Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

HAKEKAT MANUSIA DAN BEKERJA

DISUSUN OLEH:

1. EVA EGHA SAPUTRI (62010050114)


2. MILADIA HABIBINA (62020050121)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

2020/2021
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari kebutuhan ekonomi, seperti kebutuhan
makan, minum, handphone, tas, rumah, kendaraan dan lain sebagainya, untuk memenuhi
kebutuhan tersebut kita harus bekerja. Agama Islam yang berdasarkan Alquran dan Hadis sebagai
tuntunan dan pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam segi
ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntutan dalam masalah yang
berkenaan dengan kerja. Padahal dalam situasi globalisasi saat ini, kita dituntut untuk
menunjukkan etos kerja yang tidak hanya rajin, gigih, setia, akan tetapi senantiasa
menyeimbangkan dengan nilai-nilai Islami yang tentunya tidak boleh melampaui rel-rel yang
telah ditetapkan Alquran dan Hadis. Dalam makalah ini akan membahas tentang hakekat hidup
dan kerja, rahmat Allah terhadap orang yang rajin bekerja, akhlak dalam bekerja, keharusan
profesionalisme dalam bekerja.

B.     Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :

1.      Bagaimana hakekat hidup dan kerja dalam Islam?

2.      Seperti apa rahmat Allah terhadap orang yang rajin bekerja?

3.      Bagaimana akhlak dalam bekerja menurut Islam?

4.      Bagaimana keharusan profesionalisme dalam bekerja menurut Islam?

C.    Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1.      Menjelaskan hakekat hidup dan kerja dalam Islam?

2.      Menjelaskan rahmat Allah terhadap orang yang rajin bekerja?

3.      Menjelaskan akhlak dalam bekerja menurut Islam?

4.      Menjelaskan keharusan profesionalisme dalam bekerja menurut Islam?


 BAB II

PEMBAHASAN

A.    Islam dan Persoalan Hidup dan Kerja

Hakekat hidup dan kerja, rahmat Allah terhadap orang yang rajin bekerja, akhlak dalam
bekerja, keharusan professionalisme dalam bekerja.

1.        Hakekat hidup dan kerja

Dalam diri manusia terdapat apa yang disebut dengan nafs sebagai potensi yang membawa
kepada kehidupan. Dalam pandangan Al-Qur’an , nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna
untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Allah
swt. Katakana dalam surat al-Syams ayat 7-8“Demi Nafs serta penyempurnaan ciptaanny, Allah
mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketaqwaan”. Allah mengilhamkan, berarti memberi
potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap ma’na baik dan buruk, serta dapat
mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan.

Meskipun nafs berpotensi positif  dan negative, namun diperoleh pula isyaratka bahwa
pada hakekatnya potensi positif manusia lebih kuat dari pada potensi negetifnya. Hanya saja daya
Tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebaikan. Untuk itu manusia dituntut agar memelihara
kesucian nafsnya. Firman Allah dalam surat al-Syams ayay 9-10.”sungguh beruntunglah orang-
orang yang menyucikannya dan merugilah orang-orang yang Mengotorinya”Kecendrungan nafs
lebih kuat untuk kebaikan dipahami dari isyarat ayat, misalnya  terdapat dalam surat al-Baqarah
ayat 286 “  Allah  tidak membebani seseorang, tetapi  sesuai dengan kesanggupan nya. 

Nafs memperoleh ganjaran dari apa yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa
yang diusahakannya”Selain nafs, dalam diri manusia juga terdapat qalb yang sering
diterjemahkan hati. Seperti dikemukakan di atas, bahwa nafs ada dalam diri manusia, qalb pun
demikian, hanya saja qalb yang merupakan wadah dipahami dalam arti alat, sebagaimana firman
Allah dalam surat al-A’raf ayat 179 “mereka mempunyai qalb, tetapi tidak digunakan untuk
memahami”. Selain kata qalb,dalam al-qur’an juga terdapat kata fu’ad, seperti dalam firman-Nya
dalam surat al-Nahl “Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu maka Dia memberimu (alat) pendengaran, (alat) penglihatan serta hati, agar
kamu bersyukur  (mempergunakannya memperoleh pengetahuan)”Kemudian manusia juga
memiliki ruh, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Isra’ ayat 85 “ Dan mereka bertanya
kepadamu tentang ruh, katakanlah Ruh adalah urusan Tuhanku, kamu tidak diberi ilmu kecuali
sedikit” Ada yang berpendapat, bahwa ruh itu sama dengan nyawa,  tetapi apa bedanya manusia
dengan orang utan, monyet dan binatang yang lain ?. Dalam surat al-mu’minun dijelaskan bawa
dengan ditiupkannya ruh, maka menjadilah makhluk ini khalq akhar (makhluk yang unik), yang
berbeda dengan makhluk lain. Karena manusia memiliki ruh lah ia mudah menerima wahyu dari
Allah swt.
Mempelajari wahyu dikatakan santapan rohani, bukan santapan nyawa. Manusia berpotensi
mendapatkan  hidayah Karena mempunyai roh.Selain memiliki nafs, qalb, dan ruh manusia juga
memiliki ‘aql. Kata ‘aql dalam al-qur’an menggunakan bentuk kata kerja masa kini dan lampau.
Dari segi bahasa, kata ini dapat diartikan tali pengikat, penghalang. ‘Aql merupakan sesuatu yang
mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau berbuat dosa.

Allah berfirman dalam surat al-An’am ayat 151 “…” dan janganlah kamu mendekati
perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang
diharamkan  Allah kecuali demi kebenaran, itulah wasiat Allah kepadamu agar kamu ber’aqal
(dapat memahaminya)” Menurut Hamka, dalam bukunya Falsafah Hidup, Islam  sangat
memuliakan ‘aql, maka dari itu Islam adalah agama yang menjunjung tinggi “aql. Orang yang
dapat menempatkan dirinya merasa terikat pada aturan-aturan Allah dalam firman-firman-Nya,
maka itulah sebenarnya orang-orang yang ber’aqal. 

Seorang muslim dalam aktifitas kehidupnya dapat menggunakan ‘aqalnya jauh dari
perbuatan keji, ruhnya banyak berisikan wahyu Allah, hatinya jadi tentram sehingga dirinya
terkendali kejalan yang diredhai Allah, terhindar dari langkah-langkah syetan yang
buruk   Demikianlah hakekat hidup manusia dengan berbagai potensi yang terdapat dalam dirinya
untuk melaksanakan pekerjaan.

2.        Rahmat Allah Terhadap Orang Yang Rajin Bekerja

Umar bin Khattab khalifah ke dua setelah Abu bakar siddiq berkata “aku benci orang
berpangku tangan, tanpa ada aktifitas kerja, baik kerja untuk dunia atau untuk kepentingan di
akherat kelak”Dalam hal ini khalifah umar sangat menghargai dan menyenangi orang yang rajin
bekerja dan beraktifitas Sebagai muslim yang ta’at, Umar selalu mendorong umat Islam untuk
memiliki semangat bekerja dan beramal, serta menjauhkan diri dari sifat malas.

Rasulullah bersabda “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemah pendirian, sifat
malas, penakut, kikir, hilangnya kesadaran, terlilit utang dan dikendalikan orang lain. Dan akau
berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dan dari fitnah (ketika hidup dan mati). (H.R Bukhari
dan Muslim)Orang muslim yang akan berhasil dalam hidupnya adalah kemampuannya
meninggalkan perbuatan yang melahirkan kemalasan/tidak produktif dan digantinya dengan
amalam yang bermanfa’at. Sabda Rasulullah Saw. Dari Abu hurairah“ Sebaik-baik Islamnya
seseorang adalah meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfa’at” (HR. Tarmizi).

Bekerja bagi seorang muslim adalah dalam rangka mendapatkan rezki yang halal
dan  memberikan manfa’at yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sebagai ibadahnya kepada
Allah swt. Firman-Nya :“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu dimuka
bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya  agar kamu beruntung”
(al-Jmu’ah: 10)Dalam pandangan Islam bekerja merukapan bagian dari ibadah, makaaplikasi dan
implementasinya perlu diikat dan dilandasi oleh akhlak/etika, yang senantiasa disebut etika
profesi. Etika/akhlaq yangmencerminkan sifat terpuji, yaitu Shiddiq, istiqamah, futhanah, amanah
dan tablig. Dari uraian diatas, dapat difahami, bahwa seorang muslim yang akan mendapat kasih
sayang dari Allah swt.  Adalah  apabila orang itu jauh dari sifat malas, senang melakukan
kegiatan-kegiatan yang bermanfa’at, rajin bekerja, tidak menyia-nyiakan waktu, menyadari
bahwa semua aktifitas yang dilakukan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah Swt.

3.        Akhlak dalam bekerja

Seorang muslim dalam bekerja selalu berhati-hati dan terbuka pikirannya kepada keindahan
ciptaan Allah.

Dia menyadari bahwa Allah lah yang mengontrol  segala urusan dunia dan kehidupan
manusia. Dia mengenal tanda-tanda kekuasaan-Nya, senantiasa berzikir dan tawakal kepada-Nya.
“ sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang,
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertawakal ( yaitu) orng-orng yang mengingatAllah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi ( sambbil berkata) Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua
ini  dengan sis-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka” (Ali Imran ayat
190-191)

Dalam bekerja dia tulus danpatuh kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun, tidak boleh
melampai batas, selalu ta’at mengikuti bimbingan Allah meskipun tidak sesuai dengan
keinginannya. Dia bertanggung jawab menjalankan kewajiban pekerjaan yang telah ditetapkan
untuknya. Bila ia mendapatkan kendala, segera mencari penyebabnya dan siapmemikul semua
konsekwensinya.

Dia memahami sabda Rasul Saw.  “Betapa indahnya  urusan orang Islam. Seluruh urusan
(kerjanya) adalah baikbagi dirinya. Jika ia mengalami kemudahan, ia bersyukur, dan yang
demikian itu baik bagi dirinya, jika ia mengalami kesulitan , ia menghadapinya dengan sabar dan
tabah, dan itupun juga baikbagi dirinya (HR. Bukhari).

Akhlak seorang muslim dalam bekerja menemukan kemudahan selalu bersyukur, ketika
menghadapi kesulitan dia tabah dan sabar . Mudah dan sulit baginya sama, karena semua itu
adalah untuk menguji kekuatan imannya. Pada sa’atnya ia mendapatkan kesalahan dalam bekerja,
menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasul-Nya, ia segera bertobat, segera ingat akan
Tuhannya, menghentikan segala kesalahannya dan memohon ampun atas kekeliruannya.

“Sesungguhnya  orang-orang yangbertaqwa bila dalam dirinya timbul perasaan was-was dari


setan, mereka segera ingat kepada Allah. Maka waktu itu juga mereka melihat kesalahan-
kesalahannya (al-A’raf :201) Demikianlah akhlak seorang muslim dalam bekerja.

4.        Keharusan Profesionalisme Dalam Bekerja


Profesonal  berarti berkualitas, bermutu dan ahli dalam satu bidang pekerjan yang menjadi
profesinya. Suatu pekerjaan yang dilaksanakan oleh seseorang yang memang ahlinya, tentu
akanmendapatkan hasil yang bermutu dan baik. Sebaliknya suatu pekerjaan yang dilaksanakan
oleh seseorang yang bukan profesinya, akan mendapatkan hasil yang tidak bermutu dan bahkan
akan berantakan. Sabda Rasul Saw.  “Bila menyerahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya,
maka tunggulah kehancuran”.

Menurut sabda Rasul ini, seseorang dalam bekerja, apapun pekerjaannya, kalau ingin
mengharpkan hasil yang berkualitas dan baik, maka dia harus profeisinal / ahli dalam pekerjaan
yang menjadi tanggung jawabnya itu.

Ahli dalam bekerja, berarti  menguasai ilmu pengetahuan yang berhubungan lansung


dengan pekerjannya. Seorang pekerja yang bekerja dalam dunia pertanian, tentu dia harus
bereilmu tentang tanaman, pemupukan, pengiran dan lain-lain. Dia harus mengerti, memahami
dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya dalam pertanian.
Sifat kreatifits dan kemampuan melakukan berbagai macam inovasi yangbermanfa’at tentang
pertanian akan muncul dalam dirinya.

Tentunya kreatif dan inovatif hanya mungkin akan dimiliki manakala seseorang selalu
berusaha untuk menambah berbagai ilmu pengetahuan, peraturan, dan informasi yang
berhubungan dengan pekerjaan apapun bentuk pekerjanya.

Sebagai seorang guru (pengejar) dituntut harus ahli dalam ilmu keguruan, jangan setengah-
setengah, tapi belajar, terus belajar tentang profesi keguruan  sampai akhir hayatnya.

Firmam Allah dalam al-Baqarah : 208  ”Hai orang yang beriman, masuklah kamu kedalam
kedamaian /Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan, karena
setan itu adalah musuhmu yang nyata”. Tersirat dalam ayat ini, bahwa aktifitas  apapun yang
dilakukan menuntut pelakunya untuk  berilmu  secara mendalam dan menyeluruh (kaffah) sesuai
dengan profesinya.

Orang beriman diminta untuk memasukkan totalitas dirinya  kedalam wadah islam secara
menyeluruh, sehingga semua kegiatannya berada dalam wadah islam /kedamaian. Ia damai
dengan dirinya, keluarganya, seluruh manusia, binatang, tumbuh tumbuhan dan alam raya
semuanya. Wadah Islam secara menyeluruh yang dimaksud juga penguasaan ilmu islam secara
menyeluruh sehingga mampu melaksanakan aktifitas islam dengan berkualitas dan bermutu.

 
BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Kerja adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan manusia baik kebutuhan fisik,
psikologis, maupun sosial. Selain itu, kerja adalah aktivitas yang mendapat dukungan sosial dan
individu itu sendiri. Manusia diwajibkan untuk berusaha, bukan menunggu karena Allah tidak
menurunkan harta benda, iptek dan kekuasaan dari langit melainkan manusia harus
mengusahakannya sendiri. Manusia harus menyadari betapa pentingnya kemandirian ekonomi
bagi setiap muslim. Kemandirian atau ketidak ketergantungan kepada belas kasihan orang lain ini
mengandung resiko, bahwa umat Islam wajib bekerja keras. Dan syarat itu adalah memahami
konsep dasar bahwa bekerja merupakan ibadah. Dengan pemahaman ini, maka akan terbangun
etos kerja yang tinggi.

Tujuan bekerja menurut Islam ada dua, yaitu memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga,
dan memenuhi ibadah dan kepentingan sosial. Islam menjunjung tinggi nilai kerja, tetapi Islam
juga memberi balasan dalam memilih jenis pekerjaan yang halal dan haram.

B.     Saran

Bekerja dengan sunguh-sunguh merupakan mencirikan seorang muslim yang taat kepada Allah
Swt. Allah tidak merubah nasib suatu kaum selain kaum itu merubah nasibnya sendiri, kehidupan
kita tidak terlepas dari kebutuhan-kebutuhan sandang dan pangan. Untuk memperoleh itu semua
kita harus bekerja untuk memperoleh kondisi ekonomi yang baik, Islam sudah memberikan
penjelasan bagaimana cara bekerja secara sungguh-sungguh dan professional. Marilah kita
bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah Swt dan
memperoleh rezeki yang halal.

DAFTAR PUSTAKA

KH. Toto Tasmara, Membudayakan Etos Kerja Islam, Gema Insani Press, Jakarta, 2002, hlm. 2-26.

Prof. Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, Jiwa dan Semangat Islam, Gema Insani Press, Jakarta,
1992, hlm. 36-38.

Drs. M. Thalib, Pedoman Wiraswasta dan manajemen Islami, CV. Pustaka Mantiq, Solo, 1992, hlm.
18-20
KH. Toto Tasmara, Ibid, hlm. 73-139.