Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TAFSIR AYAT TARBAWI II

TUJUAN PENDIDIKAN Qs. Ali Imran 3:


138-139; QS. Al-Fath, 48: 49, QS. Al-Hajj,
22 : 41, QS. Hud, 11:61
MAKALAH
TAFSIR AYAT TARBAWI II
TUJUAN PENDIDIKAN
Qs. Ali Imran 3: 138-139; QS. Al-Fath, 48: 49, QS. Al-Hajj, 22 : 41, QS.
Hud, 11:61
 
 
Dosen pembimbing:
Drs. H. Manan Syafi’i, MA. P.hd
 
 
Disusun Oleh :
Kelompok II
1. Ikrima Hidayah
2. Alhamidi
3. Ahmad Ardi B
 
PAI III B
 
 
YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM (YPI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
MUARA BULIAN BATANG HARI
TAHUN AKADEMIK 2014

KATA PENGANTAR
 
 
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan berlimpah nikmat berupa kesehatan jasmani maupun rohani kepada
Kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sampai selesai. Sholawat
dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi akhir zaman Muhammad
SAW.

Kami menyadari tersusunnya makalah ini bukanlah semata-mata hasil jerih


payah kami sendiri, melainkan berkat bantuan berbagai pihak. Untuk itu, Kami
menghaturkan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
Kami dalam penyusunan makalah ini.

Semoga Allah SWT memberikan pahala yang setimpal dan menjadikan amal
sholeh bagi semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam penyelesaian
makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amiin Ya Rabbal’alamin.

Muara Bulian,     September 2014

Penulis

 
 
 
 
 
DAFTAR ISI
 
 
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………
……       i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………
……      ii
 
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang………………………………………………………………….. 1
2. Rumusan
Masalah…………………………………………………………….. 1
BAB II PEMBAHASAN
139. Penafsiran q.s. Ali imran: 138-139……………………………………….
2
140. Penafsiran q.s. Al fath :
29………………………………………………….. 6
141. Kandungan al-qur’an surat al-hajj (22) ayat 41………………………. 10
142. Kandungan surat hud
61…………………………………………………….. 13
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan………………………………………………………………
……….. 15
DAFTAR PUSTAKA
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Seperti kita ketahui sendiri, Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, dengan perantara Malaikat Jibril AS secara
berangsur-angsur, berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas atas
petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara yang haq dan bathil agar bisa
membebaskan manusia dari kesesatan menuju jalan yang lurus. Atas dasar
tersebut, maka kami mencoba membahas Tafsir Surat Ali Imran ayat 138-139
yang menjelaskan tentang salah satu fungsi Al-Qur’an dari sekian banyak fungsi
lainnya yaitu sebagai petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang benar agar
kita menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Dan juga Tafsir surat Al Fath ayat 29 yang menjelaskan tentang pribadi
Rasulullah Saw dan para sahabat beliau. Beliau adalah seorang manusia biasa,
hanya saja beliau di beri wahyu oleh Allah Swt dan menjadi utusan-Nya. Beliau
adalah Nabi penutup dan sekaligus Rasul yang terakhir. Beliau diangkat
menjadi utusan Allah itu tidak untuk dipuji oleh sekalian umatnya, tidak untuk
disanjung dan dijunjung tinggi sampai setinggi langit, serta tidak untuk di dewa-
dewakan, atau senantiasa diperingati hari lahirnya oleh segenap pengikutnya,
tetapi untuk diikuti kepeminpinannya dalam urusan beriman kepada Allah,
untuk dituruti tuntunannya dalam hal cara beribadah kepada-Nya, serta untuk
dicontoh akhlak dan budi pekertinya dalam cara bergaul dan bermasyarakat
dengan manusia.

1. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dapat
penulis rumuskan adalah sebagai berikut :

1. Apa penafsiran Q.S. Ali Imran ayat 138-139 itu?


2. Apa penafsiran Q.S Al Fath ayat 29 itu?
3. Al-Hajj, 22:41?
4. Hud, 11:61?
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENAFSIRAN Q.S. ALI IMRAN: 138-139
2. Teks Surat Ali Imran Ayat 138-139
#x‹»yd ×b$u‹t Ĩ$¨Y=Ïj9 “Y‰èdur ×psàÏãöqtBur šúüÉ)GßJù=Ïj9 ÇÊÌÑÈ
Ÿwur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRt“øtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä.
tûüÏZÏB÷s•B ÇÊÌÒÈ

“(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran


bagi orang-orang yang bertakwa (138). Dan Janganlah kamu merasa lemah
dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang
paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139).
2. Tafsir Surat Ali Imran Ayat 138-139
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa (138).
Al-Qur’an ini adalah penerang bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah
kutipan peristiwa kemanusiaan telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak
dapat mengetahuinya jika tidak akan penerangan (penjelasan) yang
menunjukannya. Akan tetapi, hanya segolongan manusia tertentu saja yang
mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajarn dari padanya,
mendapatkan manfaat dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah golongan
“muttaqin” yaitu orang-orang yang bertaqwa.
Hal ini sesuai pandangan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 2

َ‫ْب فِي ِه هُدًى لِ ْل ُمتَّقِين‬


َ ‫ك ْال ِكتَابُ اَل َري‬
َ ِ‫َذل‬

“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang
yang bertaqwa”
Selain itu Rasulullah SAW bersabda:

ِ ‫ت فِي ُك ْم أَ ْم َري ِْن لَ ْن ت‬


‫َضلُّوا َما تَ َم َّس ْكتُ ْ‡م بِ ِه َما‬ َ ِ ‫ع َْن َمالِك أَنَّهُ بَلَ َغهُ أَ َّن َرسُو َل هَّللا‬
ُ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل تَ َر ْك‬
‫َاب هَّللا ِ َو ُسنَّةَ نَبِيِّه‬
‡َ ‫ِكت‬

            “Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah


SAW Bersabda: “Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu
takkan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu
Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”
Surat Ali Imran ayat 138 juga memerintahkan untuk mempelajari sunnatullah
atau yang biasa disebut oleh seorang ilmuwan yang bernama Alexis Carrel
sebagai hukum-kukum kemasyarakatan/alam/materi. Hukum-hukum Alam yaitu
hukum-hukum yang bersifat umum dan pasti, tidak ada satu pun, di negeri
manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila melanggarnya. Manusia yang
tidak bisa membedakan antara yang halal dan haram, yang baik dan buruk,
mereka akan terbentur oleh malapetaka, bencana dan kematian. Ini semata-mata
adalah sanksi otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari mereka yang
melanggar hukum-hukum alam. Tiadk heran hal ini diungkap Al-Qur’an, karena
Al-Qur’an mengatur kehidupan masyarakat dan berfungsi mengubah
masyarakat dan anggota-anggotanya dari kegelapan menuju cahaya, dari
kehidupan negatif menjadi positif.

Pernyataan Allah: (Al-Qur’an) Ini adalah penjelasan bagi manusia juga


mengandung makna bahwa Allah tidak akan langsung menjatuhkan sanksi
sebelum manusia mengetahui sanksi itu. Karena terlebih dahulu Allah akan
memberikan petunjuk jalan dan peringatan (Hidayah-Nya). Dan Janganlah
kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu
adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman
(139.
Uraian yang diantar oleh ayat sebelumnya yang menguraikan tentang
adanya Sunnatullah atau hukum alam yang berlaku kepada manusia. Kalau pada
perang uhud Kaum Muslimin tidak meraih kemenangan, bahkan menderita luka
dan banyak yang mati syahid, walaupun dalam perang Badar mereka meraih
kemenangan dan berhasil menawan dan membunuh sekian banyak lawan
mereka, karena itu adalah bagian dari Sunnatullah. Namun demikian, mereka
tidak perlu berputus asa. Karena itu, Janganlah kamu merasa
lemah, menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan
janganlah kamu bersedih hati akibat apa yang kamu alami perang Uhud, atau
peristiwa lain yang serupa, tapi kuatkan mentalmu untuk berusaha yang lebih
baik. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah
baik di dunia maupun akhirat, di dunia karena kamu memperjuangakan
kebenaran dan di akhirat karena kamu akan mendapatkan surga. Jadi mengapa
kamu bersedih hati sedangkan yang gugur diantara kamu akan menuju surga
dan yang luka akan mendapat luka akan mendapat ampunan dari Allah SWT.
Ini jika kamu (benar-benar) beriman, yakni jika keimanannya benar-benar
mantap dalam hatinya. Maka dari itu, kamu tidaklah perlu bersikap lemah dan
bersedih hati atas apa yang menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah
orang-orang yang paling tinggi derajatnya. Aqidahmu lebih tinggi karena kamu
hanya menyembah kepada Allah saja. Sedangkan mereka menyembah kepada
selain Allah. Maka jika kamu benar-benar beriman maka kamu akan ditinggikan
derajatnya dan tidak akan mersa sedih karena semua itu adalah sunnatullah yang
bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, hanya
kamulah yang akan mendapat akibat (balasan kebaikan) setalah berijtihad dan
berusaha keras dalam menempuh ujian.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

ِ ‫ك َوا ْستَ ِع ْن بِاهَّلل‬ َ ‫يف َوفِي ُكلٍّ خَ ْي ٌر احْ ِرصْ َعلَى َما يَ ْنفَ ُع‬ ِ ‫ض ِع‬َّ ‫ْال ُم ْؤ ِم ُن ْالقَ ِويُّ َخ ْي ٌر َوأَ َحبُّ إِلَى هَّللا ِ ِم ْن ْال ُم ْؤ ِم ِن ال‬
‫ت َكانَ َك َذا َو َك َذا َولَ ِك ْن قُلْ قَ َد ُر هَّللا ِ َو َما َشا َء فَ َع َل فَإِ َّن لَوْ تَ ْفتَ ُح‬ ُ ‫ك َش ْي ٌء فَاَل تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَ َع ْل‬ َ َ‫صاب‬َ َ‫َواَل تَ ْع َج ْز َوإِ ْن أ‬
‫َع َم َل ال َّش ْيطَان‬

“Orang mu’min yang kuat (hatinya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah
daripada orang mu’min yang lemah dan didalam keduanya terdapat kebaikan
(karena sama-sama beriman), dan bersemangatlah atas apa-apa yang akan
bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah
kamu berputus asa dan jika kamu sedang mendapat cobaan maka janganlah
kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat seperti ini dan seperti itu” akan
tetapi katakanlah “ini semua adalah kuasa Allah dan merupakan kehendak-
Nya” karena sesungguhnya mengandai-andai akan membuka (pintu) godaan
dari perbuatan syetan”.
Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi:
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa (138).
Mempelajari sejarah umat-umat terdahulu dan melihat berkasnya dengan
melawat mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk
dan pengajaran. Ilmu kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup
manusia didalam alam ini. Dalam ayat ini kita berjumpa dengan anjuran
mengetahui mengetahui beberapa ilmu penting. Pertama, sejarah; kedua, ilmu
bekas peninggalan sejarah; ketiga ilmu siasat perang; keempat, ilmu siasat
mengendalikan Negara. Di dalam sejarah misalnya banyak kita temui hal-hal
penting. Meskipun tidak seluruhnya ditulis di Al-Qur’an hanya berkenaan
dengan perjuangan Rasul-rasul., misalnya perjuangan Nabi Musa AS menentang
kezhaliman raja Fir’aun, atau Nabi Ibrahim AS menghadapi kamunya dan Raja
Namrud, namun yang tidak tertuils dalm Al-Qur’an dapat kita cari dari bahan
lain. Misalnya penyerbuan tentara Iskandar Macedonia dari Barat ke Timur.
Mengapa Iskandar yang tentaranya tidak mencukupi 100.000 orang bisa
mengalahkan tentara Darius, Raja Persia, yang jumlahnya hampir setengah juta?
sebab tentara Iskandar ringan, sigap, lincah. Sedangkan tentara Darius telah
berat oleh pakaian dan perhiasan. Darius hanya menggantungkan kekuatan
hanya kepada banyaknya jumlah tentara, padahal Iskandar mempunyai disiplin
yang teguh dan tentara yang cekatan. Al-Qur’an telah memberikan petunjuk
kepada kita tentang masalah-masalah strategi pertempuran menghadapi musuh,
sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini, kita dianjurkan
mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan
dalam membela kebenaran. Dan Janganlah kamu merasa lemah dan bersedih
hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
(benar-benar) beriman (139).
Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat,
karena hal tersebut akan mengakibatkan seseorang kehilangan semangatnya.
Sebaliknya Allah tidak melarang hubungan seseorang dengan apa yang
dicintainya, yaitu harta, kekayaan, atau teman yang dapat memulihkan
kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan kegembiraan. Untuk itu kalian
adalah orang-orang yang lebih utama memiliki keteguhan tekad lantaran
pengetahuan kalian tentang balasan yang baik dan berpegang pada kebenaran.
Sekali waktu kemenangan berada pada pihak yang bathil, begitu pula sebaliknya
karena semua itu adalah Sunatullah. Sesungguhnya hari kemenangan hanyalah
bagi orang yang mengetahui dan mau memelihara sebab-sebab keberhasilan
dengan sebaik-baiknya seperti kesepatan, tidak pernah berselisih, teguh, selalu
berfikir, kuat tekadnya, dan mengambil persiapan serta menyusun segala
kekuatan yang ada untuk menghadapinya.
1. PENAFSIRANS. AL FATH : 29
2. Teks Surat Al Fath ayat 29
Ó‰£Jpt’C ãAqß™§‘ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£‰Ï©r& ’n?tã Í‘$
¤ÿä3ø9$# âä!$uHxqâ‘ öNæhuZ÷t ( öNßg1ts? $Yè©.â‘ #Y‰£Úß™
tbqäótGö6tƒ WxôÒsù z`ÏiB «!$# $ZRºuqôÊÍ‘ur ( öNèd$yJ‹Å™ ’Îû OÎgÏdqã_ãr
ô`ÏiB ̍rOr& ÏŠqàf¡9$# 4 y7Ï9ºsŒ öNßgè=sVtB ’Îû Ïp1u‘öqG9$# 4
öàSè=sVtBur ’Îû È@ŠÅgUM}$# ?íö‘t“x. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx© ¼çnu‘y—
$t«sù xán=øótGó™$$sù 3“uqtFó™$$sù 4’n?tã ¾ÏmÏ%qß™ Ü=Éf÷èãƒ
tí#§‘–“9$# xáŠÉóu‹Ï9 ãNÍkÍ5 u‘$¤ÿä3ø9$# 3 y‰tãur ª!$# tûïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur
$JJ‹Ïàtã ÇËÒÈ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama
mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas
sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam lnjil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu
menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas
pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah
hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu’min).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
2. Tafsir Surat Al Fath ayat 29
Menurut al-Hâkim dan lain-lain dari al-Miswar bin Makhramah dan Marwân
bin al-Hakam, surat al-Fath ini mulai dari awal hingga akhir diturunkan antara
Makkah dan Madinah dalam konteks perjanjian damai Hudaibiyyah. Perjanjian
ini kelak mengantarkan penaklukan kota Makkah dan tampilnya negara Islam
sebagai adidaya baru di Jazirah Arab.
Agar dapat dipahami konteksnya, ayat ini harus dihubungkan dengan ayat
sebelumnya, yang dalam istilah ‘Ulûm al-Qur’ân disebut Munâsabât bayn al-
âyah, yaitu  ayat:
ْ ‫ق لِي‬
( ‫ُظ ِه َرهُ َعلَى ال ِّدي ِْن ُكلِّ ِه َو َكفَى بِاهللِ َش ِه ْيدًا‬ ِّ ‫هُ َو الَّ ِذيْ أَرْ َس َل َرسُوْ لَهُ بِ ْالهُدَى َو ِدي ِْن ْال َح‬
)                   Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa
kebenaran dan agama yang haq untuk memenangkannya atas agama-agama
yang ada seluruhnya. Cukuplah Allah sebagai saksinya. (QS al-Fath : 28).
Dari sinilah frasa Muhammad[un] Rasûlullâh (Muhammad Rasulullah) dapat 
dipahami kedudukannya sebagai kalimat penjelas (jumlah mubayyinah)
terhadap Rasul yang diutus oleh Allah dengan membawa hidayah dan agama
yang haqq. Mengenai kata Muhammad[un] dalam ayat di atas, sebagian ulama
tafsir mempunyai dua pandangan. Ada yang menyatakannya sebagai subyek
(mubtada’), dengan kata  Rasûlullâh merupakan predikat (khabar), ada juga
yang menyatakan, bahwa kata Muhammad[un] adalah subyek
(mubtada’), Rasûlullâh adalah sifat subyek, sedangkan predikatnya
adalah asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika kita memilih pendapat yang pertama, 
konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah. Sebaliknya, jika pendapat kedua
yang dipilih, konotasinya: Muhammad, Rasulullah.
Sementara itu, frasa walladzîna ma‘ah[u] (dan orang-orang yang bersamanya),
dengan diawali huruf waw di depannya, ada yang menyatakan sebagai subyek
kedua setelah subyek pertama, yaitu: Muhammad[un]; kemudian frasa asyiddâ’
‘alâ al-kuffâr—menurut pendapat ini—kedudukannya sebagai predikat kedua
setelah predikat pertama, yakni kata Rasûlullâh. Namun, ada juga yang
menyatakan, bahwa frasa walladzîna ma’ah[u] adalah ma‘thûf ‘alayh (frasa
yang dihubungkan) dengan Muhammad[un] sehingga subyek dan predikatnya
hanya satu, masing-masing adalah Muhammad[un]dan asyiddâ’ ‘alâ al-
kuffâr. Jika dipilih alternatif pertama, konotasinya: Muhammad adalah utusan
Allah dan orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang
sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka. Jika
pilihan kedua yang diambil, konotasinya: Muhammad, utusan Allah, dan orang-
orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras
terhadap orang kafir dan sangat mencintai sesama mereka.
Inilah hasil pembacaan terhadap struktur lafal yang berbeda dan implikasinya
terhadap makna yang terdapat dalam ayat tersebut. Hanya saja, perbedaan
tersebut tidak membawa implikasi yang serius terhadap makna ayat di atas
secara keseluruhan. Di sisi lain, as-Suyûthi, menjelaskan bahwa
dinyatakannya: asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang Kafir)
dan ruhamâ’ baynahum (mencintai sesama mereka), menunjukkan keunikan
sifat Rasulullah dan para sahabat, yang memadukan ketegasan dan kekerasan
(terhadap orang kafir) dengan kasih-sayang (terhadap sesama Muslim).
Seandainya hanya dinyatakan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-
orang kafir), tentu akan menimbulkan persepsi, seakan-akan mereka adalah
orang-orang yang kasar. Karena itu, dengan dinyatakan, ruhamâ’
baynahum (mencintai sesama mereka), kesan tersebut hilang. Struktur seperti
ini, persis seperti yang digunakan oleh Allah dalam ayat lain:
( َ‫) أَ ِذلَّةٌ َعلَى ْال ُم ْؤ ِمنِ ْينَ أَ ِع َّزةٌ َعلَى ْال َكافِ ِر ْين‬

Yang bersikap lemah-lembut kepada orang Mukmin dan yang bersikap keras
terhadap orang-orang kafir. (QS al-Maidah: 54).
Lalu apa maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (sangat keras terhadap orang-
orang Kafir) dan ruhamâ’ baynahum (sangat mencintai sesama mereka) dalam
ayat tersebut? Apakah ini hanya sifat Rasul dan para sahabatnya yang ikut
dalam Perjanjian Hudaibiyah saja atau bersifat umum meliputi karakter seluruh
para sahabat?
Kata asyiddâ’ adalah bentuk plural non-jender (jamak taktsîr) dari kata  syadîd  
(orang yang keras). Kata ruhamâ’ juga merupakan jamak taktsîr dari
kata rahîm (orang yang mengasihi). Kebanyakan ahli tafsir, seperti al-Qurthubi
dan as-Syaukani, menjelaskan konotasi dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-
kuffâr tersebut dengan menggunakan penafsiran Ibn ‘Abbâs, pakar tafsir, murid
Rasulullah saw., yang menyatakan: ghilâdh[un] ‘alayhim ka al-asad[i] ‘alâ
farîsatih[i] (keras terhadap mereka, bak singa terhadap mangsa buruannya).
Secara umum, as-Suyuthi, menjelaskan maksud frasa tersebut dan frasa
berikutnya, bahwa mereka keras dan tegas terhadap siapa saja yang
menyimpang dari agamanya, dan saling kasih-mengasihi di antara sesama
mereka (Muslim). Inilah maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr ruhamâ’
baynahum. Sebagian ahli tafsir, menyebutkan bahwa sifat tersebut merupakan
sifat sahabat yang terlibat dalam kasus Hudaibiyah. Namun, pandangan ini
dibantah oleh as-Syaukani, berdasarkan kaidah:
‫ْص‬
ِ ‫صي‬ِ ‫اَ ْل ُع ُموْ ُم يَ ْبقَى بِ ُع ُموْ ِم ِه َمالَ ْم يَ ِر ْد َدلِ ْي ُل التَّ ْخ‬

Keumuman itu tetap berlaku sesuai dengan keumumannya selama tidak ada
dalil pengkhusus yang dinyatakan (untuk mengkhususkannya).
Dari sini, beliau berpendapat, bahwa yang lebih tepat adalah
menginterpretasikan makna umum sesuai dengan keumumannya. Dengan
demikian, sifat tersebut merupakan sifat seluruh sahabat Rasulullah Saw.

Mereka juga ruku’ dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa
mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-
sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin
pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang
bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai
kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda’u ‘ala al-
kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan
bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras,
maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang
dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya.

“… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk


(menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat
…” (QS. 24:2). Dari hal diatas dapat kita ketahui makna yang terkandung dari
ayat diatas sebagai berikut:

1. Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia.


2. Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat.
3. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.
1. KANDUNGAN AL-QUR’AN SURAT AL-HAJJ (22) AYAT 41
1. Teks Ayat dan Terjemah
ُ‫ُوف َونَهَوْ ا ع َِن ْال ُم ْن َك ِر ۗ َوهَّلِل ِ عَاقِبَة‬
ِ ‫صاَل ةَ َوآتَ ُوا ال َّز َكاةَ َوأَ َمرُوا بِ ْال َم ْعر‬
َّ ‫ض أَقَا ُموا ال‬
ِ ْ‫الَّ ِذينَ إِ ْن َم َّكنَّاهُ ْم فِي اأْل َر‬
ُ
ِ ‫اأْل ُم‬
‫ور‬

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka


bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah
kembali segala urusan.”
Ayat ini menerangkan tentang keadaan orang-orang yang diberikan kemenangan
dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi; yakni Kami berikan
mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka yang
merdeka niscaya mereka melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat,
dan sunnah-sunnahnya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadarnya.
Serta mereka menyuruh anggota masyarakatnya agar berbuat yang ma’ruf serta
mencegah dari yang munkar.Ayat di atas mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri
masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan di manapun, dan yang telah
terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW dan para
sahabat beliau.
Al-Qur’an mengisyaratkan kedua nilai di atas dalam firman-Nya dalam surah
Ali Imran, ayat 104 yang berbunyi:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;
mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS 3:104)
Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:

1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah


kemunkaran.
2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawaqqal pada Allah.
2. Penjelasan Ayat
Di zaman era globalisasi ini pendidikan sangatlah penting bagi manusia,
pendidikan adalah salah satu sarana bagi seseorang untuk menata hidupnya
sedemikian rupa, tapi, dilihat dari kenyataannya, pendidikan di zaman modern
ini tidak mampu membuat kehidupan social yang bermoral, apakah pendidikan
sekarang sudah benar dan berkualitas ?.

Telah banyak institusi-institusi yang bergerak di bidang pendidikan yang


memiliki fasilitas dan kualitas yang bagus, ternyata belum bisa menciptakan
manusia-manusia yang beradab. Ini dikarenakan institusi-institusi pendidikan
banyak menerapkan visi dan misi pragmatis yang dibawa dari Negara bagian
barat. Tidak ada lagi penanaman nilai-nilai spiritual, kebaikan dan bermoral
didalam institusi tersebut.

Sekarang, institusi-institusi pendidikan kebanyakannya telah berubah menjadi


industry bisnis yang mengajarkan manusia untuk bekerja supaya memperoleh
kesenangan dan kemakmuran diri sendiri, perusahaan dan Negara, sehingga
nilai-nilai moral sebagai manusia tak pernah diajarkan.

Kaum muslimin pun telah terkena dampak dari pengaruh hegemoni dunia barat
tersebut. Banyak kaum muslimin yang mempunyai tingkat pendidikan yang
tinggi, tetapi mereka tidak bisa menjadi muslim yang berakhlak mulia. Ini
dikarenakan institusi pendidikan tempat mereka belajar dahulu menerapkan visi
dan misi pragmatis.

Inilah saatnya kita kembali kepada rujukan yang tidak ada cacatnya yaitu Al-
Qur’an. Al-Quran ternyata lebih memiliki system yang komprehensif dan
integritas dibandingkan system pendidikan dunia barat. Islam mempunyai
tujuan utama yaitu “mendapatkan ridho Allah S.W.T”, diharapkan dengan
diterapkan tujuan ini di dalam pendidikan, manusia bisa menjadi orang-orang
yang bermoral, mempunyai kualitas, dan bermanfaat, tidak hanya buat diri
sendiri tetapi juga buat keluarga, masyarakat, Negara, bahkan buat ummat
manusia sedunia dengan landasan mendapatkan ridho Allah S.W.T.

Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari
surat Al hajj ayat 41:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka


bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh
berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan”.
Ayat ini mengemukakan tentang tujuan pendidikan yang membentuk
masyarakat yang diidam-idamkan, yaitu mempunyai pemimpin dan anggota-
anggota yang bertakwa, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menegakkan
nilai-nilai ma’ruf (perkembangan positif) dalam masyarakat dan mencegah
perbuatan yang munkar.

Untuk itu hendaklah kita benahi pendidikan kita yang telah terpedaya dengan
system yang dibuat oleh dunia barat. Dari sekarang hendaklah kita pada
umumnya dan pendidik pada khususnya merubah tujuan pendidikan kita, yaitu
untuk “mendapatkan ridho Allah S.W.T. dan menjadi hamba Allah yang patuh
terhadap perintah-Nya”. apabila tujuan kita berlandaskan dengan ini, maka
dunia akan terjamin keselamatannya, dan manusia akan mempunyai moral yang
berakhlak mulia. Sehingga dapat kita capai tujuan akhir dari pendidikan seperti
yang dikatakan oleh Muhammad Athiyah al- Abrasyi, yaitu: Terbinanya akhlak
manusia. Manusia benar-benar siap untuk hidup didunia dan diakhirat. Ilmu
dapat benar-benar dikuasai dengan moral manusia yang mantap dan manusia
benar-benar terampil bekerja di dalam masyarakat.
1. KANDUNGAN SURAT HUD 61
ِ ْ‫صالِحًا قَا َل يَا قَوْ ِم ا ْعبُ ُدوا هَّللا َ َما لَ ُك ْم ِم ْن إِلَ ٍه َغ ْي ُرهُ هُ َو أَ ْن َشأ َ ُك ْم ِمنَ اأْل َر‬
‫ض َوا ْستَ ْع َم َر ُك ْم فِيهَا‬ َ ‫َوإِلَى ثَ ُمو َد أَخَاهُ ْم‬
)61( ٌ‫فَا ْستَ ْغفِرُوهُ ثُ َّم تُوبُوا إِلَ ْي ِه إِ َّن َربِّي قَ ِريبٌ ُم ِجيب‬

61. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh
berkata: `Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan
selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan
kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya)
lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).`(QS. 11:61)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengutus seorang utusan
kepada kaum Samud namanya Saleh. Ia menyeru mereka supaya hanya
menyembah Allah saja dan meninggalkan sembahan-sembahan yang telah
membawa mereka kepada jalan yang salah dan menyesatkan. Allahlah yang
menciptakan mereka dari tanah. Dari tanah itulah diciptakan-Nya Adam a.s. dan
dari itu pulalah asal mula semua manusia karena manusia dalam rahim ibunya
berasal dari air mani. Setetes air mani itu setelah membuahi telur dalam rahim
berkembang menjadi segumpal daging lalu membentuk kerangka tubuh berupa
tulang-tulang, dan tulang-tulang ini dibalut dengan daging sehingga menjadi
janin dalam rahim. Kemudian setelah sempurna semua anggota badannya ia
keluar sebagai bayi. Mani itu berasal dari makanan yang dimakan manusia
sedangkan makanan itu baik yang berupa tumbuh-tumbuhan maupun berupa
daging binatang semua berasal dari tanah juga. Setelah manusia berkembang
biak di atas bumi mereka diserahi Allah tugas memakmurkannya sebagai
anugerah dan karunia daripada-Nya. Dengan karunia itu kaum Samud telah
hidup senang bahkan mereka telah dapat pula membuat rumah tempat
berlindung seperti tersebut dalam firman Allah al hijr 82:

Artinya:
Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami)
dengan aman.Demikian besarnya karunia dan nikmat Allah yang diberikan
kepada mereka. Maka wajiblah mereka mensyukuri nikmat itu dengan
mengagungkan dan memuliakan-Nya dan tidak menyembah selain-Nya dan
seharusnyalah mereka bertobat kepada-Nya, karena ketelanjuran mereka
berbuat kesesatan menyembah sembahan-sembahan selain Dia. Bila mereka
menyadari hal ini dan dengan sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya tentulah
Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha menerima tobat mengampuni mereka
dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Inilah
yang diserukan dan dianjurkan Nabi Saleh a.s. kepada kaumnya itu.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
1. Kesimpulan
Kesimpulannya, bahwa didalam Surat Ali Imran ayat 138-139 mengandung
perintah untuk melakukan persiapan, menyediakan segala sesuatunya termasuk
dengan tekad dan semangat yang benar, di samping keteguhan hati dan tawakkal
kepada Allah. Supaya kita bisa meraih keberhasilan dan mendapatkan apa yang
kita inginkan, seta dapat mengembalikan kerugian atau kegagalan-kegagalan
yang telah diderita.

Pada Surat Al Fath ayat 29 ini mengandung perintah untuk mewujudkan rasa
hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia, menunjukkan bahwa seorang
hamba haruslah selalu sujud dan taubat kepada Allah Swt, serta mengingatkan
kepada manusia untuk selalu menyenangkan orang lain.

1. Al-Hajj (22) Ayat 41 Ayat ini menerangkan tentang keadaan orang-orang


yang diberikan kemenangan dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka
bumi; yakni Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam
keadaan mereka yang merdeka niscaya mereka melaksanakan shalat secara
sempurna rukun, syarat, dan sunnah-sunnahnya dan mereka juga menunaikan
zakat sesuai kadarnya. Serta mereka menyuruh anggota masyarakatnya agar
berbuat yang ma’ruf serta mencegah dari yang munkar.Ayat di atas
mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan
dan di manapun, dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi
Muhammad SAW dan para sahabat beliau.
2. Hud 61 Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia telah mengutus
seorang utusan kepada kaum Samud namanya Saleh. Ia menyeru mereka supaya
hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan sembahan-sembahan yang
telah membawa mereka kepada jalan yang salah dan menyesatkan. Allahlah
yang menciptakan mereka dari tanah. Dari tanah itulah diciptakan-Nya Adam
a.s. dan dari itu pulalah asal mula semua manusia karena manusia dalam rahim
ibunya berasal dari air mani. Setetes air mani itu setelah membuahi telur dalam
rahim berkembang menjadi segumpal daging lalu membentuk kerangka tubuh
berupa tulang-tulang, dan tulang-tulang ini dibalut dengan daging sehingga
menjadi janin dalam rahim. Kemudian setelah sempurna semua anggota
badannya ia keluar sebagai bayi. Mani itu berasal dari makanan yang dimakan
manusia sedangkan makanan itu baik yang berupa tumbuh-tumbuhan maupun
berupa daging binatang semua berasal dari tanah juga. Setelah manusia
berkembang biak di atas bumi mereka diserahi Allah tugas memakmurkannya
sebagai anugerah dan karunia daripada-Nya. Dengan karunia itu kaum Samud
telah hidup senang bahkan mereka telah dapat pula membuat rumah tempat
berlindung seperti tersebut dalam firman Allah al hijr
 
 
 
 
 
 
 
 

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1989. Semarang: Toha
Putera.

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi. 1993. Semarang: PT. Karya


Toha Putra.
Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. Lubaabut
Tafsir Min Ibni Katsiir. 2003. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zilalil-Qur’an. 2004. Jakarta: Gema Insani.