Anda di halaman 1dari 5

Nama : M. HARRISTYO S.

Nim: 62020050120

Kasus Komunikasi Organisasi

Contoh Kasus
PT Wika, bergerak dalam bidang pembangunan, mengalami permasalahan antara
perusahaan dengan karyawan. Permasalahan ini terjadi yang disebabkan oleh adanya miss
communication antara atasan dengan karyawannya. Adanya perubahan kebijakan dalam
perusahaan mengenai penghitungan gaji atau upah kerja karyawan, namun pihak perusahaan
belum memberitahukan para karyawan, sehingga karyawan merasa diperlakukan semena-mena
oleh pihak perusahaan. Para karyawan mengambil tindakan yaitu dengan mendemo perusahaan,
Namun tindakan ini berujung pada PHKbesar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan.
Perusahaan manapun pasti pernah mengalami permasalahan internal. Mulai dari tingkat individu,
kelompok, sampai unit. .Mulai dari derajat dan lingkup permasalahan yang kecil sampai yang
besar. Yang relatif kecil seperti masalah adu mulut tentang pribadi antarkaryawan, sampai yang
relatif besar seperti beda pandangan tentang strategi bisnis di kalangan manajemen.
Contoh lainnya dari permasalahan yang relatif besar yakni antara karyawan dan manajemen.
Secara kasat mata kita bisa ikuti berita sehari-hari di berbagai media. Disitu tampak
permasalahan dalam bentuk demonstrasi danpemogokan. Apakah hal itu karena tuntutan
besarnya kompensasi, kesejahteraan, keadilan promosi karir, ataukah karena tuntutan hak asasi
manusia karyawan.

Solusi Mengatasi Masalah Komunikasi Organisasi di Bidang Teknik Sipil


Di dalam hubungan komunikasi di suatu lingkungan kerja atau perusahaan antara
individu akan sering terjadi. Permasalahan yang sering terjadi biasanya adalah karena masalah
kominikasi yang kurang baik. Sehingga cara mengatasi masalah dalam perusahaan harus benar-
benar dipahami management inti dari perusahaan, untuk meminimalisir dampak yang timbul.
Permasalahan atau konflik yang terjadi antara karyawan atau karyawan dengan atasan yang
terjadi karena masalah komunikasi harus di antisipasi dengan baik dan dengan system yang
terstruktur. Karena jika masalah komunikasi antara atasan dan bawahan terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan, misalnya mogok kerja, bahkan demo. Sehingga untuk mensiasati masalah ini bisa
dilakukan dengan berbagai cara:

1. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam
komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui
loudspeaker.
2. Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancar dan harmonis,
misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan
mengurangi masalah di lapangan.
3. Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan
memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan
meminimalkan masalah dalam hal komunikasi Biasanya masalah timbul karena lingkungan yang
kurang kondusif di suatu perusahaan. Misalnya, kondisi cahaya yang kurang, atau sirkulasi
yangkurang baik, dan temperature ruangan yang tinggi sangat mungkin untuk meningkatkan
emosi seseorang, jadi kondisi dari lingkungan juga harus di perhatikan.

Adapun Beberapa cara Mengatasi Masalah Komunikasi Organisasi


1.      Usaha-usaha Untuk Mengatasi Hambatan Komunikasi
Ada hambatan dalam berkomunikasi tentunya juga ada usaha untuk mengatasi hambatan-
hambatan komunikasi tersebut. Citrobroto (1982) mengemukakan beberapa cara untuk mengatasi
hambatan dalam berkomunikasi, diantaranya :
a.       Belajar dan Berlatih, yaitu belajar mengenai teorinya kemudian mempraktekkannya.
Belajar dan berlatih untuk menjadi pembicara sekaligus pendengar yang baik.
b.      Memperdalam hubungan kemanusiaan, yaitu mempelajari tentang etiket. Dalam
memperdalam hubungan kemanusiaan ini yang diiperlukan adalah sikap simpatik, muka manis,
tidak sombong, rendah hati, dan cukup tegas dalam melakukan sesuatu.
c.       Memahami sistem sosial, baik komunikator maupun komunikan harus dapat memahami
kondisi sosial lawan bicaranya. Hal ini perlu karena bila pembicara kurang memahami sistem
sosial, maka pembicaraannya tidak dapat tepat, demikian pula si pendengar, bila kurang
memahami si pembicara tidak akan menangkap dengan tepat.
d.      Positive thinking, yaitu mencoba untuk selalu berpikir secara positif. Hal ini dimaksudkan
untuk menghilangkan prasangka yang sering menjadi penghambat dalam berkomunikasi.
e.      Menggunakan media komunikasi yang tepat, pemanfaatan media yang tepat akan
memperlancar jalannya komunikasi, karena komunikasi kurang bermakna jika hanya dengan
kata-kata belaka. Pemilihan media tentunya juga disesuaikan dengan tema atau topic
pembicaraan.
f.        Menggunakan bahasa yang dipahami oleh komunikator dan komunikan, pemilihan bahasa
yang tepat ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan semantik yang menjadi penghambat
komunikasi.
g.       Jarak fisik, semakin dekat dengan lawan bicara maka akan semakin baik. Komunikasi akan
efektif jika dilakukan secara bertatap muka antara komunikator dengan komunikan.

Sedangkan menurut Gitisudarmo dan Sudito (1997:216), untuk mengatasi hambatan-hambatan


dalam komunikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.       Meningkatkan umpan balik, untuk mengetahui apakah pesan atau informasinya sudah
diterima, dipahami, dan dilaksanakan atau tidak.
b.      Empati, penyampaian pesan disesuaikan dengan keadaan penerima.
c.       Pengulangan, untuk menjamin bahwa pesan dapat dimengerti.
d.      Menggunakan bahasa yang sederhana, agar setiap orang dapat memahami isi pesan yang
disampaikan.
e.      Penentuan waktu yang efektif, pesan disampaikan pada saat penerima siap mendengarnya.
f.        Mendengarkan secara efektif, sehingga komunikasi antara bawahan dan atasan dapat
berlangsung secara baik.
g.       Mengatur arus informasi, komunikasi harus diatur mutunya, jumlahnya, dan cara
penyampaiannya.

2.       MENGATASI MASALAH KOMUNIKASI &KONFLIK ORGANISASI


Berkomunikasi dalam organisasi. paparan berikut ini membahas secara teknis bagaimana
menciptakan iklim komunikasi yang kondusif di dalam organisasi.
•    pertama, pimpinan organisasi mesti menciptakan kedekatan hubungan dengan orang-orang
yang dipimpinnya. kedekatan ini akan menimbulkan kepercayaan. dan kepercayaan berlanjut
pada komunikasi yang baik. semestinya ini tidak perlu, karena siapapun atasan atau bawahan kita
dalam organisasi semestinya kita percaya dan komunikatif dengan sendirinya. masalahnya
adalah, di Indonesia, terutama untuk organisasi yang sangat berbasis kekeluargaan/pertemanan,
segala hal diawali dengan “kedekatan personal”.
•    kedua, jangan terlalu serius bekerja dalam organisasi. manusia perlu rehat, baik secara fisik
maupun secara batin. dan untuk itulah adanya kegiatan refreshing dalam berorganisasi. kalau di
perusahaan, biasanya refreshing ini berupa jalan-jalan berwisata ke luar kota. kalau untuk
organisasi kecil, bolehlah diselenggarakan pesta ulang tahun kecil-kecilan atau makan malam
bersama setelah pulang kerja. justru dengan adanya refreshing seperti ini, canda tawa bisa
mengalir mengisi obrolan-obrolan tidak penting.
•    ketiga, bentuk media yang tepat untuk saling bersuara, dari hati ke hati. entah dalam curhat
session satu-dengan-satu-orang, atau dengan forum bersama di mana semua pihak/bidang/bagian
dapat meluangkan isi hatinya. baik mengenai pekerjaan, kerja sama dan terutama tentang
hubungan interpersonal. sebab munculnya masalah komunikasi belum tentu karena tidak ada
iktikad untuk berkomunikasi, melainkan bisa jadi medium yang tepat untuk memfasilitasnya saja
yang belum ada.
Sebenarnya banyak cara yang dapat dilkukan untuk mengatasi konflik yang terjadi di tempat
kerja. Berikut ini adalah cara-cara mengatasi konflik di tempat kerja.
Hindari sumber konflik
Setelah kita berhasil mengidentifikasi indikator konflik maka sedapat mungkin kita harus
menjauhkan atau menghindari sumber konflik.

1)      Netralisasi sikap
Bahwa sikap memihak pada salah seorang atau golongan yang sedang berselisih akan
mempertajam perselisihan konflik tersebut. Maka sikap yang paling tepat adalah netral atau tidak
memihak dan bahkan diusahakan untuk menjadi mediator di dalam mengatasi konflik tersebut.
2)      Mengubah sikap
Kemungkinan terjadinya konflik dapat disebabkan oleh sikap salah seorang anggota kelompok
atau organisasi yang dirasa tidak tepat oleh anggota/kelompok lain. Jika hal ini terjadi maka kita
harus cepat dan tanggap untuk mengubah sikap kita.
3)      Mengurangi perbedaan yang ada
Salah satu penyebab terjadinya konflik adalah
karena adanya perbedaan pandangan atau kepentingan diantara anggota organisasi atau
perusahaan. Oleh karena itu kita harus berupaya untuk mengurangi adanya perbedaan-perbedaan
tersebut, dan bahkan sedapat mungkin mengubah perbedaan tersebut menjadi sinergi yang akan
mendorong tercapainya tujuan organisasi.
4)      Memecahkan masalah bersama-sama
Suatu masalah akan dapat diatasi dengan baik, jika semua elemen atau pihak yang berada dalam
organisasi tersebut dilibatkan dan berpartisipasi untuk mengatasi permasalahan atau konflik yang
terjadi. Oleh karena itu kita harus menghindari terjadinya konflik di tempat kerja, bahkan
indikasi konflik hendaknya diusahakan untuk diubah menjadi kerja sama.