumnya untuk dapat
diungkap. Pengetahuan merupakan pernyataan atas fakta atau keyakinan yang dapat diuji secara
empirik. Variabel dan pengetahuan tentang manusia, dapat dinyatakan dalam istilah fisika seperti
halnya dalam pengetahuan eksakta. Misalnya peran/pengaruh Kepemimpinan Kepala Desa dapat
dijabarkan meliputi variabel kemampuan membujuk, kemampuan mengarahkan, dan
kemampuan mengendalikan masyarakat desa.
Tradisi positivistik ini menggunakan landasan berpikir:”kalau sesuatu itu ada, maka
sesuatu itu mengandung besaran yang dapat diukur.” Banyak di antara kita menganggap bahwa
pernyataan itu masuk akal, sebab kalau kita tidak dapat mengukur dengan tepat, bagaimana kita
dapat mengetahui hubungan dengan variabel lain. Para positivis berpendapat bahwa penelitian
adalah pengamatan obyektif atas peristiwa yang ada di alam semesta, di mana peneliti tersebut
tidak mempunyai pengaruh atau dampak terhadap peristiwa tersebut.
Sedangkan filsafat fenomenologik pertama kali dikembangkan oleh seorang
matematikawan Jerman Edmund Husserl (1850-1938). Menurutnya filsafat fenomenologik
berupaya untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan menekankan
pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas pengalaman, karena
pengalaman mengandung penampilan ke luar dan kesadaran di dalam, yang berbasis pada
ingatan, gambaran dan makna. Pendekatan fenomenologik/ pascapostivistik berakar pada tradisi
dalam sosiologi dan antropologi yang bertujuan untuk memahami suatu gejala seperti apa adanya
tanpa harus mengontrol variabel dan tidak berusaha menggeneralisasi gejala tersebut dalam
gejala-gejala yang lain. Termasuk dalam penelitian ini adalah etnografi, studi kasus, studi
naturalistic, sejarah, biografi, teori membumi (grounded theory), dan studi deskriptif (Creswell,
1994; Denzin dan Lincoln, 2003; Merriam, 1998).

Paradigma Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif


Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup
dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan
para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu
pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan
ini, berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para ahli dalam penyebutan kedua istilah
tersebut seperti terlihat dalam tabel 1 berikut ini :
Tabel 1. Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels

Quantitative Qualitative Authors


Rasionallistic Naturalistic Guba &Lincoln (1982)

Inquiry from the Outside Inquiry from the inside Evered & Louis (1981)
Functionalist Interpretative Burrel & Morgan (1979)

Masalah kuantitatif lebih umum memiliki wilayah yang luas, tingkat variasi yang
kompleks namun berlokasi dipermukaan. Akan tetapi masalah-masalah kualitatif berwilayah
pada ruang yang sempit dengan tingkat variasi yang rendah namun memiliki kedalaman bahasan
yang tak terbatas.
Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai
instrumen. Lincoln dan Guba mengemukakan bahwa dalam pendekatan kualitatif peneliti
seyogianya memanfaatkan diri sebagai instrumen, karena instrumen nonmanusia sulit digunakan
secara luwes untuk menangkap berbagai realitas dan interaksi yang terjadi. Peneliti harus mampu
mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya.
Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh informan dan lingkungannya agar mampu
mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun
ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan informan.
Perbedaan penting kedua pendekatan berkaitan dengan pengumpulan data. Dalam tradisi
kuantitatif instrumen yang digunakan telah ditentukan sebelumnya dan tertata dengan baik
sehingga tidak banyak memberi peluang bagi fleksibilitas, masukan imajinatif dan refleksitas.
Instrumen yang biasa dipakai adalah angket (kuesioner). Dalam tradisi kualitatif, peneliti harus
menggunakan diri mereka sebagai instrumen, mengikuti asumsi-asumsi kultural sekaligus
mengikuti data.
Kedua pendekatan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Pendekatan kualitatif banyak memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak
baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar
dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti.
Pendekatan kuantitatif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variabel-variabel lain yang
dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan
sampel, pengambilan data dan penentuan alat analisisnya.
Jadi yang menjadi masalah penting dalam penelitian kuantitatif adalah kemampuan untuk
melakukan generalisasi hasil penelitian; seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasi pada
populasi. Sedangkan penelitian kualitatif mencari data tidak untuk melakukan generalisasi,
karena penelitian kualitatif meneliti proses bukan meneliti permukaan yang nampak.
Desain Eksplanasi dan Deskriptif
Penelitian kuantitatif biasanya menggunakan desain eksplanasi, di mana objek telaahan
penelitian eksplanasi (explanatory research) adalah untuk menguji hubungan antar-variabel yang
dihipotesiskan. Pada jenis penelitian ini, jelas ada hipotesis yang akan diuji kebenarannya.
Hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih variabel; untuk mengetahui
apakah sesuatu variabel berasosiasi ataukah tidak dengan variabel lainnya; atau apakah sesuatu
variabel disebabkan/dipengaruhi ataukah tidak oleh variabel lainnya.
Desain eksplanasi dimaksudkan untuk menjelaskan suatu generalisasi sampel terhadap
populasinya atau menjelaskan hubungan, perbedaan atau pengaruh dari satu variabel terhadap
veriabel yang lain. Oleh karena itu, dalam format eksplanasi peneliti menggunakan sampel dan
hipotesis penelitian. Desain eksplanasi memiliki kredibilitas untuk mengukur, menguji hubungan
sebab akibat dari dua atau lebih variabel dengan menggunakan analisis statistik inferensial
(induktif). Disamping itu penelitian eksplanasi juga dapat digunakan untuk mengembangkan dan
menyempurnakan teori bahkan sebaliknya melemahkan bahkan mengugurkan teori.
Penelitian dengan desain eksplanasi dapat dilakukan dengan survei dan eksperimen.
Dalam format eksplanasi survey, peneliti diwajibkan membangun hipotesis penelitian dan
mengujinya di lapangan, karena format ini bertujuan mencari hubungan sebab akibat dari
variabel-variabel yang diteliti. Dengan demikian, alat utama yang digunakan untuk analisis data
adalah statistik inferensial. Sedangkan format eksplanasi eksperimen, disamping memiliki
sifatsifat yang hampir sama dengan eksplanasi survei, juga lebih bersifat laboratoris, artinya
dalam eksperimen mengutamakan cara-cara memanipulasi obyek penelitian yang dilakukan
sedemikian rupa untuk tujuan penelitian. Dalam penelitian eksplanasi eksperimen terdapat
variabel yang dimanipulasi dan variabel yang tidak dimanipulasi, selain itu untuk mengontrol
pengaruh kedua varibel tersebut digunakan variabel kontrol.
Menggabungkan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif
Sejak awal, dalam melakukan penelitian sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan
atau desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut
dapat benar benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian,
disamping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih proporsional apabila pembaca
mengetahui pendekatan atau desain yang diterapkan. Obyek dan masalah penelitian memang
mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan
mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua
obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan
pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti
tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan,
atau bahkan mungkin menggabungkannya.
Meskipun dalam tataran epistemologis/filosofis perbedaan antara keduanya tampak,
karena paham positivistik merupakan pendekatan penelitian yang umumnya disamakan dengan
penelitian kuantitatif, sementara itu paham naturalistik merupakan pendekatan penelitian yang
mewakili penelitian kualitatif, namun pada tataran praktis sebenarnya keduanya dapat digunakan
secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Creswell bahwa : “In terms of mixing
methods, in 1959 Campbell and Fisk sought to use more than one method to measure a
psychological trait to ensure that the variance was reflected in the trait and not in the method (see
Brewer & Hunter 1989, for a summary of Campbell and Fisk’s multimethod-multitrait
approach).”
Hampir semua penelitian sosial merupakan kombinasi antara pendekatan kuantitatif dan
kualitatif, hal ini di karenakan penelitian sosial yang hanya menggunakan pendekatan kuantitatif
saja tidak akan mempunyai makna, karena hanya menghasilkan angka-angka. Begitupun
sebaliknya jika penelitian itu hanya menggunakan pendekatan kualitatif saja, maka hasilnya
hanya berupa narasi atas fakta empirik yang kemungkinan datanya berupa kalimat bisa
direkayasa.
Kedua pendekatan tersebut memang dapat dibedakan karena latar belakang filsafatnya;
pendekatan kuantitatif digunakan bila seseorang memulainya dengan teori atau hipotesis dan
berusaha membuktikan kebenarannya, sedangkan pendekatan kualitatif bila seseorang berusaha
menafsirkan realitas dan berusaha membangun teori berdasarkan apa yang dialami.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian kuantitatif biasanya menggunakan desain eksplanasi, di mana objek telaahan
penelitian eksplanasi (explanatory research) adalah untuk menguji hubungan antar-
variabel yang dihipotesiskan. Pada jenis penelitian ini, jelas ada hipotesis yang akan diuji
kebenarannya. Hipotesis itu sendiri menggambarkan hubungan antara dua atau lebih
variabel; untuk mengetahui apakah sesuatu variabel berasosiasi ataukah tidak dengan
variabel lainnya; atau apakah sesuatu variabel disebabkan/dipengaruhi ataukah tidak oleh
variabel lainnya. Penelitian dengan desain eksplanasi dapat dilakukan dengan survei dan
eksperimen. Dalam format eksplanasi survey, peneliti diwajibkan membangun hipotesis
penelitian dan mengujinya di lapangan, karena format ini bertujuan mencari hubungan
sebab akibat dari variabel-variabel yang diteliti.

B. Saran
-