Anda di halaman 1dari 7

TAFSIR DAN HADIS TARBAWI, PAI

PERTEMUAN KE- 5 , TANGGAL 18 NOVEMBER 2020


TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG MEDIA PENDIDIKAN
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau
pengantar.Dalam bahasa Arab, media adalah perantara (‫ وسا ئل‬/‫)وسيلة‬, pengantar pesan atau pengirim
ke- pada penerima pesan. Menurut para ahli pendidikan menyatakan bahwa media jika dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat
siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku
teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Oleh karena itu, media pendidikan dang pengajaran
itu terdiri atas manusia dan bukan manusia.
Maka dalam proses pendidikan dan pengajaran Rasulullah saw menggunakan kedua media
tersebut. Dimana media manusia adalah pribadi beliau sendiri, media jari, lidah, tangan, dan hidung.
Media bukan manusia mencakup langit, bumi, matahari, bulan bangunan, dll.
1. Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 84
‫قُ ْل ُك ٌّل َيعْ َم ُل َعلَى َشا ِكلَ ِت ِه َف َر ُّب ُك ْم أَعْ لَ ُم ِب َمنْ ه َُو أَهْ َدى َس ِبيال‬
Artinya : Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”Maka
Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Surat Al-Isra’ ayat 84)
Penafsiran
Ayat diatas mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan suatu perbuatan, mereka akan
melakukan sesuai keadaannya (termasuk di dalamnya keadaan alam sekitarnya) masing-masing.
Hal ini menjelaskan bahwa dalam melakukan suatu perbuatan memerlukan media agar yang
dimaksud dapat tercapai.
Dalam dunia pendidikan, seorang guru yang hendak mengajarkan suatu materi kepada
muridnya dituntut menggunakan media sebagai pembantu sampainya materi tersebut. Media yang
dipergunakan tidak harus berupa media yang mahal, melainkan media yang benar-benar efisien dan
mampu manjadi alat penghubung antara seorang guru dengan murid agar materi yang diajarkan
dapat diterima dan dipahami secara maksimal. Hal ini sesuai kata ‫( شاكلته‬sesuai keadaannya) pada
ayat diatas.
Sedangkan kalimat ‫ فربكم أعلم بمن هو أهدى سبيال‬dalam ayat diatas jika dikaitkan dengan media
pendidikan. Secara tersirat, kalimat diatas bermakna bahwa seorang guru hendaklah mendiskusikan
dengan orang-orang yang lebih mengetahui (dalam ayat tersebut Allah berperan sebagai zat yang
maha mengetahui) tentang media apa yang akan digunakannya ketika ia mengajar.
Media sangat berperan penting dalam pencapaian hasil yang di harapkan. Ini terlihat secara
tidak langsung dalam tafsirnya, yakni (Dia (Allah) akan memberi pahala kepada orang yang lebih
benar jalannya). Dari penjelasan diatas penulis mengambil sebuah kesimpulan bahwa media yang
baik dan benar akan mewakili sampainya materi yang di ajarkan, sedangkan media yang kurang
tepat tidak akan mencapai hasil yang maksimal.
2. Al-Qur’an Surat An-Nahlu; 89
َ ‫ك ْال ِك َت‬
‫اب ِت ْب َيا ًنا لِ ُك ِّل َشيْ ٍء‬ َ ‫ث فِي ُك ِّل أ ُ َّم ٍة َش ِهي ًدا َعلَي ِْه ْم مِنْ أَ ْنفُسِ ِه ْم َو ِج ْئ َنا ِب‬
َ ‫ َعلَ ْي‬+‫ك َش ِهي ًدا َعلَى َهؤُ ال ِء َو َن َّز ْل َنا‬ ُ ‫َو َي ْو َم َن ْب َع‬
َ ‫َو ُه ًدى َو َرحْ َم ًة َو ُب ْش َرى ل ِْلمُسْ لِم‬
‫ِين‬
Artinya: “(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi
atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas
seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
diri.”( Surat An-Nahlu; 89)
Penafsiaran
(Dan) ingatlah (akan hari ketika Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka
dari mereka sendiri) yakni nabi mereka sendiri (dan Kami datangkan kamu) hai Muhammad
(menjadi saksi atas mereka) bagi kaummu. (Dan Kami turunkan kepadamu Alkitab) yakni Al-
Qur’an (untuk menjelaskan) untuk menerangkan (segala sesuatu) yang diperlukan oleh umat
manusia menyangkut masalah syariat (dan petunjuk) supaya jangan tersesat (serta rahmat dan kabar
gembira) memperoleh surga (bagi orang-orang yang beriman) bagi orang-orang yang mentauhidkan
Allah.
Pada ayat tersebut secara tidak langsung Allah mengajarkan kepada manusia untuk
menggunakan sebuah alat/benda sebagai suatu media dalam menjelaskan segala sesuatu.
Sebagaimana Allah SWT menurunkan Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. untuk
menjelaskan segala sesuatu, maka sudah sepatutnya jika seorang menggunakan suatu media tertentu
untuk menjelaskan segala hal.
Dalam ayat diatas juga menjelaskan tentang bagaimana seharusnya syarat suatu media yang
akan digunakan. Surat An Nahl ayat 89 tersebut dijelaskan bahwa Al Qur’an selain berperan untuk
men jelaskan, juga merupakan sesuatu yang berfungsi sebagai petunjuk, rahmat, dan pemberi kabar
gembira bagi orang yang menyerahkan diri.
Sehubungna dengan suatu media yang digunakan dalam pengajaran harus mampu
menjelaskan kepada para siswa tentang materi yang sedang mereka pelajari. Syarat ini sejalan
dengan esensitas sebuah media dalam pengajaran pada QS. Al Isra’ : 84. Selain hal tersebut, sebuah
media juga harus mampu menjadi petunjuk untuk melakukan sesuatu yang baik. Sedangkan
mengenai Al Qur’an sebagai rahmat dan pemberi kabar gembira jika dikaitkan dengan masalah
media dalam dunia pendidikan maka suatu media harus mampu menumbuhkan rasa gembira yang
selanjutnya meningkatkan ketertarikan siswa dalam mempelajari materi-materi yang disampaikan.
Hal tersebut karena tujuan pendidikan tidak hanya pada segi kognitif saja, melainkan juga harus
mampu mempengaruhi sisi afektif dan psikomotor para siswa. Dalam hal ini maka media harus
mampu meraih tujuan pendidikan tersebut.
3. Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 16
ِ ‫ور ِبإِ ْذ ِن ِه َو َي ْهد‬
+ٍ ‫ِيه ْم إِلَى صِ َر‬
‫اط مُسْ َتق ٍِيم‬ ِ ‫ت إِلَى ال ُّن‬ ُّ ‫م م َِن‬+ْ ‫َي ْهدِي ِب ِه هَّللا ُ َم ِن ا َّت َب َع ِرضْ َوا َن ُه ُس ُب َل السَّالم َوي ُْخ ِر ُج ُه‬
ِ ‫الظلُ َما‬ ِ
Artinya:”Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke
jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula)Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus.( Surat Al-Maidah ayat 16)
Penafsiran
(Orang yang mengikuti keridhaanNya), ialah orang yang dalam beragama tetap ingin mencari keri-
dhaan Allah, tidak sekedar memantapkan apa yang diketahuinya, dan yang telah membentuk
kepriba- diannya dan diterima dari generasi sebelumnya, dengan tidak melakukan pemikiran dan
mencari bukti-bukti (istidlal). (ke jalan keselamatan) Maksudnya adalah jalan yang selamat dari
segala rasa takut.
(Dengan izin_Nya), yakni dengan kehendak Allah dan taufikNya. Dengan menempuh
sunnah-sunnah Allah, bahwa amal-amal saleh dan kepercayaan-kepercayaan yang benar adalah
mempengaruhi dan memperbaiki jiwa. (kepada jalan yang lurus), yakni kepada agama yang benar.
Karena agama yang benar itu hanyalah satu dan diakui kebenarannya ditinjau dari sudut manapun.
Adapun agama yang batil, memang banyak jalannya, yang semuanya bengkok berliku-liku, tak ada
yang lurus.
Dalam ayat diatas, Allah SWT. menyebutkan 3 macam kegunaan dari Al Qur’an. Hal ini
jika dikaitkan dengan media dalam pendidikan maka akan diketahui bahwa minimal ada tiga syarat
yang harus dimiliki suatu media sehingga alat ataupun benda yang dimaksud dapat benar-benar
digunakan sebagi media dalam pembelajaran. Tiga aspek itu adalah :

1. Media harus mampu memberikan petunjuk (pemahaman) kepada siapapun siswa yang
memperhatikan penjelasan guru dan memahami medianya. Dengan kata lain, media harus
mampu mewakili setiap pikiran guru sehingga dapat lebih mudah memahami materi.
2. Dalam Tafsir Al Maraghi disebutkan bahwa Al Qur’an sebagai media yang digunakan oleh
Allah SWT. akan mengeluarkan penganutnya dari kegelapan Aqidah berhala. Keterangan ini
memiliki makna bahwa setiap media yang digunakan oleh seorang guru seharusnya dapat
memudahkan siswa dalam memahami sesuatu.
3. Suatu media harus mampu mengantarkan para siswanya menuju tujuan belajar mengajar
serta tujuan pendidikan dalam arti lebih luas. Media yang digunakan minimal harus
mencerminkan (menggambarkan) materi yang sedang diajarkan. Seperti contoh dalam
mengajarkan nama-nama benda bagi anak-anak, maka media yang digunakan harus mampu
mewakili benda-benda yang dimaksud, yang diajarkan kata “Meja” tetapi media yang
digunakan adalah motor.
4. Al-Qur’an Surat Ali Imran: 133

‫ِين‬ ْ ‫ات َواألرْ ضُ أُعِ َّد‬


َ ‫ت ل ِْل ُم َّتق‬ ُ ْ‫ارعُوا إِلَى َم ْغف َِر ٍة مِنْ َر ِّب ُك ْم َو َج َّن ٍة َعر‬
ُ ‫ض َها ال َّس َم َاو‬ ِ ‫َو َس‬
Artinya:” Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,( Surat Ali Imran: 133)

Penasifran
Dalam ayat diatas Allah SWT. menjelaskan tentang media, untuk mendapatkan kesenangan
dan kebahagian dirasakan di hati manusia ialah berdoa kepada Allah SWT. untuk mendapat
keampunan dalam membersihkan jiwa. Hal ini, jika jiwa telah bersih akan datang suatu kenangan
yang dirasakan oleh manusia, dengan adanya ketenangan akan terasalah kebahagiaan bagi manusia
tersebut. Selanjut- nya Allah SWT. menjelaskan ketenangan di dunia dan dia akan mendapatkan
syurga bagi mereka, karena mereka Allah SWT. golongkan termasuk orang-orang takwa.
5. Al-Qur’an Surat Ali- Imran Ayat 190-191:

‫ب اَلَّ ِذي َْن َي ْذ ُكر ُْو َن هَلَلا قِ َيامًا َّوقُع ُْو ًدا َو َع َل ُخ ُن ْو ِب ِه ْم َو َي َت َف َّكر ُْو َن‬
ِ ‫ت اِل ُ ْولِى ْااْل َ ْل َبا‬ِ ‫ار اَل َ َي‬ ْ ‫ض َو‬
ِ ‫اخ ِتاَل فِ ْالَي ِْل َوال َّن َه‬ ِ ْ‫ت َو ْااَل ر‬ِ ‫اِنَّ فِيْ َخ ْل ِق ال َّس َم َو‬
)191(‫ار‬ ِ ‫اب ال َّن‬َ ‫ك َفقِ َنا َع َذ‬ َ ‫ت َهذابَاطِ اَل ُسب َْح َن‬ َ ‫اخلَ ْق‬
َ ‫ض َر َّب َنا َم‬ ِ ْ‫ت َوااْل َر‬
ِ ‫) فِيْ َخ ْل ِق ال َّس َم َو‬190(

Artinya:” Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
(191)” (Surat Ali- Imran Ayat 190-191)
Penafsiran
Dalam ayat diatas memperbincangkan tentang orang berakal (ulul Albab) orang yang dapat
mengombinasikan antara dzikir dengan berpikir atau sebaliknya, berpikir dengan menggunakan
zikir kepada Allah SWT. dengan menganggungkan kalimah thaibah dalam memulai suatu pekerjaan
atau dalam melakukan suatu pekerjaan. Atau dengan kata lain ketika dia berfikir, meneliti atau
mengkaji alam sekitarnya, akan munculah dzikirnya dan ketika dia berdzikir munculah pikirnya.
Sehingga setiap kali dia sampai kepada suatu kesimpulan maka kajiannya, jiwanya yang paling
dalam berucap “ Hal ini Allah ciptakan dengan tidak sia-sia, semuanya berguna dan bermanfaat
bagi manusia”.
Maka dengan mengutip hal tersebut, dalam media pendidikan merupakan alat media bagi
seorang pendidik untuk membacakan zikir dalam memberikan pengajaran kepada siswa untuk lebih
memberikan ketenangan jiwa siswa tersebut, dengan demikian memudahkan siswa menerima
pelajaran. Ini salah satunya untuk mewujudkan peserta didik yang beriman kepada Allah SWT.,
karena dengan takwa dan beriman kepada Allah SWT. akan mewujudkan peserta didik yang
berakhlak mulia dan berprilaku terpuji.
Hadis yang berhubungan dengan media-media pendidikan

1. َ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل أَتَ ْدرُونَ َما ْال ُم ْفلِسُ قَالُوا ْال ُم ْفلِسُ فِينَا َم ْن اَل ِدرْ هَ َم لَهُ َواَل َمتَا َع فَق‬
‫ال إِ َّن‬ َ ِ ‫عَن أَبِي هُ َر ْي َرة أَ َّن َرسُو َل هَّللا‬
‫ب هَ َذا‬ َ ‫ض َر‬ َ ‫ك َد َم هَ َذا َو‬ َ ‫صيَ ٍام َو َز َكا ٍة َويَأْتِي قَ ْد َشتَ َم هَ َذا َوقَ َذفَ هَ َذا َوأَ َك َل َم‬
َ َ‫ال هَ َذا َو َسف‬ ِ ‫صاَل ٍة َو‬ َ ِ‫س ِم ْن أُ َّمتِي يَأْتِي يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة ب‬
َ ِ‫ْال ُم ْفل‬
‫ط ِر َح فِي‬ ْ ‫ضى َما َعلَ ْي ِه أُ ِخ َذ ِم ْن خَ طَايَاهُ ْم فَطُ ِر َح‬
ُ ‫ت َعلَ ْي ِه ثُ َّم‬ َ ‫ت َح َسنَاتُهُ قَ ْب َل أَ ْن يُ ْق‬ ْ َ‫فَيُ ْعطَى هَ َذا ِم ْن َح َسنَاتِ ِه َوهَ َذا ِم ْن َح َسنَاتِ ِه فَإ ِ ْن فَنِي‬
‫النَّار‬
Artinya;”Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tahukah kalian
apa yang dimaksud dengan al-muflis(bankrut) ?” Sahabat menjawab, “Al-muflis dikalangan
kami orang yang tidak memiliki uang dan harta benda.” Rasulullah bersabda: ”
Sesungguhnya al-muflis dikalangan umatku adalah orang yang datang pada hari qiamat
membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Selain itu, ia juga memfitnah, menuduh (berbuat
maksiat), memakan harta orang lain (dengan cara tidak halal), menumpahkan darah, dan
memukul orang lain. Lalu masing-masing kesalahan itu ditebus dengan kebaikan
(pahala)nya. Setelah kebaikan (pahala)nya habis sebelum kesalahannya terselesaikan, maka
dosa orang dizaliminya itu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan kedalam
neraka.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)
Dalam hadis terlihat bahwa Rasulullah saw memfungsikan dirinya sebagai mediator, Beliau ajukan
pertanyaan kepada para sahabatnya. Beliau dengarkan jawaban mereka, kemudian beliau
menjelaskan inti masalah yng sedang dibicarakan sehingga tidak ada lagi tanda tanya dalam fikiran
para sahabat, melalui beliau peserta didik mendapat informasi. Dengan demikian beliau adalah
media pembelajaran. Kemuadian dapat disimpulkan bahwa media yang diterapkan Nabi agar ajaran
Agamanya dapat diterima dengan mudah oleh umatnya, hal ini dilihat dari perbuatan Nabi sendiri
inilah dapat disebut media, di mana beliau memberikan contoh langsung yang dikenal dengan
istilah uswah hasanah (contoh teladan yang baik).
2. ‫َّاس َرضِ َي هَّللا ُ َع ْن ُه َما َقا َل‬ ٍ ‫ْن َعب‬ ِ ‫س َعنْ أَ ِبي ِه َعنْ اب‬ ٍ ُ‫ْن َطاو‬ ِ ‫َح َّد َث َنا ُم َعلَّى بْنُ أَ َس ٍد َقا َل َح َّد َث َنا وُ َهيْبٌ َعنْ َع ْب ِد هَّللا ِ ب‬
ِ ‫ار ِب َي ِد ِه َعلَى أَ ْنفِ ِه َو ْال َيدَ ي‬
‫ْن‬ +َ ‫ظ ٍم َعلَى ْال َج ْب َه ِة َوأَ َش‬
ُ ْ‫ت أَنْ أَسْ ُج َد َعلَى َسب َْع ِة أَع‬ ُ ْ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم أُمِر‬
َ ُّ‫َقا َل ال َّن ِبي‬
‫اب َوال َّش َع َر‬ ِّ ‫ِت‬
َ ‫الث َي‬ َ ‫ْن َواَل َن ْكف‬ +ِ ‫ْن َوأَ ْط َر‬
ِ ‫اف ْال َق َد َمي‬ ِ ‫َوالرُّ ْك َب َتي‬
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad berkata, telah
menceritakan kepada kami Wuhaib dari 'Abdullah bin Thawus dari Bapaknya dari Ibnu
'Abbas ra, ia berkata, "Nabi saw bersabda: "Aku diperintahkan untuk melaksanakan
sujud dengan tujuh tulang (anggota sujud); kening beliau lantas memberi isyarat
dengan tangannya menunjuk hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari
dari kedua kaki dan tidak boleh menahan rambut atau pakaian (sehingga menghalangi
anggota sujud)."   (HR. Bukhari)
Dalam hadis ini, Rasulullah saw menyebutkan anggota-anggota tubuh yang harus menyentuh lantai
ketika bersujud dalam shalat. Anggota-anggota tubuh itu adalah kening, kedua telapak tangan,
kedua lutut, dan ujung jari kedua kaki. Ketika menyebutkan kening, beliau menunjuk hidung
sebagai penekan bahwa hidung itu juga harus menyentuh lantai. Dalam hal ini beliau telah
menggunakan media hidung dalam pembelajaran terhadap para sahabatnya.
Dalam mendidik dan mengajar, anggota tubuh pendidik dapat menjadi media agar perhatian
peserta didik terpusat dan dapat memahami pelajaran dengan mudah. Sehubungan dengan metode
ini,  terdapat hadis terdapat hadis antara lain:
3. ‫ع َب ْي ِد‬
ُ ‫ْن‬ِ ‫يز الرَّ اسِ ِبيُّ َعنْ أَ ِبي َب ْك ِر ب‬ َّ
ِ ‫ير ْال َواسِ طِ يُّ َح َّد َث َنا م َُح َّم ُد بْنُ ُع َب ْي ٍد ه َُو الط َنافِسِ يُّ َح َّد َث َنا م َُح َّم ُد بْنُ َع ْب ِد ْال َع ِز‬
ٍ ‫َح َّد َث َنا م َُح َّم ُد بْنُ َو ِز‬
‫ار‬َ ‫ْن َوأَ َش‬
ِ ‫ت أَ َنا َوه َُو ْال َج َّن َة َك َها َتي‬
ُ ‫ْن َد َخ ْل‬ ِ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َمنْ َعا َل َج‬
ِ ‫ار َي َتي‬ َ ِ ‫س َقا َل َقا َل َرسُو ُل هَّللا‬ ٍ ‫ْن َمالِكٍ َعنْ أَ َن‬
ِ ‫سب‬ ِ ‫ْن أَ َن‬ ِ ‫هَّللا ِ ب‬
‫بأُصْ ب َُع ْي ِه‬ 
ِ
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Wazir Al Wasithi, telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid Ath Thannafisi, telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz Ar Rasibi dari Abu Bakr bin Ubaidullah bin
Anas bin Malik dari Anas ia berkata; Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang
memelihara dua orang anak wanita, maka aku dan ia akan masuk ke dalam surga
seperti kedua (jari) ini." Beliau sambil memberi isyarat dengan kedua jari telunjuknya.
(HR. At-Tirmidzi)

4. َّ ِ ‫ْن َع ْب ِد هَّللا‬
‫الث َقفِيِّ َقا َل‬ َ ‫ْن مَاعِ ٍز َعنْ ُس ْف َي‬
ِ ‫ان ب‬ ِ ‫الزهْ ِريِّ َعنْ َع ْب ِد الرَّ حْ َم ِن ب‬ ُّ ْ‫اركِ َعنْ َمعْ َم ٍر َعن‬ َ ‫َح َّد َث َنا س َُو ْي ُد بْنُ َنصْ ٍر أَ ْخ َب َر َنا ابْنُ ْال ُم َب‬
ِ ‫ت َيا َرسُو َل هَّللا ِ َما أَ ْخ َوفُ َما َت َخافُ َعلَيَّ َفأ َ َخ َذ ِبلِ َس‬
‫ان‬ ُ ‫ت َيا َرسُو َل هَّللا ِ َح ِّد ْثنِي ِبأ َ ْم ٍر أَعْ َتصِ ُم ِب ِه َقا َل قُ ْل َرب َِّي هَّللا ُ ُث َّم اسْ َتقِ ْم قُ ْل‬ ُ ‫قُ ْل‬
‫ َن ْفسِ ِه ُث َّم َقا َل َه َذا‬ 
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nashr telah mengkhabarkan
kepada kami Ibnu Al Mubarak dari Ma'mar dari Az Zuhri dari Abdurrahman bin Ma'iz
dari Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah,
ceritakan padaku suatu hal yang aku jadikan pedoman. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa salam bersabda: "Katakan: Rabbku Allah kemudian beristiqamahlah." Aku
bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang paling anda takutkan padaku? Beliau memegang
lidah beliau lalu menjawab: "Ini."  (HR. At-tirmidzi)
Dari 2 hadis diatas ketika menjelaskan, Rasulullah saw menggunakan media jari dan lidahnya
”dengan sebab ini” sambil menunjuk lidahnya. Dengan demikian, beliau telah menggunakan media
jari dan lidah untuk menyampaikan pesan. Penggunaan media ini tentu sangat efektif untuk
menjelaskan maksud pelajaran yang diberikan oleh beliau.
5. ‫ص•لَّى هَّللا ُ َعلَ ْي• ِه‬
َ ‫ض َي هَّللا ُ َع ْنهُ َما قَا َل ُسئِ َل النَّبِ ُّي‬
ِ ‫س َر‬ ٍ ‫َح َّدثَنَا ُم َح َّم ُد بْنُ ْال ُمثَنَّى َح َّدثَنَا َع ْب ُد اأْل َ ْعلَى َح َّدثَنَا خَالِ ٌد ع َْن ِع ْك ِر َمةَ ع َْن ا ْب ِن َعبَّا‬
‫ت قَ ْب َل أَ ْن أَ ْن َح َر قَا َل اَل َح َر َج‬ُ ‫ال َحلَ ْق‬
َ َ‫ال اَل َح َر َج ق‬ ُ ‫ْت بَ ْع َد َما أَ ْم َسي‬
َ َ‫ْت فَق‬ ُ ‫َو َسلَّ َم فَقَا َل َر َمي‬
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceri-
takan kepada kami 'Abdul A'laa telah menceritakan kepada kami Khalid dari 'Ikrimah
dari Ibnu 'Abbas ra berkata:"Nabi saw ditanya, kata orang itu:"Aku melempar jumrah
setelah sore". Beliau bersabda: "Tidak dosa". Orang itu berkata, lagi: "Aku mencukur
rambut sebelum menyembelih hewan qurban". Beliau bersabda: "Tidak dosa".   (HR.
Bukhari )
Hadis ini menginformasikan bahwa Nabi saw ditanya tentang dua hal sehubungan dengan
pelaksanaan ibadah haji, yaitu tentang menyembelih hewan sebelum melontar jumrah dan
mencukur rambut sebelum menyembelih, kedua pertanyaan itu secara berurutan dijawab oleh
Rasulullah saw dengan menggunakan isyarat tangan yang berarti “tidak apa-apa atau tidak salah”.
Di sini beliau menggunakan tangan sebagai media pembelajaran.
Media Bukan Manusia
Media  Langit dan Bumi, Allah SWT. berfirman dalam surat Ali Imran: 133:
‫ِين‬ ْ ‫ات َواألرْ ضُ أُعِ د‬
َ ‫َّت ل ِْل ُم َّتق‬ ُ ْ‫ارعُوا إِلَى َم ْغف َِر ٍة مِنْ َر ِّب ُك ْم َو َج َّن ٍة َعر‬
ُ ‫ض َها ال َّس َم َاو‬ ِ ‫َو َس‬
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surge yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.   (QS. Ali-imran :133)
Langit dan Bumi merupakan dua komponen besar di alam ini. Keduanya dapat disaksikan oleh
manusia. Oleh karena itu, keduanya dijadikan media pembelajaran oleh Rasulullah saw. Dimana
Rasulullah saw membangkitkan semangat jihad para sahabat dengan bangkit, berdiri dan mengajak
mereka untuk ke surga. Untuk menggambarkan surga, beliau menggunakan langit dan bumi sebagai
media. Apa yang beliau gambarkan ini sesuai dengan apa yang ditegaskan Allah swt dalam al-
Qur’an surah Ali Imran: 133
Media Matahari dan Bulan
6. َ •‫ت ال َّش ْمسُ يَ••وْ َم َم••اتَ إِ ْب‬
‫•را ِهي ُم‬ ْ َ‫ْت ْال ُم ِغي َرةَ ْبنَ ُش ْعبَةَ يَقُو ُل ا ْن َك َسف‬ ُ ‫َح َّدثَنَا أَبُو ْال َولِي ِد قَا َل َح َّدثَنَا َزائِ َدةُ قَا َل َح َّدثَنَا ِزيَا ُد بْنُ ِعاَل قَةَ قَا َل َس ِمع‬
‫ت‬ِ ْ‫ان لِ َم••و‬ ِ ‫س َو ْالقَ َم َر آيَتَا ِن ِم ْن آيَ••ا‬
ِ َ‫ت هَّللا ِ اَل يَ ْن َك ِس•ف‬ َ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم إِ َّن ال َّش ْم‬
َ ِ ‫ت إِ ْب َرا ِهي َم فَقَا َل َرسُو ُل هَّللا‬
ِ ْ‫ت لِ َمو‬ْ َ‫فَقَا َل النَّاسُ ا ْن َك َسف‬
َ ‫أَ َح ٍد َواَل لِ َحيَاتِ ِه فَإ ِ َذا َرأَ ْيتُ ُموهُ َما فَا ْدعُوا هَّللا َ َو‬
‫صلُّوا َحتَّى يَ ْن َجلِ َي‬
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid berkata, telah menceritakan kepada
kami Zaidah berkata, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin 'Alaqah berkata, "Aku
mendengar al-Mughirah bin Syu'bah berkata, "Telah terjadi gerhana matahari ketika wafatnya
Ibrahim. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua
tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan ia tidak akan mengalami gerhana disebabkan
karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka berdo'alah
kepada Allah dan dirikan shalat hingga (matahari) kembali nampak.”  (HR. Bukhari)
Matahari dan bulan adalah benda  langit yang dapat disaksikan oleh manusia dengan jelas karena
keduanya memiliki cahaya yang terang. Rasulullah saw menggunakan keduanya sebagai media
pembelajaran. Maka dapat disimpulkan dari hadis di atas adalah:
a.       Telah terjadi gerhana matahari pada saat kematian Ibrahim, putra Rasulullah saw.
b.      Sahabat menduga bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim.
c.       Rasulullah saw menegaskan bahwa gerhana matahari dan bulan merupakan tanda-tanda
kebesaran Allah.
d.      Peristiwa gerhana itu tidak ada hubungannya dengan kematian atau kelahiran seseorang.
7. ‫ح َّد َث َنا‬َ ‫اريُّ ْالقُ َرشِ يُّ اإْل ِسْ َك ْن َد َرانِيُّ َقا َل‬ ِ ‫ْن َع ْب ٍد ْال َق‬ ِ ‫ْن َع ْب ِد هَّللا ِ ب‬ ِ ‫َح َّد َث َنا قُ َت ْي َب ُة بْنُ َسعِي ٍد َقا َل َح َّد َث َنا َيعْ قُوبُ بْنُ َع ْب ِد الرَّ حْ َم ِن ب‬
ِ ‫ْن م َُح َّم ِد ب‬
‫ك َف َقا َل َوهَّللا ِ إِ ِّني‬َ ِ‫أَنَّ ِر َجااًل أَ َت ْوا َس ْه َل ب َْن َسعْ ٍد السَّاعِ دِيَّ َو َق ْد ا ْم َت َر ْوا فِي ْال ِم ْن َب ِر ِم َّم عُو ُدهُ َف َسأَلُوهُ َعنْ َذل‬ ‫ار‬ ٍ ‫از ِم بْنُ دِي َن‬
ِ ‫أبُو َح‬
َ

ُ ‫صلَّى هَّللا‬ َ ِ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم أَرْ َس َل َرسُو ُل هَّللا‬ َ ِ ‫س َعلَ ْي ِه َرسُو ُل هَّللا‬ َ َ‫أَل َعْ ِرفُ ِممَّا ه َُو َولَ َق ْد َرأَ ْي ُت ُه أَوَّ َل َي ْو ٍم وُ ضِ َع َوأَ َّو َل َي ْو ٍم َجل‬
َ ‫ت ال َّن‬
‫اس‬ ُ ْ‫ار أَنْ َيعْ َم َل لِي أَعْ َوا ًدا أَجْ لِسُ َعلَي ِْهنَّ إِ َذا َكلَّم‬ َ َّ‫ار َق ْد َسمَّا َها َس ْه ٌل م ُِري غُاَل مَكِ ال َّنج‬ ِ ‫ص‬ َ ‫َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم إِلَى فُاَل َن َة ا ْم َرأَ ٍة مِنْ اأْل َ ْن‬
ُ ‫ت َها ُه َنا ُث َّم َرأَي‬
‫ْت‬ ْ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َفأ َ َم َر ِب َها َفوُ ضِ َع‬ َ ِ ‫ُول هَّللا‬
ِ ‫ت إِلَى َرس‬ ْ َ‫َفأ َ َم َر ْت ُه َف َع ِملَ َها مِنْ َطرْ َفا ِء ْال َغا َب ِة ُث َّم َجا َء ِب َها َفأَرْ َسل‬
‫صلَّى َعلَ ْي َها َو َكب ََّر َوه َُو َعلَ ْي َها ُث َّم َر َك َع َوه َُو َعلَ ْي َها ُث َّم َن َز َل ْال َق ْه َق َرى َف َس َج َد فِي أَصْ ِل ْال ِم ْن َب ِر ُث َّم‬ َ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ِ ‫َرسُو َل هَّللا‬
‫ت‬ِ ‫صاَل‬ َ ‫ت َه َذا لِ َتأْ َتمُّوا َولِ َت َعلَّمُوا‬ َ ‫اس َف َقا َل أَ ُّي َها ال َّناسُ إِ َّن َما‬
ُ ْ‫ص َنع‬ ِ ‫َعادَ َفلَمَّا َف َر َغ أَ ْق َب َل َعلَى ال َّن‬
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id berkata, telah menceritakan
kepada kami Ya'qub bin 'Abdurrahman bin Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Qari al-
Qurasyi al-Iskandarani berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim bin Dinar bahwa
ada orang-orang mendatangi Sahl bin Sa'd As Sa'idi yang berdebat tentang mimbar dan bahan
membuatnya? Mereka menanyakan hal itu kepadanya. Sahl lalu berkata, "Demi Allah, akulah
orang yang paling mengerti tentang masalah ini. Sungguh aku telah melihat hari pertama
mimbar tersebut dipasang dan hari saat Rasulullah saw duduk di atasnya. Rasulullah saw
mengutus orang untuk menemui seorang wanita Anshar, yang namanya sudah disebutkan oleh
Sahl, Sahl lalu berkata, "Perintahkanlah budak lelakimu yang tukang kayu itu untuk membuat
mimbar bertangga, sehingga saat berbicara dengan orang banyak aku bisa duduk di atasnya."
Maka kemudian wanita itu memerintahkan budak lelakinya membuat mimbar yang terbuat dari
batang kayu hutan. Setelah diberikan kepada wanita itu, lalu itu mengirimnya untuk Rasulullah
saw. Maka Beliau memerintahkan orang untuk meletakkan mimbar tersebut di sini. Lalu aku
melihat Rasulullah saw shalat diatasnya. Beliau bertakbir dalam posisi di atas mimbar lalu
rukuk dalam posisi masih di atas mimbar. Kemudian Beliau turun dengan mundur ke belakang,
lalu sujud di dasar mimbar, kemudian Beliau mengulangi lagi (hingga shalat selesai). Setelah
selesai, beliau menghadap kepada orang banyak lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia,
sesungguhnya aku berbuat seperti tadi agar kalian mengikuti dan agar kalian dapat mengambil
pelajaran tentang tata cara shalatku."  (HR. Bukhari)
Hadis di atas menginformasikan bahwa Rasulullah saw mendidik para sahabat agar menjadi orang
yang pemurah. Beliau memotivasi mereka untuk bersedekah. Dalam menyampaikan materi
tersebut, beliau menggunakan mimbar sebagai media. Hal ini dilakukan agar sahabat dapat melihat
beliau dengan jelas, sehingga informasi yang disampaikan dapat diterima secara baik.
8. ‫ِع‬َ ‫ْن ُز َري ٍْر َيعْ نِي ْال َغافِقِيَّ أَ َّن ُه َسم‬ ِ ‫ب َعنْ أَ ِبي أَ ْفلَ َح ْال َه ْمدَانِيِّ َعنْ َع ْب ِد هَّللا ِ ب‬ ٍ ‫ْن أَ ِبي َح ِبي‬ ِ ‫ْث َعنْ َي ِزي َد ب‬ ُ ‫َح َّد َث َنا قُ َت ْي َب ُة بْنُ َسعِي ٍد َح َّد َث َنا اللَّي‬
‫ه َوأَ َخ َذ َذ َهبًا َف َج َعلَ ُه فِي‬+ِ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم أَ َخ َذ َح ِريرً ا َف َج َعلَ ُه فِي َيمِي ِن‬َ ِ ‫ب َرضِ َي هَّللا ُ َع ْن ُه َيقُو ُل إِنَّ َن ِبيَّ هَّللا‬ ٍ ِ‫َعلِيَّ ب َْن أَ ِبي َطال‬
‫ور أ ُ َّمتِي‬ ُ
ِ ‫ْن َح َرا ٌم َعلَى ذ ُك‬ ِ ‫شِ َمالِ ِه ُث َّم َقا َل إِنَّ َه َذي‬
Artinya:”Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id berkata, telah menceritakan
kepada kami al-Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Aflah Al Hamdani dari Abdullah bin
Zurair -yaitu al-Aghafiqi- Bahwasanya ia mendengar Ali bin Abu Thalib ra, "Rasulullah
pernah mangambil sutera lalu meletakkannya pada sisi kanannya, dan mengambil emas lalu
meletakkannya pada sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda: "Sesugguhnya dua barang ini
haram bagi umatku yang laki-laki." (HR. Abu Dawud)[11]
Dalam hadis ini Rasulullah saw menyebutkan dengan tegas bahwa sutra dan emas itu bukan pakaian
kaum laki-laki, beliau memegang kedua benda itu, masing-masing benda di tangan kiri dan kanan,
lalu menegaskan kedua barang ini diharamkan bagi umatnya yang laki-laki. Itu berarti bahwa
Rasulullah saw telah menggunakan media barang sebenarnya untuk mempermudah para sahabat
memahaminya.
Media Manusia
9. ‫ َيعُو ُدهُ َم َع‬- ‫ صلى هللا عليه وسلم‬- ُّ‫ش ْك َوى َل ُه َفأ َ َتاهُ ال َّن ِبى‬ َ ‫ َقا َل ا ْش َت َكى َسعْ ُد بْنُ ُع َبا َد َة‬- ‫ رضى هللا عنهما‬- ‫ْن ُع َم َر‬ ِ ‫َعنْ َع ْب ِد هَّللا ِ ب‬
َ
‫ َفلَمَّا َد َخ َل َعلَ ْي ِه َف َو َج َدهُ فِى َغاشِ َي ِة أهْ لِ ِه‬- ‫ رضى هللا عنهم‬- ‫ْن َمسْ عُو ٍد‬ ِ ‫اص َو َع ْب ِد هَّللا ِ ب‬ ٍ ‫ْن أ ِبى َو َّق‬ َ ِ ‫ف َو َسعْ ِد ب‬ ٍ ‫ْن َع ْو‬ ِ ‫َع ْب ِد الرَّ حْ َم ِن ب‬
َّ َ َ ْ َ َ َ
‫ صلى هللا عليه‬- ِّ‫ فلمَّا َرأى الق ْو ُم ُبكا َء الن ِبى‬- ‫ صلى هللا عليه وسلم‬- ُّ‫ ف َبكى الن ِبى‬. ِ ‫ قالوا ال َيا َرسُو َل‬. » ‫ضى‬ َّ َ َ ‫هَّللا‬ َ ُ َ َ ‫َف َقا َل « َق ْد َق‬
َ‫ أ ْو‬- ‫ار إِلَى ل َِسا ِن ِه‬ َ ِّ
َ ‫ َوأ َش‬- ‫ َولَكِنْ ي َُعذبُ ِب َه َذا‬، ‫ب‬ ْ ْ
ِ ‫ َوالَ ِبح ُْز ِن ال َقل‬، ‫ْن‬ ْ ِّ
ِ ‫ُون إِنَّ َ الَ ُي َعذبُ ِب َدم ِْع ال َعي‬ ‫هَّللا‬ َ
َ ‫ َب َك ْوا َف َقا َل « أالَ َتسْ َمع‬- ‫وسلم‬
‫ار ِة َو َيحْ ثِى‬ ْ
َ ‫ َو َيرْ مِى ِبالح َِج‬، ‫صا‬ ْ
َ ‫ َيضْ ِربُ فِي ِه ِبال َع‬- ‫ رضى هللا عنه‬- ‫ان ُع َم ُر‬ َ ‫ َوك‬. » ‫ِّت ي َُع َّذبُ ِب ُب َكا ِء أَهْ لِ ِه َعل ْي ِه‬
َ َ َ ‫َيرْ َح ُم َوإِنَّ ْال َمي‬
ِ ‫رواه ( البخارى ومسلم) ِبال ُّت َرا‬
‫ب‬
Artinya:”Dari Abdullab bin Umar RA. dia berkata. Sa’ad bin Ubadah menderita sakit. Lalu,
Nabi SAW datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan
Abdullah bin Mas'ud RA. Ketika beliau SAW masuk menemuinya, maka beliau mendapatinya
sedang diliputi (dikelilingi) keluarganya. Beliau SAW bertanya, Apakah ia telah meninggal?’
Mereka menjawab, ‘Tidak. wahai Rasulullah! Nabi SAW pun menangis. Ketika orang melihat
Nabi SAW menangis, maka mereka pun turut menangis. Maka beliau SAW bersabda. Apukah
kalian tidak mendengar sesungguhnva Allah tidak menyiksa dengan sebab air mata dan tidak
pula sebab kesedihan hati, akan tetapi Dia menyiksa dengan sebab ini- seraya mengisyaratkan
dengan lidahnya - atau memberi rahmat. Sesungguhnya mayit disiksa dengan sebab tangisan
keluarganya kepadanya. Umar bin Khaththab memukul orang dengan karena hal tersebut dan
melempari dengan batu serta dengan tanah (Diriwayatkan Bukhari Muslim)
Adapun penjelasan kalimat “(Melihat Nabi SAW menangis, maka mereka turut menangis)” ini
menunjukkan bahwa kisah ini terjadi setelah kisah Ibrahim (putra Nabi SAW) sebab Abdurrahman
bin Auf turut hadir di sini. Narnun dia tidak menanyakan kepada Nabi SAW seperti yang
ditanyakan pada kisah Ibrahim.hal ini menunjukkan dia tel ah mengetahui bahwa tangisan sekedar
mengeluarkan air mata tidaklah dilarang. Nabi bersabda”tidakkah kalian mendengar” yakni apakah
kalian tiadak mendengarkan dengan sebaik-baiknya.
Kalimat ini menunjukkan bahwa Nabi SAW melihat sebagian mereka mengingkari apa yang
beliau lakukan. Oleh sebab itu, beliau SAW menjelaskan kepada mereka perbedaan antara tangisan
yang dilarang dan tangisan yang diperbolehkan. (menyiksa dengan sebab lni), yakni jika ia
mengucapkan perkataan yang tidak baik. (atau merahmati), jika Ia mengucapkan perkataan
yang baik. Namun ada pula kemungkinan makna perkataannya. “Atau merahmti”, yakni jika
ancaman yang dijanjikan tidak diwujudkan. (sesungguhnya mayit disiksa dengan sebab tangisan
keluarga- nya kepadanya), yakni hal itu berbeda dengan tangisan selain keluarganya. Hal ini
serupa dengan kisah Abdullah bin Tsabit yang dikutip oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa’
ِ ‫و َل هَّللا‬+ ‫ا َر ُس‬++‫ت َي‬ ُ ‫ قُ ْل‬.» ‫ َقا َل « قُ ْل َرب َِّى هَّللا ُ ُث َّم اسْ َتقِ ْم‬.ِ‫ت َيا َرسُو َل هَّللا ِ َح ِّد ْثنِى ِبأ َ ْم ٍر أَعْ َتصِ ُم ِبه‬
ُ ‫الث َقفِىِّ َقا َل قُ ْل‬َّ ِ ‫ْن َع ْب ِد هَّللا‬ ِ ‫ان ب‬َ ‫َعنْ ُس ْف َي‬ .10
َ
(‫ رواه الترمذى وأحمد‬.» ‫ان َن ْفسِ ِه ث َّم َقا َل « َهذا‬ ُ ِ ِ ‫س‬
َ ِ ‫ل‬ ‫ب‬ َ
‫ذ‬ َ
‫خ‬ َ ‫أ‬ َ
‫ف‬ َّ‫ى‬َ ‫ل‬ ‫ع‬
َ ُ‫اف‬ َ
‫خ‬ َ
‫ت‬ ‫ا‬ ‫م‬
َ ُ‫ف‬ ‫و‬َ ْ
‫خ‬ َ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫م‬
َ
Artinya:”Dari Sufyan ibn Abdillah al-Tsaqafiy, ia berkata: Saya berkata: Wahai Rasulullah!
Beritahukanlah kepadaku suatu hal yang akan saya pegang selalu. Beliau bersabda:
Katakanlah! Tuhanku adalah Allah, kemudian beristiqamahlah (konsistenlah dengan
pengakuan itu). Saya bertanya lagi, Ya Rasulullah! Apa yang paling Engkau khawatirkan
tentang diri saya? Maka ia memegang lidahnya kemudian berkata, "ini".
ْ ُ ‫ار ِبأ‬
‫ب َُع ْي ِه َيعْ نِى‬+‫ص‬ َ +‫ َوأَ َش‬.» ‫ْن‬ ِ ‫ا َتي‬++‫ ُل ْال َيت ِِيم فِى ْال َج َّن ِة َك َه‬+ِ‫ا َو َكاف‬++‫ « أَ َن‬-‫لم‬++‫ه وس‬++‫صلى هللا علي‬- ِ ‫ْن َسعْ ٍد َقا َل َقا َل َرسُو ُل هَّللا‬ ِ ‫َعنْ َسه ِْل ب‬ .11
‫ رواه الترمذى وأبو داود وأحمد‬.‫ال َّسبَّا َب َة َو ْالوُ سْ َطى‬
Artinya:”Dari Sahl ibn Sa'ad, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Aku dan pemelihara anak
yatim dalam sorga seperti ini. Beliau mengisyaratkan kedua jarinya yang dirapatkan, yaitu:
telunjuk dan jari tengah.
Pada hadist diatas Nabi SAW memberikan pelajaran kepada sahabat tentang sesuatu yang tidak
mereka ketahui, Nabi juga memakai media yakni mengisyaratkan dengan jari dan
lidahnya.Dikatakan bahwa posisi orang yang memelihara anak yatim, memiliki kedudukan yang
tinggi dalam islam dan bakal menempati tempat terhormat dalam sorga nantinya, yakni
berdampingan dengan Nabi, ketinggian dan kehormatan itu digambarkan oleh Rasulullah
SAW.bagaikan dua jari tangan (telunjuk dan jari tengah yang dirapatkan) dalam hal ini, kedua jari
tengah dijadikan media oleh Rasulullah SAW. Dengan demikian para sahabat dapat memahami
dengan mudah isi pelajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.
Analisis Kependidikan
Kehadiran media dalam pembelajaran mempunyai arti yang cukup penting, karena dalam kegiatan
tersebut ketidak jelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media seba-
gai perantara. Kerumitan bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik itu dapata
disederhanakan dengan bantuan media. Media pengajaran dapat mempertinggi hasil belajar yang
dicapainya. Ada beberapa alasan yang mendukung :
a) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi
belajar
b) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa
c) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata komunikasi verbal
d) Siswa lebih banyak kegiatan belajar, tidak hanya mendengarkan tapi juga beraktivitas
mengamati dan mendemonstrasikan. Wassalam