Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN


ASUMSI MODEL KOMPARTEMEN

Disusun oleh :
Kelompok : 12
Nama Mahasiswa : 1. Frans Cornelius Koreh (052201046)
2. Ni Made Budiarthi Astini (052201061)
3. Sri Widayanti (052201079)
4. Risky Yanuari Wahyuni (052201080)
Tanggal Praktikum: Rabu, 14 Oktober 2020

PROGRAM STUDI S1 FARMASI TRANSFER


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
SEMARANG
2020
I. Tujuan Praktikum
1. Agar mahasiswa mampu memperkirakan model kompartmen
berdasarkan kurva semilogaritmatik kadar obat dalam plasma/darah
lawan waktu.
2. Agar mahasiswa mampu menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan
untuk pengukuran parameter farmakokinetika berdasarkan model
kompartemen suatu obat.

II. Dasar Teori


Analisis farmakokinetika dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan
parameter-parameter farmakokinetika. Pada tahap selanjutnya parameter-
parameter tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan misalnya
menentukan laju absorpsi, metabolisme dan ekskresi melalui urin:
memperhitungkan ketersedian hayati (bioavailabilitas) suatu produk;
menghubungkan respon farmakologi dengan konsentrasi obat di dalam
plasma, cairan tubuh lain atau jaringan; memprediksi kadar obat dalam
darah setelah pemberian dosis ganda; mengoptimalkan aturan dosis untuk
obat-obat tertentu dan masih banyak lagi. Dalam mempelajari analisis
farmakokinetika terlebih dahulu harus dipahami tentang model
kompartemen, ordo kinetika, strategi penelitian dan teknik analisis obat
dalam cairan biologis (Mirakel, 2007).
Dalam suatu penelitian/studi farmakokinetika, perkembangan
kadar/jumlah obat (senyawa asal dan atau metabolitnya) dalam tubuh
dilakukan pada titik-titik waktu yang diskontinyu (misalnya pada waktu-
waktu 30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam dan 8 jam setelah pemberian
obat), karena sampai dengan saat ini memang tidak mungkin untuk dapat
menentukan kinetika obat dalam tubuh secara eksperimental dalam waktu
yang kontinyu. Dengan demikian, data eksperimental yang akan kita peroleh
hanyalah untuk waktu-waktu tersebut tadi. Jika data tersebut dibiarkan apa
adanya, tidak banyak manfaat yang bias ditarik. Oleh karena itu, dalam
dunia farmakokinetika akan dijumpai apa yang disebut dengan "Model ".
"Model" yang paling sering dipakai adalah model kompartemental, di mana
keadaan tubuh direpresentasikan ke dalam bentuk kompartemen: satu
kompartemen atau pluri-kompartemen. Tiap kompartemen mempunyai
besaran volume (isi) yang disebut "Volume Distribusi”. Model-model tadi
hanyalah suatu representasi matematika yang tidak bias dihubungkan
dengan keadaan fungsi-fungsi tubuh secara tegas. Oleh karena itu "Volume
distribusi" tadi disebut "volume distribusi yang timbul" (apparent volume of
distribution) (Cahyati, 1985).
Farmakokinetik secara definitif adalah ilmu yang mempelajari
kinetika absorbsi obat, distribusi, dan eliminasi (metabolisme dan ekskresi)
(Shargel and Yu, 1985). Setelah obat masuk ke dalam tubuh, molekul obat
akan diabsorbsi dari gastrointestinal. Kecepatan absorbsi dan eliminasi
menentukan kadar obat dalam darah yang dicapai oleh sirkulasi sistemik,
organ, jaringan dan sel. Setelah diabsorbsi, obat akan mengalami
metabolisme di dalam hati, dikeluarkan dari hati ke empedu atau mencapai
sirkulasi sistemik (Mutschler, 1991). Sebelum obat mencapai tujuannya
dalam tubuhnya itu: tempat kerja dan menimbulkan efek, obat mengalami
banyak proses, secara garis besar proses-proses tersebut terbagi dalam tiga
tingkat yaitu fase biofarmasetika, fase farmakokinetika, dan fase
farmakodinamika (Mutschler, 1991). Dalam tubuh obat mengalami
beberapa proses sebagai berikut:
1. Absorbsi
Absorbsi merupakan proses pengambilan obat dari permukaan tubuh
(disini termasuk juga mukosa saluran cerna) atau dari tempat-tempat
tertentu dalam organ dalam ke dalam aliran darah (Mutschler, 1991).
Kecepatan absorbs terutama tergantung pada bentuk dan cara pemberian
serta sifat fisik kimia dari obat. Obat yang di absorbs tidak semua mencapai
sirkulasi sistemik, sebagian akan di metabolisme oleh enzim di dinding usus
atau mengalami metabolisme eliminasi lintas pertama (first pass metabolism
or elimination). Obat yang demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang
tidak begitu tinggi meskipun absorbs secara oralnya mungkin hamper
sempurna. Dengan demikian istilah bioavailabilitas menggambarkan
kecepatan, kelengkapan absorbsi sekaligus metabolisme sebelum mencapai
sirkulasi sistemik (Ganiswara, 2007). Faktor-faktor seperti luas permukaan
dinding usus, kecepatan pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna,
dan aliran darah ketempat absorbsi dapat mempengaruhi laju dan jumlah
absorpsi obat dipengaruhi beberapa faktor, misalnya formulasi, stabilitas
obat terhadap asam lambung, enzim pencernaan dan makanan (Shargel and
Yu, 1985).
2. Distribusi
Distribusi obat keseluruh tubuh terjadi saat obat mencapai sirkulasi.
Selanjutnya obat harus masuk ke jaringan untuk bekerja (Neal, 2006).
Distribusi obat dibedakan atas dua fase berdasarkan penyebarannya di
dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan,
yaitu ke organ yang per fusinya sangat baik misalnya jantung, hati, dan otak.
Selanjutnya distribusi fase kedua jauh lebih luasnya itu mencakup jaringan
yang per fusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit dan
jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu
yang lebih lama (Ganiswara, 2007).
3. Metabolisme dan Ekskresi
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, obat mengalami proses metabolisme
(biotransformasi) terlebih dahulu. Biotransformasi atau metabolisme obat
adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan
dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih
polar artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak
sehingga lebih mudah di ekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya
obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam
mengakhiri kerja obat (Ganiswara, 2007). Metabolisme terjadi terutama di
hati dan hanya dalam jumlah yang sangat rendah terjadi dalam organ lain
seperti dalam usus, ginjal, paru-paru, limpa, otot, kulit atau dalam darah
(Mutschler, 1991). Seperti halnya metabolisme, ekskresi suatu obat dan
metabolitnya menyebabkan penurunan konsentrasi bahan berkhasiat dalam
tubuh (Mutschler, 1991). Ekskresi ginjal memegang tanggung jawab utama
untuk eliminasi sebagian besar obat (Neal, 2006).
Kurva kadar dalam plasma-waktu dihasilkan dengan mengukur
konsentrasi obat dalam cuplikan plasma yang diambil pada berbagai jarak
waktu setelah pemberian obat. Selama obat mencapai sirkulasi umum
(sistemik), konsentrasi obat dalam plasma akan naik sampai maksimum.
Pada umumnya absorpsi suatu obat terjadi lebih cepat daripada eliminasi.
Selama obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik, obat di distribusikan ke
semua jaringan dalam tubuh dan juga serentak dieliminasi. Dalam
menggambarkan sistembiologi yang kompleks tersebut dibuat
penyederhanaan anggapan mengenai pergerakan obat itu. Berbagai model
matematik dapat dirancang untuk meniru proses absorpsi, distribusi, dan
eliminasi obat. Model matematik ini memungkinkan perkembangan
persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai
fungsi waktu (Shargel and Yu, 1985).

Model matematik ini memungkinkan perkembangan persamaan untuk


menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu. Model
farmakokinetik dapat memberikan penafsiran yang lebih teliti tentang
hubungan kadar obat dalam plasma dan respon farmakologik. Tanpa data
farmakokinetik, kadar obat dalam plasma hampir tidak berguna untuk
penyesuaian dosis. Untuk menggunakan data farmakokinetik secara tepat,
penting untuk diketahui waktu cuplikan darah diambil, besarnya dosis yang
diberikan dan rute pemberiannya. Jika data telah didapat, penggunaan
persamaan farmakokinetik dan modelnya dapat menggambarkan kurva
kadar obat dalam plasma vs waktu secara teliti. Dengan demikian
pemantauan konsentrasi obat dalam plasma memungkinkan untuk
penyesuaian dosis obat secara individual dan untuk mengoptimasi terapi
(Shargel and Yu, 1985).

Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel and Yu, 1985):

a. Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada


berbagai pengaturan dosis
b. Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara
individual
c. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dengan aktivitas
farmakologi atau metabolit – metabolit
d. Menghubungkan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas
farmakologik atau toksikologik
e. Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
f. Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi
absorbsi, distribusi dan eliminasi
g. Menjelaskan interaksi obat

Penelitian farmakokinetik suatu zat aktif merupakan penelitian


identifikasi dan penetapan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi
waktu sehingga dapat menggambarkan model matematik. Model tersebut
dapat berupa model satu kompartemen atau multi kompartemen yang sangat
tergantung pada proses yang dialami zat aktif selama dalam tubuh (Shargel
and Yu, 1985).

Model Farmakokinetik merupakan suatu hubungan matematik yang


menggambarkan perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam sistem yang
diperiksa. Metode analisis kompartemental digunakan untuk memperkirakan
dan menentukan secara kuantitatif apa yang terjadi terhadap obat sebagai
fungsi waktu dari saat diberikan sampai waktu dimana obat tersebut sudah
tidak ada lagi di dalam tubuh. Adapun model farmakokinetik, yaitu:

1. Model satu kompartemen terbuka


Pada model satu kompartemen terbuka, obat hanya dapat memasuki
darah dan mempunyai volume distribusi kecil, atau juga dapat memasuki
cairan ekstrasel atau bahkan menembus sehingga menghasilkan volume
distribusi yang besar (Gibson and Skett, 1991). Pada model satu
kompartemen terbuka terlihat seolah-olah tidak ada fase distribusi, hal ini
disebabkan distribusinya berlangsung cepat.
2. Model dua kompartemen terbuka
Model dua kompartemen terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan
perifer, biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifernya jaringan
lain. Pengelompokan kompartemen pusat maupun perifer tergantung pada
obat yang bersangkutan (Gibson and Skett, 1991). Distribusi obat dalam
darah ke jaringan lunak dan ke dalam jaringan dalam lain terjadi pada laju
yang berbeda-beda. Keadaan tunak yang tercapai akan mengakhiri fase
distribusi. Pada model dua kompartemen, tubuh dianggap terdiri atas dua
kompartemen yaitu kompartemen sentral dan kompartemen perifer.
Kompartemen sentral meliputi darah dan berbagai jaringan yang banyak
dialiri darah seperti jantung, paru, hati, ginjal dan kelenjar-kelenjar.
Variabel dalam farmakokinetik terdapat dua macam, yaitu variabel
tergantung dan variabel bebas. Dalam praktek parameter farmakokinetik
tidak ditentukan secara langsung, tetapi ditentukan melalui percobaan dari
sejumlah variabel tergantung dan bebas, yang secara bersama dikenal
sebagai data. Melalui data dapat diperkirakan model farmakokinetik yang
kemudian diuji kebenarannya dan selanjutnya diperoleh parameter-
parameter farmakokinetiknya. Variabel bebas meliputi variabel interval dan
variable eksternal. Kedua variabel ini secara langsung mempengaruhi
parameter primer, yang terdiri dari Ka (kecepatan absorpsi), Vd (volume
distribusi) dan Cl (clearance). Parameter primer mempengaruhi parameter
sekunder dan parameter turunan. Parameter sekunder terdiri dari T 1/2
(waktu paruh eliminasi) dan F eliminasi. Parameter turunan terdiri dari AUC
(Area Under Curve), F oral dan Css (kadar obat dalam darah). Sehingga
parameter primer, parameter sekunder dan parameter turunan merupakan
variabel tergantung.

III. Alat dan Bahan


Alat:
− Pipet volume − Tabung reaksi − Stopwatch
− Pipet ukur − Tabung sentrifuge − Mikropipet
− Pipet tetes − Spektrofotometer − Vortex
− Labu takar − Scalpel − Kertas semilogaritmik
− Beaker glass − Centrifuge
Bahan:
- PCT 50, 75, 100, 150, 200 ppm - Natrium nitrit 10%
- Asam sulfamat 15% - HCl 6 N (0,5 ml)
- NaOH 10% (2,5ml) - Darah kelinci

IV. Prosedur Kerja


1. Pembuatan kurva baku
Membuat larutan baku PCT (50, 75, 100, 150 200 ppm) masing-masing
1 ml

Tambahkan HCl 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 sebanyak 10%
sebanyak 1 ml
campurkan dan diamkan selama 5 menit

Tambahkan asam sulfamat 15% sebanyak 1 ml (lewat dinding) dan
Tambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml
diamkan selama 3 menit didalam kulkas

Dibaca absorbansi dengan panjang gelombang 435 nm.

Cari persamaan regresi linier (konsentrasi vs absorbansi)

2. Penetapan kadar
Menimbang kelinci dan menentukan volume pemberian

Berikan secara intravena pada telinga kanan kelinci

Ambil cuplikan darah 0,5 ml pada telinga kiri pada waktu
(10, 20, 30, 4, 50, 60 menit)
Tambahkan EDTA 10% (sebelum diambil darah)

Tambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml

Sentrifuse selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm
ambil cairan supernatant

Tambahkan HCL 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 sebanyak 10%
sebanyak 1 ml

Dicampurkan dan didiamkan selama 5 menit

Tambahkan asam sulfamat 15% sebanyak 1 ml (lewat dinding)dan
Tambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml
diamkan selama 3 menit didalam kulkas

Dibaca absorbansi dengan panjang gelombang 435 nm.

Untuk blanko, sama seperti perlakuan, tetapi darah hanya diambil 1 kali
dan hewan uji tidak diberi obat.

V. Hasil Pengamatan dan Perhitungan


A. Hasil Pengamatan
1. Kurva Baku Parasetamol
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
50 0,205
75 0,330
100 0,460
150 0,609
200 0,800

2. Tabel Percobaan Model Kompartemen


Waktu Cp Antilog
Absorbansi Log Cp C C’ Log C’
(menit) (ppm) C
10 0,300 68,1818 1,834 2,865 732,825 664,643 2,823
20 0,569 138,0519 2,140 2,677 475,335 337,283 2,528
30 0,833 206,6234 2,315 2,489 308,319 101,696 2,007
40 0,745 183,7662 2,264 2,301 199,986 16,220 -
50 0,630 153,8961 2,187 2,113 129,718 -24,178 -
60 0,335 77,2727 1,888 1,925 84,140 6,867 -
Keterangan :
Fase eliminasi : 3 titik terakhir (menit ke 40, 50, 60)
Fase absorbansi : 3 titik awal (menit ke 5, 10, 15)

B. Perhitungan
1) Volume Pemberian
Berat badan kelinci : 1,2 kg
Dosis sediaan : 63 mg/kgBB
Stok : 32,67 mg/ml
Dosis kelinci

Volume pemberian

2) Data kurva baku


Regresi linier ((λ 435 nm)
a : 0,0375
b : 0,00385
r : 0,995
y = a + bx
y = 0,0375 + 0,00385x
x = Cp
3) Cp dan Log Cp
• x1
y = a + bx
0,300 = 0,0375 + 0,00385x
0,300 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,2625 =0,00385x

x=

x = 68,1818
log cp = 1,834
• x2
y = a + bx
0,569= 0,0375 + 0,00385x
0,569 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,5315 = 0,00385x

x=

x = 138,0519
log cp = 2,140
• x3
y = a + bx
0,833 = 0,0375 + 0,00385x
0,833 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,7955 =0,00385x

x=

x = 206,6234
log cp = 2,315
• x4
y = a + bx
0,745 = 0,0375 + 0,00385x
0,745 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,7075 =0,00385x

x=

x = 183,7662
log cp = 2,264
• x5
y = a + bx
0,630 = 0,0375 + 0,00385x
0,630 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,5925 =0,00385x

x=
x = 153,8961
log cp = 2,187
• x6
y = a + bx
0,335 = 0,0375 + 0,00385x
0,335 ─ 0,0375 = 0,00385x
0,2975 =0,00385x

x=

x = 77,2727
log cp = 1,888
4) Fase Eliminasi
T (menit) Log Cp
40 2,264
50 2,187
60 1,888
Regresi linier :
a = 3,053
b = - 0,0188
r = - 0,9465

y = a + bx
y = 3,053 ─ 0,0188x

log C

• log cpº = a
cpº = anti log a = B
log cpº = 3,053
cpº = antilog 3,035 = 1129,796 = B

• =b

= - 0,0188
ke = 0,043 / menit

• eliminasi =

eliminasi =

• Nilai C dan antilog C


t sebagai x dan y sebagai C
➢ C1
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.10
y = 2,865
antilog C = 732,825
➢ C2
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.20
y = 2,677
antilog C = 475,335
➢ C3
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.30
y = 2,489
antilog C = 308,319
➢ C4
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.40
y = 2,301
antilog C = 199,986
➢ C5
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.50
y = 2,113
antilog C = 129,718
➢ C6
y = 3,053 ─ 0,0188x
y = 3,053 ─ 0,0188.60
y = 1,925
antilog C = 84,140
• Nilai C’ dan log C’
C’ = antilog C ─ Cp
➢ C1
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 732,825 ─ 68,1818
C’ = 664,643
log C’ = 2,823
➢ C2
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 475,335 ─ 138,0519
C’ = 337,283
log C’ = 2,528
➢ C3
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 308,319 ─ 206,6234
C’ = 101,696
log C’ = 2,007
➢ C4
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 199,986 ─ 183,7662
C’ = 16,220
➢ C5
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 129,718 ─ 153,8961
C’ = - 24,178
➢ C6
C’ = antilog C ─ Cp
C’ = 84,140 ─ 77,2727
C’ = 6,867
5) Fase Absorbsi
T (menit) Log C’
10 2,823
20 2,528
30 2,007
a = 3,2687
b = - 0,0408
r = - 0,9875

y = a + bx
y = 3,2687 ─ 0,0408x

log C

• log cpº = a
cpº = anti log a = A
log cpº = 3,2687
cpº = antilog 3,2687= 1856,522 = A

• Slope = b =

- 0,0408 =

ka = 0,094 / menit

• absorbsi =

absorbsi =

• T max
• Cp max

• Waktu sampling

sampai

sampai
= 48,348 menit sampai 80,58 menit

• AUC

ppm/menit

VI. Pembahasan
Percobaan ini bertujuan untuk memperkirakan model kompartemen
dan pemilihan dosis yang tepat untuk hewan uji, sehingga dapat menentukan
jadwal dan jumlah pencuplikan. Obat yang digunakan adalah parasetamol,
karena parasetamol dapat di absorpsi cepat dan sempurna melalui saluran
cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan
waktu paruh plasma antara 1-3 jam. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat
protein plasma. Plasma darah digunakan sebagai sampel karena terdapat
protein albumin yang dapat mengikat paracetamol, selain itu paracetamol
memilki afinitas yang kuat terhadap protein plasma, sehingga kadar
paracetamol menjadi lebih tinggi dalam plasma darah.

Hewan uji yang digunakan adalah kelinci karena kondisi fisiologis


kelinci mendekati manusia dengan darah yang lebih banyak, sehingga dapat
mengambil darah kelinci secara berulang. Sampel dipilih adalah darah,
bukanurin karena darah merupakan sarana distribusi yang baik bagi obat
untuk menuju tempatmetabolisme atau sasaran target serta merupakan
bagian yang paling cepat dicapai obat. Pengujian pada praktikum ini
dilakukan secara in vitro karena sampel darah diambil dari telinga kelinci di
sekitar pembuluh vena marginalis.

Darah kelinci diambil dari bagian telinga, karena pada bagian telinga
terdapat banyak pembuluh darah (vena marginalis), dan praktikan dapat
secara leluasa mengambil darah kelinci tanpa khuatir terhadap gerakan
tubuh kelinci. Sebelum dilakukan pengambilan darah, bulu pada telinga
kelinci dibersihkan terlebih dahulu menggunakan scalpel agar vena
magistralis dapat terlihat dengan jelas dan tidak ada bulu yang akan masuk
ke dalam tabung evendorf sebagai kontaminan.

Darah ditampung melewati dinding tabung evendrof. Darah yang


ditampung tersebut tidak boleh langsung diteteskan ke bagian tengah
tabung. Hal ini bertujun untuk mencegah terjadi lisis. Pengambilan cupilkan
dilakukan sebanyak 6 kali dalam rentang waktu 60 menit (pada menit ke-10,
20, 30, 40, 50, 60).

Penambahan TCA 10% (Tri Cloroacetic Acid) bertujuan agar protein


tidak berikatan dengan parasetamol yang dapat mengganggu hasil
pengukuran kadar parasetamol dalam plasma sehingga dapat terjadi
denaturasi protein dalam plasma. Selain itu, TCA juga dapat mengendapkan
senyawa lain yang mengganggu pengukuran absorbansi. Disentrifugasi
selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm untuk memisahkan plasma
darah dari protein yang terdenaturasi. Setelah sentrifugasi, terbentuk
supernatan, yaitu parasetamol berikatan dengan plasma tanpa adanya
protein.

Pada penelitian kali ini, model kompartemen yang digunakan adalah


satu kompartemen atau mono kompartemen. Mono kompartemen
menganggap tubuh sebagai satu kesatuan, dengan kata lain obat masuk dan
secara cepat terdistribusi ke semua bagian, selain itu obat juga dapat keluar
dari tubuh karena merupakan kompartemen terbuka. Meskipun tubuh
dianggap sebagai satu kompartemen, tidak berarti bahwa kadar obat sama di
dalam setiap jaringan atau organ melainkan perubahan kadar obat di dalam
darah mencerminkan pula perubahan kadar obat di dalam jaringan. Laju
eliminasi (metabolisme dan ekskresi) obat dari tubuh setiap saat sebanding
dengan jumlah atau kadar obat yang tersisa di dalam tubuh pada saat itu.
Pada kurva yang ditampilkan, obat dimasukkan secara ekstravaskular
sehingga harus melalui proses absorbsi dulu sebelum obat didistribusikan ke
seluruh kompartemen.
Setelah mengetahui model kompartemen yang digunakan maka
dilakukan perhitungan parameter farmakokinetika yang meliputi Vd, T 1/2
absorbsi dan eliminasi, T max, Cp max, K (KA dan KE), dan AUC. Hasil
yang didapatkan adalah waktu paruh absorbsi Paracetamol sebesar 7,372
menit, waktu paruh eliminasi Paracetamol sebesar 16,116 menit. Menurut
Zulkarnain (2014), waktu paruh parasetamol antara 1 – 3 jam. Penderita
kerusakan hati dan konsumsi paracetamol dengan dosis toksik dapat
memperpanjang waktu paruh zat ini.
Kemudian didapatkan pula waktu maksimal (T max) paracetamol
sebesar 3,758 jam, Vd sebesar 2,314 mL, Cp max sebesar mL/jam,
KA sebesar 0,094/menit, KE sebesar 0,043/menit dan AUC sebesar
ppm/menit. Cp max merupakan berapa banyak urin yang
dikeluarkan per waktu, di dapatkan hasil sebesar 168,340 mL/Jam berarti
menunjukkan jika parasetamol cukup mudah diekskresikan. Konsentrasi
obat pada waktu nol (C0) dapat dihitung dengan cara besarnya dosis obat
(D) dibagi dengan besarnya volume distribusi. Parameter yang digunakan
adalah tetapan kecepatan absorpsi (Ka). Absorpsi adalah proses perpindahan
obat dari tempat pemberian/aplikasi menuju kesirkulasi/peredaran darah
yang selanjutnya mencapai target aksi obat. Tetapan kecepatan absorbs
(Ka") menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitu masuknya obat ke dalam
sirkulasi sistemik dari absorbsinya (saluran cerna pada pemberian oral,
jaringan otot pada pemberian intramuskular). Parameter inilah yang
membedakan antara ekstravaskular dengan intravaskular
VII. Kesimpulan
Dari hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan
berupa:
1. model kompartemen yang digunakan untuk praktikum kali ini adalah
model satu kompartemen dengan waktu sampling 48,348 menit
sampai 80,58 menit.
2. nilai K absorbansi sebesar 0,094/menit dan K eliminasi sebesar
0,043/menit. waktu maksimal absorbsi obat (T max) adalah pada
menit ke-30 dan konsentrasi puncak parasetamol (Cp max) adalah
pada konsentrasi 0,833 serta AUC sebesar 46024,56 ppm/menit.

VIII. Daftar Pustaka


Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, edisi IV, 650, Depkes RI, Jakarta
Brunton, L.L., 2011. Goodman and Gilman’s The Pharmacological Basis of
Therapeutics, 12thedition, USA: McGraw Hill Companies.

Cahyati, Y. (1985) Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta: Pusat Penelitian dan


Pengembangan PT. Kalbe Farma.

Ganiswara (2007) Farmakologi dan Terapi. V. Jakarta: Fakultas


Kedokteran, Universitas Indonesia.

Gibson, G. G. and Skett, P. (1991) Introduction To Drug Metabolism.


Edited by I. A. B. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Katzung, B.G. & Trevor, A.J., 2015. Basic and Clinical Pharmacology, 13th
edition, USA:McGraw Hill Education.
Lucia, 2016. Eksperimental Farmakologik: Orientasi Preklinik, Surabaya:
Sandira Surabaya.
Lullman, H., Mohr, K., Hein, L., & Bieger, D., 2004. Color Atlas of
Pharmacology, 3rd edition,New York: Thieme.

Mirakel, A. D. (2007) Pengaruh Pemberian Air Barkarbonasi Terhadap


Profil Farmakokinetika Parasetamol Pada Tikus Putih Jantan.
Universitas Sanata Darma.
Mutschler, E. (1991) Dinamika Obat. 5th edn. Edited by M. B. Widianto
and A. S. Rianti. Bandung: ITB.

Neal, M. J. (2006) No TitleAt A Glance Farmakologi Medis. 5th edn.


Jakarta: Erlangga.

Shargel, 1985, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, 3th edition,


37-38, 45-54, 323, the Mc Graw-Hill Companies Inc., Singapore
Shargel, 1986, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, 5th edition,
371-399, the Mc Graw-Hill Companies Inc., Singapore
Sulistia, G.G., 2017. Farmakologi dan Terapi, edisi 6. Departemen
Farmakologi dan Terapi,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Zulkarnain, I. 2014. Stabilitas Kimia dan Usia Simpan Sirup Parasetamol
pada Berbagai Suhu Penyimpanan. Jurnal As-Syifaa. 6(1): 17-24.
Lampiran

1. Tabel Jobdesk
No. Nama Mahasiswa NIM Jobdesk

1 Frans Cornelius Koreh 052201046 Mengerjakan bagian tujuan


praktikum alat dan bahan,
pembahasan

2 Ni Made Budiarthi Astini 052201061 Mengerjakan bagian dasar


teori, prosedur kerja, hasil
peraktikum dan perhitungan

3 Sri Widayanti 052201079 Mengerjakan pembahasan


dan kesimpulan

4 Risky Yanuari Wahyuni 052201080 Mengerjakan hasil


peraktikum dan perhitungan,
pembahasan, kurva
semilogaritma, kesimpulan

2. Kurva Semilogaritmatik Kadar Obat Dalam Plasma/Darah Lawan Waktu.

Anda mungkin juga menyukai