Anda di halaman 1dari 11

Tuhan dalam Perspektif Bertrand Russell*)

Oleh Otto Adi Yulianto**)

“Eksistensi Tuhan, sekalipun tidak mustahil, namun sangat tidak pasti.”


(Bertrand Russell, dalam Louis Greenspan dan Stephan Andersson, 2008: h. 32)

Pendahuluan: Di Antara Dua Kutub Keyakinan


Dalam diskursus filsafat ketuhanan, ada dua posisi dominan yang saling bertolak
belakang dari para filsuf berkenaan dengan eksistensi Tuhan. Yang pertama adalah
mereka yang pro akan eksistensi Tuhan (theis) dan, kedua, yang tidak mengakui
eksistensi Tuhan (atheis).

Para filsuf yang pro akan eksistensi Tuhan di antaranya adalah: Augustinus (354-430),
Ibn Rushd (1126-1198), Thomas Aquinas (1225-1274), Descartes (1596-1650), Imanuel
Kant (1724-1804), serta Karl Jaspers (1883-1969). Dalam konteks keyakinan akan
eksistensi Tuhan, Agustinus meyakini bahwa tetap berlakunya kebenaran dan norma etis
hanya dapat diterangkan dengan adanya Tuhan sebagai Kebenaran dan Norma Tertinggi.
Di kemudian hari, Imanuel Kant menegaskan hal tersebut melalui fenomena kemutlakan
kesadaran suara hati yang menunjuk pada adanya Allah. Bagi Ibn Rushd, kebenaran akal
budi dan kebenaran wahyu Allah dalam al Qur’an tidaklah saling berlawanan. Descartes,
menghubungkan paham Tuhan dengan ide kesempurnaan, di mana menurutnya jika kita
memikirkan yang sempurna atau tidak sempurna, maka hal ini mengandaikan adanya
gagasan yang sempurna; gagasan kesempurnaan penuh itu hanya dapat berasal dari yang
maha sempurna, yakni Tuhan. Sementara bagi Karl Jaspers, kita bisa diantar kepada

*)
Paper ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas akhir dari Extension Course Filsafat tentang Tokoh-
Tokoh Filsafat Ketuhanan yang diadakan oleh STF Driyarkara untuk Semester Gasal – Tahun
Akademik 2008/2009.
**)
Peserta Extension Course tersebut di atas. Alamat email: otto@elsam.or.id atau otto_ay@yahoo.com.
keyakinan akan Tuhan melalui situasi-situasi batas, seperti penderitaan, perjuangan, dosa,
dan kematian. Tuhan “ada” di balik semua itu.1

Menurut Thomas Aquinas, keyakinan akan eksistensi Tuhan ditunjukkan melalui apa
yang disebutnya sebagai lima jalan menuju Tuhan (quinque viae ad deum). Ke lima jalan
ini memperlihatkan adanya Tuhan, yakni secara berturut-turut: (1) Semua gerak dan
perubahan pasti terjadi karena ada sesuatu yang menggerakkan. Sesuatu yang
menggerakkan ini tentunya juga ada yang menggerakkan, dan seterusnya hingga akhirnya
ada penggerak pertama yang tidak lagi digerakkan oleh penggerak yang lain. Penggerak
yang pertama ini adalah Tuhan, (2) Setiap akibat tentu mempunyai sebab. Sebab tersebut
tentunya tidak ada dengan sendirinya namun diakibatkan oleh sebab sebelumnya, dan
seterusnya hingga ada sebab yang pertama yang tidak disebabkan oleh sebab yang lain.
Sebab yang pertama ini adalah Tuhan, (3) Dalam dunia fana ini, kita menemukan hal-hal
yang bisa ada dan bisa tidak ada. Ciri-ciri untuk hal-hal seperti itu adalah bahwa
semuanya merupakan sesuatu yang dapat berubah dan musnah, hingga mungkin saja
suatu ketika tidak ada sesuatu pun di dunia ini. Secara logis kita tahu bahwa apa yang
tidak ada hanya dapat mulai berada jika diadakan oleh sesuatu yang telah ada
sebelumnya. Jika segala sesuatu di dunia ini hanya mewujudkan kemungkinan “ada” saja
(karena segalanya berubah dan kelak binasa, artinya: menjadi “tidak ada”), maka harus
diterima bahwa “ada” yang terakhir ini mewujudkan keharusan (keniscayaan). Sesuatu
yang niscaya dan mutlak ada serta tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain lagi, itu adalah
Tuhan, (4) Setiap hal tentu mempunyai derajat kualitasnya. Ada “lebih”, ada “kurang”,
misalnya “kurang/lebih adil”, “kurang/lebih baik”, serta “kurang/lebih benar”. Hal ini
hanya mungkin dinyatakan berkat adanya sebuah ukuran yang paling adil, paling baik,
serta paling benar. Ukuran superlatif dan sempurna tersebut adalah Tuhan, serta (5)
Segala sesuatu di dunia ini terselenggara dengan baik, dan segala ciptaan yang tidak
berakal budi mempunyai keterarahan yang tetap pada suatu akhir atau tujuannya yang
terbaik, di mana hal ini terjadi tidak secara kebetulan namun ada yang
menyelenggarakan. Penyelenggara tertinggi dari segala sesuatu di dunia ini adalah

1
Simon P. Lili Tjahjadi (2007), Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan, Yogyakarta: Kanisius, h.12-16

2
Tuhan. Tuhan adalah tokoh berakal budi dan berpengetahuan yang mengarahkan gerak
segala ciptaan yang tidak berakal budi.2

Di seberang keyakinan para filsuf di atas, berdiri sejumlah filsuf yang secara tegas tidak
meyakini eksistensi Tuhan. Tidak sekadar meyakini ketiadaan eksistensi Tuhan, para
filsuf ini juga melontarkan kritik keras terhadap adanya kepercayaan terhadap eksistensi
Tuhan dan agama. Sejumlah filsuf (juga termasuk psikolog) yang dapat dikategorikan
dalam posisi ini di antaranya: Ludwig Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883),
Friedrich Nietzsche (1844-1900), Sigmund Freud (1856-1939), dan Jean-Paul Sartre
(1905-1980). Bagi Ludwig Fuerbach, Tuhan adalah sekadar proyeksi manusia.
Menurutnya, bukan Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan sebaliknya, manusia
lah yang menciptakan Tuhan. Sementara agama merupakan bentuk keterasingan manusia
pada dirinya sendiri. Karl Marx sepakat dengan kritik Feuerbach tersebut, namun
melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa manusia melarikan diri ke dunia khayal
agama karena dalam kehidupan nyata tidak mengizinkan manusia untuk mewujudkan
kekayaan hakekatnya. Manusia melarikan diri ke dunia khayalan karena dunia nyata
menindasnya. Lanjutnya, agama akan menghilang dengan sendirinya bila manusia dapat
membangun dunia yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan hakekatnya
secara nyata dan positif.3

Friedrich Nietzsche terkenal dengan pernyataannya bahwa Tuhan sudah mati.


Menurutnya, kematian tersebut perlu karena selama ini Tuhan telah menjadi sarana
pembusukan nilai-nilai kemanusiaan. Manusia telah menciptakan Tuhan karena tidak
berani memecahkan masalah-masalahnya sendiri. Mereka meyakini bahwa Tuhan akan
mengubah nasib mereka: mereka yang terinjak di hidup ini akan menang di hidup akhirat
sejauh mereka menjunjung tinggi nilai-nilai seperti kerendahan hati dibanding tinggi hati,
pemaaf dibanding melakukan pembalasan, kebaikan dibanding kebengisan, berbelas
kasihan dibanding kekerasan, dsb dalam kehidupan kesehariannya. Hal ini merupakan

2
Ibid. h. 12-13
3
Franz Magnis-Suseno (2008), Tantangan Ateisme: Ludwig Feuerbach, Karl Marx, paper yang dibagikan
bagi peserta Extension Course Filsafat tentang Tokoh-Tokoh Filsafat Ketuhanan yang diadakan oleh STF
Driyarkara untuk Semester Gasal – Tahun Akademik 2008/2009.

3
pembusukan nilai-nilai manusia karena nilai-nilai tersebut semata-mata hanya menjadi
sarana untuk kemudian masuk surga. Oleh karena itu, dengan kematian Tuhan (Tuhan
tidak dipercaya lagi eksistensinya), nilai-nilai busuk tersebut ikut mati juga dan
terbukalah kesempatan bagi manusia untuk mengatasi diri, membangun kemanusiaan
baru, dan menciptakan nilai-nilainya sendiri.4

Demikian juga dengan Sigmund Freud, menurutnya agama merupakan sebuah ilusi
infantil dan neurosis kolektif, di mana membuat orang beragama mengharapkan
pemenuhan keinginan-keinginannya dari “Tuhan”, tanpa berusaha sendiri. Misalnya dari
pada berusaha sendiri mengatasi sebuah masalah, orang beragama cenderung lebih
memilih berdoa agar Tuhan menghilangkan masalah tersebut. Sementara bagi Jean-Paul
Sartre, sikap atheisnya lebih berdasarkan kepada keyakinan bahwa kalau ada Tuhan maka
manusia tentu tidak bisa bebas. Padahal manusia ada untuk merealisasikan dirinya secara
bebas dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.5

Di antara dua kutub dan posisi keyakinan yang dominan dalam diskursus filsafat
ketuhanan tersebut (theis dan atheis), ada suatu posisi lagi yang saat ini belum --namun
tidak menutup kemungkinan bila suatu ketika dapat juga menjadi-- dominan, yakni
agnostik.6 Kata agnostik berasal dari bahasa Yunani, yakni gnostein (tahu) dan a (tidak).
Sehingga kira-kira arti harafiahnya adalah "seseorang yang tidak mengetahui".7 Dalam
konteks keyakinan akan eksistensi Tuhan, agnostik dalam posisi menunda keyakinan
apakah Tuhan itu ada atau tidak, karena belum cukup bukti untuk menjadi dasar dalam
memutuskannya. Hal ini berbeda dengan kedua posisi lainnya, yang dengan serba pasti
meyakini akan eksistensi Tuhan (theis) maupun ketiadaan eksistensi Tuhan (atheis).
Sama dengan kedua posisi lainnya yang lebih dominan, posisi ini juga mempunyai

4
Ibid.
5
Ibid.
6
Agnostik ini dimungkinkan beranjak dominan bila kecenderungan seperti yang disampaikan oleh Franz
Magnis-Suseno memang sedang berlangsung, yakni adanya kecenderungan bahwa filsafat sekarang tidak
begitu meminati ateisme lagi. Namun hal ini tidak berarti bahwa filsafat kemudian kembali ke Tuhan.
Filsafat kini cenderung mengangkat bahu, mengatakan tidak bisa mengetahui sesuatu tentang Tuhan.
Memang pandangan ateisme telah menemukan sejumlah kelemahan agama, namun hal tersebut belum
bisa “membuktikan” bahwa agama itu nonsens. Ibid.
7
www.wikipedia.org

4
sejumlah filsuf, di antaranya yang menonjol adalah Bertrand Russell (1872-1970).
Tulisan ini selanjutnya akan mencoba mengelaborasi bagaimana pandangan Bertrand
Russell berkenaan dengan Tuhan.

Sekilas Tentang Bertrand Russell


Bertrand Russell dikenal sebagai seorang pemikir-bebas yang kontroversial, pembela
reformasi sosial, dan pasifis (anti-perang dan kekerasan). Karya-karyanya beragam, mulai
dari filsafat, bahasa, politik, sains, matematika, hingga agama. Sebagai seorang pemikir-
bebas dan filsuf agnostik, pandangannya sangat kritis dan tajam terhadap agama.8 Meski
keras pada agama, Anthony Grayling, seorang penulis terkemuka, menilai Russell
sebagai pribadi yang religius. Demikian juga sosiolog Max Weber, yang mendalami etika
Protestan, menilainya sebagai laki-laki kalem yang religius. Di mata para kolega dan
orang terdekatnya, Russell seringkali disebut-disebut sebagai pribadi yang santun dan
saleh. Sementara penulis biografinya, Ray Monk, menyatakan bahwa meski Russell tak
menyatakan iman, namun komitmennya terhadap cinta, perdamaian, dan keadilan
universal telah membuatnya menjadi seseorang yang lebih memilih jalan cinta kasih
terhadap manusia, di mana baginya hal itu adalah dasar untuk melepaskan diri dari kesia-
siaan mencari Tuhan.9

Bertrand Arthur William Russell (Bertrand Russell) lahir di Trelleck, Inggris, pada 18
Mei 1872. Kakeknya, John Earl Russell, adalah putra dari John Russell, seorang yang dua
kali menjabat sebagai perdana menteri Inggris di masa Ratu Victoria, pada tahun 1840-an
dan 1860-an. Pendidikan di masa kanak-kanak dilalui Russell secara privat di rumah oleh
sejumlah tutor. Semasa kanak-kanak ini ia dibesarkan oleh neneknya, Lady Frances
Elliot, yang menganut agama modern (awalnya Presbiterian Skotlandia yang kemudian

8
Kritik keras Russell terhadap agama didasarkan pada dua hal utama, yakni pertama, kecenderungan besar
agama untuk lebih mengedepankan dogma yang seringkali menjadi penghalang bagi pertumbuhan akal
budi, dan kedua, kecenderungan praksis sosial agama yang lebih banyak menimbulkan pertentangan,
perpecahan, perang dan penderitaan manusia sebagai akibat dari upaya mempertahankan dogma beserta
klaim-klaim akan satu-satunya kebenaran yang mengungguli serta meniadakan kebenaran yang lain.
Lihat dalam Indro Suprobo (2008), Russell: Pandangan Visioner tentang Agama Emansipatoris, paper
yang disampaikan dalam bedah buku Bertuhan Tanpa Agama, di UIN Yogyakarta 8 April 2008.
9
Dian Yanuardy (2008), Menolak Akar-Akar Dogmatisme (Memahami Bertrand Russell), dalam
http://dian-yanuardy.blog.friendster.com/2008/07/

5
menjadi Unitarian), rasional yang sejalan dengan ilmu, bukannya agama tradisional yang
berlandaskan kepada dogma wahyu. Oleh neneknya, Russell diajarkan untuk
menghormati Injil sebagai sumber perintah moral daripada sebagai sumber kebenaran
ilmiah.

Periode selanjutnya, pada 1890, Russell mendapat beasiswa studi ke Trinity College,
Cambridge, untuk belajar matematika. Pendidikan B.A ia selesaikan pada tahun 1893,
dan ia mendapat fellowship untuk melanjutkan pendidikannya pada tahun 1895. Namun
pada 1894 ia menikahi Alys Pearsall Smith10, berbeda dengan harapan dari neneknya.
Setelah itu mereka pergi ke Berlin untuk mempelajari demokrasi sosial dan selanjutnya
mencurahkan waktu untuk studi filsafat serta terlibat dalam pelbagi persoalan sosial
politik.

Pada tahun 1910, Russell diangkat menjadi pengajar di Trinity College. Namun
kemudian pada 1916 ia harus meninggalkan pekerjaannya tersebut karena aktivitasnya
sebagai seorang pasifis (menentang perang dan penggunaan kekerasan). Pada Perang
Dunia I, karena aktivitasnya, Russell dijatuhi hukuman penjara selama 6 bulan di penjara
Brixton dan dibebaskan pada September 1918. Setelah perang selesai, aktivitas-aktivitas
Russel justru semakin radikal. Pada periode tersebut, Russell aktif menulis sejumlah buku
tentang sains, etika, serta pendidikan, di antaranya juga untuk menghidupi diri dan
keluarganya.

Selama Perang Dunia II, Russell mengajar di University of Chicago, Amerika Serikat dan
kemudian berpindah ke University of California, Los Angeles. Pada tahun 1940, ia
diangkat menjadi profesor tamu di City College of New York, namun kemudian
dibatalkan karena pandangan-pandangan Russell, khususnya soal moralitas seksual,
dinilai tidak memenuhi standar moral untuk mengajar di kampus tersebut.11 Mereka yang

10
Pada tahun 1921, mereka bercerai. Kemudian pada tahun yang sama, Russell menikahi Dora Black,
namun kemudian berpisah pada 1932 dan selanjutnya bercerai. Pada tahun 1936, Russell menikah
dengan Patricia Spence. Pernikahan ketiga Russell ini pun berakhir dengan perceraian pada tahun 1952.
Pada tahun yang sama, Russell menikah dengan Edith Finch, yang bertahan hingga Russel meninggal
dunia pada 1970.
11
www.wikipedia.org

6
tidak senang dengan Russell telah menuduh pendidikan di Beacon Hill yang didirikannya
pada 1927 adalah jaringan atheis, kelompok yang menyukai telanjang, dan seks bebas.
Uskup New York berhasil mencopotnya dari jabatan profesor tamu di City College of
New York dan menuduhnya (seperti yang berulang dikatakan oleh Russell) sebagai
“bejat, penuh nafsu, kejam, maniak erotis, penuh birahi, tidak sopan”.12

Selama periode 1940-an hingga 1950-an, Russell aktif berpartisipasi dalam program
wawancara siaran radio BBC, selain juga menulis dalam sejumlah majalah dan surat
kabar, mengenai berbagai topik termasuk tentang filsafat. Hal ini makin menjadikannya
terkenal. Bukunya, A History of Western Philosophy (1945), telah menjadi best-seller.
Pemikiran dan karya-karyanya diakui banyak kalangan. Pada 1949, Russell memperoleh
penghargaan Order of Merit dari Kerajaan Inggris. Tahun berikutnya, ia juga
mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Selanjutnya, pada dasawarsa terakhir
kehidupan Russell diisi dengan aktivitas pasifisnya dengan mengutuk kejahatan perang
dan senjata nuklir, termasuk dalam protes melawan keterlibatan Amerika Serikat dalam
perang Vietnam. Russel meninggal dalam usia yang sangat tua pada 1970 (98 tahun), di
Wales, dalam keadaan bahagia di samping teman-teman, keluarga, dan istrinya yang
keempat.

Pandangan Russel akan Eksistensi Tuhan


Berkenaan dengan pandangannya tentang Tuhan, Bertrand Russell menyatakan bahwa
dia adalah seorang agnostik. Baginya, agnostik adalah orang yang berfikir bahwa tidak
mungkin mengetahui kebenaran dalam masalah-masalah seperti tentang Tuhan dan
kehidupan akhirat. Jika hal ini tidak mungkin untuk selamanya, setidaknya untuk masa
sekarang.

Agnostik berbeda dengan atheis. Seorang beragama meyakini bahwa Tuhan itu ada,
sebaliknya atheis meyakini secara pasti bahwa Tuhan itu tidak ada. Sementara agnostik
menunda pengambilan keputusan, dengan menyatakan bahwa tidak cukup bukti untuk

12
Louis Greenspan dan Stephan Andersson (ed.) (2008), Bertuhan Tanpa Agama: Esai-Esai Bertrand
Russell tentang Agama, Filsafat, dan Sains, Yogyakarta: Resist Book, h. ix-x

7
menegaskan atau menolak adanya Tuhan. Berbeda dengan seorang atheis yang meyakini
secara pasti ketiadaan eksistensi Tuhan, bagi seorang agnostik, sekalipun menganggap
bahwa eksistensi Tuhan sangat kecil kemungkinan adanya, namun ia tetap dalam posisi,
sekecil apapun, bahwa eksistensi Tuhan tidaklah mustahil.

Dalam pandangan Russel, eksistensi Tuhan sama tidak pastinya dengan eksistensi dewa-
dewa Olimpia, seperti Zeus, Poseidon, maupun Hera. Demikian juga dengan eksistensi
Odin maupun Brahma. Berkenaan dengan keajaiban-keajaiban/mukjizat yang terjadi dan
dihubungkan dengan kemungkinan adanya eksistensi Tuhan, Russell menyatakan:
Agnostik tidak menganggap bahwa ada bukti akan "keajaiban" dalam arti terjadi
di luar hukum alam. Kita tahu bahwa penyembuhan melalui doa memang ada
dan tidak berarti ajaib. Di Lourdes penyakit tertentu bisa disembuhkan dan
lainnya tidak. Penyakit yang bisa disembuhkan di Lourdes mungkin bisa
disembuhkan oleh dokter lain asalkan si pasien percaya. Mengenai catatan
keajaiban lainnya, seperti Joshua memerintahkan matahari untuk berhenti,
seorang agnostik menerimanya sebagai legenda dan menunjuk pada kenyataan
bahwa semua agama dipenuhi dengan legenda semacam ini. Ada banyak bukti
kejadian ajaib bagi Tuhan-Tuhan Yunani dalam Homer sebagaimana bagi Tuhan
Kristen dalam Injil.13

Menurut Russell, persoalan mengenai eksistensi Tuhan adalah masalah yang luas dan
serius, dan bila ia diminta untuk membahasnya secara utuh maka dia akan meminta kita
untuk tetap tinggal bersamanya hingga kiamat datang. Baginya, masalah eksistensi Tuhan
adalah masalah keyakinan, bukan masalah akal dan argumen pendukungnya. Sebagian
besar orang percaya kepada Tuhan karena telah diajarkan percaya sejak kanak-kanak,
selain persoalan keinginan akan keselamatan. Sementara, bagi Russell, sejumlah argumen
yang bermaksud menunjukkan eksistensi Tuhan, seperti yang juga disampaikan oleh
sejumlah filsuf yang pro eksistensi Tuhan, tampak begitu lemah. Misalnya berkenaan
dengan argumen Sebab Pertama. Baginya argumen ini tidak mempunyai validitas,
menurutnya:
.. pada usia 18 saya membaca autobiografi John Stuart Mill, dan di sana saya
menemukan kalimat berikut: ‘Ayahku mengajarkan bahwa pertanyaan, “Siapa
yang menciptakan saya?” tidak bisa dijawab karena pertanyaan ini akan
melahirkan pertanyaan berikutnya, “Siapa yang menciptakan Tuhan?” Kalimat
sederhana tersebut memperlihatkan kepada saya, seperti yang masih saya yakini,
kesalahan dalam argumen Sebab Pertama. Jika segala sesuatu mempunyai sebab,

13
Ibid. h. 39

8
maka Tuhan tentu juga harus mempunyai sebab. Jika sesuatu bisa ada tanpa
sebab, ia bisa berupa dunia seperti halnya Tuhan, sehingga argumen tersebut
tidak bisa mempunyai validitas.14

Russell juga tidak bisa bersepakat bahwa pengalaman religius merupakan bukti adanya
Tuhan. Baginya, kenyataan bahwa bila ia merasakan kebutuhan akan sesuatu yang lebih
dari manusia, tidak membuktikan bahwa kebutuhan tersebut pasti ada pemenuhannya.
Demikian juga bila dikatakan bahwa bagian tertentu dari manusia bersifat ketuhanan, hal
ini tidak berarti terdapat Tuhan dalam arti di mana umat Kristen percaya pada-Nya
hingga saat ini. Dalam hal kepercayaan bahwa dunia yang sebagian jahat ini diciptakan
oleh Tuhan yang sepenuhnya baik hati, bagi Russell juga sama tidak masuk akalnya bila
dikatakan sebaliknya, bahwa dunia yang sebagian baik ini diciptakan oleh Tuhan yang
sepenuhnya jahat. Dalam wilayah nilai, Russell mengakui arti penting atau signifikansi
pengalaman religius. Namun “arti penting” tersebut tidak otomatis berarti “membuktikan
adanya eksistensi ini atau itu”.15

Posisi pandangan Bertrand Russel sejurus tampak mendekati pandangan atheis. Selain
apa yang sudah diuraikan di atas, hal tersebut juga didukung misal melalui komentarnya
dalam kesempatan lain, bahwa bila Tuhan ada tentunya dia tidak membiarkan diri-Nya
dihina eksistensinya.16 Namun, sebagaimana seorang agnostik, dia tetap berjarak dan
melihat kemungkinkan adanya Tuhan bukanlah hal yang mustahil, misalnya tersirat dari
joke yang pernah dia lontarkan, saat seseorang menanyainya, yakni seandainya ketika
setelah meninggal ternyata dia dibawa ke hadapan Tahta Langit (Tuhan), ia akan
menegur Penciptanya tersebut karena tidak menyediakan bukti yang cukup akan
eksistensi-Nya semasa dia hidup.17

Meski menunda keyakinan akan eksistensi maupun ketiadaan Tuhan, bagi seorang
agnostik, mereka juga punya pegangan moral sendiri, yang bisa jadi mirip atau pun
berbeda dengan mereka yang pro eksistensi maupun ketiadaan Tuhan. Juga, tentu saja

14
Ibid. h 83
15
Ibid. h 15-16. Demikian juga sebaliknya, keyakinan dari argumen mereka yang meyakini ketiadaan
Tuhan juga tidak secara otomatis membuktikan bahwa Tuhan mustahil ada.
16
Ibid. h. ix-x.
17
Ibid. h. ix

9
dapat pula religius, sejauh diartikan sebagai kemampuan untuk merasakan secara
mendalam akan problem nasib manusia, keinginan untuk menghapuskan penderitaan
umat manusia, dan harapan bahwa masa depan akan mewujudkan kemungkinan terbaik
bagi umat manusia.18 Seperti Bertrand Russell, dari apa yang dia kemukakan maupun
lakukan dalam hubungannya kepada dukungannya akan cinta kasih terhadap sesama
manusia dan harapannya akan dunia yang bebas dari ketidakadilan, kebencian, dan
peperangan, sebagai yang utama.

Penutup
Dalam ketiadaan argumen dan bukti yang sungguh kuat serta meyakinkan akan eksistensi
atau ketiadaan Tuhan, baik dari filsuf yang pro eksistensi maupun yang meyakini
ketiadaan Tuhan, hal ini memberikan ruang bagi muncul dan berkembangnya pandangan
agnostik, di mana Bertrand Russell menjadi salah seorang filsuf pendukungnya. Bagi
Russell --berbeda dengan mereka yang percaya secara pasti baik akan adanya eksistensi
maupun ketiadaan Tuhan-- mereka yang berpandangan agnostik menunda keyakinan
akan adanya eksistensi atau pun ketiadaan Tuhan karena bukti dan argumen yang ada
belum memadai untuk mengambil keputusan, setidaknya untuk masa sekarang.

Meski menunda keyakinan akan eksistensi Tuhan, tidak berarti kemudian seorang
agnostik dapat dikatakan tidak mempunyai pegangan moral atau tidak mungkin dapat
menjadi religius. Seorang agnostik juga mempunyai nilai moralnya sendiri, yang tidak
menutup kemungkinan sama dengan mereka yang pro eksistensi maupun ketiadaan
Tuhan. Seorang agnostik pun bisa dikatakan sebagai seorang yang religius. Seperti
Bertrand Russell sendiri, dari apa yang dia kemukakan maupun lakukan dalam
hubungannya kepada dukungannya akan cinta kasih dan kemanusiaan sebagai yang
utama, dapat pula kita sebut sebagai seorang agnostik yang religius.*****

18
Ibid. h. xxvii

10
Daftar Pustaka

Greenspan, Louis dan Stephan Andersson (ed.) (2008), Bertuhan Tanpa Agama: Esai-
Esai Bertrand Russell tentang Agama, Filsafat, dan Sains, Yogyakarta: Resist
Book.

Magnis-Suseno, Franz (2008), Tantangan Ateisme: Ludwig Feuerbach, Karl Marx, paper
yang dibagikan bagi peserta Extension Course Filsafat tentang Tokoh-Tokoh
Filsafat Ketuhanan yang diadakan oleh STF Driyarkara untuk Semester Gasal –
Tahun Akademik 2008/2009.

Suprobo, Indro (2008), Russell: Pandangan Visioner tentang Agama Emansipatoris,


paper yang disampaikan dalam bedah buku Bertuhan Tanpa Agama, di UIN
Yogyakarta 8 April 2008.

Tjahjadi, Simon P. Lili (2007), Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan, Yogyakarta: Kanisius.

Yanuardy, Dian (2008), Menolak Akar-Akar Dogmatisme (Memahami Bertrand Russell),


dalam http://dian-yanuardy.blog.friendster.com/2008/07/

www.wikipedia.org

11