Anda di halaman 1dari 17

ACARA II

DIVERSIFIKASI PENGOLAHAN IKAN MENJADI FURIKAKE

A. Tujuan praktikum
Tujuan dari percobaan “diversivikasi pengolahan ikan menjadi
furikake“ adalah untuk memformulasikan furikake berbasis abon ikan
yang disukai anak-anak.

B. Tinjauan pustaka
Dasar pengawetan atau pengolahan ikan adalah mempertahankan
kesegaran dan mutu ikan selama atau sebaik mungkin. Hampir semua cara
pengawetan atau pengolahan ikan meninggalkan sifat-sifat khusus pada
tiap hasil awetan atau olahan, karena berubahnya sifat-sifat bau (odour),
citarasa (flavor), wujud atau rupa (appearance) dan tekstur (texture) daging
ikan. Pengawetan atau pengolahan ikan juga bertujuan untuk menghambat
atau menghentikan kegiatan zat-zat dan mikroorganisme yang dapat
menimbulkan pembusukan (kemunduran mutu) dan kerusakan. Jadi, pada
dasarnya pengawetan atau pengolahan ikan bertujuan melindungi ikan dari
pembusukan atau kerusakan, karena perubahan yang disebabkan oleh
kegiatan mikroorganisme (jasad renik) perubahan-perubahan lain yang
merugikan. Perubahan ini disebabkan oleh kegiatan enzim (antolisa) dan
bakteri-bakteri pembusuk yang terdapat dalam badan ikan. Perubahan
serupa inilah yang harus dihentikan atau setidak-tidaknya dihambat, agar
ikan dan hasil perikanan lainnya tidak rusak atau busuk sebelum mencapai
konsumen ( R. Moeljanto, 1982).
Furikake adalah bumbu makanan asal Jepang yang berbentuk
butiran, tepung, atau berserat seperti abon. Furikake tidak dibuat sewaktu
ingin dimakan, melainkan dibuat sekaligus dalam jumlah besar dan
dimakan sedikit-sedikit di kemudian hari. Produsen makanan sekarang ini
membuat furikake dalam berbagai macam rasa dan kemasan menarik.
Semua bahan yang ingin dibuat furikake dihancurkan hingga agak halus
dan diberi bumbu. Setelah dikeringkan, isi lain (seperti nori, biji wijen,
atau sayur yang dikeringkan) ditambahkan ke dalam furikake sebagai
penyedap. Furikake segar (nama furikake) adalah variasi dari furikake
yang tidak dikeringkan. Semua bahan-bahan hanya dicampur dan diaduk
menjadi satu. Bahan-bahan untuk furikake segar adalah ikan teri, serutan
katsuobushi, potongan kecil rumput laut, kombu, abon ikan atau makanan
laut lain (Anonim, 2010)
Untuk menggambarkan produk furikake secara mudah adalah
dengan membandingkannya dengan produk serupa di Indonesia yaitu
abon. Produk ini bias ditaburkan diatas nasi, bubur, atau dicampurkan
untuk mempercantik dan memperlezat onigiri. Berbeda dengan abon yang
didominasi oleh daging (hewan darat ataupun ikan), dengan "satu macam"
rasa, maka furikake merupakan campuran yang komposisinya bisa sangat
beragam. Yang hampir selalu ada adalah daging ikan kering, wijen, dan
nori. Jenis ikan yang digunakan dan bahan campurannya bisa apa saja.
Karena dalam formulasinya "tidak ada" yang dominan maka dalam hal
penampilan, furikake sungguh dapat berperan dalam mempercantik
makanan. Disamping itu, kemasan produk ini mayoritas dibuat dengan
sangat "mengundang". Tambahan keunggulan produk ini adalah
penyajiannya sangat mudah, maka tak pelak lagi tingkat konsumsi
furikake sangat tinggi. Dari aspek kesehatan, furikake boleh diandalkan
sebagai "makanan yang kaya". Bagaimana tidak, disamping ikan dan nori
yang keunggulannya sudah diketahui, biji wijen yang hampir selalu
bergabung, bisa dikategorikan sebagai pangan fungsional (Y. Sakagami,
1983).
Abon biasanya terbuat dari daging sapi atau kerbau. Meskipun
demikian, semua jenis daging termasuk daging ikan dapet digunakan
untuk pembuatan abon. Abon tergolong produk olahan daging yang awet.
Untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan, abon dikemas
dalam kantong plastik dan ditutup dengan rapat. Dengan cara demikian
abon dapat disimpan pada suhu kamar selama beberapa bulan ( Herni
Kusantati dkk, 2006).
Abon ikan merupakan salah satu bentuk diversifikasi pengolahan
hasil laut atau perikanan. Pembuatan abon ikan mudah dikerjakan dan
hanya memerlukan peralatan sederhana. Oleh karena itu, dapat dikerjakan
dalam skala industri rumah tangga yang disesuaikan dengan kemampuan
modal, tenaga, dan pemasarannya (Siti Rahayu dan Titiek F. Djaafar,
2010).
Abon ikan yang baik mempunyai rasa yang khas, tidak berbau
amis atau anyir. Dengan rasa yang khas inilah, abon ikan mudah diterima
oleh konsumen. Apalagi dibandingkan dengan ikan segar, abon ikan
mempunyai kandungan protein lebih tinggi dan dapat disimpan lebih lama
tanpa mengalami perubahan kualitas (Ir. Eddy Afrianto dan Ir. Evi
Lifiyawati, 2010).
Komposisi ikan yang sangat bervariasi merupakan refleksi dari
perbedaan kandungan lemaknya. Ikan yang mengandung lemak lebih dari
5% biasanya dagingnya lebih banyak mengandung pigmen (zat warna)
kuning, merah muda atau abu-abu. Ikan dengan kadar lemak rendah
biasanya dagingnya berwarna putih. Tingginya kadar protein sering
mencerminkan tingginya kualitas produk pangan tersebut. Sebaliknya,
semakin tinggi kadar lemaknya menjadikan produk pangan tersebut lebih
cepat mengalami ketengikan dan ditolak oleh konsumen. Perbedaan nilai
organoleptik abon ikan tersebut disebabkan oleh perbedaan komposisi
kimia ikan maupun sifat daging ikan yang digunakan untuk pembuatan
abon. Ikan tongkol lebih banyak menyerap dan mengandung lemak yang
tinggi, sehingga kurang disukai panelis. Sebaliknya, ikan gabus,
sebagaimana halnya dengan ikan nila, yang berkadar lemak rendah,
ratanya 7,1 dan 7,2 (Tjipto Leksono dan Syahrul, 2001).
Ikan Pari yang akan dijadikan abon dipilih yang segar lalu dicuci
dan dibersihkan dari kotoran-kotoran. Setelah bersih, daging disiangi lalu
difilet kemudian direndam dengan garam 5% selama 30 menit. Setelah itu,
Ikan Pari dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil dan dikukus
bersama daun salam, sereh, dan jahe yang telah dimemarkan selama 30
menit. Sesudah dikukus, Ikan Pari didinginkan lalu dijadikan serat-serat.
Serat daging Ikan Pari dicampur dengan bumbu-bumbu, ketumbar halus,
lengkuas parut, bawang merah, dan bawang putih yang telah dihaluskan.
Selain itu, juga ditambahkan santan kental, garam, dan gula lalu diaduk
rata. Daging selanjutnya digoreng hingga kering dengan api yang kecil.
Daging yang sudah digoreng kemudian dipres dan diurai perlahan-lahan
(Millah Fithrotul dan Sukesi, 2009).
Di Indonesia, terdapat berbagai jenis kacang-kacangan dengan
berbagai warna, bentuk, ukuran dan varietas, yang sebenarnya potensial
untuk menambah zat gizi dalam diet atau menu sehari-hari. Jenis yang
mendominasi pasar adalah kacang kedelai, yang sebagian besar masih
diimpor. Sebenarnya telah banyak usaha yang dilakukan untuk
mengangkat kacang-kacangan lokal Indonesia, seperti kacang kecipir,
kacang tunggak (kacang tolo) kacang jogo dan koro-koroan. Tetapi
hasilnya ternyata masih belum memuaskan. Artinya masih belum
merakyat, apalagi untuk dapat disejajarkan dengan kedelai. Kacang-
kacangan dikonsumsi dalam jumlah besar di seluruh dunia. Masyarakat
Afrika, India, Amerika Tengah dan Selatan mengkonsumsi 50 sampai 150
gram kacang-kacangan per hari. Meskipun belum ada angka pasti,
konsumsi kacangan di Indonesia, kecuali kacang kedelai, masih kecil.
Kacang-kacangan memberikan sekitar 135 kkal per 100 gram bagian yang
dapat dimakan. Jika kita mengkonsumsi kacang-kacangan sebanyak 100
gram (1 ons), maka jumlah itu akan mencukupi sekitar 20 % kebutuhan
protein dan 20 persen kebutuhan serat per hari. Menurut ketentuan
pelabelan internasional, jika suatu bahan/produk pangan dapat
menyumbangkan lebih dari 20 % dari kebutuhan suatu zat gizi per hari,
maka dapat dinyatakan sebagai bahan atau produk pangan yang tinggi
(high) akan zat gizi tersebut. Disamping menghasilkan tepung sebagai
bahan makanan, industri pengolah kacang-kacangan ternyata dapat pula
menghasilkan dan menjual serat makanan, vitamin B, mineral dan
mungkin bahan-bahan yang lebih eksotis, misalnya enzim (Sutrisno
Kusworo, 2010).

C. Metodologi
1. Bahan
a. Daging ikan tuna
b. Serai
c. Daun salam
d. Bawang merah
e. Bawang putih
f. Gula merah
g. Ketumbar
h. Lengkuas
i. Garam
j. Santan
k. Minyak goreng
l. Formulasi Furikake
teri
bubuk kacang koro
kedelai bubuk
kacang polong utuh
bubuk kacang polong
2. Alat
Wajan
Kompor gas
Solet
Piring plastik kecil
Timbangan
Pisau
Sendok
Baskom plastik

3. Cara Kerja
Ikan direbus bersama serai dan daun salam selama 30
menit sampai empuk

Ikan disuir-suir

Ditambahkan campuran bumbu halus yang terdiri dari


bawang merah, bawang putih, gula merah, ketumbar,
lengkuas dan garam

Semua bumbu dilarutkan ke dalam santan untuk 200 gr


daging ikan suir

Dipanaskan campuran sampai santan agak mengering

Ditambahkan minyak goreng dan dilanjutkan pemanasan


sampai abon kering dan berwarna kecoklatan

Furikake diformulasi dengan kombinasi kacang koro


dan kacang polong

Dilakukan uji organoleptis (uji kesukaan) terhadap


panelis maksimal kelas 5 SD
D. Hasil dan Pembahasan
Tabel 2.1 Hasil Uji Organoleptik Furikake
No Nama Sampel 6 Sampel 7 Sampel 8 Sampel 9 Sampel 10
1 Ima suka
2 Ika suka
3 Goeraf suka
4 Udin suka
5 Lukman tidak suka
6 Beni tidak suka
7 Lukas tidak suka
8 Agung suka
9 Joni suka
10 Farah tidak suka
11 Lala suka
12 Ika tidak suka
13 Uki suka
14 Fauzi tidak suka
15 Achmad tidak suka
16 Zainudin tidak suka
17 Anto suka
18 Putra suka
19 Ganang tidak suka
20 Susan suka
21 Farah W suka
22 Amanda suka
23 Navasila suka
24 Ajeng suka
25 Zahra suka
26 Rian suka
27 Geby suka
28 Rafa suka
29 Unggul suka
30 Fira tidak suka
31 Feni tidak suka
32 Firman tidak suka
33 Febri tidak suka
34 Maria tidak suka
35 Edi suka
36 Vita tidak suka
37 Dani tidak suka
38 Daniel tidak suka
39 Gilang suka
40 Ayu tidak suka
41 Ari suka
42 Andri suka
43 Ira suka
44 Roma suka
45 Khesia suka
46 Vina suka
47 Eisha suka
48 Naswa suka
49 Zahira suka
50 Viona suka
Sumber: Laporan Sementara
Keterangan:
6 = Formulasi abon ikan dengan kacang polong utuh
7 = Formulasi abon ikan dengan kedelai bubuk dan koro bubuk
8 = Formulasi abon ikan dengan koro bubuk dan polong bubuk
9 = Formulasi abon ikan dengan teri dan polong bubuk
10 = Formulasi abon ikan dengan polong bubuk
Formulasi Suka Tidak suka
Sampel 6 6 4
Sampel 7 7 3
Sampel 8 7 3
Sampel 9 4 6
Sampel 10 7 3
Rendahnya konsumsi ikan di Indonesia karena kurangnya variasi
dalam pengolahan ikan. Salah satu produk pengolahan ikan disebut furikake,
yaitu abon yang saat ini telah mulai diolah dari bahan ikan bukan hanya
daging sapi. Furikake adalah produk Jepang yang dikenal produk olahan ikan
kering yang diformulasikan dengan bahan lain terutama wijen, rumput laut
dan sayuran kering. Furikake adalah olahan yang bersifat tahan lama dan
dikonsumsi sebagai lauk praktis dan dapat dimakan tanpa perlakuan terlebih
dahulu. Formulasi ikan dengan bahan lain disamping meningkatkan daya tarik
juga nilai gizi keseluruhan produk. furikake merupakan campuran yang
komposisinya bisa sangat beragam. Jenis ikan yang digunakan dan bahan
campurannya bisa apa saja. Karena dalam formulasinya tidak ada yang
dominan, maka dalam hal penampilan furikake sungguh dapat berperan dalam
mempercantik makanan. Tambahan keunggulan produk ini adalah
penyajiannya sangat mudah, maka tingkat konsumsi furikake sangat tinggi.
Dari aspek kesehatan, furikake boleh diandalkan sebagai makanan yang kaya,
bisa dikategorikan sebagai bahan fungsional.
Menurut Ir. Eddy Afrianto dan Ir. Evi Lifiyawati (2010), abon ikan
(furikake) yang baik mempunyai rasa yang khas, tidak berbau amis atau anyir.
Dengan rasa yang khas inilah, abon ikan (furikake) mudah diterima oleh
konsumen. Apalagi dibandingkan dengan ikan segar, furikake mempunyai
kandungan protein lebih tinggi dan dapat disimpan lebih lama tanpa
mengalami perubahan kualitas.
Pada percobaan diversifikasi pengolahan ikan menjadi furikake ini
diawali dengan pembuatan abon ikan, kemudian diformulasikan dengan
bahan-bahan seperti ikan teri, kacang polong utuh, bubuk kacang polong,
bubuk kacang kedelai, bubuk kacang koro. Untuk kelompok 6, abon ikan
difomulasikan dengan kacang polong utuh. Kelompok 7 abon ikan ditambah
formulasi kedelai bubuk dan koro bubuk. Pada kelompok 8, abon ikan
diformulasikan dengan polong bubuk dan koro bubuk. Kemudian untuk
kelompok 9, abon ikan ditambah formulasi teri dan polong bubuk. Terakhir,
kelompok 10, abon ikan diformulasikan dengan polong bubuk. Setelah
terbentuk furikake semua kelompok, lalu diujikan secara organoleptik kepada
50 panelis. Panelis ini harus anak-anak dan maksimal berumur kelas 5 SD
( maksimal usia ± 11 tahun). Para panelis menentukan penilaian furikake yang
mereka sukai dengan parameter suka atu tidak suka.
Dari tabel 2.1 dapat diketahui hasil uji organoleptis dari kelompok 6-
10. Furikake yang paling disukai oleh panelis adalah pada kelompok 7,
kelompok 8 dan kelompok 10 yaitu jumlah panelis yang suka : tidak suka, 7 :
3. Diikuti furikake kelompok 6, suka : tidak suka adalah 6 : 4. Kemudian
furikake yang paling tidak disukai panelis yaitu furikake kelompok 9, suka :
tidak suka, 4 : 6. Hasil tersebut menyatakan bahwa furikake yang paling
disukai adalah formulasi antara abon ikan dengan kedelai bubuk, koro bubuk,
dan polong bubuk. Hal itu karena kedelai bubuk, koro bubuk, polong bubuk
mempunyai kandungan protein yang tinggi sehingga memberikan rasa gurih,
dan renyah pada abon ikan. Berdasarkan teori (Sutrisno Koswara, 2010)
mengatakan, jika kita mengkonsumsi kacang-kacangan sebanyak 100 gram (1
ons), maka jumlah itu akan mencukupi sekitar 20 % kebutuhan protein.
Apalagi tingginya kadar protein sering mencerminkan tingginya kualitas
produk pangan tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi kadar lemaknya
menjadikan produk pangan tersebut lebih cepat mengalami ketengikan dan
ditolak oleh konsumen. Perbedaan nilai organoleptik abon ikan tersebut
disebabkan oleh perbedaan komposisi kimia ikan maupun sifat daging ikan
yang digunakan untuk pembuatan abon (Tjipto Leksono dan Syahrul, 2001).
Akan tetapi, furikake pada kelompok 9 tidak terlalu disukai panelis karena
abon ikan diformulasikan dengan teri dan polong bubuk. Biasanya anak-anak
tidak suka teri, karena rasanya yang kurang enak, dan apabila dimakan agak
gatal di tenggorokan.
Tabel 2.2 Daftar Komposisi Zat Gizi Bahan Makanan (DKBM)
Kelompok Energi Protein Lemak Karbohidrat
6 106,446 16,27 2,52 4,695
7 198,109 26,778 16,417 9,105
8 179,67178 20,3702 2,7143 19,2487
9 119,833 22,605 2,034 2,183
10 110,538 18,723 2,585 3,023
Sumber : Laporan Sementara
Perhitungan kelompok 8
DKBM (Daftar Komposisi Zat Gizi Bahan Makanan)

Jumlah zat gizi =

a. Ikan tuna Lemak =3


Energi = 117 Karbohidrat = 55
Protein = 23,3 c. Kacang polong
Lemak = 2,7 Energi = 89
Karbohidrat = 0 Protein = 3,8
b. Kacang koro Lemak = 2,2
Energi = 332 Karbohidrat = 13,1
Protein = 24
• Berat furikake = abon 100 gr + koro 59 gr + polong 30 gr = 189 gr
1. Energi
Abon = 100/189 x 117 = 61,9048
Koro = 59/189 x 332 = 103,64
Polong = 30/189 x 89 = 14,12698
Energi total = 61,9048+103,64+14,12698 = 179,67178
2. Protein
Abon = 100/189 x 23,2 = 12,275
Koro = 59/189 x 24 = 7,492
Polong = 30/189 x 3,8 = 0,6032
Energi total = 12,275+7,492+0,6032 = 20,3702
3. Lemak
Abon = 100/189 x 2,7 = 1,4286
Koro = 59/189 x 3 = 0,9365
Polong = 30/189 x 2,2 = 0,3492
Energi total = 1,4286+0,9365+0,3492 = 2,7143
4. Karbohidrat
Abon = 100/189 x 0 = 0
Koro = 59/189 x 55= 17,1693
Polong = 30/189 x 13,1 = 2,0794
Energi total = 0+17,1693+2,0794 = 19,2487
Furikake merupakan campuran yang komposisinya bisa sangat
beragam. Yang hampir selalu ada adalah daging ikan kering, wijen, dan nori.
Jenis ikan yang digunakan dan bahan campurannya bisa apa saja. Karena
dalam formulasinya "tidak ada" yang dominan maka dalam hal penampilan,
furikake sungguh dapat berperan dalam mempercantik makanan. Disamping
itu, kemasan produk ini mayoritas dibuat dengan sangat "mengundang".
Tambahan keunggulan produk ini adalah penyajiannya sangat mudah, maka
tak pelak lagi tingkat konsumsi furikake sangat tinggi. Dari aspek kesehatan,
furikake boleh diandalkan sebagai "makanan yang kaya". Bagaimana tidak,
disamping ikan dan nori yang keunggulannya sudah diketahui, biji wijen yang
hampir selalu bergabung, bisa dikategorikan sebagai pangan fungsional (Y.
Sakagami, 1983).
Pada tabel 2.2 dapat diketahui Daftar Komposisi Zat Gizi Bahan
Makanan (DKBM). Nilai energi yang tertinggi ke yang terrendah adalah
kelompok 7 (198,109) yaitu formulasi abon ikan dengan kedelai bubuk dan
koro bubuk, kelompok 8 (179,67178) formulasi abon ikan dengan koro bubuk
dan polong bubuk, kelompok 9 (119,833) formulasi abon ikan dengan teri dan
polong bubuk, kelompok 10 (110,538) formulasi abon ikan dengan polong
bubuk, dan yang terrendah kelompok 6 (106,446) formulasi abon ikan dengan
kacang polong utuh. Untuk nilai protein dari yang tertinggi ke terrendah yaitu
kelompok 7 (26,778), kelompok 9 (22,605), kelompok 8 (20,3702), kelompok
10 (18,723), nilai terrendah kelompok 6 (16,27). Nilai lemak dari terbesar ke
terkecil adalah kelompok 7 (16,417), kelompok 8 (2,7143), kelompok 10
(2,585), kelompok 6 (2,52), dan kelompok 9 (2,034). Terakhir nilai
karbohidrat dari yang terbesar ke yang terkecil adalah kelompok 8 (19,2487),
kelompok 7 (9,105), kelompok 6 (4,695), kelompok 10 (3,023), dan nilai
karbohidrat terkecil kelompok 9 (2,183).
Dari percobaan tersebut dapat dilihat bahwa abon ikan yang
diformulasikan dengan kedelai bubuk dan koro bubuk (kelompok 7) rata-rata
memiliki komposisi zat gizi yang tertinggi dibandingkan abon ikan yang
diformulasikan dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan teori (Sutrisno
Koswara, 2010) bahwa jenis kacang-kacangan sebagai campuran memiliki
kandungan gizi yang tertinggi yaitu kacang-kacangan memberikan sekitar 135
kkal per 100 gram bagian yang dapat dimakan. Jika kita mengkonsumsi
kacang-kacangan sebanyak 100 gram (1 ons), maka jumlah itu akan
mencukupi sekitar 20 % kebutuhan protein dan 20 persen kebutuhan serat per
hari. Menurut ketentuan pelabelan internasional, jika suatu bahan/produk
pangan dapat menyumbangkan lebih dari 20 % dari kebutuhan suatu zat gizi
per hari, maka dapat dinyatakan sebagai bahan atau produk pangan yang
tinggi (high) akan zat gizi tersebut. Disamping menghasilkan tepung sebagai
bahan makanan, industri pengolah kacang-kacangan ternyata dapat pula
menghasilkan dan menjual serat makanan, vitamin B, mineral dan mungkin
bahan-bahan yang lebih eksotis, misalnya enzim. Sedangkan, formulasi abon
ikan dengan polong utuh memiliki kandungan gizi yang rata-rata rendah
(kelompok 6) karena formulasi yang digunakan hanya polong utuh maka
kurang mencukupi dari komposisi energi, protein, lemak, karbohidrat.
E. Kesimpulan
Acara II tentang divrsifikasi pengolahan ikan menjadi furikake dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Furikake adalah produk Jepang yang dikenal produk olahan ikan
kering yang diformulasikan dengan bahan lain terutama wijen, rumput
laut dan sayuran kering.
2. Furikake bersifat tahan lama dan dikonsumsi sebagai lauk praktis dan
dapat dimakan tanpa perlakuan terlebih dahulu, formulasi ikan dengan
bahan lain disamping meningkatkan daya tarik juga nilai gizi
keseluruhan produk.
3. Dengan rasa yang khas inilah, furikake mudah diterima oleh
konsumen.
4. Diversifikasi pengolahan ikan menjadi furikake ini diawali dengan
pembuatan abon ikan, kemudian diformulasikan dengan bahan-bahan
seperti ikan teri, kacang polong utuh, bubuk kacang polong, bubuk
kacang kedelai, bubuk kacang koro.
5. Untuk kelompok 6, abon ikan difomulasikan dengan kacang polong
utuh; kelompok 7 abon ikan ditambah formulasi kedelai bubuk dan
koro bubuk; kelompok 8, abon ikan diformulasikan dengan polong
bubuk dan koro bubuk; kelompok 9, abon ikan ditambah formulasi teri
dan polong bubuk; kelompok 10, abon ikan diformulasikan dengan
polong bubuk.
6. Furikake diujikan secara organoleptik kepada 50 panelis, panelis ini
harus anak-anak dan maksimal berumur kelas 5 SD ( maksimal usia ±
11 tahun) kemudian menentukan penilaian furikake yang mereka sukai
dengan parameter suka atu tidak suka.
7. Furikake yang paling disukai oleh panelis adalah pada kelompok 7,
kelompok 8 dan kelompok 10 yaitu jumlah panelis yang suka : tidak
suka, 7 : 3.
8. Furikake yang paling tidak disukai panelis yaitu furikake kelompok 9,
suka : tidak suka, 4 : 6.
9. Furikake yang paling disukai adalah formulasi antara abon ikan
dengan kedelai bubuk, koro bubuk, dan polong bubuk, karena kedelai
bubuk, koro bubuk, polong bubuk mempunyai kandungan protein yang
tinggi sehingga memberikan rasa gurih, dan renyah pada abon ikan.
10. Furikake pada kelompok 9 tidak terlalu disukai panelis karena abon
ikan diformulasikan dengan teri dan polong bubuk. Biasanya anak-
anak tidak suka teri, karena rasanya yang kurang enak, dan apabila
dimakan agak gatal di tenggorokan.
11. Nilai energi yang tertinggi ke yang terrendah adalah kelompok 7
(198,109, kelompok 8 (179,67178), kelompok 9 (119,833, kelompok
10 (110,538, dan yang terrendah kelompok 6 (106,446).
12. Nilai protein dari yang tertinggi ke terrendah yaitu kelompok 7
(26,778), kelompok 9 (22,605), kelompok 8 (20,3702), kelompok 10
(18,723), nilai terrendah kelompok 6 (16,27).
13. Nilai lemak dari terbesar ke terkecil adalah kelompok 7 (16,417),
kelompok 8 (2,7143), kelompok 10 (2,585), kelompok 6 (2,52), dan
kelompok 9 (2,034).
14. Nilai karbohidrat dari yang terbesar ke yang terkecil adalah kelompok
8 (19,2487), kelompok 7 (9,105), kelompok 6 (4,695), kelompok 10
(3,023), dan nilai karbohidrat terkecil kelompok 9 (2,183).

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Eddy Ir dan Ir. Evi Lifiyawati. 2010. Pengawetan dan Pengolahan Ikan.
Kanisius. Jakarta.
Anonim. 2010. Furikake. http://id.wikipedia.org/wiki/Furikake. Diakses pada
tanggal 14 Desember 2010. Pada pukul 13.00 WIB.
Leksono, Tjipto dan Syahrul. 2001. Studi Mutu dan Penerimaan Konsumen
Terhadap Abon Ikan. Jurnal Natur Indonesia III (2): 178– 184, 181.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Millah, Fithrotul dan Sukesii. 2009. Produksi Abon Ikan Pari (Rayfish):
Penentuan Kualitas Gizi Abon. Prosiding Skripsi Semester Gasal
2009/2010, hal 2. Jurusan Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Kusworo, Sutrisno. 2010. Kacang-Kacangan Sumber Serat Yang Kaya Gizi. E-
book pangan. Indonesia.
Kusantati, Herni. 2006. Pendidikan Keterampilan. PT Gravindo media
Pratama.Jakarta.
Moeljanto, R, DRS. 1982. Penanganan Ikan Segar. Penebar swadaya. Jakarta.
Rahayu, Siti dan Titiek F.Djaafar. 2010. Teknologi Pengolahan Daging Ikan
Cucut. Kanisius. Jakarta.
Sakagami, Y., 1983, Biochemistry Of Marine Algae And Their Application.
Kosheisha-Koseikaku, Tokyo: 90-100. Jepang.

Lampiran