Anda di halaman 1dari 50

PROFIL

PROFIL
PUSKESMAS SURULANGUN
PUSKESMAS SURULANGUN
TAHUN 2019
TAHUN 2019

Di Susun Oleh :
Tim Admen Puskesmas Surulangun

Alamat : Jl. Lintas Sumatera Nomor : 103 Kel, Pasar Surulangun Kec, Rawas Ulu Kode Pos 31656
Email : Puskesmassurulangunbisa@gmail.com, FB : Puskesmas Surulangun, Halo Bulita : 082180312299,
UGD & Persalinan 24 Jam : 081373326877

i
ii
KATA PENGANTAR

Profil Kesehatan merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk
melaporkan hasil kinerja dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan
kesehatan, termasuk kinerja dari penyelenggaraan standar pelayanan minimal di
bidang kesehatan dan pencapaian target indikator Sustainable Development Goals
bidang kesehatan.
Profil Kesehatan Puskesmas disusun sebagai bahan dukungan untuk
penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, Profil Kesehatan Propinsi dan Profil
Kesehatan Indonesia. Profil Kesehatan Puskesmas menyajikan data/informasi yang
relative lengkap meliputi situasi derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya
kesehatan dan data umum serta lingkungan yang terkait dengan kesehatan yang
merupakan gambaran program kesehatan di wilayah kerja. Selanjutnya profil kesehatan
dapat digunakan sebagai alat monitoring untuk melihat kecenderungan program dari
tahun ke tahun serta dapat dijadikan sistim informasi karena dalam penyusunannya
didukung dengan data - data yang akurat.
Dengan adanya petunjuk teknis tentang penyusunan Profil Kesehatan
Puskesmas dari Departemen Kesehatan ataupun Dinas Kesehatan, Puskesmas
Surulangun berupaya menyusun Profil Puskesmas Tahun 2019 dengan berbagai
keterbatasan tetapi tetap diupayakan agar data/informasi yang disajikan secara
lengkap, tepat waktu dan memberikan gambaran pembangunan kesehatan secara
menyeluruh di wilayah kerja.
Kepada semua pihak, semua staf Puskesmas Surulangun yang telah
berkontribusi dalam penyusunan Profil Kesehatan Puskesmas Surulangun 2019 ini,
kami ucapkan terima kasih.

Surulangun, 10 Januari 2020


Ka.UPTD.Puskesmas Surulangun

Yulia, S.Tr.Keb
NIP. 19730702 199301 2 002

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ..................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................. ii
Daftar Gambar....................................................................................................... iii
Daftar Tabel........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A.Latar Belakang ........................................................................................... 1
B.Tujuan ........................................................................................................ 3
C.Isi Ringkasan Profil .................................................................................... 3
D.Sistematika Penyajian................................................................................ 3
BAB II GAMBARAN UMUM PUSKESMAS ......................................................... 3
A.Keadaan Umum Puskesmas...................................................................... 3
B.Letak Geografis .......................................................................................... 3
C.Wilayah Administrasi ................................................................................. 6
D.Keadaan Penduduk ................................................................................... 7
E.Sumber Daya Puskesmas ......................................................................... 8
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN .......................................................... 12
A.Umur Harapan Hidup ................................................................................. 12
B.Angka Kematian ......................................................................................... 12
C.Angka Kesakitan......................................................................................... 14
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN .............................................................. 21
A.Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial..................................................... 21
B.Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan ........................................ 21
C.Upaya Kesehatan Perorangan, Kefarmasian dan Laboratorium .............. 21
D.Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jaringan Fasilitas
Pelayanan Puskesmas.............................................................................. 42
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Kecamatan Rawas Ulu ................................................................ 5
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jarak dari desa ke ibu kota kecamatan Rawas Ulu .............................. 6
Tabel 2.2 Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan............................................. 7
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk menurut Status Pekerjaannya
Per Desa / Kelurahan di Kecamatan Rawas Ulu................................... 7
Tabel 2.4 Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Kecamatan Rawas Ulu.......................................................................... 8

ii
Tabel 2.5 Data Pegawai Puskesmas Surulangun Tahun 2019............................. 9
Tabel.2.6 fasilitas pelayanan dalam gedung Puskesmas Surulangun.................. 10
Tabel 2.7 Sarana Penunjang di Puskesmas Surulangun Th. 2019...................... 11
Tabel 2.8 Sumber dan Jumlah Pendapatan Puskesmas
Surulangun Tahun 2019 ....................................................................... 11
Tabel 4.1 Jumlah peserta KB baru dan dan KB aktif
menurut Kecamatan dan Puskesmas ................................................... 11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan juga tidak terlepas dari komitmen Indonesia sebagai


warga masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Millenium Development
Goals (MDGs). Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan mengamanatkan bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat
yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia
yang produktif secara sosial dan ekonomis. Setiap orang berhak atas kesehatan dan
setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya
di bidang kesehatan. Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus merupakan
investasi untuk mencapai keberhasilan pembangunan bangsa. Oleh karena itu,
diselenggarakan pembangunan di bidang kesehatan secara menyeluruh dan
berkesinambungan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya. Derajat kesehatan yang rendah juga berpengaruh terhadap
rendahnya produktifitas kerja yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan
pemerintah.
Pembangunan Nasional di bidang kesehatan pada dasarnya ditujukan kepada
semua lapisan masyarakat. Namun pada operasionalnya ditujukan untuk golongan
tertentu dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan skala prioritas.
VISI Puskesmas Surulangun adalah ”TERWUJUDNYA KECAMATAN SEHAT
DENGAN MENJADI PUSAT PELAYANAN KESEHATAN DASAR YANG BERMUTU
DAN BERKUALITAS DENGAN UPAYA PELAYANAN KESEHATAN YANG ADIL
DAN MERATA”
Untuk mencapai Visi tersebut,dengan Lima Misi yang di emban Puskesmas Surulangun
sebagai berikut:
1. Meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang
bermutu,berkualitas dan berstandarisasi.
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas dengan
pemanfaatan teknologi.
3. Membuka Seluas-luasnya akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat
4. Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan
5. Mewujudkan Kecamatan sehat dan bermartabat

1
Tata nilai Puskesmas Surulangun: ”BERPACU”
1. B (Bersih) : Pelayanan yang bersih baik dari segi alat/ sarana, lingkungan, petugas
bersih dari pungli
2. E (Empati) : Etika dalam pelayanan (Sapa, Senyum,Salam dan Sabar)
3. R (Responsif) : Ketepatan waktu dan tanggap dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada seluruh masyarakat yang ada di wilayah Puskesmas Surulangun
baik dari segi pemerataan palayanan dan jadwal pelayanan sesuai visi misi
4. P (Profesional) : Peningkatan sumber daya petugas untuk meningkatkan mutu
pelayanan.
5. A (Aman) : Pelayanan Puskesmas harus menjamin keamanan para pengunjung dan
senantiasa mengutamakan dan menjamin keselamatan pasien / pengunjung dari
segala resiko pelayanan melalui pembentukan unit manajemen resiko.
7. C (Contoh) : Pelayanan Puskesmas harus berusaha menjadi contoh yang baik dalam
penataan manajemen maupun Pelayanan yang dilaksanakan dalam program UKM
ataupun UKP.
8. U (Unggul) : Pelayanan yang diberikan harus berkualitas atau bermutu, yaitu sesuai
dengan peraturan dan pedoman kerja yang ada dan telah disepakati dan selalu
dilakukan monitoring dan evaluasi yang konsisten serta tiada henti mengembangkan
kemampuan dan kompetensi.
Upaya-upaya kesehatan untuk mencapai Visi dan Misi diatas telah dilakukan
semaksimal mungkin, namun hingga saat ini hasilnya belum optimal. Pengelolaan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan dilakukan melalui
sistem manajemen kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan agar
lebih berhasil guna dan berdaya guna.
Puskesmas Surulangun merupakan instansi yang bertanggung jawab atas
pembangunan kesehatan di Kecamatan Rawas Ulu. Kami telah banyak melakukan
upaya-upaya kesehatan untuk mengatasi permasalahan kesehatan di Kecamatan
Rawas Ulu. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut
diperlukan indikator. Indikator yang dipakai adalah Indikator Kinerja dari Standar
Pelayanan Minimal bidang Kesehatan.
Agar penyelenggaraan pembangunan kesehatan, khususnya dalam melakukan
kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasandan penilaian dapat
berjalan efektif dan efisien sangat diperlukan informasi tentang hasil pembangunan
kesehatan dan pendukungnya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi,
Puskesmas Surulangun menyusun Profil Puskesmas Surulangun Tahun 2019, yang
berisi tentang situasi dan kondisi kesehatan Kecamatan Rawas Ulu Tahun 2019
beserta hasil dari upaya-upaya kesehatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2019
yang dianalisis secara sederhana dan ditampilkan dalam bentuk tabel, peta dan grafik.

2
Penyusunan profil ini bertujuan untuk memberikan data dan informasi dalam
rangka proses perencanaan, pemantauan, dan mengevaluasi pencapaian hasil
pembangunan kesehatan di Kecamatan Rawas Ulu.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tersedianya data atau informasi yang akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam
rangka meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasil guna dan
berdayaguna.
2. Tujuan Khusus
a. Tersedianya acuan dan bahan rujukan dalam rangka pengumpulan data,
pengolahan, analisis serta pengemasan informasi
b. Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah dikumpulkan oleh
berbagai sistim pencatatan dan pelaporan di unit-unit kesehatan
c. Memberikan analisis-analisis yang mendukung penyediaan informasi dalam
menyusun alokasi dana/anggaran program kesehatan
d. Tersedianya bahan untuk penyusunan profil kesehatan tingkat propinsi dan
nasional.
C. Isi Ringkasan Profil
Profil kesehatan Puskesmas Surulangun berisi narasi dan gambaran analisis
situasi umum dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan, situasi sumber daya,
situasi upaya kesehatan, situasi derajat kesehatan dan pembiayaan kesehatan.
Disamping narasi juga berisi tabel, grafik dan diagram untuk sajian distribusi frekuensi
menggambarkan perkembangan atau perbandingan pencapaian program.
D. Sistimatika Penyajian
BAB I Pendahuluan
BAB ini secara ringkas menjelaskan maksud dan tujuan disusunnya profil Puskesmas
Surulangun. Dalam bab ini juga diuraikan secara ringkas pula isi dari Profil Puskesmas
Surulangun dan sistimatika penyajian.
BAB II. Gambaran Umum Puskesmas Surulangun
Dalam BAB ini diuraikan gambaran secara umum Puskesmas Surulangun yang meliputi
keadaan geografi, keadaan penduduk, tingkat pendidikan penduduk, keadaan ekonomi,
gambaran tentang keadaan sumber daya mencakup tentang keadaan sarana atau
fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Bab III. Situasi Derajat Kesehatan
BAB ini berisi uraian tentang berbagai indikator derajat kesehatan yang mencakup
tentang angka kematian, angka harapan hidup, angka kesakitan dan status gizi
masyarakat.

3
BAB IV. Situasi Upaya Kesehatan
BAB ini berisi uraian tentang upaya kesehatan yang tertuang pada tujuan program
pembangunan di bidang kesehatan. Gambaran upaya kesehatan yang telah
diselenggarakan.

4
BAB II

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS

A. KEADAAN UMUM PUSKESMAS

1. Letak Geografis

Puskesmas Surulangun Kecamatan Rawas Ulu terletak di wilayah Kabupaten


Musi Rawas Utara, Propinsi Sumatera Selatan, dengan profil daerah sebagai berikut:
Puskesmas Surulangun mempunyai batasan daerah :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Jambi.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Rupit.
c. Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ulu Rawas.
d. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Rupit.
Kecamatan Rawas Ulu terdiri dari 16 Desa dan 1 Kelurahan, Luas Kecamatan
Rawas Ulu yaitu 49.816,88 Ha. Dimana Desa Remban adalah desa terluas di
Kecamatan Rawas Ulu.Hampir semua desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Rawas
Ulu merupakan daerah yang dilewati aliran sungai sehingga masih ada transportasi
yang dilakukan melalui jalur sungai, meskipun sudah bisa di akses melalui jalur
darat.
Wilayah kerja Puskesmas Surulangun meliputi 16 desa dan 1 kelurahan. yaitu
Desa Remban,Lubuk Kemang,Lesung Batu Muda,Lesung Batu,Surulangun,Sungai
Jauh,Sungai Kijang,Sungai Lanang,Simpang Nibung Rawas,Sukomoro,Sungai
Baung,Pulau Lebar,Kertadewa,Teladas,Pangkalan dan Lubuk Mas,serta Kelurahan
Pasar Surulangun. dengan jumlah penduduk 34 523 jiwa.
Gambar 2.1 Peta Batas Wilayah Kerja Puskesmas Puskesmas Surulangun
U

5
2. Wilayah Administrasi

Secara administrasi wilayah kerja Puskesmas Surulangun terdiri dari 16 Desa


dan 1 Kelurahan yang terdiri dari 64 dusun dan 13 RT.
Di setiap desa terdapat jaringan pelayanan kesehatan Puskesmas Surulangun
yaitu Pustu dan Polindes. Terdapat 18 polindes/Poskesdes dan 10 Pustu yang tersebar
diwilayah kerja Pusksesmas Surulangun, dengan jenis pelayanan berupa Promotif,
Preventif, dan Kuratif.
Semua wilayah kerja Puskesmas Surulangun dapat dijangkau dengan
kendaraan roda dua dan hanya beberapa desa yang dapat dijangkau dengan
kendaraan roda empat, jarak tempuh dari desa ke Puskesmas rata-rata 15- 30 menit.
Tabel 2.1 Jarak dari Desa / Kelurahan ke Ibukota Kecamatan di Kecamatan
Rawas Ulu
N Jarak
Desa / Kelurahan Transportasi
o (Km2)
1 Pangkalan 16 Darat
2 Teladas 13 Darat
3 Kerta Dewa 10 Darat
4 Pulau Lebar 9 Darat
5 Sungai Baung 3 Darat
6 Surulangun 1 Darat
7 Pasar Surulangun 0 Darat
8 Sungai Jauh 3 Darat
9 Sungai Kijang 7 Darat
10 Lesung Batu Muda 5 Darat
11 Lesung Batu 6 Darat
12 Lubuk Kemang 8 Darat
13 Remban 12 Darat
14 Lubuk Mas 18 Darat
15 Sungai Lanang 22 Darat
16 Simpang Nibung Rawas 7 Darat
17 Sukomoro 0,5 Darat

Sumber : Kantor Camat Rawas Ulu

6
3. Keadaan Penduduk

a. Jumlah dan Distribusi Penduduk

Tabel 2.2 Distribusi penduduk menurut tingkat pendidikan :


N Tingkat Pendidikan Jumlah
Sumber : o Kantor
1 Tidak /Belum Sekolah 8.165
Camat Rawas Ulu
2 SD 11.345
3 SMP 3.919
Tabel 4 2.3 Jumlah
SMA 3.539 Penduduk
5 Akademik / Perguruan Tinggi 495 menurut
6 Status
S-2 10
JUMLAH 27.473

Pekerjaannya Per Desa / Kelurahan di Kecamatan Rawas Ulu

Tidak Lainnya
Mencari
No Desa / Kelurahan Bekerja Bekerja/ (Sekolah,
Pekerjaan
Penganggur dll)
1 Pangkalan 415 71 56 101
2 Teladas 201 41 40 95
3 Kerta Dewa 312 60 41 121
4 Pulau Lebar 201 30 35 82
5 Sungai Baung 480 100 75 187
6 Surulangun 312 62 41 162
7 Pasar Surulangun 621 118 150 200
8 Sungai Jauh 217 40 47 157
9 Sungai Kijang 200 31 45 135
10 Lesung Batu Muda 411 65 56 116
11 Lesung Batu 421` 45 62 125
12 Lubuk Kemang 318 45 55 127
13 Remban 620 120 150 201
14 Lubuk Mas 112 25 36 95
15 Sungai Lanang 221 16 25 121
16 Simpang Nibung Rawas 280 18 25 102
17 Sukomoro 180 25 31 52
JUMLAH 5522 912 970 2179
Sumber : Kantor Camat Rawas Ulu

b. Profil Penduduk Pada Wilayah Puskesmas Surulangun

Jumlah Penduduk di Wilayah Puskesmas Surulangun tahun 2019, menurut


data dari Profil Kecamatan Rawas Ulu sebanyak 34.523 jiwa. Jumlah Penduduk
tertinggi di Kelurahan Pasar Surulangun yang berjumlah 4512 jiwa, sedangkan yang
terendah di Desa Lubuk Mas yaitu 720 jiwa.

1) Kepadatan Penduduk

7
Kepadatan Penduduk di Wilayah Puskesmas Surulangun tahun 2019 adalah
65.30 jiwa/ Km2.

Tabel 2.4 Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Rawas
Ulu

Kepadatan Jumlah
Luas Wilayah Jumlah
No Desa / Kelurahan Penduduk Dusun /
(Km2) Penduduk
(jiwa/Km2) RT
1 Pangkalan 3962.32 1814 45.78 5
2 Teladas 4117.32 1129 27.42 4
3 Kerta Dewa 2176.83 1463 67.21 4
4 Pulau Lebar 3441.37 864 25.11 2
5 Sungai Baung 5270.33 4139 78.53 5
6 Surulangun 1896.75 2410 127.06 5
7 Pasar Surulangun 1196.01 4512 377.25 13
8 Sungai Jauh 1121.42 1239 110.48 4
9 Sungai Kijang 5565.11 1148 20.63 2
10 Lesung Batu Muda 1480.52 2941 198.65 4
11 Lesung Batu 1545.01 2138 138.38 3
12 Lubuk Kemang 2847.62 1978 69.46 4
13 Remban 5711.12 3468 60.72 6
14 Lubuk Mas 2647.56 720 27.19 3
15 Sungai Lanang 3702.01 1204 32.52 4
16 Simpang Nibung Rawas 3135.58 1369 43.44 6
17 Sukomoro - 1994 - 3
JUMLAH 49.816,88 34 523 65.30 77
Sumber : Kantor Camat Rawas Ulu

2) Sex Ratio
Sex Ratio penduduk di wilayah kerja Puskesmas Surulangun tahun 2019
bahwa jumlah penduduk perempuan lebih sedikit 16.909 jiwa (48%) dibandingkan
dengan jumlah penduduk Laki-laki 17.614 jiwa (52 %).

4. Sumber Daya Puskesmas


a. Ketenagaan
Dalam menjalankan fungsinya sebagai pemberi pelayanan kesehatan tingkat
pertama Puskesmas Surulangun telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana
yang memadai dan didukung oleh tenaga dokter umum, bidan, perawat, perawat gigi,
analis kesehatan, Sanitarian, ahli gizi, apoteker.
Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu unsur terpenting dalam
organisasi. Jalan tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari keberadaan SDM.
SDM Kesehatan yang memiliki kompetensi tentu akan menunjang keberhasilan
pelaksanaan kegiatan, program dan pelayanan kesehatan. Jenis dan Jumlah tenaga

8
kesehatan di Puskesmas Surulangun pada tahun 2019 sebanyak 141orang terdiri
dari : perawat 39 orang, dokter umum 3 orang, perawat gigi 4 orang, tenaga kesling 2
orang, tenaga kesehatan masyarakat 3 orang, bidan 74 orang, tenaga Asisten
Apoteker 5 orang, dan tenaga administrasi 4 orang, serta lain-lain berjumlah 3 orang.
Adapun Jenis dan Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Surulangun pada
tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.5 Data Pegawai Puskesmas Surulangun Tahun 2019

JENIS TENAGA JUMLAH


NO
1 Dokter Umum 3

2 Dokter Gigi 0

3 S-1 Kesehatan Masyarakat 3

4 Ners 2

5 S-1 Keperawatan 7

6 Terapis Gigi Dan Mulut 4

7 D-III Keperawatan 30

8 D-IV Kebidanan 13

9 D-III Kebidanan 61

10 D-I Kebidanan 0

11 D-III Kesehatan Lingkungan 2

12 Analis 3

13 Asisten Apoteker 5

14 S-1 Farmasi 0

15 Nutrisionis 1

16 AdministrasiUmum 4

17 Sopir Ambulance 1

18 PetugasKebersihan 1

19 Petugas Keamanan 1
Sumber : Data Sub Bagian Tata Usaha Puskesmas Surulangun tahun 2019

b. Peralatan dan Sarana Kesehatan

9
Untuk melaksanakan kegiatan operasional pelayanan kesehatan, Puskesmas
Surulangun telah dilengkapi dengan fasilitas pelayanan dalam gedung seperti :

Tabel.2.6 fasilitas pelayanan dalam gedung Puskesmas Surulangun

KONDISI PUSKESMAS
STANDAR PUSKESMAS SURULANGUN
NO
SURULANGUN
ADA TIDAK ADA

1 Area Parkir √
2 Pintu Masuk √
3 Ruang Tunggu √
4 Ruang Farmasi √
5 Ruang Tindakan √
6 Ruang Persalinan √
7 Ruang Pendaftaran dan Ruang √
Rekam Medik
8 Ruang Pemeriksaan Umum √
9 Ruang Kesehatan Gigi dan √
Mulut
10 Ruang Promosi Kesehatan √
11 WC Petugas √
12 WC Pasien Wanita √
13 WC Pasien Pria √
14 Ruang Sterilisasi √
15 Laboratorium √
16 Gudang Umum √
17 Dapur √
18 Ruang Rapat √
19 Ruang Administrasi Kantor √
20 Ruang Kepala Puskesmas √
21 Ruang KIA KB & Imunisasi √
22 Ruang ASI √
23 Ruang Rawat Pasca √
Persalinan
24 Ruang Rawat Darurat √
25 Ruang Jaga Petugas √
26 Ruang Rawat Inap Pria √
27 Ruang Rawat Inap Wanita √
28 Ruang Rawat Anak √
Sumber : Data Sub Bagian Tata Usaha Puskesmas Surulangun tahun 2019

c. Sarana Penunjang

Untuk memperlancar pelaksanaan kegiatan pelayanan dan program, Puskesmas


Surulangun juga didukung dengan sarana penunjang seperti pada tabel berikut.

Tabel 2.7 Sarana Penunjang di Puskesmas Surulangun Th. 2019

NO JENIS SARANA/ JUMLAH KONDISI


B RR RS RB

10
PRASARANA
1 Puskesmas Pembantu 10 6 2 2
2 Polindes 11 6 5
3 Poskesdes 8 5 3
4 Rumah Dinas Dokter 1 1
5 Rumah Dinas Perawat 2 2
6 Ambulance 2 1 1
7 Puskesmas Keliling 1 1
Roda 4 (DK)
8 Sepeda Motor 9 6 3
Sumber : Data Sub Bagian Tata Usaha Puskesmas Surulangun tahun 2019

d. Sumber Pembiayaan

Pembiayaan puskesmas bersumber dari pendapatan puskesmas yang digunakan


kembali sebagai biaya operasional. Sumber pendapatan puskesmas berasal JKN, dan
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Adapun pendapatan Puskesmas Surulangun
dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.8 Sumber dan Jumlah Pendapatan Puskesmas Surulangun Tahun 2019

NO SUMBER PENDAPATAN JUMLAH


1 JKN (BPJS) Rp.70.000.000 / Bulan
2 BOK Rp.766.000.000/Tahun
Sumber : Laporan Keuangan Puskesmas Surulangun Th 2019

BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

A. Umur Harapan Hidup

Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, keadaan sehat adalah


keadaan meliputi kesehatan badan, rohani (mental) dan sosial dan bukan hanya
keadaan yang bebas penyakit, cacat dan kelemahan sehingga dapat hidup produktif
secara sosial ekonomi.

Derajat Kesehatan menurut HL. Blum dipengaruhi oleh faktor genetik,


lingkungan, perilaku, dan umur harapan hidup. Umur Harapan Hidup Penduduk adalah
rata-rata kesempatan atau waktu hidup yang tersisa. Umur Harapan Hidup berbeda
dengan lama hidup, lama hidup adalah jumlah tahun maksimum penduduk untuk dapat
hidup. Cara menentukan Umur Harapan Hidup adalah dengan menunjukkan merata-

11
ratakan semua umur dari seluruh kematian pada waktu tertentu. Umur Harapan Hidup
di Indonesia meningkat dari 68,8 tahun di tahun 2004 menjadi 70,8 tahun di tahun 2015.
Pada tahun 2035 diperkirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun. Hal ini dapat terlihat
dari bertambahnya jumlah lansia yang merupakan dampak dari meningkatnya kualitas
dan standar pelayanan kesehatan di masyarakat. Pada Puskesmas Surulangun Umur
Harapan Hidup didapatkan sebesar 66.97 Tahun dari 65 kematian.

B. Angka Kematian (Mortality Rate)

Angka Kematian secara umum berkaitan erat dengan tingkat Angka Kesakitan
dan Status Gizi. Indikator untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan
dapat dilihat dari perkembangan Angka Kematian.

Besarnya tingkat Angka Kematian dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain :

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Jumlah kematian penduduk yang berusia di bawah satu tahun per 1000
kelahiran hidup pada tahun tertentu disuatu daerah disebut Angka Kematian Bayi
(AKB). AKB merupakan indikator yang sangat berguna untuk mengetahui status
kesehatan anak khususnya bayi dan dapat mencerminkan tingkat kesehatan ibu,
kondisi kesehatan lingkungan secara umum, status kesehatan penduduk secara
keseluruhan serta tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat.Jumlah Kematian
bayi Tahun 2019 adalah 6 Bayi.

orang dan Jumlah kelahiran adalah 630 orang sehingga Angka Kematian Bayi
tahun 2019 adalah 6 per 1000 kelahiran hidup. Kalau dibandingkan dengan target
Angka Kematian Bayi (AKB) menurut MDGfs Tahun 2015 sebesar 23/1000 Kelahiran
Hidup (KH),

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi AKB secara umum adalah tingkat
kesakitan dan status gizi, kesehatan ibu waktu hamil dan proses penanganan
persalinan. Gangguan perinatal merupakan salah satu dari sekian faktor yang
mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil yang mempengaruhi
perkembangan fungsi dan organ janin.

2. Angka Kematian Balita (AKABA)

AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan meninggal
sebelum mencapai usia 5 tahun dan dinyatakan per 1000 kelahiran hidup. Angka
kematian balita dihitung dengan menjumlahkan kematian bayi dengan kematian balita.
Berdasarkan pedoman MDGs disebutkan bahwa nilai normatif >140 tinggi, 71-140
tinggi, 20-40 sedang dan <20 rendah. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan

12
kesehatan anak-anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak
balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan. Angka Kematian Balita
(AKABA) di Kecamatan Rawas Ulu dilaporkan ada kematian balita selama kurun
waktu1 tahun terakhir.

Secara Nasional ditetapkan AKABA sebesar 40/1000 KH. Pada tahun 2019
terdapat kematian umur 0-4 tahun sebanyak 6 orang di wilayah kerja Puskesmas
Surulangun dengan jumlah kelahiran hidup sebesar 630 orang, sehingga Angka
kematian Balita tahun 2019 di wilayah kerja Puskesmas Surulangun adalah 1 per-1000
KH.Rendahnya angka kematian balita (AKABA) di wilayah kerja Puskesmas
Surulangun disebabkan karena baiknya gizi balita, rendahnya faktor risiko yang
mengakibatkan kematian bagi balita, perilaku orang tua dalam pemberian gizi anak
cukup baik serta peranan dari petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan
kesehatan.

3. Angka Kematian Ibu (AKI)

Angka kematian ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal pada tahun
tertentu dengan penyabab kematian yang terkait gangguan kehamilan atau
penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan,
melahirkan dan masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama
kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Indikator ini secara langsung digunakan untuk
memonitor kematian terkait kehamilan. Angka Kematian Ibu Maternal berguna untuk
menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi, kesehatan ibu,
kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil,
waktu melahirkan dan masa nifas.Keberhasilan pembangunan sektor kesehatan
senantiasa menggunakan indikator AKB dan AKI sebagai indikator utamanya. Kematian
ibu di Kecamatan Rawas Ulu dalam satu tahun terakhir ditemukan sebanyak 2
orang,dengan penyebab Perdarahan dan Anemia Ini menunjukkan bahwa kwalitas
pelayanan kesehatan pada ibu hamil di Kecamatan Rawas Ulu kurang Baik Disamping
itu pula akses terhadap sarana pelayanan sangat mudah karena penyebaran bidan
praktek swasta sebagai jaringan yang dimiliki oleh Puskesmas Surulangun hampir
merata di wilayah Surulangun. Indikator Tahun 2019 AKI per-100.000 KH 0 per-
100.000 KH 0 per-100.000 KH

C. Angka Kesakitan

Sepuluh penyakit yang paling banyak ditemukan pada kasus rawat jalan di
Puskesmas Surulangun pada tahun 2019 Angka kesakitan baik insiden maupun
prevalen dari suatu penyakit disebut morbiditas dapat dilihat pada tabel Sepuluh Besar

13
Penyakit Terbanyak di Puskesmas Surulangun,Nama penyakit dan Jumlah pada tahun
2019. (Lamp.Tabel)

Berdasarkan data 10 besar penyakit kasus rawat jalan di Puskesmas Surulangun


tahun 2019 penyakit yang paling banyak diderita pada semua kelompok umur masih di
dominasi oleh penyakit Ispa yaitu sebanyak 350 kasus . Angka kesakitan baik insiden
maupun prevalen dari suatu penyakit disebut morbiditas. Morbiditas menggambarkan
kejadian penyakit dalam suatu populasi padakurun waktu tertentu dan berperan dalam
penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

1) Penyakit Menular

a) TB Paru

Penyakit TB Paru merupakan penyakit re emerging masih terus ditemukan di


Provinsi Bali. Secara nasional TB Paru merupakan penyakit tropis yang sangat erat
kaitannya dengan kemiskinan. TB Paru merupakan penyakit yang masih tinggi angka
kejadiannya bahkan merupakan yang tertinggi ketiga di dunia. MDGs menetapkan
penyakit TB Paru sebagai salah satu target penyakit yang harus diturunkan selain HIV
AIDS dan Malaria. Hasil pengobatan penderita TB Paru dipakai indikator succses rate,
dimana indikator ini dapat dievaluasi setahun kemudian setelah penderita ditemukan
dan diobati. Sukses rate akan meningkat bila pasien TB Paru dapat menyelesaikan
pengobatan dengan baik tanpa atau dengan pemeriksaan dahak. Pada tahun 2019
angka sukses rate sebesar 69 Orang.

Angka penemuan kasus TB Paru tahun 2019 sebesar 69 orang. Penemuan


kasus yang rendah ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat dan
rendahnya keinginan untuk memeriksakan diri apa bila mengalami batuk yang lama,
yang mengakibatkan rendahnya cakupan penemuan kasus TB dimasyarakat ini
dibuktikan dengan jumlah cakupan penemuan suspek TBC sebesar 69 orang dari target
yang ditetapkan yaitu 229 penemuan suspek TBC.

Meskipun sukses rate kasus TB Paru di Kecamatan Rawas Ulu dalam kurun
waktu satu tahun terakhir,namun upaya untuk menurunkan Case Rate dan
meningkatkan Success Rate terus harus dilakukan dengan cara meningkatkan
sosialisasi penanggulangan TB Paru sesuai manajemen DOTS melalui jejaring internal
maupun eksternal rumah sakit serta sektor terkait lainnya. Disamping meningkatkan
jangkauan pelayanan, upaya yang tidak kalah penting dan perlu dilakukan dalam
rangka penanggulangan penyakit TB Paru adalah meningkatkan kesehatan lingkungan
serta perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat. Kasus TB Paru sangat dipengaruhi
oleh kepadatan penduduk dan kemiskinan, karena penularan TB Paru adalah melalui

14
kontak langsung dengan penderita. Status gizi juga mempengaruhi kasus TB Paru
terutama angka kesembuhannya, dengan status gizi yang baik penderita TB Paru akan
lebih cepat pulih.

b) Pneumonia

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi akut yang
menyerang pernapasan mulai dari hidung hingga alveoli. Penyakit ISPA yang menjadi
masalah dan masuk dalam program penanggulangan penyakit adalah pneumonia
karena merupakan salah satu penyebab kematian anak. Pneumonia adalah infeksi akut
yang menyerang jaringan paru (alveoli). Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri, jamur,
virus atau kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi rentan yang
terserang pneumonia adalah anak umur < 2 tahun. Penemuan dan tatalaksana kasus
adalah salah satu kegiatan program penanggulangan.

Pneumonia pada balita lebih banyak disebabkan karena faktor seperti kurang
gizi, status imunisasi yang tidak lengkap, terlalu sering membendung anak, kurang
diberikan ASI, riwayat penyakit kronis pada orang tua bayi atau balita, sanitasi
lingkungan tempat tinggal yang kurang memenuhi syarat kesehatan, orang tua perokok
dan lain sebagainya. Upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi kasus
pneumonia pada bayi atau balita adalah menghilangkan faktor penyebab itu sendiri
melalui peningkatan status gizi bayi/balita, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), peningkatan sanitasi lingkungan tempat tinggal serta peningkatan status
imunisasi bayi atau balita.

c) Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Aquired Immuno Deficiency Syndrome


(AIDS)

HIV/AIDs merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus


Human Immunodeficiency Virus yang menyerang system kekebalan tubuh penderitanya
sehingga penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah
terinfeksi berbagai macam penyakit yang lain. Sebelum memasuki fase AIDS, penderita
terlebih dahulu dinyatakan sebagai HIV positif. HIV positif dapat diketahui dengan 3
cara yaitu VCT, dan zero survey. Sejak tahun 2016 telah dibuka pemeriksaan VCT di
Puskesmas Surulangun dan sejak saat itu ditemukan kasus HIV positif melalui
pemeriksaan rapid test. Pada Tahun 2019 Puskesmas Surulangun khasus yang diobati
sebanyak 0 kasus. Pelayanan kesehatan orang dengan resiko terinfeksi HIV .

15
Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi penyebaran kasus HIV-
AIDS di Surulangun adalah dengan melakukan penyuluhan kelompok di posyandu,
banjar, pertemuan lintas sektoral di kelurahan dan penyuluhan di dalam gedung.

Tujuan penyuluhan atau KIE tersebut adalah agar kelompok berisiko tersebut
mau datang ke puskesmas untuk mengecek VCT untuk memeriksakan diri secara
berkala dan melakukan perlindungan diri.

d) Infeksi Menular Seksual (IMS)

IMS merupakan jenis penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan sexual
dengan orang yang mengidap IMS. Oleh karena IMS merupakan salah satu pencetus
timbulnya kasus HIV-AIDS di masyarakat, maka Puskesmas Surulangun telah
melakukan berbagai upaya untuk mencegah dan mengurangi penularan penyakit
menular seksual (PMS), termasuk dampak sosialnya diantaranya :

- Penyuluhan/KIE kepada masyarakat umum, anak sekolah/remaja maupun


kelompok resiko tinggi
- Penemuan dan Pengobatan
- Melakukan konseling

Tahun 2019 jumlah penderita IMS (Infeksi Menular Seksual) sejumlah 0 kasus

e) Diare

Diare dapat didefinisikan sebagai kejadian buang air besar berair lebih dari tiga
kali namun tidak berdarah dalam 24 jam, bila disertai dengan darah disebut disentri.
Penyakit gastroenteritis lain seperti diare berdarah dan tifus perut klinis juga termasuk
ke dalam sepuluh besar penyakit baik di Puskesmas maupun catatan rawat inap di
rumah sakit. Meskipun jumlah kasus diare cukup tinggi, namun angka kematiannya
relatif rendah.

Serangan penyakit yang bersifat akut mendorong penderitanya untuk segera


mencari pengobatan ke pelayanan kesehatan. Dalam perjalanan alamiahnya sebagian
besar penderita sembuh sempurna.

Angka kesakitan akibat diare yang dilayani di Puskesmas Surulangun dalam satu
tahun terakhir adalah 219 Jumlah Kasus Daire di Wilayah Kerja Puskesmas
SurulangunTahun 2019.

Gejala diare yang terkesan ringan dan dapat diobati sendiri oleh penderitanya
menyebabkan penderita enggan mendatangi sarana pelayanan kesehatan.
Penanggulangan diare dititikberatkan pada penanganan penderita untuk mencegah

16
kematian dan promosi kesehatan tentang hiegyne sanitasi dan makanan untuk
mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB). Upaya yang dilakukan oleh jajaran kesehatan
baik oleh Puskesmas maupun dinas kesehatan adalah meningkatkan penyuluhan
kesehatan kepada masyarakat, kaporitisasi air minum dan peningkatan sanitasi
lingkungan.

f) Malaria

Pada tahun 2019 tidak ada kasus penyakit malaria positif dari hasil pemeriksan
secara klinis terhadap 850 sampel darah di Puskesmas Surulangun, Penyakit malaria
bukan merupakan penyakit endemis tetapi merupakan kasus-kasus import dari
penduduk yang berasal dari daerah endemis malaria atau orang yang berasal dari atau
yang pernah tinggal di daerah endemis malaria

g) Kusta

Kusta adalah penyakit kulit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium leprae.
Bila penyakit kusta tidak ditangani maka dapat menjadi progresif menyebabkan
kerusakan permanen pada kulit, saraf, mata dan anggota gerak. Strategi global WHO
menetapkan indicator eliminasi kusta adalah angka penemuan penderita/ new case
detection rate (NCDR). Dengan NCDR 0,0005 per 10.000 penduduk sudah dapat
dikatagorikan sebagai daerah rendah kusta dengan mengacu pada indikator pusat
bahwa daerah dengan NCDR 0,50 per 10.000 penduduk sudah dapat dikatakan
sebagai daerah rendah kusta.

Pada Tahun 2019 tidak ditemukan kasus kusta ,Indikator lain yang dipakai menilai
keberhasilan program adalah adanya penderita anak diantara kasus baru, yang
mengindikasikan bahwa masih terjadi

penularan kasus di masyarakat. Proporsi kasus anak di Surulangun sebesar 0%. Dalam
lima tahun terakhir prevalensi kusta tidak mengalami penurunan yang signifikan, akan
tetapi masih berada pada posisi eliminasi kusta.

2) Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

Untuk mencegah supaya tidak terjadi kasus penyakit ada beberapa langkah
yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah dengan imunisasi. Beberapa penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain:

a) Tetanus Neonatorum

Tetanus neonatorum (TN) disebabkan oleh basil Clostridium tetani, yang masuk
ke tubuh melalui luka. Penyakit ini dapat menginfeksi bayi baru lahir apabila

17
pemotongan tali pusat tidak dilakukan dengan steril. Pada tahun 2019 di Surulangun
tidak ditemukan kejadian tetanus neonatorum.

b). Poliomyelitis dan Acute Flaccid Paralysis (AFP)/ Lumpuh Layuh Akut

Penyakit poliomyelitis merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah


dengan imunisasi. Penyebab penyakit tersebut adalah virus polio yang menyerang
system syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan. Kelompok umur 0-3 tahun
merupakan kelompok umur yang paling sering diserang penyakit ini, dengan gejala
demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. AFP
merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan kekuatan otot
tanpa penyebab yang jelas dan kemudian berakhir dengan kelumpuhan. Selama tiga
tahun terakhir tidak ditemukan kasus polio di wilayah kerja puskesmas Surulangun. Hal
ini menunjukkan kinerja Puskesmas Surulangun sudah baik.

b) Campak

Penyakit campak adalah penyakit akut yang mudah menular baik pada balita,
anak-anak maupun orang dewasa yang disebabkan oleh virus campak. Penularan
campak dapat terjadi melalui udara yang terkontaminasi dan secret orang yang
terinfeksi. Pada tiga tahun terakhir tidak ditemukan kejadian campak. Keberhasilan
menekan kasus campak tidak terlepas dari pelaksanaan imunisasi campak secara rutin
baik di tingkat Puskesmas dan sarana kesehatan lainnya, penyediaan sarana vaksin
yang sudah memadai, tenaga yang mencukupi serta kesadaran masyarakat untuk
mendapatkan imunisasi campak bagi bayi/balitanya.

3) Penyakit Potensial KLB / Wabah

a) Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue
dan ditularkan oleh vector nyamuk aedes aegypty. Indonesia merupakan negara tropis
yang secara umum mempunyai risiko terjangkit penyakit DBD, karena vektor
penyebabnya yaitu nyamuk Aedes aegypti tersebar luas di kawasan pemukiman
maupun tempat-tempat umum, kecuali wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari
1000 meter di atas permukaan laut. Serangan penyakit DBD berimplikasi luas terhadap
kerugian material dan moral berupa biaya rumah sakit dan pengobatan pasien,
kehilangan produktivitas kerja dan yang paling fatal adalah kehilangan nyawa.
Perjalanan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) cepat dan dapat mengakibatkan
kematian dalam waktu singkat. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang sering
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Kecamatan Rawas Ulu
merupakan daerah endemis DBD, karena selama 3 tahun berturut . turut selalu

18
dilaporkan adanya kasus DBD. Namun belum ada dilaporkan kasus kematian yang di
sebabkan oleh kasus DBD tersebut.di temukan 8 Kasus Demam Berdarah Dengue di
Wilayah Kerja Puskesmas Surulangun tahun 2019.

Tiga hal penting dalam upaya pemberantasan DBD adalah 1) Peningkatan


surveilans penyakit dan surveilans vektor, 2) diagnosis dini dan pengobatan dini, 3)
peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya
pemberantasan vektor yang telah dilaksanakan melalui pemberantasan sarang nyamuk
(PSN) melalui 3M plus (Menguras,menutup dan mengubur) plus menabur larvasida.
Indikator yang

Adanya kasus DBD di di Kecamatan Rawas Ulu disebabkan oleh lingkungan


dengan tingkat sanitasi yang kurang memadai, tingkat kepadatan penduduk serta
tingkat kepadatan populasi nyamuk aedes aegypty yang tinggi, serta masih rendahnya
peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk. Berbagai upaya telah
diambil untuk menanggulangi penyakit Demam Berdarah di masyarakat, diantaranya
adalah melalui Fogging massal maupun fokus, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
melalui program 3 M plus, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta
peningkatan sanitasi lingkungan, dan pemberdayaan pembentukan jumantik di
keluarga.

Kebijakan lain yang telah ditempuh dalam upaya menurunkan Angka Kejadian DBD
adalah dengan mengangkat petugas Juru Pemantau Jentik (jumantik) yang
ditempatkan di masing . masing banjar, dimana bertugas melaksanakan pemantauan
jentik ke rumah . rumah penduduk. Berbagai upaya yang telah dilakukan diharapkan
dapat menurunkan kasus DBD dan kejadian luar biasa yang lebih besar dapat dicegah.

b) Rabies

Rabies merupakan penyakit dengan CFR yang sangat tinggi, yang disebabkan oleh
infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing, kucing, kera
yang di dalam tubuhnya mengandung virus rabies. Pada tahun 2019 di Kecamatan
Rawas Ulu tidak ada kasus rabies .

c) Keracunan Makanan

Sampai tahun 2019 di Kecamatan Rawas Ulu belum pernah ada kejadian keracunan
makanan.

19
BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 bahwa Pusat


Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan
tingkat pertama dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya yang terdiri dari Upaya Kesehatan
Masyarakat dan Upaya Kesehatan Perorangan, yaitu :

A. Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial dan Kesmas Perawatan

1. Pelayanan Promosi Kesehatan termasuk UKS

20
2. Pelayanan Kesehatan Lingkungan

3. Pelayanan KIA KB yang bersifat UKM

4. Pelayanan Gizi Yang Bersifat UKM

5. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

6. Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat

B. Upaya Kesehatan Masyarakat Pengembangan

1. Pelayanan Kesehatan Jiwa

2. Pelayanan Kesehatan Gigi Masyarakat

3. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer

4. Pelayanan Kesehatan Olahraga

6. Pelayanan Kesehatana Lansia

7. Pelayanan Kesehatan Kerja

C. Upaya Kesehatan Perorangan, Kefarmasian dan Laboratorium

1. Pelayanan Pemeriksaan Umum

2. Pelayanan Kesehatan gigi dan Mulut

3. Pelayanan KIA/KB yang bersifat UKP

4. Pelayanaan Kegawat Daruratan

5. Pelayanan Gizi yang bersifat UKM

6. Pelayanan Persalinan

7. Pelayanan Rawat Inap

8. Pelayanan Kefarmasian

9. Pelayanan Laboratorium

D. Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan

1. Puskesmas Pembantu

2. Puskesmas Keliling

3. Bidan Desa

21
4. Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan

A. Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial (UKM Esensial) dan Keperawatan


Kesehatan Masyarakat

1. Pelayanan Promosi Kesehatan (Promkes) termasuk UKS

Setiap program kesehatan dikembangkan dengan tujuan untuk memecahkan


masalah kesehatan. Masalah kesehatan timbul bukan saja karena kuman penyakit,
tetapi juga perilaku manusia. Oleh karenaitu program penanggulangan masalah
kesehatan harus pula mencakup aspek edukatif yang menangani masalah perilaku
sehat. Dengan demikian penyuluhan kesehatan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari setiap program kesehatan. Setiap petugas kesehatan yang
berhubungan langsung dengan masyarakat mempunyai tugas penyuluhan.

a. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

Dalam rangka mencapai Tatanan Sehat maka kegiatan promosi Kesehatan


harus ditingkatkan dengan cara melengkapi materi penyuluhan untuk pasien,
masyarakat dan Kader. Materi penyuluhan dengan berbagai topik kesehatan bisa
berupa leaflet, lembar balik, film, Power Point dan poster - Penyuluhan dilakukan
didalam gedung dan diluar gedung.

1) Penyuluhan Dan Konseling Didalam Gedung

Dilaksanakan di Ruang MTBS, Ruang Promkes, Pojok Laktasi, Pojok oralit dan
diruang tunggu melalui leaflet, lembar balik, DVD/VCD dan kaset.

a) Bahan penyuluhan dan alat peraga tersedia (leaflet, poster, majalah dinding, lembar
balik,DVD/VCD)

b) Petugas penyuluh adalah para medis yang pada saat tersebut terjadwal.

c) Penyuluhan dengan media poster didinding/tembok agar mudah dibaca oleh


pengunjung.

2) Penyuluhan diluar gedung

Dilaksanakan di posyandu, sekolah, pertemuan /rapat di kelurahan/kecamatan, Mobil


Puskesmas keliling. Terjadwal lengkap dengan Notulen, daftar hadir dan RTL

3) UKBM (Usaha Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat)

Salah satu contoh partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan dalam bentuk
Upaya Kesehatan Berbasis Kesehatan (UKBM) salah satunya adalah Posyandu.

22
Posyandu di Wilayah kerja Puskesmas Surulangun pada tahun 2019 dilaporkan
sebanyak 19 posyandu balita dan 19 posyandu lansia dan 17 Posbindu.

4) PHBS (Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat)

Pada tahun 2019 dilakukan pemantauan terhadap rumah tangga dengan jumlah
sasaran 10164 Rumah Tangga. Total jumlah sasaran yg sudah di kaji 9295 Rumah
tangga dengan capaian sejumlah 83,9 %, Rumah tangga tidak memenuhi indikator
PHBS dan sejumlah 7,42 rumah tangga telah ber-PHBS.

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Usaha Kesehatan Sekolah merupakan program strategis dengan sasaran sekitar


23% dari seluruh penduduk yaitu anak usia sekolah (usia 5-19 tahun) yang merupakan
kelompok usia yang sangat rawan karena berada dalam periode pertumbuhan dan
perkembangan. Oleh sebab itu Pemkab Surulangun mengeluarkan kebijakan untuk
memberikan pembinaan khusus kepada anak didik. Diharapkan dalam 12 tahun
mendatang akan terlihat perubahan perilaku anak sekolah secara menyeluruh serta
memberikan imbas pada keluarga dan lingkungannya. Puskesmas Surulangun sebagai
ujung tombak pelaksanaan program UKS bidang kesehatan di wilayah kerja
Puskesmas Surulangun, memiliki sasaran : SD/Mi sebanyak 26 sekolah ,SLTP/MTs
sebanyak 6 sekolah, SMA/MA/SMK sebanyak 4 sekolah.

Tujuan program UKS : Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar
peserta didik dengan meningkatkan PHBS serta derajat kesehatan peserta didik dan
menciptakan lingkungan yang sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan
perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia
Indonesia seutuhnya.

Kegiatan yang dilaksanakan berpedoman pada Trias UKS :

1) Pendataan murid baru ( kelas 1,7,10 )

2) Penjaringan terintegrasi dengan programPromkes, Kes mata, THT, Kesling, Gizi

3) Pemeriksaan berkala

Kegiatan lain yang terintegrasi dengan program lain :

4) Pelaksanaan BIAS

5) Penyuluhan Kesehatan (PHBS)

23
6) Pembinaan dokter kecil

7) Pembinaan PKPR di SD, SMP dan SMA

8) Pembinaan warung sekolah dan lingkungan sekolah

Dalam pelaksanaan UKS masih ada beberapa kendala yang perlu diperbaiki
diantaranya hasil screening anak-anak yang memerlukan perawatan perlu
ditindaklanjuti dengan koordinasi antara petugas kesehatan, guru dan orang tua.

2. Pelayanan Kesehatan Lingkungan ( Kesling)

Upaya kesehatan lingkungan adalah upaya untuk meningkatkan kesehatan


lingkungan melalui usaha sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan tempat
umum, termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan meningkatkan peran
serta masyarakat yang dapat memberi pengaruh jelek terhadap kesehatan mereka.
Sehingga tujuan program ini adalah berubahnya, terkendalinya atau hilangnya semua
unsur fisik dan lingkungan yang terdapat di masyarakat yang dapat memberi dampak
yang kurang baik terhadap kesehatan mereka.

Kegiatan program kesehatan lingkungan yang telah dilaksanakan dalam tahun


2019 meliputi kegiatan :

1) Pengawasan Kualitas Air

Kebutuhan akan air bersih bagi masyarakat kecamatan Rawas Ulu bersumber
dari Perlindungan Mata Air,Perpipaan, Sumur Gali, Sumur Bor, PDAM,dan
Penampungan Air Hujan. Cakupan pemakaian air bersih rumah tangga secara
keseluruhan masyarakat yang menggunakan Sumur gali sudah mencapai 3174 KK
dengan pengguna 13182 Jiwa dan Penggunaan PDAM sebanyak 458 KK dengan 1.832
Jiwa yang di peroleh diperoleh dari sarana umum maupun pribadi/milik sendiri..

2) Inspeksi Sumber Air Bersih

Kegiatan inspeksi sanitasi sarana air bersih dilakukan terhadap fisik sarana
selain PDAM yaitu perpipaan, Sumbur gali, sumur bor, perlindungan mata air,
pemapungan air hujan, sumur pompa tanggan. Inspeksi dilakukan dengan mengunakan
instrument Inspeksi sanitasi IKL (Inspeksi Kesehatan Lingkungan Sumber Air Bersih),
sehingga diketahui tingkat risiko pencemaran pada sumber air tersebut. adapun hasil
inspeksi dapat dilihat pada

Dari hasil inspeksi sanitasi yang telah dilaksanakan ada beberapa sarana sumur
gali yang mempunyai resiko pencemaran Sedang sampai ringan sebanyak 84 Sumur,
Pencemaran Tinggi sampai amat Tinggi Sebanyak 36 Sumur Dengan permasalahan :

24
Sumber air tidak di lengkapi dengan pelindung, bibir sumur kurang dari satu meter tidak
sempurna sehingga memungkinkan airmerembes ke dalam sumur, dinding sumur tidak
disemen sepanjang kedalaman 3 m, sewaktu-waktu ada genangan air di atas lantai.
Ada jamban dengan jarak kurang dari 10 meter sekitar sumur, tidak ada saluran air
limbah, ada sumber pencemaran lain. Upaya yang akan dilakukan dalam mengatasi
permasalahan ini adalah dengan advokasi perbaikan sarana dan melaksanakan
penyuluhan.

3) Pengawasan Lingkungan Pemukiman

a) Pengawasan Jamban Keluarga ( Jaga )

Data akses Jaga di wilayah kerja Puskesmas Surulangun dapat sebagai besar
telah memiliki jamban, persentase askses jamban tertinggi pada desa Remban yaitu
403 Jamban dan yang paling rendah desa Lubuk Mas dengan 14 Jamban Persentase
Akses Jamban Persentase akses jamban keluarga di kecamatan Rawas Ulu sebanyak
2630 Jaga dengan Penduduk pengguna 10566 Jiwa, masih adanya warga yang buang
air besar sembarangan sebesar 4614 Jiwa Upaya yang dilaksanakan adalah dengan
melaksanakan penyuluhan dan pemicuan masyarakat dan aparatur di masing-masing
banjar yang angka BABS nya masih tinngi.

4) Pengawasan TTU ( Tempat- Tempat Umum)

Ada beberapa jenis TTU yang ada di Wilayah Puskesmas Surulangun ,TTU
sehat di wilayah Puskesmas mencapai 23 SD dari jumlah TTU yang diperiksa (26
tempat) ini masih belum mencapai target yaitu 100% ini dikarenakan ada sebagian TTU
belum memiliki sarana dasar sanitasi. Upaya yang akan dilakukan antara lain
pendekatan/pembinaan kepada pihak pengelola TTU untuk mengupayakan
membangun sarana sanitasi dasar dan mengupayakan bantuan pemerintah dan
masyarakat / pengelola untuk pembuatan sarana sanitasi dasar.

5) Pengawasan TPM (Tempat Pengolahan Makanan)

Ada Beberapa jenis TPM di wilayah Kerja Puskesmas Surulangun yang tersebar
di desa-desa Kecamatan Rawas Ulu. Pendataan dan inspeksi sanitasi telah
dilaksanakan pada 8Tempat Pengolahan Makanan dan yang memenuhi syarat 100 %
(delapan Tempat Pengolahan Makanan) .

Upaya yang akan dilakukan adalah dengan memberikan pembinaan dan


penyuluhan secara berkesinambungan.

6) Pendampingan Pelaksanaan Desa STBM

25
STBM merupakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang miliki 5 (lima) pilar
dalam pelaksanaannya diantaranya, (1) stop BABS (Buang Air Besar Sembarangan) (2)
Cuci Tangan Pakai Sabun (3) Pengolahan Sampah Rumah Tangga (4) Pengolahan
Limbah Rumah Tangga dan (5) Penolahan makanan dan Minuman Rumah tangga.
Untuk mewujutkan hal tersbut Puskesmas Surulangun telah Melaksanakan kegitan
diantaranya :

a) Pemicuan Stop BABS

Pemicuan Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) di masyarakat pada
prinsipnya adalah pemicuan terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa
berdosa dan rasa tanggung jawab yang berkaitan dengan kebiasaan BAB di
sembarang tempat. Di Wilayah Kerja Puskesmas Surulangun telah dilaksanakan
Pemicuan di banjar yang paling tinggi angka BABS nya 732 kk di Desa Sungai Baung.

b) Kampanye Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)

Kampanye CTPS dilakukan untuk memberikan sosialisasi cara mencuci tangan


yang benar dengan tujuh langkah menggunakan sabun dibawah air mengalir,

kegiatan menyasar pada ibu rumah tangga yang diharapkan bisa menerapkan
kebiasaan ini dirumah tangga dan menularkannya ke anggota keluarga yang lainnya.
Kegitan ini dilaksanakan terintegrasi dengan kegiatan posyandu dan kegiatan promkes.

c) Sosialisasi STBM kepada Aparat dan Masyarakat

Sosialisasi STBM kepada Aparat dan Masyarakat dilaksanakan bertujuan untuk


membentuk komitmen masyarakat dalam melaksanaaan STBM di wilayah tersebut.
Sosialisasi STBM ini melibatkan pihak desa, tokoh-tokoh masyarakat, Majelis Alit,
Koramil, Babinsa dan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di 15 desa di wilayah
Puskesmas Surulangun.

e) Evaluasi Pasca Pemicuan dan pergerakan Masyarakat

Evaluasi Pasca Pemicuan dilaksanakan untuk mengetahui seberapa besar


progress yang terjadi di masyarakat setelah dilaksanakan pemicuan STBM. Dengan
hasil warga yang belum memiliki jamban sebagian telah mulai berusaha membuat
jamban tipe cempung, di desa-desa yang telah dipicu mulai menganggarkan di Dana
desa untuk membantu warga yang kurang mampu untuk memiliki jamban , Hal ini bisa
terwujut apa bila adanya komitmen dan kerja sama dari semua elemen masyarakat
dalam melaksanakan 5 (lima) pilar STBM.

3. Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM

26
Program ini bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB).

Kegiatan Kesehatan Ibu Sebagai Upaya Kesehatan Masyarakat

1) Penyuluhan di posyandu/ Kelurahan

2) Kunjungan rumah ibu hamil dan bayi/balita risiko tinggi

3) Konseling KB pra persalinan

Kegiatan Lintas Sektoral

1) Audit Maternal Perinatal (AMP) : jika ada kematian ibu hamil/melahirkan dan atau
kematian bayi baru lahir maka Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan akan
mengadakan AMP dengan mengundang team ahli dari Rumah sakit rujukan. Dalam
hal ini penolong persalinan dan kepala Puskesmas yang mewilayahi akan
presentasi.

2) Gerakan Sayang Ibu-Bayi (GSI-B) : kegiatan yang lebih banyak melibatkan peran
masyarakat, kader kesehatan dan team GSI di kelurahan/desa dan Kecamatan.

Hasil Kegiatan Kesehatan Ibu Tahun 2019

1) Kunjungan ANC (KN1)

2) Cakupan ANC Keempat (K4) sesuai standar

3) Cakupan Bumil Resti dideteksi Nakes

4) Cakupan Bumil Resti dideteksi masyarakat

5) Cakupan pertolongan persalinan sesuai standar

6) Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

7) Cakupan pelayanan nifas KF 1

8) Cakupan pelayanan nifas KF3

9) Cakupan KN1

10) Cakupan KN4

11) Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani

12) Cakupan pelayanan bayi baru lahir/neonatal (usia 0-28 hari) sesuai standar

27
Program Kesehatan Anak

Masa lima tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat peka
terhadap lingkungan dan masa ini berlangsung sangat pendek serta tidak dapat diulang
lagi, maka masa balita disebut sebagai masa ”masa keemasan” (golden period),
“jendela kesempatan” (window of opportunity) dan ”masa kritis” (critical period).
Sehingga perlu mendapat perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi
yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi
dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang. Selain hal-hal tersebut berbagai
faktor lingkungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak juga perlu
dieliminasi.

Pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas yang


diselenggarakan melalui kegiatan SDIDTK (Stimulasi Deteksi Intervensi Dini
penyimpangan Tumbuh Kembang) balita.

1) Melakukan Stimulasi yang memadai artinya merangsang otak balita sehingga


perkembangan kemampuan gerak, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian
pada balita berlangsung secara optimal sesuai dengan umur anak.

2) Melakukan Deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining


atau mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk
menindaklanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya.

3) Melakukan Intervensi Dini penyimpangan tumbuh kembang balita artinya melakukan


tindakan koreksi dengan memanfaatkan plastisitas otak anak untuk memperbaiki
penyimpangan tumbuh kembang pada seorang anak agar tumbuh kembangnya
kembali normal atau penyimpanggannya tidak semakin berat. Apabila balita perlu
dirujuk, maka rujukan juga harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan indikasi.

Tujuan Program

1) Tujuan umum:

Agar semua balita umur 0-5 tahun dan anak prasekolah umur 5-6 tahun tumbuh dan
berkembang secara optimal sesuai dengan potensi genetiknya sehingga berguna bagi
nusa dan bangsa serta mampu bersaing di era global.

2) Tujuan khusus:

a) Terselenggaranya kegiatan stimulasi tumbuh kembang pada semua balita dan anak
prasekolah di wilayah kerja Puskesmas.

28
b) Terselenggaranya kegiatan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang pada
semua balita dan anak prasekolah di wilayah kerja Puskesmas Surulangun

c) Terselenggaranya intervensi dini pada semua balita dan anak prasekolah dengan
penyimpangan tumbuh kembang

d) Terselenggaranya rujukan terhadap kasus-kasus yang tidak bisa ditangani di


Puskesmas.

Cakupan anak balita ( 12- 59 bln ) yg mendapat pelayanan sesuai standar.

1) Pelayanan untuk anak balita

1. Pemantauan pertumbuhan minimal 8x/th

2. Stimulasi Dini Inisiasi dan Deteksi Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2x/th.
Dengan pemantauan perkembangan motorik kasar, halus, bahasa, sosialisasi dan
kemandirian

3. Pemberian Vit A dosis tinggi (2000.000 IU), 2 x/th

4. Kepemilikan dan pemanfaatan buku KIA

5. Pelayanan anak balita sakit dengan Manajemen Terpadu Balita sakit (MTBS) adalah
cakupan anak balita ( 12- 59 bl ) yang berobat ke Puskesmas dan mendapat
pelayanan kesehatan sesuai standar ( MTBS ) di suatu wilayah pada kurun waktu
tertentu. Jumlah anak balita didapat dari kunjungan balita sakit yang datang ke pusk (
register rawat jalan ) dan yang datang berobat ke posyandu.Jumlah anak balita sakit
yang mendapat pelayanan standar di dapat di format pencatatan dan pelaporan
MTBS.

2) Kegiatan yang dilakukan didalam gedung :


a) Deteksi tumbuh kembang anak
b) MTBS : pelaksanaannya di Pol MTBS, integrasi dengan pengobatan dan program
gizi
c) Pemberian Vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus.
3) Kegiatan yang dilakukan diluar gedung :
1. Pendataan TK.
2. SDIDTK APRAS (Anak Prasekolah).
3. SDIDTK anak balita di posyandu
4. Pemberian Vit A anak TK (Integrasi dengan Program Gizi).
Pelayanan Keluarga Berencana

29
Pencapaian program KB Untuk cakupan pemantauan akseptor aktif sebesar 7792 Jiwa
dapat di lihat di tabel Jumlah Peserta KB baru dan KB aktif di Wilayah Kerja Puskesmas
Surulangun Tahun 2019.

Tabel:4.1 JUMLAH PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT KECAMATAN


DAN PUSKESMAS
PESERTA KB PESERTA KB
NO DESA BARU AKTIF
JUMLAH JUMLAH
1 2 3 4
1 Remban 62 765
2 Lb.Kemang 37 387
3 Ls. Batu M 22 489
4 Ls. Batu 19 419
5 Sei. Jauh 3 357
6 Sei. Kijang 9 343
7 Sp. Nibung 18 617
8 Sei. Lanang 4 236
9 Ps. Surulangun 19 338
10 Ds. Surulangun 17 514
11 Sei. Baung 73 854
12 Pulau Lebar 11 362
13 Kertadewa 11 256
14 Teladas 6 349
15 Pangkalan 12 551
16 Lb. Mas 5 379
17 Sukomoro 5 576
JUMLAH 333 7792
Sumber :Laporan Pemegang Program KIA-KB Puskesmas Surulangun

4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Kegiatan Program Gizi

1) Penyuluhan Gizi Masyarakat

Penyuluhan gizi masyarakat adalah suatu upaya dalam rangka


memasyarakatkan pengetahuan gizi secara luas guna meningkatkan pengetahuan gizi
menanamkan sikap dan perilaku yang mendukung kebiasaan hidup sehat dengan
makan makanan yang bermutu gizi seimbang. Tujuan dari penyuluhan gizi adalah :

30
a) Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perilaku gizi yang baik melalui
pemasaran Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)

b) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan peningkatan gizi

c) Tercapainya konsumsi energi 2.000 Kkal/orang dan konsumsi protein 52


gram/orang/hari.

Sasaran penyuluhan Gizi adalah seluruh masyarakat terutama :Ibu hamil, ibu
nifas, Ibu menyusui, Ibu balita, Wanita usia subur, Anak usia sekolah dan remaja.
Kegiatan penyuluhan dilakukan secara periodik dan terjadwal seperti di posyandu
setiap kegiatan penimbangan. Materi yang diberikan berupa : Pedoman Umum Gizi
Seimbang (PUGS) dan Tiga Belas Pesan Dasar Gizi Seimbang; ASI Eksklusif dan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI); Makanan Ibu Hamil dan Ibu Menyusui;

Pemasyarakatan Garam Beryodium; Pemasyarakatan Bahan Makanan Sumber Vitamin


A dan Zat Besi; Penyebab dan tanda-tanda kelainan gizi.

Tenaga penyuluh oleh Tenaga Gizi Puskesmas Parademis dan Medis Puskesmas
maupun kader.

2) Pemantauan Pertumbuhan Balita

Pemantauan pertumbuhan anak Balita dilakukan melalui pelayanan gizi di Posyandu


(penimbangan Balita, pemberian paket pertolongan gizi, pelayanan terpadu, PMT baik
pemulihan maupun penyuluhan) :

a) Pemantauan pertumbuhan dilakukan disemua posyandu setiap bulan

b) Kegiatan dilakukan dengan sistem 5 meja dan dilakukan secara terpadu

c) Berat Badan (BB Balita) ditulis dalam KMS atau Buku KIA kalau ada dan dicatat
dalam laporan SIP.

3) Penanggulangan Kekurangan Vitamin A

Penanggulangan kekurangan Vitamin A adalah kegiatan menurunkan prevalensi


kekurangan Vitamin A melalui upaya meningkatkan konsumsi vitamin A melalui sumber
vitamian A dan suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi.

Tujuannya adalah :

a) Mencegah kekurangan Vitamin A

31
b) Menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A pada anak balita

c) Meningkatkan cakupan vitamin A pada ibu nifas

Sasaran pemberian kapsul vitamin Vitamin A :

a) Bayi yaitu bayi berumur 6 . 11 bulan baik sehat maupun sakit dosis 1 kapsul Vitamin
A 100.000 SI yang berwarna biru dan diberikan sekali serentak bulan Pebruari dan
Agustus.

b) Anak balita yaitu semua anak berumur 1 . 5 tahun baik sehat maupun sakit dengan
dosis 1 kapsul vitamin A 200.000 SI yang berwarna merah setiap 6 bulan dan
diberikan serentak bulan Pebruari dan Agustus

c) Ibu nifas yaitu semua ibu baru melahirkan (masa nifas) sehingga bayinya akan
memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI dengan dosis 1 kapsul Vitamin A
200.000 SI diberikan 2 kali paling lambat 30 hari setelah melahirkan.

d) Kejadian tertentu yaitu bayi dan balita yang menderita campak, pneumonia, diare
dan gizi buruk segera diberikan kembali kapsul vitamin A sesuai umur dan dosis
yang dianjurkan

4) ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah memberikan ASI (Air Susu Ibu) saja dari bayi umur 0-6
bulan tanpa memberikan makanan dan atau minuman lain kecuali sirup obat.
Pemberian ASI secara Ekslusif dapat menurunan angka kematian bayi dan sekaligus
meningkatkan status gizi masyarakat menuju tercapainya kwalitas sumberdaya
manusia yang memadai. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :

a) Diperoleh peningkatan pengetahuan dan kemampauan petugas kesehatan di tingkat


Puskesmas dalam upaya meningkatkan penggunaan ASI di masyarakat.

b) Diperolehnya perubahan perilaku gizi masyarakat untuk selalu memberikan ASI


secara eksklusif kepada bayinya sampai umur 6 bulan.

c) Diperolehnya peningkatan angka ASI Eksklusif secara nasional menjadi 80%.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kegiatan sebagai berikut yaitu pengamatan
situasi dilakukan melalui pengumpulan data pencapaian ASI eksklusif,

latar belakang budaya setempat, sumber daya dan saran di Puskesmas dan kelompok
potensial.

. E0 = ASI diberikan begitu bayi lahir

32
. E1 = Bayi mendapat ASI saja sampai 1 bulan setelah lahir

. E2 = Bayi mendapat ASI saja sampai 2 bulan setelah lahir

. E3 = Bayi mendapat ASI saja sampai 3 bulan setelah lahir

. E4 = Bayi mendapat ASI saja sampai 4 bulan setelah lahir

. E5 = Bayi mendapat ASI saja sampai 5 bulan setelah lahir

. E6 = Bayi mendapat ASI saja sampai 6 bulan setelah lahir (ASI Ekslusif)

Pemantauan pelaksanaan Asi Eksklusif 57 bayi yang mendapatkan ASI saja,


yang lulus ASI eksklusif 6 bayi. Beberapa hal yang menyebabkan bayi tidak lulus ASI
Eksklusif adalah keadaan sosial ekonomi keluarga yang tidak mendukung seperti ibu-
ibu yang harus bekerja baik di swasta maupun pemerintah untuk membantu kebutuhan
ekonomi keluarga. Sehingga tidak mungkin ibu-ibu yang melahirkan diberikan cuti
bersalin lebih dari 3 bulan. Kadang-kadang diberikan cuti 1 . 2 bulan kecuali harus
berhenti bekerja, sehinga keseringan bayi di asuh oleh kakek dan neneknya ketika ibu
bekerja. Rencana Tindak lanjut adalah penyuluhan langsung pada ibu nifas dan
meningkatkan penyuluhan dalam gedung pada ibu balita saat imunisasi dan di
posyandu.

5) Penanggulangan Anemia (terintegrasi dengan Kegiatan Kesehatan Ibu)

a) Penanggulangan anemia pada WUS (Ibu hamil, ibu nifas, remaja putri dan pekerja
wanita).Bumil/nifas dianjurkan minum tablet tambah darah dengan dosis 1 tablet
(yang mengandung 60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat/sesuai
rekomendasi WHO) setiap hari selama masa kehamilannya dan 42 hari setelah
melahirkan (minimal 90 tablet).

b) Remaja putri dan pekerja wanita dianjurkan minum tablet tambah darah dengan
dosis 1 tablet setiap minggu dan 1 tablet setiap hari pada saat haid (minimal 10 tablet
setiap bulan) yang dilakukan secara kontinyu.

5. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

1) Pelayanan Imunisasi

Adapun tujuan program imunisasi ini adalah :

a) Tujuan Umum

Menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian bayi akibat PD31

b) Tujuan Khusus

33
- Tercapainya target UCI (Uniersal Child Imunization) yaitu cakupan imunisasi dasar
lengkap minimal 80%, secara merata pada bayi di 100% desa/kelurahan pada tahun
2019
- Tercapainya Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (Insiden <1/1000 kelahiran
hidup dalam satu tahun ) tahun 2019
- Tercapainya pemutusan rantai penularan poliomielitis
- Tercapainya Reduksi Campak (RECAM)

Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta balita
dilaksanakan program imunisasi. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi dasar diantaranya tuberkulose, dipteri, pertusis, tetanus, hepatitis, polio dan
campak.

2) Program Pemberantasan Penyakit Tuberkulosa Paru (TB Paru)

Pada Tahun 2019 ditemukan 154 suspect TB dari target suspect sebanyak 264
orang.suspect TB, setelah melalui pemeriksaan BTA sebanyak 69 orang diantaranya
positif.

3) Program Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pada tahun 2019 ditemukan adanya 8 kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas
Surulangun. Namun demikian tidak ada dilaporkan adanya kematian oleh karena
penyakit DBD.

Pencapaian program penanggulangan penyakit demam berdarah belum


maksimal. Hal ini terlihat dari indikator ABJ (Angka Bebas Jentik) pada tahun 2019
belum mencapai target 96%, meskipun angka kematian akibat DBD tidak ditemukan.
Hal ini mungkin disebabkan karena tidak aktifnya pokja DBD ditingkat kecamatan dan
desa/kelurahan, kurangnya kesadaran masyarakat dalam memberantas sarang nyamuk
serta kurangnya penyuluhan kepada masyarakat tentang penyakit DBD.

4) Surveilens Terdapat berbagai pengertian surveilans.

Menurut WHO (2004), surveilans merupakan proses pengumpulan, pengolahan,


analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan
pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis terhadap
kejadian dan distribusi penyakit serta faktor-faktor yang mempengaruhi nya pada

34
masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan untuk dapat mengambil
tindakan efektif.

5) Pneumonia / ISPA

Penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani di Puskesmas Surulangun


sebanyak 150 kasus ISPA di tahun 2019. Capaian ini jauh dari taget ini disebabkan
karna banyak kasus Pnemonia yang tidak terlacak dan dilaporkan dimasyarakat,
kebanyakan orang tua langsung membawa anaknya ke dokter spesialis anak untuk
berobat.

6) Pemberantasan Penyakit Diare

Program ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena
diare terutama pada bayi dan anak balita. Sasarannya adalah kelompok
masyarakat/perorangan di wilayah kerja Puskesmas Surulangun dan diprioritaskan
pada desa yang tingkat pemakaian sarana kesehatan / higiene perorangan dan
kesehatan lingkungannya masih rendah.

Pada tahun 2019 ditemukan sebanyak 143 kasus diare untuk semua kelompok
umur. Semua kasus sudah ditangani tenaga kesehatan sebanyak 143 kasus. Tidak ada
dilaporkan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh karena diare, demikian juga tidak
ada kematian oleh penyakit diare.

7) Pencegahan dan Penanggulangan IMS, HIV /AIDS

HIV atau singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh kita
untuk melawan segala penyakit yang dating. HIV menyerang dan menghancurkan
sistem kekebalan sehingga tubuh tidak mampu melindungi diri. Berbagai infeksi yang
biasanya tidak berbahaya menjadi ancaman bagi kehidupan. AIDS singkatan dari
Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang
didapat akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh
virus HIV. Penderita AIDS meninggal bukan semata-mata disebabkan oleh virus, akan
tetapi oleh penyakit lain yang biasanya tidak terlalu berbahaya menjadi mematikan
karena sistem kekebalan tubuh kita sudah tidak berfungsi lagi. IMS merupakan infeksi
yang menular melalui hubungan seksual. Pada laki-laki gejala IMS lebih mudah
dikenali, namun pada wanita sebagian besar tidak menimbulkan gejala dan cenderung
menjadi sumber penularan IMS ini. Capain Kinerja Pencegahan dan Penanggulangan
IMS, HIV/AIDS

8) Pemberantasan Penyakit Malaria

35
Pada tahun 2019 tidak ditemukan adanya kasus malaria di wilayah kerja
Puskesmas Surulangun. Pelacakan dan Penemuan Kasus Malaria secara dini
dilakukan dengan pengambilan darah ACD dan PCD. Kasus malaria positif tidak
ditemukan pada tahun 2019.

9) Pemberantasan Penyakit Rabies

Penyakit hewan yang bersifat zoonosis (menular ke manusia). Virus rabies


dikeluarkan bersama air liur Hewan Penular Rabies (HPR) yang terinfeksi seperti
anjing, kucing, kera dan ditularkan melalui luka gigitan atau jilatan. Pada tahun 2019
terdapat 3 kasus gigitan HPR oleh anjing.

10) Pemberantasan Kecacingan

Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa


cacing. Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Infeksi kecacingan
adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing kelas nematode usus khususnya yang
penularan melalui tanah, diantaranya Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan
cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan Strongyloides
stercoralis. Cacingan adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi cacing usus
(soil transmitted helmithes) di dalam tubuh manusia.

a. Pelayanan Kesehatan Jiwa

Tujuan program adalah untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa sehingga


dapat dilakukan upaya pencegahan baik mencegah agar tidak terjadi maupun
mencegah agar tidak berkembang menjadi lebih buruk.

Kegiatan yang dilaksanakan :

1) Penyuluhan pada masyarakat umum melalui posyandu, safari kesehatan,


perorangan dan keluarga pasien, pertemuan lintas sektoral penemuan pasien

2) Pengobatan dan rujukan pasien

3) Kunjungan rumah Pencatatan dan pelaporan

Kegiatan Yang Dilakukan:

1) Kegiatan Dalam Gedung

Kegiatan dalam gedung dalam upaya kesehatan jiwa antara lain penyuluhan,
penemuan, pengobatan dan rujukan pasien.

2) Kegiatan Luar Gedung

36
a.Melakukan penyuluhan

Penyuluhan saat posyandu, Puskesmas keliling, Safari kesehatan dan


pertemuan lintas sektoral. Mendata dan kunjungan rumah pada kasus kelainan jiwa
atau yang di pasung. Di puskesmas Surulangun memiliki 39 orang dengan gangguan
jiwa

b. Pelayanan Kesehatan Olahraga

Upaya kesehatan olah raga adalah salah satu upaya kesehatan yang bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani melalui aktivitas fisik
dan atau olah raga. Dalam rencana pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat
2010, program kesehatan olahraga merupakan salah satu program dari pokok program
prilaku hidup sehat dan pemberdayaan masyarakat. Kesehatan olahraga telah
ditetapkan sebagai salah satu indikator keberhasilan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS).

Kesehatan Olahraga (Kesorga) merupakan program pengembangan yang memiliki


kegiatan cukup banyak, dan dilaksanakan di masing-masing wilayah desa di wilayah
kerja Puskesmas Surulangun.

c. Pelayanan Kesehatan Lansia

Puskesmas Surulangun memberikan prioritas pada pasien dari lansia mulai dari
loket sampai ke tempat duduk di ruang tunggu yang terpisah dari pasien umum.dan
memberikan layanan pada posyandu lansia merupakan strategi pelayanan kesehatan
bagi usia lanjut sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian terhadap usia lanjut
dengan segala kondisinya baik fisik, mental dan psiko-sosial. Jumlah usia lanjut yang
semakin meningkat, harus menjadikan perhatian kita untuk dapat melakukan
pembinaan sedini mungkin agar mereka tetap terpelihara kesehatan dan
kemandiriannya.

Tujuan Puskesmas adalah :

1) Melakukan perencanaan terarah dalam pelayanan lansia sesuai kebutuhan

2) Pelayanan proaktif,berkualitas

3) Kemudahan pelayanan

4) Menurunkan jumlah kesakitan

5) Mewujudkan lansia produktif dan bahagia

6) Mengembalikan kemampuan dan kepercayaan diri lansia

37
e. Pelayanan Kesehatan Kerja

Upaya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat pekerja secara minimal


dan paripurna meliputi upaya peningkatan kesehatan kerja, pencegahan, penyembuhan
dan pemulihan institusi pelayanan kesehatan kerja dasar.

Tujuan UKK adalah: Terselenggaranya pelayanan kesehatan kerja dasar oleh


Puskesmas di kawasan industri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat pekerja. Bagi Puskesmas yang berada di wilayah kerja di kawasan industri,
wajib mengembangkan Upaya Kes Kerja yang merupakan kebutuhan dan masalah
pada wilayah kerjanya. Untuk melaksanakan UKK pada Puskesmas perlu kerja sama
dengan pengusaha, serikat pekerja, Dinas tenaga kerja, Dinas Perindustrian.

f. Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer (YANKESTRADKOM)

Pengembangan kesehatan tradisional di pukesmas ditekankan pada upaya


promotif dan preventif dengan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan TOGA
dan pembinaan penyehat tradisional. hal ini sejalan dengan indikator rencana strategis
(RENSTRA) Kementerian Kesehatan di bidang Pelayanan Kesehatan Tradisional,
alternatif dan komplementerer tahun 2015-2019.

1. TOGA

Tanaman obat keluarga merupakan beberapa jenis tanaman obat pilihan yang
ditanam di pekarangan rumah atau lingkungan sekitar rumah. Tanaman obat yang
dipilih biasanya tanaman obat yang dapat digunakan untuk pertolongan pertama atau
obat . obat ringan seperti deman dan batuk. Tanaman obat yang sering ditanam di
pekarangan rumah antara lain sirih, kunyit, temulawak, kumis kucing, sambiloto, dan
lain . lain. Tanaman obat keluarga selain digunakan sebagai obat juga memiliki
beberapa manfaat lain yaitu :

a) Dapat dimanfaatkan sebagai penambah gizi keluarga seperti Tomat, pepaya, timun,
dan bayam.

b) Dapat dimemanfaatkan sebagai bumbu atau rempah . rempah masakan seperti


Cabai, kunyit, kuncur, jahe, serai, dan daun salam.

c) Dapat menambah keindahan (estetis)/menambah keasrian pekarangan karena


ditaman di pekarangan rumah seperti mawar, melati, bunga matahari, kembang
sepatu, tapak dara dan kumis kucing.

38
d) Tanaman obat . obatan dapat ditanam dalam pot . pot atau dilain sekitar rumah.
Apabila lahan yang dapat ditanami cukup luas, maka sebagaian hasil panen dapat
dijual dan untuk menambah penghasilan keluarga.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya


membudiyakan tanaman obat keluarga akan terus dilaksanakan penyuluhan dan
pembinaan kepada keluarga dalam wilayah Puskesmas Surulangun.

Kegiatan yang telah dilaksanakan sebagai berikut :

a) Pengumpulan Data Dan Penjaringan Masyarakat Yang Memiliki. Tujuan adalah


untuk mengetahui sudah berapa banyak kepada keluarga di masing . masing banjar
yang mempunyai TOGA. Sasaran dalam kegiatan ini Kepala keluarga di masing .
masing.

b) Penyuluhan TOGA. Tujuan adalah Memberikan informasi kepada masyarakat dan


institusi tentang manfaat TOGA. Sasarannya Masyarakat & Anak sekolah.

c) Pembinaan Dan Bimbingan Terhadap Masyarakat. Tujuannya Membina dan


membimbing masyarakat yang sudah memiliki TOGA agar dapat memanfaatkannya
dengan baik. Sasarannya Masyarakat yang sudah memiliki TOGA. Hasil pembinaan
dan bimbingan sudah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan jadwal.

g. Pelayanan Kesehatan Gigi Anak Sekolah

Upaya Kesehatan Gigi di Puskesmas ini pada dasarnya di bagi dalam beberapa
kegiatan sebagai berikut :

1. Pembinaan / Pengembangan

2. Pelayanan Asuhan pada kelompok Rawan

3. Pelayanan Medik Gigi Dasar

4. Pencatatan dan Pelaporan

Tujuan Umum : Tercapainya derajat Kesehatan Gigi Anak Sekolah yang optimal

Tujuan Khusus :

1) Meningkatnya kesadaran, Sikap perilaku Siswa dalam kemampuan pelihara diri (Self
Care) dibidang Kesehatan Gigi dan Mulut dan mau mencari pengobatan sedini
mungkin.

39
2) Menurunnya Prevalensi penyakit Gigi dan Mulut yang banyak di derita Siswa dengan
upaya perlindungan / pencegahantanpa mengabaikan upaya penyembuhan dan
pemulihan,terutama pada kelompok masyarakat yang rawan

3) Terhindarnya / berkurangnya gangguan fungsi kunyah akibat kerusakan / penyakit


gigi dan mulut.

Pemeriksaan dan perawatan yang diberikan pada kelompok rawan penyakit gigi
dan mulut adalah sebagai berikut: Untuk frekwensi pembinaan petugas kesehatan
dalam bidang kesehatan gigi dan mulut ke SD dilaksanakan 2 kali per tahun per SD
yaitu pada saat :

1) Penjaringan

2) Pelatihan dokter kecil

3) Pada saat UKGS dengan sikat gigi masal dan pemeriksaan kesehatah gigi anak
kelas IV dan kelas V.

Untuk cakupan upaya pelayanan pengobatan koperhensif pada anak sekolah


mencakup 80 % dari jumlah murid kelas selektif yang memerlukan perawatan.

C. Upaya Kesehatan Perorangan, Kefarmasian dan Laboratorium

a. Pelayanan Pemeriksaan Umum

Upaya pelayanan kesehatan dalam gedung yang dilaksanakan di Puskesmas


Surulangun meliputi pelayanan rawat Jalan dan rawat inap.

b. Pelayanan Kesehatan gigi dan Mulut

Unit pelayanan yang menangani pemeriksaan dan perawatan gigi dengan jenis-
jenis pelayanan seperti: ekstraksi gigi, pembersihan plak dan karang gigi,
penambalan gigi dan pemeliharaan gigi. Unit ini dilengkapi dengan satu dental unit
yang ditangani oleh Tiga orang perawat gigi.

c. Pelayanan KIA/KB yang bersifat UKP

Pelayanan KIA di Puskesmas Surulangun memiliki pelayanan dalam gedung


diantarnya:

1) Pemeriksaan Ibu hamil :

Pelayanan ANC terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten

a) Anamnesa

40
b) Pemeriksaan : fisik (umum/kebidanan) psikologis (kejiwaan) ibu hamil dan lab (atas
indikasi)

c) Penanganan dan tindak lanjut kasus (sesuai risiko yg ada)

2) Standar pelayan minimal Ibu hamil :

a) Timbang BB dan ukur TB

b) Ukur LILA

c) Ukur Tekanan darah

d) Ukur Tinggi fundus uteri

e) Hitung denyut jantung janin (DJJ)

f) Tentukan presentasi janin

g) Pemberian imunisasi TT lengkap

h) Pemberian Tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan

i) Permeriksaan lab rutin dan khusus(PMS)

j) Tatalaksana/ penanganan kasus

k) KIE Efektif (Temu wicara/konseling) termasuk Program Perencanaan Persalinan dan


Pencegahan Komplikasi (P4K) dan KB pasca persalinan

3) Pemeriksaan laboratorium rutin ibu

4) Pertolongan persalinan normal dan mampu PONED di Puskesmas Surulangun

5) Pelayanan Ibu Nifas meliputi : Pemeriksaan TD, Nadi, Respirasi, suhu, Pemeriksaan
tinggi FU (involusi uterus), Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran pervaginam lainnya.
Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bln, Pemberian kapsul vit A 200.000
IU 2x (sgr stlh melahirkan dan 24 jam berikutnya), Pelayanan KB pasca salin

6) Penanganan Neonatal

MTBS Program mencakup manajemen terpadu bayi muda umur 1 hari- 2 bulan,
baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Pengembangan pendekatan MTBS adalah
keterpaduan pelayanan tidak hanya kuratif saja, namun sekaligus pelayanan preventif
seperti imunisasi, pemberian Vit A, menilai dan memperbaiki cara pemberian ASI serta
memberikan konseling kepada ibu tentang cara merawat dan mengobati anak sakit di
rumah.

41
d. Pelayanaan Kegawat Daruratan

Unit pelayanan ini menangani kasus-kasus yang bersifat kegawat daruratan,


yang terdiri dari kasus darurat bedah dan darurat non bedah. Unit ini ditangani oleh satu
orang dokter umum dan 3 orang perawat dan bidan. Untuk menunjang kinerja dan
kelancaran pelayanan selama 24 jam.

e. Pelayanan Gizi yang bersifat UKP

f. Pelayanan Kefarmasian

Obat dan perbekalan kesehatan merupakan sarana penunjang keberhasilan


pelayanan kesehatan khususnya penyembuhan penyakit. Kedudukan obat dalam
pelayanan kesehatan sangat penting, karena itu jumlah persediaan, distribusi dan
pelayanan obat diharapkan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Penyediaan
kebutuhan obat dan perbekalan di puskesmas ini dilakukan oleh dinas kesehatan
kabupaten. Disamping itu puskesmas juga menganggarkan dana untuk kebutuhan
obat-obatan bila pemenuhan obat-obatan dari dinas kesehatan kurang sesuai dengan
kebutuhan dari Puskesmas.

g. Pelayanan Laboratorium

Laboratorium merupakan penunjang dalam upaya menentukan diagnose


penyakit pasien secara tepat dan akurat. Tindakan atau treatment medis yang akan
diberikan kepada pasien sangat mempertimbangkan hasil laboratorium yang diperoleh.

Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu pemeriksaan penunjang untuk


memperkuat penegakkan diagnosa suatu penyakit. Pemeriksaan laboratorium yang
dapat dilakukan di Puskesmas Surulangun meliputi pemeriksaan darah, urine, kimia
darah, gula darah, darah mal dan BTA.Jenis dan jumlah.

D. Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan

a. Puskesmas Pembantu

Peskesmas Surulangun memiliki wilayah kerja yang cukup luas terdiri dari 17 desa
untuk memberikan pelayanan yang menjangkau kesemua desa Puskesmas Surulangun
memiliki beberapa jaringan 9 Pustu dan 17 Polindes/Poskesdes.

Tabel.4.2 Jaringan dan jejaring Puskesmas

N
JENIS JARINGAN NAMA RASIO
O
1 PUSKESMAS - Remban, 10 : 34.523
PEMBANTU - Lubuk Kemang, Jiwa
- Lesung Batu Muda,

42
- Surulangun,
- Sungai Jauh,
- Sungai Lanang
- Simpang Nibung Rawas,
- Pulau Lebar,
- Pangkalan,

2 PUSKESMAS KELILING Kendaraan Roda empat Doubel 1: 34.523 Jiwa


gardan
3 BIDAN DESA - Remban, 18 : 34.523
- Lubuk Kemang, Jiwa
- Lesung Batu Muda,
- Lesung Batu,
- Surulangun,
- Sungai Jauh,
- Sungai Kijang,
- Sungai Lanang,
- Simpang Nibung Rawas,
- Sukomoro,
- Sungai Baung,
- Pulau Lebar,
- Kertadewa,
- Teladas,
- Pangkalan,
- Lubuk Mas,
- Kelurahan Pasar
Surulangun

Tujuan Puskesmas Pembantu adalah untuk meningkatkan jangkauan dan mutu


pelayanan kesehatan bagi masyarakat diwilayah kerjanya.
a. Fungsi Puskesmas Pembantu adalah untuk menunjang danmembantu
melaksanakan kegiatan yang dilakukan Puskesmas,di wilayah
kerjanya.Puskesmas Pembantu didirikan dengan perbandingan 1 (satu)
Puskesmas Pembantu untuk melayani 2 (dua) sampai 3 (tiga) desa/kelurahan.
b. Puskesmas Pembantu:
- Meningkatkan akses dan jangkauan pelayanan dasar diwilayah kerja
Puskesmas.
- Mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan terutamaUKM
- Mendukung pelaksanaan kegiatan Posyandu, Imunisasi, KIA, penyuluhan
kesehatan, surveilans, pemberdayaan masyarakat, dan lain-lain.
- Mendukung pelayanan rujukan.
- Mendukung pelayanan promotif dan preventif.
c.Penanggungjawab Puskesmas Pembantu adalah seorang perawat atau Bidan, yang
ditetapkan oleh Kepala Puskesmas.
b. Puskesmas Keliling

Puskesmas Keliling dilakukan setiap bulan di semua desa di wilayah kerja


Puskesmas Surulangun sesuai dengan jadwal yang telah diberikan oleh desa dan telah

43
disepakati saat Minilokakarya Lintas sektoral, dimana dalam kegiatannya terintegrasi
dengan beberapa kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakat lainnya seperti posbindu
penyakit tidak menular, posyandu lansia, posyandu bayi dan balita serta taman
posyandu

c. Bidan Desa

Puskesmas Surulangun memiliki bidan yang ditempatkan dan bertempat tinggal


pada satu desa dalam wilayah kerja Puskesmas sebagai jaringan pelayanan
Puskesmas. Penempatan bidan di desa utamanya adalah dalam upaya percepatan
peningkatan kesehatan ibu dan anak,disamping itu juga untuk peningkatan status
kesehatan masyarakat. Wilayah kerja bidan di desa meliputi 1 (satu) wilayah desa, dan
dapat diperbantukan pada desa yang tidak ada bidan,sesuai dengan penugasan kepala
Puskesmas.Tugas bidan desa, sesuai kewenangannya, yaitu:
1. Pelayanan KIA-KB.
2. Pelayanan promotif, preventif dan pemberdayaan masyarakat.
3. Deteksi dini dan pengobatan awal terkait kesehatan ibu dananak, termasuk gizi

c. Jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan

N
JENIS JARINGAN NAMA RASIO
O
Bidan Praktek Swasta -Susi Wahyuni,Am.Keb 1
1
-Susilawati,STr.Keb 1
2 Dokter Praktek dr.Ladonna Sianturi 1
3 Apotek Apotek Annisa 1

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
a. Puskesmas adalah Unit pelaksana teknis dinas Kabupaten yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya secara menyeluruh dan berkesinambungan, dengan

44
tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
b. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan Upaya Kesehatan Masyarakat dan Upaya Kesehatan
Perorangan tingkat pertama dengan lebih mengutamakan upaya promotif
dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
yang terdiri dari Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) dan Jejaring.
c. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu unsur terpenting
dalam organisasi. Jalan tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari
keberadaan SDM. SDM Kesehatan yang memiliki kompetensi tentu akan
menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan, program dan pelayanan
kesehatan.
d. Masih banyak capaian-capaian program yang harus di tingkatkan
lagi,Guna mencapai Visi dan Misi dari Puskesmas Surulangun.

5.2 Saran
a. Perlu adanya peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui
pelatihan-pelatihan kesehatan dalam upaya memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu danberkualitas.
b. Peningkatan kerjasama lintas program dan lintas sektoral perlu di
tingkatkan lagi guna menyamakan persepsi dalam mencapai tujuan yang
tertuang dalam visi dan misi puskesmas.

45