Anda di halaman 1dari 47

Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi mengenai bagaimana menentukan

kecocokan keris terhadap calon pemiliknya berdasarkan Primbon Jawa. Caranya


adalah sebagai berikut. Pertama-tama, ukurkan ibu jari tangan kiri pada keris,
dimulai dari pangkalnya. Selanjutnya ganti dengan ibu jari tangan kanan. Demikian
secara bergantian, hingga tiba pada ujung keris. Hitung jatuhnya pada hitungan
ke berapa.
.
 Hitungan pertama disebut Sri, keris ini cocok dengan calon pemilik.
 Hitungan kedua disebut Candi, keris ini cocok dengan calon pemilik.
 Hitungan ketiga disebut Gedong, keris ini cocok dengan calon pemilik.
 Hitungan keempat disebut Pati, keris ini tidak cocok dengan calon pemilik.
 Hitungan kelima disebut Manuk, keris ini tidak cocok dengan calon pemilik.
 Hitungan keenam disebut Tunggu Layon, keris ini tidak cocok dengan calon
pemilik.
 Hitungan ketujuh disebut Mbok Randa, keris ini cocok dengan calon
pemilik.
 Hitungan kedelapan disebut Tunggu Dunya, keris ini cocok dengan calon
pemilik.
WUKU DAN KECOCOKAN DENGAN
DAPUR KERIS
Dalam dunia modern kita mengenal adanya ilmu Astrologi (Horoscope) yang membagi
kelahiran seseorang berdasarkan Rasi Bintang, seperti Gemini, Cancer, Aries dan
sebagainya. Demikian halnya dengan masyarakat Jawa yang mengenal WUKU kelahiran
seseorang yang terbagi menjadi 30 Wuku yang diambil dari Epos Prabu Watugunung
dengan 2 orang isteri dan 27 orang anaknya.
Pembagian Wuku tersebut selain untuk mengetahui watak dan karakter dasar seseorang
berdasarkan kelahirannya, juga dipercaya untuk melihat kesesuaian Dhapur Keris yang
cocok untuk setiap wuku yang ada.
Selengkapnya pembahasan masalah Wuku dan Dhapur Keris adalah sebagai berikut :
1. Wuku Sinta. Dewanya Sanghyang Batara Yamadipati = wataknya seperti raja dan
pendita, banyak kemauan, keras, cepat bahagia, bakat kaya harta benda. Memanggul
tunggul = mudah mendapatkan kesenangan hidup. Kaki belakang direndam dalam air =
perintahnya panas didepan dingin belakang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang
sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burungnya : Gagak = mengerti petunjuk gaib.
Gedungnya di depan = memperlihatkan simbol kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang
Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng
dan Jalak Ngore.
2. Wuku Landep. Dewanya Sanghyang Batara Mahadewa = bagus rupanya, terang
hatinya, gemar bersemadi. Kakinya direndam dalam air = perintahnya keras didepan dingin
dibelakang, kasih sayang. Pohonnya : Kendayakan = jadi pelindung orang sakit, orang
sengsara dan orang minggat. Burungnya : Atat kembang (kakatua) = jadi kesukaan para
agung, jika menghambakan diri jadi kesayangan. Gedungnya didepan = memperlihatkan
kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana
Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
3. Wuku Wukir. Dewanya Sanghyang Batara Mahayekti = besar hatinya,
menghendaki lebih dari sesama. Tunggulnya : didepan = selalu beruntung, kariernya
lancar, akhirnya hidup senang. Menghadapi air di bokor besar = baik budi pekertinya,
menghormati orang lain. Pohonnya : Nagasari = bagus rupaya, sopan-santun, jika
bekerja dicintai oleh pimpinan. Burungnya : Manyar = tak mau kalah dengan sesama,
dapat mengerjakan segala pekerjaan. Gedungnya didepan = memperlihatkan
kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer,
Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.

Pundak Sategal

4. Wuku Kurantil. Dewanya Sanghyang Batara Langsur = pemarah. Memanggul tunggul


= akhirnya mendapat kesenangan hidup. Air dalam bokor besar disebelah kiri = serong
hatinya, sering iri hati. Pohonnya : Ingas = tak dapat untuk berlindung, karena panas.
Burungnya : Salindita = lincah / tangkas. Gedungnya terbalik di depan = boros. Keris yang
Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
5. Wuku Tolu. Dewanya Sanghyang Batara Bayu = dapat menyenangkan hati orang
lain, kalau marah berbahaya, tak dapat dicegah, Tunggulnya : dibelakang = kebahagiannya
terdapat dibelakang hari. Pohonnya : Wijayamulya (Gaharu) = sangat indah rupanya, tajam
roman mukanya, tinggi adat-istiadatnya, teliti, suka pada kesunyian, selamat hatinya.
Burungnya : Branjangan = ringan tangan, cepat bekerjanya. Gedungnya di depan = suka
memperlihatkan kekayaannya, pradah hanya lahir. Keris yang Cocok : Pandhawa,
Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
6. Wuku Gumbreg. Dewanya Sanghyang Batara Cakra = keras budinya, segala yang
dikehendakinya segera tercapai, tak mau dicegah, pengasih. Kaki sebelah yang di depan
direndam dalam air = perintahnya dingin didepan, panas di belakang. Pohonnya : Beringin =
jadi pelindung keluarganya, budinya tinggi. Burungnya : Ayam hutan = liar, dicintai oleh para
agung, suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di kiri = penyayang, tapi kalau sedang
jengkel tidak.Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak
Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
7. Wuku Warigalit, Dewanya Sanghyang Batara Asmara = bagus rupanya,senang
asmara, cemburuan, hatinya mudah tersentuh, Pohonnya : Sulastri = bagus rupanya, banyak
yang cinta. Burungnya : Kepodang – gampang marah, cemburuan, tak suka berkumpul
dengan orang banyak. Menghadapi Candi = Senang berprihatin, menyepi. Keris yang Cocok :
Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar
Tinandhu dan Brojol.
8. Wuku Warigagung, Dewanya sanghyang Mahayekti = berat tanggungannya,
berkeinginan. Tunggulnya : di belakang = rejekinya dibelakang hari. Pohonnya : cemara =
ramah bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati. Burungnya : Betet = keras
kemauannya, pandai mencari kehidupan. Gedungnya dua buah di muka dan di belakang =
ikhlasnya hanya setengah, jiwanya labil. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer,
Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
9. Wuku Julungwangi, Dewanya sanghyang Sambu = tinggi perasaannya, tidak boleh
disamai. Tunggulnya : di depan = selalu beruntung, kariernya lancar, akhirnya hidup senang.
Menghadap air di bokor = dermawan tetapi harus diperlihatkan, Pohonnya Cempaka =
dicintai oleh orang banyak. Burungnya Kutilang = banyak bicara dan perkataannya dipercayai
orang, dicintai para pembesar. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun,
Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
10. Wuku Sungsang, Dewanya sanghyang Gana = pemarah, gelap hati. Pohonnya :
Kayutangan = tak suka menganggur, keras budinya, suka kepada kepunyaan orang lain.
Burungnya : Nuri = pemboros, jauh kebahagiaannya. Gedungnya terbalik di belakang =
ikhlasan dengan tidak pakai perhitungan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk
Tampar dan Sabuk Inten.
11. Wuku Galungan, Dewanya Sanghyang Batara Kamajaya = teguh hatinya, dapat
melegakan hati orang susah, cinta pada perbuatan baik, jauh kepada perbuatan jahat.
Memangku air dalam bokor = suka bersedekah, pengasih, namun sedikit rejekinya.
Pohonnya : Kayutangan = ringan tangan, keras budinya, gampang suka pada kepunyaan
orang lain. Burungnya : Elang = gesit tingkahnya, pandai mencari nafkah. Keris yang Cocok :
Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak
Ngore.
12. Wuku Kuningan, Dewanya Sanghyang Batara Indra = melebihi sesama, tinggi
derajatnya. Pohonnya : Wijayakusuma = menghindari keramaian, punya kharisma tinggi,
orang senang bergaul dengannya. Burungnya : Urang-urangan = lincah, cepat bekerjanya,
lekas marah, mudah ngambek. Gedungnya di belakang, jendelanya tertutup = hemat, banyak
perhitungan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong, Semar
Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
13. Wuku Langkir, Dewanya Sanghyang Batara Kala menggigit bahunya sendiri = besar
nafsunya, tidak sayang kepada badannya sendiri, yang melihat takut, buruk adat-istiadatnya,
tidak mau menurut, murka, banyak larangan. Pohonnya : Ingas dan cemara tumbang = panas
hati, tak boleh didekati orang. Burungnya Gagak = tanggap bisikan gaib. Keris yang Cocok :
Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
14. Wuku Mandasiyo, Dewanya Sanghyang Batara Brama, kuat budinya, pemarah, tak
mau memberi ampun, jika marah tak dapat dicegah, tegaan. Pohonnya : Asam = kuat dan
dicintai orang banyak, jadi pelindung sengsara. Burungnya : Platukbawang = rajin bekerja.
Gedungnya tertutup di depan = hemat dan banyak rejekinya. Keris yang Cocok : Pandhawa,
Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
15. Wuku Julungpujud, Dewanya Sanghyang Batara Guritno, = suka kepada keramaian,
suka berdandan, tersiar baik, mempunyai kedudukan yang lumayan, tidak pernah
kekurangan uang. Menghadap bukit/gunung = besar kemauannya, tak suka diatasi,
menghendaki memerintah. Pohonnya : Remuyuk = indah warnanya, tidak berbau, disukai
orang. Burung : Emprit Jowan = besar kemauannya tetapi pikirannya sukar diduga orang,
halus budinya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.
16. Wuku Pahang, Dewanya Sanghyang Batara Tantra = perkataannya melebihi
sesama, tidak sabaran menepati janji. Bokornya di sebelah kiri di belakangnya = suka jalan
serong. Memanggul keris = kasar perkataannya, panas hati, suka bertikai. Pohonnya :
Kendayaan = jadi pelindung orang sakit, orang sengsara dan orang minggat. Burung :
Cucakrowo = banyak bicaranya. Gedung di depan = boros. Keris yang Cocok : Panimbal,
Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
17. Wuku Kuruwelut, Dewanya Sanghyang Batara Wisnu : tajam ciptanya, tinggi dan
selamat budinya, melebihi sesama dewa. Memanggul : cakra = tajam hatinya, berhati-hati.
Pohonnya : parijata = jadi pelindung dan besar kebahagiaannya. Burungnya : puter = jika
berbicara mula-mula kalah, akhirnya menang, tidak pernah bohong, tidak suka terhadap
perkataan yang remeh. Gedungnya di depan = memperlihatkan kekayaannya, angkuh dan
tidak mau disepelekan. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa, Sempana Badhong,
Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
18. Wuku Mrakeh, Dewanya Sanghyang Batara Surenggana = tawakal hatinya,
ingatannya kuat, berkesanggupan/optimis, berani kepada kesulitan. Tunggulnya membalik =
cepat naik karier, lekas hidup senang. Pohonnya : Trengguli = buahnya tidak berguna. Tak
mempunyai burung = tak boleh disuruh jauh, tentu mendapat bahaya. Gedungnya dipanggul
= memperlihatkan pemberian. Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak
Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
19. Wuku Tambir, Dewanya Sanghyang Batara Syiwa = lahir dan batinnya terkadang
berlainan, egois dan senang pamer. Pohonnya : Upas = bukan tempat perlindungan, tajam
perkataannya. Burungnya : prenjak = suka membuat isu, Gedungnya tiga tertutup semua =
tidak dapat kaya hanya setengah-setengah saja. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat,
Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
20. Wuku Madangkungan, Dewanya Sanghyang Batara Basuki : mengutamakan
keberadaan, senang melihat orang lain sengsara, keinginannya aneh-aneh dan sukar
menemukan jati diri. Pohonnya : plasa = terhormat didaerah sendiri, sedang di kota tidak
berarti apa-apa. Burungnya : pelung = suka tinggal ditempat sunyi. Gedungnya di atas =
mendewa-dewakan kekayaannya, hemat. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk
Tampar dan Sabuk Inten.
21. Wuku Maktal, Dewanya Sanghyang Batara Sakti = berbudi teguh, lurus hatinya,
optimis, gesit berkarya, baik pekerjaannya, kata-katanya enak didengar. Pohonnya : nagasari
= bagus rupanya, lemah lembut tutur katanya, dicintai oleh pembesar. Burungnya : ayam
hutan = suka tinggal ditempat sunyi, sukses dalam karier, banyak tanda-tandanya akan
mendapat bahagia,. Gedungnya ditumpangi tunggul = kaya benda dan dihormati/berwibawa.
Keris yang Cocok : Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak
Sangutumpeng dan Jalak Ngore.
22. Wuku Wuyu, Dewanya Sanghyang Batara Kuwera = mudah tersinggung, mudah
ngambek, senang menyendiri, senang beramal, kata-katanya tegas dan tidak dapat
menabung. Memasang keris terhunus disebelah kaki = waspada dan tajam hatinya.
Pohonnya : Tal = panjang umurnya, besar tanda kebahagiannya, pemberani, kuat dan tetap
hatinya. Burungnya : Gagak = tak suka kepada keramaian, tanggap gaib. Gedungnya
terlentang di depan = pengasih tapi pemboros. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa,
Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
23. Wuku Manahil, Dewanya Sanghyang Batara Citragatra = menjunjung diri sendiri,
dapat berkumpul ditempat ramai, bakat angkuh, selalu bersedia-sedia untuk membela diri. Air
di bokor di belakangnya = halus perintahnya, tetapi tidak menghargai bawahan. Memangku
tombak terhunus = waspada dan tajam hatinya. Pohonnya : Tegaron = liat hatinya, semangat
perjuangan hidupnya tinggi. Burungnya : Sepahan = liar budinya, tajam pikirannya / perasa.
Keris yang Cocok : Sempana Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur
Bawur dan Sadak.
24. Wuku Prangbakat, Dewanya Sanghyang Batara Bisma = pemarah, tangkas, pemalu,
memperlihatkan watak prajurit, menghendaki jadi pemimpin orang, lurus pembicaraannya,
segala yang dikehendaki tak ada sukarnya. Kakinya kanan direndam dalam air bokor =
perintahnya dingin di depan panas di belakang. Pohonnya : Tirisan = panjang umurnya,
cukup rejekinya, agak angkuh. Burungnya : urang-urangan = cepat kerjanya. Keris yang
Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun, Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
25. Wuku Bala, Dewanya Sanghyang Batari Durga = suka berbuat huru-hara,membuat
berita, jahil, suka bercampur dengan kejahatan, tak ada yang ditakuti, pandai sekali bertindak
jahat. Pohonnya : cemara = ramai bicaranya, lemah lembut perintahnya dan dihormati.
Burungnya : Ayam hutan = liar budinya, dicintai oleh pembesar, tinggi budinya, banyak tanda-
tanda akan mendapat bahagia, suka tinggal ditempat yang sunyi. Gedungnya di depan =
senang memperlihatkan kekayaannya. Keris yang Cocok : Pandhawa, Carangsoka, Sabuk
Tampar dan Sabuk Inten.
26. Wuku Wugu, Dewanya Sanghyang Batara Singajalma = banyak akal, lekas mengerti,
cerdas, baik budinya, tetapi tidak senang diingkari janji. Pohonnya : Wuni sedang berbuah =
siapa yang melihat bagaikan mengidam, akan tetapi setelah dimakan sering dicela. Banyak
rejekinya. Burungnya : Kepodang = pamer, cemburuan, tidak suka berkumpul. Gedungnya
tertutup di belakang = hemat dan hati-hati membelanjakan uangnya. Keris yang Cocok :
Panimbal, Condong Campur, Jalak Tilamsari, Jalak Dhinding, Jalak Sangutumpeng dan Jalak
Ngore.
27. Wuku Wayang, Dewanya Sanghyang Batari Sri = banyak rejekinya, bakti, teliti, dingin
perintahnya dicintai oleh orang banyak. Bokor berisi air di depan dan duduk di atasnya =
sejuk hatinya, sabar, rela hati, akan tetapi harus diperlihatkan pemberiannya. Pasang keris
terhunus = perintahnya mudah didepan, sukar dibelakang. Pohonnya = Cempaka = dicintai
oleh orang banyak. Burungnya = Ayam hutan = dicintai oleh pembesar, liar budinya, berbakat
angkuh, senang tinggal ditempat yang sunyi. Keris yang Cocok : Pandhawa, Rarasinduwa,
Sempana Badhong, Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandhu dan Brojol.
28. Wuku Kulawu, Dewanya Sanghyang Batara Sadana = kuat budinya, besar
harapannya, menarik dalam pergaulan, pemboros senang nraktir, bagi laki-laki suka
berpoligami. Duduk di bokor berisi air ditepi kolam = sejuk hatinya, dingin perintahnya.
Membelakangi senjata tajam = pikirannya terdapat dibelakang, kurang pandai. Pohonnya: Tal
= panjang umurnya, besar harapannya, kuat budinya. Burungnya : Nuri, boros, murka.
Gedungnya di depan = senang memperlihatkan kekayaannya. Keris yang Cocok : Sempana
Kinjeng, Kebo Lajer, Pudhak Sategal, Putri Sinaroja, Campur Bawur dan Sadak.
29. Wuku Dukut, Dewanya Sanghyang Batara Sakri = keras hatinya, selalu was-was,
rajin, tajam pikirannya, segala yang dilihatnya berhasrat dipunyainya. Pohonnya :
Pandanwangi = tidak menonjol. Burungnya : Ayam hutan = dicintai oleh para pembesar, liar
dan tinggi budinya, besar harapannya, suka tinggal ditempat sunyi. Membelakangi
gedungnya = sangat hemat. Berhadapan dengan dua bilah keris terhunus = selalu siaga dan
waspada, serta serba ingin tahu. Keris yang Cocok : Pandhawa, Sengkelat, Tebu Sauyun,
Bethok, Kebo Teki dan Kebo Lajer.
30. Wuku Watugunung, Dewanya Sanghyang Batara Antaboga dan Batari Nagagini.
Antaboga = senang tinggal alam untuk bertapa. Nagagini = gemar kepada asmara. Keduanya
sangat gemar kebudayaan dan ilmu kebatinan. Menghadap Candi = suka bertapa ditempat
yang sunyi, gemar bersemedi dan mempelajari ilmu kebatinan. Pohonnya : Wijayakusuma =
rupawan, tinggi budinya, tidak suka pada keramaian, terlihat angkuh, teliti. Burungnya : Gogik
= cemburuan, mudah tersinggung dan tidak senang di tempat yang ramai. Keris yang Cocok :
Pandhawa, Carangsoka, Sabuk Tampar dan Sabuk Inten.

Types of Kerises
with Straight Blades
(Dapur Keris Lurus)
Below we set out a list of ‘Dapur Keris Lurus‘, or types of kerises with a straight
blade. The list given below can also be found in the article ‘Dhapur Keris
Kraton Surakarta‘, which was composed in the year 1920. Unfortunately, this
article still is not yet widely available to many on the web, nor does the
digitalized article contain satisfactory pictures. Moreover, apart from the
punctual details (with occasional typing errors), short descriptions are
lacking. Thus, we decided to make this invaluable article available on our
website, while at the same time providing additional descriptions where we
felt these could add something meaningful to the original content. So, you
can either download the original article (available here) or you can use the
enhanced pictures along with additional descriptions below for further
reference.
Left: Dapur Betok;
Ricikan:  Gandik Lugas Panjang, Pejetan

The blade of a Betok Dapur is wider than the regular width of keris blades.
The length of the blade is also different compared to other types of dapur;
a Dapur Betok is approximately only half to three-quarters the length that of a
standard sized keris. The design of the rather long gandik is unsophisticated,
and the pejetan is wide and shallow.

Right: Dapur Brojol;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan

 
Left: Dapur Cengkrong;
Ricikan:  Adegipun Medang Suduk, Sraweyan, Ganja Kuwalik

A keris with a Cengkrong Dapur is a little shorter in length in comparison with


other dapurs. Also, the blade usually is further bent than the common blades.
This makes the gandik significantly taller, too. Because of the different design
and position of the gandik, the ganja of a Dapur Cengkrong has a different
design as well.

Right: Dapur Cundrik;
Ricikan:  Adegipun Medang Suduk, Sraweyan, Ganja Kuwalik, Greneng

The tall gandik is located at the back (of the blade). Like that of the Dapur
Cengkrong, the blade is bent. The size of a Dapur Cundrik can vary between 22
cm to 36 cm in length.

 
Left: Dapur Gajah Singa;
Ricikan:  Awak-awakanipun, Duwung Leres, Gandik Mawi Gambar Gajah Kaliyan
Singa

Right: Dapur Singa;
Ricikan:  Awak-awakanipun, Kados, Duwung Leres, Gandik Mawi, Gambar Sima

 
Left: Dapur Jaka Lola;
Ricikan:  Kados Dapur Brojol, Adeg Mucuk Bung

A Dapur Jaka Lola, also known as ‘Kalola‘, has a regularly sized gandik.


This dapur features ‘ada-ada‘, too.

Right: Dapur Kebo Lajer;


Ricikan:  Gandik Lugas Panjang, Pejetan Lajeng, Kruwingan (Gulo Milir)

A Dapur Kebo Lajer has a long, straight and thin blade. Its gandik is rather tall,
sometimes up to twice the size of a regular gandik, yet it has a simple design.

A Dapur Kebo Lajer, or ‘Mahesa Lajer‘, is relatively populair among the rural
population in Java, for it is believed that a keris with this type
of dapur contains certain powers which are said to provide for the needs of
farmers.

 
Left: Dapur Jalak Dinding;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan Lajeng, Gusen, Ri Pandan, Sikutan Wingking

A Jalak Dinding, or ‘Jalak Dingin‘, has a regularly sized blade. This type
of dapur looks similar to ‘Dapur Tilam Sari‘, though the difference being
the gusen, which is stretched over the entire length of the blade.

Right: Dapur Jalak Ngore;


Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Tikel Alis, Sraweyan, Greneng

A Dapur Jalak Ngore has a standard sized blade which features a clearly visible
‘ada-ada‘ all up to the tip of the blade. The gandik is plain and simple. This
type of dapur also features a pejetan, tikel alis, sraweyan and greneng. Other
than these, this dapur does not feature any other ricikan.

 
Left: Dapur Jalak Nguwung;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan Lajeng, Ada-ada, Ri Pandan, Gusen

A Dapur Jalak Nguwoh features a standard sized blade with a


common gandik and a clearly visible ada-ada. This type of dapur is in many
ways similar to ‘Dapur Tilam Sari‘.

Right: Dapur Jalak Tilam Sari;


Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Ri Pandan, Tikel Alis, Sraweyan

 
Left: Dapur Jalak Sumelang Gandring;
Ricikan:  Gandik Lugas, Tikel Alis, Pejetan, Sraweyan, Ri Pandan Susun

Right: Dapur Jalak Sangu Tumpeng;


Ricikan:  Gandik Lugas, Sogokan, Tikel Alis, Pejetan, Sraweyan, Ri Pandan, Gusen

 
Left: Dapur Jamang Murub;
Ricikan:  Gandik Lugas, Nginggil Mawi Cula, Sogokan, Tikel Alis, Sor-soran
Pinekak

Right: Dapur Sardulo Mangsah;


Ricikan:  Sogokan, Tikel Alis, Imba Katrisaya, Imba Rinengga, Pudak Rinengga
Dada, Segara Winotan, Ombang Bakat, Petit, Ron Nideng

Dapur Sardulo Mangsah, also known as ‘Sinom Pudak Sak Tegal‘, is a relatively


modern design which originates from the Surakarta era (18th-19th century).
The philosophy behind this type of dapur is focused on strive and aspiration,
like a tiger’s strong focus when it is about to attack its prey. This makes a
keris with this dapur suitable for anyone who pursues high goals and works
hard to accomplish them.

 
Left: Dapur Kebo Dengdeng;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Kruwingan, Gusen, Sirah Cicak Kuwalik

Right: Dapur Duwung;
Ricikan:  Gandik Lugas Panjang Sapalih, Adegipun Duwung Saya Merit, Pucuk
Suduk Maro, Wingking, Landhep Dumugi, Kepet

 
Left: Dapur Kebo Dungkul;
Ricikan:  Ganja Dungkul, Gandik Lugas Panjang, Sogokan, Sak Sisih Ngajeng
Dumugi, Pucuk, Tikel Alis

Right: Dapur Lar Ngatap;


Ricikan:  Gandik Lugas, Sogokan Sak Dumugi Pucuk Tikel Alis, Sraweyan, Ri
Pandan, Gusen

A Dapur Lar Ngantap is a little longer than the other Dapur Lurus kerises.


Though there is no ada-ada, the blade features a long sogokan  and a
tall  gandik.

 
Left: Dapur Kelab Lintah;
Ricikan:  Ganja Kelab Lintah, Perabot Kados, Dapur Tilam Upih

The blade of a keris with Dapur Kelab Lintah is almost symmetrical, which


obviously is different from the regular shapes of a keris blade.

Right: Dapur Regol;
Ricikan:  Gandik Lugas Kalih Ngajeng Wingking, Pejetan Lajeng, Ganja Dungkul

This type of dapur is quite rare and was already seldom seen even during the
ancient times. What is remarkable for a Dapur Regol, however, is that the
ones with a special design feature two gandiks; one on the front and another
one on the back.

 
Left: Dapur Laler Mangeng;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen Among Gotra, Gandik Panjang Katatah Simbaran

Only ancient kerises were sometimes made with Dapur Laler Mangeng,


though this type of dapur is hard to find. Its gandik is remarkably tall. What is
remarkable as well, is that the kembang kacang is inverted, and often does
not stick out of the blade very far, if any at all.

Right: Dapur Sineba;
Ricikan:  Gandik Lugas, Sogokan Sineba, Kruwingan Tikel Alis, Greneng Susun

 
Left: Dapur Mesem;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Pejetan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng

Right: Dapur Tumenggung;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Pejetan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng

 
Left: Dapur Mundarang;
Ricikan:  Sekar Kacang Pogok, Jalen, Lambe Gajah, Pejetan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng

Dapur Mundarang is a relatively rare type of dapur.

Right: Dapur Roning Teki;


Ricikan:  Sekar Kacang Pogok, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Pejetan, Gandik Panjang
Sogokan

  Dapur Roning Teki is also known as ‘Ron Teki‘.


Left: Dapur Pasopati;
Ricikan:  Sekar Kacang Pogok, Jalen, Lambe Gajah Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng

A separate article on Dapur Pasopati is available here.

Right: Dapur Mangkurat;
Ricikan:  Sekar Kacang Pogok, Jenggot, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Tikel Alis,
Sraweyan, Greneng

 
Dapur: Dapur Putut;
Ricikan:  Awak-awakan Kados Dapur Brojol, Gandik Mawi Gambar Pandita

A keris with Dapur Putut has a rather short and wide blade.


The gandik features a sitting person or monkey. Other than the gandik, this
particular type of dapur does not feature any other ricikan.

 
Left: Dapur Pinarak;
Ricikan:  Gandik Medang (Lukipun Malebet), Sogokan, Dedeg Medang Suduk

Dapur Pinarak is an unique type of dapur. The the shape of the blade is
somewhat bent. The tall gandik is positioned at the back, while the front
features a sharp edge like that of a sword.

Right: Dapur Panji Nom;


Ricikan:  Gandik Lugas, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan, Greneng, Gusen

Dapur Panji Nom is actually called ‘Panji Anom‘, but sometimes ‘Pani Anem‘ is
heard, too. Its blade is slightly bent, and features a tall gandik among other
ricikan which are already mentioned above.

 
Left: Dapur Panji Penganten;
Ricikan:  Sekar Kacang Kalih, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan, Greneng, Gusen

Right: Dapur Karna Tinanding;


Ricikan:  Gandik Kalih Ngajeng Wingking, Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah
Kalih, Jenggot, Tikel Alis, Greneng, Gusen, Sogokan

 
Left: Dapur Sampur;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Jenggot, Sogokan, Ri Pandan,
Greneng, Pudak Setegal, Ganja Kelap Lintah

Dapur Sampur is also known as ‘Sinom Pudak Sategal‘.

Right: Dapur Cadong;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng, Pudak Setegal

 
Left: Dapur Sempaner;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Tikel Alis, Ri Pandan

Other names for Dapur Sempaner are ‘Sempana Bener‘, ‘Supana Bener‘ and


‘Sepaner‘. A keris with this type of dapur is considered suitable for hard
working people – especially for Royal descendants.

Right: Dapur Kalamisani;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng, Gusen

Dapur Kalamisani, or ‘Kala Misani‘ generally features the


following ricikan: kembang kacang, two lambe gajahs, tikel
alis,  gusen, kruwingan and greneng. The blade usually also features ada-ada.

 
Left: Dapur Sepang;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan Lajeng, Ganja Wilut

Right: Dapur Yuyu Rumpung;


Ricikan:  Adegipun Mbengkuk, Kados Dapur Brojol, Ganja Kelap Lintah

 
Left: Dapur Singa Sangu Tumpeng;
Ricikan:  Leres, Gandik Sima, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan, Rojehan Da Tiga

Right: Dapur Sona;
Ricikan:  Awak-awakanipun Duwung Leres, Gandik Mawi Gambar Ketek

 
Left: Dapur Sinom;
Ricikan:  Sekar Kacang, Lambe Gajah, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan, Ron Da Kalih

A keris with Dapur Sinom is fairly populair. At the center of the blade there is
often  ada-ada, too. Other common ricikan of this dapur are kembang
kacang, sogokan rangkap, pejetan,  ri pandan and those already named above.

Right: Dapur Sinom Wora-wari;


Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Sogokan, Tikel Alis, Sraweyan,
Greneng, Gusen

‘Wora-wari‘ is a general term for kerises with straigth blades (‘keris lurus‘)
featuring gusen and lis-lisan. However, Wora-wari often matches the criteria of
a Dapur Sinom, hence this type of dapur has become generally known as
‘Sinom Wora-wari‘. The blade of such a keris is relatively thick, and features
the standard ricikan mentioned above.

 
Left: Dapur Sujen Ampel;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Pejetan, Ri Pandan Sungsun,
Pawakan Gilig

The blade of a keris with Dapur Sujen Ampel is relatively round and thick.
Other than the  ricikan mentioned above, this type of dapur can sometimes
also feature a jenggot. Usually a Dapur Sujen Ampel only features pamor on
the sor-soran part.

Right: Dapur Kebo Teki;


Ricikan:  Adegipun Celak Wiyar, Sekar Kacang, Jalen Lambe Gajah Tiga, Greneng

Dapur Kebo Teki, or ‘Mahesa Teki‘ as some people call it, features a normal
sized blade, though its width is larger than most other dapurs. In ancient
times it were often farmers and other people working on the land who
owned a keris with this type of dapur, for they believed it could bring them
good luck in their hard work.
Left: Dapur Semar Petak;
Ricikan:  Adegipun Celak Wiyar, Gandik Katatah Tiyang, Wesi Bolong, Pawakan
Anglimpa

Dapur Semar Petak is sometimes also named as ‘Semar Betak‘ atau ‘Semar
Getak‘. It has a short but wide blade with a smooth surface. This type
of dapur usually features an unsophisticated pamor design.

Right: Dapur Raksesa;
Ricikan:  Awak-awakanipun Duwung Leres, Gandik Mawi Gambar Denawa

 
Left: Dapur Tilam Sari;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Tikel Alis, Sraweyan

Dapur Tilam Sari is similar to Dapur Tilam Upih, and can be found mostly on
Java. It is an extraordinary dapur indeed. It is believed that a keris with Dapur
Tilam Sari is particularly suitable for married men, for the esoteric content of
such a keris can provide safety and protection for the owner’s family.

Right: Dapur Kala Munyeng;


Ricikan:  Gandik Lugas, Sogokan Sasisih Dumugi Pucuk, Tikel Alis, Ri Pandan,
Sraweyan

Dapur Kala Munyeng features a normal sized blade and a regular gandik. The


special feature of Dapur Kala Munyeng is the sogokan on the front, which
nearly reaches the tip of the blade.

 
Left: Dapur Tilam Upih;
Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Tikel Alis, Pawakan Anglimpa

The Dapur Tilam Upih is unique in the sense that it does not feature ada-ada,
nor gusen. This type of dapur is commonly seen in Java, though
the Keraton (‘Royal Court’ of) Yogyakarta merely has three kerises with Dapur
Tilam Upih,  namely  Kanjeng Kyai Pulang Geni, Kanjeng Kyai Sirap  and  Kanjeng
Kyai Sri Sadono. However, Dapur Tilam Upih can be found in other regions
(and outside of Java), too. Dapur Tilam Upih is, then, sometimes also refered
to ‘Tilam Putih‘, or ‘Tilam Putih‘.

Right: Dapur Pulang Geni;


Ricikan:  Gandik Lugas, Pejetan, Tikel Alis, Ri Pandan Sungsun, Pawakan
Anglimpa

 
Left: Dapur Tebu Sauyun;
Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah, Sogokan Dumugi Sepalih, Tikel Alis,
Sraweyan, Greneng

Right: Dapur Condong Campur;


Ricikan:  Sekar Kacang, Jalen, Lambe Gajah Kalih, Sogokan Lajeng Dumugi Pucuk,
Tikel Alis, Greneng, Gusen

A Dapur Condong Campur can easily be recognized by its long sogokan, while


the overall size of the blade is that of a standard sized keris.

 
Dapur: Dapur Semar Tinandu;
Ricikan:  Sekar Kacang, Lambe Gajah Kalih, Sogokan Kalih Dumugi Pucuk

PRIMBON JAWA LENGKAP


Sistim Penanggalan Jawa
Sistim Penanggalan Jawa lebih lengkap dan komprehensif apabila dibandingkan dengan
sistim penanggalan lainnya, lengkap dan komprehensifnya adalah suatu pembuktian bahwa
ketelitian Jawa dalam mengamati kondisi dan pengaruh seluruh alam semesta terhadap
planet bumi seisinya termasuk pengaruh kepada pranatan kehidupan manusia, dapat
disampaikan antara lain adanya rumusan tata penanggalan jawa sebagai berikut :

1. Pancawara – Pasaran; Perhitungan hari dengan siklus 5 harian :


1. Kliwon/ Kasih
2. Legi / Manis
3. Pahing / Jenar
4. Pon / Palguna
5. Wage / Kresna/ Langking
2. Sadwara – Paringkelan, Perhitungan hari dengan siklus 6 harian
1. Tungle / Daun
2. Aryang / Manusia
3. Wurukung/ Hewan
4. Paningron / Mina/Ikan
5. Uwas / Peksi/Burung
6. Mawulu / Taru/Benih.
3. Saptawara – Padinan, Perhitungan hari dengan siklus 7 harian :
1. Minggu / Radite
2. Senen / Soma
3. Selasa / Anggara
4. Rebo / Budha
5. Kemis / Respati
6. Jemuwah / Sukra
7. Setu / Tumpak/Saniscara
4. Hastawara – Padewan, Perhitungan hari dengan siklus 8 harian :
1. Sri
2. Indra
3. Guru
4. Yama
5. Rudra
6. Brama
7. Kala
8. Uma
5. Sangawara – Padangon, Perhitungan hari dengan siklus 9 harian :
1. Dangu / Batu
2. Jagur / Harimau
3. Gigis / Bumi
4. Kerangan / Matahari
5. Nohan / Rembulan
6. Wogan / Ulat
7. Tulus / Air
8. Wurung / Api
9. Dadi / Kayu
6. Wuku, Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku :
1. Sinta……..11. Galungan……..21. Maktal
2. Landhep……12. kuningan……..22. Wuye
3. Wukir……..13. Langkir………23. Manahil
4. Kurantil…..14. Mandhasiya……24. Prangbakat
5. Tolu………15. Julungpujud…..25. Bala
6. Gumbreg……16. Pahang……….26. Wugu
7. Warigalit….17. Kuruwelut…….27. Wayang
8. Warigagung…18. Marakeh………28. Kulawu
9. Julungwangi..19. Tambir……….29. Dhukut
10. Sungsang….20. Medhangkungan…30 Watugunung
7. Sasi Jawa – ada 12 :
1. Sura………5. Jumadilawal…9. Poso
2. Sapar……..6. Jumadilakhir..10. Sawal
3. Mulud……..7. Rejeb………11. Dulkangidah
4. Bakdomulud…8. Ruwah………12. Besar
8. Tahun Jawa – ada 8 :
1. Alip……..4. Je….7. Wawu
2. Ehe………5. Dal…8. Jimakir
3. Jimawal…..6. Be
9. Windu – umurnya 8 tahun :
1. Adi / Linuwih
2. Kuntara / Ulah
3. Sengara / Panjir
4. Sancaya / Sarawungan
10. Lambang – umurnya 8 tahun jumlahnya ada 2 :
1. Lambang Langkir
2. Lambang Kulawu.
11. Kurup – umurnya 15 windu atau 120 tahun, ada 7 kurup (menurut tanggal 1 Suro
tahun Alip) :
1. Senen /Isananiyah….5. Jemuah / Jamngiyah
2. Selasa Salasiyah…..6. Setu / Sabtiyah
3. Rebo / Arbangiyah….7. Akad / akdiyah
4. Kemis / Kamsiyah
12. Mangsa- jumlahnya 12 :
1. Kasa / Kartika
2. Karo / Pusa
3. Katiga / Manggasri
4. Kapat / Setra
5. Kalima / Manggala
6. Kanem / Maya
7. Kapitu / Palguna
8. Kawolu / Wisaka
9. Kasanga / Jita
10. Kasepuluh / Srawana
11. Kasewelas / Sadha
12. Karolas / Asuji
Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkala atau perhitungan
penanggalan bedasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Petungan penanggalan Jawa
sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah. Namun demikian pencocokkan ini bukanlah
menjiplak sepenuhnya juga memperhunakan perhitungan yang rumit oleh para leluluhur
kita.

Ada perbedaan yang hakiki antara sistim perhitungan penanggalan Jawa dengan
penanggalan Hijriah, perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari
ketika pergantian sasi/bulan.
Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya
adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup – antara pukul 17.00 sampai dengan
18.00), sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah
ditentukan melalui Hilal dan Rukyat.
Mencari hari baik
Dalam melakukan hajat perkawinan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya.
Kebanyakan orang jawa dahulu, mendasarkan atas hari yang berjumlah 7(senin-minggu) dan
pasaran yang jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, jelasnya : tiap
hari tentu jatuh pada pasaran tertentu.
Menurut peritungan Jawa pada umumnya dikenal 7 hari yang masing-masing mempunyai
jumlah berlainan;
•Akad (Minggu) jumlah naptu 5
•Senen (Senin) jumlah naptu 4
•Selasa (selasa)jumlah naptu 3
•Rebo (Rabu) jumlah naptu 7
•Kemis (Kamis) jumlah naptu 8
•Jumuah (Jum’at)jumlah naptu 6
•Setu (Sabtu) jumlah naptu 9
Selain hari, orang Jawa juga sangat percaya adanya watak yang diakibatkan dari pengaruh
Dasaran. dikenal adanya 5 pasaran yaitu
•Kliwon jumlah naptunya 8
•Legi jumlah naptunya 5
•Pahing jumlah naptunya 9
•Pon jumlah naptunya 7
•Wage jumlah naptunya 4
Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan
Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak lelaki
masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang (dikurangi) sembilan.
Misalnya :
Kelahiran anak perempuan adalah hari Jumat (neptu 6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang
9 sisa 1
Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5) legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa
1.
Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini:
Apabila sisa:
1 dan 4 : banyak celakanya
1 dan 5 :bisa
1 dan 6 : jauh sandang pangannya
1 dan 7 : banyak musuh
1 dan 8 : sengsara
1 dan 9 : menjadi perlindungan
2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya
2 dan 3 : salah seorang cepat wafat
2 dan 4 : banyak godanya
2 dan 5 : banyak celakanya
2 dan 6 : cepat kaya
2 dan 7 : anaknya banyak yang mati
2 dan 8 : dekat rejekinya
2 dan 9 : banyak rejekinya
3 dan 3 : melarat
3 dan 4 : banyak celakanya
3 dan 5 : cepat berpisah
3 dan 6 : mandapat kebahagiaan
3 dan 7 : banyak celakanya
3 dan 8 : salah seorang cepat wafat
3 dan 9 : banyak rejeki
4 dan 4 : sering sakit
4 dan 5 : banyak godanya
4 dan 6 : banyak rejekinya
4 dan 7 : melarat
4 dan 8 : banyak halangannya
4 dan 9 : salah seorang kalah
5 dan 5 : tulus kebahagiaannya
5 dan 6 : dekat rejekinya
5 dan 7 : tulus sandang pangannya
5 dan 8 : banyak bahayanya
5 dan 9 : dekat sandang pangannya
6 dan 6 : besar celakanya
6 dan 7 : rukun
6 dan 8 : banyak musuh
6 dan 9 : sengsara
7 dan 7 : dihukum oleh istrinya
7 dan 8 : celaka karena diri sendiri
7 dan 9 : tulus perkawinannya
8 dan 8 : dikasihi orang
8 dan 9 : banyak celakanya
9 dan 9 : liar rejekinya
Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan,
ditambah neptu pasaran hari perkawinan dan tanggal (bulan Jawa) semuanya
dijumlahkan kemudian dikurangi/ dibuang masing tiga, apabila masih sisa :
1 = berarti tidak baik, lekas berpisah hidup atau mati
2 = berarti baik, hidup rukun, sentosa dan dihormati
3 = berarti tidak baik, rumah tangganya hancur berantakan dan kedua-duanya bisa mati.
Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan,
dijumlah kemudian dikurangi / dibuang empat-empat apabila sisanya :
1 = Getho, jarang anaknya,
2 = Gembi, banyak anak,
3 = Sri banyak rejeki,
4 = Punggel, salah satu akan mati
Hari kelahiran mempelai laki-laki dan mempelai wanita, apabila :
Ahad dan Ahad, sering sakit
Ahad dan Senin, banyak sakit
Ahad dan Selasa, miskin
Ahad dan Rebo, selamat
Ahad dan Kamis, cekcok
Ahad dan Jumat, selamat
Ahad dan Sabtu, miskin
Senen dan Senen, tidak baik
Senen dan Selasa, selamat
Senen dan Rebo, anaknya perempuan
Senen dan Kamis, disayangi
Senen dan Jumat, selamat
Senen dan Sabtu, direstui
Selasa dan Selasa, tidak baik
Selasa dan Rebo, kaya
Selasa dan Kamis, kaya
Selasa dan Jumat, bercerai
Selasa dan Sabtu, sering sakit
Rebo dan Rebo, tidak baik
Rebo dan Kamis, selamat
Rebo dan Jumat, selamat
Rebo dan Sabtu, baik
Kamis dan Kamis, selamat
Kamis dan Jumat, selamat
Kamis dan Sabtu, celaka
Jumat dan Jumat, miskin
Jumat dan Sabtu celaka
Sabtu dan Sabtu, tidak baik
HARI-HARI UNTUK MANTU DAN IJAB PENGANTIN
(baik buruknya bulan untuk mantu):
1. Bulan Jw. Suro : Bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai)
2. Bulan Jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai)
3. Bulan Jw Mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai)
4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai)
5. Bulan Jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai)
6. Bulan Jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak
7. Bulan Rejeb : banyak kawan selamat
8. Bulan Jw. Ruwah : selamat
9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai)
10. Bulan Jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai)
11. Bulan Jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman (jangan
dipakai)
12. Bulan Jw. Besar : senang dan selamat
BULAN TANPA ANGGARA KASIH
Hari anggara kasih adalah selasa kliwon, disebut hari angker sebab hari itu adalah
permulaan masa wuku. Menurut adat Jawa malamnya (senin malam menghadap) anggara
kasih orang bersemedi, mengumpulkna kekuatan batin untuk kesaktian dan kejayaan. Siang
harinya (selasa kliwon) memelihara, membersihkan pusaka wesi aji, empu mulai membikin
keris dalam majemur wayang.
Bulan – bulan anggoro kasih tidak digunakan untuk mati, hajat-hajat lainnya dan apa saja
yang diangggap penting.
Adapun bulan-bulan tanpa anggara kasih adalah:
1. dalam tahun Alib bulan 2 : Jumadilakhir dan besar
2. dalam tahun ehe bulanl 2 dan : jumadilakhir
3. dalam tahun jimawal bulan 2 : Suro dan rejeb
4. dalam tahun Je bulan 2 : Sapar
5. dalam tahun Dal bulan 2 : yaitu sapar dan puasa
6. dalam tahun Be bulan 2 : mulud dan syawan
7. dalam tahun wawu bulan 2 : Bakdomulud/syawal
8. dalam tahuin Jimakir bulan 2 : Jumadilawal dan Dulkaidkah
SAAT TATAL
Saat tatal dibawah ini untuk memilih waktu yang baik untuk mantu juga untuk pindah
rumah, berpergian jauh dan memulai apa saja yang dianggap penting.
Ketentuan saat itu jatuh pada pasaran (tidak pada harinya ) :
1. pasaran legi : mulai jam 06.00 nasehet.mulai jam 08.24 Rejeki : mulai jam 25.36 rejeki
mulai dri jam 10 48 selamat, mulai jam 13.12 pangkalan atau (halangan) mulai jam 15.36
pacak wesi
2. pasaran pahing : mulai jam 06.00 rejeki, jam 08.24 selamat, jam 10.48 pangkalan, jam
13.12 pacak wesi, jam 15.36 nasehat.
3. pasaran pon : mulai jam 06.00 selamat, jam 08.24 pangkalan, jam 10.48 pacak wesi, jam
13.12 nasehat, jam 15.36 rejeki
4. pasaran wage mulai jam 06.00 pangkalan, jam 08.24 pacak wesi, jam 13.12 nasehat jam
15.36 selamat.
5. pasaran kliwon, mulai jam 06.00 pacak wesi, jam 08.24 nasehat, jam 10.48 rejeki, jam
13-12 selamat jam 13.36 pangkalan.
HARI PASARAN UNTUK PERKAWINAN
Neptu dan hari pasaran dijumlah kemudian dikurangi/dibuang enam-enam apabila tersisa:
1 jatuh, mati, (tidak baik) asalnya bumi
2 jatuh, jodoh (baik) asalnya jodoh dengan langit
3 jatuh , selamat atau baik asalnya barat
4 jatuh, cerai atau tidak baik asalnya timur
5 jatuh, prihatin (tidak baik) asalnya selatan
6 jatuh, mati besan (tidak baik) asalnya utara
Dalam berdagang orang jawa mempunyai petungan (prediksi) khusus untuk mencapai sukses
atau mendapatkan angsar (pengaruh nasib) yang baik, sehingga menjadikan rezekinya
mudah. Diantaranya petungan tersebut sebagai berikut :
Dalam “kitab primbon” (pustaka kejawen) terdapat berbagai cara dan keyakinan turun-
temurun yang harus dilakukan orang yang akan melakukan kegiatan usaha perdagangan.
Untuk memulai suatu usaha perdagangan orang jawa perlu memilih hari baik, diyakini
bahwa berawal dari hari baik perjalanan usahapun akan membuahkan hasil maksimal,
terhindar dari kegagalan.
Menurut pakar ilmu kejawen abdi dalem Karaton Kasunanan Surakarta, Ki KRM TB Djoko MP
Hamidjoyo BA bahwa berdasarkan realita supranatural, menyiasati kegagalan manusia
dalam usaha perlu diperhatikan. Prediksi menurut primbon perlu diperhatikan meski tidak
sepenuhnya diyakini. Menurut Kitab Tafsir Jawi, dina pitu pasaran lima masing-masing hari
dan pasaran karakter baik. Jika hari dan pasaran tersebut menyatu, tidak secara otomatis
menghasilkan karakter baik. Demikian juga dengan bulan suku, mangsa, tahun dan windu,
masing-masing memiliki karakter baik kalau bertepatan dengan hari atau pasaran tertentu.
Golek dina becik (mencari hari yang baik) untuk memulai usaha dagang pada hakekatnya
adalah mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang menghasilkan
penyatuan karakter baik. Misalnya pada hari rebo legi mangsa kasanga tahun jimakir windu
adi merupakan penyatuan anasir waktu yang menghasilkan karakter baik.
Setiap karya akan berhasil sesuai dengan kodrat, jika dilakukan dalam kondisi waktu yang
netral dari pencemaran, sengkala maupun sukerta. Manusia diberi kesempatan oleh Tuhan
untuk beriktiar menanggulangi sukerta dan sengkala dengan melakukan wiradat. Misalnya
dengan ruwatan atau dengan ajian rajah kalacakra, sehingga kejadian buruk tidak menjadi
kenyataan.
Orang yang akan membuka usaha pun dapat melakukan upaya sendiri pada malam hari
sebelum memulai usaha, yaitu berdoa mendasari doa kepada Tuhan sambil mengucapkan
mantera rajah kalacakra Salam, salam, salam Yamaraja jaramaya, yamarani niramaya,
yasilapa palasiya, yamidora radomiya, yamidasa sadamiya, yadayuda dayudaya,
yasilaca silacaya, yasihama mahasiya. 

Kemudian menutup dengan mantera Allah Ya Suci Ya Salam sebanyak 11 kali.


Untuk usaha perdagangan orang jawa yang masih percaya pada petung, akan
menggunakannya baik untuk menentukan jenis barang maupun tempat berdagang dan
sebagainya. Petung tersebut didasarkan weton (kelahiran dari yang bersangkutan). Peluang
merupakan filsafat kosmosentris bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Manusia
merupakan bagian dari alam semesta sehingga geraknya tidak dapat lepas dari gerak alam,
sebagaimana waktu dan arah mata angin.
Orang jawa mempunyai keyakinan bahwa saat dilahirkan manusia tidak sendirian karena
disertai dengan segala perlengkapannya. Perlengkapan itu merupakan sarana untuk bekal
hidup dikemudian hari, yaitu bakat dan jenis pekerjaan yang cocok. Di dalam ilmu kejawen
kelengkapan itu dapat dicari dengan petung hari lahir, pasaran, jam, wuku tahun dan
windu.
ilmu petung bukanlah klenik melainkan merupakan hasil analisa dari orang-orang jawa pada
masanya. Hasil analisa itu ditulis dalam bentuk primbon. Dengan petungan jawa, orang
dapat membuat suatu analisa tentang anak yang baru lahir berdasarkan waktu
kelahirannya. Misalnya anak akan berhasil jika menjadi pegawai, atau sukses jika menjadi
pedagang.
Petung yang demikian itu juga digunakan di dalam dunia perdagangan. Orang jawa masih
mempercayainya, akan menggunakan petung dengan cermat. Dari menentukan jenis
dagangan waktu mulai berdagang diperhitungkan. Semua sudah ada ketentuannya berdasar
waktu kelahiran yang bersangkutan.
Penerapan petung untuk usaha perdagangan akan menambah kemungkinan dan percaya diri
untuk meraih sukses. Kepercayaan diri akan membuat lebih tepat dalam mengambil
keputusan. Prediksi menurut petung di dalam perdagangan bukan hanya ada pada budaya
orang jawa saja. Dalam budaya Cina misalnya, hingga kini perhitungan itu masih berperan
besar, sekali pun pengusaha Cina itu sudah menjadi konglomerat.
Di Cina petung itu ada dalam Kitab Pek Ji atau Pak Che (delapan angka) yang juga
berdasarkan kelahiran seseorang, yaitu tahun kelahiran memiliki nilai 2, bulan nilai 2, hari
memiliki nilai 2 dan jam kelahiran nilai 2.
Meskipun orang lahir bersamaan waktu, rezeki yang diperoleh tidak sama karena yang satu
menggunakan petung sedangkan yang lainnya tidak.
Banyak pula orang yang tidak mempercayai petung. Mereka menganggapnya klenik atau
tahayul. Mereka berpendapat dengan rasionya dapat manipulasi alam. Anggapan demikian
belum pas, meskipun manusia dapat merekayasa, alam ternyata akan berjalan sesuai
dengan mekanismenya sendiri
Untuk perhitungan mendirikan / pindahan rumah
A. Pertama-tama yg diperhitungakan adalah Bulan Jawa, yaitu :
1. Bulan Sura = tidak baik
2. Bulan Sapar = tidak baik
3. Bulan Mulud (Rabingulawal) = tidak baik
4. Bulan Bakdamulud (Rabingulakir) = baik
5. Bulan Jumadilawal = tidak baik
6. Bulan Jumadilakir = kurang baik
7. Bulan Rejeb = tidak baik
8. Bulan Ruwah (Sakban) = baik
9. Bulan Pasa (Ramelan) = tidak baik
10. Bulan Sawal = sangat tidak baik
11. Bulan Dulkaidah = cukup baik
12. Besar = sangat baik
Berdasarkan perhitungan diatas, bulan yg baik adalah : Bakdamulud, Ruwah, Dulkaidah,
dan Besar.
B. Langkah kedua yaitu menghitung jumlah hari dan pasaran dari suami serta istri.
1. Suami = 29 Agustus 1973
- Rabu = 7
- Kliwon = 8
- Neptu (Total) = 15
2. Istri = 21 Desember 1976
- Selasa = 3
- Kliwon = 8
- Neptu (Total) = 11
Jumlah Neptu Suami + Istri = 15 + 11 = 36
C. Langkah ketiga, menghitung Pancasuda.
Jumlah ((Neptu suami + Neptu Istri + Hari Pindahan/Pendirian Rumah) : 5). Bila selisihnya
3, 2, atau 1 itu sangat baik. Cara ini disebut PANCASUDA.
PANCASUDA :
1. Sri = Rejeki Melimpah
2. Lungguh = Mendapat Derajat
3. Donya/Gedhong = Kaya Harta Benda
4. Lara = Sakit-Sakitan
5. Pati = Mati dalam arti Luas
Lalu mengurutkan angka hari pasaran mulai dari jumlah yang paling kecil yaitu (selasa (3) +
wage (4) = 7), hingga sampai jumlah yang paling besar yaitu (Sabtu (9) + Pahing (9) = 18.
7 + 36 = 43 : 5 sisa 3 = Cukup Baik
8 + 36 = 44 : 5 sisa 4 = Tidak Baik
9 + 36 = 45 : 5 sisa 5 (yg habis dibagi 5 dianggap sisa 5) = Jelek Sekali
10 + 36 = 46 : 5 sisa 1 = Baik Sekali
11 + 36 = 47 : 5 sisa 2 = Baik
12 + 36 = 48 : 5 sisa 3 = Cukup Baik
13 + 36 = 49 : 5 sisa 4 = Tidak Baik
14 + 36 = 50 : 5 sisa 5 = Jelek Sekali
15 + 36 = 51 : 5 sisa 1 = Baik Sekali
16 + 36 = 52 : 5 sisa 2 = Baik
17 + 36 = 53 : 5 sisa 3 = Cukup Baik
18 + 36 = 54 : 5 sisa 4 = Tidak Baik
Dari paparan tersebut diketahui hari baik untuk mendirikan rumah tinggal, khusus bagi
pasangan suami–istri yang hari-pasaran-lahir keduanya berjumlah 36 adalah :
Terbaik 1 :
a. hari-pasaran berjumlah 10 ( Selasa Pon, Jumat Wage dan Minggu Legi)
b. hari-pasaran berjumlah 15 (Rabu Kliwon, Kamis Pon dan Jumat Pahing)
Terbaik 2 :
a. hari-pasaran berjumlah 11 (Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Wage dan Jumat legi)
b. hari-pasaran berjumlah 16 (Rabu Pahing, Kamis Kliwon dan Sabtu Pon)
Terbaik 3 :
a. hari-pasaran berjumlah 7 (Selasa Wage)
b. hari-pasaran berjumlah 12 (Senin Kliwon, Selasa Pahing, Rabu Legi, Kamis Wage dan
Minggu Pon)
c. hari-pasaran berjumlah 17 (Kamis Pahing dan Sabtu Kliwon)
D. Selanjutnya pilih salah satu dari 21 hari baik yang berada dalam bulan Bulan
Bakdamulud, Bulan Ruwah, Bulan Dulkaidah dan Bulan Besar,
yaitu:
1. Bulan Bakdamulud (Rabingulakir)
Bulan baik untuk mendirikan sesuatu termasuk rumah tinggal. Keluarga yang bersangkutan
mendapat wahyu keberuntungan, apa yang diinginkan terlaksana, cita-citanya tercapai,
selalu menang dalam menghadapi perkara, berhasil dalam bercocok-tanam, berkelimpahan
emas dan uang, mendapat doa restu Nabi, dan lindungan dari Allah.
2. Bulan Ruwah (Sakban)
Bulan baik untuk mendirikan rumah tinggal. Rejeki melimpah dan halal, disegani, dihormati
dan disenangi orang banyak, mendapat doa Rasul.
3. Bulan Dulkaidah
Cukup baik, dicintai anak istri, para orang tua, saudara, dan handaitaulan. Dalam hal
bercocok-tanam lumayan hasilnya. Banyak rejeki dan cukup uang. Keadaan keluarga
harmonis, tentram, damai dan mendapatkan doa dari Rasul.
4. Bulan Besar.
Baik, banyak mendapat rejeki, berkelimpahan harta-benda dan uang. Anggota keluarga
yang berdiam di areal rumah-tinggalnya yang dibangun pada bulan Besar merasakan
ketentraman lair batin, serta dihormati.
Terbaik 1 :
1. Selasa Pon,
2. Jumat Wage,
3. Minggu Legi,
4. Rabu Kliwon,
5. Kamis Pon,
6. Jumat Pahing,
Terbaik 2 :
7. Senin Pon,
8. Selasa Kliwon,
9. Rabu Wage,
10. Jumat legi,
11. Rabu Pahing,
12. Kamis Kliwon,
13. Sabtu Pon,
Terbaik 3 :
14. Selasa Wage,
15. Senin Kliwon,
16. Selasa Pahing,
17. Rabu Legi,
18. Kamis Wage,
19. Minggu Pon,
20. Kamis Pahing,
21. Sabtu Kliwon,
Contoh : Jum’at Pahing
- 20 April 2007
- 07 September 2007
- 21 Desember 2007
Dalam astrologi Jawa juga dikenal adanya bintang, yang biasa disebut Wuku; ada 30 wuku
yang masing-masing mempunyai Dewa (Betara) pelindung (yang kemudian sering dijadikan
simbol dari wuku tersebut, seperti misalnya dalam zodiak Sagitarius disimbolkan manusia
dengan badan kuda sedang memanah), hari baik, hari sial, dan watak serta bakat sendiri-
sendiri. Ke 30 wuku tersebut adalah sebagai berikut:
1 . Sinta dewa pelindung Dewa Betara Jamadipati
2. Landep dewa pelindung Dewa Betara Mahadewa
3. Wukir dewa pelindung Dewa Betara Mahajekti
4. Kurantil dewa pelindung Dewa Betara Langsur
5. Tolu dewa pelindung Dewa Betara Baju
6. Gumbreg dewa pelindung Dewa Betara Tjandra
7. Warigalit dewa.pelindung Dewa Betara Asmara
8. Warigagung dewa pelindung Dewa Betara Maharesi
9. Djulungwangi dewa pelindung Dewa Betara Sambu
10. Sungsang dewa pelindung Dewa Betara Gana
11. Galungan dewa pelindung Dewa Betara Kamadjaja
12. Kuningan dewa pelindung Dewa Betara Indera
13. Langkir dewa pelindung Dewa Betara Kala
14. Mandasija dewa pelindung Dewa Betara Brama
15. Djulungpudjud dewa pelindung Dewa Betara Guritna
16. Pahang dewa pelindung Dewa Betara Tantra
17. Kuruwelut dewa pelindung Dewa Betara Wisnu
18. Marakeh dewa pelindung Dewa Betara Surenggana
19. Tambir dewa pelindung Dewa Betara Siwah
20. Medangkungan dewa pelindung Dewa Betara Basuki
21. Maktal dewa pelindung Dewa Betara Sakri
22. Wuje dewa pelindung Dewa Betara Kuwera
23. Manahil dewa pelindung Dewa Betara Tjitragotra
24. Prangbakat dewa pelindung Dewa Betara Bisma
25. Bala dewa pelindung Dewa Betari Durga
26. Wugu dewa pelindung Dewa Betara Singdjalma
27. Wajang dewa pelindung Dewa Betari Sri
28. Kuwalu dewa pelindung Dewa Betara Sadana
29. Dukut dewa pelindung Dewa Betara Sakri
30. Watugunung dewa pelindung Dewa Betara Anantaboga
Dalam memperhitungkan perjodohan seorang harus menghitung jumlah naptu dari hari
pasaran kedua calon pengantin tersebut. Menurut kepercayaan di jawa, apabila naptu dari
dua orang yang akan dijodohkan berjumlah 25 maka hubungan kedua belah tersebut tidak
bisa dilanjutkan. Hal ini disebabkan 25 apabila dikurangi 24 tinggal satu (1) angka I ini tidak
bisa dibagi dua (perkawinan melibatkan dua orang). Angka 24 ini diambil dari angka 3
dikalikan 8, jadi pada pokoknya angka yang paling dihindari adalah tiga (3). Angka tiga
dianggap angka sial, karena angka ini adalah angka pati, tali yang mengikat orang mati
(Jawa=Pocongan) berjumlah tiga, jumlah tali itulah yang kemudian dianggap sebagai
jumlah angka yang membawa sial. Dan nampaknya orang Jawa pada umumnya masih sangat
mempercayai perhitungan ini.
Selain perhitungan jumlah hari pasaran, perkawinan pada masa lalu juga mempunyai
pantangan tertentu, seseorang tidak boleh menikah dengan orang yang RUBUH KARANG
yaitu:
- Orang yang tinggal saling berhadapan
- Orang yang tinggal saling membelakangi (ketemu punggung)
- Orang yang tinggal tepat bersebelahan di kanan kiri