Anda di halaman 1dari 12

2

MAKALAH AQUAKULTUR
"FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGAHI BUDIDAYA”

Dosen Pengampuh :
Dr. Jefry J. Mamangkey, M.Si
Rievo H. Djarang, S.Pi, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 3
Amanda Gratia Karundeng 18507123
Mikita Pany br. Siahaan 18507086
Natasya WungOuw 19507061

UNIVERSITAS NEGERI MANADO


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
2020
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karuniaNya saya dapat menyelesaikan makalah Akuakultur’’FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGAHI BUDIDAYA’ ini dengan baik.
Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan
kita . Saya menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah saya buat, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya makalah
yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya.

Bitung, 30 September 2020

Penulis
2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................
A Latar Belakang................................................................................................................
B. Rumusan masalah..........................................................................................................
C. Tujuan ............................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................
A FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGAHI BUDIDAYA………………………..
1. Faktor fisik.............................................................................................................
2. Faktor kimia.............................................................................................................
3. Faktor biologi..........................................................................................................
4. Pecemaran dan sedimen .........................................................................................
BAB III PENUTUP.........................................................................................................
A Kesimpulan......................................................................................................................
B Saran ...............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….
2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Budidaya perairan adalah kegiatan pemeliharaan hewan air pada air tawar, payau dan air laut
untuk diambil manfaatnya. Di dalam budidaya perairan kita dapat membudidayakan baik
binatang meliputi crustacea, moluska dan ikan bersirip, serta tanaman air contohnya rumput
laut. Dalam hal budidaya kita harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu faktor fisika, kimia,
dan biologi.
Menurut Tatangindatu (2013), masalah yang selalu timbul dalam sistem budidaya karamba
jaring apung dan jaring tancap adalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh berbagai
kegiatan disekitar perairan maupun usaha budidaya itu sendiri. Pencemaran ini dapat berupa
pencemaran fisika – kimia. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mendapatkan data kualitas air khususnya parameter fisika – kimia agar dapat diketahui sejauh
mana daya dukung kualitas air untuk kegiatan budidaya jaring apung dan jaring tancap saat ini.
Tujuannya adalah untuk menganalisis parameter fisika – kimia yang meliputi suhu, kecerahan,
pH, oksigen terlarut, nitrat, fosfat, amoniak dan BOD pada lokasi budidaya karamba jaring
apung dan jaring tancap untuk menunjang pertumbuhan yang optimal.

B. Rumusan Masalah
1. Apa macam-macam faktor fisika?
2. Apa macam-maca faktor kimia
3. Apa macam-maca faktor biologi
4. Apa macam-macan faktor pencemaran dan sedimen

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu faktor fisika
2. Untuk mengetahui apa itu faktor kimia
3. Untuk mengetahui apa itu faktor biologi
4. Untuk amengetahui apa itu faktor pencemaran dan sadimen
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGAHI BUDIDAYA


1. FAKTOR FISIKA
Faktor fisika dalam kualitas air merupakan faktor yang bersifat fisik. Dalam arti faktor
fisika dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba
dan perasa. Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual,
sedangkan perubahan bau pada air dapat dideteksi dengan penciuman, peraba pada kulit
dapat membedakan suhu air, serta rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh
lidah (indera perasa). Untuk mengukur faktor fisika kita tidak perlu melakukan uji
laboratorium, kita dapat mengukurnya langsung di lapang.
a. Suhu
Suhu adalah derajat panas dinginnya suatu perairan. Suhu merupakan salah satu faktor
penting untuk kelangsungan kehidupan ikan di suatu perairan. Faktor yang
mempengaruhi suhu adalah intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan dan
kedalaman perairan. Tiap kenaikan suhu 10OC metabolisme ikan akan meningkat dua
kali lipat. Menurut Tatangindatu (2013), suhu mempunyai peranan penting dalam
menentukan pertumbuhan ikan yang dibudidaya, kisaran yang baik untuk menunjang
pertumbuhan optimal adalah 28 0C – 32 0C. Kisaran untuk kegiatan budidaya air tawar
adalah deviasi 3 sedangkan toleransi suhu perairan yang baik untuk menunjang
pertumbuhan optimal dari beberapa ikan budidaya air tawar seperti mas dan nila adalah
28OC.
b. Kecerahan
Kecerahan perairan adalah kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada
kedalaman tertentu. Kecerahan sangat penting karena berhubungan dengan proses
fotosintesis. Hasil dari proses fotosintesis berupa oksigen sendiri dapat digunakan
langsung oleh organisme yang ada pada kolam. Kecerahan suatu perairan dapat diukur
menggunakan secchi disk. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan yang
ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi. Kecerahan digunakan untuk
menyatakan derajat kegelapan di dalam air yang disebabkanoleh bahan-bahan yang
melayang. Kecerahan merupakan indikator penetrasi cahaya matahari yang masuk ke
badan perairan, sehingga dapat mengalami proses fotosintesis dan produksi primer
perairan. Kecerahan dapat untuk mengetahui sampai dimana proses asimilasi dapat
berlangsung di dalam air. Air yang tidak terlampau keruh dan tidak terlampau jernih
baik untuk kehidupan ikan. Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan
oleh jasad renik atau plankton. Nilai kecerahan yang baik untuk pemeliharaan ikan
adalah antara 98,2 – 102 cm (Pujiastuti et al., 2013).
2

c. Kekeruhan
Kekeruhan suatu perairan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang
tersuspensi dan terlarut serta berupa plankton dan mikroorganisme lain. Kekruhan yang
tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi dan daya lihat
organisme akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalam air.
Menurut Wijaya dan Hariyati (2011), kekeruhan adalah suatu ukuran biasan cahaya di
dalam air yang disebabkan oleh adanya partikel koloid dan suspensi yang terkandung
dalam air. Kekeruhan air disebabkan oleh lumpur, partikel tanah, potongan tanaman
atau fitoplankton. Kekeruhan pada air memang disebabkan adanya zat-zat tersuspensi
yang ada dalam air tersebut.
d. Kedalaman perairan
Kedalaman perairan adalah tinggi rendahnya perairan yang diukur dari dasar hingga
permukaan perairan. Kedalaman suatu perairan dipengaruhi oleh topografi dan padatan
tersuspensi. Semakin dalam perairan semakin rendah kecerahannya.
Menurut Hasim et al. (2015), Kedalam merupakan parameter fisik yang menunjukan
ukuran ketinggian air dari dasar perairan. Kedalam sangat mempengaruhi suatu
kegiatann budidaya perikanan khususnya untuk kegiatan budidaya di karamba jaring
apung. Kedalaman minimum untuk kegiatan budidaya menggunakan karamba jaring
apung adalah 2 meter dari dasar perairan.
e. Warna perairan
Warna perairan disebabkan oleh bahan-bahan terlarut seperti humus, plankton, partikel-
partikel tanah, dan partikel baha organik. Warna perairan tergantung apa yang
mendominasi pada perairan tersebut. seperti jika perairan berwarna biru kehijauan
maka perairan tersebut mengandung alga biru, bila berwarna kecoklatan perairan
mengandung humus, jika berwarna hijau kecoklatan perairan mengandung diatom dan
chlorophyceae, dan seterusnya. Warna yang baik untuk budidaya ikan sendiri adalah
warna hijau kecoklatan karena mengandung pakan alami bagi organisme yang
dibudidayakan. Warna air mempunyai hubungan dengan kualitas perairan. Warna
perairan dipengaruhi oleh adanya padatan terlarut dan padatan tersupensi. Nilai warna
perairan diduga ada kaitannya dengan masuknya limbah organik dan anorganik yang
berasal dari kegiatan keramba jaring apung dan permukiman penduduk di sekitar
perairan danau. Kondisi ini juga dapat meningkatkan blooming pertumbuhan
fitoplankton dari filum Cyanophyta (Pujiastuti et al., 2013).
f. Kecepatan arus
Kecepatan arus adalah pergerakan masa air secara horizontal dan vertikal dengan
membawa nutrient. Kecepatan arus suatu perairan dapat diukur menggunakan alat
current meter konvensional. Pergerakan air memiliki peranan penting yaitu untuk
distribusi temperatur atau suhu, peredaraan zat-zat terlarut, dan untuk distribusi
organisme terutama plankton. Menurut Mudeng et al. (2015), gerakan air yang cukup
akan membawa nutrien yang cukup pula dan sekaligus mencuci kotoran yang
menempel pada thallus, membantu pengudaraan dan mencegah adanya fluktuasi suhu
2

air yang besar. Besarnya kecepatan arus yang ideal antara 20-40 cm/det. Arus yang kuat
dapat menyebabkan kekeruhan hingga menghalangi fotosintesis.

2. FAKTOR KIMIA

a. DO (Disolve Oksigen)atau Oxigen Terlarut


DO atau Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut adalah parameter kimia perairan
yang menunjukkan banyaknya oksigen yang terlarut dalam ekosistem perairan. DO
Air yang sangat dingin mengandung kurang dari 5 % oksigen, akan menurun jika
suhu air bertambah dan akan berkurang jika dimanfaatkan untuk respirasi dan
dekomposisi kimia didalam air. Perairan dengan kadar O2 tinggi, akan
menyebabkan keragaman organisme juga tinggi. Jika O2 menurun, hanya
organisme yang toleran saja yang dapat hidup di tempat tersebut (Arfiati, 2001).
Variasi harian O2 danau oligotroph biasanya rendah, sebaliknya danau eutroph
(subur) tinggi. Kadar oksigen diperairan yang eutroph pada siang hari akan tinggi
karena banyaknya fitoplankton dan tumbuhan yang berfotosintesis. Sebaliknya
pada malam hari semua organisme yang ada didalam air termasuk fitoplankton akan
memanfaatkan oksigen yang ada didalam air untuk respirasi. Hal inilah yang
menyebabkan fluktuasi kadar oksigen di perairan tersebut (Sudaryati, 1991).
b. pH
Derajat keasaman atau pH merupakan parameter kimia yang menunjukkan
konsentrasi ion hidrogen pada perairan. Konsentrasi ion hidrogen tersebut dapat
mempengaruhi reaksi kimia yang terjadi di lingkungan perairan. PH adalah
cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion hydrogen
menggunakan rumus umum PH = -Log (H+). Air murni terdiri dari ion H+ dan OH-
dalam jumlah berimbang hingga PH air murni biasanya 7. Makin banyak ion OH-
dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin tinggi PH. Cairan demikian tersebut
cairan alkalis . sebaliknya makin banyak ion H+ makin rendah PH dan cairan
tersebut bersifat masam (Andayani, 2005).
c. Salinitas
Salinitas menunjukkan kadar garam pada suatu perairan. Kadar garam merupakan
ciri pembeda a ntara ekosistem air tawar dan air asin. Salinitas menggambarkan
padatan total dalam air, setelah semua karbonat dikonfersi menjadi karbondioksida,
semua bromide dan iodide digantikan oleh klorida dan semua bahan anorganik telah
dioksida. Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (‰). Nilai salinitas
perairan tawar biasanya kurang dari 5‰ perairan payau antara 0,50‰-30‰ dan
perairan laut 30‰-40‰. Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat dipengaruhi
oleh masuknya air tawar di sungai (Pratama, 2009). Menurut Agrifishery (2010),
2

menyatakan bahwa salinitas dapat dilakukan dengan pengukuran dengan


menggunakan alat yang disebut refraktomter atau salinometer. Satuan untuk
pengukuran salinitas adalah satuan gram per kilogram (ppt) atau promil (‰). Nilai
salinitas untuk tawar biasanya berkisar antara 0-5 ppt perairan payau biasanya
berkisar antara 6-29 ppt dan perairan laut berkisar antara 30-35 ppt.

3. FAKTOR BIOLOGI

a. Plankton
Plankton merupakan mahluk tumbuhan atau hewan berukuran kecil yang hidupnya
melayang-layang di dalam air dan selalu terbawa hanyut oleh arus. Pengertian dan
definisi dari Plankton dikemukakan oleh Victor Hensen pada tahun 1887. Plankton
merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani, “planktos” yang artinya
“hanyut” atau “mengembara”. Istilah dan Pengertian ini diberikan kepada jenis
mahluk hidup tersebut karena selalu terbawa oleh pergerakan arus. Plankton tidak
mempunyai kemampuan untuk berenang seperti “Nekton” yang aktif berenang
bebas, misalnya ikan, udang, cumi-cumi, paus. Plankton adalah organisme atau
jasad renik yang hidup bebas di perairan, seperti perairan tawar, payau, maupun
laut.
Plankton didefinisikan sebagai organisme hanyut apapun yang hidup dalam zona
pelagik (bagian atas) samudera, laut, dan badan air tawar. Secara luas plankton
dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di dunia, karena menjadi bekal
makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah
makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut.
Ukurannya kecil saja. Walaupun termasuk sejenis benda hidup, plankton tidak
mempunyai kekuatan untuk melawan arus, air pasang atau angin yang
menghanyutkannya.
Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia mendapat bekal garam mineral dan
cahaya matahari yang mencukupi. Ini penting untuk memungkinkannya terus
hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan
banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif
dijalankan di kawasan itu.
2

4. PENCEMARAN DAN SEDIMEN

1. Oil Spill (Tumpahan Minyak)

Pencemaran ini biasanya terjadi karena kelalaian manusia, sehingga menyebabkan


minyak tertumpah ke laut dalam jumlah yang besar. Contohnya adalah
kecelakaan kapal tanker atau kecelakaan dalam proses pengeboran sumur
minyak
2. Pencemaran oleh Logam Berat
Logam berat adalah materi anorganik baik padat atau cair yang memiliki masa lebih
dari 5 gram/cm³. Bbiasanya terjadi karena pembuangan limbah industri secara
2

sembarangan ke sungai sehingga logam berat yang terkandung terbawa sampai ke


laut. Contoh dari logam berat misalnya, merkuri(Hg), seng (Zn), nikel (Ni) dan
timbal (Pb).
3. Pencemaran Mikrobiologi Laut
Akibat adanya kontaminasi yang disebabkan oleh virus, bakteri patogen, atau
parasit yang terbawa oleh aliran air sungai.
4. Pencemaran Pestisida
Pencemaran ini terjadi jika ada perkebunan/sawah yang berada di aliran sungai
menggunakan sistem irigasi dan menyemprot tanamannya dengan pestisida.
Sementara itu, pestisida tidak bisa larut di dalam air dan justru dimakan oleh
plankton, sehingga semua jenis ikan yang memakan plankton tersebut memiliki
kandungan pestisida. Hal ini berbahaya apalagi jika ikan tersebut dikonsumsi oleh
manusia untuk jangka waktu yang lama.
5. Pencemaran Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga adalah segala sesuatu yang dibuang manusia ke dalam aliran
air/got/parit. Misalnya sisa makanan organik (nasi, sayur, ikan, minyak), plastik,
dan bahan anorganik lainnya kemudian terbawa oleh aliran air hingga ke laut.
6. Pencemaran Radioaktif
Pencemaran radioaktif dapat terjadi karena secara alami atau akibat manusia.
Contoh yang paling mudah adalah bocornya reaktor nuklir Fukushima di Jepang,
sehingga melepaskan air yang mengandung radiasi ke laut. Hal ini sangat
berbahaya, karena jika radiasi terakumulasi dalam tubuh secara terus menerus,
dapat berakibat pada kanker.
SEDIMEN
1 . Sedimen Ltihogeneous
Merupakan sedimen yang berasal dari sisa pengikisan batuan di darat. Partikel
batuan diangkut dari daratan ke lautan oleh air hujan dan oleh sungai.
2. Sedimen Biogenous
Merupakan sedimen yang berasal dari sisa-sisa rangka organisme hidup yang
membentuk partikel halus (ooze). Sedimen ini digolongkan ke dalam 2 tipe yaitu
Calcareous dan Siliceous.
3. Sedimen Hidrogenous
Merupakan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia dalam air laut contohnya
bongkahan mangan yang berasal dari endapan lapisan oksida dan hidroksida besi
dan mangan.
4. Sedimen Cosmogenous
2

Merupakan sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke dalam laut
melalui jalur media udara. Sedimen jenis ini dapat berasal dari luar angkasa,
aktifitas gunung api/berbagai partiel darat yang terbawa angin. Material yang
berasal dari luar angkasa merupakan sisa-sisa meteorik yang meledak di atmosfer
dan jatuh di laut.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Faktor fisika dalam kualitas air merupakan faktor yang bersifat fisik. Dalam arti faktor fisika
dapat dideteksi oleh panca indera manusia yaitu melalui visual, penciuman, peraba dan perasa.
Perubahan warna dan peningkatan kekeruhan air dapat diketahui secara visual, sedangkan
perubahan bau pada air dapat dideteksi dengan penciuman, peraba pada kulit dapat
membedakan suhu air, serta rasa tawar, asin dan lain sebagainya dapat dideteksi oleh lidah
(indera perasa). Untuk mengukur faktor fisika kita tidak perlu melakukan uji laboratorium, kita
dapat mengukurnya langsung di lapang.
Faktor kimia contoh DO (Disolve Oksigen)atau Oxigen Terlarut DO atau Dissolved Oxygen
atau oksigen terlarut adalah parameter kimia perairan yang menunjukkan banyaknya oksigen
yang terlarut dalam ekosistem perairan. DO Air yang sangat dingin mengandung kurang dari
5 % oksigen, akan menurun jika suhu air bertambah dan akan berkurang jika dimanfaatkan
untuk respirasi dan dekomposisi kimia didalam air.
Faktor fisika , Plankton merupakan mahluk tumbuhan atau hewan berukuran kecil yang
hidupnya melayang-layang di dalam air dan selalu terbawa hanyut oleh arus. Pengertian dan
definisi dari Plankton dikemukakan oleh Victor Hensen pada tahun 1887. Plankton merupakan
istilah yang berasal dari bahasa Yunani, “planktos” yang artinya “hanyut” atau “mengembara”.
Istilah dan Pengertian ini diberikan kepada jenis mahluk hidup tersebut karena selalu terbawa
oleh pergerakan arus. Plankton tidak mempunyai kemampuan untuk berenang seperti “Nekton”
yang aktif berenang bebas, misalnya ikan, udang, cumi-cumi, paus. Plankton adalah organisme
atau jasad renik yang hidup bebas di perairan, seperti perairan tawar, payau, maupun laut

B. Saran
2

Penulis berharap makalah ini dapat dimengerti dan dipahami dan dapat dipakai dengan sebaik
mungkin dan dapat menambah wasasan bagi setiap orang yang membacanya.

DAFTAR PUSTAKA
Agrifishery, M. 2010. Pengukuran Salinitas Menggunakan Alat Ukur Refrakrometer. Penerbit
PT Ichtiar Baru – Van Hoeve. Jakarta.
Andayani, S. 2005. “ Makin Banyak Ion H+ Makin Rendah Ph Dan Cairan Tersebut Bersifat
Masam”. Jurnal Penelitian Parameter Kimia, 7 (2) : 17-19.
Arfiati, S. 2001. Pengertian oksigen terlarut dalam air tawar. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Barrus, E. 2002. Klasifikasi Air Berdasarkan Nilai Salinitasnya. PT Penebar Swadaya,
Jakarta.
Kimball, Jhon W. 1991. Biologi. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Michael, P. 1994. Ekologi-Metodologi. Penerbit Universitas Indonesia.Jakarta
Pratama, A., 2009. Tingkat Kecerahan Pada Perikanan Air Tawar. PT Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sudaryati, 1991. “ Hal yang menyebabkan fluktuasi kadar oksigen di perairan air tawar “.
Jurnal. Penelitian air tawar, 10 (2) : 1-6.