Anda di halaman 1dari 39

PELAYANAN ANESTESI DAN

BEDAH

Standard Nasional Akreditasi


Rumah Sakit
Fokus Area

1. ORGANISASI DAN MANAJEMEN


2. PELAYANAN SEDASI
3. ASUHAN PASIEN ANESTESI
4. ASUHAN PASIEN BEDAH
Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB)

No Standar EP No Standar EP
1 PAB.1 3 11 PAB.5.1 3
2 PAB.2 4 12 PAB.6 3
3 PAB.2.1 6 13 PAB.6.1 4
4 PAB.3 4 14 PAB.7 3
5 PAB.3.1 3 15 PAB.7.1 3
6 PAB.3.2 3 16 PAB.7.2 3
7 PAB.3.3 3 17 PAB.7.3 4
8 PAB.4 2 18 PAB.7.4 4
9 PAB.4.1 2 19 PAB.8 4
10 PAB.5 3 20 PAB.8.1 6
20 Std 70 EP

3
Kepala Pelayanan
Anestesi

1. Anestesi •
Unit Kamar Bedah

Unit Kamar Bersalin
2. Sedasi Dalam •
Radiologi
3. Sedasi Moderat •
Endoskopi

Cathlab

IGD
 PELAYANAN
.Pelayanan
ANESTESI
Treintegrasi
•. Kepala Pelyananan
•. Kompetensi Staff
Gambaran Umum

Tindakan anestesi, sedasi, dan intervensi bedah


merupakan proses yg kompleks dan sering
dilaksanakan di RS. Hal tsb memerlukan:
1) Asesmen pasien yg lengkap dan menyeluruh,
2) Perencanaan asuhan yg terintegrasi,
3) Pemantauan yg terus menerus,
4) Transfer ke ruang perawatan berdasarkan kriteria
tertentu,
5) Rehabilitasi,
6) Transfer ke ruangan perawatan dan pemulangan.

5
 Respons pasien terhadap tindakan anestesi dapat
berubah-ubah sepanjang berlangsungnya rangkaian tsb,
maka penggunaan anestesi dan sedasi diatur secara
terpadu.
 Dalam bab ini dibahas anestesi dan sedasi moderat dan
dalam  refleks protektif pasien terhadap fungsi
pernafasannya.
 Tidak dibahas penggunaan sedasi minimal (anxiolysis,
atau penggunaan sedasi untuk penggunaan ventilator).
 Tindakan bedah juga merupakan tindakan yg berisiko
tinggi, maka harus direncanakan dan dilaksanakan secara
hati-hati  Rencana prosedur operasi dan asuhan pasca
operasi dibuat berdasarkan asesmen dan
didokumentasikan.
6
Standar pelayanan anestesi dan bedah berlaku di area
manapun dalam RS yg menggunakan anestesi, sedasi
sedang dan dalam, dan juga pada tempat
dilaksanakannya prosedur pembedahan dan tindakan
invasif lainnya yg membutuhkan persetujuan tertulis
(informed consent) (Lihat HPK.6.4).

7
ORGANISASI DAN MANAJEMEN
Standar PAB.1.
RS menyediakan pelayanan anestesi (termasuk sedasi
moderat dan dalam) utk memenuhi kebutuhan pasien,
dan pelayanan tsb memenuhi peraturan perundang-
undangan dan standar profesi. Yan Anestesi, Sedasi M-D
Elemen Penilaian PAB.1.
1. RS menetapkan regulasi ttg pelayanan anestesi, sedasi
moderat dan dalam yg memenuhi standar profesi,
peraturan perUUan. (R)
2. Pelayanan anestesi, sedasi moderat dan dalam yg
adekuat, reguler dan nyaman, tersedia utk memenuhi
kebutuhan pasien (O,W)
3. Pelayanan anestesi, sedasi moderat dan dalam
(termasuk pelayanan yg diperlukan untuk kegawat
daruratan) tersedia 24 8jam. (O,W)
Standar PAB.2.
Ada staf medis anestesi yg kompeten dan berwenang,
bertangg-jawab untuk mengelola pelayanan anestesi,
sedasi moderat dan dalam. Kepala Pelayanan Anestesi, Sedasi M-D,
Elemen Penilaian PAB.2. SK, UTW, Pola kerja
1. Ada regulasi RS yg mengatur pelayanan anestesi, sedasi moderat dan
dalam seragam di seluruh RS (Lihat PAP.1.EP.1) dan berada dibawah
tangg-jawab seorang dokter anestesi sesuai peraturan perUUan (Lihat
TKRS 5) (R)
2. Ada bukti penangg-jawab pelayanan anestesi utk mengembangkan,
melaksanakan, menjaga regulasi seperti elemen a) s/d d) di maksud dan
tujuan (D,W).
3. Ada bukti penangg-jawab menjalankan program pengendalian mutu (D,W).
4. Ada bukti pelaksanaan supervisi dan evaluasi pelaksanaan pelayanan
anestesi, sedasi moderat dan dalam di seluruh RS. (D,W)

9
Tanggung jawab pelayanan anestesi, sedasi
moderat dan dalam meliputi:
a) mengembangkan, menerapkan, dan menjaga
regulasi
b) melakukan pengawasan administratif
c) menjalankan program pengendalian mutu yg
dibutuhkan
d) memonitor dan evaluasi pelayanan anestesi,
sedasi moderat dan dalam

10
PAB 2.1
Program mutu dan keselamatan pasien pada pelayanan
anestesi, sedasi moderat dan dalam dilaksanakan dan
didokumentasikan
Program Mutu-Safety Yan An, S M-D
Elemen Penilaian PAB 2.1
1. RS menetapkan program mutu dan keselamatan pasien
dalam pelayanan anestesi, sedasi moderat dan dalam. (lihat
PMKP 2.1) (R)
2. Ada bukti monitoring dan evaluasi pelaksanaan asesmen pra
sedasi dan pra anestesi. (D,W)
3. Ada bukti monitoring dan evaluasi proses monitoring status
fisiologis selama anestesi. (D,W)
4. Ada bukti monitoring dan evaluasi proses monitoring proses
pemulihan anestesi dan sedasi dalam. (D,W)
5. Ada bukti monitoring dan evaluasi evaluasi ulang bila terjadi
konversi tindakan dari lokal/regional ke general. (D,W)
6. Ada bukti pelaksanaan program mutu dan keselamatan
pasien dalam anestesi, sedasi moderat dan dalam dan
a 11
diintegrasikan dgn program mutu RS (lihat PMKP 2.1 ). (D,W)
PELAYANAN SEDASI
Standar PAB.3.
Pemberian sedasi moderat dan dalam dilakukan sesuai
regulasi yg ditetapkan Sedasi Moderat & Dalam
Elemen Penilaian PAB.3
1. Ada regulasi RS yg menetapkan pemberian sedasi yg
seragam di semua tempat di RS sesuai peraturan
perUUan ditetapkan dan dilaksanakan sesuai elemen a)
s/d d) spt yg disebut di maksud dan tujuan (R)
2. Ada bukti pelaksanaan sedasi sesuai regulasi yg
ditetapkan (D,O,W)
3. Peralatan emergency tersedia dan digunakan sesuai
dgn jenis sedasi, umur dan kondisi pasien (D,O)
4. Staf yg terlatih dan berpengalaman dalam memberikan
bantuan hidup lanjut (advance) harus selalu tersedia
dan siaga selama tindakan sedasi dikerjakan (D,O,W)
Pelayanan sedasi yg seragam meliputi :
a) kualifikasi staf yg memberikan sedasi
b) peralatan medis yg digunakan
c) bahan yg dipakai
d) cara pemonitoran di RS.
Standar PAB.3.1
Para profesional pemberi asuhan (PPA) yg kompeten dan
berwenang memberikan pelayanan sedasi moderat dan
dalam serta melaksanakan monitoring
PPA Yan Sedasi M-D
Elemen Penilaian PAB.3.1
1. PPA yg bertangg-jawab memberikan sedasi adalah
staf yg kompeten dalam hal paling sedikit a) s/d d) di
maksud dan tujuan (R)
2. PPA yg bertangg-jawab melakukan pemantauan
selama diberikan sedasi adalah staf yg kompeten
dalam hal, paling sedikit e) s/d h) di maksud dan
tujuan (R)
3. Kompetensi semua staf yg terlibat dalam sedasi
tercatat dalam dokumen kepegawaian (lihat KKS 5)
(D,W)
14
Staf yang Kompeten
Karena itu staf yg bertangg-jawab memberikan sedasi harus kompeten dan
berwenang dalam hal:
a) Teknik dan berbagai macam cara sedasi
b) Farmakologi obat sedasi dan penggunaaan zat reversal (antidote-nya)
c) Memonitor pasien dan
d) Bertindak jika ada komplikasi (lihat juga, KKS.10)
Staf lain yg kompeten dapat melakukan pemantauan dibawah supervisi
secara terus menerus terhadap parameter fisiologis pasien dan memberi
bantuan dalam hal tindakan resusitasi. :
e) pemonitoran yg diperlukan
f) bertindak jika ada komplikasi
g) penggunaaan zat reversal (anti-dot) 15
h) kriteria pemulihan (lihat juga, KKS.3)
Standar PAB.3.2
RS menetapkan regulasi utk tindakan sedasi (moderat
dan dalam) baik cara memberikan dan memantau
berdasarkan panduan praktik klinis
Asesmen  IAR
Elemen Penilaian PAB.3.2
1. Dilakukan asesmen pra sedasi dan dicatat dalam rekam
medis yg sekurang-kurangnya berisikan a) s/d e) di
maksud dan tujuan, utk evaluasi risiko dan kelayakan
tindakan sedasi bagi pasien sesuai regulasi yg
ditetapkan RS (Lihat, AP.14) (D,W)
2. Seorang yg kompeten melakukan pemantauan pasien
selama sedasi dan mencatat hasil monitor dalam rekam
medis (D,W)
3. Kriteria pemulihan digunakan dan didokumentasikan
setelah selesai tindakan sedasi (D,W)
16
Asesmen pra sedasi

Profesional pemberi asuhan (PPA) yg kompeten dan


berwenang melakukan asesmen pra sedasi sbb :
a) mengidentifikasi setiap masalah saluran pernapasan yg
dapat mempengaruhi jenis sedasi
b) evaluasi pasien terhadap risiko tindakan sedasi.
c) merencanakan jenis sedasi dan tingkat kedalaman sedasi
yang diperlukan pasien berdasar sedasi yg diterapkan
d) pemberian sedasi secara aman dan
e) evaluasi dan menyimpulkan temuan dari monitor selama
dan sesudah sedasi
17
Monitoring
 Tingkat kesadaran
 ventilasi dan oksigenisasi, variabel hemodinamik
 jenis obat sedasi yg diberikan
 angka waktu sedasi,
 jenis kelamin
 kondisi pasien.

Kriteria pemulihan (Lihat juga PMKP.8)


 Skor Aldrette
a  PADSS 18
Standar PAB.3.3
Risiko, manfaat dan alternatif berhubungan dgn tindakan
sedasi moderat dan dalam didiskusikan dgn pasien dan
keluarga pasien atau dengan mereka yg membuat
keputusan yg mewakili pasien.
Informed consent Sedasi M-D
Elemen Penilaian PAB.3.3
1. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yg
berwenang yg memberikan keputusan dijelaskan
ttg risiko, keuntungan dan alternatif tindakan
sedasi. ( D,W)
2. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yg
berwenang diberi edukasi ttg pemberian analgesi
pasca tindakan sedasi (D,W)
3. Dokter spesialis anestesi melaksanakan edukasi
dan mendokumentasikannya (D,W)
19
ASUHAN PASIEN ANESTESI

Standar PAB.4
Profesional pemberi asuhan (PPA) yg kompeten dan
berwenang pada pelayanan anestesi melakukan
asesmen pra anestesi
Asesmen  IAR
Elemen Penilaian PAB.4
1. Asemen pra anestesi dilakukan untuk setiap pasien
yang akan operasi (Lihat AP.1) (D,W)
2. Hasil asesmen didokumentasikan dalam rekam
medis pasien.(D,W)

20
Standar PAB.4.1
Profesional pemberi asuhan (PPA) yg kompeten dan
berwenang pada pelayanan anestesi melakukan
asesmen pra induksi
Asesmen  IAR
Elemen Penilaian PAB.4.1
1. Asemen pra induksi dilakukan untuk setiap pasien
sebelum dilakukan induksi. (D,W)
2. Hasil asesmen didokumentasikan dalam rekam
medis pasien. (D,W)

21
Proses Asuhan Pasien Diagram
PPA IAR
i
ug a s Mandir n Patient Care
oT k egiata
l ok ”
o 2 “b

1 Asesmen Pasien Pencatatan:


(Skrining, “Periksa Pasien”)
Asesmen
1. Informasi dikumpulkan : I Awal
Anamnesa, pemeriksaan, pemeriksaan lain /
penunjang, dsb
2. Analisis informasi : A Asesmen
Menetapkan Diagnosis / Masalah / Kondisi Ulang
PPA : Untuk mengidentifikasi Kebutuhan Yan Pasien SOAP
Dokter 3. Rencana Asuhan/Plan of Care : R
Perawat Merumuskan rencana dan sasaran terukur
Bidan Untuk memenuhi Kebutuhan Yan Pasien
Apoteker
Nutrisionis
Dietisien 2
Teknisi Pemberian Pelayanan
Medis
(Penata- Implementasi Rencana
Anestesi)
Terapis Monitoring
Asesmen Ulang
Fisik
Standar PAB.5
Rencana, tindakan anestesi dan teknik yang digunakan
dicatat dan didokumentasikan di rekam medis pasien
Form Yan Anestesi
Elemen Penilaian PAB.5
1. Ada regulasi ttg pelayanan anestesi setiap pasien
direncanakan dan didokumentasikan (R)
2. Obat-obat anestesi, dosis dan rute serta teknik
anestesi didokumentasikan di rekam medis pasien
(D,W)
3. Dokter spesialis anestesi dan perawat yang
mendampingi / penata anestesi ditulis dalam form
anestesi (D,W)

23
Standar PAB 5.1.
Risiko, manfaat dan alternatif dari tindakan anestesi
didiskusikan dengan pasien dan keluarga atau orang
yang dapat membuat keputusan mewakili pasien
Informed consent
Elemen Penilaian PAB.5.1. tindakan anestesi
1. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yg
berwenang yg memberikan keputusan dijelaskan
tentang risiko, keuntungan dan alternatif tindakan
anestesi. (D,W)
2. Pasien dan atau keluarga atau pihak lain yg
berwenang diberi edukasi ttg pemberian analgesi
pasca tindakan anestesi. (D,W)
3. Dokter spesialis anestesi melaksanakan edukasi
dan mendokumentasikannya .(R,D)

24
Standar PAB.6
RS menetapkan regulasi utk menentukan status fisiologis
dimonitor selama proses anestesi dan bedah sesuai dgn
panduan praktik klinis dan didokumentasikan di dalam
form anestesi
Durante Anestesi

Elemen Penilaian PAB.6


1. Ada regulasi jenis dan frekuensi pemantauan selama
anestesi dan operasi dilakukan berdasar status
pasien pada pra anestesi, metoda anestesi yg
dipakai, dan tindakan operasi yg dilakukan.(R)
2. Monitoring status fisiologis pasien sesuai dgn
panduan praktik klinis (D,W)
3. Hasil pemonitoran dicatat di form anestesi (D,W)

25
Standar PAB.6.1
RS menetapkan regulasi utk memonitor status pasca
anestesi setiap pasien, dan dicatat dalam rekam medis
pasien. Pasien dipindah dari ruang pemulihan oleh staf
yg kompeten dan berwenang, atau berdasarkan kriteria
baku yg ditetapkan.
Pasca Anestesi
Elemen Penilaian PAB 6.1
1. Pasien dipindahkan dari ruang pemulihan (atau jika
monitoring pemulihan dihentikan) sesuai alternatif a)
s/d c) di maksud dan tujuan. (R)
2. Waktu masuk ruang pemulihan dan dipindahkan dari
ruang pemulihan dicatat dalam form anestesi (D,O,W)
3. Pasien dimonitor dalam masa pemulihan pasca
anestesi sesuai regulasi RS (D,O,W)
4. Hasil monitoring dicatat di form anestesi (D)
26
ASUHAN PASIEN BEDAH

Standar PAB.7
Asuhan setiap pasien bedah direncanakan berdasar hasil
asesmen dan dicatat dalam rekam medis pasien
Asesmen Prabedah IAR
Elemen Penilaian PAB.7
1. Ada regulasi ttg asuhan setiap pasien bedah
direncanakan berdasar informasi dari hasil asesmen
(R)
2. Diagnosis pra operasi dan rencana operasi dicatat di
rekam medik pasien oleh dokter penanggung jawab
pelayanan (DPJP) sebelum operasi dimulai (D,W)
3. Hasil asesmen yg digunakan utk menentukan rencana
operasi dicatat oleh dokter penanggung jawab
pelayanan (DPJP) di rekam medis pasien sebelum
operasi dimulai (Lihat juga, AP.1.2.1; AP 1.3.1) (D,W)
PAB.7 : Asesmen Pra Bedah
1. Regulasi dan lokasi pendokumentasian asesmen pra
bedah, pola IAR
2. Asesmen pra bedah dilakukan sebelum pelaksanaan
tindakan
3. Lokasi pendokumentasian, Form tersendiri/yg ada
4. Ada 2 situasi :
1) Pasien yg akan dibedah masuk ranap, segera dioperasi, maka
asesmen awal = asesmen pra bedah
2) Pasien ranap, dapat pasien bedah atau non bedah, masuk
ranap dan akan dibedah ditengah ranap, maka sebelum
dibedah harus melakukan asesmen pra bedah, Form
tersendiri / yg ada al. di CPPT

Rawat Inap 

As Pra Bedah As Pra Bedah


= As Awal di form
28
Standar PAB.7.1
Risiko, manfaat dan alternatif didiskusikan dgn pasien
dan atau keluarga atau pihak lain yg berwenang yg
memberikan keputusan Informed consent
tindakan op & penggunaan darah/pd
Elemen Penilaian PAB.7.1
1. Pasien, keluarga dan mereka yg memutuskan diberi
edukasi ttg risiko, manfaat, komplikasi, dampak
dan alternatif prosedur/teknik terkait rencana
operasi (D,W)
2. Edukasi memuat kebutuhan, risiko, manfaat dan
alternatif penggunaan darah dan produk darah
(D,W)
3. Edukasi oleh dokter penanggung jawab pelayanan
(DPJP) dan dicatat pada bagian pemberian
informasi dalam form persetujuan tindakan
kedokteran (D,W)
29
Standar PAB.7.2
Informasi yg terkait dgn operasi dicatat dalam laporan
operasi dan digunakan untuk menyusun rencana asuhan
lanjutan
Laporan Operasi
Elemen Penilaian PAB.7.2
1. Ada regulasi ttg laporan operasi yg meliputi
sekurang-kurangnya a) s/d h) di dalam maksud dan
tujuan (R).
2. Ada bukti laporan operasi memuat paling sedikit a)
s/d h) di Maksud dan tujuan dan dicatat pada form yg
ditetapkan RS, tersedia segera setelah operasi
selesai dan sebelum pasien dipindah ke area lain
untuk asuhan biasa (D,W)
3. Laporan operasi dapat dicatat di area asuhan intensif
lanjutan (D,W)
30
Laporan yg tercatat tentang operasi memuat paling sedikit:
a) Diagnosis pasca operasi
b) Nama dokter bedah dan asistennya
c) Prosedur operasi yang laklukan dan rincian temuan
d) Ada dan tidak adanya komplikasi
e) Spesimen operasi yg dikirim untuk diperiksa
f) Jumlah darah yang hilang dan jumlah yg masuk lewat
transfusi
g) Nomor pendaftaran dari alat yg dipasang (implan)
h) Tanggal, waktu, tanda tangan dokter yg bertangg-jawab

31
Standar PAB.7.3
Ditetapkan rencana asuhan pasca operasi dan dicatat
dalam rekam medis
Rencana Pasca Operasi PPA
Elemen Penilaian PAB.7.3
1. Ada regulasi ttg rencana asuhan pasca operasi dibuat oleh
dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), perawat, dan
profesional pemberi asuhan (PPA) lainnya, utk memenuhi
kebutuhan segera pasien pasca operasi. (R)
2. Ada bukti pelaksanaan rencana asuhan pasca operasi
dicatat di rekam medis pasien dalam waktu 24 jam oleh
DPJP atau di verifikasi oleh DPJP bila ditulis oleh dokter
bedah yg didelegasikan (D,W)
3. Ada bukti pelaksanaan rencana asuhan pasca operasi
termasuk rencana asuhan medis, keperawatan, dan PPA
lainnya berdasar kebutuhan pasien (D,O,W)
4. Ada bukti pelaksanaan rencana asuhan pasca operasi
diubah berdasar asesmen32ulang pasien. (D,O,W)
Standar PAB.7.4
RS menetapkan regulasi yg mengatur ttg asuhan
pasien operasi yg menggunakan implan dan harus
memperhatikan pertimbangan khusus ttg tindakan yg
dimodifikasi.
Implan prostetik
Elemen Penilaian PAB.7.4
1. Ada regulasi yg meliputi a) s/d h) pada maksud dan
tujuan. (R)
2. Ada daftar alat implan yg digunakan di RS. (D,W)
3. Bila implan yg dipasang dilakukan penarikan
kembali (recall), ada bukti RS dapat melakukan
telusur thd pasien terkait.(D,O,W)
4. Ada bukti alat implan dimasukkan dalam prioritas
monitoring unit terkait. (D,W)

33
Tindakan operasi spt ini mengharuskan tindakan operasi rutin yg
dimodifikasi dgn mempertimbangkan faktor khusus seperti:
a) Pemilihan implan berdasarkan peraturan perUUan
b) Modifikasi surgical safety checklist utk memastikan ketersediaan
implan di kamar operasi dan pertimbangan khusus utk penandaan
lokasi operasi.
c) kualifikasi dan pelatihan setiap staf dari luar yg dibutuhkan untuk
pemasangan implan (staf dari pabrik/perusahaan implan untuk
mengkalibrasi).
d) proses pelaporan jika ada kejadian yg tidak diharapkan terkait implan
e) proses pelaporan malfungsi implan sesuai dgn standar/aturan pabrik.
f) pertimbangan pengendalian infeksi yg khusus.
g) instruksi khusus kepada pasien setelah operasi.
h) kemampuan penelusuran (traceability) alat jika terjadi penarikan
kembali (recall) alat dgn melakukan
34 a.l. menempelkan barcode alat di
rekam medis.
RUANG OPERASI
Standar PAB.8
Desain tata ruang operasi harus memenuhi syarat
sesuai dgn peraturan dan perundang-undangan
Elemen Penilaian PAB.8 Tata Ruang Km Operasi
1. RS menetapkan jenis pelayanan bedah yg dapat
dilaksanakan. (R)
2. Ruang operasi memenuhi persyaratan ttg pengaturan
zona berdasarkan tingkat sterilitas ruangan sesuai
peraturan perUUan. (O,W)
3. Ruang operasi memenuhi persyaratan ttg alur masuk
barang2 steril harus terpisah dari alur keluar barang
dan pakaian kotor. (O,W)
4. Ruang operasi memenuhi persyaratan ttg koridor
steril dipisahkan / tidak boleh bersilangan alurnya
dengan koridor kotor.35(O,W)
Tindakan bedah merupakan tindakan yg berisiko tinggi dan
rumit shg memerlukan ruang operasi yg mendukung
terlaksananya tindakan bedah utk mengurangi risiko infeksi.
Selain itu utk mengurangi risiko infeksi:
a) alur masuk barang2 steril harus terpisah dari alur keluar
barang dan pakaian kotor
b) koridor steril dipisahkan / tidak boleh bersilangan alurnya
dengan koridor kotor
c) desain tata ruang operasi harus memenuhi ketentuan
zona berdasarkan tingkat sterilitas ruangan yg terdiri dari:
• zona steril rendah;
• zona steril sedang;
• zona steril tinggi dan
36
• zona steril sangat tinggi
37
Standar PAB 8.1
Program mutu dan keselamatan pasien dalam pelayanan
bedah dilaksanakan dan didokumentasikan

Elemen Penilaian PAB 8.1 Program Mutu-Safety Yan Bedah

1. RS menetapkan program mutu dan keselamatan


pasien dalam pelayanan bedah. (R)
2. Ada bukti monitoring dan evaluasi pelaksanaan
asesmen pra bedah. (D,W)
3. Ada bukti monitoring dan evaluasi pelaksanaan
penandaan lokasi operasi. (D,W)
4. Ada bukti monitoring dan evaluasi pelaksanaan
surgical safety check list (lihat juga SKP 4). (D.W)
5. Ada bukti monitoring dan evaluasi pemantauan
diskrepansi diagnosis
38 pre dan post operasi. (D,W)
TERIMAKASIH